Minggu, 18 April 2021

DI KAKI BUKIT CIBALAK BAB 10

Episode 29 
Di Kaki Bukit Cibalak 




Laki-laki cucuk emas adalah laki-laki yang mempunyai ujung penis emas. Itu arti harfiah. Yang dimaksud oleh istilah yang masih berlaku di Tanggir itu ialah semacam hak yang dimiliki oleh seorang laki-laki untuk menggauli 
perempuan yang mana pun. Para dalang menyebutnya wahyu lanang jagat. 

Dalam sejarahnya seorang lurah adalah laki-laki yang paling perkasa yang menguasai sekelompok orang. Tentulah ia mempunyai kekuasaan mutlak dalam kelompoknya, karena tak seorang pun yang dapat mengalahkannya. Ia mengawini semua perempuan yang ia kehendaki, dan takkan ada yang menentangnya. Gibon, sejenis kera yang hidup di belantara Afrika, atau rusa kutub misalnya, mempunyai pola hidup demikian. Dan itu bukan karena mereka meniru-niru 
kelakuan manusia. 

Seorang penggembala kambing pun tahu hal itu, “Lihat, bandot yang paling kuat dan paling besar tanduknya, mengawini setiap betina yang ia sukai. Tak ada bandot lain yang berani mengajaknya berkelahi. Dan tampaknya setiap betina lebih senang mengandung bayi si perkasa daripada anak bandot yang cacingan.” 




                                ***** 




Atas penelitiannya sendiri Pak Dirga yakin bahwa Bambang tidak mengharapkan Sanis. Ini dia! Memang benar, Lurah Tanggir itu tahu, Sanis sering menerima surat dari Pambudi, tetapi apa artinya bocah ingusan yang sudah 
dienyahkannya itu. Pak Dirga merasa telah mengalahkan Pambudi. Logika yang primitif mengajarkan, milik yang kalah menjadi hak si pemenang. Dan Pak Dirga tidak pernah melupakan kata-kata Eyang Wira. “Dulu, para demang atau lurah berhak memetik pisang apupus cinde.” Sanis tumbuh menjadi gadis yang paling cantik di Tanggir. Ia amat layak mendampingi laki-laki yang paling berkuasa di 
desa ini: aku! Begitu Pak Dirga membenarkan naluri bajulnya. 

Orang Tanggir menyaksikan perkembangan ini. Yang bersembahyang di surau Pak Modin bertambah satu orang, Pak Dirga. Selesai sembahyang Pak Dirga selalu singgah ke 
rumah orangtua Sanis yang memang bersebelahan dengan surau itu. Kepada Pak Modin, Lurah Tanggir sekarang memanggil “Pak”, dan sikapnya penuh dengan tata krama. 
Kalau anak gadis tuan rumah keluar menghidangkan teh dan kue-kue, Pak Dirga berpura-pura bertanya ini dan itu kepada ayahnya. Atau ia mendadak menyalakan rokok. Padahal dengan lirikan sekilas ia menikmati betis dan tengkuk Sanis yang telah mengundang air liurnya. 

Ada seorang kebayan tua yang menjadi anak buah Pak Dirga. Ia merasa umurnya sudah terlalu banyak bagi jabatannya sebagai salah seorang pamong Desa Tanggir. Tetapi tidak 
berarti ia telah bosan dengan sawah bengkok yang iaterima karena jabatannya itu. Kebayan tua itu tahu bagaimana cara agar Lurah tidak segera menghentikannya. Kehendak Lurah harus diturutinya. Sekarang orang tua itu sudah arif benar akan hal yang sedang didambakan oleh Pak Dirga. Maka ketika ia menerima perintah untuk menjumpai Pak Modin, kebayan tua itu langsung maklum. Tugas yang ia terima untuk melamar Sanis bagi Pak Dirga akan ia tunaikan dengan gemilang. 

Begitulah, beberapa saat sebelum penduduk Tanggir meniup lampu-lampu, Kebayan sudah muncul di rumah Sanis. Tata cara melamar seorang gadis sudah dipahaminya benar. 

Selesai mengutarakan maksudnya, Kebayan menyodorkan sebuah bungkusan. Duta Pak Dirga yang membuka bungkusan itu, isinya dibagi menjadi dua bagian. Yang sebagian 
jelas berupa tumpukan uang kontan, lainnya masih terbungkus oleh sebuah saputangan. 

Ayah Sanis memandang sejenak bawaan yang terpajang di atas meja itu. Ia belum menjawab sepatah pun kepada utusan Pak Dirga. Pak Modin tampak agak bingung, apalagi sedari tadi istrinya belum juga muncul kembali dari
dapur. Entah tenaga apa yang mendorongnya, ayah Sanis bangkit menuju kamar tidur anaknya. Di sana Sanis nyenyak, tidak mengetahui bahwa sesuatu yang penting 
sedang terjadi atas dirinya. Rasa haru merasuk ke hati Pak Modin ketika memandang wajah Sanis. Dia berusia lima belas, pantas baginya menerima lamaran seorang laki-laki, pikir Pak Modin. Aku sering mendengar kata orang 
bahwa anakku cantik, tetapi aku tak mau mengatakan apa-apa karena aku ayahnya. 

Ketika ayah Sanis keluar, istrinya sudah duduk menghadapi Kebayan. Perempuan itu termenung ketika suaminya meminta 
pertimbangannya. Namun akhirnya ibu Sanis berkata, “Pak, sebenarnya kita patut merasa senang mendapat penghormatan ini. Tetapi, Pak, kita kan tahu, Nak Pambudi juga 
mengharapkan Sanis. Memang benar dia belum datang melamar Sanis kemari. Atau kita bangunkan saja anakmu itu?” 

Yang ditanya hanya mengertakan keningnya. Pak Modin bukan tidak tahu tentang sikap Pambudi terhadap anaknya. Bahkan ia juga tahu perkataan istrinya itu hanya merupakan pertanda bahwa istrinya merasa keberatan Sanis diperistri oleh Pak Dirga. Alasannya mudah dimengerti. Ibu Sanis tidak menyenangi adat lurahnya yang sering berganti istri. Melihat suasana yang tidak jernih itu, Kebayan menyela. 

“Keliru sekali bila kalian tidak segera menerima lamaran ini. Pikirlah baik-baik. Gadis bodoh mana yang tidak mau menjadi istri seorang lurah? Ingat, anak kalian akan menjadi perempuan yang paling dihormati di desa ini. 
Lurah kita baik, amat baik. Umurnya, yah, kalian tahu sendiri. Walaupun sudah beruban Pak Dirga tidak setua aku, misalnya. Ingat juga akan hal ini. Surau kalian sedang diusulkan agar dipugar dengan biaya dari Pemerintah. Siapa yang akan menolong mendatangkan uang sebesar satu juta rupiah sampai ke tangan kalian kalau bukan lurah kita. Satu juta! Dan lupakan pemuda yang bernama Pambudi itu. Ia telah menghilang entah ke mana. 
Namanya telah cemar. Menurut catatan dalam buku perlumbungan, Pambudi telah melakukan kecurangan. Ia membawa lari uang koperasi sebesar 125.000 rupiah.” 

“Tidak mungkin!” tiba-tiba ibu Sanis berkata ketus.

“Pambudi anak yang baik. Ia tidak mungkin melakukanpekerjaan sehina itu. Ia difitnah. Sekarang dia berada di Yogya.” 

“Bukan saatnya berbicara seperti itu, Bu,” sela ayah Sanis. “Soal Pambudi adalah masalah lain. Kita bicarakan saja apa yang sedang kita hadapi ini.” 




Episode 30 
Di Kaki Bukit Cibalak 




“Betul,” kata Kebayan. “Siapa pun tidak ada yang ingin mencelakakan anaknya. Kalau kalian mengawinkan Sanis dengan lurah kita, kalian telah bertindak sangat bijaksana. Kalian mendudukkan Sanis di atas kursi kemuliaan.” 

“Tidak!” kata ibu Sanis tegas.

“Hus! Aku yang akan memutuskannya. Nah, Pak Kebayan, sampai di sini dulu pembicaraan kita.” 

“Nanti dulu, aku ini bukan anak kecil. Aku utusan seorang lurah. Aku harus mendapat jawaban yang jelas.” 

“Pulanglah, tinggalkan bawaan ini di sini.” 

“Artinya kalian menerima lamaran Pak Dirga! Nah, begini. Uang yang saya bawa ini berjumlah 150.000, untuk kalian berdua. Yang berada dalam bungkusan itu adalah cincin, 
gelang, dan kalung emas untuk Sanis. Masih ada lagi, surat-surat keterangan sebuah sepeda motor atas nama anakmu. Motor itu sekarang masih di toko. Sesudah pernikahan, anakmu akan ke sana kemari dengan motor. 
Nah...! Aku sendiri akan berkaul berguling dari puncak Cibalak bila anak gadisku dilamar oleh seorang lurah. Sayang, semua anakku kudisan di betis. Kalian lebih beruntung!” 

Ibu Sanis sudah tidak lagi mendengar ocehan Kebayan. Ia segera lari ke kamar, menubruk anaknya yang masih terus tidur nyenyak. Ibu Sanis menangis menjadi-jadi. Baginya, apa pun jabatan Pak Dirga, ia tetap seorang laki-laki 
dengan watak bajul buntung. Ibu Sanis sendiri pernah hampir menjadi mangsanya sewaktu muda dulu. “Oh, anakku, kau yang lahir dari perutku sendiri, kau akan menjadi musuh Bu Runtah. Aku sama-sama perempuan seperti dia. Aku bisa merasakan pahitnya orang dimadu. Getir.” 



                               ***** 



Tanggir kembali hangat oleh pergunjingan. Pak Lurah hendak kawin lagi. Sanis akan menjadi madu Bu Runtah. Ada yang mengatakan Sanis memang layak menjadi istri Lurah. Ada juga yang berpendapat, orangtua Sanis tega terhadap Pambudi lantaran emas dan pangkat. Tetapi Jirah tidak peduli apa-apa. Ia hanya berjingkrak, melompat-lompat sehingga lupa roknya tersingkap. “Idiiih! Sanis akan segera merasakan tengiknya ketiak seorang kakek!” 



                            ***** 



Sesungguhnya Bu Runtah sering merasa, suatu saat akan terjadi peristiwa yang sangat menekan batinnya ini. Nalurinya sudah lama memperingatkannya, bahkan dulu sebelum Bu Runtah memutuskan untuk menerima lamaran 
suaminya yang sekarang hendak menjadikan Sanis sebagai istri mudanya. Bu Runtah sadar sepenuhnya bahwa suaminya telah enam kali menikah sebelum mengawininya. Tetapi 
perempuan itu berharap Pak Dirga tidak akan mencari istri yang kedelapan. Dan terbukti sekarang, harapannya kosong belaka. Suka atau tidak suka perempuan itu akan segera 
memperoleh seorang madu, jauh lebih muda dan jauh lebih cantik, seorang gadis yang pernah dijadikannya model hampir satu setengah tahun yang lalu. Sejak terbukti 
bahwa suaminya benar-benar hendak mengawini Sanis, Bu Runtah setiap malam menangis dan menangis. Bukan hanya 
karena hendak dimadu itu saja, tetapi ia pun masih dipersedih pula oleh terjualnya tiga buah gelang, dua buah kalung emas, dan satu hektar sawah. Semua hartanya itu habis untuk membiayai suaminya, hingga menjadi seorang lurah sekarang. 

Perih! Perih yang amat menyakitkan. Hanya itu yang terasa oleh Bu Runtah. Sakit karena dimadu, karena malu, karena hartanya yang harganya berjuta-juta rupiah telah hilang. 
Kenapa aku harus menerima ketidakadilan ini? Kenapa suamiku tidak tahu diri, dari mana ia memperoleh biaya untuk menjadi lurah? Oh, Gusti Pengeran, tepatilah janji-Mu untuk mengabulkan doa umat manusia yang teraniaya! 

Atas anjuran orang-orang tua yang merasa kasihan terhadap dirinya, Bu Runtah hendak melakukan ikhtiar. 

Begitulah, di pedukuhan kecil sana, pada suatu malam pedupaan Eyang Wira kembali mengepul. Selain semua jimat yang biasa dikeluarkan, terlihat sebuah ulek. Benda penggilas sambal itu terbuat dari kayu jeruk, dan sekarang terikat dengan seutas benang hitam. 

Menjelang tengah malam, Bu Runtah dipanggil menghadap Eyang Wira. Kemudian dukun itu menyuruh tamunya pergi ke sumur, mandi keramas. Selama tamunya ke belakang, kakek 
itu berjalan mondar-mandir mengelilingi pedupaannya. Bila asap pedupaannya mengecil, ditaburkannya serbuk kemenyan 
ke dalam tungku. 

Eyang Wira berusia tujuh puluhan. Istrinya meninggal beberapa tahun yang lalu. Yang melayani makan-minum kakek itu adalah anak perempuannya yang bungsu, yang tinggal 
di belakang rumah Eyang Wira. 

Selesai mandi Bu Runtah menyisir rambutnya. Gulungan setagen dimasukkan ke dalam tas tangannya. Sebuah saputangan ikut teranyam dalam sanggulnya, supaya rambut Bu Runtah cepat kering. Kemudian perempuan itu bersimpuh di hadapan Eyang Wira, karena tidak memakai setagen, sebagian kulit perut di bawah kancing kebayanya tampak. Hal ini tampak pula oleh Eyang Wira yang kemudian menjadi gelisah. Tiba-tiba kakek itu mengambil sikap bersemadi. Mulutnya membaca mantra. Kayu penggilas sambal itu diayun-ayunkan di atas atap pedupaan, lalu ditiupi mantra. 

“Aku sudah tahu, pada suatu saat kau akan datang kemari. Banyak istri lurah yang datang padaku dengan membawa masalah yang sama.” 

“Iya, Eyang, saya minta pertolongan.” 

“Kau mau dimadu, bukan?” 

“Ya, Eyang sudah tahu.” 

“He-he, kalau mendengar hendak dimadu, setiap perempuan menjadi ribut. Kenapa?” 

“Entahlah, Eyang, pokoknya saya minta pertolongan.” 

“He-he, aku mengerti. Bila sampai dimadu engkau hanya akan menjadi istri pertama, bukan istri utama. Suamimu hanya datang sebulan sekali bila istri mudanya berkain kotor. Kau tidak pernah lagi pergi ke undangan berdua, sebab suamimu lebih bangga menggandeng istri yang muda. Di rumah istri mudanya suamimu baru tidur menjelang pagi, 
tetapi di atas kasurmu dia sudah mendengkur pada pukul sembilan malam. He-he, dan ini...” – ia mencubit kulit perut perempuan itu – “takkan pernah berisi bayi lagi.” 




Episode 31 
Di Kaki Bukit Cibalak 




“Sudahlah, Eyang, usahakan agar perkawinan mereka batal.” 

“He-he, kau mau memberi upah apa?” 

Eyang Wira mendekatkan muka, dekat sekali, sehingga istri Lurah Tanggir itu dapat mencium bau busuk yang tersebar melalui mulut Kakek Dukun. Bu Runtah meluruskan punggungnya. 

“Eyang minta upah apa?” 

“He-he, wong ayu, upah yang kuminta itu sudah kaubawa. Kembang selasih, yah, hanya kembang selasih!” 

“Oh, Eyang, saya tak membawa kembang selasih. Yang saya bawa ini kembang setaman.” 

“He-he, wong ayu, kau tidak tahu kembang selasih?”

“Tahu, Eyang. Di pasar banyak orang menjual kembang itu. Tetapi yang saya beli kembang setaman.” 

“Bukan. Bukan di pasar. Kau membawa kembang selasih itu sekarang.” 

Eyang Wira tersenyum. Matanya berbinar. Manik-maniknya turun-naik seperti celeret gombel. Bu Runtah bingung jadinya. Ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh kakek 
dukun itu. Dengan gerakan tangan yang lambat, Eyang Wira meletakkan tangannya pada pundak pasiennya. Matanya hampir tertutup ketika laki-laki tua itu bersenandung. 

“Kembang selasih, kembang selasih 
tilikana asih, 
kinumbaha bersih. 
Kembang selasih, kembang selasih 
tilikana asih, 
kinumbaha bersih...” 

“Nah, mengerti, wong ayu? Kalau syarat itu kaupenuhi, hajatmu pasti terkabul.” 

Bu Runtah merasa sangat masygul. Sekarang ia tahu apa yang diminta oleh Eyang Wira. Wah, sembrono. Dalam telinganya masih terngiang, “Kembang selasih, kembang selasih. Tilikana asih, kinumbaha bersih.” Ini pameo percabulan. Dukun tua itu mengajaknya berzina! Bu Runtah 
merasa kepalanya pening. Setelah beberapa saat ia dapat berpikir tenang, lalu menarik napas panjang. Kemudian Bu Runtah termangu-mangu. 

Memang, pikir Bu Runtah. Sudah lama sekali aku dibiarkan tidur sendiri. Bahkan suamiku hendak mengambil seorang istri muda. Suamiku sama sekali tidak setia, ia pengkhianat. Kelakuan suaminya patut mendapat balasan yang setimpal, biar adil! Perzinaan pun jadilah, toh suamiku tidak puas dengan seorang istri. 

Tidak. Pikiran Bu Runtah cepat berubah. Ia menangis dan eling. Suara dari kebeningan hatinya memperingatkan perempuan itu. Bukankah aku telah berjalan jauh ke rumah 
dukun ini untuk suatu tujuan, dan bukan percabulan? Aku sedang berikhtiar agar suamiku kembali padaku. Mengapa aku sendiri mau ikut gila? Belum tentu suamiku telah 
menjamah si Sanis itu. Tidak! 

Bu Runtah mengangkat muka, siap menolak syarat yang diminta oleh Eyang Wira. Ketika itulah pandangan mata Bu Runtah ditangkap oleh sepasang mata cokelat yang seakan berpijar. Makin ditatap mata Eyang Wira makin kuat memancarkan daya magis. Perempuan di hadapan kakek itu terisap kekuatannya, lemas, lemas, dan akhirnya lunglai terkulai. 

Entah berapa lama Bu Runtah terkena sihir. Entah apa yang terjadi pada dirinya ketika ia sama sekali tidak sadar. Namun yang pertama kali teringat kembali olehnya adalah ketika ia dituntun oleh Eyang Wira keluar dari kamar. 
Risi di selangkangannya. 

“Sudah, tak apa-apa, bukan? Kau telah memberikan apa yang kuminta. Percayalah, kau akan memperoleh kembali setiap tetes yang menjadi hakmu. Sekarang lihat, apa ini?” 

“Pisang, Eyang,” suara Bu Runtah kering. Ia menahan tangis. 

“Masih kaku dan kencang. Ambillah. Nah, kupas dan makan isinya.” Bu Runtah patuh. 

“Bagaimana kulit pisang itu sekarang?” tanya kakek itu. 

“Lemas, Eyang.” 

“Ya! Seperti kulit pisang itulah barang suamimu sekarang. Lemas. Maka biarlah dia kawin lagi karena hal itu sudah terlambat untuk dicegah. Kau jangan kecewa sebab madumu akan tetap perawan. Suamimu sudah tidak bisa melepaskan hajat. Barangnya lemas seperti kulit pisang yang baru kaumakan tadi.” 

Ketika melihat Bu Runtah termangu-mangu, Eyang Wira cepat tanggap. Maka ia segera menyambung kata-katanya. 

“He-he, jangan khawatir, barang suamimu tidak akan terus lemas seperti kulit pisang. Dengar, ulek ini kaugantung di tempat yang tersembunyi. Selama benda ini dalam keadaan tergantung suamimu tetap menjadi laki-laki yang loyo. Kau harus menjaga agar suamimu tidak mengetahui benda yang kaugantung itu. Percayalah, bila sudah tumbuh jamur pada ulek itu, suamimu akan menceraikan istrinya. Kau harus cepat-cepat melepas benda yang kaugantung itu bila kau masih menginginkan malam pengantin yang kedua. He-he...” 

Bukan karena benci terhadap Desa Tanggir, Bukit Cibalak, atau orang-orang yang tinggal di wilayah itu. Bukan, meskipun ternyata Pambudi tiga tahun lamanya tidak pulang kampung. Memang, ia pernah beberapa kali menengok 
orangtuanya, tetapi Pambudi tidak pernah tinggal lebih dari dua hari di Tanggir. Waktu liburan pun dihabiskan Pambudi di Yogya. Buku-buku pelajaran dan pekerjaannya hampir menghabiskan seluruh waktunya. Semua sungguh bukan kesia-siaan bagi pemuda Tanggir itu. Harian Kalawarta berkembang, walaupun lambat tetapi mantap. Pegawainya 
dapat menikmati gaji yang layak. Dalam perkembangannya Pambudi menjadi tangan kanan Pak Barkah dalam keluarga Kalawarta. Meskipun begitu Pak Barkah memberikan 
kesempatan yang longgar kepada Pambudi untuk menjadi mahasiswa yang cakap. Pemuda Tanggir itu telah menempuh ujian untuk memperoleh gelar sarjana muda. 




Episode 32 
Di Kaki Bukit Cibalak 




Tulisan-tulisan Pambudi dalam Kalawarta sudah dikenal orang secara luas. Ia mempunyai kegemaran mengetengahkan 
masalah-masalah kemasyarakatan, cara yang khas Pambudi. Bahasanya sederhana, lugas, dan komikal. Orang tidak harus menarik alis kuat-kuat bila membaca tulisan Pambudi, meskipun masalah yang dikemukakannya sensitif, bahkan mungkin mampu memancing suasana panas. Seri tulisannya yang terakhir diberi judul “Kemajuan di Pedesaan Perlu Arah yang Lebih Jelas”, mendapat sambutan yang luas. Hal ini terbukti dari banyaknya surat yang 
diterima oleh Redaksi Kalawarta dari para pembaca. Tetapi tentu saja tidak semua orang menyukai pemikiran Pambudi, setidak-tidaknya Camat Kalijambe. Kepala wilayah tersebut merasa tidak enak, sebab Pambudi menjadikan wilayah Kalijambe sebagai objek penelitian untuk seri tulisannya. Andaikata Pambudi hanya mengemukakan segi-segi yang baik, pasti ia malah mendapat hadiah dari Pak 
Camat. Soalnya Pambudi menulis dengan berpegang pada asas pokok jurnalisme, objektivitas. 

“Saya merasa tersinggung,” kata Pak Camat yang sedang dihadapi oleh anaknya sendiri, Bambang Sumbodo. 

“Seharusnya Pambudi berembuk dulu dengan saya sebelum ia menulis tentang daerah ini. Dengan demikian ia tidak melangkahi tata krama. Lagi pula ia dapat memperoleh data 
resmi yang ada pada saya. Sungguh saya tidak mengerti mengapa tulisan-tulisan Pambudi begitu kritis, bahkan sinis. Apakah karena ia merasa terbuang dari desanya sendiri? Jangan-jangan karena Lurah Tanggir mengawini kesukaannya, apa pun yang ada di daerah ini tampak buruk di matanya.”

Bambang Sumbodo yang semenjak tadi menekuni tulisan Pambudi dalam Kalawarta, menghentikan bacaannya. Kemudian ia menanggapi ucapan ayahnya. 

“Saya kira, urusan antara Sanis, Pambudi, dan Lurah Tanggir adalah perkara kebetulan. Selebihnya saya berpendapat, bagaimanapun tulisan dan pikiran Pambudi patut diperhatikan. Dia memandang kemajuan-kemajuan yang 
dicapai oleh daerah ini menurut pandangannya sendiri. Ibarat terhadap sebuah piring, kita selalu memandang bidangnya yang cekung. Kita hampir tidak pernah melihat bagian bidangnya yang cembung. Pambudi mengajak kita melihat kemajuan di sini dari segi yang lain. 

Misalnya tulisan Pambudi yang satu ini. Dia berpendapat, hendaknya kita jangan menafsirkan secara tergesa-gesa seolah-olah banyaknya barang konsumsi mahal yang sudah dipunyai oleh orang desa membuktikan desa itu sudah maju. Banyaknya sepeda motor, mobil, TV, atau lainnya bukan menjadi pertanda mutlak adanya kemajuan di desa tersebut. 
Banyak orang bisa memiliki barang-barang mahal, sebetulnya mereka telah menjual barang modal: sawah, kerbau, atau pohon kelapa. Banyak orang desa yang dapat membangun rumah gedung, tetapi sawahnya bertambah sempit, bahkan habis sama sekali. 

Ayah, bukankah tulisan Pambudi itu berdasarkan hal yang nyata? Dan bagaimana tanggapan Ayah atas tulisan Pambudi yang satunya ini: Kita telah lengah membiarkan para
pedagang menempa masyarakat yang bodoh menjadi konsumen yang patuh, bahkan fanatik. Contoh yang faktual adalah perbuatan seorang tani miskin yang merasa sangat bangga 
karena bisa membeli obat semprot nyamuk otomatis seharga seribu rupiah, sementara anak-istrinya makan nasi oyek. Hal demikian bisa terjadi karena iklan-iklan terus-menerus dilemparkan dengan gencar ke tengah-tengah
masyarakat yang masih terbelakang.” 

“Wah, kita harus berhati-hati menilai tulisan seseorang. Apalagi kau seorang mantri polisi yang baru mendapat beslit. Sampai sejauh itu kita bisa menganggap Pambudi sedang menghafal teori-teori ilmu ekonomi. Tak mengapa walaupun tulisannya itu berbau teori pertentangan kelas. Cobalah baca tulisan Pambudi yang menyangkut desanya sendiri, Tanggir. Kau akan menemukan tendensi yang jelek padanya.” 

Pak Camat menyerahkan sehelai Kalawarta yang terbit sehari sebelumnya kepada Bambang. Anaknya menerima lembaran koran itu. Mantri polisi yang masih baru itu 
membetulkan letak kacamatanya, lalu mulai, “Kehidupan kekoperasian di negeri ini dilandasi oleh suatu norma yang tidak tanggung-tanggung: undang-undang dasar negara, ditambah dengan seperangkat peraturan resmi lainnya. Tetapi kepercayaan penduduk Tanggir terhadap lembaga koperasi dirusak. Yang namanya koperasi di desa itu lebih tepat dinamakan badan usaha simpan-
paksa-pinjam-sulit, dengan bunga pinjaman yang sangat tinggi. Keuntungannya memang besar karena koperasi itu telah meninggalkan asasnya yang utama: pelayanan sosial 
kepada seluruh anggota, bukan keuntungan semata-mata. Orang yang telah cukup berada malah gampang mendapat pinjaman dari lumbung koperasi. Orang semacam ini pasti 
akan mampu mengembalikan pinjaman itu dengan bunganya. Tetapi para anggota yang miskin, walaupun mereka juga membayar andil, sulit mendapat pinjaman. Adalah nyata 
bahwa banyak peminjam yang tidak mengembalikan pinjamannya. Namun dalam hal ini harus ada penelitian apakah peminjam itu beriktikad buruk atau karena benar-benar tidak mampu membayar kembali pinjamannya, dan inilah yang sebenarnya banyak terjadi. Kalau pengurus koperasi dapat mengambil sikap khusus terhadap para peminjam yang kaya, kenapa tidak juga kepada yang miskin, 
yang seharusnya lebih banyak diperhatikan. Jadilah lumbung koperasi di Tanggir suatu badan dagang murni yang telah dikuasai oleh pengurusnya secara mutlak. Pengurusnya sama sekali menutup mata, bahwa modal 
koperasi itu berasal dari para penduduk Tanggir, yang kaya dan yang melarat. Tentu, orang tidak percaya bahwa biaya pelantikan Kepala Desa Tanggir beberapa tahun yang 
lalu berasal dari uang milik koperasi yang 
diselewengkan...” 

“Stop. Berhenti dulu, Bambang,” sela Pak Camat. 

“Tinggal sedikit lagi, Ayah, kita teruskan dulu. 
Memang tidak gampang menemukan seorang lurah yang bersih. Sulit juga mencari seorang lurah yang mampu mengimbangi gagasan-gagasan pembaruan yang dicanangkan oleh orang-orang pandai di pusat. Lurah Tanggir bukan hanya tidak bersih dan tidak mampu, malah keadaan dirinya menjadi penghalang bagi terlaksananya gagasan-gagasan pembaruan dan pembangunan. Pembangunan SD baru di Tanggir misalnya, dapat kita pakai 
sebagai alat peneliti siapa dan bagaimana penguasa di desa itu. Biaya pembangunan sebesar 4,35 juta, ditulis pada papan besar di halaman. Tetapi orang yang tidak terlalu pintar bisa mengatakan bahwa nilai bangunan itu 
tidak akan lebih dari dua juta. Orang yang tidak terlalu pintar juga dapat memaklumi mengapa Lurah Tanggir begitu royal dengan bekas istri mudanya...”





Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...