★HENING★ Part 44
"KALAH TANPA SEBUTIR PUN PELURU"
"Apa yang kau inginkan dariku..?",
tanya seorang pria tua yang terduduk tak berdaya disebuah kursi kayu.
Tubuh serta wajahnya penuh luka yang masih meneteskan darah segar di balik pakaiannya yang robek dibeberapa bagian.
"Tak ada yang kuinginkan darimu, ini hanya sebuah misi..",
jawab Elang dengan sebuah pistol yang ia arahkan ke arah pria tua itu.
"Ekhhh, begitu ya? Hanya sebuah misi..",
kata pria tua itu.
Tampak disekitar pak tua itu beberapa tubuh tak bernyawa tergeletak bersimbah darah.
"Sepertinya kau segera akan menghabisiku.., walaupun sebenarnya kau tak ingin membunuh orang.. Sepertinya ada hal yang ingin kukatakan padamu wahai anak muda...",
ucap pria tua itu.
"Aku rasa itu tidak perlu.. Dan jangan berlagak kau mengenalku",
sahut Elang sambil mengokang pistolnya.
"Baiklah.. Baiklah.. Aku mengerti, begini saja. . . suatu hari nanti kau akan tahu jawabannya kenapa kau harus membunuh seseorang yang tak kau kenal meskipun jauh didalam hatimu kau tak ingin membunuh..
Itu kan yang selalu menjadi pertanyaan didalam kepalamu??",
kata Pria tua itu.
"Hentikan omong kosongmu, itu tak akan mempengaruhiku..",
sela Elang bersiap menekan picu.
"Semakin kau membunuh, semakin kau kehilangan jati dirimu.. Semakin kau kehilangan jati dirimu, kau juga akan kehilangan teman-temanmu..",
sambung pak tua itu.
"Aku rasa kau terlalu banyak bicara..",
sahut Elang dan..
"Tash...!!!"
........,
"Hei.. Hei.."
Suara Mahda membangunkan Elang dari lamunan masa lalunya.
"Bergegaslah.., target kita sudah terlihat..",
seru Mahda memberi tahu.
"Ya, baiklah..",
sahut Elang.
"Bagaimana keadaannya Adam..?",
tanya Mahda.
"Mereka sudah memulai pertemuan mereka.., sebaiknya kita mulai menyusun rencana..",
jawab Adam.
"Elang.., maaf atas kejadian tadi..",
sambung Adam melirik Elang.
"Yah, aku mengerti..",
jawab Elang sembari mempersiapkan senjatanya.
"Apa yang kau pikirkan..?",
tanya Mahda melihat Elang sedang mengamati situasi Hotel tempat Sir Malloney mengadakan pertemuan tak jauh dari mereka dengan teropong M40-nya..
"Aku rasa.., kita harus masuk dari atas.. Mereka hanya memfokuskan penjagaan dibawah..",
jawab Elang sembari menelusuri gedung lantai 3 itu dengan teropongnya.
"Bagaimana kita melewati penjagaan disekitar hotel itu..?",
tanya Adam.
"Bagian belakang hotel itu adalah sebuah taman kecil, itu pintu masuk kita..",
sahut Elang.
"Baiklah.., sebaiknya kita lakukan persiapan terakhir.., aku rasa mereka tak akan lama mengadakan pertemuan membosankan itu..",
seru Mahda.
..........
Tak jauh dari situ..
Wamena Hotel, Pertemuan Sir Malloney.
21.15
Terlihat Sir Malloney telah menutup acara pertemuan tersebut dan segera meninggalkan aula hotel menuju kamarnya dilantai 2 ditemani dua orang pengawalnya.
"Bangunkan saya pukul 6 pagi, saya mulai tak betah berada di tempat ini.. Lihat saja hotel ini.., kau mengerti?",
perintah Sir Malloney kepada kedua orang anak buahnya.
"Baik pak..",
sahut salah satu pengawalnya.
"Oh ya..",
Sir Malloney menghentikan langkahnya.
"Ada apa pak?",
tanya pengawalnya.
"Apa kita sudah mengabarkan keberadaan kita ke Pentagon?",
tanya Sir Malloney.
"Belum pak..",
jawab pengawalnya.
"Kalau begitu besok saja kita kabarkan.., kita butuh istirahat..",
sahut Sir Malloney yang sudah sampai didepan pintu kamarnya.
"Dimengerti pak..",
jawab kedua pengawalnya.
...........
Kedubes Australia, Jakarta.
Lt.Jones tampak sedang berkumpul dengan seluruh anggota tim-nya, sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu hal penting.
"Semuanya.., ada perubahan.. Major O'Connor tadi menghubungiku.. Dan aku yakin kalian akan keberatan dengan ini",
ucap Lt.Jones.
"O'Connor menarik kita dari sini..",
sambung Lt.Jones.
"Maksud anda Chief?",
Sgt.David bertanya.
"Misi kita dibatalkan.., kita akan mundur...",
jelas Lt.Jones.
"Apa anda sedang bercanda?",
tanya Cpl.Luis sambil mengerutkan dahinya.
"Tidak.., sepertinya Major O'Connor telah mengetahui sesuatu, dan kita sementara akan diterbangkan ke papua..",
jawab Lt.Jones.
"Papua??? Apa sebenarnya yang dipikirkan O'Connor..?!",
gumam Sgt.David.
"Entahlah.., yang jelas pasti ada sesuatu yang terjadi, dan kita dialihkan kesana..",
tambah Lt.Jones yang sebenarnya juga kecewa dengan penarikan tim-nya.
"Hmm, sepertinya atasan kalian lebih mengetahui apa yang sedang terjadi di banding kalian sendiri..",
Dubes Sir Robbert tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Maksud anda?",
tanya Lt.Jones.
"Keberadaan kalian sudah diketahui.., akan memalukan jika kalian terekpos gagal atau yang lebih parah jika kalian tertangkap disini, itu akan menggagalkan usaha kita untuk menghancurkan Indonesia, PBB akan mempertanyakan hal itu dan mengungkap kebohongan kita..",
jelas Sir Robbert mendekat ke Tim Lt.Jones.
"dan mungkin ada sesuatu yang terjadi di papua sehingga kalian dikirim kesana..",
tambah Sir Robbert.
"Entahlah pak Dubes.., aku juga berfikir begitu..",
sahut Lt.Jones tertunduk lesu.
Saat ini mental pasukan Lt.Jones sangat dalam keadaan tertekan, mereka benar-benar tidak mengira tanpa ada satu butir peluru yang meledakpun mereka sudah dikalahkan, bagaimana dengan pertempuran sesungguhnya?
"mereka juga membatalkan acara wapres mereka yang menjadi target kalian bukan? Jelas sekali mereka sudah mengalahkan kalian.. Hmm Tapi saya yakin, atasan kalian pasti merencanakan sesuatu dengan memindahkan kalian..",
tambah Dubes Sir RoBbert.
.........
Wamena Hotel, Papua..
21.45
Adam dan Mahda tampak berjalan mengendap mendekati pagar bagian belakang hotel tersebut, sementara Elang tampak menjaga kedua rekannya tersebut dari belakang dengan M40 berperedamnya.
"Aman, ayo cepat...!",
seru Adam kemudian memanjat pagar kawat tersebut dan segera berlari merapatkan diri ke tembok hotel tersebut..
"Elang ayo..",
kata Mahda sembari memberi kode dengan tangannya kepada Elang yang jauh dibelakang.
"..."
Elang berlari mendekat dan kemudian memanjat pagar tersebut diikuti oleh Mahda.
"Bagaimana?",
tanya Mahda.
"Kita harus menggunakan tangga koridor, aku rasa itu lebih aman..",
sahut Elang sembari menyandangkan senapannya dan menggantinya dengan pistol.
"Baiklah, ayo..",
sambung Adam sembari bergerak mendekati pintu.
"Terkunci..!"
Seru Adam setengah berbisik.
"Tunggu sebentar..",
sahut Mahda sembari mengeluarkan sebuah besi kecil yang berbentuk seperti jarum dengan bengkokkan kecil diujungnya, ia menggunakan itu untuk membuka pintu tersebut.
Sementara itu tampak 2 orang penjaga hotel berjalan mendekat ke arah mereka, dari seragamnya merupakan kepolisian setempat yang ditugaskan menjaga hotel tersebut.
"Cepatlah..! Ada yang datang..",
kata Elang menyadari ada 2 orang penjaga yang sedang berpatroli mendekat dari arah samping.
"Sebentar lagi..",
sahut Mahda sembari terus mengotak-atik lubang kunci pintu tersebut.
"Mereka semakin dekat..",
bisik Elang lagi.
2 orang penjaga tersebut hanya terpaut tak lebih 10 meter dari posisi mereka.
"Cepatlah..!",
bisik Elang lagi, kali ini sembari memasang peredam ke pistolnya.
"Nah.., beres.. Ayo..!",
ucap Mahda.
Mereka pun masuk dan segera menutup pintu itu perlahan, sesaat pintu itu tertutup, saat itu juga 2 orang penjaga tadi lewat.
"Hampir saja..,"
gumam Mahda sembari berusaha memperhatikan sekitar.
"Kita belum masuk.., ini cuma pelataran..",
gumam Elang menyadari mereka hanya melewati pintu luar hotel tersebut, saat ini mereka berada disemacam ruangan luas yang penuh dengan tumpukan kardus-kardus dan barang-barang rusak.
"Lihat itu.. Tak kukira mereka banyak sekali..",
ucap Mahda yang berjalan mendekat ke sebuah pintu lagi didepan mereka, tampak sejumlah penjaga dari balik kaca pintu tersebut.
"Menurutmu dilantai berapa target kita",
tanya Adam.
"Entahlah, terlalu beresiko untuk menebak-nebak, kita langsung saja ke atap..",
jawab Mahda sembari melangkah menuju tangga koridor yang melingkar menuju basement atas yang berada disudut ruangan ini.
"Kalian segera ke atas.., aku akan mencari tau dimana target kita berada..",
ucap Elang sembari menitipkan senapan serta peralatannya ke Adam..
"Baik.. Berhati-hatilah..",
sahut Adam,
Elang menganggukkan kepalanya.
Adam dan Mahda langsung menuju ke basement lantai atas, karena memang tak ada akses masuk jika melalui tangga koridor tersebut kecuali pintu masuk tadi yang penuh dengan penjagaan..
Dan Elang mengendap-endap masuk melalui pintu tersebut dengan bersenjatakan sebuah pistol berperedam..
"Klek.."
Pintu itu Elang tutup perlahan setelah ia masuk, kini tak jauh dari didepannya terdapat 5 orang penjaga yang sedang bersantai diruangan yang penuh meja dan kursi tersebut, tampaknya sebuah ruangan khusus untuk pekerja hotel yang ingin beristirahat atau berkumpul, namun saat ini rauangan ini digunakan sebagai tempat para 'men in black' bersantai..
(bersambung)
★HENING★ part 45 (1) " Kesalahan atau Kebaikan? "
Sesaat Elang berjalan mengendap-endap dari meja ke meja yang terdapat disudut ruangan, sementara para penjaga tersebut sibuk mengobrol dan sebagian sibuk menonton siaran TV yang menggunakan parabola, sehingga mereka bisa menonton acara luar.
"Hmm..?"
Elang melihat seorang penjaga baru datang ke ruangan tersebut dan bergegas masuk ke toilet disudut ruangan tersebut, sementara rekan-rekannya terlalu sibuk dengan urusan mereka sehingga tak memperdulikannya.
Elang merayap mendekati toilet tersebut dengan bergerak senyap.
"Hahahahaha..."
Gelak tawa tiba-tiba para penjaga yang menonton Tv memberikan Elang kesempatan bagus dan langsung masuk kedalam toilet tersebut.
"..."
di dalam Elang melihat penjaga tadi sedang buang air kecil, sejenak Elang menunggunya di balik dinding yang memisahkan ruang toilet dengan pintu masuknya.
"Klek..",
Elang membuka pengaman pistolnya sesaat ia melihat penjaga tadi berjalan ke arahnya.
" ?!? "
Penjaga itu terkejut ketika Elang menarik dasinya dan melilitkan kelehernya, sementara Elang berputar dan berada dibelakangnya dengan menempelkan pistolnya ke kepalanya.
"Ekhhh... Siapa kau????",
penjaga tersebut berusaha bertanya meskipun lehernya tercekik.
"Bukan siapa-siapa..",
jawab Elang sembari menariknya kedalam bilik toilet, menyalakan keran air dan menarik kuat-kuat dasi yang ia lilitkan ke leher penjaga itu.
Tak berapa lama penjaga itu telah kehilangan nyawanya.
Sementara itu para penjaga diruangan tadi tampak sudah berkumpul menonton acara humor di Tv yang tergantung disudut ruangan tersebut.
Kemudian dengan tenang Elang keluar dari toilet dan berjalan santai melewati para penjaga tersebut ke arah pintu selanjutnya menuju bagian depan hotel.
Sesaat setelah Elang membuka pintu, salah satu dari para penjaga menegurnya.
"Hey, mau kemana? Bergabunglah kemari, jangan terlalu serius..",
ucap penjaga tersebut.
Elang diam sejenak di tengah pintu yang terbuka.
"Sebentar.., aku harus melakukan sesuatu, aku segera kembali..",
jawab Elang tanpa menolehkan wajahnya.
"Cepatlah kawan..",
sahut penjaga tersebut.
Elang langsung masuk dan menutup pintunya, tampak kali ini Elang memakai setelan Jas hitam seperti yang para 'men in black' itu kenakan yang ia rampas dari seorang penjaga ditoilet tadi.
"Huhh, hampir saja..",
gumam Elang yang Kali ini ia berada disebuah ruangan utama, tampak disudut jauh di hadapannya ruang resepsionis.
Sementara tampak juga para 'men in black' berjaga dipintu masuk tak jauh dari ruang resepsionis.
Elang pun berjalan pelan menuju meja resepsionis yang tampak dijaga oleh seorang wanita, sementara disekitar meja resepsionis tersebut hanya ada deretan sofa kosong tanpa seorang pun.
"Ada yang bisa saya bantu pak..?",
resepsionis wanita itu bertanya dengan bahasa inggris ketika Elang mendekat ke arahnya.
"Emm.. Bisakah kau beritahu aku dimana bos saya berada..?",
tanya Elang dengan juga berbahasa inggris untuk melengkapi penyamaran sementaranya.
"Umm, apakah tuan Malloney dari Amerika?",
resepsionis itu balik bertanya.
"Ya.. Dia bos saya ",
sahut Elang.
"Ia berada di lantai 2 kamar 14 pak..",
ucap resepsionis tersebut.
"Terima kasih..",
sahut Elang lagi sambil segera beranjak pergi meninggalkan meja resepsionis tersebut.
"Pak.., mengapa anda tak menanyakan kepada rekan-rekan anda?",
resepsionis itu sepertinya mencurigai Elang, ditambah wajah Elang sama sekali berbeda dengan para pengawal lainnya.
Elang berbalik dan tersenyum..
"Maafkan aku, Aku junior disini, lagipula aku satu-satunya suku indian yang berhasil menjadi pengawal.. Dan kau tau? Mereka terkadang meributkan ras..",
ucap Elang berusaha mengelabui, sesekali matanya melirik memperhatikan sejumlah penjaga didepan yang tampaknya belum menyadarinya.
"Oh, maafkan saya pak telah menanyakannya.. Semoga bapak baik-baik saja dalam pekerjaan ini..",
sahut Resepsionis itu sedikit bersimpati.
"Terima kasih..",
ucap Elang langsung meninggalkan resepsionis tersebut.
"Huhhhh.. Hampir saja..",
gumam Elang sembari berjalan menaiki tangga menuju ke lantai 2.
"Adam masuk..",
ucap Adam dari radionya.
"Yah diterima Elang..",
sahut Adam.
"Target dilantai 2 kamar 14.., aku sedang dalam perjalanan.., mereka hanya terfokus di depan dan diluar, kalian bisa segera bergerak",
jelas Elang.
"Baik, kami mengerti..",
jawab Adam sembari menutup radionya.
"Ayo, kita harus cepat..",
seru Adam mecari posisi jendela kamar nomor 14 dilantai dua dari atas, sementara Mahda sibuk mempersiapkan sebuah tali yang akan ia julurkan kebawah.
"Hmmm..disana..! Ayo bergegas..",
ucap Adam menunjuk kesebuah jendela.
Mahda pun langsung bergeser dan menjulurkan 2 utas tali yang ia ikatkan diatas.
Sementara Elang tampak mengawasi dua orang penjaga didepan pintu kamar dimana Sir Malloney berada.
"Bagaimana dengan kalian?",
ucap Elang melalui Radio.
"Kami bergerak sekarang..",
sahut Adam.
Adam dan Mahda perlahan turun menggunalan tali yang terpaut di pinggang mereka, sejenak mereka memperhatikan sejumlah penjaga dibawah yang tidak menyadari kehadiran mereka.
"Jendela yang terbuka itu..!",
bisik Adam.
"Baik..",
Mahda mengayun mendekat.
"Elang, kami sudah diposisi..",
sahut Adam sambil mengokang MP-5 berperedamnya ketika ia dan Mahda sudah berada didepan jendela kamar Sir Malloney yang kebetulan terbuka.
"Baiklah.. Aku bergerak..",
sahut Elang keluar dari dari balik dinding dengan santai.
"Hey, ada perlu apa dan dari unit mana kau..?",
tanya salah satu dari 2 orang pengawal Sir Malloney didepan pintu kamar tersebut.
Elang hanya diam dan terus berjalan dengan menundukkan kepalanya.
"Hey.. Jawab aku..!",
bentak seorang dari pengawal tersebut sembari hendak mencabut pistolnya.
Elang berhenti dan menunjukkan wajahnya.
" ! "
"Dia bukan salah satu dari kita..!"
Seru salah satu dari pengawal tersebut, namun Elang langsung melepaskan sejumlah tembakan ke arah mereka.
"Aku selesai.., bersiaplah.."
"Taskkk!",
ucap Elang sambil menembak lagi salah seorang pengawal yang masih bergerak.
"Baik..!",
sahut Adam dan langsung masuk ke kamar 14 itu diikuti Mahda.
"Taskk..Taskk!"
Adam menembak seorang penjaga lagi yang berada didalam, setelah itu Adam langsung membukakan pintu kamar untuk Elang.
Sesaat Elang masuk dengan menyeret kedua tubuh pengawal yang tewas itu.
"Dimana target kita?",
gumam Mahda.
"Tunggu sebentar..,
Mahda jaga pintu.. Elang ayo..",
ucap Adam seperti mendengar suara dari ruangan lainnya dikamar bernomor 14 itu, Elang mengikutinya sembari membuka setelan Jas hitamnya.
Adam dan Elang berjalan perlahan memasuki ruangan yang gelap itu, sejenak suara seseorang semakin terdengar jelas, yah..suara seorang wanita bersama seorang pria.
Adam menemukan panel lampu ruangan dan disambut anggukan kepala oleh Elang.
"Tap "
Lampu dinyalakan, tampaklah Sir Malloney terkejut bersama dengan seorang teman wanitanya diatas ranjang.
"Siapa kalian?!?",
tanya Sir Malloney panik dan berniat mengambil telepon disampingnya.
"Jangan coba-coba pak tua..",
ucap Adam mengarahkan MP5-nya.
Elang memberi kode dengan jari dimulutnya agar wanita Sir Malloney yang tengah ketakutan itu tak berteriak.
"Pasti semua orang ingin menjadi sepertimu.. Berkeliling dunia, tidur dengan wanita cantik.. Heheh",
ucap Elang.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar