Sabtu, 26 September 2020

"LAUT BIRU" CHAPTER I



Laut Biru

Proyek kapal selam super senyap produksi indigenous Indonesia yang sedianya diluncurkan sebagai pemerkuat bagi TNI-AL akhirnya berakhir tragis setelah mengalami insiden di Samudera Indonesia. Lebih parah lagi, ada pihak sipil yang terlibat. Bagaimanakah nasib kapal selam yang membawa 100 awak kapal dan 5 orang sipil ini? Apakah konspirasi yang terjadi di balik insiden tersebut? Silakan membaca dari awal sampai akhir.

Writer                    : stuka1788

Source                   : www.kaskus.co.id

The Submarine

CHAPTER I

The Sub Marine


Jenderal Albert “Al” McKenna, Joint-Chief-of-Staff Angkatan Bersenjata Amerika Serikat memasuki ruangan dengan gontai. Tentu saja dia tahu apa yang akan dibicarakan dalam rapat ini, karena staf-nya sudah memberikan tembusan agenda rapat kepadanya. Perkembangan situasi di Timur Jauh, dan masalah ini sudah mengganggu tidurnya semenjak beberapa hari.

“Apa lagi sekarang?” tanya Al McKenna setelah duduk di kursinya.

Di hadapannya, adalah sebuah meja dengan berbagai peralatan canggih, serta sebuah layar besar untuk presentasi. Turut bersama dalam rapat itu adalah Direktur CIA, Roland Foster; Penasihat Militer Gedung Putih, Marion Stainer; Panglima Armada Ketujuh, Admiral Phillip Ludowsky; Kepala Staf Angkatan Laut, Admiral-of-The-Fleet Castor Fitzgerald-Burke; Menteri Pertahanan, Gerard Cheynou; dan Penasihat Urusan Luar Negeri Gedung Putih, Brad Paaske.

“Foto ini,” kata Kepala CIA Roland Foster membuka pembicaraan, “dikirimkan oleh Dinas Rahasia Australia,”

Layar di ruangan itupun akhirnya menunjukkan gambar sebuah galangan kapal yang tengah memperlihatkan sebuah kapal selam yang tengah dikonstruksi.

“Kapal selam?” tanya Al McKenna,

“apa maksudnya?”

“Dugaan kami, jenis dari hunter-killer,” kata Roland Foster,

“sedang dibuat di galangan kapal Surabaya, Indonesia; siapa tahu pada saat kita membicarakan ini, kapal selam ini sudah masuk ke air,”

“Apa pentingnya kapal selam ini? Apa kapal ini memiliki kemampuan untuk meluncurkan rudal balistik?” tanya Marion Stainer.

“Tidak, kapal jenis hunter-killer tidak bisa melakukan hal itu, sepertinya,” kata Roland Foster.

“Lalu kenapa kamu mengumpulkan kita di sini??” tanya Al McKenna dengan jengkel.

Rasanya rasa kejengkelan yang sama diperlihatkan pula oleh seluruh peserta rapat. Kecuali kapal selam yang memiliki kemampuan meluncurkan rudal balistik, Amerika Serikat memang tidak menganggap serius kepemilikan kapal selam buru-bunuh oleh negara-negara lain, karena kapal selam pemburu adalah jenis yang amat umum, serta peruntukannya lebih sebagai elemen defensif daripada elemen serang strategis, kecuali pada waktu Perang Dunia II. Apabila sebuah kapal selam itu bisa membawa rudal nuklir yang memiliki jangkauan hingga ke kota-kota penting Amerika Serikat maupun negara-negara sekutu-nya, maka itu baru layak diberikan perhatian.

“Percayalah, Tuan-tuan, ada alasan kenapa aku kita semua berkumpul di sini,” kata Roland Foster sambil menekan sebuah tombol.

Gambar di layar pun berganti dan pada saat itulah semua orang mulai menunjukkan perhatiannya.

Seminggu kemudian

Rumah Anton
Jakarta
06.01 WIB

Kembali Anton membuka mata dengan agak redup pagi ini, ketika suara pagi masuk dari sela-sela korden kamarnya yang masih setengah tertutup. Tubuhnya serasa lelah sekali, tapi sekaligus juga kini ia sudah semakin segar setelah beristirahat semalaman. Anton menarik nafas panjang sejenak, melihat kamarnya yang masih agak kabur akibat ia belum mengenakan kacamatanya. Anton melemparkan tangannya ke samping, dan tertambat pada sebuah gundukan hangat, dan Anton pun menoleh sambil tersenyum.

Terbaring di sisinya adalah istrinya, Lucia, tengah tidur dengan damainya. Ia tampak amat polos seperti bidadari yang tengah terbaring tidur dalam tubuh telanjangnya. Bagaimanapun, semalam, Anton dan Lucia baru saja menunaikan kewajiban mereka sebagai sepasang suami istri. Anton menghadap ke arah Lucia, tersenyum dan mengagumi kecantikan istrinya ini. Ia lalu memberikan sebuah kecupan mesra di pipi Lucia, lalu membelai rambut Lucia yang hitam terurai.

Lucia, seolah tahu suaminya tengah memberi perhatian, saat itu juga membuka mata, dan tersenyum. Selimut yang menutupi mereka berdua sudah tersingkap, sehingga mereka benar-benar saling terbuka satu sama lainnya. Lucia tahu kalau Anton tengah mengaguminya, mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Pagi…” sapa Lucia dengan nada mesra.

“Am I marry you?” tanya Anton tak kalah manja.

“Haruskah kamu selalu berkata itu setiap pagi?” tanya Lucia sambil menatap Anton dengan lembut.

Anton pun segera mengecup bibir istrinya itu dengan lembut, menciumnya dengan hangat seolah tak ingin membiarkan kedua tubuh ini berpisah. Anton mendekap tubuh Lucia, dan mereka berdua pun bercumbu, saling melemparkan kecupan dan ciuman mesra. Kembali mereka bergumul, meskipun tidak untuk melanjutkan permainan tadi malam, lebih sebagai pelampiasan rasa sayang saja. Nafas Lucia mendesah, karena Anton betul-betul melakukannya dengan lembut dan penuh cinta; dan ini membuat Lucia semakin bergairah. Ia menggigit bibirnya sembari mendekap dan merasakan kehangatan tubuh suaminya itu seolah tak ingin melepasnya; tak peduli meskipun tubuh ini sudah penuh dengan sisa-sisa keringat dan tumpahan rasa cinta semalam.

Sesi itu diakhiri dengan sebuah ciuman yang dalam di bibir mungil Lucia. Anton mendekap tubuh istrinya yang terasa hangat dan lembut di bawahnya, sebuah dekapan mesra yang membuat hati Lucia terasa terlindungi. Anton pun kemudian dengan seksama menatap wajah ayu Lucia, sehingga pipi Lucia pun memerah ranum.

“Jangan dilihatin ah,” kata Lucia pelan.

“Kamu cantik,” rayu Anton.

“Udah pagi…,” kata Lucia.

Anton hanya mengangguk gontai.

Saat itulah pintu kamar tidur terbuka, dan masuklah Lani, anak Anton dari perkimpoiannya yang pertama. Di dalam rumah ini, kecuali ada tamu dari luar, pintu kamar memang tak pernah dikunci. Lani dengan cueknya masuk ke dalam kamar dan hendak merebahkan diri di kasur kalau saja tidak dicegah oleh Lucia.

“Lani udah mandi?” tanya Lucia lembut.

“Udah, Tante…” kata Lani.

Anton pun lalu berdehem dengan keras, dan Lani pun tahu kenapa.

“Eh iya, salah… Mama…” kata Lani mengoreksi panggilannya pada Lucia.

Lucia hanya tersenyum saja.

“Kalau udah mandi, jangan tiduran di sini, kalau nggak nurut, ntar kamu kudu mandi lagi,” kata Lucia lembut.

Jelas saja, kan ranjang itu masih “kotor”. Lucia membiarkan saja Lani melihatnya dalam keadaan telanjang seperti ini, dan tidak berusaha untuk menutupinya. Pada hari pertama Anton dan Lucia menikah, mungkin Lucia bakal buru-buru memakai selimut apabila Lani masuk ke kamarnya seperti saat ini, tapi sekarang ia sudah biasa, lagipula Lani juga anak yang pintar dan tentu saja Lani tahu apa yang saat ini Ayahnya dan Mama Lucia-nya ini lakukan.

“Ya udah, Lani, keluar yuk, Mama mau mandi dulu,” kata Lucia.

Lucia pun bangkit, dan mengambil selimut seadanya, dan hanya sekedarnya saja menggunakannya untuk menutup tubuhnya, itupun hanya bagian depan. Bagian belakangnya masih telanjang ketika Lucia mengajak Lani berjalan keluar kamar. Lucia pun, dengan keadaan seperti itu cuek saja berjalan melintasi ruangan menuju ke kamar mandi di sisi lain rumah ini.

Maka Lucia pun lalu melemparkan selimut itu ke dalam keranjang cucian, dan tanpa mengenakan baju, ia mengambil sebuah kimono mandi dan handuk lalu masuk ke kamar mandi. Oh ya, bagi mereka yang belum tahu, Lucia adalah istri kedua Anton. Istri pertamanya, Wina, yang juga Ibu nya Lani meninggal karena sebuah kecelakaan yang tragis, dan Anton cukup lama menduda hingga ia bertemu Lucia.

Ketika Lucia selesai mandi, ia masih mengenakan kimono mandi itu dan langsung saja bersama dengan Lani menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga, terutama untuk Lani, karena sebentar lagi dia harus berangkat sekolah.

********

Lani pun akhirnya berangkat sekolah kemudian, bareng dengan Fiona, tetangga, rekan kerja, sekaligus kakak angkat Anton. Lani memang bersekolah di SD yang sama dengan kedua putri (angkat) kembar Fiona, sehingga setiap kali, Fiona selalu menyempatkan pula mengantar Lani ke sekolah.

Anton sendiri akhirnya keluar dari kamar mandi setelah Lani pergi, dan segera melangkah gontai ke meja makan. Di sana, istrinya sudah menunggu. Lucia bahkan sekarang sudah memakai seragam biru NewsTV. Memang, mereka berdua sama-sama bekerja di NewsTV, jadi Anton selalu bertemu dengan istrinya, baik di kantor maupun di rumah. Tampak masih agak lemas juga ketika Anton duduk dan mengambil makanan.

“Tita nggak nelpon?” tanya Anton.

“Belum,” kata Lucia.

