Senin, 05 April 2021

DI KAKI BUKIT CIBALAK BAB 02

Episode 4 
Di Kaki Bukit Cibalak 



Karena merasa menemukan jalan buntu, Pambudi mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Dan keputusannya untuk meninggalkan pekerjaannya yang lama datang dua bulan kemudian. Seorang perempuan datang menemui Pambudi. Ia mengajukan permohonan agar diberi pinjaman padi. Mula-mula perempuan itu tidak menyebutkan tujuan 
peminjaman padi itu sebelum Pambudi bertanya. 

“Untuk apa padimu nanti, Mbok?” 

“Akan kujual. Uangnya akan kupergunakan untuk berobat, Lihatlah, leherku membengkak. Sakit sekali rasanya.” Mbok Ralem, demikian nama perempuan itu, memperlihatkan lehernya yang menggembung seperti leher ular koros. 

“Berapa luas sawah yang kaugarap, Mbok?” 

“Oalah, Nak, aku tak mempunyai sawah sedikit pun. Biasanya aku menggarap sawah tetangga. Tetapi musim ini tidak. Aku tak menggarap sawah.” 

“Kalau begitu kau takkan mendapat pinjaman lebih dari 25 kilo. Apakah jumlah itu cukup?” 

“Pasti tidak cukup, Nak, sebab kata Pak Mantri, aku harus berobat ke Yogya.” 

“Aku tidak dapat memutuskannya kalau begitu. Mari kuantar menghadap Pak Lurah.” 

Ternyata Pak Dirga belum ada di kantornya. Sambil menunggu kedatangan kepala Desa Tanggir itu, Pambudi dan Mbok Ralem duduk di sebuah bangku panjang. Perempuan itu 
bercerita bahwa ia sudah tiga kali berobat kepada dukun dan sekali kepada seorang mantri kesehatan.

“Aku ingin segera sembuh, Nak. Leherku makin lama makin tercekik rasanya.” 

“Ya, aku mengerti. Kukira kau memerlukan biaya yang agak banyak, sebab untuk ongkos perjalanan ke Yogya saja tidak akan cukup dengan uang dua-tiga ribu rupiah.” 

“Memang demikian, Nak. Seandainya masih ada sesuatu yang dapat kujual, pasti aku takkan meminjam padi di sini. Aku takut nanti tak mampu mengembalikannya.”
 
Setelah Pak Dirga datang, Pambudi membawa tamunya masuk ke kamar kerja Kepala Desa. Dengan suara lirih dan gemetar, Mbok Ralem mengutarakan maksudnya kepada Pak Dirga. Selama berbicara perempuan itu tidak sekali pun menatap wajah lurahnya. Pak Dirga tidak segera memberi jawaban. Ia hanya melihat sepintas saja pada leher Mbok Ralem. Kemudian dengan pandangan mata lurus Pak Dirga berkata, “Mbok Ralem, sebenarnya seorang seperti kamu tidak bisa mendapat pinjaman. Aku tahu, banyak peminjam yang mengembalikan pinjamannya saja tidak dapat, apalagi bersama bunganya. Jawablah sekarang dengan jujur, apakah dulu kau pernah meminjam padi dari lumbung?” 

Wajah Mbok Ralem pucat mendadak. Betul, dua tahun yang lalu ia meminjam sepuluh kilo padi dari lumbung. Dua panenan berikutnya hama wereng memusnahkan padinya selagi 
masih hijau. Jadi ia tidak bisa mengumpulkan bawon.

Jangankan untuk mengembalikan pinjaman, untuk makanbersama dua orang anaknya saja sudah tidak ada. Perempuan itu terkejut ketika Pak Dirga mengulangi pertanyaannya. Dengan suara yang bergumam di tenggorokan, Mbok Ralem mengakui dakwaan lurahnya. 

“Pambudi,” kata Pak Dirga. “Hitung sekarang berapa pinjaman perempuan ini berikut bunganya sekarang.” 

“Dua puluh tujuh setengah kilo,” jawab Pambudi dengan suara setengah tertahan. 

“Nah, itu. Utangmu dua tahun yang lalu belum bisa kaubayar kembali. Sekarang kau mau pinjam lagi, bagaimana?” 

