Sabtu, 14 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 55

★HENING★ Part 55 



" TANDA TANYA "




Markas Pusat, Jakarta..

Keadaan di ruang utama komando tiba-tiba saja gempar dengan kabar penculikan terhadap kedubes Australia.

"Apa..?!", 

seru Pang.Rokhim terkejut.

Tampak Jend.Purnomo serta Letn.Vega juga terlihat terkejut.

"Penculikan ini baru beberapa jam yang lalu terjadi pak.., pihak intelijen mengatakan Sir Robert dibawa dengan Suv hitam berplat pribadi..", 

jelas seorang petugas yang beberapa saat lalu datang dan menjelaskan peristiwa penculikan kedubes Australia.

"Ini sangat berbahaya..! Apakah ini tindakan kita..?!?", 

tanya pang.Rokhim lagi.

"Belum bisa diketahui pak, unit BIN tak mungkin mengambil langkah seperti itu, karena ini diluar kapasitas kami..", 

jawab petugas tersebut yang ternyata penghubung dari Badan Inteligen Indonesia untuk Markas pusat.

" ..."

Sesaat Pang.Rokhim melirik Jend.Purnomo.

" ... Saya juga tak akan mungkin mengambil tindakan seperti itu panglima..", 

ucap Jend.Purnomo mengerti maksud Pang.Rokhim meliriknya mengingat ia merupakan kepala unit intelijen dari TNI.

"Maaf pak.., saya rasa kita patut untuk cemas, sepertinya ada oknum yang ingin perang benar-benar terjadi..", 

sela Letn.Vega.

"..."

Semua yang ada diruangan itu tampak tercengang mendengar perkataan Letn.Vega.

"..lalu kira-kira siapa mereka..? Ini tindakan yang jelas akan membuat perang segera terjadi..", 

seru Pang.Rokhim, tampak butiran keringat menghiasi keningnya, sepertinya ia sangat khawatir akan apa yang terjadi jika Australia mengetahui ini.

"... Saya tidak bisa menebak pak.., dan jelas kita buta akan siapa yang melakukan ini.., dari segala peristiwa yang telah terjadi tak ada yang bisa dikaitkan dengan peristiwa ini..", 

ucap Letn.Vega sembari menundukkan kepala, sepertinya 'Sky Brand'-nya kali ini pun tak bisa sedikitpun menebak siapa oknum dibalik penculikan Sir Robert.

Tampak kecemasan meliputi wajah semua orang yang berada diruang komando tersebut, namun tiba-tiba beberapa orang berseragam hitam masuk kedalam ruangan tersebut bersama sejumlah prajurit yang berseragam PDH TNI.

"Presiden Darwin..??", 

guman Jend.Purnomo dalam hati.

Yah, sesaat kemudian orang nomor satu dibumi pertiwi masuk keruangan tersebut, dari raut wajahnya, sepertinya ia sedang dalam keadaan gusar, seketika semua yang ada diruangan tersebut berdiri.

"...saya ingin penjelasan tentang kejadian beberapa waktu yang lalu.., saya ingin ini segera diselesaikan..!",

 ucap Pres.Darwin tak menghiraukan petugas yang mempersiapkan kursi untuknya duduk, sepertinya kabar penculikan itu cepat beredar.

"Maaf pak.., kita tidak bisa menyimpulkan apa yang sedang terjadi..", 

sahut Pang.Rokhim sesekali melirik Letn.Vega, berharap Letnan pintar itu mampu menyimpulkan apa yang sedang terjadi, sementara Letnan Vega terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Apa kalian sedang bercanda..?!?", 

seru Pres.Darwin sembari memukul meja.

Keadaan sejenak berubah hening, sepertinya semua terkejut melihat Presiden Darwin yang gusar akan hal ini, mengingat sebelumnya tak sekalipun mereka melihat Pres.Darwin benar-benar emosi.

"Izin bicara pak presiden..", 

ucap Letn.Vega memecah keheningan.
Pres.Darwin sejenak mengarahkan pandangannya ke Letnan Vega, terbesit dipikirannya teringat akan sosok Letnan Jenius yang berperan besar pada konflik dengan thailand sebelumnya.

"Silahkan Letnan..", 

sahut Pres.Darwin mempersilahkan.

"Terima kasih pak.., sebenarnya saya masih belum bisa menyimpulkan sepenuhnya, namun ada beberapa hal yang harus kita uraikan dan mencari solusi tindakan secepatnya..", 

kata Letnan Cantik itu.

"Saya yakin ini bukan tindakan dari pihak dalam, alasannya.. Tidak mungkin hal ini terjadi tanpa persetujuan dari Panglima Rokhim dan dari pak presiden sendiri.., tapi tetap tak menutup kemungkinan ada sebuah organisasi dalam negri yang bertanggung jawab akan hal ini..",

 tambah Letn.Vega.

"..."

"Tunggu Vega.., apa maksudmu ada yang berniat mengadu domba kita dengan Australia..??", 

tanya Jend.Purnomo menyela.

"Kurang lebih seperti itu Jendral.., lebih tepatnya ingin perang sungguh benar-benar terjadi.. Meskipun tak jelas apa keuntungannya buat mereka", 

jawab Letn.Vega.

"Letnan, sebelumnya kau katakan kemungkinan ada sebuah organisasi dalam negri yang melakukan ini..? Apa itu tidak berlebihan..?", 

tanya Pres.Darwin sembari duduk dikursi yang sedari tadi dipersilahkan seorang pengawalnya.

" Ya pak.., misalnya saja unit militer kita yang bergerak sendiri.., kalaupun itu kecil kemungkinannya dan bisa dikatakan tidak mungkin, bisa saja organisasi dalam negri yang digerakkan oleh pihak luar, Atau . . .", 

jawab Letn.Vega.

"Atau apa Letnan..?", 

tanya Pres.Darwin.

".. Atau memang pihak luar sendiri yang melakukannya..", 

jelas Letn.Vega melanjutkan perkataannya.

" !!! "

ketegangan terasa memenuhi ruang komando utama tersebut, tak ayal membuat Presiden Darwin dan yang lainnya tampak semakin cemas.

"Bagimana dengan Amerika?", 

tanya Pang.Rokhim.

"Saya rasa Terlalu kecil kemungkinannya jika mereka yang melakukan ini Panglima, mereka tidak akan berani melakukan tindakan agresif setelah pasukan hebat mereka kita kalahkan..",

 sahut Letn.Vega.

"Menurut saya semua yang dikatakan Letnan Vega benar...", 

kata Jend.Purnomo.

"Amerika pasti sudah berhati-hati untuk melakukan sesuatu terhadap kita, Sebaiknya kita segera membentuk tim untuk mencari tahu siapa yang melakukan hal ini..", 

tambah Jend.Purnomo lagi.

"Tidak hanya itu Jendral.., kita harus segera mengirim unit untuk mencari keberadaan Sir Robert Hawkins, dan juga meyakinkan PM Dubbront bahwa ini bukan tindakan kita meskipun akan sulit..", 

sahut Letn.Vega.

Jendral Purnomo tampak mengangguk setuju.

"Tapi dilihat dari situasi saat ini.., sepertinya akan angat sulit untuk pihak Australia mempercayai kita..", 

sela Pang.Rokhim.

" ... "

"Izin pak..",

Seseorang tiba-tiba muncul di tengah-tengah pertemuan mendadak tersebut.

"Siapa kau..?", 

tanya Pang.Rokhim.

"Izin panglima, Maaf panglima, saya lancang masuk kemari.., saya tidak tahu sedang berlangsung rapat karena petugas diluar tak mencegah saya masuk..", 

jawab seseorang itu yang ternyata adalah Sers.Tari, ia sedikit gugup.

Namun Letnan Vega segera menyadari itu adalah adiknya.

"Maaf panglima, dia adik saya..", 

sela Letn.Vega sembari melirik ke arah Sers.Tari.

"Izin pak.., Sersan Tari dari unit 2 Kopassus melapor, dan mohon diterima atas kelancangan saya..", 

ucap Sers.Tari berdiri sigap.

"Diterima.., dan jangan ulangi lagi hal seperti ini..", 

sahut Pang.Rokhim sembari melihat ke arah Letnan Vega memaklumi.

"Tunggu.., kau dari Kopassus..?", 

tanya Pres.Darwin.

"Siap.. Benar pak Presiden..", 

jawab Sers.Tari sigap.

"Rokhim, bagaimana kalau kita tugaskan ia dan beberapa orang lagi untuk mencari Sir Robert, bersamaan dengan itu saya akan mencoba berbicara dengan Dubbront..", 

ucap Pres.Darwin.

"Baik pak presiden..", 

sahut Panglima langsung mengiyakan arahan Presiden Darwin.

"Purnomo? Bagaimana dengan tim yang berangkat ke papua..? Kita butuh tim yang bagus untuk bersama Sersan muda ini..", 

tanya Pres.Darwin.

"Maaf pak presiden, menurut informasi.. Mereka saat ini sedang dalam keadaan kritis setelah bertempur dengan Green berets Amerika..", 

jawab Jend.Purnomo.

"Tapi saya bisa mengajukan beberapa orang lain untuk misi ini..", 

sambung Jend.Purnomo.

"Kuharap mereka baik-baik saja, saya tak ingin kehilangan prajurit-prajurit hebat seperti mereka.. Baik.., kalau begitu segera kita lakukan secepatnya..

Saya akan bersiap untuk berbicara dengan Dubbront meskipun sangat kecil kemungkinan ia akan percaya padaku..",

 ucap Pres.Darwin.

Semua yang ada diruangan itu mengangguk pertanda mengerti.

"Sersan, bersiaplah.., tak perlu menghubungi komandanmu.., ini misi rahasia dan kau berada dibawah komando pusat langsung sekarang..",

 ucap Jend.Purnomo melirik Sers.Tari.

"Siap..! Dimengerti Jendral..!", 

sahut Sers.Tari sembari memberi hormat, tampak ia melirik Letnan Vega kakaknya.

Letnan Vega hanya menganggukkan kepalanya, dibalas dengan senyuman oleh Sers.Tari yang sesaat segera meninggalkan ruangan tersebut untuk segera bersiap.

.........
Sementara itu sebuah Suv hitam tampak terparkir didekat sebuah Hangar yang dipagari pagar kawat jauh dari pemukiman penduduk, Suv yang membawa Sir Robert Hawkins, Kedubes Australia untuk Indonesia.

"Siapa kalian..?! Sepertinya ini bukan tindakan resmi..!", 

tanya Sir Robert yang terduduk disebuah ruangan dengan empat orang yang menjaganya, ia menyadari bahwa ia tidak dibawa ke markas militer indonesia ataupun sejenisnya.

"Hmm.. Kau terlalu banyak bertanya pak Robert..", 

sahut seseorang yang tiba-tiba muncul.

" ? "

"Siapa mereka. . Dari perawakannya mereka seperti orang indonesia.., tapi juga agak terlihat seperti warga asing..",

Gumam Sir Robert dalam hati tak menghiraukan sosok yang baru muncul tersebut.

"Katakan siapa kalian..?! Kalian tahu ini melanggar peraturan internasional..!",

 seru Sir.Robert setengah berteriak.

"Heheheh.. Aku tak perduli dengan itu.., sebaiknya anda tak banyak lagi bertanya.., anda hanya perlu diam disini.., semua kebutuhan anda akan aku sediakan..", 

sahut seseorang tadi dari balik bayangan gelap, tampak nyala bara api rokok yang dihisapnya.

"..?!?"

"Jadi begitu.., sepertinya mereka hanya menahanku untuk mengadu domba Darwin dan Dubbront..! Tapi siapa mereka?! Dari mana mereka!?", 

ucap Sir Robert dalam hati.

"Jika anda berfikir ini akan membuat Indonesia dan Australia berperang.., memang itulah tujuanku.., jadi sebaiknya anda duduk tenang dan nikmati pertunjukan ini..", 

ucap seseorang tadi menebak tepat apa yang sedang dipikirkan Sir Robert.

"Sudah lama aku menunggu saat ini.., hahahahah.., aku sudah tak sabar untuk melihat kedua sahabat lama bertengkar..", 

sambung seseorang itu lagi.

*siapa mereka?

*sahabat lama? Presiden Darwin dan PM Dubbront kah?

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...