Minggu, 27 September 2020

"LAUT BIRU" CHAPTER II

The Omen

CHAPTER II

The Omen


Washington DC
Pentagon


Jenderal Al McKenna masih termenung sambil menghadapi file-file CIA soal kapal selam tempur terbaru yang dimiliki oleh Indonesia. Dalam beberapa waktu belakangan ini, masalah Indonesia menjadi hal yang paling sering dikhawatirkan oleh Al McKenna. Setelah Presiden Hariman Chaidir naik jabatan, kekuatan militer Indonesia jelas-jelas telah dibangun dengan tingkat yang cukup signifikan. Hariman Chaidir adalah lulusan Lemhanas dalam Bidang Kelautan, dan ia sempat menjadi atase di Moskow dan Beijing, dan dengan naiknya dia sebagai presiden, otomatis merintis kerjasama yang cukup intensif dengan kedua negara itu. Sebelum menjadi presiden, Hariman Chaidir juga pernah mempublikasikan cita-citanya untuk membangun kekuatan dan potensi maritim Indonesia menjadi aspek yang kuat dan profesional. Kapal Selam ini, pastinya adalah salah satu mercu suar Presiden Chaidir juga. Atau mungkin juga ini dipicu oleh Amerika?

Dua tahun lalu, AL AS berhasil membuat sebuah kapal perang bertipe LCS (Littoral Surface Combatant), menyamai korvet, yang dibangun dengan konsep trimaran. Kapal ini hanya memiliki satu tugas, yaitu untuk memburu dan menghancurkan kapal selam lawan. Untuk itu, ia pun dilengkapi dengan senjata-senjata dan sensor untuk menunaikan tugasnya itu. Nama sandinya adalah “Calypso”. Dioperasikannya kapal ini amatlah sangat efektif, karena ketika versi patrolinya yang dioperasikan oleh US Coast Guard berhasil menangkap dan menghancurkan puluhan kapal selam mini pembawa heroin yang digunakan oleh kartel narkotik Amerika Selatan. Tapi itu baru kesuksesan versi sipilnya.

Versi militer dari kapal ini malah lebih banyak mendatangkan masalah, justru karena dipandang amat efektif. Oleh karena itu, Pentagon memutuskan untuk “meningkatkan” kemampuan kapal ini, yaitu dengan cara menambah rudal permukaan Tomahawk, yang bisa menghantam sasaran darat dari jarak yang cukup jauh. Selain itu, kapal ini juga diproyeksikan bisa untuk keperluan pengangkutan pasukan komando ke wilayah-wilayah musuh, memanfaatkan sifat silumannya. Israel, sekutu utama Amerika Serikat, yang mendapatkan konsesi pemakaian pertama kali, langsung saja merasakan kehebatan kapal ini, dan membombardir wilayah Lebanon yang dicurigai sebagai markas gerilyawan Hizbullah dari tengah laut, jauh dari jangkauan roket-roket Grad maupun Quds milik Hizbullah; di samping beberapa kali juga Pasukan Komando Israel, Sayeret Matkal, keluar masuk wilayah Lebanon, Mesir, Syria, dan Palestina dengan memanfaatkan kapal ini, yang belum bisa ditangkal oleh kapal-kapal lawannya.

Australia, sekutu Amerika Serikat di Selatan, pun mendapatkan senjata baru ini. Nah, di sinilah Indonesia merasakan ancaman dari kehadiran kapal-kapal LCS ini. Saat itu, belum ada 5 bulan Indonesia baru saja membentuk Satuan Tugas Kapal Selam (Satgassel), yang nantinya akan dikembangkan menjadi Komando Armada Bawah Laut (Koarbal), dengan kekuatan 5 buah kapal selam jenis KSPR. Amerika Serikat terkejut pertama kali memergoki kapal selam ini, karena bentuknya mirip sekali dengan U-Boat Jerman di Perang Dunia II, yaitu Type VIIB, type yang digunakan oleh Korvetten Kapitan Günther Prien untuk membobol Scapa Flow. Dahulu, oleh Großadmiral Karl Dönitz, kapal selam type ini dinilai cocok untuk mengarungi Samudera Atlantik yang ganas (dan memang terbukti), jadi bagaimana sekarang?

Amerika Serikat memang mencurigai bahwa rancangan dari kapal selam ini diberikan oleh Jerman (yang mana ini dinilai melanggar perjanjian kalah perang pada 1945), meskipun secara jelas memang diberitahukan bahwa kapal selam ini dibuat oleh PT PAL bekerjasama dengan galangan kapal Wilhelmshaven di Jerman, namun Amerika menduga bahwa Jerman “sudah memberikan lebih banyak dari yang seharusnya”. Apalagi, meskipun bermuka lama, tapi sejumlah teknologi baru membuat kapal selam ini cukup mematikan. Taruhlah mesin diesel efisiensi tinggi buatan PT Texmaco (Tex-M1A1) yang setara dengan mesin diesel MAN buatan Jerman, baterai yang lebih tahan lama, serta yang paling menakutkan adalah torpedo buatan dalam negeri PTDI SUT Mark XIII yang kedigdayaannya nyaris menyamai torpedo canggih dari Amerika Serikat. Hebatnya lagi, apabila dulu U-Boat diawaki oleh 100 orang, maka kapal selam KSPR ini cukup dengan 20 orang saja, berkat telah diotomatisasinya sebagian besar sistem di kapal selam ini. Meskipun hanya mengangkut tidak lebih dari 10 torpedo saja, tapi kapal selam ini jelas cukup cepat dan menjadi ancaman bawah air yang cukup menakutkan bagi negara-negara sekitar, meskipun konsep KSPR ini adalah sebagai pengawalan hingga wilayah terluar ZEE Indonesia.

Sebagai tetangga, tentu saja Australia mengamati terus perkembangan Armada Bawah Laut ini. Tidak lebih dari 3 bulan kemudian, 5 kapal selam KSPR baru pun diterima oleh TNI-AL, ditambah 3 buah yang masih dalam tahap produksi. Pun pada saat yang sama, TNI AL juga membeli 4 buah kapal selam pemburu kelas Kilo dari Russia dan 2 buah DSME-412 dari Korea Selatan. Ini serta merta membuat Indonesia memiliki kekuatan kapal selam terhebat di Asia Tenggara. Oleh karena itu, Australia pun buru-buru mengadopsi kapal-kapal “Calypso” di jajarannya. Nah, di sinilah awal kekusutan itu berawal…

Saking merasa terancamnya, Australia pun memaksa untuk menempatkan hingga 10 kapal “Calypso” pengembangan terbaru di pangkalan mereka di Timor Leste. Langkah ini tentu saja dikecam oleh Pemerintah RI, karena kapal-kapal itu memiliki kemampuan untuk menembakkan rudal jelajah ke titik manapun di wilayah RI sekitar pangkalannya, maupun menyusup untuk memasukkan pasukan khusus ataupun intelijen. Beberapa kali RI mengajukan nota protes kepada pemerintah Australia, tapi tidak pernah ditanggapi, hingga akhirnya Presiden Chaidir pun memutuskan untuk memperkuat TNI AL dengan kapal yang “lebih hebat dari Calypso”. Maka dari sinilah Proyek Antasena muncul.

Jenderal Al McKenna pun menarik nafas dalam-dalam. Antasena sudah jadi dibuat, benarkah ini adalah kapal selam terhebat itu? Siapa yang akan menang apabila ditandingkan antara KRI Antasena melawan kapal Calypso? Jenderal Al McKenna pun berpikir sejenak sebelum ia mengangkat telepon. Ia sadar betul, apa yang akan ia katakan di telepon nantinya, pasti akan diteruskan dan direspon dengan cepat kepada Angkatan Bersenjata Australia.

Jakarta
Rumah Anton
10.30 pm

Lucia membetulkan kacamatanya sambil membaca dengan serius referensi-referensi yang bakal berkaitan dengan tugasnya. Baru setelah Lani tidur, malam-malam begini, kegiatan itu bisa ia lakukan, karena tadi ia sibuk membantu Lani mengerjakan PR-nya. Walaupun bukan anak kandungnya sendiri, tapi Lucia menyayangi Lani dengan sebesar-besarnya, karena sejak Lani masih kecil, Lucia juga sudah mengenalnya. Lucia lah yang membantu persalinan Lani, dan setelah itu ia berteman dekat dengan Wina, istri Anton yang pertama, dan mulai saat itu juga ia amat dekat dekat Lani, karena dengan suami sebelumnya, Ben, Lucia tidak memiliki anak. Mungkin ini juga karena selama 6 tahun perkimpoiannya dengan Ben tidak pernah harmonis dan Lucia lebih sering menderita daripada bahagia selama perkimpoiannya itu. Bahkan dengan adanya Lani, Lucia juga tidak begitu mempedulikan, apakah nanti ia dengan Anton bakal punya anak tidak (selama menikah dengan Ben, Lucia acap dicap mandul oleh mantan suaminya itu akibat tidak hamil juga meskipun sudah cukup lama), toh Anton menerima keadaan Lucia apa adanya, juga ada Lani yang selalu akan menjadi anaknya, pun Anton tak pernah memaksanya, hal-hal yang tidak pernah ia dapatkan dari Ben.

Rupanya Anton memiliki koleksi buku dan majalah yang banyak dan menarik sekali. Semua disusun membentuk sebuah perpustakaan pribadi, peninggalan dari Wina. Rata-rata adalah buku mengenai militer, strategi, memoir, dan peralatan perang; mulai dari darat, udara, tapi mayoritas adalah mengenai matra laut, dan beberapa referensi membahas mengenai kapal selam. Lucia sudah membaca referensi ini semenjak kemarin, bahkan sampai ia bawa ke kantor dan membacanya setiap waktu, ini supaya ia bisa mendapatkan gambaran jelas bagaimana nanti kehidupan di dalam kapal selam, karena Lucia akan mengikuti KRI Antasena sebagai salah satu awaknya selama seminggu.

Ternyata, Lucia menemukan bahwa meskipun kapal-kapal selam modern sudah dilengkapi peralatan-peralatan untuk membuat awaknya merasa lebih nyaman, secara umum, kualitas kehidupan para awak kapal selam di bawah air nyaris tidak berubah semenjak kapal selam modern pertama kali diluncurkan hingga kini. Sebuah kehidupan yang amat keras, dan kadang jarang bersentuhan dengan sinar matahari secara langsung, di samping tentu saja, harus hidup berdesak-desakan di ruangan sempit dengan awak kapal yang lain, dan juga tidur ditemani dengan torpedo, yang walaupun aman, tetap saja mengandung resiko. “Makan pagi” akan disajikan pada waktu menjelang maghrib, lalu “makan siang” diberikan sekitar jam 10 malam, dan “makan malam” bisa-bisa dilakukan pas tengah malam; karena siang hari lebih digunakan untuk istirahat. Apalagi dalam keadaan siaga perang, kapal selam akan menyelam sepanjang hari, dan selama itu awaknya dilarang melakukan gerak badan yang tidak perlu, bahkan untuk berbicara pun harus berbisik, karena laut bisa menghantarkan bunyi pembicaraan antar awak di kapal selam, yang mana apabila didengar musuh, adalah alamat kematian, karena sekali kapal selam terkena torpedo atau mengalami kecelakaan fatal, hampir dipastikan tidak bakal ada kesempatan untuk menyelamatkan diri!. Betul-betul kehidupan yang amat keras.

Di hadapan Lucia, selain buku, juga ada sebuah stopmap tanpa hiasan atau tulisan apapun di sampulnya. Namun Lucia tahu bahwa semua orang pasti rela membayar dengan emas untuk apa yang ada di dalamnya. Yah, itu adalah manifest yang diberikan oleh Angkatan Laut hanya kepada Anton dan siapapun nanti yang akan melakukan peliputan di KRI Antasena. Isinya antara lain adalah spesifikasi singkat KRI Antasena, proses kronologis pengerjaan, tapi tidak ada lagi spesifikasi-spesifikasi penting lainnya, seperti berapa kedalaman maksimum, kecepatan berlayar, jumlah kru maksimum, hingga persenjataan apa yang bisa dibawanya. Pihak Intelijen AL betul-betul berusaha mengantisipasi semua kemungkinan sepertinya.

Lucia menjerit kecil ketika suaminya tiba-tiba sudah berada di belakangnya dan mendekapnya dari belakang. Tahu-tahu juga, Anton sudah melayangkan ciuman-ciuman di sepanjang pangkal leher dan pundak Lucia, membuatnya kegelian. Satu hal lagi yang Lucia pelajari adalah bahwa kehidupan intim antara Anton dengan Wina tidaklah melulu monoton seperti yang biasanya. Anton dan Wina dahulu bukanlah jenis pasangan yang sering “main aman”. Sering juga mereka bercinta di waktu atau tempat yang agak tidak lazim, hal inilah yang pada hari-hari pertama pernikahannya dengan Lucia membuat Lucia agak shock. Bagaimana tidak, misal siang-siang bolong ketika Lucia sedang menyapu ruang tamu, Anton langsung saja “menubruknya”, padahal saat itu pintu dan jendela dalam keadaan terbuka. Sekarang Lucia sudah terbiasa, karena Anton pun tak pernah memaksa harus saat itu juga dilakukan (jika memang Lucia saat itu tengah tidak berkenan), bahkan boleh dibilang Lucia menikmati ketegangan yang timbul. Paling gila, dua hari lalu, ketika ia, Anton, dan Lani pergi ke departement store untuk membeli baju, tiba-tiba saja Anton mengajaknya “bermain” di kamar pas, dan Lani disuruh menjadi satpam. Oh, betul-betul gila. Satu waktu yang sama sekali tidak bisa dilanggar adalah saat bekerja, karena saat itulah biasanya Anton berubah menjadi Anton yang dingin, seorang bos yang harus dia hormati.

“Ton! Aku lagi belajar nih…” kata Lucia sambil tertawa kecil agak kewalahan menghadapi cumbuan suaminya.

“Biarin…” kata Anton masih “menyiksa” istrinya itu,

“emangnya sampai mana?”

“Baca-baca aja… ternyata kehidupan kapal selam menarik juga, yah…” kata Lucia.

Anton menghentikan cumbuannya, lalu mendekap Lucia erat dan menempelkan dagunya di pundak Lucia. Hembusan hangat nafas Anton terasa menggelitik Lucia.

“Nggak semenarik kenyataannya,” kata Anton,

“kudu jadi orang kuat buat bisa jadi pelaut, apalagi pelaut kapal selam; kudu tahan menderita…,”

Lucia menjerit kembali, karena Anton kembali mencumbu lehernya. Ah, sudahlah, kenapa tidak? Pikir Lucia. Lucia dengan cepat segera meletakkan dokumen-dokumen itu agak jauh dari mereka, dan ia pun segera berbalik dan menyambut cumbuan suaminya itu.

Tiba-tiba mereka berhenti sejenak. Lani lewat di seberang ruangan itu, berjalan cuek dengan mata sedikit mengantuk dan satu tangan menyeret boneka teddy bear yang ia pakai untuk menemani tidur. Anton dan Lucia melihat Lani sambil terpana. Sepertinya Lani hendak mengambil minum, dan lampu rumah itu masih menyala terang, sehingga Lani pasti melihat Ayah dan Mamanya ini saat tengah bercumbu. Lani hanya menoleh sejenak ke arah mereka berdua, menggelengkan kepala sambil mendengus panjang, lalu kembali ke kamarnya setelah selesai minum, seolah melihat sesuatu yang biasa…

“Euleuh… si Lani…” kata Lucia sambil tertawa.

“Biarin aja…” kata Anton sambil kembali melanjutkan aktivitasnya itu.

Lucia hanya berpikir. Wina memang adalah seorang istri dan ibu yang luar biasa. Ia sudah mengajarkan kepada Lani mengenai pendidikan seks semenjak kecil, hal yang mungkin masih dianggap tabu oleh sebagian besar orang. Bagaimana Wina bisa membagi perhatian kepada suami dan anaknya, itulah yang membuat Lucia kagum, belum lagi jika ditambah dengan pemikiran Wina yang selalu progresif yang kadang sering dicibir oleh orang lain. Akibat didikan Wina itu, maka Lani semenjak kecil memang memiliki pemahaman yang lebih baik soal seks. Mulai dari pengenalan nama-nama organ intim, cara perawatan, falsafah seks yang aman dan bertanggung jawab, hingga kepada bahayanya penyakit menular seksual. Lani pun juga sering melihat dan memergoki ketika Ayah dan Ibunya sedang bercinta, namun bukannya marah, Wina malah segera memberikan pengertian dalam bentuk penyampaian yang mudah dipahami kepada Lani. Lucia pun sempat juga shock ketika dia bercinta dengan Anton lalu dipergoki oleh Lani, tapi lama-lama ia pun terbiasa pula. Mengingat itu, Lucia merasa bahwa menggantikan Wina sebagai istri Anton dan ibu Lani ini bagaikan menempati sepatu yang terlalu besar; tapi sejauh ini dia sudah menjalankannya dengan baik. Wina pun pastinya tersenyum di alam sana.

*****************************

Lucia melihat dengan sayup-sayup, jam sudah menunjukkan bahwa waktunya mereka harus bangun. Entah kenapa tadi malam bagaikan episode bercinta habis-habisan, karena baik Anton maupun Lucia bercinta dengan sangat hebat seolah-olah tidak ada lagi hari esok. Lucia merasa badannya lemas semua, dan bekas-bekas cupangan Anton pun membekas di hampir seluruh tubuhnya, pastinya jika Andini melihat ini, akan menjadi bahan olok-olokan lagi.

Ia menggeliat, tapi Anton mendekapnya dari belakang dengan amat erat, dan tampaknya Anton masih tertidur. Lucia pun segera bangun, karena ia masih harus menyiapkan sarapan untuk Lani disamping juga harus bersiap-siap untuk dirinya sendiri. Lucia pun menggeliat bagaikan ulat yang hendak melepaskan diri dari kepompong, berusaha untuk bangung, tapi tiba-tiba dia memekik pelan kembali. Dekapan Anton menguat seolah-olah menahannya supaya tidak pergi.

“Ton! Udah pagi…” tolak Lucia sedikit setengah hati.

“Biarin…” kata Anton sedikit ogah-ogahan.

“Kamu mau Lani telat sekolah, ya??” ancam Lucia.

Efektif, karena Anton berhenti, tapi tiba-tiba dekapannya kembali mengencang.

“Jangan pergi…” kata Anton dengan nada penuh kekhawatiran.

Lucia termenung, ya, karena pagi ini memang dia harus segera terbang ke Surabaya, bahkan tiket pesawat pun sudah ia siapkan. Lucia pun dengan lembut beringsut kembali, lalu berbalik menghadap ke arah suaminya. Ia melihat ada pancaran sinar kekhawatiran dari mata Anton.

“Udah tugas…” kata Lucia,

“kamu sendiri kan, yang bilang supaya jangan pernah meninggalkan tugas?”

“Aku punya firasat nggak enak, kamu mending minta siapa gantiin deh…” kata Anton.

Lucia tersenyum, lalu ia meletakkan jari telunjuknya di bibir Anton.

“Sst!” kata Lucia dengan lembut dan perlahan,

“jangan takut… aku pasti pulang,”

“Gimana kalau…” kata Anton.

“Sst!” kembali potong Lucia sambil menekankan jari telunjuknya dengan lembut ke bibir suaminya. Lucia tersenyum dengan amat manis, lalu ia pun memberikan sebuah ciuman yang hangat dan dalam di bibir suaminya itu, dan dengan begitu seolah melunturkan semua kekhawatiran yang timbul.

*****************************


Bandar Udara Juanda

Surabaya

14.09 WIB


Pesawat Boeing 737 Garuda Indonesia jurusan Jakarta-Surabaya mendarat dengan mulus siang ini di Bandara Juanda Surabaya. Lucia tampak mengamati pemandangan dari luar jendela kabinnya sambil melamun. Anton tidak sempat mengantarkannya ke bandara tadi, karena Anton harus bekerja saat itu dan tidak bisa diganggu gugat. Pun, sebelum Anton berangkat kerja, Lucia sudah memberikannya sebuah salam perpisahan yang “menyenangkan”. Setidaknya saat itu Anton sudah tak lagi terlihat terlalu khawatir. Tapi kini giliran Lucia yang pikirannya seolah masih tertinggal di rumah.

Biro NewsTV Surabaya bukanlah hal yang baru bagi Lucia. Dulu sebelum dia menikah (dengan Ben), dia pernah ditempatkan di Biro ini selama sebulan. Tapi itu serasa sudah lama sekali, lebih dari 6 tahun yang lampau, sepertinya. Setelah itu, ia jarang sekali ditempatkan jauh-jauh dari Jakarta. Keadaan di Biro Surabaya ini pastilah sudah sangat berubah, dan Lucia mendengar kini yang menjadi Kepala Biro adalah Manda, temannya sesama reporter, tapi Manda ini adalah salah satu reporter senior NewsTV yang oleh Anton dijuluki sebagai “The Three Musketeers”, tiga reporter senior terbaik yang dimiliki oleh NewsTV. Dua lainnya ada di Jakarta, yaitu Uki dan Erwina, dan mereka berdua ada di bawah komando Anton.

Tidak sulit bagi Lucia menemukan liaison-officer nya di Bandara Juanda ini, karena begitu dia masuk lobby, seseorang sudah menunggu sambil mengacungkan karton besar bertuliskan “NewsTV-Jakarta”. Maka Lucia pun segera berjalan mendekati orang itu. Kebetulan sekali dia seorang wanita muda. Dia pun segera mengenali Lucia ketika Lucia berjalan mendekat.

“Mbak Lucia!” kata wanita itu.

“Rupanya kamu toh, Erika?” tanya Lucia sambil tersenyum.

Erika adalah salah satu junior reporter di NewsTV, dan saat ini tengah mendapat jatah penugasan di Biro Surabaya. Apabila Lucia saat ini tingkatannya adalah “reporter grade I”, maka Erika adalah “reporter grade III”, alias 2 tingkat di bawah Lucia. Erika ini selalu murah senyum, wajahnya manis pula dengan kecantikan khas wanita Tionghoa. Melihat Erika masih memakai seragam biru, sepertinya Erika memang menyempatkan untuk menjemput Lucia di sela-sela tugasnya.

“Mari, Mbak, saya bawakan,” kata Erika dengan ramah.

“Nggak usah lah, Rik, cuman sedikit koq,” kata Lucia.

Erika memang agak heran karena Lucia hanya membawa sebuah tas kopor tarik biasa saja, sepertinya kopor pakaian, tanpa ada tanda-tanda barang-barang lain. Lebih mengherankan lagi karena hingga siang ini, Biro Surabaya juga belum menerima kiriman apapun dari Jakarta, yang artinya semua logistik peliputan harus disediakan sepenuhnya oleh Biro Surabaya, padahal biasanya untuk setiap penugasan seperti ini, Pusat pasti selalu mengirimkan sesuatu, entah perlengkapan atau peralatan, yang menyertai reporternya.

“Manda gimana?” tanya Lucia.

“Mbak Manda baik-baik aja,” jawab Erika.

“Syukur deh,” kata Lucia.

“Oh ya, Mbak Lucia, kalau saya boleh tahu, ini ntar mau penugasan peliputan apa, sih?” tanya Erika,

“Pak Anton nggak ngasih tahu?” tanya Lucia heran.

Erika hanya menggeleng saja.

“Dari Pak Anton cuman kasih tahu, Biro Surabaya harap segera membentuk tim dan menyiapkan semua tetek bengek penyiaran untuk tugas selama seminggu penuh,” kata Erika

“tapi nggak disebutin mau peliputan apa, kapan, di mana; emangnya ada apa sih, Mbak?”

Lucia terdiam, apabila Anton tidak memberitahukan apa-apa kepada Biro Surabaya, maka Lucia pun tak berhak pula tanpa izin. Ia lalu mengeluarkan HP-nya. Tidak, ia tidak sedang ingin menghubungi Anton. Tapi Anton memberikannya sebuah nomor yang harus segera ia hubungi secepatnya begitu ia sampai di Surabaya. Erika masih bingung dengan apa yang terjadi.

“Halo?” sapa Lucia. Setelah itu komunikasi lebih sering diberikan dari seberang, dan Lucia hanya menggumam setuju saja. Tidak sampai setengah menit, telepon pun ditutup.

“Ada apa?” tanya Erika.

“Kita mulai nanti malam,” kata Lucia.

“Nanti malam???” jerit Erika kaget.

“Iya, timnya disiapin makanya,” kata Lucia,

“oh ya, Erika, aku nggak usah kamu bookingin kamar hotel yah, kayaknya aku nggak bakal sempet ke hotel ntar,”

Erika lalu mengikuti langkah Lucia sambil matanya menunjukkan pancaran sinar kebingungan. Seumur-umur dia bekerja di NewsTV, sepertinya baru saat ini NewsTV bermain rahasia dalam tugas peliputannya sendiri.



Biro NewsTV Surabaya

Ruangan Kepala Biro

15.22 WIB


Lucia akhirnya sampai juga di kantor NewsTV Biro Surabaya, dan yang pertama-tama ia lakukan adalah segera menghadap ke Manda, kepala Biro. Selain untuk permisi, juga karena Erika tadi sudah mengatakan, sesampainya di Biro, Manda memang ingin sekali bertemu. Dan…

“Maksudmu gimana!!??” teriak Manda dengan cukup keras.

Lucia hanya diam saja, tapi ia paham sekali mengapa Manda marah, bagaimanapun, amanatnya, adalah supaya mulutnya terus terkatup hingga “saatnya tiba”.

“Luz, kita udah temenan lama, kan?” tanya Manda,

“masa kamu juga nggak mau bilang sih, ada apa aku suruh nyiapin tim peliputan? Nggak biasanya kayak gini?”

“Maaf, Nda, tapi saat ini aku nggak bisa ngomong,” kata Lucia.

“Jadi ntar itu tim aku kamu bawa juga aku nggak bakal kamu kasih tahu soal apa?” tanya Manda yang tampaknya masih tidak sreg dengan ide itu.

“Kalau emang udah saatnya tahu, kamu pasti aku kasih tahu,” kata Lucia.

“Kenapa nggak sekarang aja??” tanya Manda,

“nyiapin tim itu bukan perkara enteng lho, apalagi Jakarta maunya selama seminggu penuh; terus buat apa? Jujur kalau nggak ada surat perintah langsung ditandatangani ama Bu Sabrina, aku pasti nggak bakal ngasih selama nggak jelas…”

Lucia lalu mendekati Manda dan menepuk pundaknya.

“Nda… percaya deh, ini masalah yang amat penting dan esensial,” kata Lucia.

Manda hanya mendengus saja. Sinar mata Lucia tidak mengisyaratkan adanya kebohongan, sehingga Manda yakin bahwa Lucia betul-betul datang dan meminta timnya memang untuk sesuatu yang sangat penting yang mungkin belum boleh dibuka sekarang. Bagaimanapun juga, dia sudah berteman dengan Lucia semenjak mereka masih sama-sama masuk sebagai reporter junior, sehingga sikap Lucia ini bagi Manda sedikit tidak bisa ia terima, dan pastinya Manda menduga bahwa masalah apapun ini, pasti melibatkan “tangan yang lebih besar” daripada sekedar tangan-tangan yang ada di NewsTV.

“Kamu mau nemuin tim kamu?” tanya Manda setelah menenangkan diri.

“Ya,” jawab Lucia.

“Oke, ayo kita temui sama-sama, aku juga mau tahu…” kata Manda.

“Sendiri,” kata Lucia.

Manda lalu melihat Lucia dengan pandangan mata yang aneh, seolah baru saja mendengar sesuatu hal yang tidak bisa ia terima.

“Apa maksudmu??” tanya Manda.

“Aku akan menemui mereka…sendiri,” kata Lucia.

“Kamu nggak percaya ama aku??” tanya Manda lagi.

“Ini perintah,” kata Lucia.

“Hanya karena suami kamu itu udah jadi petinggi di NewsTV, nggak berarti lalu kamu bisa maen perintah gitu aja, Luz!” hardik Manda.

Lucia berusaha untuk tenang, lalu ia pun mengambil telepon yang ada di dekatnya.

“Telepon Bu Sabrina,” kata Lucia,

“dia akan menjelaskan hal yang sama,”

Manda pun menatap tajam mata Lucia.

“Terlepas dari persahabatan kita yang udah lama, ada parameter tugas yang nggak bisa kita langgar,” kata Lucia,

“tugas kamu cuman nyiapin tim buat aku, selebihnya, itu semua tanggung jawabku; aku mau aja kalau bisa cerita ama kamu, tapi sayangnya aku nggak bisa; dan ini bukan karena aku nikah ama Anton!”

Manda pun menarik nafas panjang dan menatap mata Lucia. Manda memang sudah mengenal Lucia dengan amat baik. Di mata Manda, Lucia dari dulu sampai sekarang tidak lalu menjadikannya orang yang berbeda. Lucia masih sosok reporter yang lugu dan polos. Rasanya kalau memang ini bukan perintah dari atas, tidak mungkin Lucia berani bermain rahasia semacam gini.

“Aku nggak tahu sekarang ini kamu terlibat dengan apa, Luz,” kata Manda.

“Ya,” kata Lucia,

“andai aja aku juga tahu,”

“Sudahlah, semoga berhasil,” kata Manda,

“temui Erika, dia salah satu dari tim kamu; dia akan ngenalin ke anggota yang lain,”

“Makasih,” kata Lucia,

“pada saatnya nanti, kamu pasti akan aku kasih tahu, tapi nggak bisa sekarang,”

“Hati-hati,” kata Manda, “aku koq merasa ini bakal jadi nggak terkendali,”



Australian Naval Headquarter

Canberra

15.03

Suasana gaduh menyelimuti ruang kerja di NHQ, komando tertinggi Angkatan Laut Australia. Alexander McCowe, Naval Minister, dan Vice Admiral Kieran Shaw, Chief of Navy, tampak tegang berjaga-jaga menunggu sesuatu. Sebelum ini, seperti halnya sekutu mereka di Utara, yaitu Amerika Serikat dan Inggris, mereka sudah mendapat peringatan mengenai Proyek Antasena yang tengah dibuat oleh Indonesia. Intelejen Australia bahkan berusaha untuk menempel terus perkembangan dari proyek yang lumayan membahayakan ini. Sekarang, ketakutan mereka pun menjadi kenyataan.

Melalui komando Armada Ketujuh Amerika Serikat di Pasifik, Royal Australian Navy sudah diperingatkan untuk segera bersiap-siap menyambut kedatangan kapal selam KRI Antasena. Berita datang dari Joint-Chief-of-Staff Amerika Serikat mengenai soal potensi berbahaya dari kapal selam ini, karena kapal ini bisa menghancurkan kapal perang terbesar yang dimiliki oleh Australia. Kini pihak Australia mengetahui bahwa kapal ini sudah siap untuk diluncurkan.