“Nggak ada yang gawat berarti,” kata Anton, “udah ah, makan yuk, terus kita berangkat kerja,”

Kantor NewsTV
09.12 WIB

Anton tiba di kantornya bersama dengan Lucia. Dan setelah memberikan ciuman mesra di bibir, mereka pun lalu berpisah. Anton akan menuju ke ruangan kerjanya di Lantai 2, sementara Lucia langsung menuju ke reporter’s lounge di Lantai 1. Bagi reporter yang saat itu tidak sedang bertugas atau mengedit berita, memang diusahakan untuk selalu standby di lounge, supaya apabila ada penugasan mendadak, mereka bisa cepat melaksanakan. Lounge ini memiliki peralatan-peralatan yang dibutuhkan oleh reporter dan kameramen atau petugas lapangan lainnya, termasuk logistik penyiaran.

“Lusi!!” teriak beberapa reporter wanita rekan sekerja Lucia ketika Lucia memasuki ruangan itu.

Bisa ditebak, selanjutnya dipenuhi dengan cipika-cipiki, pengucapan selamat, dan pelepasan kerinduan. Maklum lah, berhubung dia menikah, maka Lucia pun harus absen selama 2 minggu untuk you-know-what. Lucia saat ini bernaung di bawah program berita reguler, lebih tepatnya adalah untuk program berita utama News Today, langsung di bawah suaminya sendiri, Anton. Posisi ini sebenarnya agak rawan. Memang di NewsTV tidak melarang adanya pernikahan antar karyawan, namun baru Anton dan Lucia yang posisinya berada pada satu garis komando persis.

Total, ada 14 orang reporter yang berada di bawah komando untuk News Today, plus 7 orang reporter magang. Jumlah ini adalah jumlah reporter paling banyak dari semua program berita di NewsTV (terbanyak kedua adalah reporter program berita pagi Morning News dengan “hanya” 12 reporter plus 6 reporter magang). Dari jumlah ini (reporter tetap) maka 11 orang adalah wanita (plus juga adalah rasio terbanyak). Kebetulan sekali pada saat ini, yang ada di ruangan ini hanya 7 orang, dan kebetulan juga semuanya adalah wanita. Mereka adalah (selain Lucia): Andini, Rissa, Laila, Uki, Erwina, serta Gloria.

“Ehm… yang pengantin baru nih,” goda Andini sembari merangkul Lucia,

“gimana main ama Bos? Enak, gak?”

“Ih, apaan sih, kamu, Ndin,” kata Lucia sambil tersipu malu,

“ya jelas enak lah, orang suami sendiri,”

Andini hanya tertawa saja.

“Pasti tadi malem habis-habisan nih,” kata Andini yang disambut tawa cekikikan dari teman-temannya.

“Ih… apaan sih,” kata Lucia sambil kembali memerah.

“Enak bener, yah?” goda Andini kembali.

“Ah, kayak kamu nggak tahu aja, Ndin,” balas Lucia.

“Hayo, yang pada belum pernah ngerasain barangnya cowok di sini pasti ngiri…” kekeh Andini.

Memang, selain Lucia dan Uki, semua yang ada di sini masih belum menikah, sementara Andini sendiri? Hmm, riwayat kehidupan seksnya memang agak rumit.

“Emang berapa ronde sih, semalem?” tanya Andini.

“Nggak keitung…” jawab Lucia yang disambut dengan gumaman “wow” dari semua orang.

“Enak mana ama yang dulu, Luz?” tanya Andini lagi.

Tiba-tiba Lucia berhenti dan menatap Andini dengan sorot mata yang mengerikan. Seolah-olah ada api kemarahan dalam mata Lucia, dan melihat itu, Andini pun langsung beringsut. Uki hanya memberi isyarat supaya Andini tidak meneruskan perkataannya. Sebelum menikah dengan Anton, Lucia memang pernah menikah dengan suami pertamanya, yaitu Ben. Tapi lalu mereka bercerai (bukan karena Anton). Semua yang ada di NewsTV tentu pasti masih ingat hal-hal mengerikan apa saja yang dibuat oleh Ben pada Lucia, pastinya sangat mengerikan sehingga semua orang pun menyetujui ketika Lucia menikah kembali dengan Anton.

Lucia pun menarik nafas panjang, lalu ia tertunduk lega, seolah sesuatu telah berhasil dikeluarkan. Ia lalu berusaha tersenyum kembali.

“Pastinya… yang dua minggu itu lebih berarti daripada yang 6 tahun,” kata Lucia,

“Anton memperlakukan aku seperti seorang putri, dan itu yang buat aku senang hati nyerahin semuanya ke dia… Aku nggak ngira, ternyata aku bisa juga nemuin kepuasan seks dari Anton, yang nggak pernah aku dapetin dari Ben selama ini,”

“Maaf,” kata Andini sambil menepuk pelan pundak Lucia.

“Dah, nggak papa, koq,” kata Lucia.

“Duh… ngomongin yang lain dong… sebel,” gumam Erwina,.

“Weleh, kamu kenapa, We?” tanya Andini.

“Ya elah… aku baru tadi malem pulang dari Moskow ya, belum ketemu ama Gilang, sementara di Moskow dua minggu aku nahan kangen… apalagi dinginnya minta ampun,” keluh Erwina.

“Wah, habis ini pasti lepas segel nih kalau udah sampai ubun-ubun kayak gitu,” goda Uki.

“Enak aja lepas segel… belum kali, ntar tunggu nikah, hahaha!” kata Erwina.

Semuanya hanya tertawa-tawa. Yah, rata-rata mereka yang ada di sini memang bukan orang yang awam soal seks. Bagaimanapun, saat semua wanita ini berkumpul, pembicaraan mengenai seks pasti saja ada, dan mereka selalu menceritakan tanpa malu-malu (selama tidak ada orang lain di luar komunitas ini).

“Oh ya, terus penugasan gimana nih? Aku udah dua minggu ini nggak nyentuh kantor,” kata Lucia.

“Pastinya sih kalau ada penugasan keluar lagi, giliran kamu,” kata Andini,

“aku udah dapat jatah ngendon di Kejakgung nih, Erwina juga barusan pulang dari Moskow, kan; berarti tugas keluar berikutnya kamu yang dapet,”

“Kira-kira ke mana, yah?” tanya Lucia.

“Ya nggak tahu, Luz, tanyain ama suami lo sana,” kata Andini lagi.

Komando Angkatan Laut
Tanjung Priok, Jakarta
09.14 WIB

Dua hari sebelum ini, tengah terjadi sebuah mutasi dalam tubuh TNI Angkatan Laut. Kepala Pusat Penerangan TNI AL kini dijabat oleh Laksamana Madya Sapar Sihombing, dan Panglima Komando Armada Barat sekarang dijabat oleh Laksamana Ardan Sobari. Dua nama ini akan berperan sangat penting dalam kelanjutan cerita ini.

Pagi ini, Kepala Staff Angkatan Laut, Laksamana Danoe Salampessy memanggil seluruh jajaran staff nya untuk berkumpul dan membicarakan sesuatu. Beberapa waktu terakhir ini, semua jajaran di Angkatan Laut tengah sibuk mengurus apa yang disebut sebagai “Proyek Antasena”, yaitu proyek perkuatan Armada Bawah Laut TNI AL. Penjabarannya adalah seperti ini, bahwa ke depannya Armada Bawah Laut akan diperkuat oleh Kapal Selam Patroli Ringan (KSPR) dan Kapal Selam Tempur Utama (KSTU). KSPR ini adalah kapal-kapal selam “kecil” yang sebentuk dan sebangun dengan rancangan U-Boat Type-VIII Jerman di Perang Dunia II, dan akan digunakan untuk patroli di perairan wilayah, terutama di perbatasan-perbatasan luar. Sementara itu, KSTU adalah kapal selam yang lebih besar serta lebih dititikberatkan sebagai elemen tempur. Untuk KSTU ini, maka selain Indonesia membelinya dari luar negeri (terutama Russia) juga dirintis pula kerjasama untuk membuat sendiri KSTU di Indonesia. Proyek KSTU inilah yang menjadi titik berat “Proyek Antasena”.

Setelah proses pengerjaan selama setahun, akhirnya jadi juga apa yang disebut sebagai KRI Antasena, kapal selam utama buatan dalam negeri. Pengerjaan kapal selam ini dipimpin oleh arsitek kapal selam dari Russia, yaitu Anatoly Sedorenkov, dan menghasilkan sebuah kapal selam yang memiliki “banyak keistimewaan”. Tapi itu adalah untuk nanti, sementara…

“Pers?” tanya Laksdya Sapar Sihombing tak percaya pendengarannya.

“Iya, Presiden menginginkan agar peresmian dan pelayaran perdana KRI Antasena bisa diliput oleh pers, bukan hanya TVRI saja,” kata Laks. Salampessy.

“Tapi, bukannya kita sudah sepakat untuk pelayaran perdana ini hanya boleh diketahui kalangan terbatas?” tanya Laksdya Sihombing.

“Iya, saya tahu,” kata Laks. Salampessy,

“mungkin beri saja untuk satu stasiun TV lain selain TVRI, kamu boleh pilih stasiun TV mana yang kira-kira bisa kamu percaya,”

Laksdya Sihombing terdiam sejenak dengan mulut terkatup. Belakangan ini, seiring dengan dikembangkannya proyek-proyek besar Angkatan Laut, otomatis demi menghindari reaksi berlebihan, Pusat Penerangan Angkatan Laut sengaja menutup diri dari pers, dan dengan ini pula hubungan antara media dengan AL sedikit renggang. Ini tampak ketika media dilarang untuk meliput mengenai pengerjaan proyek pembuatan Destroyer dari kelas Yos Sudarso yang bakal jadi Destroyer murni buatan dalam negeri. Sekarang, meskipun proyek Destroyer itu masih dalam tahap pengerjaan, Presiden sudah menitahkan agar dalam Proyek Antasena kali ini TNI-AL membuka diri pada pers. Tampaknya Presiden memang menginginkan pemberitaan proyek Antasena ini supaya diketahui oleh dunia, sehingga negara-negara ataupun pihak-pihak lain yang hendak menyalahi wilayah laut Negara Kesatuan Republik Indonesia bakal berpikir dua kali mengingat kehadiran KRI Antasena.

Tapi memberikan akses kepada pers bisa jadi permasalahan tersendiri. Orang-orang pers selalu memiliki naluri keingintahuan yang luar biasa besar. Takutnya, nanti dalam pemberitaan mereka, secara tak sengaja bisa mengungkapkan sisi-sisi dari proyek Antasena yang bisa dimanfaatkan oleh lawan-lawan untuk melemahkan proyek ini. Adakah media yang bisa diajak “bekerjasama”, kalau bisa sih yang sama-sama mengerti esensi dari proyek ini, sehingga bisa sepaham. Tapi apa ada orang semacam itu?

Saat itulah Laksdya Sihombing teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, pertempuran kecil di Selat Ombai. Yah, betul, orang yang bisa mengenali sebuah hiflskreuzer dari kapal niaga biasa tentulah mengerti tentang laut dan bisa berbagi visi yang sama. Maka, Laksdya Sihombing segera menyanggupi permintaan atasannya itu.


Gedung NewsTV

Lantai 2

09.18

Anton masuk ke ruang kerjanya di Lantai 2, yaitu di ruang berita untuk program berita utama News Today. Tita, sahabat sekaligus wakilnya, tampak tidak berekspresi terlalu berlebihan menyambut kedatangan Anton. Memang hari ini adalah hari pertama Lucia masuk kerja, tapi yang jelas bukan hari pertama kerja bagi Anton setelah mereka menikah.

“Ada berita apa?” tanya Anton.

“Banyak,” jawab Tita dingin

Anton duduk di mejanya dan melihat banyak sekali berkas-berkas kerja, yang ia tinggalkan selama seminggu terakhir. Anton pun membuka beberapa di antaranya, dan…

“Hei, aku kira kamu udah ngerjain tugas ini?” tanya Anton, 

“ini juga…”

“Aku gak berani, kamu kan yang biasanya jago di sini,” kata Tita.

“Ya ampun, kamu kan wakilku, Ta, ambil inisiatif sendiri napa, sih? Untung deadline masing-masing masih lama,” kata Anton.

“Aku nggak sebagus kamu dalam hal ini,” kata Tita.

“Bullshit,” kata Anton,

“kamu harus belajar ambil inisiatif kalau pas aku nggak ada,”

“Tapi sekarang kamu ada di sini, kan?” kata Tita.

Anton hanya menghela nafas panjang.

“Tapi aku nggak mungkin selamanya bisa nemenin kamu, Ta,” sahut Anton.

“Oh ya, Bu Sabrina kasih memo ke aku,” kata Tita, 

“kalau kamu datang, harus segera menghadap dia,”

“Nenek sihir itu mau apa lagi?” tanya Anton.

Tita hanya mengangkat bahunya saja.

“Mendingan cepetan,” kata Tita, 

“kamu tahu sendiri kan kalau Bu Sabrina ampe marah?”

Anton mendengus sejenak, meletakkan map yang dibacanya di atas meja, lalu segera meninggalkan ruangan untuk menemui Bu Sabrina. Bu Sabrina adalah Pemimpin Redaksi NewsTV saat ini, dan dengan begitu, berarti dia adalah atasan langsung dari Anton dan Tita. Cukup jauh ruangan Bu Sabrina, karena ruangan itu terletak di lantai 4, tapi beberapa tahun lalu, mungkin Anton tidak akan melangkah ke sana dengan langkah biasa seperti sekarang.


Lantai 4

Ruangan Bu Sabrina


“Masuk!” kata Bu Sabrina dengan dingin ketika mendengar pintu ruangannya diketuk.

“Bu Sabrina memanggil saya?” tanya Anton yang langsung masuk.

“Ya, silakan duduk dan tutup lagi pintunya,” kata Bu Sabrina.

Anton pun menutup kembali pintu itu dan duduk di hadapan Bu Sabrina.

“Bagaimana malam pengantinnya?” tanya Bu Sabrina.

“Luar biasa,” kata Anton,

“tapi pastinya Ibu tidak ingin membicarakan soal itu, kan?”

“Soal malam pengantin? Tentu tidak, itu urusan kamu sama istri kamu,” kata Bu Sabrina,

“tapi soal istri kamu, Lucia, itu yang mau aku bicarakan,”

“Masih soal itu lagi, ya?” tanya Anton.

“Belum pernah dalam sejarah NewsTV ada suami istri atau keluarga dengan posisi pada satu garis komando seperti kamu,” kata Bu Sabrina,

“jadi sekali lagi aku tawarkan, pindah Lucia segera,”

“Dalam aturan NewsTV, diperbolehkan adanya ikatan keluarga dalam satu korps, dan tidak ada yang melarang misal itu adalah satu garis komando sekalipun, Bu Sabrina,” kata Anton,

“dua tahun lalu, state-of-emergency juga belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah, tapi itu terjadi, kan?”

“Demi Tuhan, kamu selama ini selalu saja berusaha untuk menekan peraturan hingga ke batasnya, Tuan Anton,” kata Bu Sabrina dengan galak,

“untuk sekali ini saja, mengalahlah! Aku tidak yakin kamu bisa menghadapi ini dengan tetap objektif,”

“Kalau begitu mari kita coba, Bu Sabrina!” kata Anton tak kalah sengit,

“aku akan melindungi Istriku apapun yang terjadi,”

“Justru itu yang membuatku khawatir, Tuan Anton,” kata Bu Sabrina.

Bu Sabrina lalu terdiam sejenak. Anton pun lalu melangkah untuk keluar, sesuatu yang akhir-akhir ini biasa dia lakukan tiap kali berdebat dengan Bu Sabrina.

“Sebelum kamu keluar, Tuan Anton,” kata Bu Sabrina,

“kejadian ini membuatku sadar bahwa mungkin ada beberapa peraturan yang harus diamandemen,”

“Jadi anda akan memaksa batas, Bu Sabrina?” tanya Anton.

“Kalau harus,” kata Bu Sabrina.

“Amandemen tidak bisa dilaksanakan dalam waktu singkat, dan membutuhkan kebulatan oleh semua suara dari Dewan Redaksi,” kata Anton,

“dan jangan lupa, Bu Sabrina, aku punya hak veto dalam Dewan,”

“Tidak perlu kau ingatkan lagi, Tuan Anton,” kata Bu Sabrina,

“aku akan tetap mencari cara, tapi sementara itu, kau boleh pergi… kudengar pekerjaanmu menumpuk, andai saja Tita bisa betul-betul bertindak menggantikanmu selama kamu pergi,”

“Tita aku pilih karena dia memiliki potensi untuk itu, Bu Sabrina,” kata Anton,

“dan aku mempercayai dia,”

“Kalau begitu dia harus segera menunjukkan bahwa dia memang memilikinya,” kata Bu Sabrina,

“atau jangan-jangan dia sudah terlalu lama hidup di bawah bayang-bayangmu, sehingga potensinya itu mulai memudar?”

“Selamat siang, Bu Sabrina!” kata Anton tak mau melanjutkan perdebatan itu.

Bu Sabrina hanya mendengus saja mengiringi kepergian Anton. Namun sepeninggalnya, telepon di ruangan Bu Sabrina pun berdering…


Lantai 2

Ruangan Anton


Anton pun, sekembalinya dari ruangan Bu Sabrina, segera tenggelam ke dalam pekerjaannya kembali. Bahkan Tita pun sedikit tak digubrisnya. Tita sendiri merasa agak bersalah dengan keadaan ini, karena sebenarnya ia memang bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan yang menumpuk itu. Namun Tita merasa ia tidak ingin melangkahi tugas dan wewenang Anton. Bagaimanapun ini memang bukan tugas di mana ada standar baku untuk melaksanakannya, dan gaya masing-masing individu amatlah berpengaruh. Inilah yang membuat Tita selalu hampir “bermain aman” setiap kali Anton absen. Oleh beberapa orang, Tita bahkan disebut sebagai “anjing penjaga”-nya Anton. Tapi Tita tak pernah menggubris perkataan itu.

“Makanlah dulu,” kata Tita,

“ayuk, katanya CafĂ© punya menu baru, lho,”

“Bawa aja ke sini, aku mau selesaiin yang ini dulu,” kata Anton.

“Kamu marah, ya?” tanya Tita.

“Kalau aku marah, kamu pasti tahu,” kata Anton.

Tita pun hanya mendengus saja, tak berani protes. Anton tidak pernah marah, jarang sekali marah, tapi sekali ia marah, biasanya akibatnya cukup mengerikan. Oleh karena itu, Tita cukup lega mengetahui bahwa Anton tidak sedang marah kepadanya.

Saat itu telepon kembali berdering. Anton dan Tita sudah bisa menebak siapa yang menelepon, karena memang jarang yang menggunakan telepon tersebut.

“Ya?” jawab Anton ketika mengangkat apapun.

“Ke ruanganku, sekarang,” kata Bu Sabrina.

“Masih soal yang tadi lagi?” tanya Anton.

“Bawa Tita sekalian!” kata Bu Sabrina sambil langsung menutup teleponnya.

Pastinya itu berarti ada hal lain lagi yang harus dibicarakan. Apalagi kalau Tita ikut-ikutan dipanggil, pastilah sangat penting.

Meskipun sudah berkali-kali masuk ke ruangan Bu Sabrina, tapi setiap kali Tita masih saja merasa merinding, berbeda dengan Anton yang tampaknya sudah terbiasa. Tita masih saja berjalan sambil menggamit erat tangan Anton, membuat semua orang bisa menebak ke mana Anton dan Tita hendak pergi.

“Masuk!” kata Bu Sabrina seolah tak perlu melihat lagi siapa yang mengetuk pintunya.

Maka masuklah Anton dan Tita. Tapi segera mereka terkejut setelah mengetahui bahwa ada orang lain di sana: Laksdya Sapar Sihombing, yang langsung menyalami Anton.

“Laksmana?” kata Anton.

“Lama tidak bertemu, Saudara Anton,” kata Laksdya Sihombing,

“semenjak tragedi di Selat Ombai,”

“Iya, lama sekali,” kata Anton.

“Tutup pintunya, Tuan Anton,” kata Bu Sabrina menyela,

“dinding di sini punya telinga,”

Tita pun dengan sigap menutup pintu, lalu barulah setelah itu Laksdya Sihombing mau untuk berbicara. Benar saja, apa yang diberitahukan amatlah sangat mengejutkan.

“Proyek Antasena?” tanya Anton tak percaya pendengarannya.

“Iya, dan aku yakin, orang yang bisa membedakan sebuah hiflskreuzer dari kapal dagang biasa pastilah tahu apa dan bagaimana pentingnya proyek ini, kan?” kata Laksdya Sihombing.

Tentu saja. Sebelum ini pun Anton sudah berupaya mengirimkan reporternya untuk meliput soal “proyek Antasena”, namun kebijakan tertutup dari Kapuspen AL sebelum ini membuat semua usaha itu mental. Kini, sebagai Kapuspen yang baru, Laksdya Sihombing malah menawarakan sesuatu yang amat diidam-idamkan.

“Tunggu, tapi siapa saja yang akan melakukan peliputan? Apa ada stasiun TV lain?” tanya Anton.

“Tidak ada,” kata Laksdya Sihombing, 

“ini khusus aku tawarkan untuk NewsTV,”

“Khusus NewsTV? Tapi kenapa?” tanya Anton.

“Karena aku percaya kamu tahu apa yang dipertaruhkan,” kata Laksdya Sihombing.

Anton hanya termenung saja mendengar kata-kata itu. Tak mungkin pula dia menolaknya, karena ini memang sebuah kesempatan emas yang bisa jadi hanya sekali saja muncul.

“Tawaran yang sulit buat ditolak,” kata Anton, 

“aku terima,”

“Baik,” kata Laksdya Sihombing sambil kembali menyalami Anton dengan gembira,

“mungkin kau bisa kirim Prita untuk meliputnya?”

“Maaf, Prita tidak berada di bawahku,” kata Anton,

“tapi aku janji, reporter yang aku kirim tidak akan mengecewakan,”

“Baiklah, aku tunggu di Surabaya,” kata Laksda Sihombing.


Lantai 1

Reporter’s Lounge


Kelompok pembicaraan kecil itu masih ada, meskipun jumlah pesertanya sudah berkurang. Beberapa reporter sudah pergi untuk menunaikan “misi” masing-masing. Hanya Andini, Erwina, dan Lucia yang masih ada di sana. Pembicaraan pun berubah, dan kali ini Lucia lebih banyak mendengarkan, apa yang dia lewatkan selama ini.

“Jadi aku sudah dikasih tahu juga,” kata Erwina,

“enam hari lagi, bakal ada kapal Angkatan Laut Russia datang; kunjungan muhibah, gitu deh,”

“Pastinya kamu juga kan, yang disuruh ngeliput?” tanya Lucia.

“Yup, paling gitu,” kata Erwina,

“jadi paling enggak masih ada waktu buat nyantai,”

“Tapi omong-omong, bisa tahu gitu dari siapa, sih?” tanya Lucia.

“Namanya Konstantin Valinov; Panglima Armada Baltik,” kata Erwina,

“jadi pas ada acara makan malam di Kementrian Luar Negeri di Moskow, aku ikut nemenin Pak Dubes, nah ketemu deh, terus dibilangin kayak gitu,”

“Dah bilang ama Bos, kan, tapi?” tanya Lucia.

“Idih, ama suami sendiri koq manggilnya ‘Bos’, sih?” goda Andini.

“Suami kan di rumah, Dien, kalau di sini kan tetep Bos, kali,” jawab Lucia.

“Anyway, pastinya udah lah, trus Pak Anton juga nyuruh aku buat siap-siap kalau-kalau beneran datang,” kata Erwina,

“kayaknya sih ada kapal besar yang mau datang, Penjelajah Tempur, mungkin kalau nggak dari kelas Kirov ya kelas Ushakov; soalnya juga kan TNI AL sudah menjajaki kemungkinan beli alutsista laut dari Russia… ya bukan Kapal Penjelajah sih, tapi paling gak buat display lah,”

“Duh, pusing… Bos tuh, yang apal soal gitu-gituan,” kata Lucia.

“Ah, masa sih kamu nggak pernah diajarin ama Bos?” tanya Erwina.

“Pasti kelewatan, abisnya kalau Bos udah ngobrol soal itu pasti panjang lebar,” kata Lucia,

“kayaknya cuman Tita ama Gilang aja deh, yang tahan ndengerin kalau Bos dah ngomong soal itu,”

Saat itulah, telepon di ruangan pun berdering dengan kencang. Airphone, dan ini berarti ada sebuah penugasan untuk para reporter. Lucia dengan cepat segera mengangkat telepon itu.

“Reporter’s Lounge,” kata Lucia.

“Luz?” tanya Anton dari balik telepon.

“Hai! Ada apa, Bos?” tanya Lucia.

Jika menggunakan airphone, pastinya pembicaraan profesional, sehingga Lucia pun memanggil suaminya dengan sebutan ‘Bos’. Karena Lucia juga tahu, kalau masalah pribadi, Anton pasti akan meneleponnya dari HP.

“Di situ siapa aja yang ada?” tanya Anton.

“Aku, Andini, Erwina, udah kayaknya,” kata Lucia.

“Udah? Itu aja?” tanya Anton.

“Iya,” jawab Lucia.

“Oke, semuanya ke sini, cepetan,” kata Anton.

“Oke,” kata Lucia.

Telepon pun ditutup, dan tanpa perlu berkata apa-apa, Andini dan Erwina pun segera beranjak, karena hanya melihat air muka Lucia, mereka sudah tahu bahwa semua orang sedang dipanggil. Soal apa? Bahkan mereka bertiga pun tidak tahu menahu.


Lantai 2

News Room


Ketiga reporter ini akhirnya sampai ke News Room, di mana Anton dan Tita sudah menunggu di sana. Anton mengerling sejenak kepada Lucia, yang disambut dengan senyuman tersipu dari istrinya itu, tapi tak ada bahasa yang lain. Sekarang mereka tengah bekerja, bukan untuk asyik masyuk.

“Ada apa, Bos?” tanya Andini.

“Angkatan Laut, secara pribadi, meminta NewsTV untuk melakukan peliputan atas proyek Antasena,” kata Anton langsung ke pokok sasaran.

“Apa? Proyek Antasena?” kata Andini sedikit terperanjat.

Andini cukup lama melakukan peliputan di DPR, juga Departemen Pertahanan, jadi Andini tentu paham mengenai Proyek Antasena. Ia pun tahu bahwa selama ini Proyek Antasena menjadi salah satu rahasia yang ditutup rapat oleh Angkatan Laut, sehingga tugas ini membuatnya amat terkejut.

“Simpel saja, penugasan selama seminggu penuh, mengikuti perjalanan KRI Antasena dari dalam, laporkan apa saja, ikut petunjuk dari AL, dan semua harus sudah siap di Surabaya dalam 3 hari,” kata Anton.

“Tiga hari??” tanya Lucia.

“Aku sudah menghubungi Biro Surabaya, dan mereka bersedia menyiapkan semua akomodasi, perlengkapan, termasuk juga tim peliputan, dari Jakarta, kita cukup tinggal mengirimkan reporter ke sana,” kata Anton,

“yang mana itu artinya salah satu dari kalian,”

Andini, Lucia, dan Erwina saling berpandangan sejenak.

“Maaf, Bos, aku kan baru aja pulang dari Moskow,” kata Erwina,

“aku juga masih harus bikin laporan, jadi paling siap seminggu lagi aku baru bisa, jadi aku nggak bisa ke Surabaya sekarang,”

“Oke, aku tahu, gimana kalau Andini?” tanya Anton.

“Waduh, salah orang kayaknya ya, Bos, aku kan dapat priority-task di Kejakgung,” kata Andini.

“Nggak bisa dialihkan?” tanya Anton.

“Maaf, nggak bisa, kalaupun bisa kudu pake izin tertulis dari atas dulu, mana Bu Desi bilang, aku kudu selesaiin tugas ini sebelum bisa liputan ke tempat lain,” kata Andini,

“nggak bisa diganggu gugat, kan? Dan kayaknya dulu Bos deh, yang mesen kayak gitu?”

Anton tidak menjawab, hanya saja dengan enggan ia melirik ke istrinya.

“Oke, aku aja yang berangkat,” kata Lucia sambil tersenyum dengan penuh semangat.

Tapi antusiasme itu malah ditanggapi dengan dingin oleh Anton, yang lalu memalingkan pandangan kembali ke arah Andini.

“Tiga hari,” kata Anton.

“Nggak bisa, lima hari,” kata Andini.

“Aku bilang aku bisa!” kata Lucia mencoba menarik perhatian, namun sayangnya Anton tetap mengacuhkannya.

“Tiga hari, aku kasih bonus ekstra,” kata Anton.

“Nggak bisa, lima hari paling cepat, atau Bos Anton mau coba melanggar kewenangannya Bu Desi?” ancam Andini.

Anton hanya terdiam. Selama ini dia dan Bu Desi, koordinator reporter, memiliki hubungan yang cukup baik, dan juga setiap kali Bu Desi hampir selalu memprioritaskan permintaan Anton akan tim peliputan. Walaupun begitu, memang ada beberapa wilayah kerja Bu Desi yang tidak bisa diganggu gugat, oleh Anton sekalipun, dan Anton jelas sekali enggan untuk mencoba memaksakannya. Jelas senjata yang dilepaskan oleh Andini ini betul-betul maut.

“sudahlah, Bos, pake Luz aja kenapa, sih??” tanya Erwina setengah memaksa

Erwina memang agak jengkel dengan “diskusi” ini. Di matanya, sudah jelas-jelas hanya Lucia satu-satunya reporter yang available untuk tugas ini, tapi Bos-nya ini seolah-olah ingin menahan untuk tidak memakai Lucia, terlepas bahwa Lucia adalah istri Anton.

“Lucia sudah balik dari cuti, dan secara rotasi, sekarang gilirannya dia buat maju,” kata Andini,

“semua yang lain udah punya tugas masing-masing; tinggal Lucia aja yang belum. Apa mentang-mentang Lucia ini istrinya Bos terus mau dikecualikan, gitu?”

Andini menantang Anton, kali ini Lucia pun juga. Sudah lama sekali Lucia absen akibat cuti, dan ia sangat tidak sabar untuk bisa bertugas kembali ke lapangan, apalagi tugas ini lumayan besar. Anton pun beringsut, karena meskipun Lucia adalah istrinya sendiri, tapi secara profesional, Anton tidak punya alasan untuk menahan Lucia kali ini. Dengan enggan, akhirnya Anton pun menyetujuinya, yang disambut dengan tawa gembira Lucia.

“Aku kasih semua rinciannya nanti,” kata Anton,

“sebaiknya ntar malam kamu mulai siap-siap, soalnya rencana launching-nya 3 hari lagi, jadi lusa kamu kudu sudah ada di Surabaya,”

“Oke!” kata Lucia.

Karena tidak ada lagi yang harus dibicarakan, maka mereka bertiga pun segera pamit keluar. Sebelum keluar, Lucia sempat memberikan ciuman mesra di pipi kiri dan kanan suaminya, yang hanya bisa mendengus murung. Baru setelah agak sepi, Tita pun mulai bertanya pada Anton.

“Apa kamu pikir Lucia nggak mampu ngejalanin tugas itu?” tanya Tita.

“Oh nggak, aku yakin Lucia bisa,” kata Anton,

“waktu banjir raksasa tempo hari dia udah ngejalanin tugas di BMG dengan baik; aku yakin, tugas kali ini pun juga bakal diselesaikan dengan baik,”

“Terus? Kalau gitu kenapa?” tanya Tita lagi.

“Aku nggak pernah menilai ide mengirimkan istri sendiri 6 kaki di bawah permukaan laut di dalam sebuah kaleng baja raksasa adalah ide yang baik,” kata Anton,

“aku punya perasaan nggak enak soal ini,”

Tita hanya bisa menepuk dan mengelus pelan pundak Anton yang terasa berat oleh pikiran.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...