Jumat, 20 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 62

★HENING★ Part 62 "





 Drama "




" . . . "

Keadaan ruang komando tersebut mendadak hening, semua mata tertuju pada sosok Mayjen Maryadi yang tengah diamankan oleh beberapa pengawal.

"Heh..heheh", 

Mayjen Maryadi tertawa kecil, membuat semua orang bingung melihat gelagatnya.

"Apa yang anda tertawakan...?", 

tanya Letn.Vega.

"Hmm...".

Sesaat Mayjen Maryadi dalam posisi tertunduk dengan dekapan beberapa pengawal mengangkat wajahnya mengarahkan pandangannya ke arah Letn.Vega.

" Kau sungguh hebat Letnan... Ekhh..",

 ucap Mayjen Maryadi pelan.

".. Jika saja aku memiliki orang sepertimu.. Mungkin saat ini..negara busuk ini telah terbebas dari belenggu kepemerintahan bodoh ini..", 

sambung Maryadi lagi.

"..? Dari sepengetahuanku, kau adalah prajurit yang setia.., mengutamakan tugas dibanding apapun.., mengapa kau bisa sampai sejauh ini?", 

sela Jend.Purnomo seakan tak menyangka pria paruh baya itu yang dikenal atas loyalitas tingginya telah berkhianat hingga seperti ini.

"Maryadi... Ada apa denganmu..? Bukankah aku mempercayaimu untuk menjagaku..?", 

tambah Pres.Darwin sembari mengingat masa-masa dimana Maryadi beserta anak buahnnya menjaganya saat sedang berlangsung pertemuan disuatu aula.

Presiden Darwin juga mengenang dimana Maryadi memilih memimpin operasi pengamanan atas dirinya ketimbang berlibur dihari raya agama bersama keluarganya.

Dan Presiden Darwin juga mengingat saat Maryadi bersama para anak buahnya dengan sigap menjadikan tubuh mereka sebagai tameng hidup ketika keadaan sedang kacau disuatu pertemuan.

"... Mengapa kau melakukan ini..?", 

tanya Pres.Darwin lagi.

"Huh... Kau selalu seperti itu, bertanya disaat kritis.. Kau tak pernah tahu keadaan di luar istanamu.., kau hanya tahu keadaan didalam pemerintahanmu..

kau tak pernah mencoba peduli pada sekitarmu!", 

sahut Mayjen Maryadi setengah membentak.

" ..."

Pres.Darwin memberi tanda kepada para pengawal untuk melepaskan dekapan mereka karena Maryadi juga sedang terluka.

"..kau merasa memahami bangsamu.., padahal kau tak pernah paham apa yang membuat orang-orang menentangmu..!",

 tambah Maryadi.

" . . . "

Sejenak Pres.Darwin teringat sosok PM Ghoydee yang dihianati Panglimanya, kemudiam ia teringat Jend.Irwan yang juga tampak sepertinya juga akan menghancurkan negaranya sendiri.

"Maryadi..! Jaga bicaramu..!", 

sahut Jend.Purnomo.

Namun Pres.Darwin menyela dengan menganggukkan kepala pertanda tak apa-apa.

"Lalu menurutmu..apa kesalahanku sebagai pemimpin?", 

tanya Pres.Darwin.

Sementara itu Letn.Vega tampak memperhatikan.

"Kesalahanmu..?!? Kesalahanmu adalah terlalu sibuk dengan kekuatan negaramu!! 

Kau tak pernah memikirkan apakah rakyatmu sudah makan siang hari ini?!?!

 Hah..!?!?

 Apa menurutmu kekuatan negara itu lebih penting dari kemakmuran rakyatmu!?!?", 

bentak Mayjen Maryadi.

Sejenak semua tertegun dengan ucapan Mayjen Maryadi.

"Tapi, Jika itu alasanmu berkhianat.. Itu sungguh tidak masuk akal..", 

sela Jend.Purnomo.

"Hmm... Begitukah?", 

sahut Maryadi.

" ! "

Tiba-tiba saja Maryadi bangkit dan berbalik merebut pistol sambil menendang seorang pengawal dan langsung mengarahkan pistol rampasannya ke arah Pres.Darwin.

" !!! "

Seketika keadaan menjadi tegang, semua pengawal yang berada disana segera mengarahkan moncong pistol-pistol mereka ke arah Maryadi.

"Tunggu...!!! Hentikan Maryadi..! Hentikan..!", 

teriak Jend.Purnomo.

" Sial..", 

gumam Letn.Vega.

"Semuanya... Tenanglah...", 

sela pres.Darwin.

" ? "

"Maryadi... Jika menurutmu aku tak pantas diposisi ini, mengapa kau tak memintaku mundur sebelumnya?..",

 tanya Pres.Darwin.

"Hah...? Kau selalu berkata seolah-olah kau berwibawa dan terhormat.., asal kau tahu..

Aku tak pernah menghormatimu sejak...", 

sahut Maryadi yang tengah mengarahkan pistolnya ke arah Presiden Darwin bersamaan dengan belasan pucuk pistol lain yang mengarah pada dirinya.

"Sejak apa Maryadi..? Ini bukanlah dirimu yang ku kenal.. Apakah gerangan yang merubahmu hingga seperti ini?",

 tanya Pres.Darwin lagi.

Maryadi hanya diam tak menanggapi.

".. Kau selalu melindungiku.. Keluargaku.. Teman-temanku.., itu hal baik yang selalu kau lakukan..",

 sambung Pres.Darwin.

"Itu sudah menjadi tugasku..!", 

sahut Maryadi.

"Aku tak sedang membicarakan tugas, aku membicarakan dirimu..! Jiwamu yang kau serahkan pada bangsa ini..! Jika kau membenciku mengapa kau bawa negara ini dibelakang kesalahanku..?? 

Mengapa kau lemahkan bumi pertiwi dimata dunia disaat seperti ini..?

 Mengapa kau melakukannya..?", 

tanya Pres.Darwin sembari bangkit dari tempat duduknya.

"..."

Maryadi hanya diam tak menjawab, sementara semua orang yang berada disitu memperhatikan dengan mimik tegang.

"Baiklah.. Mungkin aku seperti yang kau katakan, aku terlalu sibuk dengan kekuatan bangsa ini, sekarang...Jika kau membenciku dan menyalahkanku.. Tembak aku sekarang juga..! Tapi aku mohon padamu.., jangan buat bangsa ini lemah dimata dunia dengan menghianatinya..!", 

bentak Pres.Darwin.

"Pak presiden!", 

sela Letn.Vega, namun Pres.Darwin tak menghiraukannya.

Sesaat Mayjen Maryadi menundukan kepalanya.

"... Aku... Aku hanya tak ingin melihat negara ini hebat di mata dunia Tapi rakyatnya menderita...,, negara ini terlalu banyak drama hitam politik, korupsi dan yang lainnya tak bisa dihentikan dan terus berkembang, belum lagi ekonomi yang tak pernah stabil..", 

ucap Maryadi dengan mata berkaca-kaca.

Semua terhenyak mendengarkan.

"..negara selalu mengumbar kesejahteraan, namun rakyatnya tak pernah tahu apa itu sejahtera.., bahkan mereka lupa bagaimana rasanya..

 Mereka setiap hari hanya disuguhkan drama kisruh politik, peperangan.., apa kalian tahu? 

Itu bukanlah perwujudan Indonesia yang ku bela selama ini..., 
ketika aku mencoba memahami semuanya, aku tahu ini semua berawal sejak kau duduk di singgasana kepresidenan..", 

sambung Maryadi sambil menatap Prers.Darwin.

"... Negara ini semakin kehilangan jati dirinya.., hal-hal yang di anggap mengganggu pemerintahan segera dilenyapkan..", 

ucap Maryadi sembari melirik Jend.Purnomo dan Pang.Rokhim.

"..dan ketika semua perbuatan kita menjadi bumerang, pasti ada yang berhasil membuat negara ini tetap di atas angin...", 

ucap Maryadi lagi sambil melirik Letn.Vega.

". . . Orang ini...", 

gumam Letn.Vega dalam hati.

"...Darwin.. Aku mencintai negaraku.. Dan Jika saat ini aku telah melukai indonesiaku.. Berarti aku telah gagal.. Maka dari itu..", 

sambung Maryadi lagi.

" !!! "

Namun kali ini maryadi menurunkan pistolnya dan menempelkan pucuk pistolnya ke kening kirinya.

"Maryadi...! Bukan itu maksudku..! Hentikan itu Maryadi..!", 

seru Pres.Darwin.

".. Tidak.., aku rasa aku sudah cukup membuat melukai indonesiaku sampai disini..", 

sahut Maryadi bersiap menarik pelatuk pistol yang menempel dikepalanya..

"Darwin.., biarkan saja ia... Ia seorang penghianat..", 

bisik Wapres Haryono pelan, namun Pres.Darwin tak menghiraukannya.

" Sial...! Tidak ada pilihan lain..!", 

gumam Letn.Vega sembari langsung bergerak.


"TASH..!" "Teng..." "Tash!"

Suara tembakan menggemama, Pistol yang di genggam Maryadi terpental sembari melepaskan sebutir timah panas.

"Ekkhh..!"

".. Maryadi..!", 

seru Pres.Darwin.

Dua orang pengawal segera melompat meraih tubuh Maryadi yang limbung.

" ! "

"...ekh..ApA yang dilakukannya..",

 gumam Maryadi menyadari tangannya ditembus peluru.

"Maaf Pak.. Saya rasa saya tak bisa membiarkan tindakan anda..", 

ucap Letn.Vega dengan sebuah pistol yang masih mengeluarkan asap ditangannya.

Sementara itu tampak Maryadi di apit oleh dua orang pengawal, tampak juga luka serempetan peluru memanjang di samping kepalanya, juga luka tembakan di tangan kanannya.

Sepertinya Letn.Vega sengaja menembak tangan Maryadi agar keseimbangan pistol Maryadi goyah sehingga mnaryadi tak akan bunuh diri.

"Bagus Letnan...", 

ucap Pang.Rokhim.

"Ekhhh.... Mengapa kau lakukan itu Letnan..?", 

tanya Mayjen Maryadi yang tersungkur dilantai dengan dua orang pengawal yang memeganginya.

"Panggil tim medis.. Panggil mereka cepat..!", 

seru Pres.Darwin sembari melangkah hendak mendekati Maryadi.

"..ada dua alasan yang membuat saya tak membiarkan anda mati.., pertama.. Saya ingin mengetahui orang yang mengendalikan anda hingga sejauh ini...", 

jawab Letn.Vega.

"?!?!"

"..benar.. Masih ada seorang misterius yang berbicara dengannya di telepon..",

 gumam Pang.Rokhim dalam hati.

"Kedua.. Anda adalah bagian dari tentara nasional indonesia.., yang saya tahu.. Para Prajurit Tentara nasional indonesia tak akan melakukan tindakan pengecut seperti itu..

Lari dari masalah, kita hanya melakukan tindakan seperti itu jika kita berada dibawah musuh.., sedangkan anda?

 Disekitar anda ini adalah rekan sebangsa anda..! Bukan musuh..!", 

jelas Letn.Vega lagi sembari kembali menyarungkan pistolnya.

" !!! "

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...