Mungkin karena lama ditunggu emaknya tak berkata sepatah pun, Lasi jadi gelisah. Dan tanpa mengubah arah wajahnya, sebuah pertanyaan meluncur dari mulutnya.
"Apa betul Wiryaji bukan ayah saya?"
Mbok Wiryaji terkejut dan mendadak meluruskan punggung.
"Ya, Las. Dia bukan ayah kandungmu," jawab Mbok Wiryaji agak terbata.
"Jadi siapa ayah saya yang sebenarnya? Orang Jepang?"
"Ya."
Mbok Wiryaji menelan ludah.
"Kok bisa begitu?"
"Dulu di sini banyak orang Jepang. Mereka tentara."
"Kata orang, Emak diperkosa orang Jepang. Diperkosa itu bagaimana?"
Mbok Wiryaji menelan ludah lagi. Dan gugup, sangat gugup. Bibirnya gemetar. Tangannya bergerak tak menentu. Air mata mulai meleleh dari mata dan hidungnya. Dan Mbok Wiryaji kembali terkejut ketika Lasi dengan suara mantap mengulangi pertanyaannya.
"Diperkosa, artinya dipaksa," ujar Mbok Wiryaji masih dalam kegagapan.
"Dipaksa bagaimana?" kejar Lasi.
"Oalah, Las, emakmu dipaksa cabul. Mengerti?"
Mata Lasi terbelalak. Meski tidak jelas benar, Lasi mengerti apa yang dimaksud emaknya. Rona amarah muncul sangat jelas pada wajahnya yang putih. Bibirnya bergerak-gerak hendak mengucapkan sesuatu tetapi Lasi hanya tergagap. Ketika akhirnya meluncur sebuah pertanyaan dari mulutnya, giliran
Mbok Wiryaji yang tergagap.
"Karena diperkosa itu kemudian Emak mengandung saya?"
"Oh, tidak, Nak! Tidak."
"Emak bohong?"
"Oalah, Las, Emak tidak bohong. Dengarlah. Kamu lahir tiga tahun sesudah peristiwa cabul yang amat kubenci itu. Entah bagaimana setelah tiga tahun menghilang orang Jepang itu muncul lagi di Karangsoga. Kedatangannya yang kedua tidak lagi bersama bala tentara Jepang melainkan bersama para pemuda
gerilya. Tampaknya ayahmu menjadi pelatih para pemuda. Dan mereka, para pemuda itu, juga Eyang Mus minta aku memaafkan ayahmu, bahkan aku diminta juga menerima lamarannya."
"Emak mau?"
"Mula-mula, Las, karena aku tak bisa menolak permintaan dari pemuda dan Eyang Mus. Tetapi aku akhirnya tahu, ayahmu baik, kok."
Sejenak Lasi terdiam. Alisnya berkerut.
"Las, akhirnya aku menikah dengan ayahmu dan sesudah itu kamu lahir. Tetapi, Las, ayahmu kemudian pergi lagi bersama para pemuda dan tak pernah kembali, padahal kamu sudah lima bulan dalam kandunganku. Kabarnya ayahmu meninggal dalam tawanan tentara Belanda."
Lasi mengerutkan kening. Wajahnya tetap beku namun ketegangannya lambat laun mereda.
"Oh ya, Las," sambung Mbok Wiryaji, "ayahmu seperti Cina dan agak lucu apabila pakai kain sarung dan kopiah. Kata orang, sebenarnya ayahmu bernama Miyaki atau Misaki barangkali. Entahlah, namun Eyang Mus kemudian memberinya nama baru, Marjuki."
"Marjuki? Jadi ayah saya Marjuki?"
"Ya. Dan mirip Cina."
"Mirip Cina?"
"Betul. Orang Jepang memang mirip Cina."
"Mak?"
"Apa?"
"Tetapi mengapa mereka selalu bilang saya haram jadah?"
Mbok Wiryaji terdiam. Matanya kembali merah.
"Las, mereka tahu apa dan siapa kamu sebenarnya. Tetapi aku tak tahu mengapa mereka lebih suka cerita palsu, barangkali untuk menyakiti aku dan kamu. Sudahlah, Las, biarkan mereka. Kita sebaiknya nrima saja. Kata orang, nrima ngalah luhur wekasane, orang yang mengalah akan dihormati pada
akhirnya."
Kamar itu mendadak senyap. Hanya suara napas Mbok Wiryaji yang mendesah panjang. Perempuan itu merasa telah menurunkan sebagian besar beban yang sudah bertahun-tahun menindih pundaknya. Dan kini ia menatap Lasi karena ingin membaca tanggapan atas pengakuannya. Tetapi Lasi tak bergeming. Gadis tanggung itu menatap tanah. Jarinya mengutik-utik sudut tikar pandan. Lalu, tanpa menoleh ke emaknya, Lasi bangkit dan keluar dari kamar. Mbok Wiryaji mengikuti dengan pandangan matanya. Dan ia lega ketika melihat Lasi membuka tudung saji di atas meja. Mbok Wiryaji percaya, hanya hati yang damai bisa diajak makan.
Tamat sekolah desa usia Lasi genap 14 tahun. Empat teman perempuan yang bersama-sama meninggalkan sekolah segera mendapat jodoh masing-masing. Lasi pun akan segera berumah tangga andaikan orangtuanya menerima lamaran Pak Sambeng, guru Lasi sendiri. Lamaran itu ditolak karena Pak Guru sudah beristri. Dan hampir enam tahun sesudah itu Lasi belum juga menemukan
jodoh; suatu hal yang agak bertentangan dengan ukuran kewajaran di Karangsoga terutama karena Lasi sungguh tidak jelek apalagi cacat. Namun siapa saja akan segera mengerti mengapa gadis secantik Lasi lama tak mendapatkan jodoh. Orang Karangsoga sangat mempertimbangkan segi asal-usul dalam hal mencari calon istri atau menantu. Ayah Lasi, meski semua orang Karangsoga tahu siapa dia, adalah orang asing yang hanya muncul beberapa bulan di Karangsoga, bahkan sudah lama meninggal tetapi entah di mana
kuburnya. Di Karangsoga, gadis dari keluarga yang tidak utuh kurang disukai. Dan cerita tentang perkosaan itu membuat citra Lasi buruk. Lasi telanjur mendapat citra haram jadah meskipun semua orang tahu sebutan itu terlalu kejam dan sama sekali tidak benar.
Ada juga orang bilang Lasi berbeda dengan semua gadis Karangsoga sehingga perjaka di sana enggan melamarnya. Tidak aman mempunyai istri yang terlalu mudah menarik perhatian lelaki lain, kata mereka. Anehnya, mereka tetap senang menjadikan Lasi bahan celoteh di mana-mana.
Jadilah Lasi tetap gadis sampai usianya hampir dua puluh. Di Karangsoga mungkin hanya seorang gadis bisu yang belum menikah pada usia itu. Padahal Lasi tak kurang suatu apa. Bahkan mungkin Lasi adalah gadis tercantik di antara gadis-gadis seangkatannya di Karangsoga. Dan kenyataan demikian malah membuat Lasi makin jadi omongan orang sehingga membuatnya segan keluar
rumah.
Hari-hari Lasi adalah hari-hari anak perawan keluarga Wiryaji, satu di antara sekian banyak keluarga penyadap kelapa di Karangsoga. Pagi-pagi Lasi mempunyai pekerjaan tetap: menyiapkan tungku dengan kawah besar. Nira
akan dituangkan dari pongkor-pongkor lewat ayakan bambu sebagai saringan. Yang tersaring bisa macam-macam, dari sisa irisan malai, lebah mati, sampai kumbang tanduk yang terjebak ke dalam pongkor. Atau bila cuaca buruk nira sering berbusa kental berwarna putih. Dan Lasi selalu bergidik bila ada cecak atau tikus kecil mati tenggelam dalam nira.
Lasi senang memperhatikan nira menggelegak dalam kawah. Baunya enak dan
gejolaknya mengundang gairah. Uap tebal yang naik bergulung-gulung bisa mendatangkan khayal tentang keperkasaan seorang lelaki penyadap. Atau bila nira mulai menjadi tengguli, warnanya berubah jadi coklat lalu merah tua. Gelembung-gelembung kecil muncul, ketika pecah menimbulkan letupan-letupan halus. Pada saat ini tengguli yang mendidih hampir mencapai titik jenuh dan kawah akan diangkat dari tungku. Sambil menanti titik jenuh itu tengguli yang sudah berbentuk pasta diaduk-aduk dan mulai dituangkan ke dalam sengkang, cetakan berupa gelang-gelang bambu setebal empat jari.
Lasi yang hampir tak pernah bicara kecuali dengan emaknya akan mendapat teman bila Wiryaji yang sudah tua kebetulan sakit. Bila Wiryaji tak bisa bekerja, Darsa akan menggantikan pamannya itu menyadap nira kelapa. Darsa pendiam dan Lasi menyukainya. Bukan apa-apa, seorang pendiam bagi Lasi
punya arti khusus. Siapa yang pendiam tentu tidak banyak omong dan tidak suka berceloteh seperti kebanyakan orang Karangsoga. Atau karena Darsa setidaknya tidak buruk. Memang tidak juga bagus tetapi sosok kelelakiannya
jelas. Badannya seimbang dan ototnya liat, khas otot para penyadap. Apalagi Darsa masih sangat muda, usianya hanya beberapa tahun di atas Lasi.
Atau lagi, Darsa sering menyelipkan sesuatu di antara ikatan pongkor-nya. Kadang salak yang masak, kadang mangga. Bila Lasi bertanya, "ini untuk aku?" Darsa hanya tersenyum. Dan matanya menyala. Anehnya Darsa tertunduk malu ketika suatu kali tertangkap oleh Mbok Wiryaji sedang saling pandang dengan Lasi. Padahal bagi Mbok Wiryaji suasana manis antara anak sendiri dan kemenakan suaminya itu sudah lama diketahuinya. Suasana itu malah memberi Mbok Wiryaji ilham; menjodohkan Lasi dan Darsa, bila bisa diatur, akan memupus semua celoteh yang telah menyiksanya selama bertahun-tahun. Orang selalu bilang, seorang gadis, apalagi ia cantik, akan tetap menjadi bahan omongan para tetangga sampai ia menikah, mapan, dan beranak-pinak. Sebelum hal itu tercapai, mungkin hanya masalah cara dia berjalan akan diperhatikan orang. Tetapi ungkapan itu terbukti tidak sepenuhnya benar. Omongan tentang Lasi, tentang perkosaan terhadap emaknya, atau tentang ayahnya yang hilang sesekali masih terdengar meski Lasi telah menjadi istri Darsa.
*****
Kabut pagi yang tipis memberi sapuan baur pada lembah dan lereng-lereng bukit di sekitar Karangsoga. Namun karena kabut itu pula muncul tekanan pada matra ketiga pemandangan di sana. Karena sapuan kabut, makin jelaslah lereng atau bukit yang dekat dan yang lebih jauh. Di timur sinar matahari
menyemburat dari balik bayangan bukit. Puncak-puncak pepohonan mulai tersapu sinar merah kekuningan. Dari sebuah sudut di Karangsoga pemandangan jauh ke selatan mencapai dataran rendah yang sangat luas. Karena letaknya yang tinggi, dari tempat ini orang Karangsoga setiap pagi dapat melihat iring-iringan burung kuntul terbang di bawah garis pandang mata. Dengan cara menunduk pula mereka dapat melihat hamparan sawah dan ladang. Kota kewedanan kelihatan seluruhnya dan berbatasan dengan cakrawala adalah garis pantai laut selatan.
Pagi ini Lasi berangkat hendak menjenguk Darsa di rumah sakit kecil di kota kewedanan itu. Lasi sengaja memilih jalan pintas agar tidak bertemu dengan orang-orang yang hendak pergi ke pasar. Mereka terlalu ingin tahu dan Lasi sudah bosan menjawab pertanyaan mereka. Dalam keremangan pagi Lasi melihat banyak pohon kelapa bergoyang karena sedang dipanjat oleh penyadap. Tetes-tetes embun berjatuhan membuat gerimis setempat. Kelentang-kelentung suara pongkor yang saling beradu ketika dibawa naik. Ketika melintas titian Lasi tertegun sejenak, heran mengapa dulu ia sering berlama-lama melihat kepiting batu di bawah sana. Ada burung paruh udang terbang menuruti alur jurang, suaranya mencicit lalu hilang di balik rumpun salak. Suara tokek dari lubang kayu memecah keheningan pagi yang masih sangat berembun. Seekor burung ekor kipas berkicau meriah, lalu melesat ketika melihat lalat terbang. Tubuhnya yang kecil tampak berkelebat bila unggas itu melompat dari dahan satu ke dahan lain dalam rimbunan semak. Dengung kumbang yang terbang-hinggap pada bunga bungur. Sepasang kadal bekejaran melintas jalan setapak di depan Lasi. Dan bunyi riang-riang mulai menggoda kelengangan pagi.
Lasi terus berjalan cepat tanpa menoleh kiri kanan. Sampai di mulut jalan kampung Lasi naik delman yang sudah berisi beberapa penumpang. Kini Lasi tak bisa menghindar dari pertanyaan penumpang lain yang semuanya orang Karangsoga. Lasi hanya menjawab seperlunya karena hatinya sudah sampai ke
kamar Darsa di rumah sakit. Sudan seminggu Darsa dirawat di sana dan luka-luka di kulitnya berangsur pulih. Tubuh seorang penyadap muda selalu punya daya sembuh yang kuat. Darsa juga sudah doyan makan. Dan Lasi sudah bertanya kepada perawat tentang jumlah biaya yang harus dibayarnya. Dari
jawaban perawat Lasi dapat menghitung uang yang dipinjamnya dari Pak Tir hanya cukup untuk merawat Darsa selama sepuluh hari. Tetapi Lasi mendengar bisik-bisik di antara para perawat bahwa mungkin Darsa perlu perawatan di rumah sakit besar karena sampai demikian jauh masih ada yang tak beres pada
tubuhnya; kencingnya terus menetes tak terkendali. Para perawat itu berbicara juga tentang kemungkinan bedah syaraf atas diri Darsa.
Bedah syaraf? Apa itu? Lasi pening memikirkannya dan sangat takut bila perawatan semacam itu mengancam jiwa suaminya. Lagi pula berapa biayanya? Dan pagi ini Lasi mendapat jawaban atas semua pertanyaan itu. Dokter kepala poliklinik memanggilnya untuk mendapat penjelasan tentang Darsa.
"Suamimu sudah lepas dari bahaya. Tetapi dia harus dibawa ke rumah sakit yang besar agar bisa dirawat dengan sempurna," kata dokter yang masih muda itu. "Kamu tahu, bukan, pakaian suamimu masih terus basah. Suamimu masih terus ngompol."
Lasi tak berani mengangkat muka. Rasa cemas mulai membayang di wajahnya.
"Apakah nanti Kang Darsa membutuhkan biaya besar?" tanya Lasi dengan bibir
gemetar.
"Saya kira begitu. Mungkin puluhan, atau malah bisa ratusan ribu."
Lasi menelan ludah dan menelan ludah lagi. Dia merasa ada dinding terjal mendadak berdiri di depan wajahnya. Pandangan matanya buntu dan kosong. Pada wajahnya tidak hanya tergambar kecemasan melainkan juga
ketidakberdayaan.
"Nanti akan saya bicarakan dengan orangtua saya," kata Lasi setelah lama terdiam, kemudian berlalu dari hadapan dokter.
Di kamar perawatan Darsa, Lasi berusaha menyembunyikan kebimbangannya. Sambil duduk di tepi dipan ia berusaha tersenyum, memijit-mijit lengan Darsa lalu bangkit untuk menukar kain sarung yang dikenakan suaminya itu. Bau sengak menyengat. Selesai menukar kain sarung Lasi membuka bungkusan makanan yang dibawanya dari rumah. Tetapi Darsa tak tertarik melihat lontong dan telur asin yang di bawa Lasi.
Sesungguhnya Lasi ingin menyampaikan kata-kata dokter Yang diterimanya beberapa menit berselang. Tetapi niat itu urung setelah Lasi menatap wajah suaminya yang masih pucat dan kelihatan sangat tertekan. Maka Lasi membuka pembicaraan lain sekadar untuk mencairkan suasana.
"Kang, bila malam rumah kita kosong. Aku tidur di rumah Emak."
Darsa hanya mengangkat alis.
"Sekarang Mukri yang menyadap kelapa kita," kata Lasi lagi, "sampai kamu sembuh."
"Berapa harga gula sekarang?" Suara Darsa serak.
"Enam rupiah, tidak cukup untuk satu kilo beras."
Darsa mengangkat alis lagi. Tetapi dia tidak kaget. Seorang penyadap sudah terbiasa bermimpi tentang harapan yang tetap tinggal harapan. Mereka, para penyadap, punya harapan mendapatkan harga gula seimbang dengan harga beras; sebuah harapan bersahaja namun jarang menjadi kenyataan. Berapa harga gula, adalah pertanyaan sehari-hari para penyadap. Celakanya mereka selalu cemas ketika menanti jawabnya. Harga gula adalah pertanyaan kejam yang tak pernah mempertimbangkan betapa besar risiko yang harus dihadapi para penyadap. Suami bisa jatuh dan istri bisa terperosok ke dalam tengguli mendidih. Untuk kedua risiko ini nyawalah yang menjadi taruhan. Tetapi harga
gula jarang mencapai tingkat harga beras.
"Kang, aku pulang dulu, ya. Pakaianmu harus dicuci. Besok pagi aku datang lagi."
Darsa hanya mengangguk. Lalu dipandangnya Lasi yang sedang membungkus pakaian kotor dan baunya amat menyengat. Ketika Lasi berangkat sekilas tampak tengkuknya yang putih. Mata Darsa menyala dan jantungnya terbakar. Angan-angannya melayang tetapi segera terpupus ketika ia menyadari tubuhnya
masih lemah dan kencingnya masih terus menetes. Sejak mendapat kecelakaan seminggu yang lalu Darsa bahkan merasa mengalami gejala yang sangat dibenci
oleh setiap lelaki: lemah pucuk.
Tiba di Karangsoga, Lasi langsung menuju rumah orangtuanya. Belum lagi melangkahi ambang pintu air matanya sudah berderai. Suami-istri Wiryaji yang mengira keadaan Darsa bertambah buruk, segera menjemput Lasi.
"Bagaimana suamimu?" tanya Mbok Wiryaji memburu.
"Masih seperti kemarin, Mak," jawab Lasi sambil mengusap air matanya. Tetapi kata dokter, Kang Darsa harus dibawa ke rumah sakit besar karena dia masih terus ngompol. Mak, kata dokter biayanya besar sekali. Bisa ratusan ribu."
Lasi terisak. Suami-istri Wiryaji terpaku di tempat duduk masing-masing. Dan keduanya terkejut ketika Lasi tiba-tiba bertanya.
"Kita harus bagaimana, Mak?"
Pertanyaan pendek itu lama tak berjawab. Puluhan atau bahkan ratusan ribu? Uang sebanyak itu tak pernah terbayang bisa mereka miliki. Tak pernah.
"Kita harus bagaimana?" ulang Lasi. Wiryaji terbatuk. Istrinya mendesah. Lasi yang melihat orangtuanya bimbang makin terisak. Pikirannya kacau dan hatinya gelap. Suasana rumah pun mati dan mencekam karena Lasi dan kedua orangtuanya sama-sama merasa tak punya kata-kata untuk diucapkan. Namun
kesunyian cair kembali ketika Mukri, Eyang Mus, dan beberapa tetangga masuk. Mereka juga ingin tahu kabar terakhir tentang Darsa. Dan penjelasan yang diberikan Lasi membuat mereka tercengang.
"Kami bingung. Uang sebanyak itu hanya bisa kami miliki bila rumah dan pekarangan yang ditempati Lasi kami jual," ujar Wiryaji sambil menunduk. "Lalu, apakah hal itu harus kulakukan? Kalaupun ya, siapa yang bisa
membelinya dencan cepat?"
"Kang, soal membeli dengan cepat Pak Tir bisa melakukannya," ujar Mbok Wiryaji. "Masalahnya, tanpa pekarangan dan rumah anakku mau tinggal di mana? Beruntung bila Darsa sembuh, bila tidak? Apakah ini bukan taruhan yang terlalu mahal dan sia-sia?"
"Mak, tapi kasihan Kang Darsa," sela Lasi. "Saya ingin dia dirawat sampai sembuh. Untuk Kang Darsa, apakah kebun kelapa saya tidak bisa dijual?"
"Jangan, Las," potong Mak Wiryaji. "Tanah adalah sumber penghidupanmu dan juga persediaan bagi anak-anakmu kelak. Tanah itu, meski hanya secuil, adalah masa depanmu dan keturunanmu. Aku tak akan membiarkan kamu main-main dengan tanah."
"Tetapi, Mak, kasihan Kang Darsa," ulang Lasi.
"Las, siapa yang tak kasihan kepada Darsa? Tapi puluh-puluh Nak, kita tak punya biaya. Kita hanya bisa pasrah."
Lasi kembali terisak. Eyang Mus terbatuk. Mbok Wiryaji menarik napas panjang. Selebihnya adalah kelengangan yang mencekam. Eyang Mus terbatuk lagi. Lelaki tua itu tahu dirinya adalah rujukan dan nara sumber untuk dimintai pendapat. Maka Eyang Mus ingin berkata sesuatu. Namun lidahnya terasa kelu karena Eyang Mus teringat musibah sama yang menimpa Parja setahun yang lewat. Parja pun jatuh ketika sedang menyadap nira. Melihat cederanya parah,
keluarga Parja tidak mau membawanya ke rumah sakit. Mereka tak mau menggali utang untuk membiayai pengobatan Parja karena usaha semacam itu terasa hanya sebagai kerja untung-untungan. Waktu itu Eyang Mus bersikeras meminta orangtua Parja membawa anaknya ke rumah sakit meskipun harus
mencari pinjaman uang untuk biaya.
Ternyata nyawa Parja tak dapat dipertahankan. Parja meninggal dan keluarganya menanggung uang yang tak kunjung lunas. Anak dan istri Parja jatuh dan dua kali menderita. Sampai sekarang Eyang Mus sangat menyesal, apalagi bila kebetulan bertemu dengan anak-anak Parja yang yatim dan kurang terurus. Untuk ketiga kali Eyang Mus terbatuk dan gagal mengucapkan sesuatu. Bahkan orang tua itu hanya termangu ketika Wiryaji jelas-jelas minta nasihatnya.
Suasana masih hening. Kecuali desah-desah panjang. Atau burung-burung yang terus berkicau di atas pepohonan. Mereka tak mengenal duka. Dari jauh terdengar ceblak-cebluk suara orang mengaduk tengguli yang siap naik cetakan. Baunya yang harum merambah ke mana-mana menjadi ciri utama
kampung penghasil gula kelapa, ciri utama Karangsoga.
"Rasanya kami sudah berusaha semampu kami," ujar Wiryaji mencairkan kebisuan. "Utang sudah kami gali dan tentu tak akan mudah bagi kami mengembalikannya. Bila usaha kami ternyata tak cukup untuk menyembuhkan Darsa, kami tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kami tinggal pasrah."
"Ya," sambung Mbok Wiryaji. "Kami pasrah. Besok Darsa kami jemput dan akan kami rawat di rumah. Siapa tahu, di rumah Darsa bisa sembuh. Kita percaya, bila mau menurunkan welas-asih Gusti Allah tak kurang cara. Iya, kan, Eyang Mus?"
Eyang Mus tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Namun warna getir muncul di wajahnya. Lasi bangkit dan pergi ke sumur. Di sana Lasi mencuci pakaian suaminya yang bau sengak. Air matanya terus menetes. Mukri dan para tetangga pulang sambil menundukkan kepala. Matahari hampir mencapai pucuk
langit dan angin yang lembut menggoyang pohon-pohon kelapa di Karangsoga.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar