Senin, 30 November 2020

PAWELINGAN 01

"APA YANG KITA CARI DALAM HIDUP INI...!!?"

Kita hidup digunung merindukan pantai,
Kita hidup dipantai merindukan gunung,
Kalau kemarau kita tanya kapan hujan,
Di musim hujan kita tanya kapan kemarau...

Diam di rumah pengennya pergi,
Setelah pergi pengennya pulang kerumah,
Waktu tenang cari keramaian,
Saat ramai pengen cari ketenangan,
Ketika masih bujang pengen nikah, sudah nikah pengen punya anak, setelah punya anak mengeluh mengurus biaya pendidikan...

Dulu waktu naik sepeda pengen motor, setelah punya motor ingin punya mobil, ingin itu dan sebagainya...

Ternyata sesuatu itu nampak indah Karena belum kita miliki...!!

Kapankah kebahagiaan akan di dapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, tapi mengabaikan yang sudah kita miliki.

Jadilah pribadi yang "SELALU BERSYUKUR" dengan Rahmat apa yang telah Tuhan beri.

Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang seluas ini..??

Menutupi telapak tangan saja sulit..!!

Tapi, kalau daun ini menempel di mata kita, maka tertutup lah bumi dan seisinya.

Begitu pula jika hati ditutupi dengan pikiran buruk sekecil apapun, maka kita akan melihat keburukan di mana-mana.



*Jangan menutupi mata kita walau hanya dengan daun kecil, jangan menutupi hati kita dengan hati yang buruk, walau hanya seujung kuku, karena hidup adalah waktu yang dipinjamkan, dan harta adalah amanah yang di percayakan, yang semua itu akan di pertanggung jawabkan.

Maka dari itu, bersyukurlah atas nafas yang telah Tuhan beri.
Bersyukurlah atas keluarga yang kita miliki,
bersyukurlah atas pekerjaan yang kita jalani.

Bersyukur dan bersyukurlah di dalam segala hal, dan berlombalah dalam kebaikan mulai sekarang

*SEMOGA KITA SEMUA MERAIH KEBAIKAN DI SETIAP HARI* 

Rahayu🙏

Minggu, 29 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 74

★HENING (Unofficial)★ Part 74


 "PENGHARGAAN"


"Darr .... darr .... darr ...."

Terdengar tembakan salvo dengan jeda teratur yang membuat burung-burung di sekitar tempat itu pergi beterbangan.
Tak lama setelah itu terdengar suara gemuruh mesin jet. Rupanya beberapa Sukhoi TNI AU baru saja melintas dengan formasi huruf V.

Yah, hari itu adalah Hari Pahlawan, upacara baru saja selesai dan parade kekuatan TNI baru saja di mulai. Melengkapi kebahagiaan Elang, Adam dan Mahda yang baru saja mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa dan 2 medali kehormatan sekaligus. Ketiganya memperoleh Bintang Kartika Eka Paksi Utama dan Bintang Sakti Utama.

"Selamat ya" Jenderal Rokhim memberikan ucapan selamat sambil menjabat tangan mereka bertiga. Disusul yang lainnya.

"Jarang ada perwira TNI naik pangkat dan dapat 2 penghargaan hebat sekaligus" Sambung Jenderal Purnomo yang memilih memberikan ucapan selamat belakangan agar leluasa di dekat mereka.

"Selamat ya Kapten Elang" sahut Letnan Vega sambil menebar senyumnya yang manis banget.

"Sepertinya ada yang terlupakan neh" kata Elang sambil menengok Pelda Tari yang juga baru saja naik pangkat.

"Kakak ..... " Tari langsung maju memeluk Letnan Vega di sudut lapangan itu.

"Elang, Adam dan Mahda" Jenderal Purnomo memulai pembicaraan.

"Siap Jenderal !" Sahut ketiganya sambil memberi hormat.

"Kalian bertiga akan mendapatkan cuti 2 minggu. Anggap saja ini untuk masa pemulihan kalian selepas keluar dari rumah sakit. Kamu juga Vega, tapi cuma 1 minggu".

"Baiklah .... Saya harus rapat dengan Presiden Darwinsyah setelah ini. Pergunakan waktu istirahat kalian dengan baik" Setelah itu Jenderal Purnomo berlalu pergi.

"Brengsek !" Gumam Jenderal Irwan di salah satu sudut tribun menyaksikan peristiwa itu, sambil berusaha menyembunyikan wajah muram dan kegundahan hatinya.

"Tunggu pembalasanku" hatinya pun ikut bicara.

(Bersambung)

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 73 PART 2

"VERSUS" Part 73 (2) 



" !!! "

" Tidak akan..!!!"

"Aaaaaaaaargghhhhhhg!!!"
Teriak Panah menahan yang sakit sembari melayangkan tinju Kirinya ke wajah Kim membuat Kim sedikit terjungkal kebelakang, kemudian Panah segera menyambungnya dengan tendangan lurus kaki kanannya telak ke wajah Kim.

"Buk..!"

Kim terpental kebelakang, belum berakhir sampai disitu, Panah segera menendang Sangkurnya yang terlepas dari tangan Kim.
" Apa..?!?"
Gumam Kim sempat melihat gerakan panah sekilas dan segera melindungi wajahnya dengan kedua tangannya.

" Crshh!"

sangkur itu pun menancap tepat dilengan kanan yang menutupi wajahnya, dan segera saja Kim terjatuh tergeletak ditanah.

" Shhh..!"

" Menahan sakit untuk melakukan serangan balik.., tak sampai disitu kau juga mampu memanfaatkan situasi apapun hingga sempat berfikir untuk menendang bayonet mu yang terlepas dari genggamanku.., sungguh hebat..", ucap Kim berusaha bangkit.

" Dia tangguh..", pikir Panah.

" Tidak salah lagi.., kalian pasti pasukan Baret merah itu kan..???", tebak Kim yang hampir berusaha bangkit sambil mencabut pelan Sangkur yang menancap ditangannya.
"Arrggghhhh!"
Teriak Kim menahan sakit, darah segar mengalir keluar dari luka ditangan kanannya itu.

" Baret Merah ya..? Akan sangat menyenangkan jika membawa kepala kalian untuk dijadikan Cinderamata..!", ucap Kim yang telah kembali bangkit.

" Sial.. Ekhhh..", gumam Panah dilanda keletihan karena kehilangan banyak darah akibat tusukan pedang yang masih tertancap dibahunya.

" Aku ingin tau.. Apa yang kau pikirkan disaat kau akan mati? ", tanya Kim melangkah mendekati Panah yang tak berdaya.

" Huh..huh..huh", Panah hanya terengah - engah mengatur nafas.

" Hmm.. Maafkan aku, aku memang selalu banyak omong jika hendak menghabisi nyawa seseorang..", sambung Kim bersiap menghabisi Panah dengan sebilah sangkur digenggamannya.
"Sungguh Ironi.. Kau akan kuhabisi dengan pisaumu sendiri..", ucap Kim.
.
..
...
" Benarkah..???", sahut Panah.

" !!! "

Tiba - tiba,

" Sial..!", gumam Kim.

Kim baru menyadari kehadiran Gembok yang tiba - tiba berada dibelakangnya, namun sudah terlambat, Gembok telah mengayunkan Sangkurnya ke arah Leher belakangnya.

" ! "

" Arrrgggghhhhh ..!", disaat - saat menegangkan tersebut, Panah menahan sakit sembari mencabut pedang yang menusuk bahunya, dengan berdarah - darah ia segera bangkit dan menghunuskan pedang tersebut kearah Kim!

Kim diserang dari dua arah, ia terkejut dan kehilangan konsentrasi akibat apa yang dilakukan Panah, belum lagi seorang lagi yang berada dibelakangnya, ia sudah yakin tak akan lolos kali ini.

" Crusshhh!!!"
"Crkkk..!"
sangkur Gembok telak menancap leher belakang Kim, dan tusukan pedang Panah langsung menembus dada Kim.
Darah segar berhamburan menutupi rerumputan semak ditanah..

"Ekhhhh..", Kim terperangah.

Pemandangan bak dalam adegan film action terjadi membatu..
Panah terengah - engah dengan memegang sebilah pedang yg menembus dada Kim yg berdiri dihadapannya, dengan Gembok yang berdiri menghimpit Kim dari belakang serta sangkur digenggamannya yang masih menancap dileher Kim.

" Sepertinya kau yang mati dengan pedangmu sendiri...", ucap Panah terengah - engah, sepertinya ia masih menahan sakit.

" ... "
Kim tak berkata apa - apa, sepertinya kematian sedikit lagi akan menghampirinya.
Kim hanya menggerakkan bola matanya melirik kebelakang, ke arah dimana Gembok berada.

" ??? ", 
" Kau ..! "
Gumam Panah terkejut.

Yah, tampak tangan Kiri Kim yang mengenggam sangkur menusuk ke arah belakang dimana Gembok berdiri menghimpitnya, dan tusukannya itu tepat diperut kiri dari Gembok.

"..."

Kim sempat tersenyum kepada Panah.

"Arggghhh..!", teriak Panah sembari mendorong tubuh Kim sehingga Kim roboh kesamping dan segera menahan Gembok yang terjatuh ke arahnya.

" Gembok..!", teriak Panah.

"Ekhh.., ini hanya luka kecil, aku tak apa..", ucap Gembok.

"Diamlah..", sahut Panah.

"bagaimana ini.. Salah satu diantara kita sepertinya tak ada yang akan bertahan..", sambung Gembok lagi yang jauh sebelumnya juga terkena tembakan Kim dibahunya, dan sekarang luka tusukan di perutnya.
Cipratan arah sudah membuat seragam kedua prajurit ini tampak kemerahan.

" Bertahanlah teman.. Kita akan selamat..", ucap Panah dengan wajah yang semakin pucat karena telah kehilangan banyak sekali darah.

" Aku harap seperti itu..", sahut Gembok yang wajahnya juga tampak memucat karena ia juga telah kehilangan banyak darah.

" Hening kau mendengarku..?", panggil Panah melalui radionya.

" ... "
Hening tak menjawab, sepertinya ia tak tau harus berkata apa pada saat seperti ini.

" Jika kau mendengarku.. Kau harus berjanji untuk tetap hidup dan menceritakan tentang kami kepada semua orang.., kau dengar itu Hening..", sambung panah lagi, Gembok pun tampak tersenyum mendengarnya.

" ... "
Hening hanya diam, mungkin ia tak mendengarnya atau bagaimana kita tak ada yang tau.

" Berjuanglah teman... Kami telah selesai.. Dan ingat janjimu..", ucap panah.

Dan itu kata - kata terakhir dari rekan - rekan yang tersisa dan kembali ke pangkuan tuhan yang maha esa dijalan seorang prajurit, jalan pertempuran.
.
..
...
Tak lama kemudian terdengar gemerisik dari radio Panah..

" Srkkk.."

" Aku berjanji teman...".

(Bersambung)

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 73 PART 1

★HENING★ Part 73 (1) 



" VERSUS "




" Hmm... tidak, tidak, jangan berfikir seperti itu..", ucap Kim membidik dengan senapannya begitu melihat Panah perlahan hendak meraih senapan dipundaknya.

" Cihh..", gumam Panah mengurungkan niatnya.

" Sepertinya kau harus mulai berdoa sekarang..", sambung Kim bersiap menembak Panah.

" . . Apa kau takut..?", ucap Panah.

" Hah? Apa maksudmu..?", Kim bingung.

" Apa kau takut melawan musuhmu tanpa senjata..?", sambung Panah sembari buru - buru melepas dan membuang senapannya.

" Tidak.. Tidak, ini berbeda.., ini perang kawan, bukan pertarungan.., sudahlah, mestinya kau senang aku akan membunuhmu dengan cepat..", sahut Kim.

"... Benarkah? , jika memang seperti itu kau pasti sudah menembakku sedari tadi.., namun kau tak melakukannya karena kau seorang yang haus akan pertarungan bukan..?", ucap Panah bergelora memanas - manasi Kim.

" ... "
Kim hanya diam.

" Ayolah..! Lawan aku pengecut..! Aku bisa melihat semua hasrat membunuh dari matamu..", bentak Panah sembari mengayunkan Sangkurnya.

" .. Sshh, seharusnya aku menembakmu sedari tadi.., tapi..", ucap Kim yang tiba - tiba meloncat sembari mencabut pedang pendek yang menempel di pinggangnya kemudian dengan segera menghunuskannya ke arah Panah.

" ! "

"Ting!"
Panah dengan sigap menepis Pedang Kim dengan menghantamkan sangkurnya, seketika hunusan pedang Kim melebar.
Namun tak berhenti disitu Kim yang bertumpu dengan pijakan kaki kanannya segera berputar kembali mengayunkan pedangnya.
Panah juga tak kalah lihai, ia segera menangkis sabetan pedang Kim dengan sangkurnya.
"Ting..!"

" Sshh..!"
" Ternyata kau lumayan juga..", ucap Kim.

" Kuharap kau bisa lebih baik dari itu..", sahut Panah yang sedang menahan pedang Kim dengan sangkurnya, kedua senjata tajam mereka tampak beradu saling memberi tekanan.

" Oh.. Ternyata kau lumayan bermulut besar..!"
" Buk ..!"
Ucap Kim sambil kembali berputar melayangkan tangan Kiri nya seperi tamparan terbalik dengan tinju yang telak mendarat di wajah Panah, membuat Panah mundur beberapa langkah.

" Hmm... Apa perlu ku ambilkan tisu?", ucap Kim mengambil kuda - kuda.

" Cihh..,, ini bukanlah apa-apa, ayo.. Cobalah lagi..", sahut Panah sembari mengusap darah yang sedikit menetes di bibirnya.

.
..
...
Rintik hujan telah berhenti, hanya tinggal tetesan air yang singgah di dedaunan yang berlomba hendak turun ke bumi, bersamaan dengan itu suara binatang malam penghuni hutan mulai sahut menyahut terdengar, seakan bertepuk tangan riuh atas pertarungan dua prajurit ini.

" ! "
Kim maju sembari berniat mengayunkan pedangnya ke arah Panah, bak ingin membelah dua.

Panah mengelak kesamping, sejenak segera melayangkan tendangan kaki kirinya ke arah wajah Kim.
" !!! "
Namun Kim dengan cepat mengelak dengan menunduk, sedikit berputar dan bangkit sembari berniat menusuk Panah, Namun tusukan pedang Kim segera melenceng karena hantaman sabetan sangkur Panah.

" Hmm! Kau Terlalu cepat.,", gumam Kim lanjut dengan melayangkan kepalan tinju kirinya ke wajah Panah telak.

"Buk..!"
"Ekhh..!"
Panah kehilangan keseimbangan dan sedikit goyah kebelakang, belum selesai sampai disitu, Kim segera melayangkan tendangan Kaki Kanan dan menghantam dada Panah hingga Panah terhempas ke tanah.

" Shhh..!"
Eram Panah segera berusaha bangkit.
" ! "
Namun Kim buru - buru melompat sembari menghunuskan Pedangnya ke arah Panah.

" Ting..!!"
"Crsshh!"
Tampak darah mengalir keluar dari bahu kanan Panah, tusukan pedang Kim sedikit melenceng akibat berbentur dengan sangkur yang diayunkan Panah.

" Bagaimana sekarang..?", Gumam Kim.

" Huh..huh..", Panah terengah - engah tak menjawab.

"Aku bilang bagaimana..?!?", teriak Kim sembari menggoyangkan pedangnya yang tengah tertancap dibahu Panah.

"Ekkkhh..! Ergghh ", Panah mengerang kesakitan.

" Apa itu artinya sakit..? ", ejek Kim yang kali ini menekan tusukannya hingga menembus Bahu Panah dan tertancap ditanah, sungguh brutal.

" Aaaaaaaargghhhh..!!!"
Panah menjerit menahan sakit yang teramat sangat, hingga sangkur dalam genggamannya pun terlepas.

"Oh.., sepertinya iya.., ayolah.. Katakan sesuatu, jangan hanya karena tusukan semacam ini kau tak mampu lagi berbicara..", kata Kim sambil meraih sangkur yang dijatuhkan panah.

" Ekh.., kau..", gumam Panah.

"Apa..? Bisa kau ulangi..?", tanya Kim.

"Persetan denganmu..!", ucap Panah menatap tajam Kim.

" Hmm.. Hmm .. Hahahahaha ", bisa - bisanya kau memaki musuhmu dalam keadaan seperti ini.., apa kau ingin cepat mati???", sahut Kim tertawa.

" Apa aku kurang jelas mengatakannya..? , PERSETAN DENGANMU..!!!", sambung Panah.

" !"
" Baiklah bila kau ingin cepat mati, aku akan mengabulkannya..!", ucap Kim sembari hendak menikam Panah dengan sangkur milik Panah yang terlepas.

((NEXT))

"SILENT KILL PERSON" SPESIAL EDITION CHAPTER 72 PART 2

( SPECIAL EDITION PART 2 )

" Itu Hening.., sekarang giliran kita..", ucap Panah pelan sembari mencabut sangkur dari pinggangnya.

" Aku mengerti..", sahut Gembok.
Kemudian mereka bergerak berpencar.
.
..
...

" Tetap waspada..!, tembak apapun yang bergerak..!", perintah Kim yang sudah memasuki hutan pinggir rawa dan mendekat kearah dimana posisi Panah dan Gembok sebelumnya berada didalam hutan.

" Tratatatatar..!"
Tiba-tiba salah seorang milisi melepaskan tembakan kearah semak, sontak membuat Kim dan sisanya terkejut dan berlindung dibalik pohon.

"Apa itu?", tanya Kim.

" Sepertinya aku melihat gerakan pak..!", sahut milisi tersebut.

"Kalau begitu, kalian berdua, periksalah..", perintah Kim.
" Baik..! "

Tampak dua orang milisi bergerak perlahan mendekat ke arah semak tersebut untuk memeriksa.

" ... "
"Tratarataratar..!"
Seketika Gembok tiba - tiba muncul dari samping di jarak yang tak begitu jauh dan langsung menembaki kedua milisi tersebut, kemudian ia bergegas berlari menyerong dari balik pohon ke pohon untuk menghindari tembakan dari sisa milisi yang mendadak langsung menembakinya ketika kedua rekan mereka roboh bersimbah darah.

"Krkk..krkkk.."
"Crshhh..crshhh"
Peluru mereka riuh menghantam batang pepohonan.

" ! "
" Sshhh..!"
Salah satu peluru dedikit menyambar lengan kanan Gembok, segera ia berlari memutar dengan zigzag dengan cepat ditengah tembakan ketiga sisa milisi yang bersama Kim, sambil berlari Gembok berusaha menghitung jarak posisi musuh dan sudut tembak yang tepat karena banyak terdapat pepohonan.

" Baiklah..!", gumam Gembok dengan tiba - tiba berbalik, dengan cepat ia segera melepaskan tembakan.

" Tash...tash..tash..!"

Tiga butir peluru meluncur diantara pepohonan dan rimbunnya dedaunan semak yang tumbuh dari celah sempit yang didapat Gembok diantara batang pohon dengan batang pohon yang sedikit lebih jauh, begitu seterusnya dengan sudut miring yang pas, sehingga hanya tercipta sedikit ruang namun dapat melihat posisi musuh dengan jelas.

" Ckkkk..crkk..crrkkk..!"

Ketiga butir peluru itu pun tepat mendarat di dada masing-masing para milisi, Ketiga milisi tersebut pun langsung roboh mengerang kesakitan, namun...

" Tash..!"

"Ekkhh..!"
Gembok terjatuh ketika tiba - tiba sebutir peluru menembus bahu kirinya.

" Apa ini..?!",gumam Gembok menahan sakit.

Dari kejauhan tampak Kim dengan moncong senapannya yang mengepulkan asap, yah..Kim yang menembaknya, dari awal kemunculan Gembok, Kim sudah berusaha membidiknya, namun baru saat ini ia mendapatkan titik yang tepat, itupun karena Gembok berhenti untuk berbalik menembak, namun itu tetap satu tembakan yang bagus.

"Hmm... Tembakanku harusnya lebih baik dari tembakanmu tadi,, ternyata sulit menembak ditengah gerimis dan hanya dibantu kilatan petir..", ucap Kim.

".. Tapi aku akui kalian memang. . ", Kim menunda kata - katanya, ia tiba - tiba segera berbalik menangkis sebuah sabetan sangkur dengan senapannya.

" Ting..!"

Kin menangkis sabetan sangkur Panah yang tiba - tiba muncul dari belakangnya.

" HEBAT. . ! "
Sambung Kim sembari meloncat kesamping, kemudian berdiri.

#KIM dan PANAH saling berhadapan..!!!


(Bersambung)

"SILENT KILL PERSON" SPESIAL EDITION CHAPTER 72 PART 1

★ HENING ★ PART 72 (1)

( SPECIAL EDITION )

" PASUKAN ELITE - 01 "

Seorang milisi tampak berusaha mendekati Heli Tiger yang jatuh itu atas perintah dari pasukan asing yang berada diantara mereka untuk sekedar memeriksa.

" Ada pergerakan! ", teriak salah satu milisi melihat ke arah kokpit heli tersebut.
Yah sepertinya salah satu pilot EC 665 tiger itu selamat, meskipun berlumuran darah.

"Crsshhh!"
Tiba - tiba saja kepala milisi tersebut tertembus peluru, seketika milisi tersebut roboh.
Bisa ditebak, itu adalah tembakan dari Hening.

" Sniper! Waspadalah kalian semua..!", perintah salah satu prajurit Asing yang berwajah penuh codet.
"Chief.., sepertinya kita tidak bisa menyepelekan mereka..", ucap salah seorang lagi yang berada disebelahnya, yang berbadan lebih kecil dari yang lainnya, tampaknya seseorang sebelumnya adalah komandan regu mereka.

"Aku tau Mark.., kita harus melakukan sesuatu, Whitney sudah roboh akibat serangan kejut mereka.., sementara kita diselamatkan oleh heli kita yang terlambat, bahkan heli kita telah jatuh..", gumam Chief dari keenam prajurit asing tersebut yang sekarang tinggal belima.
".. Ada saran..?", tanya Chief itu lagi.

Sejenak Mark berfikir sembari menggenggam erat senapan serbu M4-nya.

".. Sniper kita Whitney telah roboh, akan sangat sulit menghadapi Sniper mereka, tapi dilihat dari situasi sekarang.., mereka sedang terpojok meskipun kenyataannya kita yang berada di pojok.., anda mengerti maksudku Chief..?", jelas Mark.

"Hmm... Aku mengerti, baik.. Panggil mereka, kita lakukan seperti di Kongo..", sahut Chief tersebut.

"Baik.."
" Zulu, Jackson, Kim, kemarilah..!", Mark memanggil rekan - rekannya untuk berkumpul.
.
..
...
Tampak tiga orang berlari cepat mendekat.
" Bagaimana..?", tanya Zulu begitu mendekat, senapan mesin M60 gagah disandangnya yang berwarna selaras dengan kulit hitamnya, kepala botak membuatnya terlihat sebagai yang paling sangar diantara yang lainnya.

" ..Whitney telah dibunuh mereka Chief..", ucap Jackson, menggunakan ikat kepala dengan rompi yang lumayan banyak dicantel Granat tangan, serta M4A2 yang banyak dibubuhi tulisan - tulisan umpatan.

" Ayo kita habisi mereka..", sambut Kim, wajahnya kental campuran Asia - Eropa, sedikit oriental namun sangar, berbadan tegap, ia memiliki sebilah sangkur yang beda dengan milik rekan - rekannya, seperti sejenis Pedang, namun lebih pendek menempel di pinggul belakangnya.

" Sniper itu.. Kita lakukan seperti di kongo..", ucap Mark.
" Bagaimana dengan yang lainnya..? Sepertinya aku melihat 2 orang dari mereka..", tanya Kim.

" Dua orang kan? Apa kau bisa mengatasi itu Kim?", tanya Chief mereka.

" KLak..!"
"Serahkan padaku..", sahut Kim sembari mengokang Senapan M4-nya.

" Aku ingin sekali membawa kepala mereka sebagi cinderamata..", sambung Kim lagi.

" Waspadalah Kim, jangan terlalu meremehkan mereka.. Aku yakin mereka dari satuan elit..", sahut Chief mereka.

" Denjaka..? Kopassus? ", tanya Zulu.

"Mungkin diantaranya..", sahut Chief mereka.
" Aku tau rumor mereka, mereka hebat dimanapun mereka berada.. Mereka terdengar kuat, tapi aku yakin mereka tidak lebih hebat dari kita..!", sambung Chief tersebut berusaha membakar semangat anak buahnya.

" Yeah..!", sahut keempat anak buahnya tersebut.

" Aku tak bisa mendengar kalian.., sekali lagi..apa aku benar..!?!", tanya Chief itu lagi.

"YEAH..!!!", teriak Mark bersama yang lain bersemangat.
.
..
...
" ! "
Bahkan Panah sayup-sayup mendengar teriakan mereka.

" Mereka akan menyerang.., bersiaplah..", Ucap Panah mengingatkan.

" Aku senang jika mereka melakukan itu..", sahut Gembok yang baru saja selesai merapikan jasad Sendok yang ia tutupi dengan dedaunan.

" Hening.. Kau mendengarku..?", tanya Panah melalui Radionya.

" Tentu saja aku mendengarnya..", sahut Hening yang tampak merayap berpindah posisi.
"Apa rencanamu..?", sambung Hening bertanya.

"... Tidak ada.., jika mereka menginginkan pertempuran.., kita berikan mereka pertempuran.., ini bumi pertiwi kita..! Aku ingin sekali membuat tanah ini subur dengan tumpahan darah-darah mereka..", ucap Panah membara.

" ... "
Hening hanya diam, ingin sekali ia mengatakan sebaiknya kalian pergi dari sini.., namun ia tak ingin menghalangi semangat rekannya yang sedang membara.

" Kau siap Gembok..?", tanya Panah.

" Kapanpun aku siap..!"
"KLakk..!"
Sahut Gembok Garang.

Kedua pihak masing - masing terbakar semangat untuk saling mengalahkan, bukan untuk adu ketangkasan, bukan untuk melihat siapa yang terkuat...
Ini tentang HARGA DIRI prajurit!

.
..
...

Chief pasukan asing tampak membagi sisa pasukan Milisi yang tersisa menjadi dua regu, 5 orang mengikuti Kim mendekat ke arah Panah dan Gembok, sementara sisanya 4 orang lagi bergabung bersama Mark, Zulu, Jackson, beserta dirinya untuk mendekat ke arah dimana posisi Hening berada.

" ... "
"Mereka bergerak..", ucap Hening memperhatikan dari balik teropongnya.

" Kalian Bergeraklah dengan cepat setelah ini.. Mengerti?", perintah Mark kepada para Milisi sembari mempersiapkan sebuah Granat Asap ditangannya.

" Klik.."
" Tak..!"
Granat asap dilemparkan Mark ke tengah - tengah antara barak dan bibir rawa, tak berselang lama, asap putih sudah mengepul.

" Menghalangi pandanganku kah..?", gumam Hening.

" Sekarang..!", perintah Mark.
Maka ke 4 milisi yang bersama mereka segera berlari maju dari arah kiri menembus rawa.

" Mark.., Jackson., ayo..! Zulu..sekarang!", perintah Chief.

Terlihat Mark, Jackson, dan juga Chief berlari sigap dari arah kanan, sementara itu Zulu bersiap melepaskan tembakan perlindungan dengan tetap berada dibelakang.

"Tretereteretm..trereteret.."

Deru senapan mesin M60 Zulu menggema, menembak acak menembus gumpalan asap ke arah sekitar dimana terdapat bekas tembakan Heli mereka.

" ! "
Hening sedikit Kaget karena terdapat sebutir peluru tersebut mengenai batang pohon yang berada didekatnya.

" Kau hampir beruntung.., tapi aku lebih beruntung..", gumam Hening sembari membidik bersiap melepaskan tembakan.

" Tshhh.."
"DUARRR..!!!"

Ledakan tiba-tiba saja muncul tak jauh dimana granat asap itu berada, bahkan bangkai Heli tiger yang tergeletak di tengah Rawa ikut meledak.
" Sial..! Ini jebakan kita..!", ucap Mark sedikit terpental terkena tekanan ledakan tersebut.
"Teruslah Maju..!", perintah Chief mereka sembari menundukan kepalanya karena sangat banyak sampah dan kayu beterbangan bercampur dengan Air Rawa yang mencuat ke udara.
Maka Mark dan Jackson tampak terus maju tak menghiraukan para milisi yang tewas.

Tampak ke empat milisi yang bersama mereka itu tewas terkena ledakan tersebut, karena memang posisi mereka dekat dengan pusat ledakan tersebut.

" Sial..! ", umpat Zulu, menghentikan tembakannya berusa berlindung dari sejumlah material kayu yang beterbangan.

Ternyata Ledakan itu adalah ledakan sejumlah Claymore yang terpasang di dekat barak musuh dan sengaja ditembak oleh Hening.
.
..
...

" ! "


Kim bersama ke 5 orang milisi yang bersamanya juga tampak terkejut melihat ledakan itu, namun ia tak begitu memperdulikannya dengan tetap memerintahkan ke 5 milisi yang bersamanya untuk memburu Panah dan Gembok.

(( NEXT ))

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 72

★ HENING ★ PART 72 



" Berlindung! "




Sejumlah pria dalam balutan seragam militer berbaur dengan lebat serta gelapnya keadaan hutan yang menjadi medan pertempuran.
sementara itu tak jauh dari mereka tampak segerombolan orang bersenjata lengkap berjalan berbaris tak teratur menuju sebuah barak darurat namun terlihat sangat kokoh dan fungsional tak menyadari keberadaan sejumlah pria yang berdiam diri dibalik rimbun hutan yang mengelilingi barak tersebut di tengah rintik hujan.

"Ndan..?", tanya seorang prajurit. Melalui radionya, berusaha menanyakan apa yang harus mereka lakukan setelah sesaat sebelumnya seorang musuh telah mereka lumpuhkan senyap.

"Pertahankan posisimu Utara..!", sahut sang Komandan.

".. Bersiaplah.., mereka akan memasuki barak itu..", Gumam Hening pelan, namun sepertinya seperti menyadari sesuatu.
" Baik.. Utara, Sendok, semuanya ambil posisi tembak.., 1 dalam 2 kiri sapu bersih dalam jangkauan..!", perintah sang komandan sembari bersiap menggunakan senapan serbu yang disandangnya.
1 dalam 2 kiri sapu bersih adalah formasi tembak yang memilih sasaran yang diawali dari musuh yang berada di arah kiri dari posisi mereka berada dengan masing-masing penembak sebisa mungkin harus bisa menembak 2 orang musuh yang terlihat, formasi sergap cepat yang kebanyakan digunakan oleh pasukan Elit dalam pengintaian.
.
..
...
Dalam sekejap ke empat anak buahnya mengambil posisi siap tembak, Utara, sendok, panah dan juga Gembok, kecuali Hening yang tampak melepaskan senapannya seperti menyadari sesuatu yang besar.
"..Ndan..!", seru Hening bermaksud menunda serangan kejut rekan-rekannya, namun sang komandan tak begitu mengerti maksud Hening memanggilnya.
" Tembak..!", perintah sang Komandan regu meraung di tiap Headset yang terpasang di telinga tiap prajurit, segera saja puluhan timah panas berhamburan meluncur.

"Tratata..tash..tash!"

Sejumlah musuh yang diketahui adalah gabungan milisi dan seorang pasukan asing yang belum teridentifikasi roboh bersimbah darah, sebagian dari mereka berlari cepat berlindung di barak yang berada di tengah rawa tersebut, perasaan terkejut sangat jelas terpampang di raut mereka masing-masing.
Namun di tengah situasi menegangkan tersebut sayup-sayup terdengar gemuruh dengung mesin memenuhi langit.
" ! "
Sontak Utara dan yang lainnya terkejut dan berusaha mencari tahu.
"Sial..!, semuanya..! Berlindung!", seru Hening sembari bangkit dari tempat persembunyiannya.

Tiba-tiba saja hadir sebuah heli di tengah-tengah medan pertempuran tersebut, dengan cepat menurunkan ketinggiannya serta langsung berputar mengitari barak di tengah rawa tersebut.
Sungguh tak dapat dipercaya sebuah Heli tempur musuh bisa melenggang bebas di kawasan wilayah hutan NKRI, mungkin masuk melalui celah tak terpantau, atau bisa jadi sudah lama berada dikawasan ujung indonesia ini, bukan main - main itu adalah Heli tempur EC 665 tiger!

" Apa..?!", kejut sang komandan terperangah, mendadak aliran darahnya berdesir, karena tak jauh di depannya sebuah Heli gagah meraung di langit-langit hutan, samar - samar namun tampak jelas heli itu meneteng persenjataan kelas berat lengkap.

"Tratatatash..tratash..!"
"Berlindung...!", teriak komandan lantang sembari melepaskan tembakan ke arah Heli tersebut berusaha memberi kesempatan untuk para anak buahnya agar segera berlindung masuk ke dalam hutan.

"Teng..tang..teng.."
Benar saja, hantaman peluru tembakan sang Komandan membuat perhatian pilot Heli itu tertuju padanya.

"Ini..?!?", gumam Hening terperangah.

"Pssstt..!!!"
Sebuah roket Hydra tipe 70 ditembakkan ke arah dimana Posisi sang Komandan berada.
.
..
...
" !!! "
Utara yang menyadari itu berusaha berbalik dari pelariannya untuk menyelamatkan Komandannya, namun Sendok dengan cepat meraih dengan merangkulnya erat sehingga mereka berdua terjatuh.

"BAAMMPp..!!!"

Ledakan menderu menggetarkan tanah.

" NDAAAAAANN...!!!", teriakan Utara membuat Sendok semakin erat merangkulnya, sementara Panah dan Gembok kehabisan kata - kata bahkan ekspresi melihat komandan mereka hancur lebur tanpa sisa.

"Kalian Mundurlah..! Berlindung!", ucap Hening melalui radionya.
"..SiaL...!", gumam Hening mengatur posisi senapannya dan segera membidik Heli tersebut dengan senapannya.

" Sialan...BEDEBAH..!!!", umpat Utara sembari berontak dari dekapan Sendok, kemudian ia berlari ditengah kepulan asap terus maju sambil melepaskan tembakan ke arah Heli tersebut.
" Utara! Kembali..!", teriak Sendok.
Namun Utara tak mengacuhkannya, liapan Emosi telah menguasainya, ia terus menembaki heli tersebut.

"Tratatatatatash..!"

" ! "
"Bodoh..! Tindakanmu bisa membuat yang lain terbunuh..!", teriak Hening menyadari.
Sementara musuh yang berupa para milisi bersama beberapa pasukan asing sebelumnya tampak memperhatikan dengan seksama seolah - olah mereka sedang menonton pertunjukan.
Dan lagi - lagi ...

"Pssstt...!"
.
..
...
"BAAAAAMMpp..!!!"

Ledakan kembali menggetarkan tanah, " aaakkkhh..!"
Sendok juga ikut terpental karena ledakan karena posisinya yang lumayan dekat dengan dimana Utara berada.

"Semuanya..! Jangan gegabah..!", teriak Hening.
Sementara itu Gembok dan Panah tampak berlari ke arah dimana Sendok tergeletak berlumuran darah.

"Sendok.. Bertahanlah! Kami akan membawamu..!", ucap Panah berusaha merangkul rekannya itu.
" Bertahanlah..", seru Gembok sembari berusaha melepas pakaian Sendok yang masih mengepulkan asap karena sebagian tubuhnya terbakar.
" Sial.., bertahanlah teman..", tambah Gembok kali ini berusaha menutupi raut kesedihan ketika ia berusaha mennghambat darah deras yang mengucur dari perut rekannya itu dengan tangannya, sebuah luka besar menganga di perut, di kelilingi luka - luka robek disertai luka bakar yang memenuhi sekujur tubuh rekannya itu.

"Gembok.. Tahan itu..!", ucap Panah menyadari itu sembari merogoh kantong - kantong di pinggangnya mengambil peralatan medis seadanya, namun tangannya yang sedang membuka untaian perban tiba-tiba dihentikan oleh tangan Sendok yang menggenggam tangannya.

"Sendok.. Tidak, tidak teman.. Kau akan selamat..!" Bentak Panah terkejut, begitu juga Gembok yang segera ikut menggenggam tangan rekannya tersebut.
.
..
...

Namun Sendok telah pergi detik itu juga, pergi dengan tangan menggenggam erat rekannya.

"Sendok..???", Panah dan Gembok terdiam sejenak, berusaha menenangkan diri dengan menerima sebesar apapun perasaan sedih yang sedang menyerang mereka, mereka akan tetap bertahan sampai titik darah penghabisan, sebagaimana semestinya seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia.
.
..
...

"...sialan kalian..", umpat Hening mendengarkan detik - detik perginya Sendok dari radionya.

"tsskk..!"
"Tang..!"

" ! "
Buru - buru Heli musuh tersebut memutar moncongnya berusaha menemukan posisi Hening yang baru saja melepaskan tembakan.

"Tskkk..!"
"Tang..", "klak.."
"Tsskk..!"
"Tang..", "klak.."

Hening terus menembak, mengokang, dan menembaki lagi.

Karena posisi Hening yang tak terlihat, pilot Heli musuh tersebut memutuskan menembaki seluruh area didepan mereka dengan Giat 30 yang garang nangkring dibawah moncong mereka.

"Dum..dumdump..dump..!"

Mereka melakukan tembakan menyusur 90 derajat dekat dengan tanah, membuat daerah pinggir rawa di hadapan mereka tercincang rapi bak petani yang hendak membuka lahan.
"Krasshh..!"
"Krakk..!"
Batang - batang pohon patah dan bertumbangan tak tentu arah.

"Tskk..!"
"Tang.."
Namun Hening terus menembaki sembari berusaha menempatkan dengan tepat titik bidiknya karena heli itu sedikit melenggang di udara.

Kedua pilot Helo itu pun seakan meladeni tembakan Hening dengan memlihi juga melepaskan tembakan menyusur, seolah - seolah duel siapa yang akan roboh lebih dahulu.
Benar saja, sapuan peluru Giat 30 mereka perlahan tapi pasti terus mendekat dengan cepat ke arah dimana posisi Hening berada.

"Dump..dumdumdummdumpp..!!!"

Desing tembakan Giat 30 dari Heli tersebut terus menggema.

"Krashh..! Krakk!"
Dibarengi roboh serta porak - porandanya pinggiran rawa tersebut.

"Tang..!"
Tembakan Hening juga terus menghantam heli tersebut.

" ! "
" Ayolah..!", gumam Hening terus menembak.
Suara desingan peluru sudah terdengar dekat dengannya, sejumlah pepohonan didekatnya juga sudah pada roboh diterjang peluru, hanya terpaut beberapa puluh senti meter lagi.
Ditengah serpihan kayu, dedaunan, serta tanah yang beterbangan, disertai kilatan proyektil yang mulai tampak...

" Tsssskkk !!!"

Peluru tembakan Hening meluncur lurus mengarah ke badan heli tersebut..

Tidak..,, tapi mengarah ke pilot kokpit pilot heli tersebut..

tidak juga..,, hanya mengarah ke begian rotor baling - baling yang sedari tadi terus ia tembaki...

"Crkkk..! Ssshhh!"
Asap hitam mengepul, sesaat kemudian Heli itu mulai kehilangan keseimbangan, Tepat! Disaat peluru tembakan mereka yang terakhir menghantam batang pohon yang digunakan Hening untuk bersandar, mungkin jika tadi ia gagal, peluru berikutnya akan melubangi kepalanya, atau merobek tubuhnya, siapa yang bakal tahu?
.
..
...
" Tiit..tiit..tiit.."
Heli itu berputar - putar, ketinggiannya terus menurun karena putaran baling - balingnya sudah tak stabil, Asap hitam memenuhi udara, tak berapa lama heli itu terjatuh menyamping ke rawa. 

"BRakkkk!!! Brsssppppp!!! "
"Krakk..krakk! Krak!"
tak berhenti disitu, baling - balingnya terus berputar mengenai sebagian barak di dekatnya hingga membuat atap dan dinding barak yang terbuat dari kayu itu berterbangan tak tentu arah, dan berhenti dengan posisi heli miring penuh kepulan asap.

(Bersambung)

Sabtu, 28 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 71

★HENING★ Part 71 



" GENG PUTIH "




Langit masih dipenuhi kilatan petir yang beramai-ramai mencoba menghias permukaan putih awan, meskipun begitu, hujan telah reda seakan mundur untuk beristirahat sejenak setelah hampir seharian penuh menyirami bumi pertiwi.

"Tidak ada apa-apa yang bisa digunakan untuk mengenalinya Ndan..", ucap Utara setelah memperhatikan dengan seksama sesosok mayat yang mereka temukan.
" Hmm.. Sudahlah.., Sendok.. Rapikan jasad ini, kita akan membawanya kembali bersama kita nanti..", sahut Komandan sembari berusaha memperhatikan sekitar.
"Hmm? Hening masuklah.. Hening..", ucap Komandan lagi teringat sebelumnya tak ada jawaban dari Hening saat di panggil oleh Utara melalui Radio.
" ... "
"... Dimana dia?", tanya Komandan.
" Tak ada apa-apa Ndan.., biasanya jika seperti ini dia sedang benar-benar mengamati..", jawab Sendok.
"Mengamati? Maksudmu?", tanya Komandan sembari mengerutkan dahi, begitu juga Panah dan gembok sepertinya juga bingung.
"Hmm.. Hei Utara, Panah, Gembok.. Apa kalian tak ingat apa yang dilakukannya saat di kalimantan?", tanya Sendok.
" Kalimantan? Saya semakin bingung.., intinya apakah ia baik saja?", tanya Komandan.
"Ya.., aku ingat.. Dia memang seperti itu..", sahut Utara tersenyum, begitu juga dengan yang lain, sepertinya mereka bersama-sama kembali teringat akan sebuah kejadian.
"Dia pasti baik saja Ndan.., dia selalu seperti itu, terlebih jika Komandan tak sedang turun bersama kami.." sambung Utara.
.
..
...
sementara tak begitu jauh dari lokasi Utara dan yang lainnya berada, 20 orang pria bersenjata lengkap bergerak ke arah mereka, tampaknya mereka adalah pasukan musuh yang telah kembali dari patroli rutin yang mereka lakukan.
Namun ada yang berbeda, sekitar 5 sampai 6 orang dari mereka mengenakan seragam yang berbeda dari yang lainnya, ditambah kulit putih mereka membuat keberadan mereka kian mencolok, terlihat sangat jelas sekali diantara yang lain yang kebanyakan berkulit hitam.

" Musuh dalam selimut..", Gumam Hening yang ternyata sedari tadi memperhatikan dari balik teropongnya di kejauhan, titik bidiknya mengarah ke salah satu pria asing dalam rombongan musuh tersebut.

"Semuanya.. Bersiaplah..", Beritahu Hening melalui radio.
" ! "
"Eh?"
" Apa? Dimana posisimu??", sahut Utara sedikit terkejut Hening tiba-tiba saja menontak melalui radio.
" Hening dimana posisimu sekarang? Berapa jumlah musuh?", sela Komandan.

...
" pada jam 3, musuh sekitar 20 orang lengkap, diantara mereka ada geng putih..", jelas Hening.
" Hah? Apa kau tak salah?", tanya komandan lagi.
"Aku bisa melihatnya dengan jelas.. Ada beberapa geng putih diantara mereka..", jelas Hening berusaha meyakinkan bahwa benar beberapa orang yang iya lihat berada diantara pasukan musuh tadi adalah pasukan asing, atau biasa mereka sebut geng putih.

"Ada yang aneh dengan tempat dan titik ini Ndan..", gumam Utara.
"Apa maksudmu?", sela Hening yang mendengar ucapan Utara.
"Lihat.. Kami menemukan jasad salah seorang dari prajurit kita.., lalu sejumlah pasukan musuh dengan beberapa geng putih.., pasti ada sesuatu yang besar di daerah ini..", jelas Utara.
"Hmm.. Kau benar, tak mungkin ini hanya kebetulan saja..", sahut Komandan.
" ... "
"Utara.. Komandan, Sebaiknya bersiap untuk tembakan..", sela Hening.
"Dimana posisimu..?", tanya Utara.
"Aku bisa melihat musuh dengan jelas dari sini.., keluar...", ucap Hening.

"Dia selalu seperti itu..", ucap Panah menanggapi.
"Sudah, ia selalu bisa diandalkan.."
"Komandan? Apa yang harus kita lakukan..?", sahut Utara.

"Hmm.., baiklah dengarkan..!"
" Kita lakukan dengan cepat... Tanpa ampun, kita tak butuh sandera, habisi tanpa bekas, musuh teridentifikasi terdapat Geng putih.. Maka dari itu, selesaikan..!", ucap Komandan mengarahkan.
" Siap Ndan..!", sahut Utara, Sendok, Panah dan juga Gembok serempak.

"Sangat berbahaya jika kita membuka kontak di barak ini, sebaiknya kita ke depan..", ucap Komandan sembari menunjuk ke arah luar.
"Utara, Panah, kalian merata di sisi kanan depan di pingggir rawa.., kau sendok dan kau Gembok, bersama saya ratakan sisi kiri.., kita biarkan mereka melewati kita.., setelah mereka memasuki barak, kita gempur mereka.., jelas?!?", jelas Komandan.

"Hmmm...", Utara dan yang lainnya menganggukkan kepala.
"Hening pasti mengCover kita.., baiklah.. ayo bergerak..", seru Komandan.
Tak butuh waktu lama, utara dan yang lainnya telah berusaha berbaur dengan kondisi alam berusaha untuk tak terlihat.

"Hmm... Jebakan ya?", gumam Hening dalam hati setelah melihat pergerakan rekan-rekannya dari kejauhan.
.
..
...
"Krikk...kriikk..."
Suara jangkrik serta binatang lainnya satu-persatu kembali meramaikan belantara hutan di penghujung bumi pertiwi ini, bak mempersilahkan area pertempuran yang telah tersaji secara tak langsung.
Hanya terpaut 50 meter dari posisi dimana Utara dan yang lainnya bersembunyi para pasukan musuh telah jalan mendekat, obrolan-obrolan para prajurit asing diantara prajurit musuh juga sudah terdengar, dari pergerakannya, mereka sepertinya belum mencurigai apapun saat ini sehingga mereka hanya tampak seperti berjalan-jalan malam tanpa kewaspadaan, terlebih para prajurit lokal yang sepenuhnya adalah milisi pemberontak NKRI, mereka terlihat kelelahan dan didera kantuk.

"Apapun yang akan kau lakukan, tunggu mereka kembali ke barak mereka. . . ", bisik Utara kepada Hening dengan merapatkan mulutnya ke mikropon radio yang menempel di lehernya.

" ... "
Namun Hening tak begitu memperdulikannya, tangannya masih memegang erat senapannya, matanya terus menatap tajam titik biding teropongnya.

"..bersiaplah.., mereka mulai tampak..", bisik Panah.
" Ya.., aku tahu..", sahut Utara sembari mulai menyembunyikan kepalanya di balik semak belukar.

"Ndan.., 30 meter...", bisik Gembok yang sedari tadi sudah memperhatikan gerak pasukan musuh didepan mereka.

"Bagus.., tetap menunduk.., tahan diri kalian.., kita tunggu mereka masuk..", sahut Komandan.

" ... "
"Srkkk..srkk.."
Kisruh suara langkah kaki para praajurit musuh juga terdengar membelah tumpukan semak serta tumbuhan liar yang memenuhi permukaan tanah.

" Satu..dua..tiga..empat.. Hmm ada enam geng putih..", ucap Utara dalam hati.

" Tahan diri kalian. . .", bisik Komandan melalui radio saat musuh sudah berada pada jarak tak lebih dari sepuluh meter.

Hanya selang beberapa saat, para prajurit musuh sudah lewat tepat dihadapan mereka, terlebih Utara dan panah yang hanya berjarak 3 meter dari gerombolan musuh yang lewat.
" ?!?! "
" Tak ada emblem?", ucap Komandan dalam hati berusaha memperhatikan emblem pasukan Asing yang berada diantara para milisi pemberontak.

Sebagian besar musuh telah keluar dari batas hutan dengan rawa dan memasuki lantai yang terbuat kayu menuju barak mereka, beberapa diantara mereka yang berada paling depan terdengar tertawa terbahak, mereka menertawakan kedua teman mereka yang mereka sengaja tugaskan untuk menjaga barak tak kunjung muncul dengan mengira merek tidur dan lari dari tugas.

" ! "
"Sial...", gumam Hening merespon sesuatu.

" !!! "
"Tenanglah Utara..", ucap Komandan dalam hati ketika menyadari ada salah satu dari pemberontak yang berjalan ke arah dimana Utara berada, dari gerak-geriknya sepertinya ia hendak buang air kecil.
" ! "
Panah yang berada dekat Utara tak bisa bergerak, jika dia bergerak sedikit saja musuh akan segera menyadarinya.

Komandan, Gembok, dan Sendok tampak telah bersiap dengan apapun yang akan terjadi dengan menggenggam erat senapan mereka masing-masing ketika salah seorang pemberontak tadi berhenti tepat di depan Utara.
" ... "
pemberontak tersebut tampak memperhatikan sekitarnya sejenak, ia mengarahkan pandangannya ke kiri dan ke kanan, berusaha memastikan tidak ada apa-apa.
Sejenak Utara perlahan berusaha mengayunkan tangannya untuk meraih sangkurnya, namun terlalu beresiko, sementara senjatanya berada tepat di punggungnya, sungguh sial baginya.
.
..
...
" ! "
"Trskk!!!"
Tiba-tiba saja darah berhamburan dari kepala pemberontak itu, menyadari itu, tanpa berfikir panjang lagi Panah segera mbangkit dan melompat kecil untuk menahan tubuh pemberontak tadi agar tak jatuh menimpa ranting-ranting yang tercecer di tanah hingga membuat keributan.

"Hah!?!..", Komandan hampir saja bangkit dari persembunyiannya jika saja Sendok tak menahan pundaknya dengan tangannya.
Sepertinya sendok sudah membaca apa yang terjadi.
"..bagus sekali teman..", ucap Utara sembari membersihkan cipratan darah yang mengenai wajahnya.
"Hampir saja..!", gumam Panah menghela nafas sembari memperhatikan sejumlah pemberontak yang berada paling dibelakang.
"Sepertinya mereka tak menyadarinya..", ucap Panah lagi.

"KLak!"
Hening mengokang senapannya.

(Bersambung)

Jumat, 27 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 70

★HENING★ Part 70 



" DRAMA "




" Bingo! ", ucap Hening melalui Radionya sambil kembali mengokang senapannya.

" Bagus !",
"Kalau begitu kita harus cepat.., kita belum tahu jumlah pasti musuh kita ", ucap Komandan perlahan berhasil melewati untaian kawat pemicu Ranjau yang dipegangi oleh Utara.
" Sendok.., cepat sedikit!", eluh Utara.
"Baik.., maaf teman ", sahut Sendok sembari berusaha melewati untaian kawat tersebut.

Sementara itu tak jauh dari posisi mereka tampak Panah dan Gembok terus mengamati sekitar area tersebut sambil sesekali mengarahkan moncong senapannya.
" ! "
" Hei..! Kau lihat itu?", tanya Panah kepada Gembok karena merasa melihat sesuatu.
" Ada apa..? Apa yang kau lihat?", jawab Gembok mencoba melihat ke arah yang ditunjukan oleh panah.
.
..
...
" Hah? Itu seperti... Hening! Kau bisa melihatnya?", tanya Gembok melalui Radionya.
" Posisi..?" Tanya Hening.
" Pukul 2 merayap..!", sahut Gembok.
Segera saja Hening mengarahkan teropongnya ke arah pukul 2 di sebelah kanannya dan menurunkan bidikannya.
"Hmm?" Gumam Hening.
"Kau bisa melihat apa itu..?", tanya Gembok.
"Tunggu..! Aku terhalang..", sahut Hening sembari berpindah posisi dan langsung kembali melihat dari bari balik teropongnya.
" ... "
Sementara itu Utara tampak mendengarkan percakapan rekan-rekannya itu dari radionya sembari masih berusaha melewati untaian kawat ranjau musuh.

" Itu terlihat sepertii bunker! Ternyata bukan.. Itu sebuah jalan!", jelas Elang setelah mampu melihat bahwa itu adalah potongan kayu yang dibuat sebagai pijakan menuju bibir rawa di timur.
" Hanya lantai pijakan ternyata..", gumam Gembok.
"Tidak seperti itu... Ini ..., Ndan, anda mendengarkan?", sahut Hening.
"Yah.., saya tau apa yang kau pikirkan..", jawab Komandan.
" Apa maksudnya..?", tanya Gembok sembari melirik Panah.
" ... "
Panah hanya meletakkan telunjuknya di mulutnya bermaksud menyuruh rekannya itu untuk diam dan mendengarkan.
.
..
" Apa tepat seperti yang juga aku pikirkan Ndan?", tanya Utara sembari memanjat naik ke balkon barak musuh tersebut.
"Hey.. Jangan ceroboh..!", tanggap Sendok.
"Sendok waspadalah..", beritahu Komandan.
"Tapi Ndan..!", sahut Sendok melihat Utara dengan santai berjalan masuk ke barak musuh tersebut.
Selang beberapa saat Utara kembali berjalan keluar.
"Hah? Tak ada siapa-siapa lagi?", Sendok merasa bingung, melihat Utara berjalan santai di barak musuh.
" Apa yang harus kita lakukan Ndan?", tanya Utara.
" Sepertinya ini akan ramai..", sahut komandan sembari menjulurkan tangannya hendak naik ke balkon yang terbuat dari kayu tersebut.
"Ada apa sebenarnya..?", Gembok masih bertanya-tanya.

"Baiklah.., Panah, Gembok, kalian menemukan akses lain untuk masuk ke barak ini.. sebelumnya hanya ada dua musuh yang dilumpuhkan oleh Hening..", ucap Komandan dari radionya.
"Lalu..?", tanya Gembok.
" Kemungkinan musuh lain sedang berpatroli keluar dari barak mereka.., sebaiknya kita berkumpul disini untuk melakukan serangan kejutan kepada mereka jika mereka kembali..", jelas komandan.
"Baik Ndan!", sahut Panah kemudian mengajak gembok bergerak ke arah jalan masuk ke barak musuh tersebut.
Sementara itu tampak Hening bergerak cepat menyusuri bibir rawa menuju arah timur dimana akses masuk kebarak tersebut berada.

"Sendok, periksa keseluruhan barak ini.., mungkin ada sedikit informasi..", perintah Komandan.
"Baik Ndan!", sahut Sendok sembari bergerak masuk ke barak.

"Berarti intelijen kita salah.., tidak ada aktivitas besar disini.., ini hanya pos kecil..", ucap Komandan sembari berjalan pelan masuk ke barak di ikuti Utara.
"Hmm... Tidak ada apa-apa disini..", ucap Utara melihat-lihat keadaan didalam barak ini yang memang kosong, hanya terlihat sebuah mesin genset listrik disudut ruangan.
"Hmm? Genset?", gumam Utara sejenak lalu melirik je arah sentir yang menggantung.

"Ini..?!?", gumam Utara kembali sambil berlari keluar.
"Ada apa?", tanya Komandan.

"Sepertinya ini bukan pos kecil komandan..!", jelas Utara.
"Maksudmu?", tanya Komandan beranjak keluar mengikuti Utara.
"Itu komandan..", ucap Utara sembari menunjuk kabel lampu yanr terjuntai di atas dengan beberapa lampu menyebar ke tiap sudut.
"Komandan.., anda harus melihat ini..!", ucap Sendok serius melalui Radio.
"Hah? Dimana posisimu?", tanya Komandan.
"Didepan.., eh dibelakang, aku tak tau ini depan atau belakang..", sahut Sendok.
Segera saja Komandan berjalan cepat menuju posisi Sendok diikuti Utara.

"Hening dimana kau?", tanya Utara.
" ... "
"Jawab aku..! Hening.., shhh!", eluh Utara tak ada jawaban dari Hening diluar sana.
"Ndan..! Hening tak. . . ", Utara sejenak terdiam tak melanjutkan kata-katanya terkejut melihat apa yang dilihat Komandan dan Sendok.
"Ini. . . ", gumam Utara badannya mulai bergetar.
"Sungguh sialan...", raut wajah Sendok juga tampak berubah memerah.
sementara Komandan berjongkok dan berusaha meraih sesuatu.
"... Ada apa disana ?", gumam Panah.
"Entahlah.. Ayo kita bergegas..", ajak Gembok mempercepat langkahnya.

" ..sebaiknya kita segera bergerak Komandan. . . ", ucap Utara.
"Tahan dirimu prajurit..., seharusnya kita bersyukur atas apa yang kita temukan disini.. Sehingga kedatangan kita kesini tak akan sia-sia..", sahut Komandan.

"Ini keterlaluan Ndan...", sambung Sendok masih tak percaya dengan apa yang diketemukannya.

" !!! "
Panah dan Gembok yang baru saja sampai juga tampak tercengang melihat apa yang ada di hadapan Komandan dan kedua rekannya tersebut, tiba-tiba saja tubuh mereka bergetar hebat, bukan perasaan takut yang menyelimuti.. Tapi semacam amarah yang muncul dari jiwa mereka.
"Klak..!"
" Kita harus membalasnya Komandan!!!", ucap Gembok sembari mengokang senjantanya.
"Bedebah..!", ucap Gembok sembari memukulkan tangannya ke lantai.

"Tahan diri kalian.., jangan biarkan ini mengganggu konsentrasi kalian.. Rekan kita ini pasti tenang kita telah sampai disini..", sahut Komandan.
"Utara. . .", panggil Komandan.
"Baik Ndan..", sahut Utara mengerti.
"Semuanya..! Berikan penghormatan terakhir..! Hormaaat grak!", bentak Utara.
Segera saja semua memberikan hormat.

Keadaan berubah menjadi dingin ketika kelima prajurit tersebut memberikan penghormatan terakhir kepada seseorang dihadapan mereka yang sudah tak bernyawa lagi.
Yah..,, mereka menemukan mayat salah satu dari mereka, mayat seorang prajurit berseragam militer Indonesia yang berlumuran darah terbujur kaku disudut barak musuh dengan tangan terikat.
Luka tusukan disekujur tubuh serta lebam hantaman benda tumpul melengkapi tetesan darah yang membuat seragamnya menghitam.. Mirisnya lagi, beberapa bagian tubuhnya telah terpisah, ditambah wajahnya yang sudah tak bisa dikenali membuat suasana semakin dingin disertai suara rintik hujan yang mulai berhenti seakan menyelesaikan tugas latar yang diembannya dalam sebuah drama diakhir episode.

(Bersambung)

Kamis, 26 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 69

★HENING★ Part 69 


" CLAYMORE "




" Bergerak. . !", perintah sang Komandan.
Segera saja para prajurit terlatih itu menyusuri rimbun hutan yang gelap gulita dengan sigap, Utara dan Sendok sebagai pemimpin barisan terampil memanfaatkan kilatan petir sebagai Flashing Light untuk menemukan rute terbaik meskipun lambat laun kilatan petir mulai sedikit tak mampu menembus rimbunnya hutan yang mereka lalui.
Riuhnya rintik air serta petir yang menggelegar memenuhi langit menjadi pelengkap peredam suara dari setiap pergerakan mereka, sehingga mereka bisa bergerak dengan cepat meskipun mereka terpaksa meningkatkan kewaspadaan mereka sebagai resikonya.

" ! "
Sesekali mereka dikejutkan oleh gerakan tangan Utara yang memberi tanda untuk berhenti, kemudian setelah beberapa saat menerawang.. Utara atau Sendok kembali memberi tanda untuk bergerak.
Tumbuhan setinggi pinggang, ranting pohon terjuntai kebawah, ditambah tumpukan daun serta ranting bahkan batang pohon yang membusuk ditanah membuat Area yang mereka lalui terasa begitu menantang, membuat andrenalin masing-masing dari mereka bersemangat, aneh memang, tapi itulah kenyataannya.
.
..
...
" ! "
Lagi - lagi Utara memberi tanda untuk berhenti, namun kali ini berbeda karena Sendok langsung bergerak mendekati Komandan Regu.
" Lapor Ndan.., kilatan kemungkinan kolam ikan..", ucap Sendok pelan.
Sang Komandan berfikir sejenak sembari berusaha memperhatikan daerah sekitar.
" Apa kalian yakin..?" Tanya Komandan tersebut.
" Hei..", seru sendok ke arah Utara.
Namun Utara hanya membalasnya dengan dua kali ayunan kepalan tangan ke bawah.
" Yakin Ndan.. Ada aktivitas didepan sana..", sambung Sendok setelahnya.
" Ini jauh melenceng dari data intelijen.., harusnya tidak sedekat ini dengan Dropping..", ucap Komandan.
" ... "
Elang hanya diam mendengarkan sambil tetap menyiagakan senapannya.
" Intelijen kita masih burul.., Sendok.. Kau dengan Utara buat perimeter penjagaan di pukul 8, Gembok.. , kau bersamaku di pukul 6, dan kau Panah.., ikuti Hening ke arah pukul 3.., kalian yang memimpin pengintaian, dan pergerakan kita selanjutnya adalah hasil dari pengamatan kalian..", jelas Sang Komandan membagi tugas kepada kelima anggotanya.
" Siap Ndan..!", sahut mereka serempak.

" Ayo..", Ajak Hening kepada Panah untuk bergerak terlebih dahulu.
" baiklah..", sahut Panah mengikuti Hening yang telah merangsek maju.
"Baiklah.. Kita bergerak..", perintah Sang Komandan garang.

Sementara itu hanya 100 meter dari mereka tampak turunan yang terlihat seperti lekukan jurang yang tak begitu dalam, pepohonan tak tampak tumbuh disana, hanya semak belukar serta ilalang tinggi yang tumbuh diatas rawa, dan tak lebih dari sekitaran 70 meter dari sana terlihat cahaya yang sepertinya berasal dari sebuah sentir atau semacamnya di dalam Kamp yang di duga sebagai kamp musuh, pantas saja Utara dengan mudah mampu melihat posisi Kamp tersebut karena tak ada pohon yang menutupi Kamp tersebut, terlebih lagi hanya dikelilingi rawa sehingga tampak seperti kubangan raksasa ditengah hutan.

" Apa disini sudah cukup..?", tanya Panah kepada Hening sambil berjongkok dibalik batang pohon.
" Aku rasa belum.., sebaiknya kita kesana..", sahut Hening sambil menunjuk sebuah batang pohon tumbang tepat dibibir rawa.
"..baiklah..", ucap Panah sembari kembali bergerak, sementara itu Hening terus mengikuti tanpa mengendurkan kewaspadaannya.
Tak berapa lama kemudian setelah memastikan sekitar aman, Panah bersiap dengan teropong malamnya (Night vision).
" Baiklah kawan.., semua berawal dari pengamatan kita..", ucap Panah sembari melirik jauh ke tengah rawa melalui teropongnya dimana terdapat cahaya yang sebelumnya terlihat oleh Utara dan Sendok.
" Apa yang kau lihat..?", tanya Hening sembari mengatur teropong Night Vision yang sengaja ia pasangkan dengan senapan M40-nya.
"Hmm.. Itu seperti sebuah barak darurat..", sahut Panah melihat sebuah kamp yang terbuat dari batang pohon yang dibelah di tambah dengan tenda biru sebagai atapnya.
" Ikan..?", tanya Hening lagi menanyakan keberadaan musuh dengan kode "ikan".
" Tdak begitu jelas dengan kacamata besar ini..", ucap Panah sembari menoleh menunjukan 'Kaca Mata Malam'nya yang memang berukuran besar.
"Biar kulihat..", sahut Hening sambil mengambil posisi dengan merebahkan tubuhnya sembari mengatur posisi senapannya.
" ..."
Hening mulai mengamati sambil sesekali mengatur presisi teropongnya.
" Tidak ada aktivitas sama sekali.., kemungkinan besar mereka tertidur..", ucap Hening menjelaskan apa yang dilihatnya.
" Apa itu berarti kita harus melakukan penyusupan?", sahut Panah.
"..mungkin itu yang akan diperintahkan Komandan.., sebaiknya kau segera laporkan ini..", ucap Hening menyudahi pengamatannya.
" Baiklah..", ucap Panah langsung bergerak menuju posisi dimana Komandannya berada, sementara itu tampak Hening memasang Peredam pada senapannya kemudian segera kembali memantau kamp musuh melalui teropongnya.
.
..
...
" Begitu ya.. Hmm ", ucap Komandan mendengar laporan Panah.
" Baiklah.. Gembok, panggil Utara dan Sendok kemari.. Kita akan menyusup", perintah Komandan.
" Baik ndan..", sahut Gembok segera meluncur.
" Baik kalau begitu, aku akan kembali ke tempat Hening..", kata Panah.
" Saya rasa itu tak perlu.., untuk mengantisipasi apabila jumlah musuh yang belum diketahui, kita akan bergerak tiga dalam dua sejajar.., Hening akan menjaga kita dari jauh..", jelas Komandan.
.
..
...
Petir terus menggelegar menyambung kilatannya memenuhi langit, sementara Hujan terus mengguyur tanpa henti melengkapi kesunyian hutan yang ditinggal diam oleh penghuni malamnya.

"Bagaimana Ndan..?", tanya Utara
" Baiklah, nyalakan dan buka Radio kalian, Kita bergerak tiga dalam dua sejajar, kau dan Sendok berada di kanan dan kiri saya.., Gembok dan Panah di baris kedua untuk melindungi kita.., kita lakukan penyusupan terlebih dahulu, namun tetap lumpuhkan jika terjadi kontak.., semua mengerti..!?!", jelas sang Komandan.
" Siap ndan..!", sahut Utara dan yang lainnya serempak.
"Hening, kau mendengarkan?", tanya Komandan leawt radionya.
"Sangat jelas ndan", sahut Hening sigap.

Tak lama kemudian tampak Komandan dan ke-empat anggotanya perlahan menuruni lereng dan berakhir berendam dirawa yang tak begitu dalam tersebut.
" Sial..! Sepinggang Ndan...", keluh Sendok baru menyadari kedalaman Rawa yang dipenuhi ilalang dan semak belukar tersebut karena ia yang pertama memasuki rawa, Namun Sang Komandan hanya tersenyum mendengar itu.
" Sudahlah, berusahalah untuk tetap fokus!", sahut Utara pelan.

" ...Klakk..! "
" Penyusupan.. ", gumam Hening sambil mengokang senapannya menyadari Panah yang tak kunjung kembali ke posisinya, dan kembali mengamati kamp musuh didepannya.

Utara dan Sendok serta yang lainnya bergerak pelan mengarungi rawa yang dipenuhi ilalang dan tanaman menjalar tersebut, sesekali moncong senjata mereka bergerak sigap mengarah ke Kamp di depan mereka.
" Disana...", bisik Utara sembari menunjuk sebuah akses masuk yang terlihat di sudut kamp tersebut.
" Baik, Gembok.., panah, jaga punggung.. Kami menyusup..", ucap sang komandan pelan.
"Baik Ndan..", sahut Panah mengambil posisi penjagaan di tengah rawa tersebut di ikuti Gembok disebelahnya, sementara itu Komandan bersama Utara dan Sendok bergerak cepat mendekati Kamp tersebut.

" !!! "
Namun tiba-tiba saja Utara memberi aba-aba untuk berhenti, segera saja Komandan dan Sendok berhenti dan segera bersiaga memperhatikan sekitar.
" Ranjau ", Gumam Hening memperhatikan dari teropongnya.

"Ada apa?", Tanya Sendok.
" Claymore!", ucap Utara sembari memperlihatkan untaian kawat halus yang terhubung dengan bahan peledak kelas berat Claymore yang sengaja di pasang di atas batang kayu yang ditancapkan di atas rawa sehingga tak tenggelam tertutup semak belukar dan ilalang.
" Gila ..! Mengapa musuh punya peledak semacam itu?", ucap Sendok terheran-heran.
"Sudahlah.., kau punya mata yang bagus Utara, sekarang mari kita lewati kawat ini secara bergantian", sahut Komandan.
" Hati-hati Ndan.., kawat-kawat itu sepertinya juga terpasang di dalam air", ucap Utara mengingatkan sembari mengangkat pelan kawat itu dan meregangkannya sembari berusaha agar tidak tertarik.
" Sendok, Ndan.., cepat lewat..", ucap Utara yang tampak berkeringat memegangi umtaian kawat tersebut membuka celah agar Komandan dan Sendok bisa melewatinya.

" ! "
"Sial...! ", gumam Gembok.
" Ada apa?", tanya Panah.
" Pergerakan di pukul 1, diulangi pergerakan di pukul 1..! ", ucap Gembok yang menyadari seorang prajurit musuh tampak berjalan pelan di balkon yang berlantaikan papan-papan kayu sembarang yang di buat mengitari kamp tersebut.
" Kau bisa melumpuhkannya?", tanya Panah.
" Akhh.. Ilalang ini..". Umpat Gembok kesal pandangannya terhalang ilalang yang berbaris penuh memenuhi rawa.
" ! "
" Hening.., kau melihatnya?", tanya Utara setelah mendengar percakapan Gembok dan Panah..

"Sangat jelas..", sahut Hening.
" Hening, Konfirmasi..!", sambung Komandan.
"Sekarang menjadi dua ikan menuju ke posisi anda Ndan.., minta di jaringkan..", jelas Hening setelah melihat ternyata tampak dua orang musuh yang sepertinya sedang berpatroli.
" Lumpuhkan segera..!", perintah Komandan yang sedang kerepotan melewati untaian kawat jebakan yang terpasang beruntun.
"diterima..", sahut Hening mulai mengarahkan titik bidik teropongnya ke kepala salah satu dari dua musuh yang terlihat.

" ..huhhhh..."
"TSssK ! "
" Klak "
. . . 
"Tssk ! "
"Byur.."
Terdengar sayup suara dua jasad musuh itu tercebur ke dalam rawa.


(Bersambung)

Rabu, 25 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 68

★HENING★ Part 68 



"MISI RAHASIA"




Ruang Komando Pusat..

ketegangan yang baru saja reda tampak kembali memenuhi raut wajah Letn.Tari dan yang lainnya ketika kabar Elang dan yang lainnya mendapat serangan di Rumah sakit, seketika semua orang yang berada di ruang komando tersebut terheran-heran bagaimana bisa serangam individual bisa terjadi disana.

"Panglima.., saya mohon izin untuk undur diri sebentar untuk melihat keadaan disana..", ucap Jend.Purnomo meminta izin untuk segera melihat keadaan Elang dan yang lainnya.
"..pak Presiden?", sahut Pang.Rokhim sembari memalingkan wajahnya meneruskan permintaan izin itu ke orang Nomor satu di nusantara ini.
"... Silahkan Jendral.., katakan pada kami nanti bahwa mereka baik-baik saja..", sambung Pres.Darwin mengizinkan.
"Terima kasih pak presiden..", ucap Jend.Purnomo sembari memberi hormat dan segera berlalu meninggalkan ruang komando tersebut.

"Baiklah.. Sepertinya kita tinggal menunggu Letnan Angga dan yang lainnya yang sedang dalam perjalanan bersama Sir Robert.., bagaimana menurut anda Panglima?", ucap Letn.Vega.
"Gawat. . . Ada informasi bahwa kagiatan di pangkalan militer Australia meningkat..", sahut Pang.Rokhim pelan.
"Maksud anda pak..?", tanya Letn.Vega, tampak juga Pres.Darwin dan Wapres.Haryono spontan menyimak.
"..menurut informasi inteligen yang baru saya terima, sepertinya Australia akan mengambil tindakan tegas setelah mereka kehilangan komunikasi dengan duta besar mereka..", jelas Pang.Rokhim.
"Maksudmu mereka akan memulai peperangan?", tanggap Presiden Darwin.
"..saya rasa begitu pak.., tapi saya rasa itu tak akan terjadi karena kita telah membawa kembali duta besar mereka Sir Robert..", jawab Pang.Rokhim.
"..baguslah.., ini sungguh saat-saat yang kritis.., Letnan.. Dimana mereka sekarang?", ucap Pres.Darwin.
"Siap pak presiden, mereka akan segera sampai tak kurang dari 10 menit lagi..", jawab Letn.Vega sigap memperkirakan waktu perjalanan Letn.Angga dan yang lainnya.
"Sebaiknya siapkan tim medis untuk menyambut mereka kembali..", sahut Pang.Rokhim.
"Baik Panglima..", ucap Letn.Vega sembari meraih sebuah telepon untuk memberi koordinasi kepada tim medis.

Rumah Sakit militer..

Elang tampak duduk tenang setelah baru saja sadar, ia bersama kedua rekannya juga telah dipindahkan ke dalam satu ruangan khusus untuk merawat mereka yang dijaga dengan empat orang prajurit bersenjata lengkap, terlihat beberapa petugas keluar meninggalkan mereka bertiga setelah sedikit meminta informasi kronologi kejadian sebelumnya.

"Bagaimana ini terjadi..? Mengapa ia diam saja..?", tanya Adam yang tak tau menahu atas apa yang baru saja terjadi.
"Nanti kujelaskan.., dan sebaiknya kita biarkan saja ia menenangkan dirinya dahulu..", sahut Mahda pelan sembari melirik ke arah Elang.
"Baiklah.. Tapi apa kalian baik saja?", tanya Adam lagi.
"Yah, kami baik saja.. Tapi pasti aku akan mati jika saja ia tak muncul..", jawab Mahda.
"Sudahlah.. Yang penting kita semua baik-baik saja..", sahut Adam.
"Yah.. Aku rasa begitu..", sambung Mahda.

Sementara itu Elang hanya duduk diam di atas ranjang perawatannya, tatapannya juga kosong bak memikirkan sesuatu hal.

...
..
.
(Flashback...)
Papua, 15 juli 2003

"Deg..deg..deg.."
Deru suara mesin helikopter sedikit terdengar sayup tertutup oleh derasnya hujan, pekatnya malam juga ikut menyamarkan helikopter angkut yang membawa 2 orang kru serta 6 orang prajurit terlatih dikabinnya selain 2 orang pilot.
Sudah 5 jam helikopter itu mengudara, meliuk-liuk diantara pepohonan karena memilih untuk terbang rendah melewati lereng-lereng serta hutan lebat yang terbentang.. sesekali sang pilot juga bermanuver menghindari pepohonan atau bukit yang terlalu tinggi, membuat 6 prajurit yang dibawanya spontan bersiaga mengira bahwa mereka telah sampai di "drop zone" mereka, namun salah satu dari kru Helikopter segera menggerakkan tangannya memberi tahu bahwa mereka belum sampai.
Raut-raut wajah para prajurit di kabin helikopter tersebut sama sekali tak menunjukkan raut kecemasan, keraguan atau apapun itu, sepertinya latihan keras juga doktrin rahasia yang diajarkan pada mereka sepenuhnya berhasil membuat mereka menjadi sosok "batu es", mereka adalah Grup 2 kopassus, satuan elit tempur yang dimiliki TNI angkatan darat nusantara, namun mereka tak mengenakan emblem bergambar Naga terbang yang bertuliskan Dwi Dharma Bhirawa Yudha dilengan seragam mereka karena ini adalah misi rahasia.
Karena itu mereka tak akan di akui jika tertangkap musuh, hingga butiran peluru yang mereka pakai pun tak tertera dari mana peluru itu berasal demi kerahasiaan misi ini.

Tak lama kemudian sang pilot tampak memutari suatu area diikuti gerakan tangan seorang kru Helikopter yang memberi tanda bahwa mereka telah sampai di area yang mereka tuju, ke enam prajurit itu tampak bersiap.
"3 menit dari sekarang!", seru salah seorang pilot memberi limit untuk menghindari kemungkinan ada yang melihat mereka.
Segera saja kedua Kru Helikopter itu mengulurkan 2 tali dikana dan kiri badan Heli tersebut yang langsung digunakan oleh keenam prajurit Para Komando untuk turun.
Tak berselang lama Helikopter pun kembali berputar dan pergi meninggalkan area tersebut..
Sejenak keadaan kembali seperti sedia kala, hujan terus turun menerjang kawasan hutan lebat itu, ke enam prajurit tadi seperti hilang ditelan bumi, baru setelah 15 menit berlalu.. Satu persatu dari mereka muncul dari tempat persembunyiannya dan berkumpul dibawah sebuah pohon besar di tengah derasnya hujan, hal itu sengaja mereka lakukan untuk mengantisipasi bila ada yang mengetahui kehadiran mereka.

"Baik, semuanya sudah dijelaskan di markas, kita lakukan sesuai rencana, kita bergerak cepat, lakukan yang terbaik", ucap salah satu dari mereka yang sepertinya adalah komandan tim.

"Utara, Sendok,, kalian di depan bergerak sejajar sebagai pemimpin jalan, gembok dan Panah, kalian bersamaku di tengah mengikuti Utara dan Sendok..",

"Siap ndan!!!", sahut para kelima prajurit tersebut mendengar formasi bergerak dari komandan mereka, dan sepertinya mereka menggunakan nama Sandi dalam misi ini.

"Dan kau Hening..", ucap komandan melirik prajurit ke enamnya.
"Siap ndan..?", sahut seorang prajurit ber-Sandi Hening itu.
"Awasi jauh ke depan dan belakang.., jaga kami.., kau dapat rotasi bebas kali ini..", sambung Komandan tersebut.

"Siap dan mengerti Ndan!", sahut prajurit bersandi "Hening" itu yang ternyata adalah Elang.


(Bersambung)

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 67

★HENING★ Part 67 



" KEGILAAN... "



Heru tersenyum penuh kemenangan sesaat ia akan menarik pelatuk pistolnya, sementara itu Mahda hanya terdiam tak mampu berbuat banyak menyaksikan seseorang bersiap menghabisinya.

"Mungkin hanya sampai disini. . ., kuharap semua perjuanganku berarti untuk negeri ini. . .", gumam Mahda dalam hati sembari menutup matanya.

" Disinilah aku kembali. . . "

" ! "
"Brakk!"
" !!! "
Elang muncul secara tiba-tiba dengan menendang pintu dan langsung meraih tangan Heru yang menggenggam pistol.
"Tassh!"
Tembakan Heru menghantam dinding hanya beberapa inci dari kepala Mahda.
" Apa!?!?", gumam Heru yang terkejut dan kehilangan keseimbangan hingga ia ikut terjatuh bersama Elang yang menerjang ke arahnya.

" Bukk.."
Mereka berdua terguling dilantai sehingga Heru menjatuhkan kembali pistolnya.
Sesaat kemudian segera saja Elang melayangkan siku kanannya ke wajah Heru.

"Bukk!"
"Mahda..! Kau tak apa..?!?", seru Elang, namun Mahda hanya tercengang sembari menahan sakit.
"Syukurlah..", gumam Elang setelah memperhatikan sosok temannya masih bernafas.
"bukk!"
"Aarggh!" Teriak Elang ketika Heru melayangkan tinjunya ke arah rusuk kanannya.
"..sebaiknya kau tunggu giliranmu untuk kuhabisi..!", seru Heru sembari kembali melayangkan tinjunya.
Namun Elang berguling menghindar.

"Ekhh..!, sial..", gumam Elang meraba tubuhnya masih dipenuhi dengan rasa sakit mengingat ia baru saja mendapatkan perawatan akibat luka-luka ditubuhnya.

"..heheh.. Bukankah kita saling mengenal..?", ucap Heru sembari beranjak bangkit.

"..aku ingat siapa kau bocah sialan..!", sahut Elang.
"Hei tenanglah.., aku tak yakin kau mampu berkelahi dengan kondisi seperti itu..", ucap Heru tersenyum sinis.
Elang hanya diam sembari bangkit.

" Hmm.. Setidaknya aku tak repot-repot mencarimu..!", seru Heru langsung melayangkan tendangan kaki kanannya ke arah kepala Elang.
" ! "
Namun dengan sigap Elang menunduk menghindarinya.
"Heheh..", Heru tersenyum sembari menyambungnya dengan tendangan putar kaki kirinya.
" ! "
"Bupp!"
Elang menangkis dengan tangan kirinya, namun terjatuh karena tendangan Heru terlalu keras untuk keadaan fisiknya yang sedang lemah.
"Shkkk...! ", erang Elang sembari langsung beranjak bangkit.

"Bukk!"
Namun Heru tela bergegas mendekatinya sembari melayangkan tinjunya.
"Bukk..bukk!"
Heru kembali melayangkan tinjunya secara beruntun tak menyia-nyiakan kesempatan saat Elang kehilangan keseimbangan akibat pukulan pertamanya.
"Ekhh!",
" ! "
Elang mencengkram kepalan tinju Heru, namun dengan sigap Heru bergerak menyamping dan berputar kebelakang Elang sehingga kina leher Elang ada dalam cengkraman kedua tangannya.
"Ekkhhh!!!", elang tak bisa banyak bergerak ketika Heru menguatkan cengkramannya dilehernya.
Kedua tangan Elang berusaha menahan kedua tangan Heru, namun tak begitu berpengaruh banyak.

"Heheh.. Sepertinya kali ini segala keahlian tempurmu tak begitu hebat seperti yang banyak dibicarakan diluar sana..", ucap Heru.
"Sialan kau..! Ekhhh..!", sahut Elang, tampak menahan sakit, wajahnya juga tampak memerah dengan mulutnya yang mengeluarkan darah.

"Elang...!", seru Mahda, ia hendak bangkit membantu, namun ia tak mampu menggerakkan tubuhnya.

"..kenapa kau melakukan ini..! Ekkhh..!", tanya Elang.
"Hei, sudahlah.. Biarkan aku melakukannya dengan cepat, sehingga kau juga bisa lebih cepat bertemu dengan teman boybandmu..", sahut Heru mempererat cengkramannya dileher Elang.

". . . "
Sejenak Elang teringat akan sosok sahabatnya Jim ho..
Elang teringat detik-detik Jim ho meregang nyawanya..

"..aku akan selalu menjagamu..",
Elang teringat kata-kata yang diucapkan Jim ho.

" ! "

"..apa yang kau katakan tadi. . ?", tanya Elang sembari melepaskan tangannya yang sedari tadi berusaha meraih lengan Heru yang mencengkramnya.

"Oh.. Akhirnya Kau menyerah ya?!? Baguslah..! Dengarkan! Sampaikan salamku pada teman korea mu itu..!", Seru Heru.

" Sungguh kau. . .", gumam Elang.
...
..
.
" ! "
"Arggghhh..!!!"
Elang tak memperdulikan rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya dan langsung melompat mendorong tubuhnya ke arah belakang.
" Shh!",
Heru terhenyak ketika tubuhnya menghantam dinding.
Kemudian dengan penuh amarah Elang menghantamkan kepalanya ke wajah Heru yang berada dibelakangnya.
" ! "
Tak berhenti disitu, Elang mencengkram dengan sangat kuat salah satu lengan Heru yang mencengkramnya.

" Aaaarhhh!", eram Heru kesakitan.
" AaaArrggghhhh!!!", teriak Elang sembari mengerahkan seluruh tenaganya hingga kuku-kukunya merobek kulit lengan Heru.

"Aaarrrrhhh!!!", Heru semakin menjerit kesakitan dan melonggarkan cengkramannya.
Namun Elang tak berhenti, ia malah semakin kuat mencengkram hingga tak pelak seluruh ujung kukunya tertancap dilengan kiri Heru tersebut.
"Kau..!!!", seru Elang sembari melompat kedepan secara tiba-tiba.
"Crkkksshhh!!!"
Membuat lengan Heru terobek lebar..
"Aaaarrrhhhh..!", Heru mengerang kesakitan hingga tertunduk dilantai, darah mengalir deras dari tangannya.

"Kau.. Ingin tau untuk apa aku dilatih..?!?!", ucap Elang yang bangkit dan berbalik mendekati Heru, tampak ujung-ujung jari kedua tangannya meneteskan darah, bahkan tampak sebagian kulit dan sedikit daging tangan Heru yang tercabik, tak heran mengapa Heru mengerang kesakitan tak karuan.

"Akan aku tunjukan kepadamu bagaimana caraku menghabisi orang yang membunuh teman-temanku..!!!", ucap Elang sembari memegang kepala Heru yang masih merintih kesakitan bersimbah darah.

"Arrgghhh..!",
"Bukkk!!!"
Elang menghantamkan kepala Heru dan membenamkannya kelantai, tak sampai disitu saja, sesaat kemudian Elang melompat kecil dan mendaratkan lututnya di bagian belakang kepala Heru yang wajahnya masih menempel dengan lantai ruangan berkeramik itu.
" Krkk..!"
Sejumlah keramik retak dibarengi darah yang mengalir.

"Shrrkkkhh...", Heru tak mampu berkat-kata lagi.

"Elang..! Elang ..! Sudah cukup..! Ia sudah. . . ", seru Mahda berusaha menghentikan kegilaan temannya tersebut, namun Elang tak menghiraukannya.
" . . . Jadi ini yang mereka sebut.. Kegilaan ketika kau terlalu banyak melihat orang terbunuh dan kepedihan. . . ? ? ?", gumam Mahda dalam hati mengingat kata-kata seorang teman lamanya tentang tekanan selalu menghantui para prajurit pasukan khusus yang sudah banyak memakan asam garam pertempuran.

"... Mungkin kau berfikir aku ini gila bukan..?", ucap Elang mengangkat wajah Heru yang penuh darah.
Heru tak mampu menjawab, tampak ia berusaha mengatakan sesuatu namun tak mampu.
"..kau tau. . .", sambung Elang sembari menarik tunuh Heru dan kemudian ia berjongkok meletakkan lututnya tepat dibelakang leher Heru.

". . Jika kau berfikir aku gila. .", ucap elang merapatkan genggamannya ke kening Heru.

"Kau benar..!!!", teriak Elang sembari menarik kepala heru sekuat tenaganya.
Kali ini terdengar jelas erangan kesakitan Heru memenuhi ruangan.
" ! "
"Krkkhh!"

Leher Heru patah dengan sangat mengerikan, kepalanya terjuntai kebelakang...

". . . "
Elang merangkak pelan ke arah Mahda.

"Kau baik-baik saja. . . ?", tanya Elang terbata.

" i..iya.. Aku..ba..baik..saja..", jawab Mahda bergetar.

"Syukurlah...", ucap Elang yang kemudian roboh kehilangan kesadaran.

Tak lama kemudian muncul petugas keamanan berupa provost dan beberapa dokter muncul..


(Bersambung)

Selasa, 24 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 66

★HENING★ Part 66 



 "TEMAN.. "



"Whuuussss... Tang!"
Sebuah peluru menembus helm rekan disebelahnya, segera saja darah menetes tak karuan.
"Sialan..!!!", seru seseorang tersebut merasa ia dikalahkan oleh musuh yang berhasil mengelabuinya dan membunuh rekannya.
Segera ia berlari berpindah posisi sembari kembali berusaha mencari posisi musuh dari balik teropong senapannya.
Dan masih saja belum terlihat, hanya gumpalan asap bekas ledakan yang sebelumnya telah mengecoh dirinya sehingga rekannya meregang nyawa.

"Shhhh..! aku tak akan pernah mengetahui posisinya jika tak ada pengecoh.., pengecoh sungguhan!", ucapnya.

Beberapa menit kemudian. . .

Dengan meneteskan air mata ia kembali membidik dari balik teropongnya untuk mencari posisi musuh yang sangat sulit ditemukan diantara jendela-jendela bangunan-bangunan tua jauh di seberang sana.
"Maafkan aku teman.. Maafkan aku.. Aku sungguh minta maaf..", ucap seseorang tersebut sembari menangis.
Sejenak kemudian seseorang tampak bangkit berada tak jauh dari dirinya, namun sesaat kemudian sebuah peluru kembali menghantam seseorang tersebut.
"CRASShh!"
Namun sesaat kemudian ia berhasil menembak tepat musuh jauh disana berkat sosok yang kembali bangkit di dekatnya dan menerima tembakan telak dari musuh.

Setelah itu tampak ia berlari mendekati sosok tersebut dan buru-buru mengeluarkan sangkurnya dan segera memotong sebuah tali yang terkait dengan sosok tersebut.

"Maaf.. Sungguh maafkan aku. . ", ucapnya menangis perih.
Betapa tidak, sosok tersebut adalah tubuh rekannya yang sebelumnya telah mati akibat tembakan dikepala, namun dengan terpaksa ia menggunakan jasad rekannya tersebut untuk pengecoh musuh yang ia ikatkan dengan tali pada sebuah kayu dan paku dinding sehingga akan bangkit saat ia menarik tali yang berada digenggamannya, sehingga musuh akan mengira itu adalah prajurit yang tersisa.

Dengan berurai air mata ia meraih tubuh rekannya yang berlumuran darah itu dan menggendongnya, ia berniat membawanya kembali ke markas.
namun..
"Whhuuummmmppppp"
Sebuah pesawat melewati daerah itu sembari menjatuhkan bom bom berukuran besar.
"DUAAMMMPPpp!!!"

" ! "
Sontak ledakan itu membuat Elang terbangkit dari tidurnya.
"Hmm? Mimpi buruk kah?", tanya seorang perawat yang sedang merapikan kain jendela kamarnya.
"Humppm.?? Ah tidak.. Bukan.., bukan apa-apa..", sahut Elang.

"Sebaiknya tenangkan pikiranmu.., saya akan melihat temanmu sebentar, setelah itu saya akan memberikanmu suntikan obat, tunggulah.. Saya hanya ingin melihat infusnya..", sahut perawat itu lagi sembari hendak membuka pintu.

"Iya.., tak apa..", ucap Elang, pikirannya masih belum tenang akibat bayangan masa lalu yang singgah dalam tidurnya.
"Maaf.. Aku tak akan menyiakan temanku lagi.., Jim adalah yang terakhir yang berkorban untukku.. Aku berjanji..", gumam Elang sembari kembali berbaring.

Diluar..
Kesibukan sudah mulai tak terlihat lagi, para prajurit-prajurit pengawal juga sudah mulai meninggalkan halaman depan Rumah sakit militer tersebut, hanya tinggal beberapa prajurit di pos depan serta sejumlah petugas rumah sakit yang masih berlalu lalang, sore itu sepertinya langit akan segera menurunkan air hujan dari balik gumpalan awan yang telah menghitam.

Sementara itu Heru dengan seragam PDH berpangkat Lettu yang ia kenakan tampak leluasa melangkah masuk menyusuri lorong demi lorong di dalam rumah sakit tersebut, langkahnya sejenak terhenti ketika ia telah berada di lorong dimana tempat kamar-kamar pasien kelas utama yang berada di lantai dua.

"..hmm, terlalu beresiko jika aku bertanya dimana ruangan mereka, tapi.. Sepertinya ini terlalu sepi, mungkin hanya mereka saja yang dirawat dikelas utama disini..", gumam Heru sembari merapikan seragamnya.
Sejenak ia memperhatikan sekitar dan kembali melangkah pelan sembari merogoh sesuatu dari balik kemeja hijaunya.

"..ini bagus..!", seru Heru dalam hati menyadari hanya ada beberapa kamar disepanjang lorong tersebut yang menghidupkan lampu, yang berarti hanya dibeberapa ruangan tersebut yang berisikan seseorang dirawat.

"..1 .. 2.. 3.. 4, mereka 3 diantaranya.., hmm baiklah..", gumam Heru mulai melangkah ke arah kamar pertama.

" ! "
"Emm.., maaf sus.. Yang dirawat didalam siapa ya..?", tanya Heru segera meskipun ia sedikit terkejut tiba-tiba saja seorang perawat muncul keluar dari kamar yang ia tuju.

"Maaf pak.., bukankah seharusnya bapak bertanya terlebih dahulu kepada petugas dibawah..?", sahut perawat tersebut.

"Ya.. Tadinya saya berniat seperti itu, tapi petugas dibawah sedang tidak ada sus..", jawab Heru berbohong.

"..kalau bapak belum mengisi data pembesuk berarti bapak tak di izinkan kesini bapak.., maaf bapak disini kelas utama, sebaiknya bapak kembali kebawah dan melapor kepada petugas dibawah..", jelas perawat tersebut, dari bentuk dan postur fisiknya sepertinya ia perawat dari unit medis TNI.

"Oh begitu ya..? Kamu dari satuan mana? Dan siapa komandanmu..? Kamu saya anggap membangkang dari seorang Letnan seperti saya", tanya Heru berusaha menggunakan atribut penyamarannya.

"Siap pak.., saya Sersan Dina dari unit medis.. Tapi meskipun bapak melaporkan saya.. Bapak tetap harus melapor ke petugas dibawah..", jawab perawat tersebut tetap menjunjung aturan yang berlaku.

"Begitukah? Meskipun kau akan ke mahkamah militer?", tanya Heru lagi.

"Siap pak.., memang seperti itu peraturannya, saya minta bapak untuk segera kembali kebawah atau saya akan memanggil unit keamanan dibawah..", jawab perawat itu lagi.

"Oh ya baik.., maaf.. Aku hanya ingin mengujimu, kerjamu bagus, tapi..", ucap Heru sembari mendekap mencekik leher perawat tersebut tangan kirinya dan segera berputar dan mendekap perawat tersebut dari belakang.

" !!! "
Tak lama kemudian sebuah pistol berperedam ditangan kanannya menempel dikening perawat tersebut.

" Saya rasa kamu jangan bersuara lagi atau rekan-rekanmu akan lembur untuk membersihkan otakmu yang tercecer dilantai..!", ucap Heru sembari menyeret perawat tersebut masuk ke kamar dimana ia keluar tadi.
" ! "

"..aduh sus..! Aku hendak tidur, aku rasa cukup suntikannya..", ucap seseorang yang terbaring dikamar mendengar pintu kamarnya berdecit.

"Hmm.. Dia salah satunya..!", ucap Heru dalam hati melihat sosok Mahda terbaring membelakanginya di tempat tidur.

"Terima kasih sersan..!",
" ! "
"CRKkkk!!!"
Ucap Heru sembari menembak kepala Perawat tersebut.
Darah beserta gumpalan cairan kekuningan berhamburan didinding dibarengi robohnya perawat tersebut.

" ! "
Mahda menyadari sedikit kegaduhan segera berbalik.
" Hah?!? Apa yang anda lakukan?? Tidak.., siapa kau..?!?!", tanya Mahda sesaat setelah ia melihat seorang perawat terbaring dengan kepala yang berlubang.

"Hmm.. Aku rasa aku tak ingin banyak bicara.." Ucap Heru sembari langsung mengarahkan pistolnya ke arah Mahda yang tengah berbaring.

" ! "
"Tass tass!"
Mahda melompat ke bawah sesaat sebelum Heru melepaskan tembakan, ia tak memperdulikan tangannya yang berdarah akibat jarum infus yang terlepas secara paksa akibat tertarik saat ia melompat.

"Hmm?", gumam Heru sembari berjalan mendekat dengan terus mengerahkan pistolnya.

" !!! "
" Hiaaaa..!"
" !?!?"
Mendadak Mahda muncul sembari melempar sebuah piring alumunium ke arah Heru.
"Tang!"
Piring itu menghantam dan menjatuhkan pistol itu dari genggaman Heru.
Sesaat kemudian Mahda melompat ke arah Heru hingga Heru terjatuh kelantai.
Namun dengan satu pukulan ke arah rusuk sudah mampu melemahkan cengkraman Mahda yang berniat mencekik Heru.
"Sepertinya kau sedang sakit ya?", tanya Heru meledek sembari bangkit hendak mengambil pistolnya kembali yang tergeletak dilantai.
" Sial..!", gumam Mahda merasakan sakit diseluruh tubuhnya dari luka-luka yang baru saja ia dapat pada pertempuran sebelumnya di papua bersama Elang dan Adam.
Namun ia berusaha tak memperdulikan rasa sakit ditubuhnya dan kembali meraih leher Heru dari belakang.
" ?!?, kau ini..!", geram Heru sembari menahan memegang tangan Mahda yang mencekiknya lalu dengan sekuat tenaga ia tarik Mahda kedepan dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
" Hiaa..!"
Sejenak kemudian Mahda segera terjungkal kedepan dan terbanting dilantai keramik ruangan dimana ia dirawat
"Buk!"

"Ekhh..!", eram Mahda kesakitan.

"Sudahlah, aku akan mengakhiri penderitaanmu..", ucap Heru yang telah mendapatkan pistolnya kembali.

"Ekhhh.. Siapa kau??", tanya Mahda dengan seluruh luka-lukanya yang kembali mengeluarkan darah akibat terlalu banyak bergerak.

"Sudah kukatakan.., aku tak akan banyak bicara.., siapkan saja doa terakhirmu..", sahut Heru yang bersiap menarik pelatuk.

" ! "
(Bersambung)

Senin, 23 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 65 (PLUS)

★HENING★ Part 65 (plus) 




" FINISHED? "



"Brakk..!"

"Tash..tash..!"

Dua tembakan tepat Letn.Angga merobohkan seorang pembelot yang menjaga Sir Robert, sementara dua rekannya yang juga bertugas menjaga Sir Robert telah tewas terlebih dahulu juga di tangan Letnan dua Raider ini.

"Apa anda baik saja pak..?", tanya Letn.Angga sembari memeriksa tubuh pembelot tersebut memastikan musuhnya tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"..saya baik saja.. Tapi..", sahut Sir Robert yang tampak tenang saja meskipun begitu banyak hingar bingar suara letupan senjata api yang terdengar.
"..saya dari tentara nasional indonesia ditugaskan langsung oleh presiden untuk membawa anda dari sini..", sela Letn.Angga.

"Oh.. Begitukah?", gumam Sir Robert.
"Lalu, apa hanya kau saja? Maksudku.. Apa kau sendirian..?", tanya Sir Robert sembari bangkit dari kursinya.
"..hmm.. Mungkin anda bisa menebaknya nanti.., atau anda dengarkan saja keramaian diluar.., sekarang kita harus segera pergi dari sini pak.., kita tak punya banyak waktu..", jelas Letn.Angga seakan tak ingin berlama-lama.

Markas pusat, Jakarta..

ketegangan masih terlihat meliputi wajah semua orang yang berada di Ruang komando TNI, tampak tim medis baru saja meninggalkan ruangan sambil membawa tubuh Maryadi dengan dikawal oleh beberapa paspampres yang diminta mengawal langsung oleh Pres.Darwin.

"..maaf Darwin.., kau terlalu berlebihan terhadap seorang penghianat seperti dia..", ucap Wapres.Haryono.

"Apa yang kau katakan Har?", tanya Pres.Darwin sembari kembali duduk di kursinya.

"...tidak Darwin.., tak apa..", sahut Wapres.Haryono.

"Letnan.., sebaiknya kau kembali ke dalam, Letnan Angga dan yang lainnya pasti membutuhkanmu.., ini perintah..", bisik Pang.Rokhim.
"Bagaimana dengan semua ini panglima..?", tanya Let.Vega.
"Biar saya dan Jendral Rokhim yang menanganinya..", jawab Pang.Rokhim.

"Tapi.., sepertinya saya tadi menyadari sesuatu..", sambung Letn.Vega.
"Hmm..? Apa itu Letnan..?", tanya Pang.Rokhim mendekat.
"...hmm tak apa panglima.., saya rasa belum bisa saya ceritakan sekarang.., mohon ijin kembali ke tugas panglima..", ucap Letn.Vega, memberi hormat dan segera berlalu sembari melirik ke arah wapres Haryono.

" ..."
Pang.Rokhim menoleh ke arah Wapres Haryono, sesaat kemudian ia menoleh ke Jend.Purnomo.
Namun Jend.Purnomo hanya menggelengkan kepalanya pertanda tak mengerti.
....
...
..
.
"Markas ke srigala..", seru Letn.Vega melalui radio.

" ! "
"Masuk.., Letnan Angga kehilangan radionya, tapi sejauh ini sepertinya ia baik saja..", jawab Sers.Tari menjelaskan.

"..maaf.. Kami juga mendapatkan ketegangan disini.., Tari.. Bagaimana dengan yang lainnya..?", tanya Letn.Vega.

"Kami baik saja.., tapi kami tak bisa bertahan lebih lama lagi..! Komandan belum juga muncul..!", seru Sers.Dimas segera memberi tahu.
"..jelaskan situasi kalian.., segera..!", perintah Letn.Vega.
"Kami menunggu komandan mencari target..!, tapi tak yakin bisa bertahan lebih lama lagi.., selain amunisi, musuh sepertinya bukan orang-orang sembarangan..!", jelas Sers.Dimas sambil sesekali melepaskan tembakan, sepertinya keadaan ia dan Sers.Haryo tak begitu bagus.

"..hmm... Dan kau Tari? Bagaimana statusmu saat ini..?", tanya Letn.Vega.

"Aku baik saja.., tapi tidak dengan para polisi disana.., mereka terpojok..! Izinkan aku menembak..!", jelas Sers.Tari sembari melirik dari teropongnya ke arah 4 orang polisi yang tersisa yang terpojok di balik mobil mereka, sementara itu tampak tiga orang musuh mendekati mereka dengan terus memberondong tembakan.

"Negatif Tari..! Tahan dirimu..!", seru Letn.Vega.

"..tapi kakak.., aku rasa aku bisa menembak sekarang..", sela Sers.Tari sembari bersiap menembak.

"TASH..! ", "klak.."
"Satu..", guman Sers.Tari berbarengan dengan robohnya salah seorang dari tiga pembelot tadi.

"TASH..! " "Klak.."
"Dua..", ucapnya lagi sembari kembali mengokang senapannya.
"Tari..! ", seru Letn.Vega namun tak dihiraukannya.

"Hmm..? ", gumam Sers.Tari melihat sasaran ketiganya menghilang, ia terus berusaha mencari melalui teropongnya.
" Sial..!", gerutunya sembari menundukkan kepalanya begitu ia melihat sejumlah pembelot tampak mengarahkan senjata mereka ke arahnya, sesaat kemudian mereka menembakinya.
Namun konsentrasi para pembelot tersebut pecah ketika aungan sirene satuan Densus 88 datang.

"Tretereteretereteret..!"
Segera saja mereka mengarahkan tembakan mereka ke arah 2 mobil khusus satuan Densus yang baru saja datang.

"Tari..!", seru Letn.Vega lagi.
"..pasukan khusus polisi sampai disini kak..", jelas Sers.Tari.
" ! "
"Itu berarti waktu kalian sudah tak banyak..! Tari.. Mundurlah..!", perintah Letn.Vega.
"baik.., aku mengerti..", sahut Sers.Tari langsung bergerak menjauh.

Sementara itu perhatian para pembelot didalam juga teralihkan dengan kehadiran satuan Densus 88, sepertinya ada sesuatu yang membuat para pembelot tersebut sangat ingin menghabisi satuan khusus polisi tersebut.

"Kenapa dengan mereka..?", gumam Sers.Haryo terengah-engah.
"Entahlah.., yang terdengar hanya sirene polisi tiba disini..", sahut Sers.Dimas sembari berusaha mengintip ke depan.
"Sebagian dari mereka pergi keluar..!", sambung Sers.Haryo lagi.
"..itu terdengar bagus.., tunggu.. Itu komandan..!", seru Sers.Dimas baru menyadari tampak seseorang sedang melambaikan tangan ke arah mereka dengan sembunyi-sembunyi.

"Huhh.. Akhirnya mereka melihat kita..", gumam Letn.Angga.
"lalu bagaimana kita akan keluar dari sini..? Musuh kalian adalah orang-orang terlatih seperti kalian..", sahut Sir Robert.
" Aku tau pak.., mungkin anda bisa mengira-ngira dengan wajahku yang babak belur ini..", ucap Letn.Angga sembari memberi perintah kepada Sers.Dimas dengan kode-kode gerakan tangan.
"..wajahmu terlihat bonyok..", sahut sir Robert.
"Terima kasih pak..", ucap Letn.Angga.
"..dasar..orang tua..", gumam Letn.Angga.
"..apa..?", tanya Sir Robert.
"Hmm..tak ada pak.., saya hanya anda segera bersiap.., ini akan memacu andrenalin anda..", jawab Letn.Angga.
"Baiklah..", sahut sir Robert merapatkan diri ke Letn.Angga.

"Haryo, komandan ingin kita melempar granat tangan, setelah itu kita lepaskan tembakan perlindungan..!", jelas Sers.Dimas memberi tahu.
"Tapi amunisi kita tak banyak..", sahut Sers.Haryo sembari menunjukkan magazen terakhirnya.
"..itu sudah cukup..", ucap Sers.Dimas sembari mengeluarkan sebuah granat dan bersiap.

"Bagus mereka telah bersiap.., anda pakailah ini.., ini akan melindungi anda..", ucap Letn.Angga sembari melepaskan rompi anti pelurunya dan memakaikannya pada Sir Robert.
"..bagaimana denganmu..?", tanya Sir Robert.
"..pak, ikuti saja aku.. Mengerti?", ucap Letn.Angga sembari mengokang senjatanya, kemudian ia segera memberi tanda kepada Sers.Dimas.

"Itu tandanya.., Haryo bersiaplah..!", ucap Sers.Dimas
"Ayo kita mulai..!", sahut Sers.Haryo.

" .... Tang... Teng.. Teng.. Teng.."
Granat yang dilemparkan Sers.Dimas mengejutkan sejumlah pembelot yang tersisa, mereka segera bergerak menghindar.
(Next)

Part 65 (2)

"BAMMMppppp!!!"
Granat meledak

"Sekarang pak..!", seru Letn.Angga buru-buru mengajak sir Robert bergerak menuruni tangga.
"Ini sulit..! Aku sudah tua..", celetus sir Robert di tengah pergerakannya.
"Haryo..! Tembakan..!", seru Sers.Dimas keluar dari persembunyian-nya bersama Sers.Haryo.

"Tash..tatatatattatatatshh..!"
Tembakan Sers.Haryo semakin membuat para pembelot bingung.

Namun tak berselang lama para pembelot yang tersisa didalam langsung membalas tembakan meskipun ditengah-tengah kepulan asap bercampur debu berterbangan akibat ledakan granat tadi.

"Ayo pak..! Bagaiman keadaanmu ndan?", tanya Sers.Dimas yang menyongsong Sir Robert bersama Letn.Angga.
"Saya rasa saya baik saja, cepat bawa pergi target..! Haryo kita tahan mereka sejenak..!", seru Letn.Angga mengambil posisi diikuti Sers.Haryo.
"Baik ndan..!", sahut Sers.Haryo.

"Tretretretretetetetet..!"
Tembakan balasan para pembelot semakin menjadi, sementara itu Sers.Dimas yang bertugas membawa Sir Robert tampak kesulitan karena Sir Robert kelelahan.
"Ayo pak dubes..! Saya minta anda bergerak lebih cepat lagi..!", ucap Sers.Dimas merangkul Sir Robert.
"..aku sebelumnya tak menyangka suatu hari akan berlari seperti ini..", sahut Sir Robert.
"..yah.., terkadang sesuatu terjadi begitu saja pak.., tapi anda tetap harus berlari.. Ayo..!", seru sers.Dimas lagi.

"Ndan..! Amunisi..!", seru Sers.Haryo memberi tahu bahwa amunisinya telah habis.

"Ini..! Yang terakhir.., sebaiknya kita segera mundur..! Ayo..!", sahut Letn.Angga sembari memberikan pistolnya, kemudian ia dan anak buahnya itu segera bergerak mundur sambil sesekali melepaskan tembakan, sementara itu para pembelot mulai mengejar mereka setelah samar-samar mereka melihat tim Letnan Angga membawa sandera mereka.

"Mereka bergerak ndan..", ucap Sers.Haryo sambil terus menembak.

"Berikan radiomu dan segera susul Dimas dan Target..!", sahut Letn.Angga.

"Baik ndan.. Ini..!", ucap Sers.Haryo sembari memberikan radionya kepada Letn.Angga di tengah-tengah pergerakan mundur mereka, dan ia segera mempercepat langkahnya.

"Markas masuklah..!", ucap Letn.Angga melalui radio.
"Diterima Letnan.., sepertinya kalian terdesak..", sahut Letn.Vega yang sedari tadi mendengarkan dari Radio Dimas dan Haryo.
"Yah, tapi kami berhasil membawa target.., tapi kami dikejar-kejar dan kehabisan amunisi..", jelas Letn.Angga.

"Kalau begitu segera tinggalkan lokasi dan bawa target bersama kita..!", seru Letn.Vega.
"Itu yang sedang aku lakukan.., keluar..", sahut Letn.Angga sembari terus menembak, dilalin sisi..para pembelot terus mendekat ke arahnya.

"Klek..klek..",
"Sial...", gumam Letn.Angga menyadari amunisinya telah habis, ia segera berlari menjauh menyusul Sers.Haryo dan Sers.Dimas yang bersama Sir Robert.

"Tereteretreteret..!"
Tembakan para pembelot semakin terdengar jelas seolah memberi tahu posisi mereka yang semakin mendekat.

" ?!?!"
"Mengapa kalian lambat sekali..?!?!", tanya Letn.Angga menyadari ia telah menyusul kedua anak buahnya yang terlihat membopong sir Robert.
" ..."
Sers.Dimas hanya menjawab dengan melirik sir Robert.
" Sial..", gumam letn.Angga dalam hati.
Tampak keempat orang itu berlari ditengah hujan peluru yang ditembakan oleh para pembelot.

"Cshhh..! Swinnggg..! Crsskk.."
Desingan peluru yang menghantam tanah disekitar mereka terdengar jelas di tengah suara tembakan yang bergema.

"Ndan..! Kurasa kita akan gagal..!", seru Sers.Haryo.
"Haryo tutup mulutmu..!", sela Sers.Dimas, kedua sahabat itu berdebat sambil berlari dengan membopong sir Robert.
"..orang tua ini terlalu lambat..!", sahut Sers.Haryo.
"..huh..huh..huh..", sir Robert hanya diam terengah-engah.
Sers.Dimas hanya melirik letn.Angga.
"Diamlah.. Dan terus bergerak..!", sela letn.Angga.

"Crrkkk!!!"
"Aaaakhhh...!", teriak Sers.Haryo setelah sebuah peluru mengenai paha kirinya, Haryo terjatuh, membuat pergerakan mereka berhenti.
"Haryo..!", seru sers.Dimas menyadari sahabatnya tertembak.
"Semuanya menunduk..! Haryo, benamkan kepalamu..!", seru Letn.Angga sembari tiarap.
"Dimas..! Granatmu..!", perintah Letn.Angga.
"Ini yang terakhir ndan..!", sahut Sers.Dimas sembari bangun dan melemparkan granatnya dan kemudian ia menunduk lagi.

"BAMMMPPP!"
Ledakan granat itu sedikit memperlambat para pembelot yang mengejar mereka.
"Sekarang bagaimana ndan..?!?", tanya Sers.Dimas yang memegangi Sers.Haryo, sementara sir Robert hanya merapatkan tubuhnya ke permukaan tanah dan tak berani banyak bergerak.
"Kita kembali ke markas..", jawab Letn.Angga.
"Bagaimana caranya..!?!", tanya Sers,dimas lagi.
Namun tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang mendekati mereka ditengah-tengah lapangan terbuka tersebut dan berhenti tepat didekat mereka.

"Ayo naik..!", seru Sers.Tari sesaat setelah ia membuka pintu depan.
" ! "
Tanpa pikir panjang segera saja Sers.Dimas menyeret Haryo naik ke mobil di bantu Sers.Tari, sementara itu letn.Angga membantu sir Robert.

"Tengk..tengk.."
Peluru mulai menghantam bodi mobil.

"Ayo..! Kita harus cepat..!" Seru Sers.Tari.
" ! "
Tak lama kemudian mereka berhasil lolos dari kejaran para pembelot tersebut.
"Haryo bertahanlah..", ucap sers.Dimas.
Sers.Haryo hanya menganggukkan kepalanya.
"..gerakan yang bagus Sersan..", ucap Letn.Angga.
"..terima kasih..", sahut Sers.Tari.
"..kerja kalian bagus..huh..huh..", ucap sir Robert terengah-engah.
"Terima kasih..", sambung sir Robert lagi.
"Tak apa pak.., kami hanya melakukan tugas..", sahut Letn.Angga.
"Yah.., setelah ini sebaiknya saya segera menghubungi negara saya.., tapi ada yang lebih penting lagi..", sambung sir Robert.
"???"
"Apa itu pak..?", tanya letn.Angga.

"Saya tau siapa dalang dibalik kejadian ini.. Presiden kalian pasti akan terkejut..", sahut sir Robert.
Sers.Tari dan Letn.Angga hanya saling pandang mendengarnya.
.........
part 65 (66 preview) " bom waktu "

sementara itu..

Sebuah mobil tampak melaju pelan dan berhanti tak jauh dari kawasan rumah sakit militer milik TNI, selain memegang kemudi, tangannya sibuk membuka dokumen-dokumen berupa data-data serta foto beberapa orang berseragam militer.

Tak berselang lama iring-irinulan yang dikawal sejumlah mobil-mobil berplat militer tampak memasuki areal RS militer tersebut.

"Tidak salah lagi perkiraanku, mereka terluka dan dibawa kesini.., sungguh mudah mencari mereka..", gumam seseorang itu yang tak lain adalah Heru.
Ia menoleh jok belakang mobilnya, memilih-milih seragam militer yang hendak ia gunakan untuk menyamar, sepertinya ia berniat menyelinap kali ini.
...
..
.
"Kita sampai..?", ucap Mahda.
"Yah.., perawat cantik akan menangani kita mulai dari sini..", sahut Adam.
"Heheh..kalian jangan berharap lebih, yang ku tau disini dokter dan susternya adalah orang-orang yang sudah berpengalaman..", sela Elang tersenyum.
"Maksudmu para dokter dan perawat tua dan gemuk..?", tanya Mahda.
"Yah.. Seperti itulah..", sahut Elang.
"..bagaimana kita akan cepat pulih?", tanya Mahda lagi.
"..hmm.. Aku tak ingin membayangkannya..", sela Adam.
"Hahahahah..", Elang terbahak.

Beberapa saat sejenak mereka bertiga telah diturunkan dan segera dibawa menuju ruang perawatan untuk memulihkan keadaan mereka.

Sementara diluar, tampak orang asing berseragam PDL memasuki areal rumah sakit tersebut tanpa kesulitan yang berarti, mengingat keadaan kawasan tersebut penuh dengan para prajurit yang mengawal Elang dan yang lainnya menuju kesini.
Ia adalah Heru, Dengan tenang ia melangkah pelan mendekati pintu masuk rumah sakit, dan tanpa sedikitpun gangguan ia sudah benar-benar masuk ke rumah sakit militer itu.
"Hmm..baiklah.., sekarang dimana kalian..?", gumamnya pelan sembari merapikan topi bergambar pangkat Lettu yang ia kenakan.

Canberra, Australia..

"Apa.!?!? Robert menghilang..?!?!", bentak PM Dubbront terkejut akan kabar yang diterimanya.
" ini tidak mengada-ngada pak.. Sir Robert diculik di indonesia..", jelas Jend.Rosh Chief dari divisi mata-mata (ASIS) yang pertama mengaetahui ini untuk australia.
"Apa mereka yang melakukannya..!?", tanya PM Dubbront.
"..saya tidak bisa menjawab pak.., tapi yang jelas ini terjadi di indonesia.., tapi nyatanya mereka tak memberi tahu kita akan hal ini..", jawab Jend.Rosh.
" ... "
"Darwin keparat..! Ia ingin memulai peperangan denganku..!", bentak PM Dubbront memukul meja.
"Marthy.., bagaimana menurutmu?", tanya PM Dubbront pada mentri pertahanannya.
Sesaat sir Halley Marthy membuka kaca mata tebalnya.
"Ini penghinaan bagi kita pak.., sungguh berani mereka menculik utusan kita disana untuk demokrasi.., dan mungkin saja mereka akan mengintrogasi sir Robert.. Itu akan sangat berbahaya pak..", jelas sir Marthy mengemukakan pandangannya.
"Lalu..? Apa yang menurutmu harus dan wajib kita lakukan..?", tanya PM Dubbront.

"Sebaiknya kita segera menghubungi indonesia, kita minta mereka untuk melepaskan sir Robert dalam tempo waktu.., atau..", ucap Sir Marthy.

"Atau.. Kita akan deklarasikan Perang..!", sambung PM Dubbront.


(Bersambung)

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...