Minggu, 18 April 2021

DI KAKI BUKIT CIBALAK BAB 09

Episode 25 
Di Kaki Bukit Cibalak 



Kedatangan kembali Pambudi di desanya sendiri mendapat sambutan dingin. Orang Tanggir seakan-akan kehilangan watak aslinya yang peramah. Begitu Pambudi berjumpa
dengan seorang tetangga sedesanya ia sudah menerimapandangan mata yang menyelidik dan curiga. Bahkan Pak Danu hanya menjawab tanpa menoleh ketika Pambudi menegurnya. 

Setelah beristirahat sebentar, Pambudi bertanya kepada ibunya mengapa orang-orang Tanggir kelihatan lain sikapnya. Sambil mengusap air mata, ibu yang sudah tua itu 
menerangkan segalanya dengan jelas kepada Pambudi. 

“Anakku, kau didakwa melarikan uang milik lumbung koperasi sebanyak 125.000 rupiah. Kata orang, buktinya ada dalam buku lumbung.” 

“Kampret!” teriak Pambudi dalam hati. “Ini pasti perbuatan Lurah Tanggir dan Poyo. Pengecut! Akan kubuktikan di depan pengadilan siapa yang menggarong uang 
itu. Penduduk Tanggir harus yakin bahwa aku masih tetap si Pambudi yang dulu, yang menganggap kejujuran adalah hal yang wajar yang harus dihormati oleh semua orang. Aku 
bukan hanya menghormati, bahkan sudah dan akan tetap mengamalkannya. Aku harus membela diri, karena tuduhan terhadap diriku sudah keterlaluan. Aku harus menantang 
mereka sampai ke depan hakim. Harus!” 

Dan, angin kemarau datang dari selatan. Menyapu punggung Bukit Cibalak, menerbangkan serat-serat kapuk dan bunga 
ilalang. Pohon sentolok menyebarkan bijinya menurutperintah alam; sebutir bijinya melekat pada ujung polong. Bila sudah cukup masak polong yang membawa biji itu lepas tertiup angin, berputar dan terbang jauh seperti seekor laron. Biji yang baru akan tumbuh jauh 
dari induknya. Sayang, angin kemarau juga membawa bau yang khas, sebab penduduk Tanggir belum tahu kebaikan kakus yang tertutup. 

Tetapi bagaimanapun angin yang sejuk itu telah membantu Pambudi kembali kepada keseimbangan hatinya. Mula-mula dalam hatinya terdengar gaung suara ayahnya, “Wani ngalah luhur wekasane. Berani mengalah luhur akhirnya.” Menyusul suara Topo bergema, “Ingat, hanya Arjuna yang kecil yang dapat mengalahkan Nirwatakawaca yang raksasa, 
hanya si kecil Daud yang bisa mengalahkan Goliath. Toh Don Quichote tidak berhasil menumbangkan sebuah kincir angin meskipun memakai baju besi dan pedang jenawi. Lalu, 
camkanlah, “I have not begun to fight yet.” Akhirnya Pambudi mendengar suara dirinya sendiri, “Bagaimana dengan rencanaku untuk meneruskan sekolah, bila aku direpotkan oleh urusan Lurah Tanggir dan si Poyo itu. Biar, ya, biarlah. Demi kepentinganku sendiri untuk
kembali ke sekolah, aku harus diam. Masih ada mahkamah yang lebih tinggi, Tuhan pribadi yang akan menjadi hakim. Mudah-mudahan saja tidak semua orang Tanggir menganggap 
diriku sebusuk itu.” 

Untunglah, selain kabar busuk itu Pambudi menemukan hal lain yang membesarkan hatinya. Kedua orangtuanya sehat. Hasil petemakan ayahnya naik. Sekarang setiap hari ayah Pambudi mengumpulkan 83 butir telur dari kandang ayam itu. 

Sebelum kembali ke Yogya, Pambudi berkunjung ke rumah Sanis. Yang pertama menemuinya adalah ibu gadis itu. Pambudi tahu, Sanis ada di rumah. Tetapi ia tidak segera keluar meskipun kedatangan Pambudi diketahuinya. Sesudah tiga kali dipanggil oleh ibunya barulah Sanis keluar. Rambutnya acak-acakan, rok dalamnya mengintip keluar. Dan 
tak tampak rasa kangen sedikit pun pada sikapnya. Boleh jadi Sanis termasuk warga Tanggir yang mendakwaku mencuri uang lumbung koperasi itu, paling tidak mencurigainya, pikir Pambudi. 

“Apakah suratku sampai, Kak?” tanya Sanis, suaranya datar dan beku. Bahkan sinar mata Sanis tidak menerjemahkan kejujuran. Kalau Pambudi percaya akan kata-kata orang tua 
bahwa sikap lahir adalah utusan sikap batin. Kalau Pambudi tahu bahwa sesungguhnya Sanis tidak pernah mengiriminya surat. Dan ternyata Pambudi masih mampu menyuarakan kearifan. 

“Suratmu belum kuterima. Tak mengapa, barangkali masih dalam perjalanan.” 

Ketika berkata demikian Pambudi tersenyum polos, seperti seorang ayah yang mengetahui kata-kata anaknya adalah palsu. Bagaimanapun Pambudi tidak akan memojokkan Sanis dengan persangkaan yang buruk. Toh ia sudah dapat meraba sikap Sanis sekarang. 

Suasana pura-pura itu terus berlangsung sampai saat Pambudi minta diri. Sanis melepas tamunya dengan mengarahkan matanya ke awang-awang. Memang ia menyalami Pambudi, tetapi pada saat yang sama ingatannya justru sedang melayang kepada seorang pemuda cakap yang dulu 
memotretnya: Bambang Sumbodo! 

WAJAR apabila Pak Barkah selalu teringat kepada Pambudi. Semenjak harian Kalawarta mengetengahkan masalah Mbok Ralem setahun yang lalu, oplahnya naik dua ribu. Bagi sebuah harian daerah seperti Kalawarta kenaikan sebesar itu sangat besar artinya. Rupanya orang Yogya khususnya menjadi sadar bahwa biarpun alon-alon jalannya, ada 
penerbitan koran di kota itu. Para pembaca pada umumnya menjadi lebih percaya kepada Kalawarta setelah ternyata harian itu mampu membuat misi kemanusiaan yang telah 
mengangkat Mbok Ralem dari penderitaannya. Juga para pembaca tahu bahwa koran-koran besar di Jakarta sering mengutip berita dari Kalawarta, terutama sepanjang menyangkut berita daerah Jawa Tengah. 

Pemimpin Redaksi melihat saat yang baik untuk melancarkan kampanye pengembangan hariannya. Untuk melaksanakan keinginannya itu Pak Barkah menunjuk Pendi Toba sebagai 
pelaksana proyek. Tetapi Pak Barkah boleh kecewa, karena Pendi Toba angkat kaki ke Jakarta. Anak Pulau Samosir itu baru menyelesaikan pengumpulan data yang sangat berguna bagi pengembangan Kalawarta ketika pergi. Sebuah harian yang besar membutuhkan tenaga anak muda yang sangat aktif dan potensial itu.

Pada saat itu Pak Barkah telah mengetahui Pambudi tinggal di kota yang sama, Yogyakarta, karena pemuda itu sendiri telah dua kali mengunjungi Pak Barkah. Menurut pendapat pemimpin Redaksi Kalawarta itu, Pambudi tidak terlalu banyak berbeda dengan Pendi Toba. Anak dari Tanggir itu kemauannya keras. Pengetahuan umumnya baik. Kejujurannya sangat tampak. Dan satu hal lain yang tak dapat diungkiri oleh Pak Barkah, Pambudi menyimpan semacam obligasi moral 
pada harian Kalawarta. Jadi Pambudi sangat patut mengisi lowongan yang ditinggalkan oleh si Pendi itu. Masalahnya, apakah Pambudi suka bergabung dengan keluarga Kalawarta 
atau tidak. Begitulah pikiran Pak Barkah pada akhirnya. 
 



Episode 26 
Di Kaki Bukit Cibalak 




“Dik Pambudi,” kata Pak Barkah pada suatu malam di rumahnya. “Aku menghendaki hubungan yang lebih hidup di antara kita berdua. Bagaimana kalau kau kuminta 
menggantikan Pendi Toba?” 

“Pak, saya tidak yakin pada kemampuan saya sendiri dalam bidang jurnalistik. Apakah mungkin seorang pelayan toko tiba-tiba berubah menjadi jurnalis? Kedua, sebentar lagi 
bila lulus saya harus kuliah.” 

“Oh, aku melihat pintu perundingan telah terbuka. Dik Pambudi, sungguh benar kata-katamu tadi. Tidak gampang menjadi seorang wartawan dadakan. Tetapi jangan kaulupakan, bahwa yang membuka pintu bagimu adalah aku sendiri, pemimpin Redaksi Kalawarta. Jadi soalnya tinggal padamu, mau atau tidak menerima tawaranku itu. Percayalah, aku telah memikirkan sejauh mungkin sebelum memutuskan tawaran itu padamu. Tugasmu yang pertama nanti adalah meneruskan pekerjaan yang telah dimulai 
oleh Pendi Toba. Kau tidak akan bekerja dari nol. Data yang telah berhasil dikumpulkan oleh Pendi Toba sudah agak lengkap dan berbobot pula. Nanti kau dapat membacanya sendiri. Dan aku sama sekali tidak mau menghalangimu masuk ke perguruan tinggi. Malah aku akan membantumu sebisa-bisaku. Kuberitahu sekarang, biar bagaimanapun jeleknya, aku ini seorang sarjana publisistik. Selain memimpin Kalawarta, aku juga mengajar di universitas yang ingin kaumasuki. Seandainya nilai ujianmu bukan yang terburuk, percayalah, tahun pelajaran mendatang kau sudah menjadi mahasiswa. Paham?” 

“Ya, Pak,” jawab Pambudi dengan hati berdebar. Ia melihat harapan yang besar. Tujuannya untuk meneruskan kuliah akan lebih gampang terlaksana. 

“Mudah-mudahan Kalawarta dapat menggajimu sebanyak yang kauterima dari pemilik toko arloji itu.” 

“Kalau saya misalnya sudah mulai bersekolah, bagaimana?” 

“Yah, yang namanya redaksi harian selalu memiliki staf yang bekerja sore, bahkan malam hari. Aku yang akan mengaturnya nanti, sehingga waktu belajarmu tidak terganggu.” 




                     ***** 



Masa kerja Pambudi pada toko milik Nyonya Wibawa dipersingkat satu bulan. Tak ada ucapan terima kasih yang diterima Pambudi dari majikannya ketika ia berpamitan. 

Nyonya itu hanya menghitung lalu membayar gaji Pambudi, kemudian kembali mengelus-elus anjingnya. Tetapi ada air mata menitik ke pipi Mulyani. 

“Benar, kan, Pam, kau tidak menghargai yang namanya perasaan?” bisik Mulyani sambil menyalami Pambudi. Wajahnya menunduk. Pemuda itu merasakan tangan Mulyani bergetar halus. Ujung jempol kakinya bergerak-gerak di lantai. Sejuk, seolah-olah angin dari Bukit Cibalak meniup hati Pambudi. 

“Maaf, Mul, maaf. Aku mengundurkan diri dari sini bukan karena aku ingin mengakhiri persahabatan kita.” 

“Aku... aku tahu, Pam. Itulah, sudah kumengerti kau selalu bertindak atas dasar putusan yang logis belaka. Tetapi aku tahu juga sekali ini kau takkan mengalah. Aku akan senang bila sekali-sekali kau berkunjung kemari. Mau, bukan?” 

“Sediakanlah sebakul teka-teki silang.” 

“Dan segerobak keripik usus ayam.” 

“Mul, mungkin pada suatu saat akan muncul gambar seorang gadis dalam harian Kalawarta. Gadis itu langsing, berwajah teduh, dan bermata Mandarin. Akan kutulis, gadis 
itu mempunyai hobi yang luar biasa: mengisi teka-teki silang!” 

Mulyani mencubit punggung Pambudi keras sekali. Pemuda itu meringis kesakitan. Di belakang mereka Nyonya Wibawa memandang dengan benci. “Cuh, cuh,” dia meludah. Anjingnya berbuat sama, “Hwuf, hwuf.” 

Tetapi sekali ini Mulyani nekat. Ia tidak peduli, bahkan Mulyani menggandeng Pambudi berjalan ke luar. 

“Pam, kalau Mandigo main, kau harus menonton bersamaku. Kukatakan harus, dengar?” 

“Dengan senang hati selama mamamu tidak menyuruh anjingnya merobek betisku.”

“Kalau Mama tidak ingin aku kabur ke Bandung lagi!” 
 



                            ***** 




Membaca hasil penelitian Pendi Toba, Pambudi yakin, anak Batak itu encer otaknya, lebar lensa matanya. Telah diselidikinya sejauh mana peredaran Kalawarta. Dicatat pula kelompok masyarakat yang bagaimana kebanyakan pembaca Kalawarta. Diadakannya perbandingan jumlah menurut usia, pekerjaan, bahkan kesukuan. Dengan mengadakan semacam angket kecil Pendi Toba dapat 
menentukan rubrik mana yang disukai dan yang tidak disukai pembaca. Demikian maka diketahui kelemahan-kelemahan Kalawarta. Dalam hal ini Pendi Toba mengusulkan 
dibukanya rubrik-rubrik baru dan menghapuskan rubrik yang ternyata kurang menarik minat para pembaca. 

Dari data itu dapat diketahui bahwa di dalam masyarakat ada kelompok yang amat patut mendapat perhatian khusus. Kelompok itu berpendidikan menengah atas, jumlahnya
banyak serta berpenghasilan tetap pula. Mereka tersebar merata di semua tempat, dari kota sampai ke gunung gunung. Terutama mereka yang tinggal di tempat terpencil, pasti membutuhkan bahan bacaan yang segar dan ringan serta sesuai dengan kepentingan mereka. Para guru sekolah dasar, itulah mereka. 

Sayang, ada satu hal dalam kesimpulan yang dibuat oleh Pendi Toba yang tidak disetujui Pambudi. Menurut Pendi Toba, untuk menjadikan para guru langganan Kalawarta yang setia, harus ada hubungan resmi antara Kalawarta dan Dinas P dan K. “Ini namanya numpang! Aku tidak akan setuju pada hal demikian. Kalawarta harus mempunyai
kepribadian. Harus mandiri,” kata Pambudi. 

Mengenai kelemahan Kalawarta, Pendi Toba mencatat antara lain, Kalawarta terlalu kejawa-jawaan. Padahal orang sekarang, terutama para pemuda, mempunyai pandangan yang 
melewati batas-batas kesukuan, bahkan dalam hal-haltertentu mereka melewati batas-batas kebangsaan. Juga Kalawarta keliru karena mengambil sikap terlalu hati-hati bila berhadapan dengan nilai-nilai baru yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Memang, dengan memuji secara apriori nilai-nilai lama, Kalawarta dapat mengharapkan pujian dari orang-orang tua. Ini yang namanya koran yang menjunjung nilai-nilai ketimuran! 
 



Episode 27 
Di Kaki Bukit Cibalak 




Harus kita sendiri yang memulai, tulis Pendi Toba selanjutnya. Penyalahtafsiran nilai-nilai ketimuran sama jeleknya dengan pameran isi celana dalam yang konon berasal dan kebudayaan Barat. Akhirnya orang harus 
berpikir kritis dan objektif, misalnya mengapa di negeri ini belum pernah dipentaskan secara utuh cerita Arjuna Wiwaha. Mengapa orang tidak berani menampilkan adegan Arjuna yang sedang digeluti tujuh bidadari bugil yang 
diamuk syahwat. Tetapi anehnya tak ada orang yang menyangkal Arjuna Wiwaha adalah buatan Indonesia, yang mestinya termasuk bercorak ketimuran. 

Dalam melaksanakan rencana pengembangan Kalawarta, Pambudi seakan menggelindingkan sebuah bola dari atas tebing. Hampir semua yang harus dikerjakannya sudah mendapat petunjuk tertulis dari Pendi Toba. Ia hanya 
mengubah sedikit saja, yaitu yang menyangkut pendekatan terhadap para guru sekolah dasar. Pambudi akan mengusulkan kepada Pak Barkah cara lain untuk mengimbau para calon yang diharapkan akan menjadi langganan 
Kalawarta itu. “Mencari dukungan ke Kantor P dan K secara resmi terlalu kekanak-kanakan. Membuka rubrik baru ‘Warta Pendidikan’ barangkali akan lebih berhasil,” kata Pambudi 
kepada Pak Barkah. Sebagai langkah pertama akan diusulkan supaya diadakan sayembara mengarang cerita pendek yang ditujukan kepada para guru sekolah dasar. Dengan demikian perhatian pertama para calon langganan Kalawarta akan timbul. 

“Baik, Pam, aku bersedia menangani sendiri rubrik ‘Warta Pendidikan’. Kebetulan aku seorang pengajar pula. Akan kuusahakan agar para guru yang tinggal di tempat terpencil pun merasa memiliki rubrik itu. Lalu apa rencanamu dengan sayembara mengarang cerita pendek itu?” 

“Sesuai dengan tujuannya, syarat-syarat yang harus dipenuhi para peserta harus seringan mungkin. Misalnya naskah-naskah tidak harus diketik, karena kita tahu, tidak semua guru dapat melaksanakannya.” 

“Temanya?” 

“Temanya cinta! Percintaan yang mereka alami sewaktu para guru itu menjadi murid SPG. Saya mengusulkan tema itu bukan tanpa alasan. Sewaktu saya menjadi murid SMA dulu, seorang teman perempuan memberi saya hadiah sebuah kata-kata mutiara: Dalam lintasan cinta, semua orang menjadi seniman! Tidak peduli siapa yang menemukan kata-kata itu, tetapi kita yakin, percuma saja membantah kebenarannya.” 

“Hebat. Memang, aku yang sudah tua ini pun akan sangat bergairah bila disuruh menulis cerita yang berputar-putar di atas gambar panah dan jantung hati. Kau hebat, Pam.” 

“Tetapi Bapak jangan lupa, kita harus menyediakan hadiah serta piagam-piagam. Semua peserta harus mendapat hadiah, paling tidak sehelai piagam. Ini penting.” 

“Ya, penting untuk mendapatkan sesuatu yang lebih penting. Minat para guru terhadap Kalawarta.” 

“Masih ada yang lebih penting, uang langganan mereka!” 

Seminggu kemudian Kalawarta terbit dengan wajah yang sedikit berubah. Ada beberapa rubrik tetap yang hilang, dan dua rubrik baru muncul. Rubrik “Warta Pendidikan” diurus langsung oleh Pak Barkah. Sekali ini ia 
mencantumkan gelarnya, menjadi Drs. Barkah. “Aku perlu menggunakan titelku demi kepercayaan dan wibawa,” ujarnya. Orang tidak akan ambil pusing bahwa gelar 
kesarjanaannya bukan untuk bidang pendidikan, melainkan bidang jurnalistik.

“Akan kuberikan hadiah istimewa padamu bila pengikut sayembara ternyata melebihi dua ratus orang,” kata Pak Barkah. 

“Tergantung juga pada besarnya hadiah yang tersedia.” 

“Kurelakan Vespa tua itu. Kukira masih dapat dijual seharga 600.000.” 

“Mari kita tunggu hasilnya, Pak.” 



                            ***** 



Apa yang terjadi di Tanggir dapat dilihat, didengar, bahkan dirasakan oleh Bambang Sumbodo. Meskipun ia kuliah di APDN, Semarang, Bambang sangat sering kembali ke 
rumah orangtuanya, Camat Kalijambe. Kota kecil Kalijambe bahkan sebenarnya terletak dalam wilayah Desa Tanggir. Jadi Bambang juga mendengar desas-desus yang memburuk-
burukkan nama Pambudi. Walaupun Bambang hanya mendengar nama itu, tetapi sesungguhnya secara diam-diam ia 
menghormatinya. Pambudi yang masih semuda itu telahmemiliki pribadi yang utuh. Bukan suatu kebetulan kalau Bambang mengagumi pemuda yang mempunyai kepribadianseperti Pambudi itu. Dalam banyak segi sebenarnya mereka mempunyai kesadaran yang sama, terutama yang menyangkut nilai-nilai kemasyarakatan. Tetapi Bambang tidak seleluasa Pambudi dalam mengembangkan kesadarannya, karena bagaimanapun juga ia putra seorang camat. Ia
sering merasa masygul apabila ayahnya bertindak mewakili suatu nilai yang sebenarnya sangat bertentangan dengan 
keyakinan Bambang sendiri. Misalnya, mengapa ibunya sendiri menjadi orang kedua yang paling berkuasa di Kecamatan Kalijambe. Ibunya merasa berhak memberi perintah kepada ibu-ibu lurah, juga para lurah sendiri 
dan bahkan pegawai-pegawai Kecamatan harus taat kepada ibunya. 

Tentang Pambudi. Bambang yakin bahwa bisik-bisik buruk yang menjelek-jelekkan pemuda Tanggir itu palsu belaka. Ia merasa wajib membelanya, setidak-tidaknya ia harus 
berbicara dengan Pambudi. Tetapi Bambang tahu, Pambudi sudah berada di Yogya dan alamatnya di sana tidak diketahui. Untuk menjumpai Pambudi di Yogya, Bambang 
harus menemui orangtua pemuda itu lebih dulu. Tak disangkanya ayah Pambudi terang-terangan menolak memberikan alamat anaknya. Dengan susah payah Bambang 
meyakinkan orang tua itu bahwa ia sama sekali tidak bermaksud buruk terhadap Pambudi. Malah ibu Pambudi menangis terisak-isak ketika mengatakan, “Sudahlah, Pak, mau diapakan lagi anak saya itu. Ia sudah menyingkir jauh dari desa ini. Dia sudah mengalah. Anak saya pasti sadar siapa dirinya, anak orang kecil seperti kami ini.” 

Bambang pulang. Ia tidak merasa kecewa atas sikap yang ditunjukkan oleh kedua orangtua Pambudi. Sebaliknya, Bambang dapat memahami mengapa mereka begitu 
mengkhawatirkan nasib anaknya. Fitnah telah memukul pemuda Tanggir itu dengan telak. 

Beberapa saat sebelum sampai ke jalan besar, Bambang teringat kepada Sanis. Pasti gadis itu mengetahui alamat Pambudi di Yogya. Vespa kuning itu membelok ke kanan menuju rumah Pak Modin. 



 
Episode 28 
Di Kaki Bukit Cibalak 




Di halaman samping rumah, Sanis sedang menata ikan asin di atas tampah. Ikan-ikan itu baru dibilasnya supaya kadar garamnya berkurang. Sanis mendengar sebuah Vespa 
yang berhenti di depan rumahnya. Matanya terbelalak ketika menyadari siapa yang datang. Tampahnya diletakkannya sembarangan, lalu ia lari masuk ke numah. Sampai di pintu Sanis menoleh ke belakang. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa pendatang itu adalah pemuda 
gagah yang dulu memotretnya. 

“Bu... Bu... Buuu! Pak... Pak... Paaak!” 

Sepi. Di dalam, Sanis mencium telapak tangan. Mestinya semenjak pagi aku memakai gaun kuning itu. Naluri gadis itu menyuruhnya lari ke depan cermin. Ia menyisir rambutnya cepat-cepat, kemudian mencuci tangannya di dapur. Sambil berlari ke luar ia mengelap tangannya
dengan kain gorden. Sekarang ia berhadapan dengan Bambang yang sudah lima menit berdiri di luar. Hati Sanis penuh dengan perasaan yang bercampur baur. Dan andaikata ada kalimat yang dapat melukiskan perasaannya dengan lebih tepat, tentu tidak akan terbaca. Saat itu Sanis merasa amat sangat senaaang sekali. Dan salah tingkah! 

“Dik, aku datang kemari karena ada hal yang akan kutanyakan.” 

“Pada siapa, Kak?” 

“Padamu.”

Byar. Sebuah kembang api meletupkan sinar warna-warni menerangi hati Sanis. Jantungnya menekan darah kuat-kuat ke kepala gadis itu. Pipinya merah, bibirnya gemetar. Tangan Sanis berkeringat. 

“Aku ingin bertanya padamu, Dik.” 

“Tentang apa?” 

“Tentang Pambudi. Kau tentu tahu di mana sekarang dia tinggal.” 

“Hm, anu. Oh, barangkali dia sekarang di Yogya. Ya, benar, sekarang dia tinggal di Yogya.”

“Maksudku, alamat rumahnya di kota itu.” 

“Wah, nanti dulu. Kulihat suratnya.” 

Mendadak kembang api itu padam di hati Sanis. Rasa tawar mulai terasa. Gadis itu bangkit, masuk ke dalam. Bambang melihat sepintas Sanis memakai baju yang terlalu pendek. Namun Bambang percaya, gadis itu tidak bermaksud memamerkan tungkainya yang lurus, dan mulai berbentuk sesuai dengan usianya yang sedang meninggalkan masa
kanak-kanak. Baju yang dikenakan Sanis sudah lusuh, dua tahun yang lalu baju itu pasti cukup panjangnya. 

Di dalam kamar, Sanis tidak segera mencari surat yang diterimanya dari Pambudi. Sudah lama ia tidak ingin menerimanya. Lagi pula Sanis merasa lebih perlu segera bertukar baju selagi masih ada kesempatan. Roknya berwarna merah gelap dengan baju rajutan berwarna kuning tua. Kaus itu ketat sehingga dapat mewakilinya berkata, “BH-ku berukuran 28 sekarang, dan pinggulku mulai tampak, bukan?” 

“Apa sebenarnya urusanmu dengan Pambudi, Kak?” tanya Sanis sambil menyerahkan amplop yang bertuliskan alamat Pambudi. 

“Agak sulit menerangkannya, Dik. Yang jelas Pambudiadalah seorang pemuda yang baik. Aku mengaguminya dengan sungguh-sungguh.” 

“Kemudian?” 

“Pasti kau mengerti, Pambudi menjadi korban kabar bohong sekarang. Ada orang yang ingin merusak nama baiknya. Sudah kukatakan Pambudi seorang pemuda yang baik. Aku tak pernah meragukan kejujurannya. Oleh karena itu aku ingin menemuinya di Yogya. Tidak apa-apa, aku hanya akan mengatakan ia tidak perlu berkecil hati oleh kabar buruk yang menyangkut dirinya. Mudah-mudahan simpati yangkuberikan dengan ikhlas, akan mengurangi beban batinnya. Hanya itu.” 

“Dalam suratnya yang terakhir Kak Pam menyatakan hendak meneruskan sekolah. Sekarang dia bekerja pada harian Kalawarta.” 

“Syukurlah kalau begitu. Pambudi telah menemukan hal yang paling tepat baginya. Kuliah, yah, memang sayang kalau pemuda secakap dia hanya puas dengan pendidikan menengah atas. Nah, kewajiban Dik Sanis adalah memberi semangat kepada Pambudi.” 

“Lho, mengapa aku, Kak? Mengapa aku yang harus memberinya semangat?” 

“Eh, jangan lupa, ini Desa Tanggir. Sebutir kerikil yang jatuh di lubuk sana akan terdengar suaranya sampai ke mana-mana. Pokoknya, bantulah dia mencapai keinginannya. Aku percaya, Pambudi mempunyai masa depan yang baik. Oh, tentu kalian berdua mempunyai masa depan yang baik.” 

Tak ada kata-kata lain yang keluar dari mulut Sanis. Kosong hatinya. Oh, si gagah ini tidak memberikan apa-apa padaku. Rasanya ia sama sekali tidak tahu bagaimana perasaanku padanya. Bambang, kau tidak tahu bahwa sejak kau memotretku dulu, aku tak dapat melupakanmu. Tapi kau, malah mendorongku agar lebih dekat pada Pambudi. Bambang, apa yang hebat pada Pambudi itu? Tidak sadarkah kau bahwa segala yang ada padamu lebih baik daripada Pambudi? 

Bambang Sumbodo pulang. Ada yang luruh di hati Sanis ketika Vespa-nya menghilang di tikungan. Sanis lari ke kamar, tengkurap di kasur, dan menangis. Karena dadanya sesak, ia telentang. Rusuk-rusuk bambu di atasnya seakan membaur, menciptakan bayangan yang aneh-aneh. Mula-mula tampak wajah Bambang yang cakap. Tangan pemuda itu yang penuh bulu mendekat ke pipi Sanis, yang kemudian 
menggigil. Tetapi bayangan itu terhapus oleh munculnya wajah Pambudi. Kumisnya amat jarang dan luar biasa buruknya. Hanya saja Pambudi mempunyai sorot mata yang kuat, mata seorang yang berkepribadian kokoh. Tetapi haruskah aku melupakan Bambang dan mulai lagi membuka hati untuk Pambudi? 

Pertanyaan itu takkan mungkin terjawab oleh Sanis sendiri. Usianya yang baru menginjak lima belas tahun takkan memberinya kemampuan untuk menjawab persoalan 
demikian.






Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...