Mbok Ralem meremas-remas jarinya sendiri. Benjolan di lehernya terasa menggigit. Bibirnya gemetar mau berbicara, tetapi tidak sepatah kata pun berhasil diucapkannya. Sebagai gantinya air matanya mengalir dengan deras. Kemudian Mbok Ralem bangkit karena merasa 
tidak mampu lagi berkata walau hanya sepatah. Apalagi kalau ia teringat kepada kedua anaknya yang ditinggal di rumah, yang disuruh menjaga ubi yang sedang direbus dalam kuali. Sebelum berjalan Mbok Ralem memandang kepada Pambudi. Sebuah batu besar terasa jatuh menimpa hati anak muda itu. Pandangan mata Mbok Ralem, pandangan seorang perempuan Tanggir yang takkan dapat dilupakan oleh Pambudi sepanjang hidupnya. Mata orang yang tak berdaya. Mata yang cekung, merah, dan basah. Pandangan yang 
mewakili kegetiran yang mutlak, yang akan menarik hati nurani siapa pun dari persembunyiannya. 

“Nanti dulu, Pak. Jadi orang ini tidak akan diberi kesempatan untuk berobat ke Yogya?” kata Pambudi seraya bangkit dari duduknya. 

“Lho, kenapa kau bertanya begitu? Sudah lama kau mengurus lumbung, bukan? Tentu kau sudah hafal ketentuan-ketentuan yang harus ditaati oleh seorang peminjam, bukan? Mbok 
Ralem tidak menggarap sawah sedikit pun. Mbok Ralembahkan masih menangguhkan utangnya. Tapi baiklah, beri ia pinjaman dua puluh kilo. Dengan hanya bertindak demikian sesungguhnya aku telah menempuh risiko.” 

“Padi sejumlah itu takkan ada artinya untuk perawatan penyakit yang diderita Mbok Ralem. Saya mempunyai sebuah usul, Pak.” 

“Cepat katakan!” 

“Sepantasnya Mbok Ralem diperlakukan secara khusus. Ia sakit. Wajarlah bila ia diberi pinjaman sebesar yang ia perlukan untuk biaya penyembuhan penyakitnya itu. Apa artinya ia diberi pinjaman bila jumlahnya tidak cukup 
sehingga penyakitnya tidak diapa-apakan?” 

“Perihal sakitnya, itu terserah kepadanya dan kepada sanak familinya. Atau ia dapat mengajukan permohonan bantuan kepada kas Lembaga Sosial Desa. Aku ketua lembaga 
itu, dan tahu benar kasnya melompong.” 

“Ya, Pak, tapi maaf. Saya mengingatkan Bapak akan sebuah pasal dalam peraturan perlumbungan. Bahwa sepertiga keuntungan lumbung koperasi tersedia bagi pengeluaran-
pengeluaran darurat yang harus dipikul oleh desa, seperti bila ada bencana banjir, kebakaran, dan sebagainya. Bagaimana bila Mbok Ralem kita beri uang berobat dari dana darurat itu. Saya tahu, dana itu ada dan pasti
cukup.” 

“Dengar. Apa yang terjadi pada Mbok Ralem adalah sakit. Bukan bencana banjir, bukan bencana kebakaran. Pokoknya aku tak bisa memberi pinjaman sebesar yang ia perlukan.

Apalagi dana darurat yang kaumaksud itu harus kita berikan cuma-cuma. Tidak mungkin. Aku telah mempunyai rencana besar yang pelaksanaannya akan dibiayai dengan dana darurat itu.” 

“Apa lagi rencana Bapak itu?”.

“Kau tak perlu tahu! Oh, maksudku kau belum saatnyakuberitahu.” 



Episode 5 
Di Kaki Bukit Cibalak 



“Kali ini saya harus tahu. Soalnya, saya ingin tahu, penting mana rencana Bapak itu dengan keharusan kita menolong Mbok Ralem. Maaf, Pak, sesungguhnya saya merasa masygul. Untuk membiayai pelantikan Bapak beberapa bulan yang lalu, kas dana darurat susut 125.000 rupiah. Sebaliknya Bapak tidak merelakan sedikit pun uang dana darurat itu untuk menolong Mbok Ralem. Sekarang katakan terus terang, apalagi rencana Bapak dengan uang milik bersama itu?” 

Pak Dirga menyembunyikan kagetnya dengan cepat-cepat menyalakan rokok. Ia tidak mengira akan dikejar dengan pertanyaan yang menyelidik seperti itu. Mentang ia telah 
menyuruh Poyo mengeluarkan uang dari kas dana darurat untuk membiayai pelantikannya beberapa bulan yang lalu. Bayangkan, pikirnya, Bu Camat wanti-wanti berpesan agar pelantikan itu dimeriahkan dengan pergelaran wayang kulit dengan dalang yang dipesan sendiri oleh Bu Camat. Tarifnya bukan main. Untuk membeli rokok yang disuguhkan 
kepada para tamu saja Pak Dirga harus membayar 30.000 rupiah. Tadinya ia akan menyerah, kalau kas dana darurat tidak boleh dibobolnya. Dan si Pambudi ini, bocah nakal 
yang sangat berbeda dengan Poyo. Apa maunya? Oh, tetapi Pak Dirga merasa pasti, ia dapat menjinakkan hati anak yang masih ingusan seperti Pambudi ini. Maka ia segera 
mengendurkan urat-urat di wajahnya. Senyumnya terkembang, ramah tetapi jelas licik. 

“Wah, nanti dulu, Pambudi. Bicaralah pelan-pelan. Mbok Ralem sendiri mungkin masih mendengarnya. Rencana yang kumaksud hanya boleh diketahui oleh orang-orang tertentu saja, termasuk kau. Barangkali kau belum tahu, Pemerintah akan melebarkan jalan yang melewati desa kita ini. Karena pelebaran jalan itu, kira-kira lima ratus batang pohon 
kelapa akan tergusur. Para pemilik pohon kelapa akan menerima ganti rugi. Pambudi, kau anak yang pinter. Tahukah kau, ada rezeki yang dapat kita ambil?”

“Oh, tidak, Pak. Tetapi apa hubungannya dengan uang dana darurat milik koperasi kita?” 

Sebuah senyuman belut putih tergambar pada bibir Pak Dirga. Ia tertawa pelan, penuh arti. Sikapnya amat lunak sekarang, seperti seorang ayah yang sedang mengakali anak yang merajuk. Kepada Pambudi, Pak Dirga menawarkan rokok. Tetapi pemuda itu menyulut rokoknya sendiri. 

“Dengarlah, anak muda. Pertama-tama kukatakan kepadamu bahwa inilah kesempatan yang dapat kauambil untuk 
mendapat keuntungan yang besar. Marilah kita bekerja sama. Kau tahu, uang yang dijanjikan Pemerintah sebesar 2.000 rupiah untuk tiap batang kelapa yang tergusur, akan lambat datangnya. Uang milik koperasi dapat kita pakai dulu untuk membayarkan ganti rugi kepada pemilik pohon kelapa. Kita tidak akan membayar 2.000 tiap batang, tetapi cukup 1.000 saja. Jadi apabila uang ganti rugi yang dijanjikan Pemerintah keluar, kitalah pemiliknya. Sementara kita menunggu, kita tebang pohon-pohon kelapa yang sudah kita bayar itu. Bayangkan, pemborong yang 
sedang membangun jembatan Kali Benda itu berani membayar 2.500 per batang. Wah, Pambudi, apa tidak lumayan? Bila mau, kau dapat juga membeli sepeda motor seperti Poyo. Enak, bukan?” 

Entah bagaimana perasaan dan sikap Pambudi saat itu. Boleh jadi ia tersenyum pahit atau tertawa lirih, tetapi ia tidak menyadari semua itu. Yang jelas daun telinganya terasa panas dan napasnya memburu. Tengkuknya merinding. Mulutnya sulit dibuka karena urat-urat pipinya menegang. Pak Dirga tampak tidak sabar menunggu tanggapan Pambudi. 

“Bagaimana, Pambudi?” 

Yang ditanya kaget. “Oh, maaf, hendaknya Bapak jangan mengikutsertakan saya dalam urusan seperti itu.” 

“Lho, kenapa? Kau akan mendapat banyak keuntungan tanpa banyak mengeluarkan tenaga. Semua orang menyenangi hal 
semacam itu, mengapa kau tidak? Lihat, Poyo telah lumayan hidupnya. Sekarang tiba giliranmu, ayolah!” 

“Tidak, Pak.” 

“Mengapa?” 

“Saya tidak bisa menerangkannya mengapa.”

Pak Dirga melepaskan napas panjang lalu menyandarkan diri ke belakang. Dipandangnya Pambudi lama-lama, tetapi pemuda itu tenang saja. Bahkan di dalam hatinya Pambudi 
merasa lega. Ia merasa telah menuruti suara hati nuraninya untuk tidak turut melakukan kecurangan bersama Pak Dirga. Memang hanya satu yang terasa olehnya pada 
saat itu: Lega. Lega! 

Pak Dirga sebaliknya, kulit mukanya terasa seperti dijerang di atas api. Panas, malu. Ia tidak berhasil menundukkan Pambudi, padahal rencana yang dirahasiakan sudah telanjur diberitahukan kepada anak muda itu.
Bagaimanapun ini berbahaya. Tetapi kepala desa itu terpaksa juga harus menaruh hormat pada keteguhan sikap Pambudi. Karena itu, ia tidak meneruskan pembicaraan itu lebih lanjut. Pak Dirga hanya mengangguk-angguk tanpa 
arti. Dan ia diam saja ketika Pambudi pamit dan pergi. 

Pada hari berikutnya Pambudi tidak berangkat kerja.Selesai sembahyang subuh ia bemyanyi-nyanyi kecil. Terkadang ia menyanyikan kidung ciptaan para empu, kidung tentang “zaman edan”. Lalu disambungnya dengan lagu-lagu 
keras nyanyian anak-anak muda yang merasa menjadi korban kepalsuan. 

Pambudi tidak bisa mengatakan mengapa di pagi hari itu, ia merasa begitu tenteram. Padahal tadi malam ia telah menulis surat kepada Pak Dirga. Pambudi menyatakan 
mengundurkan diri dari kepengurusan lumbung koperasi desa. 


 
Episode 6 
Di Kaki Bukit Cibalak 



Alangkah nyaman hari-hari berikutnya terasa oleh Pambudi. Kenyataan bahwa sekarang ia menjadi penganggur, tidak mengurangi cerahnya perasaan. Pambudi benar-benar 
menikmati suasana yang sulit digambarkan. Satu-satunya yang mengganggu ketenteraman hatinya adalah kenyataaan bahwa antara dirinya dan Pak Dirga telah terbentang garis 
ketidakcocokan. Pak Dirga pasti sadar bahwa rahasianya turut dibawa ke luar olehnya. Tidak mustahil pada akhirnya hal ini akan membawa akibat tidak baik. Disebuah desa kecil seperti Tanggir, orang akan merasa gelisah bila ternyata lurah membencinya. 

Untuk mengisi waktunya Pambudi melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil. Memperbaiki kandang ayam yang membuatnya bisa menabung dengan teratur selama ini, menyulami dinding bambu yang telah lapuk, atau menggali parit-parit sekitar pekarangan rumah. Hari itu Pambudi telah membuat 
adonan kapur untuk memutihkan dinding-dinding. Tetapi ia tidak segera melakukan niatnya. Hatinya dikacau oleh perasaan kasihan terhadap Mbok Ralem. Adalah pantas bila aku berbuat sesuatu untuk menolong perempuan yang sakit itu, tapi apa? pikirnya. Berjam-jam Pambudi merenung. Didengarkannya dengan sungguh-sungguh suara hatinya sendiri. Kemudian datanglah tekadnya. 

Sepedanya dikayuh melalui jalan-jalan kecil yang menyelinap di bawah rumpun-rumpun bambu. Tidak lama, sampailah ia ke halaman sebuah rumah kecil, tanpa pintu. Dipanggilnya penghuni rumah itu. Mbok Ralem keluar sambil membopong anaknya yang pucat dan batuk. Perempuan itu terkejut melihat siapa yang datang. Darah lenyap dari wajahnya, bibirnya bergetar. Pambudi duduk di balai-balai bambu. 

“Mbok Ralem, kau tak perlu takut seperti itu.” 

“Anu, anu... anu, Nak.” 

“Anu apa, Mbok?” 

“Aku takut kau membawa perintah dari Lurah untuk menghukumku. Kemarin dulu sebelum aku meninggalkan Balai Desa kudengar Pak Lurah marah-marah. Pastilah gara-gara aku, bukan?” 

“Oh, lupakan hal itu. Aku datang kemari atas kehendakku sendiri. Akan kutanyakan apakah kau masih tetap ingin berobat ke Yogya.” 

Mbok Ralem terpukau. Ia tidak percaya pada apa yang baru didengarnya. Roman muka Mbok Ralem menggambarkan dengan jelas wajah seorang yang sedang bingung. Ketika Pambudi mengulangi pertanyaannya, Mbok Ralem terperanjat. Dengan menempelkan wajah si kecil ke dadanya, perempuan itu 
berkata terputus-putus, “Oalah, Nak, aku memang ingin sembuh. Bagaimana kalau aku mati padahal ayah anak-anak tidak pernah datang lagi? Tapi kau kan tahu, aku tak bisa 
mencari uang untuk membiayai perawatanku.” 

“Kalau begitu kita akan berangkat ke Yogya. Bila mungkin besok pagi.” 

“Oh, Pengeran, apakah akhirnya Lurah memberi pinjaman juga?”

“Tidak. Pak Dirga tetap pada pendiriannya. Kau bisaberangkat bersamaku, tetapi ada syaratnya. Kau harus meminta surat keterangan ke Balai Desa.” 

“Ke Balai Desa? Keterangan apa, Nak?” 

“Keterangan yang menyatakan bahwa kau benar-benar miskin sehingga tidak mampu membayar biaya pengobatan.” 

“Tetapi, Nak, aku takut datang ke Balai Desa. Sungguh, aku takut datang ke sana. Lagi pula kita masih harus menyediakan uang, paling tidak untuk membayar ongkos perjalanan.” 

“Kalau kau ingin sembuh, janganlah ada rasa takut di hatimu, sekalipun terhadap Pak Dirga. Tentang biaya perjalanan, serahkan kepadaku. Nah, usahakanlah surat keterangan hari ini juga selagi masih pagi. Apabila Pak Dirga bertanya dari mana kau mendapat uang jalan, katakan saja sanak famili telah memberikan bantuan kepadamu. Aku tidak ingin kausebut-sebut, mengerti, Mbok?” 

Perempuan itu termenung lama sekali sebelum mengiyakan kata-kata Pambudi. Kemudian ia masuk. Anaknya yangterbesar disuruhkan menjaga si Bungsu selama ia pergi ke Balai Desa. Setelah memakai baju, Mbok Ralem melangkah ke pintu. Ia tercengang melihat Pambudi masih duduk di balai-balai. Mbok Ralem hendak mengatakan sesuatu, tetapi Pambudi mendahuluinya. 

“Segeralah berangkat, Mbok, aku akan menunggu di sini sampai kau pulang.” 

“Baik, Nak.” 

Dengan mengangkat kain tinggi-tinggi Mbok Ralem berangkat. Pambudi mengikuti perempuan itu dengan matanya. Kedua anak Mbok Ralem duduk diam, hanya pelupuk 
matanya saja yang bergerak-gerak. Perutnya buncit. Sedikit makanan yang masuk ke perutnya hanya menghidupkan cacing-cacing. Tulang belakang kedua anak itu menyembul 
di bawah kulitnya yang hampir biru. 

Tidak ada bilik-bilik dalam rumah Mbok Ralem. Di sudut bagian timur ada tungku dan tempayan. Beberapa perkakas dapur, cerek, kuali, dan gayung di atas tungku itu. Pambudi yakin, tungku itu jarang dinyalakan, karena hanya terdapat sedikit abu di dalamnya. Barangkali tadi pagi Mbok Ralem sekeluarga sarapan singkong bakar. Kulitnya berserakan di bawah satu-satunya tempat tidur tanpa tikar di dalam rumah itu.

Ternyata Mbok Ralem tidak memerlukan waktu yang lama untuk memperoleh surat keterangan yang diminta oleh Pambudi. Bukan main senang hati perempuan itu ketika ia kembali. Seakan-akan benjolan di sisi lehernya sudah 
lenyap. Sambil menangis Mbok Ralem menyerahkan kertas yang digenggamnya kepada Pambudi. Perempuan lugu yang amat miskin itu terharu. Ternyata ada seseorang yang mau menganggapnya sama dengan orang-orang lain, dan mau menolong. 

Keesokan harinya pagi-pagi sekali, Mbok Ralem tampak berdua dengan Pambudi di depan pasar Desa Tanggir. Kedua anak Mbok Ralem dititipkan kepada salah seorang bibinya. 

Sebuah bus bermesin disel membawa kedua orang itu ke Yogya. Perjalanan akan memakan waktu empat jam. Perempuan yang tak pernah mengenal kendaraan itu terus-menerus mabuk selama dalam perjalanan. Ia tidak muntah, karena tak ada sesuatu yang dapat dimuntahkan dari perutnya yang kosong. Namun ketika sampai di Purworejo Pambudi meminta kepada sopir agar beristirahat lebih lama dari biasanya. Pambudi ingin memberi kesempatan kepada Mbok Ralem untuk 
mengisi perutnya dengan tiga buah lontong. 

Tengah hari mereka sampai di kota tujuan dan langsung menuju rumah sakit dengan naik andong. Sebelum Pambudi mendaftar di loket, Mbok Ralem disuruhnya duduk dibangku tunggu bersama calon pasien lain.




Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...