Jumat, 16 April 2021

DI KAKI BUKIT CIBALAK BAB 06

Episode 16
Di Kaki Bukit Cibalak




Sampai jauh malam pikiran Pambudi masih berputar dalam masalah yang sama. Ia belum dapat tidur meskipun telah mencoba mengundang rasa kantuk dengan memadamkan lampu. Bahkan Pambudi bangkit ketika seekor burung bence terbang 
di atas rumahnya. Burung malam itu selalu berteriak-teriak bila melihat seseorang berjalan dalam gelap. Ibu Pambudi sengaja batuk, kemudian sepi lagi. Tetapi sebentar kemudian ada keributan kecil di kandang kambing. 
Pambudi mengintip ke luar melalui celah di dinding papan. Tampaknya tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Ketika Pambudi mengintip untuk yang kedua kalinya ia melihat seseorang berjalan mendekati lampu ting, lalu meniupnya. Kecurigaan Pambudi sudah mempunyai alasan yang kuat. Orang baik-baik takkan seenaknya mematikan lampu ting 
tetangga. Ia mengambil lampu senter dan berjingkat keluar. Melalui pintu samping, Pambudi segera berada di luar rumah. Diawasinya pendatang yang mencurigakan itu 
dari balik rumpun kacapiring. Sinar bintang-bintangmembantunya mengikuti gerak-gerik si durjana. Ia sedang menanam sesuatu di tengah regol. Kemudian orang asing 
yang bertubuh kecil itu berjalan ke arah rumah. Hampir saja Pambudi menyorotkan lampu senternya, tetapi urung. Pambudi ingin menangkap orang itu karena yakin mampu 
melakukannya. Calon lawannya bertubuh kecil, tingginya hanya sampai pundak Pambudi. 

Ketika orang itu hanya berjarak sedepa dari Pambudi, pemuda itu menangkapnya. Benar, Pambudi tidak mengalami kesukaran menguasai orang itu. Tanpa ribut-ribut Pambudi membawanya ke dalam. Orangtuanya dibangunkan. Ibu Pambudi keluar membawa lampu. 

“Bagol!” kata Pambudi hampir bersaman dengan teriakan ayahnya. 

Bagol, maling kambing dan ayam yang terkenal. Dia digeledah. Dari pinggangnya dikeluarkan sebuah pahat. Ada bungkusan di dalam saku maling itu. Ketika dibuka, isinya 
segenggam tanah. 

“Tunggui dia, Ayah. Kulihat tadi Bagol menanam sesuatu di tengah regol.” 

Pambudi keluar. Sesaat kemudian masuk kembali sambil membawa kain mori yang tergulung. Isinya tiga tangkai mawar, hampir kering. Ayah Pambudi menggelengkan kepala. 
Jimat-jimat itu diraupnya lalu dilemparkannya ke luar. 

“Kencingi barang-barang itu Pambudi, cepat!”

Pambudi menuruti perintah ayahnya. Orang tua itu tahu apa maksud penerapan jimat-jimat semacam itu: pengusiran dengan jalan halus. 

“Siapa yang menyuruhmu?” tanya ayah Pambudi kepada Bagol. 

Maling ayam itu diam saja, bahkan ketika pertanyaan itu diulang sampai tiga kali. Ayah Pambudi marah. Bagol ditamparnya keras sekali. Tetapi Bagol tetap pada tekadnya, bungkam! Dan tetap bungkam ketika ia diancam hendak dibawa ke kantor polisi. Pambudi yang ternyata lebih sabar daripada ayahnya, menemukan cara untuk mendapatkan pengakuan Bagol. 

“Dengar, Bagol, pasti semua ini kauperbuat atas perintah seseorang. Orang yang menyuruhmu itu pasti akan marah sekali apabila tahu kau tak berhasil melaksanakan tugas. Bukan kami yang hendak menghukummu, tetapi orang yang telah memberimu uang dan menganggap kau ternyata tak bisa dipercaya. Aku akan membantumu menghindari hukuman 
itu, bagaimana?” 

“Aku kurang mengerti maksudmu,” jawab Bagol akhirnya. 

“Begini, kita kerja sama. Katakan terus terang siapa yang menyuruhmu, dan aku berjanji akan merahasiakan segalanya. Kau aman, sebab majikanmu tidak tahu bahwa kau telah gagal. Bila kau menolak, akan kusebarkan berita bahwa kau telah mencoba mengguna-gunai kami. Pasti orang yangmenyuruhmu akan segera mendengar kegagalanmu. Dan tak 
pelak lagi kau pasti akan dihukumnya.” 
Bagol termenung sejenak, lalu mengangkat muka ke arah Pambudi. Dari sinar matanya, Pambudi tahu bahwa maling itu akhirnya setuju atas usulnya. 

“Nah, katakan siapa orang itu,” desak Pambudi. 

“Pak Dirga,” jawab Bagol singkat. Ayah Pambudi terkejut. Wajahnya memancarkan kecemasan yang amat sangat. Orang tua itu sungguh-sungguh sadar apa artinya berselisih dengan Lurah bagi penduduk Tanggir. 

“Siapa yang dituju dengan jahilan itu?” 

“Mana aku tahu. Tetapi tanah segenggam itu tadinya harus kutaburkan ke atas genting kamar tidur Pambudi.” 

Ayah Pambudi menatap wajah anaknya. Orang tua itu heran karena anaknya malah tersenyum. Apa kataku, keluh Pambudi dalam hati. Kepergianku dari lumbung koperasi Desa 
Tanggir, perbedaan paham antara aku dan Pak Dirga, mulai tampak ekornya. Tak kusangka lurah yang gagah itu, berhati tempe, tidak mau menghadapiku dari depan. 

Bagol disuruh pulang. Pambudi masuk kembali ke kamarnya. Ia menyumpahi dirinya, karena begitu ia menyorotkan senter ke atas meja, tampaklah majalah remaja itu. Kontan ia membayangkan pemiliknya, Sanis. Sadarlah Pambudi bahwa dirinya lemah. Ia tidak bisa berdaulat mutlak atas pribadinya sendiri. Buktinya, Sanis yang masih bocah itu dapat duduk dengan tenang dalam hati Pambudi. 

Sebaliknya ayah Pambudi amat cemas setelah adanya kejadian itu. Lurah memusuhi anaknya yang bungsu, yang amat disayanginya. Orang tua itu mencari penawar kebimbangannya dengan duduk dan bersujud kepada Tuhan. 
Sampai menjelang fajar, ayah Pambudi belum melepaskan doanya. 

Hari yang luar biasa bagi Bu Runtah, istri Pak Dirga, lurah Tanggir. Semenjak pagi, bahkan sejak kemarin sore ia sibuk menyiapkan perlengkapan untuk pekerjaan besar pada hari itu. Bagaimana nanti kalau hasil kerjanya tidak 
gemilang? Ia bisa ditertawakan oleh sesama istri lurah. Bu Camat tidak mustahil akan berkata, “Ingat Ibu-ibu, apa yang baik pada Anda akan berakibat baik pula pada konduite suami Anda, dan sebaliknya. Jelasnya, konduite Anda adalah juga konduite suami Anda.” 

Pada hari Minggu itu Bu Runtah akan diuji kepintarannya merias pengantin perempuan. Yang akan menguji adalah Bu Camat pribadi. Pelajaran rias-merias itu telah didapat oleh Bu Runtah dalam kursus wajib yang diikuti oleh
seluruh istri lurah dalam wilayah Kecamatan Kalijambe. Wah, istri Lurah Tanggir itu hampir panik. Terbayang olehnya apabila Bu Camat murka. Minggu kemarin istri Lurah Wadasan dituding-tuding oleh Bu Camat di hadapan 
orang banyak, “Pantas suami Anda tidak becus bekerja, karena tata tertib pun Anda tidak tahu! Anda tidak bisa bersikap sungkem terhadap atasan. Anda ingat ketika saya dan Bapak berkunjung ke Wadasan, kami mendapat jamuan makan dengan sambal petai. Anda harus, harus tahu bahwasanya Bapak itu mengidap wasir.” Kesalahan istri Lurah Wadasan yang membuat Bu Camat marah besar pada saat itu, hanya perkara kain batik yang dipakai dengan motif terbalik. 




Episode 17 
Di Kaki Bukit Cibalak




“Pak, apakah Jirah cocok untuk menjadi model dalam ujian ini?” tanya Bu Runtah kepada Pak Dirga, suaminya. 

“Lho, mengapa Jirah? Carilah yang lain saja.” 

“Aku tidak bisa menemukan yang lain itu, Pak. Barangkali kau dapat membantuku mencari calon model yang lain.Sekarang sudah pukul setengah tujuh, Pak. Waktunya tinggal sedikit lagi.” 

“Wah, aku tidak dapat menunjukkan siapa-siapanya, tetapi jelas kau harus menemukan model yang cantik. Kekurangan kecil pada tata rias, akan tertutup oleh kecantikan si model.” 

“Kau benar, Pak. Masalahnya ialah siapa model yang cantik itu.” 

“Nanti dulu...” 

Pak Dirga bingung, karena sebenarnya ia bisa mengatakan kepada istrinya bahwa Sanis amat cocok untuk berperan sebagai model itu. Namun ia takut didakwa menaruh perhatian khusus terhadap anak gadis Pak Modin itu. Bu 
Runtah adalah istri Pak Dirga dari perkawinan yang ketujuh. Ia mempunyai perasaan yang amat peka, terutama tentang kebajulan suaminya. Bahkan Bu Runtah sudah dapat 
menangkap isyarat mengapa suaminya tampak salah tingkah. 

“Nah, siapa, Pak?” 

“Oh, ya, ada perawan cantik di desa ini. Walaupun belum bisa dibilang dewasa, ia tampak amat manis, namanya...”.

“Sanis! Iya, kan?” potong Bu Runtah secepatnya. Pak Dirga tersenyum. Istrinya tersenyum, tapi dengan makna yang berlawanan. Andaikata bukan untuk kepentingan ujian, andaikata bukan untuk sesuatu yang berhubungan dengan Bu Camat, pasti Bu Runtah akan menolak calon model yang dipilih suaminya. Tetapi kali ini istri Lurah Tanggir itu tidak mempertimbangkan hal lain kecuali daya upaya agar ia lulus ujian. Jadi, bagaimana juga ia menyembunyikan 
perasaannya. 

“Memang ia sudah kupikirkan juga, Pak. Tetapi ayah Sanis alim orangnya, dan Sanis sendiri anak pemalu. Akankah ayah Sanis mengizinkan anaknya kujadikan model?” 

“Kalau kau bersedia, masalah lainnya dapat kuatur. Ayah Sanis sedang mengajukan permohonan kepada Bupati agar langgarnya dipugar dengan biaya Pemerintah. Tanpa aku, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi ia tidak pantas menolak bila kuminta anaknya untuk dijadikan modelmu, paham?” 

“Pintar, kau memang pintar, Pak. Nah, terserah padamu sekarang. Pokoknya pukul sepuluh nanti Sanis harus sudah siap berangkat ke Kecamatan. Oh, Pak. Kapas kecantikanku 
habis. Tolong belikan lima bungkus.” 

“Tidak bisa. Aku punya tamu penting pagi ini. Suruh saja anak-anak.” 

“Jangan begitu, Pak. Kapas itu juga termasuk urusan penting. Atau kau ingin aku dimarahi Bu Camat?” 

“Tentu saja tidak. Tapi suruhlah anak-anak.” 

“Alaaaah, kau ini, Pak. Kan anak-anak belum pandai naik motor. Ayolah, Pak, ayoooo!” 

“Baiklah, tetapi dekatlah kemari. Aku mempunyai usul bagus yang harus kautunaikan nanti.”  Suami-istri itu bicara berbisik-bisik, walaupun tak ada orang lain di tempat itu. Bu Runtah mengernyitkan alisnya 
kemudian tertawa. 

“Ini hari Minggu. Kukira Bambang Sumbodo berada di rumah. Maka riaslah Sanis secantik mungkin. Kemudian beri Bambang kesempatan. Kau akan bisa mengaturnya.” 

“Wah, aku hendak belajar menjadi comblang. Tapi, Pak, sudah ramai dibicarakan bahwa Sanis berpacaran dengan Pambudi. Bagaimana?” 

“Aku juga mendengar kabar angin itu. Tetapi persetan! Kita takkan mendapat keuntungan apa-apa kalau Sanis kawin dengan Pambudi. Sebaliknya, apabila dengan perantaraan kita Sanis dapat menjadi menantu Pak Camat, untunglah kita. Keluarga kita akan bertambah akrab dengan keluarga Camat. Ini penting karena aku menjadi lurah di Tanggir. Kau sendiri pasti akan menjadi kesayangan Bu Camat.” 

Alangkah senangnya hati Bu Runtah mendengar uraian suaminya. Ternyata suaminya sangat menaruh minat pada ujian yang akan ditempuhnya pagi itu. Juga Bu Runtah menjadi lega karena ternyata suaminya tidak terkesan menaruh minat terhadap si cantik Sanis. Buktinya, ia malah menyodorkan gadis itu kepada Bambang Sumbodo, putra Camat. 

Itu logika Bu Runtah yang tidak pernah dapat menyelami pikiran suaminya. Ia tidak tahu bahwa suaminya sedang melakukan penjajakan, apakah benar Bambang Sumbodo juga tertarik kepada Sanis. Kalau benar, Pak Dirga akanmemberi bantuan apa pun, karena Bambang putra Camat. Tetapi Pak Dirga sungguh-sungguh berharap agar berita yang menghubung-hubungkan Bambang dengan Sanis hendaknya hanya desas-desus belaka. Ini lebih baik bagi Pak Dirga. 

Bu Runtah juga tidak tahu siapa yang disuruh suaminya memberitahu Sanis serta menjemputnya sekalian. Poyo yang ke sana. Sebelum berbicara macam-macam ia telah 
menyerahkan sebuah amplop kepada Sanis, isinya 50.000 rupiah. “Uang itu dari Pak Lurah untuk ongkos jalan ke Kecamatan nanti. Kau ditunggu oleh Bu Runtah. 

Sebelum pukul sepuluh kau harus sudah menemui Bu Runtah. Yang 50.000 itu jangan kaukatakan kepada siapa-siapa, juga kepada Bu Runtah.” Sesungguhnya Sanis tidak langsung menyatakan kesanggupannya untuk dijadikan model oleh Bu Runtah. Ia juga dapat merasakan ada apa-apa dengan uang 50.000 yang harus dirahasiakannya itu. Namun Sanis tak sempat berpikir panjang karena ayahnya ikut mendesaknya agar segera berangkat. “Kau sudah ditunggu Bu Runtah,” desak ayahnya. 

Sebuah andong menggelinding ke timur. Penumpangnya hanya dua orang. Bu Runtah dan Sanis. Sebuah tas besar dibawa oleh istri Lurah Tanggir itu, berisi segala macam 
perlengkapan rias-merias. Sanis duduk diam dan membiarkan dirinya terayun-ayun oleh pegas andong. Hatinya berisi macam-macam perasaan. Ia belum pernah menjadi model-
modelan semacam itu. “Dan mengapa Bu Runtah memilihku dan bukan Jirah misalnya?” tanya Sanis pada dirinya sendiri. 

“Wah, barangkali benar aku cantik atau agak cantik seperti kata Jirah. Tetapi tumitku kasar dan retak-retak. Kesepuluh jari tanganku menebal lantaran aku sering menumbuk dengan alu.” 




Episode 18 
Di Kaki Bukit Cibalak 




Kedua penumpang andong itu turun di depan sebuah rumah gedung besar dengan halaman luas. Itu rumah kediaman Camat. Di ruang depan seorang opas Kantor Kecamatan 
sedang menata kursi-kursi. Pasti ia telah kehilangan hak menikmati hari Minggu sebab harus taat kepada Bu Camat.

Opas yang lugu itu hampir tidak tahu lebih penting mana tugas yang diberikan, apakah yang dari Pak Camat atau yang dari Bu Camat. 

Sanis dan Bu Runtah dijemput oleh nyonya rumah yang berdandan sangat rapi. Bagaimanapun Bu Camat mempunyai 
keahlian menyembunyikan usianya yang sebenarnya. Kenes, dan perempuan itu pandai mengatur gerak bibirnya bila berbicara. Pasti ia rajin memperhatikan para penyiar TV. 

Seumur bidupnya Bu Runtah, istri Lurah Tanggir itu belum pernah menempuh ujian apa pun. Sehingga tangannya gemetar ketika menyalami tangan Bu Camat, calon pengujinya. 

Mata Sanis memperhatikan perabotan dan hiasan-hiasan yang memperindah segenap ruangan. Mewah. Barangkali senang tinggal dalam rumah seperti ini, pikir Sanis. Oh, ya, 
malahan dalam rumah ini tinggal Bambang Sumbodo, yang selalu menjadi pembicaraan gadis-gadis Tanggir. Jirah yang liar itu pernah berkata, “Seandainya Bambang Sumbodo 
hanya meletakkan kakinya di pipiku, aku pun sudah merasa senang!” 

“Gadis ini yang akan Anda jadikan model?” tanya Bu Camat. 

“Ya, Bu.” 

Bu Camat pun lalu memperhatikan Sanis lama sekali. Sanis berdebar dan hanya bisa menundukkan kepala. Bu Runtah memperkenalkan gadis modelnya. 

“Hanya seorang gadis kampung, Bu. Anak Modin Desa Tanggir.” 

Ternyata Bu Camat masih tetap memperhatikan Sanis. Perempuan itu tak peduli yang diperhatikannya telah lama 
tersiksa. Seperti seorang belantik sedang meneliti seekor kuda. Sanis makin gelisah karena sadar, baju yang dipakainya hanya dijahit dengan tangan. 

“Siapa namamu?” tanya Bu Camat. 

“Sanis,” jawab gadis itu hampir tak terdengar. 

“Sanis, hanya itu? Wah, sesungguhnya kau pantas menyandang nama Endang... ee. Oh, tapi barangkali darah yang mengalir dalam tubuhnya hanya darah biasa saja. Bukan rah adi. Jadi sudahlah, namamu yang sekarang pun cocok.”

Semua istri lurah ditambah beberapa orang istri pejabat Kecamatan akan hadir menyaksikan ujian yang akan ditempuh oleh Bu Runtah itu. Mereka mulai datang. Dan justru pada saat itulah Bu Runtah diperintahkan untuk segera melaksanakan persiapan. 

Mula-mula Sanis dimandikan, dikeramasi. Seluruh tubuhnya dilumuri dengan larutan sabun, kemudian digosok dengan karet busa dengan hati-hati sekali. Bukan main kacaunya 
perasaan Sanis karena Bu Camat berada di situ ketika ia dimandikan. 

Ujian yang sesungguhnya memang sudah mulai. Hanya dengan berpinjung kain Sanis dituntun ke luar. Senang juga rasanya dimanjakan seperti itu. Tiba di belakang garasi. Sanis hampir berhenti karena terkejut. Di sana Bambang Sumbodo sedang membersihkan Vespa-nya. “Untung,” pikir 
Sanis, “Bambang tidak melihatku.” Tetapi beberapa detik kemudian pikiran Sanis berbalik, “Sayang, Bambang tidak melihatku!” 

Sementara itu kesepuluh istri lurah dan empat orang istri pejabat Kecamatan telah hadir. Walaupun mereka duduk dengan tertib, pergunjingan mereka terdengar sampai ke 
kamar tempat Sanis sedang dirias. Pertama-tama rambut Sanis dikeringkan. Lalu sekujur tubuhnya diberi lulur. Masih dalam kain terpinjung, wajah Sanis diolesi beraneka krem, yang cair, agak kental, sampai kepada yang berujud pasta. Alis dihitamkan, pipi dan bibir
dimerahkan. Kemudian sanggul Sanis mulai digarap. Bu Runtah sampai bercucuran keringat ketika menangani rias ini. Sebelum segala hiasan rambut dipasang, Bu Runtah 
mencukur rambut-rambut halus yang tumbuh di dahi Sanis. Di dahi itulah Bu Runtah membuat lukisan relung-relung dengan cairan hitam yang pekat. Relung-relung itu sinoman 
namanya. 

Sebelum para juru rias mengenal cat, sinoman dilukis dengan getah pepaya yang dicampur jelaga. Tentang sinoman ini terdapat kepercayaan yang aneh. Apabila ternyata 
lukisan sinoman itu meleleh pada saat pengantin bersanding di pelaminan, sungguh menjadi pertanda yang buruk. Berarti pengantin perempuan sudah pernah merasakan nikmatnya sesuatu yang meleleh. Ia telah kehilangan kegadisannya. Yang demikian itu dapat dimengerti karena dalam hal ini pengantin perempuan menahan rasa cemas selagi duduk bersanding. Jangan-jangan mata orang-orang jeli dan memperhatikan perutnya yang mulai membesar. Karena menahan rasa cemas itu, keringat akan membasahi seluruh tubuhnya, juga kening. Sehingga sinoman itu leleh.

Selesai merias wajah, Bu Runtah menggarap tangan Sanis. Telapak dan punggung tangan diolesi krem lagi, kuku-kuku dipotong, dikikir, dan dicat. “Alu sialan,” keluh Sanis yang merasa malu karena banyak kulit yang menebal pada kedua telapak tangannya. Kaki Sanis dirawat paling akhir. Gadis itu kembali mengeluh, “Karena terlalu sering terkena air sabun bercampur abu, tumitku retak-retak.” 

Sekarang Bu Runtah melilitkan kain batik sida mukti ke tubuh Sanis. “Hati-hati! Polanya jangan sampai terbalik. Ingat peristiwa ketika istri Lurah Wadasan kena marah!” begitu Bu Runtah memperingatkan dirinya sendiri. Ketika 
Bu Runtah hendak memasangkan kutang, Sanis tertawa karena geli. Ia merasa risi karena selama ini hanya memakai singlet sebagai ganti kutang. Teteknya belum 
terbentuk. Menyusul kemudian setagen dan kebaya panjang dari beledu. Sanggul dan hiasan-hiasan rambut ditata kembali. Untaian melati dijuraikan dari sanggul sampai jatuh ke dada. Selop kulit dikenakan. 

Tiba-tiba Bu Camat bertepuk tangan. Berdua Bu Runtah mereka menuntun Sanis ke luar. “Pengantin” itu didudukkan di sebuah kursi di hadapan para ibu yang berjumlah empat belas orang itu. Mereka bertepuk tangan. Sanis merasa entah berada di mana dirinya saat itu. Apa yang terasa di hatinya tidak jelas: malu, bangga, dan terharu. Matanya berkaca-kaca. 

“Sayang, pinggangnya masih rata,” kata seorang ibu dari belakang. 

“Kalau dadanya sudah montok, cantiknya luar biasa,” kata seorang lagi. 

“Oh. Bu Runtah beruntung. Tanpa rias pun gadis itu sudah cantik. Aku tidak tahu, apakah Bu Runtah yang sungguh-sungguh pandai merias atau gadis modelnya yang memang 
menarik.”





Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...