Episode 1
Di Kaki Bukit Cibalak
Dulu, jalan setapak itu adalah terowongan yang menembus belukar puyengan. Bila iring-iringan kerbau lewat, tubuh mereka tenggelam di bawah terowongan semak itu. Hanya bunyi korakan yang tergantung pada leher mereka terdengar dengan suara berdentang-dentang, iramanya tetap dan datar. Burung-burung kucica yang terkejut, terbang mencicit. Mereka tetap tidak mengerti mengapa kerbau-kerbau senang mengusik ketenteraman belukar puyengan tempat burung-burung kecil itu bersarang. Meskipun kerbau-kerbau itu telah jauh memasuki hutan jati Bukit Cibalak, suara korakan mereka masih tetap terdengar. Dan
bunyi korakan adalah pertanda yang selalu didengarkan oleh majikan. Para pemilik kerbau di sekitar kaki Bukit Cibalak tidak menggembalakan ternak mereka. Binatang itu
bebas berkeliaran mencari rumput, mencari umbut gelagah, atau berkubang di tepi hutan jati. Sering kali kerbau-kerbau itu tidak pulang ke kandang. Artinya, mereka tidur di hutan atau sedang berahi pada pejantan milik tetangga di sana. Pernah terjadi kerbau Mbok Sum tiga hari tidak pulang. Pada hari keempat binatang itu muncul bersama anaknya yang baru lahir di tengah hutan. Pada waktu itu masih banyak harimau Jawa berkeliaran di hutan jati Cibalak. Tetapi binatang buas itu lebih suka menerkam
monyet atau lutung, apa lagi celeng pun masih banyak terdapat di sana.
Sekarang terowongan di bawah belukar puyengan itu lenyap, berubah menjadi jalan setapak. Tak terdengar lagi suara korakan kerbau karena binatang itu telah banyak
diangkut ke kota, dan di sana akan diolah menjadi daging goreng atau makanan anjing. Di sekitar kaki Bukit Cibalak, tenaga kerbau telah digantikan traktor-traktor tangan. Burung-burung kucica yang telah turun-temurun
mendaulat belukar puyengan itu terpaksa hijrah ke semak-semak kerontang yang menjadi batas antara Bukit Cibalak dan Desa Tanggir di kakinya. Orang-orang yang biasa
memburuh dengan bajak, kemudian berganti pekerjaan. Pak Danu misalnya, yang dulu dikagumi orang karena kecakapannya memainkan bajak, kini bekerja pada Akiat. Ia menjadi tukang timbang ampas singkong. Gajinya berupa makanan yang ia terima pada hari itu plus sedikit uang. Dua orang anak gadis Pak Danu dibawa oleh makelar, menjadi babu di Jakarta, empat ratus kilometer jauhnya dari Desa Tanggir.
Bekas telapak kerbau yang mengukir jalan-jalan setapak telah terhapus oleh gilasan roda-roda sepeda atau sepeda motor. Dari sebuah lorong setapak yang sempit kini terciptalah sebuah jalan kampung yang agak lebar. Orang-
orang pulang-pergi melewati jalan itu. Pagi-pagi mereka pergi ke pasar membawa apa-apa untuk dijual di sana. Biasanya mereka menjual akar kayu jati yang mereka gali dari lereng-lereng Bukit Cibalak. Atau daun pohon itu
meskipun mereka memperolehnya dengan mencuri. Tinggal beberapa puluh batang pohon jati di Cibalak, di dekat rumah seorang mandor hutan. Pulang dari pasar orang-orang yang tinggal di sekitar bukit itu membawa keperluan hidup mereka. Barang-barang plastik: ember, tali jemuran, stoples, atau payung. Tempat tembakau yang biasa mereka anyam dari jenis rumput telah mereka singkirkan. Dompet
plastik ternyata lebih menawan hati mereka. Oh, mereka orang-orang Tanggir tidak merasa terganggu oleh banyaknya sampah plastik dalam pawuan mereka. Mereka punya kesabaran yang luar biasa untuk menjumputi
sampah-sampah pabrik itu bila mereka hendak menjadikan isi pawuan mereka sebagai pupuk kompos.
Suatu siang Pak Danu pulang dari rumah taukenya. Ia sengaja singgah beberapa kali ke rumah orang-orang yang dikenalnya. Pak Danu ingin memamerkan sebuah tabung yang
dicurinya dari rumah Akiat, sambil berpropaganda dengan bangga, “Ya, inilah obat semprot ketiak yang sering disiarkan oleh radio dan televisi. Inilah barangnya. Kalian baru melihat gambarnya atau mendengar namanya
saja, bukan? Tetapi aku kini telah memilikinya! Dikampung ini pastilah aku yang pertama kali memiliki barang mahal ini.”
Orang-orang memandang Pak Danu dengan kagum. Kuli Akiat itu membusungkan dadanya karena merasa telah naik derajatnya. Di hadapan orang-orang yang mengelilinginya
Pak Danu menambahkan, “Seandainya kedua orang anak gadisku tidak keburu menjadi babu, pasti barang ini akan menolong mereka. Akan kusemprot sekujur tubuh mereka. Ketiaknya, punggungnya, dan pantatnya. Bau siput busuk
akan lenyap seketika dan, nah... jodoh mereka akan segera datang. Sayang, sayang benar.” Dan... cret! Pak Danu memijit tombol kecil pada ujung tabung itu. Bau asing tercium. Bukan bau kembang kemuning, bukan bau daun sirih, juga bukan bau kubangan kerbau. Orang-orang makin terpesona melihat benda di tangan Pak Danu. Namun tak seorang pun dapat membunyikan sebuah aksara di sana.
Pagi hari pada musim tanam ladang. Tegalan yang telah tercangkul dan berbongkah-bongkah kering, tersiram hujan. Wanginya tanah. Pada masa yang silam, burung srigunting yang hitam dan berekor panjang akan muncul. Biasanya burung-burung itu terbang di antara pohon-pohon randu dan baru hinggap bila sudah ada laron atau belalang di paruhnya. Musim seperti saat itu amat disukai oleh burung-burung srigunting untuk memamerkan kicaunya yang khas. Sering kali mereka terbang hanya beberapa jengkal dari para petani yang sedang menanam bibit. Namum srigunting-srigunting telah lama punah dari wilayah Bukit Cibalak. Yang induk ditangkapi, dimasukkan ke dalam kotak-kotak kaca menjadi pajangan. Anak-anak mereka dikurung menjadi hiasan halaman orang-orang yang tidak senang melihat unggas itu menikmati kebebasannya. Di Desa Tanggir kicau burung telah diganti dengan suara motor dan mobil, radio dan kaset, atau disel penggerak gilingan padi.
Dua orang gadis tanggung sedang berjalan menuju Balai Desa. Mereka adalah Sanis dan Jirah. Sanis adalah anak modin di Tanggir. Ayah Sanis tidak memiliki tanah sedikit pun, kecuali sedikit tanah bengkok yang ia terima sebagai gaji seorang modin. Tugas ayah Sanis adalah segala sesuatu yang menyangkut upacara keagamaan, dan menjaga surau di desa itu. Aneh, hal yang demikian amat baik bagi pertumbuhan badan Sanis. Karena ayahnya tidak memiliki tanah itulah, gadis itu tidak pernah naik-turun lereng Cibalak. Sanis memiliki tungkai yang lurus, tidak bengkok seperti kebanyakan perempuan Tanggir. Pancuran air bening di samping surau membasuh muka Sanis setiap hari. Mukanya bersih. Dan gadis Pak Modin itu mempunyai
pembawaan yang menawan; bila ia hendak menoleh, Sanis selalu menggulirkan bola matanya lebih dulu ke arah orang yang memanggilnya.
Episode 2
Di Kaki Bukit Cibalak
Selama perjalanannya ke Balai Desa, Jirah yang paling banyak berbicara. Mula-mula ia bercerita tentang pengalamannya menggunakan sampo yang terbaru. Kemudian
bercerita tentang sabun yang mengandung minyak zaitun. Jirah tidak perlu merasa bodoh walaupun ia tidak tahu apa itu zaitun. Yang penting ia dapat menirukan kata-kata tukang iklan di radio atau televisi. Dengan sungguh-
sungguh Jirah berkata kepada Sanis, “Tadi malam televisi Mbok Sum menawarkan obat baru yang luar biasa, pil pelangsing. Aku mempunyai usul agar si Katam segera diberi obat itu supaya beri-berinya cepat kempes.”
Di halaman Balai Desa telah berkumpul banyak sekali warga Desa Tanggir. Lurah baru akan dipilih hari itu, karena lurah yang lama telah meletakkan jabatan. Tepatnya, lurah yang lama telah menandatangani surat pernyataan
berhenti. Ia tidak bisa berbuat lain sebab surat itu konon dibuat dan disodorkan oleh Sekda Kabupaten. Alasannya, Lurah bertanggung jawab atas terjualnya sapi pejantan milik desa. Alasan itu sangat patut dan kebetulan nyata. Nanum sebab yang sebenarnya adalah
perselisihan yang terjadi antara Lurah dan seorang warga Tanggir yang ternyata saudara dekat Bupati.
Penduduk Desa Tanggir adalah keturunan dari dua kelompok orang yang berlainan. Kaum kawula yang dulu dipaksa oleh Raja Mataram untuk membuka tanah-tanah rawa di sekitar
kaki Bukit Cibalak, adalah nenek moyang kebanyakan orang Tanggir. Seperti nenek moyangnya, orang Tanggir masih berjiwa kawula. Falsafah hidupnya, nrimo-pandum. Mereka itulah orangtua para pelayan rumah tangga di kota-kota, atau tukang-tukang harian di proyek pembangunan. Yang tetap tinggal di Tanggir kebanyakan menjadi petani tanpa
tanah garapan atau pedagang kecil. Dalam perkembangannya memang terjadi kekecualian-kekecualian. Seperti Mbok Sum,
misalnya. Ia memiliki sawah dan ladang yang luas. Uang yang masuk ke Desa Tanggir sebagian besar melalui tangannya. Perempuan yang sudah janda itu menjadi perantara tauke-tauke dari kota yang menguasai perdagangan gula kelapa, hasil utama yang dikeluarkan oleh Desa Tanggir.
Betapa pentingnya peran Mbok Sum di desa kecil itu, kalau roman mukanya saja sering dijadikan pertanda baik atau buruk. Apabila pagi-pagi wajahnya bening, biasanya Mbok
Sum akan melayani para penjual gula kelapa dengan ramah, penuh basa-basi yang akrab. “Hari ini gula kalian kubeli tujuh ratus per kilo. Naik lima puluh rupiah, bukan? Bagi yang telah mengebon uang, gula kalian kubeli enam ratus rupiah.”
Para petani gula kelapa itu tidak pernah memberi tanggapan apa pun kecuali anggukan kepala. Mereka kawula, mereka nrimo pandum. Juga mereka tidak akan berkata apa pun bila beberapa hari kemudian roman muka Mbok Sum berubah. “Wah, hari ini ada kabar buruk. Tadi malam tauke datang dan mengatakan bahwa truknya yang nomor sebelas terguling di Tanjakan Sengkala. Enam ton gula masuk ke
kali. Jadi aku tak bisa membeli gula kalian kecualidengan harga lima ratus rupiah.”
Mbok Sum memperkuat dongengnya dengan sumpah. Sebenarnya ia tidak usah berbuat demikian karena tak seorang pun dari para petani gula kelapa itu yang akan minta bukti
kebenaran kisah di Tanjakan Sengkala. Mereka tidak tahu apakah ada jalan yang terjal dan bernama Tanjakan Sengkala.
Nenek moyang sebagian kecil penduduk Tanggir adalah kerabat ningrat yang menyingkir dari istana Mataram. Mereka adalah para pembangkang atau kelompok yang kalah dalam perselisihan di kalangan istana. Di Desa Tanggir mereka menurunkan priyayi-priyayi kecil: opas Kantor Kecamatan, mantri pasar, atau guru-guru sekolah. Ciri
mencolok kelompok ini adalah rendahnya penghargaan mereka pada pekerjaan-pekerjaan kasar, serta kuatnya mereka memegang garis keturunan. Mereka berkelompok-kelompok dalam lingkaran ikatan trah. Trah Dipayudan misalnya, adalah perkumpulan orang yang mengaku keturunan Ki Demang Dipayuda. Ada lagi trah Pancawangen yang mengaku keturunan Raden Mas Pancawangi, seorang prajurit Pangeran Diponegoro yang menyingkir dan beranak-pinak di Tanggir. Konon. Semuanya konon.
Di pagi itu baik mereka yang keturunan kawula maupun yang mengaku keturunan kerabat ningrat sudah berkumpul di halaman Balai Desa. Banyak orang yang akan memberikan
suara kepada calon yang disukainya dengan ikhlas. Tetapi banyak juga yang bersedia menjual suaranya dengan berbagai cara yang dirahasiakan. Perdagangan suara ini acap kali membuat suasana seperti dalam perang dingin. Seorang pemilih berkata dengan enaknya, “Toh hanya sehari ini kita mempunyai harga. Besok, seorang yang terpilih akan berubah sikap dari ramah-tamah kepada semua orang menjadi acuh tak acuh kepada siapa pun. Tadi malam semua jago menjamu kita sekenyang-kenyangnya. Jangan harap
besok pagi kita akan dipersilakan duduk kalau kita bertamu ke rumahnya. Kedatangan kita sesudah hari ini akan ditanggapi dengan dingin. Salah-salah kita disangka akan minta ini, minta itu. Percayalah.”
Matahari telah naik setinggi bubungan Balai Desa. Orang yang berkumpul makin banyak, tetapi suasana tidak hiruk-pikuk. Peluh telah membasahi kening dan punggung, namun
tidak terdengar suara orang mengeluh. Mereka berkelompok-kelompok membicarakan siapa kiranya yang akan terpilih. Setiap orang menghendaki jagonya yang jadi. Secara umum
mereka menghendaki lurah yang baru nanti baik orangnya.
Tidak menjual sapi milik desa, tidak memungut iuranirigasi. Lurah yang baru juga diharapkan mau menutup-nutupi penduduk yang pekerjaannya mencuri kayu angsana yang baru saja ditanam di tanah-tanah milik Pemerintah.
Dan ada lagi, hendaknya lurah yang baru nanti segera mengganti istrinya. Yang menginginkan demikian ialah orang yang merasa punya anak gadis yang pantas dipanggil Bu Lurah. Seorang yang memakai caping lebar berbisik kepada temannya bahwa ia ingin saudaranyalah yang
terpilih supaya ia dapat nunut kamukten.
Hampir semua orang menyatakan harapannya dengan berbisik-bisik, malah banyak pula yang hanya dapat menyimpannya dalam hati. Tetapi seorang muncikari yang membedaki mukanya tebal-tebal berkata dengan lantang, “Siapa pun
yang bakal menjadi lurah Tanggir, bagiku sama saja. Seorang lurah adalah laki-laki dengan cucuk emas. Baik janda atau gadis, bahkan seorang ibu rumah tangga akan sulit menolak kehendak seorang laki-laki cucuk emas. Saya
paling berpengalaman tentang masalah itu. Oh...”
Germo itu berhenti berbicara ketika ia sadar pidatonya tidak diperhatikan orang. Ia lupa, pada siang hari seperti itu semua laki-laki ingin dikatakan “tidak pernah kenal dengan seorang germo”.
Episode 3
Di Kaki Bukit Cibalak
Dan tiba-tiba perhatian semua orang tertuju ke bawah pohon johar di sudut halaman Balai Desa. Di sana seorang kakek sedang membaca mantra. Tentu ia telah dibayar oleh seorang calon agar “wahyu” datang kepada calon yang telah memberinya uang. Seutas rotan diputar-putar di atas kepalanya. Kakek itu terus berbuat demikian sampai ada orang yang melapor kepada hansip. Kemudian si kakek
dituntun keluar dari halaman Balai Desa.
Tiap-tiap calon mempunyai beberapa orang botoh yangmempunyai tugas sebagai pengumpul suara. Soal cara, tidak diperhatikan benar. Maka para botoh inilah yang hampir
selalu mendatangkan onar pada setiap pelaksanaan pemilihan pamong desa. Sesungguhnya para botoh itu tidak pantas mendapat kepercayaan apa pun. Mereka mau bekerja dengan satu tujuan, uang! Mereka bisa berkhianat kepada calon yang telah membayarnya bila ia melihat uang yang lebih banyak. Maka para botoh mempunyai pasangan yang amat cocok, para petaruh.
Siapa pun yang ingin menjadi lurah Desa Tanggir tidak boleh sayang terhadap uang dua, tiga, atau empat puluh juta rupiah. Kelima orang calon yang hendak dipilih pagi itu telah mengeluarkan uang banyak sekali, dari uang
pendaftaran, uang ujian sampai kepada uang yang harus dikeluarkan untuk para botoh dan dukun. Tetapi yangpaling besar jumlahnya adalah biaya untuk perjamuan. Setiap calon berusaha menjamu seluruh warga Desa Tanggir dengan makan-minum yang hampir tanpa batas. Biaya besar itu akan membawa akibat yang menyulitkan calon yang menang, apalagi yang kalah. Jadi ada benarnya bila
seseorang mengatakan bahwa tugas pertama seorang lurah baru adalah menata kembali perekonomian rumah tangganya. Bila usahanya gagal, berarti cikal bakal kesulitan tugas sudah dimulai. Kecurangan para lurah biasanya bermula dari titik ini.
Meskipun ada lima orang calon, kebanyakan orang mengatakan hanya dua orang yang memiliki peluang. Satu di antaranya adalah Pak Badi. Ia memang patut merasa berbesar hati, karena di Desa Tanggir ia mempunyai nama yang baik. Orang Tanggir belum pernah mendengar Pak Badi terlibat dalam perbuatan curang, apalagi perjudian dan pelacuran. Sifat dermawannya amat menonjol. Juga semua
orang Tanggir tahu, Pak Badi memiliki ijazah SMEP. Sekiranya kelima calon itu masing-masing memegang buku rapor, pastilah angka tertinggi untuk mata pelajaran budi pekerti ada pada rapor Pak Badi.
Calon lain yang keadaannya mengimbangi Pak Badi adalah calon yang memegang lambang dengan gambar pedang. Dia berpakaian adat Jawa dengan belangkon, jas hitam wungkal
gerang, dan kain batik sida mukti. Kumis tebal yang sengaja dipeliharanya mengingatkan orang akan Aria Panangsang, adipati Pajang dalam ketoprak. Calon yang gagah itu bernama Dirgamulya, dan terkenal dengan sebutan Pak Dirga. Di dalam pergaulan Pak Dirga lebih populer daripada keempat calon lainnya. Ia luwes, pandai bermain bola, pandai berjudi, dan gemar berganti istri.
Selain Pak Badi dan Pak Dirga semuanya calon-calon lemah. Barangkali mereka mencalonkan diri karena didorong oleh
perasaan ingin menjadi seorang lurah semata-mata. Atau benar kata sementara orang, bahwa ketiga calon yang lemah itu hanyalah boneka-boneka yang sengaja dipasang oleh Pak Dirga untuk mengurangi suara yang berpihak kepada Pak Badi. Siang itu penduduk Tanggir menentukan siapa yang akan menjadi lurah mereka. Dan ternyata keluhuran budi,
kearifan, serta kejujuran Pak Badi tidak memberikan nasib baik. Ia kalah, karena Pak Dirga-lah yang terpilih.
Pambudi merasa masygul dan kecewa karena calon yang dijagoinya kalah. Ia menginginkan Pak Badi yang terpilih sebab Pambudi menyenangi wataknya. Pambudi yang berusia
24 tahun itu bekerja mengurus lumbung koperasi Desa Tanggir. Sudah dua tahun ia bekerja di sana, dan akhirnya ia berkesimpulan bahwa badan usaba itu tidak mungkin terus ditungguinya. Sebenarnya Pambudi ingin menjadikan lumbung koperasi yang diurusnya sebagai tempat ia membuktikan kecakapannya. Ia ingin membuat badan sosial
itu sungguh-sungguh merupakan sebuah koperasi, yang akan banyak faedahnya bagi segenap penduduk Tanggir. Tetapi lurah yang lama tidak demikian pendapatnya. Pak Lurah
sering melanggar ketentuan-ketentuan perkoperasian yang selalu ia pidatokan sendiri. Tidak jarang Lurah memberi perintah menjual padi lumbung koperasi tanpa melalui ketentuan yang benar. Maka ketika terjadi pergantian lurah, Pambudi menjagoi Pak Badi. Ia yakin, orang sejujur Pak Badi mempunyai rasa tanggung jawab dan ingin
memajukan desanya, oleh karena itu tidak akan seenaknya menjual padi milik rakyat Tanggir. Kekalahan Pak Badi menambah rasa kecil hati pada Pambudi. Dan benar juga, Pak Dirga sebagai lurah baru sama saja dengan yang digantikannya. Sebulan sesudah pengangkatannya, Pak Dirga memulai dengan kecurangannya.
Terkadang Pambudi bertanya kepada diri sendiri, mengapa ia tidak berbuat seperti Poyo, teman sejawat dalam pengelolaan lumbung desa itu. Poyo hidup dengan sejahtera
bersama istri dan anak-anaknya. Rumah mereka sudah ditembok. Belum lama ini Poyo membeli sebuah sepeda motor. Pambudi tahu persis mengapa sejawatnya bisa memperoleh semua itu. Ia bekerja sama dengan Lurah,
misalnya memperbesar angka susut guna memperoleh keuntungan berton-ton padi. Atau mereka bersekongkol dengan para tengkulak beras dalam menentukan harga jual padi lumbung koperasi. Dengan cara ini saja mereka akan mendapat keuntungan berpuluh ribu rupiah, karena mereka dapat mencantumkan harga penjualan semau mereka sendiri, dan dari tengkulak padi mereka mendapat semacam komisi. Pambudi tahu, sama sekali tidak sukar berbuat demikian
karena badan koperasi itu tanpa pengawasan, apalagi penelitian. Dan, kebanyakan penduduk Tanggir adalah anak-cucu kaum kawula. Mereka nrimo, sangat nrimo.
Hati Pambudi makin lama makin resah. Rasanya ia takkan bisa berbuat banyak dengan lumbung koperasi Desa Tanggir. Pak Dirga, lurah yang baru, berbuat tepat seperti yang
diramalkan Pambudi. Curang! Aneh, pikir Pambudi, aku hanya ingin bekerja menurut ukuran yang wajar. Mengembangkan lumbung koperasi untuk kebaikan bersama. Memang aku akan memperoleh keuntungan pribadi bila tujuanku berhasil. Mungkin pendapatan pribadiku akan naik. Dan siapa yang akan mengutukku bila aku dibayar karena tenaga yang telah kuberikan kepada koperasi? Bukan
hanya aku yang akan beruntung bila lumbung koperasi Desa Tanggir menjadi badan usaha yang bonafide. Tidak, aku tidak berlebih-lebihan dalam bercita-cita ini. Koperasi untuk kepentingan bersama, tetapi alangkah
sulit mengusahakan kemajuannya.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar