Selasa, 29 September 2020

"LAUT BIRU" CHAPTER VII

The Rescue

CHAPTER VII

The Rescue


Masa kini

Gedung NewsTV
15.24 WIB
H minus 92:36:00


Tita terdiam di kantor, di ruangan Anton. Kejadian hari ini betul-betul hampir tidak bisa ia terima sebagai kenyataan. Keadaan berubah silih berganti dengan amat cepat. Baru saja ia dan Anton gembira ketika Prita pulang, lalu berganti kesedihan mendalam setelah mendengar mengenai kematian Lucia, lalu ternyata berita kematian itu ditangguhkan, dan kini Anton pergi menyusul Lucia. Di awal hari, ia hanyalah seorang second-in-command di bawah Anton, dan sepertinya akan tetap begitu. Tapi kini dia adalah officer-in-charge, first-in-command, mengisi tugas Anton yang kini tengah pergi entah sampai kapan. Bagi orang seteratur seperti Tita, ini jelas bukan sesuatu yang bisa diterima dengan mudah.

Ia memang pernah menjadi first-in-command ketika Anton izin menikah dengan Lucia, tapi itu harus dianggap sebagai sebuah kasus yang sama sekali lain. Ketika itu keadaan di luaran cenderung baik-baik saja, pun kalau ada apa-apa, ia masih bisa menghubungi Anton untuk meminta pertimbangan. Namun kali ini, ia harus berusaha sendiri, lagipula, firasatnya mengatakan bahwa keadaan bakal menjadi “tidak baik-baik saja”. Inilah yang selama ini ditakuti oleh Tita, menjadi first-in-command justru ketika akan menghadapi “pertempuran penting”.

“Tita,” kata Fitri membuyarkan lamunan Tita.

Tita menoleh, dan melihat, tidak hanya Fitri, melainkan juga Mutia, dan seluruh jajaran personel yang selama ini bekerja di bawah Anton, yang kini harus ia komandoi. Selama ini, Tita memang mengizinkan mereka semua memanggilnya dengan nama, ini tidak seperti Anton yang dipanggil dengan sebutan ‘Bos’ (kecuali Fitri, Nana, dan Mutia).

“Ada apa?” tanya Tita.

“Tindakan kita selanjutnya apa?” tanya Fitri,

“kita kehilangan Lucia, juga Anton, dan sepertinya bakal terjadi sesuatu dengan segera,”

Tita semakin pusing mendapatkan pertanyaan seperti itu. Ia pun tak berusaha untuk menyembunyikan kebimbangannya itu.

“Aku nggak tahu, semuanya bikin aku pusing,” kata Tita,

“menurut kamu kita kudu ngapain?”

“Well, karena ada perintah buat jangan mendahului dulu,” kata Fitri,

“kayaknya kita kudu tetep jaga status quo deh, jangan bikin statement dulu sampe ada perkembangan baru,”

“Ya, gitu juga baik,” kata Tita,

“bikin aja kayak yang kamu bilang,”

“Ada lagi?” tanya Fitri.

“Udah deh, tinggalin aku dulu,” kata Tita,

“ini bukan sesuatu yang mudah diterima gitu aja,”

Fitri hanya mengangguk saja, lalu meninggalkan tempat. Ketika Fitri melewati beberapa orang, ia mendengar mereka berbicara sambil berbisik. Fitri pun segera tahu kalau mereka membicarakan soal sikap Tita. Fitri sendiri maklum dengan sikap Tita, tapi jujur saja itu bukan sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh seseorang yang sedang berada pada first-in-command, pada saat menghadapi krisis, di depan anak buah lagi, dan Fitri tahu hal itu.

Bagi Fitri, masalah mengenai Tita selalu sama. Fitri sependapat dengan Anton bahwa Tita memiliki potensi tersembunyi (bahkan Fitri lah satu-satunya yang percaya hal ini selain Anton); tapi Tita juga dinilai sudah terlalu lama “bersembunyi” di balik bayangan Anton. Ini adalah pertama kalinya Anton pergi sementara ada keadaan genting yang akan datang. Cepat atau lambat, desakan ke arah pemakzulan Tita pasti akan tiba.

Saat tengah melamun itulah Fitri terkejut, ternyata di hadapannya sudah ada Bu Sabrina. Ia menatap bagaikan manusia es, dingin dan langsung menusuk ke mata Fitri; namun Fitri sudah terbiasa dengan tatapan mata seperti itu.

“Ikut aku, cepat,” kata Bu Sabrina.

Fitri pun lalu mengikuti Bu Sabrina. Betapa pun Fitri sering mengeluh dan mengolok-olok kepemimpinan Bu Sabrina yang dingin dan bertangan besi, secara profesional, Fitri memang tetap menghormati Bu Sabrina sebagai atasannya. Mereka berdua lalu masuk ke sebuah ruangan yang kosong, tempat di mana kecil sekali kemungkinan ada pengintip atau penguping.

“Kenapa, Bu Sabrina?” tanya Fitri.

“Langsung saja, secara rantai komando, Tita sudah mengambilalih komando dari Anton, kan?” tanya Bu Sabrina.

“Betul, tapi kita semua kan tahu itu,” kata Fitri.

“Menurutmu bagaimana Tita?” tanya Bu Sabrina.

“Maksud Anda, Bu?” tanya Fitri menyelidik.

“Bagaimana menurut kamu soal Tita, apakah dia pantas untuk itu?” tanya Bu Sabrina.

Fitri paham, sepertinya Bu Sabrina hendak mengadu domba antara dirinya dengan Tita. Atau lebih parah lagi, Bu Sabrina ingin menjatuhkan Tita mumpung tidak ada Anton. Semua orang juga tahu kalau selama ini Anton selalu melindungi Tita.

“Saya pikir dia pantas, Bu Sabrina,” kata Fitri.

“Jangan bohong,” kata Bu Sabrina.

“Saya berani bersumpah,” kata Fitri,

“Tita teman saya dan akan selalu begitu,”

“Bagus, kalau begitu, kamu tidak ingin terjadi apa-apa dengan Tita, kan?” tanya Bu Sabrina.

“Maksud Anda bagaimana?” tanya Fitri semakin tidak mengerti.

“Begini keadaannya, Nn. Fitri; posisi yang dipegang oleh Anton, dan saat ini dipegang oleh Tita, adalah posisi yang diperebutkan oleh banyak orang di kantor ini; jika mereka tahu kalau Anton pergi, pasti mereka akan segera berebutan untuk menjatuhkan Tita, karena mereka tahu bahwa menjatuhkan Tita lebih mudah daripada menjatuhkan Anton,” kata Bu Sabrina.

“Tidak masuk akal, bukankah semua itu harus atas sepersetujuan Ibu dahulu?” tanya Fitri,

“jangan bilang kalau Bu Sabrina mau memutus prosedur rantai komando!”

“Aku tidak akan berbuat begitu, untuk saat ini,” kata Bu Sabrina,

“tapi kalau memang Tita terus menunjukkan kelemahan, aku tidak akan ragu lagi untuk mencabut mandat,”

“Tapi ini gila!!? Jadi Anda ingin memakzulkan Tita juga!??” pekik Fitri.

“Bukan, tapi aku hanya ingin jabatan itu dipegang oleh orang yang benar-benar mampu,” kata Bu Sabrina,

“Anton sudah menunjukkan kualitasnya, tapi Tita?”

“Kalaupun Bu Sabrina menjatuhkan Tita sekarang, bagaimana nanti kalau Anton kembali??” tanya Fitri.

“Itu yang mau aku bicarakan dengan kamu, Nona Fitri,” kata Bu Sabrina.

Fitri terdiam. Entah permainan apalagi yang akan dimainkan oleh atasannya ini. Apa pun itu, Fitri tengah merasa ia sedang akan dijadikan bidak.

“Kalau memang Tita tidak bisa memegang komando ini, kamu harus segera mengambilalih komando dari Tita,” kata Bu Sabrina.

“Maksud Anda? Kudeta?” tanya Fitri.

“Lebih baik kamu yang memegang sementara kan, sampai Anton kembali?” tanya Bu Sabrina,

“Aku sudah tahu kemampuanmu, Nona Fitri; kamu bakal lebih cocok di posisi itu seandainya Tita tidak bisa, lagipula kamu juga setia pada Anton,”

“Apa ada alternatif kalau saya menolak?” tanya Fitri.

“Aku tidak mau berpikir rumit,” kata Bu Sabrina,

“kalau kamu menolak, aku akan berikan ke orang lain, dan aku yakin, orang itu, siapapun nantinya, pasti akan pula memakzulkan Anton ketika Anton kembali nanti; tuduhannya cukup lengkap untuk itu,”

Betul juga. Sekarang Fitri betul-betul menghadapi buah simalakama. Ia memang tidak begitu percaya Tita, tapi haruskah ia mengkudeta Tita demi Anton? Kalau Fitri menolak, akibatnya bisa buruk, tidak hanya untuk Tita tapi juga untuk Anton nantinya. Dimakzulkan dari posisi setinggi itu jelas bukan sebuah pilihan, dan pasti ini tidak adil untuk Anton.

“Aku percaya Tita masih bisa memegang jabatannya untuk saat ini,” kata Fitri.

“Dan kalau ternyata terbukti dia tidak bisa?” tanya Bu Sabrina.

“Kalau begitu, saat itu saya akan mengambil alih, demi Anton,” kata Fitri,

“tapi tidak hingga saat itu betul-betul tiba,”

“Jadilah,” kata Bu Sabrina,

“tunggu panggilan dari aku, Nona Fitri,”

Bu Sabrina pun berlalu dari ruangan. Sepeninggal Bu Sabrina, Fitri segera menghantamkan tinjunya ke arah dinding dengan keras sembari mengumpat. Kenapa masalah sepelik ini dia ikut juga dibawa-bawa??


Markas Komando Angkatan Laut
18:27 WIB
H minus 89:33:00


Anton tertidur kelelahan di dalam hanggar helikopter di Markas Komando Angkatan Laut. Perintah dari Laksdya Sihombing adalah sebelum gelap, maka Anton dan Prita sekali-sekali dilarang meninggalkan hanggar helikopter. Pers saat ini tengah mengerubuti pagar terluar Markas, dan Laksdya Sihombing tidak ingin keberadaan Anton dan Prita di sini diketahui, karena bisa menimbulkan syak wasangka.

Mereka berdua bahkan tidak turun dari helikopter, bahkan hingga ketika helikopter itu ditarik masuk ke hanggar. Penjara singkat yang bagi Anton dan Prita cukup menjemukan. Untunglah pihak Angkatan Laut begitu berbaik hati dalam mengakomodasi mereka. Mereka diberikan makan siang, walaupun harus dilakukan di dalam hanggar, tentu saja. Dan untuk membunuh waktu, Anton pun bermain catur dengan salah seorang kru hanggar. Namun waktu berlalu begitu lambat sehingga Anton dan Prita pun mulai kelelahan.

Dari kurir yang dikirim untuk memberitahukan informasi terbaru, diketahui bahwa KRI Ternate sudah buang sauh segera setelah ada perintah, itu berarti bahkan sebelum Anton meninggalkan NewsTV. Selain itu juga diberitahukan perihal badai di Samudera Indonesia, sehingga penerbangan apapun amat sangat berbahaya untuk dilakukan, apalagi menuju jurusan badai. Anton dan Prita, yang sudah lelah pun akhirnya tertidur saling berdempetan di hanggar, sampai salah seorang kru membangunkan mereka.


19.37 WIB
H minus 88:23:00


Sebuah helikopter kembali disiapkan, tapi kali ini bukan dari jenis Bell-412, melainkan dari Mi-17. Pun bukan helikopter milik Angkatan Laut, karena Angkatan Laut tidak pernah mengoperasikan heli bongsor ini. Simbol yang tertera di badan heli jelas menunjukkan bahwa ini adalah helikopter milik Angkatan Darat. Mengapa digunakan helikopter milik Angkatan Darat? Karena saat ini, hanya helikopter inilah yang dinilai masih cukup tangguh untuk menembus suasana angin yang kencang bertiup.

Suasana di luar sudah sepi, sehingga tidak ada yang memberi perhatian pada helikopter AD yang kini berada di Markas AL, sebuah hal yang seharusnya amat mencolok. Anton dan Prita dengan cepat segera dinaikkan ke dalam helikopter. Mereka sendiri tidak begitu banyak bertanya sehingga pemindahan bisa berlangsung cepat.

“Kita akan ke mana?” tanya Anton kepada pilot heli begitu heli ini mulai mengudara.

“Pangkalan Aju Gabungan di Pelabuhan Ratu,” jawab sang pilot,

“di sana kalian akan transit sambil menunggu badai reda,”

“Kapan kita bisa ke KRI Ternate?” tanya Anton.

“Saya tidak tahu, menunggu badai reda mungkin,” kata pilot,

“instruksi yang saya terima hanyalah untuk memindahkan Anda dari Jakarta ke Pelabuhan Ratu; selanjutnya itu keputusan yang di atas,”

Anton hanya mengangguk lalu kembali menghempaskan tubuhnya di atas tempat duduk heli, sementara heli terus menembus kegelapan malam. Angin yang bertiup kencang di angkasa terasa betul sedikit menggoyangkan helikopter ini, untungnya jenis Mi-17 memiliki kestabilan posisi yang sangat baik. Prita masih duduk di samping Anton, dan melihat Anton gusar, Prita kembali memegang tangan Anton.

“Sabar,” kata Prita

“Aku sabar,” jawab Anton.

“Kalau Tuhan memang berkehendak Lucia selamat, pasti selamat,” kata Prita.

“Aku tahu,” kata Anton,

“tapi banyak yang lagi aku pikirin,”

Prita tidak menjawab, hanya mengencangkan remasan lembutnya di tangan Anton. Sampai di sini, mulai timbul pertanyaan di benak mereka berdua akan mengapa mereka ikut dalam perjalanan ini. Prita lalu meletakkan kepalanya di pundak Anton, seolah bermanja di sana.

“Apa yang akan menunggu kita di sana?” tanya Prita sambil menerawang jauh.

“Aku nggak tahu,” kata Anton,

“masih jauh, kamu istirahat saja,”

Prita mengangguk, lalu ia semakin membenamkan kepalanya ke pundak Anton. Maka Anton pun segera melingkarkan salah satu tangannya ke pundak Prita untuk memberinya kenyamanan. Prita juga mendekap tangan Anton yang satu lagi, kemudian matanya mulai terpejam dan ia tertidur di dalam pelukan Anton.

Location Unknown
Time Unknown

Erwina menangis sesenggukan meratapi nasibnya yang malang. Ia masih terduduk di kursi yang miring sehingga posisinya mirip seperti berbaring. Tangan dan kakinya terikat kuat sehingga dia tak bisa bergerak, dan tubuhnya yang telanjang terpapar sempurna di bawah nyala lampu ber-watt besar. Bagian kemaluannya masih terasa sakit akibat pembukaan paksa di sekitar vulva-nya; dan kini di sana telah tertancap sebuah selang kateter di lubang urine-nya. Sekali lagi kemaluannya terasa berdenyut dan cairan urine pun kembali keluar dari kateter itu tanpa bisa ia tahan.

Rupanya tadi “Sang Pemimpin” hanya memasang kateter ini di lubang urine Erwina, dan tidak melakukan lebih dari itu. Memang untuk ini dia harus membuka-paksa vulva Erwina, dan itu yang membuatnya terasa cukup sakit, karena baru kali ini vulva-nya dibuka selebar itu. Selain itu sakit juga dirasakan ketika kateter pertama kali masuk menerobos lubang urine-nya, sakit yang sebelumnya belum pernah dirasakan. Mengapa selang kateter ini dipasang di lubang urine Erwina, Erwina tidak mengetahui alasannya.

Akan tetapi, Erwina hanya tertarik bahwa pemasangan kateter ini dilakukan dengan cukup rapi, sehingga entah Sang Pemimpin ini memang memiliki pengetahuan bidang medis, atau ia sudah sering sekali memasang yang seperti ini. Dari kedua alasan itu, Erwina condong pada yang pertama, karena kalau apabila maksudnya sebagai bagian penyiksaan; tentunya Sang Pemimpin tidak akan repot-repot menggunakan kateter, masih memasang pelumas, juga mengolesi kemaluan Erwina dengan larutan suci hama sebelum kateter itu dipasang. Tapi siapa? Erwina sudah tidak mampu berpikir jernih.

Ia lebih banyak ditinggal di dalam ruangan ini, jarang ada yang menemaninya. Pernah ada yang datang untuk memberinya makan, yang walaupun Erwina berontak, tetap saja dia menyuapi dengan paksa. Minum pun menggunakan botol yang diberi selang, dimasukkan (kalau perlu secara paksa) ke dalam mulut. Semua dilakukan dalam keadaan diam, sama sekali tanpa ada suara dari mulut para penangkapnya; bahkan desahan ataupun geraman pun tidak. Mereka selalu mengenakan pakaian hitam dengan postur longgar sehingga Erwina tidak bisa menentukan seperti apa perawakan masing-masing. Hanya Sang Pemimpin saja yang bisa ia kenali, lainnya tidak. Semua penjagaan dilakukan dalam diam, tapi justru inilah yang membuat Erwina tambah senewen. Erwina sampai berpikir bahwa mungkin lebih baik ia disiksa dengan pukulan daripada dengan aksi diam.

Ada sebuah jam yang ada di ruangan ini, namun sama sekali di luar pengelihatan dari Erwina, sehingga dia sama sekali tak mengetahui waktu, hanya bisa mendengar bunyi detikannya saja. Namun di tengah suasana diam yang membuatnya amat senewen dan hampir gila; bunyi detik jam akhirnya menjadi pelipur satu-satunya di dalam lingkungan yang serba diam ini. Apa yang terjadi di luar sana, Erwina tidak tahu. Apakah ada yang mencarinya? Bahkan Erwina sendiri meragukannya, karena ia memang telah berpesan pada Mariska untuk tidak mencarinya.

Pintu pun terbuka, dan seseorang masuk. Setiap kali masuk, biasanya tidak sampai lebih dari dua orang, perkecualian ketika Erwina ditelanjangi untuk pertama kali. Pun yang masuk tidak membawa senjata, namun tetap, berpakaian hitam, bertopeng, serta tidak mengeluarkan suara. Yang Erwina perhatikan hanyalah bahwa semua memakai semacam bracer hitam di tangan kirinya, kecuali Sang Pemimpin yang memakainya di kedua tangan. Kali ini Sang Pemimpin lah yang masuk, Erwina mengenali dari bracer yang dipakainya. Ia hanya berdiri pada jarak satu setengah meter dari Erwina, dan bersedekap sambil arah kepalanya seolah memandangi Erwina dengan seksama.

Tidak ada suara, masih, hanya pantulan nyala lampu pada google hitam Sang Pemimpin. Erwina pun merasa amat malu, dilihat dalam keadaan telanjang seperti itu. Selama ini baru Gilang sajalah yang pernah melihatnya tanpa busana. Walaupun di balik google itu Erwina tak bisa melihat seperti apa ekspresi mata Sang Pemimpin, ia mengira bahwa mungkin Sang Pemimpin tengah tergiur dengan tubuhnya. Hei, mungkin ini bisa menjadi cara?

“Kamu mau apa?” tanya Erwina.

Tentu saja tak ada jawaban dari Sang Pemimpin.

“Jawab aku!!” teriak Erwina.

Sang Pemimpin masih saja diam, dan Erwina semakin senewen.

“Kamu mau memperkosa aku?? Ayo cepat lakukan!” kata Erwina.

Mendadak Sang Pemimpin maju, dan ini membuat Erwina kecut. Astaga, jangan-jangan dia benar-benar akan… Tangan Sang Pemimpin pun diletakkan di atas perutnya dan mulai mengusap-usap perut Erwina. Terasa agak kasar akibat sarung tangan yang bergesekan dengan kulit. Erwina memejamkan mata dan terasa amat sangat ketakutan sekali. Usapan tangan Sang Pemimpin akhirnya semakin lama semakin menurun ke arah kemaluannya, dan begitu terasa mulai menyentuh bibirnya…

“Jangan…” kata Erwina sambil sesenggukan.

Sang Pemimpin tidak melepaskan tangannya, tapi sekarang kepalanya diarahkan lebih dekat kepada kepala Erwina.

“Jangan mulai apa yang tidak bisa kamu jalani, Nona Erwina,” kata Sang Pemimpin.

Erwina terperanjat, bukan hanya karena Sang Pemimpin ini akhirnya buka suara, melainkan juga bahwa suara itu adalah suara wanita! Ketika Sang Pemimpin berbicara pertama kali waktu pemasukan kateter, Erwina memang tidak begitu memperhatikan nada suara itu.

“K…kamu…” kata Erwina sambil menatap ke arah Sang Pemimpin.

Kepala Sang Pemimpin pun menjauh, begitu juga dirinya. Tampaknya ia puas akan sesuatu. Tanpa berkata apa-apa lagi, Sang Pemimpin pun langsung meninggalkan tempat.

“Tunggu!! Aku mau bicara!!” teriak Erwina.

Tidak ada jawaban, dan Erwina kembali hanya bisa menangis dalam sepi.


Pangkalan Angkatan Laut

Pelabuhan Ratu

22.19 WIB

H minus 85:41:00


Helikopter Mi-17 yang ditumpangi oleh Anton akhirnya mendarat di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Anton dan Prita pun terbangun ketika merasakan roda helikopter menjejak tanah. Penerbangan malam itu bukanlah jenis penerbangan yang mulus. Akibat badai di Samudera Indonesia, maka angin pun berhembus dengan kencang di seluruh Pulau Jawa. Semakin helikopter bergerak ke selatan, semakin kencang pula hembusan angin terasa menggoyangkan helikopter. Bahkan bagi helikopter setangguh Mi-17 sekalipun, angin malam ini terasa cukup membahayakan. Untunglah pilot helikopter ini juga cukup tangguh dan berpengalaman.

Begitu mereka mendarat, beberapa marinir bersenjata segera masuk ke dalam helikopter dan segera “mengambil” Anton dan Prita, bahkan sebelum mereka berdua sempat mengusap matanya. Cepat sekali mereka berjalan melintasi lapangan-lapangan kosong di pelabuhan, apalagi Anton dan Prita harus berjalan sambil agak menunduk pula. Tidak seperti Lokasi X tempat Lucia bermula, Pelabuhan Ratu adalah sebuah pangkalan terbuka, dan di sini, instalasi militer bercampur dengan fasilitas sipil. Serta tidak ada larangan bagi pers untuk masuk ke pangkalan ini. Hanya dalam tempo singkat, mereka sudah dimasukkan ke dalam sebuah bangunan kecil.

Dalam keadaan masih belum begitu awas sepenuhnya, Anton dan Prita melihat bahwa dalam bangunan ini, ada beberapa orang wanita berpakaian dinas, entah siapa mereka. Pastinya, para marinir yang mengawal Anton dan Prita ke sini memberi hormat dengan takzim. Setelah para marinir itu meninggalkan bangunan, salah seorang wanita yang berpangkat lebih tinggi inipun memeriksa keadaan sebentar sebelum berbicara pada Anton.

“Maaf, sebaiknya kita langsung saja,” kata wanita itu,

“tolong kalian buka pakaian, tolong,”

“Apa!!??” jerit Prita kaget.

Permintaan bernada perintah itu jelas langsung saja membuat Anton dan Prita kaget setengah mati.

“Tolonglah, kita tidak punya banyak waktu,” kata wanita itu,

“ini prosedur standar,”

“Jadi kita harus telanjang di sini!?” teriak Prita.

“Maaf soal keterbatasan yang ada, tapi antara ini atau kalian tidak akan boleh naik ke KRI Ternate,” kata wanita itu.

Prita hanya mendengus saja. Ia mengamati sekitar, dan hanya ada wanita di sini kecuali Anton. Sepertinya pula tak ada kamera pengawas atau mata-mata.

“Tenanglah, ruangan ini steril,” kata wanita itu seolah bisa membaca pikiran Prita.

Dengan enggan, Anton dan Prita pun akhirnya membuka pakaian mereka hingga mereka berdua telanjang, dan barulah para wanita ini memeriksa tubuh serta pakaian mereka berdua. Prosedur ini memang sama dengan yang dialami Lucia di Lokasi X. Bedanya, pada Lucia, memang sudah dipersiapkan dengan baik, sementara pada kasus Anton dan Prita, semuanya lebih berlangsung secara mendadak, jadi tidak seperti Lucia, Anton dan Prita diperiksa secara bersamaan walaupun jelas mereka berbeda kelamin. 

Prita sendiri jujur malu juga kalau dia harus telanjang di depan Anton. Paling banter juga pake bikini ketika mereka berwisata pantai bersama di Bali beberapa waktu lalu, tapi itu sewaktu Wina masih hidup. Bagaimanapun, ini jelas bukanlah sebuah pilihan, tapi Prita sendiri merasa lebih baik bahwa kalaupun ia harus telanjang di hadapan laki-laki “asing”, laki-laki itu adalah Anton. Anton bukanlah tipe orang yang kurang ajar, dan lagipula kesetiaan Anton pada istrinya wajib diacungi jempol. Justru malah Anton yang tidak nyaman, karena dia harus telanjang dibawah tatapan mata para wanita. Apalagi ada Prita pula, dan pastinya Anton cukup malu karena tanpa bisa dikendalikannya, kemaluannya mulai menegang. Prita untungnya tidak bereaksi berlebihan, dan para wanita ini pun menjalankan tugasnya secara profesional. Setelah pemeriksaan tubuh ini berakhir, mereka pun segera dibungkus dengan selimut sembari menunggu pemeriksaan pakaian selesai. Anton dan Prita duduk bersebelahan, tapi kali ini tidak seperti biasanya Anton agak menjaga jarak.

“Kenapa?” tanya Prita.

“Sorry, aku malu…” kata Anton dengan muka agak memerah.

“Adiknya berdiri, yah?” tebak Prita.

Anton hanya mengangguk dengan malu-malu.

“Ya ampun, Ton, gitu aja,” kata Prita berusaha mencairkan suasana.

“Duh, bukan seperti ini pertama kalinya sih, kamu bikin aku tegang,” kata Anton,

“tapi sekarang kan… kamu bisa lihat, Aku kan malu kalau kamu tahu,”

“Hei, bukan salah kamu kan; itu yang di bawah kan tahu ada barang bagus,” kata Prita agak tergelak.

“Mustinya sih ini jadi rahasia cowok,” kata Anton.

“Udah, nggak papa,” kata Prita,

“aku percaya ama kamu, koq,”

“Oke, tapi jangan deket-deket dulu yah,” kata Anton.

Untunglah kali ini pemeriksaan pakaian berlangsung cepat sehingga Anton dan Prita bisa cepat-cepat berpakaian. Namun wanita itu memberi pula masing-masing sebuah seragam overall bermotifkan loreng marinir.

“Kalau kalian mau keluar dari ruangan ini, pakai baju ini,” kata wanita itu,

“kalian terlalu mencolok kalau pakai baju kalian; kita harus menjaga rahasia untuk sementara ini,”

“Kapan kita bisa ke KRI Ternate?” tanya Anton.

“Sesegera mungkin,” kata wanita itu,

“tapi aku nggak bisa bilang kapan, semua tergantung badai; nggak ada yang berani terbang di badai ini, jadi saranku, kalian istirahat aja dulu; besok masih ada hari baru,”


Kediaman Mutia

22.22 WIB

H minus 85:38:00


Mutia hampir saja memejamkan matanya ketika ia mendengar suara telepon berdering. Ya ampun, siapa sih telepon malam-malam? Padahal hari ini Mutia baru saja mengalami hari yang cukup sibuk. Untunglah pada acara News Today dia tidak harus membacakan obituari untuk Lucia. Bagaimanapun, masalah Lucia memang membuat semua orang di NewsTV menjadi tegang. Apalagi Anton pun ikut-ikutan pergi menyusul Lucia.

Pintu kamar Mutia pun dibuka, dan kakak perempuan Mutia sudah berdiri di sana. Mutia sendiri hanya beringsut dari balik selimut dan menatap sejenak ke arah kakaknya.

“Mut!” kata kakaknya,

“Ada telepon tuh, buat kamu,”

“Dari siapa?” tanya Mutia agak malas-malasan.

“Dari Nana di Melbourne,” kata kakaknya.

Sontak mendengar bahwa telepon itu dari Nana, Mutia langsung meloncat bangun, dan tanpa merapikan baju tidurnya, ia segera berlari menghampiri telepon yang masih terbuka.

“Halo, Na?” sapa Mutia,

“assalamualaikum!”

“Eh, Mut, waalaikumsalam,” balas Nana,

“untung aja kamu jawab,”

“Aku udah mau tidur nih, capek banget,” kata Mutia,

“ada apa sih, tumben telepon malem-malem?”

“Aku tuh justru yang mau nanya ada apa,” kata Nana,

“aku dari tadi coba hubungi Anton nggak diangkat, Lucia juga nggak ada, Prita juga nggak ada, terus aku baru nyambung ke kamu, deh,”

“Waduh, kayaknya baru pergi semua, tuh,” jawab Mutia sedikit berbohong.

Jujur Mutia agak tidak enak kalau harus membohongi Nana, sahabatnya sendiri. Akan tetapi ini adalah kesepakatan untuk merahasiakan lebih dahulu soal keadaan Anton dan Lucia.

“Pergi ke mana? Koq bisa berombongan?” tanya Nana.

“Biasa lah, NewsTV,” kata Mutia,

“kayak nggak tau aja sih, kerjaan di sini kayak gimana,”

“Apa jangan-jangan gara-gara tadi pagi, yah?” tanya Nana.

Nah, kali ini perkataan Nana mulai menarik perhatian Mutia.

“Emang tadi pagi ada apa?” tanya Mutia.

“Lho? Anton belum cerita ke kamu?” tanya Nana.

“Belum,” kata Mutia,

“ceritain donk,”

Maka Nana pun menceritakan hal yang pagi tadi ia ceritakan kepada Anton, mengenai sebuah kapal Australia yang berhasil menenggelamkan sebuah “kapal tidak dikenal” di Samudera Indonesia, namun rusak berat karena itu. Berita dari Nana itu tentu saja bagaikan palu godam yang menghantam pikiran Mutia. Segera saja semuanya menjadi lebih jelas baginya.

“Astaga… jadi rupanya itu…” kata Mutia

“Itu apanya, Mut?” tanya Nana. 

“Oh, enggak koq, nggak papa,” kata Mutia,

“kamu ada beritanya lengkap, gak?”

“Ada nih, aku simpen, kamu mau?” tanya Nana.

“Iya, aku mau, kirimin ke aku yah, secepatnya,” kata Mutia.

Nada suara Mutia berubah sepertinya tengah diburu sesuatu. Mendengar itu maka insyaflah Nana bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi.

“Mut, ada apa sih, sebenernya?” tanya Nana.

“Ada apa maksudmu gimana?” tanya Mutia,

“nggak koq, nggak ada apa-apa; kamu tahu aku kan, aku tertarik ama berita baru,”

“Jangan bohong!” kata Nana,

“ini ada hubungannya ama Lucia, kan?”

Kali ini Mutia terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.

“Kapal tak dikenal itu, itu kapal yang dinaiki Lucia, kan Mut?” tanya Nana lagi.

Mutia hanya menarik nafas panjang.

“Kamu tahu, kita nggak seharusnya ngomongin soal ini,” kata Mutia.

“Masya Allah… jadi bener kalau…” kata Nana,

“jadi Lucia sudah…”

“Kita nggak tahu,” kata Mutia,

“informasinya sedikit sekali, dan Angkatan Laut dah minta semuanya dirahasiakan dulu,”

“Astaga…” kata Nana.

“Na, makanya, aku minta tolong, kamu kirimin beritanya sekarang,” kata Mutia.

“Oke, malam ini juga aku kirim,” kata Nana,

“aku mau siap-siap, kalau-kalau nanti kalian butuh aku di sini,”

“Makasih Na,” kata Mutia,

“oh ya, hati-hati yah, kayaknya telepon juga nggak aman deh,”


Samudera Indonesia

Kedalaman 200 meter

23.09 WIB

H minus 84:51:00



Lucia kembali menulis di buku hariannya, meskipun ia harus melakukannya di bawah tetesan air dari pipa di atas kabinnya. Pekerjaan perbaikan masih saja terus dilakukan. Beberapa pipa-pipa tidak bisa ditambal sehingga harus dilas dan ditutup, dan itu akan mematikan beberapa segmen sirkulasi. Setidaknya, kebocoran dan banjir sudah berhasil diatasi, dan seperti perkiraan sebelumnya, berkurangnya banjir membuat kapal selam bisa naik hingga ke kedalaman 200 meter. Meskipun begitu, kapal tidak bisa dinaikkan ke permukaan. Baik pompa balast maupun tangki balast yang merupakan piranti utama untuk menaikkan kapal selam, semua rusak. Untuk pompa sendiri masih bisa diusahakan karena posisinya berada di dalam kapal selam. Tapi kerusakan pada tangki balast berada di sisi luar kapal selam dan perbaikan tidak mungkin bisa dilakukan di kedalaman ini. Tekanan air akan segera meremukkan penyelam yang mencoba keluar untuk menambal tangki balast.

Masalah lain yang lebih parah adalah rusaknya hampir sebagian besar sistem di kapal selam ini. Sistem penggerak rusak sehingga kapal tidak dapat bergerak dan hanya hanyut ikut arus saja. Motor listrik korslet dan shaft baling-baling juga patah, beberapa kerusakan lain yang tidak bisa diperbaiki di sini. Mesin diesel masih baik-baik saja, tapi menyalakan mesin diesel ketika sedang menyelam sama saja cari mati, karena asap beracun buangan dari mesin diesel akan segera memenuhi kapal selam dan membunuh semua orang; ketika berada di permukaan atau snorkel-deep, asap ini bisa dibuang lewat lubang keluaran, tapi tidak saat ini. Untunglah sistem atmosfer yang memasok udara masih baik-baik saja, karena sistem inilah yang menyokong kehidupan di kapal selam. Apabila sistem ini ikut-ikutan rusak, maka awak kapal hanya punya persediaan udara selama 24 jam saja, dan bukan 100 jam seperti sekarang.

Erika masuk ke kabin dengan raut muka gontai. Seragam biru-nya sudah mulai bernoda keunguan akibat darah. Ia tampak sedih, maka Lucia pun segera menghiburnya.

“Gimana di ruang medis?” tanya Lucia.

Erika tidak menjawab. Ia hanya duduk di dekat Lucia, lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Lucia dan langsung menangis di sana. Lucia tidak berkata apa-apa, ia hanya membelai lembut rambut Erika.

“Kenapa?” tanya Lucia.

“Ada yang mati lagi…” kata Erika sambil terisak,

“tepat di tanganku,”

Lucia hanya menghela nafas saja mendengarnya. Erika memang memutuskan untuk membantu di ruangan medis, sehingga dia harus berurusan dengan banyak awak kapal yang terluka, dan juga mati. Lucia sendiri juga hendak membantu di sana, tapi oleh Laksma. Mahan, dia malah ditempatkan di anjungan. Sudah banyak yang membantu di ruangan medis, jadi tidak perlu membuatnya tambah penuh. Saat anjungan sudah berfungsi, maka Lucia akan stand-by di sana. Tapi untuk sementara, ia menunggu di kabin sambil menulis buku hariannya.

“Aku nggak bisa nyelamatin dia…” kata Erika lagi.

“Hei, sudahlah… ini yang namanya perang…” kata Lucia,

“bakal ada yang mati, tapi coba deh, kamu liat berapa yang berhasil kamu selamatkan…”

“Tapi kan…” kata Erika.

“Udah, tenang dulu yah, Sayang…” kata Lucia sambil tetap membelai kepala Erika,

“tenaga kamu masih dibutuhin di sana, jadi kamu kudu kuat…”

Erika hanya mengangguk kecil. Bagi beberapa orang yang tidak terbiasa, melihat orang yang mati di hadapan sendiri memang bisa menjadi sebuah pengalaman traumatis. Apalagi ini bukan hanya satu orang.

Lucia hanya menghembuskan nafas mencoba mengingat awal mula dari permasalahan ini. Ingatannya pun terbang melayang hingga beberapa tahun silam. Adalah Presiden Abubakar Zakaria, pendahulu Presiden Hariman Chaidir, mulai dari Beliau-lah Indonesia akhirnya mulai memperkuat angkatan perangnya. Pada saat Presiden Zakaria berkuasa, hubungan dengan Amerika Serikat masih cukup baik, dan di saat itulah Indonesia berhasil membeli 16 buah pesawat tempur F-16C block 60 dan 4 pesawat F-16D block 50 untuk peremajaan alutsista tempur. Sebagai imbalan, Amerika Serikat membuka keran impor yang lebih besar dari produk-produk ekspor Indonesia.

Namun, kebijakan luar negeri Amerika Serikat berubah dengan cukup cepat. Presiden John F. Mayweather yang selama ini baik dengan Indonesia, digantikan oleh Presiden Herbert M. Clarke. Presiden Clarke bukanlah orang yang “ramah”, dan itu akan ternyata dalam kebijakan luar negerinya kemudian. Bermula dari kecurigaan Presiden Clarke akan peremajaan TNI, secara sepihak, Amerika Serikat akhirnya membatalkan penjualan 8 pesawat F-16 yang masih belum dikirim. Langkah ini tentu saja diprotes oleh Presiden Zakaria, dan oleh penggantinya kemudian, Presiden Chaidir. Meskipun atas lobi tak kenal lelah akhirnya Indonesia masih diperbolehkan mengimpor suku cadang F-16, pembelian itu akhirnya tetap saja batal, dengan begitu dari 20 F-16 yang dibeli oleh Indonesia, hanya 12 buah yang sampai di tangan, yaitu 8 buah F-16C dan 4 buah F-16D. Bahkan Amerika pun membatalkan proses pelatihan bagi para pilot F-16 yang sedianya akan dilaksanakan di Miramar Base.

Langkah Amerika ini jelas membuat geram kalangan militer. Meskipun masih bisa mendapatkan suku cadang, tapi senjata bagi F-16 dan terutama pelatihan bagi pilotnya ini yang cukup jadi masalah. Dalam sebuah langkah yang amat tidak biasa, untuk mendapatkan dua kebutuhan ini, maka Indonesia pun berpaling ke… Israel. Yah, Israel memang memiliki kemampuan industri untuk mensuplai persenjataan F-16 dan juga pelatihan para pilotnya, akan tetapi bagi siapa pun orang awam, kerjasama antara Indonesia dengan Israel terlihat seperti suatu hal yang tidak bisa diterima.

Pada kenyataannya, hubungan antara Indonesia dengan Israel memang cukup rumit, pelik, sekaligus juga unik dan penuh intrik. Mirip seperti pasangan selingkuh saja, di luar, Indonesia sering mengecam Israel, terutama berkaitan dengan konflik di Timur Tengah dengan Palestina; akan tetapi secara rahasia, hubungan kerjasama antara Indonesia dengan Israel terus menerus dijalin dengan erat; secara rahasia, tentu saja. Ratusan pucuk senjata buatan Israel dari berbagai jenis tetap saja dibeli oleh Indonesia, dan lebih-lebih sekarang. Bahkan ditengarai pula ada hubungan erat antara BIN dengan MOSSAD mengenai kerjasama intelijen. Meskipun ini hanya bisa dijalankan selama keadaan Timur Tengah masih aman, setidaknya kerjasama dengan Israel cukup melegakan untuk menjaga kesiap-sediaan alutsista buatan Amerika Serikat yang dimiliki oleh Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia pun mengikat kerjasama militer dengan Russia dan RRC. Ini karena Presiden Zakaria sejak awal mencanangkan “Keseimbangan Timur dan Barat” dalam kebijakan internasionalnya. Poros kerjasama pun terbentuk antara Indonesia-Amerika Serikat-Russia/RRC; tapi seiring dengan menjauhnya hubungan dengan Amerika Serikat, timbal baliknya, hubungan dengan pihak lain pun semakin erat. Kerjasama dengan Russia mulai semakin mesra setelah Russia mengalami bencana musim dingin yang amat buruk sehingga bahan makanan berkurang dan rakyatnya kelaparan. Dalam keadaan itu, Indonesia mengirimkan berton-ton bahan makanan untuk membantu rakyat Russia, yang cukup untuk menghindarkan sebuah bencana alam untuk berubah menjadi bencana kemanusiaan.

Sebagai timbal balik, maka Russia pun membuka akses lebih luas pada kerjasama militer. Gelombang pertama dari bentuk kerjasama ini adalah pembelian pesawat tempur Sukhoi, terutama dari generasi yang terbaru. Total jumlah pesawat yang dibeli adalah 10 pesawat tempur Sukhoi Su-27, 6 pesawat tempur Sukhoi Su-30, dan 16 pesawat amfibi Beriev Be-200. Jumlah ini belum termasuk dikirimnya teknisi-teknisi dan prajurit dari Indonesia ke Russia untuk belajar dan berlatih. Angkatan Darat juga memperoleh kendaraan tempur BMP-3 untuk menggantikan BTR-50 dan PT-76 yang sudah menua. Bahkan 6 pesawat pembom strategis Tu-22M Backfire di Makassar adalah hasil pinjam dari Russia selama 5 tahun sebelum nanti digantikan oleh 10 buah pesawat pembom/intai maritim Tu-142 Bear F yang sampai sekarang masih dalam tahap produksi.

Sementara itu, kerjasama dengan Cina sendiri sudah dirintis jauh sebelum Russia. Namun, kerjasama ini lebih difokuskan pada pembelian alutsista untuk Angkatan Darat serta pembelajaran mengenai sistem persenjataan strategis Cina, meskipun dari RRC Indonesia juga berhasil mendapatkan sejumlah 16 pesawat pembom H-6K (tiruan Tu-16 Badger) serta 4 HD-6 (H-6 versi AEW). Cina juga bersedia menjual tank amfibi Type-63, kendaraan artileri Type-90A dan Type-90B MLRS, serta Type-95 SPAAA. Satu hal yang dipermasalahkan oleh Amerika kemudian adalah mengenai kerjasama dalam bidang persenjataan strategis, karena Cina mengizinkan teknisi-teknisi dan peneliti Indonesia untuk mempelajari rudal-rudal balistik Cina, seperti Dong Feng dan Ju Lang. Kemungkinan Indonesia memiliki senjata strategis jelas bukan hal yang bisa diterima begitu saja oleh Amerika Serikat. Mungkin, dari situlah semuanya bermula, dan penyerangan atas KRI Antasena adalah seperti sebuah kulminasi dari semuanya.

Reza pun tiba di sana sambil membawa beberapa lempengan besi. Reza tampak agak sungkan mengetahui Erika sedang berada di pangkuan Lucia, tapi Lucia segera memberi isyarat supaya Reza mendekat.

“Gimana bantu-bantunya?” tanya Lucia.

“Baik sih… duh, tadi ampe capek kudu ngangkat dongkrak buat nambal bocor,” kata Reza sembari mengurut tangannya sendiri.

“Terus itu bawa-bawa besi buat apa?” tanya Lucia.

“Anu, gini Mbak Lucia… kita kan cuman punya waktu kurang dari 100 jam nih,” kata Reza,

“aku mau buat kotak penyimpan… maksudnya gini yah, kita nggak tahu bisa diselamatin apa gak; so… kenapa buat ngisi waktu, kita gak bikin memoir aja, untuk kita sendiri, terus kita masukin dalam kotak ini… siapa tahu yah, ntar kalau bisa ditemuin, ini bisa mengungkap kisah kita di saat-saat terakhir,”

“Ah, kamu mikirnya kejauhan,” kata Lucia,

“optimis lah,”

“Yah, sekalian buat ngisi waktu sih…” kata Reza.

“Aku setuju!” kata seseorang tiba-tiba.

Lucia menoleh, dan ternyata itu adalah Ridwan Juhari, staf dari DPR yang memang sengaja diikutkan di sini. Erika pun segera bangkit dan duduk. Malu rasanya dia bermanja di pangkuan Lucia dengan kehadiran orang lain non-NewsTV.

“Kalau udah jadi bilang yah, aku juga mau nitip memoir di situ,” kata Ridwan lagi.

“Wah, Pak Ridwan jadi mau ikutan nih? Ada sponsor dong,” canda Reza.

“Yah, daripada kita ntar mati tanpa pesan, kenapa enggak?” kata Ridwan,

“sayang juga yah, uang rakyat habis gini aja,”

“Memangnya buat kapal selam ini habis berapa, ya Pak?” tanya Lucia.

“Dari APBN? Milyaran lah,” kata Ridwan,

“tapi nggak sia-sia juga bikin kayak ginian, orang terbukti bisa tahan ledakan; emang buatan Indonesia sendiri nggak kalah dari bikinan luar,”

“Malahan kadang lebih bagus, Pak, daripada buatan luar,” kata Reza,

“secara orang Indonesia kan pinter-pinter; kita aja yang mau dibohongin ama orang luar, ngatain kita bodoh,”

“Nah, betul itu, aku setuju!” kata Ridwan.

“Mbak Lucia mau nitip memoir juga?” tanya Reza.

“Nanti aja lah, Reza,” kata Lucia, “ntar aku mau titip buku harian, tapi kalau udah selesai,”

Lucia mengambil sesuatu dari kantongnya. Itu HP-nya, tapi sudah mati. Sepertinya HP ini mati ketika Lucia pingsan dan terendam air di anjungan tadi.

“Mati yah?” tanya Reza.

“Iya,” jawab Lucia,

“kayaknya kena air deh,”

“Sini, saya betulin,” kata Reza.

“Emang bisa?” tanya Lucia.

“Percaya aja deh,” kata Reza.

Lucia pun lalu menyerahkan HP itu kepada Reza. Yah, hitung-hitung buat mengisi waktu. Lagipula Reza memang teknisi handal, tapi Lucia baru tahu kalau Reza pun ternyata bisa memperbaiki handphone.

“Tapi nunggu yah, Mbak,” kata Reza,

“gara-gara tadi, barang-barangku berantakan kemana-mana, padahal ada peralatan segala,”

“Nggak papa koq, nyantai aja,” kata Lucia.

Kali ini datang satu orang kelasi lagi. Lucia mengenalnya sebagai kelasi yang bertugas menyiapkan makanan di dapur.

“Maaf,” kata si kelasi,

“kalau boleh tahu, Anda sekalian mau makan apa yah, buat nanti?”

“Lho? Emangnya boleh milih makanan?” tanya Lucia.

“Perintah kapten,” kata si kelasi,

“kita kan bawa persediaan makanan buat dua minggu, tapi katanya kita cuman punya waktu 4 hari kurang; jadi ya, daripada mubazir, mendingan dipakai saja,”

“Oooo… macam makanan terakhir, begitu?” tanya Lucia.

“Sayangnya memang seperti itu,” kata si kelasi dengan getir,

“kalaupun kita nanti mati, paling enggak kita mati dengan perut puas,”


Pangkalan Angkatan Laut
Pelabuhan Ratu
05.23 WIB
H minus 78:37:00


Anton dan Prita kembali terbangun, atau lebih tepatnya lagi dibangunkan. Sudah subuh di sini, dan mereka segera diperintahkan untuk bersiap-siap. Marinir yang membangunkan mereka tak memberitahu apa-apa, pun Anton juga tidak bertanya. Akhirnya, dengan memakai pakaian seragam marinir yang telah diberikan sebelumnya, Anton dan Prita pun akhirnya bangun dan berjalan mengikuti marinir itu.

Di luar, angin bertiup amat dingin. Saat ini adalah musim dingin di belahan bumi selatan, dan angin yang datang dari arah sana amat dingin. Prita bahkan sampai menggeretukkan giginya, sementara itu Anton bersin tak henti-hentinya. Tak hanya dingin, angin pun juga masih kencang menerpa sehingga rambut Prita berkibar-kibar. Dengan angin sekencang ini, apa masih bisa terbang tanpa mengambil resiko? Apalagi jaraknya sepertinya cukup jauh.

Pada pagi buta ini, suasana cukup sepi, karena aktivitas dari otoritas sipil yang berada di pelabuhan belumlah terlalu banyak menggeliat. Sepertinya memang apabila ingin berangkat tanpa harus menarik perhatian, ini adalah saat yang amat tepat. Mereka berjalan terus melewati helipad. Anton tertegun, karena tidak ada helikopter yang disiapkan di sana, tak ada helikopter apapun malahan. Lalu mereka akan dibawa kemana? Melewati udara yang cukup membekukan, mereka pun akhirnya turun ke sebuah jetty, dan barulah Anton melihat sesuatu yang disiapkan di sana.

Bukan, itu bukan helikopter, melainkan sebuah pesawat, lebih tepatnya lagi sebuah pesawat amfibi. Anton mengetahui pesawat itu, itu adalah pesawat intai yang diambil dari bentuk pesawat intai amfibi Jepang di Perang Dunia II, Aichi E13A1 (Jake). Oleh PT DI, pesawat ini dinamakan sebagai A13, dan apabila dilihat lagi, sepertinya ini adalah varian A13-V4. Meskipun jelas-jelas mencontek wujud Aichi E13A1, namun baik Indonesia maupun Jepang membantah telah ada transfer desain antara mereka, walaupun Anton sendiri yakin pasti ada perjanjian di bawah tangan antara dua negara. Karena berbentuk pesawat Perang Dunia II yang juga masih bermesin baling-baling, maka Amerika Serikat pun tak ambil pusing dengan arsenal baru ini.

Pesawat ini berawakkan 3 orang dan didesain dengan format floatplane. Ada beberapa perbedaan besar antara pesawat ini dengan Aichi E13A1 yang asli. Perkembangan teknologi memungkinkan dimasukkannya mesin yang lebih ringan namun bertenaga lebih besar serta penggunaan baling-baling dengan radius yang lebih lebar untuk memaksimalkan tenaga. Secara teori, pesawat ini memang bisa lebih cepat daripada pesawat berbaling-baling konvensional, tapi penggunaan tenaga maksimal di sini bukan dimaksudkan untuk menambah kecepatan, melainkan untuk memaksimalkan jarak jangkauan pesawat ini. Pengurangan bobot pun berpengaruh dengan bisa dipasangnya pelat-pelat kevlar tahan peluru, serta dimasukkannya piranti-piranti sensor modern, termasuk radar permukaan, pengelihatan inframerah, dan sistem GPS canggih. Radar permukaan yang dimasukkan pun tergolong canggih, sehingga pesawat bahkan bisa mendeteksi sebuah kapal selam yang menyelam di kedalaman snorkel.

Awalnya, desain pesawat ini hanyalah sebagai pesawat intai untuk membantu skuadron kapal cepat PC-40 (kelas Boa) yang beroperasi di Selat Malaka, sehingga tidak diberikan senjata (A13-V1). Namun dengan tingginya efektifitas pesawat ini dalam melacak target (berupa kapal penyelundup ataupun bajak laut), maka pada versi A13-V2, pesawat ini dibekali senjata berupa dua senapan mesin 7,62mm di hidung dan empat lagi di sayap. Senjata ini berubah di versi selanjutnya sehingga menjadi 6 buah senapan mesin berat 12,7mm di kedua sayap dengan peluru tipe pembakar. Sebagai senjata bantu, maka dipasanglah 14 buah roket jenis FFAR (Folding Fins Aerial Rocket) berukuran 40mm di cantelan bawah sayap. Dampak dari dipersenjatainya pesawat ini cukup hebat, karena sekarang pilot bisa saja mengambil tindakan apabila dalam radius operasi tidak ada kapal PC-40 terdekat.

Seorang reporter dari Biro Medan yang kini sudah di Jakarta, yaitu Sofie, pernah bercerita pengalamannya melihat aksi pesawat amfibi ini dari sebuah kapal PC-40 yaitu KRI Anakonda. Pada saat itu kebetulan KRI Anakonda yang ditumpanginya memergoki kapal penyelundup senjata sehingga terjadilah kejar mengejar. Namun kapal penyelundup itu cukup cepat, dan mereka pun lari sambil menembakkan senjata ke arah KRI Anakonda, salah satunya peluncur roket. Ini tentu saja cukup berbahaya, mengingat persenjataan paling besar dari kapal PC-40 hanyalah sebuah kanon 20mm di haluan. Karena tak mampu mengejar, mereka meminta bantuan dari sebuah pesawat A13 yang kebetulan meluncur di atas dan dari tadi mengikuti pertempuran itu. Hanya dengan serentetan panjang senapan mesin 12,7mm dikombinasikan dengan luncuran 6 buah roket dari pesawat A13, kapal penyelundup pun langsung menemui ajal.

Dengan dioperasikannya dua skuadron pesawat ini di Selat Malaka, jumlah kapal pelanggar menurun cukup drastis. Saking suksesnya, sehingga jumlah pesawat ini pun diperbanyak dan dua skuadron lagi ditempatkan di Armada Timur, bersamaan dengan pesawat-pesawat modern lainnya. Selain dari sensor dan persenjataannya, jarak jangkau dari pesawat ini pun cukup ditakuti. Pernah dilaporkan sebuah pesawat mengejar buruannya dari perairan Aceh hingga ke Laut Cina Selatan, lalu setelah menenggelamkan buruannya, terus ke Pangkalanbun, dan baru kembali ke Pangkalan di Tanjung Pinang setelah mengisi bahan bakar. Jelas ini jarak yang cukup jauh, bahkan bagi sebuah pesawat baling-baling tunggal. Hadirnya pesawat ini juga mampu menekan aktivitas kelompok-kelompok ekstrem dan separatis di seluruh nusantara, akibat banyak sekali pengangkutan personel, logistik, dan persenjataan mereka yang diganggu oleh pesawat bertampang jadul ini.

“Saya Letnan Danur,” kata seorang yang sepertinya adalah pilot pesawat itu kepada Anton,

“saya akan menjadi pilot kalian pagi ini,”

“Terima kasih, Letnan,” kata Anton.

“Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau kita berangkat sekarang? Angin bisa berubah menjadi tidak terduga kalau kita menunggu lebih lama lagi,” kata Lt. Danur.

Maka Letnan Danur pun membantu Anton dan Prita untuk naik ke atas pesawat. Pesawat itu bergoyang-goyang akibat air laut yang berombak, sehingga menyulitkan, terutama Prita, untuk naik ke atas kokpit. Kokpit itu memang diperuntukkan bagi 3 orang dengan konfigurasi memanjang ke belakang. Prita duduk di tengah tepat di belakang pilot, sementara Anton duduk di belakang Prita. Anton agak kaget juga melihat bahwa peralatan avionik pesawat ini sebenarnya tidak kalah dari instrumen pesawat bermesin jet. Bahkan ada sebuah komputer yang ada di dekat Anton. Mesin pesawat pun dinyalakan dan kokpit ditutup, lalu Lt. Danur memberi salut pada kru yang membantu tinggal landas di darat.

“Sudah siap?” tanya Lt. Danur.

“Silakan, Letnan,” kata Anton.

Anton dan Prita memasang helm dan sabuk pengaman mereka (yang terhubung juga ke atas parasut). Setelah kokpit ditutup, suasana di dalam pun cukup hangat, lagipula untuk ukuran pesawat jadul kursinya cukup nyaman. Tali penambat pun dilepas dan Lt. Danur memasukkan transmisi pesawat ke gigi jalan. Dengan perlahan, pesawat pun “berlayar” dengan terhuyung-huyung akibat ombak, tapi kemudian langkah pesawat makin dipercepat dan dengan menantang angin, pesawat pun akhirnya tinggal landas.

“Oh ya, minta tolong, masukkan koordinat ini ke komputer,” kata Lt. Danur sambil memberikan sebuah kertas putih kepada Prita, yang langsung diteruskan ke Anton.

“Langsung dimasukkan saja?” tanya Anton.

“Iya, masukkan saja lalu tekan enter seperti biasa,” jawab Lt. Danur.

Anton pun lalu memasukkan angka-angka yang ada di dalam kertas putih yang diberikan oleh Lt. Danur, dan setelah tombol enter ditekan, layar pada komputer dan juga pada HUD di depan Lt. Danur pun berubah menunjukkan sebuah gambar radar, dan ada titik merah yang berkedip-kedip. Pastinya titik merah itu adalah posisi dari KRI Ternate, tapi jauh sekali kelihatannya dari sini.

“Terima kasih,” kata Lt. Danur,

“mohon kalian nikmati saja penerbangannya,”

Pesawat pun akhirnya melayang makin tinggi, menantang angin yang meskipun sudah melemah, tetap saja cukup kuat terasa. Untunglah Prita dan Anton bukan tipe orang yang suka mabuk udara, jadi mereka masih baik-baik saja meskipun pesawat ini bagaikan terbang “off-road”. Daratan pun akhirnya berangsur-angsur mulai menghilang, dan langit gelap pun ditinggalkan di belakang.

“Anton, lihat! Indah sekali!” kata Prita.

Memang benar, karena dari ufuk sana, matahari sudah mulai terbit dan berkas sinarnya menjulang menembus awan-awan gelap. Langit pun berwarna lembayung indah menyinari air laut gelap yang kini memantulkan warna keemasan. Bayangan matahari di laut pun tampak bagai api yang menyala-nyala, sementara itu awan dan kabut mulai menyingkir bersamaan dengan langit malam yang gelap. Anton terdiam, pesawat ini seperti tengah terbang berpindah dari sebuah kekelaman menuju sebuah harapan yang cemerlang, persis seperti yang tengah ia lakukan sekarang.

Anton pun mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. Itu adalah cincin kimpoi dan kalung salib perak milik Lucia. Anton meremas kedua benda itu dan menciumnya dengan amat haru.

“Lucia… tunggu aku,” kata Anton, 

“aku akan datang…”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...