★HENING★ Part 63 (2)
"Ndan..! Ndan..! Apa yang terjadi..!?!?", seru Sers.Dimas mendengar keributan di radio Letn.Angga.
" ! "
"Sial..! Terjadi sesuatu dengan komanda dan kita tak bisa membantunya..", ucap Sers.Haryo yang juga menyadarinya.
"Ini benar-benar menyebalkan...!", geram Sers.Dimas.
"Heheh..ternyata kalian yang datang kesini..", ucap seorang pembelot yang menyergap Letn.Angga.
" ! "
"Shh..!"
Letn.Angga terus berusa lepas dari cengkraman orang tersebut dengan mendorong tubuhnya ke arah dinding lain mencoba menghantamkan tubuh musuh yang berada dibelakangnya ke dinding.
Namun setelah beberapa kali ia melakukannya, seperti tak berpengaruh sama sekali.
"Huh..huh..huh..", Letn.Angga terengah-engah.
" Heheheh.., Raider ya? Apa aku benar..?",tanya pembelot tersebut.
"Hiaaaahhh..!!",
Letn.Angga berhasil melepaskan dirinya dengan meronta sekuat tenaga.
"Huh..huh..huh,, sepertinya kau tau banyak..", ucap Letn.Angga terengah-engah.
"kau akan banyak tau jika kau banyak melihat.., lebih baik pulang tinggal nama dari pada kalah dalam pertempuran.. Begitukah yang sering kalian ucapkan..?", sahut pembelot tersebut, tampak tubuhnya tinggi dan berbadan besar..tak heran Letn.Angga sebelumnya sangat kesulitan melepaskan diri dari cengkramannya.
"Cihh.. Dilihat dari kemampuan kalian membantai polisi-polisi disana.., kau dan juga teman-temanmu mungkin pernah berseragam sepertiku bukan..? Tapi aku rasa sebaiknya kau diam disana..", ucap Letn.Angga sembari hendak mencabut sebuah pistol yang berada di paha kanannya.
"Hei..hei.. Bagaimana kalau kita lakukan ini dengan jantan..?", tanggap pembelot tersebut sambil membuang pisaunya dan meletakkan senapan AK-47nya yang sebelumyan tersandang dibahunya ke lantai.
"Aku rasa tidak.., heheh mengapa kau lepaskan senjatamu? Itu adalah tindakan bodoh..", sahut Letn.Angga yang sudah mengarahkan pistolnya ke pembelot tersebut.
"..oh begitu ya..? Kau tak mencerminkan keangkeran simbol di lenganmu itu.., Raider.. Kabarnya kalian cukup hebat dalam situasi apapun..", ucap pembelot tersebut dengan tenang.
"Aku tak begitu memperdulikan itu.., sekarang angkat angkat tanganmu dan berbaliklah, atau kau akan kehilangan isi kepalamu..", sahut Letn.Angga.
".. Katakan saja kau takut.., seorang anggota Raider takut terhadap musuh yang tak bersenjata.., heheheh..sungguh ironi.., Raider pengecut..!", ucap pembelot tersebut.
"..jaga bicaramu.. Atau kau akan ku buat menyesal telah mengatakan hal itu..", sahut Letn.Angga.
"Letnan.. Jangan terpancing, segera tembak saja ia,, letnan..!", seru Sers.Tari yang ternyata sedari tadi mendengarkan radio Letn.Angga.
"Oh maaf.., apa yang kukatakan tadi..? Raider Pengecut? Atau Raider Penakut?", ucap pembelot itu lagi.
"Letnan..!", seru Sers.Tari.
"Aku bilang jaga bicaramu..", sahut Letn.Angga tak menanggapi Sers.Tari.
"..bagaimana kalau.. Raider Pengecut dan sampah penakut!?!?", ucap pembelot itu memanas-manasi Letn.Angga.
"Aku bilang hentikan..! ", teriak Letn.Angga sembari menyarungkan kembali pistolnya dan melompat menerjang ke arah pembelot tersebut.
(Bersambung)
Duel tangan kosong satu lawan satu..!
.........
★HENING★ part 64 (1) " Duel "
" ! "
Letn.Angga langsung melayangkan tinju kanannya ke arah pembelot tersebut.
Namun dengan tenang pembelot tersebut menghindar dengan menolehkan kepalanya, tak berhenti sampai disitu Letn.Angga kembali mengayunkan tangan kanannya kembali sehingga tampak seperti hendak akan menghantam wajah pembelot tersebut dengan sikunya.
"Buk..!"
Lagi-lagi dengan tenang pembelot itu kali ini menangkisnya dengan tangan kirinya.
"Ssssh...! "
Menyadari serangannya gagal, Letn.Angga mengambil dua langkah mundur dengan cepat dan segera melayangkan tendangan putar dengan kaki kanannya.
"Bukk..!"
Dan lagi, pembelot itu dengan tenang menahan tendangan Letn.Angga, malah kali ini ia memegang erat kaki Letn.Angga.
"Sial..!"
Letn.Angga segera melanjutkannya dengan melayangkan kaki kirinya sambil setengah melompat.
"Bammp..!"
Kali ini tendangannya berhasil menghantam dada pembelot tersebut, membuat pembelot itu terjatuh kebelakang.
Seakan tak ingin berlama-lama Letn.Angga langsung bangkit dan berlari, sesaat kemudian ia langsung menindih pembelot tersebut dan langsung mwnghujani wajah pembelot tersebut dengan pukulan dari tangan kanan dan kirinya.
"Bukk...bukk..bukk..!"
"Anjinkk..! Mampus lu ** SENSOR **..!"
Umpat Letn.Angga sembari terus saja memukul, seakan tak memberikan kesempatan sedikitpun kepada musuhnya itu.
Namun entah sudah berapa banyak tinju Letn.Angga menghantam wajah pembelot tersebut hingga cipratan darah dan memar-memar sudah mulai memenuhi wajah pembelot tersebut.
"Huh..huh..huh..", letn.Angga terengah-engah menghentikan pukulannya, dirasanya pukulan demi pukulan yang dilancarkannya sedari tadi telah membuat musuhnya itu tak berdaya, apa lagi dilihat dari memar-memar yang didapat musuhnya tersebut bak maling sepeda motor yang dihakimi massa.
"..huh..huh.., jaga bicaramu.. Ingat itu.. Huh..", ucap Letn.Angga terengah-engah.
" !?!?!?"
Namun tiba-tiba saja kedua tangan pembelot tersebut meraih leher Letn.Angga dan mencengkramnya.
" !!! "
"Ekkkhhh..!", rintih Letn.Angga terkejut.
"Apa..? Sebaiknya kau lihat dulu siapa yang menjadi musuhmu..!", seru pembelot tersebut sambil mendorong tubuh Letn.Angga ke depan, kemudian dengan cepat pembelot tersebut menyambungnya dengan tendangan telak ke dagu Letn.Angga.
"BUKK..!"
"Ekkkhhhh!"
Letn.Angga kembali merintih, ia terpental kebelakang dan terhempas ke lantai dengan keras, Seketika rasa ngilu menggerayangi tubuhnya. bagaimana tidak, lehernya dicengkram dengan kuat dan kemudian ia lemparkan, sesaat tubuhnya mengambang beberapa inci dari lantai secara tiba-tiba sebuah tendangan telak mendarat di dagunya.
"..ekkhhh..shhhh...", rintih Letn.Angga sembari berguling memegangi dagunya.
"Sshh...si sial..", gumam Letn.Angga sembari berusaha meraih pistolnya.
" ! "
" Maaf.. Ini baru kita mulai, jangan terburu-buru..", ucap pembelot tersebut sembari langsung merebut pistol Letn.Angga dan melemparnya jauh ke lantai.
"..kuharap kau menikmati ini..", ucap pembelot tersebut sembari memegang kaki kanan Letn.Angga.
"Sshhh"
Letn.Angga berusaha sedikit meronta untuk melepaskan kakinya, namun ia belum bisa berbuat banyak karena rasa ngilu di dagunya masih melemahkannya.
"!!!"
"Hiaaaa..!"
Tiba-tiba saja pembelot tersebut mengayunkan Letn.Angga yang tergeletak dilantai ke arah dinding.
" Whummmp..BUKK!!!"
"Sshhkkkk..aaaaaaahh!", rintih Letn.Angga.
"Heheh.., bagaimana? Kau menikmatinya..?!?! ", ucap pembelot tersebut, dengan masih mencengkram kaki kanan Letn.Angga ia menyeret Letn.Angga dan langsung saja kembali menghantamkan tubuh Letn.Angga ke arah dinding.
"BUKKK...!"
"Arkkkhhhh...!", teriak Letn.Angga ketika tubuhnya serta kepalanya menghantam dinding, darah mulai menetes dari hidung dan mulutnya.
"Letnan..!", seru Sers.Tari menyadari itu dari Radionya.
"Hmm..?"
Teriakan Sers.Tari membuat pembelot tersebut menyadari radio tersebut dan segera mengambilnya dari letn.Angga.
"Apa ini..? Heheh.. Mainan anak-anak..!", ucap pembelot tersebut sembari membanting dan menginjak radio tersebut.
" !!! "
"Sial..! Kita kehilangan kontak dengan komandan!", seru Sers.Dimas yang tengah adu tembak dengan musuh didepannya.
"Bagaimana ini..?", tanya Sers.Haryo.
Sementara dilain sisi Sers.Tari juga tampak panik.
"Sungguh sialan..! Apa yang sedang terjadi disana..?!?", gumam Sers.Tari.
"Hmm.. Kau tau.., prajurit itu bukan hanya tentang membunuh atau dibunuh..", ucap pembelot tersebut yang kali ini menunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Letn.Angga yang tampak tak berdaya.
"..tapi tersiksa atau terpaksa.., kita akan tersiksa jika kita terpaksa.., atau kita akan terpaksa jika tersiksa.. Kau mengerti maksudku..?", sambung pembelot itu lagi.
"...ekhhh...sshhh.. Persetan de..ngan..mu..", sahut Letn.Angga.
"Ohh?? Nyalimu besar juga bocah..", ucap pembelot tersebut yang langsung mencengkram kepala dan seragam Letn.Angga dan menarik memaksanya untuk bangkit.
"Heheh..kau tau?...", tanya pembelot tersebut.
Sejenak Letn.Angga berusaha melirik musuh yang kini berada di belakangnya.
"..aku suka pekerjaan ini..!", seru pembelot tersebut sembari mendorong tubuh Letn.Angga dan mengarahkan kepala Letn.Muda tersebut ke sebuah jendela kaca.
"KRAshhhhkkk..!!!!"
Pecahan kaca berhamburan jatuh dari lantai dua bangunan tersebut.
" ! "
"Disana..", gumam Sers.Tari menyadari itu dan berusaha melihat melalui teropongnya.
"SHhh...", rintih Letn.Angga merasakan sejumlah kecil pecahan kaca menancap di wajahnya.
"..heheh.. Apa menurutmu akan tampak sedikit sadis jika seorang prajurit dilempar dari sini hah..?", tanya pembelot tersebut sembari menunjukkan keadaan dibawah yang penuh dengan tumpukan besi tua berserakan.
"..disana.. Huh... Semoga saja..", gumam Letn.Angga di dalam hati seperti mengharapkan sesuatu.
"Apa kau sudah selesai..?", tanya Letn.Angga.
"..apa..? Heheheh.. Kau lucu juga prajurit..", sahut pembelot tersebut.
"..tentang ucapanmu sebelumnya itu.. EkHhh...apa kau tak ingin menariknya kembali?..", tanya Letn.Angga.
"Hmm? Maksudmu tentang kepayahan satuanmu itu..? Hahahahah.. Kau berbicara seolah kau mampu melakukan sesuatu..", sahut pembelot tersebut.
"..baiklah... Kalau begitu matilah...!!!", seru Letn.Angga sembari menghantamkan kepalanya ke arah belakang ke wajah pembelot yang berada dibelakangnya.
"Bukk..!"
"Ekhh..!", rintih pembelot itu terkejut.
Buru-buru Letn.Angga menundukkan kepalanya, dan secara tiba-tiba..
"Crkkk..!!!"
Sebutir peluru menembus bahu kanan pembelot tersebut, cipratan darah melayang di udara.
Menyadari itu Letn.Angga segera berbalik sembari mencabut sangkurnya dan kemudian mendorong tubuh pembelot tersebut.
"Bukk..",
.......
.....
....
...
..
.
"Ekhhh..., tak ku kira akan ada yang menembak... Shhh.. Dan itu membuatmu langsung menguasai situasi ya..", ucap pembelot tersebut tergeletak dengan bahunya yang terus mengucurkan darah.
"..hmm.. Sepertinya begitu..", sahut Letn.Angga pelan, Tampak sebilah sangkur digenggamannya menempel erat dileher pembelot tersebut.
(NEXT)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar