Minggu, 25 April 2021

BEKISAR MERAH BAB 06

BAGIAN KEDUA 03


Pardi keluar dari ruang dalam dan sudah berganti baju. Lasi heran lagi. Tetapi Pardi hanya menanggapinya dengan senyum, lalu minta dilayani makan. Lagi-lagi perempuan muda itu meladeninya seperti seorang istri. Lasi teringat pada istri Pardi di Karangsoga. Kalau begitu, pikir Lasi, benar kata orang, wis sakjege wong lanang gedhe gorohe, memang demikian adanya, semua lelaki tukang ngibul. Dan perempuan yang berambut keriting dan beranting berbentuk cincin itu melirik Lasi. Lasi tersinggung dan hatinya berkata bahwa perempuan itu cemburu terhadapnya. Jantung Lasi berdebar. Lasi ingin sekali menerangkan 
bahwa dirinya adalah perempuan somahan yang punya harga diri dan tidak ingin merebut lelaki mana pun. Dirinya sekadar menumpang truk untuk lari dan kebetulan Pardi yang menjadi sopir. Tetapi kata-kata yang sudah hampir tumpah itu hanya berputar-putar kemudian bergaung dalam dada. Pada 
kenyataannya Lasi hanya bisa menelan ludah dan menelan ludah lagi. 
 
 Setelah membisikkan sesuatu kepada pacarnya, Pardi mengajak Sapon dan Lasi 
berangkat. Jam dinding tua di warung itu menunjuk angka delapan. Udara malam benar-benar dingin. Mesin truk kembali menderum dan perjalanan sepanjang malam yang akan menempuh jarak empat ratus kilometer 
dilanjutkan. Pardi terus-menerus merokok dan setiap kali korek api menyala, Sapon melirik ke kanan. Wajah Lasi kelihatan lebih tenang bahkan pada kesempatan melirik kali ketiga, Sapon melihat mata Lasi terpejam. Jiwa yang 
letih setelah diguncang keras oleh kesontoloyoan suami, perut yang terisi penuh, serta ayunan pegas jok yang didudukinya membuat Lasi cepat ngantuk. Lasi benar-benar tertidur, kepalanya mulai terkulai ke kiri dan menindih pundak Sapon. Napasnya terdengar lembut dan teratur. 
 
 "Mas Pardi," kata Sapon pelan. 
 
 "Apa?" 
 
 "Lasi tidur." 
 
 "Biarlah dia tidur. Apa aku harus berhenti?"

"Bukan begitu. Aku kasihan." 
 
 "Bukan hanya kamu. Aku juga. Malah aku masih bingung, apa sebenarnya yang ingin dilakukan Lasi. Minggat dan tak balik lagi ke Karangsoga atau bagaimana? Atau besok Lasi ikut pulang bersama kita?" 
 
 "Kukira begitu." 
 
 "Bila ternyata tidak?" 
 
 "Aku tidak berpikir apakah Lasi akan kembali atau tidak." 
 
 "Lalu?" 
 
 "Yang kupikir, dalam truk ini sekarang ada perempuan cantik, lebih cantik dari semua pacarmu, Mas Pardi. Apa kamu tidak..." 
 
 "Hus! Monyet, kamu. Jangan macam-macam. Kami para sopir memang rata-rata bajingan. Tetapi kami punya aturan. Kami pantang main-main dengan perempuan bersuami. Itu pemali, tabu besar jika kami tidak ingin mampus 
dalam perjalanan." 
 
 "Ya, Mas. Namun aku juga sedang berpikir bagaimana nanti bila Lasi benar-benar jadi janda. Karangsoga bakal ramai." 
 
 "Ramai atau tidak, akulah yang akan pertama melamarnya. Tak percaya?"

"Lasi tidak akan mau karena dia tahu kamu sudah punya istri dan pacarmu sepanjang jalan. Dia akan memilih aku yang masih perjaka." 
 
 "Monyet kamu. Demi Lasi aku mau kehilangan apa saja. Tahu?" 
 
 Tawa hampir pecah apabila Sapon dan Pardi tidak ingat di dekat mereka Lasi sedang nyenyak tidur. Namun demikian tak urung Lasi terusik. Ia menggeliat sejenak dan kepalanya lebih menyandar ke bahu Sapon, lalu pulas lagi. 
 
 Jam sebelas malam truk pengangkut gula itu masuk Tegal dan berhenti mengisi bahan bakar. Pardi menyuruh Sapon naik ke bak truk dan tidur di bawah terpal karena sopir itu ingin memberikan tempat yang lebih longgar kepada Lasi. Dengan melipat kedua kakinya Lasi dapat tidur lebih nyenyak karena bisa merebahkan diri di samping Pardi. Lasi lelap sepanjang jalan. Dia tidak tahu bahwa truk yang ditumpanginya berhenti lagi di Indramayu dan Pamanukan. Di Indramayu Pardi bahkan tidur dua jam dalam kamar sebuah warung makan. 
Sapon hafal di warung ini pun Pardi punya pacar. 
 
 Menjelang fajar truk sampai ke pinggiran kota Jakarta. Pardi menghentikan kendaraannya, lagi-lagi di sebuah warung makan yang masih benderang oleh dua lampu pompa. Pardi membangunkan Sapon untuk berjaga karena dia sendiri akan beristirahat sampai jam delapan pagi saat tauke siap menerima gula yang dibawanya. Segelas kopi dihidangkan oleh seorang perempuan dengan rokok di tangan. Dandanannya yang warna-warni seperti melawan suasana serba lembut ketika hari hampir pagi. Lasi masih lelap dalam kabin truk, dan Pardi merebahkan diri di atas dipan kayu di emper warung. Nyenyak, meski segelas kopi panas terletak hanya beberapa jari dari kepalanya. 
 
 Lasi terbangun oleh deru lalu lintas yang makin ramai. Ketika bangkit dan menengok ke luar Lasi terkejut karena matahari sudah muncul. Linglung. Lasi tak tahu di mana dia berada sekarang. Dan mana Pardi serta Sapon? Dalam kebimbangannya, untung, Lasi dapat menemukan Pardi masih tergeletak di 
emper warung. Lasi ingin turun dari kabin truk tetapi tak dapat membuka pintu.

"Sudah bangun, Las?" Sapon tiba-tiba muncul dari samping truk. 
 
 "Di mana kita sekarang berada, Pon?" 
 
 "Ya ini, Jakarta." 
 
 Lasi terpana sejenak dan turun setelah Sapon membukakan pintu. 
 
 "Aku ingin ke belakang. Kamu tahu ada sumur?" 
 
 "Mari kuantar." 
 
 Sapon membawa Lasi masuk ke warung makan yang cukup besar itu dan langsung ke bagian belakang. Lampu pompa belum dipadamkan, padahal hari sudah benderang. Lasi melihat tiga perempuan tidur berdempetan di sebuah bangku panjang. Sisa rias mereka masih tampak jelas. Warna pakaian mereka mencolok. Dua perempuan lain sedang duduk bercakap-cakap sambil merokok. Keduanya mengangkat muka ketika melihat Lasi dan Sapon masuk. Dan seorang 
di antaranya menyambar tangan Sapon setelah Lasi menghilang di balik pintu kamar mandi. 
 
 "Baru?" tanya perempuan yang beranting besar. 
 
 "Bawaan Pardi, ya? Pardi membawa barang baru?" susul yang berbetis kering.

"Kalian tanya apa, sih?" dengus Sapon. 
 
 "Hus, aku cuma mau tanya, kalian bawa barang baru?" 
 
 "Jangan seenaknya. Dia tetanggaku di kampung, perempuan baik-baik dan punya suami." 
 
 "Aku tidak tanya dia bersuami atau tidak," ujar si Anting Besar. "Ini, teman kita ini, juga punya suami," lanjutnya sambil menuding si Betis Kering. "Yang kutanyakan, dia barang baru?" 
 
 "Bukan!" 
 
 "Kalau bukan, mengapa ikut kalian?" Si Anting Besar dan si Betis Kering tertawa bersama. 
 
 Sapon tak berniat berbicara lagi. Lasi keluar dan terus bergabung dengan Pardi yang sudah bangun dan sedang bercakap-cakap dengan Bu Koneng, pemilik warung. Perempuan bersanggul besar ini menatap Lasi lekat-lekat, menyelidik seperti pedagang ternak mengamati seekor sapi yang montok. 
 
 "Duduklah, Las," ujar Pardi setelah memperkenalkan Lasi kepada Bu Koneng. 
"Sebentar lagi aku dan Sapon berangkat untuk membongkar muatan. Kamu tinggal di sini dulu bersama Bu Koneng. Mandi dan beristirahatlah. Siang atau sore nanti kami kembali." 
 
 Wajah Lasi menyiratkan kebimbangan. Namun akhirnya Lasi mengangguk pelan.

"Ya, tak pantas seorang perempuan ikut mengantar barang sampai ke gudang," 
sambung Bu Koneng ramah. "Tinggallah sebentar bersama saya. Di sini banyak teman, kok. Ah, nanti dulu, siapa namamu tadi?" 
 
 "Lasi, Bu." 
 
 "Lasiyah," sela Pardi. 
 
 Bu Koneng mengangguk. Dan kembali menatap Lasi. 
 
 "Maaf, ya. Aku mau tanya, apakah ayah atau ibumu Cina?" 
 
 Lasi tertunduk malu. Dia menoleh ke Pardi. Sopir itu mengerti. Maka dialah yang kemudian menjawab pertanyaan Bu Koneng dengan keterangan yang agak panjang. Dikatakannya juga Lasi sedang punya masalah sehingga perlu menghibur diri barang sebentar ke kota. 
 
 Selama mendengarkan penjelasan Pardi, Bu Koneng terus menatap Lasi dengan mata berkilat dan penuh minat. 
 
 "Oh, jadi begitu?" tanya Bu Koneng kepada Lasi. 
 
 Lasi mengangguk lagi dan tersenyum tawar. Dan tiba-tiba hatinya terasa buntu karena Lasi sadar bahwa dirinya sudah keluar jauh dari Karangsoga dan di tangannya tak ada uang sedikit pun. Bahkan ia juga tidak membawa pakaian pengganti barang selembar. Lasi bahkan baru sepenuhnya sadar bahwa dia tak 
punya jawaban untuk dirinya sendiri, "Mau apa sebenarnya aku berada di tempat yang ramai dan asing ini?" Mata Lasi berkaca-kaca.

Sebelum naik ke belakang kemudi Pardi mendekati Lasi dan mengulurkan tangan dengan beberapa lembar uang. Tetapi Lasi terpaku. Lasi belum pernah menerima uang kecuali dari suami atau dari penjualan gula. Bagi Lasi, berat menerima uang dari orang lain karena dia tahu uang tak pernah punya arti lain kecuali alat tukar-menukar. Siapa menerima uang harus mau kehilangan sesuatu sebagai penukarnya. 
 
 "Untuk sekadar pegangan, Las. Barangkali kamu membutuhkannya untuk beli minuman selama aku pergi," kata Pardi. 
 
 "Terima kasih, Mas Pardi. Aku memang tidak memegang uang. Dan uang ini kuterima sebagai pinjaman. Kapan-kapan aku akan mengembalikannya kepadamu." 
 
 "Jangan begitu, Las. Kita sama-sama di rantau, jauh dari kampung. Kita harus saling tolong." 
 
 "Kamu betul, Mas Pardi. Tetapi aku tak ingin menjadi beban. Jadi uang ini tetap kuanggap sebagai pinjaman." 
 
 "Terserahlah, kalau kamu ngotot. Yang pasti aku tidak merasa punya urusan utang-piutang dengan kamu." 
 
 Truk dari Karangsoga bergerak lagi setelah berhenti selama lima jam di depan warung Bu Koneng. Lasi memandang kepergian truk yang telah membawanya kabur sangat jauh dari rumah. Keterasingan tiba-tiba menggigit dirinya setelah truk bersama sopir dan kernetnya lenyap dari pandangan mata. Kosong dan buntu. Lasi berbalik dan ingin duduk di atas dipan kayu di emper warung. Bu 
Koneng masih di sana.

"Pardi bilang kamu tak membawa pakaian pengganti?" 
 
 Lasi mengangguk dan tersipu. 
 
 "Kalau begitu pakailah ini. Tak apa-apa buat sementara. Tetapi apa tidak baik kamu mandi dulu?" 
 
 Lasi mengangguk lagi. Bu Koneng memanggil seseorang untuk membawakan handuk. Muncul si Betis Kering dengan barang yang diminta induk semangnya dan memberikannya kepada Lasi dengan keramahan yang kelihatan dipaksakan. 
 
 Selesai mandi Lasi keluar dengan kain sarung dan kebaya biru terang. Kesan lusuh berubah menjadi segar. Kulitnya menjadi lebih terang karena warna baju yang dipakainya. Rambut disisir dan dikonde seadanya, asal rapi. Bu Koneng mengajaknya makan pagi, bukan di ruang warung melainkan di ruang dalam. Lasi tak enak karena merasa terlalu diperhatikan, tetapi tak mampu menampik kebaikan Bu Koneng. Si Betis Kering dan si Anting Besar selalu mencuri-curi pandang. Tiga perempuan muda yang tergolek berimpitan pun sudah lama terbangun. Mereka juga selalu menatap Lasi dengan pandangan mata seorang pesaing. 
 
 Lasi dapat mengira-ngira siapa si Anting Besar, si Betis Kering, serta ketiga temannya; tentu perempuan jajanan semacam pacar Pardi yang ada pada setiap warung yang disinggahinya. Sepanjang pengetahuannya perempuan seperti itu tak ada di Karangsoga. Tetapi Lasi sering mendengar ceritanya dan 
kini Lasi melihat sendiri sosok mereka, bahkan berada di antara mereka. "Dan, apakah Bu Koneng seperti sering dibilang orang, adalah mucikari dan menyamar sebagai 
pengusaha warung makan?" 
 
 "Las, Pardi bilang kamu sedang punya masalah?" tanya Bu Koneng tanpa melihat Lasi. Samar, Lasi mengangguk.

"Katakan, soal uang, soal mertua, atau soal suami?" 
 
 "Suami, Bu," jawab Lasi lirih. 
 
 "Katakan lagi, suami pelit, suami kelewat doyan, atau suami menyeleweng?" 
 
 "Nyeleweng." 
 
 Bu Koneng mengangguk-angguk dan terlihat tak ada kejutan tersirat pada wajahnya. 
 
 "Ya. Itu biasa. Tetapi suami semacam itu harus diberi pelajaran. Dia akan tahu rasa apabila kamu membalasnya dengan cara menyeleweng pula." 
 
 Lasi mengangkat muka dan membelalakkan mata. 
 
 "Oh, tidak. Maksudku, banyak istri membalas perlakuan suami dengan perbuatan yang sama. Kamu tidak begitu, bukan?" 
 
 "Bu Koneng, saya hanya seorang perempuan dusun. Melihat suami bertindak begitu, paling saya bisa purik seperti ini." 
 
 "Hanya purik? Tidak minta cerai sekalian?"

"Entahlah, Bu. Tetapi di kampungku sebutan janda tak enak disandang. Terlalu banyak mata menyorot, terlalu banyak telinga nguping. Berjalan selangkah atau berucap sepatah serba dinilai orang." 
 
 "Ya, betul. Tentang urusan seperti itu aku lebih berpengalaman. Tetapi lalu apa rencanamu berikut?" 
 
 "Saya tidak tahu." jawab Lasi sambil menggeleng. 
 
 "Tetapi aku tahu." 
 
 Lasi mengangkat muka, ingin mengerti apa yang dimaksud Bu Koneng. 
 
 "Tinggallah bersamaku di sini barang satu atau dua minggu sampai hatimu dingin. Kemudian kamu lihat nanti apa yang sebaiknya kamu lakukan." 
 
 "Merepotkan Bu Koneng?" kata Lasi setelah agak lama terdiam. 
 
 "Tak apa-apa, kok. Aku sering disinggahi istri-istri sopir dan mereka biasa menginap di sini." 
 
 "Istri-istri sopir?" 
 
 "Ya. Istri sebenarnya atau pacar, maksudku. Dan kamu lihat sendiri di warungku ini banyak perempuan."

Lasi mengerutkan kening. Hatinya risi. Mengapa Bu Koneng menyebut-nyebut 
perempuan yang ditampungnya. "Ingin menyamakan aku dengan si Anting Besar atau si Betis Kering?" Lasi menelan ludah. Bu Koneng menangkap perasaan Lasi yang tersinggung. 
 
 "Di warungku memang banyak perempuan. Yah, kamu mengerti apa yang kira-kira mereka lakukan. Dan kamu, Las, tak perlu ikut-ikut mereka. Aku tahu kamu bersih dan tidak seperti mereka. Kamu bisa menjadi penjaga warung. Atau kalau mau, mengurus pekerjaan dapur." 
 
 "Entahlah, Bu. Saya masih bimbang. Yang jelas saya malu bila harus menjaga warung. Tetapi pekerjaan dapur, barangkali saya bisa membantu ibu." 
 
 Bu Koneng tersenyum. 
 
 "Andaikan kamu mau bekerja di dapur, Las, bukan maksudku menjadikan kamu pembantu di sini. Sekadar memberi kamu peluang untuk melupakan sakit hatimu. Aku sangat kasihan kepadamu. Kamu mengerti?" 
 
 Lasi mengangguk. 
 
 Seorang teman yang mau mengerti dan bisa menjadi bejana tempat menuangkan perasaan telah ditemukan Lasi. Dengan anggukan kepala dan senyum penuh pengertian Bu Koneng, dengan cara yang sangat diperhitungkan, 
menjadikan dirinya sandaran bagi hati Lasi yang sedang kena badai. Lasi mendapat seorang sahabat ketika dirinya merasa tercabut dari bumi dan terpencil dari dunianya. Ketika harus mengembara di tengah padang kerontang yang sangat terik, seseorang memberinya payung dan segayung air sejuk. Hati Lasi tertambat. 
 
 Tertambat, maka Lasi menurut ketika Bu Koneng mengajaknya ikut ke pasar. Naik becak, Lasi dan Bu Koneng menyusur jalan yang riuh dan semrawut, sangat berbeda dengan lorong-lorong kampung yang lengang di Karangsoga. Bu Koneng mengerti Lasi gagap karena tak biasa dengan keadaan seramai itu tetapi Bu Koneng pura-pura tidak tahu. Turun dari becak Bu Koneng membimbing Lasi menyeberang jalan. Lasi gagap lagi, kali ini oleh keadaan pasar yang kumuh, sumpek, dan luar biasa becek. Lasi yang tak asing dengan lumpur sawah, entah 
mengapa, merasa jijik dengan lumpur pasar. Hanya karena tak ingin menyinggung hati Bu Koneng, Lasi ikut ke mana saja induk semangnya yang baru itu pergi. Dengan keranjang besar Lasi menampung sayuran, tahu, ikan, atau telur yang sudah dibayar Bu Koneng. 
 
 Jam dua siang ketika Lasi sedang bercakap-cakap dengan Bu Koneng di emper depan, Sapon datang seorang diri. Ada muatan untuk dibawa sampai ke Tegal dan Pardi sedang mengaturnya, jawab Sapon ketika Lasi bertanya. 
 
 "Las, aku disuruh Mas Pardi memberitahu kamu agar segera bersiap. Sebentar lagi Mas Pardi datang dan kita langsung berangkat." 
 
 "Berangkat ke mana?" potong Bu Koneng. 
 
 "Ke mana? Ke mana lagi kalau bukan pulang ke rumah." 
 
 "Ya, aku tahu. Tetapi Lasi tidak ikut kalian. Lasi akan tinggal di sini sampai hatinya tenang. Bila tak percaya, tanyalah sendiri." 
 
 Lasi ternganga. Pandangannya berpindah-pindah dari mata Sapon ke mata Bu Koneng. Kelihatan mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tetapi suaranya tak kunjung terdengar. 
 
 "Jangan, Las. Kamu jangan merepotkan kami. Kamu harus pulang. Bila tidak, aku dan Mas Pardi bisa mendapat kesulitan. Kami bisa menjadi sasaran segala macam pertanyaan."

"Pon, kamu jangan menekan Lasi yang sedang sakit hati. Biarlah dia pada pilihannya, tinggal bersama kami sampai hatinya kembali tenang." 
 
 "Sungguh, Las!" kata Sapon tak peduli. "Kamu harus pulang. Soal nanti kamu kembali kemari, itu urusanmu. Tetapi kali ini, karena kamu berangkat bersama kami, kamu harus pulang bersama kami pula. Kamu bisa marah kepada suami; tetapi emak? Dan kamu pergi tanpa memberitahu siapa pun, bukan?" 
 
 Lasi tergagap. Dalam kebimbangannya sekilas Lasi melihat rumahnya, melihat tiap jengkal bagian rumah kecil yang sudah tiga tahun dihuninya. Dadanya bergetar ketika di matanya muncul bilik tidur dengan balai-balai bambu beralas tikar pandan yang sudah mengkilat. Lasi juga teringat setiap potong jalan setapak yang selalu dilewatinya bila ia pergi menjual gula ke rumah Pak Tir. Titian pinang sebatang. Suara pongkor saling beradu. Bunyi letupan tengguli panas yang sedang diaduk. Dan malam hari yang lengang dengan suara gambang yang ditabuh Eyang Mus. Juga emaknya. Lasi sadar dirinya adalah anak tunggal. Emak pasti merasa sangat kehilangan dirinya. 
 
 Lasi hampir mengiyakan ajakan Sapon. Tetapi urung karena tiba-tiba di matanya muncul Bunek, Sipah, lalu Darsa, lalu semua orang Karangsoga yang ramai-ramai mencibirinya. Telinganya berdenging karena Lasi mendengar orang sekampung menggunjingkannya. Lasi malah mendengar tangis bayi yang masih 
berada dalam perut Sipah. Ada kembang api pecah dalam kelopak matanya. Ada suara denting yang kering dan menusuk telinga. Lasi megap-megap. Beberapa kali ia mencoba menelan ludah yang terasa amat pekat. 
 
 "Las, kamu jangan linglung," ujar Sapon memecah kebisuan. "Kamu mau pulang, bukan?" 
 
 Lasi terperanjat. Entah sadar atau tidak Lasi menoleh kepada Bu Koneng. Yang ditoleh tersenyum dan berusaha menampilkan wajah yang teduh.

"Begini," kata Bu Koneng tenang. Kamu biasa mengangkut gula kemari seminggu sekali, bukan?" 
 
 Sapon mengangguk. 
 
 "Kali ini tinggalkan Lasi bersamaku di sini. Minggu depan kamu boleh membawa Lasi pulang. Itu pun kalau Lasi mau. Kalau tidak, ya jangan memaksa. Begitu, Las?" 
 
 "Ya," kata Lasi dengan suara serak. "Sekarang aku ingat, minggu depan kalian akan mengangkut gula lagi. Jadi aku bisa pulang seminggu lagi bila aku mau." 
 
 Sapon diam dan tertunduk. Bimbang, tak ada lagi yang bisa dikatakannya untuk mendesak Lasi pulang. 
 
 "Percayakan Lasi kepadaku," ujar Bu Koneng. 
 
 Sapon menatap Bu Koneng dengan alis berkerut. 
 
 "Ya! Aku mengerti apa yang kamu khawatirkan akan terjadi terhadap Lasi. Tidak. Kalian jangan cemas. Aku menyadari Lasi tidak sama dengan perempuan-perempuan yang kutampung di sini. Jadi aku tidak akan menyamakannya dengan mereka."

Terdengar klaksn ditekan berulang-ulang. Sapon berlari ke jalan untuk menemui Pardi yang enggan turun dari truknya. Sopir dan kernet berbicara serius. Karena merasa kurang puas, Pardi turun dan berjalan mendekati Lasi 
yang masih berdiri bersama Bu Koneng.Seperti Sapon, Pardi pun membujuk Lasi hingga kehabisan kata-kata. Tetapi Lasi tidak goyah. Lasi bahkan mengulangi kata-kata yang diucapkannya kemarin; bumi dan langit menjadi saksi bahwa Pardi dan Sapon bersih dari kesalahan karena pelarian Lasi adalah 
tanggung jawab pribadi sepenuhnya. 
 
 "Kami percayakan Lasi kepadamu, Bu Koneng," ujar Pardi tanda menyerah. Atau tanda minta jaminan. 
 
 "Baik. Aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan orang yang sudah lama kukenal. Percayalah, Lasi akan aman bersamaku di sini." 
 
 Pardi dan Sapon berjalan lesu menuju truk mereka. Beberapa kali keduanya menggelengkan kepala pertanda kecewa. Ketika roda-roda kembali bergulir 
mereka melambaikan tangan. Lasi, tak urung, merasa ada yang menjauh dari hatinya. Ada yang menusuk dada, ada yang menikam jiwa. Mata Lasi basah. Truk milik Pak Tir itu tampak makin baur dalam pandangannya, lama-kelamaan kabur dan hilang dalam iring-iringan kendarann yang melaju ke timur.




Bersambung... 
______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...