Kamis, 15 April 2021

DI KAKI BUKIT CIBALAK BAB 03

Episode 7 
Di Kaki Bukit Cibalak 



Ketika nama Mbok Ralem disebut, Pambudi ikut masuk ke ruang periksa. Surat keterangan dari Tanggir diperlihatkan kepada mantri yang memeriksa Mbok Ralem. Pegawai itu kemudian meneliti benjolan yang membuat leher Mbok Ralem menggembung. Ia tampak ragu-ragu. Maka dipanggilnya rekannya yang berada dalam kamar periksa itu. 

Mereka berbicara sebentar, kemudian Pak Mantri bertanya kepada Pambudi. 

“Apakah Anda anak ibu ini?” 

“Bukan, tetapi segala sesuatu yang menyangkut perawatan pasien ini dapat dibicarakan dengan saya.”

“Menurut surat keterangan yang Anda tunjukkan, pasien mengharapkan perawatan gratis. Baiklah, asal bengkak di lehernya itu bukan kanker. Apabila terbukti penyakit yang 
diderita pasien ini kanker, kami tidak bisa merawatnya dengan cuma-cuma. Begitu peraturan yang berlaku di sini. Anda pun sudah mengetahui, bukan, bahwa biaya perawatan 
penyakit itu sangat tinggi.” 

“Ya, saya tahu maksud Anda. Saya tetap bertanggung jawab meskipun misalnya penyakit ibu ini ternyata kanker.” 

“Nah, baiklah. Sekarang kami hanya akan mengambil contoh jaringan pada benjolan itu. Besok pagi kira-kira pukul sebelas siang Anda sudah dapat mengambil surat hasil pemeriksaan laboratorium.” 

Dalam waktu hanya seperempat jam Pak Mantri sudah dapat mengambil secuil jaringan dari benjolan di leher Mbok Ralem. Bekasnya diplester. Kemudian kedua orang warga Tanggir itu keluar. Mbok Ralem mengira hanya sampai di situlah perawatan yang harus dialaminya. Pambudi harus menerangkannya panjang-lebar. Dikatakannya bahwa baru 
besok pagi ada kepastian lama-tidaknya mereka harustinggal di Yogya. Mendengar kata-kata Pambudi, Mbok Ralem melelehkan air mata. 

Terbayang olehnya kedua orang anaknya yang ditinggal di Tanggir. Mbok Ralem sadar, adiknya yang dititipi kedua anak itu culas wataknya. Nalurinya sebagai seorang ibu 
sudah memberi firasat, pasti anaknya tidak terurus. 

Mereka menginap di losmen yang amat murah tarifnya.Hampir semalaman Pambudi tidak dapat tidur. Ia tak henti-hentinya membayangkan kemungkinan yang baru dapat 
diketahuinya besok. Mudah-mudahan bukan kanker yang bercokol di leher Mbok Ralem. Perawatannya akan lebih mudah dan gratis pula. Tetapi kemungkinan itu hampir tidak dipikirkan oleh Pambudi. Yang dikhawatirkannya adalah kemungkinan yang lain. Ia pernah mendengar bahwa tidak gampang menyembuhkan kanker, dan biayanya amat besar. Terpaksalah Pambudi menghitung-hitung uang tabungannya. Kira-kira ada 70.000 rupiah. Dan apakah uang sejumlah itu cukup? Sesungguhnya pemuda Tanggir itu sudah 
memikirkan cara lain untuk memperoleh dana bagi perawatan Mbok Ralem. Tetapi rencana itu masih berupa angan-angan dalam benaknya. 

Pagi-pagi sekali mereka sudah bangun. Mereka sarapan dengan sebungkus nasi rames yang dijajakan orang di depan penginapan. Selesai makan Pambudi berjalan-jalan seorang diri melihat-lihat pemandangan kota. Di depan 
sebuah toko yang tutup ia melihat seorang pedagang pakaian bekas. Pambudi ingat, Mbok Ralem tidak membawa pakaian ganti barang sepotong pun. Bukan lupa, tetapi 
Mbok Ralem tidak mempunyai pakaian yang lain. Maka Pambudi membeli dua helai kain batik bekas dan sepotong kebaya yang masih baik. 

Sebelum pukul sebelas, Pambudi telah berdiri di dekat jendela laboratorium. Surat keterangan yang ditunggu segera diterimanya. Ia segera menemui Pak Mantri yang 
kemarin memeriksa Mbok Ralem dan menyerahkan surat yang baru diterimanya itu. Betul, ternyata Mbok Ralem mengidap 
kanker. Pambudi mengernyitkan keningnya. Wajahnya tampak tegang. 

“Nah, bagaimana?” tanya Pak Mantri. “Mau masuk mulai hari ini?” 

“Ya. Tetapi saya akan mengajak pasien itu keluar sebentar. Ada urusan kecil yang harus kami selesaikan lebih dulu.” 

Mbok Ralem tidak tahu apa dan bagaimana penyakit yang diidapnya. Perempuan dusun itu berjalan mengikuti Pambudi tanpa ada perubahan pada sikapnya. 

Pambudi membawa Mbok Ralem ke sebuah toko potret. Pasfoto Mbok Ralem siap seketika. Kemudian Pambudi membuat 
fotocopy surat keterangan dari desa dan surat 
pemeriksaan laboratorrum. Selesai urusan di toko potret, mereka kembali ke rumah sakit. 

Pak Mantri mengatakan bahwa diperlukan waktu beberapa hari untuk mengembalian kekuatan tubuh Mbok Ralem sebelum operasi bisa dilaksanakan. Perempuan itu menderita kekurangan gizi yang parah. Dari Pak Mantri 
pula Pambudi tahu perkiraan besarnya biaya yang diperlukan. Tidak akan kurang dari 500.000 rupiah. 

Lima ratus ribu? Pertanyaan ini berulang-ulang mengusik hatinya ketika Pambudi berjalan meninggalkan rumah sakit seorang diri. Lima ratus ribu! Aku harus menjual sepedaku. Dengan demikian akan tercapai jumlah sebesar itu bila kutambah dengan uang tabungan, pikir Pambudi. Sejak semula pemuda itu telah bertekad hendak menolong 
Mbok Ralem sampai sembuh. Jadi jauh-jauh sebelumnya ia sudah memperkirakan akan mengeluarkan banyak uang. Namun 
sesungguhnya Pambudi telah siap mencari dana dengan cara lain. Uangnya sendiri akan diserahkan dengan ikhlas apabila usahanya yang lain benar-benar gagal. Pasfoto dan fotocopy yang dibuatnya akan menjadi modal untuk mengumpulkan dana. 

Sesudah menghabiskan sepiring nasi, Pambudi membeli surat kabar. Sengaja ia memilih koran terbitan Yogya. Pambudi segera mengetahui alamat harian yang bernama Kalawarta itu. Pukul sepuluh pagi hari berikutnya, Pambudi menjadi tamu Pak Barkah, pemimpin redaksi dan pemilik penerbitan Kalawarta. Mula-mula pemuda Tanggir itu mendapat sambutan yang biasa saja; sikap Pak Barkah seperti sedang 
menghadapi seorang pelamar pekerjaan. Namun kemudian sikapnya berubah menjadi penuh perhatian setelah Pambudi menerangkan maksudnya dengan jelas. Uraian Pambudiselalu ditanggapinya dengan anggukan kepala. Bahkan laki-laki dengan kacamata berlensa tebal itu masih mengangguk-angguk meskipun Pambudi telah selesai menerangkan semuanya. Sambil menatap datar, Pak Barkah mulai 
mengajukan pertanyaan-pertanyaan. 

“Jadi pertama-tama Anda meminta kesediaan kami untuk memasang iklan. Selanjutnya Anda meminta supaya Kalawarta membuka dompet sumbangan untuk menghimpun dana bagi
perawatan Mbok Ralem. Begitu, bukan?” 



 
Episode 8 
Di Kaki Bukit Cibalak 




“Ya, benar, Pak. Dan iklan yang saya kehendaki harus memuat foto Mbok Ralem beserta fotocopy surat-surat keterangan ini. Sekarang saya dapat menyerahkan uang 40.000 rupiah sebagai uang muka pembayaran iklan itu.” 

Empat lembar puluhan ribu itu tergeletak di atas meja. Pak Barkah tidak melihat uang yang telah diletakkan oleh Pambudi itu. Ia tampak gelisah dalam duduknya. Beberapa kali ia mengepulkan asap rokoknya dengan embusan yang panjang. 

“Dik Pambudi, tidak gampang bagi saya menerima uang pembayaran iklan yang Anda pesan. Saya harus bergelut dengan perasaan saya sendiri. Tetapi bagaimana, ya, kemarin pesuruh kantor kami meminta persekot gaji. Jadi dengan berat hati saya terima uang Anda.” 

“Wah, tak seorang pun akan menyalahkan Bapak. Bahkan saya tahu, Bapak akan kehilangan banyak ruangan dalam harian Kalawarta karena harus membuka ‘Dompet Mbok Ralem’.”

“Oh, rupanya saya sedang berhadapan dengan seorang jentelmen muda. Baiklah, akan saya susun naskah iklan itu, tunggu sebentar di sini.” 

Suara mesin tik terdengar dari kamar kerja Pak Barkah. Para pegawai penerbitan tidak menarik perhatian Pambudi, karena ia sedang teringat akan Mbok Ralem. Perempuan dusun itu pasti merasa asing dengan lingkungan rumah 
sakit. Ia tidak memakai alas kaki. Tetapi masih untung, Pambudi membelikan pakaian bekas untuk perempuan itu kemarin. Teringat pula oleh Pambudi kedua orang anak Mbok Ralem yang ditinggal di Tanggir. Memang keduanya 
dititipkan kepada bibi mereka. Tetapi si bibi itu 
keadaannya sama dengan Mbok Ralem. Di rumahnya tidak ada makanan. Maka dalam hati Pambudi berjanji, besok pagi ia akan pulang dulu ke Tanggir. Bagaimanapun ia harus mengambil uang tabungannya untuk berjaga-jaga. Dan yang terpenting, ia akan melihat sendiri keadaan kedua anak Mbok Ralem. 

Naskah iklan itu selesai dibuat oleh Pak Barkah, kemudian diperlihatkan kepada Pambudi. Ternyata bunyinya singkat 
saja. S-O-S. Mbok Ralem berada di telapak tangan kanker. Ia tak mampu berobat kecuali kalau ada sedikit percikan semangat kemanusiaan yang diberikan kepadanya. 
Anda yang akan menunaikan seruan manusiawi ini. Redaksi Kalawarta bersedia menampung sumbangan Anda. Amanat Anda akan kami pertanggungjawabkan kepada Tuhan dan kepada Anda pribadi. S-O-S. 

“Bagaimana, Dik Pambudi? Anda setuju?” 

“Wah, Bapak jangan meminta persetujuan saya. Tentang iklan saya tak tahu apa-apa, meskipun setiap saat saya mendengarnya dari radio dan televisi.” 

“Oh, baiklah, baiklah. Sekarang serahkan pada saya foto Mbok Ralem dan fotocopy itu. Besok pagi iklan itu sudah tercetak dalam harian Kalawarta.” 

“Terima kasih, Pak. Sekarang saya minta diri.” 

Pak Barkah membukakan pintu untuk Pambudi. Sepeninggal anak muda itu Pak Barkah termenung, masygul. Tak ada yang 
istimewa dalam urusan dengan Mbok Ralem ini, pikir pemimpin Kalawarta itu. Seorang pemuda bernama Pambudi sedang menolong sesamanya menuruti suara hatinya. Tetapi, mengapa aku begitu terkesan? Apakah karena semangat fitrah seperti yang sedang diperlihatkan oleh Pambudi kini hampir musnah? Benarkah demikian? Atau 
kepalsuan dan kemunafikan telah membawa harkat kemanusiaan terjun ke dalam jurang. Atau hiruk-pikuk kehidupan sekarang telah memekakkan telinga banyak orang, sehingga sulit mendengarkan suara hati nuraninya sendiri. Atau... 

Dan Pak Barkah sungguh-sungguh terkejut. Di dalam sakunya ada uang 40.000 rupiah berasal dari Pambudi. Malu dan rikuh. Pak Barkah cepat-cepat memanggil pesuruh kantor. Yang dipanggil datang tergopoh-gopoh, kemudian tertawa lebar karena ada empat lembar puluhan ribu disodorkan kepadanya. Selamatlah sepedaku dari jangkauan tangan 
tukang gadai yang tengik itu, pikir si pesuruh kantor. 

Malam itu Pambudi menginap di sebuah losmen lainnya di depan pasar. Para penyewa kamar kebanyakan pedagang di pasar itu. Dari pembicaraan mereka Pambudi tahu, mereka 
adalah penyewa-penyewa tetap. Kalau aku menghendaki suasana yang tertib, mestinya tak kupilih losmen ini, pikir Pambudi. Benar, memang keadaan di losmen itu mirip suasana pasar. Anak-anak berkeliaran dan berhiruk-pikuk di mana-mana. Yang tua-tua berceloteh tentang dagangan mereka. Dan satu hal sangat mencolok: di situ tinggal terlalu banyak perempuan. 

Setelah bersembahyang di atas sehelai koran, Pambudi merebahkan diri hendak tidur. Sebelumnya ia menyalakan obat pengusir nyamuk yang ia beli sendiri. Ketika itu ia 
melihat dua ekor kepinding merayap di dinding papan. Serangga pengisap darah itu digilasnya dengan jari. 

Pambudi sedang mencantelkan baju ketika pintu kamarnya diketuk orang. Dibukanya daun pintu yang terbuat dari dempetan papan murah itu. Seorang pemuda yang sebaya dengan dirinya berdiri di sana. Rambutnya lebih gondrong. Di mulutnya ada rokok yang belum dinyalakan. Maka yang pertama-tama dimintanya dari Pambudi adalah korek api. 
Sikapnya begitu sopan, sehingga Pambudi gagal menolak rokok yang ditawarkannya. 

“Belum ngantuk to, Mas?” tanya si Sopan itu. 

“Bukan hanya ngantuk, tetapi juga lelah.” Sengaja Pambudi berkata blak-blakan agar yang diajak bicara mengerti kehadirannya kurang disukai. 

Tetapi luput. Si Sopan malah tersenyum-senyum dengan kemanisan seorang wiraniaga.

“Oh, rupanya Anda orang penting yang sangat sibuk hari ini. Tetapi maafkan saya yang tidak tahu adat. Sebenarnya saya hanya ingin mengatakan kepada Anda, di luar sana ada seorang mahasiswa, eh, mahasiswi maksud saya. Ia hendak bermalam di sini, tetapi semua kamar sudah penuh.” 

“Lho, kamar yang di ujung kosong tampaknya.” 

“Kamar itu malah sudah dikontrak. Oh, anu, barangkali genting di atas kamar itu bocor. Pokoknya mahasiswa, eh, mahasiswi yang tampaknya masih sangat hijau itu tidak mau 
tidur di kamar ujung itu. Boleh jadi ia penakut, soalnya ia masih kekanak-kanakan.” 

“Lalu mengapa Bung mengetuk kamar saya? Mengapa tidak mencari penginapan lain?” 

 


Episode 9 
Di Kaki Bukit Cibalak 




“Oh, anu. Begini, ya, Mas, losmen dan hotel di kota ini sedang penuuuh semua. Dan gadis itu hanya ingin Anda perbolehkan menggelar tikar di lantai kamar Anda. Jelasnya ia ingin tidur di atas tikar di bawah dipan Anda. Cuma itu, bagaimana?” 

“Bukan main! Ini baru luar biasa namanya. Mari kita lihat mahasiswi yang kesasar itu. Akan Bung lihat apakah saya dapat menolongnya atau tidak.” 

Si Sopan berjalan di depan. Melompat-lompat seperti anak kambing melihat tetek induknya merekah. Sampai di pintu depan mereka berhenti. Sambil merangkul pundak Pambudi, 
pemuda itu menunjuk ke arah sebuah becak yang diparkir di pinggir halaman. Di samping kendaraan itu berdiri seorang gadis berambut pendek, menyandang sebuah tas sekolah. 
Tubuh bagian atasnya terbungkus jaket berwarna tanah. Ada emblem di kedua lengan jaket itu. Dia menghamburkan senyum ke arah Pambudi. Tingkah lakunya mirip kurcaci. Yang kontan membuat Pambudi tidak percaya adalah cara gadis itu memandangnya. Sinar lampu listrik di atas pintu membuat Pambudi yakin. Gadis itu mengecat alis palsunya tebal-tebal. Alis aslinya sudah masuk ke dalam cekung rongga mata, seperti alis perempuan tua yang sudah beranak-pinak. Pambudi berbalik dan berjalan langsung masuk ke kamarnya. Pintunya dikunci sekali. Dengan sebal Pambudi merebahkan diri di atas kasur yang dingin. Ia tidak tahu, berpuluh-puluh kepinding mulai menggerak-gerakkan cucuknya karena mencium bau manusia. 

Entah mengapa pikiran Pambudi langsung terbang ke Tanggir. Karena melihat sundal di halaman losmen itu, ia jadi teringat kepada seorang gadis kecil di kampungnya. Meskipun baru duduk di kelas dua SMP, Sanis pasti lebih 
cantik. Pambudi tersenyum ringan bila teringat cara Sanis menggulirkan bola matanya. Namun tiba-tiba Pambudi mengutuki dirinya, “Tolol dan naif aku ini. Sanis, betapapun juga masih tetap seorang bocah. Ia masih pantas, amat pantas, berlenggak-lenggok di atas sepeda jengkinya. Sanis masih senang bergerombol dan berebut 
jambu bol bersama teman-temannya. Mengapa aku ini?” 

Harian Kalawarta memasang iklan yang dipesan Pambudi pada halaman pertama. Hal itu menunjukkan minat Pak Barkah terhadap usaha yang sedang dilakukan oleh anak muda dari Tanggir itu. Ternyata iklan itu diberi ukuran yang cukup besar. Foto Mbok Ralem dengan tonjolan di sisi lehernya tampak jelas. Begitu juga kedua surat keterangan yang ikut terletak dalam iklan itu. 

Pada hari pertama Pak Barkah menerima telepon dari beberapa orang. Semuanya menanyakan soal-soal yang ada hubungannya dengan Mbok Ralem. Ada yang menanyakan apakah surat-surat yang tertera pada iklan itu autentik. Ada lagi yang memuji kejelian Kalawarta yang telah menemukan seorang yang menderita dan tidak berdaya di tempat yang terpencil, Tanggir. Orang yang bertanya demikian pasti tidak mengetahui peran Pambudi dalam urusan Mbok Ralem ini. Dari sekian banyak penelepon itu tak seorang pun 
yang tegas-tegas berjanji akan memberi bantuan. Walaupun demikian Pak Barkah tidak berkecil hati. Paling tidak sekian orang telah mendengar imbauannya. 

Kepala rumah sakit yang sedang merawat Mbok Ralem juga menghubungi Kalawarta. Ia menyatakan menyesal karena tidak dapat merawat pasien dari Tanggir itu dengan cuma-
cuma. “Karena hal itu menyangkut banyak peraturan dan ketentuan lainnya,” begitu kata pejabat yang sudah dikenal oleh Pak Barkah itu. 

Harian Kalawarta hanyalah sebuah koran daerah. Wilayah peredarannya tidak akan melewati batas-batas provinsi. Oplahnya hanya 12.000 kurang-lebih. Dari pembaca Kalawarta yang sekian banyaknya itu, seorang di antaranya adalah pensiunan penjaga SD di Wonogiri. Weselnyalah yang pertama kali tiba di meja Redaksi Kalawarta, nilainya lima ratus rupiah. Masih pada hari yang sama datang
sumbangan uang kontan. Pengirimnya para jemaat Gereja Sukmasuci di Yogyakarta, yang telah berhasil mengumpulkan uang 9.250 rupiah. Hari-hari berikutnya selalu ada satu-
dua kiriman yang datang. Pambudi, yang sudah datang kembali dari Tanggir, kemudian 
berembuk dengan Pak Barkah. Keduanya merasa gembira dan yakin usahanya bakal berhasil. Bahkan Pambudi sudah mengusulkan untuk menentukan kapan “Dompet Mbok Ralem” ditutup. Usul itu sangat dihargai oleh pemilik harian Kalawarta itu. Menurut Pak Barkah, tidaklah terpuji mengumpulkan sumbangan masyarakat melebihi keperluan. 

“Kepercayaan masyarakat terhadap keutamaan pengumpulan dana semacam ini jangan sampai kita rusakkan,” kata Pak Barkah. 

“Ya, kita hanya memerlukan suatu jumlah tertentu. Kurang sedikit akan lebih baik daripada terlalu banyak lebihnya,” sambung Pambudi pula. 

Namun keinginan kedua orang itu untuk membatasi sumbangan sampai pada jumlah yang patut, tidak terlaksana. Pada hari kesepuluh datang kiriman cek bernilai seratus ribu rupiah. Penyumbangnya menyembunyikan nama dan alamatnya. Tetapi Pak Barkah sudah hafal nomor rekening giro pada cek itu. Memang, bisa jadi surat berharga itu telah jatuh ke tangan pihak lain. Soalnya Pak Barkah tahu betul tanda tangan siapa yang terdapat pada kertas itu. Tanda tangan Haji X, pedagang batik yang sering memesan iklan pada 
Kalawarta. Pak Barkah yakin, sahabatnya itulah yang memberi sumbangan yang paling besar itu. 

Pada hari itu “Dompet Mbok Ralem” dinyatakan ditutup. Wesel yang telanjur diposkan oleh pengirimnya masih berdatangan sampai lima hari kemudian. Berdua Pambudi, Pak Barkah menghitung jumlah uang yang masuk. Rp. 
2.162.375,00. Uang sebanyak itu berasal dari 49 orang dermawan, ditambah dengan mereka yang berderma secara berkelompok. Misalnya penyumbang yang menyebut diri Anak-anak Terminal, mereka adalah kelompok kuli pasar, kernet, dan sopir di Terminal Bus Purwokerto. 

Pak Barkah diminta memegang uang sumbangan itu sampai datang tagihan dari rumah sakit. 


 
*** 



Sudah dua belas hari Pambudi meninggalkan Tanggir. Dan sekarang untuk kedua kalinya ia hendak kembali ke sana. Sanak famili Mbok Ralem serta kedua orang anaknya pasti menunggu-nunggu kabar dari Yogya. Pikiran Pambudi terasa enteng. Mbok Ralem sudah dioperasi. Biaya sudah tersedia. Munculnya Pak Barkah dalam urusan ini menambah semangat di hati anak muda itu.




Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...