Kamis, 26 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 69

★HENING★ Part 69 


" CLAYMORE "




" Bergerak. . !", perintah sang Komandan.
Segera saja para prajurit terlatih itu menyusuri rimbun hutan yang gelap gulita dengan sigap, Utara dan Sendok sebagai pemimpin barisan terampil memanfaatkan kilatan petir sebagai Flashing Light untuk menemukan rute terbaik meskipun lambat laun kilatan petir mulai sedikit tak mampu menembus rimbunnya hutan yang mereka lalui.
Riuhnya rintik air serta petir yang menggelegar memenuhi langit menjadi pelengkap peredam suara dari setiap pergerakan mereka, sehingga mereka bisa bergerak dengan cepat meskipun mereka terpaksa meningkatkan kewaspadaan mereka sebagai resikonya.

" ! "
Sesekali mereka dikejutkan oleh gerakan tangan Utara yang memberi tanda untuk berhenti, kemudian setelah beberapa saat menerawang.. Utara atau Sendok kembali memberi tanda untuk bergerak.
Tumbuhan setinggi pinggang, ranting pohon terjuntai kebawah, ditambah tumpukan daun serta ranting bahkan batang pohon yang membusuk ditanah membuat Area yang mereka lalui terasa begitu menantang, membuat andrenalin masing-masing dari mereka bersemangat, aneh memang, tapi itulah kenyataannya.
.
..
...
" ! "
Lagi - lagi Utara memberi tanda untuk berhenti, namun kali ini berbeda karena Sendok langsung bergerak mendekati Komandan Regu.
" Lapor Ndan.., kilatan kemungkinan kolam ikan..", ucap Sendok pelan.
Sang Komandan berfikir sejenak sembari berusaha memperhatikan daerah sekitar.
" Apa kalian yakin..?" Tanya Komandan tersebut.
" Hei..", seru sendok ke arah Utara.
Namun Utara hanya membalasnya dengan dua kali ayunan kepalan tangan ke bawah.
" Yakin Ndan.. Ada aktivitas didepan sana..", sambung Sendok setelahnya.
" Ini jauh melenceng dari data intelijen.., harusnya tidak sedekat ini dengan Dropping..", ucap Komandan.
" ... "
Elang hanya diam mendengarkan sambil tetap menyiagakan senapannya.
" Intelijen kita masih burul.., Sendok.. Kau dengan Utara buat perimeter penjagaan di pukul 8, Gembok.. , kau bersamaku di pukul 6, dan kau Panah.., ikuti Hening ke arah pukul 3.., kalian yang memimpin pengintaian, dan pergerakan kita selanjutnya adalah hasil dari pengamatan kalian..", jelas Sang Komandan membagi tugas kepada kelima anggotanya.
" Siap Ndan..!", sahut mereka serempak.

" Ayo..", Ajak Hening kepada Panah untuk bergerak terlebih dahulu.
" baiklah..", sahut Panah mengikuti Hening yang telah merangsek maju.
"Baiklah.. Kita bergerak..", perintah Sang Komandan garang.

Sementara itu hanya 100 meter dari mereka tampak turunan yang terlihat seperti lekukan jurang yang tak begitu dalam, pepohonan tak tampak tumbuh disana, hanya semak belukar serta ilalang tinggi yang tumbuh diatas rawa, dan tak lebih dari sekitaran 70 meter dari sana terlihat cahaya yang sepertinya berasal dari sebuah sentir atau semacamnya di dalam Kamp yang di duga sebagai kamp musuh, pantas saja Utara dengan mudah mampu melihat posisi Kamp tersebut karena tak ada pohon yang menutupi Kamp tersebut, terlebih lagi hanya dikelilingi rawa sehingga tampak seperti kubangan raksasa ditengah hutan.

" Apa disini sudah cukup..?", tanya Panah kepada Hening sambil berjongkok dibalik batang pohon.
" Aku rasa belum.., sebaiknya kita kesana..", sahut Hening sambil menunjuk sebuah batang pohon tumbang tepat dibibir rawa.
"..baiklah..", ucap Panah sembari kembali bergerak, sementara itu Hening terus mengikuti tanpa mengendurkan kewaspadaannya.
Tak berapa lama kemudian setelah memastikan sekitar aman, Panah bersiap dengan teropong malamnya (Night vision).
" Baiklah kawan.., semua berawal dari pengamatan kita..", ucap Panah sembari melirik jauh ke tengah rawa melalui teropongnya dimana terdapat cahaya yang sebelumnya terlihat oleh Utara dan Sendok.
" Apa yang kau lihat..?", tanya Hening sembari mengatur teropong Night Vision yang sengaja ia pasangkan dengan senapan M40-nya.
"Hmm.. Itu seperti sebuah barak darurat..", sahut Panah melihat sebuah kamp yang terbuat dari batang pohon yang dibelah di tambah dengan tenda biru sebagai atapnya.
" Ikan..?", tanya Hening lagi menanyakan keberadaan musuh dengan kode "ikan".
" Tdak begitu jelas dengan kacamata besar ini..", ucap Panah sembari menoleh menunjukan 'Kaca Mata Malam'nya yang memang berukuran besar.
"Biar kulihat..", sahut Hening sambil mengambil posisi dengan merebahkan tubuhnya sembari mengatur posisi senapannya.
" ..."
Hening mulai mengamati sambil sesekali mengatur presisi teropongnya.
" Tidak ada aktivitas sama sekali.., kemungkinan besar mereka tertidur..", ucap Hening menjelaskan apa yang dilihatnya.
" Apa itu berarti kita harus melakukan penyusupan?", sahut Panah.
"..mungkin itu yang akan diperintahkan Komandan.., sebaiknya kau segera laporkan ini..", ucap Hening menyudahi pengamatannya.
" Baiklah..", ucap Panah langsung bergerak menuju posisi dimana Komandannya berada, sementara itu tampak Hening memasang Peredam pada senapannya kemudian segera kembali memantau kamp musuh melalui teropongnya.
.
..
...
" Begitu ya.. Hmm ", ucap Komandan mendengar laporan Panah.
" Baiklah.. Gembok, panggil Utara dan Sendok kemari.. Kita akan menyusup", perintah Komandan.
" Baik ndan..", sahut Gembok segera meluncur.
" Baik kalau begitu, aku akan kembali ke tempat Hening..", kata Panah.
" Saya rasa itu tak perlu.., untuk mengantisipasi apabila jumlah musuh yang belum diketahui, kita akan bergerak tiga dalam dua sejajar.., Hening akan menjaga kita dari jauh..", jelas Komandan.
.
..
...
Petir terus menggelegar menyambung kilatannya memenuhi langit, sementara Hujan terus mengguyur tanpa henti melengkapi kesunyian hutan yang ditinggal diam oleh penghuni malamnya.

"Bagaimana Ndan..?", tanya Utara
" Baiklah, nyalakan dan buka Radio kalian, Kita bergerak tiga dalam dua sejajar, kau dan Sendok berada di kanan dan kiri saya.., Gembok dan Panah di baris kedua untuk melindungi kita.., kita lakukan penyusupan terlebih dahulu, namun tetap lumpuhkan jika terjadi kontak.., semua mengerti..!?!", jelas sang Komandan.
" Siap ndan..!", sahut Utara dan yang lainnya serempak.
"Hening, kau mendengarkan?", tanya Komandan leawt radionya.
"Sangat jelas ndan", sahut Hening sigap.

Tak lama kemudian tampak Komandan dan ke-empat anggotanya perlahan menuruni lereng dan berakhir berendam dirawa yang tak begitu dalam tersebut.
" Sial..! Sepinggang Ndan...", keluh Sendok baru menyadari kedalaman Rawa yang dipenuhi ilalang dan semak belukar tersebut karena ia yang pertama memasuki rawa, Namun Sang Komandan hanya tersenyum mendengar itu.
" Sudahlah, berusahalah untuk tetap fokus!", sahut Utara pelan.

" ...Klakk..! "
" Penyusupan.. ", gumam Hening sambil mengokang senapannya menyadari Panah yang tak kunjung kembali ke posisinya, dan kembali mengamati kamp musuh didepannya.

Utara dan Sendok serta yang lainnya bergerak pelan mengarungi rawa yang dipenuhi ilalang dan tanaman menjalar tersebut, sesekali moncong senjata mereka bergerak sigap mengarah ke Kamp di depan mereka.
" Disana...", bisik Utara sembari menunjuk sebuah akses masuk yang terlihat di sudut kamp tersebut.
" Baik, Gembok.., panah, jaga punggung.. Kami menyusup..", ucap sang komandan pelan.
"Baik Ndan..", sahut Panah mengambil posisi penjagaan di tengah rawa tersebut di ikuti Gembok disebelahnya, sementara itu Komandan bersama Utara dan Sendok bergerak cepat mendekati Kamp tersebut.

" !!! "
Namun tiba-tiba saja Utara memberi aba-aba untuk berhenti, segera saja Komandan dan Sendok berhenti dan segera bersiaga memperhatikan sekitar.
" Ranjau ", Gumam Hening memperhatikan dari teropongnya.

"Ada apa?", Tanya Sendok.
" Claymore!", ucap Utara sembari memperlihatkan untaian kawat halus yang terhubung dengan bahan peledak kelas berat Claymore yang sengaja di pasang di atas batang kayu yang ditancapkan di atas rawa sehingga tak tenggelam tertutup semak belukar dan ilalang.
" Gila ..! Mengapa musuh punya peledak semacam itu?", ucap Sendok terheran-heran.
"Sudahlah.., kau punya mata yang bagus Utara, sekarang mari kita lewati kawat ini secara bergantian", sahut Komandan.
" Hati-hati Ndan.., kawat-kawat itu sepertinya juga terpasang di dalam air", ucap Utara mengingatkan sembari mengangkat pelan kawat itu dan meregangkannya sembari berusaha agar tidak tertarik.
" Sendok, Ndan.., cepat lewat..", ucap Utara yang tampak berkeringat memegangi umtaian kawat tersebut membuka celah agar Komandan dan Sendok bisa melewatinya.

" ! "
"Sial...! ", gumam Gembok.
" Ada apa?", tanya Panah.
" Pergerakan di pukul 1, diulangi pergerakan di pukul 1..! ", ucap Gembok yang menyadari seorang prajurit musuh tampak berjalan pelan di balkon yang berlantaikan papan-papan kayu sembarang yang di buat mengitari kamp tersebut.
" Kau bisa melumpuhkannya?", tanya Panah.
" Akhh.. Ilalang ini..". Umpat Gembok kesal pandangannya terhalang ilalang yang berbaris penuh memenuhi rawa.
" ! "
" Hening.., kau melihatnya?", tanya Utara setelah mendengar percakapan Gembok dan Panah..

"Sangat jelas..", sahut Hening.
" Hening, Konfirmasi..!", sambung Komandan.
"Sekarang menjadi dua ikan menuju ke posisi anda Ndan.., minta di jaringkan..", jelas Hening setelah melihat ternyata tampak dua orang musuh yang sepertinya sedang berpatroli.
" Lumpuhkan segera..!", perintah Komandan yang sedang kerepotan melewati untaian kawat jebakan yang terpasang beruntun.
"diterima..", sahut Hening mulai mengarahkan titik bidik teropongnya ke kepala salah satu dari dua musuh yang terlihat.

" ..huhhhh..."
"TSssK ! "
" Klak "
. . . 
"Tssk ! "
"Byur.."
Terdengar sayup suara dua jasad musuh itu tercebur ke dalam rawa.


(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...