Episode 22
Di Kaki Bukit Cibalak
“Kau ini bagaimana. Kawan, kalau keadaanku memungkinkan, sudah sejak dulu aku meneruskan sekolah,” kata Pambudi.
“Yang kaumaksud pasti soal biaya, bukan?”
“Persis!”
“Itu kekeliruanmu yang lainnya. Kau selama ini tidak mempunyai gambaran yang wajar tentang dirimu sendiri. Percaya atau tidak, yang jelas sekarang kau lebih kaya daripadaku. Lihat baju yang tergantung di paku itu, tidak
pangling?”
Pambudi memandang ke arah yang ditunjuk oleh temannya. Sebuah baju dril bekas seragam polisi yang sudah dipakai Topo sejak dia masih di SMA beberapa tahun yang lalu.
Ada keraguan merasuki jiwa Pambudi. Suatu kesadaran yang membawa cakrawala pemikiran yang luas, lebih kritis. Ia sadar, setelah meninggalkan kampungnya, ia menjadi
seorang yang sungguh-sungguh tidak memiliki pekerjaan, apalagi jaminan masa depan yang patut. Nah, ia hampir menemukan hal yang amat penting yang sejak semula sudah
dipikirkannya; motivasi baru yang akan memberinya semangat hidup. Bila ia mendapat suatu pekerjaan, di situlah ia dapat mengembangkan motivasi hidupnya. Itu
baru kemungkinan. Padahal bila ia menuruti anjuran Topo, justru ia sudah memulai dengan motivasi itu. Sambil menyelam toh ia bisa mencari siput di bawah air; sambil bersekolah toh ia bisa menunggu sampai buah itu layak
dipetik. Ya – Sanis.
Tengah malam Pambudi tertidur. Sebelum melingkarkan badannya dalam kain sarung ia berjanji kepada Topo akan mempertimbangkan usulnya baik-baik. Menjadi mahasiswa! Merdu juga kedengarannya, pikir Pambudi sebelum lelap.
Menerima atau tidak menerima usul Topo, jadi atau tidak jadi mahasiswa. Satu di antaranya harus dipilih oleh Pambudi, dan ternyata tidak gampang. Kalau aku menolak usul Topo, berarti aku hanya mengandalkan kemungkinan
mendapat pekerjaan. Siapa pun tidak akan berani menjamin bahwa pekerjaan yang mungkin kuperoleh nanti dapat menjadi andalan hidup yang patut, bahkan nyatanya
pekerjaan itu sendiri belum kuperoleh. Kalau aku memutuskan bersekolah lagi, banyak kesulitan yang akan kuhadapi. Bagaimanapun tepatnya perkataan Topo, aku tak bisa meremehkan masalah biaya kuliah itu. Kedua, aku harus menggali kembali pelajaran-pelajaran yang sudah bertahun-tahun terpendam. Sungguh, aku sudah lupa apa
arti Kempetai atau di mana persisnya letak Pulau Morotai. Lagi pula apakah memasuki sebuah perguruan tinggi begitu gampang, mengingat perbandingan yang sangat timpang
antara jumlah tamatan SLA dan daya tampung perguruan-perguruan tinggi?
“Pam,” kata Topo pada suatu malam sesudah makan nasi dengan lauk abon dan sambal kecap. “Sudah kukatakan aku lebih miskin daripada kamu. Ternyata aku bisa mencapai
tingkat pendidikan yang sekarang. Jadi aku yakin, kau pun akan bisa memperoleh apa yang telah kudapat. Tahun pelajaran baru akan dimulai tujuh bulan lagi. Masih tersedia banyak waktu bagimu untuk mempersiapkan diri
menghadapi ujian masuk. Kalau kau dapat memperoleh nilai ujian yang layak, aku dapat menolongmu. Walaupun dulu aku jago nyontek, pokoknya sekarang aku seorang asisten
dosen. Jangan khawatir kau akan terdesak oleh calon lain selama nilaimu patut.”
“Sababatku, sewaktu di SMA dulu pasti kau jauh lebih tolol daripada aku. Namun dengan tulus kuakui sekarang, kau telah memperoleh kemajuan. Kau seorang calon doktorandus, seorang asisten dosen. Layak kalau aku sangat memperhatikan kata-katamu. Di samping itu, setelah beberapa hari aku di sini, kepastian yang jelas sudah datang. Demi masa depanku sendiri, sesuatu yang tepat harus kulakukan. Kau yang menunjukkan kepastian itu, Kawan, kuterima usulmu dengan penuh kesadaran. Terima kasih. Dan bukankah aku tidak terlalu bebal bila memutuskan untuk menjadi seorang mahasiswa?”
Kehidupan yang rutin mulai dilakukan oleh Pambudi. Pagi-pagi menanak nasi dan merebus air untuk berdua. Sesudah Topo berangkat ke kampus ia membuka buku-buku pelajaran SMA yang didatangkan oleh sahabatnya itu. Sulit juga memahami kembali pelajaran yang telah lama membeku di otaknya. Bahkan hanya dengan susah payah, atas bantuan Topo, Pambudi dapat mengingat kembali kaidah-kaidah bahasa Inggris. Dua bulan lamanya Pambudi bekerja keras.
Kemudian ia mampu menyelesaikan soal-soal ilmu pasti dan ilmu kimia yang rirgan-ringan. Diskusi-diskusi kecil yang dilakukannya bersama Topo membantu Pambudi menghafal
kembali pelajaran-pelajaran ilmu sosial.
Selain mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian masuk, Pambudi mulai memikirkan masalah keuangan. Ia mengirim surat kepada orangtuanya, meminta perhatian agar ternak
ayamnya dipelihara sebaik-baiknya. Pambudi mengusulkan kepada ayahnya agar orang tua itu menggaji orang untuk mengurus peternakan kecil itu dengan diberi petunjuk yang jelas. “Hasil usaha peternakan itu akan menjadi sumber utama biaya sekolahku,” kata Pambudi dalam suratnya.
Tujuh bulan harus dilalui Pambudi sebelum tiba saatnya menempuh ujian masuk. Waktu sekian lama dirasakan terlalu panjang bila hanya diisi dengan menghafal pelajaran-
pelajaran yang justru pernah dikuasainya. Uang 90.000 yang dibawanya dari Tanggir akan terus berkurang bila Pambudi tidak mencari sumber penghasilan baru. Apalagi Topo telah meminjamnya sebanyak 10.000, katanya untuk membeli sebuah buku terbitan luar negeri.
Karena itu Pambudi berusaha mendapatkan pekerjaan sementara. Tiga buah tempat pompa bensin telah ia datangi, ketiganya menyatakan tidak bisa menerima tenaga
baru. Demikian juga beberapa perusahaan. Sebuah perusahaan pengiriman barang membutuhkan seorang pengawal truk angkutan, tetapi Pambudi tidak mungkin mengisi lowongan itu. Seorang pengawal barang harus mau bermalam di sembarang tempat, padahal di malam hari Pambudi harus
belajar. Kemudian Topo memberi nasihat, “Coba sembunyikan ijazah SMA-mu, barangkali kau akan lebih mudah mendapat pekerjaan sementara itu.” Pambudi menurut. Ternyata manjur, seminggu kemudian dia sudah
tampak bersama-sama kuli-kuli bangunan melakukan pengecoran di sebuah proyek pembangunan gedung.
Bolehlah, tiga ribu rupiah plus uang makan. Dengan penghasilan itu Pambudi dapat menyelamatkan uang simpanannya dari pemakaian sehari-hari. Bahkan pemuda
Tanggir itu mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Ternyata hidup bersama kuli-kuli itu menyenangkan hatinya. Mereka hangat dan bersahabat. Istilah “join” di
kalangan mereka berarti mengisap sebatang rokok secara berganti-gantian, kadang-kadang sampai empat-lima orang.
Episode 23
Di Kaki Bukit Cibalak
Sayang, hanya satu setengah bulan Pambudi bekerja bersama kuli-kuli itu. Suatu malam Topo memperingatkan dia bahwa pekerjaan itu terlalu banyak menghabiskan tenaganya. “Bagaimana kau bisa belajar bila sepulang dari kerja badanmu sudah lelah,” kata Topo. “Kemarin aku telah menelepon Nyonya Wibawa. Kutanyakan padanya apakah dia bisa menerimamu bekerja di sana. Kau bisa diterima di sana. Janda itu memiliki dua buah toko jam tangan, dan aku pernah bekerja setahun padanya. Datanglah ke sana besok pagi. Kau sudah kuperkenalkan. Tetapi bekerja pada nyonya itu, bukan hanya melayani toko. Pekerjaanmu nanti termasuk juga tugas-tugas kacung, maaf.”
Penampilan pertama kali harus memberi kesan yang pantas, begitu kata orang. Pambudi mempercayai hal itu. Maka ketika hendak berangkat menemui Nyonya Wibawa, Pambudi
mengenakan pakaian yang paling baru. Sepatunya disemir, rambutnya disisir ke belakang supaya tidak tampak terlalu gondrong. Sampai di tempat yang dituju Pambudi tidak menemukan keramahan. Nyonya Wibawa, atau Oei Eng Hwa nama aslinya, menyambut Pambudi sambil memberi makan anjingnya. Karena Topo yang membawa Pambudi, pemuda itu tidak dimintai keterangan macam-macam. Anak Tanggir itu hanya diberi penjelasan singkat tentang pekerjaan yang
harus dilaksanakan. Tetapi perintah pertama yang diberikan oleh Nyonya itu adalah, “Tolong belsihkan sepeda Mulyani itu. Ini sudah ampel jam tuju, ya! Mulyani musti pigi sekola, ya. Toko buka jam delapan, ya.”
Apa yang dikatakan Topo tentang pekerjaan di toko arloji itu benar semuanya. Selain menjadi pelayan toko, Pambudi harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain: menyapu, mengepel, atau mengantarkan babu ke pasar.
Sejak bekerja pada Nyonya Wibawa, Pambudi lebih gampang mengatur waktunya. Ia bisa belajar dengan teratur dalam jadwal yang pasti. Apalagi Topo seorang kutu buku,
sehingga Pambudi ikut terbawa ke dalam suasana yang benar-benar efisien. Gajinya cukup untuk belanja makan yang sederhana, bahkan Pambudi bisa pergi ke bioskop malam Minggu kalau ia suka. Uang sewa kamar sudah dibayar oleh Pambudi, empat bulan sekaligus. Setiap bulan tabungannya bertambah dengan kiriman yang ia terima dari ayahnya. Jadi ternak ayamku diurus dengan baik oleh Ayah,
pikir Pambudi.
Pada sore hari biasanya Mulyani ikut ke depan melayani para pembeli. Meskipun sudah tiga bulan lamanya Pambudi bekerja di situ, Mulyani belum pernah sekali pun berbicara dengan Pambudi, selain mengenai masalah
pembayaran dari pembeli misalnya. Di waktu senggang anak Nyonya Wibawa itu lebih suka duduk diam menekuni teka-teki silang yang dimuat dalam majalah atau koran. Kemudian Pambudi tahu bahwa Mulyani lebih berminat kepada teka-teki itu daripada berita atau artikel lainnya. Iklan film kungfu pun tidak menarik hatinya.
Suatu ketika Mulyani tampak gelisah dan kesal. Di depannya terpapar sebuah teka-teki silang yang besar. Ia tidak mampu menjawab semua pertanyaan. Mulyani putus asa, lalu meninggalkan majalah itu di atas kaca etalase. Karena senggang Pambudi mengambil majalah itu dan meneruskan menjawab teka-teki yang tidak terselesaikan oleh anak majikannya. Setelah penuh diam-diam Pambudi mengirimkannya kepada redaksi.
Dua minggu kemudian Mulyani menerima wesel sebesar 2.500 rupiah. Rupanya jawaban yang dikirimkan oleh Pambudi lolos undian. Tentu saja Mulyani terkejut. Dengan malu-
malu Pambudi menerangkan duduk persoalannya.
“Kalau begitu kau yang berhak atas wesel ini, Pam,” kata Mulyani. Itulah pertama kali dia mengajak berbicara pegawainya.
“Oh, tidak. Aku hanya meneruskan pekerjaan-pekerjaanmu. Lagi pula aku tidak merasa memiliki majalah itu. Maka aku mengirimkan jawaban itu atas namamu, dan kaulah yang
berhak atas hadiahnya.”
Mulyani tersenyum. Sesungguhnya ia tidak pernah menginginkan hadiah semacam itu. Ia tidak akan mengirimkan jawabannya meskipun ia sering berhasil menjawab seluruh pertanyaan dengan betul. Baginya, teka-teki silang hanya hobi belaka. Keesokan harinya sepulang sekolah, Mulyani menyerahkan
sebuah amplop kepada Pambudi.
“Pam, wesel itu telah kuuangkan. Ambillah itu.”
“Lho, tidak, Mul. Sungguh, itu uangmu.”
“Pokoknya ambil uang itu, atau aku akan marah.”
Gadis itu merengut. Pambudi menjadi rikuh. Di sinilah kelemahan laki-laki pada umumnya, bukan, bila berhadapan dengan lawan jenis yang bermuram. Secara samar Pambudi telah mengetahui adat Mulyani yang selalu merajuk bila kehendaknya tidak dituruti. Maka Pambudi mengalah.
Sesudah kejadian itu, ada tugas tambahan bagi Pambudi, kalau toko sepi ia membantu Mulyani menyalurkan hobinya mengisi teka-teki silang. Sering Mulyani menantang, kalau dapat menjawab penuh sebuah teka-teki, Pambudi
boleh menerima sebungkus keripik usus ayam. Mulyani mulai mengetahui makanan kegemaran pegawainya itu. Atau untuk menguji ketangkasan otak Pambudi, gadis anak Nyonya Wibawa itu sering membaca soal teka-teki secara cepat dan
beruntun. Pambudi harus menjawabnya.
“Yang berpendapat bahwa kekuasaan datang dari larasbedil.”
“Mao Tse Tung.”
“Untuk membabat hutan, harus memegang hak ini.”
“Konsesi.”
“Penulis Mein Kampf.”
“Adolf Hitler.”
“Orang ini terkenal sebagai The Grand Old Man.”
“Agus Salim.”
“X kali X sama dengan semacam persetujuan rahasia.”
Pambudi menepuk dahinya sendiri. Berputar-putar sambil menunduk. Lama sekali ia berpikir, tetapi pertanyaan itu belum juga terjawab.
Mulyani tertawa girang melihat Pambudi kebingungan. Ia mendekati pemuda Tanggir itu, sampai dekat sekali. “Kita makan pangsit bersama kalau kau bisa menebaknya,” kata
Mulyani.
Panas juga hati Pambudi. Ia menoleh, dan sekali ini ia berani menatap Mulyani dengan jelas. Segar kulit gadis itu. Alis dan matanya khas Mandarin. Tetapi leher itu! Jenjang dan punya kerutan-kerutan halus yang melingkar
seperti leher Pradnyaparamita, Ken Dedes. Angin semilir di jantung Pambudi. Akhirnya wajah Pambudi menjadi cerah. Masa bodoh dengan teori Sigmund Freud, tetapi karena
tatapan Mulyani otaknya seperti dipacu.
Episode 24
Di Kaki Bukit Cibalak
“X kali X sama dengan semacam persetujuan rahasia. Jawabnya, kongkalikong. Nah, seporsi pangsit untukku.”
Seharusnya Mulyani segera menuliskan jawaban itu. Tetapi tidak. Ia menggulung majalahnya lalu memukulkannya ke pipi Pambudi sambil melonjak kegirangan. Ada dua tangan yang saling pegang: yang satu putih kekuning-kuningan, yang satu cokelat. Ada dua pasang mata yang tiba-tiba saling pandang: yang sepasang redup dan sipit, yang lainnya bulat dan tajam.
Nyonya Wibawa batuk dan meludah, “Cuh!” Anjingnya menyalak, “Hwuf!”
*****
Pambudi tidak pernah mengatakan pernah bersekolah selain di sekolah dasar. Tetapi Mulyani tidak yakin. Ia tahu Pambudi mempunyai pengetahuan yang lumayan. Karena merasa penasaran, Mulyani merencanakan suatu saat akan menguji Pambudi. Dengan demikian ia akan lebih mengenal siapa sebenarnya yang menjadi pelayan toko milik orangtuanya itu.
Begitulah, suatu sore Mulyani meminta Pambudi supaya jangan segera pulang setelah toko tutup. “Bantulah aku mengerjakan soal-soal ilmu pesawat,” pintanya. Mula-mula
Pambudi menolak dengan alasan ia sungguh tidak mengerti apa itu ilmu pesawat. Namun lagi-lagi Pambudi harus mengalah setelah melihat Mulyani mulai merengut.
Mulyani duduk di kelas dua SMA. Tentu saja Pambudi dapat menguasai semua mata pelajaran di kelas itu, apalagi sekarang ia seolah-olah menjadi murid kelas tiga SMA yang siap menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Jadi soal ilmu pesawat yang disodorkan oleh anak majikannya dapat diselesaikan dengan cepat. Tidak puas dengan satu soal
Mulyani menambahnya dengan beberapa soal lagi, semuanya dibereskan oleh Pambudi.
*****
Menjelang ulangan umum, Mulyani memintanya membantu belajar. “Daripada mengundang seorang guru les kan bayarannya mahal, Ma,” kata Mulyani kepada Nyonya
Wibawa, karena ia tahu mamanya keberatan.
Pada saat belajar bersama itulah kedua anak muda itu saling mengenal lebih baik. Pambudi merasa percuma bersandiwara terus-menerus. Maka ia berkata dengan jujur siapa dia sebenarnya. Dikatakannya pula kepada Mulyani, mungkin hanya tinggal tiga bulan lagi ia bekerja pada orangtuanya.
“Kalau lulus ujian masuk, aku harus berhenti bekerja.”
“Wah, kalau begitu bakal ada yang merasa kehilangan. Maksudku, siapa lagi yang akan membantuku mengisi teka-teki silang?”.
“Apa artinya soal tetek bengek itu, Mul. Lagi pula aku masih akan tinggal di kota Yogya ini.”
“Seandainya kau tidak lulus, bagaimana?”
“Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Atau kau berharap aku gagal?”
“Wah, bukan begitu, malah sebaliknya. Kudoakan agar kau berhasil. Dan, Pam, mengapa kau harus berhenti bekerja bila menjadi mahasiswa? Seandainya kau tetap bekerja di sini sambil kuliah, bagaimana?”
“Kukira mamamu tidak akan mempekerjakan seorang yang hanya bisa bekerja setengah hari.”
“Kalau aku yang meminta, bagaimana?”
Pambudi terkejut karena Mulyani mendekatkan mukanya, sehingga kedua pipi mereka hampir bersentuhan. Mata Mulyani menatap dalam. Mata yang menunggu jawaban yang pasti.
“Entahlah, Mul, aku tak bisa memutuskannya sekarang. Yang penting, kita telah bersahabat. Persahabatan tidaklah sesempit kotak-kotak teka-teki silang, bukan?”
“Nah, kau mulai berbicara dengan hanya menggunakan otak. Aku benci, benci pada orang yang tidak bisa menghargai perasaan. Persahabatan harus juga dihiasi dengan
perasaan. Pam, kukira kau tak mempunyai cukup perasaan.”
Pada Hari Raya Imlek, toko tutup dua hari. Pambudi pulang ke Tanggir. Banyak persoalan yang harus ia bereskan dengan orangtuanya. Pertama, ia ingin melihat kesehatan orangtuanya, lalu menyampaikan kepada mereka maksudnya hendak meneruskan sekolah. Ia juga ingin melihat
peternakan yang kini menjadi sangat penting artinya. Kalau benar Pambudi dapat menjadi mahasiswa, hasil peternakan itulah yang akan memberinya biaya.
Empat bulan ditinggal oleh Pambudi, Desa Tanggir tidak mengalami perubahan apa-apa. Pagi-pagi orang pergi ke sawah atau naik ke Bukit Cibalak mencari apa saja yang
dapat dijual di pasar. Para penderes naik-turun pohon kelapa mengambil dan memasang tabung bambu penadah nira. Mereka hanya bercelana pendek meskipun hari kadang-kadang sangat dingin. Yang punya kegiatan di pasar sudah meninggalkan rumah sebelum matahari terbit. Pukul sembilan mereka pulang. Menjelang tengah hari, istri para
penderes telah selesai memasak dan mencetak gula kelapa. Cetakan itu adalah sekerat tabung bambu sepanjang jari telunjuk. Mereka menjual gula kelapa itu kepada Mbok Sum. Bila seorang yang baru berangkat kemudian berpapasan dengan temannya yang sudah kembali dari rumah Mbok Sum, ia akan bertanya. “Berapa harga gula sekarang? Tidak
turun lagi?”
Kelihatannya Tanggir hidup dalam tarikan-tarikan napas yang tenang. Tetapi di balik ketenangan itu beberapa orang sedang mengembangkan intrik untuk menjatuhkan
Pambudi. Bisik-bisik menjalar di antara penduduk Tanggir yang tidak pernah peduli apakah kabar itu benar atau tidak. Fitnah itu dengan cepat menjalar dari mulut ke telinga, dari kuping ke mulut dan ke telinga lainnya.
Hanya beberapa orang yang sejak semula merasa dekat dan percaya kepada Pambudi yang tidak terpengaruh oleh berita itu, bahwa kepergian Pambudi ke Yogya bersangkut paut
dengan hilangnya uang lumbung koperasi Desa Tanggirsebanyak 125.000 rupiah. Itulah yang sedang menjadi pokok pembicaraan setiap ada orang yang berkumpul di Tanggir. Orang-orang itu terlalu bodoh untuk menilai berita itu.
Mereka pun tidak tahu siapa yang mula-mula meniupkan kabar demikian.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar