★HENING★ Part 47
" SEGERA DI MULAI "
Mayjen Rizal Harahap tampak sedang melepas 10 orang prajuritnya dari unit 2 kopassus di Lanud Abdurrahman Saleh, Malang.
Sementara dilain pihak, Jendral Bannett juga sedang melepas keberangkatan 12 personil Green Berets-nya.
sepertinya duel antara pasukan khusus kedua Negara ini tak bisa dihindari, seperti sudah ditakdirkan saja.
..,.........
Lembah Baliem Jayawijaya, Papua.
8 oktober 2012
06.05
"Maaf, aku tidak terlalu pandai menangkap ikan.. Jadi hanya ini yang bisa aku dapatkan",
ucap Mahda sembari membawa beberapa Ekor ikan yang ditangkapnya dari sebuah sungai kecil tak jauh dari tempat mereka berada.
Dilihat dari kondisi sekitar dipagi ini, tampaknya tadi malam mereka tidur tanpa membangun bivak atau semacamnya untuk menghindari jejak yang mungkin mereka tinggalkan.
"Itu sudah bagus, aku suka sekali ikan bakar..",
sahut Adam yang tampak membuat api untuk memanggang ikan yang didapat Mahda, diatas perapian yang ia buat sengaja ia letakkan dedaunan dan disangkutkan dengan sejumlah kayu yang ditancapkan ke tanah, mirip seperti tempat untuk memanggang, namun sebenarnya untuk membuat asap dari perapian tersebut menyebar sehingga tidak terlihat dari kejauhan.
"Elang, bagaimana situasinya..?",
tanya Adam melihat Elang tampak baru kembali karena bebrapa menit yang lalu ia mengecek situasi sekitar mereka berada.
"Sepertinya tidak ada tanda-tanda tim yang mengejar kita..",
jawab Elang mendekat sambil sesekali menghindari pucuk ranting serta dedaunan yang menjulur hingga ke tanah dihutan yang lumayan lebat ini.
"Itu memberi kita sedikit waktu.., perjalanan kita akan sangat jauh jika kita ke arah barat daya, bagaimana menurut kalian?",
ucap Mahda sembari memperhatikan jam tangannya yang dilengkapi dengan kompas penunjuk arah.
"Tak ada jalan lain, kita harus menghindari mereka yang mungkin segera datang..",
sahut Adam.
"Yah, kita harus melintasi pegunungan ini menuju Sabang papua Timur..",
tanggap Elang.
"Mengapa kita harus kesana..?",
tanya Adam.
"Entahlah.., aku hanya merasa kita harus kesana..",
jawab Elang lagi.
Adam dan Mahda tampak saling pandang satu sama lain.
"Baiklah, aku rasa hanya itu pilihan kita saat ini..",
sahut Adam.
...........
Lanud Lembah Baliem, Wamena..
Sebuah pesawat berbendera Amerika tampak telah terparkir, sementara tak jauh dari situ tampak sejumlah tentara Amerika sedang berkumpul disebuah hangar kosong yang diminta pihak Amerika sebagai pos sementara mereka, sementara disekitar mereka tampak pihak militer setempat mengawal kedatangan mereka.
"Baik, semuanya.. Segera lakukan persiapan, kita akan langsung bergerak mengingat kita sudah kehilangan banyak waktu diperjalanan, mengerti..!",
perintah Chief mereka yang berpangkat Kapten, kapt.Sherman..
Sebuah logo bergambar Pisau diapit dua buah petir yang menyilang tampak angker dilengan seragamnya, simbol satuan mereka, 'the Green Berets'.
Ke 11 anak buahnya itu segera memeriksa kelengkapan mereka, tampak senapan serbu M4 mendominasi persenjataan mereka walau tampak beberapa dari mereka menenteng Senjata Mesin dan Sniper kaliber 50mm.
Sebuah truk milik Yonif 756 Napua yang sengaja dipinjamkan untuk membawa ke-12 prajurit Green Berets itu tampak sudah menunggu mereka.
Tak berselang lama, para personil Green Berets tersebut sudah meluncur menuju Lembah Baliem seakan tak ingin berlama-lama membiarkan Elang dan yang lainnya menjauh.
..........
Sabang, Papua Timur..
Dilain sisi ke-10 prajurit Kopassus dari unit 2 juga telah terlebih dahulu mendarat di Lanud Tanah Merah papua bagian timur, Mereka langsung bergerak menuju Sabang untuk menuju ke kawasan Perbukitan Jaya wijaya sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Mayjen Rizal Harahap.
10 prajurit Kopassus itu dipimpin oleh seorang berpangkat Kapten, Kapten Deni.
Senapan serbu SS2 buatan Pindad menjadi andalan mereka walaupun tampak beberapa dari mereka menenteng Senjata Mesin buatan Belgia.
...,.......
Kedubes Australia, Jakarta.
Sebuah SUV pabrikan Jepang tampak keluar dari kantor kedutaan besar Australia untuk Indonesia tersebut, SUV hitam segera melaju kencang meninggalkan Kantor Dubes Australia Sir Robbert Hawkins meliuk-liuk dijalan raya yang tak begitu padat sepertinya sedang terburu-buru.
Sementara tak jauh dibelakangnya tampak sebuah sepeda Motor mengikuti, dua orang dengan tatapan tajam seakan tak ingin kehilangan SUV hitam tersebut.
"Sepertinya kita diikuti Letnan..",
ucap Sgt.David menyadari dua orang pengendara sepeda motor dibelakang SUV hitam yang ia kemudikan.
"Yah, saya juga menyadarinya.., lebih tepatnya mereka mengawasi kita..",
sahut Lt.Jones.
"Apa yang harus kita lakukan letnan?",
tanya Sgt.David lagi.
"Menghindarlah sebisa mungkin.., dan kalian semua, siapkan senjata kalian..!",
perintah Lt.Jones.
"Untuk apa Letnan?",
tanya Sgt.Maj.Bradley merasa tak mungkin jika ada suatu ancaman ditengah kota seperti ini, " militer indonesia takkan seceroboh itu" pikirnya.
"Lihat..! Sangat aneh jika mereka membuntuti kita tapi sangat dengan mudah kita ketahui.., pasti ada sesuatu yang tidak beres..!",
sahut Lt.Jones sembari mengambil senjata jenis MP5 dari balik jok yang ia duduki, sementara kelima anak buahnya tersebut juga tampak memegang senjata yang sama dengannya ditangan mereka.
"David! Perhatikan jalan dan arus lalu lintas.., mungkin saja. . ."
Belum sempat Lt.Jones menyelesaikan kata-katanya sebuah Truk kontainer menabrak SUV mereka.
"KRASSSHHHNNGGGG..!!!"
Seketika mobil yang membawa Lt.Jones dan anak buahnya itu terpental dan berguling-guling dipermukaan aspal dan berhenti ketika moncong mobil mereka menghantam sebatang pohon dipinggir jalan, asap mengepul dari balik kap mesin yang telah penyok, hampir seluruh kaca pecah, dan struktur bodi depan yang melengkung tak tentu arah.
"Sial..!",
gumam Lt.Jones berusaha keluar membuka pintu mobil, tampak kepalanya sedikit mengeluarkan darah, sementara tampak tubuh Sgt.David dikursi kemudi terhimpit bodi mobil serta darah mengucur deras disela-sela jok tempat duduknya, sepertinya Sgt.David telah tewas.
Dari ke-6 orang yang berada di SUV tersebut hanya tersisa Lt.Jones saja yang masih hidup, sementara ke 5 anak buahnya tewas dengan hampir seluruhnya mengalami pendarahan dikepala.
"Sungguh tak berguna..!",
umpat Lt.Jones melihat seluruh anak buahnya tewas, tak berapa lama datang sebuah sepeda motor yang mengikuti mereka tadi.
"Tretetetet..!"
Kedua orang tersebut langsung menembaki Lt.Jones.
Menyadari itu Lt.Jones segera berlindung dibalik batang pohon dan mengambil senjatanya yang tergeletak tak jauh darinya.
"Tretetetetet..!"
Lt.Jones membalas tembakan.
Namun tanpa disadarinya sebuah mobil berhenti dihadapannya dengan seseorang mengarahkan pistol padanya.
"Tash..Tash..Tash..!"
Lt.Jones tersungkur begitu sejumlah timah panas menembus tubuhnya.
"Ekh...sial, aku dikalahkan mereka lagi...",
gumam Lt.Jones dalam hati sambil teringat saat Lettu Adam hampir membunuhnya dipedalaman papua, ia sudah bisa menduga serangan ini adalah skenario yang telah disusun rapi untuk menghabisi timnya.
"Teng..teng..teng.."
Sebuah benda menggelinding didekatnya.
"Benar-benar sial.. Ekhh!!!",
teriak Lt.Jones menyadari sebuah granat tergeletak dihadapannya.
"DUAAMMMPPP..!!!"
Ledakan besar terjadi, SUV yang ditumpangi Lt.Jones sebelumnya juga ikut meledak menghanguskan sekitarnya.
"Dengan begini, tidak akan ada bukti..",
Ucap Jendral Rokhim melihat kejadian itu dari sebuah monitor di Markas pusat Jakarta.
"Yah.., selanjutnya.. Kita serahkan pada pak Menhan untuk menangani Media..",
sahut Panglima Rokhim.
"Saya rasa itu tidak perlu Panglima,, Amerika tak akan mengakui bahwa mereka adalah anggota dari pasukan khusus mereka..",
tanggap Letn.Vega.
"Hmm.. Saya rasa kau benar letnan, biarlah ini menjadi pelajaran buat mereka..",
sela Presiden Darwin yang tampak duduk tenang dikursinya.
"Kita tunjukan taring Nusantara...!!!",
seru Presiden Darwin.
Tanpa diduga Para petinggi Nusantara memerintahkan sejumlah pasukan untuk mengeksekusi para prajurit khusus Amerika tersebut.
...........
Kediaman Pribadi Jendral Irwan.
Jakarta Utara...
"Mengapa kau menemuiku? Kurasa aku tahu siapa kau, kau adalah seorang buronan..!",
ucap Jend.Irwan kepada seseorang yang bertamu ke rumahnya.
Seseorang itu tampak duduk tenang sambil sesekali mengepulkan asap rokok dimulutnya.
"Tidak ada lagi yang bisa saya ajak bekerja sama selain anda Jendral..",
sahut seseorang itu.
"Apa maksudmu..?",
tanya Jend.Irwan.
"Anda bekerja sama dengan pihak yang sama dengan saya.., saya rasa anda mengerti maksud saya..",
ucap seseorang itu dengan mimik serius.
Sejenak Jendral Irwan tampak terhenyak memikirkan sesuatu.
"Kau juga menerima uang dari mereka..?",
tanya Jend.Irwan.
"Yah.., karena itu saya mengetahui semua yang anda lakukan dibalik jabatan anda, jauh sebelum anda merekrut saya..",
jawab orang itu masih dengan mimik serius.
"Tapi kau tahu saya sedang dibebas tugaskan sementara, tak ada yang bisa saya lakukan lagi saat ini..",
keluh Jend.Irwan.
"Masih ada Jendral,",
tampak seseorang itu membisikkan sesuatu kepada Jendral Irwan.
"Kalau soal itu saya masih bisa melakukannya..",
gumam Jend.Irwan.
"Anda harus melakukannya, kita lupakan sejenak nasionalisme negara busuk ini, setelah ini semua orang di istana akan tahu betapa pentingnya hal yang kita lakukan ini...!",
kata seseorang itu dengan penuh amarah, terlihat jelas Jendral Irwan dan seseorang itu mempunyai satu kesamaan, yaitu benci akan seluruh sistem negara yang penuh dengan politik.
"..."
Jend.Irwan hanya diam mendengarnya.
"Baiklah Jendral, beritahu aku jika anda telah melakukannya..",
Lucap seseorang tersebut sembari meletakkan sebuah ponsel dihadapan Jendral Irwan dan beranjak bangkit dari duduknya.
Seseorang tersebut lalu berjalan keluar hendak pergi.
"Kenapa dengan kakimu?",
tanya Jend.Irwan menyadari seseorang itu berjalan pincang.
"Oh.., ini kudapat saat aku berhasil membunuh salah satu dari agen-agen hitam tersebut..",
jawab seseorang tersebut yang ternyata adalah Heru.
.............
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar