Jumat, 16 April 2021

DI KAKI BUKIT CIBALAK BAB 05

Episode 13 
Di Kaki Bukit Cibalak 



“Jempolan! Simpan buku yang kedua itu. Nanti pada saat yang tepat kita akan menyebarluaskan isinya. Semua warga 
Tanggir akan mencap Pambudi sebagai ‘kelilip’ desa.” 



*** 



Hari Anggara Kasih adalah sebutan mistik bagi hari Selasa Kliwon. Senin malamnya dianggap sebagai saat yang baik oleh penduduk sekitar Bukit Cibalak guna memasang sesaji atau guna-guna. Mereka yang masih percaya pada takhayul merasa yakin bahwa membakar kemenyan dan memasang sesaji pada malam itu akan mendatangkan rupa-rupa kebaikan, 
gampang menemukan jodoh, dekat rezeki, atau terhindar dari guna-guna yang jahat. Juga arwah leluhur akan tetap mengayomi, begitu keyakinan mereka. Tapi sebaliknya, orang yang hendak memasang guna-guna atau melakukan
maksud jahat lainnya pun menganggap hari Anggara Kasih sebagai saat yang baik. 

Di rumah Eyang Wira yang terletak di sebuah pedukuhan kecil, seseorang sedang bertamu. Pemilik rumah beserta tamunya duduk di ruang dalam. Malam hari di pedukuhan yang sepi membuat alam kelihatan akrab. Bulan mendaulat langit dengan latar belakang kedipan bintang-bintang. Awan yang melayang rendah membuat bayang-bayang raksasa di atas tanah. Bila tidak ada yang mengalingi, sinar bulan mencapai tanah dengan daya pantul yang penuh. 

Dari atas pohon rasamala, anak burung hantu memanggil-manggil induknya dengan suara berat. Kambing Eyang Wira mengembik karena melihat dua ekor anjing berjalan beriringan di luar kandang. Ada pohon jambu mente di 
halaman rumah Eyang Wira. Kalong dan kampret berebut buahnya yang telah masak. 

Ketika bulan mencapai tengah langit, Eyang Wira bangkit, masuk ke dalam bilik di belakangnya. Ketika keluar lagi ada gulungan tikar pandan di tangannya, yang kemudian 
digelar di tengah ruangan. Dari sebuah lemari bambu Eyang Wira mengeluarkan jimat: sebuah keris yang tak bertangkai, tungku pedupaan, dan kantong kain entah apa. 
Benda-benda itu ditata di atas tikar. Pedupaan 
dinyalakan. Sesudah asap kemenyan mengepul, Eyang Wira memanggil tamunya. Mereka berhadap-hadapan. Tamu itu 
duduk dengan takzim, menunduk, dan kesepuluh jarinya tersusun berkaitan. Kakek yang mempunyai telinga mirip milik sang Buddha itu memejamkan mata sebentar. 

“Jadi sampean hanya menginginkan orang yang menjadi‘kelilip’ Desa Tanggir itu menyingkir dari sana, begitu?” 

“Ya, hanya itu, Eyang.” 

“Namanya?” 

“Pambudi.” 

“Hari lahirnya?” 

“Kamis, pasarannya Pahing. Begitu menurut orang yang dapat saya percaya.” 

“Nah, orang kepercayaanmu itu tidak lagi bisa dipercaya. Yang bernama Pambudi tinggal di sebuah rumah yang menghadap ke utara. Matanya bulat tajam, jakunnya menonjol seperti Petruk. Kedua orang tuanya masih hidup, tetapi ayahnya sakit-sakitan. Di samping rumahnya ada pohon manggis yang besar. Iya, bukan?” 

“Kalau begitu Eyang sudah mengenalnya?” 

“Kenal? Mengapa aku harus mengenal seseorang kalau hanya ingin tahu keadaan orang itu sekarang.” 

“Oh, maafkan saya, Eyang. Kalau demikian Eyang telah tahu hari lahir Pambudi.”

“Tentu. Ia lahir hari Ahad Pon. Takkan salah lagi.” 

“Ya, Eyang.” 

“Dan sampean beruntung. Setiar untuk menyingkirkannya dari Desa Tanggir dipermudah oleh keadaan Pambudi sendiri. Mantraku akan merasuk ke dalam jiwa anak muda itu dengan mudah karena sekarang ia sering melamun. Pambudi sedang kasmaran dengan pisang apupus cinde yang sedang tumbuh di Desa Tanggir. Sampean tahu pisang apupus cinde?”.

“Tidak, Eyang.” 

“Itu adalah pohon pisang yang berkuncup sutra. Itu kiasan. Di desamu ada seorang gadis muda yang cantik tetapi orangtuanya miskin. Itu dia cinde yang muncul dari batang pisang. Artinya, gadis cantik yang lahir di tengah 
keluarga tak punya. Zaman dulu gadis semacam itu menjadi hak para demang, setidaknya lurah.” 

“Siapa nama gadis itu, Eyang?” 

“Lho... lho, sampean datang kemari untuk apa? Tetapi baiklah, Eyang tidak akan menyebut nama gadis itu. Kukatakan padamu, umumya menjelang bulan purnama, empat belas tahun.” 

“Terima kasih, Eyang.” 

“Ya. Sekarang tata kembali rasa dan hatimu. Mantapkan! Tujuan untuk menyingkirkan ‘kelilip’ desa itu harus menjadi pusat kekuatan jiwamu. Dan, bila mantra sedang kubacakan, tahan napasmu sampai aku selesai.” 

Kakek itu menaburkan serbuk kemenyan ke dalam pedupaan. Asap yang putih mengambang membawa bau yang khas. Suasana khidmat. Keris tak bertangkai itu dijarang dalam kepulan asap. Ada sehelai kain mori selebar saputangan. Di atasnya terletak tiga tangkai bunga mawar. Kain mori itu 
terbeber persis di hadapan Eyang Wira. Kemudian kakek itu mengambil sikap bersemadi. Dari mulutnya terdengar mantra yang disuarakan dengan irama magis. 

“Hum, 
Plas plas pias 
Dudu bumi sing kaidek 
ngidek geni, genine Mbah Singayuda 

Plas plas keplas

Payone susuh tawon 
Tawone Mbah Singayuda 

Bur bur mabur 
Abure emprit putih 
Bur bur kabur 
Kabure kapuk tapak angin 
Hum....”




Episode 14 
Di Kaki Bukit Cibalak 




Satu menit yang hening. Tak terlihat gerakan sedikit pun pada tubuh Eyang Wira. Orang tua itu bahkan tetap tidak menarik napas, sampai tubuhnya bergetar dan bergetar. Ketika tenang kembali keningnya basah oleh keringat. 

“Nah, Nak, keperluan sampean sudah kucukupi. Kalau sampean dapat memenuhi syarat-syarat selanjutnya, kujamin keinginan sampean dapat terlaksana. Pertama, usahakan kembang yang kubungkus kain mori ini terlangkahi oleh Pambudi. Kedua, sampean harus mengambil segenggam tanah kuburan. Cabutlah sebuah nisan, kemudian masukkan tangan ke dalam lubang bekas nisan itu. Ambil tanah segenggam, dari dasar lubang. Tanah yang telah sampean ambil itu taburkan ke atas genting kamar tidur Pambudi. Sudah jelas?” 

“Ya. Dan apakah saya sendiri yang harus mengambil tanah di pekuburan?” 

“Betul. Tetapi untuk pelaksanaan selanjutnya, suruhlah seorang yang biasa keluar malam. Apalagi sampean seorang lurah, bukan?” 

“Benar, Eyang.” 

Larut malam, tamu itu minta diri kepada Eyang Wira.Ketika bersalaman, ada selembar lima ribuan dalam tangannya. Tiba di halaman laki-laki itu terkejut. Bulan menghilang, bahkan gerimis sudah jatuh. Padahal sore tadi bulan amat terang meskipun ada gumpalan-gumpalan awan di langit. Pak Dirga berjalan sambil berkudung kain sarung. Lampu senter baru dinyalakan setelah ia berjalan jauh 
meninggalkan pedukuhan Eyang Wira. 

Di pinggir tegalan jagung, lampu senter Pak Dirga menyorot dua ekor anjing yang sedang kawin. Oh, sekarang mongso kasongo, musimnya anjing berahi, gumam laki-laki 
itu. Timbul pikiran yang konyol di otaknya, bagaimana kalau manusia bersyahwat pada bulan-bulan tertentu saja, seperti anjing itu. Boleh jadi tugasku sebagai kepala Desa Tanggir menjadi lebih ringan. Tidak selalu dibikin pusing oleh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para petugas program KB. “Apa yang paling disukai oleh warga Desa Tanggir: kondom, pil, atau spiral?” 

Pada sebuah perempatan jalan kecil, laki-laki itu berhenti. Bila mengambil jalan lurus, ia akan lebih cepat sampai ke Desa Tanggir. Tetapi laki-laki itu berbelok ke kiri, menuju Pekuburan Ampeljajar. 

Dari seberang kali terdengar orang memukul kentongan. Pukul tiga dini hari. Gerimis masih telaten. Bunyi tetesan-tetesan air di atas daun keletak-keletik seperti suara hantu. Jangkrik dan gangsir berbunyi ramai sekali. Belalang anggas menggesek-gesekkan bulunya dari tempat persembunyiannya di lereng Kuburan Ampeljajar. Suaranya halus, membuat kelengangan makin mencekam. Ketika laki-
laki itu memasuki gerbang pekuburan, angin bertiup dari selatan. Kembang puring dan dahan kemboja bergoyang. Di tepi Kuburan Ampeljajar itu, sebuah pelepah pinang yang 
kering luruh ke tanah. Kekuatan terakhir yang menahannya dikalahkan oleh tiupan angin. Sebutir buah beringin jatuh ke pundak laki-laki itu. Ia terkejut dan langsung terjungkal karena kakinya terbentur pada sebuah nisan. 

Beberapa langkah di depannya, laki-laki itu melihatsebuah keranda bambu yang biasanya hanya dipakai sekali saja. Itu dia, pasti di bawahnya ada mayat yang baru ditanam, pikirnya. Laki-laki itu mendekat ke sana. 
Dipegangnya nisan yang terbuat dari batu itu. Didorongnya ke depan, dan ditarik ke belakang. Digoyangkan ke kiri dan ke kanan. Kemudian ia mencabut tonggak batu itu dengan sedikit tenaga. Tangan kanannya merogoh lubang 
bekas nisan itu. Seekor tikus keluar dan menerjang lengannya. “Celurut busuk, kau!” desis Pak Dirga. 

Bukit Cibalak. Daya pikir manusia dapat membuktikan bahwa dulu, bukit itu adalah lapisan kerak bumi yang berada di dasar laut. Alam yang perkasa, dengan kekuatan tektonis 
mengangkat lapisan kerak bumi itu ke atas permukaan laut dan lebih tinggi lagi. Sisa-sisa koloni binatang karang yang dulu hidup subur di bawah air laut, memberi bahan dasar bagi terbentuknya lapisan kapur yang mewarnai
Cibalak. 

Setelah melewati masa berjuta-juta tahun, datanglah lumut kerak yang membuat kulit tipis di sekujur tubuh Bukit Cibalak. Tumbuhan pionir ini memungkinkan tumbuhnya lumut, kemudian bangsa pakis. Masing-masing memerlukan kurun waktu jutaan tahun. Hutan pakis yang menutupi Cibalak beribu-ribu abad lamanya meninggalkan lapisan humus yang tebal, tempat tanaman yang lebih tinggi 
tingkatannya menancapkan akar. 

Manusia pertama yang memasuki wilayah Bukit Cibalak, melihat hutan belantara tropis merimbuni bukit itu sampai ke kakinya. Munyuk dan lutung bergelayutan di atas pohon. Primata itu sering bercengkerama dan berkejaran di antara kerimbunan pohon. Apabila ada seekor yang jatuh, di bawah sana ada macan tutul yang siap menangkap mangsa yang dijatuhkan alam baginya. Seekor lutung sudah cukup bagi si macan untuk bekal sepanjang hari. 

Dataran yang mengelilingi Cibalak menjadi tempat satwa pemakan rumput. Kijang dan menjangan dua kali setahun melahirkan anak-anaknya. Satu-dua ekor anak mereka akan mati dimakan gogor, sejenis kucing hutan yang besar. Tetapi induk mereka terus beranak sampai menjadi tua atau menjadi mangsa macan kumbang. Sementara itu jumlah anak 
mereka terus berkembang, dalam keimbangan harmonis yang langsung diatur oleh alam. Alam yang perkasa bisa dengan lembutnya menyantuni Cibalak dengan segala binatang dan benda hayati lainnya, bahkan juga semua benda mati yang dipangkunya. 

Tekukur dan balam tidak takut kehabisan jenisnya meskipun di atas pokok randu hutan bersarang burung elang cokelat berkepala putih. Rajawali kecil ini dapat meremukkan 
kepala burung lain dengan cakarnya, tetapi alam telah berbisik, “Kau jangan terlalu sering bertelur agar burung lain tidak habis olehmu dan jenismu!” Sekarang, hampir semua satwa yang tinggal di Bukit Cibalak hanya hidup dalam dongeng para kakek dan nenek. Bahkan guru-guru yang masih muda akan pening bila seorang murid bertanya tentang trenggiling atau landak. 

Awal abad kesembilan belas orang Belanda menanam kayu jati dari kaki sampai ke puncak Cibalak. Mandor-mandor berkelewang dan berkumis panjang menjaga hutan buatan yang amat subur itu. Mereka berdisiplin. Bila ada seorang penduduk yang didapati menyimpan seserpih jati, bahkan arangnya, akan dihukum. Ia akan dihukum, tidak kurang atau lebih. Pencurian kayu jati menjadi sesuatu yang aneh saat itu. Maka para gubernur jenderal dipuji oleh Sri Ratu, karena dari hasil hutan jati saja kas negara selalu penuh. Dan, moyang penduduk Tanggir mandi di pancuran sejuk yang mengucur sepanjang tahun. 




Episode 15
Di Kaki Bukit Cibalak 




Kemudian terjadi Perang Pasifik yang mengubah kehijauan Bukit Cibalak. Kapal-kapal Angkatan Laut Dai Nippon gampang diintai dengan radar karena dibuat dari baja. 
Orang Jepang hendak membuat kapal perang dari kayu jati. Mereka menebangi kayu-kayu yang ditanam oleh orang Belanda itu. Sebenarnya tidaklah seberapa banyak kayu 
yang ditebang oleh orang Jepang itu, tetapi akibatnya luar biasa. Perang selesai. Penduduk mendapat pelajaran baru. “Kalau orang Jepang menebangi pohon jati, kenapa kami tidak,” demikian kata mereka. 

Hasilnya lumayan juga. Banyak rumah penduduk menjadi kokoh, perabotan rumah tangga kokoh. Tetapi memanjat Bukti Cibalak dan menebang apa yang tumbuh di sana 
kemudian menjadi bagian hidup mereka. 

Di awal tahun 1965 beberapa politikus mengajari penduduk bagaimana cara membakar habis hutan jati yang masih
tersisa di ubun-ubun Cibalak. 

Warisan si perkasa alam mati. Tinggal gumpalan batu kapur dan batu cadas di sana. Cibalak kembali seperti ketika ia baru muncul dari dasar laut jutaan tahun yang lalu. Tak 
ada tanaman, satwa, bahkan air. Pernah ada serombongan mahasiswa dari Bogor datang 
memberi ceramah kepada para penduduk. Mereka menerangkan dasar-dasar pengertian ekologi dan ekosistem dengan cara yang paling mudah dimengerti. Tetapi orang-orang Tanggir yang datang menghadiri ceramah itu hanya berangkat karena dipaksa oleh Lurah. Dan mereka tak akan mengerti mengapa 
mahasiswa-mahasiswa itu melarang mereka mengumpulkan daun angsana kering dari hutan milik Negara di seberang sungai itu. Padahal daun angsana kering dapat menjadi 
bahan bakar yang baik. 

Rumah Pambudi berbatasan dengan sawah yang luas di sebelah barat. Sore itu ia dapat menikmati senja yang bagus. Matahari turun sambil mengubah warna sinarnya menjadi kuning kemerah-merahan. Burung bluwak dari 
jenisnya yang terakhir terbang beriringan ke selatan. Dari jendela kamar, Pambudi dapat melihat sosok Bukit Cibalak seutuhnya. Memang, pemuda itu sedang mengarahkan 
matanya ke sana. Seolah-olah Pambudi sedang terpesona oleh pergelaran alam yang sedang berubah dari siang ke rangkulan malam.

Tetapi sesungguhnya Pambudi hanya memandang datar. Lensa matanya tidak difokuskan kepada suatu objek tertentu. 
Pambudi sedang dikuasai lamunan. 

Dua hari yang lalu Pambudi pergi ke pasar hendak membeli makanan ayam, naik sepeda. Sebelum sampai ke tujuan ia harus melewati sebuah bulak yang hampir dua kilo panjangnya. Di bulak itulah Pambudi melihat seorang gadis dari kejauhan, berjalan ke arahnya. Ia tidak pangling, gadis yang baru pulang sekolah itu tentu Sanis. Sebuah andong menyusul gadis itu, tetapi Sanis tidak 
menghentikannya. Pambudi heran, karena rumah Sanis masih sangat jauh. Boleh jadi ia tidak punya sisa uang jajan untuk ongkos naik andong. Pambudi turun dari sepedanya ketika ia berpapasan dengan Sanis. 

“Kenapa kau berjalan kaki, mana sepedamu?” 

“Di bengkel, Kak, rantainya putus,” jawab Sanis. Pipinya merah oleh terik matahari. Bintik-bintik keringat tampak di ujung hidung dan di atas bibirnya. 

“Kalau begitu pakailah sepedaku dulu. Nanti aku pulang dengan sepedamu. Kau bisa sakit bila berjalan amat jauh, di bawah panas terik pula.” 

Mula-mula Sanis tidak mau menerima usul Pambudi. Malu kelihatannya. Tetapi kemudian ia percaya akan keikhlasan Pambudi. Matanya berkata banyak ketika Sanis menerima sepeda itu. Tas sekolahnya disampirkan pada setang.
Senyumnya segar sebelum ia naik ke atas sadel sepeda Pambudi. 

Pulang dari pasar, Pambudi segera pergi ke rumah Sanis hendak menukarkan sepeda. Di sana ia menjumpai anak Pak Modin itu dalam dandanan yang kenes. Bajunya merah dan 
amat manis. Dahinya hampir tertutup poni, tetapi bedak di wajah Sanis tidak rata. Walaupun begitu Sanis cantik seperti boneka. Anehnya, ia sangat membatasi kata-katanya. “Terima kasih,” itulah ucapan yang selalu 
diulang-ulangnya. Selebihnya ia hanya tersenyum dan menggigit bibir. Sikap Sanis yang demikian mengundang berbagai perasaan di hati Pambudi. Rasanya, Sanis 
menyimpan sesuatu. Atau ia mungkin tersinggung karena aku telah meminjaminya sepeda? Tak masuk akal, keluh Pambudi. 
Kegelisahannya membuat pemuda itu tidak lama duduk di rumah Sanis. Ia segera minta diri. 

Sampai di rumahnya kembali, Pambudi baru yakin bahwa Sanis tidak marah kepadanya. Pambudi menemukan sebuah bandul pada kunci sepedanya, sebuah biji kenari yang terukir rapi. Nama Sanis terpahat di situ. Rupanya hal itulah yang membuat Sanis bersikap malu-malu ketika kutemu tadi, pikir Pambudi. Tak lama kemudian seorang anak kecil membawa sebuah majalah remaja dan 
menyerahkannya kepada pemuda itu. Pambudi segera tahu, pengirimnya Sanis. Di dalam majalah itu terselip sebuah surat, singkat sekali dan diakhiri dengan “Salam sayang!”. 

Jadi anak gadis Pak Modin itu sama saja dengan semua gadis Tanggir. Cepat masak, matang sebelum tua. Toh Pambudi tersenyum. Toh sejenak kesejukan singgah di hatinya. Dan tidak lama. Pemuda itu langsung bergelut 
dengan keyakinannya sendiri. 

“Umurku 24 tahun, pantas bila aku mencintai seseorang. Tetapi Sanis baru kelas dua SMP. Aku mau apa dengan si boneka yang sangat ayu tetapi masih bocah itu. Memang, di 
Tanggir bukan hal yang aneh bila seorang pengantin perempuan baru pertama kali memakai kutang sesaat sebelum menghadap penghulu. Gadis seperti itu akan segera menjadi seorang istri selagi usianya baru tiga belas, selagi dadanya masih rata. Nah, aku sendiri menganggap perkawinan kanak-kanak seperti itu tidak berbeda jauh dari perkosaan. Bagaimana bisa jadi, seorang anak yang juga masih berjiwa anak-anak dapat langsung mengambil peran seorang perempuan dewasa, seorang ibu rumah tangga. Pokoknya demi kewajaran, aku setuju pada perkawinan
antar orang dewasa bukan antar anak-anak. 

“Nyatanya,” sambung Pambudi, “aku sudah terjebak dalam sikap munafik. Sanis itu! Aku selalu teringat padanya, aku menyenanginya dan dia sama sekali belum dewasa. Sekarang aku harus memilih: melepaskan keyakinan buruknya kawin muda atau sebaliknya, melepaskan harapan atas Sanis. Kedua-duanya tidak akan kupilih, melainkan mengadakan kompromi antara dua kutub itu. Barangkali itu 
lebih baik. Aku akan menunggu empat-lima tahun lagi sampai Sanis benar-benar dewasa, kemudian mengawininya. Tetapi sungguh tidak gampang menjaga dan menunggu gadis kecil secantik Sanis sampai ia tumbuh dewasa. Ini Desa Tanggir, dan bukan hanya aku seorang yang senang pada anak Pak Modin itu. Bambang Sumbodo, putra Camat misalnya, sering naik Vespa ke Tanggir karena ingin
melihat Sanis. Memang hanya kabar burung, tetapi aku patut memperhitungkannya.”




Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...