Minggu, 04 April 2021

LINGKAR TANAH LINGKAR AIR BAB 10

BAGIAN KEDUA 06





Aku masih bungkam.

“Bagaimana? Kamu tak bisa omong?”

“Mbok, aku bersyukur bila kamu mau merawat anakku. Tetapi Umi? Bagaimana bila dia nanti malah ditangkap tentara?”

“Itu aku tidak tahu. Aku akan berusaha sebisa-bisanya merahasiakan kedatangan istrimu. Tetapi bila keadaan memaksa, aku memang harus berterus terang bahwa Umi adalah istri 
kamu, istri wong alasan. Lalu apa iya tentara akan tega menangkap seorang perempuan yang baru melahirkan?”

“Lalu kamu mau memberi nama anakku Sri Sengsara?”

“Ya, tetapi bukan aku yang memberi nama demikian melainkan saat kelahirannya sendiri yang penuh penderitaan. Pernah mendengar ada bayi lahir dalam semak belukar kecuali 
anakmu?”

Untuk kesekian kali aku tak sanggup menjawab pertanyaan Mbok Nikem. Jun, yang sejak tadi duduk di dekat kami, berbisik. Ia sependapat dengan Mbok Nikem, sebaiknya Umi meneruskan menjalani perawatan di kampung. “Bersama kita di sini,” Jun bilang, “bayimu akan menderita. Kamu ingat dulu 
banyak bayi tak mampu bertahan hidup di hutan?” 

Kiram juga setuju. “Bila toh Umi ditangkap,” kata Kiram, “masa tentara tega berbuat kasar kepada perempuan lemah yang sedang menyusui bayi merah?”

“Tetapi tentara bisa menjadikan Umi dan bayinya sebagai sandera untuk memaksaku datang dan menyerah,” kataku.

“Hal itu bisa terjadi,” kata Jun. “Tetapi kukira mereka bukan bandit.”

Aku mengajukan pendapat teman-teman kepada Umi. Mula-mula Umi kelihatan ragu, namun kemudian dia setuju ikut Mbok Nikem dengan syarat aku sering menjenguknya. Ah, syarat itu kuiyakan saja. Padahal dalam hati aku bilang tak mudah bagi seorang laskar DI untuk setiap saat masuk kampung, kecuali jika aku tak takut diberondong tentara. Maka pada suatu pagi buta, aku, Mbok Nikem, dan Umi keluar dari sarang kami. Umi memang luar biasa. Ia bisa berjalan seperti biasa padahal bayinya baru berumur seminggu. Mbok Nikem 
mengemban Sri Sengsara; ah, nama yang sesungguhnya kurang kusukai. Sampai di batas hutan aku berhenti. Kulepas istri dan 
anakku pergi bersama dukun bayi itu. Aku hanya bisa berserah diri kepada Tuhan tentang nasib dan keselamatan mereka.


*****


Akhir Juni 1962, seorang rekan laskar yang berpangkalan di wilayah hutan Gunung Slamet lereng barat, datang ke tempat kami. Kukira Toyib, rekan itu, telah menempuh perjalanan 
yang berbahaya untuk memberi kabar tentang sesuatu yang sangat penting: Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, khalifah Darul Islam, panglima tertinggi Tentara Islam Indonesia, tertangkap pasukan Republik. Toyib juga membawa sehelai selebaran yang ditandatangani oleh Khalifah, berisi seruan agar semua anggota DI/TII meletakkan senjata dan menyerahkan diri kepada aparat keamanan dengan jaminan pengampunan nasional yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Saat pertama mendengar berita ini, aku terkejut. Ah, tetapi aku juga lega. Satu hal yang sudah bertahun-tahun menindih jiwaku, ketidakpastian yang amat menggelisahkan, tiba-tiba lenyap. Ada rasa lapang yang lambat laun mengembang dengan pasti dalam jiwaku. Ada benih harapan yang tiba-tiba muncul untuk berkumpul dengan istri dan anakku. Segera ter-
bayang, aku menjadi warga kampung, bertani, dan hidup tenang. Ya, tenang. Aku bukan lagi wong alasan, manusia rimba, yang diburu-buru. Aku bukan lagi wong alasan yang terpisah dan tersingkir dan disingkiri oleh masyarakat. Aku akan kembali seperti dulu, menjadi bagian tak terpisahkan kehidupan bersama.

Aku tersenyum sendiri. Ah, nanti dulu, kulihat Kiram, Jun, bahkan Toyib sendiri tak menampakkan wajah gembira. Jun menunduk dan murung. Kiram termangu, matanya nanar. 
Urat-urat pada kedua pipinya menegang. Toyib beberapa kali mengusap kening.

“Kamu tidak curiga bahwa kabar dan selebaran itu palsu?” tanya Kiram kepada Toyib. Suaranya datar dan berat, menandakan adanya beban berat dalam hatinya. “Dengan kepalsuan seperti itu, mereka bisa memancing kita keluar, bukan?”

“Kukira sampai saat ini belum ada di antara kita yang perca-ya seratus persen,” jawab Toyib. “Masalahnya, beberapa teman yang bisa mendengarkan radio meyakinkan kita bahwa berita itu benar. Kata teman tadi, radio luar negeri juga memberitakan hal yang sama.”

“Taruhlah kabar itu benar, lalu hanya akan berakhir seperti inikah perjuangan kita?” kata Kiram, yang kemudian bangkit dan mengentakkan kaki ke tanah.

“Ya, aku malu,” Jun menyela. “Aku merasa lebih baik mati dalam pertempuran daripada turun gunung meskipun di ampuni. Di ampuni?”

“Aku sangat menyesal, mengapa ketika ada operasi massal aku tak melawan mereka. Ya, mengapa aku tidak keluar dari persembunyian dan menghadang mereka serta bertempur sampai mati,” ujar Kiram lagi.

Aku diam sambil mendengarkan keluh kesah dan umpatan teman-temanku. Tetapi aku ingin juga mengingatkan Kiram. Dia pernah bilang mau kembali ke masyarakat, asalkan ada 
jaminan tidak akan diapa-apakan. Aku hampir mengucapkan peringatan itu, namun batal pada saat terakhir karena aku melihat kemurkaan pada wajah Kiram. Temanku itu kemudian bahkan mengusulkan operasi bunuh diri, menyerang sebuah tangsi militer di Cilacap. Sampai titik ini aku merasa wajib 
berbicara.

“Jangan berputus asa seperti itu,” aku bilang. “Kiram, tadi kamu mengandaikan kabar dan selebaran itu benar. Dengan demikian ada kemungkinan tanda tangan Khalifah pada selebaran yang menganjurkan kita untuk meletakkan senjata adalah benar pula. Kamu tidak mau taat kepada Khalifah?”

Hening. Kulihat wajah Kiram keras. Jun masih menunduk dan dari sinar matanya aku melihat kekecewaan yang sangat mendalam. Aku sendiri jadi melamun. Ajakan Kiram untuk 
melakukan suatu operasi bunuh diri mengingatkan aku pada pengalaman di tahun 1953. Ketika itu kami melancarkan serangan terhadap sebuah pos polisi di Lebeng, Cilacap. Aku bisa mengingatnya sampai hal yang terperinci. Waktu itu lepas isya. Kami, lima orang, sudah merayap mendekati pos itu. Aku 
merangkak melalui belukar pulutan dan mencapai tembok pos. Kiram malah sudah lebih dulu menempel pada tembok itu.

Yang paling berkesan pada saat itu adalah keterkejutan seorang anggota polisi ketika Kiram mendadak melompat dan berdiri di hadapannya. Polisi itu, mungkin karena panik, memberondongkan senjatanya bukan ke arah Kiram, melainkan ke langit sambil berlari keluar. Dia terus lari sambil melolong-lolong minta tolong. Kiram tidak menembaknya. Ia malah terpingkal-pingkal. Anehnya, Kiram kemudian masuk ke pos dan menghabisi tiga anggota polisi lain yang meringkuk ketakutan.

Nah, kalau Kiram ingin mengulang operasi semacam itu lagi sekarang, dia memang benar-benar akan bunuh diri, tetapi aku sendiri masih ingin hidup.

Kali lain kami berangkat hendak menyerang pos polisi Jatilawang, Banyumas. Aku sampai di tempat menjelang dini hari. Kiram, Jun, Jalal, dan Kang Suyud sudah sampai lebih dulu dan 
mereka bertiarap di sekeliling sasaran. Tetapi sialan, keempat orang itu tertidur pulas di tempat mereka bertiarap. Ketika kubangunkan satu per satu, mereka sudah kehilangan semangat. Maka penyerangan dibatalkan. Kami pulang sambil tertawa-tawa untuk mengejek polisi. Itu dulu. Sekarang aku merasa tak mungkin mengulanginya bila benar aku belum ingin mati.

“Jadi kita mau bagaimana? Dari jauh aku datang kemari untuk memperoleh kesepakatan sikap terhadap seruan dalam selebaran ini,” kata Toyib memecah kebekuan.

“Aku mendahului teman-teman. Aku percaya tanda tangan itu asli milik Khalifah, meski tertera pada lembar seruan yang digandakan. Jadi aku ingin menaatinya,” kataku.

“Kamu bagaimana?” tanya Toyib kepada Jun dan Kiram.

Kulihat wajah Kiram masih tegang. Matanya malah berubah merah. Gumpalan otot pada kedua pipinya makin jelas. Dan tiba-tiba ia bangkit lalu meraih senjatanya. Aku tak sadar 
betul apa yang kemudian terjadi, yang jelas aku melihat laras senjata Kiram sudah tertuju lurus ke arah perutku. Detik berikut aku melihat Toyib dan Jun menepiskan senjata itu ke arah 
lain dan pada saat yang sama meledaklah rentetan tembakan. Terjadi pergulatan singkat. Toyib dan Jun berhasil melepaskan senjata dari tangan Kiram yang kemudian berteriak-teri-ak: amuk. Ia begitu marah ketika menyadari perjuangan dan penderitaan kami selama bertahun-tahun hanya dipertaruhkan untuk sesuatu yang kosong. Hampa. Berpuluh-puluh, atau mungkin ratusan nyawa laskar telah melayang hanya untuk selembar selebaran yang menganjurkan kami meletakkan senjata dan menyerahkan diri. Dengan susah payah Kiram berhasil 
ditenangkan. Jun memberi dia secangkir air dingin.

Kebisuan kembali mencekam kami. Tetapi dalam kebisuan itu aku merasa bahwa kami telah bersatu sikap: tunduk kepada perintah pemimpin tertinggi. Aku sendiri tak melihat jalan lain kecuali meletakkan senjata, menyerah, dan semoga benar kami akan mendapat pengampunan. Anehnya, aku juga bisa merasakan ketidakpuasan seperti yang sedang bergolak dalam hati Kiram. Aku sudah memperkirakan, tidaklah mudah bagi laskar DI untuk kembali ke tengah masyarakat. Kebencian mereka, terutama orang-orang komunis, terhadap kami tentulah tidak serta-merta hilang hanya karena kami telah mendapat pengampunan pemerintah. Apalagi kami tahu, semua perampokan dan pembunuhan terhadap warga masyarakat menjadi beban dosa kami. Masyarakat akan sulit percaya bahwa bukan hanya kami yang merampok mereka, melainkan juga orang-
orang komunis, baik yang bergerak di atas maupun di bawah tanah. Oknum-oknum OPR, bahkan mungkin juga para bajingan yang ingin memanfaatkan situasi keruh, juga sering 
menggarong rakyat.

Ditambah dengan cerita Toyib bahwa partai komunis sudah berkembang pesat di desa-desa kelahiran kami, aku menjadi lebih yakin bahwa meletakkan senjata dan kembali ke masyarakat bukanlah perkara mudah buat para laskar DI. Aku percaya, masyarakat akan melecehkan kami, sementara kami tak bisa membela diri dengan cara apa pun. Tetapi sekali lagi aku bilang, memang tak ada jalan lain. Maka pada malam berikutnya, dalam kebisuan yang sangat mencekam, aku, Kiram, 
dan Jun membungkus senjata kami masing-masing dengan karung. Sementara aku melakukan pekerjaan itu dengan tenang, 
kulihat Kiram dan Jun meneteskan air mata. Kami bertiga patuh kepada Toyib. Dialah yang akan memimpin kami turun gunung bersama beberapa belas teman yang berpangkalan di 
kaki Gunung Slamet. Malam itu kami meninggalkan belantara hutan jati Cigobang, berjalan ke utara dan terus ke utara. Nanti kami akan menyeberang jalan raya sampai tiga kali sebelum masuk wilayah sebelah utara kota Purwokerto.

Sebuah perjalanan yang entah apa namanya. Kami membisu. Aku yakin, semua teman sedang dicekam oleh kegalau an seperti yang sedang terjadi dalam hatiku. Harus menerima kenyataan bahwa kami adalah barisan orang-orang kalah, yang sedang merangkak menuju panggung tempat kami akan menjadi tontonan. Telingaku sudah mendengar ejekan orang-
orang kampung, “Oh, itulah rupanya munyuk-munyuk DI, tukang rampok yang kejam. Itulah rupa mereka yang selama sekian tahun merusak dan menyengsarakan orang-orang kampung. Mari ramai-ramai kita ludahi mereka!”

Ya, aku dan teman-teman sudah menduga perlakuan apa yang akan kami terima meskipun secara resmi kami diampuni. Maka beberapa hari kemudian ketika kami sungguh-sungguh menjadi tontonan orang di tempat kami diterima oleh aparat keamanan dalam suatu upacara, kami sudah bisa menata perasaan. Benar, kami mendengar suara ejekan dan cacian, bahkan kutukan dari para penonton yang ratusan jumlahnya.

Sebenarnya pada saat itu kami berharap ada sikap yang menampilkan sedikit kasih sayang dari tokoh-tokoh organisasi agama yang ikut berpidato dalam upacara itu. Kami merasa 
punya alasan seperti itu, setidaknya karena selama berjuang di dalam hutan, panji kami bertuliskan kalimat syahadat. Ah, harapan yang terlalu muluk. Kami malah menjadi sakit hati ketika tokoh-tokoh organisasi agama dalam pidato mereka juga tak mampu memberi keringanan hati kepada kami. Sama seperti 
semua orang, mereka menganggap kami adalah orang-orang yang baru sadar dari kesesatan, bahkan kejahatan. Tak seorang 
pun di antara mereka yang berpidato mampu menampilkan sikap kesatria. Tak seorang pun bisa menerima kami sebagai pasukan bersenjata yang kalah perang.

Atau malah lebih dari itu. Mereka, tokoh-tokoh politik berbendera agama, juga menuduh kami mengatasnamakan Tuhan untuk penggarongan-penggarongan. Suara mereka nyaris sama dengan pembicara dari kalangan komunis. Oh, andaikan mereka tahu sebenarnya kami hanya ingin disebut sebagai 
orang-orang yang kalah perang dan kini menyerah secara kesatria. Atau, sebagai orang politik, apakah mereka lupa bahwa keadaan yang sebenarnya pada sekitar tahun 1950 memang demikian rentan? Yang namanya jati diri atau tali kesatuan bangsa mestinya masih dalam taraf pembentukannya. Dia masih 
rentan, sehingga mudah saja orang meninggalkan atau bahkan terpental dari barisan kesatuan.

Tak tahulah! Yang jelas aku sendiri merasakan kata-kata para tokoh agama, yang kuharapkan bisa memberi kami kesejukan, malah demikian menyakitkan. Rasanya Kiram benar bahwa lebih baik kami kalah dan hancur dalam sebuah pertempuran daripada sakit menerima pidato mereka yang tak mampu memberi kami pengertian apalagi kasih sayang.




Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...