Selasa, 27 April 2021

BEKISAR MERAH BAB 07

BAGIAN KETIGA 01
 
 
 Kalirong adalah sebuah suagai kecil yang bermula dari jaringan parit-parit alam di lereng gunung sebelah utara Karangsoga. Pada wilayah yang tinggi Kalirong lebih menyerupai jurang panjang dengan aliran air jernih di dasarnya namun tak tampak dari atas karena tertutup semak paku-pakuan. Hanya pada 
tempat-tempat tertentu terdengar gemerciknya. Namun pada wilayah yang 
lebih rendah Kalirong adalah nadi yang mencukupi air bagi sawah dan tegalan di kiri dan kanannya. Batu-batu besar, beberapa diantaranya sangat besar, teronggok diam seperti pengawal abadi yang merendam diri sepanjang masa dalam air jernih Kalirong. Di tempat ini air mengalir gemercik, buihnya yang 
putih hilang-tampak di antara bebatuan yang hitam mengkilat. Anggang-anggang berlari kian-kemari pada permukaan air. Serangga berkaki panjang ini bagai tak punya berat dan mereka menggunakan permukaan air sebagai tempat bersiluncur, menangkap mangsa, dan kawin. 
 
 Sepanjang tepian Kalirong tumbuh berbagai jenis pohonan. Cangkring yang penuh duri serta bakung yang muncul dari sela-sela batu besar. Logondang yang untaian buahnya muncul langsung dari batang, menjulurkan cabang-cabangnya jauh ke atas permukaan sungai agar mudah menyebarkan keturunannya lewat aliran air. Jambe rowe dengan batangnya yang langsung tumbuh tegak lurus dan berbaris mengikuti alur Kalirong. Lengkung-lengkung daunnya yang lentur mengikuti pola yang rapi dan buahnya yang bulat kekuningan membuat tumbuhan palma itu kelihatan sebagai jenis tanaman purba yang masih tersisa. Rumpun pandan yang juga hampir tak putus mengikuti garis tepian Kalirong memberi tempat bersembunyi yang aman bagi cerpelai. Bila keadaan sepi 
binatang pemangsa ikan itu keluar dari persembunyian dan bercengkerama di atas batu besar dan segera menghilang bila terlihat oleh manusia. 
 
 Pada sebuah kelokan Kalirong, sebatang beringin yang amat besar tumbuh di tepiannya. Buahnya yang kecil dan bulat sering jatuh ke air oleh gerakan berbagai jenis burung yang sedang berpesta dalam kerimbunan daun pohon besar itu. Plang-plung suara buah beringin menimpa air, memecah sunyi. Dan 
suara itu segera berubah menjadi rentetan bunyi yang lembut tetapi aneh ketika lebih banyak buah beringin runtuh oleh tiupan angin. Seekor burung merah yang sangat mungil terbang-hinggap pada ranting beringin yang 
menjulur, menggantung hampir menyentuh air, menggoyang tangkai-tangkai benalu yang tumbuh di sana. Beberapa butir buah jatuh dan lagi-lagi plang-plung. Ada daun kering ikut luruh menerpa permukaan air, berkisar sejenak lalu hanyut dan hilang di balik bongkah cadas hitam. Ada sehelai daun ilalang yang terus bergerak berirama karena ujungnya menyentuh aliran air. Seekor kodok tiba-tiba terjun dan mencoba menyelam untuk menyelamatkan diri. Tetapi penyerangnya, seekor ular ubi, tak kalah cepat. Ceot-ceot, suara kodok yang 
sedang mempertahankan diri dalam mulut ular. Ceot-ceot, makin lama makin lemah. Dan akhirnya hilang setelah kodok itu perlahan-lahan masuk ke dalam tubuh ular. 
 
 Darsa mendesah panjang. Diperhatikannya ular ubi itu yang kemudian bergerak lamban karena ada beban seekor kodok dalam perutnya. Sekilas orang tak mudah melihat Darsa yang sedang duduk di atas batu berlumut agak tersembunyi di bawah pohon beringin itu. Selama beberapa hari terakhir Darsa mengundurkan diri dari pergaulan. Ia lebih suka menyendiri. Dan tepian Kalirong di bawah lindungan kerimbunan beringin adalah tempat sepi yang mau menerima kegelisahan hatinya. Di sana pula, dekat Darsa kini duduk menyendiri, ada sebuah batu besar dan berpunggung rata. Batu yang terbaring di tengah kali itu kelihatan lebih kelimis karena sering tersentuh tangan manusia. Beberapa penyadap suka mandi di dekatnya dan kemudian naik untuk sembahyang setelah mereka membungkus tubuh hanya dengan kain sarung. Di sana sering terlihat pemandangan yang mengesankan; seorang lelaki dalam pakaian sangat sahaja bersujud di atas batu besar di tengah kali. Sepi, kecuali 
gemercik air atau cicit burung madu merah yang amat mungil. Atau derai plang-plung suara buah beringin yang jatuh menimpa air ketika angin bertiup. 
 
 Matahari yang hampir tenggelam hanya menyisakan mega kuning kemerahan di langit barat. Sepi makin sepi karena burung-burung tak lagi mencicit. Angin pun mati. Darsa bangkit dan mendesah. Geraknya tanpa semangat ketika dia melangkah, merendam diri setinggi betis dalam air, dan bersuci. Dengan melompat-lompat ke atas batu sampailah Darsa ke punggung batu besar itu. 
Darsa sujud dan alam diam menyaksikannya. Darsa sujud demi pertemuan dengan Sang Kesadaran Tertinggi untuk mencoba memahami gonjang-ganjing yang sedang melanda jiwanya. Darsa ingin memahami apa yang benar-benar telah dilakukannya dan menyebabkan ia harus berhadapan dengan kenyataan paling getir yang pernah dialaminya; Lasi minggat dan seisi kampung geger. Tak 
cukup dengan kenyataan pahit yang sulit diterimanya itu Darsa juga harus mengawini Sipah, perempuan yang tak pernah sekali pun dibayangkan akan menjadi istrinya. 
 
 Darsa merasa berdiri di depan dinding cadas yang terjal ketika tahu bahwa tidak mudah memahami perbuatan sendiri yang benar-benar telah dilakukannya. Memang, Darsa bisa mengingat dengan jelas urut-urutan kejadian 
di suatu malam di rumah Bunek. Seperti malam-malam sebelumnya, Darsa dipijat oleh Bunek dalam sebuah bilik. Sudah beberapa hari Darsa merasa mendapat kemajuan. Dan malam itu Darsa percaya tak ada lagi masalah pada dirinya. Tubuhnya bereaksi secara normal ketika dengan caranya sendiri Bunek memberinya stimulasi berahi, baik dengan pijatan maupun dengan kata-katanya. Bunek tertawa. "Apa kataku dulu, ular apa saja akan menggeliat bangun bila mendapat kehangatan." 
 
 Bunek menyuruh Darsa tetap berbaring sementara dia sendiri keluar. Dari dalam bilik itu Darsa mendengar Bunck berbicara dengan Sipah. Tidak jelas benar apa yang mereka bicarakan. Tetapi telinga Darsa menangkap ucapan Sipah yang menolak permintaan emaknya.

"Kamu jangan bodoh. Apa yang kuminta kamu lakukan hanya untuk membuang sebel yang melekat pada dirimu, sebel yang menyebabkan kamu jadi perawan tua." 
 
 "Apa bukan karena kaki saya pincang, Mak?" kata Sipah. Darsa mendengar anak perawan Bunek itu mengisak. 
 
 "Bukan. Ada beberapa perempuan lebih pincang daripada kamu, tetapi mereka 
mendapat jodoh karena mereka tak menyandang sebel." 
 
 "Bagaimana nanti bila aku hamil?" 
 
 "Dasar bodoh. Jika kamu hamil, malah kebetulan. Akan saya minta Darsa mengawinimu. Syukur bisa langgeng. Bila tidak, tak mengapa. Yang penting sebel-mu hilang dan kamu jadi janda, sebutan yang jauh lebih baik daripada perawan tua. Tahu?" 
 
 Darsa masih ingat, setelah mendesak Sipah, Bunek masuk kembali ke dalam bilik. Ketika itu Darsa masih terbaring dan memberi kesan demikian rupa seakan dia tak mendengar apa-apa. Bunek memintanya duduk lalu mengungkapkan keinginannya dengan terus terang dalam kata-kata yang sangat 
cair dan ringan, bahkan diselingi tawa dan latah. 
 
 Ya. Darsa masih ingat. Ketika itu pikirannya terbelah-belah. Ada kesadaran tidak ingin menyakiti Lasi. Pada kesadaran ini Lasi terlalu baik untuk dikhianati. Atau Lasi adalah cermin tempat Darsa memperoleh pantulan gambar 
tentang dirinya sendiri. Adalah bodoh bila Darsa ingin memecah cermin berharga itu. Tetapi ada juga keinginin untuk tidak mengecewakan Bunek yang sudah sekian lama dengan sabar merawatnya sampai terasa berhasil. Dan ada berahi. Tetapi bahkan untuk soal berahi ini pun Darsa sudah dapat mengira-
ngira beban akibat yang mungkin harus dipikulnya kelak.

Darsa juga menyadari waktu itu ada cukup peluang untuk mempertimbangkan dengan baik pilihan mana yang akan diambilnya; tidak menyikiti Lasi di satu pihak atau menyenangkan Bunek sekaligus melampiaskan berahi di pihak lain. Namun pada saat yang sama Darsa juga merasa ada dorongan kuat untuk meninggalkan peluang itu, untuk meninggalkan segala macam pertimbangan. Pada detik genting yang tiba-tiba terasa menyergapnya itu Darsa hanyut, lebur, dan mungkin sirna. Hilang. Tiada lagi Darsa karena yang ada ketika itu adalah Darsa yang lain, Darsa yang lupa pada Lasi, Darsa sing ora eling, Darsa yang lupa akan Sang Kesadaran Tertinggi. 
 
 Ya, diri yang hilang, dan Darsa tergagap ketika mencoba meraih kembali sosok diri sebenarnya yang lenyap itu. Gagap, bahkan Darsa merasa menjadi manusia asing bagi dirinya sendiri. Darsa mengeluh dan mendesah untuk mengusir kebimbangan. Namun hasilnya malah sebaliknya. Darsa makin, makin kusut. 
 
 Beduk magrib telah terdengar bergema dari surau Eyang Mus. Hari mulai gelap, namun Darsa tidak beranjak dari atas batu besar itu, malah sujud lagi dan sujud lagi. Tak dipedulikannya puluhan nyamuk yang berputar-putar kemudian hinggap untuk mengisap darah dari tubuhnya. Suara bangkong yang menggema dari balik batu-batu besar di tepi Kalirong. Suara keluang yang berkelahi berebut nira yang mereka tumpahkan dari pongkor yang masih terpasang di atas pohon kelapa. Atau kecipak suara cerpelai yang sedang berburu ikan di malam hari. 
 
 Malam benar-benar telah hadir. Dan Darsa masih termenung di atas batu, tak tahu apa yang hendak dilakukannya. Kembali ke rumah yang sudah kosong dan mati karena sudah ditinggal Lasi? Tak ingin. Atau Darsa tak berani menghadapi kekosongan rumah sendiri, kehampaan hati, dan ketiadaan Lasi. Dan pada 
puncak kerisauannya Darsa membayangkan dirinya tergantung tanpa nyawa pada dahan logondang yang menjulur datar di atas Kalirong. Dengan cara itu Lasi mungkin akan percaya bahwa Darsa benar-benar menyesal. Ah, tidak. Darsa merasa tak berani mengundang kematian untuk dirinya sendiri. Minggat, menghilang dari Karangsoga mungkin lebih baik. Ya. Dan Darsa bangkit. Termangu. Angin bertiup perlahan membuat desah halus pada kelebatan dedaunan. Buah beringin berjatuhan menimpa permukaan air. Dan telinga Darsa mendengar sesuatu yang lembut berirama dari arah rumah Eyang Mus. Suara gambang kayu keling tiba-tiba mengingatkan Darsa akan penabuhnya.

Eyang Mus. Selama ini Darsa enggan berbicara kepada siapa pun. Tetapi Eyang Mus? Orang tua itu mungkin mau memberi pencerahan, atau setidaknya mau mendengarkan keluhannya. Bahkan siapa tahu Eyang Mus mau memberi jalan, jalan apa saja, yang mungkin bisa membawa Lasi kembali kepadanya. 
 
 Dan tepi Kalirong, Darsa menempuh lorong yang biasa dilalui para penyadap sampai ke rumahnya yang masih gulita. Derit pintu terdengar bagai suara hantu dalam kegelapan. Darsa menyalakan lampu tempel yang seketika memperlihatkan sosok kehampaan dalam rumahnya. Sunyi dan kosong. Ngawang-uwung. Rumah kecil itu telah kehilangan rohnya. Darsa tertegun dan tiba-tiba rasa sakit menusuk dadanya. Dengan mata kosong dipandanginya tungku dan kawah yang biasa dipakai Lasi mengolah nira. Dan denyut yang 
menyakitkan jantung kembali menusuk ketika Darsa melihat kebaya Lasi masih tergantung pada tali sampiran. 
 
 Darsa termenung sejenak, menelan ludah, dan mendesah sebelum menutup pintu dari luar lalu melangkah menuju rumah Eyang Mus. Bunyi gambang masih terdengar. Setelah dekat Darsa juga mendengar suara tembang Eyang Mus sendiri yang mengiringi alunan gambangnya. Meskipun serak, suara lelaki tua 
itu terdengar serasi dengan irima gambang yang mengalir dari tangannya. Karena tak ingin memutus keasyikan Eyang Mus, Darsa tidak segera masuk. Darsa berhenti di emper depan sambil menunggu Eyang Mus selesai dengan 
pengembaraan batin melalui suara gambangnya. 
 
 Mengakhiri sebuah bait dhandhanggula Eyang Mus menghentikan kedua tangannya yang kemudian terkulai lemas di atas deretan bilah gambang. Kepalanya tertunduk karena dalam hati masih tersisa kemesraan berdekat-dekat dengan Yang Maha damai. Kemudian dengan tertatih-tatih Eyang Mus bangkit meninggalkan gambangnya dan pada saat yang sama Darsa terbatuk. 
 
 "Siapa di luar?" 
 
 "Saya, Yang. Darsa."

"Oh, kamu? Mari masuk." 
 
 Pintu berderit dan Darsa masuk. Eyang Mus menyilakan Darsa duduk di kursi kayu di seberang meja. Darsa tersenyum namun kegelisahan hati tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Lain dengan Eyang Mus. Kakek itu tersenyum lebar dan wajahnya tetap jernih. 
 
 "Nah, kamu kelihatan kurus dan lusuh. Susah?" 
 
 Darsa tersenyum getir. Tetapi Eyang Mus malah tertawa. 
 
 "Iya, ya. Aku tahu, semua orang tahu, kamu sedang kanggonan luput, sedang menanggung salah. Dan itu tak mudah memikulnya." 
 
 "Eyang Mus, saya bingung," ucap Darsa sambil menunduk lesu. 
 
 "Iya, ya. Semua orang tahu kamu tengah gagap menghadapi akibat perbuatanmu sendiri. Malah mungkin kamu sendiri juga bertanya, apa sebenarnya yang telah terjadi kok tiba-tiba hidupmu gonjang-ganjing, limbung, sehingga badanmu jadi kurus seperti itu. Iya, kan?" 
 
 "Itulah sebabnya saya datang, Yang. Saya minta Eyang Mus mau memberi saya pepadhang, jalan keluar. Eyang Mus, saya amat bingung." 
 
 Eyang Mus terbatuk lalu tersenyum. Mengangguk-angguk. 
 
 "Nanti dulu. Kamu sudah makan?"

Darsa tersipu. 
 
 "Belum? Kalau begitu sana masuk." 
 
 "Terima kasih, Yang. Saya tak ingin makan." 
 
 "Kalau begitu, kopi?" 
 
 Darsa mengangguk dan Eyang Mus menyuruh istrinya membuat minuman yang diminta. Darsa gelisah di kursinya. Matanya yang redup memandang sekeliling tanpa maksud tertentu. Beberapa kali terdengar desah napasnya yang berat dan panjang. 
 
 "Eyang Mus..." 
 
 "Ya?" 
 
 "Saya merasa telah membuat kesalahan yang besar. Saya menyesal. Tetapi saya tak tahu apakah penyesalan saya bisa diterima Lasi?" 
 
 "Benar, katamu. Kukira kamu memang salah. Kamu telah menyakiti istrimu. Kamu juga telah mengabaikan angger-angger, aturan Gusti dalam tata krama kehidupan. Tetapi jangan terlalu sedih sebab kesalahan terhadap Gusti Allah mudah diselesaikan. Gusti Allah jembar pangapurane, sangat luas ampunan-Nya. Kamu akan segera mendapat ampunan bila kamu sungguh-sungguh memintanya. Gusti Allah terlalu luhur untuk dihadapkan kepada kesalahan manusia, sebesar apa pun kesalahan itu."

Darsa mengangguk. Dan terbersit cahaya harapan pada wajahnya. 
 
 "Yang lebih sulit," sambung Eyang Mus, "adalah memperoleh ampunan istrimu, Lasi. Kesalahanmu kepadanya sangat besar. Padahal Lasi adalah manusia seperti kita. Dia bukan sumber ampunan seperti Tuhan." 
 
 "Saya mengerti. Tetapi, Yang, bagaimana juga saya tidak ingin rumah tangga saya bubrah. Saya tak ingin berpisah dengan Lasi." 
 
 "Ya, semua orang tahu, mempunyai istri secantik Lasi adalah keberuntungan yang nyata. Maka kehilangan dia bisa berarti penderitaan yang dalam. Aku tahu, semua orang tahu. Namun masalahnya tergantung Lasi. Bagaimana bila dia menolak kembali kepadamu? Memang, orang bilang talak adalah kewenangan lelaki sehingga lelaki boleh berkata wong lanang wenang. Tetapi 
jangan lupa, seorang istri seperti Lasi pun bisa minggat. Dan hal itu sudah terbukti, bukan?" 
 
 Darsa menunduk. Terlihat gambaran penderitaan pada matanya yang cekung 
dan tanpa cahaya. 
 
 "Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang, Yang?" 
 
 Eyang Mus diam. Tangannya mulai menggulung tembakau, pelan tetapi mekanis. Kemudian terdengar bunyi pemantik api dan cahayanya menerangi wajah lelaki tua itu yang segera terkurung oleh kepulan asap. 
 
 "Darsa," ujar Eyang Mus dengan suara dalam.

"Apa, Yang?" 
 
 "Kukira, hal pertama yang pantas kamu lakukan adalah berani menerima dirimu sendiri, termasuk menerima kenyataan bahwa kamu telah melakukan kesalahan. Tanpa keberanian demikian kamu akan lebih susah." 
 
 Darsa mengangguk-angguk dan kelihatan sangat berat mengangkat wajah. 
 
 Eyang Mus tersenyum. 
 
 "Ketika ngulahi Sipah dulu, sudahkah kamu merasa akan ada akibatnya?" 
 
 "Ya, Eyang Mus. Rasanya saya sendiri sudah bisa menduga apa yang mungkin akan terjadi." 
 
 "Nah, dengan demikian purba-wisesa ada pada dirimu. Awalnya kamu sadar akan apa yang kamu lakukan, maka akhirnya kamu harus berani menanggung akibatnya. Terimalah kenyataan ini sebagai sesuatu yang memang harus kamu terima. Kamu tak bisa menghindar. Kamu harus ngundhuh wohing pakarti, harus memetik buah perbuatan sendiri; suatu hal yang niscaya bagi siapa pun." 
 
 Darsa menelan ludah. 
 
 "Eyang Mus," kata Darsa sesudah lama membeku di kursinya. 
 
 "Ya?"

"Sejak semula saya tidak ingin melakukan kesalahan ini. Sungguh, karena seperti yang sudah saya katakan, saya juga sudah bisa menduga apa akibatnya. Tetapi kesalahan itu benar-benar telah saya lakukan. Eyang Mus, saya bertanya mengapa hal seperti ini bisa terjadi?" 
 
 "Terjadi?" 
 
 "Ya. Mengapa orang bisa melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak ingin dilakukannya?" 
 
 "Maksudmu?" 
 
 "Maksud saya, apakah memang betul manungsa mung sakdrema nglakoni, manusia sekadar menjalankan apa yang sudah menjadi suratan?" 
 
 Eyang Mus menegakkan punggung, terkesan oleh pertanyaan Darsa. Diembuskannya asap rokok dan kedua matanya memejam. Sekilas terbersit dalam ingatan Eyang Mus satu bait suluk ajaran seorang wali, Sunan Bonang. 
 
 Pan karsa manira iki 
 Sampurnane ing Pangeran 
 Kaliputan salawase 
 Tan ana ing solahira 
 Pan ora darbe sedya 
 Wuta tuli bisu suwung 
 Solah tingkah saking Allah

Menurutku, kesempumaan Tuhan meliputi segalanya. Manusia tak punya tingkah atau maksud. Manusia tuli, bisu, dan hampa. Segala tingkah berasal dari Allah. 
 
 Eyang Mus menelan ludah. Kepalanya mengangguk-angguk. Dan setelah lama merenung Eyang Mus merasa apa yang sekejap melintas dalam ingatannya tak 
mungkin dikemukakannya kepada Darsa. Lelaki muda yang sedang kusut itu bukan orang yang tepat dan takkan sanggup mencerna pikiran Sunan Bonang tentang suatu sisi ajaran sangkan paraning dumadi. Maka Eyang Mus hanya ingin menyampaikan pengertian yang lebih sahaja. 
 
 Darsa terbatuk. 
 
 "Oh, aku belum menjawab pertanyaanmu? Dengarlah anak muda, orang sebenarnya diberi kekuatan oleh Gusti Allah untuk menepis semua hasrat atau dorongan yang sudah diketahui akibat buruknya. Orang juga sudah diberi ati wening, kebeningan hati yang selalu mengajak eling. Ketika kamu melanggar 
suara kebeningan hatimu sendiri, kamu dibilang orang ora eling, lupa akan kesejatian yang selalu menganjurkan kebaikan bagi dirimu sendiri. Karena lupa akan kebaikan, kamu mendapat kebalikannya, keburukan. Mudah dinalar?" 
 
 Darsa mengerutkan kening. 
 
 "Maksud Eyang Mus, tidak benar manusia mung sakdrema nglakoni?" tanya Darsa dengan sorot mata bersungguh-sungguh. Eyang Mus terkekeh. 
 
 "Tadi kamu bilang bahwa kamu sendiri tahu apa yang mungkin akan terjadi sebagai akibat perbuatanmu terhadap Sipah. Kesadaran seperti itu menjadikan kamu mempunyai peluang untuk memilih. Artinya, kamu akan berbuat sesuatu terhadap Sipah atau tidak, kamu bisa memutuskannya sendiri."

Lagi, Darsa mengerutkan kening. Ia merasa tak sanggup mencerna kata-kata Eyang Mus. 
 
 "Tetapi jangan terlalu bersedih hati, karena kamu tidak sendiri. Lebih banyak orang yang seperti kamu, melakukan kesalahan yang sesungguhnya tak ingin dilakukan karena kebeningan hati sendiri melarangnya. Sebaliknya, hanya sedikit orang yang setia menuruti suara kesejatian dalam hatinya." 
 
 "Jadi sebaiknya apa yang saya lakukan sekarang?" tanya Darsa setelah lama 
termenung. 
 
 Eyang Mus tidak segera menjawab karena sibuk menggulung rokok baru. Sementara itu Mbok Mus keluar membawa dua gelas kopi panas. 
 
 "Andaikan aku jadi kamu, aku akan mengambil sikap nrima salah, bersikap taat asas sebagai orang bersalah. Inilah cara yang paling baik untuk mengurangi beban jiwa dan mempermudah penentuan jalan keluar. Bagimu, hal ini berarti menjadikan Lasi sebagai pemegang kata putus atas kelanjutan rumah 
tanggamu." 
 
 Kalimat terakhir yang diucapkan Eyang Mus membuat dada Darsa merasa tertusuk dan wajahnya tiba-tiba tampak sengsara. Beberapa kali Darsa berdecap sambil menggelengkan kepala untuk mencoba mengelak dari 
keniscayaan sangat pahit yang sudah menjelang di depan mata. 
 
 "Aku juga harus mengawini Sipah meskipun aku tak menghendakinya?" 
 
 "Ya. Kamu tak mungkin menghindar dari keputusan para pamong desa dan itu juga wohing pakarti, buah perbuatan yang harus kamu petik. Lagi pula, suweng ireng digadhekna, wis kadhung meteng dikapakna. Kamu tahu?"

Darsa menggeleng. 
 
 "Subang keling digadaikan, telanjur bunting mau diapakan. Tahu?" 
 
 Kini Darsa nyengir pahit, sangat pahit. 
 
 "Dan penting kamu pahami, makin sungkan kamu menerima akibat perbuatan sendiri, makin berat beban batin yang akan menindih hati. Jadi andaikan aku jadi kamu, lebih baik semuanya kuterima dengan perasaan ringan dan carilah pertobatan. Mencoba mengelak, meski hanya dalam hati, hanya akan membuat 
beban menjadi jauh lebih berat dan membuat kamu lebih menderita." 
 
 Darsa makin menunduk. Matanya menatap dataran meja. Tetapi pada dataran yang kusam itu Darsa melihat Lasi datang dari sumur hanya berpinjung kain batik. Rambutnya yang basah jatuh di tengkuk, melingkar ke samping, dan 
terjumbai pada belahan dada. Darsa juga mendengar langkah-langkah Lasi bahkan merasakan bau rambutnya. Tetapi ketika Darsa sadar bahwa kehadiran Lasi hanya sebuah angan-angan, mendadak rasa sakit menyengat jantung dan menyebar ke seluruh tubuh bersama edaran darahnya. Dan tak peduli sedang berada yang di depan Eyang Mus, air mata Darsa jatuh. 
 
 "Yang..." 
 
 "Apa." 
 
 "Sudah saya bilang, sangat berat bagi saya ditinggal Lasi meskipun saya mengaku salah. Sekarang apa kira-kira usaha saya agar Lasi mau kembali?"

Eyang Mus tertawa. 
 
 "Begitu kok tanya. Gampang sekali; susul Lasi ke Jakarta dan bawa dia pulang." 
 
 "Maksud saya, usaha batin. Menyusul Lasi ke Jakarta bagi saya tak mungkin." 
 
 "Oh!" 
 
 Eyang Mus tertawa lagi. Tetapi Darsa tetap menunduk. 
 
 "Bila kamu percaya segala kebaikan datang dari Gusti dan yang sulit-sulit datang dari dirimu sendiri, hanya kepada Gusti pula kamu harus meminta pertolongan untuk mendapat jalan keluar. Jadi, lakukan pertobatan lalu berdoa dan berdoa. Bila masih ada jodoh, takkan Lasi lepas dari tanganmu. Percayalah." 
 
 Darsa mendesah panjang. Senyumnya muncul dari wajahnya yang kusam. Betapa juga kata-kata terakhir Eyang Mus adalah setitik harapan meski samar dan terasa sangat, sangat jauh. 
 
 Seekor burung malam melintas di atas rumah Eyang Mus sambil mencecet ketika Darsa membuka pintu lalu turun ke halaman. Masih di bawah tatapan Eyang Mus, Darsa berhenti dan termangu dalam keremangan sinar gemintang. Darsa tidak merasa pasti ke arah manakah dia akan melangkah. Pulang ke 
rumah untuk mendapatkan kehampaan yang amat menyakitkan hati atau kembali ke batu datar di tengah Kalirong untuk bersujud? Entahlah. Dan mungkin Darsa tak sepenuhnya sadar ketika langkahnya berbelok ke samping 
rumah Eyang Mus. Darsa membasuh kaki di kolam yang berdinding batu-batu kali lalu naik ke surau. Dalam surau kecil itulah dulu Darsa menghabiskan setiap malam masa kanak-kanaknya. Kini ia kembali bukan untuk ngaji seperti dulu melainkan untuk mencoba bercakap-cakap dengan kenyataan pahit yang sedang menghadang hidupnya. 
 
 Dari bunyi kecipak air, lalu suara pintu terbuka, Eyang Mus mengerti Darsa memasuki suraunya dan mungkin akan tidur di sana. Eyang Mus menggelengkan kepala dan menarik napas dalam untuk keprihatinan bagi seorang lelaki muda yang sedang memikul kesulitan yang sangat berat. 
 
 
                               ***** 
 
 
 Ketika memutuskan memilih kehidupan para pembuat gula kelapa sebagai objek penulisan skripsinya, Kanjat hanya berpikir masalah praktis. Masyarakat penyadap kelapa adalah dunia yang mengelilinginya. Dunia itu bukan hanya dialami dan dipahaminya melainkan sekaligus juga dihayatinya. Sejak masa 
kanak-kanak Kanjat hidup di tengah para penyadap itu. Bahkan karena ayahnya, Pak Tir, adalah tengkulak gula, Kanjat akrab dengan hampir semua keluarga penyadap di Karangsoga; akrab dengan keluh kesah atau tawa mereka, akrab dengan mimpi-mimpi dan kegetiran mereka. 
 
 Masa kecil Kanjat dinikmati bersama anak-anak para penyadap. Bersama mereka Kanjat sering minum nira langsung dari pongkor. Bersama mereka pula Kanjat selalu bermain berkejaran di bawah pepohonan yang rimbun atau menangkap capung dengan getah nangka. Pada malam terang bulan Karangsoga riuh oleh suara anak-anak penyadap yang mengejar kunang-kunang atau main kucing-kucingan dan sekali pun Kanjat tak pernah terpisah dari mereka. Jadi Kanjat sungguh jujur kepada dirinya sendiri ketika dia mengaku kenal, akrab, bahkan menghayati sepenuhnya kehidupan masyarakat penyadap, dari tangis sampai gelak tawa mereka. 
 
 Anehnya, setelah skripsi untuk derajat sarjana teknik pertanian Universitas Jenderal Sudirman, Purwokerto, itu mulai digarap, Kanjat terkejut menghadapi kenyataan yang mengusik jiwanya. Pilihan objek penelitian yang jatuh pada kehidupan para penyadap, ternyata, bukan semata-mata masalah praktis. 

Rasanya ada kesadaran laten dalam alam bawah sadar yang muncul tak terasa dan menuntut keprihatinan Kanjat. Atau sesungguhnya justru keterpihakan dan keprihatinan terhadap kehidupan masyarakat penyadap itulah yang mengusik 
alam bawah sadarnya dan kemudian menuntun Kanjat menentukan objek penelitian untuk menyusun skripsinya. Kehidupan para penyadap dalam kenyataannya bukan sekadar kenangan indah masa kanak-kanak bagi Kanjat. Karena pada sisi lain kehidupan masyarakat penyadap juga memberikan pelajaran kepada Kanjat tentang kepahitan dan kegetiran yang ikut membentuk 
sejarah pribadinya. 
 
 Sejak kecil Kanjat tahu teman-teman lelaki dan perempuan sering terpaksa meninggalkan kegembiraan main gasing atau kelereng karena mereka harus membantu orangtua mencari kayu bakar. Karena sebab yang sama teman-
teman bermain Kanjat kebanyakan putus di jalan sebelum tamat sekolah desa. Dan teman-teman yang kemudian yatim karena ayah mereka meninggal setelah jatuh ketika menyadap nira; Kanjat tak bisa melupakan tangis mereka. Atau teman-teman yang emaknya kena musibah karena tangan terperosok ke dalam kawah yang berisi tengguli mendidih; suara tangis mereka masih terngiang dalam telinga. Atau tentang si Cimeng; ayahnya harus masuk penjara selama 
lima bulan karena kedapatan membawa cabang-rabang kayu pinus yang dipungut di tepi hutan untuk kayu bakar. Padahal barang yang dibawa itu hanyalah sisa curian sekelompok maling yang direstui mandor hutan sendiri. Dan Kanjat akan kehilangan semua teman bermain ketika harga gula jatuh. 
Teman-teman itu tak punya tenaga buat main kelereng atau kucing-kucingan karena perut tak cukup terisi makanan. 
 
 Keprihatinan Kanjat terhadap kehidupan para penyadap adalah sikap yang tumbuh sangat alami. Dan ia makin berkembang setelah Kanjat duduk di SMA. Pada usia itu Kanjat bisa membaca lebih jelas wajah istri-istri penyadap yang setiap hari menjual gula kepada ayahnya. Kanjat mulai menangkap gambaran beban dalam sorot mata mereka ketika mereka berhadapan dengan timbangan gula; ada ketakberdayaan ketika mendengar harga gula jatuh, ada kegembiraan bercampur ketakutan ketika mendengar harga sedikit naik. 
 
 Dan gambar penderitaan masyarakat penyadap berubah menjadi angka serta data setelah Kanjat dalam usaha menulis skripsi itu memulai penelitiannya. Apa yang dulu terasakan hanya sebagai gejala kesenjangan yang menindih kehidupan para penyadap, muncul menjadi bukti yang nyata yang bisa dihitung dan dianalisis. Tentang harga gula misalnya; para penderes terbukti menerima 
jumlah yang sangat tidak proporsional bila dibandingkan dengan harga terakhir yang dibayar oleh konsumen, terutama di kota-kota besar.




Bersambung... 
______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...