★HENING★ Part 48 (2)
"INSTING"
15.00
Sepertinya Elang sengaja bergerak ke arah yang ia lewati bersama adam dan Mahda sebelumnya, sesekali ia berhenti untuk mengamati lereng hutan jauh dihadapannya dengan teropong senapannya.
Sementara Adam dan Mahda mulai menghawatirkannya, namun mereka berusaha menepis kekhawatiran mereka.
"Sebaiknya kita mencari dedaunan untuk makan siang kita, aku rasa kita tak perlu mencemaskan dirinya..",
gumam Mahda.
"Yah, aku rasa dia sedang memastikan situasi yang sebenarnya kita hadapi..",
sahut Adam sembari memperhatikan sekitar berusaha mencari dedaunan yang bisa dimakan.
"..."
Elang mengendap disebuah gundukan tanah yang dipenuhi semak belukar, dan masih mengamati lereng hutan jauh didepannya.
Tak jauh dari lereng yang diamati oleh Elang, tim pengintai pasukan Kapt.Sherman telah beristirahat sembari menunggu ke-2 tim lainnya yang berada dibelakang.
"Tim pengintai laporkan situasi",
seru Kapt.Sherman melalui radionya.
"Diterima Chief.., didepan kami terdapat sebuah lereng yang cukup curam, sementara tak jauh dari situ terdapat perbukitan.. Terlalu beresiko jika saya dan yang lainnya bergerak tanpa dukungan..",
sahut Sersan Harry, komandan Tim pengintai tersebut, insting sersan itu mengatakan bahwa perbukitan tak jauh dari lereng dihadapan mereka merupakan suatu sudut dengan ancaman yang besar.
Benar saja, Elang tampak dengan leluasa mengamati lereng tersebut dengan M40-nya melalui perbukitan dimana ia berada.
"Diterima sersan, tunggu yang lainnya saja..",
ucap Kapt.Sherman sembari memberi kode dengan tangannya kepada sisa pasukan yang bersamanya yang langsung menanggapi dengan bergerak lebih cepat.
Awan hitam mulai mengumpul dilangit perbukitan tersebut disertai memudarnya sinar matahari.
Burung-burung liar tampak berterbangan mencari pohon-pohon rindang dikaki bukit.
"Sepertinya akan hujan.., mengapa ia belum kembali..?",
gumam Mahda seraya melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Entahlah.., sekarang aku benar-benar mencemaskannya..",
sahut Adam.
"tapi aku tak mendengar dentuman senjata apabila terjadi sesuatu..",
ucap Mahda berusaha berfikir positif.
"Atau ia tersesat??, ah.. Itu tidak mungkin.., atau diserang binatang buas..??",
seru Adam sedikit panik hingga memikirkan hal-hal seperti itu.
"Itu terlalu konyol.., sudahlah.. Aku yakin dia baik saja..",
sahut Mahda tenang, meskipun sebenarnya ia mencemaskan Elang yang tak kunjung kembali.
"Bagaimana Sersan?",
tanya Kapt.Sherman.
Tampaknya seluruh Tim mereka telah berkumpul didekat lereng.
"Saya sudah mengawasi sekitar lereng ini, dan saya menemukan jejak target kita berupa perapian yang ditutupi dengan dedaunan Chief...",
jelas Sers.Harry.
"Lalu..?",
tanya Kapt.Sherman.
"Diperkirakan sudah 6 jam yang lalu mereka meninggalkan lokasi ini..",
sambung Sers.Harry.
"Berarti mereka sudah menjauh.., tapi tidak menutup kemungkinan mereka menunggu kita dari balik perbukitan itu..",
sahut Kapt.Sherman melirik perbukitan dimana memang Elang berada, sepertinya pertempuran insting dan pemikiran mengawali pertempuran sebenarnya.
Jauh dari situ Elang masih tetap diam mengamati dari balik teropongnya, matanya terus merayap setiap sudut melalui titik bidik senapannya.
" ! "
Sejenak ia terhenyak begitu melihat dua orang prajurit menuruni lereng dengan bergerak Zig-zag dari pohon ke pohon..
"Klak.."
Elang mengokang senapannya.
Titik bidik Elang telah tepat berada pada salah satu prajurit yang menuruni lereng tersebut, namun ia tak menembak.
Kedua prajurit yang diperintahkan Kapt.Sherman itu berhasil menuruni lereng.
"Tidak ada apa-apa Chief..",
ucap Sers,Harry melihat kedua rekannya telah menuruni lereng tanpa ada gangguan.
"Hmm...",
sejenak Kapt.Sherman mengerutkan dahinya.
"Baiklah.., kita lanjutkan perjalanan.. Namun sebelum itu tempatkan Willy dan Hoftman untuk mengamati perbukitan itu..",
perintah Kapt.Sherman merasa belum aman.
Segera saja dua orang sniper yang masing-masing menenteng M8 barret 50mm mengambil posisi dibalik batang pohon tumbang dikanan kiri lereng tersebut, mereka penembak terbaik yang dimiliki Kapt.Sherman, Sersan Willy dan Sersan Hofftman.
selanjutnya Kapt.Sherman beserta pasukan yang lainnya bergerak menuruni lereng tersebut.
" Klik "
Elang membuka pengaman senapannya menandakan ia siap untuk menembak.
Elang membidik Prajurit yang berada paling depan, diteropong elang tampak prajurit itu bergerak pelan sembari memberi kode kepada rekannya yang berada dibelakangnya.
"DASH...!"
Sebuah dentuman senjata menggema membuat Kapt.Sherman dan pasukannya merapatkan diri dengan pepohonan disekitar mereka.
"Sniper..!",
teriak sers.Harry.
Seorang prajurit roboh bersimbah darah..
"Sial..! Willy..Hoftman! Kalian melihatnya??",
seru Kapt.Sherman.
"Negatif Chief..!",
sahut Sers.willy.
"Arah pukul 11 chief!",
tanggap Sers.Hoftman merasa melihat sedikit kilatan kecil diperbukitan jauh didepannya.
"Steward..! Beri tembakan ke arah pukul 11..!",
perintah Kapt.Sherman.
Seorang anak buahnya yang menenteng Senapan Mesin jenis M249 tampak memposisikan dirinya dari balik pohon, Pvt.Steward, ia langsung menyalakkan M249-nya.
"Tretetetetet..tetetretetet.."
" ! "
Adam dan Mahda mendengar dentuman senjata dari arah balik.
"Sekarang aku rasa Elang dalam masalah..!",
seru Mahda sembari langsung bergerak ke arah dimana suara tembakan itu berasal.
"Tidak, kau tunggulah disini.., bersiaplah akan sesuatu..!",
perintah Mahda melihat Adam ingin mengikutinya.
"Baiklah.., segera pastikan ia baik saja..",
sahut Adam sembari mengokang senjatanya.
Sementara itu Elang tampak tenang karena peluru yang dimuntahkan oleh pvt.Steward mendarat sangat jauh dari posisinya, ia mengarahkan pelan titik bidiknya ke pvt.Steward yang sedang menyalakkan senjatanya berusaha memberikankan tembakan perlindungan, sementara pasukan Kapt.Sherman yang lain tampak segera bergerak menuruni lereng itu dengan cepat.
"DASH...!"
Elang menembak lagi, pvt.Steward tersungkur, namun ia berguling dan menyeret tubuhnya mendekati pohon didekatnya, sepertinya peluru Elang kali ini meleset, hanya mengenai lengan pvt.Steward.
"Terlalu banyak angin..",
gumam Elang, menebak angin yang membuat pelurunya meleset dari targetnya.
"Hoftman..! Apa kau bisa menembaknya..?!?",
seru Kapt.Sherman mulai panik.
"Negatif chief, terlalu rimbun..!",
jawab Sers.Hoftman.
"Tembakkan saja senjatamu..!",
teriak Kapt.Sherman mulai resah.
"Baik..!",
sahut Sers.Hoftman mengarahkan titik bidiknya ke semak belukar yang dimana menurutnya tempat tembakan tadi berasal.
"Tasshhh!!!"
Sers.Hoftman melepaskan tembakan.
"Srrkk..!"
Batang pohon yang berada tak jauh dari posisi Elang tampak hancur dihantam peluru kaliber 50mm Sers.Steward, serpihan kayu tampak mencuat ke udara.
Tak lama pohon itu tumbang kedepan membuat roboh semak belukar yang menutupi elang.
"Sial..",
gumam Elang langsung bangkit berlari.
" ! "
Melihat Elang, Sers.Hoftman berusaha menembaknya.
"Tashh..!"
........
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar