Episode 33
Di Kaki Bukit Cibalak
“Nah, itulah tulisan yang berisi iktikad buruk dan fitnah!”
“Wah, Ayah. Seorang terpelajar seperti Pambudi pasti tahu bahwa memfitnah seseorang dapat dipidana. Tentu Ayah pernah mendengar, ada kabar busuk yang pernah tersebar di Tanggir: Pambudi menggelapkan uang koperasi sebanyak 125.000 rupiah. Dapat kita tebak siapa yang membuat berita itu. Sekarang Pambudi sedang melancarkan serangan balasan. Kalau anak itu berbuat demikian, berarti ia sedang mengajak lurahnya berhadap-hadapan di depan pengadilan. Ayah, pertarungan akan menarik, namun Ayah akan terbawa-bawa. Bukan mustahil kalau Gubernur atau orang pusat sekalipun telah membaca tulisan Pambudi ini. Seandainya mereka turun tangan mendahului tindakan Ayah, bagaimana? Sekali lagi Ayah akan dicap teledor. Salah-salah Ayah akan didakwa menutup-nutupi kecurangan seorang bawahan.”
Pak Camat termenung, padahal hatinya terkejut. Lama sekali ia berdiam diri. Apa yang diucapkan oleh Bambang Sumbodo, memang benar. Sejak semula ia hendak mengatakan
bahwa pendapat anaknya itu tidak salah. “Namun entah mengapa aku ingin menghindar dari kenyataan itu,” kata Pak Camat dalam hati. “Oh, ya, rupanya aku sudah
terbiasa dengan nilai yang mengutamakan kelenturan sikap, pragmatis. Akhirnya aku juga terbiasa membungkam hati nuraniku sendiri.”
Keesokan hari Pak Camat menghadap Bupati. Ternyata atasannya sudah siap menerima laporan dari Camat Kalijambe itu. Sudah dua hari Bupati mengikuti tulisan Pambudi yang memfokuskan keadaan daerah yang termasuk
wilayah kekuasaannya.
“Jangan sampai terjadi lagi aku ditegur Gubernur. Kita harus segera bertindak!” kata Bupati.
“Bapak menyuruh saya membantah tulisan Pambudi?”
“Tentu. Kumpulkan data yang resmi. Suruh seorang yang pandai menyusun suatu pernyataan bantahan, tetapi awas. Ambillah sikap yang tepat sehingga tidak tampak kita
membela Lurah Tanggir. Jadi hati-hati dalam menyusun redaksi pemyataan itu. Kemudian gantilah Lurah Tanggir!”
Pak Camat kaget. Ia tidak mampu mengikuti logika atasannya. Tulisan Pambudi yang menyerang Lurah Tanggir harus dibantah, tetapi kemudian lurah itu harus diganti. Lama sekali Camat Kalijambe itu berpikir. Lalu ia
menemukan pengertian jalan pikiran Bupati. Tulisan Pambudi harus dibantah demi kehormatan otoritas Pemerintah Daerah, yang tidak mungkin didikte oleh seorang wartawan harian kecil seperti Kalawarta. Pemecatan Lurah Tanggir juga perlu, sebab lama-lama ia
berbahaya juga bagi nama baik Bupati dan segenap bawahannya.
“Ingat, dalam memberhentikan Lurah Tanggir, jangan sampai terkesan bahwa kita sedang menuruti kehendak Pambudi. Kita mempunyai wewenang dan martabat sendiri. Kita tidak
usah diajari oleh orang luar. Harap diperhatikan!”
Bupati mengakhiri pertemuan singkat itu. Camat Kalijambe pulang. Sekarang agak bening hatinya. Namun ia harus mencari cara yang sebaik-baiknya untuk mencabut beslit
Lurah Tanggir. Sehari penuh, sepulangnya dari Kabupaten, Camat Kalijambe duduk memikirkan bagaimana caranya agar ia mendapat alasan untuk memecat Pak Dirga. Bambang Sumbodo ikut membantu ayahnya.
“Kuakui masalahnya ruwet, seperti masalah Mbok Ralem dulu. Aku terpojok lagi,” kata Pak Camat.
“Ayah, saya mempunyai usul.”
“Bagaimana?”
“Panggil polisi. Laporkan semua tindakan Lurah Tanggir.”
“Ooo, bocah bagus, apa kaukira polisi belum tahu siapa Lurah Tanggir itu?”
“Pokoknya Ayah harus mengambil tindakan menurut hukum, apa lagi?”
“Bukan main! Anakku, kau mau mengatakan bahwa hukum harus ditegakkan meskipun langit jatuh, begitu? Dengarlah, mantri polisi yang masih bau kencur! Urusan hukum itu kan
hanya salah satu segi dalam kehidupan kita ini. Seorang pejabat tua seperti Ayah ini harus arif bila hendak menerapkan hukum terhadap suatu masalah. Masih banyak segi lain yang patut kita pertimbangkan sebelum kita
memutuskan hendak menempuh jalan hukum. Misalnya Lurah Tanggir kita ajukan ke depan hakim, kemudian ia membela diri, ‘Mengapa lurah itu, lurah sana, lurah anu tidak diperlakukan sama?’ Anakku, Bambang! Bayangkanlah seandainya pengadilan hanya sibuk mengurus perkara para lurah!”
“Dan Lurah Tanggir masih bersaudara dengan Sekda Kabupaten?”
“Itu lagi.”
“Persis! Ayahku telah menjadi veteran tua,” kata Bambang dalam hati.
“Sabarlah, akan kutempuh jalan kebijaksanaan. Sekali lagi kebijaksanaan.”
“Maaf, Ayah, yang namanya kebijaksanaan selalu muncul dari kewenangan. Patokannya sangat subjektif dan baur. Kebijaksanaan tidak akan menyelesaikan masalah itu dengan tuntas. Ia hanya akan menggeser masalah itu ke samping, bukan menyelesaikannya sama sekali.”
Sekali lagi Pak Camat bukan tidak percaya pada pendapat anaknya. Tetapi ia tidak mungkin menempuh cara yang diusulkan anaknya. Mengapa demikian, jawabannya akan segudang banyaknya.
Pokoknya, untuk membereskan masalah Lurah Tanggir, Pak Camat akhirnya menemukan sebuah cara: Diam-diam ia menyuruh seseorang menyelenggarakan meja judi. Dapat dipastikan Pak Dirga akan muncul di arena judi itu. Apalagi dengan bisik-bisik diberitakan, bahwa beberapa perempuan cantik akan melayani meja judi itu. Pada malam kedua Pak Dirga masuk perangkap. Seorang jaksa menangkap basah Lurah Tanggir itu sedang mengocok kartu. Memang,
siapa pun tahu, bukan baru sekali itu Pak Dirga bermain judi. Ia pejudi. Tetapi hal itu tidak penting. Yang jelas, sekarang ada alasan resmi untuk menjemur Pak Dirga di halaman kantor polisi. Langkah pertama yang telah ditempuh Pak Camat telah berhasil menjatuhkan Lurah
Tanggir. Pendapat umum atas tindakan selanjutnya telah diarahkan dengan sempurna. Sesudah dijemur di halaman kantor polisi itu, beslit Pak Dirga dicabut. Gampang, sangat gampang. Diharapkan semua orang akan berkata, “Lurah Tanggir dipecat gara-gara ia bermain judi.” Bukan dengan alasan lain, apa pun bunyinya.
Demikian, ternyata pemecatan Lurah Tanggir itu berbuntut pendek saja. Suatu ketika Pak Camat mendapat pujian Bupati karena prestasi ini.
Episode 34
Di Kaki Bukit Cibalak
Amat banyak yang dialami Pambudi selama tinggal di Yogya tiga tahun terakhir ini. Tahun pertama, setelah meninggalkan toko arloji itu ia bekerja pada harian Kalawarta. Pak Barkah membimbingnya sehingga anak Tanggir itu bisa menjadi seorang jurnalis tanpa pendidikan formal. Masih dalam tahun pertama, Pambudi
masuk ke fakultas teknik. Sungguh, tanpa kemauan yang keras ia tidak akan mungkin menjadi mahasiswa yang pintar sebab ia kuliah sambil bekerja untuk Kalawarta. Juga
tidak bisa diabaikan sikap Pak Barkah yang tidak hanya menganggap Pambudi sebagai pegawainya. Orang tua itu dengan sungguh-sungguh mengarahkan perkembangan Pambudi. Di samping Pambudi memang menjadi tenaga penting dalam harian Kalawarta, Pak Barkah masih mempunyai alasan moral untuk membina anak Tanggir itu lebih lanjut.
Tahun kedua, Pambudi mendapat pukulan batin yang keras. Sanis, yang sedang dinanti kematangannya, diambil oleh Pak Dirga. Pambudi tidak malu mengakui bahwa hatinya
terguncang. Sakitnya kehilangan seorang kekasih, sakitnya menghadapi kenyataan bahwa dirinya tidak cukup berharga di mata anak Pak Modin itu. Lebih sakit daripada menerima dakwaan melarikan uang milik koperasi Desa Tanggir. Untung, ia berangsur-angsur dapat melupakan kesusahannya
dengan bersikap terbuka. Pambudi waktu itu menceritakan dengan terus terang kepada Pak Barkah apa yang baru saja dialaminya. Senyum Pak Barkah, petuah-petuahnya, mampu
meyakinkan Pambudi, bahwa bagi seorang laki-laki cinta bukanlah segalanya. Bagaimana Pambudi bisa meyakini kata-kata atasannya, terbukti ketika beberapa bulan kemudian Sanis sudah menjadi janda, Pambudi tidak lagi berminat padanya.
Pambudi naik ke tingkat dua pada fakultas teknik itu. Kejenuhannya sedikit berkurang ketika ternyata Mulyani menyusulnya menjadi mahasiswa pada fakultas yang sama. Mahasiswi yang baru saja dipelonco itu mengetahui keadaan Pambudi, yang baru saja kehilangan Sanis. Dari mana Mulyani tahu soal itu, hanya dialah yang bisa menerangkan. Yang jelas ia selalu berusaha agar Pambudi tidak terus-terusan murung. Mereka sering makan bakso bersama, nonton bersama. Dan yang paling sering mereka duduk-duduk di perpustakaan fakultas sambil menghadapi
lembaran teka-teki silang dan keripik usus ayam.
Menjelang ujian kenaikan tingkat, Mulyani makin menyandarkan diri pada Pambudi. Malam-malam ia sering datang menyusul ke kantor Redaksi Kalawarta. Pambudi memang sering tidak pulang, belajar, bahkan tidur di
tempat itu. Mulyani tidak peduli pada mamanya yang nyinyir. Paling-paling Mulyani hanya akan menelepon dari tempat Pambudi dan mengatakan kepada mamanya di mana ia
saat itu berada. Pak Barkah percaya, kedua orang muda itu sudah dewasa, sehingga ia tidak pernah berkata apa pun selama mereka tahu membawa diri dan tidak mengurangi
kelancaran kerja Kalawarta.
Mulyani berhasil naik ke tingkat dua, Pambudi ke tingkat tiga. Ada jam tangan baru di tangan kiri Pambudi. Ada baju baru melekat di badannya. Hanya mereka berdua yang tahu bahwa barang-barang itu pemberian Mulyani.
Tahun ketiga, Pambudi lulus ujian sarjana muda. Ia merasa senang dan bersyukur. Tetapi ia diam saja ketika Mulyani menciumnya. Pambudi bersiap-siap hendak menengok
orangtuanya di Tanggir sambil menyampaikan kabar bahwa ia sudah lulus ujian. Ia baru akan berangkat tiga hari lagi karena akan menyelesaikan sebuah artikel yang sudah
telanjur ditulisnya. Namun sebuah interlokal datang dari Tanggir. Ayahnya meninggal dengan mendadak karena terjatuh di dekat sumur. Keberangkatan Pambudi ke Tanggir
dipercepat saat itu juga. Ia hanya sempat berpamitan kepada Pak Barkah.
Sampai di rumah, kakak perempuan dan ibunya menyambutnya dengan tangis. Tetapi Pambudi tetap tenang. Ia sangat yakin bahwa kematian adalah sekadar proses alami yang langsung dikendalikan oleh Tuhan dari arasy. Pemuda itu segera pergi ke sumur lalu bersembahyang di samping jenazah ayahnya. Kalau Pambudi meneteskan air mata bukanlah pertanda ia bersedih. Ia kecewa karena sebenarnya ia ingin memperlihatkan ijazah yang baru diraih kepada ayahnya. Hanya terlambat beberapa jam.
Banyak orang hadir melayat kematian itu. Lurah yang baru tidak ketinggalan. Pengganti Pak Dirga masih sangat muda, belum beristri, Hadi namanya. Pemuda itu berijazah STM.
Menurut pandangan sekilas Hadi akan mampu membawa perbaikan-perbaikan di Tanggir. Ia juga sadar apa dan bagaimana pemuda Tanggir yang bernama Pambudi itu. Maka pada waktu datang melayat kematian ayah Pambudi, lurah baru itu berlaku hormat terhadap tuan rumah. Seolah-olah dengan sikapnya itu ia hendak menyatakan, “Aku berjanji akan bekerja lebih baik, lebih jujur daripada Pak Dirga!”
Sanis juga datang, naik Vespa. Ia makin cantik sajameskipun telah menjanda. Pambudi tahu, Sanis ingin berkata banyak, tetapi ia hanya melayaninya dengan sederhana. Bukan waktunya berbicara yang bukan-bukan selagi jenazah ayahnya terbujur menunggu saat penguburan. Lagi pula Pambudi tidak ingin kenangan lamanya tergelitik dan bangkit kembali.
Bambang Sumbodo datang tepat pada saat keranda diangkat. Pambudi tidak dapat menyantuninya dengan baik, karena ia ikut memanggul jenazah ayahnya. Syukurlah, Bambang serta Hadi ikut mengantarkan jenazah sampai ke Pekuburan Ampeljajar, di sebelah utara Bukit Cibalak.
Pulang dari pekuburan, tiga orang muda itu berjalan bersama-sama: Bambang Sumbodo, Hadi, dan Pambudi. Mereka sangat akrab bukan karena rasa simpati saja. Baik Bambang Sumbodo, maupun Hadi, sudah lama ingin berhadapan muka dengan Pambudi, anak muda Tanggir yang memiliki kepribadian amat menonjol. Karena rasa akrab itu Bambang
lupa bahwa mereka baru saja menguburkan ayah Pambudi. Ia berseloroh.
“Pam, kulihat Sanis tadi di rumahmu. Mengapa kau tidak menahannya sekalian? Kukira mataku tidak salah, aku telah melihat seorang janda yang baru berusia tujuh belas dan sangat cantik.”
“Husy,” desis Pambudi.
Tetapi Bambang mendesak terus dengan gencar. “Alaaah, Pam, aku kan tahu, dulu kau menginginkannya. Apa salahnya, tidak kena perawan, jandanya pun jadi.”
“Tidak adil kalau kita tidak menawarkannya kepada Hadi, lurah kita yang baru dan masih bujangan ini. Seorang janda lurah akan turun derajatnya bila kemudian dikawin oleh laki-laki yang berpangkat lebih rendah. Ayo, siapa
yang berani mendebat pendapatku ini?”
Episode 35
Di Kaki Bukit Cibalak
Sesungguhnya Pambudi hanya berseloroh. Namun tak urung Hadi menjadi merah mukanya, karena secara kebetulan perasaan hatinya tertebak. Maka lurah muda itu tidak bisa berbuat lain kecuali celala-celili dengan senyum kecut. Dalam hati Hadi bersorak. Seandainya benar, Pambudi tidak lagi tertarik pada Sanis...
*****
Sudah delapan hari Pambudi berada di Tanggir. Sebenarnya ia harus sudah berada di Yogya kembali, mengingat Pak Barkah akan terlalu repot bila ditinggalkannya terlalu lama. Namun Pambudi belum selesai membereskan segala
urusan akibat kematian ayahnya. Ibu Pambudi kini tinggal seorang diri dan Pambudi belum memutuskan bagaimana selanjutnya. Kemungkinan yang sudah dipikirkannya adalah mendatangkan kakak perempuannya agar tinggal bersama orang tua itu. Dan untuk ini Pambudi belum berbicara dengan yang bersangkutan. Tetapi Pambudi percaya,
kakaknya tidak akan berkeberatan, apalagi bila ia juga diserahi peternakan ayamnya.
Pambudi sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu ketika seorang tamu datang bermobil. Menurut penglihatan Pambudi, tamunya tampak bertambah langsing. Bentuk mata Mulyani berubah, ada garis lipatan kecil di atas bulu matanya. Seperti bukan mata Mandarin. Lengkung rahang gadis itu bertambah lonjong.
“Hanya seorang diri, Mul?” tanya Pambudi setelah mereka duduk berhadap-hadapan.
“Berdua dengan Pak Sopir.”
“Wah, sayang kau datang mendadak. Sebetulnya di samping rumah ini ada pohon manggis, buahnya masak-masak.”
“Soal itu nanti saja. Terimalah dulu rasa simpatiku atas kematian ayahmu. Aku mendengar hal ini kemarin dari Pak Barkah, ketika aku mencarimu ke sana.”
“Oh, ya, terima kasih, Mul.”
“Kemudian...” Mulyani tidak meneruskan kata-katanya. Dipandangnya wajah Pambudi namun hanya sesaat. Yang dipandang menjadi bertanya-tanya dalam hati.
“Teruskan, Mul.”
Tetapi Mulyani diam saja. Pambudi teringat ketika ia masih bekerja pada mama gadis ini. Mulyani seorang perajuk.
“Tetapi kau masih berkabung. Bagaimana, Pam?”
“Tak mengapa, katakanlah. Aku telah dapat menerima kematian ayahku dengan ikhlas. Sekarang aku tidak berkabung lagi.”
“Liburan masih lima hari lagi, bukan?”
“Benar.”
“Apa rencanamu?”
“Wah, sungguh aku tidak mempunyai rencana apa-apa. Paling-paling aku akan segera kembali ke Yogya, sebab Pak Barkah pasti sudah menungguku. Oh, maafkan sebentar, aku hendak menyuruh anak-anak memetik manggis.”
Mulyani hendak menahan Pambudi agar tetap duduk. Iamerasa belum puas karena belum sempat menyampaikan hal yang amat penting baginya. Tetapi terlambat, Pambudi sudah bangkit dan masuk ke dalam. Ketika keluar lagi beberapa menit kemudian Pambudi langsung membidik Mulyani dengan tustelnya. Gadis itu kaget oleh sinar lampu blitz.
“Tidak lucu, Pam, sungguh.”
“Memang aku tidak bermaksud membanyol.”
“Bagaimana kalau aku marah?”
“Baru sekali ini kudengar seorang yang hendak marah pakai permisi dulu.”
“Tengik kau!”
“Lho, aku sudah mandi dengan sabun yang mengandung parfum Cleopatra. Jangan percaya pada kata-kata tukang iklan sebelum kau menciumnya sendiri.”
Mulyani mencari sesuatu untuk dilemparkan kepada Pambudi. Sehelai saputangan putih melayang ke wajah pemuda itu. Tidak puas, Mulyani hendak menampar pipi Pambudi, tetapi tangannya tertangkap. Seorang anak kecil melihat adegan ini dan termangu. Ia menjatuhkan keranjang yang berisi buah manggis kemudian berlari cepat-cepat.
“Maaf, Mul. Aku memang keterlaluan. Tetapi cuma olok-olok.”
“Aku marah betul, lho, Pam, aku marah.”
“Ya, maka aku minta maaf.”
“Kaukira segampang itu meminta maaf padaku? Ada syaratnya!”
“Akan kupenuhi apa pun yang kau syaratkan, asal kaumaafkan aku.”
“Betul? Aku khawatir kau akan menolak syarat yang kuminta. Begini, Pam, sebaiknya kita jangan meneruskan pembicaraan ini di sini. Kita pergi ke Bandung. Kalau kau mau menggantikan Pak Sopir, olok-olokmu akan kumaafkan. Hayo, bagaimana?”
“Wah, tawaran ini sangat mendadak. Tetapi tak pantas kutolak. Masalahnya hari sudah terlalu siang, Mul, pulangnya malam?”
“Tak usah khawatir, mobilku berlampu, masih baru pula.”
“Ya, aku tahu. Barangkali aku akan menolak ajakanmu bila kau membawa mobil tua.”
“Dasar laki-laki! Pam, kau pasti tak merasa bahwa kata-katamu tadi sangat menyakitkan hatiku. Kau hanya berminat karena mobilku baru. Seandainya kau tahu bahwa mobil itu hanya berharga 50 juta...”
“Maaf, Tuan Putri. Mobil itu hanya berharga 50 juta. Tapi pemiliknya, tak ternilai harganya.”
Kedua pipi Mulyani memerah. Tiba-tiba jantungnya terpacu. Dengan gerakan yang kikuk ia membuka dompet dan menarik lima ribuan. Mulyani kemudian keluar, memberikan
uang itu kepada Pak Sopir. Laki-laki itu disuruhnya pulang ke Yogya, naik bus.
Pambudi bersiap-siap. Selama ia di kamar, ibunya menemani Mulyani di depan. Tetapi perempuan itu hanya menjadi pendengar. Barangkali ia malu karena logat Tanggir amat jauh berbeda dengan logat Yogya. Hanya
dalam hati ibu Pambudi bertanya, mengapa anaknya tampak sangat akrab dengan gadis yang kuning dan tampaknya anak orang kaya.
*****
Episode 36
Di Kaki Bukit Cibalak
Dalam perjalanan ke Bandung, Mulyani menjadi pendiam. Hanya sekali-sekali ia melirik Pambudi yang duduk di belakang kemudi. Atau ia mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Pambudi menghidupkan kaset, tetapi Mulyani
mematikannya segera.
“Wah, aku jadi rikuh. Kau murung saja, Mul?”
“Benar?” tanya Mulyani tanpa menoleh.
“Sungguh, aku bingung. Aku tak mengerti!”
“Mengapa, Pam?”
“Aku yang harus bertanya, mengapa kau murung begitu.”
“Pambudi, kau sungguh aneh. Kau sudah jadi sarjana.Apakah kau lupa bahwa pembicaraan kita di rumahmu tadi belum selesai?”
“Oh, ya...”
“Dengarlah, Pambudi. Sudah kukatakan, selain hendakmenyampaikan rasa simpati atas kematian ayahmu, aku membawa masalah lain.”
“Baiklah, sekarang katakan!”
Mulyani menunduk. Tangannya bermain-main dengan sebuah manggis yang dibawa Pambudi dari rumah. Ini dia! Pambudi hafal benar, bila Mulyani sudah bersikap demikian, pasti ada sesuatu yang dituntutnya.
“Mul, bagaimana aku dapat mengetahui masalah yang kaumaksud, bila kau sendiri tidak mengatakannya?”
“Benci, benciiii! Sejak pertama kali berbicara padamu empat tahun yang lalu aku sudah benci padamu. Kau tidak menghargai perasaan! Segalanya kauatasi dengan otakmu!
Oh, maafkan aku, Mas Pam, aku telah berbicara kasar. Sekarang hentikan dulu mobil ini.”
Pambudi patuh, menepikan mobil itu kemudian mematikan motornya. Di depan mereka ada tebing melandai yang berakhir pada sebuah sungai kecil. Di kiri-kanan mereka hutan karet. Dalam kesibukannya memarkir mobil, Pambudi merasa ada keanehan. Mulyani memanggilnya dengan sebutan “Mas”. Tak pernah Mulyani berbuat demikian sebelumnya.
“Sungguh, Mas Pam, mestinya kau yang mengemukakan masalah yang akan kukatakan berikut ini. Bukan aku. Tetapi karena kau selalu begitu-begitu saja, aku telah melanggar naluriku sendiri sebagai seorang perempuan. Mas Pam, kita harus berbicara sekarang, kita harus berbicara...”
Pambudi menoleh ke samping. Sepasang mata menatapnya. Indra yang sedang tampil mewakili perasaan jiwa yang paling jujur. Hanya beberapa detik sepasang mata Mulyani
memancarkan getaran-getaran lembut, pulsa nuraniah yang langsung ditangkap oleh jiwa Pambudi. Waktu yang sesingkat itu rupanya telah mengisap habis tenaga Mulyani. Napasnya terengah-engah, menangis, kemudian Mulyani bersandar pada pundak Pambudi.
“Mul,” bisik Pambudi.
“Ya, Mas Pam.”
“Terpaksa aku menerima dakwaanmu sebagai orang yang kelewat egois. Semula aku adalah pegawaimu, lalu meningkat menjadi sahabatmu. Yang terakhir aku menjadi
kakak kelasmu di fakultas. Ketiga peran itu telah kutunaikan dengan baik, bukan? Sampai di titik ini, masihkah ada sesuatu yang dapat kuberikan padamu?”
“Kau bersungguh-sungguh dengan pertanyaan itu, Mas Pam?”
“Tentu!”
“Tak seorang pun mengatakan bahwa kau seorang pemuda dungu, aku pun tidak mengatakan demikian. Benarkah kau tidak tahu apa yang ingin kudengar darimu?”
“Maksudku, aku ingin mendengar sendiri kau mengatakannya. Jangan kausuruh aku menebak-nebak.”
“Sungguh, Mas Pam, kau laki-laki yang tidak berperasaan.”
Kini Mulyani bukan hanya bersandar kepada Pambudi. Ia memeluk pemuda itu erat-erat. Tangisnya berderai lagi. Dalam hati Pambudi berkecamuk peperangan berbagai perasaan. Masing-masing perasaan menuntut Pambudi,
mendesak agar dituruti. Ketika segalanya mengendap, Pambudi dapat berpikir tenang. Kesadaran muncul. Ia tahu siapa dirinya, suatu pengetahuan yang datang bersama kejujuran. Pambudi bercakap-cakap dengan dirinya
sendiri.
“Aku seorang pemuda biasa yang berumur 27 tahun. Tak ada yang kurang pada diriku, utuh dan sehat. Apa yang dirasakan oleh Mulyani, aku pun merasakannya pula. Rasa cinta tidak mati, meskipun aku telah dikhianatinya. Apa
salahnya kalau kuakui bahwa Mulyani segar dan lembut. Apa salahnya kalau aku berkata bahwa sudah lama aku tertarik padanya. Tetapi yang kutampilkan adalah sikap kemunafikan. Tak ada rasa rendah diri padaku terhadap
Mulyani karena ia sangat kaya. Tidak ada juga rasa angkuh. Yang ada hanyalah suara akal sehat. Dengan sungguh-sungguh aku berusaha supaya aku tidak jatuh cinta kepada Mulyani, karena tentang cinta aku berpendirian sangat kolot: Rasa cinta hanya tersedia buat bekal
perkawinan. Nah, aku hendak mengawini Mulyani? Oh, seribu perbedaan yang harus kusingkirkan sebelum aku memutuskan
berbuat demikian. Cinta tidak akan lestari bila berjalan terlalu jauh dari kenyataan. Itulah sebabnya aku mendorong Kho Liong Bun supaya cepat menggandeng Mulyani ketika aku tahu jago bola basket di fakultasku itu
tertarik kepada Mulyani. Sayang, Mul tidak melayaninya.”
“Mul, apakah kau tidak sadar ada pemisah di antara kita berdua? Bukankah kita berdua lahir dalam keadaan yang serba berbeda? Apakah...”
“Sudah! Aku benciii! Mas Pam, kau berbicara seperti anak ingusan. Aku sadar dan aku tahu dengan jelas, tak ada beda apa pun antara kau dan aku. Atau setidaknya kau telah mengatakan aku tampak pantas ketika aku berkain kebaya pada saat graduation day dulu. Bahkan kaulihat, mataku telah dioperasi. Kau tak tahu untuk siapa semua itu kulakukan, bukan? Karena pada dirimu tak ada yang
namanya perasaan.”
Pambudi terpojok. Ia harus mengakui bahwa percuma saja terus-menerus bermunafik-munafikan. Maka diangkatnya wajah Mulyani. Mereka bertatapan. Hati dan jiwa keduanya
bertatapan.
Angin berdesau menembus hutan karet di kiri-kanan mereka. Pambudi hendak menuntun Mulyani keluar dari mobil. Tetapi urung setelah mereka melihat dua orang anak sedang
memandikan kerbau di kali kecil di hadapan mereka. Keduanya masuk kembali. Mesin dihidupkan, tetapi Mulyani berbisik, suaranya dalam dan pelan, “Mas Pam, kita tidak jadi ke Bandung. Mari, antarkan aku pulang ke Yogya.”
Mobil itu berbalik, kembali ke timur. Bukit Cibalak ada di samping kanan mereka. Cibalak diam, sabar menanti apa pun yang bakal terjadi pada dirinya. Tetapi seolah-olah Cibalak mengerti, seorang pencintanya sedang pergi meninggalkannya. Seandainya ia bisa bertutur kata, pastilah Cibalak akan berseru, “Karena Mulyani, apakah kau akan meninggalkan aku, Pambudi?” Seruannya tidak pernah terdengar orang. Dan Bukit Cibalak membisu abadi.
~SELESAI~
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar