Episode 10
Di Kaki Bukit Cibalak
Tiba di Tanggir, Pambudi menemukan kedua anak Mbok Ralem tinggal bersama bibi mereka. Dua minggu ditinggal oleh emaknya, kedua anak itu semakin layu. Pipi mereka tembem dan amat pucat. Pelupuk mata bengkak seperti mengandung air. Melihat Pambudi datang, si Bungsu menangis perlahan. Anak selemah itu pasti tidak bisa menangis keras-keras. Dia dan kakaknya tidak tahu apa-apa tentang emak mereka. Mereka hanya tahu, karena Pambudi-lah emak mereka sekarang lenyap. Dan dua pasang mata itu. Apakah di dunia ini ada sesuatu yang lebih jujur, lebih kuat untuk menampilkan perasaan manusiawi selain sepasang mata? Dengan bola mata yang pucat beku kedua anak Mbok Ralem memandang Pambudi. Pandangan dua pasang mata yang
sedang menagih janji kemanusiaan. Pandangan dua pasang mata yang tidak lagi mampu menyatakan penderitaan, karena
penderitaan sudah merupakan warna hidup bagi mereka.
Dari saku celananya Pambudi mengambil uang receh. “Belilah beberapa bungkus meniran,” katanya kepada anak Mbok Ralem yang besar. Anak itu berangkat sambil menggendong adiknya. Pambudi tidak ingin batinnya
terguncang oleh pemandangan di depannya. Karena itu ia cepat-cepat berbalik pulang.
Hari Jumat, Pambudi masih berada di Tanggir. Siang itu ia mengenakan kain sarung baru. Kopiahnya disikat licin hingga tak sebutir debu pun melekat padanya. Ia hendak
bersembahyang Jumat di surau ayah Sanis. Andaikata pahalanya nanti dikurangi, Pambudi rela. Sebab ia bukan hanya hendak beribadat semata, tetapi ia juga sengaja hendak melihat Sanis. Apa boleh buat! Dan Pambudi benar-
benar melaksanakan kehendaknya.
Selesai bersembahyang Pambudi tidak segera pulang.Untung banyak orang merubungnya dan bertanya macam-macam tentang Mbok Ralem. Dengan demikian maksudnya untuk lebih
lama duduk-duduk di surau itu terselubungi. Walaupun mulutnya menjawab pertanyaan-pertanyaan, tapi matanya diam-diam memperhatikan Sanis yang sedang menjemur irisan ubi gadung. Kepada orang-orang yang mengelilinginya, Pambudi menunjukkan sehelai harian Kalawarta. Hanya dua orang yang tahu aksara tetapi mereka semua kagum. Mereka melihat foto Mbok Ralem dalam koran itu. Luar biasa, Mbok Ralem masuk koran, pikir mereka.
Satu per satu jemaah surau itu bangkit dan pulang. Hanya Pambudi yang masih tinggal. Ia sedang terpesona. Apalagi pandangan Pambudi dibalas dengan senyuman oleh Sanis. Yang tersenyum malu-malu itu seorang gadis kecil, tidak lebih. Boleh jadi Sanis tidak memberi arti apa-apa pada senyumannya itu, tapi oleh Pambudi telah diterima selain
dengan matanya, juga dengan hatinya, bahkan dengandenyut jantungnya. Pemuda itu hampir saja mengumpat dirinya, tapi tidak. Bukankah semua gadis di Tanggir ini menjadi dewasa begitu haidnya yang pertama hadir? pikir
Pambudi membela pikirannya yang mulai munafik. Beberapa orang teman Sanis sudah bersuami. Tak lama lagi mereka akan menggendong anak mereka masing-masing, bukan lagi adiknya.
“Mampir, Kak,” kata Sanis yang terdengar bagaikan suara getaran dawai di telinga Pambudi.
“Terima kasih. Lain kali sajalah, siang ini aku harus kembali ke Yogya.”
Asem! kata Pambudi dalam hati. Mengapa aku tidak mau mampir? Pikiran tolol mana yang telah mendikteku berkata demikian?
“Oh, ya. Kau sedang menunggu Mbok Ralem di rumah sakit, bukan? Semua orang membicarakan hal itu. Kau hebat, Kak.”
“Tidak ada yang hebat. Mbok Ralem atau siapa saja pantas mendapat pertolongan bila mendapat kesulitan. Kebetulan yang turun tangan mengantarkan Mbok Ralem ke rumah sakit adalah aku. Apanya yang luar biasa?”
Gadis itu terdiam. Ia tak dapat mengikuti jalan pikiran Pambudi, karena otaknya masih terlampau muda. Sanis hanya bisa merasakan kelebihan Pambudi karena hampir semua
orang di Tanggir membicarakannya. Itu saja. Ketika Sanis mengangkat muka, pipinya menjadi merah. Ia menjadi salah tingkah. Sesungguhnya Sanis tersenyum ketika Pambudi berpamitan, tetapi seonggok irisan ubi gadung tumpah ke tanah.
***
Harian Kalawarta bertambah laris, paling tidak dalam lingkungan rumah-rumah sakit di Yogya, terutama di rumah sakit yang merawat Mbok Ralem. Dari direktur sampai para dokter, para perawat, dan para pegawai lainnya, semuanya
membaca Kalawarta. Sementara itu Mbok Ralem sendiri tidak tahu bahwa dirinya sedang menjadi bahan berita yang hangat. Yang diketahuinya hanyalah bahwa para perawat
sungguh-sungguh memperhatikan segala keperluannya,bahkan hampir memanjakannya. Bayangkan, seorang seperti Mbok Ralem dimandikan oleh perawat yang cantik-cantik,
memakai sabun entah apa namanya yang wanginya belum pernah masuk ke hidung perempuan dusun itu. Wah, handuk itu putih, lebih putih dari ampas kelapa. Mbok Ralem
merasa seolah-olah sedang bermimpi. Ia menurut, kecuali ketika ia disuruh memakai sandal. Ia tidak bisa berjalan dengan alas kaki, betapapun mahalnya sandal yang
dihadiahkan oleh Ibu Kepala Rumah Sakit.
Waktu baru masuk Mbok Ralem ditempatkan di sal kelas tiga. Sesudah Kalawarta memuat beritanya, ia dipindahkan ke sal kelas dua. Dan beberapa hari kemudian Mbok Ralem pindah lagi ke kelas utama karena seorang pejabat Kantor Sosial akan menjenguknya. Di sal yang paling mahal itu Mbok Ralem hampir menolak menyentuh kasur yang disediakan baginya. Seorang perawat membujuknya agar Mbok Ralem mau tidur di atas kasur itu. Sebelum naik perempuan ituberbisik kepada seorang perawat yang terdekat, “Mas Ajeng, saya belum mandi keramas hari ini. Apakah bantal dan seprai itu tidak akan kotor nanti?”
Pakaian yang dipakai Mbok Ralem sudah berganti semua. Kain dan kebaya lusuh yang dibawanya dari Tanggir sudah disingkirkan oleh para perawat. Caranya, setiap kali
Mbok Ralem hendak berpakaian ia diberi kain dan baju baru. Sebenarnya perempuan itu enggan memakai pakaian lain selain miliknya. Tetapi para perawat banyak akal. Pasien itu selalu ditipu. “Semua pakaian yang baru ini
dibelikan oleh Pambudi untukmu. Kau harus mau memakainya. Dengar, nanti sore ada priyayi yang mau menjengukmu. Kau harus berpakaian yang baik.”
Episode 11
Di Kaki Bukit Cibalak
Keadaan tubuh perempuan Tanggir itu cepat berubah, bersih dan gemuk. Ransumnya bergizi baik dan selalu dimakannya habis. Hanya sekali waktu Mbok Ralem termenung menghadapi hidangannya. Perawat bertanya mengapa dia berlaku demikian. Yang ditanya membisu. Ketika didesak, dari mulutnya terdengar suara memelas, “Mas Ajeng, saya
teringat pada kedua orang anak saya. Di sini saya makan serba enak dan serba cukup. Tetapi kedua anak saya, saya yakin, mereka terlantar bersama bibi mereka. Maka kalau
boleh, saya akan membawa pulang makanan-makanan itu untuk anak-anak saya.”
Perawat itu menggigit bibir karena hatinya tersapu rasa iba. Walaupun masih seorang gadis, nalurinya sebagai calon seorang ibu berdenyut keras. Ia tidak merasa malu
menangis di depan Mbok Ralem. Tidak, ia tidak malu.Mengapa harus malu kalau ia hanya menuruti kejujuran perasaannya. Namun ia harus berkata kepada pasiennya itu bahwa paru goreng, gulai telur, dan buah apel itu
tidak tahan lama. Padahal masih sepuluh hari lagi Mbok Ralem tinggal di rumah sakit.
Pada hari ke-36 Mbok Ralem diizinkan pulang. Bukan main senang hatinya. Pambudi membawakan kantong-kantong plastik, bungkusan-bungkusan, dan sebuah dos besar. Semua milik Mbok Ralem, berisi macam-macam hadiah. Tetapi Mbok Ralem keluar dengan pakaian aslinya, tidak bersandal.
Betapapun, ia merasa lebih leluasa dengan keasliannya.
Dari rumah sakit Mbok Ralem berdua dengan Pambudi naik becak menuju ke kantor Redaksi Kalawarta. Ketika becak itu berhenti, Mbok Ralem terheran-heran. Ini bukan terminal bus, pikirnya. Ia bertambah bingung karena
beberapa orang keluar menyambut mereka di depan pintu. Hanya seorang yang sudah pernah dilihat oleh Mbok Ralem, yaitu laki-laki yang berkacamata tebal. Memang Pak Barkah
pernah menengoknya berdua dengan Pambudi.
Seluruh anak buah Pak Barkah berkumpul memenuhi ruangan tamu yang sempit. Pemimpin Kalawarta itu mengambil tempat
sedemikian rupa, sehingga Mbok Ralem diapit oleh dirinya dan Pambudi. Pemuda dari Tanggir itu yang memulai percakapan.
“Mbok, ini adalah Pak Barkah beserta anak buahnya. Bapak ini telah berbuat banyak sekali untuk membantumu. Biaya perawatanmu bisa terkumpul berkat bantuan bapak kita ini.”
Perempuan itu terbelalak. Dengan kemampuan pikirannya ia mencoba mengerti apa yang baru saja dikatakan Pambudi. Kemudian ditatapnya yang hadir satu per satu. Seperti orang yang bingung ia bertanya, “Bapak ini yang telah
membantuku? Nak Pambudi, aku tak mengerti maksudmu. Berarti aku berutang kepada beliau?”
“Oh, tidak begitu, Mbok,” ujar Pak Barkah sambil tertawa.
“Saya hanya membantu Pambudi mengumpulkan uang dari para dermawan. Uang yang terkumpul cukup untuk membayar ongkos perawatan Anda, bahkan lebih. Nah, inilah sisa uang itu. Ambillah.”
Seumur hidupnya Mbok Ralem belum pernah melihat tumpukan uang sebanyak yang disodorkan oleh Pak Barkah ketika itu.
Ia menggigil karena bingung, karena tidak mengerti,Pambudi juga bingung bagaimana harus menerangkannya kepada Mbok Ralem. Perempuan itu takkan bisa memahami apa itu iklan, atau apa yang disebut dompet sumbangan. Akhirnya Pak Barkah yang menerangkan kepada perempuan itu bahwa uang yang terkumpul berasal dari orang-orang
yang merasa kasihan kepada Mbok Ralem.
“Jadi begitulah, Anda tidak berutang kepada siapa pun. Ambillah uang sisa itu. Oh, nanti dulu, saya lupa! Ada sebuah surat yang saya terima kemarin. Hanya Mbok Ralem yang berhak membukanya.”
Pak Barkah bangkit dan berjalan ke mejanya. Dari dalam laci ia mengeluarkan sebuah amplop yang masih tertutup rapat. Benda itu kemudian diserahkannya kepada Mbok Ralem. Perempuan itu menoleh kepada Pambudi dan
menyerahkan amplop yang baru saja diterimanya. Mata semua yang hadir tertuju kepada Pambudi yang sedang membuka
sampul itu. Isinya lima lembar puluhan ribu, honorarium dua orang dokter yang menangani operasi kanker di leher Mbok Ralem. Rupanya kedua orang dokter itu merasa sulit untuk menerima bayaran dari seorang janda miskin dari Desa Tanggir.
Tumpukan uang di hadapan Mbok Ralem bertambah tinggi. Kalau dihitung uang itu berjumlah satu juta lebih. “Itu uangmu, Mbok, ambillah,” desak Pambudi karena melihat
Mbok Ralem tetap mematung.
Hening sebentar. Kemudian dari ruang tamu kantor Redaksi Kalawarta itu terdengar isakan. Makin lama makin keras dan memelas. Mbok Ralem memeluk Pambudi tanpa rasa rikuh
sedikit pun.
“Oalah, Gusti, apa yang sedang kualami ini? Oalah, Pengeran, apa yang sedang terjadi dalam hidupku ini? Sakitku telah sembuh. Itu sudah cukup, cukup. Aku datang dari jauh ke kota ini untuk berobat, bukan untuk menerima
uang sebanyak itu. Bapak, serahkan saja uang itu kepada bocah bagus ini. Ia telah mengeluarkan uang banyak sekali karena harus membawa saya kemari. Sekarang hanya
satu keinginan saya. Cepat antarkanlah saya pulang. Anak-anak saya pasti setiap hari menunggu saya. Anakku, oalah, anakku, kalian pasti ingin makan...”
Dua orang anak buah Pak Barkah tertunduk. Yang seorang mengeluarkan saputangan. Seorang lagi cepat-cepat memasang kacamata. Pak Barkah sendiri batuk karena
tenggorokannya mampat. Tak lama kemudian tangis Mbok Ralem mereda. Sesungguhnya Pak Barkah yakin, pada akhirnya nanti Mbok Ralem akan bersedia menerima uang itu. Penolakannya sekarang hanya bersifat emosional belaka. Tetapi laki-laki itu tidak lagi meminta Mbok Ralem segera menyimpan uangnya. Ia hanya memberi isyarat
kepada Pambudi.
“Baik, Mbok, uang ini kusimpan dulu. Bila kita sudah sampai di rumah uang ini akan kuserahkan kepadamu. Kau harus menerima uluran tangan para dermawan, dosa kalau
menolaknya. Dan dengan uang ini kau akan dapat membeli padi. Kedua anakmu akan kenyang setiap hari. Sekarang kita berpamitan kepada Pak Barkah dan yang lainnya. Kita
pulang.”
Mendengar ajakan pulang Mbok Ralem cepat-cepat bangkit. Ketika berjabatan tangan dengan Pak Barkah ia membungkuk dalam-dalam. Bibirnya gemetar karena tak sepatah kata pun berhasil diucapkannya. Tetapi air mata keluar melalui hidungnya.
Episode 12
Di Kaki Bukit Cibalak
“Selamat jalan, Mbok, Pambudi, aku berterima kasih kepada kalian. Karena kalianlah Kalawarta berkesempatan menunaikan misinya yang paling berarti. Juga karena
kalianlah aku merasa yakin bahwa tidak sesuatu pun telah hilang dari diri kita sebagai manusia. Memang, si Anu itu jarang hadir di antara kita. Dia jarang muncul di jalan-jalan, pasar, atau pabrik, bahkan kantor-kantor
sekalipun. Tetapi bagaimanapun juga si Anu masih ada. Kita sendiri yang baru saja membuktikannya: Kemanusiaan.”
“Ya, Anda benar, Pak Barkah. Si Anu masih ada. Kemanusiaan masih ada. Sekarang kami mohon diri. Sungguh, rasanya sulit bagi saya melupakan Bapak dan Kalawarta. Saya percaya, Kalawarta akan menjadi bacaan
semua orang. Selamat tinggal.”
Tidak hanya Pak Barkah yang terkesan oleh perpisahan itu. Para pegawai Kalawarta pun ikut merasa kehilangan. Anak muda dari Tanggir itu telah meninggalkan kesan yang amat berarti. Dengan jujur Pak Barkah mengakui, bahwa sudah lama ia tidak menemukan seorang muda dengan kepribadian seperti Pambudi. Seorang yang bersedia menolong sesamanya tanpa mengharapkan balas jasa apa pun.
Biasanya Balai Desa Tanggir sudah kosong pada pukul dua siang. Tetapi hari itu masih ada dua orang di sana walaupun hari sudah pukul tiga lewat. Poyo sedang menekuni buku administrasi lumbung koperasi. Ia bukan
menjadi sibuk lantaran Pambudi, sejawatnya, telah keluar. Bukan pula karena kegiatan perlumbungan meningkat. Tetapi karena Pak Dirga menghendaki perombakan total pada tata pembukuan koperasi itu, tak peduli walaupun angka-angka di sana akan membuktikan kebohongan yang lebih gila.
Pak Dirga duduk gelisah. Sudah empat kali ia bangkit, berdiri di depan jendela dan duduk lagi. Asbak di depannya sudah penuh dengan puntung rokok yang hanya diisap separonya. Terkadang ia mematikan rokok yang baru saja disulutnya.
“Tak kusangka, Pambudi akan bertindak sedemikian jauh,”
Kata Pak Dirga sambil berjalan ke arah Poyo yang masih tetap menulis. “Boleh saja ia membantu Mbok Ralem sampai uangnya habis, asal jangan membawa segala urusan itu sampai termuat di surat kabar. Aku menjadi repot, dan serba salah. Kau mengerti, Poyo, mengapa kemarin aku berdua dengan Pak Camat dipanggil Bupati?”
“Tidak, Pak.”
“Kami datang ke sana menghadap Bupati dan Kepala Kantor Sosial. Mereka berdua marah besar. Kami berdua dikatakan teledor. Semua lantaran ulah Pambudi yang telah menyiarkan aib. Kata Bupati, Bapak Gubernur sendiri
menegurnya dengan keras, mengapa urusan Mbok Ralem itu sampai ditangani oleh pihak lain, bukan oleh pemerintah setempat. Mengapa kita sampai dilangkahi. Itulah
soalnya.”
“Bapak membela diri, bukan?” tanya Poyo.
“Tentu. Kukatakan bahwa Mbok Ralem datang kepada kita hanya untuk minta surat keterangan bahwa ia miskin, agar ia dapat memperoleh pengobatan cuma-cuma. Selebihnya aku tidak tahu. Bila ternyata masalahnya berkembang sedemikian jauh, itu ulah si Pambudi. He, Poyo, aku juga berkata kepada Bupati dan Kepala Kantor Sosial bahwa kita di Tanggir sedang menghadapi kesibukan yang luar biasa; membuat kentongan-kentongan, membuat bangkolan-bangkolan,
sebab siapa tahu Desa Tanggir akan dilanda kebakaran besar. Bukankah itu yang dimaksud dengan kesiapsiagaan yang dianjurkan Bupati sendiri?”
Poyo berhenti menulis karena mulutnya masam. Ia ingin merokok sambil beristirahat sebentar.
“Seumpama kita membuat laporan tentang Mbok Ralem sebelum ia berangkat ke Yogya, barangkali Kantor Sosial mau turun tangan. Sayang hal itu sudah terlambat.”
“Kantor Sosial mau turun tangan?” kata Pak Dirga dengan beringas. “Mungkin, dan kau bisa mengira-ngira besarnya kemungkinan itu? Atau bila benar mau mengurusi orang sakit seperti Mbok Ralem itu, pasti mereka akan memberi
surat kepadaku lebih dahulu. Bunyinya, ‘Cepat, cari dana secukupnya guna membiayai suatu proyek yang penuh dengan jiwa peri kemanusiaan!’ Nah, Poyo, toh akhirnya kembali juga masalahnya kepada kita. Paling-paling kita hanya bisa mendapat uang dari pos keuntungan koperasi kita. Tetapi yang demikian, nanti dulu...”
“Jadi menurut Bapak bagaimana sebaiknya mengatasi masalah Mbok Ralem itu?”
“Oh, anak muda. Aku sama sekali tidak bingung menghadapi masalah seperti ini andaikata Pambudi belum telanjur turun tangan. Aku akan menolong atau tidak menolongperempuan itu. Titik! Dan yang jelas aku tidak senang masalah Mbok Ralem tersebar sebagai berita yang hebat; menyebabkan aku dan Pak Camat kena marah Bupati, menyebabkan Bupati ditegur oleh Gubernur. Nah, kau tahu siapa yang telah membuat kekacauan ini. Akan kuuji sampai
di mana kekuatan otaknya, kekuatan ngelmu-nya. Jelas?”
“Ya. Dan Bapak tidak ingin keuntungan koperasi dipakai oleh orang lain. Artinya Bapak setuju andaikata Mbok Ralem terkubur bersama masalah dan kankernya, begitu?”
“Lho, tidak lain maksudku supaya kau dapat membeli TV.”
“Dan Bapak bisa menjadi makelar penjual batang kelapa?”
Ada suara ledakan tawa yang tertahan. Poyo dan Pak Dirga bangkit. Mereka kembali kepada pekerjaan masing-masing. Poyo menyelesaikan urusannya dengan buku administrasi lumbung itu. Atasannya duduk kembali dan memejamkan mata. Hujan yang turun di siang hari itu membuat suara berisik
pada atap seng gedung Balai Desa itu. Aneh, dengan adanya suara hujan itu Pak Dirga benar-benar tertidur. Ia baru bangun sejam kemudian ketika Poyo sengaja menggeser kursi keras-keras. Pekerjaannya telah siap. Ia ingin segera menyerahkan buku itu kepada Pak Dirga lalu pulang.
“Bagaimana?” tanya Pak Dirga sambil menerima buku itu dari tangan Poyo. “Tidak ada lagi lubang-lubang yang lemah?”
“Kukira sudah cukup, Pak. Tak ada pengeluaran yang tidak dapat kita buktikan kesahannya. Pengeluaran untuk biaya pelantikan Bapak sebelas bulan yang lalu sudah dihapuskan.”
“Hanya dihapuskan?”
“Ya, Pak. Tetapi dalam buku yang kedua ada pengeluaran sebesar 125.000 atas tanggung jawab seseorang.”
“Pambudi.”
“Ya.”
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar