Selasa, 24 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 66

★HENING★ Part 66 



 "TEMAN.. "



"Whuuussss... Tang!"
Sebuah peluru menembus helm rekan disebelahnya, segera saja darah menetes tak karuan.
"Sialan..!!!", seru seseorang tersebut merasa ia dikalahkan oleh musuh yang berhasil mengelabuinya dan membunuh rekannya.
Segera ia berlari berpindah posisi sembari kembali berusaha mencari posisi musuh dari balik teropong senapannya.
Dan masih saja belum terlihat, hanya gumpalan asap bekas ledakan yang sebelumnya telah mengecoh dirinya sehingga rekannya meregang nyawa.

"Shhhh..! aku tak akan pernah mengetahui posisinya jika tak ada pengecoh.., pengecoh sungguhan!", ucapnya.

Beberapa menit kemudian. . .

Dengan meneteskan air mata ia kembali membidik dari balik teropongnya untuk mencari posisi musuh yang sangat sulit ditemukan diantara jendela-jendela bangunan-bangunan tua jauh di seberang sana.
"Maafkan aku teman.. Maafkan aku.. Aku sungguh minta maaf..", ucap seseorang tersebut sembari menangis.
Sejenak kemudian seseorang tampak bangkit berada tak jauh dari dirinya, namun sesaat kemudian sebuah peluru kembali menghantam seseorang tersebut.
"CRASShh!"
Namun sesaat kemudian ia berhasil menembak tepat musuh jauh disana berkat sosok yang kembali bangkit di dekatnya dan menerima tembakan telak dari musuh.

Setelah itu tampak ia berlari mendekati sosok tersebut dan buru-buru mengeluarkan sangkurnya dan segera memotong sebuah tali yang terkait dengan sosok tersebut.

"Maaf.. Sungguh maafkan aku. . ", ucapnya menangis perih.
Betapa tidak, sosok tersebut adalah tubuh rekannya yang sebelumnya telah mati akibat tembakan dikepala, namun dengan terpaksa ia menggunakan jasad rekannya tersebut untuk pengecoh musuh yang ia ikatkan dengan tali pada sebuah kayu dan paku dinding sehingga akan bangkit saat ia menarik tali yang berada digenggamannya, sehingga musuh akan mengira itu adalah prajurit yang tersisa.

Dengan berurai air mata ia meraih tubuh rekannya yang berlumuran darah itu dan menggendongnya, ia berniat membawanya kembali ke markas.
namun..
"Whhuuummmmppppp"
Sebuah pesawat melewati daerah itu sembari menjatuhkan bom bom berukuran besar.
"DUAAMMMPPpp!!!"

" ! "
Sontak ledakan itu membuat Elang terbangkit dari tidurnya.
"Hmm? Mimpi buruk kah?", tanya seorang perawat yang sedang merapikan kain jendela kamarnya.
"Humppm.?? Ah tidak.. Bukan.., bukan apa-apa..", sahut Elang.

"Sebaiknya tenangkan pikiranmu.., saya akan melihat temanmu sebentar, setelah itu saya akan memberikanmu suntikan obat, tunggulah.. Saya hanya ingin melihat infusnya..", sahut perawat itu lagi sembari hendak membuka pintu.

"Iya.., tak apa..", ucap Elang, pikirannya masih belum tenang akibat bayangan masa lalu yang singgah dalam tidurnya.
"Maaf.. Aku tak akan menyiakan temanku lagi.., Jim adalah yang terakhir yang berkorban untukku.. Aku berjanji..", gumam Elang sembari kembali berbaring.

Diluar..
Kesibukan sudah mulai tak terlihat lagi, para prajurit-prajurit pengawal juga sudah mulai meninggalkan halaman depan Rumah sakit militer tersebut, hanya tinggal beberapa prajurit di pos depan serta sejumlah petugas rumah sakit yang masih berlalu lalang, sore itu sepertinya langit akan segera menurunkan air hujan dari balik gumpalan awan yang telah menghitam.

Sementara itu Heru dengan seragam PDH berpangkat Lettu yang ia kenakan tampak leluasa melangkah masuk menyusuri lorong demi lorong di dalam rumah sakit tersebut, langkahnya sejenak terhenti ketika ia telah berada di lorong dimana tempat kamar-kamar pasien kelas utama yang berada di lantai dua.

"..hmm, terlalu beresiko jika aku bertanya dimana ruangan mereka, tapi.. Sepertinya ini terlalu sepi, mungkin hanya mereka saja yang dirawat dikelas utama disini..", gumam Heru sembari merapikan seragamnya.
Sejenak ia memperhatikan sekitar dan kembali melangkah pelan sembari merogoh sesuatu dari balik kemeja hijaunya.

"..ini bagus..!", seru Heru dalam hati menyadari hanya ada beberapa kamar disepanjang lorong tersebut yang menghidupkan lampu, yang berarti hanya dibeberapa ruangan tersebut yang berisikan seseorang dirawat.

"..1 .. 2.. 3.. 4, mereka 3 diantaranya.., hmm baiklah..", gumam Heru mulai melangkah ke arah kamar pertama.

" ! "
"Emm.., maaf sus.. Yang dirawat didalam siapa ya..?", tanya Heru segera meskipun ia sedikit terkejut tiba-tiba saja seorang perawat muncul keluar dari kamar yang ia tuju.

