Sabtu, 17 April 2021

DI KAKI BUKIT CIBALAK BAB 07

Episode 19 
Di Kaki Bukit Cibalak 



Selagi para ibu itu bergunjing tentang Bu Runtah dengan gadis modelnya, Bu Camat berdiri.

“Para Ibu, yang duduk di hadapan Anda adalah model pengantin perempuan yang telah dirias oleh Bu Runtah. Dengan ini saya nyatakan Bu Runtah lulus dengan pujian.” 

Semua bertepuk tangan. Wajah Bu Runtah bingar. Istri Lurah Tanggir itu tertawa dan terharu sehingga air matanya berjatuhan. Namun kebanggaan yang dirasakan oleh 
Bu Runtah tidak akan menyamai kebanggaan di hati Sanis. Hati remaja itu mekar. Kejadian di pagi itu takkan terlupakan. Oh, apalagi Bu Camat masuk ke belakang dan keluar lagi bersama Bambang Sumbodo. Pemuda itu membawa perkakas potret. Bagaimanapun Sanis berusaha menahan, toh hatinya berdebar keras. 

“Nah, itu pengantin laki-lakinya!” terdengar suara dari belakang. Bambang hanya mengangkat pundak. Ia bersiap memotret Sanis yang duduk tegang dan menangis. Bu Runtah cepat maju dan menghapus air mata itu. Sanis merinding ketika melihat bulu-bulu tangan Bambang yang sedang mengatur letak untaian melati di dadanya. 

“Ayo, jangan murung. Tarik dagumu dan luruskan punggung,” Bu Camat memberi perintah. 

“Kalau cemberut begitu dia malah cantik, lho,” ujar istri Lurah Wadasan. Sanis tersenyum sedikit mendengar seloroh itu. Detik yang bagus bagi Bambang untuk memijit tombol 
tustelnya. 

Pertemuan itu usai menjelang tengah hari. Para istri lurah dan ibu-ibu yang lain bubar. Sanis membersihkan diri di kamar mandi kemudian berpakaian biasa kembali. Dan Bu Runtah tetap ingat pesan suaminya. Itulah, maka ia tidak buru-buru minta diri kepada Bu Camat. Bersama nyonya rumah, Sanis, dan Bambang, Bu Runtah duduk-duduk di ruang tamu. Dengan alasan ingin melihat kebun anggrek, Bu Runtah minta diantar oleh nyonya rumah ke pekarangan samping. Di ruang tamu tinggal Sanis berdua dengan Bambang. Putra Pak Camat itu hampir menamatkan pendidikannya di APDN. Ia sudah dewasa dan sama sekali tidak canggung menghadapi Sanis yang sejak tadi selalu 
diam dan menunduk. Tentu saja Bambang ingin berbicara dengan gadis di hadapannya. Tetapi ia tidak mempunyai kata-kata untuk mengawali sebuah percakapan. Maka 
Bambang hanya memperhatikan Sanis: alisnya, bibirnya, dan betisnya. Pada saatnya nanti, Sanis akan menjadi gadis yang sangat menawan, kata Bambang dalam hati. Kalau benar gadis kecil ini menjadi kesayangan Pambudi, pemuda itu sungguh beruntung. Tetapi Bambang juga merasa masygul, gadis semuda itu sudah ditaksir orang. “Oh, itu 
bukan urusanku.”

Sesungguhnya Bambang tidak mengenal Pambudi secara pribadi. Ia hanya menaruh hormat kepada pemuda Tanggir itu sejak berita Mbok Ralem mengisi Harian Kalawarta. 
Bambang tahu betul peran Pambudi dalam usaha menolong Mbok Ralem dari ancaman penyakit kanker. Walaupun kedudukan Bambang sebagai putra Camat bisa membuatnya dihormati oleh sesama pemuda yang sebaya, nyatanya ia merasa kecil bila berhadapan dengan pribadi Pambudi. 

Benar, Sanis tidak berani berbicara, bahkan mengangkat wajahnya ke arah Bambang pun tidak. Namun hatinya berbicara macam-macam. Pemuda ini gagah, lebih gagah 
daripada Pambudi. Keluarganya kaya dan terpandang. Sekolahnya lebih tinggi, dan banyak lagi kelebihannya. Pantas Jirah tergila-gila. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu. 

Sanis tidak berani meneruskan lamunannya. Ia teringat anak siapa dirinya. Anak seorang modin di Tanggir, tidak lebih. Maka gadis itu bangkit, dan berjalan tergesa-gesa menyusul Bu Runtah ke kebun anggrek. Bambang tersenyum melihat kelakuan Sanis. Sekali lagi ia berkata dalam hati, “Gadis Tanggir ini memang cantik, bahkan lebih cantik daripada Endah Priastuti. Tetapi Endah bukan lagi 
anak-anak. Endah sudah pandai bergelayutan di pundakku.” 




                             *****




 Bagaimana?” tanya Pak Dirga segera setelah melihat istrinya pulang. 

“Wah, Pak, aku lulus dengan pujian. Pokoknya Bu Camat puas, sangat puas.” 

“Syukurlah. Dan yang itu?” 

“Apa? Oh, ya, Bambang Sumbodo, bukan?” 

“Ya. Menurut penglihatanmu, benarkah Bambang menaruh minat kepada Sanis?” 

“Wah, aku tidak begitu yakin, Pak. Yang jelas Sanis tidak mau duduk berdua terlalu lama dengan Bambang, padahal aku telah memberi kesempatan yang bagus bagi mereka. Tapi, 
Pak, Bambang-lah yang memotret Sanis setelah ia siap dengan riasnya. Ini gambarnya, cantik, ya? Cantik, ya, Pak? Cantik sekali, bukan?” 

Mata istri Lurah Tanggir itu sangat saksama memperhatikan perubahan garis pada wajah suaminya. Tetapi Pak Dirga adalah laki-laki dengan sepikul pengalaman. Ia tahu ke mana arah pertanyaan istrinya. Maka dengan keahlian seorang bajul ia berkata, “Suami gadis ini nanti tentu seorang laki-laki yang mujur. Bambang Sumbodo bisa menjadi pasangannya yang cocok!” 

Pak Dirga sengaja memberi tekanan yang nyata pada kata “Bambang”, supaya rasa was-was di hati istrinya lenyap. Padahal batin Lurah Tanggir itu berkata, “Kalau kamu sendiri berkata bahwa Sanis cantik, mestikah aku berkata sebaliknya? Dengar kata Eyang Wira tentang pisang apupus cinde. Sanis adalah pisang apupus cinde itu, dan aku adalah lurah di Desa Tanggir ini.” 

Tidak disenangi oleh seorang lurah memang bukan berarti malapetaka yang mematikan, tetapi sangat mengganggu ketenteraman hati seorang petani sederhana seperti ayah 
Pambudi. Orang tua itu merasa, Lurah membencinya. Bila ada pertemuan di Balai Desa, Lurah selalu membuang muka dengan cara yang amat mencolok. Tetapi itu belum 
seberapa. Beberapa hari yang lalu ayah Pambudi pergi ke Balai Desa. Ia hendak meminta surat-surat yang diperlukan untuk mengajukan permohonan kredit bimas. Orang tua itu dibiarkan menunggu lama sekali, sedangkan Pak Dirga enak-enak saja merokok bersama Poyo. Ketika akhirnya Lurah mau melayani ayah Pambudi, ia berkata dengan nada yang amat menyakitkan, “Kenapa sampean minta surat keterangan kepadaku, dan bukan ke Redaksi harian Kalawarta di Yogya?” 




Episode 20 
Di Kaki Bukit Cibalak 




Sikap dan perlakuan semacam itulah yang selalu diterima oleh ayah Pambudi dari lurahnya sendiri. Bahkan ayah Pambudi pun tahu ia sedang dikucilkan dari sesama warga 
Tanggir. Demikian, maka orang tua itu mulai merenungkan masalah yang menyebabkan dirinya mendapat perlakuan demikian. Tentu semuanya bermula dari perbedaan pendapat 
antara Lurah dan anaknya sendiri, Pambudi. Dua pribadi itu terlalu berbeda, sehingga kerja sama di antara keduanya tidak mungkin terjadi. Kalau di Tanggir harus ada Pak Dirga, Pambudi harus lenyap atau sebaliknya. Melihat kenyataan yang ada, Pambudi-lah yang harus
mengalah. Itu hasil renungan ayah Pambudi sendiri. 

Apa yang dirasakan oleh ayahnya, dapat dimengerti oleh Pambudi. Maka ia tidak terkejut ketika suatu malam ia diajak oleh ayahnya berbicara tentang keruwetan itu.

“Anakku, bagaimana juga kita harus menyadari diri kita yang kecil. Ayah sudah tua. Apa yang paling kuharapkan sekarang adalah ketenteraman lahir dan batin. Pasti kau sudah tahu ke mana tujuan pembicaraan ini. Ayah merasa amat prihatin karena Lurah menganggapmu sebagai orang yang tidak disukai di desa ini. Bahkan karena aku adalah 
ayahmu, Lurah juga menjadi benci padaku. Turutilah tutur kata para orang tua: Wani ngalah, luhur wekasane. Berani mengalah, menjadikan kita luhur pada akhirnya.” 

Pambudi diam, merenungkan kata-kata ayahnya. Ada benarnya, tetapi mengapa aku harus mengalah? pikirnya. Betulkah dalam hal ini harus ada pemenang sehingga harus ada pula yang kalah? Sungguh aku bisa mengerti mengapa Pak Dirga tidak menyukaiku dan kemudian juga membenci ayahku. Urusan dialah! Pokoknya aku bertindak atas keyakinan sendiri, keyakinan dengan dasar yang kuat: 
kebenaran. Memang aku tidak mampu memaksakan agar kebenaran selalu menang. Namun dengan sengaja tunduk kepada kepalsuan sungguh memalukan. Melihat Pambudi terus diam ayahnya kembali berbicara. 

“Ayah tahu, anakku, kau tidak punya salah sedikit pun kepada Lurah atau siapa pun di Balai Desa itu. Sayang, keadaan sudah sangat tidak menguntungkan dirimu sendiri. Ingat, anakku, ini Desa Tanggir. Orang-orang di sini 
percaya bahwa seseorang tidak mungkin menjadi lurah kalau ia tidak dijatuhi wahyu cakraningrat. Keyakinan itu diperkuat oleh kenyataan kenapa Pak Dirga yang terpilih 
tahun yang lalu, bukan Pak Badi yang terkenal memiliki keluhuran budi. Jadi dengan keyakinan semacam itu para penduduk akan tetap menjunjung tinggi lurahnya, meskipun 
lurahnya itu selalu bertindak menurut kemauannya sendiri dan merugikan penduduk.” 

Jadi Ayah mengharapkan saya berbuat apa sekarang?” kata Pambudi. 

“Dengar, Nak, sudah lama Ayah merenungkan masalah ini. Ayah ingin kau menyingkir dari desa ini untuk kepentinganmu sendiri serta atas keputusan dan Pertimbanganmu. Bukan lari sebagai orang yang dikalahkan. Dengan demikian sekaligus kau menolong Ayah, sebab Lurah tidak akan membenciku lagi. Sungguh, anakku, aku merasa bukan hanya Lurah yang merasa tidak senang padaku. Lama-lama aku merasa terasing di desaku sendiri. Pikirkanlah!” 

“Kalau begitu aku harus menentukan motivasi baru dalam hidupku ini,” bisik Pambudi pada hatinya sendiri. “Apa dan bagaimana motivasi yang baru itu, itulah masalahnya.

Ayam-ayamku telah memberi enam puluh butir telur setiap hari. Aku memiliki pengetahuan dasar yang lumayan untuk berusaha sebagai petani yang maju. Jadi aku sama sekali tidak berkecil hati terhadap masa depanku sendiri. Dan rasanya, Bukit Cibalak dengan segala kehidupan yang mengelilinginya sudah menjadi sebagian dari hidupku. Bahkan di Tanggir ini hidupku diperenak dengan bumbu kecintaan terhadap – ya – Sanis! Tetapi aku harus 
berpikir lebih jauh. Nyatanya keadaan sekarang sangat mengganggu ketenteraman hidup ayahku, dan aku sungguh-sungguh maklum.” 

“Bagaimana, anakku, mengapa kau diam?” 

“Ya, Ayah, aku tahu perasaan Ayah.” 

“Aku juga tahu perasaaanmu, Nak, Namun jangan bingung. Kamu masih muda. Tidak akan terlambat bila kau hendak menempuh jalan hidup baru, apalagi bila kau yakin bahwa 
dengan cara itu mungkin keadaanmu akan jadi lebih baik.” 

“Tegasnya, Ayah ingin agar aku berangkat dari Tanggir dan kemudian mencari kehidupan di tempat lain, bukan?” 

“Ya!” 

“Apakah Ayah juga tahu bahwa tidak gampang mencari pekerjaan sekarang?” 

“Memang Ayah sering mendengar orang bicara tentang sulitnya mencari lapangan kerja. Tetapi Ayah berdoa untukmu, semoga Tuhan memberimu jalan. Dan usaha yang sedang kaulakukan di rumah ini bisa kaupercayakan pada Ayah. Percayalah, Ayah dapat mengurus ayam-ayammu itu.” 

“Baik, Ayah. Tetapi berilah aku kesempatan berpikir dulu barang beberapa hari. Tentu Ayah maklum, apa yang hendak kuputuskan bukanlah perkara sepele. Aku harus mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh.” 

Sebelum matanya terpejam, Pambudi mengumbar angan-angannya. Sulit baginya untuk menentukan ke mana ia harus mencari tempat yang baru, tempat ia dapat 
mengembangkan motivasi hidupnya yang baru. Ia tidak mempunyai saudara yang tinggal di kota atau di mana saja yang kiranya patut ia tuju. Ada seorang pamannya yang tinggal di Sumatra, tetapi Pambudi tidak mau ke sana. Ia 
tidak berani pergi terlalu jauh, mengingat kedua orangtuanya sudah lanjut usia. Kemudian pemuda itu mulai menghitung-hitung teman sekolahnya dulu. Gatot sudah 
menjadi letnan dan tinggal di Pangkalan Udara Halim, namun Pambudi tidak yakin apakah ia masih dapat menemukannya. Engkos menjadi pegawai Kantor Pos di Cirebon, Yadi menjadi pengusaha penggilingan beras, dan Imam menjadi dokter. Tarso masih tinggal bersama 
orangtuanya, kerjanya merokok sepanjang hari. Semua bekas teman sekolahnya itu tidak ada yang menarik Pambudi. 

Nah, kecuali Topo. Ia masih kuliah di Yogya. Dulu Topo menjadi sahabat karib Pambudi, duduk sebangku. Teman membuat contekan dan teman mencuri pepaya yang tumbuh di 
belakang gedung SMA. Anak pensiunan polisi itu layak kutemui, pikir Pambudi. Kalau Topo tidak dapat memberikan pertolongan, paling tidak ia patut kumintai pandangan-pandangannya. 
 




Episode 21 
Di Kaki Bukit Cibalak 




Seminggu kemudian Pambudi sudah berada di Yogya. Setelah betisnya pegal karena keluar-masuk jalan dan gang, ia menemukan tempat pondokan Topo, sebuah kamar berdinding 
bilik di bawah atap emper. Segala perkakas ada dalam kamar itu: kompor, panci-panci, rentangan tali untuk mencantelkan kolor dan handuk, serta tumpukan buku yang menempel ke dinding. Pada ujung dipan satu-satunya ada 
piring dan cangkir seng. Di ujung lain ada kamus tertindih ensiklopedia. Melihat kedatangan Pambudi, Topo tercengang sejenak, lalu, “Hai, maling pepaya, apa yang 
kaucari di sini?” 

“Yah, aku mencari sesama maling. Kudengar dia di sini, hampir menjadi doktorandus!” 

“Dasar kampret kamu. Sudah, sudahlah. Dari mana kau ini?” 

“Dari kampung, sengaja hendak menemuimu di sini. Dulu kau sering membantuku dengan melempar kertas contekan. Semacam itulah yang kuminta dari kau sekarang.” 

Kedua sahabat lama itu terlibat dalam suasana kenangan masa bersekolah. Pambudi duduk di atas satu-satunya kursi, Topo bersila di atas dipan. 

Habis dengan percakapan senda gurau, Pambudi menerangkan dengan sungguh-sungguh maksud kedatangannya. 

“Banyak sekali yang akan saya minta darimu, Kawan, tetapi yang pertama, tampunglah aku di kamarmu yang mewah ini.”

“Soal tidur gampang. Soal makan juga gampang asal kau tidak mengurangi jatahku. Namun yang membuatku tertarik adalah watakmu yang awet. Dulu kau menantang guru civics, yang mendukung adanya presiden seumur hidup, untuk berdebat. Bu Warni kauledek sampai menangis karena 
dandanannya telah mengimbau berahimu. Sekarang apa lagi? Kau menjadi pesona nan tidak disenangi oleh para pamong desa di kampungmu. Heibaaat.” 

“Wah, doktorandus keong kamu ini. Baik kita tunda diskusi penting ini. Tunjukkan aku di mana biasanya kau membuang sisa-sisa makanan dan kencing. Di mana sumur, karena aku mau mandi, lalu tidur.” 

Bilik yang sempit itu kini dijejali lagi dengan sebuah ransel. Penghuni kolong dipan bertambah dengan sebuah jinjingan plastik, sepasang sepatu, dan sepasang sandal jepit. Topo tidak bisa tidur dengan mengangkangkan kaki sekarang. 

Lepas magrib Pambudi keluar, kembali lagi dengan sepuluh kilo beras dan sebungkus abon. Temannya itu tidak merokok, maka ketika Pambudi menawarkan sebatang kretek 
Topo menjawab, “Lebih baik serahkan padaku uang dua ratus perak, aku ingin bakso.” 

Malam itu Topo tidak membuka buku. Ia masih dikuasai nostalgia masa bersekolah di SMA bersama Pambudi. Pembicaraan mereka berkisar pada masalah yang konyol-konyol, seolah-olah kehidupan mereka saat itu merupakan periode yang komikal. Ketika Pambudi berkata bahwa Topo dulu sering menipu penjual dage goreng di belakang 
sekolah, mereka tertawa bersama. “Tetapi kemudian kau yang memasukkan makanan itu ke dalam dompet Astuti, bukan?” Lalu Topo menyambung lagi, “Pam, kau ingat Bu Asrifah, guru bahasa Indonesia itu?” 

“Ya, aku ingat.” 

“Di Yogya ini, bahkan di kota seperti Yogya ini, aku belum pernah melihat seorang perempuan dengan gigi yang gingsul dan secantik Bu Asrifah. Kau percaya?” 

Topo tampak sedih, seperti ia sedang menyayangkan terjadinya sesuatu hal. Tetapi kemudian ia terbahak ketika Pambudi berkata, “Lalu mengapa dulu kau tidak menantang suami Bu Asrifah yang nyinyir dan tua itu
berduel?”

Sampai pukul sepuluh malam mereka masih terus berbincang. Akhirnya mereka sampai kepada hal yang serius. Topo yang mengalihkan pembicaraan itu. 

“Pam, kukira banyak anak muda seperti kita ini yangmempunyai semangat Don Quichote, meskipun tarafnya berbeda-beda. Terkadang kita ingin segera mengenakan baju besi, memanggul tombak, dan lari menantang musuh. Tetapi ingat, hanya Arjuna yang kecil yang dapat mengalahkan Nirwatakawaca yang raksasa. Hanya si kecil Daud yang bisa 
menang atas Goliath. Semuanya cerita lama. Bukti kebenaran kataku itu adalah apa yang telah kaualami sendiri. Aku percaya bulat, kau punya iktikad yang bening di desamu sendiri. Kau menginginkan kemajuan yang sehat, 
kau memikirkan perbaikan dalam kehidupan masyarakat. Kau hendak membawa suara dan nilai-nilai pembaharuan ke tengah kalangan orang-orang yang memiliki pengetahuan dasar tentang pembangunan pun belum. Akibatnya kau sendiri yang jatuh, bukan?” 

“Benar kau, Sahabat. Toh akhirnya aku diam. Di Tanggir aku tidak menentang apa pun atau siapa pun.” 

“Aku percaya. Tetapi Lurah telanjur menganggapmu sebagai si kecil yang terlalu banyak tahu. Pengalaman dengan Mbok Ralem yang kauceritakan tadi siang, membuat lurahmu waspada. Ternyata kau dapat mengangkat masalah di desamu menjadi bahan berita yang tersebar ke mana-mana. Pasti hal itu sangat tidak disenangi oleh lurahmu, bahkan siapa pun yang sekarang merasa punya wewenang di sana.” 

“Namun sebenarnya aku akan tetap bertahan di desaku bila kedua orangtuaku tidak menjadi merana karenanya.” 

“Pokoknya sudahlah, Pam. Semuanya telah terjadi. Bukan memandang ke belakang yang harus kaulakukan sekarang, tetapi ke depan. Inilah saatnya kau mempercayai kata-kata seorang admiral yang sedang menghadapi pemberontakan anak buahnya sendiri, ‘I have not begun to fight yet.’ Kau belum cukup mempunyai modal untuk menantang 
berkelahi kepalsuan dan kemunafikan yang terjadi di desamu.” 

“Hmm, aku baru saja mendengar ucapan seorang calon doktorandus. Teruskanlah, apa yang mesti aku lakukan sekarang?” 

“Masuk kampus! Aku tidak ragu sedikit pun untuk berkata, bahwa apa yang layak kaulakukan sekarang ini adalah bersekolah lagi.”

Pambudi terperangah. Bukan oleh maksud kata-kata Topo, tetapi oleh tekanan dan cara sahabatnya menyampaikan ucapan itu. Begitu tandas dan meyakinkan. Bukan untuk pertama kali pemuda Tanggir itu menerima anjuran 
demikian. Bahkan ia sendiri sering memikirkan kemungkinan itu. Namun apakah aku mampu membiayai sekolahku? pikir Pambudi. Lagi pula aku yakin, banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang pemuda yang hanya berpendidikan menengah. Dan sesungguhnya telah terbukti, aku pun dapat 
hidup meskipun melepaskan keinginan untuk menamatkan pendidikan tinggi.




Bersambung... 

_____________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...