Selasa, 31 Agustus 2021

SHERLOCK HOLMES "THE GLORIA SCOTT"

The Memoirs of Sherlock Holmes – Memoar Sherlock Holmes (1892-1893) 





"THE ADVENTURE OF THE GLORIA SCOTT – KAPAL GLORIA SCOTT"






KAPAL GLORIA SCOTT



"INI ada beberapa catatan," 

kata temanku, Sherlock Holmes, ketika kami sedang duduk berdampingan di depan perapian pada suatu malam di musim dingin, 

"yang kurasa, Watson, perlu sekali kau baca. Isinya dokumen dokumen kasus Gloria Scott yang luar biasa itu, dan pesan inilah yang
telah menimbulkan ketakutan yang amat sangat pada Yang Mulia Hakim Trevor, ketika dia selesai membacanya."

Dia mengambil sebuah silinder yang berwarna buram lalu membuka pengikatnya. Kemudian,
diserahkannya sepotong kertas berwarna abu-abu yang bertuliskan sebuah pesan.

"Semua binatang buruan telah cukup lama terbongkar tempat persembunyiannya. Hudson, penjaga hutan, membuka ratusan tempat rahasia mereka. Tolong selamatkan mereka demi nyawamu!"

Waktu aku mendongak setelah membaca pesan yang penuh teka-teki ini, kulihat Holmes
tergelak melihat ekspresi wajahku.

"Kau kelihatannya agak bingung," katanya.

"Aku tak mengerti mengapa pesan seperti itu bisa menimbulkan rasa takut yang luar biasa.
Menurutku, pesan itu lebih banyak anehnya daripada menakutkan."

"Nampaknya memang begitu. Tapi pada kenyataannya si pembaca, seorang pria tua yang tegap dan gagah, ternyata sangat terguncang, bagaikan sedang ditodong dengan moncong pistol."

"Wah, aku jadi penasaran," kataku. 

"Tapi, kenapa kaukatakan tadi bahwa ada alasan-alasan khusus mengapa aku perlu mempelajari kasus ini?"

"Karena ini kasus pertama yang kutangani."

Aku sering berupaya untuk mencari tahu apa yang telah menyebabkan temanku yang satu ini beralih ke masalah-masalah kriminal, tapi dia tak pernah mau berterus terang. 

Kini, dicondongkannya tubuhnya dan disebarnya dokumen-dokumen yang dimaksudkannya itu di pangkuannya. Lalu dia
menyalakan pipanya dan selama beberapa saat duduk merokok sambil membalik-balik dokumen dokumen itu.

"Kau belum pernah mendengarku bercerita tentang Victor Trevor?" tanyanya. 

"Dialah satu-satunya temanku ketika kuliah selama dua tahun dulu. Aku memang tak suka bergaul, Watson. Aku lebih suka mendekam di kamar dan mengutak-atik cara berpikirku. 

Itulah sebabnya aku tak terlalu akrab dengan teman-teman seangkatanku. Olahraga yang kuminati cuma tinju dan anggar, dan jurusan
yang kuambil pun tak umum dipilih oleh teman-temanku, jadi, ya praktis putus hubungan sama sekali.

Cuma Trevor yang kukenal, dan itu pun melalui kecelakaan. Anjingnya menggigit pergelangan kakiku ketika aku sedang berjalan menuju kapel pada suatu pagi.

"Kenalan saja kok secara tak mengenakkan begitu, ya? Tapi efeknya besar. Karena gigitan anjingnya itu, aku tak bisa bangun selama sepuluh hari, dan Trevor sering datang menjengukku.

Pada awalnya kami cuma berbasa-basi selama satu menit, tapi pada kunjungan-kunjungan berikutnya dia makin lama makin betah ngobrol denganku, dan tak lama kemudian kami sudah berkawan akrab. 

Dia orang yang hangat dan penuh semangat, sangat berlawanan dengan diriku dalam banyak hal, tapi kami cocok dalam hal topik-topik pembicaraan, dan persahabatan kami jadi semakin kokoh setelah aku tahu bahwa dia pun tak punya banyak teman. 

Akhirnya, dia mengundangku untuk mengunjungi rumah ayahnya di Donnithorpe, Norfolk. Aku tak sampai hati menolak, dan aku pun menghabiskan liburan panjang semester berikutnya selama sebulan di situ.

"Pak Trevor tua ternyata orang kaya, hakim agung yang terpandang, dan tuan tanah.
Donnithorpe itu sebuah desa kecil di sebelah utara kota Langmere, di daerah Broads. Rumah bala miliknya itu kuno, luas, dikelilingi pohon ek, dan di depannya ada jalanan bertepikan batu kapur yang rapi. 

Rumah itu dilengkapi dengan tempat berburu bebek yang sangat ideal, kolam tempat memancing yang mengasyikkan, dan perpustakaan yang tak seberapa besar tapi penuh buku-buku pilihan yang dibelinya dari pemilik rumah sebelumnya. 

Juga ada seorang tukang masak yang lumayan, sehingga sebetulnya nikmat sekali bertamu di sana.

"Trevor tua adalah seorang duda, dan temanku itu putra tunggalnya. Sebenarnya dia punya
seorang putri, tapi telah meninggal karena sakit difteri ketika sedang mengunjungi Birmingham. Ayah temanku itu sangat menarik perhatianku. Dia tak begitu berpendidikan, agak kasar, baik secara fisik maupun secara mental. Dia tak banyak membaca buku, tapi sering bepergian ke luar negeri, dan dia
mengingat semua yang pernah dialaminya. 

Badannya agak gemuk, tegap, rambutnya beruban, wajahnya coklat karena terik matahari, dan matanya yang biru berkesan agak kejam. Tapi dia dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang baik hati dan sosial, dan cukup longgar dalam memutuskan kasus-
kasus yang ditanganinya.

"Pada suatu malam, beberapa hari setelah ke datanganku, kami sedang duduk minum anggur setelah makan malam. Trevor muda mulai membuka pembicaraan tentang kegemaranku mengamati dan menyimpulkan sesuatu, walaupun waktu itu aku sendiri belum menyadari peran mereka dalam hidupku. Pak Trevor jelas sekali menganggap bahwa anaknya terlalu membesar-besarkan
kemampuanku."

"'Cobalah sekarang, Mr. Holmes,' katanya sambil tertawa ramah. 

"Aku bisa jadi objek yang sempurna, silakan menarik kesimpulan dari penampilanku.''

"'Saya rasa tak banyak yang bisa saya simpulkan ' kataku. 

'Benarkah Anda sedang dalam ketakutan, jangan-jangan ada seseorang yang akan menyerang Anda selama setahun terakhir ini?'

"Tawanya langsung berhenti, dan dia menatapku dengan penuh keheranan."

"'Well, itu benar,' sahutnya. 

'Kau tahu, Victor,' katanya sambil menoleh kepada anaknya, 

'ketika kita berhasil mengusir komplotan pemburu liar itu, mereka mengancam akan membalas dendam, dan Sir Edward Hoby telah mereka lukai. Sejak itu aku terus berhati-hati, walau tak terbayangkan olehku bagaimana Mr. Holmes bisa tahu itu.'

"'Anda selalu membawa-bawa tongkat,' jawabku. 

'Dari labelnya saya tahu bahwa Anda memakainya belum lebih dari setahun. Tapi Anda telah bersusah-susah mengebor bonggolnya dan menuangkan timah cair ke lubang itu, sehingga tongkat itu juga berfungsi sebagai senjata yang cukup bisa diandalkan. Anda pasti tak akan berwaspada demikian kalau tidak sedang dalam ketakutan.'

"'Ada lagi?' tanyanya sambil tersenyum.

'"Waktu masih muda, Anda sering bertinju.' 

'Betul lagi.'

 Bagaimana kau tahu? Apakah hidungku agak melengkung akibat tonjokan?'

"'Tidak,' kataku. 

'Telinga Anda itu. Agak mendatar dan menebal sebagaimana biasanya telinga seorang petinju.'

"'Ada lagi?'

"'Kulit Anda kasar, menandakan Anda pernah bekerja dalam usaha galian.'

"'Aku memang pernah mencari nafkah di pertambangan emas.'

"'Anda pernah pergi ke New Zealand.'

"'Betul lagi.'

"'Juga ke Jepang.'

"'Benar.'

"'Anda pernah dekat dengan seseorang yang namanya berinisial J.A., yang lalu benar-benar
ingin Anda lupakan.'

"Mr. Trevor berdiri dengan perlahan, matanya yang besar dan biru menatapku dengan agak liar, lalu tiba- tiba dia jatuh terempas ke depan dengan wajah yang pucat pasi."

"Bisa kau bayangkan, Watson, betapa terkejutnya aku dan anaknya. Kami lalu membuka kerah bajunya, membasahi wajahnya dengan air, dan tak lama kemudian orang tua itu mulai berusaha menarik napas dengan terengah-engah dan kembali duduk."

'"Ah, anak-anak,'' katanya sambil memaksakan diri untuk tersenyum, 

''kuharap aku tak membuat kalian ketakutan. Walaupun badanku nampak kuat, jantungku lemah, sehingga gampang terkejut. Aku tak tahu bagaimana kau bisa tahu semua itu, Mr. Holmes, tapi ternyata kau lebih hebat dari semua detektif yang pernah kukenal.

Kemampuanmu ini akan menjadi jalan hidupmu percayalah padaku, orang yang telah banyak melihat dunia.''

"Kata-katanya itulah, Watson, walaupun agak berlebihan, yang membuatku untuk pertama
kalinya mempertimbangkan bahwa sebenarnya aku memang bisa berprofesi dengan kemampuanku itu, dan bukannya sekadar hobi. 

Tapi, waktu itu aku lebih memikirkan penyakit tuan rumahku yang tiba-tiba menyerangnya itu.

"'Semoga saya tak mengatakan sesuatu yang menyebabkan Anda sakit,' kataku.

"'Well, kau memang telah mengatakan sesuatu yang amat peka bagiku. Boleh aku tahu
bagaimana dan seberapa banyak yang kauketahui?' 

Dia berbicara dengan setengah bergurau sekarang, namun ketakutan masih membayang di sudut matanya.

'"Sederhana sekali, kok,' kataku. 

'Saya sempat melihat lengan Anda ketika sedang menarik ikan hasil tangkapan memancing. Ada tato J.A. di lengkung siku Anda. Huruf huruf itu masih kelihatan, tapi ada guratan-guratan yang pasti disebabkan oleh upaya keras Anda untuk menghilangkannya. 

Jadi jelaslah, inisial itu pernah sangat berarti bagi Anda tapi sekarang tidak lagi.''

'"Pengamatanmu tajam sekali!' teriaknya sambil menarik napas lega. 

''Memang benar demikian. Tapi kita tak usah membicarakan hal itu lagi. Dari semua bayang-bayang yang menghantui pikiran kita, bayang-bayang mereka yang pernah sangat kita kasihilah yang paling mengerikan. Yuk, kita ke ruang biliar sambil santai-santai merokok.'

"Sejak peristiwa itu Mr. Trevor kelihatannya agak mencurigaiku, walau sikapnya tetap ramah."

Bahkan anaknya sadar akan hal itu dan berkomentar, 

"Kau telah mengejutkan ayahku, sehingga dia kini jadi was-was tentang apa-apa saja yang kau ketahui.'' 

Aku yakin Mr. Trevor tidak dengan sengaja
menunjukkan kecurigaannya tapi pikirannya begitu dipenuhi dengan hal itu sehingga mau tak mau terlihat. Akhirnya, merasa sungkan karena telah membuat tuan rumahku gelisah, aku memutuskan untuk segera saja mengakhiri kunjunganku. Tapi sehari sebelum aku pulang, terjadi sesuatu yang sangat penting.

"Kami bertiga sedang duduk santai di halaman, menikmati matahari sore sambil mengagumi
keindahan pemandangan daerah Broads sekitar situ, ketika seorang pelayan wanita mengabarkan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengan Mr. Trevor.

"'Siapa namanya?' tanya tuan rumah.

"'Dia tak mau mengatakannya.'

'"Kalau begitu, mau apa dia kemari?'

'"Dia mengatakan bahwa Anda kenal dia, dan bahwa dia hanya perlu berbicara dengan Anda
sebentar saja.'

"'Antar dia kemari.' Tak lama kemudian, seorang pria kecil yang mukanya penuh keriput mengerikan berjalan terhuyung-huyung
menghampiri kami. 

Jaket yang dikenakannya dibiarkannya terbuka, dan ada sepercik noda di lengan jaket itu.
Bajunya kotak-kotak merah-hitam, celananya jengki, dan sepatunya sudah lusuh. Wajahnya berwarna coklat, kurus, dan licik. 

Senyum terus-menerus tersungging di bibirnya, sehingga memamerkan giginya yang kuning dan tak beraturan, dan tangannya yang penuh kerut agak terkepal seperti layaknya seorang pelaut. 

Ketika dia berjalan terbungkuk-bungkuk mendekati kami, aku mendengar Mr. Trevor tersedak lalu berlari ke dalam rumah. Tak lama kemudian dia keluar lagi, dan waktu dia melewatiku, aku mencium bau brendi.

"'Nah, Saudara,' katanya, 'ada perlu apa?'

"Pelaut itu menatapnya dengan mata yang menyipit dan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya itu.

"'Kau tak kenal aku?' tanyanya.

'"Oh, wah, Hudson ya?' kata Mr. Trevor dengan nada terkejut.

'"Benar, sir. Aku ini Hudson,' kata pelaut itu.

'Wah, sudah lebih dari tiga puluh tahun kita tak
bertemu. Kini kau sudah mapan di rumah pribadimu, sedangkan aku masih mengais-ngais rezekiku.''

"'Uh, aku takkan pernah melupakan masa lalu,''

Teriak Mr. Trevor, dan sambil mendekati pelaut
itu, dia membisikkan sesuatu. 

'Pergilah ke dapur,' lanjutnya dengan keras, 

''silakan makan dan minum. Aku pasti akan bisa memberimu pekerjaan.''

"'Terima kasih, sir,' kata pelaut itu sambil menyentuh dahinya. 

"Aku baru saja selesai bertugas di kapal yang kebetulan kekurangan tenaga kerja, selama dua tahun, dan aku lelah sekali. Aku sempat
menimbang-nimbang apakah akan minta tolong padamu atau pada Mr. Beddoes ''

"'Ah!' teriak Mr. Trevor. 

"Kau tahu Mr. Beddoes tinggal di mana sekarang?''

"'Tentu saja, sir, aku tahu di mana semua teman lamaku sekarang berada,'' 

Kata pria itu dengan senyum sinis, dan dia lalu mengekor mengikuti pelayan wanita menuju ke dapur. Mr. Trevor menggumamkan sesuatu, bahwa dia dulu pernah satu kapal dengan pria itu dalam perjalanan ke pertambangan, lalu dia masuk ke rumah, meninggalkan kami berdua di halaman. 

Kira-kira satu jam kemudian, ketika kami masuk ke dalam, kami melihatnya sedang tersungkur dalam keadaan mabuk berat di sofa ruang makan. Semua kejadian ini sangat mengganggu pikiranku, dan aku tak menyesal
ketika meninggalkan Donnithorpe keesokan harinya, karena keberadaanku di rumah itu tentunya akan membuat sahabatku merasa malu.

"Semua ini terjadi pada bulan pertama liburan semesterku yang panjang. Aku kembali ke kamar kosku di London, dan menghabiskan tujuh minggu dengan melakukan percobaan-percobaan kimia organik. Tapi pada suatu hari, saat musim gugur hampir berlalu dan liburanku menjelang akhir, aku menerima telegram dari sahabatku itu, yang memohon kehadiranku di Donnithorpe. 

Dia juga mengatakan bahwa dia sangat membutuhkan saran dan bantuanku. Tentu saja aku langsung berangkat ke daerah di sebelah utara Inggris itu."

"Dia menjemputku dengan kereta di stasiun, dan sekilas aku bisa merasakan bahwa dia telah mengalami banyak kesulitan selama dua bulan terakhir ini. Tubuhnya jadi lebih kurus dan tak terawat,Ndan perangainya yang biasanya bersemangat dan ceria tak berbekas lagi.

'"Ayahku sedang sekarat,'' 

Begitulah kata-katanya yang pertama kali dilontarkan kepadaku.

'"Tak mungkin!' teriakku. 

'Apa yang terjadi?'

'"Dia menderita apopleksi. Sarafnya terpukul. Dia dalam keadaan kritis sepanjang hari. Jangan-jangan, ketika kita sampai di rumah, dia sudah meninggal.''

"Kau pasti bisa membayangkan betapa kagetnya aku mendengar berita yang tak terduga-duga ini."

'"Apa yang menyebabkannya jadi sakit begitu?' tanyaku.

"'Ah, itulah masalahnya. Masuklah ke dalam kereta, dan kita akan membicarakannya dalam
perjalanan. Kau masih ingat pria yang datang ke rumah kami sehari sebelum kau pulang?'

"'Masih.'

"'Tahukah kau siapa orang yang kami persilakan masuk ke rumah kami waktu itu?'

"'Sama sekali tidak.'

'"Dia itu iblis, Holmes.' teriaknya.

"Aku menatapnya dengan penuh keheranan."

'"Ya, dia itu benar-benar iblis. Sejak dia menginjakkan kaki ke dalam rumah kami, kami jadi tak pernah merasa aman lagi. Ayahku jadi murung dan tertekan terus-menerus sejak malam itu, dan sekarang dia tak punya semangat hidup lagi dan hatinya hancur, gara-gara si Hudson terkutuk itu...''

'"Pengaruh apa yang dia miliki?'

"'Ah, justru itulah yang sangat ingin kuketahui. Ayahku yang begitu baik hati dan sosial—apa
urusannya sehingga dia bisa masuk ke cengkeraman bajingan seperti itu! 

Tapi aku sungguh senang karena kau sudah datang, Holmes. Aku sangat mempercayai penilaian dan pemikiranmu, dan aku yakin kau akan bisa memberikan saran yang terbaik untukku".

"Kami meluncur di jalanan pedesaan yang mulus dan berwarna putih. Daerah Broads sudah berada di hadapan kami, berkilauan disinari matahari yang sedang terbenam. Dari atas semak-semak di sebelah kiri, sudah nampak olehku cerobong-cerobong asap dan tiang bendera rumah tuan tanah itu.

'"Ayahku mempekerjakan pria itu sebagai tukang kebun,' kata teman seperjalananku, 

"tapi dia tak puas dengan itu, lalu dia dijadikan kepala pelayan. Rumah jadi berada dalam kekuasaannya, dia mondar-mandir dan berpolah seenak perutnya. Para pelayan wanita mengeluhkan kesukaannya mabuk mabukan dan kata-katanya yang kasar. 

Ayah sampai menaikkan gaji mereka semua supaya mereka tak keberatan dengan gangguan yang dibuat oleh kepala pelayan itu. Sering dia memakai kapal dan senapan Ayah yang paling baik untuk pergi berburu. 

Semua itu dilakukannya sambil menyeringai seolah mengejek, membuat darahku mendidih. Ingin rasanya aku menonjoknya sampai puas, kalau saja aku tak ingat bahwa dia bukanlah orang muda seusiaku lagi. 

Sungguh, Holmes, selama ini aku berupaya keras untuk menahan diri, tapi aku jadi berpikir-pikir sekarang, mungkin lebih baik kalau dari
dulu kuturuti saja keinginanku.

"'Well, keadaan di rumah kami makin lama makin tak keruan, dan binatang bernama Hudson ini semakin menjadi-jadi tingkahnya, sampai akhirnya, pada waktu dia menjawab pertanyaan ayahku dengan cara yang sangat kurang ajar di hadapanku, kucengkeram pundaknya dan kulempar dia ke luar ruangan. 

Sebelum menghilang dari pandanganku, dia sempat menatapku dengan wajah merah padam dan mata penuh ancaman. Aku tak tahu apa yang kemudian terjadi antara dia dan ayahku yang malang, tapi keesokan harinya Ayah menemuiku dan menyuruhku minta maaf kepada Hudson. 

Tentu saja aku menolak, dan aku bertanya kepada Ayah mengapa dia membiarkan saja bajingan itu merajalela di rumah kami."

"Ah, anakku," katanya, 

"memang mudah saja bicara, tapi kau tak mengerti posisiku. Namun kau akan tahu nantinya, Victor. Kujamin kau akan mengetahuinya nanti, apa pun yang akan terjadi!

Kau percaya bahwa aku sama sekali tak pernah bermaksud jelek terhadapmu, kan?" 

Dia sampai hampir menangis ketika mengatakan itu, lalu dia menyendiri di ruang baca seharian penuh. Dari jendela aku
memperhatikan bahwa dia sibuk menulis sesuatu.

"'Mulai malam itu nampaknya kami akan bebas, sebab Hudson memberitahu kami bahwa dia akan pergi. Dia masuk ke kamar makan sementara kami sedang duduk-duduk setelah santap malam, dan dengan suaranya yang berat karena dia sedang agak mabuk mengumumkan niatnya.

"Aku sudah bosan tinggal di Norfolk," katanya. 

"Aku mau menjumpai Mr. Beddoes di Hampshire. Aku berani jamin dia juga pasti akan menerimaku dengan senang hati sebagaimana kalian di sini."

"Semoga kepergianmu tak membawa rasa sakit hati, Hudson," 

Kata ayahku dengan begitu lembutnya sehingga darahku menggelegak.

"Anakmu belum minta maaf," 

Katanya bersungut-sungut sambil menoleh ke arahku.

"Victor, akuilah bahwa kau sudah bersikap
agak kasar kepada pria yang berbudi ini," kata Ayah kepadaku. 

"Sebaliknya, kurasa kita berdua sudah
terlalu sabar terhadapnya," jawabku.

"Oh, begitu, ya?" geramnya. 

"Baiklah Kita lihat saja nanti!" 

Sambil terbungkuk-bungkuk dia meninggalkan ruangan dan setengah jam kemudian dia meninggalkan rumah kami.

Sepeninggalnya, Ayah justru menjadi amat gelisah. Malam demi malam kudengar dia mondar-mandir di kamar tidurnya, dan baru saja dia berangsur menjadi tenang kembali, pukulan terakhir menimpanya.''

"'Bagaimana?' aku bertanya dengan penasaran. 

''Caranya sangat unik. Ada sepucuk surat untuk
ayahku kemarin malam, cap posnya dari Fordingbridge. Ayah membacanya, lalu memukul kepalanya dengan kedua belah tangannya, dan mulai berlari-lari mengelilingi ruangan sambil berputar-putar seperti orang hilang ingatan. 

Ketika aku akhirnya berhasil menuntunnya agar berbaring di sofa, mulut dan kelopak matanya mengerut ke salah satu sisi wajahnya, dan sadarlah aku bahwa dia telah terkena stroke. 

Aku langsung memanggil Dr. Fordham dan Ayah kami baringkan di tempat tidur, tapi
kelumpuhannya telah menjalar, dan tak ada tanda-tanda bahwa dia akan bisa sadar kembali. Jangan-jangan sekarang dia malah sudah tiada.'

"Aku jadi ngeri, Trevor!' teriakku. 

"Apa isi surat itu yang telah menyebabkannya sekarat seperti itu?'

"'Tak ada apa-apa. Justru itulah yang membuatku heran. Pesannya cuma sepele dan tak masuk akal. Oh, Tuhan, apa yang kutakutkan menjadi kenyataan!'

"Belum habis kata-katanya, kereta kami membelok dari jalan raya dan nampak oleh kami semua kerai jendela di rumah itu telah diturunkan. Wajah temanku langsung berubah muram. Ketika kami berlari ke pintu depan, seorang pria berpakaian hitam menyongsong kedatangan kami.

"Kapan meninggalnya, Dokter?' tanya Trevor.

"Tak lama setelah Anda pergi.'

"Apakah dia sempat sadarkan diri?'

"Cuma sekejap, sebelum mengembuskan napasnya yang terakhir.'

"Ada pesan untuk saya?'

'Dia hanya menggumam bahwa surat-surat ada di laci belakang lemari model Jepang.'

"Bersama dokter itu, temanku langsung naik ke kamar ayahnya, sementara aku menunggu di
ruang baca sambil memikirkan masalah ini dengan prihatin. Ada apa dengan masa lalu Pak Trevor ini?

Bukankah dia cuma seorang petinju yang sering bepergian dan pekerja tambang emas? Bagaimana sampai dia bisa terjerat dalam cengkeraman pelaut berwajah muram itu? 

Juga, mengapa dia sampai pingsan waktu aku mengatakan tentang inisial yang hampir pudar di sikunya itu, dan mengapa pula dia menjadi sangat ketakutan ketika menerima surat dari Fordingbridge? 

Kemudian aku ingat bahwa Fordingbridge itu terletak di daerah Hampshire, dan bahwa Mr. Beddoes yang akan dikunjungi pelaut itu setelah dia meninggalkan Mr. Trevor tinggal di Hampshire. 

Maka ada dua kemungkinan: 

surat itu berasal dari pelaut bernama Hudson yang mengatakan bahwa dia telah berkhianat tentang sesuatu yang seharusnya dirahasiakan, atau bisa juga berasal dari Beddoes—memperingatkan teman lamanya
tentang kemungkinan pengkhianatan semacam itu. 

Sejauh ini begitulah penjelasannya. Tapi, mengapa anaknya tadi mengatakan bahwa isi surat itu cuma sepele dan tak masuk akal? 

Pasti dia salah mengartikannya. Jika demikian, surat itu berisi pesan dengan bahasa sandi khusus yang hanya dimengerti di antara mereka, sedangkan kalau terbaca oleh orang lain akan berarti lain. 

Aku harus melihat surat itu. Kalau ada arti tersembunyi, aku yakin akan mampu membongkarnya. Selama satu jam aku duduk sambil merenung-renung dalam kegelapan, sampai seorang pelayan wanita yang
tersedu-sedu masuk membawa lampu, diikuti oleh temanku Trevor. 

Dia masih pucat tapi sudah agak tenang, dan dia membawa setumpuk surat yang kini dapat kau lihat di pangkuanku. 

Dia duduk di hadapanku, mendekatkan lampu, dan menunjukkan secarik catatan pendek di kertas berwarna abu-abu.

'Semua binatang hunian telah cukup lama terbongkar tempat persembunyiannya. Hudson, penjaga hutan, membuka ratusan tempat rahasia mereka. Tolong selamatkan mereka demi nyawamu!'

"Aku berani katakan bahwa ketika
pertama kali membaca catatan itu, ekspresi
wajahku pun tak jauh berbeda denganmu.

Aku lalu membacanya kembali dengan
saksama. Seperti yang kuperkirakan, jelas
bahwa pesan itu mengandung kode
tersembunyi. Atau, mungkinkah sudah ada
kesepakatan antara penulis dan penerima
surat itu tentang makna kata-kata tertentu,
seperti binatang buruan dan penjaga hutan?

Kalau demikian halnya, kata-kata itu bisa
berarti apa saja dan tak mungkin aku memecahkan teka-teki ini. Tapi kurasa tidak begitu, dan adanya kata Hudson menunjukkan bahwa maksud surat itu memang seperti yang kuperkirakan, dan kemungkinan besar pesan itu berasal dari Beddoes, bukan dari si pelaut. 

Aku mencoba membacanya secara terbalik, tapi kalimatnya malah tak jalan. Lalu kucoba untuk menghilangkan kata-kata genap—kata kedua, keempat, dan seterusnya—, namun belum juga ada maknanya. 

"Tapi sekejap kemudian, kunci teka-teki itu sudah berada di tanganku. Begini: Kita ambil kata pertama, kemudian setiap kata ketiga. Demikian seterusnya sampai kudapatkan sebuah pesan yang jelas saja membuat Pak Trevor ketakutan".

"Kubacakan peringatan yang singkat dan jelas itu kepada temanku:

"'Semua telah terbongkar. Hudson membuka rahasia. Selamatkan nyawamu.''

"Victor Trevor menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang gemetaran. Kurasa memang begitu,' katanya. 

''Sungguh lebih mengerikan dari kematian itu sendiri, karena akan mengakibatkan
terbongkamya borok Ayah di masa lalu. Tapi, apa artinya "binatang buruan" dan "penjaga hutan"?'

"'Untuk pesan itu sendiri tak ada artinya, namun mungkin saja akan sangat berarti bagi kita kalau kita mengalami kesulitan menemukan siapa pengirim surat itu. Dia pasti menulis suratnya dengan cara seperti ini, 'Semua... telah... terbongkar, dan seterusnya. 

Kemudian barulah dia mengisi bagian-bagian yang kosong itu. Dia pasti akan langsung memakai kata yang pertama kali diingatnya, dan dari pilihan katanya jelas terlihat bahwa penulis surat itu orang yang senang berburu. Adakah yang kau ketahui tentang si Beddoes ini?'

"'Yah, mendengar kata-katamu,' katanya, 

'aku jadi ingat bahwa ayahku yang malang memang sering diundangnya untuk berburu di hutan pribadinya setiap musim gugur.'

"'Kalau begitu tak diragukan lagi bahwa surat ini berasal darinya,' kataku. 

'Sekarang kita tinggal mencari tahu rahasia apa yang ada dalam genggaman si pelaut Hudson, sampai kedua pria yang kaya
dan terhormat ini begitu takut padanya.'

"'Oh, Holmes, aku takut rahasia itu amat memalukan dan menyedihkan!' teriak temanku. 

'Tapi aku tak mau merahasiakan apa-apa terhadapmu. Ini surat pernyataan yang ditulis Ayah ketika dia menyadari bahwa bahaya yang dibawa Hudson tak terelakkan lagi. Kutemukan surat ini di lemari model Jepang, sebagaimana dipesankannya kepada Pak Dokter. Ambillah dan bacakanlah untukku, karena aku tak punya cukup kemampuan dan ke beranian untuk melakukannya sendiri.'

"Inilah surat pernyataan yang dimaksudkannya itu, Watson, dan akan kubacakan kepadamu
sebagaimana aku membacakannya kepada temanku malam itu. 

Sebagaimana bisa kaulihat, bagian depannya berjudul: 

Beberapa rincian perjalanan Kapal Gloria Scott, sejak meninggalkan Falmouth pada tanggal 8 Oktober 1855, sampai ke tempat meledaknya di 15° 20' lintang utara, 25° 14' bujur barat, pada tanggal 6 November. 

Bentuknya seperti surat, dan bunyinya sebagai berikut:

"Anakku sayang, sekarang ini, karena aib telah mendekat dan membuat gelap tahun-tahun
terakhir hidupku, aku merasa perlu untuk menuliskan semuanya dengan penuh kebenaran dan kejujuran. 

Selama ini, yang membuat aku merahasiakan hal ini bukanlah karena aku takut dihukum,
atau takut posisiku di masyarakat akan terancam, tapi semata-mata karena aku tak ingin kau merasa kecewa—sebab kau sangat mengasihi dan menghormatiku. 

Kalau malapetaka yang kutakutkan itu menimpa diriku, aku ingin kau membaca surat ini supaya kau tahu seberapa jauh kesalahanku dari
penuturanku sendiri secara langsung. 

Sebaliknya, kalau semuanya baik-baik saja—semoga Tuhan Yang Mahabaik mengizinkan hal ini!—dan surat ini sempat jatuh ke tanganmu, aku mohon, demi nama semua orang suci yang kau sembah, demi kenangan kepada ibumu tersayang, dan demi kasih kita selama ini, langsung bakar saja surat ini dan jangan dipikirkan lagi.

"Jadi, kalau kau sampai membaca bagian ini, aku tahu bahwa rahasiaku pasti sudah terbongkar dan aku diseret dari rumah. Atau kemungkinan lain—kau tahu jantungku lemah—, aku sudah terbujur tak bernapas lagi. 

Apa pun yang terjadi, jelas aku tak dapat lagi merahasiakan riwayat masa laluku, dan
apa yang akan kuceritakan ini adalah yang sebenar-benarnya; aku bersumpah untuk itu saat ini sambil memohon pengampunan.

"Namaku yang sebenarnya, Nak, bukanlah Trevor, tapi James Armitage. Itulah sebabnya kau bisa mengerti betapa kagetnya aku ketika beberapa minggu yang lalu teman kuliahmu mengatakan sesuatu yang seolah menyiratkan bahwa dia tahu rahasiaku. 

Sebagai Armitage muda itulah aku bekerja di sebuah bank di London, dan melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Aku harus menjalani hukuman dibuang ke luar negeri. 

Jangan keburu merasa jijik terhadapku, Nak. Waktu itu aku cuma mau membalas utang kehormatan, begitulah, dan aku terpaksa menggunakan uang yang bukan milikku,
dengan keyakinan bahwa aku akan mampu mengembalikannya sebelum ketahuan. 

Tapi, sial sekali bagiku. Aku gagal mendapatkan uang yang kuperhitungkan akan kuterima, dan pemeriksaan pembukuan dilaksanakan agak awal, sehingga perbuatanku terbongkar. Zaman sekarang ini, kasus semacam itu bukanlah kasus yang berat. Tapi tidak demikian halnya pada tiga puluh tahun yang lalu.

Maka pada usia dua puluh tiga tahun, aku mendapati diriku menjadi tawanan bersama tiga puluh tujuh penjahat lain, digiring ke Kapal Gloria Scott untuk dibuang ke Australia.

"Waktu itu tahun 1855, Perang Krimea sedang seru-serunya dan kapal yang biasa dipakai
mengangkut para tahanan telah dimanfaatkan sebagai kapal angkut di Laut Hitam. Maka pemerintah terpaksa menggunakan kapal-kapal yang lebih kecil dan kurang cocok untuk mengirim para tahanan.

Gloria Scott tadinya dipakai untuk mengangkut teh dari Tiongkok, tapi kapal itu telah tua sekali, berat haluannya, lebar-lebar tiangnya, dan kalah cepat dibandingkan kapal-kapal yang lebih modern.

Beratnya lima ratus ton, dan mengangkut awak kapal sebanyak dua puluh enam orang, delapan belas tentara, seorang kapten dan tiga asistennya, seorang dokter, seorang pendeta, empat orang sipir, serta tiga puluh delapan tahanan. Seluruhnya hampir seratus orang yang diangkut kapal itu, ketika kami bertolak dari Falmouth."

"Pemisah antara satu sel tahanan dengan sel tahanan lainnya sangat tipis dan rapuh, lain dengan pemisah dalam kapal-kapal khusus tahanan yang terbuat dari kayu ek tebal. 

Orang yang menghuni sel di sebelahku, yaitu yang di dekat buritan, adalah seseorang yang sangat menarik perhatianku ketika kami digiring menuruni dermaga. Pria itu masih muda; kulit wajahnya terang dan bersih, hidungnya kurus dan mancung, dan gerahamnya kuat. Gaya jalannya angkuh, dengan kepala mendongak ke atas, dan badannya luar biasa tinggi. Kami semua di kapal itu paling-paling hanya setinggi pundaknya sehingga tingginya paling tidak dua meter. 

Aku merasa heran melihat penampilannya yang penuh semangat dan teguh padahal para tahanan lainnya bermuka sedih dan letih. Kehadirannya jadi bagaikan api di tengah badai salju. Itulah sebabnya aku merasa gembira ketika ternyata dialah tetanggaku, dan lebih gembira lagi ketika pada tengah malam kudengar dia berbisik kepadaku sambil mengatakan bahwa dia telah berhasil membuat lubang di dinding pembatas ruangan kami.

"'Halo, sobat!' katanya. 

"Siapa namamu, dan mengapa kau sampai berada di kapal ini?'

"Aku menjawab pertanyaannya sambil juga menanyakan siapa dirinya.

"'Aku Jack Prendergast.' katanya,

"dan demi Tuhan, nama itu akan mengubah hidupmu!'

"Aku memang pernah mendengar kasus yang berhubungan dengannya, karena telah
menimbulkan sensasi besar di seluruh negeri ini beberapa saat sebelum aku sendiri tertangkap. 

Dia berasal dari keluarga baik baik dan pandai, tapi dia mempunyai kebiasaan-kebiasaan jahat yang tak bisa diperbaiki. Dengan kelicikannya dia berhasil menipu para pedagang besar di London, dan menghasilkan uang dalam jumlah
yang amat banyak.

"'Ah, ah. Kau ingat kasusku?' katanya dengan bangga.

"Ingat sekali.'

"'Kalau begitu, kau mungkin mencium sesuatu yang aneh dalam kasus itu?' 

"'Apa, ya?'

"'Aku berhasil memperoleh hampir sejumlah seperempat juta pound, ya, kan?' 

"'Begitulah yang kudengar.' 

"'Dan tak sepeser pun berhasil ditemukan?' 

'Ya.'

"'Nah, menurutmu di mana uang itu?' tanyanya. 

"'Entahlah,' kataku.

'"Nih, tepat di antara jari telunjuk dan jempolku,' teriaknya. 

"Demi Tuhan, jumlah uangku lebih banyak dibandingkan jumlah rambut di kepalamu. Dan kalau seseorang punya uang, sobat, dan tahu
bagaimana cara memanfaatkan dan mengembangkannya, dia bisa berbuat apa saja! Nah, bukankah tak masuk akal kalau seseorang yang bisa berbuat apa saja sampai sudi-sudinya menjadi penghuni kapal busuk bulukan yang penuh tikus dan bagaikan peti mati ini? Sama sekali tak masuk akal, sobat. 

Orang semacam dia akan menjaga dirinya dan sobat-sobatnya. Yakinlah! Percayakan hidupmu padanya, dan demi Tuhan, dia akan menjamin hidupmu"

"Begitulah gaya bicaranya dan pada awalnya aku berpikir dia cuma membual saja. Tapi beberapa lama kemudian, setelah dia percaya kepadaku—aku diujinya dan disuruhnya bersumpah—, dia membeberkan rencananya untuk menguasai kapal yang kami tumpangi itu. Kira-kira selusin
tahanan telah bergabung dalam komplotan itu sejak sebelum mereka menaiki kapal. Prendergast pimpinannya karena dia punya banyak uang.

'"Aku punya rekan sekomplotan,' katanya, 

'seorang yang luar biasa baiknya. Dialah yang akan memasang umpan, dan kau tahu siapa orang ini? Tak lain tak bukan adalah si pendeta! Dia naik ke kapal ini dengan jas hitam dan surat-surat lengkap, plus satu tas uang. Para awak kapal adalah anak buahnya. 

Dia bisa merekrut mereka dengan gampang karena imbalan uang. Dia juga telah menyogok
dua orang sipir, dan Mercer, salah satu asisten kapten kapal. Kalau perlu, kapten kapal pun bisa di belinya.'

"'Apa yang akan kita lakukan?' tanyaku.

'"Menurutmu bagaimana?' dia balik bertanya.

"Kita akan menyerang para tentara itu.'

"'Tapi mereka bersenjata,' kataku.

