Satu-dua detik kutunggu, tetapi sialan, yang kudengar lagi-lagi adalah tawa Kiram dan Jun. Tawa kedua teman itu membawa aku kembali ke alam sadar. Ya, betapapun jauh aku melamun, aku sebenarnya belum beranjak dari gua pos rahasia DI di tengah hutan jati itu.
“Mid, terus terang, aku mengkhawatirkan kamu,” ujar Kiram yang masih memegang cangkir kopi.
“Kamu terus melamun. Kalau kamu terus seperti itu, kamu bisa sinting.”
“Mid, kukira kamu perlu istirahat,” kata Jun.
“Tengoklah istrimu. Kamu sudah lama tak bertemu dia, bukan?”
Aku tersenyum. Ternyata Kiram dan Jun bisa mengerti perasaanku. Ya. Selain tentang masa depan gerakan DI sendiri, aku memang sangat ingin menjenguk istriku. Diam-diam aku malah mengkhawatirkan kesehatannya.
“Berapa bulan kandungan istrimu?” tanya Kiram.
“Lima atau enam,” jawabku tanpa semangat karena dalam kepalaku masih saja tersisa bayangan masa lalu.
“Jenguklah dia. Tetapi segera kembali bila kangenmu sudah hilang.”
Aku tersenyum lagi. Ah, manisnya bila kudengar kawanku berbicara tentang sesuatu yang lebih manusiawi.
Keesokan harinya aku melaksanakan keinginan yang sudah lama kupendam, menjenguk Umi di daerah Dayeuh Luhur. Ya, Umi yang terlalu muda ketika kuambil sebagai istri. Umi yang ketika itu masih lima belas atau enam belas tahun. Aku terpaksa oleh keadaan harus menikah dengan gadis belia itu karena ia sebatang kara. Ayah Umi, Kiai Had, yang tiga tahun menjadi imam laskar DI, meninggal dalam persembunyian di sebuah gua. Ketika melepas nyawa, Kiai Had hanya berteman Umi. Gadis kecil ini tak mau berpisah sejak awal ayahnya masuk hutan untuk bergabung dengan barisan Darul Islam.
Ah, tak mudah melupakan kenangan ketika aku dan teman-teman menemukan Umi seorang diri dalam sebuah gua, sedang menunggui ayahnya yang sudah satu hari satu malam
meninggal. Perasaanku hancur. Pada saat-saat seperti itu aku sungguh benci terhadap kenyataan bahwa aku berada dalam keadaan berperang melawan pemerintah Republik. Aku sungguh benci terhadap keadaan yang menempatkan diriku, juga teman-temanku, di luar kehidupan umum sehingga kami terus dan terus terlunta. Dan contoh keterluntaan yang sangat nyata kurasakan ketika aku menyaksikan jenazah seorang kiai tak terurus dan hanya ditunggui seorang gadis kecil yang tak mampu berbuat apa-apa kecuali menangis dan menangis.
Selesai mengurus jenazah Kiai Had yang sudah mulai membusuk, kami menghadapi persoalan dengan Umi: harus dikemanakan dia. Kami tahu Umi punya banyak kerabat yang tidak mengikuti jejak ayahnya, Kiai Had. Mereka hidup biasa di desa-desa tak jauh dari kawasan hutan jati yang menjadi pangkalan kami. Tetapi Umi juga memahami, seorang gadis seperti Umi akan menemui banyak kesulitan bila dia memutuskan untuk turun gunung. Masyarakat, bahkan mungkin kerabatnya, belum tentu mau menerima Umi dengan tangan terbuka. Belum lagi sikap aparat keamanan, terutama OPR, yang pasti
akan menjadikan Umi sebagai bukti kegagahan mereka bila anak Kiai Had itu tertangkap.
“Um,” tanya Kiram dengan suara pelan dan lembut, “setelah ayahmu meninggal, apa yang ingin kamu lakukan?”
Umi mengangkat wajah sejenak, lalu tunduk kembali. Bibirnya bergetar dan air matanya kembali membasahi kedua pipi remajanya yang kurus. Lama kami menunggu jawaban,
tetapi Umi tak berkata apa-apa.
“Um,” ujar Kiram lagi, tetap dengan nada lembut, “sebaiknya kamu pulang dan bergabung dengan kerabat di kampung. Nanti kamu kami antar. Bagaimana?”
Umi tetap tertunduk. Tangannya sibuk mengusap air mata yang terus berjatuhan. Saat itu perasaanku benar-benar remuk.
Kutukanku makin sengit terhadap kekejaman pergolakan bersenjata. Lihatlah ke dalam mata Umi dan dengarkan isaknya yang tertahan-tahan: betapa hancur jiwa gadis tanggung itu
dan betapa berat penderitaan yang harus dipikulnya akibat peperangan ini.
“Um, apa kamu ingin tinggal bersama kami?” tanya Jun yang sejak tadi diam. Aku percaya pertanyaan Jun hanya main-main, sekadar untuk menguji kata hati Umi. Sejenak tak ada jawaban. Tetapi kami semua menegakkan kepala ketika melihat Umi akhirnya mengangguk. Aku, Jun, dan Kiram sama-sama terkesima.
“Pikirlah baik-baik, Um, kamu anak perempuan,” kata Kiram. “Betulkah kamu ingin tetap bersama kami tinggal di dalam hutan?”
Umi mengangguk. Kami kembali berpandangan dan kemudian sama-sama menarik napas panjang. Aku sendiri makin
iba melihat Umi. Maka aku bilang kepada Jun dan Kiram bahwa kalau Umi mau, biarlah aku menjadi walinya. Aku ingin menjadi pemberi rasa aman kepada gadis kecil yang malang itu. Tetapi begitu mendengar kata-kataku, Jun menyanggah.
“Mid, aku menghargai kemauan baikmu. Namun Umi tidak bisa lagi dibilang anak-anak dan kalian bukan muhrim.”
“Maksudmu?”
“Jangan pura-pura tak tahu maksudku,” jawab Jun. “Kalau kamu bersungguh-sungguh ingin melindungi Umi, sebaiknya kalian menikah. Aku bilang, Umi bukan anak-anak, apalagi kamu.”
“Ya, kukira itu lebih baik,” dukung Kiram.
Aku tak mampu cepat memberi tanggapan. Tetapi jelas, aku tak menyesal telah menyatakan bersedia menjadi wali bagi Umi. Masalahnya, haruskah perlindunganku buat Umi berupa perkawinan?
“Apa katamu, Mid?” desak Jun.
Entah mengapa, aku menoleh ke arah Umi. Sekilas kulihat kebimbangan dalam mata gadis tanggung itu. Menikah? Jangankan Umi, aku pun tak mungkin bisa cepat memutuskannya.
“Mid!” ujar Kiram agak tegas. “Kamu jangan seperti anak kecil. Kamu jangan menunggu Umi mengiyakan usulan Jun. Selamanya Umi tak akan bisa memberi jawaban. Jadi kamulah
yang bisa memulai prakarsa.”
Jun dan Kiram bangkit dan pergi meninggalkan aku hanya berdua Umi. Dan betul kata Kiram, Umi tetap diam, bahkan menangis ketika kutanya kesediaannya untuk menjadi istriku.
Ah, dia belum dewasa. Tetapi dua hari kemudian, dalam sebuah gubuk di tepi hutan, aku dan Umi menikah. Kang Suyud yang waktu itu masih hidup, menjadi wali hakim. Jun dan Kiram jadi saksi. Ya, pernikahan itu terjadi tiga tahun berselang. Kini Umi sudah hamil dan kutinggal di Dayeuh Luhur. Aku sungguh rindu kepadanya.
Pagi-pagi sekali aku berangkat, berbekal kain sarung yang melilit pinggang. Senjata kutitipkan pada Kiram dan Jun yang tetap tinggal dalam pos rahasia. Aku hanya membawa parang. Barang ini sangat kuperlukan, terutama sebagai sarana penya-
maran bila aku harus keluar hutan sebagai seorang pencari kayu bakar.
Dari hutan Cigobang aku merayap di bawah kelebatan hutan jati ke utara dan nanti akan berputar ke barat. Angin belum bertiup sehingga belantara jati itu menjadi sosok maharaksasa yang terbaring diam. Sepotong ranting lapuk yang jatuh akan cukup mengusik keheningan. Apalagi kokok ayam hutan, sedangkan suara jangkrik yang berderik halus di lereng jurang pun jelas terdengar.
Makin dekat ke tepi, hutan makin menerawang karena banyak pohon jati yang ditebang para pencuri. Pohon dan tetumbuhan mulai beraneka ragam, tidak melulu jati. Aku mulai
melihat kupu-kupu dan capung. Dan kicau burung pun mulai terdengar. Ada perkutut dan derkuku bertengger pada cabang pohon wangkal. Ada sepasang bayan hinggap dekat sarang mereka dalam lubang kayu kapuk. Mereka cerewet, tetapi paruh merah dan bulu hijau mereka sangat enak dipandang. Dan aku
melihat seekor dadali tiba-tiba menukik dari langit. Tubuhnya yang gagah melesat ke bawah dan sekejap hilang terhalang
pepohonan. Ketika naik lagi, kulihat burung perkasa itu sudah membawa seekor ular pada cakarnya. Aku teringat ular-ular bedudak sangat berbisa, yang selalu membuatku bergidik. Tetapi dadali itu malah memakannya.
Lepas dari hutan jati, padang belukar yang sangat luas menghampar di depan mata. Dan jauh di sana aku melihat sepetak huma dengan sebuah dangau yang mengepulkan asap.
Tiba-tiba aku merasa lapar karena terbayang singkong bakar yang mungkin ada dalam perapian di tengah dangau itu. Langkahku mengarah ke sana. Sesungguhnya dangau itu beratap ilalang, namun atap itu tertutup rapat oleh daun labu yang batangnya merambat dari bawah. Ada dua atau tiga buahnya tergeletak di atas atap yang rendah. Dinding dangau juga hampir sepenuhnya tertutup daun tanaman rambat itu.
Aku sudah lama mengenal petani huma itu, Madiksan. Kesahajaannya pasti mengundang iba siapa saja. Namun Madiksan sangat tekun. Humanya, yang sesungguhnya merupakan
bagian tanah kehutanan, digarapnya dengan sangat baik. Madiksan menanam singkong, jagung, dan palawija. Pada masa panen, istri dan anak-anaknya yang tinggal di kampung sering dibawanya ke huma. Dan sebagai ganti uang sewa kepada pemangku tanah kehutanan, Madiksan memberikan sebagian hasil panennya kepada mandor jati. Madiksan seakan tak peduli bahwa aku adalah laskar DI, musuh besar aparat keamanan yang ditakuti orang kampung. Boleh jadi laki-laki yang sudah ubanan itu berpikir, selagi sama-sama menjadi wong alasan, manusia hutan, aku adalah sahabatnya. Ya, kami memang tak tega mengusik petani huma itu. Apalagi kami sudah telanjur percaya, Madiksan tahu diri, ia tak pernah berkhianat. Brayan urip, atau sama-sama cari hidup, demikian Madiksan sering
berkata padaku. Brayan urip, sepanjang ingatanku, adalah kata-kata sakti yang sangat mudah mengundang rasa kebersamaan. Aku sendiri merasa tak kebal terhadap kesaktian kata-kata itu. Maka aku dan Madiksan tak merasa terpisahkan oleh kenyataan bahwa aku adalah anggota laskar DI, yang menjadi musuh
pemerintah Republik.
Madiksan sedang berjongkok menghadap perapian ketika aku masuk ke dangaunya. Betul, petani huma itu sedang memanggang sesuatu: bukan singkong, melainkan jagung muda. Ia menoleh karena mendengar suara langkah kakiku. Sejenak wajahnya melukiskan rasa kaget. Namun setelah tahu siapa yang datang, Madiksan tersenyum.
“Ah, sampean, Mas Amid. Jagung bakar, Mas.”
“Kebetulan, Kang Madiksan. Aku memang sedang lapar.”
“Minum?”
“Ya.”
“Tetapi tehnya kelaras daun jagung. Mau?”
“Ah, pokoknya air. Aku juga haus."
Jagung bakar dan air hangat segera menenangkan perutku. Madiksan keluar untuk menghalau gelatik dan bayan yang nebah padinya yang mulai menguning. Aku menyimak harta Madiksan yang tersimpan dalam dangaunya. Beberapa pocong jagung kering tergantung di bubungan. Ada dua keranjang
gaplek, tiga buah labu. Semua sudah tertata rapi. Bila sudah demikian, pastilah Madiksan sudah siap turun gunung untuk mengantarkan hasil huma buat anak dan istrinya.
Ya. Tiba-tiba aku merasa iri kepada lelaki yang sangat sederhana ini. Dia punya dunia yang pasti, yakni keluarga yang mapan. Dia punya wadah jelas untuk membuktikan hasil jerih payahnya. Jagung dan gaplek itu dikumpulkannya dengan susah payah, pasti demi tawa anak-anaknya dan mungkin senyum istrinya. Madiksan punya dunia yang nyata. Tapi aku? Dalam usia hampir tiga puluh, aku tak punya apa-apa yang nyata dan pasti. Ya, sampai sejauh ini aku tak punya kepastian,
apalagi sesuatu yang lebih nyata seperti rumah yang berisi anak dan istri. Memang, aku punya Umi, istriku. Tetapi aku tak punya kemapanan. Ya, kalau aku mau jujur, bahkan sesung guhnya aku tak punya harapan. Ah, Umi. Demi kepatutan, sesungguhnya aku harus membuat sebuah rumah buat kamu. Rumah untuk membesarkan anak-anakmu. Rumah di mana
kamu aman lahir dan batin, jauh dari rasa takut karena selalu diburu. Rumah yang sebenar-benarnya rumah.
Ketika sedang makan jagung bakar tadi, tebersit keinginanku untuk beristirahat di dangau Madiksan. Tetapi begitu teringat Umi, aku ingin secepatnya bertemu dia. Maka setelah mereguk air teh kelaras jagung dari cerek Madiksan, aku segera pamit dan meneruskan perjalanan. Dayeuh Luhur, tepatnya, tepian hutan jati di wilayah itu yang akan kutuju, masih amat jauh. Apalagi aku harus menempuh jalan melingkar melalui rimba jati dan semak belukar. Mungkin besok sore aku baru sampai ke sana.
Sebelum malam tiba, aku mencari tempat yang aman buat beristirahat dan tidur. Aku menemukan sebuah gubuk reyot, mungkin tempat para pencuri kayu atau mandor jati berteduh bila hari hujan. Dengan alas daun-daun pisang, aku bisa merebahkan badan dengan baik sehingga aku bisa segera tertidur
nyenyak.
Malam sudah benar-benar gelap ketika aku terjaga oleh suara jerit binatang. Ah, itu si Tutul berhasil menangkap seekor kijang. Si Tutul adalah macan tutul, yang entah bagaimana
rasanya sudah akrab dengan kami. Mirip dongeng. Aku pernah beberapa kali meminta daging buruan kepada macan yang tidak begitu besar itu. Caranya gampang. Bila si Tutul terdengar telah menangkap mangsanya, biasanya tak lama setelah lepas magrib, aku lempar dia dengan potongan kayu yang membara. Si Tutul, yang takut api, biasanya segera meninggalkan mangsanya buat kami. Tetapi malam ini aku tak ingin mengganggu
temanku yang tutul itu. Aku terlalu lelah.
Menjelang pagi aku dibangunkan oleh kokok ayam hutan. Dan suara bayan yang cerewet. Juga suara bangkong dari sungai-sungai kecil di dasar jurang. Kepalaku agak pusing. Namun terdorong rasa ingin segera bertemu Umi, aku bangkit lalu meneruskan perjalanan. Ketika matahari sepenggalah aku sudah melampaui batas hutan jati dan masuk ke perkebunan
karet. Sengaja kupilih wilayah hutan dengan tanaman karet yang masih muda dan belum disadap, karena aku tak ingin bertemu siapa pun. Aku tahu, banyak sekali orang perkebunan yang bersimpati kepada GS. Malah aku percaya, banyak di antara mereka adalah anggota perkumpulan komunis yang rahasia itu.
Tengah hari aku sampai ke suatu wilayah hutan bukaan. Sejauh mata memandang, yang tampak adalah kebun singkong dengan selingan palawija. Aku melompat ke atas sebuah batu besar untuk meneliti keadaan. Setelah yakin aman, aku membuat api dan membenamkan beberapa gelintir singkong ke dalamnya. Seperti di pos kami di Cigobang, di situ pun aku menemukan air yang bening di dasar jurang. Aku minum seperti hewan: mulut langsung kurendam ke dalam air.
Sambil menunggu singkong siap disantap, aku duduk bersandar batu besar. Sinar matahari teredam sempurna oleh kerimbunan daun randu alas besar di belakangku. Angin mengalir dari selatan. Seekor puyuh hutan tiba-tiba muncul di depanku, termangu dan segera melesat terbang ketika aku
menggerakkan tangan. Di langit kulihat ada burung alap-alap, mengapung sambil terus mengepakkan sayap, tetapi ia tak melaju sedikit pun. Kukira alap-alap itu sedang menanti mangsa yang siap disambarnya. Entahlah, aku merasakan lambat laun pandangan mataku baur. Telinga pun tak menangkap sesuatu kecuali kelengangan yang makin lama makin mengendap. Dan tiba-tiba aku merasa tubuhku menjadi ringan, sangat ringan.
Aku lari dan melayang di atas hamparan perdu dan ilalang. Melambung di atas Sungai Citandui, dan tanpa kusadari aku sudah berhadapan dengan Umi. Dengan senyumnya yang kekanak-kanakan, Umi tampak cantik dan tanpa dosa. Aku menarik tangannya. Aku membopongnya dan membawa dia melayang ke utara, ke Cirebon, seperti yang dianjurkan oleh Kiai Ngumar. Dari Cirebon aku dan Umi akan naik perahu nelayan ke barat menyusuri pantai utara Jawa, lalu menyeberang ke Sumatra, menyusul Jalal dan teman-teman lain yang sudah lama bermukim di sana. Di tempat yang baru, Umi akan melahirkan bayinya dengan aman. Aku akan menjadi petani demi
anak dan istriku. Aku tertawa.
Dan terkejut. Ketika membuka mata aku sadar diriku masih duduk menyandar pada sebuah batu besar. Di depanku ada perapian. Matahari telah tergelincir ke barat dan seberkas sinarnya jatuh ke wajahku. Kulihat perapian hampir padam. Namun ketika kukorek, kudapati singkong di dalamnya siap kumakan.
Dengan perut terisi dua gelintir singkong bakar, aku meneruskan perjalanan. Dalam perhitungan, aku akan sampai ke tujuan menjelang senja hari. Lepas dari wilayah perkebunan karet aku kembali menempuh daerah bersemak dan padang ilalang. Sesungguhnya aku tak suka berjalan menembus belukar semacam itu karena sering ada ular bedudak. Tetapi kali ini aku nekat dan anehnya, malah mujur, karena tak sengaja
aku menemukan sarang ayam hutan yang penuh telur. Ketika aku tak punya apa-apa untuk diberikan kepada Umi, telur-telur ayam hutan bisa menjadi hadiah yang sangat berharga.
Perhitunganku tak jauh meleset. Sesaat sebelum matahari terbenam aku sudah melihat tiga rumah kecil beratap ilalang, terpencil di tubir jurang, jauh dari rumah-rumah lain. Para
penghuninya adalah kerabat Umi. Aku berjalan memutar untuk melihat gubuk istriku yang ada di belakang ketiga rumah beratap ilalang itu. Ah, sebenarnya aku ingin segera lari untuk
menemui istriku. Namun aku tak pernah lupa bahwa bahaya selalu mengintai diriku setiap saat. Maka kuredam gejolak hati dan aku memaksa diri bersabar sampai hari benar-benar gelap. Tetapi untunglah, aku dapat mengintip Umi ketika ia keluar dari gubuknya dan berjalan menuju rumah yang paling dekat.
Ya. Malam hari memang Umi tidur di rumah kerabatnya itu. Aku yang dulu mengaturnya demikian.
Lepas magrib aku bergerak mendekati rumah beratap ilalang itu dari arah belakang. Setelah yakin suasana aman, aku menyobek daun pisang dari pelepahnya. Bunyinya menjadi
aba-aba rahasia bagi para penghuni rumah. Bila keadaan benar-benar aman, pintu akan terbuka. Bila tidak, semua pintu akan tetap tertutup. Aku menunggu dengan perasaan tak keruan. Tetapi tak lama kemudian kudengar pintu berderit. Aku mendekat dan dalam keremangan malam aku melihat sosok istriku.
“Umi?”
“Kang Amid?”
Dalam pertemuan seperti itu aku selalu merasakan ketabahan hati Umi. Ia tak pernah menangis. Ia hanya memegangi tanganku erat-erat. Tetapi justru sikap seperti itulah yang membuatku makin merasa bersalah terhadap Umi. Apalagi kulihat perutnya makin besar. Dan sejauh ini aku tak bisa memberikan apa-apa kepadanya, bahkan sekadar kepastian dan rasa aman pun tak bisa.
Setelah berbasa-basi dengan para kerabat, aku membawa Umi ke gubuk di belakang rumah itu. Malam ini aku berada di bawah atap ilalang bersama Umi. Aneh, pikiranku malah jadi tak keruan karena aku sadar, sebentar lagi Umi harus melahirkan anak kami yang pertama. Dari pengalaman yang kudapat, inilah masa yang sulit. Kami tak punya dukun bayi, bahkan tak punya tempat yang cukup aman untuk menyambut kelahiran seorang anak.
Dulu ada beberapa teman yang membawa istri mereka ke hutan. Mereka membuat tempat tinggal sederhana. Tetapi para perempuan sering menjadi beban yang terlampau berat
bila suatu ketika datang serangan. Juga ketika mereka punya bayi. Banyak bayi tidak tahan hidup dengan keadaan serba kekurangan di tengah hutan. Menyadari pengalaman ini, kami
para laskar DI, tidak lagi membawa istri ke hutan. Istri-istri bisa dititipkan kepada kerabat yang tinggal di kampung di pinggir hutan dengan cara sembunyi-sembunyi.
Hingga jauh malam aku tetap gelisah. Beberapa kali aku turun dari balai-balai dan menatap Umi yang lelap di bawah sinar pelita kecil yang menempel pada tiang bambu. Suatu saat Umi terjaga. Tatapannya yang kekanak-kanakan selalu mengundang rasa iba.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar