Wiryaji terus mengangguk-angguk untuk memberi tekanan pada nasihatnya. "Untunglah kamu yang ada di dekatnya waktu itu. Bila orang lain yang ada di sana, mungkin ia berteriak-teriak dan mengambil langkah yang keliru. Mukri, terima kasih atas pertolonganmu yang jitu."
"Ya. Tetapi aku harus pergi dulu. Pekerjaanku belum selesai."
"Sudah malam begini kamu mau meneruskan pekerjaanmu?"
Pertanyaan itu berlalu tanpa jawab. Mukri lenyap dalam kegelapan meski langkahnya masih terdengar untuk beberapa saat. Kini perhatian semua orang sepenuhnya tertuju kepada Darsa. Lasi tak putus menangis. Orang-orang tak henti menyuruh Darsa nyebut, menyerukan nama Sang Mahasantun.
Dari cerita Mukri orang tahu bahwa Darsa jatuh dari pohon kelapa yang tinggi. Bahwa dia tidak cedera parah, arit penyadap tidak melukai tubuhnya, bahkan kata Mukri sejak semula Darsa tidak pingsan, banyak dugaan direka orang. Bagi Wiryaji, kemenakan dan sekaligus menantu tirinya itu pasti habis riwayatnya
apabila Mukri salah menanganinya. Tetapi semuanya menjadi lain karena Mukri tidak menyimpang sedikit pun dari kepercayaan kaum penyadap ketika menolong Darsa. Atau, lebih kena adalah perkiraan lain; ketika melayang jatuh tubuh Darsa tersangga lebih dulu oleh batang-batang bambu yang tumbuh
condong sehingga kekuatan bantingan ke tanah sudah jauh berkurang. Dan hanya Eyang Mus yang berkata penuh yakin bahwa tangan Tuhan sendiri yang mampu menyelamatkan Darsa. Bila tidak, Darsa akan seperti semua penderes yang tertimpa petaka jatuh dari ketinggian pohon kelapa; meninggal atau
paling tidak cedera berat.
Pada malam yang dingin dan basah itu rumah Lasi penuh orang. Sementara Darsa diurus oleh seorang perempuan tua, Wiryaji minta saran para tetangga bagaimana menangani Darsa selanjutnya. Ada yang bilang, karena Darsa tidak cedera berat, perawatannya cukup dilakukan di rumah. Yang lain bilang, sebaiknya Darsa segera dibawa ke rumah sakit. Orang ini bilang, sering terjadi seorang penyadap jatuh tanpa cedera tetapi keadaannya tiba-tiba memburuk dan meninggal.
"Wiryaji," kata Eyang Mus. "Keputusan berada di tanganmu. Namun aku setuju Darsa dibawa ke rumah sakit. Betapapun kita harus berikhtiar sebisa-bisa kita."
Semua orang terdiam, juga Wiryaji. Lasi yang diminta ketegasannya malah menangis. Dan Darsa kembali mengerang.
"Eyang Mus, kami tak punya biaya," kata Wiryaji setelah sekian lama tak bersuara. Semua orang kembali terdiam. Eyang Mus menyandar ke belakang sehingga lincak yang didudukinya berderit. Suasana pun cepat berubah dari kecemasan menghadapi seorang kerabat yang kena musibah menjadi
kebimbangan karena tiadanya biaya untuk berobat. Dan bagi para penyadap, hal seperti itu bukan pengalaman aneh atau baru sekali mereka hadapi.
"Las," kata Wiryaji dengan suara rendah. "Kamu punya sesuatu yang bisa dijual?"
Semua mata tertuju kepada Lasi. Dan jawaban Lasi hanya gelengan kepala dan air mata yang tiba-tiba kembali mengambang.
"Bagaimana jika pohon-pohon kelapa kalian digadaikan?"
"Jangan," potong Eyang Mus. "Nanti apa yang bisa mereka makan?"
Mbok Wiryaji, emak Lasi, berjalan hilir-mudik di ruang yang sempit itu.
"Kalau sudah begini," kata Mbok Wiryaji, "apa lagi yang bisa kita lakukan kecuali datang kepada Pak Tir. Lasi selalu menjual gula kepadanya."
Semua yang hadir diam. Mereka membenarkan Mbok Wiryaji tetapi mereka juga tahu apa artinya bila Lasi meminjam uang kepada Pak Wir. Nanti Lasi tak boleh lagi menjual gulanya kepada pcdagang lain dan harga yang diterimanya selalu lebih rendah. Malangnya bagi istri seorang penyadap kepahitan ini masih lebih manis daripada membiarkan suami tak berdaya dan terus mengerang.
Wiryaji, atas nama Lasi, pergi ke rumah Pak Tir. Meski tahu Pak Tir biasa menolak meminjamkan uang pada malam hari, Wiryaji berangkat juga dengan keyakinan apa yang sedang menimpa Darsa bukan hal biasa. Sementara Wiryaji pergi, orang-orang sibuk mengurus Darsa. Ada yang menyeka tubuhnya dengan air hangat agar lumpur serta bau kencing Mukri yang membasahi tubuhnya
hilang. Darsa mengerang lebih keras ketika luka-luka di kulitnya terkena air. Beberapa lelaki mempersiapkan usungan darurat. Dua-tiga obor juga dibuat dari potongan hambu.
*****
Karangsoga adalah sebuah desa di kaki pegunungan vulkanik. Sisa-sisa kegiatan
gunung api masih tampak pada ciri desa itu berupa bukit-bukit berlereng curam, lembah-lembah atau jurang-jurang dalam yang tertutup berbagai jenis pakis dan paku-pakuan. Tanahnya yang hitam dan berhumus tebal mampu menyimpan air sehingga sungai-sungai kecil yang berbatu-batu dan parit-parit
alam gemercik sepanjang tahun. Karena banyaknya parit alam yang selalu mengalirkan air, banyak sekali titian yang menyambungkan jalan setapak di Karangsoga. Pipa-pipa bambu dibuat orang untuk menyalurkan air dari tempat tinggi ke kolam-kolam ikan, pancuran, atau sawah-sawah yang tanahnya tak pernah masam karena air selalu mengalir dan mudah dikeringkan. Bila hujan turun, air cepat terserap ke dalam tanah sehingga tak ada genangan dan sungai-sungai tetap jernih.
Kecuali di sawah dan tegalan yang merupakan bagian sempit desa Karangsoga, sinar matahari sulit mencapai tanah. Kesuburan tanah vulkanik membuat semua tetumbuhan selalu hijau dan rindang. Rumpun bambu tumbuh sangat rapat.
Pekarangan-pekarangan yang sejuk kebanyakan berbatas deretan rumpun salak.
Anehnya, pohon kelapa tidak tumbuh dengan baik. Ada orang bilang Karangsoga terlalu tinggi dari permukaan laut sehingga udaranya agak dingin, kurang cocok untuk tanaman dari keluarga palma itu. Tetapi ada pula yang bilang, Karangsoga terlalu subur untuk tanaman selain kelapa sehingga yang terakhir
itu tak berpeluang mengembangkan pelepah-pelepahnya. Di Karangsoga, pohon kelapa tumbuh dengan pelepah agak kuncup, karena tak sempat mengembang dalam bulatan penuh sehingga tak bisa menghasilkan buah yang banyak. Boleh jadi karena keadaan itu orang Karangsoga pada generasi terdahulu memilih
menyadap pohon-pohon kelapa mereka daripada menunggu hasil buahnya yang tak pernah memuaskan. Apalagi tupai yang berkembang biak dalam rumpun-rumpun bambu yang tumbuh sangat rapat menjadi hama kelapa yang tak mudah diberantas.
Dahulu, sebelum mengenal pembuatan gula kelapa, orang Karangsoga menyadap pohon aren. Nira aren adalah bahan pembuat tuak yang sudah sangat lama dikenal orang. Namun sejak dianjurkan tidak minum tuak, orang
Karangsoga mengolah nila aren menjadi gula untuk kebutuhan sendiri. Ketika gula aren mulai berubah menjadi baban perdagangan, orang mulai berpikir tentang kemungkinan pembuatan gula dari nira kelapa. Di Karangsoga penyadapan pohon kelapa berkembang sangat cepat karena, meski subur dan tak pernah kurang air, tanah datar yang bisa digarap untuk sawah dan tegalan terlalu sempit untuk jumlah penduduk yang terus meningkat.
Malam itu ada usungan dipikul dua orang keluar dari salah satu sudut Karangsoga. Iring-iringan kecil itu dipandu oleh sebuah obor minyak, diikuti oleh seorang lelaki dan dua perempuan. Satu obor lagi berada di ekor iring-
iringan. Barisan itu menyusur jalan setapak, naik tataran yang dipahatkan pada bukit cadas, turun, menyeberang titian batang pinang, lalu hilang di balik kelebatan pepohonan. Muncul lagi di jalan kecil yang berdinding tebing bukit,
melintas titian kedua, kemudian masuk membelah pekarangan yang penuh pohon salak. Asap obor mereka menggelombang warna kelabu, ekornya terburai, dan makin jauh makin samar tertelan gelap malam. Seekor kelelawar terbang mendekat dan tertangkap cahaya obor, berbalik dengan gerakan tak
terduga dan lenyap. Tetapi seekor belalang hijau meluncur langsung menabrak nyala obor. Sayap arinya yang tipis terbakar dalam sekejap dan serangga malang itu jatuh ke tanah. Pepohonan bergoyang oleh tiupan angin dan sisa hujan tadi siang berjatuhan seperti gerimis.
Lima orang yang beriringan itu hampir tak pernah berbicara. Lebih sering terdengar suara erangan Darsa yang tergeletak dalam usungan darurat yang ditutup kain. Atau sesekali isak Lasi yang berjalan tepat di belakang usungan.
Senyap. Hanya suara langkah. Hanya suara berbagai serangga atau bunyi katak hijau dari balik semak di lereng jurang. Dan desau api obor yang terayun-ayun seirama dengan langkah orang yang membawanya.
Melewati titian ketiga mereka menempuh tanjakan terakhir sebelum masuk ke lorong yang lebih lebar dan berbatu-batu. Dari rumah-rumah di tepi lorong itu muncul penghuni yang kebanyakan sudah mendengar tentang musibah yang menimpa Darsa. Mereka melipat tangan di dada, komat-kamit membaca doa
bagi keselamatan kerabat yang sedang menanggung musibah. Mereka sadar bahwa nasib serupa bisa juga menimpa suami, anak lelaki, atau saudara mereka.
Malam makin dingin ketika usungan dan pengantarnya itu memasuki jalan besar. Dari titik masuk itu mereka berbelok ke barat dan akan berjalan lima kilometer menuju poliklinik di sebuah kota kewedanan. Mereka mempercepat langkah karena ada pertanda hujan akan kembali turun. Kilat makin sering
tampak membelah langit. Ketika langit sedetik benderang terlihat awan hitam mulai menggantung. Lasi mengisak karena mendengar dari jauh suara burung hantu. Orang Karangsoga sering menghubungkan suara burung itu dengan kematian. Untung, pada saat yang sama terdengar Darsa mengerang. Jadi bagaimana juga keadaannya Darsa masih hidup. Dan Lasi melangkah lebih cepat mengikuti iring-iringan yang sedang berkejaran dengan turunnya hujan, berkejaran dengan keselamatan Darsa.
*****
Bagi siapa saja di Karangsoga berita tentang orang dirawat karena jatuh dari pohon kelapa sungguh bukan hal luar biasa. Sudah puluhan penderes mengalami nasib yang jauh lebih buruk daripada musibah yang menimpa Darsa dan kebanyakan mereka meninggal dunia. Si Itu patah leher ketika jatuh dan arit yang terselip di pinggang langsung membelah perut. Si Ini jatuh terduduk dan menghunjam tepat pada tonggak bambu sehingga diperlukan tenaga beberapa orang untuk menarik tubuhnya yang sudah menjadi mayat. Si Pulan bahkan tersambar geledek ketika masih duduk di atas pelepah kelapa dan mayatnya terlempar jatuh ke tengah rumpun pandan. Mereka, orang-orang Karangsoga, sudah terbiasa dengan peristiwa seperti itu sehingga mereka mudah melupakannya.
Namun tidak demikian halnya ketika mereka mendengar malapetaka semacam menimpa Darsa. Orang-orang Karangsoga membicarakannya di mana-mana dengan penuh minat, penuh rasa ingin tahu. Dan hal ini terjadi pasti bukan karena Darsa terlalu penting bagi mereka melainkan karena istrinya, Lasi! Lasi akan menjadi janda apabila Darsa meninggal. Orang banyak mengatakan,
Karangsoga akan hangat kembali oleh bisik-bisik, celoteh, dan gunjingan tentang Lasi seperti ketika dia masih gadis. Lasi akan kembali menjadi bahan perbincangan, baik oleh lelaki maupun perempuan. Bahkan orang juga menduga cerita tentang asal-usul Lasi dan perkosaan yang pernah dialami emaknya akan merebak lagi. Atau tentang ayah Lasi yang menyebabkan istri Darsa itu memiliki penampilan sangat spesifik, tak ada duanya di Karangsoga.
Karangsoga, 1961, jam satu siang. Bel di sekolah desa itu berdering. Terdengar ramai para murid memberi salam bersama kepada guru. Sepuluhan anak lelaki dan perempuan keluar dari ruang kelas enam. Lepas dari pintu kelas mereka bersicepat menghambur ke halaman dan langsung diterpa terik matahari. Anak-anak lelaki terus berlari meninggalkan sekolah, melesat seperti anak-anak kambing dibukakan kandang. Tetapi tiga murid perempuan berjalan biasa sambil bersenda gurau. Ketiganya berambut ekor kuda dan bertelanjang kaki. Buku tulis dan kayu penggaris ada pada tangan masing-masing.
Keluar dari halaman sekolah mereka melangkah menyusur jalan kampung yang
berbatu-batu, menaiki tanjakan terjal, turun lagi, lalu masuk lorong di bawah rimbun pepohonan dan rumpun bambu. Pada sebuah simpang tiga, seorang di antara ketiga gadis kecil itu memisahkan diri. Lasi dan seorang temannya meneruskan perjalanan. Namun tak jauh dari simpang tiga itu teman Lasi yang
terakhir membelok ke halaman rumahnya. Sebelum berpisah, teman ini mencubit pipi Lasi dengan nakal. "Pantas, Pak Guru suka sama kamu, karena kamu cantik!" Teman itu kemudian lari. Lasi hanya meringis dan mengemyitkan alis. "Betul? Aku cantik?"
Kini Lasi tak berteman. Berjalan seorang diri, Lasi mempercepat langkah karena ingin segera sampai ke rumah. Ketika melintas titian batang pinang pun Lasi tidak memperlambat langkahnya. Tetapi Lasi mendadak berhenti sebelum kakinya menginjak titian yang kedua. Di atas titian yang mclintas kali kecil itu Lasi biasa berdiri berlama-lama menatap ke bawah. Karena air sangat jernih, Lasi dapat melihat kepiting-kepiting batu yang merayap-rayap di dasar parit. Binatang berkaki delapan itu senang berkumpul di sana, boleh jadi karena ada anak suka berak di titian. Karena terbiasa dengan tinja yang jatuh, kepiting-kepiting itu segera muncul dari tempat persembunyian bila ada benda dilempar ke dalam air.
Lasi menjatuhkan sebutir tanah. Seperti yang ia harapkan, serempak muncul empat atau lima kepiting besar dan kecil. Dan Lasi sangat senang kepada salah satu di antara binatang air itu. Kepiting kesukaan Lasi bukan yang paling besar, tetapi ia punya tangan penjepit sangat kukuh dan hampir sama besar dengan
ukuran tubuh binatang itu. Semua kepiting bergerak menuju benda yang dijatuhkan Lasi namun dengan gerak yang perkasa Si Jepit Kukuh mengusir yang lain. Lasi meremas-remaskan jarinya dan tanpa disadari mulutnya bergumam, "Tangkap dan jepit sampai remuk!"
Tak ada yang tertangkap, tak ada juga yang terjepit sampai remuk. Tetapi Lasi puas dan kepiting-kepiting itu kembali bersembunyi. Lasi ingin mengulang pertunjukan yang sama. Tetapi ia mengangkat muka karena mendengar suara langkah dari seberang titian. Empat anak lelaki sebaya cengar-cengir, bersipongah. Tiga di antara mereka adalah teman sekelas Lasi sendiri dan yang paling kecil dan kelihatan sebagai anak bawang adalah Kanjat, anak Pak Tir. Ketiga teman sekelas itu biasa menggoda Lasi, baik di dalam kelas apalagi di luarnya. Kini ketiganya cengir-cengir lagi dan Lasi menatap mereka dengan mata membulat penuh. Pipinya serta-merta merona. Ada ketegangan merentang titian pinang sebatang. Kanjat yang kelihatan hanya ikut-ikutan,
memandang silih berganti dengan wajah cemas. Tetapi ketiga temannya terus cengar-cengir dan mulai mengulang kebiasaan mereka menggoda Lasi.
"Lasi-pang, si Lasi anak Jepang," ujar yang satu sambil memonyongkan mulut dan menuding wajah Lasi. Seorang lagi menjulurkan lidah.
"Emakmu diperkosa orang Jepang. Maka pantas, matamu kaput seperti Jepang," ejek yang kedua.
"Alismu seperti Cina. Ya, kamu setengah Cina."
"Aku Lasiyah, bukan Lasi-pang," teriak Lasi membela diri.
"Lasi-pang."
"Lasiyah!"
"Lasi-pang! Lasi-pang! Lasi-pang! Si Lasi anak Jepang!"
"Emakmu diperkosa Jepang. Emakmu diperkosa!"
Dan Lasi mencabut kayu penggaris dari ketiaknya, lari menyeberang titian dan siap melampiaskan kemarahan kepada para penggoda. Di bawah kesadarannya Lasi merasa jadi kepiting batu jantan dengan tangan penjepit kukuh perkasa. Ia takkan segan menggunting hingga putus leher ketiga anik lelaki itu. Tetapi yang ada bukan tangan penjepit melainkan kayu penggaris. Dua penggoda lari dan seorang lagi tetap tinggal, bahkan membiarkan punggungnya dipukul Lasi dengan kayu penggaris. Dia hanya meringis sambil tertawa. Malah Lasi yang
menangis.
Puas karena yang mereka goda sudah menangis, ketiga anak lelaki itu lari menghilang. Tetapi Kanjat tak bergerak dari tempatnya. Matanya yang bulat dan jernih terus memandang Lasi yang masih berurai air mata. Lama-lama mata Kanjat ikut basah.
"Las, aku tidak ikut nakal," ujar Kanjat yang tubuhnya lebih kecil karena usianya dua tahun lebih muda. "Kamu tidak marah padaku, bukan?"
Lasi mengangguk dan berusaha tersenyum. Tanpa ucapan apa pun Lasi sudah mengerti Kanjat tidak ikut nakal. Bahkan di mata Lasi, Kanjat adalah anak kecil sangat lucu; matanya bulat dan tajam, tubuhnya gemuk dan bersih. Baju dan celananya bagus, paling bagus di antara pakaain yang dikenakan oleh semua
anak Karangsoga. Pak Tir, orangtua Kanjat, adalah pedagang pengumpul gula kelapa dan dialah orang terkaya di Karangsoga.
Masih dengan mata basah, Lasi meneruskan perjalanan. Kanjat mengikutinya dari belakang dan baru mengambil jalan simpang setelah Lasi sekali lagi mencoba tersenyum kepadanya. Lasi berjalan menunduk. Langkahnya menimbulkan bunyi sampah daun bambu yang terinjak. Bayang-bayang ranting
bambu seperti berjalan dan menyapu tubuhnya. Menyeberang titian terakhir, naik tatar yang dipahat pada tanjakan batu cadas, lalu simpailah Lasi ke sebuah rumah bambu dengan pekarangan bertepi rumpun-rumpun salak. Lasi langsung masuk kamar dan tidak keluar lagi. Panggilan Mbok Wiryaji, emaknya, yang menyuruh Lasi makan, juga diabaikan.
Dalam kamarnya Lasi duduk dengan pandangan mata kosong. Lasi masih tercekam oleh pengalaman digoda anak-anak sebaya. Meskipun godaan anak-anak nakal hampir terjadi setiap hari, Lasi tak pernah mudah melupakannya. Bahkan ada pertanyaan yang terus mengembang dalam hati; mengapa anak-
anak perempuan lain tidak mengalami hal yang sama? Mengapa namanya selalu dilencengkan menjadi Lasi-pang? Dan apa itu orang Jepang? Itu yang paling membingungkan Lasi; apa sebenarnya arti diperkosa? Emaknya diperkosa? Juga, mengapa banyak orang melihat dengan tatapan mata yang aneh seakan pada dirinya ada kelainan? Apa karena dia anak seorang perempuan yang pernah
diperkosa?
Pertanyaan panjang itu membaur dan berkembang sejak Lasi masih bocah. Selentingan lain yang samar-samar pernah didengarnya juga tak kurang
meresahkannya; bahwa Wiryaji adalah ayah tiri bagi Lasi. Bahwa ayah kandungnya adalah orang Jepang yang hilang sejak lama, sejak Lasi masih dalam kandungan. Selentingan lain lagi menyebut tentang perkosaan atas diri
emaknya dan dirinya adalah anak haram buah perkosaan itu. Tetapi apa itu perkosaan? Dan hasrat sangat kuat untuk mengetahui cerita mana yang benar selalu membuat hati Lasi panas. Dalam keadaan demikian hanya satu keinginan Lasi; menjadi kepiting jantan dengan jepitan perkasa untuk menggunting leher
semua orang Karangsoga, juga leher emaknya kerena perempuan itu belum pernah menjelaskan banyak hal yang selalu meresahkan hatinya.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan Mbok Wiryaji masuk. Wajah perempuan itu langsung suram ketika melihat Lasi duduk termenung dengan wajah tegang dan mata berkaca-kaca. Bukan baru sekali Mbok Wiryaji mendapati anaknya dalam keadaan seperti itu. Namun mendung di wajah Lasi kali ini sungguh gelap. Emak dan anak saling tatap dan Mbok Wiryaji melihat sinar kemarahan dan kekecewaan terpancar dari mata Lasi. Mbok Wiryaji tertegun. Ingin
dikatakannva sesuatu kepada Lasi namun ucapan yang hendak keluar teredam di tenggorokan. Ia hanya menelan ludah dan berbalik hendak keluar. Tetapi tanpa disangka Lasi memanggilnya. Anak dan emak kembali bersitatap.
Mbok Wiryaji menunggu apa yang hendak dikatakan anaknya. Namun Lasi hanya menatap lalu menunduk dan mulai terisak. Napas yang pendek-pendek menandakan ada gejolak yang tertahan dalam dada Lasi.
"Anak-anak mengganggumu lagi?"
"Selalu!" jawab Lasi tajam. Sinar kemarahan masih terpancar dari matanya. Terasa ada tuntutan yang runcing dan menusuk diajukan oleh Lasi; mengapa dia harus menghadapi ejekan dan celoteh orang setiap hari. Dan Mbok Wiryaji seakan mendengar anaknya berteriak, "Kalau bukan karena engkau, takkan aku mengalami semua kesusahan ini!"
Mbok Wiryaji mendesah dan melipat tangan di dadanya. Perempuan itu paham dan menghayati sepenuhnya kesusahan yang selalu mengusik hati Lasi. Mbok Wiryaji juga sadar, amat sadar, kesusahan Lasi adalah perpanjangan kesusahan Mbok Wiryaji sendiri; kesusahan yang sudah puluhan tahun mengeram dalam jiwanya.
Sesungguhnya Mbok Wiryaji sudah bertekad menanggung sendiri kesusahan itu. Tak perlu orang lain, apalagi Lasi, ikut menderita. Namun orang Karangsoga gemar bersigunjing sehingga Lasi mendengar rahasia yang ingin
disembunyikannya. Bahkan cerita yang sampai ke telinga Lasi ditambah atau dikurangi, atau sama sekali diselewengkan untuk memenuhi kepuasan si penutur. Mbok Wiryaji juga tidak habis pikir mengapa orang Karangsoga terus
mengungkit cerita memalukan yang sebenarnya sudah lama berlalu. Atau, inikah yang dimaksud oleh kata-kata orang tua bahwa akan datang suatu masa ketika sedulur ilang sihe, persaudaraan tanpa kasih? "Apakah mereka tak ingin aku dan anakku hidup tenteram? Atau karena Lasi cantik dan sesungguhnya mereka iri hati?"
Mbok Wiryaji bergerak perlahan dan duduk di sebelah Lasi. Dengan mata sayu dipandangnya anaknya yang tetap membisu. Dalam hati Mbok Wiryaji bangga akan anaknya; kulitnya bersih dengan rambut hitam lurus yang sangat lebat dan badannya lebih besar daripada anak-anak sebayanya. Tungkainya lurus dan
berisi. Dan siapa saja akan percaya kelak Lasi akan tumbuh jadi gadis cantik. "Lalu mengapa anakku harus menjadi bahan olokan orang setiap hari?"
Ketika Lasi melirik, Mbok Wiryaji tersentak, karena merasa ada tusukan ke arah jantungnya. Ya. Mbok Wiryaji tahu dengan cara itu anaknya minta penjelasan banyak hal yang menyebabkan anak-anak dan juga orang-orang dewasa sering mengejeknya. Ya. Dan Mbok Wiryaji merasa tak perlu lagi
merahasiakan sesuatu. Ia ingin membuka semuanya. Mbok Wiryaji siap membuka mulut tetapi tiba-tiba ada yang mengganjal niatnya. Bukankah Lasi baru tiga belas tahun? Pantaskah anak seusia itu mendengar pengakuan tentang sesuatu yang memalukan seperti tindak rudapaksa berahi? Mbok Wiryaji surut. Ada pikiran baru yang mencegahnya berterus terang karena ia merasa saatnya
belum tiba. Mungkin kelak, bila Lasi sudah berumah tangga, semua bisa dibuka untuknya.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar