Sabtu, 03 April 2021

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 09

BAGIAN KEDUA 05




“Belum tidur, Kang?”

“Belum. Mataku sulit terpejam.”

“Ada yang kamu pikirkan, Kang?”

“Ya. Kandunganmu. Sebentar lagi bayimu lahir. Tetapi di mana?”

Umi diam. Lalu bangkit dan duduk di sebelahku. Dalam cahaya remang kulihat wajah Umi bimbang.

“Aku mau melahirkan di mana saja, asal kamu ada di dekatku.”

Umi terisak. Hatiku makin pepat karena aku merasa tak mudah mengabulkan permintaan Umi, betapapun permintaan itu sangat wajar. Dan aku makin bimbang ketika Umi meneruskan kata-katanya.

“Kang?”

“Ya?”

“Aku ingin ikut kamu. Di sini tak enak karena aku sendiri. Aku ikut kamu. Boleh, kan?”

Seperti ada jerat yang tiba-tiba melingkari leherku, aku tak bisa bilang apa-apa.

“Kang,” ulang Umi. “Aku ikut kamu. Boleh, kan?”

“Um, sebentar lagi kamu melahirkan, bukan?”

Umi mengangguk.

“Bila kamu ikut ke hutan, kamu akan mendapat lebih banyak kesulitan. Di sana tak ada orang perempuan, air pun tak mudah didapat seperti di sini. Jadi kamu jangan melahirkan di tempat seperti itu.”

“Tetapi di mana, Kang?”

“Sebaiknya di sini.”

“Jadi kamu mau menunggu aku di sini?”

“Tidak. Aku harus kembali ke hutan secepatnya.”

“Jangan, Kang. Aku takut melahirkan seorang diri. Atau aku ikut kamu, Kang. Ikut!”

Umi terisak lagi. Aku khawatir suara tangisnya terdengar dari luar. Kubujuk dia agar mau diam. Tapi tangis Umi malah makin menjadi-jadi. Ya, akhirnya aku merasa tangis Umi adalah tagihan yang tak bisa kuhindari lagi dan harus kuturuti. Dengan hati berat karena aku sadar akan risikonya, permintaan Umi kukabulkan. Pagi-pagi sekali sesudah berpamitan kepada para kerabat, aku dan Umi berangkat. Umi menggendong bungkusan pakaiannya yang tak seberapa. Aku menenteng cerek berisi air dan kantong berisi sedikit perbekalan.

Aku sudah menduga, Kiram dan Jun tidak akan senang menerima Umi ikut tinggal dalam pos rahasia itu, tetapi keduanya ternyata tak juga sampai hati mengusir Umi. Masalahnya, aku 
sendiri yang harus mencari jalan tengah. Maka aku mencari tempat lain dekat pos itu. Ada sebuah ceruk pada dinding jurang dekat sumber air yang bisa kujadikan tempat tinggal. Kubersihkan sampahnya. Kubersihkan ramat laba-laba yang menutup mulut ceruk. Sedangkan akar-akar jati yang menggantung kubiarkan pada tempatnya karena bisa kumanfaatkan sebagai tiang penyangga.

Dan, ya Tuhan, di ceruk tebing jurang itulah aku dan Umi tinggal. Lalu, di situ pulakah anak kami akan lahir? Ah, betapa berat aku membayangkannya. Untunglah Umi tak pernah 
mengeluh. Ia bisa tidur nyenyak di atas kasur rumput kering yang kulapisi sehelai kain. Siang hari Umi boleh tinggal di pos untuk menanak nasi dan menyiapkan minuman kami. Dan tak 
kuduga sebelumnya, Kiram dan Jun berubah sikap. Mereka bisa ramah dan santun terhadap istriku. Malah boleh kubilang, mereka pun menyayangi Umi. Mungkin karena kasihan melihat perutnya yang makin besar, sementara suasana di tempat kami serbadarurat dan menyedihkan. Mungkin juga sikap mereka 
terhadap Umi benar-benar tulus. Buktinya, suatu hari Kiram menyerahkan setandan pisang yang telah masak, entah dari mana, kepadaku dengan pesan bahwa itu buat Umi. Lain kali Jun, yang sangat pintar berburu dengan katapelnya, membawa tiga ekor burung balam, juga buat Umi.

Memang aneh, kedatangan Umi yang semula kuduga akan membawa kerepotan, ternyata lain akibatnya. Aku, dan kukira juga Kiram dan Jun, seakan mendapat suasana baru karena 
adanya seorang perempuan di antara kami. Kami merasa tinggal dalam sebuah rumah yang lengkap dengan keteduhan hati 
seorang ibu rumah tangga. Tetapi entahlah, baru sebulan Umi bergabung, datang cobaan yang demikian dahsyat. Ada operasi massal. Aparat keamanan, dengan mengerahkan ratusan penduduk kampung, menyisir hutan jati Cigobang untuk menangkap kami. Beruntung Jun, yang sedang berburu balam, melihat gelagat mereka dan lari memberitahu kami.

“Mereka membentuk lingkaran dan bersama-sama bergerak naik dari kaki bukit. Kita terkepung,” ujar Jun yang sudah siap dengan semua senjatanya.

“Bersiaplah. Kita akan melawan atau syahid di sini,” jawab Kiram. “Mid, sembunyikan Umi di tempatmu.”

“Percuma melawan. Mereka banyak sekali!” kata Jun. “Kita tinggalkan tempat ini dan cari tempat bersembunyi.”

“Bersembunyi?”

“Ya.”

“Di mana?"

“Di tempat Umi. Di sana kita punya kemungkinan selamat. Atau bila harus syahid, syahidlah kita bersama di sana.”

Oleh keteguhan Jun, Kiram menurut. Kami keluar dari pos rahasia, turun ke dasar jurang, lalu merayap-rayap di bawah kerimbunan pakis-pakisan. Pastilah langkah kami tak meninggalkan jejak apa pun karena dasar jurang adalah sebuah sungai kecil. Ya Tuhan, aku terpaksa memapah Umi yang gemetar 
dan pucat pasi. Sampai ke ceruk yang selama ini menjadi tempat tinggalku dan Umi, kami siap menanti apa yang akan terjadi. Rasanya, kami sudah melihat kubur kami sendiri dalam 
ceruk ini. Karena tempat yang sempit, Umi bersembunyi di balik punggungku. Ya, rasanya ajal sudah dekat. Namun demikian, tiga pucuk senjata yang ada pada kami pasti akan meminta korban lebih dulu sebelum kami benar-benar lumpuh.

Operasi massal makin mendekat. Dalam gerakan bersama menyisir menuju puncak bukit, pasti mereka akan melewati kami. Kami sudah bisa mendengar kentongan-kentongan yang mereka pukul. Kemudian teriakan-teriakan yang amat sangat menghina kami. Dan letusan-letusan peluru.

Kurasakan Umi menggigil di punggungku. Mungkin juga dia terkencing. Lalu, aku melihat sesuatu bergerak ke balik semak di tebing jurang. Aku, Jun, dan Kiram serentak mengarahkan senjata masing-masing ke sana. Begitu kami yakin bahwa yang bergerak itu adalah manusia yang sudah mengetahui 
tempat persembunyian kami, pastilah dia akan mati lebih dahulu. Tetapi, ya Tuhan, yang kemudian muncul adalah kepala si Tutul. Macan yang tak begitu besar itu rupanya terusik dari tempatnya oleh kegiatan operasi massal itu lalu menyingkir untuk bersembunyi.

Apabila ada dongeng tentang persahabatan antara seekor binatang buas dan manusia, kami benar-benar merasakannya dalam pengalaman nyata. Si Tutul mendekat dan terus mendekat, dan baru berhenti hanya beberapa meter di depan kami. Si Tutul merapatkan badannya di balik akar-akaran yang menggantung, seperti sedang minta perlindungan kepada kami. Aku, Jun, dan Kiram sudah biasa melihat si Tutul. Tetapi Umi 
amat sangat ketakutan. Tangannya yang merangkul perutku terasa dingin. Dia menggigil hebat. Lalu lemas, lemas, dan terpuruk.

“Mid,” bisik Jun dari samping. “Umi pingsan.”
Aku menoleh ke belakang. Jun benar, Umi pingsan. Aku merebahkannya. Sementara hiruk-pikuk operasi massal makin dekat, makin dekat.

“Biarkan dia pingsan. Itu lebih baik,” bisik Kiram. “Tutupi dia dengan dedaunan. Siapa tahu kita harus meninggalkan dia di sini.”

Aku menurut. Dengan perasaan remuk kutimbuni tubuh Umi dengan rumput kering yang biasa kami pakai sebagai kasur. Lalu aku kembali bersiaga, memasang senjata ke arah dari mana para pencari mungkin datang. Teriakan makin hiruk-pikuk dan makin mendekat. Mereka seakan sedang mencari 
binatang buruan yang terkurung. Dan sorak-sorai makin seru setelah seseorang berteriak karena menemukan pos rahasia kami yang tak seberapa jauh dari persembunyian kami.

Kami mendengar seseorang, mungkin salah satu komandan operasi massal, meminta semua orang waspada. Dari tempat 
persembunyian kami yang hanya berjarak kira-kira tiga puluh meter dari pos rahasia itu, kami melihat dua OPR bertindak. Mereka masuk setelah memberondongkan senjata mereka ke 
dalam pos yang telah kami kosongkan itu. Mereka mengobrak-abrik peralatan masak kami yang tak seberapa jumlahnya.

Sepi sejenak. Mungkin mereka sedang berunding karena tidak berhasil menemukan kami di pos itu dan mengira kami telah melarikan diri. Kudengar mereka sepakat melanjutkan operasi, menyisir hutan sampai ke puncak bukit. Namun sebelum bergerak, mereka memberondong jurang-jurang di seki-
tar pos kami. Orang-orang kampung pengikut gerakan operasi melemparkan kayu dan batu ke arah semak dan jurang. Kami merasa yakin semua itu mereka lakukan untuk memperoleh 
kepastian bahwa kami tak berada di tempat itu. Mereka tidak tahu bahwa saat itu kami berada hanya beberapa meter di bawah kaki mereka, dalam ceruk yang tertutup belukar dan pakis-pakisan. Namun mungkin segalanya bisa berkembang lain kalau bukan karena si Tutul. Ketika sebuah batu yang dilemparkan orang jatuh hampir mengenai tubuhnya, macan itu terkejut. Ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil menggeram. Akibat ulah si Tutul sangat di luar dugaanku. Puluhan orang, yang secara tak sadar telah mengurung 
kami, langsung bubar dan lari tunggang-langgang. Kukira perburuan telah berubah, bukan lagi laskar DI yang mereka kejar, 
melainkan si Tutul. Ah, tetapi aku yakin, temanku yang tutul itu sangat pandai melarikan diri. Apalagi para pengejar, yang 
bersenjata api sekalipun, sesungguhnya takut kepada macan.

Operasi massal telah bergerak menjauh atau malah kocar-kacir gara-gara si Tutul. Aku segera mengurus Umi, membuka lapisan rumput kering yang menimbuni sekujur tubuhnya. Ya Tuhan, dia masih pingsan. Untung, denyut jantung Umi masih terasa. Namun aku sangat cemas, khawatir bisa terjadi sesuatu dengan kandungan Umi. Aku meniup-niup lubang telinganya. Kiram memijit jempol kakinya keras-keras. Lalu tubuh Umi 
tersentak. Dan perlahan-lahan Umi membuka matanya.

“M-m-m-m-macan!” gumam Umi seperti mengigau. Wajahnya kembali menyiratkan rasa takut yang amat sangat.

“Ssss, macan sudah pergi, tenanglah,” aku berbisik.

“Macan! Ada macan!”

“Sss, jangan keras-keras. Dan tenanglah, macan tak ada lagi. Sudah pergi.”

Umi masih menggigil ketakutan dan wajahnya tetap pasi. Namun suasana yang mereda, bahkan Kiram yang sudah tersenyum, lambat laun bisa menenangkan Umi. Aku ingin memberinya minum. Tetapi tak ada air. Maka aku turun ke dasar jurang dan mengambil setangguk air dengan sehelai daun ke-
ladi.

Lepas dari bahaya operasi massal, kami masih harus menghadapi kesulitan beruntun. Kami harus mencari tempat yang baru karena pos rahasia yang selama ini menjadi pangkalan 
kami telah diketahui orang. Ah, tapi kami sudah sangat terbiasa dengan hutan dan belukar sehingga tempat persembunyian 
baru tak menjadi kesulitan benar. Yang benar-benar merepotkan adalah kandungan Umi. Ini bulan kesembilan kehamilannya dan ia bersikeras ingin melahirkan dalam penjagaanku. Bujukanku agar ia mau melahirkan di rumah kerabatnya di Dayeuh Luhur tak dihiraukannya.

Maka datanglah malam itu. Umi merasa mau melahirkan. Aku, Kiram, dan Jun menjadi sibuk. Jun menjerang air di perapian. Kiram mondar-mandir, dan seperti aku, dia kelihatan sangat cemas. Kemudian kulihat Kiram berbisik-bisik dengan Jun.

“Mid, kamu jaga istrimu,” kata Kiram. “Aku dan Jun mau masuk kampung.”

“Aku harus menjaga Umi seorang diri? Kalian mau ke mana?” aku bertanya dengan gugup.

“Cari dukun bayi. Mudah-mudahan berhasil dan tidak terlambat.”

“Tetapi apa kalian tega membiarkan aku menjaga Umi seorang diri?”

“Jangan bodoh kamu! Karena kami tak tega, kami harus pergi untuk mencari dukun bayi. Jun, ayo berangkat.”

Ya Tuhan. Aku hanya berdua dengan Umi yang terbaring gelisah di atas balai-balai darurat, pada sebuah gubuk yang tersembunyi dalam kerimbunan belukar. Untung kami masih punya sebuah pelita kecil yang mampu memberi penerangan ala kadarnya. Oh, malam yang terasa demikian memanggang perasaan. Aku sudah mencoba bersikap tenang. Apa boleh 
buat, aku harus siap melayani kelahiran bayi Umi seorang diri. Kalaulah ada sesuatu yang agak membesarkan hati, itulah sikap Umi. Ia kelihatan tabah. Ia menggigit bibir ketika perut-
nya terasa melilit.

Pukul dua belas malam suasana menjadi lebih tenang. Umi minta minum. Dan lagi-lagi aku harus berterima kasih kepada Kiram yang kemarin membawa seruas bambu berisi madu lebah. Beberapa tetes madu kucampurkan ke dalam minuman Umi. Selesai minum, ketegangan di wajah Umi mereda. Ia malah menyuruhku tidur.

“Tidur?”

“Ya. Kamu sudah terlalu lelah,” kata Umi.

“Aku tidak ngantuk.”

“Kalau begitu, aku yang mau tidur. Perutku berhenti melilit.”

Aku lega. Rasanya aku mendapat hadiah yang sangat berharga berupa peluang menanti sampai Kiram dan Jun datang membawa dukun bayi. Ah, tetapi tentang dukun bayi ini aku harus mengenang pengalaman pahit masa lalu.

Dulu, ketika gerakan DI masih kuat, banyak sekali laskar yang membawa istri mereka ke hutan. Dengan demikian dulu pun sudah ada masalah kesulitan dukun bayi ketika salah se-
orang istri laskar hendak melahirkan. Dan kami tahu cara memperoleh paraji itu. Kami mengambil dengan cara paksa perempuan itu dari kampung terdekat dan membawanya ke 
hutan. Kepada sanak familinya kami katakan bahwa dukun bayi itu kami pinjam sebentar dan akan kami kembalikan segera setelah pekerjaannya selesai. Segalanya akan aman apabila sanak familinya tidak melaporkan kedatangan kami kepada aparat keamanan. Biasanya, orang kampung memang diam karena mereka khawatir akan keselamatan dukun bayi yang kami bawa ke hutan. Untuk sampai ke hutan, juga untuk kembali, paraji tak perlu berjalan sendiri. Kami memasukkan dia ke karung dalam posisi duduk, lalu dua orang memikulnya. Dengan cara demikian perjalanan bisa cepat. Lagi pula, paraji yang terkurung dalam karung tak dapat melihat jalur jalan yang kami tempuh. Dengan demikian, sampai kembali ke rumahnya setelah mengurus istri laskar yang melahirkan, paraji itu tidak tahu tempat persembunyian kami di dalam hutan.

Tentulah Kiram dan Jun akan mengambil dukun bayi dengan cara seperti yang pernah kami lakukan. Demi Umi, aku bisa menerima cara yang kasar itu. Namun masalahnya, keadaan sekarang sudah sangat berbeda. Kini kekuatan kami boleh dibilang sudah pupus. Hanya berdua, apakah Kiram dan Jun bisa berhasil? Apakah mereka bukan malah tertembak atau tertangkap?

Untuk menenangkan hati yang demikian galau, aku bersembahyang. Aku masih percaya, Tuhan adalah ghafurur rahim. Aku percaya Tuhan masih mau mendengar doaku, doa orang yang sudah banyak membunuh orang: ada kiai, ada haji, ada militer. Yang kuminta kepada Tuhan, pertama, adalah 
keselamatan bagi Kiram dan Jun. Semoga mereka berhasil dan tak usah ada kekerasan. Aku juga berdoa, agar Umi kuat dan jangan dulu melahirkan sampai paraji datang. Dan doaku makbul. Kiram dan Jun datang memikul beban yang menggantung dalam karung. Umi masih berbaring tenang. Ya Tuhan, kulihat seorang perempuan tua keluar dari karung yang dibuka oleh Kiram. Wajahnya murung dan uring-uringan. Dari mulutnya keluar kutukan kepada kami. Jelas sekali perempuan tua itu sangat tak suka mendapat perlakuan tak wajar yang baru saja dialaminya. Paraji itu pasti marah. 

Dan dalam keadaan hati terluka, apakah dia mau bekerja dengan baik? Apakah ia tidak mencelakakan Umi atau mencekik bayiku yang akan lahir?

Banyak pertanyaan yang terus mengganjal hati. Namun demi Allah Yang Mahalembut, semuanya lambat laun hilang setelah aku membawa Mbok Nikem, paraji itu, ke dekat Umi. Ucapan pertama Mbok Nikem setelah melihat keadaan Umi segera membuktikan bahwa dia adalah seorang paraji sejati. 
Kemarahannya kepada kami yang telah menculiknya dengan kasar segera hilang setelah dia berhadapan dengan seorang pe-
rempuan yang sangat mengharapkan pertolongannya.

“Oalah, jenganten, kamu akan melahirkan di tempat seperti ini? Oalah, Gusti, kasihan betul kamu, jenganten.…”

Mbok Nikem langsung sibuk membetulkan posisi Umi, sementara kata “kasihan” terus meluncur dari mulutnya. Ketika Mbok Nikem bertanya tentang apa yang sudah tersedia untuk menyambut kelahiran jabang bayi, aku hanya bisa menjawab, “Madu dan air.” Tetapi aku juga mengatakan bahwa kami punya cukup beras.

“Nah, kamu yang membuat Umi hamil, bukan?” tanya Mbok Nikem dengan berani. Barangkali ia lupa bahwa kami adalah orang-orang bersenjata yang ditakuti oleh semua orang 
kampung. Tetapi aneh, di depan dukun bayi itu aku merasa ciut. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan pertanyaannya.

“Kamu jangan hanya mau enaknya. Kamu harus cari kunyit, jahe, temulawak, lempuyang! Cari sampai dapat atau aku tak mau mengurus istrimu.”

Bukan main. Enak betul perempuan yang baru kukenal itu memberi perintah kepadaku dengan cara selugas itu. Ah, tetapi aku memang tak bisa menyanggah. Dia benar. Akulah sesungguhnya yang paling bertanggung jawab atas keselamatan Umi, maka aku harus memperoleh rempah-rempah yang diminta Mbok Nikem demi kesehatan istriku itu. Maka aku siap berangkat. Aku tahu benar tempat yang harus kutuju: sebuah lembah sempit di mana Kiram punya huma kecil-kecilan. Hampir semua rempah yang diminta Mbok Nikem ada ditanam di sana. Kami memang punya persediaan tanaman ber-
khasiat untuk berjaga-jaga jika obat-obatan sulit kami peroleh.

Umi melahirkan bayi perempuan. Alhamdulillah, baik Umi maupun anaknya sehat. Mungkin alam dan kesulitan yang mengelilingi kami selama bertahun-tahun telah membuat Umi memiliki daya tahan yang luar biasa. Dan Mbok Nikem merawat Umi dengan baik, mungkin karena kesejatiannya sebagai seorang paraji, atau karena kekuatan pancaran wajah Umi yang tanpa dosa, yang sangat mudah meluluhkan hati siapa saja yang memandangnya. Aku merasakan keprihatinan dan kasih sayang Mbok Nikem terhadap istri dan anakku. Aku jadi malu bila ingat status Mbok Nikem adalah sandera yang kami culik dari kampung. Sungguh, inilah tuba yang dibalas dengan air susu. Lalu, aku harus bilang apa ketika pada hari keempat Mbok Nikem menyatakan ingin membawa Umi dan anakku 
ke rumahnya?

“Dengar, Nak. Aku tak sampai hati melihat Umi dan bayinya hidup dalam belukar seperti ini. Kamu memang wong alasan, manusia hutan, dan itu urusan kamu sendiri. Tetapi jangan ajak istri dan anakmu hidup seperti kucing liar. Mereka demikian menderita demi kesetiaan kepada kamu. Ini tak adil.”

Aku bungkam.

“Kulihat anakmu amat cantik. Kamu tega melihat dia tumbuh jadi anak rimba? Biarlah dia kuangkat jadi anakku. Akan kuberi dia nama Sri Sengsara. Boleh?”




Bersambung...

_____________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...