The Battle
CHAPTER IV
The Battle
Somewhere at sea
Selat Madura
WIB
Laksma. Mahan berada di anjungan komando sembari mengawasi laporan-laporan dari para perwiranya. Kapal selam ini sekarang berada di kedalaman periskop, dan terus berlayar. Ketika menyelam, maka kapal selam boleh dibilang berlayar secara “buta”, karena sama sekali tidak bisa melihat keadaan di luar. Lagipula, di luar pun tak ada yang bisa dilihat kecuali air laut yang gelap. Hanya di kedalaman periskop, kapal selam bisa mengawasi keadaan di sekitarnya secara visual. Lebih dalam dari itu, maka peralatan sonar, sensor, peta koordinat, serta telinga sensitif saja yang digunakan untuk menavigasi arah kapal.
Arus laut di dalam Selat Madura cukup keras, dan ini menuntut segala keahlian dari Laksma. Mahan, karena sejak menyelam tadi, arus ini sudah menghambat gerakan kapalnya. Kedua mualim kapal pun tidak henti-hentinya berkonsentrasi untuk mengemudikan kapal, karena apabila kalah dari arus, maka kapal bisa saja terdisorientasi yang akibatnya memaksa kapal untuk naik ke permukaan dan mengevaluasi ulang posisi. Dalam keadaan perang, hal ini tentu saja adalah alamat maut, karena kapal selam cukup rentan apabila tengah berlayar di permukaan. Tak dalam keadaan perang pun tetap ada bahaya kapal selam hanyut hingga terhantam karang atau bahaya navigasi lain. Tapi Laksma. Mahan adalah nakhoda yang cakap, apalagi dengan KRI Antasena yang canggih. Sebuah kapal selam type KSPR mungkin logamnya sudah berderak kencang dengan arus sekuat ini, tapi kapal selam ini masih mulus saja.
Lucia dan Iwan pun ada di anjungan. Tidak seperti ketika di pangkalan, di sini Laksma. Mahan membebaskan tim NewsTV ini untuk meliput apapun yang mereka mau. Mungkin saja Laksma. Mahan melakukannya karena memang di lingkungan ini, tak ada lagi tekanan dari pihak Intelejen; di samping itu, seorang nakhoda kapal berkuasa secara absolut di dalam kapalnya. Di bagian lain, para awak teknis memeriksa semua pipa-pipa, katup-katup, dan kabel-kabel untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Ini adalah pelayaran pertama dari kapal selam pertama buatan dalam negeri, wajar saja jika semua hal harus dicek dengan pasti, setidaknya ketika mereka masih di perairan aman. Pipa-pipa sedikit berderak, namun tak ada kebocoran.
“Keluar dari zona hijau, Kep!” kata perwira navigasi.
“Status?” tanya Laksma. Mahan.
“Arus laut sudah mulai stabil, kita memasuki perairan yang lebih dalam,” kata perwira navigasi lagi.
“Periskop?” tanya Laksma. Mahan.
“Semua aman, Kep! Barusan tadi ada kapal ferry lewat di samping kita,” kata Letkol. La Masa di periskop,
“kayaknya itu kapal kelebihan muatan; kasian itu kapal sudah kakek-kakek disuruh angkut berat-berat,”
“Tapi nggak tenggelam, toh?” tanya Laksma. Mahan sambil tertawa.
“Tentu tidak, kalau tenggelam pasti bakal muncul lagi di berita ?” kata Letkol. La Masa sambil melirik ke arah Lucia.
Semua tertawa saja mendengar candaan itu. Sebentar saja, karena Laksma. Mahan lalu memasang tampang serius kembali.
“Buka manifest,” kata Laksma. Mahan.
Letkol. Ari La Masa lalu menurunkan periskop, lalu menuju ke belakang kabin, ke sebuah ruangan penyimpanan, dan kembali membawa sebuah kotak yang memiliki dua lubang kunci. Letkol. La Masa kemudian mengambil kunci yang tergantung di lehernya, begitu pula dengan Laksma. Mahan, lalu mereka berdua memutar kunci di kotak itu secara bersamaan. Lucia melihat kejadian itu dengan penuh rasa keheranan. Isi dari kotak itu hanya sebuah amplop kertas yang di atasnya tertulis serangkaian kode. Letkol. La Masa kemudian mengambil sebuah buku tebal dan membuka isinya.
“Konfirmasi manifest: Alpha-Alpha-Bravo-Sierra-November-Zulu-Echo-Echo-Romeo-Tiga-Tiga-Sembilan-Empat-Charlie-Foxtrot-Dua-Dua-Sembilan-Oscar-Enam,” kata Laksma. Mahan membaca kode di atas manifest.
“Dikonfirmasi: Alpha-Alpha-Bravo-Sierra-November-Zulu-Echo-Echo-Romeo-Tiga-Tiga-Sembilan-Empat-Charlie-Foxtrot-Dua-Dua-Sembilan-Oscar-Enam,” kata Letkol. La Masa,
“silakan dibuka,”
Laksma. Mahan lalu membuka isi manifest itu. Tak ada yang tertulis banyak di atasnya, namun dari sepintas pandang, Lucia melihat bahwa itu sebuah peta, daftar koordinat, juga rute pelayaran yang harus ditempuh oleh KRI Antasena. Untuk keamanan, maka dokumen penting (terutama rute pelayaran) hanya diberikan, dan baru boleh dibuka di atas kapal, ketika kapal sudah di tengah laut atau mencapai titik tertentu.
Laksma. Mahan lalu menyerahkan rencana rute itu kepada perwira navigasi. Dalam pelayaran pertamanya ini. KRI Antasena akan melakukan pelayaran perdananya dari Surabaya ke Jakarta, setelah terlebih dahulu memutar Selat Lombok, lewat Samudera Hindia, menyusuri lepas Laut Selatan Pulau Jawa, ke Selat Sunda, baru berakhir di Tanjung Priok. Di Jakarta nanti, KRI Antasena akan memeriahkan puncak perayaan dengan bermanuver bersama dengan Misi Muhibah AL Russia yang akan dijadwalkan tiba di Priok 4 hari sebelum KRI Antasena tiba. Kenapa tidak melewati Laut Jawa saja, yah? Bukankah ini jalan yang lebih aman, karena hanya melewati inland sea?
“ serangkaian test yang harus dilakukan, juga latihan,” kata Laksma. Mahan menjawab pertanyaan itu,
“lagipula, inland sea terlalu pendek dan tidak akan menjadi batu ujian yang baik untuk kapal ini,”
“Apa kita akan melewati tapal batas dengan perairan Australia?” tanya Lucia.
“Sepertinya tidak,” kata Laksma. Mahan,
“kita tidak punya urusan dengan Australia; pengujian di Samudera Indonesia bakal menjadi ujian sesungguhnya bagi kemampuan kapal ini, karena sebagian besar pengujian akan kita lakukan di bawah air,”
“Semoga lancar,” kata Lucia setengah berbisik.
“Istirahatlah dahulu, Nn. Lucia,” kata Kdr. Mahan,
“ini sudah pagi, dan di kapal selam, waktunya untuk tidur; oh ya, kalau Anda atau Nn. Erika mau mandi atau buang air, kalian boleh menggunakan kamar mandi di kabin saya, setidaknya di sana lebih nyaman, lagipula mungkin jarang saya gunakan,”
“Terima kasih,” kata Lucia.
Memang, kabin perwira, apalagi kapten kapal, berbeda sekali dari kabin awak, seperti yang ditempati oleh Lucia dkk. Kabin Kdr. Mahan merupakan sebuah ruangan sendiri yang lebih lega, dilengkapi dengan pintu, kasur yang lebih empuk, perabotan, bahkan lemari es dan kamar mandi sendiri yang pastinya amat sangat lebih nyaman, meski karena di kapal selam, masihlah sempit. Kabin yang Lucia tempati sebenarnya adalah salah satu dari kabin perwira, karena kabin awak hampir seperti bangsal besar dengan puluhan tempat tidur susun dan satu meja yang harus digunakan bergantian oleh sepuluh orang. Ini masih lebih baik, karena ada juga yang tidur pada hammock di ruang torpedo atau ruang mesin. Bagi non-pelaut, mungkin ini adalah pengaturan yang amat tidak adil, tapi para pelaut sendiri tidak keberatan. Kapten harus diberikan semua kenyamanan, karena justru di tangan kapten lah seluruh awak menggantungkan hidup mereka. Ini bukan tempat bagi mereka para aktivis HAM dan persamaan hak.
Royal Australian Naval Base
08.22 WITA
Captain William Artner tiba di pangkalan dengan wajah yang tidak begitu senang. Liburannya dipotong karena harus melaksanakan sebuah misi penting dan rahasia. Bukan dia seorang saja, tapi bagaimana dengan anak buahnya? Terutama kelasi-kelasi muda yang butuh pelepasan dari rutinitas melaut yang menjemukan? Tapi perintah itu datang dari Royal Australian Admiralty di Canberra langsung, dan pemimpin Armada Timur, Rear-Admiral Leighton Crowe, mempercayakan tugas penting ini langsung kepadanya.
Captain Artner adalah komandan kapal HMAS Pitcairn, sebuah kapal kelas “Calypso” yang baru dibeli dari Amerika Serikat. HMAS Pitcairn adalah yang terbesar dari kelas “Calypso” yang dimiliki oleh Australia, sedikit lebih besar daripada frigate kelas Oliver Hazard Perry milik Amerika Serikat. Seperti kelas “Calypso” yang lain, kapal ini berformat trimaran, alias memiliki tiga lambung. Namun hanya lambung tengah saja yang digunakan sebagai “kapal”, sementara lambung kanan dan kiri, selain sebagai penyeimbang, juga digunakan untuk penyimpanan senjata. Bentuk kapal ini futuristik dan minim tonjolan, hampir sebentuk dengan kapal patroli kelas Skjold buatan Norwegia. Wajar, karena AL Amerika menggunakan kapalSkjold sebagai basis pengembangannya. Bedanya, Skjold memakai format katamaran (lambung ganda), sementara Calypso berformat trimaran. Siluet kapal ini cukup rendah, dan seperti halnya kapal trimaran, kecepatannya pun cukup tinggi. Di dalam tubuhnya, terkandung macam-macam senjata maut untuk kapal selam, seperti torpedo Mark. 50; Roket anti kapal selam ASROC, mortir Hedgehog II, dan dua jalur depth-charge. Sebagai senjata pertahanan diri, dilengkapi juga dengan empat tabung rudal anti kapal Harpoon dan dua pucuk kanon gatling Phalanx 20mm CIWS di samping pelontar chaff dan flare. Pendeknya, kapal ini adalah kapal pembunuh kapal selam yang handal, dan di Australia, HMAS Pitcairn dengan Captain Artner adalah yang terbaik untuk tugas itu.
Pengalaman HMAS Pitcairn didapat dalam tugas di Timur Tengah. Sebagai sekutu Amerika Serikat, maka pun mengirimkan beberapa kapal perang ke Timur Tengah. Dan di sini, HMAS Pitcairn berhasil mengaramkan beberapa kapal selam mini yang digunakan untuk mengangkut personel milik salah satu kelompok gerilyawan Al-Qaeda, juga beberapa kapal dan perahu bunuh diri. Prestasi ini jauh lebih hebat daripada kapal-kapal Amerika sekalipun, meskipun oleh beberapa kapten Amerika, lebih dianggap sebagai suatu keberuntungan belaka.
