Minggu, 02 Mei 2021

BEKISAR MERAH BAB 09

BAGIAN KETIGA 03


Bu Lanting tertegun. Kemudian dipandangnya cincin berlian di jari manisnya. 

"Koneng menghendaki cincin yang sangat mahal ini?" 
 
 "Berikanlah," tiba-tiba si Kacamata memberi perintah. Bu Lanting menegakkan kepala dan menatap si Kacamata. Tatapan protes. Anehnya Bu Lanting menurut. Cincin itu dilepas dan dengan gerak yang berat diulurkannya kepada Bu Koneng. Cahaya kemilau membersit dari mata cincin itu ketika Bu Koneng memasukkannya ke jari manisnya sendiri. Senyumnya merekah. 
 
 Bu Koneng mendekati Lasi di dapur setelah kedua tamunya pergi. Dipamerkannya cincin baru yang melingkar di jarinya. Wajahnya meriah seperti gadis kecil mendapat sepatu baru. 
 
 "Las, lihat ini. Bagus, ya?" 
 
 "Bagus sekali. Di kampung saya hanya istri lurah atau istri Pak Tir yang bisa punya cincin seperti itu." Lasi memandang dengan kagum. "Berapa harganya, Bu?" 
 
 "Kukira bisa ratusan ribu. Mungkin malah jutaan. Tetapi aku tidak membeli kok, Las. Bu Lanting memberikan ini kepadaku sebagai hadiah. Dia memang kaya dan baik." 
 
 Mata Lasi membulat. 
 
 "Ibu yang tadi?" 
 
 "Ya."

"Dia juga mau menyapa saya ya, Bu? Tentu dia baik?" 
 
 "Memang. Maka aku percaya besok atau lusa kamu pun akan mendapat hadiah dari dia. Atau mengajakmu jalan-jalan. Kukira, bagi Bu Lanting harta tak begitu penting. Keempat anaknya sudah mapan." 
 
 "Laki-laki di samping tadi anaknya juga?" 
 
 "Hus. Itu suaminya." 
 
 Lasi kaget. Rasa menyesal tergambar jelas pada wajahnya. 
 
 "Bu Lanting memang begitu. Dia selalu mendapat suami yang pantas jadi anaknya. Hebat ya, Las?" 
 
 "Selalu?" 
 
 "Ya. Bu Lanting memang sering ganti suami atau gandengan atau semacam itu 
dan selalu mendapat lelaki muda." 
 
 Lasi tersenyum. Dan terus tersenyum meski ia tahu induk semangnya sudah masuk ke kamar pribadinya. 
 
 Keesokan harinya pasangan Lanting dan si Kacamata muncul lagi di warung Bu Koneng. Selain menjinjing tas tangan kali ini Bu Lanting mengepit bungkusan di ketiaknya. Si Kacamata berjalan di belakangnya sambil mengunyah makanan.

Tangan kanannya memegang sebuah majalah. Mereka masuk tanpa menunggu si empunya warung keluar. Si Kacamata menyambar bir dan minta gelas dengan es. Bila kemarin si Betis Kering, kini si Anting Besar yang melayaninya. Mereka langsung duduk di ruang tengah dan berseru memanggil Bu Koneng. Yang dipanggil, masih di tempat tidur, langsung bangkit karena sangat mengenal si 
empunya suara. 
 
 "Sesiang ini masih ngorok?" 
 
 "Maaf, tadi malam ngobrol sampai larut bersama Lasi. Kamu juga salah, pagi-pagi sudah datang. Tak tahu warungku memang buka malam? Maka jangan datang kemari terlalu pagi." 
 
 "Pagi? Dasar pemalas. Jam sepuluh masih kau bilang pagi? Pantas, warung ini tak maju-maju karena pemiliknya doyan ngorok. Ah, sudahlah. Mana Lasi?" 
 
