Rabu, 25 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 67

★HENING★ Part 67 



" KEGILAAN... "



Heru tersenyum penuh kemenangan sesaat ia akan menarik pelatuk pistolnya, sementara itu Mahda hanya terdiam tak mampu berbuat banyak menyaksikan seseorang bersiap menghabisinya.

"Mungkin hanya sampai disini. . ., kuharap semua perjuanganku berarti untuk negeri ini. . .", gumam Mahda dalam hati sembari menutup matanya.

" Disinilah aku kembali. . . "

" ! "
"Brakk!"
" !!! "
Elang muncul secara tiba-tiba dengan menendang pintu dan langsung meraih tangan Heru yang menggenggam pistol.
"Tassh!"
Tembakan Heru menghantam dinding hanya beberapa inci dari kepala Mahda.
" Apa!?!?", gumam Heru yang terkejut dan kehilangan keseimbangan hingga ia ikut terjatuh bersama Elang yang menerjang ke arahnya.

" Bukk.."
Mereka berdua terguling dilantai sehingga Heru menjatuhkan kembali pistolnya.
Sesaat kemudian segera saja Elang melayangkan siku kanannya ke wajah Heru.

"Bukk!"
"Mahda..! Kau tak apa..?!?", seru Elang, namun Mahda hanya tercengang sembari menahan sakit.
"Syukurlah..", gumam Elang setelah memperhatikan sosok temannya masih bernafas.
"bukk!"
"Aarggh!" Teriak Elang ketika Heru melayangkan tinjunya ke arah rusuk kanannya.
"..sebaiknya kau tunggu giliranmu untuk kuhabisi..!", seru Heru sembari kembali melayangkan tinjunya.
Namun Elang berguling menghindar.

"Ekhh..!, sial..", gumam Elang meraba tubuhnya masih dipenuhi dengan rasa sakit mengingat ia baru saja mendapatkan perawatan akibat luka-luka ditubuhnya.

"..heheh.. Bukankah kita saling mengenal..?", ucap Heru sembari beranjak bangkit.

"..aku ingat siapa kau bocah sialan..!", sahut Elang.
"Hei tenanglah.., aku tak yakin kau mampu berkelahi dengan kondisi seperti itu..", ucap Heru tersenyum sinis.
Elang hanya diam sembari bangkit.

" Hmm.. Setidaknya aku tak repot-repot mencarimu..!", seru Heru langsung melayangkan tendangan kaki kanannya ke arah kepala Elang.
" ! "
Namun dengan sigap Elang menunduk menghindarinya.
"Heheh..", Heru tersenyum sembari menyambungnya dengan tendangan putar kaki kirinya.
" ! "
"Bupp!"
Elang menangkis dengan tangan kirinya, namun terjatuh karena tendangan Heru terlalu keras untuk keadaan fisiknya yang sedang lemah.
"Shkkk...! ", erang Elang sembari langsung beranjak bangkit.

"Bukk!"
Namun Heru tela bergegas mendekatinya sembari melayangkan tinjunya.
"Bukk..bukk!"
Heru kembali melayangkan tinjunya secara beruntun tak menyia-nyiakan kesempatan saat Elang kehilangan keseimbangan akibat pukulan pertamanya.
"Ekhh!",
" ! "
Elang mencengkram kepalan tinju Heru, namun dengan sigap Heru bergerak menyamping dan berputar kebelakang Elang sehingga kina leher Elang ada dalam cengkraman kedua tangannya.
"Ekkhhh!!!", elang tak bisa banyak bergerak ketika Heru menguatkan cengkramannya dilehernya.
Kedua tangan Elang berusaha menahan kedua tangan Heru, namun tak begitu berpengaruh banyak.

"Heheh.. Sepertinya kali ini segala keahlian tempurmu tak begitu hebat seperti yang banyak dibicarakan diluar sana..", ucap Heru.
"Sialan kau..! Ekhhh..!", sahut Elang, tampak menahan sakit, wajahnya juga tampak memerah dengan mulutnya yang mengeluarkan darah.

"Elang...!", seru Mahda, ia hendak bangkit membantu, namun ia tak mampu menggerakkan tubuhnya.

"..kenapa kau melakukan ini..! Ekkhh..!", tanya Elang.
"Hei, sudahlah.. Biarkan aku melakukannya dengan cepat, sehingga kau juga bisa lebih cepat bertemu dengan teman boybandmu..", sahut Heru mempererat cengkramannya dileher Elang.

". . . "
Sejenak Elang teringat akan sosok sahabatnya Jim ho..
Elang teringat detik-detik Jim ho meregang nyawanya..

"..aku akan selalu menjagamu..",
Elang teringat kata-kata yang diucapkan Jim ho.

" ! "

"..apa yang kau katakan tadi. . ?", tanya Elang sembari melepaskan tangannya yang sedari tadi berusaha meraih lengan Heru yang mencengkramnya.

"Oh.. Akhirnya Kau menyerah ya?!? Baguslah..! Dengarkan! Sampaikan salamku pada teman korea mu itu..!", Seru Heru.

" Sungguh kau. . .", gumam Elang.
...
..
.
" ! "
"Arggghhh..!!!"
Elang tak memperdulikan rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya dan langsung melompat mendorong tubuhnya ke arah belakang.
" Shh!",
Heru terhenyak ketika tubuhnya menghantam dinding.
Kemudian dengan penuh amarah Elang menghantamkan kepalanya ke wajah Heru yang berada dibelakangnya.
" ! "
Tak berhenti disitu, Elang mencengkram dengan sangat kuat salah satu lengan Heru yang mencengkramnya.

" Aaaarhhh!", eram Heru kesakitan.
" AaaArrggghhhh!!!", teriak Elang sembari mengerahkan seluruh tenaganya hingga kuku-kukunya merobek kulit lengan Heru.

"Aaarrrrhhh!!!", Heru semakin menjerit kesakitan dan melonggarkan cengkramannya.
Namun Elang tak berhenti, ia malah semakin kuat mencengkram hingga tak pelak seluruh ujung kukunya tertancap dilengan kiri Heru tersebut.
"Kau..!!!", seru Elang sembari melompat kedepan secara tiba-tiba.
"Crkkksshhh!!!"
Membuat lengan Heru terobek lebar..
"Aaaarrrhhhh..!", Heru mengerang kesakitan hingga tertunduk dilantai, darah mengalir deras dari tangannya.

"Kau.. Ingin tau untuk apa aku dilatih..?!?!", ucap Elang yang bangkit dan berbalik mendekati Heru, tampak ujung-ujung jari kedua tangannya meneteskan darah, bahkan tampak sebagian kulit dan sedikit daging tangan Heru yang tercabik, tak heran mengapa Heru mengerang kesakitan tak karuan.

"Akan aku tunjukan kepadamu bagaimana caraku menghabisi orang yang membunuh teman-temanku..!!!", ucap Elang sembari memegang kepala Heru yang masih merintih kesakitan bersimbah darah.

"Arrgghhh..!",
"Bukkk!!!"
Elang menghantamkan kepala Heru dan membenamkannya kelantai, tak sampai disitu saja, sesaat kemudian Elang melompat kecil dan mendaratkan lututnya di bagian belakang kepala Heru yang wajahnya masih menempel dengan lantai ruangan berkeramik itu.
" Krkk..!"
Sejumlah keramik retak dibarengi darah yang mengalir.

"Shrrkkkhh...", Heru tak mampu berkat-kata lagi.

"Elang..! Elang ..! Sudah cukup..! Ia sudah. . . ", seru Mahda berusaha menghentikan kegilaan temannya tersebut, namun Elang tak menghiraukannya.
" . . . Jadi ini yang mereka sebut.. Kegilaan ketika kau terlalu banyak melihat orang terbunuh dan kepedihan. . . ? ? ?", gumam Mahda dalam hati mengingat kata-kata seorang teman lamanya tentang tekanan selalu menghantui para prajurit pasukan khusus yang sudah banyak memakan asam garam pertempuran.

"... Mungkin kau berfikir aku ini gila bukan..?", ucap Elang mengangkat wajah Heru yang penuh darah.
Heru tak mampu menjawab, tampak ia berusaha mengatakan sesuatu namun tak mampu.
"..kau tau. . .", sambung Elang sembari menarik tunuh Heru dan kemudian ia berjongkok meletakkan lututnya tepat dibelakang leher Heru.

". . Jika kau berfikir aku gila. .", ucap elang merapatkan genggamannya ke kening Heru.

"Kau benar..!!!", teriak Elang sembari menarik kepala heru sekuat tenaganya.
Kali ini terdengar jelas erangan kesakitan Heru memenuhi ruangan.
" ! "
"Krkkhh!"

Leher Heru patah dengan sangat mengerikan, kepalanya terjuntai kebelakang...

". . . "
Elang merangkak pelan ke arah Mahda.

"Kau baik-baik saja. . . ?", tanya Elang terbata.

" i..iya.. Aku..ba..baik..saja..", jawab Mahda bergetar.

"Syukurlah...", ucap Elang yang kemudian roboh kehilangan kesadaran.

Tak lama kemudian muncul petugas keamanan berupa provost dan beberapa dokter muncul..


(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...