Commander Hank Kelsey, XO dari kapal HMAS Pitcairn sudah berada di sana, dan ia melihat kegalauan dari kaptennya, akan tetapi ia tak berkata apa pun, juga ketika kapalnya dimuati penuh oleh senjata-senjata, hal yang tak pernah lagi ia lihat setelah kapal ini pulang dari Timur Tengah. Mau memburu apa kapal ini? Begitu pikirnya. Semua awak kapal terlihat agak malas dan frustrasi akibat waktu libur mereka dipotong oleh penugasan mendadak ini. Pun, seperti halnya para pelaut sejati, mereka tak pernah membantah perintah dari kaptennya. Baru setelah akhirnya kapal HMAS Pitcairn berlayar sekitar 1 jam, Commander Kelsey berani bertanya pada Captain Artner.
“Sebenarnya misi kita kali ini apa, Cap?” tanya Com. Kelsey.
“Itu juga yang aku mau tahu, Commander,” kata Capt. Artner,
“buka manifest, sekarang,”
Kedua pimpinan ini pun lalu membuka manifest, dan setelah mengkonfirmasi lalu membaca misi yang harus mereka jalankan, mereka menarik nafas panjang.
“Segera menuju ke titik koordinat ini,” kata Capt. Artner sambil memberikan manifest itu kepada Com. Kelsey.
“Yessir!” kata Com. Kelsey sambil menghormat.
“And full speed ahead!” perintah Capt. Artner,
“we got fish to hunt; a very large one,”
Pagi berikutnya…
Rumah Anton
WIB
Anton terbangun tiba-tiba ketika HP yang ia letakkan di atas dadanya menyala. Ia melihat keadaan sekitar, rupanya tertidur di sofa, di depan TV yang sudah mati. Mungkin Lani tadi malam terbangun dan mematikan TV-nya ketika Ayahnya tertidur. Siapa menelepon pagi-pagi begini? Ia melihat layarnya, dan ternyata nomor asing, nomor Australia. Anton bisa menebak siapa.
“Hoi! Bangun! Udah pagi!” kata seorang wanita dari balik telepon.
“Duh… kamu ngapain telepon aku pagi-pagi, Na???” hardik Anton.
Ternyata itu adalah Nana. Nana ini adalah anchor NewsTV yang juga berada di bawah Anton, dan merupakan ujung tombak program News Today. Saat ini, Nana tengah cuti panjang dari kegiatan di NewsTV karena tengah melanjutkan studi di Australia.
“Pagi-pagi? Heh, di sini matahari udah tinggi, nih!” kata Nana,
“Lani nggak kamu bangunin buat sekolah, emangnya?? Mentang-mentang istri nggak ada di rumah”
“Tau dari mana kamu, istriku nggak ada di rumah?” tanya Anton.
“Aku lagi lihat streaming NewsTV nih… tuh, istri kamu lagi liputan,” kata Nana.
Anton tersentak, lalu bergegas ia menyalakan TV di hadapannya. Benar saja, rupanya itu adalah liputan yang dilaksanakan oleh Lucia tadi malam. Hanya saja, liputan ini tidak langsung. Anton membesarkan volume televisinya, karena ia sangat ingin mendengarkan suara istrinya ini.
“Duh, sampe volume TV-nya digedein,” sindir Nana segera setelah package liputan dari Lucia selesai.
“Ya, namanya juga istri sendiri, Na,” kata Anton.
“Emang liputan di mana, sih?” tanya Nana.
“Nggak tahu,” kata Anton,
“classified,”
“Wah, koq main rahasia-rahasiaan, sih?” tanya Nana.
“Udah ah, pagi-pagi ngegosip,” kata Anton,
“kamu kesepian, ya?”
“Enak aja,” tukas Nana,
“suami aku di sini nih, tadi malem nyusul,”
“Masa?? Wah, berarti semalem ‘pertandingan’, dong!” kata Anton.
“Nggak tuh,” kata Nana sembari terkekeh,
“lagi ‘pita merah’ nih,”
“Yaah… nggak tepat tu, suami kamu milih waktu,” kata Anton.
“Hooi, koq jadi ngomongin suami aku, sih??” tanya Nana,
“Lani udah dibangunin belum?”
“Ntar gampang lah,” kata Anton,
“sarapannya pake sereal aja,”
“Idih, pantes anak kamu badannya kecilan, yah?” kata Nana,
“ama bapaknya dicekokin sereal mulu!”
“Yang pinter masak si Luz,” kata Anton terkekeh,
“oh ya, gimana keadaan di Aussie?”
“Yaa gitu deh,” kata Nana,
“kayaknya lagi panas nih, persaingan politis lagi soal apa kudu pro Barat atau lebih condong ke Asia,”
“Masalah kasip tu,” kata Anton,
“oh ya, gimana kalau ntar pas News Today kamu aku telepon biar laporin langsung?”
“Waduh, mau laporin apaan, nih?? Ntar aja deh, kapan-kapan,” kata Nana,
“eh, Ton, aku udahan dulu yah, pulsa mahal!”
“Yawda, bye!” kata Anton.
Nana lalu menutup teleponnya. Sedikit situasi yang memanas di memang sudah beberapa waktu ini menjadi perhatian Anton di NewsTV, akan tetapi meskipun tetap mengumpulkan informasi, Anton belum bisa mengangkat hal ini di News Today, tidak selama masih ada topik lain yang sifatnya lebih urgen. Bagaimanapun, situasi ini juga membuat khawatir Anton, karena ini bakal mempengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia, salah satunya adalah kepada Australia. Duh, sekarang Anton malah teringat Lucia…
Gedung NewsTV
Reporter’s Lounge
10.01 WIB
Anton memasuki ruangan reporter dengan cukup mendadak. Jarang-jarang sebenarnya Anton memasuki ruangan ini, bahkan kalau seandainya Lucia tidak sedang tugas sekalipun. Ini kontan saja mengagetkan anak buahnya yang ada di ruangan itu, yaitu Uki, Andini, dan Erwina. Mereka memang sedang mengerjakan naskah dan laporan peliputan mereka, jadi tidak sedang kongkow; bagaimanapun juga, apabila Anton sampai repot-repot masuk ke dalam ruangan ini, pastinya ada sesuatu yang penting.
“Dah, nggak usah repot-repot,” kata Anton,
“kalian sambil kerja juga gak papa,”
Cubicle tempat anak buah Anton bekerja memang unik dan membentuk sebuah lingkaran, sehingga sambil bekerja juga, mereka bisa tetap ngobrol tanpa harus meninggalkan komputer kerja mereka.
“Ada apaan sih, Bos, koq tumben ke sini?” tanya Andini,
“ngapelin aku, yah? Mumpung Luz nggak ada? Hehehe,”
“Kegeeran banget kamu,” kata Anton,
“pengin ngadem aja sih, lagian aku baru aja diomelin ama Manda,”
“Soal penugasannya Lucia?” tanya Uki.
“Iya,” jawab Anton.
“Ya jelas lah, orang penuh rahasia gitu,” kata Uki,
“misal aku yang jadi Manda aku juga pasti ngomel,”
“Oh ya, kabarnya si Lusi gimana, Bos?” tanya Andini,
“apa udah ngasi kabar lagi?”
“Cuman SMS kemarin nih, kayaknya sebelum berangkat ke lokasi,” kata Anton,
“abis itu lom ada kabar lagi,”
“Waduh, ada yang kangen nih, kayaknya,” goda Andini,
“ama aku aja dulu, Bos, kalau kangen,”
“Hahaha, mending ama Fitri, Ndin, daripada ama kamu,” balas Anton.
“Weleh, mainannya sekarang ama Fitri, yah?” tanya Andini.
“Udah dari dulu kali, kalau ama Fitri,” tukas Erwina,
“so, sekarang Bos lagi mau ngapain?”
“Gini, kalau misal kalian nggak ada kerjaan yang mendesak, coba deh tongkrongin Dephan,” kata Anton.
“Yeee… ini sih ceritanya kita disuruh nyari kabar istri,” kata Andini.
“Ya, siapa tahu juga malah ada yang menarik,” kata Anton.
“Oke, ntar saya aja yang ke Dephan,” kata Erwina,
“kebetulan saya juga lagi mau cari tahu soal misi muhibah AL Russia,”
“Makasih, We,” kata Anton,
“oh iya, ini aku dapet rekamannya si Luz yang tadi malem, coba tolong dipelajari, yah,”
Anton lalu memberikan sebuah DVD kepada Andini, yang kebetulan memang posisinya paling dekat.
“Dipelajari apanya?” tanya Andini.
“Apa aja yang bisa kalian dapat,” kata Anton,
“ntar aku masukin ke poin tugas uji analisa kalian,”
“Wah, parah juga ya, kalau punya Bos suka menyalahgunakan wewenang gini?” celetuk Uki.
“Hei, pada mau poin, gak??” tanya Anton,
“lagian, kayaknya rekaman itu sebelum kita edit sudah diedit dulu ama Angkatan Laut, jadinya ini tantangan, siapa tahu ada detil-detil kecil yang bisa kita eksplor di berita,”
“Wah, tumben nih tugas uji analisa-nya menantang gini?” kata Andini,
“ya udah, ntar kita kerjain deh, secepatnya,”
“Good!” kata Anton,
“aku pergi dulu, habis ini ada rapat produser lagi ama Bu Sabrina; duh, capek,”
“Capekan mana, Bos, ama kita yang wara-wiri ke sana-sini, kepanasan, kehujanan,” protes Andini.
“Trust me,” kata Anton,
“aku mau aja bayar 2 bulan gaji biar bisa tugas keluar kayak kalian; dah ah…”
Anton pun segera meninggalkan tempat itu. Andini memperlihatkan DVD itu kepada rekan-rekannya yang lain. beberapa keping di , dan pastinya itu adalah hasil rekaman “asli” sebelum diedit oleh tim editing di NewsTV sendiri. Setiap tiga bulan sekali, pasti diadakan pengujian mengenai kinerja para reporter di tiap-tiap program. Penilaian dilakukan oleh produser atau kepala program masing-masing. Dan tidak seperti kepala program yang lain, Anton menggunakan sistem poin berdasarkan hasil kerja plus assignment atau tugas-tugas yang diberikan. Salah satunya adalah menggunakan tes seperti ini. reporter dan siapapun di bawah Anton pun menyukai cara Anton, karena lebih menarik dan menantang.
Dan untuk pengujian kali ini, Andini, Erwina, dan Uki, harus menganalisa hasil liputan milik Lucia. Mungkin saja ini hanyalah akal-akalan Anton untuk bisa mendapat kabar lebih soal istrinya, bagaimanapun, jumlah poin yang dijanjikan tetap saja menggiurkan.
“Distel aja, Ndin, sekarang,” kata Erwina,
“aku mau segera ke Dephan, soalnya,”
“Oke,” kata Andini.
Andini pun lalu memainkan DVD itu di sebuah player yang memang berada di ruangan tersebut. Sebelum menekan tombol play, terlebih dahulu Andini memastikan bahwa semua rekannya sudah siap dengan pulpen dan kertas catatan, karena ini adalah sebuah tugas analisa. Semua reporter NewsTV pastinya pernah mengalami pelajaran analisa dalam kelas pelatihan mereka, namun entah kenapa, Anton gemar sekali mengadakan uji analisa. Inilah mungkin satu kualitas yang selalu Anton tekankan untuk ada bagi semua anak buahnya.
Semua pun mendengarkan dengan seksama setiap perkataan dari Lucia. Juga, gambar rekaman itupun diperhatikan dengan betul-betul, termasuk juga suaranya, dan apakah mereka mengenali latar belakangnya. Uki bahkan mencoba menebak-nebak, jam berapakah rekaman itu dibuat. Sebagian dari hasil peliputan ini belum ditayangkan di NewsTV, karena memang tengah dipecah-pecah supaya bisa dipasang di program berita Morning News, Daytime News, dan terutama adalah News Today.
