Jumat, 23 April 2021

BEKISAR MERAH BAB 04

BAGIAN KEDUA 01
 
 Musim pancaroba telah lewat dan kemarau tiba. Udara Karangsoga yang sejuk berubah dingin dan acap berkabut pada malam hari. Namun kemarau di tanah vulkanik itu tak pernah mendatangkan kekeringan. Pepohonan tetap hijau karena tanah di sana kaya akan kandungan air. Suara gemercik air tetap 
terdengar dari parit-parit berbatu atau dari dasar jurang yang tertutup rimbunan pakis-pakisan. Kemarau di Karangsoga hanya berarti tiadanya hujan dalam satu atau dua bulan. Alam sangat memanjakan kampung itu dengan memberinya cukup air dan kesuburan. Lalu, mengapa para penyadap kelapa di 
Karangsoga hidup miskin adalah kenyataan ironik, yang anehnya tak pernah 
dipermasalahkan apalagi dipertanyakan di sana. 
 
 Kehidupan di Karangsoga tetap mengalir seperti air di sungai-sungai kecil yang 
berbatu-batu. Manusianya hanyut, terbentur-bentur, kadang tenggelam atau bahkan membusuk di dasarnya. Tak ada yang mengeluh, tak ada yang punya gereget, misalnya mencari kemungkinan memperoleh mata pencarian lain karena menyadap nira punya risiko sangat tinggi dengan hasil sangat rendah. Atau menggalang persatuan agar mereka bisa bertahan dari kekejaman pasar 
bebas yang sangat leluasa memainkan harga gula. 
 
 Tidak. Karangsoga tetap adhem-ayem seperti biasa, tenang, seolah kemiskinan para penyadap di sana adalah kenyataan yang sudah dikemas dan harus mereka terima. Malam itu pun Karangsoga tenang. Bulan yang hampir bulat leluasa mendaulat langit karena awan hanya sedikit menyaput ufuk barat. 
 
 Eyang Mus turun dari suraunya yang kecil setelah beberapa lelaki tua lebih dulu meninggalkannya. Di emper surau Eyang Mus mengangkat muka untuk sejenak menatap langit. Dan cahaya bulan yang menerpa wajah serta-merta menyejukkan hatinya. Bunyi terompah yang teratur mengiringi langkahnya dan segera berganti nada ketika Eyang Mus menginjak lantai rumah. 
 
 Pintu berderit ketika Eyang Mus masuk. Mbok Mus sudah menyiapkan teh hangat dan kotak tembakau di meja ruang depan. Pasangan orang tua itu biasa duduk berlama-lama sambil menunggu mata mengantuk. Tak ada kesibukan pada malam seperti itu bagi pasangan yang sudah ditinggal oleh anak-anak. Keempat anak mereka sudah lama berumah tangga dan memisahkan diri. 
 
 Namun malam ini Eyang Mus tak ingin duduk termangu. Bulan hampir bulat yang dilihatnya sejenak ketika ia turun dari surau telah mengusik hatinya lalu menuntun langkahnya ke pojok ruang depan. Di sana ada gambang kayu keling yang usianya mungkin lebih tua daripada Eyang Mus sendiri. Eyang Mus yang 
sering mendapat sebutan santri kuno, mahir memainkan gambang tunggal untuk mengiringi bait-bait suluk yang biasa ditembangkannya dalam irama sinom atau dhandhanggula. Bagi seorang santri kuno seperti Eyang Mus, suluk yang diantar oleh irama gambang tak lain adalah tangis rindu seorang kawula akan Gusti-nya; tangis seorang pengembara yang ingin menyatu kembali dengan asal-mula 
dan tujuan akhir segala yang ada, sangkan paraning dumadi. Maka bila sudah tenggelam dalam suluk-nya Eyang Mus lupa akan sekeliling, mabuk, keringat membasahi tubuh, dan air matanya berjatuhan. Suaranya ngelangut menusuk malam, menusuk langit. Apalagi bila yang ditembangkannya adalah bait-bait pilihan. 
 
 Wong kas ingkang sampun makolih 
 Hakul yakin tingale pan nyata 
 sarta lan sapatemone 
 Pan sampun sirna luluh 
 tetebenge jagat puniki 
 Kabotan katingalan 
 ing wardayanipun 
 Anging jatine Sanghyang Suksma 
 Datan pegat anjenengaken mangkyeki 
 Kang ketung mung Pangeran 
 Sapolahe dadi pangabekti 
 Salat daim pan datan wangenan
Pan ora pesti wektune pan ora salat wulu 
 Tan pegat ing ulat liring 
 Madhep maring Hyang Suksma 
 Salir kang kadulu 
 andulu jatining tunggal 
 jroning bekti miwah sajabaning bekti 
 Sampun anunggal tingal 
 
 Adalah manusia istimewa yang telah sampai kepada kebenaran sejati; 
pandangan hatinya menjadi bening begitu ia berhadapan dengan Tuhan. 
Luluh lebur segala tabir dunia. 
Pandangannya larut dalam kebesaran Tuhan-nya. 
Tak putus menyebut nama-Nya. 
Baginya yang ada hanyalah Allah. 
 
 Semua geraknya menjadi sembah, salat jiwanya tegak sepanjang waktu bahkan 
ketika raganya dalam keadaan tak suci. 
Mata hatinya tak putus memandang Allah. Kenyataan yang ada baginya adalah kesatuan wujud baik ketika dalam salat maupun di luarnya. 
Hasrat manusiawi 'lah terselaraskan dengan kehendak Ilahi. 
 
 Dan semuanya baru berhenti apabila Eyang Mus, oleh matra kemanusiaan sendiri, tersadar dirinya terhadirkan di alam kesehatian. 
 
 Orang Karangsoga, bahkan Mbok Mus sendiri tak pernah mengerti betapa jauh jiwa Eyang Mus mengembara ketika lelaki tua itu sedang bersila di depan gambangnya. Mereka tidak tahu, ketika mata Eyang Mus terpejam hatinya 
malah melihat dunia yang lebih nyata. Namun demikian orang Karangsoga setidaknya mampu menangkap muatan wadhag, muatan lahiriah suara gambang Eyang Mus. Muatan itu adalah irama gambang yang menyapa hati, menyentuh jiwa sehingga mereka betah mendengarkannya. Apalagi ketika tengah malam cahaya bulan membuat bayang-bayang pepohonan di halaman dan udara musim 
kemarau terasa sangat dingin; orang-orang Karangsoga larut dalam kelembutan suara gambang yang melantun merayapi sudut-sudut kampung, memantul pada lereng-lereng tebing, dan menghilang setelah jauh merayap menyusur lembah. 
 
 Eyang Mus bangkit setelah selesai dengan beberapa pupuh suluk lalu duduk di bangku panjang. Lelaki tua itu sedang menggulung rokok dan istrinya sedang membersihkan bibir dengan susur ketika seorang perempuan uluk salam. Eyang Mus dan istrinya sudah kenal suara itu, suara Mbok Wiryaji. 
 
 "Aku tak pangling akan suaramu. Bersama siapa?" tanya Eyang Mus sambil membukakan pintu. 
 
 "Sendiri, Yang." 
 
 "Suamimu?" 
 
 "Di rumah." 
 
 Di bawah sorot lampu gantung tampak wajah Mbok Wiryaji yang gelap. Eyang Mus suami-istri sudah hafal, istri Wiryaji itu selalu datang bila ada kekusutan di rumah. 
 
 "Duduklah. Rasanya wajahmu mendung. Cekcok lagi?" 
 
 "Biasa, Yang. Mungkin sudah jadi suratan, saya dan suami saya harus sering cekcok." 
 
 "Kalian sudah beruban tetapi belum juga berubah."

"Yang, pada awalnya saya dan suami saya bicara soal Lasi. Bicara ke sana kemari, eh, lama-lama kami bertengkar. Daripada ramai di rumah lebih baik saya menyingkir ke sini." 
 
 "Cobalah, sesekali kamu datang kemari dengan nasi hangat dan gulai ikan tawes, pasti kuterima dengan gembira. Jangan selalu soal pusing kepala yang kamu sodorkan kepadaku. Sekarang urusan apa lagi?" 
 
 "Lasi, Yang. Maksud saya, suaminya si Darsa itu. Sudah empat bulan dirawat di rumah keadaannya tak berubah." 
 
 "Masih ngompol?" 
 
 "Ngompol terus, malah perangai Darsa sekarang berubah. Ia jadi suka marah, sepanjang hari uring-uringan. Kemarin Darsa membanting piring hanya karena Lasi agak lama pergi ke warung. Aku kasihan kepada Lasi. Suami seperti kambing lumpuh, pakaiannya yang sengak harus dicuci tiap hari, tapi saban kali Lasi malah kena marah." 
 
 "Siapa yang menyiapkan kayu bakar?" 
 
 "Nah, itu! Mengolah nira memang pekerjaan Lasi sejak kecil. Tetapi soal mencari kayu? Eyang Mus, saya tak tega melihat Lasi tiap hari bersusah payah mengambil kayu di hutan. Dan yang membuat saya cemas, apakah penderitaan Lasi bisa berakhir? Bagaimana kalau Darsa tak bisa sembuh?" 
 
 "Kamu jangan berpikir seperti itu."

"Eyang Mus, Lasi masih muda. Apa iya, seumur-umur ia harus ngewulani suami yang hanya bisa ngompol?" Mbok Wiryaji tersenyum pahit. 
 
 "Hus." 
 
 "Saya tidak main-main, Eyang Mus. Sekarang Darsa memang hanya bisa ngompol, ditambah perangainya yang berubah jadi pemarah. Dengan keadaan seperti itu, sampai kapan Lasi bisa bertahan, dan haruskah saya diam belaka?" 
 
 "Nanti dulu. Kalau perasaanku tak salah, aku menangkap maksud tertentu dalam kata-katamu. Kamu tidak lagi menghendaki Darsa jadi menantumu?" 
 
 Mbok Wiryaji terkejut. Wajahnya berubah. Eyang Mus tersenyum karena percaya dugaannya jitu. 
 
 "Jangan tergesa-gesa. Sebelum mendapat kecelakaan Darsa adalah suami yang baik. Kini Darsa tak berdaya karena sesuatu yang berasal dari luar kehendaknya. Lalu, apakah kamu mau tega?" 
 
 "Aku ikut tanya," sela Mbok Mus. "Apakah Lasi kelihatan tak suka lagi bersuami Darsa?" 
 
 "Tidak juga. Saya kira Lasi tetap setia menemani suaminya yang bau sengak itu. Dan hal itulah yang membuat saya malah jadi lebih kasihan kepadanya. Masalahnya, apakah Lasi harus menderita lahir-batin seumur hidup?" 
 
 "Sebelum kamu punya pikiran pendek seperti tadi, apa kamu sudah cukup ikhtiar untuk menyembuhkan Darsa?"

"Sudah tak kurang, Eyang Mus. Tidak sembuh di rumah sakit, kemudian segala jamu sudah banyak diminum. Jampi sudah banyak disembur." 
 
 "Ya. Ikhtiar harus tetap dijalankan. Juga doa. Dulu kamu sendiri bilang, bila hendak memberikan welas-asih, Gusti Allah tidak kurang cara. Tetapi mengapa sekarang kamu jadi berputus asa? Kamu tak lagi percaya bahwa Gusti Allah ora sare, tetap jaga untuk menerima segala doa?" 
 
 "Iya, Eyang Mus. Semua itu saya percaya. Tetapi..." 
 
 "Teruskan, kenapa terputus?" 
 
 Mbok Wiryaji kelihatan ragu. 
 
 "Eyang Mus, saya berterus terang saja, ya. Kemarin saya mendapat pesan dari Pak Sambeng, guru yang dulu mengajar Lasi. Ketika Lasi masih gadis Pak Sambeng melamarnya tetapi kami tolak karena waktu itu Pak Sambeng masih punya istri. Kini, dia menduda. Dia masih menghendaki Lasi. Katanya, bila tak kena perawan, jandanya pun jadi." 
 
 "Cukup! Rupanya inilah hal terpenting mengapa kamu datang kemari. Rupanya 
kamu sedang mendambakan punya menantu seorang guru. Sebenarnya kamu harus menolak begitu mendengar pesan Pak Sambeng itu. Satu hal kamu tak boleh lupa: Jangan sekali-kali menyuruh orang bercerai. Juga jangan lupa, Darsa adalah kemenakan suamimu. Salah-salah urusan, malah kamu dan suamimu ikut kena badai. Oh, Mbok Wiryaji, aku tak ikut kamu bila kamu punya 
pikiran demikian. Aku hanya berada di pihakmu bila kamu terus berikhtiar dan berdoa untuk kesembuhan Darsa." 
 
 "Soal berikhtiar, Eyang Mus, percayalah. Sampai sekarang pun kami terus berusaha. Kini pun Darsa sedang ditangani oleh seorang tukang urut; Bunek."

"Bunek si dukun bayi?" 
 
 "Ya. Bunek memang dukun bayi. Tetapi banyak orang bilang pijatannya terbukti bisa menyembuhkan beberapa lelaki peluh, eh, lelaki yang anu-nya mati." 
 
 "Kamu yang menghubungi Bunek?" 
 
 "Bukan. Lasi sendiri yang menyerahkan suaminya untuk ditangani peraji itu." 
 
 "Nah, itu namanya pikiran waras. Aku sungguh-sungguh ikut berdoa semoga ikhtiar kalian kali ini berhasil." 
 
 Mbok Wiryaji hanya mengangguk. Tetapi kesan tak puas masih tersisa pada wajahnya. Emak Lasi itu lalu merebahkan diri di balai-balai yang didudukinya. 
 
 "Kamu boleh beristirahat di sini. Tapi jangan menginap. Ora ilok, tak baik meninggalkan suami sendiri di rumah," dan tangan Eyang Mus meraih kotak tembakau. Sesaat kemudian terdengar bunyi pemantik api serta embusan napas dengan asap rokok. Sepi dari luar merayap masuk. Mbok Mus menyuruh emak 
Lasi pulang tetapi hanya mendapat jawaban desah napas. Mbok Wiryaji pulas. 
 

 
                         ***** 

 
 Orang bilang ciri paling nyata pada diri Bunek adalah cara jalannya yang cepat. Cekat-ceket. Langkahnya panjang dan ayunan tangannya jauh, mungkin karena Bunek biasa tergesa bila berjalan memenuhi panggilan perempuan yang sedang menunggu detik kelahiran bayinya. Namun cirinya yang lain pun tak kalah 
mencolok. Bunek selalu kelihatan paling tinggi bila berada di antara perempuan-perempuan lain. Tawanya mudah ruah, juga latahnya. Pada saat latah, ucapan yang paling cabul sekalipun dengan mudah meluncur dari mulutnya. Namun dalam keadaan biasa pun Bunek biasa berkata mesum seringan ia menyebut sirih yang selalu dikunyahnya. Wajah Bunek bulat panjang dan semua orang percaya ia cantik ketika masih muda. Kulitnya malah masih 
lembut meskipun Bunek sudah punya beberapa cucu. Rambutnya yang lebat mulai beruban tetapi Bunek rajin menyisirnya sehingga menambah kesannya yang rapi dan singset. Ia selalu ingin bergerak cepat. 
 
 Banyak perempuan menjadi pelanggan Bunek. Konon karena pijatan tangannya yang lembut namun tetap bertenaga. Keterampilan demikian konon tak mudah tertandingi oleh peraji lain. Tetapi lebih banyak orang bilang, bukan hanya pijatan Bunek yang disukai melainkan juga suasana cair dan ringan yang selalu dibawanya di mana pun Bunek berada. Bagi Bunek segala masalah boleh dihadapi dengan tertawa, bahkan dengan latah yang cabul. Rasa sakit yang menusuk perut ketika seorang perempuan melahirkan hanya perkara enteng di mata Bunek. "Aku juga pernah melahirkan. Rasa sakit ketika jabang bayi mau 
keluar bisa membuat aku ingin meremas suami sampai remuk. Namun heran, sungguh heran, aku tidak jera. Aka bunting lagi dan bunting lagi. Aku kecanduan. Eh, apa kamu tidak begitu? Tidak? He-he-he!" 
 
 Suatu kali seorang ibu meraung-raung ketika hendak melahirkan. Perempuan itu bersumpah habis-habisan demi langit dan bumi bahwa dia tak sudi hamil lagi. Tak sudi! Tetapi Bunek menanggapinya sambil tersenyum ringan. "Tahun lalu kamu bersumpah demi bapa-biyung, sekarang kamu bersumpah demi langit 
dan bumi, tetapi aku percaya tahun depan kamu hamil pula. Lalu kamu akan bersumpah demi apa lagi? Ayolah, aku belum bosan mendengar sumpahmu, he-he-he." 
 
 Apabila ada perempuan tidak memilih Bunek, sebabnya mungkin karena kesukaan dukun bayi itu berterus terang. Bunek biasa blak-blakan menyuruh seorang suami jajan bila tak sabar menunggu istrinya sehat kembali setelah melahirkan. Bila disanggah orang karena nasihatnya yang samin itu dengan 
enteng Bunek bilang, "Lelaki ngebet itu biasa, wajar. Dan siapa yang bisa menahan diri boleh dipuji. Lho, yang tidak? Jujur saja, apa mereka harus mencari liang kepiting? He-he-he."

Selama merawat Darsa, Bunek tetap membawa suasana yang menjadi cirinya, 
cair dan enteng. Mula-mula Darsa agak tersinggung karena terasa betul Bunek 
menyepelekan penderitaannya. Namun lama-kelamaan Darsa menikmati keserbacairan dukun bayi itu. Tentang kemih Darsa yang terus menetes misalnya, Bunek hanya bilang, "Ah, tidak apa-apa. Cuma air yang merembes. 
Seperti nira yang kamu sadap, kemihmu akan berhenti menetes pada saatnya." Atau tentang pucuk Darsa yang lemah, "Itu juga tidak apa-apa. Seperti ular tidur, nanti akan menggeliat bangun bila cuaca mulai hangat." 
 
 Kata "tidak apa-apa" yang selalu diulang dengan senyum Bunek yang ringan akhirnya mampu membangkitkan kepercayaan Darsa, percaya bahwa cacat tubuh yang disandangnya hanya masalah sementara, tidak apa-apa, dan tidak mustahil Bunek bisa mengatasinya. Maka Darsa makin patuh kepada Bunek. Dia serahkan dirinya untuk diurut dari kaki sampai kepala. Bagian pusar dan selangkangannya selalu mendapat garapan khusus. 
 
 "Pantas, bocah-mu mati. Urat-urat di selangkanganmu dingin seperti bantal 
kebocoran," kata Bunek suatu kali. "Kamu harus banyak bergerak agar urat-uratmu tidak beku." 
 
 Darsa hanya melenguh. 
 
 "Tak lupa minum jamu?" 
 
 Darsa melenguh lagi. 
 
 "Ya. Meski pahit namun harus kamu minum. Bahannya bukan apa-apa, sekadar akar ilalang dan ujung akar pinang serta cengkih. Kamu tahu mengapa akar ilalang?"

"Tidak." 
 
 "Akar ilalang akas dan punya daya tembus hebat. Tanah cadas yang keras pun 
dapat diterobosnya." 
 
 Darsa nyengir. 
 
 "Kamu tahu mengapa cengkih?" 
 
 Darsa nyengir lagi. 
 
 "Cengkih bisa menimbulkan kehangatan. Ya. Karena semuanya bermula dari berhangat-hangat." 
 
 Pada pekan pertama setiap hari Bunek datang merawat Darsa di rumah. Namun selanjutnya Darsa diminta datang ke rumah Bunek pada malam hari. "Di siang hari pekerjaanku terlalu banyak," kata Bunek. "Lagi pula kamu perlu banyak berjalan untuk menghidupkan kembali urat-urat tungkaimu yang dingin." 
 
 Dengan senang hati Darsa memenuhi permintaan Bunek karena pergi malam hari jarang bertemu orang lain. Darsa malu, setiap orang akan menutup hidung bila berpapasan dengan dia. Sengak. Lasi sering menemani Darsa pergi ke rumah Bunek. Namun bila badan terasa letih, Lasi melepas Darsa berangkat seorang diri. 
 
 Hujan pertama sudah turun mengakhiri musim kemarau selama hampir lima bulan. Perdu yang meranggas pada dinding-dinding lembah dan lereng jurang menghijau kembali karena munculnya pucuk daun muda dan tunas-tunas baru. Rumpun puyengan yang menutupi tanah-tanah liar mulai berbunga, seakan menaburkan warna marak kekuningan di mana-mana. Relung-relung muda bermunculan di tengah hamparan pikis-pakisan sepanjang lereng jurang. 
 
 Ketika matahari naik ratusan kupu dari berbagai jenis dan warna beterbangan 
mengelilingi bunga-bunga liar atau berkejaran dengan pasangannya. Pagi hari ribuan laron keluar, terbang berhamburan mengundang burung-burung dan serangga pemangsa. Pagi yang meriah, suasana khas awal musim hujan. Burung layang-layang, keket, dan si ekor kipas pamer ketangkasan mereka menyambar 
mangsa. Tapi capung maling tak lagi mengejar buruannya apabila sudah ada seekor laron di mulutnya. Sedikit laron yang selamat adalah yang segera bertemu pasangannya. Laron jantan akan menggigit pantat laron betina, turun ke bumi, dan melepas sendiri sayap-sayap mereka. Keduanya akan merayap 
beriringan, menggali tanah di tempat yang tersembunyi, dan siap berkembang biak untuk membangun koloni baru. 
 
 Di pekarangan yang penuh pepohonan Darsa sedang mengumpulkan ranting-ranting mati untuk kayu bakar. Sudah beberapa hari Darsa bisa kembali bekerja yang ringan-ringan. Setengah tahun terpaksa beristirahat membuat otot-ototnya hampir kehilangan kekuatan. Maka Darsa belum berani menyadap sendiri pohon-pohon kelapanya. Meskipun demikian beberapa perubahan jelas nampak pada diri Darsa. Wajahnya mulai bercahaya dan segala gerak-geriknya kelihatan lebih bertenaga. Dan Lasi merasakan perubahan lain, Darsa makin 
jarang marah. Suaminya itu juga sudah mau bercakap-cakap, bahkan kadang tertawa dan bergurau bersama Mukri. Padahal biasanya wajah Darsa berubah gelap apabila Mukri datang mengantar nira. Apalagi bila Lasi kelihatan terlalu bersemangat membantu Mukri menurunkan pongkor dari pundaknya. Memang, Mukri suka mencuri pandang dan kadang senyumnya nakal. Lasi yang sekian 
bulan tidak diapa-apakan bisa tersengat oleh ulah Mukri. Hanya tersengat, selebihnya tidak ada apa-apa lagi. 
 
 Dan ada perubahan yang lebih nyata. Suatu kali Darsa mendekati Lasi yang sedang jongkok di depan tungku. Dengan wajah terang Darsa berbisik, 
 
 "Las, celana yang kupakai sejak pagi masih kering." 
 
 Lasi menatap suaminya dengan mata bercahaya. Senyumnya mengembang, "Syukur, Kang. Oh, pantas, cucianmu makin sedikit." 
 
 "Kamu senang, Las?" 
 
 Lasi menunduk. Wajahnya memerah. 
 
 "Kamu sendiri senang apa tidak?" 
 
 Lasi dan Darsa berpandangan. Lasi tersengat dan ada gelombang kejut menyentak jantungnya. Pipinya merona. Namun Lasi segera menundukkan kepala. 
 
 "Nanti kita bikin selamatan, ya, Kang. Kita syukuran." 
 
 "Ya, bila aku sudah benar-benar pulih-asal, kembali segar seperti sediakala." 
 
 "Ya, Kang." 
 
 Lasi terus bekerja mengendalikan api. Nira dalam kawah menggelegak seperti 
mengimbangi semangat yang tiba-tiba mengembang di hati Lasi. Asap mengepul 
dan bergulung naik ke udara. Bau nira yang mulai memerah tercium lebih harum. Oh, betul Gusti Allah ora sare, bisik Lasi untuk diri sendiri. Akhirnya Kang Darsa sembuh karena welas-asih-Nya. Orang yang senang menyebutku randha magel, janda kepalang tanggung, boleh menutup mulut. Emak yang 
selalu menyebut-nyebut nama Pak Sambeng juga boleh tutup mulut. Lasi mengembuskan napas lega. Air matanya menggenang.



Bersambung... 
______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...