“Soal itu aku sudah tahu. Amid ingin hidup normal di kampung bersama istri dan anak yang kini dalam kandungan. Keinginan yang wajar. Jun, aku, dan kamu pun menginginkan
hal itu. Iya apa tidak?”
Jun tertawa dan mengangguk. Aku masih diam dan membiarkan diriku menjadi bahan pembicaraan antara Kiram dan Jun.
“Tetapi sudah kubilang, persoalannya benar-benar tak mudah,” sambung Kiram. “Sebelum orang seperti kita sampai ke kampung, kita sudah habis di tangan OPR. Organisasi Perlawanan Rakyat itu banyak disusupi orang-orang Gerakan Siluman yang komunis. Jadi percuma bila kita berniat turun gunung. Bagiku, daripada mati justru karena menyerahkan diri, lebih baik mati bertempur.”
Aku mengangguk-angguk dan menelan ludah. Wajah Umi, istriku, di Dayeuh Luhur, terbayang di mataku. Ah, matanya yang selalu mengundang belas kasihan. Perutnya yang kini mungkin makin besar. Entahlah, aku sudah hampir tiga bulan tak menemuinya. Bahkan aku pun tak tahu apakah Umi sekarang dalam keadaan sehat.
Cerita Kiram tentang orang-orang GS, Gerakan Siluman, memang sudah lama menjadi kesadaran umum di kalangan kami. Banyak perangkat pamong di desa-desa pinggiran hutan atau perkebunan karet, diam-diam atau terang-terangan menjadi anggota gerakan rahasia ini. Mereka jelas-jelas komunis. Dan celakanya, mereka sangat mudah memperoleh senjata karena mereka juga merekrut banyak oknum OPR, organisasi yang resmi dipersenjatai dan dibangun sebagai barisan pertahanan sipil. Selain mempunyai kekuatan bersenjata, mereka mempunyai jalur usaha perekonomian, yakni perdagangan kayu jati secara gelap. Mereka mengorganisasikan banyak sekali pencuri kayu jati sehingga beberapa pemimpin mereka, yang kami kenal menjadi pamong desa, adalah orang-orang
yang sangat kaya.
Beberapa kali kami bertempur melawan orang-orang GS untuk memperebutkan suatu wilayah hutan jati. Wilayah tersebut sudah lama menjadi basis pertahanan kami, tetapi mereka ingin menguasainya demi pohon-pohon jati yang besar-besar dan tua, yang ingin mereka tebang.
Yang lebih menyulitkan kami, orang-orang GS ibarat tombak bermata dua. Ke arah kami, mereka membuka garis permusuhan; sementara ke arah lain mereka menggunakan nama kami untuk melakukan perampokan-perampokan terhadap orang-orang dusun. Semula aku kurang yakin akan kabar ini: bahwa nama kami mereka catut untuk kepentingan mereka, sekaligus untuk lebih memojokkan kami, terutama di mata masyarakat. Namun aku memperoleh keyakinan akan hal tersebut ketika aku seorang diri suatu kali nekat dan berhasil menyusup masuk ke kampung kelahiranku. Aku bertemu orang tuaku yang sudah lama amat kurindukan, juga Kiai Ngumar yang tentu semakin renta.
Penyusupan itu kulakukan karena saat itu aku diamuk rasa kangen yang amat sangat terhadap orangtuaku. Dengan menempuh risiko yang sangat besar, suatu malam aku berjalan menyusuri hutan dan menuju kampung kelahiranku, 140 kilometer dari tempat persembunyianku. Setelah sehari-semalam menempuh perjalanan, senja hari aku mencapai tepi hutan dan beristirahat menunggu hari gelap. Lepas isya aku meneruskan perjalanan melewati padang perdu, menyeberangi sungai-sungai gunung dan menembus kebun singkong. Tengah malam aku mencapai batas kampungku. Dan aku lama tertegun karena perjalananku terhalang oleh pagar bambu yang tinggi dan
berlapis-lapis. Ya, pagar itu memang dibuat untuk mencegah laskar DI masuk. Tetapi sungguh bodoh bila orang terlalu yakin kami tak bisa menembusnya. Hanya dengan modal pisau dan sedikit keuletan aku berhasil menyayat sampai putus satu mata pagar lapis pertama dan seterusnya. Lubang kecil yang
kubuat sudah cukup untuk meloloskan badanku yang memang tidak besar.
Aku berjalan dengan amat sangat hati-hati untuk menghindari para peronda. Ah, soal berjalan mengendap-endap di gelap malam, kamilah yang paling berpengalaman. Maka mengelabui para peronda itu sama mudahnya dengan main kucing-kucingan seperti ketika aku masih anak-anak. Akhirnya aku sampai di rumah orangtuaku, rumah yang sudah hampir
sepuluh tahun kutinggalkan. Aku sangat sadar bahwa kedatanganku tak boleh diketahui orang selain mereka yang bisa kupercayai. Bahkan orangtuaku pasti akan mendapat kesulitan
sangat besar bila aparat keamanan mengetahui mereka telah menerima kedatanganku. Maka aku tak berani mengetuk pintu. Aku hanya berusaha membuat aba-aba halus di emper samping. Beberapa kali aku membuat aba-aba itu demi mengetuk nurani seorang emak yang mungkin sedang terbaring di balik dinding bambu di dalam sana. Ternyata usahaku tak sia-sia. Emak tetap memiliki kepekaan seorang ibu sejati. Kudengar suara pelupuh bambu berderit halus, lalu suara Emak yang terbatuk kecil. Terasa olehku ada air sejuk tercurah langsung ke dasar hatiku.
Ah, Emak. Dia merasa, kemudian mengerti ada sesuatu di luar bilik tidurnya. Dan apabila sesuatu itu adalah dia yang pernah dikandung, lalu ditetekinya sekian lama, maka kesejatian seorang ibulah yang mengusiknya. Kudengar suara pelupuh berderit lagi, kukira Emak bangun dan turun dari balai-balai. Kemudian kudengar langkah-langkah sangat halus
mendekat ke dinding.
“Kamu, Mid?”
Ya Tuhan, itu suara Emak. Itu suara yang sudah sangat lama tak kudengar. Tiba-tiba dadaku berdebar dan tenggorokanku sesak. Mataku panas. Aku tak bisa segera menjawab suara ha-lus itu sampai Emak mengulanginya.
“Mid…”
“Ya, Mak. Aku Amid."
Kudengar Emak mendesah, lalu berbisik memintaku masuk lewat dapur. Gelap. Emak memeluk dan mengelus kepalaku dalam kegelapan. Emak menangis, tapi aku tak bisa melihat raut wajahnya. Ayah juga bangun dan aku melihat sosoknya dalam keremangan. Melalui tangisnya, aku mengerti, selama
ini Emak tak tahu pasti apakah aku masih hidup atau sudah mati. Dan lewat tangis yang lebih memilukan, aku juga tahu bahwa Emak tidak ingin aku tinggal lama karena keselamatanku sangat tak terjamin bila aku sampai terlihat oleh orang luar.
Aku membiarkan Emak terus tertahan-tahan dalam isaknya. Setelah agak mereda, aku minta Ayah menyalakan pelita. Semula Ayah menolak karena khawatir ada orang mengintip. Namun aku tetap minta pelita karena aku ingin melihat wajah Emak, juga Ayah. Akhirnya dua wajah yang lama kurindukan itu muncul dalam cahaya temaram dian kecil. Ah, Emak sudah tua. Rambutnya mulai putih dan wajahnya letih. Lalu, matanya. Oh, aku melihat kegersangan jiwa Emak pada kedua matanya yang dalam dan pudar. Kulihat perih hati Emak ada dalam pelupuk yang keriput dan kini basah oleh air mata. Anehnya, Emak tidak banyak berkata, mungkin karena dadanya menyesak atau karena takut bisiknya akan terdengar dari luar.
Aku juga melihat kebuntuan pada wajah Ayah. Seperti Emak, Ayah juga terlihat bersukacita atas kedatanganku yang sangat mendadak dan pasti tak mereka sangka sebelumnya. Namun kegembiraan Ayah, dan juga Emak, jelas tersaput kebimbangan. Ya, aku sadar, Ayah akan ditangkap aparat keamanan bila diketahui aku datang ke rumahnya. Jadi pertemuan kami terasa tegang dan penuh suasana tergesa. Meski demikian, aku bertahan duduk menemani Ayah sementara Emak menyalakan tungku. Emak ingin menanak nasi buat aku dan menangis ketika aku mencoba mencegahnya.
Ketika mendengar suara ayam berkokok, aku minta diri. Perutku sudah kenyang oleh nasi yang ditanak Emak. Emak memberiku uang dan kuterima karena tak ingin mengecewakannya. Tetapi hatiku terasa benar-benar pepat ketika Emak bertanya apakah suatu saat kelak aku bisa benar-benar pulang
ke rumah.