“Ini di Surabaya di mana, sih?” tanya Erwina kepada Uki.
Uki memang pernah bertugas pula di Biro Surabaya.
“Wah, nggak tahu yah, kalau aku bilang sih mungkin di Tanjung Perak, beberapa landscape-nya pas; cuman aku koq ragu,” kata Uki,
“apa mungkin aku lom pernah liat Tanjung Perak pas malem-malem, ya?”
“Gimana kalau kita telpon otoritas syahbandar Tanjung Perak aja?” tanya Erwina,
“nanyain gitu, tadi malem ada acara gitu, gak,”
“Iya kalau emang bener di Tanjung Perak, lha kalau enggak??” tukas Andini,
“lagian kita juga nggak tahu, ini rekaman kemarin apa tadi malam,”
“Ya tinggal tanyain aja, kan?” tanya Erwina.
“Nggak segampang itu lah, pastinya syahbandar juga tahu kalau ini rahasia,” kata Andini,
“berani taruhan deh, abis ini kita pasti ditanyain ama temen-temen dari TV lain soal ini,”
Mereka lalu kembali mengamati rekaman. Di salah satu bagian itu, ada liputan ketika Lucia berkata seperti ini:
“…ikut pula bersama kami adalah seorang staff dari Komisi I DPR RI, yang juga mendapatkan izin khusus untuk mengikuti pelayaran ini, dan akan bertindak sebagai supervisor saja dalam pelayaran ini…,
Uki pun melihat ke arah Andini
“Ndin, ada orang Komisi I tuh, ikut,” kata Uki,
“kalau nggak salah, Bokap lo di Komisi I juga, ?”
“Iya sih,” kata Andini,
“tapi koq Papa nggak pernah bilang-bilang ya, soal ini,”
“Rahasia?” tanya Erwina.
“Bisa jadi,” kata Uki,
“Ndin, kira-kira bisa kamu tanyain nggak ama Bokap kamu, siapa yang ikut di sana?”
“Bisa aja,” kata Andini,
“duh, tapi mungkin nggak bisa sekarang, soalnya katanya Papa lagi ada rapat bahasan penting, nggak bisa diganggu… ntar paling kalau udah di rumah,”
Selepas itu, mereka kembali menekuni catatan mereka. Beberapa dicatat di dalam buku catatan, juga beberapa dicatat di dalam hati. Hasil tidak terlalu penting di sini, karena sebelum Lucia kembali, bakal tidak mungkin mengetahui kebenaran informasinya. Anton hanya akan melihat cara analisa masing-masing saja, serta kelogisan dan kerasionalan analisa tersebut. Setelah melihat selama hampir satu setengah jam, disertai sedikit uneg-uneg akibat gunting sensor yang “kebangetan”, akhirnya selesailah juga rekaman itu.
“Ya udah, aku pergi ke Dephan dulu, yah!” pamit Erwina pada yang lain.
Departemen Pertahanan RI
14.11 WIB
Erwina sudah beberapa lama ini menunggu di Dephan bersama kameramennya. Petugas protokol beberapa kali tidak mengizinkan Erwina, juga wartawan lainnya untuk masuk ke dalam gedung. Bisa ditebak, kedatangan para wartawan ini ada hubungannya dengan peluncuran KRI Antasena yang beritanya sudah bisa dilihat di NewsTV pagi tadi. Sontak saja para Pemimpin Redaksi TV-TV lain belingsatan, dan semenjak pagi tadi, telepon milik Bu Sabrina berdering nyaris tanpa henti.
Ketika Erwina datang tadi, sontak dia menjadi “selebriti”, karena para wartawan langsung saja mengerumuni dia, hendak meminta kejelasan mengenai peluncuran KRI Antasena, mungkin juga bentuk rasa frustrasi akibat tidak adanya statement dari Dephan dari tadi. Erwina tentu saja agak kewalahan, dan tentu saja sewot, karena Dephan benar-benar menutup diri dari semua insan pers, padahal Erwina sendiri tidak ingin menanyakan soal KRI Antasena, melainkan hanya konfirmasi info ringan soal misi muhibah AL Russia yang akan datang di Indonesia. Semua wartawan pun, jeleknya, menganggap Erwina, sebagai orang NewsTV, tahu lebih banyak, sehingga betul-betul tak mau melepaskannya. Kemana pun pergi, Erwina dikuntit, mulai dari hendak beli minum, makan, bahkan ke toilet umum sekalipun. Dalam hati Erwina pun bertanya-tanya, jangan-jangan dia sedang kena karma!
Setelah hari mulai agak siang, kuntitan atas Erwina pun mulai mengendur. Erwina sudah berupaya menjawab apa yang bisa dia jawab, kecuali mengenai pembicaraan uji analisa tadi, karena dia butuh wewenang dari Anton untuk itu. Bagaimanapun, dia merasa lega, karena bukan hanya rentetan pertanyaan itu cukup mengganggu, juga ada beberapa pertanyaan yang sifatnya mendiskreditkan NewsTV; ini datang dari reporter-reporter baru, atau yang tidak dikenal oleh Erwina sebelumnya. Salah satu diskredit itu adalah pertanyaan bahwa apakah NewsTV membayar “uang suap” untuk hak peliputan istimewa itu. Tentu saja Erwina jengkel, karena apabila memperhatikan, maka orang pun pasti akan tahu bahwa hubungan antara NewsTV dan Angkatan Laut sebenarnya memang cukup “mesra”, dan bukan kali ini saja NewsTV berada di pole-position soal berita yang berhubungan dengan Angkatan Laut. Reporter-reporter TV lain yang juga adalah teman-teman Erwina tentunya sudah mafhum dengan hal itu!
“Rame yah, We,” kata Cahyo, kameramen yang mengikuti Erwina.
“Iya, baru kali ini ada reporter dikerubutin reporter,” kata Erwina,
“duh, mana belum bisa masuk lagi,”
Selepas benar-benar tidak bisa memasuki Dephan, maka Erwina dan Cahyo pun memutuskan rehat sejenak di sebuah warung di sekitar kawasan itu, sambil minum es teh untuk mendinginkan hati. Mereka memang sengaja memilih tempat yang agak tersembunyi, supaya tidak berbarengan dengan reporter lain. Erwina ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan lanjutan soal peliputan KRI Antasena.
“Yo, kalau udah selesai, kita coba lagi, yuk,” kata Erwina.
“Lha, bukannya dari tadi udah ditolak, tuh?” tanya Cahyo.
“Persisten lah, sekarang kita lewat jalan muter,” kata Erwina,
“siap, belom?”
“Aku sih siap-siap aja, We,” kata Cahyo.
“Tapi jangan ampe kelihatan yang lain, ntar pada ngikut lagi,” kata Erwina.
Satu hal yang dipelajari oleh Erwina dalam pengalamannya selama menjadi reporter adalah: “apabila pintu depan tertutup, coba jalan lain”. Oleh para reporter di NewsTV, hal ini sering sekali dipraktekkan. Kebetulan sekali rata-rata reporter NewsTV yang senior memang cenderung bersifat persisten, namun juga lihai. Misal saja ketika liputan di DPR, apabila para reporter sering dihadang di pintu depan, maka Andini, yang memang mengenal keadaan gedung itu, selalu saja bisa masuk dari pintu lain.
Dan tahu-tahu saja Erwina dan Cahyo sudah kembali di sekitar gedung Dephan, mengendap-endap, selain menghindari satpam, juga menghindari reporter lain. Erwina berpegang pada asumsi umum bahwa ada lebih dari satu jalan masuk menuju sebuah gedung; dan Erwina mengincar pintu yang biasa digunakan masuk oleh para cleaning-service, karena letaknya pasti cukup tersembunyi dan relatif tak terjaga. Bagaimanapun mereka tetap harus hati-hati, karena seragam NewsTV sangat mencolok bila dibandingkan dengan TV lain. Saking mencoloknya, sehingga muncul jargon bahwa “misal ada penembak jitu yang mengincar para reporter secara acak, pasti reporter NewsTV yang mati duluan (gara-gara seragamnya memang lebih mencolok dari yang lain)”.
“Aman!” bisik Cahyo, masih mengendap-endap bersama dengan Erwina.
Mereka pun akhirnya menemukan apa yang mereka cari. Sebuah pintu darurat, yang biasa digunakan sebagai sarana evakuasi misal terjadi kebakaran atau bencana alam. Cleaning service biasa menggunakan pintu itu, namun dari luar pintu itu memang tidak terlihat mencolok. Erwina pun menyuruh Cahyo menyiapkan kameranya. Setelah mereka masuk ke dalam gedung, maka Erwina dan Cahyo hanya memiliki waktu sempit sebelum akhirnya ketahuan dan ditendang keluar gedung. Dengan sedikit keberuntungan, mungkin bisa saja mereka menemukan apa yang mereka cari sebelum hal itu terjadi. Seandainya saja NewsTV tidak memberlakukan kewajiban memakai seragam kerja ketika peliputan, Erwina yakin bisa mengulur waktu itu lebih lama; bahkan bisa pula keluar tanpa harus ditangkap dulu.
“Siap?” tanya Erwina, masih sambil berbisik.
“Sudah,” kata Cahyo,
“sekarang?”
“Tunggu!” kata Erwina.
Erwina dan Cahyo beringsut kembali ke persembunyian mereka. Hampir saja mereka ketahuan, karena tiba-tiba saja pintu darurat itu membuka. Cahyo secara refleks pun merekam siapa yang keluar dari pintu itu, dan ternyata bukan cleaning service! seorang berpakaian jas hitam yang tertutup dan mengenakan topi fedora yang menutupi kepala dan mukanya; dikawal oleh dua orang berpakaian safari. Mereka tampak waspada dengan keadaan sekitar, memastikan semuanya aman. Rombongan itu melewati begitu saja tempat persembunyian Erwina tanpa sedikit pun curiga. Erwina sempat melihat sekilas orang berpakaian serba hitam itu, dan sepertinya cukup senior, juga bukan orang .
“Masuk sekarang?” tanya Cahyo.
“Tunggu, nanti saja, kita ikuti saja mereka,” kata Erwina.
Sambil berhati-hati, Erwina dan Cahyo pun mengikuti rombongan itu. Rombongan itu pun menuju ke tempat parkir yang biasa digunakan sebagai tempat parkir karyawan, dan menuju ke sebuah mobil Kijang Innova Hitam. Mereka tak membuang-buang waktu dan segera pergi meninggalkan tempat. Kamera Cahyo pun merekam semuanya. Erwina tampak berpikir sejenak.
“Itu siapa, We?” tanya Cahyo,
“pejabat, yah?”
“Pastinya bukan,” kata Erwina,
“orang asing koq; kayaknya aku pernah tahu tapi koq aku lupa ya, itu siapa,”
Somewhere at sea
200 meter di bawah permukaan laut
19.49 WIB
Lucia menghadapi buku hariannya dan menuliskan pengalamannya di dalam kapal selam Antasena ini. Tidak banyak yang bisa dilakukan di sini setelah mengetahui bagaimana kehidupan di dalam kapal selam ini. Di hadapan Lucia hanyalah meja yang tak terlalu besar dengan skema denah kapal di dinding logam. Di atas Lucia, sebuah pipa besar terus menerus mengeluarkan suara seolah-olah itu adalah suara kehidupan dari pipa ini. Di kapal selam, pipa-pipa ini kalau tidak mengalirkan air, ya berarti uap atau listrik; hal yang penting bagi kapal ini. Pun rasanya cukup mengerikan mendengar suaranya.
Erika masih tidur di tempat tidurnya, hanya sehasta jarak dari Lucia. Ritme kapal selam ini, yaitu tidur di siang hari dan bangun di malam hari, tampaknya sudah diadaptasi secara sempurna oleh Erika. Setelah dua “malam” di kapal ini, Erika kini sudah bisa tidur nyenyak meskipun suara dentingan logam, pipa, dan atau sirine pemberitahuan berbunyi. Awak kapal pun hilir mudik di koridor mereka untuk melaksanakan tugasnya, dan membuat bunyi yang cukup keras ketika sepatu mereka beradu dengan lantai besi; cukup mengganggu juga. Belum lagi suara besi-besi yang berderak dan seolah ingin bergerak menghimpit.
Dari informasi terakhir, Lucia tahu bahwa kapal ini sudah berada di pintu keluar Selat Lombok, dan dalam beberapa jam ke depan, ketika kapal ini berlayar di atas permukaan, dengan perlindungan gelapnya malam, maka kapal KRI Antasena sudah akan berada di atas Samudera Indonesia, jalur laut yang sebenarnya cukup terbuka dan berbahaya. Namun di Samudera inilah serangkaian test paling banyak dan paling utama akan dijalankan. Selama ini, test yang dilaksanakan barulah sebatas test sonar, uji coba pentargetan elektronik, uji coba ketahanan mesin, serta uji kecepatan maksimum kapal selam, baik waktu menyelam maupun di atas permukaan. Nah, baru di atas Samudera ini, test menggunakan senjata serta serangkaian test ekstrem akan mulai dijalankan.
“Mbak Lucia…” panggil Erika lirih.
Lucia menoleh saja, dan melihat Erika tampak baru bangun tidur, masih di lubang tidurnya.
“Jam berapa sekarang?” tanya Erika.
“Waktunya bangun,” kata Lucia.
“Kita udah naik lagi?” tanya Erika.
“Belum, masih menyelam,” jawab Lucia,
“sebentar lagi palingan,”
“Udah mandi, belum?” tanya Erika.
“Belum,” kata Lucia sambil menutup bukunya,
“ayuk,”
20.12 WIB
Semenjak Komodor Mahan mengizinkan Lucia dan Erika memakai kamar mandi di dalam kabin kapten, setidaknya mereka berdua bisa lebih nyaman ketika mandi, meskipun tentu saja tetap harus mereka melakukannya secara bergantian. Kabin kapten memang betul-betul nyaman, bahkan kursinya pun lebih empuk daripada kursi lipat di kabin Lucia dan Erika. Biasanya, sambil menunggui Erika mandi, Lucia sering menulis kembali buku hariannya di atas meja kapten.
Sejenak, Lucia sering mengingat rumah ketika ia duduk di sini. Apalagi di atas meja ada foto keluarga Komodor Mahan, istri dan kedua anaknya. Lucia pun jadi teringat dengan Anton dan Lani di rumah. Dia juga ingat, sering sekali menulis buku harian malam-malam di atas meja yang nyaman setelah Lani tidur. Anton biasanya akan membuatkannya secangkir coklat panas, lalu memeluknya dari belakang, dan mendaratkan kecupan-kecupan mesra di tengkuknya, dan malam itu dilanjutkan dengan mereka memadu kasih. Dan Lucia saat ini merindukan sentuhan-sentuhan mesra itu.
“Inget yang di rumah, ya?” tanya Erika tiba-tiba mengagetkan Lucia.
Erika baru saja selesai mandi, dan langsung sudah berpakaian pula. Wangi sabun pun tercium segar memenuhi kamar itu, dan wajah Erika pun masih merona merah akibat mandi tadi. Lucia hanya mengangguk saja.
“Ntar juga paling ketemu lagi,” kata Erika,
“cuman 5 hari lagi, kan?”
“Bisa juga lebih cepet,” kata Lucia,
“kalau nggak ada apa-apa,”
“Tapi kayaknya nggak seru ya, kalau cuman gini-gini aja,” kata Erika,
“tadinya aku pikir kapal selam ini kayak kapal selam yang pernah aku naikin di Nusa Penida dulu, ada jendelanya,”
“Ya jelas nggak ada lah!” kata Lucia sambil tertawa,
“yang di Nusa Penida itu kan kapal selam buat wisata, kedalaman selamnya juga paling cuman belasan meter doang; kalau ini kan kapal selam tempur, dan kedalamannya juga dalem banget; bikin jendela malah bisa jadi titik lemah,”
“Tapi nggak kayak yang aku bayangin kayak di film-film gitu,” kata Erika,
“terus ntar kalau lempeng-lempeng aja ya kita ngelaporinnya juga gini?”
“Ya iya lah,” kata Lucia,
“emang mau dilaporin gimana lagi?”
“Coba lah, ada apa, gitu,” canda Erika.
“Hush! Jangan mikir macem-macem ah,” kata Lucia,
“aku mandi dulu yah,”
Kamar Erwina
NewsTV Apartment
20.19 WIB
Erwina masih terpaku di layar komputer di kamar tinggalnya di apartemen NewsTV. Apartemen ini berada di sebelah kantor NewsTV, dan tersambung dengan sebuah overpass; sehingga karyawan NewsTV yang tinggal di sini bisa langsung masuk kantor. Ini memang diperuntukkan bagi karyawan NewsTV, tapi lebih spesifik lagi adalah bagi mereka yang belum menikah; ya semacam Erwina ini.
Gedung apartemen ini sebenarnya adalah sebuah bekas konstruksi untuk hotel yang dibiarkan mangkrak tidak selesai. Atas desakan dari Bu Sabrina (waktu itu masih sebagai Wakil Pemimpin Redaksi) maka NewsTV pun membeli tanah beserta bangunannya untuk ekspansi tempat, mengingat posisi gedung itu adalah persis di samping NewsTV. Gedung ini kemudian direkonstruksi menjadi sebuah apartemen yang memiki 200 kamar, yang khusus diperuntukkan bagi pekerja NewsTV. Banyak sekali karyawan NewsTV yang lalu memanfaatkan kesempatan ini, apalagi gedung apartemen ini kini sidah ibarat sebuah kota vertikal saja, mengingat ada sebuah toserba, pujasera, dan klinik di lantai bawah; plus di halaman dilengkapi dengan kolam renang, lapangan basket, volley, badminton, dan futsal; serta taman dan kolam hias besar yang bisa dipakai untuk memancing ataupun bagi mereka yang hanya ingin duduk-duduk melepas lelah setelah seharian bekerja.
Namun kali ini Erwina sibuk. Bahkan Gilang yang sengaja apel ke tempat Erwina pun (Gilang tinggal di apartemen yang sama, tapi beda blok) tampaknya dianggurkan oleh Erwina. Padahal Gilang tengah ingin melepaskan rindunya setelah ditinggal oleh Erwina ke Moskow selama dua minggu; nampaknya ia hanya bisa mengisi waktunya dengan bermain game, walau di kamar Erwina, tentu saja. Biasanya untuk satu kamar (disebut sebagai flat) dihuni oleh 3-4 orang dengan jenis kelamin sama, tentu saja. Namun untuk malam ini, teman-teman sekamar Erwina kebetulan sedang tugas keluar semua, sehingga wajar saja kalau Gilang ingin menghabiskan waktu bersama pacarnya ini.
Erwina sendiri tengah penasaran dengan kejadian di Dephan tadi siang. Erwina cukup yakin bahwa ia pernah mengenal orang yang dikawal tadi, hanya saja ia lupa siapa. Maka, Erwina pun mengecek semua file terutama rekaman mengenai peliputan yang pernah ia, atau rekan-rekan satu timnya lakukan.
“Itu dia!” kata Erwina tiba-tiba, cukup keras sehingga Gilang pun hampir meloncat dari tempatnya.
“Apaan, sih??” tanya Gilang.
“Orang yang aku ceritain tadi sore aku liat di Dephan,” kata Erwina,
“aku tahu kalau aku pernah kenal,”
“Siapa emangnya?” tanya Gilang.
“Dr. Anatoly Sedorenkov,” kata Erwina.
Kali ini gantian Gilang yang terperanjat.
“Anatoly Sedorenkov?? Bukannya dia itu…” kata Gilang.
“Iya, yang bikin rancangan KRI Antasena,” kata Erwina,
“tapi mau apa ya, dia di Dephan? Dikawal lagi,”
“Nggak tahu yah, sesuatu, kali,” kata Gilang.
“Iya, tapi apa?” tanya Erwina.
Gilang tidak menjawab. Ia hanya mendekati Erwina dari belakang, dan memijat pundaknya. Erwina tampak mendesah mendapat perlakuan itu; hal yang biasa dilakukan oleh Gilang.
“Udah lah, nggak usah dipikirin,” kata Gilang,
“kamu tegang banget, nih,”
Erwina hanya menggumam saja sambil menikmati pijatan Gilang, yang memang dibutuhkannya setelah seharian penuh tugas keluar.
“Gini aja,” kata Gilang lagi,
“kamu besok libur juga, ? Kita besok pergi refreshing aja, gimana? Kamu ama aku, berdua aja, ntar terus malemnya kita candlelight dinner di restoran kesukaan kamu itu,”
Erwina tidak menjawab, hanya mengangguk sambil menggumam. Gilang lalu memutar tubuh Erwina sehingga mereka berdua saling berhadap-hadapan, kemudian dengan lembut, Gilang pun mencium bibir Erwina. Erwina hanya tertawa kecil, lalu dengan hangat membalas memeluk dan memagut Gilang. Mereka pun menjatuhkan diri ke atas ranjang sambil terus saling mencium, mencumbu, dan memadu kasih.
KRI Antasena
Samudera
22.22 WIB
Suara lonceng terdengar keras menggema di seluruh seantero kapal selam, itu tandanya kapal selam akan naik ke permukaan, dan semua harap bersiap-siap. Lucia kini sudah bisa menghafal kode-kode pemberitahuan di kapal selam. Suara sirine sebanyak tiga kali pendek artinya kapal selam akan menyelam, sementara suara lonceng menandakan kapal akan ke permukaan. Dalam pada itu, ada pula pemberitahuan yang mirip suara bel delman, yang menandakan bahwa waktu makan sudah tiba. Kapal pun lalu terasa menanjak naik, dan bagi mereka di dalamnya, sensasinya sama seperti ketika naik lift yang bergerak ke atas. Kecuali dengan segala suara dan kebisingan yang ada.
Semua orang disarankan tidak berjalan-jalan dulu dalam dua fase krusial, yaitu saat menanjak dan menurun, karena cukup berbahaya. Saat ini kapal menanjak dengan sudut tanjak sebesar 15°, sebuah sudut yang meskipun cukup kecil, tapi sudah terasa agak curam. Dalam sudut ini, bahkan barang-barang di atas meja pun harus dipegangi supaya tidak bergeser atau jatuh. Dalam keadaan normal, sudut tanjak atau sudut selam bervariasi dari 5°, 15°, 20°, dan 30° bergantung kecepatan yang diinginkan untuk mencapai kedalaman tujuan. Dalam situasi ekstrem, sudut tanjak atau selam bisa saja mencapai 45° atau 60°, yang mana ini amat curam sekali akan dirasakan.
Lucia baru bernafas lega ketika akhirnya kemiringan kapal stabil. Ini artinya kapal sudah mencapai kedalaman sasarannya, dan dalam hal ini, berarti kapal selam sudah mencapai permukaan. Mesin penggerak pun berganti, dari motor listrik kembali ke mesin diesel, dan gantian sekarang baterai-baterai sumber tenaga yang akan dicharge. Tenaga besar dari mesin ini pun akhirnya membuat kapal selam melaju dengan lebih cepat di permukaan. Aneh sekali, Lucia tidak pernah diperkenankan untuk memasuki kamar mesin. Mungkinkah ada sesuatu dalam kamar mesin itu yang merupakan kunci kesaktian KRI Antasena?
Sebelumnya, Komodor Mahan sudah memberitahu, bahwa test yang akan pertama kali dijalankan di Samudera ini adalah test penembakan rudal. Kapal selam ini memang dilengkapi dengan 8 buah rudal anti-kapal jenis PINDAD RAK-V3 buatan lokal, yang merupakan tiruan dari rudal anti-kapal Russia, SS-N-26 Yakhont. Rudal-rudal dengan konfigurasi peluncur vertikal ini akan dipergunakan seandainya kapal selam terpergok oleh kapal perusak musuh dan tidak sempat lari. Plus, rudal-rudal ini, dengan sedikit pengaturan, juga cocok untuk menyerang sasaran di darat, mengingat jarak jangkau rudal ini yang mencapai “batas cakrawala”. Rudal RAK-V3 juga merupakan rudal basis kapal selam pertama yang baru saja dibuat oleh teknisi-teknisi Pindad, sehingga misi pengujian ini pun menjadi misi pengujian bagi rudal baru ini.
“Kita nggak boleh ke conning-tower?” tanya Lucia.
“Maaf, tidak boleh,” kata Laksma. Mahan,
“alasan keamanan, kita nggak tahu apa yang bisa terjadi; lagipula, malam-malam begini, peluncuran rudal bisa membutakan mata,”
Lucia mengangguk saja. Pada malam hari, pancaran api rudal akan membuat sebuah cahaya yang amat menyilaukan. Apalagi tempat peluncur rudal dekat sekali dengan conning-tower, sehingga tidak disarankan untuk berada di saat rudal diluncurkan.
“Pengujian siap!” kata perwira senjata.
“Bunyikan alarm, siap untuk pengujian senjata!” perintah Kdr. Mahan.
Sirine pun dibunyikan dua kali, dan semua awak pun bersiap. Tidak hanya mereka yang ada di anjungan ataupun yang ada di kamar senjata, semuanya harus bersiap-siap, karena dalam kapal (termasuk kapal selam), keadaan siaga tempur berarti semua awak harus siap untuk bertempur, termasuk koki-kokinya.
“Konfirmasi dari Markas Armatim, lampu hijau!” kata Letkol. La Masa
“Target diidentifikasi dan dikunci!” kata perwira senjata lagi.
“Siapkan tombol penghancuran rudal,” kata Laksma. Mahan.
“Protokol pengamanan siap!” kata perwira senjata sambil membuka sebuah tombol warna merah yang penuh dengan amaran peringatan. Laksma. Mahan pun menyiapkan jarinya untuk menekan tombol itu.
“Dikonfirmasi!” kata perwira senjata,
“siap tembak!”
“Tembak!” perintah Laksma. Mahan.
“Tembak!” ulang perwira senjata.
Tiba-tiba tubuh kapal selam sedikit bergetar, tandanya rudal tengah meluncur meninggalkan kapal. Semua perwira mengawasi proses itu dengan seksama. Dengan mulus, rudal itu pun melaju meninggalkan kapal selam. Sayangnya, tidak ada yang mengabadikan peristiwa meluncurnya rudal ini dari luar.
“Cek! sepuluh kilometer!” kata perwira radar.
Lalu berturut-turut, jarak yang disebutkan oleh perwira radar itu makin lama makin meningkat, menunjukkan seberapa jauh rudal telah meluncur. Komodor Mahan mengawasi proses itu dengan seksama.
“Lima puluh kilometer!” teriak perwira radar.
“Lanjutkan,” kata Laksma. Mahan.
“Kalau sudah mencapai jarak 100 kilometer, sebaiknya segera diledakkan,” kata Letkol. La Masa.
“Negatif! Teruskan!” kata Laksma. Mahan.
“Pak? Kita mengambil resiko rudal itu akan menghantam daratan!” kata Letkol. La Masa.
“Aku tahu! Teruskan!” kata Laksma. Mahan.
“Tujuh puluh kilometer!” teriak perwira radar.
Belum diketahui berapa jarak dari rudal ini. Apabila ternyata rudal ini tidak bisa mengambil jarak lebih dari 100 kilometer, maka ada resiko rudal akan menghantam area daratan, karena memang jarak mereka ke daratan hanya sekitar 120 kilometer, dan rudal itu memang sengaja ditembakkan mengarah ke wilayah Indonesia sendiri untuk menghindari provokasi.
“Delapan puluh kilometer!” teriak perwira radar.
Ketegangan pun memuncak.
“Seratus kilometer!” teriak perwira radar lagi.
“Kapten!” kata Letkol. La Masa.
“Teruskan!” kata Laksma. Mahan.
“Seratus dua puluh!” teriak perwira radar.
Suasana pun hening. Hanya ketegangan yang terasa. Hitungan pun tetap berjalan, dan semakin besar angka-angkanya, semakin besar pula tetes keringat yang jatuh dari dahi Letkol. La Masa. Rudal itu sekarang jelas sekali sudah berada masuk ke atas daratan. Apabila jatuh, harapannya adalah semoga jatuh di tanah kosong, bukan wilayah pemukiman, karena hulu ledak rudal ini sendiri adalah asli dan kekuatannya cukup besar, karena memang diperuntukkan untuk menghantam target sekelas kapal destroyer ke atas.
“Dua ratus kilometer!” teriak perwira radar.
Dan saat itulah Laksma. Mahan menekan tombol merah dan seketika itu juga rudal yang meluncur di udara itu hancur meledak. Sorak sorai sontak pecah di seluruh kapal selam itu. Komandan Ari La Masa pun menghapus keringat di dahinya, dan menyalami Komodor Mahan.
“Sudah aku bilang! Orang kita sendiri pun bisa bikin rudal yang bagus!” kata Laksma. Mahan,
“siapa tahu berapa jarak maksimal rudal ini, heh?”
“Kerja yang bagus, Kep!” kata Letkol. La Masa.
“Beritahu Markas Komando, pengujian rudal berlangsung sempurna, dan rudal ini layak dipertimbangkan sebagai rudal jelajah,” kata Laksma. Mahan.
“Siap!” kata Letkol. La Masa.
23.59 WIB
Lucia berdiri di atas conning-tower. Ia bukan satu-satunya yang ada di luar kapal saat ini, karena beberapa awak kapal lain pun melakukan hal serupa. Sesuai diktat tempur kapal selam, maka kapal selam tidak ke permukaan pada saat siang hari, dan malam hari, ketika kapal selam ke permukaan sekaligus untuk mengisi baterai, maka ini dimanfaatkan oleh para awak kapal untuk menghirup udara bebas.
Malam ini bulan bersinar dengan terang, sehingga siluet laut pun terlihat, plus dengan ombak-ombak kecil yang berkilau memancarkan sinar rembulan, sementara bintang-bintang pun bertaburan dengan indahnya berkelip-kelip menghiasi langit hitam. Lama sekali Lucia tidak pernah melihat bintang yang seperti ini. Terangnya lampu-lampu malam di menghalangi mata dari keindahan bintang-bintang di langit malam. Sebuah garis pun terbentuk di angkasa, bintang jatuh, dan Lucia memohonkan harapannya. Ia ingin cepat pulang supaya bisa bertemu dengan Anton dan Lani.
Erika akhirnya ke atas juga bersama Laksma. Mahan. Erika juga tampak senang dengan pemandangan malam ini. Ini bukanlah pemandangan yang bisa dinikmati dengan suasana hingar-bingar, melainkan dengan penuh keheningan. Lucia hanya tersenyum saja kepada Laksma. Mahan yang memberi salut kepadanya, lalu Laksma. Mahan pun berdiri menatap ke cakrawala tanpa berkata apa-apa. Erika juga tidak begitu banyak bicara, padahal biasanya dia yang paling ribut. Benar-benar pemandangan agung yang membius. Erika sedikit merapat ke tubuh Lucia akibat angin malam yang dingin. Dalam penugasan ini, ia memang menganggap Lucia sebagai kakak yang bisa menjadi tempat untuk bermanja.
“Indah, ya?” tanya Erika.
Lucia hanya mengangguk saja.
“Pengujian selanjutnya besok malam,” kata Laksma. Mahan, “mungkin yang besok agak keras, jadi ya nikmati aja malam ini dulu,”
“Ya,” kata Lucia.
Lucia, Erika, dan Komodor Mahan pun kembali terdiam dan mematung melihat pemandangan malam. Angin laut berdesir dingin di antara mereka. Suasana yang mendamaikan. Tapi saat itu, sekonyong-konyong, Lucia mengernyitkan dahi, karena ia melihat seperti sebuah titik, jauh di cakrawala, memotong pantulan cahaya bulan dengan ombak pisau hitam.
“Laksamana! kapal!” kata Lucia.
“Kapal?” tanya Kdr. Mahan.
Lucia menunjuk ke arah titik itu, yang lalu segera diikuti oleh Komodor Mahan dengan teropongnya.
“Kapal?” tanya Lucia.
“Iya,” jawab Laksma. Mahan.
“Punya kita?” tanya Lucia lagi.
“Entahlah, tapi aku punya firasat buruk,” kata Laksma. Mahan,
“SEMUA MASUK!!”
Segera saja semua orang yang ada di atas geladak buru-buru menuju palka untuk kembali masuk. Mereka tampaknya tidak menyadari kehadiran kapal misterius itu, tapi perintah kapten tetaplah sebuah perintah.
Lucia, Erika, juga Laksma. Mahan bergegas ke anjungan. Di rupanya sudah ada pula Iwan dengan kameranya. Iwan tampak heran ketika semua orang bergegas untuk masuk. Tapi melihat raut muka semuanya yang cukup serius, ia segera menyalakan kameranya.
“Kapal apa, itu??” tanya Laksma. Mahan.
“Kapal apa, Kep?” tanya perwira radar,
“nggak ada apa-apa di radar,”
“Ya Tuhan!” kata Laksma. Mahan ketakutan.
“keadaan tempur!”
Di seberang sana, kapal Calypso HMAS Pitcairn pun juga sudah mengamati KRI Antasena yang masih muncul enak-enak di permukaan. Com. Kelsey segera memberikan laporan kepada Capt. Artner. Rupanya HMAS Pitcairn lah yang dilihat oleh Lucia tadi.
“Kapal selam di depan!” kata Com. Kelsey,
“tampaknya mereka tahu kehadiran kita,”
“Itu misi kita, Commander,” kata Capt. Artner.
“siapkan Harpoon, kunci sasaran sebelum dia menyelam!”
“Harpoon disiapkan!” kata perwira radar.
Sebuah palka di geladak HMAS Pitcairn pun membuka dan dari dalam, muncullah rudal anti-kapal Harpoon. Seketika itu juga tanda siap tempur dinyalakan di HMAS Pitcairn, dan dua kanon Phalanx bergoyang sejenak, tanda siap ditembakkan.
“Target locked-on, ready at your command, Sir!” kata perwira senjata.
“Fire!” perintah Capt. Artner.
“FIRE!!!” teriak perwira senjata.
Dan salah satu rudal Harpoon segera meluncur ke arah KRI Antasena. Hal ini tentu saja diketahui oleh mereka yang ada di kapal selam.
“INCOMING!!!!” teriak perwira radar KRI Antasena.
Jantung Lucia hampir saja berhenti mendengar teriakan itu. Lampu utama mati dan digantikan oleh lampu darurat warna merah. Sirine tanda bahaya pun dibunyikan, menggema di seluruh koridor kapal selam. Kontan saja semua awaknya kebingungan. Laksma. Mahan sendiri tetap berdiri dengan tenang.
“Siapkan rudal lain, kunci ke arah rudal itu!” kata Laksma. Mahan.
“Siap! Target dikunci!” kata perwira senjata.
“Tembak!” perintah Laksma Mahan.
“TEMBAK!!” kata perwira senjata.
Sebuah RAK-V3 pun kembali meluncur dari kapal selam. Kali ini sasarannya adalah rudal Harpoon yang melaju dengan kencang ke arah kapal selam itu. Dua rudal berkecepatan tinggi pun melaju bertubrukan satu sama lain, dan keduanya meledak di udara menimbulkan bunga api yang besar.
“Di sini Kapten! Semua awak segera ke posisi tempur! Ini bukan latihan!! Diulangi! INI BUKAN LATIHAN!!” kata Laksma. Mahan kepada seluruh awak kapal melalui corong pengeras suara.
“Dua rudal lagi meluncur ke sini!” kata perwira radar lagi.
“Siapkan tiga rudal! Kunci dua rudal itu, lalu serang ke arah sasaran!” kata Laksma. Mahan.
“Siap! Kunci sasaran!” kata perwira senjata.
“TEMBAK!” kata Laksma. Mahan.
Kali ini tiga rudal meluncur dari KRI Antasena. Yang dua segera memburu sasarannya berupa dua Harpoon yang melaju kencang, dua ledakan kembali terjadi di udara, dan dari balik bola api, rudal ketiga menyeruak langsung ke arah HMAS Pitcairn. Namun HMAS Pitcairn sudah bersiaga, dan dua kanon Phalanx-nya menyalak menyemburkan hujan peluru 20mm ke arah rudal RAK-V3 itu. Rudal itu meledak hanya beberapa meter sebelum mengenai HMAS Pitcairn.
“Wah, mereka lawan yang tangguh,” kata Capt. Artner.
“Bersiap untuk menyelam, crash dive! Dalam komandoku!” teriak Kdr. Mahan,
“Dive! Dive! Dive!”
Lucia tertegun. Crash dive?? Ia pun segera berpegangan pada sebuah tiang logam. Erika, melihat Lucia melakukan hal itu, segera mencari pegangan pula. Tapi Iwan masih asyik merekam dengan memanggul kameranya.
“Iwan! Pegangan!” teriak Lucia.
Belum sempat Iwan bereaksi, sirine berbunyi sekali tapi panjang. Kapal selam tiba-tiba langsung miring dengan amat curam ke bawah. Crash dive berarti menyelam secara tiba-tiba dan dengan sudut selam yang amat curam. Kontan saja Iwan kehilangan keseimbangan, lalu jatuh dan kepalanya menghantam panel. Lucia dan Erika hanya bisa gemetaran sambil berpegangan supaya tidak jatuh. Kapal selam itu meluncur menyelam dengan amat cepat, dan itu membuat seluruh kapal salam ini bergetar hebat. Hanya dalam beberapa detik saja, kapal KRI Antasena sudah stabil kembali, tapi kali ini di kedalaman 20 meter.
Lucia merangkak menghampiri Iwan yang berbaring tak sadarkan diri di lantai. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Iwan, tapi tidak ada reaksi. Darah segar pun mengalir dari kepala Iwan. Seketika itu juga Lucia tercekat dan hampir mengeluarkan tangis tertahan. Ia takut bahwa Iwan telah menemui takdir terburuknya.
“Masih hidup!” kata Letkol. La Masa yang langsung ikut memeriksa Iwan,
“kita nggak bisa bawa dia ke ruang medis sekarang; nanti saja,”
“TORPEDO!!!” teriak perwira sonar,
“700 meter!”
Sebuah bunyi khas terdengar membelah air. Laksma. Mahan tetap berusaha tenang.
“Manuver menghindar! Siapkan countermeasure!” perintah Laksma. Mahan,
“sekarang!”
Mualim pun segera membanting stir, dan dengan mendadak, kapal selam itu berbelok dengan canggung; membuat semua yang ada di dalamnya miring. Lucia terdorong menyentuh dinding, dan ia segera mencari pegangan. Rasanya betul-betul seperti berada di sebuah bus tanpa tempat duduk yang melaju dengan kecepatan tinggi lalu berbelok tajam. Sejenak kemudian, terdengar suara desisan keras, mirip dua buah tableteffervescent yang dimasukkan ke air. Dua buah countermeasure dilepaskan dan mulai berputar di dalam air untuk mengacaukan sensor torpedo, yang memang menggunakan gerakan berputar baling-baling sebagai basis homing-nya.
Sebuah suara ledakan besar tedengar keras dan kapal pun sedikit terguncang akibat dentuman itu. Torpedo tadi berhasil terkecoh dan menghantam salah satu countermeasure; namun karena ledakan itu terjadi tidak begitu jauh dari kapal, maka kapal pun merasakan getaran ledakannya. Erika yang berusaha berdiri pun langsung terjatuh lagi dan nyaris saja mengalami nasib yang sama dengan Iwan.
“Aman!” kata perwira sonar.
Seketika itu juga, Erika merangkak cepat dan mengambil kamera yang terjatuh. Keadaan kamera itu masih baik, juga masih bisa merekam, mengingat jatuhnya tadi sebenarnya cukup keras juga. Ia harus menggantikan tugas Iwan untuk merekam sekarang. Sementara itu, Lucia beringsut ke dekat Iwan dan menjaga supaya tubuh Iwan yang sedang tidak sadarkan diri ini tidak terpelanting akibat getaran kapal.
“Torpedo lagi! Dua sekarang!” kata perwira sonar,
“800 meter!”
“Manuver menghindar sekali lagi! Siapkan countermeasure!” kata Laksma. Mahan,
“sekarang!”
Lucia segera memegangi Iwan dengan satu tangan dan berpegangan pada sebuah pipa dengan tangan yang lain. Ia pun dengan susah payah berusaha bertahan, menahan beban tubuh Iwan dan dirinya sendiri. Erika pun segera menyandarkan punggungnya ke dinding, dan memilih mereka sambil duduk. Mualim kembali membanting setir, dan kapal selam besar itu pun mulai menikung lagi. Suara desisan pun kembali terdengar. Sejenak kemudian, terdengar sebuah ledakan. Hah?? Hanya cuma satu??
“Torpedo masih mengarah ke kita!!” teriak perwira sonar.
Nafas semua orang pun serasa berhenti saat itu juga. Saat itu juga mereka terpaku, seolah-olah di hadapan mereka kini berdiri malaikat maut yang hendak mengambil nyawa mereka. Countermeasure rupanya gagal menghadang salah satu torpedo dan kini menuju ke arah KRI Antasena. Dalam kedalaman laut ini, cuma butuh sebuah torpedo saja untuk menghancurkan kapal selam ini, dan setelah hancur, puing-puing termasuk mayat akan segera tersebar dan tenggelam jauh di dasar lautan dan mustahil untuk bisa diambil.
“Dua ratus meter!” teriak perwira sonar.
Semua orang berpegangan, dan Lucia pun mencengkeram erat tangan Iwan sambil menundukkan kepala dan berdoa. Inikah akhir dari petualangannya? Erika juga sama, ia masih memegang kamera yang dibiarkan menyala, tapi mulutnya sendiri komat-kamit membaca sebuah doa, yang bahkan dengan suara kecil dan lirihnya, Lucia masih bisa mendengarnya:
“Bapa kami yang di Sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, Datanglah kerajaan-Mu, Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga, Berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, melainkan lepaskanlah kami daripada yang jahat, karena Engkaulah yang empunya Kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan sampai selama-lamanya; Amin…”
“Seratus….lima puluh….dua …sepuluh!!” teriak perwira sonar.
Lucia menahan nafas, merapatkan mulutnya dan menutup mata keras-keras bersiap untuk menyambut ajal yang sudah pasti. Tapi… dua detik kemudian, tak terjadi apa-apa, tak ada dentuman keras yang merupakan sinyal mulai dicabutnya nyawa semua orang. Bahkan Laksma. Mahan pun terbengong-bengong.
“Mana torpedo-nya?” tanya Laksma. Mahan setengah berbisik.
Perwira sonar pun sontak terdiam sambil terus melihat layar grafiknya. Ia pun juga tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
“Hilang…” kata perwira sonar,
“torpedonya…cuma…melewati kita…”
Meleset? Tapi jarang sekali torpedo modern bisa meleset. Tidak seperti di udara, perbandingan antara besar dan kecepatan kapal dengan kecepatan dan sensor torpedo membuat rasio kegagalan sebuah torpedo dalam mencapai sasaran sebenarnya kecil sekali. Laksma. Mahan pun segera tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
“Kita berhasil! Mereka tidak bisa melacak kita!” kata Laksma. Mahan sambil tertawa seperti orang gila.
Lucia tersenyum lega. Ia ingat, kapal selam KRI Antasena memang sengaja dibuat sebagai kapal selam rahasia yang tidak bisa terdeteksi begitu saja oleh sensor penjejak kapal selam. Dr. Anatoly Sedorenkov memang telah menghabiskan waktunya untuk merancang kapal-kapal selam yang bisa lolos dari deteksi sensor Barat; dan KRI Antasena-lah masterpiece dari usaha ini.
“Dua torpedo lagi!” teriak perwira sonar.
Semua kali ini kembali ketakutan. Namun kali ini Laksma. Mahan malah berdiri tegak seolah hendak menantang sang Elmaut sendiri.
“Biarkan saja,” kata Laksma. Mahan,
“ayo kita lihat kesaktian kapal ini,”
Dan benar saja. Tanpa manuver menghindar, tanpa countermeasure, dua torpedo itu hanya melintas saja tanpa menemukan sasarannya. Padahal saat itu KRI Antasena sedang dalam keadaan bergerak, yang artinya ada kesempatan torpedo itu bisa mengendus jejak putaran mesin KRI Antasena.
“Di mana posisi kita sebenarnya?” tanya Laksma. Mahan kepada perwira navigasi, masih sambil berbisik.
“Sekitar 175 kilometer dari garis pantai, Kep!” jawab perwira navigasi.
“Berarti mereka sudah memasuki wilayah ZEE kita tanpa izin dan langsung menyerang,” kata Laksma. Mahan,
“siapkan solusi penembakan torpedo! Ini adalah pelanggaran tak termaafkan,”
Perwira senjata pun segera memasukkan solusi penembakan, dan mempersiapkan semua tabung torpedo. Suara pintu torpedo yang membuka pun terdengar keras, dan Lucia takut suara itu akan membuat kapal pemburu itu mengetahui posisi tembakan yang pasti. Ternyata tidak ada apa-apa; kapal pemburu itu belum menembak lagi.
Kejadian selanjutnya, tiba-tiba kapal selam itu berubah menjadi sepi seperti kuburan. Pendingin ruangan dimatikan untuk menghemat persediaan listrik. Bahkan tidak ada awak, dari haluan sampai ke buritan; yang berani bergerak, walau hanya satu inchi pun. Ini adalah pertempuran dan setiap suara di dalam kapal selam bisa saja didengarkan oleh musuh. Kapal Calypso itu pun, dengan format trimaran dan aplikasi teknologi yang amat canggih, maka gerakan kapal ini pun susah untuk dilacak dan sonar pasif kapal selam pun tidak bisa melacak sinyal dari HMAS Pitcairn. Ini bagaikan duel film koboi klasik; dua pihak sudah menyiapkan pistol siap tembak, tapi ruangan gelap sehingga mereka tidak tahu di mana lawan-lawannya. Padahal di suatu saat, KRI Antasena benar-benar berada tepat di bawah HMAS Pitcairn.
Laksma. Mahan tampak menghentikan kegiatannya sejenak dan berpikir. Ia berusaha untuk melihat ke dalam kepala Capt. Artner dan membaca pikirannya, apa yang kira-kira sedang direncanakan, strategi apa yang akan dipakai oleh lawannya? Dan pada saat yang sama pun, Capt. Artner pun melakukan hal yang sama. Kapal selam, baginya adalah musuh paling berbahaya, karena ketika menyelam, sama sekali tak bisa dilihat. Adu pikiran ini berlangsung cukup lama, dan selama itu, kedua kapal pun berputar-putar bagaikan dua ekor hiu kelaparan yang siap untuk saling membunuh.
Semakin lama keadaan hening tegang, dan para awak pun merasa senewen, begitu pula dengan Lucia dan timnya. Iwan masih tergeletak di lantai, walaupun pendarahannya sudah terhenti, tapi ia masih belum sadar juga. Erika sendiri juga berada di sudut lain, menggenggam kameranya sambil menggigil ketakutan dan salah satu tangannya mencengkeram erat yang selalu dibawanya. Lucia hanya melihat saja ke arah Erika yang ketakutan. Walaupun jarak antara mereka berdua tidak lebih dari 4 meter saja, namun Lucia tidak berani bergerak mendekati Erika, begitu pula Erika tak berani meninggalkan posisinya. Kedua kapten sekarang tengah bertempur dengan ilmu kebatinan masing-masing. Segala manuver, gerakan, dan serangan, semuanya berada dalam pikiran dan ditempurkan di alam yang tak berwujud.
“Sonar aktif!” perintah Capt. Artner kepada anak buahnya.
“Tapi, Pak! Itu berarti kita akan…” kata perwira sonar.
“Aku tahu, Nak! Lakukan saja!” kata Capt. Artner.
Perwira sonar dari HMAS Pitcairn pun menelan ludahnya sejenak. Menyalakan sonar aktif akan membuat kapal HMAS Pitcairn mampu “melihat” apa saja yang ada di bawah laut hingga radius puluhan kilometer. Akan tetapi, ini sekaligus juga akan membuat kapal selam lawannya tahu di mana posisi dari HMAS Pitcairn; yang mana ini tentu saja alamat berbahaya, karena ia bisa menyerang dengan torpedo. Dengan jari yang gugup, perwira sonar itu langsung menekan tombol.
“PING!!”
Suara itu terdengar cukup keras di headphone-nya dan dalam sekejap gema itu menyebar ke seluruh bawah lautan. Dan seperti diduga, suara ping itu segera diikuti oleh meluncurnya dua torpedo langsung ke arah HMAS Pitcairn.
“Kep! Torpedo!” teriak perwira sonar,
“bearing 180!”
“Kunci titik peluncurannya! Kecepatan penuh!!” teriak Capt. Artner.
HMAS Pitcairn segera melaju, berpacu dengan torpedo yang mengejarnya. Luar biasa, hanya dalam sekejap saja, kecepatan HMAS Pitcairn bisa menanjak cukup cepat, dan akibatnya, dua torpedo yang mengejarnya menjadi sedikit keteteran.
“Prepare charges! Set 20 feet!” perintah Capt. Artner.
Palka belakang kapal pun terbuka, dan para kelasi sudah menyiapkan dua buah konveyor yang berisi drum-drum depth-charge. Saat itulah para kelasi ini melihat jejak aliran air dari dua torpedo yang menguntit di belakang mereka. Mereka tampak takut, namun percaya dengan kapten mereka.
“Two rolls! Three seconds interval! Roll!” perintah Capt. Artner.
Dua depth-charges pun bergulir melewati konveyor dan terjatuh di laut di belakang HMAS Pitcairn. Selang tiga detik kemudian, dua depth-charge lain kembali diluncurkan. Dua depth-charge pertama pun langsung meledak dengan hebat secara bersamaan, membuat air muncrat ke atas hingga setinggi pohon kelapa. Tiga detik kemudian, dua depth-charge selanjutnya meledak, tapi ledakan kali ini disusul oleh ledakan lain. Rupanya ledakan dari depth-charge yang disetel di kedalaman 20 kaki ini berhasil meledakkan torpedo yang mengejar. kelasi bersiap untuk bersorak ketika perintah selanjutnya langsung turun.
“Hedgehog! Fire on target, starboard!!” perintah Capt. Artner,
“Fire!”
Dari geladak HMAS Pitcairn, meluncur serangkaian proyektil yang disebut Hedgehog II. Ini adalah depth-charge juga, hanya saja tidak digulirkan, melainkan ditembakkan seperti ketika menembakkan mortir. Senjata ini merupakan penyempurnaan senjata Hedgehog pada Perang Dunia II. Sasarannya adalah posisi terakhir dari penembakan torpedo. Ketika proyektil hedgehog itu terbenam ke air, hal itu segera meresahkan perwira sonar dari KRI Antasena. Setelah meluncurkan torpedo kapal selam selalu mengubah arah supaya tidak dideteksi. Ini pun dilakukan oleh Laksma. Mahan, sehingga mau tak mau Capt. Artner pun harus gambling menebak ke arah mana KRI Antasena berbelok. Kemungkinannya bisa ke mana saja, tapi celakanya, Capt. Artner menebak ke arah yang tepat!
“Mortir! Tepat di atas!!” teriak perwira sonar.
Proyektil mortir anti kapal-selam itu tenggelam dengan cepat menuju ke arah KRI Antasena yang langsung terkurung oleh rangkaian mortir itu. Semua orang kembali menahan nafas, dan ledakan pun langsung terdengar silih berganti, membuat kapal selam terguncang dengan amat hebat dan semua orang terlempar. Lucia pun sampai terhantam ke dinding dan kepalanya langsung terasa amat sakit. Depth-charge semacam ini pun bisa membunuh kapal selam dalam sekali perkenaan.
Tapi KRI Antasena masih berdiri. Bagian dalamnya rusak di sana-sini, dan korban pun bergelimpangan, namun kapal selam itu sendiri masih utuh. Capt. Artner memang menebak ke arah yang benar, sayangnya kedalamannya salah. Mortir-mortir itu meledak pada kedalaman 180 meter, 20 meter di atas KRI Antasena; sehingga meskipun mampu membuat kapal itu berguncang hebat, tapi kapal itu sendiri masih utuh.
Bagaimanapun, beberapa depth-charge yang meledak bersamaan dalam jarak yang cukup dekat membuat keadaan di KRI Antasena sendiri tidak bisa dibilang baik. Radio kapal selam segera saja dipenuhi oleh awak-awak kapal yang melaporkan status. Beberapa kompartemen rupanya bocor, dan para awak dengan cepat dan susah payah berusaha mencegah supaya tidak banjir. Jika di kompartemen mereka banjir tak dapat dibendung, maka tinggal hitungan waktu saja kapal ini bakal langsung tenggelam.
Lucia berusaha bangkit, dan pandangannya sedikit kabur. Ia memegang kepalanya yang terasa sakit sekali, dan ketika ia melihat tangannya, rupanya sudah dipenuhi darah. Bagian yang membentur keras tadi terluka dan membengkak. Hampir-hampir Lucia terguncang melihat darahnya sendiri. Ia melihat sekitar, dan orang-orang tampak kebingungan. Iwan tampaknya terpelanting, lepas dari pegangan Lucia; tapi kini ia mulai bergerak-gerak, tanda kesadarannya mulai pulih.
Lucia melihat Erika terjerembab di lantai. Karena Erika dari tadi bersandar di dinding, maka guncangan itu seketika melontarkannya hingga terjerembab. Kameranya pun terjatuh tak beberapa jauh darinya; masih merekam. Dengan segera, tanpa mempedulikan apapun, Lucia segera merangkak dengan cepat menghampiri Erika. Kabel listrik di salah satu panel meledak dan menghamburkan bunga api ke mana-mana, beberapa bahkan meninggalkan lubang gosong di baju Lucia, tapi Lucia tidak menghiraukannya. Ia pun langsung mengangkat kepala Erika, dan lalu memeluknya. Erika langsung saja meledak tangisnya, bukan karena ia sakit atau terluka, tapi lebih pada tangis ketakutan. Lucia berupaya keras menenangkan Erika, padahal dia sendiri hampir tak bisa menahan tangis.
“PING!!!”
Suara itu kembali terdengar menggema di seluruh ruangan. Sekali lagi HMAS Pitcairn mencari dengan menggunakan sonar aktif. Bagi semua orang, ini bagaikan bunyi lonceng kematian, karena kali ini KRI Antasena tidak berada dalam posisi yang enak untuk membalas. Namun perwira sonar malah terbengong-bengong sambil menghadapi panelnya.
“Pak… komputer kapal secara otomatis mengaktifkan pengalihan sonar,” lapor perwira sonar.
“Apa maksudnya?” tanya Laksma. Mahan.
“Saya nggak gitu jelas, Pak,” kata perwira sonar,
“tapi ini mungkin… kapal selam kita tidak terdeteksi sonar aktif?”
Laksma. Mahan kini ganti yang terbengong-bengong. Tidak terdeteksi sonar aktif?? Tapi mana bisa seperti itu??
“Astaga! Dia ke sini!” teriak perwira sonar lagi.
Semua orang kembali termenung. Dari jauh, terdengar suara dentuman seperti ledakan yang tertahan. Telinga terlatih mengenal suara itu. Itu adalah bom depth-charge yang digulirkan meledak di kedalaman. Berbeda dengan jenis hedgehog yang tadi; berhubung berbentuk silinder besar, maka depth-charge ini punya daya ledak yang lebih besar; ini dibandingkan dengan hedgehog yang mengandalkan ledakan dengan daya yang lebih kecil tapi terjadi secara bersamaan. Pada kedalaman yang sama, depth-charge jelas lebih mematikan daripada hedgehog.
“Interval 10 detik, kedalaman 200 meter,” kata perwira sonar,
“mengarah ke kita,”
“Putar ke arah port,” perintah Kdr. Mahan.
“Pak, rudder-nya sedikit macet; mesin sebelah kanan juga agak berat,” kata mualim,
“kita mungkin tidak bisa berbelok sempurna tepat waktu,”
“Lakukan sebisanya,” kata Kdr. Mahan.
Mualim pun dengan susah payah memutar kapal ke arah port (lambung kiri kapal). Lucia pun merasakan, gerakan kapal tak selincah tadi, dan juga putaran kali ini terasa lambat sekali, sementara suara dentuman semakin mendekat; juga setiap kali dentuman terjadi, kapal pun serasa mulai bergetar. Jika kapal tidak berhasil membelok tepat waktu, maka alamat maut bagi semuanya. Lucia dan Erika pun bangkit. Erika berusaha sedapat mungkin menahan tangis, karena apabila harus mati, ia tidak ingin menghadap Tuhan dalam keadaan berlinang air mata. Mereka pun bergeser untuk merapat ke dinding, tapi…
“Jangan merapat ke dinding!” cegah Letkol. La Masa,
“gelombang kejut dari depth-charge bisa mematahkan tulang punggung kalian!”
Maka Lucia dan Erika berhenti, dan mereka mencari pegangan sedapat mungkin. Kedua reporter ini masih berpegangan tangan, semakin lama semakin erat. Dentuman pun terus terjadi dan guncangan pun semakin lama semakin keras saja terasa.
“Berdoalah…” kata Laksma. Mahan.
Seusai berkata seperti itu, mendadak dentuman terjadi lagi dengan cukup keras, dan kali ini kapal kembali terguncang, seolah hendak melemparkan siapa saja yang ada di dalamnya ke lantai. Pegangan Erika dan Lucia pun terlepas, dan mereka berdua berteriak histeris sambil terus memegang panel atau apapun untuk menahan getaran itu. Dentuman terjadi lagi dan rasanya seperti berada di dalam sebuah gong raksasa yang diguncang oleh gempa 9 skala richter. Guncangan terjadi terus menerus, besi-besi terlepas dari sarangnya, begitu pula kabel-kabel listrik pun meledak melemparkan bunga api. Tiba-tiba saja pipa di atas mereka pecah dan air segera memancar membasahi seluruh anjungan.
Komandan La Masa, tanpa mempedulikan goncangan akibat ledakan depth-charge, segera tanggap menuju ke katup pipa terdekat, dan dia dibantu dengan dua orang kelasi berusaha menutup katup itu. Kelasi lainnya membawa dongkrak untuk menutup kebocoran air, tapi goncangan yang keras menjatuhkannya sebelum dongkrak bisa berdiri tegak. Dengan sigap ia pun berdiri lagi dan terus berusaha memasang dongkraknya. Kepanikan terdengar di mana-mana, dan pada beberapa bagian, tampaknya para awaknya riuh rendah berusaha memadamkan api. Dentuman yang terjadi kemudian pun melemparkan Lucia dari pegangannya, karena tangan Lucia sudah amat sakit.
Namun dentuman selanjutnya menjadi semakin ringan. Rupanya pada saat-saat kritis, mualim berhasil juga membelokkan laju kapal. Laksma. Mahan mengucap syukur. Kapal HMAS Pitcairn masih berjalan dan melemparkan depth-charge, tapi kali ini menuju sasaran kosong. pun kembali terdengar, tapi kapal rupanya tidak mengubah haluan, bahkan ketika ping-ping berikutnya diluncurkan.
“Astaga… mereka benar-benar tak tahu kita,” kata Laksma. Mahan,
“kapal ini sungguh luar biasa,”
“Laksmana,” kata perwira senjata,
“semua peluncur torpedo kita macet; sepertinya pengisi tekanannya rusak,”
“Dia masih bisa berbalik lagi,” kata Laksma. Mahan,
“mungkin kapal itu cuma gambling, tapi kalau dia berbalik lagi, kita nggak tahu apa keberuntungan kita masih bersinar; apa saran kamu?”
“Masih ada satu senjata yang bisa ditembakkan,” kata perwira senjata.
“Maksudmu senjata pengujian terakhir?” tanya Letkol. La Masa.
Perwira senjata hanya mengangguk saja. Anggukannya nampaknya cukup enggan, seolah ia mengetahui apa resiko senjata itu. Lucia pun bangkit, karena posisinya cukup dekat dengan perwira senjata, dan juga Lucia ingin tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya.
“Siapkan solusi penembakan,” perintah Laksma. Mahan,
“kita melawan sampai akhir; tembak pada komandoku,”
“Aye!” kata perwira senjata.
Perwira senjata pun segera memasukkan solusi penembakan untuk “senjata terakhir”. Lucia benar-benar ingin tahu, senjata apakah ini, sehingga hanya digunakan pada saat-saat terakhir? Gampang sekali mengetahui kedudukan HMAS Pitcairn, karena entah karena terlalu percaya diri atau ceroboh, mereka beberapa kali melakukan sonar aktif. Mungkin HMAS Pitcairn mengira lawannya sudah hancur, atau setidaknya lumpuh. Tentu saja, dengan teknologi tercanggih ini, hasil penembakan sonar aktif pun tidak menunjukkan apapun.
“Senjata siap,” kata perwira senjata,
“badai siap melanda,”
“Tembak pada ping berikutnya,” kata Kdr. Mahan.
Perkataan “badai siap melanda” tadi jelas-jelas membuat Lucia terkaget bagai disambar petir di siang bolong. Suaminya pernah menjelaskan soal hal ini, dan Lucia tahu senjata apa yang akan dipakai sebagai “serangan pamungkas”. Sebuah indikator berkedip-kedip, tandanya senjata itu siap dipakai, dan… Lucia membacanya. Itu satu-satunya indikator yang ditulis menggunakan aksara Cyrillic, yaitu: “ВА-111 ШКВАЛ”.
“PING!!!”
“TEMBAAAK!!!!” perintah Laksma. Mahan.
Perwira senjata segera menekan tombol dan tiba-tiba kapal selam bergetar dengan hebat, seolah-olah seperti hendak mengeluarkan sesuatu yang besar. Suara bergemuruh pun terdengar keras di anjungan, dan senjata itu pun meluncur seolah disertai dengan sebuah suara ledakan dan membuat headphone milik perwira sonar dipenuhi oleh suara bergemuruh sampai-sampai dia membuang headphone-nya dan menutup telinganya yang pengang. Ledakan yang terjadi cukup memekakkan telinga, begitu pula gemuruh yang terjadi kemudian. Inilah senjata pamungkas, torpedo super-cepat, VA-111 Shkval. Torpedo kebanggaan AL Russia ini benar-benar tak ada tandingannya; berdaya ledak besar dan berkecepatan hingga 360 km/jam di dalam air. Wajar saja, karena aslinya torpedo ini dirancang untuk menenggelamkan sebuah super-carrier sekelas USS Nimitz.
Di atas kapal HMAS Pitcairn, tadinya perwira sonar senang sekali karena akhirnya KRI Antasena “memakan umpan”. Akan tetapi suara bergemuruh kemudian membuatnya terpaku, karena ia tahu apa itu. Terlebih lagi, layar monitor di depannya menunjukkan sebuah hal yang tidak mungkin: Torpedo ini SANGAT CEPAT!
“SQUALL!!!!!” teriak perwira sonar panik.
Jantung Capt. Artner pun seolah berhenti, namun dengan cepat ia memerintahkan untuk melaju dengan kecepatan tinggi. Ia ingin sekali lagi beradu balap dengan torpedo. Hanya saja, torpedo kali ini adalah jawara dalam soal adu lari, dan dengan segera, ia mencapai jarak yang mustahil untuk dihindari. Kapal HMAS Pitcairn sudah melaju dengan amat kencang, sekencang yang ia bisa, bahkan sampai awaknya terguncang-guncang, tapi torpedo ini tetap berhasil memperpendek jarak. Awak di bagian buritan kapal pun melotot ketakutan, karena mereka seolah melihat sang maut yang datang dalam wujud torpedo hebat itu.
“Siapkan NASROC, kunci pada sasaran pelepasan tadi,” kata Capt. Artner,
“siap-siap tinggalkan kapal,”
Capt. Artner pun memerintahkan menyiapkan senjata pamungkasnya pula. Sadar ia tak mungkin bisa lari dari torpedo ini, Capt. Artner pun bermaksud sampyuh untuk mati bersama dengan KRI Antasena. Dalam keadaan kecepatan tinggi itulah senjata terakhir itu, NASROC, diluncurkan ke atas langit malam. Capt. Artner menutup mata, dan memerintahkan evakuasi. awak yang bisa keluar segera saja berlompatan ke laut, tanpa jaket pelampung, tanpa sekoci; tapi rata-rata lebih memilih menunggu ajal di dalam kapal. Sejenak kemudian, ledakan besar terjadi, dan kapal HMAS Pitcairn terlempar ke udara.
Ledakan itu terdengar pula di KRI Antasena walaupun jaraknya sudah cukup jauh. Laksma. Mahan menarik nafas lega, karena ledakan itu berarti bahwa Shkval telah menemukan sasarannya. Semua orang pun bersorak-sorai, tandanya mereka telah rampung melewati detik-detik pertempuran yang mengerikan. Namun baru saja mereka bernafas lega, perwira sonar, yang baru memakai headphone-nya kembali mendadak terlompat dari kursinya.
“NASROC!!!!!!” teriak perwira sonar.
Suasana mendadak hening. Lucia pun tiba-tiba kembali disambar petir di siang bolong. NASROC? Lututnya mendadak lemas dan ia tak punya tenaga lagi untuk berdiri. NASROC adalah roket anti kapal selam paling mutakhir buatan Amerika Serikat, yang juga dipakai oleh sekutu-sekutunya. Kunci kesaktian NASROC adalah hulu ledaknya yang menggunakan NDB, Nuclear Depth-Bomb; mirip depth-charge, tetapi memakai nuklir, yang tentunya berpuluh-puluh kali lipat lebih digdaya daripada bom depth-charge biasa. NASROC ini dipakai sebagai alat konter kapal selam rudal raksasa Uni Soviet, kelas Typhoon atau kelas Delta. NASROC ini memiliki bunyi khas ketika meluncur dalam air, membuat perwira sonar tak salah dalam membedakannya dari senjata lain.
“NASROC…itu …nuklir…” kata Lucia lirih.
Lucia menatap ke arah Laksma. Mahan yang tampaknya juga mengetahui dan tak mampu untuk membalikkan keadaan ini.
“Manuver menghindar, bersiap untuk tabrakan,” perintah Laksma. Mahan lesu.
Erika segera menghampiri Lucia dan memeluknya. Mereka pun bertatapan mata seolah itu adalah tatapan mata perpisahan. Lucia mendesah, karena Erika memang masih terlalu muda apabila harus mati sekarang. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada Anton dan Lani, dan memeluk Erika erat-erat.
“Mbak Lucia… selamat tinggal,” kata Erika sambil terisak,
“kita ketemu di surga yah…”
Lucia tidak menjawab dan airmatanya pun meledak. Ia memeluk Erika erat, dan keduanya menangis. Lucia dengan tangan gemetaran membelai kepala Erika seperti seorang ibu yang mencoba menidurkan anaknya. Sementara itu Erika sendiri terus menerus meledakkan tangis dan tidak membendung air matanya sehingga membasahi baju Lucia. Doa Bapa Kami diucapkan terus menerus oleh Erika. Semua orang pun melakukan hal serupa, duduk dan berdoa, karena ini adalah saat-saat terakhir bagi mereka. Pandangan mata mereka kosong menghadapi apa yang tampaknya menjadi kematian tak terelakkan. Perwira sonar melepas headphone-nya dan menangis meratapi layar monitor, karena ia memang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sementara itu Komodor Mahan terduduk lesu sambil mengeluarkan sebuah foto dari dalam sakunya, foto kedua anak laki-lakinya yang sangat ia sayangi. Lucia pun mengambil HP-nya, dan menatap layer wallpaper yang bergambarkan foto Anton dan Lani, yang dengan setia menunggunya di rumah. Dengan gemetaran akibat tangis, Lucia pun mencium layar wallpaper itu dalam-dalam, sebuah ciuman perpisahan yang getir.
“Sampai…ketemu…di surga, sayang…” kata Lucia terbata-bata.
Lalu ledakan yang besar pun terjadi. Amat sangat besar yang mungkin belum pernah dilihat oleh orang sebelumnya. Areal ledakan itu sangat luas dan memancarkan cahaya putih yang sedikit menyilaukan, lalu air laut pada radius itu pun terlontar hingga membentuk awan cendawan dan pilar air yang tinggi sekali, dan ombak yang dihasilkan juga berukuran cukup tinggi sehingga mampu menelan sebuah kapal kecil. Air pun lalu turun kembali membentuk sebuah hujan kecil di atas laut yang bergolak dan berbuih putih. Sejenak kemudian, buih pun menghilang, dan laut kembali sepi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar