Selesai upacara, kami yang berjumlah kira-kira dua puluh orang, diangkut dengan truk untuk dimasukkan ke barak penampungan. Selama sebulan, setiap hari kami mendapat ceramah dan ceramah, yang mereka sebut indoktrinasi. Setiap hari pula kami mengulang janji dan sumpah setia kepada negara. Dan olahraga. Wah, sangat membosankan. Apalagi aku sebenarnya sudah sangat ingin tahu bagaimana nasib istri dan anakku. Kuharap ia juga mendapat pengampunan di wilayah
Cilacap.
Anehnya aku, Kiram, dan Jun tidak begitu gembira ketika kami bertiga sudah diperbolehkan pulang ke kampung kami.
Canggung. Apalagi Kiram. Ia kelihatan tak bernafsu kembali melihat kampung halamannya. Ia bilang, malu. Aku pun punya perasaan seperti itu. Namun aku sadar, aku harus pulang ke kampung demi kedua orangtuaku, dan demi Umi dan diriku sendiri. Ah, ya, aku masih punya Kiai Ngumar, mudah-mudahan dia belum meninggal. Ketika aku berangkat ke terminal bus, ternyata Kiram dan Jun mengikuti aku. Jadilah kami bertiga naik bus tua, pulang.
Dalam ketidakpastian tentang sikap para tetangga nanti, aku masih merasakan kesejukan yang dipesankan oleh sepatah
kata: “pulang”. Ya, aku dalam perjalanan pulang. Pulang ke rumah, pulang kepada orangtua, dan pulang untuk diri yang harus kucari kembali. Aku sadar, perjalanan ini mungkin tak mudah, namun aku akan meneruskannya sampai ke tujuan.
Kami singgah di kota kecamatan untuk melapor kepada aparat keamanan. Sampai ke kampung, kami lebih dulu singgah di balai desa, juga untuk melapor seperti yang diperintahkan kepada kami. Di balai desa itulah aku mulai bertemu dengan orang-orang yang kukenal sejak zaman normal. Beberapa di antara mereka memang kerabatku sendiri. Mereka, betapa jua, memberikan senyuman kepadaku, berbasa-basi meskipun terasa agak janggal. Namun ada perangkat desa yang terus bermuka masam. Besok akan kuketahui bahwa si muka masam adalah komunis muda yang sangat giat berpropaganda di kampungku.
Sampai di rumah orangtuaku, berita pertama yang kudengar adalah tentang ayahku yang sudah meninggal setengah tahun yang lalu. Entahlah, meski usiaku saat itu 33, aku gagal menahan kesedihan. Aku menangis. Emak juga menangis. Para tetangga, kebanyakan adalah kerabatku sendiri, berdatangan. Dari cara mereka memandang, aku merasa mereka setidaknya bisa menerima kedatanganku. Apalagi tak lama kemudian aku mendengar suara terompah kayu: Kiai Ngumar tertatih-tatih melangkah di halaman. Aku menyambut dan mencium tangannya di depan pintu. Kiai Ngumar mengusap kepalaku, seakan aku adalah anak kecil. Ia berkali-kali bertasyakur. Dan kukira semua orang melihat keikhlasan yang mendalam pada wajah tua itu. Lalu, apabila Kiai Ngumar sudah menerimaku dengan hati tulus, orang lain hanya berani mengambil sikap yang sama. Maka sejak hari pertama aku kembali, aku sudah yakin bahwa jalan pulang sudah lapang, pulang dalam makna yang paling dalam.
Seminggu di rumah, aku mendengar Umi juga sudah turun gunung, atau tepatnya, menggabungkan diri dengan mereka yang menyerah. Aku menjemput dia di rumah orangtuanya di Sidareja, Cilacap, lalu membawanya ke rumah orangtuaku. Ah, kasihan, di antara semua perempuan yang ada di sekelilingku, Umi terlihat paling kumuh. Tetapi anakku segera menjadi mata hiburan karena ulahnya yang menarik perhatian. Neneknya sangat suka pada cucu baru yang lahir di tengah hutan itu. Kepada siapa saja aku bilang bahwa anakku bernama Sri. Hanya itu. Aku tak rela ada kepanjangan “Sengsara”.
Aku juga sebenarnya tak rela bila ada bisik-bisik mengatakan bahwa Sri anak DI. Biarlah Sri menjadi masa depanku. Aku tak ingin orang memberinya sebutan apa pun yang menyangkut masa laluku.
Pada bulan pertama aku kembali menjadi warga kampung, segera kurasakan kegiatan orang-orang komunis. Mereka sering mengadakan rapat terbuka, dan pada kesempatan seperti itu para bekas laskar DI selalu menjadi bahan cemooh. Bahkan
akhirnya para kiai dan haji pun mereka ejek dalam rapat-rapat umum, tak luput Kiai Ngumar. Kiai yang sudah lanjut usia itu
disindir habis-habisan karena sesungguhnya dialah yang secara batiniah menampung aku, Jun, dan Kiram.
Suatu malam aku berkunjung ke rumah orang tua itu hanya untuk menyatakan kesedihan hatiku. Karena kebaikannya kepadaku dan teman-teman bekas DI, beban batin Kiai Ngumar jadi lebih berat justru di ujung usianya.
“Sudahlah, Mid. Tidak menampung kamu pun aku sudah pasti menjadi bahan olokan mereka. Tak apa, toh usiaku tinggal tak seberapa.”
“Kiai, aku heran mengapa orang tak curiga terhadap komunis-komunis itu. Padahal di hutan kami sudah tahu bahwa mereka punya barisan bersenjata. Kami sering bertempur dengan mereka dan kami tahu persenjataan mereka cukup lengkap. Apabila sebuah organisasi politik sudah mempunyai pasukan
gelap, tentulah ada yang tak beres, bukan?”
“Ya. Terasa betul suasana yang tidak wajar. Bahkan aku sendiri jadi bingung hendak ke mana arah kehidupan ini. Tetapi, Mid, sudahlah. Aku dan kamu tak bisa apa-apa. Mungkin kita kini hanya bisa berdoa.”
Ketika masih tinggal di tengah hutan, aku selalu merindukan kehidupan yang tenang dan damai di kampung. Kini terbukti kerinduan itu tak mudah kucapai. Memang, dalam ke hidupan kekeluargaan boleh dibilang aku bisa tenteram. Aku bertani menggarap sawah warisan dan Umi menjadi teman hidup yang menyenangkan. Ditambah dengan kehadiran Sri, rasanya hidupku sudah lengkap. Namun bila memandang ke luar pintu, aku merasa gerah dan sesak napas. Orang terlalu banyak menyelenggarakan rapat umum dan sering sangat hiruk-pikuk. Apalagi orang-orang komunis, mereka sering bikin onar bukan hanya dalam rapat, melainkan juga di tengah sawah. Banyak petani berkelahi, hutan jati sering dibakar, dan suatu kali orang-orang komunis berani membunuh mandor jati. Dan
puncak kekisruhan terjadi pada tahun 1965, ketika aku mendengar berita yang simpang siur bahwa ada makar di Jakarta.
Beberapa jenderal Angkatan Darat terbunuh. Berita itu terus berkembang. Akhirnya radio memberitakan bahwa yang berada di belakang gerakan itu adalah orang-orang komunis. Bahkan kemudian tersiar berita yang pasti bahwa pelaku makar memang orang-orang komunis.
Setelah ada kabar yang pasti itu, kehidupan tiba-tiba terasa mencekam. Terasa ada kegaguan karena semua orang menahan diri untuk berbicara atau malah lebih suka memilih diam. Apalagi mereka yang dikenal komunis. Mereka seakan jadi bisu. Namun wajah mereka tak bisa menyembunyikan
kecemasan. Apalagi dari wilayah timur mulai terdengar penangkapan-penangkapan terhadap mereka. Maka terlihat pemandangan yang tak lazim: surau Kiai Ngumar didatangi
oleh mereka yang dikenal komunis dan kini rajin berkain sarung. Namun tak lama. Mereka tak muncul lagi di surau Kiai Ngumar setelah mereka ditangkap dan dibawa pergi entah ke mana. Ada yang bilang, mayat mereka kemudian bertebaran di kali, di pinggir hutan, dan di rawa-rawa.
Kemudian aku juga mendengar berita bahwa ada pertempuran besar di perkebunan karet dekat hutan jati Cigobang. Kata berita itu, satu unit kecil tentara yang akan melakukan
pembersihan di daerah perkebunan itu mendapat perlawanan sengit sehingga mereka mundur. Mendengar berita ini, aku sungguh tidak kaget. Aku tahu betul, di sana ada pasukan komunis yang cukup tangguh. Dulu, kalau mau, pasukan komunis itu bisa menghabisi kami dengan mudah. Tetapi agaknya betul kata orang, pasukan komunis itu sengaja memperpanjang kehadiran kami di Cigobang karena mereka bisa mencatut nama DI untuk penggarongan yang mereka lakukan. Juga untuk menciptakan sekian banyak isu politik yang jelas menguntungkan mereka.
Dalam situasi yang mencekam dan sangat tidak menentu itu, suatu hari ada mobil militer di depan rumah Kiai Ngumar. Entahlah, aku masih merasa tak enak bila melihat mobil
semacam itu. Dan lebih-lebih kali ini, karena Kiai Ngumar kemudian memanggil aku, Jun, dan Kiram. Hanya menunggu seperempat jam kami sudah duduk berhadapan dengan dua
orang tentara di rumah Kiai Ngumar. Dengan cara yang sangat resmi tentara itu menyuruh kami ikut ke kota. “Komandan ingin berbicara dengan kalian. Ini perintah yang bersifat sangat segera.”
Terus terang aku merasa takut. Untung Kiai Ngumar sempat berbisik bahwa aku tak perlu cemas. “Mereka bermaksud baik kepada kalian,” kata Kiai Ngumar. Ah, bagaimana tak
cemas bila seorang bekas laskar DI tiba-tiba diangkut dengan mobil militer.
Tetapi ternyata Kiai Ngumar benar. Komandan menyambut kami dengan wajah yang ramah meski terasa tetap resmi. Kemudian aku tahu apa maunya: kami dimintai keterangan
tentang banyak hal mengenai pasukan komunis yang berbasis di sekitar hutan jati Cigobang.
Aku, Kiram, dan Jun bergantian memberikan kesaksian tentang apa yang kami ketahui. Bahkan kami juga menyebut nama tokoh Gerakan Siluman, yang sebenarnya merupakan pasukan bersenjata komunis.
“Kalian mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang mereka,” kata Komandan. “Maka aku perintahkan kalian menjadi penunjuk jalan bagi operasi yang akan kami laksanakan besok. Ini perintah.”
Aku, Jun, dan Kiram berpandangan. Ya, kalau perintah, kami tak bisa berbuat lain kecuali patuh. Itu pun jauh lebih baik, sebab semula kami menduga kami akan kembali ditahan
berhubung situasi memang terasa gawat. Namun tak kusangka Kiram menceletuk.
“Kami hanya akan menjadi penunjuk jalan?”
“Ya. Kenapa?”
“Saya punya usul, Pak. Bantuan kami akan menjadi lebih nyata bila kami diberi kesempatan bertempur melawan pasukan komunis itu. Dulu kami selalu kalah dalam pertempuran melawan mereka. Rasanya kini ada kesempatan bagi kami untuk membuat perhitungan akhir.”
Kulihat komandan itu tertegun. Agaknya mayor itu tak siap menerima usul Kiram. Aku memandang Jun. Ia pun tersenyum. Aku menangkap gelagat Jun yang juga ingin kembali bertempur seperti Kiram.
“Kalian ingin ikut bertempur?”
“Ya, kalau kami diberi kepercayaan… dan kesempatan,” jawab Kiram.
“Lho, kalian sudah tak bersenjata!”
“Bekas senjata kami tentu ada di sini.”
Komandan diam lagi. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.
“Begini saja, yang kuperlukan kalian menjadi penunjuk jalan. Tetapi usulmu mungkin akan kupertimbangkan malam ini. Aku harus berbicara dulu dengan Semarang.”
Malam itu kami tidur di markas tentara. Tetapi tengah malam kami dibangunkan. Komandan sudah menunggu di kamar operasi. Sebenarnya kepalaku pusing, namun Komandan langsung memberondong kami dengan banyak pertanyaan.
“Kalian tahu betul wilayah yang akan kami bersihkan, bukan?”
“Ya,” jawab Kiram. “Kami lebih mengenal wilayah itu dari pada kampung kami sendiri.”
“Kalau begitu, apa pendapat kalian bila operasi dilakukan pagi ini juga sebelum fajar?”
“Itu lebih baik.”
“Kalian menjadi perintis. Kami sudah mendapat persetujuan Semarang. Juga jaminan dari Kiai…”
“Kiai Ngumar?” tanya Jun.
“Ya. Kurir yang kukirim ke rumah Kiai Ngumar baru masuk.”
“Kami sanggup.”
Komandan melihat jam tangannya.
“Masih ada waktu setengah jam untuk persiapan dan dua jam untuk perjalanan.”
Komandan memanggil tiga perwira dan menggelar peta di atas meja. Kami diminta mendekat dan menunjuk titik-titik wilayah yang menjadi pangkalan GS. Kiram dan Jun hanya
berdiri di belakangku. Ah, kedua temanku itu tak bisa membaca peta. Mereka tetap buta huruf. Komandan memberi petunjuk singkat kepada tiga perwira bawahannya, yang kemudian segera berbalik dan keluar. Seorang sersan masuk membawa pakaian seragam, ternyata untuk kami bertiga: seragam tanpa
tanda pangkat. Dan yang membuat aku berdebar, sersan itu juga membawa bekas senjata kami masing-masing dengan peluru lebih dari cukup. Terasa ada kerinduan untuk menjamah kembali senjata itu setelah lebih dari tiga tahun aku melepaskannya. Tetapi aku cemas, jangan-jangan senjata kami bakal
macet karena terlalu lama tak terawat. Maka kami minta sedikit waktu untuk membersihkannya.
Tepat jam satu tengah malam tiga truk penuh tentara meninggalkan markas. Aku, Jun, dan Kiram ada di antara mereka. Terasa aneh, tiga bekas laskar DI berada dalam satu pasukan
dengan tentara pemerintah, bekas seteru besarnya. Entahlah Kiram dan Jun, tetapi aku sendiri merasakan keharuan yang terus mengembang dan menyesakkan dada. Tenggorokanku terasa pepat. Dan aku merasa air mataku jatuh. Untung, dalam kegelapan malam tak mungkin ada orang melihat roman mukaku.
Ya, sekarang aku berada dalam sebuah perjalanan menuju pertempuran yang lain, sangat lain. Kini aku akan berperang atas nama Republik, sesuatu yang pernah sangat kurindukan dan gagal terlaksana. Tetapi kini semuanya akan menjadi kenyataan, dan aku bersama Kiram dan Jun, meski hanya sementara, menjadi bagian tentara Republik. Ya, tak pernah kuduga, akhirnya aku mendapat peluang bertempur atas nama negara. Keharuan kembali merebak dan air mataku jatuh lagi.
Aku percaya, pertempuran kali ini akan sengit karena orang-orang GS tentu sadar bahwa mereka hanya punya dua pilihan: bertempur sampai menang atau sampai mati. Mereka
pasti sudah mendengar teman-teman mereka, orang-orang komunis, kebanyakan “disukabumikan”.
Jam tiga pagi, truk berhenti di jalan raya yang membelah hutan jati Cigobang. Masih cukup waktu bagi pasukan kami untuk berjalan kaki sampai ke tempat sasaran sebelum hari terang. Atas saran kami bertiga, sasaran pertama adalah sebuah rumah, masih di tepi jalan besar. Itulah rumah Benggol, seorang pamong desa yang diam-diam menjadi tokoh GS. Benggol, juga dua pembantunya, tak berhasil kami temukan. Istri mereka bilang, Benggol dan teman-temannya sudah lima hari
tak muncul di rumah. Aku dan Kiram sependapat, orang-orang GS pasti sudah menyatu untuk mempertahankan diri dari setiap kemungkinan yang mengancam mereka. Bila perkiraan ini benar, aku sangat yakin mereka sudah berhimpun di pusat
penggergajian kayu gelap di tengah hutan jati.
Langit di timur mulai merona ketika kami mendekati sasaran dari tiga jurusan. Aku, Jun, dan Kiram sudah memberi penjelasan yang terinci tentang keadaan kompleks penggergajian kayu itu kepada tiga perwira yang akan memimpin penyergapan. Sebenarnya aku menyadari kedudukanku hanya sebagai pembantu dan penunjuk jalan. Namun entahlah, dalam udara pagi yang dingin itu darahku terasa panas. Apalagi kulihat Kiram minta izin untuk menjadi pendobrak pertahanan lawan. Aku dan Jun mengikuti Kiram.
Maka jadilah Kiram, aku, dan Jun bergerak di ujung pasukan. Ah, Kiram masih seperti dulu: berani, sangat cekatan, dan lugas. Mungkin Kiram punya perasaan sama, ingin segera menembak musuh bebuyutan kami. Atau justru pamer keberanian. Dan bila hal itu yang akan dilakukan Kiram, ia berhasil. Ia berguling ke samping pada detik pertama terdengar
tembakan pasukan komunis dari sebuah kilang penggergajian. Jun membalas tembakan itu, dan detik berikutnya perang pun membahana. Aku sempat beberapa kali menarik picu senjata. Namun tak lama kemudian aku merasa pundak dan belikatku panas. Lalu aku tak kuasa lagi menggerakkan tangan kananku.
Dan tiba-tiba kepalaku terasa sangat pening dan mataku mulai berkunang-kunang.
Dalam kesadaran yang masih tersisa, samar-samar aku melihat Kiram dan Jun bangkit dan lari menyerbu. Granat berledakan. Aku juga masih sempat melihat tentara yang muda-
muda itu bertempur dengan cara yang lebih baik. Lalu duniaku bergoyang dan dalam rongga mataku hanya ada warna biru gelap dengan taburan ribuan bintang. Semuanya jadi terasa enteng dan melayang. Telingaku mendengar suara denging yang lembut dan datar. Kemudian entahlah, aku merasa diriku
sendiri larut dan lenyap.
Ketika lambat laun aku merasa terhadirkan kembali, hal pertama yang kurasakan adalah suara berdengung dalam telinga. Suara orang-orang yang tak kukenal sama sekali. Tetapi
dalam kegalauan suara itu aku mendengar getar yang tak asing. Makin lama getar itu dapat kutangkap sebagai suara yang sudah lama kukenal.
“Mid, nyebut. Laa ilaaha illallaah.”
Aku membuka mata. Pundak dan punggungku rasa berdenyut, sakit bukan main. Banyak sosok bergoyang dalam warna yang serbakuning. Aku mendengar suara Kiai Ngumar. Wajahnya perlahan-lahan muncul dalam layar penglihatanku, samar dan bergetar.
“Laa ilaaha illallaah.”
“La-ilah-illallah.”
“Ya, Mid, teruslah nyebut.”
Aku ingin menuruti perintah Kiai Ngumar, mengulang-ulang tahlil. Aku merasa mulutku bergerak. Tetapi kukira aku ingin juga meninggalkan wasiat. “Tolong jaga Umi dan Sri.”
“Tetaplah tawakal, Mid.”
Aku masih bisa menangkap suara Kiai Ngumar yang baru saja diucapkannya. Aku juga masih ingat wejangan yang dulu pernah diberikannya kepadaku: yaitu memerangi kekuatan yang merusak ketenteraman masyarakat hukumnya wajib.
“Tetaplah tawakal, Mid. Engkau menjelang syahid.”
“Laa ilaaha illallaah...”
“La-ilah-illallah…”
“Laa ilaaha illalaah…”
“…illa… allah…”
“Laa ilaaha illallaah....”
“….”
TAMAT
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar