Senin, 23 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 65 (PLUS)

★HENING★ Part 65 (plus) 




" FINISHED? "



"Brakk..!"

"Tash..tash..!"

Dua tembakan tepat Letn.Angga merobohkan seorang pembelot yang menjaga Sir Robert, sementara dua rekannya yang juga bertugas menjaga Sir Robert telah tewas terlebih dahulu juga di tangan Letnan dua Raider ini.

"Apa anda baik saja pak..?", tanya Letn.Angga sembari memeriksa tubuh pembelot tersebut memastikan musuhnya tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"..saya baik saja.. Tapi..", sahut Sir Robert yang tampak tenang saja meskipun begitu banyak hingar bingar suara letupan senjata api yang terdengar.
"..saya dari tentara nasional indonesia ditugaskan langsung oleh presiden untuk membawa anda dari sini..", sela Letn.Angga.

"Oh.. Begitukah?", gumam Sir Robert.
"Lalu, apa hanya kau saja? Maksudku.. Apa kau sendirian..?", tanya Sir Robert sembari bangkit dari kursinya.
"..hmm.. Mungkin anda bisa menebaknya nanti.., atau anda dengarkan saja keramaian diluar.., sekarang kita harus segera pergi dari sini pak.., kita tak punya banyak waktu..", jelas Letn.Angga seakan tak ingin berlama-lama.

Markas pusat, Jakarta..

ketegangan masih terlihat meliputi wajah semua orang yang berada di Ruang komando TNI, tampak tim medis baru saja meninggalkan ruangan sambil membawa tubuh Maryadi dengan dikawal oleh beberapa paspampres yang diminta mengawal langsung oleh Pres.Darwin.

"..maaf Darwin.., kau terlalu berlebihan terhadap seorang penghianat seperti dia..", ucap Wapres.Haryono.

"Apa yang kau katakan Har?", tanya Pres.Darwin sembari kembali duduk di kursinya.

"...tidak Darwin.., tak apa..", sahut Wapres.Haryono.

"Letnan.., sebaiknya kau kembali ke dalam, Letnan Angga dan yang lainnya pasti membutuhkanmu.., ini perintah..", bisik Pang.Rokhim.
"Bagaimana dengan semua ini panglima..?", tanya Let.Vega.
"Biar saya dan Jendral Rokhim yang menanganinya..", jawab Pang.Rokhim.

"Tapi.., sepertinya saya tadi menyadari sesuatu..", sambung Letn.Vega.
"Hmm..? Apa itu Letnan..?", tanya Pang.Rokhim mendekat.
"...hmm tak apa panglima.., saya rasa belum bisa saya ceritakan sekarang.., mohon ijin kembali ke tugas panglima..", ucap Letn.Vega, memberi hormat dan segera berlalu sembari melirik ke arah wapres Haryono.

" ..."
Pang.Rokhim menoleh ke arah Wapres Haryono, sesaat kemudian ia menoleh ke Jend.Purnomo.
Namun Jend.Purnomo hanya menggelengkan kepalanya pertanda tak mengerti.
....
...
..
.
"Markas ke srigala..", seru Letn.Vega melalui radio.

" ! "
"Masuk.., Letnan Angga kehilangan radionya, tapi sejauh ini sepertinya ia baik saja..", jawab Sers.Tari menjelaskan.

"..maaf.. Kami juga mendapatkan ketegangan disini.., Tari.. Bagaimana dengan yang lainnya..?", tanya Letn.Vega.

"Kami baik saja.., tapi kami tak bisa bertahan lebih lama lagi..! Komandan belum juga muncul..!", seru Sers.Dimas segera memberi tahu.
"..jelaskan situasi kalian.., segera..!", perintah Letn.Vega.
"Kami menunggu komandan mencari target..!, tapi tak yakin bisa bertahan lebih lama lagi.., selain amunisi, musuh sepertinya bukan orang-orang sembarangan..!", jelas Sers.Dimas sambil sesekali melepaskan tembakan, sepertinya keadaan ia dan Sers.Haryo tak begitu bagus.

"..hmm... Dan kau Tari? Bagaimana statusmu saat ini..?", tanya Letn.Vega.

"Aku baik saja.., tapi tidak dengan para polisi disana.., mereka terpojok..! Izinkan aku menembak..!", jelas Sers.Tari sembari melirik dari teropongnya ke arah 4 orang polisi yang tersisa yang terpojok di balik mobil mereka, sementara itu tampak tiga orang musuh mendekati mereka dengan terus memberondong tembakan.

"Negatif Tari..! Tahan dirimu..!", seru Letn.Vega.

"..tapi kakak.., aku rasa aku bisa menembak sekarang..", sela Sers.Tari sembari bersiap menembak.

"TASH..! ", "klak.."
"Satu..", guman Sers.Tari berbarengan dengan robohnya salah seorang dari tiga pembelot tadi.

"TASH..! " "Klak.."
"Dua..", ucapnya lagi sembari kembali mengokang senapannya.
"Tari..! ", seru Letn.Vega namun tak dihiraukannya.

"Hmm..? ", gumam Sers.Tari melihat sasaran ketiganya menghilang, ia terus berusaha mencari melalui teropongnya.
" Sial..!", gerutunya sembari menundukkan kepalanya begitu ia melihat sejumlah pembelot tampak mengarahkan senjata mereka ke arahnya, sesaat kemudian mereka menembakinya.
Namun konsentrasi para pembelot tersebut pecah ketika aungan sirene satuan Densus 88 datang.

"Tretereteretereteret..!"
Segera saja mereka mengarahkan tembakan mereka ke arah 2 mobil khusus satuan Densus yang baru saja datang.

"Tari..!", seru Letn.Vega lagi.
"..pasukan khusus polisi sampai disini kak..", jelas Sers.Tari.
" ! "
"Itu berarti waktu kalian sudah tak banyak..! Tari.. Mundurlah..!", perintah Letn.Vega.
"baik.., aku mengerti..", sahut Sers.Tari langsung bergerak menjauh.

Sementara itu perhatian para pembelot didalam juga teralihkan dengan kehadiran satuan Densus 88, sepertinya ada sesuatu yang membuat para pembelot tersebut sangat ingin menghabisi satuan khusus polisi tersebut.

"Kenapa dengan mereka..?", gumam Sers.Haryo terengah-engah.
"Entahlah.., yang terdengar hanya sirene polisi tiba disini..", sahut Sers.Dimas sembari berusaha mengintip ke depan.
"Sebagian dari mereka pergi keluar..!", sambung Sers.Haryo lagi.
"..itu terdengar bagus.., tunggu.. Itu komandan..!", seru Sers.Dimas baru menyadari tampak seseorang sedang melambaikan tangan ke arah mereka dengan sembunyi-sembunyi.

"Huhh.. Akhirnya mereka melihat kita..", gumam Letn.Angga.
"lalu bagaimana kita akan keluar dari sini..? Musuh kalian adalah orang-orang terlatih seperti kalian..", sahut Sir Robert.
" Aku tau pak.., mungkin anda bisa mengira-ngira dengan wajahku yang babak belur ini..", ucap Letn.Angga sembari memberi perintah kepada Sers.Dimas dengan kode-kode gerakan tangan.
"..wajahmu terlihat bonyok..", sahut sir Robert.
"Terima kasih pak..", ucap Letn.Angga.
"..dasar..orang tua..", gumam Letn.Angga.
"..apa..?", tanya Sir Robert.
"Hmm..tak ada pak.., saya hanya anda segera bersiap.., ini akan memacu andrenalin anda..", jawab Letn.Angga.
"Baiklah..", sahut sir Robert merapatkan diri ke Letn.Angga.

"Haryo, komandan ingin kita melempar granat tangan, setelah itu kita lepaskan tembakan perlindungan..!", jelas Sers.Dimas memberi tahu.
"Tapi amunisi kita tak banyak..", sahut Sers.Haryo sembari menunjukkan magazen terakhirnya.
"..itu sudah cukup..", ucap Sers.Dimas sembari mengeluarkan sebuah granat dan bersiap.

"Bagus mereka telah bersiap.., anda pakailah ini.., ini akan melindungi anda..", ucap Letn.Angga sembari melepaskan rompi anti pelurunya dan memakaikannya pada Sir Robert.
"..bagaimana denganmu..?", tanya Sir Robert.
"..pak, ikuti saja aku.. Mengerti?", ucap Letn.Angga sembari mengokang senjatanya, kemudian ia segera memberi tanda kepada Sers.Dimas.

"Itu tandanya.., Haryo bersiaplah..!", ucap Sers.Dimas
"Ayo kita mulai..!", sahut Sers.Haryo.

" .... Tang... Teng.. Teng.. Teng.."
Granat yang dilemparkan Sers.Dimas mengejutkan sejumlah pembelot yang tersisa, mereka segera bergerak menghindar.
(Next)

Part 65 (2)

"BAMMMppppp!!!"
Granat meledak

"Sekarang pak..!", seru Letn.Angga buru-buru mengajak sir Robert bergerak menuruni tangga.
"Ini sulit..! Aku sudah tua..", celetus sir Robert di tengah pergerakannya.
"Haryo..! Tembakan..!", seru Sers.Dimas keluar dari persembunyian-nya bersama Sers.Haryo.

"Tash..tatatatattatatatshh..!"
Tembakan Sers.Haryo semakin membuat para pembelot bingung.

Namun tak berselang lama para pembelot yang tersisa didalam langsung membalas tembakan meskipun ditengah-tengah kepulan asap bercampur debu berterbangan akibat ledakan granat tadi.

"Ayo pak..! Bagaiman keadaanmu ndan?", tanya Sers.Dimas yang menyongsong Sir Robert bersama Letn.Angga.
"Saya rasa saya baik saja, cepat bawa pergi target..! Haryo kita tahan mereka sejenak..!", seru Letn.Angga mengambil posisi diikuti Sers.Haryo.
"Baik ndan..!", sahut Sers.Haryo.

"Tretretretretetetetet..!"
Tembakan balasan para pembelot semakin menjadi, sementara itu Sers.Dimas yang bertugas membawa Sir Robert tampak kesulitan karena Sir Robert kelelahan.
"Ayo pak dubes..! Saya minta anda bergerak lebih cepat lagi..!", ucap Sers.Dimas merangkul Sir Robert.
"..aku sebelumnya tak menyangka suatu hari akan berlari seperti ini..", sahut Sir Robert.
"..yah.., terkadang sesuatu terjadi begitu saja pak.., tapi anda tetap harus berlari.. Ayo..!", seru sers.Dimas lagi.

"Ndan..! Amunisi..!", seru Sers.Haryo memberi tahu bahwa amunisinya telah habis.

"Ini..! Yang terakhir.., sebaiknya kita segera mundur..! Ayo..!", sahut Letn.Angga sembari memberikan pistolnya, kemudian ia dan anak buahnya itu segera bergerak mundur sambil sesekali melepaskan tembakan, sementara itu para pembelot mulai mengejar mereka setelah samar-samar mereka melihat tim Letnan Angga membawa sandera mereka.

"Mereka bergerak ndan..", ucap Sers.Haryo sambil terus menembak.

"Berikan radiomu dan segera susul Dimas dan Target..!", sahut Letn.Angga.

"Baik ndan.. Ini..!", ucap Sers.Haryo sembari memberikan radionya kepada Letn.Angga di tengah-tengah pergerakan mundur mereka, dan ia segera mempercepat langkahnya.

"Markas masuklah..!", ucap Letn.Angga melalui radio.
"Diterima Letnan.., sepertinya kalian terdesak..", sahut Letn.Vega yang sedari tadi mendengarkan dari Radio Dimas dan Haryo.
"Yah, tapi kami berhasil membawa target.., tapi kami dikejar-kejar dan kehabisan amunisi..", jelas Letn.Angga.

"Kalau begitu segera tinggalkan lokasi dan bawa target bersama kita..!", seru Letn.Vega.
"Itu yang sedang aku lakukan.., keluar..", sahut Letn.Angga sembari terus menembak, dilalin sisi..para pembelot terus mendekat ke arahnya.

"Klek..klek..",
"Sial...", gumam Letn.Angga menyadari amunisinya telah habis, ia segera berlari menjauh menyusul Sers.Haryo dan Sers.Dimas yang bersama Sir Robert.

"Tereteretreteret..!"
Tembakan para pembelot semakin terdengar jelas seolah memberi tahu posisi mereka yang semakin mendekat.

" ?!?!"
"Mengapa kalian lambat sekali..?!?!", tanya Letn.Angga menyadari ia telah menyusul kedua anak buahnya yang terlihat membopong sir Robert.
" ..."
Sers.Dimas hanya menjawab dengan melirik sir Robert.
" Sial..", gumam letn.Angga dalam hati.
Tampak keempat orang itu berlari ditengah hujan peluru yang ditembakan oleh para pembelot.

"Cshhh..! Swinnggg..! Crsskk.."
Desingan peluru yang menghantam tanah disekitar mereka terdengar jelas di tengah suara tembakan yang bergema.

"Ndan..! Kurasa kita akan gagal..!", seru Sers.Haryo.
"Haryo tutup mulutmu..!", sela Sers.Dimas, kedua sahabat itu berdebat sambil berlari dengan membopong sir Robert.
"..orang tua ini terlalu lambat..!", sahut Sers.Haryo.
"..huh..huh..huh..", sir Robert hanya diam terengah-engah.
Sers.Dimas hanya melirik letn.Angga.
"Diamlah.. Dan terus bergerak..!", sela letn.Angga.

"Crrkkk!!!"
"Aaaakhhh...!", teriak Sers.Haryo setelah sebuah peluru mengenai paha kirinya, Haryo terjatuh, membuat pergerakan mereka berhenti.
"Haryo..!", seru sers.Dimas menyadari sahabatnya tertembak.
"Semuanya menunduk..! Haryo, benamkan kepalamu..!", seru Letn.Angga sembari tiarap.
"Dimas..! Granatmu..!", perintah Letn.Angga.
"Ini yang terakhir ndan..!", sahut Sers.Dimas sembari bangun dan melemparkan granatnya dan kemudian ia menunduk lagi.

"BAMMMPPP!"
Ledakan granat itu sedikit memperlambat para pembelot yang mengejar mereka.
"Sekarang bagaimana ndan..?!?", tanya Sers.Dimas yang memegangi Sers.Haryo, sementara sir Robert hanya merapatkan tubuhnya ke permukaan tanah dan tak berani banyak bergerak.
"Kita kembali ke markas..", jawab Letn.Angga.
"Bagaimana caranya..!?!", tanya Sers,dimas lagi.
Namun tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang mendekati mereka ditengah-tengah lapangan terbuka tersebut dan berhenti tepat didekat mereka.

"Ayo naik..!", seru Sers.Tari sesaat setelah ia membuka pintu depan.
" ! "
Tanpa pikir panjang segera saja Sers.Dimas menyeret Haryo naik ke mobil di bantu Sers.Tari, sementara itu letn.Angga membantu sir Robert.

"Tengk..tengk.."
Peluru mulai menghantam bodi mobil.

"Ayo..! Kita harus cepat..!" Seru Sers.Tari.
" ! "
Tak lama kemudian mereka berhasil lolos dari kejaran para pembelot tersebut.
"Haryo bertahanlah..", ucap sers.Dimas.
Sers.Haryo hanya menganggukkan kepalanya.
"..gerakan yang bagus Sersan..", ucap Letn.Angga.
"..terima kasih..", sahut Sers.Tari.
"..kerja kalian bagus..huh..huh..", ucap sir Robert terengah-engah.
"Terima kasih..", sambung sir Robert lagi.
"Tak apa pak.., kami hanya melakukan tugas..", sahut Letn.Angga.
"Yah.., setelah ini sebaiknya saya segera menghubungi negara saya.., tapi ada yang lebih penting lagi..", sambung sir Robert.
"???"
"Apa itu pak..?", tanya letn.Angga.

"Saya tau siapa dalang dibalik kejadian ini.. Presiden kalian pasti akan terkejut..", sahut sir Robert.
Sers.Tari dan Letn.Angga hanya saling pandang mendengarnya.
.........
part 65 (66 preview) " bom waktu "

sementara itu..

Sebuah mobil tampak melaju pelan dan berhanti tak jauh dari kawasan rumah sakit militer milik TNI, selain memegang kemudi, tangannya sibuk membuka dokumen-dokumen berupa data-data serta foto beberapa orang berseragam militer.

Tak berselang lama iring-irinulan yang dikawal sejumlah mobil-mobil berplat militer tampak memasuki areal RS militer tersebut.

"Tidak salah lagi perkiraanku, mereka terluka dan dibawa kesini.., sungguh mudah mencari mereka..", gumam seseorang itu yang tak lain adalah Heru.
Ia menoleh jok belakang mobilnya, memilih-milih seragam militer yang hendak ia gunakan untuk menyamar, sepertinya ia berniat menyelinap kali ini.
...
..
.
"Kita sampai..?", ucap Mahda.
"Yah.., perawat cantik akan menangani kita mulai dari sini..", sahut Adam.
"Heheh..kalian jangan berharap lebih, yang ku tau disini dokter dan susternya adalah orang-orang yang sudah berpengalaman..", sela Elang tersenyum.
"Maksudmu para dokter dan perawat tua dan gemuk..?", tanya Mahda.
"Yah.. Seperti itulah..", sahut Elang.
"..bagaimana kita akan cepat pulih?", tanya Mahda lagi.
"..hmm.. Aku tak ingin membayangkannya..", sela Adam.
"Hahahahah..", Elang terbahak.

Beberapa saat sejenak mereka bertiga telah diturunkan dan segera dibawa menuju ruang perawatan untuk memulihkan keadaan mereka.

Sementara diluar, tampak orang asing berseragam PDL memasuki areal rumah sakit tersebut tanpa kesulitan yang berarti, mengingat keadaan kawasan tersebut penuh dengan para prajurit yang mengawal Elang dan yang lainnya menuju kesini.
Ia adalah Heru, Dengan tenang ia melangkah pelan mendekati pintu masuk rumah sakit, dan tanpa sedikitpun gangguan ia sudah benar-benar masuk ke rumah sakit militer itu.
"Hmm..baiklah.., sekarang dimana kalian..?", gumamnya pelan sembari merapikan topi bergambar pangkat Lettu yang ia kenakan.

Canberra, Australia..

"Apa.!?!? Robert menghilang..?!?!", bentak PM Dubbront terkejut akan kabar yang diterimanya.
" ini tidak mengada-ngada pak.. Sir Robert diculik di indonesia..", jelas Jend.Rosh Chief dari divisi mata-mata (ASIS) yang pertama mengaetahui ini untuk australia.
"Apa mereka yang melakukannya..!?", tanya PM Dubbront.
"..saya tidak bisa menjawab pak.., tapi yang jelas ini terjadi di indonesia.., tapi nyatanya mereka tak memberi tahu kita akan hal ini..", jawab Jend.Rosh.
" ... "
"Darwin keparat..! Ia ingin memulai peperangan denganku..!", bentak PM Dubbront memukul meja.
"Marthy.., bagaimana menurutmu?", tanya PM Dubbront pada mentri pertahanannya.
Sesaat sir Halley Marthy membuka kaca mata tebalnya.
"Ini penghinaan bagi kita pak.., sungguh berani mereka menculik utusan kita disana untuk demokrasi.., dan mungkin saja mereka akan mengintrogasi sir Robert.. Itu akan sangat berbahaya pak..", jelas sir Marthy mengemukakan pandangannya.
"Lalu..? Apa yang menurutmu harus dan wajib kita lakukan..?", tanya PM Dubbront.

"Sebaiknya kita segera menghubungi indonesia, kita minta mereka untuk melepaskan sir Robert dalam tempo waktu.., atau..", ucap Sir Marthy.

"Atau.. Kita akan deklarasikan Perang..!", sambung PM Dubbront.


(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...