"'Demikian juga kita, sobat. Masing-masing kita akan dilengkapi dengan sepasang pistol, dan
kalau kita tak berhasil mengambil alih kapal ini padahal semua awaknya sudah berada dalam
kekuasaan kita, lebih baik kita dikirim ke sekolah kepandaian putri saja. Nanti malam, bicaralah
dengan tetanggamu yang di sebelah kiri itu, dan coba pertimbangkan apakah dia bisa dipercaya '

"Aku melakukan apa yang ditugaskan kepadaku. Tetanggaku yang satu lagi ini masih muda dan
posisinya sama dengan diriku, yaitu dihukum karena telah melakukan penggelapan. Namanya Evans, tapi dia kemudian berganti nama, seperti juga diriku. 

Sekarang ini, dia telah menjadi orang yang kaya
dan makmur dan tinggal di selatan Inggris. Ternyata dia pun bersedia berkomplot dengan kami, karena memang itulah satu-satunya jalan kalau kami mau selamat. 

Akhirnya, tinggal dua tahanan yang tak tahu-menahu mengenai rencana rahasia ini. Yang satu karena pikirannya lemah sehingga kami tak
berani mempercayakan rahasia ini kepadanya, dan yang satunya lagi sedang sakit kuning sehingga tak akan berguna bagi kami.

"Sejak dari permulaan tak ada kesulitan apa-apa untuk menguasai kapal itu. 'Semua awaknya
adalah penjahat, yang memang sengaja dipilih untuk pekerjaan ini. 

Pendeta palsu itu mendatangi sel kami untuk 'berkhotbah' sambil membawa tas hitam yang seharusnya berisikan traktat rohani. Begitu
rajinnya dia mengunjungi kami sehingga pada hari ketiga masing-masing telah menerima sebuah kikir, sepasang pistol, sebungkus mesiu, dan dua puluh peluru, yang semuanya kami sembunyikan di kolong tempat tidur. Dua dari para sipir di kapal itu adalah komplotan Prendergast, dan salah satu asisten kapten adalah tangan kanannya. 

Jadi yang perlu kami hadapi cuma kapten kapal, dua asistennya, dua sipir, Letnan Martin dan kedelapan belas tentaranya, serta dokter kapal. Walaupun nampaknya aman kami memutuskan untuk bertindak dengan penuh perhitungan, dan akan melakukan penyerangan secara mendadak pada malam hari. 

Penyerangan itu ternyata terlaksana lebih cepat dari waktu yang sudah kami rencanakan semula dan beginilah rinciannya.

"Pada suatu malam, kira-kira tiga minggu setelah kapal bertolak, si dokter mengunjungi sel kami untuk memeriksa seorang tahanan yang sakit, dan tanpa sengaja tangannya merogoh ke dasar tempat tidur pasiennya. Saat itulah dia memergoki pistol di kolong tempat tidur itu. Kalau saja dia tetap tinggal diam, dia mungkin malah bisa membuyarkan rencana kami. 

Tapi dokter bertubuh kecil itu ternyata orangnya gugupan, dia langsung berteriak dan menjadi pucat pasi, sehingga pasiennya menyadari apa yang sedang terjadi dan dalam sekejap berhasil meringkus dokter itu sebelum dia sempat membunyikan tanda bahaya. 

Dia lalu diikat di samping tempat tidur. Ketika masuk ke sel tadi, dokter itu telah membuka kunci pintu yang menuju geladak, dan kami semua langsung berlari dengan cepat ke arah itu. Kami menembak jatuh dua prajurit jaga, juga seorang kopral yang berlari ke arah kami untuk melihat apa yang sedang terjadi. 

Ada dua tentara lagi di pintu kabin, dan senapan mereka nampaknya tak berisi peluru karena mereka tak menembaki kami. Mereka tertembak jatuh ketika sedang berusaha memasang bayonet. Kami lalu berlari ke kabin kapten, tapi ketika kami baru saja mendorong pintunya, terdengar bunyi letusan senapan dari dalam. 

Si kapten telah jatuh tertelungkup di atas peta Samudera Atlantik yang menempel di mejanya, sementara sang pendeta palsu berdiri di
sampingnya dengan pistol yang masih berasap. 

Dua asisten kapten telah ditangkap oleh awak kapal, dan semuanya nampaknya beres-beres saja.

"Kabin penumpang ada di sebelah kabin kapten, dan kami langsung menuju ke situ dan menjatuhkan diri di bangku-bangku sambil berteriak-teriak, karena kami merasa sangat
lega atas kebebasan yang kami dapatkan. 

Ada banyak lemari di kabin itu, dan Wilson, si pendeta palsu, membuka salah satunya dengan paksa dan mengeluarkan selusin anggur merah. 

Kami memecahkan leher botol itu, menumpahkan isinya ke cangkir, dan sedang menenggaknya dengan lahap ketika tiba-tiba kami mendengar suara tembakan beruntun. 

Ruangan itu penuh asap dan sekeliling kami menjadi kabur. Ketika suara berondongan
tembakan itu berhenti keadaan ruangan itu amat kacau balau. Wilson dan delapan orang lainnya saling bertumpukan di lantai, dan pemandangan genangan darah dan anggur merah di sekitar meja sangat menjijikkanku bahkan sampai sekarang kalau aku mengingat hal itu. 

Kami sangat ketakutan dan rasanya aku kepingin menyerah saja. Tapi Prendergast membuatku berubah pikiran. Dia berteriak lantang memberi semangat kepada kami dan berlari ke arah pintu bagaikan banteng yang terluka, dan komplotannya yang selamat langsung mengekor di belakangnya.

Kami berlari keluar, dan di buritan sudah bersiaga Pak Letnan beserta sepuluh tentaranya. Jendela di atas meja kabin itu agak terbuka dan dari situlah mereka menembaki kami tadi. Kami berhasil mendekati mereka sebelum mereka sempat mengisi peluru lagi, dan mereka menghadapi kami dengan gagah berani, tapi karena kami berada di atas angin, dalam lima menit kami berhasil membereskan
mereka. 

Ya, Tuhan! Betapa kapal itu telah menjadi rumah jagal yang sangat mengerikan! Prendergast
bagaikan kesetanan, dan dia mengangkat para tentara dengan begitu mudahnya sepertinya mereka itu cuma seberat anak-anak kecil, lalu dilemparkannya mereka satu per satu, baik yang sudah menjadi mayat maupun yang masih hidup, ke laut yang menggelora. 

Ada seorang sersan yang terluka parah, tapi
toh masih mampu berusaha berenang selama beberapa saat sebelum seseorang di kapal itu
menembaknya. Ketika pertempuran itu usai, musuh kami tinggal kedua sipir, kedua asisten kapten, dan si dokter.

"Kami sempat bertengkar hebat tentang nasib tawanan kami ini. Kami memang merasa gembira atas kemenangan kami itu, tapi ada di antara kami yang sebenarnya bukan pembunuh. 

Mereka tak keberatan kalau harus memukul tentara bersenjata yang sedang berjaga untuk membela diri, tapi mereka merasa sangat keberatan kalau tawanan yang tak berdaya itu harus dibintai begitu saja. 

Ada delapan orang, lima tahanan dan tiga pelaut, yang tak ingin pembantaian itu dilakukan. Tapi Prendergast dan beberapa pengikut yang setuju dengannya tak bergeming sedikit pun, Menurutnya, satu-satunya kesempatan bagi kami untuk selamat adalah dengan membunuh mereka semua; dia tak
ingin membiarkan sebuah mulutpun yang mungkin nanti akan bisa memberikan kesaksian. 

Kami yang tidak menyetujui pembantaian itu hampir saja dijadikan tawanan pula, tapi akhirnya dia mengatakan bahwa kalau kami mau kami boleh mengambil sebuah perahu dan meninggalkan kapal itu. 

Kami menerima tawaran itu dengan gembira, karena kami sudah muak dengan tindakan-tindakannya yang haus darah itu, dan kami merasa kekejaman yang lebih mengerikan lagi akan terjadi di kapal itu. 

Kami masing-masing diizinkan memakai seragam pelaut, diperlengkapi dengan satu tong air minum, dua peti minuman keras, satu peti pakaian bekas, satu peti biskuit, dan sebuah kompas. 

Prendergast juga melemparkan selembar peta, memberitahu kami agar kami mengaku sebagai pelaut yang mengalami musibah dan kapal kami tenggelam di posisi 15° lintang utara dan 25° bujur barat. 

Dia lalu memotong tali yang menghubungkan perahu kami dengan kapal itu dan membiarkan kami pergi.

"Anakku, kini aku akan menceritakan bagian yang paling mengejutkan dari kisah ini. Layar
perahu itu telah ditarik ke belakang ketika berada di atas kapal, tapi begitu perahu itu diturunkan ke laut, maka layarnya pun kami kembangkan. 

Waktu itu angin bertiup lemah dari arah utara dan timur sehingga perahu kami pun segera bergerak menjauhi kapal. Kami terombang-ambing oleh ombak panjang yang bergulung-gulung. Aku dan Evans, sebagai yang paling terpelajar di antara rombongan itu, duduk di lantai perahu untuk mempelajari posisi kami dan merencanakan pantai mana yang akan kami tuju. 

Tak mudah untuk memutuskan, sebab Semenanjung Verde masih berjarak lima ratus mil di sebelah utara kami, dan pantai Afrika kira-kira tujuh ratus mil di sebelah timur. Secara keseluruhan, karena angin berputar ke arah utara, kami kira Sierra Leone yang paling baik, maka kami pun mengarahkan perahu kami ke sana. 

Saat itu kapal yang baru saja kami tinggalkan makin lama makin mengecil dari pandangan kami. Tiba-tiba kami melihat asap hitam yang pekat membubung dari badan kapal itu, menggantung di angkasa bagaikan sebuah pohon raksasa. Beberapa detik kemudian
menyusul suara ledakan yang memekakkan telinga kami. Ketika asap mulai menipis, Gloria Scott sudah tak terlihat lagi. Kami segera memutar arah perahu kami dan mengayuh dengan segenap kekuatan, mendekati tempat musibah yang masih berasap itu.

"Sejam kemudian barulah kami sampai di situ, dan kami mengira pastilah tak ada korban yang masih hidup. Kami melihat serpihan-serpihan badan kapal, beberapa peti kayu, dan tiang-tiang kapal yang telah patah berkeping-keping. 

Semuanya terapung-apung naik-turun di dekat lokasi musibah itu. Tak terlihat tanda-tanda adanya korban yang masih hidup, dan dengan putus asa kami pun lalu berniat meninggalkan tempat itu. Tapi tiba-tiba kami mendengar teriakan, dan dari kejauhan kami melihat seseorang tertelungkup di atas sebuah serpihan kayu. 

Ketika kami berhasil menariknya ke dalam perahu, ternyata dia adalah pelaut muda yang bernama Hudson. Tubuhnya penuh luka bakar dan keadaannya sangat payah sehingga dia tidak bisa langsung bercerita tentang apa yang telah terjadi. Baru pada keesokan harinya dia mampu berkisah.

"Nampaknya, setelah kepergian rombongan kami, Prendergast dan komplotannya langsung
ingin membunuh kelima tawanan yang tersisa itu. Ditembaknya kedua sipir dan dibuangnya mayat mereka ke laut, menyusul giliran salah satu asisten kapten. 

Prendergast lalu turun ke lantai bawah dan
dipancungnya sendiri leher dokter yang malang itu. Maka hanya tinggal seorang tawanan yang masih hidup, yaitu asisten kapten yang satu lagi. 

Orang ini pemberani dan bersemangat. Ketika dilihatnya napi yang bagaikan tukang jagal itu sedang menghampiri dirinya dengan pisau berlumuran darah, dia bergulat dengan sekuat tenaga dan berhasil melepaskan tali yang mengikat dirinya. 

Dia lalu berlari turun ke geladak dan menerjang masuk ke gudang penyimpanan barang.

"Para tahanan lain yang mengejarnya dengan pistol di tangan, akhirnya mendapatinya sedang
duduk di samping peti mesiu dengan korek yang sudah menyala di tangannya. Di antara muatan kapal itu memang terdapat seratus peti mesiu. 

Asisten kapten mengancam akan meledakkan kapal itu kalau ada yang menyakiti dirinya. Sekejap kemudian terdengar bunyi ledakan. Menurut Hudson, ledakan itu disebabkan oleh peluru nyasar yang ditembakkan salah seorang tahanan dan bukan oleh nyala korek api
asisten kapten itu. 

Apa pun penyebabnya, ledakan itulah yang mengakhiri riwayat Gloria Scott dan semua jahanam yang menguasai kapal itu.

"Demikianlah sejarah singkat dari kasus mengerikan yang melibatkan diriku ini, anakku. Pada hari berikutnya kami ditolong oleh Kapal Hotspur yang sedang berlayar menuju Australia. 

Kapten kapal itu langsung percaya pada penuturan kami, bahwa kami adalah penumpang sebuah kapal yang telah tenggelam. Kapal Gloria Scott dinyatakan hilang oleh Departemen Angkatan Laut Inggris, dan sejak itu tak ada yang tahu-menahu tentang nasib kapal itu yang sebenarnya. 

Hotspur menurunkan kami di Sydney, dan di tempat yang baru inilah aku dan Evans lalu mengganti nama dan mencari nafkah di pertambangan. Di tempat itu banyak pendatang dari berbagai negara, sehingga tak sulit bagi
kami untuk mengubur identitas kami yang sebenarnya.

"Kisah selanjutnya sebenarnya tak susah ditebak. Kami menjadi kaya, kami bepergian ke mana-mana, lalu kembali ke Inggris dan membeli tanah di pedesaan. Selama lebih dari dua puluh tahun kami hidup dengan aman dan sejahtera, dan kami mengharap masa lalu kami akan terkubur selamanya.

Dapat kaubayangkan bagaimana perasaanku ketika aku mengenali pelaut yang mendatangi kita itu.

Dialah orang yang telah kami selamatkan dari musibah Gloria Scott itu! Entah dengan cara bagaimana dia berhasil menemukan kami dan bertekad untuk memeras kami. 

Kini kau pasti mengerti mengapa aku sangat berupaya untuk berbaik hati padanya, bahkan kau mungkin akan bersimpati atas ketakutan yang sekarang sedang kutanggung. 

Dia memang telah meninggalkanku untuk mengejar korban lain, tapi ancamannya tak dapat dianggap enteng."

"Di bagian bawah surat itu ada catatan tambahan yang ditulis dengan tangan yang amat gemetaran sehingga tulisannya tak begitu jelas, 

'Beddoes menulis dengan bahasa kode bahwa H. telah membuka rahasia. Ya, Tuhan Yang Maha Pengasih, kasihanilah kami!'

"Begitulah isi surat yang kubacakan kepada pemuda Trevor malam itu, dan kurasa, Watson,
kisahnya cukup dramatis. Pemuda yang baik hati itu sangat terpukul mendengar semuanya. 

Dia lalu meninggalkan rumah dan bekerja di perkebunan teh Terai. Kudengar dia cukup sukses di sana. Sedangkan mengenai sang pelaut dan Beddoes, tak kudengar berita lagi tentang mereka sejak surat peringatan itu ditulis. 

Mereka menghilang begitu saja. Tak ada tuntutan terhadap Mr. Trevor dan Beddoes yang dilaporkan ke polisi, jadi kukira Beddoes telah salah sangka. Hudson sebetulnya baru
menggertak, belum benar-benar membongkar rahasia mereka. Ada saksi mata yang melihat Hudson mengintai Beddoes, dan polisi berpendapat dia telah membunuh pria itu lalu melarikan diri.

Menurutku, justru sebaliknyalah yang terjadi. Beddoes-lah—terdorong oleh rasa putus asanya sebab ia mengira nama baiknya sudah dirusak Hudson— yang membalas dendam kepada si pelaut. 

Dia lalu pergi meninggalkan Inggris membawa semua uangnya. Begitulah fakta-fakta dari kasus ini, Dokter, dan kalau menurutmu akan berguna kelak, silakan kau simpan."




                            "SELESAI"

Senin, 30 Agustus 2021

SHERLOCK HOLMES "THE STOCKBROKER’S CLERK"

The Memoirs of Sherlock Holmes – Memoar Sherlock Holmes (1892-1893) 




"THE ADVENTURE OF THE STOCKBROKER’S CLERK – PEGAWAI KANTOR BURSA"





PEGAWAI KANTOR BURSA



TAK lama setelah pernikahanku, aku membeli tempat praktek'di daerah Paddington dari Mr.
Farquhar yang sudah tua. Dulu dia praktek umum di tempat itu dengan amat berhasil. Lalu faktor usia dan penyakit yang dideritanya yang tak kunjung sembuh menyebabkan prakteknya menjadi sepi pasien.

Tentu saja bisa dimengerti kalau orang beranggapan bahwa seorang dokter harus bisa menyembuhkan dirinya sendiri sebelum dia bisa menyembuhkan orang lain. Mereka akan langsung merasa ragu-ragu kalau seorang dokter ternyata tak mampu mengobati penyakitnya sendiri. 

Begitulah dengan menurunnya kondisi badannya, prakteknya pun menurun dan pendapatannya juga menurun dari biasa
nya seribu dua ratus pound menjadi hanya tiga ratus pound setahunnya Tapi, karena aku masih muda dan kuat, aku yakin akan mampu menghasilkan cukup banyak dari hasil praktekku di tempat itu pada tahun-tahun mendatang.

Setelah mengambil alih tempat praktek itu selama tiga bulan, aku sangat sibuk dengan profesiku dan hampir tak pernah mengunjungi temanku Sherlock Holmes di Baker Street. Dia sendiri juga jarang bepergian kecuali dalam rangka penyelidikan. 

Itulah sebabnya, aku merasa terkejut ketika pada suatu pagi di bulan Juni, bel rumahku berbunyi dan terdengar suara teman lamaku yang tinggi dan agak melengking itu. Waktu itu aku sedang duduk membaca British Medical Journal setelah makan pagi.

"Ah, sobatku Watson," katanya sambil memasuki ruangan, 

"senang sekali bertemu denganmu!
Aku yakin Mrs. Watson sudah pulih kembali setelah pengalamannya yang mendebarkan berkenaan dengan kasus Sign of Four!"

"Terima kasih, kami berdua baik-baik saja," kataku sambil menjabat tangannya dengan hangat.

"Aku juga mengharap," lanjutnya sambil duduk di kursi goyang, 

"semoga kegiatan praktek doktermu tak sama sekali menghapuskan minatmu terhadap masalah-masalah kecil yang membutuhkan
penanganan kita."

"Sebaliknya," jawabku, 

"baru saja tadi malam aku membolak-balik catatan lamaku dan memilah-milah hasil-hasil yang telah kita capai."

"Kau tak berpikir untuk menutup koleksi catatanmu, kan?"

"Tidak sama sekali. Aku akan sangat senang kalau bisa ikut lagi dalam pengalaman-pengalaman seperti itu."

"Pada hari ini, misalnya?"

"Ya, hari ini pun boleh."

"Dan pergi jauh sampai ke Birmingham?"

"Tentu saja, kalau memang begitu maumu." 

"Dan praktek doktermu?"

"Aku menggantikan dokter tetanggaku kalau dia sedang bepergian. Dia akan selalu siap
menggantikanku untuk membayar utangnya."

"Ha! Bagus sekali!" 

kata Holmes sambil menyandar ke tempat duduknya dan menatapku dengan tajam melalui matanya yang separo tertutup. 

"Kurasa kau tak begitu sehat akhir-akhir ini. Flu
musim panas memang agak menjengkelkan."

"Minggu yang lalu, selama tiga hari aku tak keluar rumah karena badanku menggigil. Tapi
kurasa aku sudah baik kembali kini."

"Begitulah. Kau memang kelihatannya sangat segar bugar."

"Kalau begitu, bagaimana kau tahu aku sakit?"

"Sobatku, kau ini sepertinya tak tahu saja bagaimana caraku bekerja?"

"Dengan menyimpulkan?"

"Tentu saja."

"Menyimpulkan dari apa?"

"Dari sandalmu."

Aku menoleh ke bawah, memandangi sandal kulit baru yang sedang kukenakan.

"Bagaimana gerangan...?" 

Baru saja aku mau mulai bertanya kepadanya, Holmes sudah langsung mendahului menjawab pertanyaanku.

"Sandalmu baru," katanya. 

"Belum ada beberapa minggu usianya. Sol sandalmu itu, yang kini sedang kau pamerkan ke arahku, agak hangus. Sempat terpikir olehku bahwa mungkin saja sandalmu itu terkena air lalu menjadi agak hangus ketika kau keringkan. 

Tapi masih ada sedikit sisa label toko penjual sandal itu yang menempel di telapaknya. Kalau terkena air, pasti itu sudah hilang. Itulah
sebabnya aku lalu berkesimpuian bahwa akhir akhir ini kau banyak tinggal di rumah sambil duduk dan menjulurkan kakimu ke arah perapian karena kesehatanmu yang agak terganggu."

Sebagaimana kesimpulan-kesimpulan Holmes lainnya, semua pertimbangan yang diutarakannya nampaknya sepele saja. Dia membaca pikiranku, lalu tersenyum dengan agak getir.

"Rugi ya, kalau aku menjelaskan kesimpulanku," katanya. 

"Hasil tanpa penjelasan sebenarnya lebih mengesankan orang. Nah, kau sudah siap untuk berangkat ke Birmingham?"

"Tentu. Kasus apa yang kita tangani kali ini?"

"Akan kuceritakan semuanya di kereta api nanti. Klienku sedang menunggu di dalam kereta di luar. Yuk, berangkat sekarang!"

"Sebentar." 

Aku mencoretkan sedikit pesan kepada tetanggaku, berlari ke atas untuk pamit pada
istriku, dan tak lama kemudian menyusul Holmes yang sedang berdiri menunggu di pintu depan.

"Jadi tetanggamu itu seorang dokter juga?" katanya, mengangguk ke arah papan nama kuningan di depan rumah tetanggaku.

"Ya, dia membeli tempat itu sekalian dengan izin prakteknya seperti yang kulakukan."

"Sudah lamakah tempat itu dipakai untuk praktek umum dokter?"

"Sudah, bersamaan dengan tempatku juga. Keduanya dipakai sebagai tempat praktek umum dokter sejak tempat itu selesai dibangun."

"Ah! Dan tempat praktekmu ini lebih laris dari yang sebelahnya, kan?"

"Kurasa memang demikian. Tapi bagaimana kau tahu tentang hal itu?"

"Dari bekas langkah-langkah kaki, sobat. Tanah di halaman depanmu sampai turun tujuh setengah sentimeter lebih rendah dari yang di sebelah. 

Baiklah, mari kuperkenalkan dengan klienku,
Mr. Hall Pycroft. Mari berangkat, Pak Kusir, karena kami harus mengejar kereta api."

Pemuda berkumis tipis yang diperkenalkan kepadaku itu kini duduk di hadapanku. Tubuhnya tegap, kulitnya segar, wajahnya lugu dan jujur. Topinya sangat mengilat, dan jasnya yang rapi berwarna hitam. Penampilannya seperti pemuda kota yang cerdas, yang tentunya bisa menjadi tentara sukarela andal atau atlet hebat bagi negerinya. 

Wajahnya yang bulat dan kemerahan seharusnya memantulkan kegembiraan, sayang sudut-sudut mulutnya tertarik sedemikian rupa sebagai tanda kecemasan. 

Setelah kami duduk di dalam kereta api kelas satu menuju Birmingham, barulah aku tahu masalah yang sedang dihadapinya yang telah membuatnya meminta pertolongan Sherlock Holmes.

"Perjalanan kita akan memakan waktu tujuh puluh menit," komentar Holmes. 

"Silakan, Mr. Hall Pycroft, ceritakan pengalaman Anda yang menarik itu kepada teman saya ini, kalau bisa dengan lebih
mendetail. Akan sangat berguna bagi saya mendengarkan urutan kejadiannya sekali lagi. 

Kasus ini, Watson, bisa membuktikan sesuatu atau sebaliknya, tapi paling tidak, mengandung rincian unik dan terselubung yang pasti akan menarik minat kita berdua. Nah, Mr. Pycroft, saya tak akan banyak bicara lagi, sekarang giliran Anda."

Pemuda teman seperjalanan kami itu menatapku sambil mengedipkan matanya.

"Yang paling menyebalkan dari pengalaman saya ini ialah kenyataan bahwa saya benar-benar telah bersikap sangat tolol," katanya. 

"Tentu saja semuanya bisa saja berakhir baik, dan rasanya waktu itu saya memang tak bisa berbuat lain, tapi kalau saya sampai kehilangan pekerjaan tanpa mendapatkan
apa-apa, betapa konyolnya saya ini. Saya bukan orang yang pandai bercerita, Dr. Watson, tapi beginilah pengalaman saya.

"Saya dulu bekerja di perusahaan Coxon & Woodhouse, di Draper Gardens, tapi perusahaan itu telah diambil alih oleh perusahaan Venezuela pada awal musim semi yang lalu karena bangkrut. 

Saya sudah bekerja di sana selama lima tahun, dan Pak Coxon tua membekali saya dengan surat rekomendasi yang cukup baik ketika saya di-PHK, tapi tentu saja kami tetap merasa terpukul. 

Ada dua puluh tujuh pegawai yang terkena PHK. Saya sudah mencoba mencari pekerjaan lain ke sana kemari, tapi berhubung yang membutuhkan pekerjaan juga tak terbilang banyaknya, saya tetap menganggur saja setelah sekian lama. Waktu masih bekerja di Coxon, saya menerima gaji sebesar tiga pound seminggu, dan ketika itu saya sudah berhasil menabung sampai tujuh puluh pound. 

Tapi tak lama kemudian tabungan saya pun habis saya pakai untuk hidup sehari-hari, sampai membeli prangko dan amplop untuk menulis surat lamaran pekerjaan pun saya merasa berat sekali. Sepatu saya juga hampir
rusak karena naik turun tangga sekian banyak kantor, tanpa hasil. 

"Akhirnya saya melihat adanya lowongan pekerjaan di perusahaan Mawson & Williams, yaitu sebuah kantor bursa yang besar di Lombard Street. Saya berani katakan bahwa Anda pasti tak banyak berhubungan dengan bisnis bursa saham, tapi kantor ini adalah yang paling kaya di London. 

Lamaran itu hanya dilakukan melalui surat. Maka saya pun mengirimkan lamaran saya dilengkapi dengan surat rekomendasi yang saya miliki, tapi terus terang saya tak begitu optimis akan hasilnya. 

Ternyata saya menerima surat balasan. Saya di minta datang pada hari Senin berikutnya, dan saya diizinkan untuk langsung mulai bekerja kalau penampilan saya memuaskan. 

Tak ada yang tahu bagaimana sistem
penerimaan pegawai baru di situ. Beberapa orang mengatakan manajer personalia asal saja mengambil salah satu dari tumpukan surat lamaran yang masuk, kalau kita beruntung, surat lamaran kita yang dijumputnya. 

Dan, ternyata itulah hari keberuntungan saya, dan tak pernah saya merasa segembira saat
itu. Gaji saya naik satu pound seminggu, dan tugas saya sama dengan waktu masih di perusahaan Coxon.

"Sekarang kita sampai kepada bagian yang unik. Saya waktu itu menyewa kamar di daerah
Hamp stead, di Jalan Potter's Terrace Nomor 17. Well, malam setelah menerima surat balasan itu saya sedang duduk santai sambil merokok, ketika pemilik rumah mendatangi saya sambil membawa sebuah kartu nama bertuliskan 'Arthur Pinner, Agen Keuangan'. 

Saya tak kenal nama itu dan tak bisa membayangkan apa yang diinginkannya dari saya, tapi tentu saja saya mengizinkannya menemui saya. Pemilik kartu itu pun masuklah, seorang pria bertubuh sedang; rambut, mata, dan jenggotnya hitam; dan hidungnya berkilauan. Sikapnya terburu-buru, tutur katanya tajam, seperti seseorang yang waktunya sangat berharga sekali.

"'Andakah Mr. Hall Pycroft?' tanyanya.

"'Ya, sir,' jawab saya sambil mendorong sebuah
kursi ke dekatnya.

"'Yang pernah bekerja di perusahaan Coxon &
Woodhouse?'

"'Ya, sir.'

'"Dan sekarang bekerja di perusahaan milik
Mawson?' 

"'Begitulah.'

"'Well,' katanya, 

"terus terang, saya telah banyak mendengar tentang kehebatan Anda di bidang keuangan. Anda ingat Parker yang dulu menjadi manajer di Coxon? Dialah yang selalu mengatakan hal
itu kepada saya.'

"Tentu saja saya sangat bangga mendengar ini. Saya memang telah bekerja dengan baik, tapi saya tak pernah membayangkan nama saya diperbincangkan di City seperti ini."

"'Apakah ingatan Anda baik?' tanyanya pula.

'"Cukup baik,' saya menjawab dengan sopan.

"'Selama menganggur, apakah Anda tetap mengikuti perkembangan pasar saham?' tanyanya kemudian.

'"Ya. Saya membaca daftar bursa saham setiap pagi-'

'"Nah, itu sangat berguna!' teriaknya. 

"Itulah jalan untuk menjadi kaya. Anda tak keberatan kalau saya uji, kan? Coba katakan, berapa harga saham Ayrshires?'

'"Seratus lima sampai seratus lima seperempat.'

'"Lalu New Zealand Gabungan?'

'"Seratus empat.'

'"British Broken Hills?'

'"Tujuh sampai tujuh koma enam.'

"'Hebat!' teriaknya sambil mengangkat tangan. 

'Ternyata cocok dengan apa yang dikatakan
orang padaku. Nak, Nak, kau terlalu baik kalau hanya menjadi pegawai biasa di perusahaan Mawson!'

"Tentu Anda bisa menduga betapa apa yang dikatakannya ini agak mengherankan saya. 

'Well,' kata saya, 

"orang lain belum tentu berpikiran seperti itu, Mr. Pinner. Untuk mendapatkan lowongan
kerja ini saja, saya harus berjuang keras, dan saya sangat gembira karena berhasil mendapatkannya.'

"'Uh, Nak, kau seharusnya mendapatkan pekerjaan yang lebih tinggi dari itu. Kalau cuma jadi pegawai biasa begitu, itu bukan tempatmu yang sebenarnya. Nah, aku akan mengajukan penawaran.

Mungkin tak begitu banyak kalau mengingat kemampuanmu, tapi jelas jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penawaran Mawson.

Coba katakan, kapan kau mulai bekerja di perusahaan Mawson itu?'

"'Senin depan.'

'"Ha, ha! Kurasa kau akan kaget kalau kukatakan bahwa sebaiknya kau tak usah pergi ke sana sama sekali.'

'"Tak usah pergi ke perusahaan Mawson?' 

"'Betul sir. Pada hari itu kau akan menjadi manajer bisnis Perusahaan Alat-alat Berat Franco-Midland, yang memiliki seratus tiga puluh empat cabang di Prancis, belum termasuk satu di Brussels dan satu di San Remo.'

"Tentu saja saya jadi menahan napas. 'Saya tak pernah mendengar nama perusahaan itu,' kata
saya.

'"Tentu saja. Perusahaan ini dijalankan dengan diam-diam, karena semua modalnya milik swasta sehingga tak perlu disebarluaskan di masyarakat. Saudaraku, Harry Pinner, mendapat promosi, dan kini menjadi salah satu direksi setelah sebelumnya menjadi direktur umum. Dia tahu bahwa aku sedang
berkunjung ke Inggris dan memintaku untuk mencari tambahan seorang staf yang tak begitu mahal bayarannya. Dia harus orang yang masih muda dan giat dan mudah bergerak ke sana kemari. 

Parker menyebutkan namamu sehingga aku lalu mengunjungimu malam ini. Kami hanya mampu menawarkan lima ratus untuk gaji awalmu...,'

'"Lima ratus pound setahun!' seru saya.

"Itu baru permulaannya; ditambah komisi menarik sebesar satu persen untuk semua penjualan yang dilakukan oleh agen-agenmu, dan percayalah kepadaku, komisi ini bisa saja lebih besar dari gajimu.'

"Tapi saya tak tahu-menahu tentang alat-alat berat'

'"Oh, Nak, tapi kau kan tahu tentang angka-angka.'

"Kepala saya berdengung, dan saya duduk dengan gelisah. Tapi tiba-tiba saya merasa ragu-ragu.

'"Terus terang saja,' kata saya. 

'Mawson cuma menjanjikan dua ratus, tapi perusahaan itu sudah mapan. Nah, sesungguhnya, saya tak tahu apa-apa tentang perusahaan yang Anda sebut tadi sehingga...'

"'Ah, baik, baik!' dia berteriak dengan girang. 

'Kau benar-benar orang yang tepat yang sedang kami cari. Kau tak gampang mempercayai omongan orang lain, dan itu sungguh tindakan yang baik.

Nah, aku bawa seratus pound, dan kalau kau merasa kita bisa bekerja sama, silakan terima ini dulu sebagai uang muka dari gajimu.'

"'Anda sangat murah hati,' kata saya. 

'Kapan saya akan mulai bekerja?'

"'Kau harus sampai di Birmingham besok jam satu siang,' katanya. 

'Bawalah surat ini dan serahkan kepada saudaraku. Kau akan menemuinya di lokasi perkantoran sementara dari perusahaan itu
di Corporation Street Nomor 126B. Tentu saja dia perlu menegaskan tentang perekrutanmu, tapi percayalah semuanya akan beres '

"Terus terang, saya tak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada Anda, Mr. Pinner,' kata
saya.

"'Ah, tak perlu begitu, Nak. Kau pantas untuk hal itu. Ada sedikit formalitas yang harus kita
siapkan. Kulihat, ada secarik kertas di sampingmu. Silakan kautulis, 

"Saya bersedia menjadi manajer bisnis Perusahaan Alat alat Berat Franco-Midland, dengan gaji minimum 500 pound setahun."'

"Saya lakukan seperti yang dimintanya, lalu dia menyimpan surat perjanjian itu di sakunya.

'"Satu hal lagi,' katanya. 

"Apa yang akan kau lakukan dengan perusahaan Mawson?' 

"Saya bahkan sudah tak ingat lagi tentang perusahaan Mawson, karena girangnya."

'Saya akan menulis surat untuk menyatakan bahwa saya mengundurkan diri,' kata saya.

"'Jangan! Aku sudah menemui pihak manajer Mawson untuk menanyakan tentang dirimu, dan dia sempat menjadi jengkel, dan menuduhku mencoba membajakmu dari perusahaannya, dan macam-macam. 

Akhirnya aku pun jadi marah. "Kalau kau ingin mempekerjakan pegawai-pegawai yang baik,
kau harus berani membayar tinggi," kataku kepadanya. 

"Dia pasti akan lebih memilih digaji rendah di
perusahaan ini daripada digaji tinggi di perusahaanmu," katanya. 

"Aku berani taruhan," kataku, 

"kalau dia kutawari pekerjaan,,dia pasti akan kabur bersamaku." 

"Baik!" sahutnya. 

"Kami telah memungutnya dari comberan dan dia pasti tak akan meninggalkan kami begitu saja." Begitulah katanya.

'"Kurang ajar!' teriak saya. 

"Padahal saya belum pernah bertemu dengannya. Mengapa saya harus repot-repot demi dia? Kalau Anda maunya begitu, ya baiklah saya tak usah menulis surat.''

"'Baik! Janji, ya?' 

katanya sambil berdiri dari tempat duduknya. Well, aku senang sekali telah mendapatkan orang yang baik untuk saudaraku. Ini, uang muka untuk gajimu, sejumlah seratus pound,
dan ini surat pengantarnya. Ingat baik-baik alamatnya, ya? Corporation Street Nomor 126B, dan kuulangi lagi kau harus ke sana besok jam satu siang. Selamat malam, dan semoga kau berhasil.'

"Begitulah kejadiannya, sepanjang yang dapat saya ingat. Anda bisa bayangkan, Dr. Watson,
betapa gembiranya hati saya saat itu. Saya terduduk saja sepanjang malam mensyukuri keberuntungan saya, dan keesokan harinya saya langsung berangkat ke Birmingham dengan kereta api, supaya saya tak usah terburu-buru. Saya meninggalkan barang-barang bawaan saya di sebuah hotel di New Street, lalu saya menuju ke alamat yang diberikan kepada saya.

"Saya tiba di tempat itu lima belas menit sebelum waktu yang ditentukan, tapi saya rasa tak jadi soal bila saya langsung menghadap saja. Nomor 126B adalah jalan di antara dua deretan toko besar, yang menuju tangga batu putar. Tangga itu menuju ke banyak ruangan di lantai atas yang disewakan untuk kantor-kantor. Nama-nama penyewa ruangan itu tercantum pada dinding lantai bawah, tapi nama perusahaan Franco-Midland tak ada di situ. 

Saya berdiri mengamati nama-nama perusahaan itu selama beberapa menit dengan jantung berdebar-debar, sambil bertanya-tanya jangan-jangan saya telah ditipu.

Namun tiba-tiba seseorang mendekati saya dan mempersilakan saya mengikutinya. Wajah dan suara pria itu sangat mirip dengan pria yang menemui saya semalam, hanya dia bercukur dengan lebih bersih.

"'Apakah Anda Mr. Hall Pycroft?' tanyanya.

"'Ya,' jawab saya.

"'Ah! Kedatangan Anda memang saya harapkan, tapi rupanya Anda tiba terlalu awal. Saya telah menerima pesan dari saudara saya pagi tadi yang sangat memuji kehebatan Anda!'

"'Saya baru saja melihat-lihat daftar nama
perusahaan di lantai ini, ketika Anda menghampiri saya.''

"'Nama perusahaan kami memang belum tercantum di situ, karena kami baru saja pindah ke tempat sementara ini minggu lalu. Mari silakan naik bersama saya, dan kita
akan bicarakan hal-hal yang berhubungan dengan diri kita.'

"Saya mengikutinya sampai ke lantai paling atas, dan di sana, tepat di bawah atap, terlihat dua ruangan kecil yang tak berkarpet dan tak ada gordennya. Kami menuju ke situ. Sebelum ini, saya membayangkan kantor besar dengan meja berkilauan dan sederetan pegawai, sebagaimana biasanya keadaan sebuah kantor perusahaan besar, dan saya sampai tertegun ketika melihat kursi-kursi murahan dan sebuah meja kecil di dalam ruangan yang kami masuki. Perabotan lain yang ada hanyalah sebuah buku besar dan sebuah tempat sampah.

'"Jangan kecil hati, Mr. Pycroft,' kata orang yang baru saya kenal tadi ketika melihat
kekecewaan di wajah saya. 'Kota Roma tak dibangun dalam sehari, dan back up keuangan kami kuat sekali, walaupun kantor kami tak mentereng. Silakan duduk, dan coba lihat surat pengantar yang Anda bawa.'

"Saya menyerahkan surat itu dan dia membacanya dengan saksama.

"'Nampaknya saudara saya Arthur sangat terkesan oleh pribadi Anda,' katanya, 

"dan saya tahu bahwa penilaiannya biasanya benar. Dia bersikeras untuk mencari seseorang dari London, sedangkan saya sebenarnya lebih suka mencarinya di Birmingham. Tapi kali ini saya setuju dengan sarannya. Mulai sekarang Anda secara resmi telah bekerja pada kami."

'"Apa tugas-tugas saya?' tanya saya.

'"Nanti Anda akan mengelola kantor besar di Paris, yang bertugas memasok barang-barang
porselen Inggris ke seratus tiga puluh empat agen kami yang tersebar di seluruh Prancis. 

Pembeliannya baru selesai seminggu lagi, jadi sementara ini Anda membantu di Birmingham dulu.'

'"Membantu apa?'

"Untuk menjawab ini, dia mengeluarkan sebuah buku besar berwarna merah dari sebuah laci.

'Buku ini berisi daftar petunjuk kota Paris,' katanya, 

"lengkap dengan nama-nama usaha di belakang nama-nama orangnya. Bawalah pulang buku ini, dan beri tanda pada semua nama pengusaha alat berat dan alamatnya. Nama-nama dan alamat mereka itu sangat berguna bagi saya.'

"'Bukankah daftar ini sudah terperinci?' tanya saya.

"'Tapi tak semua bisa dipercaya. Sistemnya berbeda dengan sistem kita. Begitulah, dan serahkan daftar itu hari Senin jam dua belas. Selamat siang, Mr. Pycroft. Kalau Anda cerdas dan penuh semangat, Anda akan merasa beruntung dapat bekerja di perusahaan ini.'

"Saya kembali ke hotel sambil mengepit buku besar tadi dengan perasaan tak keruan. Di satu
pihak, saya sudah resmi diterima dan sudah menerima uang muka. Di pihak lain, setelah melihat keadaan kantor tadi, lalu tak tercantumnya nama perusahaan itu di daftar penyewa gedung, dan banyak hal lain lagi, saya jadi meragukan bonafiditas mereka. Tapi apa boleh buat, saya sudah mengantongi seratus pound, maka saya putuskan untuk tetap mengambil pekerjaan ini. 

Pada hari Minggu saya bekerja keras, tapi esoknya saya baru sampai ke huruf H. Saya lalu menemui atasan saya, masih di ruangannya yang jelek itu, dan saya dimintanya untuk melanjutkan tugas saya itu sampai hari Rabu.

Tapi sampai hari Rabu pun saya belum berhasil menyelesaikan tugas itu, dan saya terus menekuninya.

Akhirnya pada hari Jumat, ya itu kemarin, saya dapat menyerahkan hasilnya kepada Mr. Harry Pinner.

'"Terima kasih,' katanya, 

'Wah, saya terlalu menganggap enteng tugas yang ternyata cukup berat ini, ya? Daftar ini sangat bermanfaat bagi saya.'

'"Memang memerlukan waktu yang agak lama,' kata saya.

"'Dan sekarang,' katanya, 

"buatlah daftar toko-toko mebel, karena toko-toko inilah yang menjual barang-barang porselen.'

"'Baik.'

'"Datanglah jam tujuh besok malam, karena saya ingin mengecek sampai di mana tugas yangbsedang Anda laksanakan. Tak perlu terburu buru bahkan ada baiknya juga jika Anda menyempatkan diri untuk menikmati musik selama beberapa jam.' Dia tertawa sambil mengatakan itu, dan hati saya tergetar ketika melihat tambalan emas gigi belakangnya yang sebelah kiri."

Sherlock Holmes mengusap-usapkan kedua tangannya dengan gembira, sedangkan aku menatap klien kami dengan penuh keheranan.

"Anda kelihatannya terkejut, Dr. Watson, tapi masalahnya begini," ujarnya. 

"Dulu, ketika saya berbicara dengan saudara atasan saya itu, saya juga melihat tambalan emas pada gigi belakangnya persis seperti itu. Itulah sebabnya, saya jadi terkejut. Ketika saya pikirkan tentang persamaan suara dan bentuk tubuhnya—yang berbeda cuma jenggot dan warna rambut yang dengan mudah memang bisa dibuat lain hanya dengan bantuan pisau cukur atau rambut palsu—saya lalu merasa yakin bahwa kedua pria itu ternyata sama orangnya. 

Tentu saja dua orang bersaudara bisa saja mirip satu sama lain, tapi tak mungkin sampai tambalan giginya pun sama persis. Dia lalu mengantar saya keluar, dan tak lama
kemudian saya sudah berada di jalan raya dalam keadaan bingung. 

Saya kembali ke hotel, mengguyur kepala saya dengan air dingin, dan mencoba memikirkan semua itu. Untuk apa dia menyuruh saya jauh-jauh dari London pergi ke Birmingham?

Bagaimana dia bisa sampai di Birmingham lebih cepat dari saya? Dan untuk apa dia menulis surat yang ditujukan pada dirinya sendiri? Wah, saya benar-benar bingung dan tak dapat mengerti semua itu. Lalu tiba-tiba terlintas dalam benak saya bahwa apa yang
sulit bagi saya mungkin mudah saja bagi Mr. Sherlock Holmes. 

Saya langsung naik kereta api malam dan menemuinya pagi ini, dan begitulah kisahnya sampai Anda berdua memutuskan untuk pergi
bersama saya ke Birmingham."

Kami terdiam sejenak setelah pegawai kantor bursa itu menuturkan pengalamannya yang
mengherankan. Sherlock Holmes lalu menatapku. Dia menyandarkan duduknya, dan wajahnya menunjukkan kegembiraanku tapi penuh pemikiran, bagaikan seorang ahli yang baru saja menghirup anggur istimewa untuk pertama kalinya.

"Kasus yang bagus ya, Watson?" tanyanya. 

"Ada beberapa hal yang menarik hatiku. Kurasa kau akan sependapat denganku bahwa akan merupakan pengalaman yang agak menarik bagi kita kalau kita pergi mewawancarai Mr. Arthur Harry Pinner di kantor Perusahaan Alat-alat Berat Franco-Midland yang statusnya masih sementara itu."

"Tapi bagaimana kita akan melakukannya?" tanyaku.

"Oh, gampang saja," kata Hall Pycroft dengan gembira. 

"Anda bcrpura-pura menjadi dua teman saya yang sedang butuh pekerjaan, dan bukankah sudah sepantasnya kalau saya lalu membawa Anda berdua untuk menemui Pak Direktur?" 

"Bagus!" ujar Holmes. 

"Saya memang perlu melihat pria itu agar bisa menduga permainan apa yang sedang direncanakannya. Nah, Watson, apa kualifikasimu? Atau mungkinkah..." 

Dia mulai menggigiti kuku jari tangannya dan menatap ke luar dengan pandangan kosong lewat jendela, dan sejak itu dia membisu seribu bahasa sampai kami tiba di New Street.

Pada jam tujuh malam itu, kami bertiga berjalan menuju kantor perusahaan itu di Corporation Street.

"Percuma saja pergi ke kantor itu kalau tidak pada waktu yang telah dijanjikan," kata klien
kami. 

"Jelas dia hanya datang ke situ untuk menemui saya, dan kantor itu kosong di luar jam
bertemunya dengan saya."

"Itu amat mencurigakan," komentar Holmes.

"Nah, apa kata saya, coba?" teriak pegawai itu. 

"Itu dia sedang berjalan di depan kita."

Klien kami menunjuk ke arah seseorang di seberang jalan. Pria kecil berambut pirang dan
berpakaian bagus itu sedang berjalan dengan terburu-buru. Dia memandang ke seorang bocah yang sedang menawar-nawarkan koran malam pada orang-orang di dalam taksi dan bus yang sedang lewat.

Dia lalu berlari menyeberangi jalan untuk membeli sebuah koran dari bocah itu, mengempitnya, dan menghilang lewat sebuah gang.

"Dia pergi ke sana!" teriak Hall Pycroft. 

"Dia masuk ke kantornya. Ayolah, dan akan saya atur sebaik mungkin."

Kami mengikutinya menaiki tangga setinggi lima lantai, sampai akhirnya tiba di depan pintu yang setengah terbuka. Klien kami lalu
mengetuk pintu itu. Sebuah suara mempersilakan kami masuk, dan kami
lalu melangkah ke sebuah ruangan yang sangat sederhana seperti yang sudah diceritakan oleh Hall Pycroft.

Pria yang tadi kami lihat di jalan raya, kini sedang duduk di belakang satu satunya meja di ruangan itu sambil membaca koran malam yang menutupi wajahnya. Ketika dia menoleh ke arah kami, dengan sangat jelas kami bisa melihat ekspresi wajahnya yang amat sedih—atau lebih tepatnya amat sangat ketakutan. .

Alisnya bersimbah peluh, pipinya pucat pasi bagaikan perut ikan, dan matanya melotot dengan beringas. Dia menatap pegawainya bagaikan menatap seseorang yang tak
dikenalnya. 

Dari keheranan yang ditunjukkan oleh klien
kami, kami jadi tahu bahwa biasanya dia tidak berpenampilan seperti ini.

"Anda nampaknya sedang tak enak badan, Mr. Pinner!" seru klien kami.

"Ya, saya sedang tak enak badan," 

jawab pria itu sambil berupaya keras untuk bersikap tenang. Dibasahinya kedua bibirnya dengan lidahnya, lalu dia berucap, 

"Siapa orang-orang yang Anda bawa ini?"

"Ini Mr. Harris dari Bermondsey, dan satunya Mr. Price dari Birmingham sini," jawab klien kami dengan lancar.

"Mereka adalah teman-teman saya yang sangat berpengalaman, tapi mereka sedang tak punya pekerjaan, dan mereka mengharap mungkin Anda bisa menerima mereka bekerja di perusahaan Anda ini."

"Mungkin saja! Mungkin saja!" teriak Mr. Pinner dengan senyum yang menakutkan. 

"Ya, saya yakin kami akan bisa mempekerjakan Anda berdua. Apa keterampilan khusus Anda, Mr. Harris?"

"Saya seorang akuntan," kata Holmes.

"Ah, ya, kami akan membutuhkan seseorang dengan keahlian semacam itu. Kalau Anda, Mr.
Price?"

"Pegawai biasa," kataku.

"Saya berjanji perusahaan ini akan bisa memberikan pekerjaan untuk Anda berdua. Saya akan mengabari Anda kalau sudah ada kepastian. 

Nah, sekarang, silakan meninggalkan ruangan ini. Demi Tuhan, biarkan saya sendiri!"

Dia mengucapkan kata-kata itu dengan berteriak keras, bagaikan ada sesuatu di dalam dirinya yang memberatkannya yang lalu terpental ke luar dan pecah berkeping-keping. 

Aku dan Holmes bertukar pandang, dan Hall Pycroft maju selangkah ke arah meja atasannya.

"Anda lupa, Mr. Pinner, bahwa saya kemari atas permintaan Anda, karena Anda ingin memberikan beberapa tugas untuk saya," katanya.

"Pasti, Mr. Pycroft, pasti," atasannya menjawab dengan agak tenang. 

"Kalau begitu, baiklah, Anda boleh menunggu sebentar di sini bersama teman-teman Anda. Saya cuma minta waktu tiga menit." 

Dia berdiri dengan sopan, dan sambil membungkukkan badan ke arah kami, dia menghilang di balik sebuah pintu di sudut ruangan itu, yang lalu ditutupnya dengan rapat.

"Apa-apaan ini?" bisik Holmes. 

"Apakah dia melarikan diri dari kita?"

"Tak mungkin," jawab Pycroft. 

"Mengapa demikian?"

"Pintu itu menuju sebuah ruang di dalam sana." 

"Tak ada jalan keluar?" 

"Tidak ada."

"Apakah ruangan itu penuh perabotan?"

"Kemarin masih kosong."

"Kalau begitu, sedang apa gerangan dia sekarang? Ada sesuatu yang tak saya pahami dalam hal ini. Kalau mau lihat bagaimana ekspresi seseorang yang sedang sangat ketakutan, ya si Pinner tadi itu. Apa yang membuatnya sampai begitu ketakutan?"

"Mungkin dia mengira kita ini detektif," saranku.

"Benar," ujar Pycroft.

Holmes menggeleng. 

"Wajahnya sudah pucat waktu kita masuk," katanya. 

"Mungkin..." 

Kata-kata temanku terpotong oleh bunyi ketukan dari arah pintu yang tadi dimasuki pria tadi.

"Kenapa dia mengetuk pintunya sendiri?" teriak Pycroft. 

Suara ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras. Kami bertiga menatap pintu yang tertutup itu dengan penuh rasa ingin tahu. Ketika aku menoleh ke arah Holmes, kulihat wajahnya menjadi kaku, dan dia lalu membungkukkan badannya ke depan untuk mendengarkan dengan lebih saksama. Yang
terdengar kemudian ialah suara seperti orang sedang berkumur dan suara orang memukul-mukulkan sesuatu pada dinding kayu dengan cepat. 

Holmes segera berlari dan mendorong pintu itu. Ternyata dikunci dari dalam. Kami berdua lalu mengikuti tingkah Holmes, dan membantu dengan sekuat tenaga dalam upayanya
mendobrak pintu itu. Setelah beberapa kali kami menubruk bersama-sama, akhirnya pintu itu pun terbukalah dengan paksa. Kami langsung menerobos masuk.

Ternyata ruangan itu kosong. Tapi cuma sejenak kami terkecoh. Di salah satu sudut yang berdekatan dengan ruangan yang baru saja kami tinggalkan, ada sebuah pintu. 

Holmes berlari dan membuka pintu itu. Tampak sebuah jas luar dan jas dalam tergeletak di lantai, dan di belakang pintu itu tergantung direktur umum Perusahaan Alat-alat Berat Franco-Midland,  dengan seutas tali yang dijeratkannya sendiri di lehernya. 

Lututnya terangkat ke atas, kepalanya terjuntai mengerikan, dan tumit sepatunya memukul-mukul pintu sehingga menimbulkan suara yang
tadi sempat memotong pembicaraan kami di ruangan luar. 

Dengan sigap aku mengangkatnya sementara
Holmes dan Pycroft membuka ikatan tali yang menyusup di lehernya. 

Kami lalu mengangkatnya ke kamar sebelah, dan membaringkannya. Wajahnya kebiru-biruan, kedua bibirnya yang berwarna ungu
terengah-engah dalam upayanya untuk menghirup dan mengembuskan napas—berbeda sekali dengan keadaannya lima menit yang lalu.

"Bagaimana pendapatmu tentang keadaan pria ini, Watson?" tanya Holmes.

Aku membungkuk dan memeriksanya. Denyut jantungnya lemah sekali dan terputus-putus, tapi napasnya makin lama makin panjang diikuti dengan kelopak matanya yang bergerak-gerak sehingga menampakkan sedikit bola matanya yang putih.

"Nyaris sekali dia tadi," kataku, 

"tapi kini sudah melewati masa kritis. Tolong buka jendela, dan bawa kemari botol berisi air itu." 

Kubuka kancing kerah kemejanya, lalu kutuangkan air dingin ke wajahnya. Kugerak-gerakkan lengannya naik-turun sampai dia bisa bernapas dengan normal kembali.

"Tunggu saja, nanti juga akan baik sendiri,"

kataku sambil berjalan meninggalkannya.
Holmes berdiri di dekat meja dengan kedua tangan di saku celana dan dagu menempel di dada.

"Kurasa kita sebaiknya memanggil polisi sekarang," katanya. 

"Hanya saja tak enak rasanya kalau belum semua faktanya terungkap."

"Masih merupakan misteri bagi saya," teriak Pycroft sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Untuk apa gerangan mereka menyuruh saya datang kemari, kemudian..."

"Puh, yang itu sudah cukup jelas," kata Holmes dengan tak sabar. 

"Tindakan bunuh dirinya ini yang masih saya pertanyakan."

"Jadi Anda sudah tahu semuanya kecuali itu?"

"Jelas sekali, kan? Bagaimana pendapatmu, Watson?"

Aku mengangkat bahu.

"Kuakui bahwa aku tak tahu apa-apa," kataku. 

"Ah, kau akan tahu kalau kau mempertimbangkan peristiwa-peristiwa sebelumnya, karena semuanya menuju ke sebuah kesimpulan."

"Bagaimana menurutmu sendiri?"

"Well, semua ini berakar pada dua hal. 

Pertama, ditulis dan ditandatanganinya sebuah surat oleh Pycroft yang menyatakan bahwa dia telah bekerja di perusahaan yang gila-gilaan ini. Itu kan gampang diduga kesimpulannya."

"Wah, aku tak berpikir sampai di situ."

"Well, untuk apa pria itu menyuruhnya berbuat demikian? Pasti bukan untuk kepentingan
pekerjaan yang ditawarkannya itu, karena biasanya cukup secara lisan saja, dan tak ada sedikit alasan pun bahwa dia membutuhkan pengecualian dalam hal itu. 

Tak sadarkah Anda, anak muda, bahwa dia
sangat membutuhkan tulisan tanganmu, dan itulah satu-satunya cara untuk mendapatkannya dengan mudah?"

"Tapi kenapa?"

"Begitulah. Kenapa? Kalau pertanyaan ini sudah terjawab, berarti kita sudah mengalami
kemajuan dengan masalah kecil yang kita hadapi ini. Kenapa? Hanya ada satu alasan, yaitu ada orang yang ingin meniru tulisan Anda dan dia harus mendapatkan contohnya terlebih dahulu. Dan hal kedua yang akan kita bicarakan sangat berkaitan erat dengan yang pertama tadi. 

Pinner bersikeras agar kau tak mengundurkan diri dari pekerjaan yang kau dapat di perusahaan Mawson itu. Dengan demikian
manajernya akan tetap mengharapkan kehadiran seseorang bernama Mr. Hall Pycroft, yang belum pernah ditemuinya, untuk mulai bekerja pada hari Senin pagi."

"Ya, Tuhan!" teriak klien kami. 

"Betapa butanya saya selama ini!"

"Sekarang Anda tahu tentang pentingnya tulisan tangan Anda itu. Seandainya saja seseorang menggantikan Anda, tapi tulisannya sama sekali lain dengan tulisan yang terdapat di surat lamaran Anda, tentu saja penipuannya akan langsung ketahuan Tapi karena dia telah berhasil meniru tulisan Anda, tentu saja kedudukannya cukup kuat, karena saya rasa tak seorang pun mengenal Anda di kantor
itu."

"Tak seorang pun," kata Hall Pycroft dengan mendongkol.

"Baiklah. Tentu saja penting sekali agar, jangan sampai Anda berubah pikiran, dan juga agar jangan sampai Anda berhubungan dengan seseorang yang mungkin akan menceritakan bahwa ada yang mengaku sebagai diri Anda dan sedang bekerja di kantor Mawson. Itulah sebabnya dia memberi uang
muka yang cukup banyak, supaya Anda langsung kabur ke perusahaan Midland, lalu Anda disibukkan dengan suatu tugas supaya Anda tak bisa kembali ke London. Cukup jelas, kan?"

"Tapi untuk apa orang ini menyamar sebagai saudara laki-lakinya sendiri?"

"Well, itu pun cukup jelas. Ada dua orang yang terlibat dalam penipuan ini. 
Satu yang menyamar sebagai diri Anda di kantor itu, dan satunya lagi orang yang mengunjungi Anda malam itu. Lalu, ternyata mereka masih butuh seorang lagi untuk berperan sebagai atasan Anda, padahal mereka tak ingin melibatkan orang lain. 

Maka Pinner lalu berperan ganda dengan melakukan penyamaran sebaik mungkin. Kemiripan kedua orang itu pasti akan menarik perhatian Anda, karenanya dia mengarang-ngarang cerita bahwa kedua orang itu bersaudara kandung. 

Seandainya Anda tak kebetulan melihat tambalan emas pada giginya itu, Anda pasti tak akan curiga."

Hall Pycroft mengguncang-guncangkan kedua
tangannya yang terkepal di udara. 

"Ya, Tuhan!" teriaknya. 

"Sementara saya ditipu mentah-mentah
sedemikian, apa saja yang dikerjakan oleh yang menyamar sebagai Hall Pycroft di kantor Mawson?

Apa yang harus kita lakukan, Mr. Holmes?
Katakanlah, apa yang harus saya perbuat"

"Kita harus mengirim telegram ke kantor Mawson."

"Mereka tutup pada jam dua belas kalau hari
Sabtu."

"Tak mengapa. Mungkin ada penjaga atau petugas di sana...."

"Ah, ya, ada satpam yang selalu menjaga kantor itu, karena banyak surat berharga di dalamnya. Saya ingat pernah mendengar hal itu."

"Baiklah, kita akan mengirim telegram kepada satpam itu untuk menanyakan apakah semuanya baik-baik saja dan apakah ada seorang pegawai baru bernama Hall Pycroft di sana. Sampai di sini semuanya sudah jelas, tapi yang menjadi pertanyaan ialah mengapa dia langsung keluar ruangan dan menggantung diri ketika melihat kehadiran kita."

"Koran itu!" 

terdengar suara serak dari belakang kami. Pria yang hampir mati karena gantung diri tadi kini sudah bisa duduk, tapi masih pucat dan mengerikan. Dari pandangan matanya kulihat
bahwa akal sehatnya sudah mulai pulih, dan kedua tangannya terus-menerus mengusap-usap sayatan berwarna merah yang masih membekas dengan jelas di lehernya.

"Koran itu! Tentu saja!" teriak Holmes dengan penuh gairah. 

"Betapa bodohnya aku ini! Aku terlalu banyak memikirkan kehadiran kita sampai tak mempertimbangkan peran koran itu sedikit pun. Rahasianya pastilah terletak di situ."

 Dia membentangkan koran itu di atas meja, lalu teriakan kemenangan terluncur dari mulutnya. 

"Coba lihat ini, Watson," teriaknya. 

"Ini harian Evening Standard dari London. Jelas sudah semuanya. Perhatikan pokok beritanya: 

'Kejahatan di City. Pembunuhan di Perusahaan Mawson & Williams. Percobaan Perampokan Besar-besaran. Pelakunya Berhasil Ditangkap.' 

Ini, Watson, kita semua pasti ingin mendengarnya, tolong kaubacakan yang keras."

Berita itu muncul pada bagian penting koran itu. Begini bunyinya:

"Sebuah percobaan perampokan berhasil digagalkan siang ini di City, walaupun ada seorang korban yang terbunuh. Pelaku kejahatan itu telah pula diringkus. Upaya perampokan itu terjadi di kantor perusahaan Mawson & Williams yang sudah sejak lama dikenal sebagai kantor bursa yang tersohor, dan juga tempat penyimpanan surat-surat berharga yang secara keseluruhan bernilai lebih dari satu juta pound. 

Pihak manajer kantor itu benar-benar sadar
akan tanggung jawab besar yang dipikulnya, sehingga dia telah memasang alat-alat pengaman yang paling mutakhir, ditambah dengan satpam bersenjata yang bertugas menjaga kantor itu siang dan malam. 

Minggu lalu, seorang pegawai baru bernama Hall Pycroft mulai bekerja di kantor itu. Orang ini ternyata Beddington, pencuri ulung yang sangat ahli dalam mendongkel pintu dan lemari besi, yang baru saja bebas dari hukuman kerja paksa selama lima tahun bersama saudara laki-lakinya. 

Dengan cara yang sangat lihai, yang sampai kini belum diketahui dengan jelas, dia berhasil diterima bekerja di kantor itu dengan memakai nama palsu. Selama berada di kantor itu, dia memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk meneliti kunci-kunci, yang lalu dibuatkan duplikatnya, dan juga melihat ruang-ruang mana
yang berisi lemari besi dan barang-barang berharga lainnya.

Pada hari Sabtu, kantor Mawson itu tutup pada tengah hari. Itulah sebabnya, Sersan Tuson dari kepolisian kota merasa agak terkejut ketika melihat seorang pria membawa tas besar
menuruni tangga kantor itu pada jam satu lewat dua puluh menit. Karena curiga, Pak Sersan lalu mengikuti pria itu, dan dengan bantuan seorang polisi lain bernama Pollock berhasil menangkap pria itu. 

Setelah pria itu ditangkap, langsung diketahui bahwa baru saja terjadi perampokan besar-besaran yang dilakukan dengan nekat. Kertas-kertas saham bernilai hampir seratus ribu pound dari perusahaan kereta api Amerika, plus saham-saham perusahaan pertambangan dan perusahaan-perusahaan lain ditemukan di dalam tas yang dibawa pria itu.

Ketika dilakukan pelacakan di tempat kejadian, ditemukan mayat satpam yang sedang bertugas
waktu itu, meringkuk dalam lemari besi yang paling besar. Kalau tak ada Sersan Tuson yang
bertindak cepat, pasti mayat itu baru akan ditemukan pada hari Senin.

Kepala satpam yang malang itu telah dipukul dengan benda berat dari arah belakang Tak diragukan lagi bahwa Beddington telah kembali ke kantor setelah jam kerja, pura-pura mau mengambil sesuatu yang ketinggalan. 

Setelah membunuh satpam, dia lalu membongkar lemari besi yang paling besar,
lalu keluar dari kantor itu dengan menenteng barang jarahannya. Saudara laki-lakinya, yang
biasanya berkomplot dengannya, tak terlihat batang hidungnya sejak perampokan ini
terbongkar, walaupun polisi telah berupaya keras untuk menemukannya."

"Well, kita bisa agak mengurangi kerepotan polisi dalam hal terakhir itu," 

kata Holmes sambil melirik pria kurus ceking
yang meringkuk di dekat jendela.. 

"Manusia itu aneh, Watson. Bahkan seorang penjahat dan pembunuh macam Beddington begitu mampu menimbulkan rasa kasih sayang di hati saudara laki-lakinya, sehingga dia
memilih bunuh diri ketika menyadari bahwa
nyawa saudaranya terancam. 

Tapi, kita tak bisa berbuat lain. Saya dan Pak Dokter akan berjaga di sini, Mr. Pycroft, silakan Anda memanggil polisi."





                           "SELESAI"

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...