 "Pasti ada. Mau ke mana, karena dia tak pernah berani keluar seorang diri." 
 
 "Baguslah. Nah, aku ingin melihat Lasi tidak pakai kain kebaya. Cobalah suruh dia memakai baju ini." 
 
 Bu Koneng mengambil bungkusan yang disodorkan Bu Lanting dan membukanya. Isinya ternyata bukan hanya baju melainkan juga pakaian-pakaian dalam. Semuanya dari mutu yang bagus. 
 
 "Karena terlalu bagus, jangan-jangan Lasi malah tak mau memakainya." 
 
 "Ah, jangan terlalu merendahkan Lasi. Meski datang dari kampung, Lasi sama seperti kita, perempuan. Pernah mendengar perempuan menampik pakaian bagus?"

Lasi sedang mencuci perabotan dapur ketika Bu Koneng memanggilnya masuk. Cepat dikeringkannya kedua tangannya lalu bergegas memenuhi panggilan induk semangnya itu. 
 
 "Nah, benar, kan, Las, Bu Lanting memang baik? Kini giliran kamu mendapat hadiah. Cobalah pakai baju ini." 
 
 Sejenak Lasi terpana menatap baju yang disodorkan Bu Koneng. 
 
 "Bu, saya tak biasa memakai baju seperti itu. Saya biasa pakai kain kebaya." 
 
 "Bila kamu tinggal di kampung, kamu memang pantas pakai kain kebaya. Tetapi, Las, di sini Jakarta. Lihat sekelilingmu. Tak ada perempuan semuda kamu pakai kain kebaya, bukan?" 
 
 Lasi kelihatan ragu. Tetapi matanya berbinar ketika sekali lagi dia menatap baju bagus itu. Ragu-ragu. Dan akhirnya tangan Lasi bergerak. 
 
 "Sudahlah, jangan banyak pertimbangan. Sana, masuk dan ganti kain kebaya lusuh itu." 
 
 Lasi menurut dan tertawa ringan. Bu Koneng tersenyum. Dalam hati Bu Koneng memuji Bu Lanting; pernah kamu lihat perempuan menampik pakaian bagus? Tetapi dalam kamarnya yang sempit Lasi berdiri termangu. Baju baru yang hendak dipakainya masih terlipat di tangan. Lasi ragu karena mendadak 
teringat Emak pernah mengatakan, tak ada pemberian yang tidak menuntut imbalan. Ya. Lasi masih ingat betul emaknya beberapa kali menekankan, tak ada pemberian tanpa menuntut imbalan. Bahkan Emak waktu itu bilang, dia sendiri merasa berhak menuntut imbalan kepatuhan Lasi karena dia telah melahirkan dan menyusuinya. 
 
 Lasi sering menjumpai kebenaran ucapan Emak bahwa memang tak ada pemberian cuma-cuma. Dulu, Lasi tiap hari menerima uang dari Pak Tir karena tiap hari pula Lasi menyerahkan gula kepada tengkulak itu. Tak pernah terbayangkan Pak Tir mau memberikan uang kepadanya tanpa imbalan gula secukupnya. Lasi juga sering menerima sayur bening atau lodeh dari tetangga dan untuk itu pada lain waktu Lasi akan berbuat sebaliknya sebagai imbalan. Dan kata Eyang Mus, "Hanya pemberian Gusti Allah yang sepenuhnya cuma-cuma karena Gusti Allah alkiyamu binafsihi, tak memerlukan apa pun dari luar diri-Nya, bahkan puji-pujian dan pengakuan manusia sekalipun." 
 
 Lasi bertambah ragu. Dia percaya apa yang Emak bilang. Tetapi di tangannya kini ada baju pemberian Bu Lanting yang baru dikenalnya. Untuk kebaikan Bu Koneng yang telah memberinya tempat berteduh, Lasi sudah memberikan tenaga sebagai imbalan. Tetapi untuk orang yang telah memberinya baju yang 
kini ada di tangan, apa yang akan diserahkannya? 
 
 Tiba-tiba pintu terbuka, Bu Koneng masuk. Dan heran ketika mendapati Lasi berdiri beku dan belum berganti pakaian. 
 
 "Oh, kamu tidak bisa memakainya? Mari kubantu," ujarnya penuh semangat. 
 
 Lasi tergagap, tetapi menurut. Bu Koneng menggelengkan kepala, kagum ketika melihat dari balik kain kebaya yang usang muncul tubuh Lasi yang membuatnya iri. Kemudaannya memancar sangat mengesankan. Kulitnya yang putih makin putih setelah punggung Lasi sejenak terbuka. Rambutnya terlihat makin pekat karena tersaing oleh warna kulit yang begitu terang. Bagaimana nanti bila rambut itu sudah terkena shampoo? Bagaimana nanti bila Lasi sudah 
rajin menyikat gigi dan memakai cat bibir? 
 
 "Wah, pantas betul. Dasar baju bagus," ujar Bu Koneng. "Las, ayo keluar, biar Bu Lanting tahu bagaimana kamu sekarang."

Dibimbing Bu Koneng, Lasi melangkah keluar dengan canggung. Dan makin canggung setelah Lasi berada dalam jarak tatap Bu Lanting dan si Kacamata. 
 
 "Rasanya, rasanya, rok ini terlalu pendek," kata Lasi terbata dan salah tingkah. 
 
 "Ah, siapa bilang. Lagi pula betismu bagus, tak perlu ditutup-tutupi." 
 
 Bu Lanting tersenyum. Matanya menyapu sekujur tubuh Lasi. Sambil menyuruh Lasi duduk, Bu Lanting malah bangkit. Meminta sisir kepada Bu Koneng, perempuan tambun itu kemudian berdiri di belakang Lasi. Tangannya bergerak mengurai rambut Lasi yang tersanggul lalu menyisirnya pelan-pelan. Lasi kikuk tetapi senang karena merasa diakrabi demikian rupa, bahkan dimanjakan. Lasi 
menyukai bau parfum yang dipakai Bu Lanting. 
 
 "Las," kata Bu Lanting yang terus menyisir rambut Lasi. 
 
 "Ya, Bu." 
 
 "Koneng bilang, kamu lari ke sini untuk mencari ketenangan hati, bukan?" 
 
 "Ya." 
 
 "Apa kamu bisa tenang tinggal di warung yang penuh orang? Apa kamu senang tinggal bersama perempuan-perempuan jajanan? Lho, salah-salah kamu disangka orang sama seperti mereka."

Lasi diam, hanya menelan ludah dan menunduk. 
 
 "Las." 
 
 "Ya, Bu." 
 
 "Sebaiknya kamu tidak tinggal di sini. Kamu boleh ikut aku. Rumahku cukup besar dan ada kamar kosong. Bagaimana?" 
 
 Lasi termenung. Tiba-tiba Lasi teringat pada rumahnya sendiri di Karangsoga. Telinganya mendengar gelegak nira mendidih. Hidungnya mencium wangi tengguli yang hampir kental. Bayangan Darsa berkelebat. Jantung Lasi berdetak keras. Rasa marah dan muak menyesakkan dada. Dalam rongga matanya, Lasi melihat Mbok Wiryaji, emaknya, memanggil pulang. Mata Lasi basah. Lasi 
terisak. Bingung. Tinggal di warung Bu Koneng memang risi, kadang gerah. Pokoknya tidak enak tinggal seatap dengan si Anting Besar dan si Betis Kering. Mereka memajang diri di warung Bu Koneng lalu berangkat bersama lelaki yang membelinya. Malah Lasi mengerti, kadang-kadang mereka melayani lelaki di 
kamar belakang. Tetapi untuk menerima tawaran Bu Lanting, Lasi ragu. Lasi belum tahu siapa perempuan yang kini sedang menyisiri rambutnya itu. 
 
 "Lho, kok malah menangis. Aku tidak memaksa kamu, Las. Kalau kamu suka tinggal di kamar sempit dan sumpek di sini, ya terserah." 
 
 "Bukan begitu, Bu." 
 
 "Lalu?" 
 
 "Bagaimana nanti dengan Bu Koneng? Apa dia tidak keberatan? Nanti siapa yang membantunya masak dan cuci piring?"

"Aku? Jangan repot memikirkan aku. Bila kamu senang ikut Bu Lanting, ikutlah. Aku bisa cari orang lain untuk membantuku. Atau begini, Las. Kamu memang pantas ikut Bu Lanting. Percayalah. Kamu tidak layak tinggal di tempat ini. Kamu ingat ketika ada lelaki mau nakal kepadamu, bukan?" 
 
 Lasi mengangguk. 
 
 "Nah. Jadi terimalah tawaran Bu Lanting. Kamu akan senang tinggal bersama dia." 
 
 Lasi masih terdiam. 
 
 "Lho, bagaimana?" 
 
 "Bu Koneng, bila esok atau lusa Pardi datang kemari, bagaimana?" 
 
 "Itu gampang. Akan kukatakan kamu ikut Bu Lanting. Bila Pardi meminta, dia akan kuantar menemuimu. Itu gampang sekali." 
 
 Lasi menyeka air mata dengan punggung tangannya. Rambutnya selesai disisir dan tidak disanggul kembali. Rambut itu dilipat dua oleh Bu Lanting lalu diikat model ekor kuda. Bu Lanting tersenyum puas, tak peduli Lasi sendiri masih sibuk dengan air matanya. 
 
 "Nah, benar. Kamu memang cantik. Kamu akan dibilang orang mirip Haruko, eh, Haruko siapa?" kata Bu Lanting sambil menoleh kepada si Kacamata.

"Haruko Wanibuchi," jawab si Kacamata. 
 
 "Ya, betul, Haruko Wanibuchi. Hanya sayang, gigimu tak gingsul. Nah, kalau sudah cantik demikian, kamu masih mau tinggal di warung ini apa mau ikut aku?" 
 
 Sekali lagi Lasi tercenung. Ia ingin menggelengkan kepala tetapi tiba-tiba Lasi 
sadar dirinya sudah mengenakan baju bagus pemberian Bu Lanting. Karena alam pikirannya yang sahaja, Lasi merasa wajib memberi sesuatu karena dia telah menerima sesuatu. Dan sesuatu itu setidaknya berupa kesediaan 
menerima tawaran Bu Lanting. 
 
 "Las, aku ingin jawabanmu, lho." 
 
 "Ya, Bu. Saya mau ikut. Saya bisa cuci piring." 
 
 "Jangan pikirkan itu. Aku tahu yang kamu perlukan adalah ketenangan untuk melupakan sakit hati karena dikhianati suami. Pokoknya kamu ikut aku dan istirahatlah di rumahku. Tempat ini tidak baik buat kamu. Itu saja." 
 
 "Ya, Bu." 
 
 Dan air mata Lasi kembali meleleh. 
 
 
                           *****


Bu Lanting tidak bohong ketika dia bilang bahwa rumahnya besar. Juga tidak bohong tentang sebuah kamar kosong yang tersedia bagi Lasi. Kamar itu ada dan pada hari-hari pertama Lasi ikut menjadi penghuni rumah besar itu kecanggungan hampir membuatnya memutuskan kembali ke warung Bu Koneng. 
Kamar besar dan terang dengan dipan kayu jati dan kasur tebal membuat Lasi merasa sangat asing. Apalagi ada lemari, ada meja rias yang merupakan perabot yang buat kali pertama disediakan untuk dirinya. 
 
 Pada malam-malam pertama menghuni kamar itu Lasi tak bisa tidur. Ia teringat biliknya di kampung dengan balai-balai bambu, berpelupuh, beralas tikar pandan. Pelupuh bambu dan tikar telah begitu akrab dengan kulitnya sehingga kasur busa, meski sangat empuk, terasa kurang nyaman. Panas. 
Keterasingan juga sangat menggelisahkan Lasi. Dia merasa terdampar ke suatu dunia lain. 
 
 Karena sulit memejamkan mata seorang diri di tengah malam Lasi sering merenung dan bertanya tentang lakon yang sedang dialaminya. Mengapa Karangsoga, tanah kelahirannya, sejak Lasi masih bocah tak pernah ramah kepadanya? Apa kesalahannya sehingga rumah tangganya tiba-tiba berubah 
menjadi sepanas tungku dan Lasi tak mungkin bisa bertahan? Mengapa dia kini tinggal dalam sebuah rumah gedung bersama seorang yang bukan sanak, bukan pula saudara. Dan apa yang akan dilakukan selanjutnya di tempat yang asing ini? 
 
 "Nah, apa kubilang. Kamu sangat cantik, bukan? Kamu bukan anak kampung lagi. Dasar ayahmu Jepang, nah, kamu sekarang kelihatan aslinya, gadis Jepang yang cantik," kata Bu Lanting. 
 
 Lasi tertawa ringan. Matanya berkaca-kaca. Hatinya melambung, seperti dalam mimpi. 
 
 "Las."

"Ya, Bu." 
 
 "Enak lho, jadi orang cantik." 
 
 "Enak bagaimana, Bu?" 
 
 "Dengan modal kecantikan, perempuan muda seperti kamu bisa memperoleh apa saja." 
 
 "Saya tidak mengerti, Bu. Dan apa betul saya cantik?" 
 
 "Lho, lihat sendiri potret itu. Sekarang kamu jauh lebih pantas dibilang gadis Jepang daripada gadis... eh, mana kampungmu?" 
 
 "Karangsoga, Bu." 
 
 "Ya. Karangsoga. Dan sekarang aku mau tanya kepadamu, Las, bila kamu sudah begini, apakah kamu tak menyesal pernah menjadi istri seorang penyadap? Mending penyadap yang setia; suamimu malah berkhianat dan menyakitimu, bukan?" 
 
 Lasi mengangkat muka sejenak lalu menunduk. Senyumnya kaku, bahkan kemudian Lasi mendesah panjang. 
 
 "Las, maksudku begini. Karena masih muda dan menarik, bagaimana bila suatu saat kelak ada lelaki menginginkan kamu? Atau, apakah kamu masih ingin kembali kepada suamimu?" 
 
 Lasi cepat menggeleng. Dan air matanya cepat mengambang. 
 
 "Kamu betul. Buat apa kembali kepada suami yang brengsek. Kalau kamu tak ingin kembali, namanya kamu bisa menyayangi dirimu sendiri. Dan percayalah, kamu akan cepat mendapat suami baru. Siapa tahu suami yang baru nanti adalah lelaki kaya. Tidak aneh, Las, soalnya kamu layak punya suami berduit." 
 
 "Tetapi, Bu, saya tidak memikirkin masalah suami..." 
 
 "Ya, aku mengerti, mungkin hatimu masih gonjang-ganjing. Maksudku, entah kapan nanti kamu toh membutuhkan seorang pendamping. Iya, kan? Dan aku percaya, pendampingmu nanti bukan seorang penyadap. Kamu sudah menjadi terlalu cantik bagi setiap lelaki Karangsoga." 
 
 "Apa iya, Bu?" 
 
 "Betul." 
 
 Lasi sering tak percaya mengapa dirinya bisa kelihatan sangat berbeda. Bahkan dalam keadaan tanpa rias pun Lasi merasa dirinya sudah berubah. Mungkin karena sudah lebih dari dua bulan kulitnya tak terjerang api tungku pengolah nira. Jemarinya lembut karena tak lagi memegang-megang kapak pembelah 
kayu api. Selalu memakai alas kaki. Dan Bu Lanting sudah mengajarinya duduk di depan kaca rias sambil memoles-moles segala cairan dan bedak kecantikan. Bibirnya kadang menyala dengan warna merah. 
 
 Pada awalnya Lasi merasa malu dan canggung karena tak terbiasa dengan alat-alat kecantikan itu. Namun karena Bu Lanting terus mendorongnya, dan Lasi sendiri kemudian merasa senang karena jadi tambah ayu, Lasi melakukannya dengan sepenuh hati. Bahkan bersemangat. Atau sebenarnya Lasi terpacu oleh pertanyaan Bu Lanting, "Tidak menyesal pernah menjadi istri penyadap karena 
sesungguhnya kamu cantik?" 
 
 Menjadi istri penyadap bukan hanya berarti tiap hari terjerang panasnya api tungku dan bekerja sangat keras tetapi juga hidup miskin seumur-umur. Badan tak pernah dilekati baju yang baik, tak punya perhiasan apalagi alat 
kecantikan. Lasi teringat betapa berat mengolah nira pada waktu hari-hari hujan. Nira kurang bernas karena tercampur air dan kayu api lembap. Dalam pengalamannya jadi istri penderes beberapa kali Lasi terpaksa membakar pelupuh satu-satunya tempat tidur karena kehabisan kayu kering. Belum lagi, 
dalam cuaca yang banyak mendung, nira cepat berubah masam dan hasil pengolahannya adalah gula gemblung yang persis aspal, merah kehitaman dan tak laku dijual. Bila hal demikian yang terjadi berarti tak ada uang belanja karena bukan hanya Lasi, hampir semua keluarga penyadap tak pernah mampu 
menyimpan uang cadangan. 
 
 Meskipun demikian mungkin Lasi tidak akan pernah menyesal menjadi istri penyadap karena segala kekurangan itu adalah hal biasa bagi semua perempuan sesamanya. Tetapi Lasi merasa semua harus dipertanyakan kembali karena Darsa sontoloyo. Atau bila Lasi tidak telanjur merasakan enaknya tinggal 
bersama Bu Lanting. Lasi tak pernah keluar keringat tetapi segala kebutuhan tercukupi: baju-baju bagus, anting, jam tangan, bahkan sepatu yang dulu tak pernah terbayang akan dimilikinya. Sangat jauh berbeda dengan pengalaman menjadi istri penyadap. Dulu, hanya untuk membeli selembar kain batik 
kodian, Lasi harus menabung sampai berbulan-bulan. Hal itu bahkan tak bisa dilakukan tanpa mengurangi jatah makan. Atau, untuk memiliki dua gram cincin emas 18 karat Lasi hanya mengalaminya dalam mimpi. 
 
 Tetapi aneh, Lasi masih sering bertanya dalam hati; orang kok bisa sebaik Bu Lanting? Apakah karena dia, seperti pernah dikatakannya, sudah menganggap Lasi sebagai anak sendiri? Mungkin Bu Lanting pernah bilang dirinya kesepian karena kelima anaknya memisahkan diri dan tak pernah datang lagi. Bu Lanting 
bilang terus terang, anak-anak itu marah karena hubungan ibu mereka dengan si Kacamata. Ya, si Kacamata itu. Sejak kali pertama melihatnya Lasi pun sudah tidak menyukainya. Takut. Untung, ternyata si Kacamata tidak tinggal di rumah itu. Jadi berar kata Bu Koneng dulu bahwa si Kacamata itu sopir atau pacar atau suami Bu Lanting. Tidak jelas.

Atau, seperti juga pernah dikatakan sendiri, Bu Lanting ingin menolong Lasi mencarikan ayahnya atau paling tidak keluarganya. Bu Lanting bilang punya beberapa teman bekas tentara Jepang yang kini memimpin pabrik-pabrik besar di Jakarta. "Orang Jepang rapi. Mereka mungkin punya catatan tentang teman-
teman mereka yang hilang dalam perang. Dari catatan itu bisa dicari keluarganya di Jepang. Las, kamu punya kemungkinan bertemu dengan keluarga ayahmu." 
 
 Cerita tentang kennungkinan bertemu ayahnya adalah mimpi yang selalu mendebarkan dada Lasi. Mimpi itu muncul dari tumpukan ketidakpastian masa lalu yang mengurung Lasi sejak kanak-kanak. Tetapi mungkinkah mimpi itu berubah menjadi kenyataan? Lasi bertemu ayah kandung atau paling tidak keluarganya? Lasi sering bilang dalam hati bahwa hal itu hampir tak mungkin. Namun sering juga keyakinannya berubah. Bila Gusti Allah berkehendak, apa pun bisa terjadi. Dan bila mengingat kemungkinan bertemu ayahnya selalu membuat Lasi berdebar. Bahkan takut. Atau, ketika Lasi duduk di depan kaca rias, secara tak sadar dia sedang mematut diri agar cukup pantas bila nanti bertemu ayah kandungnya. 
 
 Anehnya, sesering berkhayal bertemu dengan ayahnya, sesering itu pula Lasi teringat emaknya, teringat rumahnya di Karangsoga. Di tengah musim hujan seperti ini, pikir Lasi, orang Karangsoga biasa sedang panen padi darat. Sebelumnya, panen jagung. Lasi ingin meniup serunai, duduk di bawah logondang yang rimbun di pinggir Kalirong. Lasi mencium bau batang padi darat ketika angin bertiup. Telinganya mendengar suara lengking gadis-gadis Karangsoga mengusir punai yang nebah padi. Matanya melihat hamparan padi darat menguning menutup tegalan yang bertepi deretan pohon kelapa yang disadap. 
 
 Lasi bahkan melihat dirinya sendiri berjalan sepanjang lorong sempit yang membelah tegalan. Ada rumpun kecipir dengan bunganya yang biru sedang dirubung kumbang. Tangan Lasi menyibak-nyibak rumpun padi yang 
melengkung melintang lorong. Punggung telapak kakinya basah oleh embun yang tersisa meski matahari sudah cukup tinggi. Betisnya perih tergesek daun padi. Ada belalang kayu terbang dengan sayap arinya berwarna merah tua. Ada kinjeng tangis, semacam riang-riang kecil yang terus berdenging. Kicau burung 
ciplak yang terbang berputar-putar di atas hamparan padi. Gemercik air bening Kalirong yang mengalir timbul dan menyusup di sela bebatuan. Dan Lasi terkejut ketika melihat seekor lebah terbang tepat ke arah wajahnya. 
 
 Lasi tersadar. Potret di tangannya jatuh. Menengok kiri-kanan, dan Bu Lanting tak kelihatan lagi. Lasi membungkuk untuk memungut potretnya. Duduk lagi dan matanya menatap tembok putih. Tetapi tiba-tiba tembok itu menjadi layar dan di sana muncul rumahnya yang hampa dan sunyi di Karangsoga. Dari rumah yang kecil itu bermunculan semua orang Karangsoga. Darsa dan Sipah berada di 
antara mereka. Orang-orang itu berbanjar di halaman lalu bersama-sama menjulurkan lidah masing-masing ke arah Lasi. Cepat Lasi memejamkan mata, mengubah dirinya menjadi kepiting raksasa, dan menjepit putus leher semua orang Karangsoga. 
 
 "Las..." suara Bu Lanting mengejutkan Lasi. 
 
 "Ya, Bu," Lasi tergagap. 
 
 "Ambilkan penyemprot obat serangga. Mawarku dirubung semut."




Bersambung... 
______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...