Di luar pengetahuan Emak dan Ayah, aku mengendap-endap menuju rumah Kiai Ngumar. Tak lama menunggu di sudut suraunya aku mendengar bunyi itu, bunyi terompah kayu. Masih seperti dulu, bunyi terompah itu berubah setelah Kiai Ngumar keluar dari rumahnya, berubah lagi setelah langkahnya sampai ke perigi. Aku mengucap salam ketika Kiai
Ngumar hendak membuka pintu surau. Orang tua itu tak segera membalas salamku. Kulihat dalam keremangan fajar, Kiai Ngumar agak ragu.
“Saya, Kiai. Saya, Amid,” kataku pelan, hampir seperti bisik.
“Ngalaikum salam. Ya Gusti, kamukah, Mid?” jawab Kiai Ngumar, juga dalam bisik. Orang tua itu mengulurkan tangannya. Kami berjabat tangan. Kurasakan sebuah tangan tua yang
makin lemah.
“Ya, Kiai.”
“Nanti dulu, Mid. Aku merasa bersyukur masih bisa bertemu kamu. Tapi kubilang, kamu terlalu berani. Kamu mengambil langkah yang sangat membahayakan dirimu sendiri. Bagaimana bila sampai ada orang tahu kamu datang kemari? Tetapi, ke sinilah.”
Terasa lembut dan sejuk ketika telapak tangan Kiai Ngumar menyentuh pundakku. Kiai urung masuk surau, malah membimbingku ke rumah dan langsung menyuruhku menyembunyikan diri dalam sebuah bilik.
“Kamu di sini dulu. Aku akan memberitahu istriku, sekalian salat subuh.”
Pintu bilik ditutup dari luar. Aku duduk di atas dipan kayu beralas tikar pandan. Lalu entahlah, ada rasa aman mengembang perlahan dalam hatiku. Aku merasa berada dalam tangan
orang yang mau mengerti dan senang memberikan rasa aman itu. Lega. Kemudian aku sadar bahwa sesungguhnya aku sangat
letih dan mengantuk karena perjalanan yang sangat jauh serta malam-malam terakhir tanpa tidur yang berarti. Dan bau tikar pandan yang sudah mengilap serta sebuah bantal kapuk mengimbauku untuk merebahkan diri. Ah, betapa hatiku tiba-tiba terasa lapang, jernih, dan tenang. Tarikan napasku terasa nyaman. Lalu sekelilingku perlahan baur dalam kabut putih yang begitu indah.
Entah berapa lama aku terlena. Yang pasti, ketika aku terjaga hari sudah siang. Aku bisa melihat pekarangan samping rumah Kiai Ngumar melalui dinding anyaman bambu yang agak tembus pandang. Di dekatku ada pakaian: sehelai kaus oblong dan celana hitam komprang. Ah, kukira Kiai Ngumar menyuruh aku menukar celana dan baju yang kupakai karena sudah begitu kumuh. Seperti lumut hitam. Ya, aku turuti kehendak Kiai Ngumar. Namun setelah berganti pakaian aku terkejut:
bukankah aku tidak bermaksud berlama-lama tinggal di rumah itu karena selain mengancam diriku sendiri, juga akan membahayakan Kiai Ngumar? Bukankah rencanaku semula hanya
ingin melihat Emak dan Ayah, lalu secepatnya kembali ke hutan?
Ketika aku sedang memikirkan kecerobohan tindakanku sendiri, kudengar bunyi terompah Kiai Ngumar mendekat. Pintu diketuk dan orang tua itu muncul. Aku melihat senyum Kiai Ngumar. Tetapi aku juga melihat di balik senyum itu ada kebuntuan yang tersembunyi. Kiai duduk di sampingku, sama-sama di tepi dipan.
“Mid, aku senang karena kamu ternyata masih hidup. Syukurlah. Tetapi, Mid, aku tak tahu apa yang bisa kuberikan kepadamu saat ini. Apakah kamu ingin menyerah?”
Aku diam.
“Mid, suasana sudah begitu sulit. Bila ingin mengakhiri perjuanganmu dengan aman, kamu hanya punya satu cara. Bergeraklah seorang diri ke utara. Capailah Cirebon. Di sana kamu
punya peluang untuk melarikan diri ke Lampung. Kudengar Jalal menempuh cara itu dan kini bisa hidup tenang di sana.”
Aku masih diam, benar-benar tak tahu apa yang bisa kukatakan kepada Kiai Ngumar. Mungkin karena melihat aku bimbang. Kiai Ngumar bercerita bahwa gerakan Darul Islam
sama sekali sudah tak punya harapan hidup. Bukan hanya karena aparat keamanan akan menghancurkannya, melainkan juga karena pendapat umum masyarakat menganggap DI adalah musuh mereka. Kiai Ngumar juga bilang, sudah lama ada kelompok pengacau yang mencatut nama DI untuk melakukan
perampokan-perampokan.
“Mid, bulan lalu bahkan rumah ini mereka datangi. Mereka uluk salam dan langsung memperkenalkan diri sebagai tentara Islam. Waktu itu aku agak berharap bahwa yang muncul adalah kamu, atau Kiram, atau Suyud. Tidak, Mid. Mereka pasti bukan dari gerakanmu. Uluk salam mereka sama sekali tak fasih.”
“Nanti dulu, Kiai. Mereka tidak menganiaya Kiai?”
“Alhamdulillah, tidak. Mereka hanya minta uang, dan kuberikan semua yang memang tak seberapa. Tetapi di tempat lain mereka membunuh penduduk yang berteriak-teriak ketika mereka datang.”
“Nanti dulu, Kiai. Mereka melakukan aksi sementara kampung-kampung sudah dipagari berlapis-lapis?”
“Ya, Mid, ya.”
“Maksud saya, mereka menjebol pagar itu?”
“Benar. Tetapi sesungguhnya perondaan sangat ketat. Jadi hanya bisa ditarik kesimpulan, mereka bekerja sama dengan
peronda, atau sebenarnya mereka adalah orang-orang kampung ini juga. Soal pagar yang dijebol, itu bisa merupakan akal-akalan saja.”
Tiba-tiba istri Kiai Ngumar masuk sambil meletakkan telunjuk di bibirnya. Ini sebuah aba-aba agar kami tidak berbicara terlalu keras, atau ada seseorang yang datang. Syukur, Nyai Ngumar cuma memperingatkan agar kami lebih merendahkan suara dalam berbicara.
“Mid, semuanya menjadi jelas ketika polisi menangkap gerombolan perampok itu. Betul, mereka adalah pemuda-pemuda, satu di antaranya seorang guru, komunis. Ketika tertangkap mereka dalam seragam OPR, dan lampu baterai yang ada di antara mereka milik seorang lurah yang dikenal komunis juga.”
“GS?”
“Aku percaya, ya. Lebih rumit lagi, Mid. Pernah terjadi pencegatan terhadap kendaraan pengangkut rokok di jalan raya yang melewati Gunung Sengkala. Cina dalam kendaraan itu ditembak dan dirampok. Semua orang percaya perampokan itu dilakukan oleh DI. Tetapi Cina itu ditemukan oleh aparat keamanan dalam keadaan hidup dan bisa menunjukkan siapa
perampok yang sebenarnya.”
“Siapa? GS?” selaku tak sabar.
“Bukan. Beberapa oknum di kalangan aparat keamanan sendiri.”
“Wah, kacau. Tetapi, Kiai, saya harus jujur bahwa kami, DI, juga sering harus meminta perbekalan kepada penduduk bila pasokan habis.”
“Maksud kamu, kalian juga merampok? Ah, tak usah mengaku, aku sudah tahu. Dengan cerita-cerita itu aku hanya ingin bilang, suasana sudah demikian rumit. Dan edan.”
“Edan?”
“Ya. Oknum-oknum yang merampok truk rokok itu misalnya, beruntung karena kemudian ditangani oleh CPM. Mereka kukira bisa lepas dari amukan massa. Tetapi Madnuri? Kamu
ingat Madnuri?”
“Nanti dulu, si bisu Madnuri?”
“Ya.”
“Kenapa dia?”
“Suatu kali ia terlambat pulang dari hutan sambil memikul kayu bakar. Pintu-pintu pagar pelindung kampung sudah ditutup. Ia menggedor-gedor pintu itu. OPR menangkap dan menuduhnya terlibat gerakan kamu, DI. Habislah dia, padahal banyak orang tahu siapa Madnuri yang bisu itu.
“Sekarang, bayangkan sendiri bila kamu tertangkap atau bahkan bila kamu menyerahkan diri. Kamu akan habis sebelum kamu sampai ke tangan aparat keamanan yang seharusnya menangani kamu.”
Kalimat terakhir yang kudengar dari Kiai Ngumar membuat harapanku gelap. Apalagi Kiai Ngumar kemudian bilang bahwa dirinya bahkan tak punya keberanian untuk menjadi
perantara andaikan aku mau menyerahkan diri kepada tentara.
“Memang, Mid, aku bisa melakukan hal itu. Tetapi kamu akan tetap dihukum. Lagi pula sekarang ini massa komunis sudah demikian kuat, aku tak akan tahan bila mereka menuduhku terlibat DI. Aku sudah tua.”
Aku bisa mengerti sepenuhnya perasaan Kiai Ngumar. Ia sudah terlalu ringkih untuk bisa menolongku, ringkih secara jasmani dan ringkih dalam hal pemikiran. Lebih-lebih suasana memang kacau. Orang seperti Kiai Ngumar bisa diumpamakan Lebai Malang. Oleh sementara oknum aparat yang komunis,
Kiai Ngumar dicurigai bersimpati kepada DI, karena santri-santrinya, seperti aku dan Kiram, memang menjadi anggota gerakan ini. Tetapi Kiai juga dirampok oleh orang-orang GS yang mengaku-aku sebagai tentara Islam. Bahkan pada awal tahun lima puluhan, Kang Suyud yang DI asli pernah bermaksud mengambil Kiai Ngumar untuk diadili di tengah hutan. Kalau bukan karena pembelaan Kiram dan aku, pasti Kang Suyud sudah melaksanakan keinginannya.
Kupandangi keletihan pada wajah Kiai Ngumar yang makin tua.
“Mid, tak pernah kukira akan terjadi zaman seperti ini. Aku sering menyesal mengapa dulu kalian tidak mau mendengarkan kata-kataku untuk meredam kemarahan kalian dan tidak
membuka permusuhan terhadap pasukan Republik. Atau, memang sudah jadi takdir. Buktinya, kamu yang dulu ingin jadi tentara kini malah jadi musuh mereka, padahal kamu semula tak ingin melakukannya. Bahkan untuk menghentikan permusuhan itu pun kini tak mudah, sehingga sangat sulit bagimu untuk kembali ke masyarakat. Dengan demikian, Mid, aku tak bisa bilang apa-apa kecuali andum slamet, mudah-mudahan Tuhan menjaga keselamatanku dan keselamatanmu.”
Kiai Ngumar mengakhiri ucapannya dengan kesedihan yang begitu nyata. Ada rasa bersalah mengepung hatiku karena aku yakin kesedihan Kiai Ngumar berawal dari ketidakpatuhan kami terhadap orang tua itu. Celakanya, semuanya sudah terjadi dan rasanya tak ada jalan kembali.
Hari itu aku tidur dalam persembunyian di rumah Kiai Ngumar. Tengah malam aku pamit kepada Kiai Ngumar. Mungkin benar kata kiai tua itu, bahwa semuanya sudah menjadi takdir. Nyatanya, saat itu aku tak bisa memutuskan apa-apa kecuali kembali ke hutan untuk bergabung lagi dengan Kiram dan Jun.
Sebelum aku melangkah, Kiai Ngumar meletakkan tangannya di pundakku. Dan kata-kata yang kemudian diucapkannya terasa sebagai getaran hati yang sangat dalam.
“Mid, aku sudah tua. Aku tak yakin masih punya kesempatan untuk bertemu kamu sekali lagi. Jadi sebelum kamu pergi, yakinkan bahwa kamu memaafkan semua kesalahanku. Aku
berdoa untuk keselamatanmu.”
Untuk ketulusan hati Kiai Ngumar, aku hanya bisa mengangguk dan mencium tangannya. Aku masih sempat melihat senyum orang tua itu mengembang sebelum aku membalikkan
badan dan keluar melalui pintu belakang.
Perihal berjalan dalam kegelapan malam, aku sudah berpengalaman bertahun-tahun sehingga dengan mudah aku menghindar dari pengawasan para peronda. Aku menerobos
pagar berlapis di tempat kemarin aku masuk. Keluar dari batas kampung aku harus menempuh kebun singkong yang luas. Langit gelap sempurna, malah gerimis mulai jatuh. Ketika langit menjadi sehitam jelaga, kilat tampak sebagai garis-garis patah yang berpijar sesaat dan amat menyilaukan mata. Di tengah
tanda-tanda keperkasaan alam, aku merasa menjadi semut kecil yang merayap tanpa daya dalam kegelapan yang sungguh pekat. Namun demikian aku terus berjalan. Gerimis makin
deras. Kilat kembali membelah langit dan sedetik mengusir kegelapan. Aku dapat melihat sebuah dangau dan aku ingin berteduh di sana. Tetapi tiba-tiba kilat yang begitu benderang kembali datang. Aku menutup telinga dengan kedua ujung telunjuk karena yakin geledek akan segera membahana.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar