Kamis, 01 April 2021

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 06

BAGIAN KEDUA 02




Demi Tuhan, sesungguhnya aku pribadi berada dalam pendapat ini. Ada tangan-tangan kotor menyelinap dan mencatut nama pasukan Republik untuk mencegah anak-anak Hizbullah 
dilebur menjadi tentara resmi. Berdasarkan pendapat ini aku setuju dengan kelompok yang ingin mencari kejelasan mengapa bisa terjadi pertempuran di rel kereta api itu. Komandan pasukan Republik pasti bisa menjelaskan kekaburan itu dengan sejujur-jujurnya. Namun pikiran yang jernih demikian hanya merupakan suara dari kelompok yang lebih kecil. Sebagian besar anggota pasukan Hizbullah sudah terbakar emosi dan langsung menganggap pasukan Republik bertanggung jawab atas terjadinya pertempuran kemarin. Aku mulai mendengar suara yang menyebut akan dibentuknya kekuatan bersenjata baru: Angkatan Oemat Islam atau AOI, yang hampir semua anggotanya adalah bekas Hizbullah. Jelas sekali gerakan ini anti Republik dan mencita-citakan sebuah bentuk negara baru.

Dalam kegalauan suasana seperti itu, aku teringat Kiai Ngumar. Orang seperti Kiai Ngumar pasti tidak akan menyetujui gerakan ini, betapapun ia menggunakan sebutan Islam. Entah lah, aku pun akan sependapat dengan kiai yang sangat kuhormati itu. Tetapi di Somalangu saat itu pikiran pribadiku lenyap 
digulung oleh emosi massa yang bersenjata. Apalagi satu hari kemudian datang serbuan dari pasukan Republik. Ya Tuhan, kemarin aku hampir dilantik menjadi anggota pasukan resmi itu, namun sekarang aku harus menghadapinya. Sebenarnya hatiku sendiri tak rela menganggap mereka musuh. Tetapi di 
dalam kancah pertempuran aku harus memilih satu di antara dua: menembak atau tertembak.

Sebenarnya anak-anak Hizbullah yang sudah merasa menjadi AOI bertempur dengan semangat amat tinggi, namun karena kalah dalam jumlah dan peralatan, kami terdesak dan terus terdesak. Pada hari keempat aku, Kiram, dan Jun sepakat untuk meloloskan diri ke barat, kembali ke kampung. Tak seorang pun dari kami bertiga terluka. Namun aku merasa Kiram dan Jun terluka jiwanya dengan begitu parah. Keduanya membawa dendam yang amat sangat. Dengan jiwa yang terluka 
seperti itu Kiram dan Jun tahu kepada siapa harus mengadu: Kang Suyud. Tetapi sebelum sampai ke rumah Kang Suyud, aku membawa mereka bertemu Kiai Ngumar. Kiai yang sudah 
tua itu terlihat begitu sedih ketika aku bercerita tentang apa yang kami alami di Kebumen. Bahkan Kiai Ngumar meneteskan air mata setelah tahu kami benar-benar sudah menjadi 
musuh tentara Republik.

“Innalillahi, tak kusangka akan menjadi begini,” keluh Kiai Ngumar.

“Kiai, sekarang apa yang pantas kami lakukan?” aku bertanya.

“Istirahatlah di sini sampai suasana agak jernih. Dan yang penting, jangan teruskan permusuhan kalian dengan tentara Republik. Jangan.”

“Tetapi mereka memusuhi kami,” potong Kiram. “Kini kami mereka sebut pemberontak. Malah saya juga sangat yakin mereka akan mengejar kami sampai ke sini.”

“Ya, aku mengerti,” kata Kiai Ngumar, mencoba meredam kemarahan Kiram. “Namun aku ingin berusaha menjadi perantara buat kalian dan mereka.”

“Kiai percaya bisa memberi mereka pengertian?”

“Bismillah, akan kucoba.”

“Kukira sudah terlambat,” ujar Kiram masih dengan nada panas. “Karena kami sudah empat hari bertempur. Saya juga tak mungkin lupa peristiwa di rel kereta api itu, ketika anak-
anak yang mau naik kereta api diberondong.” Urat pipi Kiram menegang.

“Ya, Kiai,” sela Jun. “Bagaimana kami bisa menerima perlakuan itu sementara iktikad kami waktu itu adalah bergabung dengan mereka.”

“Sabar, Nak. Innalillaha ma’as shabirin. Kalian sendiri punya praduga adanya pengkhianatan oleh orang-orang yang mencatut nama tentara Republik. Dan sangat boleh jadi pengkhianat 
itu adalah anak-anak komunis. O, Nak. Aku punya pengalaman belasan tahun bergaul dengan mereka. Aku tahu, mereka tidak segan menempuh cara yang paling kotor sekalipun untuk mencapai keinginan mereka. Jadi sabarlah. Redam dulu kemarahan kalian. Aku akan mencari hubungan dengan tentara 
Republik.”

“Percuma, Kiai….”

“Kiram, aku minta kamu menghargai iktikad baik Kiai Ngumar. Orang tua ini mau berjerih payah mencari kebaikan buat kita.”

“Mid! Bila kamu mau lembek seperti itu, silakan. Namun aku tidak. Pokoknya aku tak mau dikhianati. Kiai, saya minta permisi.”

Kiram keluar dengan wajah sangat pahit dan Jun mengikutinya. Aku memperhatikan mereka dengan hati amat masygul. Aku tetap tegak sampai kedua temanku itu lepas dari halaman dan menempuh jalan kampung ke arah barat. Dugaanku sangat kuat, pastilah Kiram dan Jun akan menemui Kang Suyud.

Kiai Ngumar masih duduk dan kelihatan makin sedih. Lalu bergumam seperti kepada dirinya sendiri.

“Wah, aku sudah berhasil membujuk Kiram dan Jun untuk mau dilebur ke dalam tentara Republik dan hal itu adalah seruan pemerintah sendiri. Kalau bukan karena tangan-tangan 
kotor telah mengacaukan kebaikan ini, takkan mungkin terjadi pertempuran antara anak-anak yang mau dilantik melawan tentara Republik. Tak mungkin. Dan tangan kotor itu, aku yakin, memang anak-anak komunis.”

“Tetapi, Kiai, diam-diam saya mengakui kebenaran kata-kata Kiram. Keadaan memang telanjur jadi serbasulit. Tentara Republik sudah telanjur menganggap kami pemberontak, atau 
lebih buruk lagi.”

“Ya, Mid. Dan itulah yang membuat aku merasa sangat sedih karena aku tahu sebenarnya kalian mau bergabung dengan mereka, tetapi akhirnya malah jadi begini.”

“Kiai, saya tidak ingin mengikuti Kiram dan Jun. Saya mau meletakkan senjata dan kembali ke masyarakat. Tetapi saya masih memerlukan perlindungan Kiai, sebab seperti sudah dikatakan Kiram, sangat mungkin tentara Republik akan menangkap saya.”

Kiai Ngumar mendesah. Senyumnya mengembang meskipun terasa tawar.

“Mid, keputusanmu sangat baik. Kamu bisa bersikap dewasa. Baiklah. Tinggallah di sini sampai keadaan benar-benar aman. Nanti kamu bisa jadi guru atau apa saja. Yang penting, sekarang kamu letakkan senjata karena hubunganmu dengan tentara Republik sudah dikotori orang.”

Aku sangat percaya akan kesungguhan Kiai Ngumar. Kata-kata dan jaminan perlindungannya tak sedikit pun aku ragukan. Namun hari-hari semasa tinggal bersama orang tua itu tak cukup memberi aku ketenangan. Malam hari aku sulit memejamkan mata, khawatir sewaktu-waktu datang tentara Republik yang akan menangkapku. Bila sampai tertangkap, aku 
yakin, tak ada hukuman lain kecuali tembak mati. Bahkan di siang hari pun aku tak bisa merasa tenang. Terasa seolah-olah ada mata yang selalu mengikuti gerak-gerikku. Dan perasaan demikian sangat beralasan; terbukti pada suatu siang, selepas lohor, datang seseorang memberitahu Kiai Ngumar bahwa ada empat tentara turun dari truk di depan pasar.

Aku dan Kiai Ngumar yang masih berada di surau segera menyadari siapa yang datang dan siapa pula yang mereka cari. Kiai Ngumar menyuruh aku segera menyingkir dan menyembunyikan senjataku di tempat yang aman. Namun sebelum aku sempat berbuat sesuatu, empat tentara itu sudah muncul di 
halaman rumah Kiai Ngumar. Aku menyadari bahwa keadaan sangat genting, tetapi Kiai Ngumar kelihatan tenang. Ia melepas kopiahnya dan cepat-cepat memasangkannya di kepalaku dan berbisik, “Salatlah terus, sementara aku menemui mereka. Taruh bedilmu di balik beduk.''

Meskipun dengan hati tak keruan, aku merasa tak bisa berbuat lain kecuali menuruti perintah Kiai Ngumar. Dalam salat yang sama sekali tak khusyuk itu, aku mendengar Kiai Ngumar 
membuka pintu surau dan menyambut kedatangan keempat tentara itu.

“Selamat siang. Kami tentara Republik. Apakah Bapak bernama Kiai Ngumar?” tanya salah seorang tentara itu dengan suara kering.

“Ya, betul. Saya Ngumar. Sampean mencari saya?”

“Ya. Tetapi perintah yang kami terima adalah mencari dan menangkap Kiram, Amid, dan Jun. Mereka adalah orang-orang bersenjata yang melawan pasukan Republik.”

“O, begitu. Apakah tidak lebih baik kita berbicara di dalam?”

“Tak perlu.”

“Tetapi Kiram atau Jun tak ada di sini. Mereka belum lama pergi.”

Bulu kudukku meremang mendengar ucapan Kiai Ngumar. 

Hebat, dalam keadaan sangat gawat, orang tua itu tak mau berbohong dengan tidak menyebut namaku bersama Kiram dan Jun. apabila tentara itu mendengarkan dengan saksama, 
mereka seharusnya curiga bahwa aku tidak pergi bersama kedua kawanku.

“Bapak bisa dipercaya?”

“Insya Allah, ya.”

“Kami akan menggeledah rumah Bapak.”

“Silakan.”

Kudengar suara langkah sepatu berpaku masuk ke rumah Kiai Ngumar. Kudengar anak kecil menangis ketakutan. Ia adalah cucu Kiai Ngumar yang tinggal bersama kakeknya. Ada 
barang-barang disingkirkan dengan kasar. Tubuhku mulai gemetar dalam posisi tahiyat akhir. Kesadaranku bahkan terasa melayang ketika kudengar pintu surau dibuka dengan kasar.

Cukuplah Allah menjadi wakilku, itulah kesadaran terakhir ketika aku menanti suara senjata meletus di belakangku. Atau lengan kasar yang akan mencekal tengkukku dari belakang. Sedetik dalam kelengangan yang amat sangat tegang. Kudengar denging di telingaku sendiri. Mataku yang memejam 
masih melihat ribuan bintang berhamburan. Dan aku tersentak ketika mendengar suara keras: pintu surau ditutup lagi. Tentara itu pergi, padahal tak ada sesuatu mengalingi pandangan mereka terhadap diriku karena surau itu adalah ruang tunggal yang tak seberapa luas. 

Aku merasa terlepas dari ketegangan yang begitu mencekam. Namun ketegangan lain mulai datang. Pasukan yang ingin menangkapku mulai berlaku kasar terhadap Kiai Ngumar.

“Kami tak dapat menemukan mereka di sini, tetapi Bapak harus bertanggung jawab atas perlawanan mereka terhadap pasukan Republik!”

“Maksud sampean bagaimana?”

“Bapak boleh pilih: tunjukkan di mana mereka berada atau Bapak sendiri kami bawa sebagai ganti mereka. Pilih!” Lengang. Aku belum berani bergerak dari posisi tahiyat, sehingga aku tak mungkin melihat mereka yang sedang bersitegang di halaman.

“Ya, bawalah aku kepada komandan sampean. Aku akan mempertanggungjawabkan perbuatan ketiga anak itu.”

Kemudian kudengar langkah sepatu menjauh. Lalu tangis istri Kiai Ngumar dan cucunya. Aku bangkit dan melihat ke luar. Masih sempat kusaksikan Kiai Ngumar berjalan diiringi empat orang bersenjata. Tiba-tiba aku merasa diriku sangat kecil dan hina. Kiai yang sudah tua itu terlalu banyak berkorban untuk aku dan teman-temanku. Dan kini beliau dibawa pergi, entah bisa kembali atau tidak. Oh, andaikan Kiai Ngumar mendapat hukuman berat karena pembelaannya terhadap kami, apa yang bisa kami lakukan untuk membalas budinya?

Malam hari aku berusaha mencari Kiram dan Jun ke rumah Kang Suyud, tetapi keduanya tak ada di sana. Kang Suyud yang menemuiku dengan wajah dingin hanya bilang bahwa 
Kiram dan Jun sedang mencari berita. Ketika kutanya apa yang dimaksud, Kang Suyud mulai menyebut-nyebut nama Darul Islam, nama yang baru pertama kali kudengar saat itu. Dari 
pertemuan itu aku tahu, Kang Suyud sudah mempunyai suatu rencana yang mendalam, yang aku sendiri tak mudah memahaminya. Yang jelas, terasa benar Kang Suyud sudah tak 
sepaham lagi dengan Kiai Ngumar, suatu hal yang membuat aku benar-benar sedih. Kang Suyud mengatakan Kiai Ngumar adalah seorang kiai republiken yang kena pengaruh van Mook, seorang politikus dalam Islamolog Belanda yang ulet dan cerdas. Entahlah. Yang jelas aku sangat dipusingkan oleh kenyataan bahwa Kiai Ngumar kini ditahan oleh pasukan Republik. 

Aku benar-benar pusing.

Mungkin kepusinganku akan sangat berkepanjangan apabila Kiai Ngumar tidak muncul seminggu kemudian. Berita kepulangan Kiai Ngumar kudengar dari tempat persembunyianku melalui kabar dari mulut ke mulut yang sampai kepadaku dengan cara rahasia. Hasrat untuk bertemu dengan kiai tua itu sangat mendesak di hatiku, tetapi aku harus benar-benar waspada karena sadar—aku, Kiram, dan Jun adalah orang-orang yang diburu. Ah, aku sering berpikir betapa malangnya kami ini. Dulu, kami harus selalu waspada terhadap mata-mata atau siapa saja yang menjadi kaki-tangan Belanda. Sekarang, kami harus berjaga-jaga dari kejaran tentara Republik, padahal setidaknya aku sendiri, sama sekali tak punya sedikit pun rasa permusuhan terhadap mereka.

Pada hari ketiga sejak kepulangan Kiai Ngumar, aku merasa tidak tahan lagi. Aku harus berbicara dengan orang tua itu. Kupilih saat muncul fajar untuk menemui Kiai Ngumar di suraunya, untuk mengurangi risiko terlihat oleh orang lain. Maka dini hari aku keluar dari rumah tempat aku menyembunyikan diri dan menunduk-nunduk ke arah surau Kiai Ngumar. Di bawah pohon serut aku berhenti, bahkan berjongkok, menunggu suara terompah Kiai Ngumar bila ia berjalan ke perigi.

Kokok ayam pertama sudah terdengar. Langit timur mulai merona terang. Aku tahu betul pada saat seperti itu Kiai Ngumar keluar untuk salat subuh. Pada zaman normal, banyak orang dan anak muda ikut berjamaah. Namun sejak ada perang, Kiai Ngumar hampir selalu salat seorang diri. Dan benar, suara terompah sudah terdengar seperti ingin mengusik 
kelengangan pagi. Aku tersenyum seorang diri karena merasa pasti akan berhasil berbicara dengan Kiai Ngumar. Aku bangkit. Tetapi tiba-tiba naluriku bilang ada bahaya. Aku mende-
ngar sesuatu yang patah karena terinjak. Dan di bawah remang sinar gemintang aku melihat sosok yang bergerak mengendap-endap. Sejenak aku bertahan hingga kupastikan sosok itu me-mang menginginkan diriku. Ya. Aku yakin orang yang mengendap-endap itu memang mau menangkap aku. Kalau mau, 
aku bisa mendahuluinya menembak, namun aku memilih lari. Sedetik kemudian terdengar letusan senjata di belakangku. Aku terus lari. Kegelapan tak begitu menjadi rintangan karena aku berlari di tanah kelahiran yang kukenal baik sampai ke liku-likunya yang paling kecil.

Semula aku bermaksud bersembunyi di rumah Kang Suyud. Ah, tidak. Aku percaya, di sana pun aku tak aman. Maka selagi hari belum terang aku terus berlari cepat menuju perbukitan di seberang sungai. Pada saat itu aku hanya punya satu pikir-an: aku harus menyusul Kiram dan Jun di mana pun mereka 
berada, karena pasukan Republik bukan hanya menutup pintu bagiku, melainkan sudah menghendaki kematianku. Ketika hendak menyeberangi sungai, kulihat kabut tipis melayang di atas permukaan air. Sudah kubayangkan dinginnya air sungai pada pagi hari di musim kemarau, tetapi aku harus terjun dan menyeberang.

Ternyata tidak mudah menemukan Kiram dan Jun. Tetapi tanpa sengaja aku malah ketemu Kang Suyud pada hari ketiga, di surau kecil di sebuah desa di pinggir hutan, jauh dari kampung asal kami. Dan entahlah, pada pertemuan dengan Kang Suyud itu aku merasa tak sanggup lagi melepaskan diri dari 
pengaruhnya.

“Mid, sekarang kamu mau apa? Kamu tak punya jalan lain kecuali ikut aku. Dulu pun aku sudah bilang, selama ada anak-anak komunis dalam pasukan Republik, aku tak mau bergabung dengan mereka. Sekarang kejahatan mereka terbukti, bukan?"

Aku diam. Dalam hati aku siap membantah bila Kang Suyud menuduh semua anggota pasukan Republik sudah terpengaruh komunis. Aku masih ingat ucapan Kiai Ngumar bahwa 
beberapa kenalannya, bahkan ada pula seorang kiai, menjadi komandan pasukan resmi itu.

“Atau kamu mau menyerahkan diri? Percuma, Mid. Kamu sudah dianggap pengkhianat dan bila menyerahkan diri kamu akan dikenai hukum perang. Artinya, pasti kamu akan ditembak mati.”

Aku masih diam. Dan kali ini aku sungguh-sungguh bisa membenarkan kata-kata Kang Suyud.

“Kiram dan Jun di mana?”

“Tunggu mereka di sini. Malah Jalal juga sudah bergabung. Kita sudah resmi menjadi anggota laskar Darul Islam. Kita sudah punya negara sendiri, Negara Islam Indonesia.”

Negara Islam Indonesia? Aku teringat Kiai Ngumar. Teringat ketika ia bersaksi bahwa dalam iman yang teguh Kiai Ngumar dengan sadar memilih Republik Indonesia yang sudah 
berdiri dengan sah. Aku juga teringat kata-kata orang tua itu bahwa dalam suatu negara yang sah, di dalamnya tak boleh ada suatu bentuk negara terpisah yang sah pula. Aku memepercayai kebenaran pikiran Kiai Ngumar: mestinya hanya ada satu bentuk negara yang sah, yaitu Republik. Tetapi aku mau apa jika pasukan Republik jelas-jelas menganggapku sebagai pemberontak?

Tak tahulah. Pergulatan pikiran itu tak bisa kuselesaikan. Apalagi aku, Kiram, Jun, dan Jalal sudah harus menghadapi serbuan pasukan Republik. Dan dalam sebuah pertempuran di daerah Brebes, aku terlibat perkelahian dengan senjata kosong karena aku dan lawanku sama-sama kehabisan peluru. Untuk pertama kalinya aku menggunakan ilmu silat dalam pertempuran besar. Celakanya, lawanku pun jago dalam ilmu bela diri itu, sehingga aku terpaksa menempuh cara pengecut: melempar wajah lawanku dengan debu tanah. Ketika ia jatuh, aku memukulnya dengan gagang senapan.

Aku bergidik melihat darah yang mengucur dari luka di kepala lawanku. Atau, aku bergidik karena menyadari akan kepengecutanku sendiri. Entahlah. Pokoknya aku menutup wajah dengan kedua tanganku... Sekali lagi aku tersentak. Kudengar Kiram serta Jun tertawa 
bersama. Aku menoleh kiri-kanan. Perlahan-lahan aku tersadar dari lamunan yang sangat panjang.

“Bukan main, Mid. Hari ini kamu begitu mudah terkejut. Kamu mulai linglung? Daripada terus melamun, lebih baik habiskan nasimu. Mau tambah kopi?”

“Melamun boleh saja, Mid, asal jangan keterlaluan,” sambung Jun yang sedang memperbaiki ikatan perbannya.

Aku nyengir, pahit. Aku mengusap-usap kening karena pusing ketika harus menghadapi kenyataan bahwa aku sebenarnya sudah lama lepas dari masa lalu. Aku reguk kopi yang baru 
dituangkan dari cerek usang oleh Kiram.

“Mid...!” kata Kiram setelah selesai menuang kopi untukku. “Kamu kelihatan mengekang kegelisahan. Daripada terus melamun memendam rasa seperti itu, lebih baik kamu bicara kepada kami.”

“Sebelum Amid bicara, aku sudah mengerti apa yang diinginkannya sekarang ini,” sela Jun. “Kamu ingin turun gunung dan menyerahkan diri. Iya, kan?”




Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...