Jumat, 30 April 2021

BEKISAR MERAH BAB 08

BAGIAN KETIGA 02



Dalam penelitiannya Kanjat juga menemukan, dengan harga yang selalu rendah sesungguhnya jerih payah para penyadap tidak punya nilai ekonomis bagi mereka sendiri. Apa yang mereka lakukan hanya layak disebut sebagai usaha terakhir mempertahankan hidup untuk diri sendiri, istri, dan anak-anak mereka. Sedangkan nilai ekonomis dan keuntungan perdagangan gula kelapa hanya dinikmati oleh tengkulak, pedagang besar, bandar di pasar-pasar kota, serta pedagang pengecer. 
 
 Keuntungan yang sama juga dipetik oleh industri makanan, obat-obatan, serta barang konsumsi lain yang menjadikan gula kelapa sebagai salah satu bahan dasarnya. Merekalah yang bersama-sama menciptakan mekanisme pasar dan pengaruh mereka terhadap naik-turunnya harga gula sangat besar, atau bahkan mutlak. 
 
 Kanjat selalu, selalu tercenung bila menyadari bahwa dengan demikian para penyadap yang hidup sengsara di sekelilingnya terbukti setiap hari memberikan subsidi nyata kepada mereka yang hidup lebih makmur atau sangat makmur. Para penyadap yang meletakkan nyawa di pucuk-pucuk pohon kelapa dan setiap saat terancam jatuh, nyata terbukti punya kontribusi besar untuk kemakmuran 
orang lain sementara perut sendiri sering kosong. 
 
 Mereka, para penyadap, yang terpaksa percaya bahwa kemiskinan adalah suratan sejarah, akhirnya hanya mampu menggantung harapan yang sangat sederhana; hendaknya keringat dan taruhan nyawa mereka bisa menjadi alat tukar untuk sekilo asin, sekilo beras plus garam. Namun harapan minimal ini 
pun lebih banyak hampa karena lebih sering terjadi harga sekilo gula lebih rendah daripada harga sekilo beras. Kanjat bahkan menemukan bukti, tidak jarang pada suatu masa harga satu kilo gula hanya bisa untuk membeli setengah kilo beras. 
 
 Karena penghasilan yang sangat rendah para penyadap mempunyai masalah berat tentang pengadaan kayu bakar, terutama pada musim hujan. Mereka tak mungkin mengurangi pendapatan mereka untuk membeli kayu bakar secara sah. Kalau harus diambil secara gelap dari hutan tutupan meskipun dengan risiko berurusan dengan mandor kehutanan, bahkan tidak sedikit yang harus merasakan penjara. Dengan kata lain, karena penerimaan yang tidak proporsional itu, para penyadap terpaksa membebankan faktor bahan bakar kepada daya tahan hutan pinus dan jati di sekitar mereka. 
 
 Sementara itu dengan perhitungan apa pun Kanjat mengerti bahwa nilai ekonomi gula kelapa, karena faktor biaya produksi dan risiko, sesungguhnya lebih tinggi daripada nilai ekonomi beras. Tetapi justru dari sisi ini Kanjat melihat ketidakadilan yang sangat nyata; apabila gabah mendapat perlindungan 
harga dengan adanya patokan harga eceran terendah, mengapa gula kelapa tidak? Karena ketiadaan perlindungan ini, tak ada jaminan penerimaan harga gula yang sepadan atau sekadar layak untuk para penyadap. 
 
 Dalam penelitiannya Kanjat menemukan, sesungguhnya pernah ada usaha untuk memperbaiki nasib para penyadap dengan pendirian koperasi-koperasi primer gula kelapa di desa seperti Karangsoga. Semua penyadap diminta membayar andil untuk menjadi anggota koperasi itu. Untuk beberapa bulan 
para penderes mendapat kemudahan memperoleh kain batik, sabun, beras murah, atau minyak tanah. Mereka bahkan mendapat janji mendapat perawatan gratis bila mendapat musibah jatuh dari ketinggian pohon kelapa. 
 
 Namun kepercayaan terhadap koperasi hanya bertahan sementara. Semua kemudahan terputus bahkan sebelum impas dengan nilai andil yang diberikan oleh para penyadap. Koperasi gula kelapa berubah wujud, menjadi pengesah bentuk perdagangan monopoli yang makin memberatkan para anggota. Harga 
gula makin jatuh karena jalur niaga makin panjang; koperasi tak bisa menjual gula yang terkumpul kecuali lewat para tauke yang secara tradisional memang menjadi penampung sekaligus menguasai distribusi dan pemasaran gula kelapa. Apalagi para pengurus koperasi, yang semuanya adalah priyayi-priyayi tingkat kampung, harus mendapat honorarium dan mencari untung. Maka koperasi gula pun ambruk karena tiadanya kepercayaan para anggota. Bahkan sebagai dampaknya, orang Karangsoga kehilangan kepercayaan terhadap segala bentuk yang bernama koperasi. 
 
 Semua kenyataan yang ditemukan Kanjat dalam penelitian mengangkat laten keprihatinan terhadap kehidupan para penyadap ke permukaan kesadarannya. 
Keprihatinan, bahkan keterpihakan. Dengan demikian Kanjat sesungguhnya menyadari penyusunan skripsi yang dilakukannya mempunyai kadar subjektiyitas, setidaknya pada tingkat motivasinya. Mungkin kelak ada orang berkata bahwa skripsi Kanjat lebih bermotif politis daripada ilmiah. Maka, 
karena merasa ragu suatu kali Kanjat minta pendapat Doktor Jirem, dosen pembimbing sebelum skripsinya diajukan ke depan dewan penguji. 
 
 "Lho, saya sudah membaca usulan skripsimu dan saya setuju. Kenapa kamu malah ragu?" tanya Pak Jirem. 
 
 "Saya khawatir akan ditertawakan orang." 
 
 "Apa?" 
 
 "Akan ada orang mengatakan keterpihakan yang muncul dalam skripsi saya nanti adalah sikap sok moralis. Sementara saya sadar sikap seperti itu, setidaknya untuk saat ini, dibilang orang tak ada sangkut pautnya dengan dunia 
ilmiah." 
 
 Pak Jirem tertawa sambil menepuk pundak Kanjat. 
 
 "Saya malah berpendapat sebaliknya. Keterpihakanmu kepada objek yang sedang kamu garap justru menambah bobot skripsimu. Ah, kamu tahu, saya adalah orang yang tidak percaya bahwa dunia ilmiah harus steril. Saya sudah bosan membaca skripsi-skripsi yang bisu dan mandul terhadap permasalahan nyata yang ada di sekeliling kita. Saya melihat skripsimu punya semangat 
keprihatinan terhadap masyarakat pinggir yang sekian lama tersisih. Maka kamu harus jalan terus!" 
 
 "Apakah nanti tidak akan dikatakan skripsi saya mirip slogan sosial? Bahkan politik?"

"Mungkin ya. Tetapi saya bilang jalan terus. Saya akan membelamu sekuat tenaga karena saya senang akan semangat yang ada di otakmu. Keterpihakanmu kepada masyarakat penyadap, saya kira, merupakan manifestasi perasaan utang budi dan terima kasihmu kepada mereka yang telah sekian lama memberikan subsidi kepadamu. Ini bukan sebuah dosa ilmiah. Jat, kamu tahu, sudah terlalu banyak kaum sarjana seperti kita yang telah kehilangan rasa terima kasih kepada 'ibu' yang membesarkan kita. Mungkin karena, ya itu, mereka seperti kamu, takut dibilang sok moralis. Mereka lebih suka memilih hanyut dalam arus kecenderungan pragmatis. Agaknya mereka lupa bahwa dari segi-segi tertentu pragmatisme menjadi benar-benar amoral. Jadi mereka jadi amoral karena takut dibilang moralis. 
 
 Maka banyak sarjana seperti kita lupa, atau pura-pura lupa bahwa misalnya, guru yang mendidik mereka dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi digaji oleh masyarakat; bahwa sarana pendidikan yang mereka pakai dari gedung sekolah sampai laboratorium juga dibiayai dengan pajak orang banyak. Mereka 
lupakan ini semua sehingga status yang mereka peroleh dari kesarjanaan mereka hampir tak punya fungsi sosial. Mereka seakan merasa bahwa status kesarjanaan yang mereka peroleh semata-mata merupakan prestasi pribadi dan karenanya hanya punya fungsi individual. 
 
 Jat, dengan demikian amat banyak sarjana seperti kita yang kehilangan keanggunan di mata masyarakat yang telah membesarkan kita. Mereka tak bisa berterima kasih dan membalas budi. Maka jangan heran bila masyarakat telah kehilangan banyak kepercayaan dan harapan atas diri orang-orang seperti kita." 
 
 Kanjat menggaruk-garuk kepala. 
 
 "Kamu pernah mendengar ungkapan orang bodoh makanan orang pandai?" 
 
 Kanjat makin menggaruk-garuk kepalanya. 
 
 "Asal kamu tahu, ungkapan itu adalah keluhan masyarakat luas yang merasa diri mereka bodoh. Juga asal kamu tahu yang mereka maksud dengan orang pandai, sedikit atau banyak adalah kaum sarjana seperti kita. Sekarang, andaikan ada orang bilang bahwa banyak sarjana makan 'ibu' mereka sendiri, 
bagaimana kita harus membantahnya? 
 
 "Nah, anak muda," sambung Doktor Jirem, "saya melihat dalam skripsimu semangat yang berlawanan dengan kecenderungan yang saya sebut tadi. Maka saya bilang, jalan terus. Bravo!" 
 
 Dan Doktor Jirem sekali lagi menepuk pundak Kanjat. 
 
 Boleh jadi Doktor Jirem sendiri tidak begitu peduli dengan tepukan yang dijatuhkan di pundak mahasiswanya itu. Namun lain bagi Kanjat. Tepukan lirih itu punya makna dalam dan melecut semangatnya. Keraguannya hilang. Pergulatan hati sekitar masalah subjektivitas skripsinya tak perlu diperpanjang. Celakanya pada saat yang sama Kanjat merasa jiwanya tiba-tiba terkepung dari 
segenap arah oleh rasa malu dan rasa bersalah: Bukankah kehidupan keluarganya termasuk dirinya sejak dulu dibiayai oleh keuntungan perdagangan gula kelapa yang diyakininya tidak adil itu? 
 
 Seperti menemukan sebuah granat yang siap meledak, Kanjat terkejut ketika menyadari dirinya sudah sejak semula menjadi bagian dari mereka yang diberi subsidi oleh para penyadap yang hidup miskin itu. Sindiran yang sangat tajam tiba-tiba menusuk jiwanya, menusuk kesadarannya, dan menggoyahkan 
martabat dirinya yang tak pernah bercita-cita menjalani hidup atas kerugian orang lain, apalagi atas mereka yang menderita. 
 
 Kanjat jadi lebih sering mengerutkan kening. Kesadaran bahwa biaya sekolahnya sejak tingkat dasar sampai tingkat tinggi juga berasal dari keuntungan perdagangan gula kelapa, tak mungkin ditepis. Kesadaran itu 
bahkan melebar ke segala arah. Dalam renungannya Kanjat sering melihat rumus-rumus kimia pada tatar-tatar batang kelapa, atau grafik-grafik pada pelepah nyiur yang digoyang angin. Vespa baru pemberian ayahnya juga sering terlihat sebagai timbangan gula sehingga Kanjat kadang malas mengendarainya.

Timbangan itu! Kanjat sangat menyadari perkakas metrologi yang terbuat dari kuningan itu adalah momok besar bagi para penyadap. Dan siapa yang mengendalikannya dibilang orang sahabat hantu yang suka makan cecek, yakni setrip-setrip batang timbangan. Satu setrip yang termakan adalah satu ons gula 
yang termanipulasi untuk keuntungan tetap seorang tengkulak. Dan Pak Tir, ayah kandung Kanjat, adalah salah seorang tengkulak itu. Kanjat menelan ludah. 
 
 Untuk menguringi tekanan rasa bersalah yang terus menindih hati Kanjat sering termenung sendiri di bawah pohon dalam kompleks kampusnya. Kanjat juga pernah mencoba membagi rasa bersalah dengan sesama mahasiswa: bukankah di antara sekian banyak mahasiswa yang tiap hari muncul di kampus 
sangat mungkin ada yang sama dengan dirinya? Dia mungkin anak pedagang yang mengambil keuntungan dari kelemahan mitra niaga seperti yang dilakukan Pak Tir, ayahnya sendiri. Atau, boleh jadi dia adalah anak pejabat yang rata-rata punya penghasilan jauh di atas jumlah gaji resmi. Mungkin juga dia adalah anak seorang pemborong bangunan sekolah desa yang ternyata hanya mampu tegak selama tiga tahun karena pemborong itu memanipulasi mutu dan volume bahan bangunan. 
 
 Apabila kemungkinan itu mengandung kebenaran, apakah mahasiswa tersebut juga punya rasa bersalah seperti dirinya? Atau sebaliknya: apakah pertanyaan seperti ini hanya pantas keluar dari mulut orang sinting sehingga tak perlu diajukan? Jawabnya sering terdengar sebagai keletak-keletik langkah kaki kuda penarik andong yang biasa lewat dekat kampus: datar dan terasa mengandung 
rahasia. 
 
 Meskipun demikian bagi Kanjat pribadi rasa berutang kepada masyarakat penyadap adalah sebuah kejujuran yang mungkin unik tetapi terus mengepung jiwa. Utang itu makin disadari mengalir sampai ke pembuluh darah yang terhalus dan terus berbisik minta diperhitungkan setidaknya secara moral. Kanjat merasa dirinya selalu diburu. 
 
 Pernah, untuk mencoba melawan perasaan itu Kanjat mencari pembenaran pada asas dunia perdagangan; bahwa keuntungan adalah tujuan pokok, maka hal-hal lain menjadi kurang atau tidak penting untuk dipertimbangkan. Dengan demikian sebagai tengkulak gula kelapa ayahnya tidak bisa dipersalahkan dan 
keuntungan yang didapat adalah sah danwajar. Ayahnya, Pak Tir, hanyalah ujung tangan sebuah jaringan yang bukan hanya perkasa, melainkan juga mampu menciptakan ketergantungan yang sangat niscaya sehingga para penyadap sendiri dipaksa membutuhkan mereka. Tanpa jaringan perdagangan yang tidak disukai itu kehidupan para penyadap bahkan akan lebih parah. Namun pembenaran seperti itu malah kian menyiksa Kanjat. Rasa bersalah, meski dia sadari sendiri sebagai naif yang nyata, terus mengurung jiwanya. 
 
 Dan ketika berada dalam kepungan tuntutan moral seperti itu Kanjat pulang ke Karangsoga. Anehnya, Kanjat sendiri tidak pasti untuk apa dia pulang. Boleh jadi karena Kanjat memang mempunyai libur beberapa hari. Mungkin juga demi uang saku yang sudah menipis atau demi emaknya yang selalu meminta Kanjat, si bungsu, tidak terlalu lama meninggalkannya. 
 
 Atau demi meredam kegelisahan yang kian hari terasa kian menekan. Namun sampai di Karangsoga kegelisahannya malah merebak. Begitu menginjak kampung, cerita pertama yang didengarnya adalah ihwal derita seorang istri penyadap, Lasi, yang sudah satu bulan minggat ke Jakarta. Pada awalnya Kanjat tak begitu terkesan oleh kabar seperti itu. Juga oleh cerita tentang kesontoloyoan Darsa yang menyebabkan Lasi kabur. Tetapi setelah mengendap sejenak Kanjat merasa ada sesuatu yang menggeliat dari khazanah masa 
lalunya. 
 
 Oh ya, Lasi! Boleh jadi tak seorang pun tahu bahwa nama itu pernah punya makna khas di hati Kanjat meski anak Pak Tir itu jarang kembali ke Karangsoga. Bahkan bagi Kanjat, nama itu tidak juga hilang setelah Lasi menjadi istri Darsa. Dalam kenangan Kanjat, Lasi adalah anak kelinci putih yang cantik dan dulu 
sering digoda oleh anak-anak lelaki. Kanjat kecil selalu ingin membelanya meskipun tak pernah berdaya. Lasi juga teman bermain petak umpet waktu malam terang bulan. Kanjat tak pernah lupa, bila hom-pim-pah tangan Lasi paling putih. Ketika harus bersembunyi bersama dalam permainan kucing-kucingan Kanjat kecil suka merapat ke tubuh Lasi yang lebih besar. Bau rambut Lasi tak pernah terlupakan. Dalam setiap permainan Kanjat merasa bahwa Lasi ingin bertindak sebagai kakak. "Jat, aku kan tidak punya adik," demikian sering dikatakannya. Dan Lasi senang mencubit lengan Kanjat yang gemuk. 
 
 Setelah masuk SMP Kanjat tidak lagi bermain bersama Lasi. Bahkan jarang bertemu karena Kanjat indekos di kota. Namun pada tiap kesempatan berada di rumah, Kanjat senang menunggu Lasi datang menjual gula emaknya. Kanjat puas bila sudah mengajak Lasi sekadar bercakap-cakap, atau malu-malu bertukar senyum. Dan lekuk di pipi kiri itu! Mengapa urusan kulit pipi yang sedikit terlipat itu punya daya tarik kuat dan Kanjat amat menyukainya? 
Apakah karena lesung di pipi Lasi selalu muncul bersama mata yang amat spesifik dan alis yang kuat? Atau karena rambutnya yang lurus dan amat legam? Kanjat tak pernah tahu jawabnya. Kanjat hanya mengerti sejak bocah bahwa Lasi lain. Lasi putih, matanya spesifik, dan lekuk pipinya sangat bagus. 
 
 Mungkin Kanjat ingin tetap akrab dengan Lasi ketika anak tengkulak itu mulai menginjak usia remaja. Sayang, Kanjat merasa Lasi mulai menghindarinya. Memang, di Karangsoga tidak ada gadis dan perjaka berani akrab di depan 
orang banyak. Namun Kanjat percaya bukan masalah itu yang menyebabkan Lasi menjauh. Dan jawaban yang jelas diperoleh Kanjat dari orang ketiga: Lasi malu berakrab-akrab dengan anak orang kaya sementara dia anak orang miskin. Apalagi setelah tamat SMA Kanjat memang lain; bongsor, gagah, terpelajar, dan dimanjakan Emak dengan sebuah sepeda motor. Pokoknya, Kanjat tak pantas lagi diaku sebagai adik oleh Lasi seperti ketika mereka masih kanak-kanak dan suka bermain petak umpet. 
 
 Dari luar tampak semua angan manis berakhir setelah Kanjat menjadi mahasiswa. Tetapi bagi Kanjat, Lasi adalah satu-satunya nama yang tetap mewakili kenangan indah masa bermain petak umpet di malam terang bulan. Anehnya, di sisi lain Kanjat merasa nama Lasi juga selalu mengingatkannya akan kehidupan pahit para tetangga d Karangsoga: para penyadap. 
 
 Meskipun jarang bertemu Lasi, Kanjat sering membayangkan kesulitan hidup para penyadap pada wajah teman lamanya itu, bahkan pada lesung pipinya. Bagi Kanjat, Lasi adalah selembar daun. Permukaan atasnya adalah kenangan indah masa kanak-kanak dan lesung pipi yang amat enak dipandang, permukaan 
sebaliknya adalah kehidupan pahit masyarakat penyadap. Keduanya sama-sama sering mengusik jiwa. 
 
 Tetapi sang daun lambang dunia penyadap itu tiba-tiba lenyap. Kanjat merasa ada sesuatu yang mendadak tanggal dan bergerak menjauh. Sesuatu yang selalu ingin sekadar dilihat bila Kanjat pulang libur, kini tak ada lagi di Karangsoga. Sekadar dilihat karena Kanjat tidak bisa berbuat apa-apa buat Lasi sebagai 
pribadi maupun sebagai wakil dunia pahit yang diwakilinya.

Karena ingin mengetahui lebih jelas berita tentang Lasi, Kanjat mendekati Pardi yang sedang mengutak-atik mesin truk di halaman. 
 
 "Ah, Juragan Muda, kapan pulang?" sambut Pardi. 
 
 "Tadi pagi. Ada yang rusak?" 
 
 "Tidak. Hanya saringan udara yang perlu dibersihkan. Saya bisa menanganinya sendiri." 
 
 "Selesaikan pekerjaanmu, nanti temui aku dekat kolam ikan belakang rumah." 
 
 "Wah, mau memberi hadiah kok pakai mencari tempat sepi." 
 
 "Hus!" 
 
 "Penting?" 
 
 "Kok nyinyir?" 
 
 Pardi pergi ke sumur untuk membersihkan tangan lalu berjalan melingkar ke belakang rumah. Kanjat sedang memberi makan ikan gurami dengan daun-daun keladi. Dan tanpa menghentikan tangannya, bahkan tanpa menoleh, pertanyaan pertamanya meluncur ringan.

"Kudengar Lasi ikut kamu ke Jakarta. Sudah berapa lama?" 
 
 Pardi tertegun, karena sama sekali tidak menyangka akan ditanyai soal Lasi oleh anak majikan. Tangannya tergagap mencari rokok dalam saku, menyalakannya, dan kepulan asap segera mengepung kepalanya. 
 
 "Kira-kira satu bulan, Mas." 
 
 "Tahu keadaannya sekarang?" 
 
 "Saya kan baru pulang kemarin malam dari Jakarta. Setelah membongkar muatan saya memang sengaja menemui Lasi untuk..." 
 
 "Nanti dulu! Di mana Lasi tinggal? Bersama siapa?" 
 
 "Mas Kanjat pernah ikut saya mengirim gula ke Jakarta, bukan?" 
 
 "Ya." 
 
 "Mas Kanjat ingat pernah saya ajak mampir makan di warung nasi Bu Koneng di daerah Klender?" 
 
 "Ya. Dan Lasi di sana? Lasi kamu taruh di tempat seperti itu?" tanya Kanjat dengan tekanan tinggi. Matanya serius.

"Kemauan Lasi sendiri, Mas. Saya dan Sapon sudah berusaha keras, bahkan memaksa Lasi ikut kembali pada hari yang sama kami datang di Jakarta. Tetapi Lasi bertahan. Malah kemarin saya pun menemuinya lagi untuk membujuk Lasi pulang. Mas Kanjat, dia bilang tak ingin kembali." 
 
 "Apa karena tahu suaminya sudah mengawaini Sipah?" 
 
 "Saya kira bukan. Lasi belum tahu dirinya dimadu. Kemarin saya ingin mengatakannya tetapi tak tega." 
 
 Kanjat diam. Tangannya meremas daun keladi yang masih tersisa dalam genggaman. Pandangannya jatuh ke permukaan kolam tetapi Kanjat tidak melihat ikan-ikan yang ramai berebut makanan. Jongkok menghadap kolam. Dan Kanjat tidak tahu perlahan-lahan Pardi menyingkir karena merasa anak majikannya tiba-tiba seperti terputus lidahnya. Pardi mengangkat pundak dan berlalu. Kanjat tetap memandang air kolam meskipun angannya terbang kembali ke masa kanak-kanak ketika bersama Lasi berlarian menyeberang titian pada malam musim kemarau yang berhias bulan. 
 
 
                                ***** 
 
 
 Sebuah Chevrolet berhenti di halaman warung nasi Bu Koneng. Bu Lanting turun, berjalan seperti bebek manila karena kelewat gemuk. Si Kacamata, sopir atau pacar Bu Lanting, menyusul di belakang. Bila Bu Lanting mungkin berusia di atas lima puluh, si Kacamata yang tak pernah melepas kacamata hitamnya mungkin dua puluh tahun lebih muda. Pasangan ini sering muncul di warung Bu Koneng dan kelihatan sangat akrab dengan pemiliknya. 
 
 "Maaf, aku baru bisa datang sekarang," ujar Bu Lanting ketika melihat Bu Koneng muncul di pintu. 

"Wah, sudah beberapa hari aku menunggu. Kukira kamu sudah tidak mau mendapat untung besar." 
 
 Mereka masuk ke ruang dalam. Si Kacamata menyambar bir dan minta gelas dengan es dan duduk di samping Bu Lanting. Si Betis Kering melayani pesanan Si Kacamata. 
 
 "Yang ini istimewa," kata Bu Koneng setelah menoleh kiri-kanan. "Kamu akan dapat untung besar. Tetapi kamu pun harus berjanji memberi bagian kepadaku dalam jumlah besar pula." 
 
 "Koneng, nanti dulu. Aku kamu minta datang kemari karena katamu, kamu punya barang. Katakan dulu barangmu; lampu antik, besi kuning, keris langka, atau..." 
 
 Bu Koneng tertawa latah. Dia lupa bahwa niaga Bu Lanting memang banyak, dari segala macam benda antik, batu berharga sampai keris dan jejimatan. Dan perempuan muda. Terakhir Bu Lanting giat menjalankan niaga istimewa untuk melayani pasar istimewa yang sangat terbatas di kalangan tinggi. Orang bilang pasar itu diilhami oleh masuknya seorang gadis geisha ke istana negara pada 
awal dasawarsa 60-an dan kemudian bahkan menjadi ibu negara beberapa tahun kemudian. 
 
 Kecantikan gadis Jepang itu, yang sering muncul mendampingi Pemimpin Besar dengan kain kebaya gaya Jawa, konon mampu membikin oleng hati banyak orang. Dan karena Pemimpin Besar adalah patron, dari kalangan yang sangat terbatas pula muncul beberapa pemimpin kecil mengikuti langkahnya, mencari istri baru dari Jepang atau yang mirip dengan itu, Cina. Apabila mereka tidak 
berhasil menjadikan gadis-gadis Jepang itu istri sah, apa salahnya sekadar gundik. Yang penting, meniru langkah Pemimpin Besar dijamin tidak mungkin keluar dari rel revolusi, suatu ungkapan dan slogan politis yang sangat dipopulerkan oleh Pemimpin Besar sendiri.

Bagi pemimpin yang lebih kecil lagi memperoleh seorang gadis Jepang bukan 
hal yang mudah. Namun hasrat untuk mengikuti langkah Pemimpin Besar sebagai bagian dari semangat revolusi yang jor-joran, habis-habisan, tidak bisa surut. Maka apabila pemimpin yang lebih kecil lagi merasa tak mungkin memperoleh gadis Jepang asli, apa salahnya mencari yang setengah asli. Dan 
mereka bukan tidak tahu bahwa banyak tentara Jepang meninggalkan keturunan di beberapa daerah, misalnya di Kuningan, Jawa Barat. 
 
 Maka pencarian gadis-gadis peninggalan tentara Jepang, dalam beberapa kasus tak peduli dia sudah bersuami, pun dimulai. Bidang usaha bagi para calo bertambah. Apabila sebelumnya mereka menjelajah pelosok daerah untuk mencari lampu kuno, jimat-jimat untuk menciptakan rasa aman bagi pejabat, 
politisi, atau tokoh masyarakat, kini mereka juga mencari gadis-gadis tinggalan tentara Nippon. Dan Bu Lanting adalah salah satu mata rantai niaga gadis semacam itu dan sudah beberapa kali berhasil memenuhi permintaan pasar. 
 
 "Ayahnya Jepang asli. Bukan Cina seperti yang kamu pernah kena tipu," sambung Bu Koneng. 
 
 "Oh, jadi barang yang kamu maksud seorang gadis keturunan Jepang?" 
 
 "Jangan keras-keras. Dia di dapur. Memang bukan gadis lagi. Tetapi kamu akan lihat sendiri. Dipoles sedikit saja dia akan tampak seperti gadis Jepang yang sebenarnya. Nah, tunggu sebentar, akan kusuruh dia membawa teh untuk kamu berdua." 
 
 Bu Koneng bangkit dan menghilang di balik gorden pintu. Terdengar dia menyuruh Lasi menyiapkan minuman dan makanan kecil dan kembali ke meja tamu. 
 
 "Sengaja aku belum apa-apakan dia. Sebab aku tidak perlu menyembunyikan sesuatu. Nanti kamu akan percaya betapa repot aku menolak laki-laki yang mau jajan dan menghendaki rambon Jepang itu. Mereka baru surut bila kukatakan bahwa dia bukan orang jajanan. Dia kuakui sebagai sepupuku dan punya suami seorang tentara." 
 
 Mungkin Bu Koneng masih ingin bicara lebih banyak. Tetapi Lasi muncul membawa nampan berisi tiga gelas teh dan piring berisi kue-kue. Bu Lanting memperhatikan Lasi dengan cara yang tidak kentara. Tetapi si Kacamata malah 
melepas kacamatanya, suatu hal yang jarang ia lakukan. Bu Koneng tersenyum karena melihat mata Bu Lanting berbinar. 
 
 Selesai meletakkan gelas dan piring, Lasi membalikkan badan. Tetapi Bu Lanting menghentikannya. 
 
 "Nanti dulu, Neng. Siapa namamu?" 
 
 "Lasi, Bu, Lasiyah," jawab Lasi malu-malu. Senyumnya, meski sedikit canggung, menampilkan ciri khasnya, lekuk manis di pipi kiri. Mata Bu Lanting tambah 
berbinar. 
 
 "Kamu senang tinggal di sini?" 
 
 Lasi tersenyum lagi. Pertanyaan Bu Lanting sulit dijawab. Tetapi Lasi tidak bisa lain kecuali berbasa-basi mengiyakannya. 
 
 "Betul. Kamu harus senang tinggal di kota. Secantik kamu tak pantas bergelut dengan lumpur sawah di desa. Pokoknya segala yang terbaik akan atau harus terkumpul di kota." 
 
 Dan Bu Lanting tersenyum dengan mimik seorang ibu kandung. Lasi pun tersenyum dengan lekuk pipi makin jelas. Si Kacamata nyengir sehingga giginya yang kuning kehitaman terbuka lebar. 
 
 "Boleh juga," ujar Bu Lanting setengah berbisik setelah Lasi berlalu. "Hebat juga kamu. Di mana kamu menemukannya?" 
 
 "Untuk mendapat seorang seperti dia, kamu pasti harus mengerahkan puluhan calo dan menunggu berbulan-bulan sebelum berhasil. Atau malah gagal. Tetapi aku mujur. Aku tidak mencarinya ke mana pun karena dia sendiri datang kepadaku," jawab Bu Koneng dengan senyum penuh kebanggaan. Kemudian segala cerita tentang Lasi meluncur lancar. Bu Lanting hanya mengangguk-angguk. Kegembiraan hati karena menemukan mata dagangan bagus 
disembunyikannya baik-baik. Perempuan gemuk itu khawatir antusias yang muncul ke permukaan bisa membuat Bu Koneng jual mahal. 
 
 "Ya. Lasi kini menjadi urusanku," kata Bu Lanting sambil membuka tas tangannya. "Tetapi aku titip dia di sini dulu sampai aku siap. Ini uang untuk kamu." 
 
 "Nanti dulu. Kali ini aku tak perlu uang." 
 
 "Tak perlu?" 
 
 Bu Koneng tersenyum penuh percaya diri. "Coba lihat cincinmu. Nah, itu aku suka." 
 
 "Kamu jangan bertingkah." 
 
 "Aku tidak main-main."




Bersambung.... 
______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...