"Maaf pak.., bukankah seharusnya bapak bertanya terlebih dahulu kepada petugas dibawah..?", sahut perawat tersebut.

"Ya.. Tadinya saya berniat seperti itu, tapi petugas dibawah sedang tidak ada sus..", jawab Heru berbohong.

"..kalau bapak belum mengisi data pembesuk berarti bapak tak di izinkan kesini bapak.., maaf bapak disini kelas utama, sebaiknya bapak kembali kebawah dan melapor kepada petugas dibawah..", jelas perawat tersebut, dari bentuk dan postur fisiknya sepertinya ia perawat dari unit medis TNI.

"Oh begitu ya..? Kamu dari satuan mana? Dan siapa komandanmu..? Kamu saya anggap membangkang dari seorang Letnan seperti saya", tanya Heru berusaha menggunakan atribut penyamarannya.

"Siap pak.., saya Sersan Dina dari unit medis.. Tapi meskipun bapak melaporkan saya.. Bapak tetap harus melapor ke petugas dibawah..", jawab perawat tersebut tetap menjunjung aturan yang berlaku.

"Begitukah? Meskipun kau akan ke mahkamah militer?", tanya Heru lagi.

"Siap pak.., memang seperti itu peraturannya, saya minta bapak untuk segera kembali kebawah atau saya akan memanggil unit keamanan dibawah..", jawab perawat itu lagi.

"Oh ya baik.., maaf.. Aku hanya ingin mengujimu, kerjamu bagus, tapi..", ucap Heru sembari mendekap mencekik leher perawat tersebut tangan kirinya dan segera berputar dan mendekap perawat tersebut dari belakang.

" !!! "
Tak lama kemudian sebuah pistol berperedam ditangan kanannya menempel dikening perawat tersebut.

" Saya rasa kamu jangan bersuara lagi atau rekan-rekanmu akan lembur untuk membersihkan otakmu yang tercecer dilantai..!", ucap Heru sembari menyeret perawat tersebut masuk ke kamar dimana ia keluar tadi.
" ! "

"..aduh sus..! Aku hendak tidur, aku rasa cukup suntikannya..", ucap seseorang yang terbaring dikamar mendengar pintu kamarnya berdecit.

"Hmm.. Dia salah satunya..!", ucap Heru dalam hati melihat sosok Mahda terbaring membelakanginya di tempat tidur.

"Terima kasih sersan..!",
" ! "
"CRKkkk!!!"
Ucap Heru sembari menembak kepala Perawat tersebut.
Darah beserta gumpalan cairan kekuningan berhamburan didinding dibarengi robohnya perawat tersebut.

" ! "
Mahda menyadari sedikit kegaduhan segera berbalik.
" Hah?!? Apa yang anda lakukan?? Tidak.., siapa kau..?!?!", tanya Mahda sesaat setelah ia melihat seorang perawat terbaring dengan kepala yang berlubang.

"Hmm.. Aku rasa aku tak ingin banyak bicara.." Ucap Heru sembari langsung mengarahkan pistolnya ke arah Mahda yang tengah berbaring.

" ! "
"Tass tass!"
Mahda melompat ke bawah sesaat sebelum Heru melepaskan tembakan, ia tak memperdulikan tangannya yang berdarah akibat jarum infus yang terlepas secara paksa akibat tertarik saat ia melompat.

"Hmm?", gumam Heru sembari berjalan mendekat dengan terus mengerahkan pistolnya.

" !!! "
" Hiaaaa..!"
" !?!?"
Mendadak Mahda muncul sembari melempar sebuah piring alumunium ke arah Heru.
"Tang!"
Piring itu menghantam dan menjatuhkan pistol itu dari genggaman Heru.
Sesaat kemudian Mahda melompat ke arah Heru hingga Heru terjatuh kelantai.
Namun dengan satu pukulan ke arah rusuk sudah mampu melemahkan cengkraman Mahda yang berniat mencekik Heru.
"Sepertinya kau sedang sakit ya?", tanya Heru meledek sembari bangkit hendak mengambil pistolnya kembali yang tergeletak dilantai.
" Sial..!", gumam Mahda merasakan sakit diseluruh tubuhnya dari luka-luka yang baru saja ia dapat pada pertempuran sebelumnya di papua bersama Elang dan Adam.
Namun ia berusaha tak memperdulikan rasa sakit ditubuhnya dan kembali meraih leher Heru dari belakang.
" ?!?, kau ini..!", geram Heru sembari menahan memegang tangan Mahda yang mencekiknya lalu dengan sekuat tenaga ia tarik Mahda kedepan dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
" Hiaa..!"
Sejenak kemudian Mahda segera terjungkal kedepan dan terbanting dilantai keramik ruangan dimana ia dirawat
"Buk!"

"Ekhh..!", eram Mahda kesakitan.

"Sudahlah, aku akan mengakhiri penderitaanmu..", ucap Heru yang telah mendapatkan pistolnya kembali.

"Ekhhh.. Siapa kau??", tanya Mahda dengan seluruh luka-lukanya yang kembali mengeluarkan darah akibat terlalu banyak bergerak.

"Sudah kukatakan.., aku tak akan banyak bicara.., siapkan saja doa terakhirmu..", sahut Heru yang bersiap menarik pelatuk.

" ! "
(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...