Tanggapan Canberra mengenai KRI Antasena cukup beragam, namun lebih pada pendekatan politik. Alexander McCowe dan Adm. Kieran Shaw berpendapat bahwa Australia sebaiknya menggunakan kesempatan pertama untuk segera menangkap dan atau menghancurkan saja kapal selam itu, sehingga Indonesia tidak bisa memanfaatkannya. Pendapat ini, bagaimanapun ditentang oleh PM Australia, Phillip Andrews, yang mengingatkan bahwa Indonesia pun, seperti halnya Australia, berhak untuk memperkuat Armada maritimnya. Namun dari awal kebijakan-kebijakan Phillip Andrews memang lebih pro Asia daripada kepada Barat, sehingga mayoritas kabinet Australia sedikit kurang sreg dengan usul ini. “Bagaikan memberi cakar pada harimau lapar”, begitu kata mereka. Meskipun begitu, Andrews mengatakan bahwa tindakan penangkapan ini bisa saja memicu konflik dengan Indonesia, sesuatu konflik yang “sebaiknya dihindari”. Akibat perbedaan pendapat ini, maka NHQ pun akhirnya memohon petunjuk kepada induk mereka, Admiralty Kerajaan di London. Jawaban dari Admiralty London inilah yang tengah mereka nantikan…

Ketika akhirnya jawaban itu betul-betul datang, mulut kedua petinggi AL Australia itupun serentak terkatup. Tangan mereka gemetaran membaca pesan dari Admiralty London itu.

“Semoga Tuhan menyelamatkan kita…” bisik Alex McCowe.


******************


Perjalanan ke Lokasi X

Surabaya

18.44

Lucia membuka HP-nya dan menelepon rumah. Pada saat ini, Anton juga pasti masih di kantor, karena dia masih harus men-supervisi program berita utama News Today. Tidak masalah, karena ia hanya ingin bicara dengan Lani. Seperti biasa, Lucia pasti menelepon Lani dulu, baru menelepon Anton.

“Ni hao?” sapa seseorang dari seberang.

Bukan Lani jelasnya, karena itu suara wanita dewasa. Itu adalah Fiona, kakak angkat Anton, yang juga bekerja sebagai presenter di section Berita Mandarin di NewsTV.

“Ni hao… Ci Fio, Lani ada?” tanya Lucia.

“Lusi, yah?” tanya Fiona,

“ada tuh…”

Kalau Anton atau Lucia sedang tidak ada di tempat, biasanya Fiona dan dua putri kembarnya selalu main ke rumah Lani untuk menemaninya, atau sebaliknya, Lani yang ada di rumah Fiona. Jarak antara rumah mereka berdua sangat dekat, nyaris tidak ada satu blok. Dahulu Fiona malah sering berangkat kerja bersama dengan Anton, sebelum Anton menikah dengan Lucia.

“Mama!” teriak Lani kemudian.

“Halo, Sayang! Gimana kabarnya?” tanya Lucia sambil tersenyum senang.

“Baik-baik aja,” kata Lani,

“Mama di mana, nih?”

“Masih di Surabaya, Sayang,” kata Lucia,

“ini Mama lagi mau ngeliput,”

“Kapan pulang, Ma?” tanya Lani.

“Seminggu lagi, Insya Allah,” kata Lucia,

“Lani nggak nakal, kan?”

“Nggak koq,” kata Lani,

“tapi Lani banyak PR nih, Ma,”

“Ya udah, Lani ama Ci Fiona aja dulu ngerjain PR nya, yah,” kata Lucia,

“Ayah kamu masih sibuk?”

“Masih,” kata Lani,

“biasa lah,”

“Oh ya, Sayang, Mama ntar mungkin abis ini nggak bisa telepon-telepon kamu,” kata Lucia,

“soalnya tahu sendiri kan…”

“Tempat liputannya nggak ada sinyal yah, Ma?” tanya Lani.

“Iya,” jawab Lucia berbohong. Padahal aslinya ia tidak akan diperbolehkan untuk menggunakan sarana komunikasi apapun.

“Email juga nggak bisa, yah?” tanya Lani dengan nada kecewa.

“Maaf ya, Sayang, abisnya emang keadaannya kayak gini..” kata Lucia,

“kamu Mama tinggal seminggu nggak papa, kan? Ntar deh, kalau Mama udah bisa telepon lagi, kamu pasti Mama telepon,”

“Iya,” kata Lani,

“oh ya, ntar kalau pulang beliin oleh-oleh ya, Ma!”

“Pasti, Sayang,” kata Lucia tertawa,

“ya udah ya, Mama mau pergi dulu, dadah Sayang,”

“Dadah Mama,” kata Lani,

“I love you, Mama.”

“I love you too, Sweetie,” kata Lucia.

Lucia lalu mencium corong telepon sebagai salam perpisahan dengan Lani. Setelah menutup telepon, entah kenapa Lucia tiba-tiba merasa kosong dan menitikkan air mata. Hampir saja dia membuka telepon lagi untuk menelepon Lani, tapi semua itu ia urungkan.

“Anaknya Pak Anton, yah?” tanya Erika.

“Ya anakku juga, lah,” jawab Lucia sambil menghapus air mata yang terlanjur menitik,

“emang bukan anak kandung, tapi aku udah sayang kayak anak sendiri, Rik,”

“Ya, ntar abis seminggu kan ketemu lagi, Mbak,” kata Erika sambil tersenyum.

Kegelapan malam menyeruak pada saat mobil yang mengangkut para awak NewsTV bergerak menuju ke Lokasi X, satu titik di Selat Madura. Jalan rahasia ini hanya diketahui oleh segelintir orang, dan siapapun yang hendak melewatinya, biasanya sudah disumpah terlebih dahulu untuk tidak membocorkannya kepada siapapun, atau konsekuensinya amat mengerikan. Ujung jalan ini akan menuju ke sebuah galangan kapal rahasia, yang selama ini digunakan untuk meluncurkan perdana kapal-kapal tempur terbaru milik TNI AL. Dari galangan kapal ini, biasanya kapal-kapal tempur baru akan dibawa ke Pelabuhan Tanjung Perak untuk “grand launching”. Tapi untuk semacam kapal selam, tidak ada hal semacam itu.

Saking rahasianya, bahkan Manda, Kepala Biro Surabaya, sama sekali tak tahu menahu ke mana tim yang dibentuknya ini akan dibawa oleh Lucia. Mobil yang membawa mereka pun bahkan menggunakan sebuah mobil tanpa decal NewsTV, sehingga dari luar, mustahil untuk mengetahui apakah ini mobil peliputan atau bukan. Lucia sendiri sebenarnya tidak nyaman dengan keadaan ini, ia merasa bersalah, terutama untuk Manda, yang sudah menjadi temannya sejak lama. Bagaimanapun, ia tidak punya banyak pilihan. Lebih baik begini, karena dengan ini dia akan bisa menjauhkan Manda dari masalah. Lucia menarik nafas panjang, mungkin memang lebih baik kalau Andini, Erwina, atau Uki saja yang membawakan tugas ini, karena mereka memang lebih pandai dalam bermain rahasia.

“Hampir sampai, Mbak,” kata Adnan, sang driver.

Lucia lalu melihat ke depan, dan dari balik kegelapan malam, tiba-tiba langit lembayung muncul dan terlihatlah sebuah titik area yang dikelilingi oleh nyala penerangan yang minimum. Itulah Lokasi X. Dari jauh, Lucia tidak dapat melihat apa-apa, karena memang pencahayaannya tidak mencukupi untuk bisa melihat dengan jelas. Gedung-gedungnya tampak gelap dan suram. Perancah-perancah untuk membuat kapal pun tampak tinggi dan mengancam, tapi pastinya ada kegiatan manusia di sana.

“Waduh, HP-ku koq tiba-tiba nggak ada sinyal, yah?” kata Erika sambil melihat pada teleponnya.

Lucia tidak menjawab. Ia pasti tahu bahwa HP-nya sendiri pun pasti sudah kehilangan sinyal. Pastinya bukan hanya karena wilayah ini sinyalnya memang cukup lemah, akan tetapi juga pasti ada sesuatu yang menginterupsi semua sinyal komunikasi. Sebuah jammer, dan itu tandanya mereka memang menuju ke arah yang tepat. Mulai saat ini, Lucia sadar bahwa mereka sudah seorang diri.

Untunglah, Manda sudah memilihkan beberapa orang yang memang terbaik sebagai bagian dari tim. Ia memang tidak menyetujui dengan keputusan Jakarta untuk menjalankan sebuah misi tanpa ia sendiri tahu detail jelasnya, tapi bagaimanapun, ia tidak bisa juga lalu bertindak sembarangan dan memilih tim sesukanya. Manda sadar bahwa apabila memang keadaannya harus seperti ini, pastinya misi yang akan diemban oleh Lucia, kalau tidak sensitif ya pasti berbahaya, maka ia berkewajiban untuk memberikan tim terbaik yang bisa ia berikan. Apabila bukan untuk sebuah profesionalisme, Manda melakukannya demi persahabatan mereka yang sudah lama.

Total tim ada 7 orang, termasuk Lucia sendiri, dan hanya Lucia dan Erika saja yang perempuan dalam tim itu. Total ada 2 campers, 2 reporter (Lucia dan Erika), 2 field-technician, dan 1 driver, plus perlengkapan seperlunya. Lucia sudah mewanti-wanti supaya perlengkapan yang dibawa lebih untuk perlengkapan pribadi saja dan perlengkapan peliputan semacam cakram optik, tidak perlu membawa tetek bengek yang tidak perlu. Bagi Erika dan yang lain, jelas saja mereka agak bersungut-sungut. Bagaimana tidak, tadinya mereka mengira misi akan dijalankan dalam satu atau dua hari ke depan; tidak tahunya, hanya beberapa jam setelah Lucia mendarat, mereka sudah harus berangkat. Jadi, mereka tentu tidak bisa mempersiapkan diri mereka dengan layak, hanya membawa pakaian beberapa potong saja, pun beberapa bahkan belum berpamitan dengan orang-orang yang mereka kasihi.

Mobil itu berhenti di pintu gerbang. Dito, salah seorang campers hendak menyalakan kamera, tapi segera dicegah oleh Lucia. Pintu gerbang itu dijaga oleh beberapa orang berpakaian militer dan masing-masing menyandang senapan serbu jenis SS-2 buatan Pindad. Dari lorengnya, Lucia bisa menduga bahwa pasti ini adalah dari satuan Marinir. Tidak hanya sebuah pos, di situ juga ada bunker dari karung pasir yang dibaliknya menyembul pucuk senapan mesin jenis Pindad SMB-2HB, kaliber 12,7mm. Dan tak jauh juga ada sebuah tank AMX-13 yang sepertinya di-entrenched untuk platform artileri statis. Salah seorang dari mereka pun mendekati mobil. Lucia yakin, seandainya AL tidak memberitahukan bahwa mereka akan datang, pasti tanpa peringatan, mereka sudah akan ditembaki pada saat ini. Ia tahu, karena meskipun di balik kegelapan, ia melihat dari tadi moncong meriam tank itu terus menerus mengarah ke mobil. Entah berapa buah pucuk senapan lagi yang mengarah ke mereka tapi tidak bisa mereka lihat.

“Selamat malam!” sapa Marinir tadi,

“maaf, ini area terlarang, mohon Anda silakan berbalik sekarang juga,”

Semua orang di mobil itu tampak sangat ketakutan, meskipun rata-rata tidak menunjukkannya. Jelas saja, karena saat ini seluruh moncong senapan mengarah ke mereka. Adnan bahkan sudah menyiapkan tangannya di kopling, apabila memang harus berbalik, ia pun bersiap untuk meninggalkan tempat ini tanpa menoleh. Erika tidak bisa menyembunyikan ketakutannya dan gemetaran sambil mencengkeram erat lengan Lucia, tapi Lucia sendiri berusaha untuk tenang, lalu ia segera mengambil sebuah dokumen, sepertinya semacam dokumen identitas, dan memberikannya kepada petugas itu.

Petugas itu pun menerimanya dengan hati-hati, dan sepanjang proses itu, semua penjaga di sana tetap mengacungkan senjata ke mobil. Tak ada di dalam mobil yang berani melakukan gerakan mendadak, karena resikonya adalah nyawa. Semua melihat dengan tegang ketika petugas itu menscan dokumen tadi dengan semacam alat laser. Ia kemudian meraih radio yang ia cangklongkan di dada.

“Mereka sudah datang,” kata Petugas itu.

Kemudian, petugas itu, tanpa ekspresi, segera memberikan kembali dokumen itu kepada Lucia, dan pintu gerbang pun dibuka, tanda mereka boleh masuk. Semua pucuk senapan pun diturunkan dan semua orang di mobil itu mengambil nafas lega. Mobil pun berjalan perlahan memasuki instalasi galangan kapal itu. Beberapa orang di beberapa sudut menggunakan tongkat bercahaya untuk memberitahukan kepada pengemudi mobil kemana mereka harus menuju. Ketegangan pun memuncak kembali, dan mobil digiring masuk ke dalam sebuah gudang. Di sana, mereka disuruh berhenti, dan Lucia melihat bahwa gudang berpenerangan redup itu ternyata dipenuhi oleh prajurit bersenjata.

Pintu dibuka, dan salah seorang prajurit melongokkan kepalanya untuk melihat keadaan di dalam mobil. Senapan serbu tidak lepas dari tangannya yang siaga. Setelah itu, ia keluar lagi dan memberikan sebuah isyarat kepada rekan-rekannya.

“Semua turun!” kata prajurit itu.

Dengan gemetaran, semua orang pun turun, dan langsung saja mereka dikumpulkan tidak jauh dari mobil. Mereka tidak diperbolehkan membawa apapun, bahkan tas tangan mereka sekalipun. Di sekeliling mereka, para prajurit menjaga dengan senjata siap tembak, membuat suasana semakin menegangkan. Kemudian dua orang perwira, mendekat ke mereka. Salah satu adalah perempuan.

“Yang perempuan, ikut saya,” kata perwira perempuan itu,

“yang lainnya, ikut kapten ini,”

Erika semakin ketakutan, tapi ia pun mengikuti Lucia yang segera mengikuti sang perwira perempuan itu. Sementara yang lainnya ikut “kapten” ke arah yang berbeda. Mereka pun masuk ke ruangan yang cukup jauh dari ruangan rekan-rekan mereka yang lain. Di ruangan itu, Erika dan Lucia menemukan bahwa itu seperti sebuah barak, tapi di sini yang berjaga adalah semuanya wanita, masih prajurit tentu saja. Semua prajurit itu tampak bersiap sedia begitu Lucia masuk.

“Ini yang dari NewsTV itu,” kata sang perwira,

“proses mereka,”

“Siap!” sahut para prajurit wanita itu.

Kemudian jendela-jendela segera ditutup, termasuk semua lubang angin. Erika dan Lucia tidak mengerti apa yang akan dilakukan. Semua wanita di sana berjaga-jaga sambil menyiapkan senjata mereka, seolah mencegah supaya tidak ada yang masuk. Salah seorang prajurit mendekati Lucia dan Erika. Ia lalu menyuruh Lucia dan Erika untuk menaruh semua barang-barang di kantong baju dan celana ke dalam baki yang ia bawa. Erika dan Lucia pun menurut saja. Tidak hanya dompet atau telepon, bahkan jepit rambut pun wajib dilepas semuanya, termasuk Lucia merelakan cincin kimpoinya pula untuk dilepas. Setelah itu, mereka pun disuruh untuk mengangkat tangan dan masing-masing seorang prajurit wanita menggeledah semuanya.

“Aman!” lapor mereka.

“Bagus, sekarang lepas baju kalian,” kata prajurit kepala.

“Apa???” Lucia dan Erika tidak bisa mengerti perkataan itu.

“Kalian mau lepas sendiri, atau prajurit saya yang akan saya suruh melepas paksa,” perintahnya.

Dengan enggan, Lucia dan Erika pun melepas baju mereka hingga akhirnya mereka telanjang, dan dalam keadaan telanjang itu, mereka digeledah sekali lagi, seolah-olah ada yang bisa ditemukan dari orang yang sudah telanjang. Mimik muka Erika dan Lucia pun tampak tidak senang. Apalagi pada penggeledahan kali ini, sang juru geledah memeriksa dengan seksama secara inchi tubuh mereka berdua, sehingga menjadi agak lama dibandingkan penggeledahan yang pertama. Namun segera setelah dinyatakan aman, Lucia dan Erika segera diberi selimut untuk menutup tubuh mereka. Mereka belum boleh memakai pakaian dulu untuk sementara waktu, tapi mereka dipersilakan untuk duduk di kursi supaya tidak lelah. Tidak beberapa lama kemudian, sang perwira yang tadi membawa Lucia dan Erika ke sini, kembali dan memberikan dua cangkir kopi hangat kepada Lucia dan Erika.

“Maaf soal perlakuan ini, tapi kami harus berhati-hati,” kata perwira itu,

“ini adalah dunia di mana implan pelacak atau penyadap bisa dibuat setipis benang dan dimasukkan ke dalam tubuh, makanya kami masih harus memeriksa kalian meski kalian sudah telanjang,”

“Pakaian kami?” tanya Lucia memberanikan diri.

“Masih diperiksa oleh ahli-ahli kami,” kata perwira itu,

“oh ya, sebelum semuanya menjadi aneh, saya Kapten Pratiwi, saya akan menjadi escortkalian di pangkalan ini; apabila kalian sudah dinyatakan aman, maka kalian boleh bebas bergerak di pangkalan ini, dalam pengawasan saya tentu saja,”

Lucia hanya mengangguk saja, lalu ia menghirup kopi hangat itu untuk menenangkan diri. Kapten Pratiwi tidak terlalu banyak mengajak bicara, sehingga suasana jadi agak canggung. Apalagi Lucia dan Erika pun masih tidak nyaman harus telanjang di ruangan ini, meskipun semua yang ada di sini adalah wanita. Pemeriksaan berlangsung selama hampir satu jam sebelum akhirnya mereka diberikan kembali pakaian mereka. Dompet, perhiasan, termasuk cincin kimpoi pun diberikan juga, tapi HP atau peralatan elektronik lainnya tidak. Alih-alih, HP mereka berdua masing-masing dimasukkan ke dalam amplop, dan akan diberikan nanti di “tujuan akhir”. Setelah mereka selesai berpakaian, barulah Kapten Pratiwi mengantar mereka menuju ke lokasi berikutnya.

Kali ini tidak ada lagi pemeriksaan lanjutan. Rupanya mobil dan barang bawaan mereka pun tak luput dari pemeriksaan juga, dan para pemeriksa ini memeriksa dengan amat teliti. Tim, tentu saja hanya bisa menggerutu panjang. Lucia dan Erika pun lalu dipertemukan dengan rekan-rekan mereka yang lain. Tidak perlu banyak bicara, tampaknya semua mengalami perlakuan yang sama. Sementara barang mereka diperiksa, mereka tidak boleh melebihi perimeter yang ditentukan, dan Kapten Pratiwi betul-betul menjaga mereka dengan ketat. Tak lama kemudian, Lucia pun mendengar suara deru mesin helikopter yang tengah mendekat… ada tiga atau empat helikopter sepertinya. Wah, ramai sekali.

Akhirnya setelah pemeriksa memberi kode aman, Kapten Pratiwi memberi tanda bahwa mereka boleh mengambil kembali barang-barang mereka, yang pastinya dilakukan dengan bersungut-sungut. Lucia sendiri hanya membawa kopornya saja, karena ia memang hanya membawa itu dari Jakarta. Bagaimanapun, pengawalan atas mereka masih saja ketat.

“Kayak lagi ngawal tahanan teroris aja,” gerutu Dito, sang kameramen.

Mereka pun terus bekerja seperti semut, mengeluarkan barang-barang dan perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan. Untunglah, meskipun diperiksa secara seksama, tidak ada peralatan yang rusak. Seandainya rusak, sudah terbayang berapa uang yang harus diperlukan untuk memperbaiki atau menggantinya. Sementara mereka bekerja itu, suara langkah kaki yang mantap terdengar mendekat menggema di ruangan gudang itu. Sayup-sayup Lucia bisa melihat sosok orang yang datang: wanita, tampaknya masih dari Angkatan Laut, dan pastinya, apabila dilihat dari pakaiannya, dia memiliki jabatan yang cukup tinggi.

Kapten Pratiwi pun segera tegap dan memberikan hormat kepada wanita itu. Semua orang juga melakukan hal yang sama. Lucia menduga usia wanita itu masih medio 30-an, karena dia cukup muda. Ia pun mendekat ke arah Lucia.

“Siapa yang berwenang di sini?” tanya wanita itu dengan nada lembut tapi tegas.

“Saya,” kata Lucia berdiri.

“Saya Kolonel Arliena, dari Intelejen Angkatan Laut,” kata wanita itu,

“aku minta tolong ikuti semua petunjuk dari Kapten Pratiwi dengan baik, supaya kita bisa sama-sama enak,”

“Baik,” kata Lucia.

“Ada banyak orang penting nanti di sana, dan aku tahu kalian orang pers pasti akan tergoda untuk mewawancarai mereka, tapi aku sarankan, jangan pernah berpikir untuk itu,” kata Kol. Arliena,

“satu-satunya yang boleh Anda tanyai hanyalah Kapuspen kami, Laks. Sihombing, dan tidak yang lainnya; atau konsekuensinya bisa buruk, mengerti?”

“Ya, saya mengerti,” kata Lucia sambil menelan ludah.

“Aku akan bertanggungjawab atas pangkalan ini selama seremoni, jadi aku tidak mau ada apa-apa; semua hal yang diperlukan sudah aku berikan pada Kapten Pratiwi, jadi patuhi dia,” kata Kol. Arliena,

“apa ada pertanyaan?”

“Oh… tidak, tapi kapan seremoni ini akan berlangsung, dan bagaimana kami bisa melaporkan secara langsung…” kata Lucia.

“Tidak,” kata Kol. Arliena,

“tidak ada siaran langsung,”

“Tapi…”

“Tidak ada siaran langsung, Nona!” hardik Kol. Arliena,

“seremoni ini akan berlangsung tidak lama lagi, dan kalian akan meliput hanya dari titik yang aku perbolehkan; rekam, dan salah seorang dari Intelijen akan membantu kalian dalam pengeditan saat itu juga, dan baru kalian boleh mengirim hasilnya ke kantor kalian, pada saat yang juga aku tentukan,”

“Tapi ini tidak adil!” protes Lucia.

“Memang! Dan aku tak mau membahasnya,” kata Kol. Arliena,

“kalian orang pers mungkin punya tatacara sendiri di luar, tapi sekarang kalian ada di rumah kami, dan di sini yang berlaku adalah aturan kami; nah, apa kalian bisa paham perkataanku?”

“Paham, Kolonel,” kata Lucia, meski sedikit mendongkol.

“Baik, kalau begitu silakan bersiap-siap karena acara akan mulai sebentar lagi,” kata Kol. Arliena,

“dan ingat perkataanku baik-baik,”

Aturan ini jelas sekali membuat semua tim NewsTV mendongkol. Bagaimana tidak, biasanya mereka bebas untuk meliput dengan cara mereka sendiri, tapi sekarang, bahkan untuk sudut kamera pun harus diatur oleh perwira Intelijen. Bagaimanapun, mereka tak berani protes, karena orang-orang ini punya senjata. Apalagi, Kol. Arliena benar, bahwa saat ini mereka adalah tamu, dan Angkatan Laut adalah tuan rumahnya.


***************


21.03 WIB


Tim pun akhirnya keluar ke sisi dalam pelabuhan dipandu oleh Kapten Pratiwi, dan pada saat itulah mereka takjub dengan apa yang mereka lihat. Para pekerja pangkalan ini dengan cekatan menumpuk barang-barang dan perlengkapan yang hendak dibawa ke dekat salah satu jetty di galangan itu. Rombongan pelaut, marinir, juga beberapa pejabat lain pun ikut serta ada di sana. Lucia melihat, acara ini pasti bukan main-main, karena ia melihat Menhan dan Menkopolhukkam pun ada di sana, di samping pejabat-pejabat tinggi TNI.

Namun pada bagian tengah, tepat di bawah sebuah perancah raksasa, terlihatlah bintang utama dari semua perhelatan ini. KRI Antasena. Mulut Lucia sampai ternganga melihat kapal selam itu secara langsung, sebelum dia menyentuh air untuk pertama kalinya. Sepintas, bentuknya mirip dengan beluga, ikan paus putih yang pertunjukannya biasa ia lihat di Ancol, hanya saja warnanya bukan putih melainkan hitam dengan aksen hijau lumut dan… hei… Lucia pun mengucek matanya memastikan ia tak salah lihat, tapi memang benar, seolah-olah pola-pola tak beraturan di sepanjang badan kapal itu berubah-ubah bentuknya, seolah menari di atas pancaran sinar-sinar lampu sorot yang memang diarahkan ke kapal selam itu. Satu hal yang menakjubkan adalah betapa besarnya kapal selam ini. Ia memang pernah mengunjungi monumen kapal selam di Surabaya, yang memajang bekas kapal selam kelas Whiskey buatan Uni Soviet yang lalu dibeli oleh AL menjadi KRI Nenggala, tapi pastinya kapal ini berlipat kali lebih besar daripada kapal selam kelas Whiskey itu. Mungkin hampir sebesar kapal dagang.

Tapi mereka pun terus berjalan dan akhirnya sampai di spot yang telah ditentukan. Tadinya Lucia tak mengerti kenapa dipilihkan spot itu, tapi setelah mengecek view kamera, barulah ia tahu jawabannya. Ternyata dari sudut ini, pemandangan yang tertangkap kamera mirip sekali dengan salah satu bagian di Pelabuhan Tanjung Perak. Jadi siapapun yang akan melihat rekamannya, pasti akan mengira bahwa gambar ini diambil di Tanjung Perak, bukan di Lokasi X. Sepanjang kru NewsTV menyiapkan tetek bengeknya di spot itu, para prajurit masih menjaga mereka dengan senjata lengkap. Akan tetapi kru NewsTV kali ini tidak begitu menggubrisnya.

“Gimana, Dit? Udah?” tanya Lucia,

“kalau udah, aku mau kasih lead-in nih,”

“Bentar lagi yah, Mbak Lucia,” kata Dito sambil membetulkan posisi kameranya.

“Mbak Lucia, nih udah aku cek,” kata Erika sambil memberikan sebuah kertas sebagai pedoman Lucia.

“Oke deh, makasih ya, Rik,” kata Lucia,

“Dit, udah belum??”

“Oke, udah, Mbak Lucia,” kata Dito sambil mengacungkan jempol.

 “Ayo, Lucia, siap-siap,” kata Elman, seorang field-technician.

“Bentar bentar,” kata Lucia sambil mengikat rambutnya ke belakang dengan sebuah karet gelang. Sia-sia saja mencoba menyisir, karena angin laut malam itu kencang sekali dan pasti akan membuyarkan semua hasil sisiran.

“Oke?” tanya Elman lagi.

“Sip!” kata Lucia sambil tersenyum. Kali ini ia sudah siap, mikrofon di tangan kanan, dan teks di tangan kiri.

“Camera, rolling?” tanya Elman.

“Rolling!” kata Dito sambil melihat Lucia dari viewfinder kameranya.

“Sound?” tanya Elman.

“Ready!” kata Reza, field-technician yang lain.

“On three… two… one… action!” kata Elman.

Kamera pun mulai merekam dan Lucia berdehem sejenak sebelum membacakan lead-in nya.

“Pemirsa, malam ini adalah malam yang amat bersejarah, karena pada malam hari ini akan diluncurkan untuk pertama kalinya kapal selam murni buatan dalam negeri, yaitu KRI Antasena, yang boleh kita anggap sebagai salah satu kapal selam paling canggih di dunia,” kata Lucia dengan lancar.

“And cut!” teriak Elman.

Lucia pun lalu menarik nafas lega.

“Bagus sekali Lucia!” kata Elman memberikan dua jempol. Lucia pun lalu mendekat ke timnya.

“Gimana?” tanya Lucia.

“Bagus koq, lancar,” kata Dito.

“Ntar abis ini pas acara kita pake kamera aja, nggak usah pake narasi,” kata Lucia,

“ntar biar di VO aja kalau dah jadi; anginnya kenceng banget, suaranya pecah,”

“Beres,” kata Dito.

“Terus kita ngapain, Mbak?” tanya Erika.

“Ya, ikut upacara pastinya,” kata Lucia.


****************


Upacara itu pun lalu segera mulai, dan seperti yang telah disepakati, hanya kamera yang bermain, tidak ada narasi, ataupun suara-suara. Upacara ini memang agak unik dan tidak seperti biasanya upacara di Indonesia. Setelah lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dimainkan oleh korps marching band, hanya Menhan yang memberi sambutan. Rata-rata memuji kemampuan insinyur-insinyur Indonesia dalam membangun kapal selam ini. Setelah sambutan singkat itu, lalu diperkenalkan bahwa kapal ini akan dikapteni oleh Laksma. Dino Mahan, salah seorang perwira muda di TNI AL yang dulu bekas komandan Satgassel II, dan oleh koleganya dipandang sebagai ahli taktis kapal selam terbaik. Kepada Laksma. Mahan inilah nanti Lucia akan menggantungkan hidupnya.

Sekarang tibalah saat yang dinanti-nantikan. Pemecahan kendi, sekaligus untuk meresmikan KRI Antasena. Marching band pun memainkan lagu semangat ketika pejabat terhormat, yaitu Kasal Laks. Danoe Salampessy naik ke atas tangga untuk memecahkan kendi ke badan kapal selam yang baru itu. Lucia menyuruh para campers untuk tidak melewatkan momen ini, karena ini adalah momen paling sakral dari setiap peluncuran kapal baru. Laks. Salampessy pun sampai di atas dan akhirnya meraih sebuah kendi berisi air yang terikat dengan tali. Ia mengangkat kendi itu tinggi-tinggi dan disambut oleh tepuk tangan meriah semua orang, termasuk Lucia. Kemudian, dengan mantap ia pun mengayunkan kendi itu supaya menghantam badan kapal… namun…

“KLANG!!"

Semua terdiam. Lucia tidak percaya pengelihatannya, tapi kendi itu setelah meluncur dan menghantam badan kapal, bukannya pecah tapi malah hanya melenting saja dan cuma retak-retak. Meskipun bocor, kendi itu sendiri masih utuh. Laksamana Salampessy tampak terkejut dan tertunduk diam beberapa saat. Sementara itu di bawah, para pelaut yang akan menjadi awak kapal dari KRI Antasena melihat dengan tatapan mata ketakutan dan semua menelan ludah. Bisik-bisik pun terdengar di antara para peserta upacara. Lucia pun gemetaran karena ia tahu apa artinya ini. Erika langsung saja memegang tangan Lucia, dan baru menyadari bahwa Lucia tengah gemetar, dan sekejap saja Erika bisa merasakan bahwa itu adalah getaran rasa takut dan kekhawatiran.

“Ada apa?” tanya Erika lirih.

“Ini pertanda sial,” kata Lucia dengan nada ketakutan, 

“pelayaran ini dikutuk!”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...