Selasa, 29 September 2020

"LAUT BIRU" CHAPTER IX

War Plan

CHAPTER IX

War Plan



Sebelum melangkah lebih jauh, kita tinjau dulu kejadian yang terjadi pada Captain Artner dan HMAS Pitcairn selepas pertempuran dengan KRI Antasena. Hantaman dari torpedo Shkval memang tidak langsung menghancurkan HMAS Pitcairn, tapi akibatnya cukup parah. Kecepatan kapal melorot sehingga mirip seperti kapal pincang saja jalannya. Beberapa bagian lambung juga bocor sehingga air mengalir masuk ke dalam kapal dan membuat kecepatannya menjadi semakin payah.

Ledakan dari torpedo Shkval betul-betul hebat. Untung pada detik-detik terakhir HMAS Pitcairn melakukan belokan patah sehingga bisa terhindar dari impak ledakan, tapi tetap saja kekuatan ledakan torpedo itu membuat HMAS Pitcairn sampai terpelanting ke udara. Captain Artner berpikir, kapal lain yang lebih besar, ataupun kapten kapal yang tidak berpengalaman, pasti akan langsung musnah menghadapi Shkval. Bagaimanapun, belokan patah dan benturan ledakan tadi membuat struktur rangka HMAS Pitcairn menjadi “benar-benar patah” di beberapa bagian, karena konstruksi HMAS Pitcairn memang tidak diperuntukkan untuk melakukan manuver ekstrem semacam tadi.

Tanda bahaya api pun terdengar kembali. Semenjak tadi api memang belum bisa dikendalikan, dan sekarang sudah terlambat untuk itu. Awak kapal yang masih hidup pun diungsikan ke kompartemen kapal lain yang tidak terbakar. Kapal juga mulai oleng dan salah satu lambung kapal sudah berderak seolah ingin lepas. Dalam kondisi yang menyedihkan ini, Captain Artner memerintahkan kapal untuk jalan terus. Kalaupun harus tenggelam, maka Captain Artner ingin supaya kapal ini tenggelam di perairan Australia.

Satu jam kemudian, akhirnya kapal HMAS Pitcairn pun bertemu dengan kapal penyelamat, HMAS Carpentaria. Seluruh awak pun akhirnya dipindahkan ke HMAS Carpentaria termasuk Captain Artner dan Commander Hank Kelsey. Begitu semua selamat, tembakan meriam dari HMAS Carpentaria pun memberikan sebuah coup-de-grace kepada HMAS Pitcairn yang sudah amat sekarat. Seluruh awak diperintahkan untuk tutup mulut akan kejadian yang menimpa mereka, dan secara resmi, semuanya selesai.

Akan tetapi, tidak semua awak kapal HMAS Pitcairn diselamatkan oleh HMAS Carpentaria. Beberapa awak yang memang sudah lebih dahulu terjatuh ke laut, ditinggalkan begitu saja oleh mendiang HMAS Pitcairn, mengapung di antah berantah sebagai satu titik di Samudera Indonesia yang luas. Takdir kematian pun membayangi mereka, tapi karena suratan dari atas, mereka pun akhirnya diselamatkan oleh kapal penelitian RV Narwhall berbendera Australia. RV Narwhall ini saat itu tengah disewa oleh tim peneliti dari National Geographic untuk melakukan penelitian di Samudera Indonesia, dan dalam kapal itu turut pula beberapa wartawan lokal Australia.

RV Narwhall sebenarnya tertarik ketika melihat cahaya ledakan dari NASROC, sehingga memutuskan untuk menuju ke pusat cahaya. Dan dalam perjalanan itulah mereka menemukan sisa-sisa awak HMAS Pitcairn yang masih terombang-ambing. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh wartawan yang ikut dalam kapal itu untuk menanyai korban selamat. Para awak, yang memang belum mengetahui mengenai perintah tutup mulut, akhirnya bercerita kejadian yang terjadi setahu mereka, dan itulah asal muasal dari berita yang ditangkap oleh Nana. Pihak Angkatan Laut sendiri, setelah mengetahui rahasia mereka terbongkar, tentu saja amat gusar dan murka, tapi apa lacur? Yang bisa dilakukan oleh pihak Angkatan Laut, dibantu oleh Intelejen Australia, adalah "membatasi" perkembangan dari berita itu supaya publik Australia tak perlu tahu terlalu banyak. Para awak kapal yang terburu "bernyanyi" di media pun akhirnya ditahan di markas untuk mengurangi ketegangan. Tapi benarkah keadaan mereda?


Apartemen Tita dan Fendy
20.32 WIB
H minus 63:27.00


Tita masuk kembali ke apartemennya dengan langkah gontai. Hujan turun agak deras malam ini, dan suaminya, Fendy, tidak bisa menjemputnya, sehingga Tita terpaksa naik taksi. Mantel dan syal yang basah terkena hujan ia masukkan saja ke dalam keranjang cucian. Tidak ada waktu untuk mencucinya sekarang, jadi lain kali saja, begitu pikir Tita. Tidak ada kabar dari Anton, dan Tita semakin tidak bersemangat saja.

Fendy baru pulang setelah Tita selesai mandi. Tita menyambut kepulangan suaminya itu dengan sebuah pelukan dan ciuman mesra, tanpa terlebih dahulu melepas atau mengganti kimono mandi-nya. Tidak ada anak dalam keluarga ini, karena memang Tita memiliki masalah dalam rahimnya, yang membuat kemungkinan memiliki anak menjadi amat sangat kecil. Pun, Fendy tidak keberatan dengan hal itu. Mereka bahkan hendak mengangkat anak dari salah satu atau salah dua anak-anak malang yang terlantar tanpa orang tua. Sepertinya itu pilihan yang bijak, daripada memiliki anak sendiri dan menambah beban penduduk; begitu pikir mereka. Tapi kalau mereka mau melakukan itu, mereka harus mengurangi kebiasaan mereka pulang ke rumah malam-malam.

Tanpa buang-buang waktu, Fendy segera membopong tubuh istrinya itu dan menghempaskan diri mereka berdua ke sofa di depan televisi. Fendy selalu menyukai aroma tubuh istrinya yang segar sehabis mandi, dan Tita pun mengetahuinya, sehingga Tita sering berlama-lama mandi untuk menunggu suaminya pulang. Mereka lalu bercumbu dengan panasnya, yah, wajar saja, setelah beberapa tahun mereka menikah, tanpa memiliki anak, rasanya memang seperti pengantin baru setiap malam. Dan seks menjadi seperti menu wajib bagi mereka tiap malam.

“Kayaknya kita harus belajar ‘melambat’ deh… (ummph)… gimana nanti kalau bener kita punya anak…(ahh)…” kata Tita sembari mendesah, baju mandinya sudah lepas akibat cumbuan Fendy, dan kini ia benar-benar telanjang di hadapan suaminya.

“Ah… biarin aja,” kata Fendy sambil mencium leher Tita,

“tahu kan, gimana anaknya Anton…”

Tita tertawa kegelian. Fendy memang tahu bagaimana cara merangsang titik-titik sensitif di tubuh istrinya. Tita pun semakin tak berdaya dengan perlakuan Fendy, dan ia pun mulai melepas pakaian Fendy, sehingga akhirnya mereka sama-sama polos di atas sofa, yang entah sudah berapa ratus atau ribu kali menjadi saksi hidup keintiman suami-istri ini.

“Dasar nakal kamu…(errgh)… nggak bisa disamain dong…” kata Tita.

Tita tak bisa berkata apa-apa lagi, karena Fendy melumat mulutnya. Segala yang ada di pikirannya pun tiba-tiba hilang, dan sekarang yang ia pedulikan hanya untuk melayani suaminya ini, tidak ada yang lain. Pada saat puncak itulah…

“KRIING!!”

Telepon yang ada di dekat dengan mereka pun berbunyi. Dengan masih mencumbu suaminya, tangan Tita menggapai-gapai meja kecil yang terletak di sebelah sofa untuk mengangkatnya, tapi Fendy segera menahan tangan Tita itu.

“Fen… aku mau jawab,” kata Tita.

“Biarin aja napa sih? Nggak tahu orang lagi senang aja,” kata Fendy yang lalu kembali mencumbu istrinya itu.

“Sapa tahu penting…” kata Tita.

Tita pun lalu menggerakkan tangannya lagi, dan kali ini ia berhasil menggapai gagang telepon. Ia pun lalu berbicara, tapi tentu saja, di tengah-tengah percumbuan, kata-kata Tita diselingi dengan engahan dan desahan kecil; bukan hal yang sopan untuk didengar di telepon.

“Halo…” kata Tita sambil mencoba menahan desahan.

“Tita?”

Tita mengenal suara di seberang itu: Fitri. Fitri pun agak terkejut dengan nada Tita menjawab. Tentu saja Fitri tahu apa yang tengah dilakukan oleh Tita sekarang, di tengah suara-suara yang bisa membuat Fitri sendiri merinding. Sesaat, hampir saja Fitri mengira ia salah menelepon ke sebuah layanan phone-sex.

“Ada apa, Fit…” tanya Tita seolah tengah menahan sesuatu.

“Sialan kamu, Ta…” kata Fitri, “kamu belum liat TV, ya?”

“Be-lum…(arrgh)…” kata Tita tak bisa menahan desahannya lagi,

“Aku…lagi…sibuk…”

“Nggak peduli, kamu liat TV sekarang!” kata Fitri.

“Ada apa sih…” tanya Tita.

“Udah, liat aja,” kata Fitri,

“tapi bukan NewsTV, liat RTV,”

Kali ini Tita terkejut. Tidak biasanya Fitri menyuruh melihat stasiun TV lain. Ia pun lalu menepiskan Fendy sejenak, yang tentu saja ditanggapi Fendy dengan rasa penuh frustrasi.

“Ada apa?” tanya Tita, kali ini nada suaranya lebih normal.

“Udah selesai si Fendy nggenjotnya?” tanya Fitri,

“dah, cepetan liat TV tuh,”

Tanpa sebelumnya memakai pakaian dulu (maklum saja, rumah sendiri…), Tita mengambil remote control yang tergeletak dekat sofa itu dan segera menyalakan TV tepat pada stasiun RTV. Rupanya sedang ada Breaking News di RTV, dan Della, anchor RTV yang juga adalah mantan NewsTV, sedang membacakan berita. Penampilan Della sendiri, yang baru pindah beberapa bulan silam, tidak istimewa, tapi berita yang dibawakannya itu yang membuat Tita sontak seperti disambar petir.

“…indikasi kuat yang bisa kita ambil adalah bahwa KRI Antasena, yang merupakan kapal selam pertama buatan Indonesia, mengalami insiden pada saat pelayaran di Samudera Indonesia. Mengenai penyebab insiden tidak diketahui, namun sumber dari RTV mengindikasikan bahwa kapal selam KRI Antasena tengah diserang; nasib dari para awak kapal belum bisa diketahui apakah masih hidup atau sudah mati…”

Tita pun terpaku mendengar berita itu. Ia terduduk gontai, dan seluruh gairah yang tadi membara kini lenyap sudah. Gagang telepon itu bahkan terkulai jatuh ke lantai.

“…KRI Antasena membawa sekitar 200 awak kapal, dan turut pula di antara mereka adalah tim wartawan dari NewsTV. Sejauh ini belum ada berita dari NewsTV, padahal sumber dari RTV mengatakan bahwa kemungkinan insiden itu sudah terjadi pada satu atau dua hari lalu. Kami masih berusaha untuk berkoordinasi dengan pihak TNI AL juga menghubungi pihak NewsTV. Belum didapatkan statement resmi dari kedua belah pihak, sehingga menimbulkan pertanyaan, apakah NewsTV memang belum mengetahui mengenai insiden yang melibatkan reporter mereka, ataukah ada upaya untuk menutupi kejadian ini? Mungkin kejadian ini menjelaskan pula mengenai meningkatnya kegiatan di Istana dalam beberapa tempo berselang…”

Tita lalu mengusap mukanya dengan raut wajah menunjukkan ketakutan. Tita tahu tentu saja apa yang akan terjadi, dan apa yang ia hadapi. Jelas ini adalah sesuatu yang selama ini ia takutkan. Bahkan Fendy pun tampak bergidik dalam menyaksikan berita itu. Ia lalu duduk di samping Tita, lalu memberikannya sebuah pelukan yang hangat, sekedar untuk menguatkan Tita menghadapi badai yang akan menerpa.

Location Unknown
Time Unknown

Erwina terbangun sekali lagi, dan ia tak tahu apakah ini siang atau malam. Lampu besar masih saja menyala, sehingga membuat Erwina tidak bisa tidur. Kalaupun bisa tertidur, maksimal hanya selama satu jam saja, tidak lebih, itu pun tak nyenyak. Tubuhnya masih terikat telanjang di kursi ini tanpa bisa ia bergerak. Ini tentu saja cukup menyiksanya, karena tubuhnya menjadi sakit semua, dan kulitnya mulai terasa kering. Ikatan-ikatan di tangan dan kakinya pun meninggalkan bekas bilur yang cukup jelas. Cairan urine pun mengalir lagi dari kateter yang masih terpasang di lubang urine-nya. Entah berapa kali Erwina kencing tanpa ia bisa menyadari, karena setiap kandung kemihnya mulai penuh, pasti langsung mengalir lewat kateter. Bagian genital Erwina pun juga mulai pegal dengan kehadiran selang ini.

Tidak ada orang. Erwina selalu terbangun setiap kali pintu dibuka dan ada orang masuk. Ini pun membuat ia betul-betul tidak bisa tidur, sehingga makin lama ia pun makin stress karena kelelahan. Kursi yang ia duduki ini juga sama sekali tidak bisa ia gerakkan, sepertinya memang sengaja dipaku mati ke lantai. Setiap kali orang datang pasti hanya dua orang yang memberi Erwina minum dan makan (yang kali ini Erwina sudah amat kepayahan untuk menolak), atau Sang Pemimpin yang setiap datang selalu hanya diam saja sambil mengamati Erwina. Erwina pun punya dugaan, jangan-jangan, seperti halnya Sang Pemimpin, anak buahnya ini juga wanita semua. Tapi ia sudah terlalu payah untuk melakukan sebuah observasi.

Pintu kembali terbuka, dan kali ini kembali Sang Pemimpin yang masuk. Seperti biasa pula, ia segera mengambil kursi dan duduk sambil memperhatikan Erwina. Lama kelamaan, Erwina sudah mulai kehilangan rasa risih diperhatikan oleh Sang Pemimpin dalam keadaan telanjang seperti ini. Ia tidak punya pilihan lain, jadi ia tak peduli. Sang Pemimpin pun selalu hanya melihat. Erwina tidak bisa menentukan sinar matanya, karena selalu tertutup google. Berapa lama Sang Pemimpin tinggal di sini tidak tentu. Kadang hanya lima menit, kadang sampai satu jam, tapi yang manapun, selalu ia melakukannya tanpa membuka suara satu kata pun.

Sepuluh menit pun berlalu dan Sang Pemimpin masih duduk sambil memperhatikan Erwina, seolah ada hal menarik yang bisa diperhatikan selain daripada wujud seorang perempuan yang terikat di kursi, telanjang dan amat sangat menderita. Erwina sebenarnya berusaha untuk mengacuhkannya, tapi setiap kali ia melakukan itu, Sang Pemimpin selalu mengarahkan lampu besar menyorot ke wajahnya sehingga Erwina kesilauan. Nyala lampu itu baru disingkirkan setelah Erwina kembali mengikuti Sang Pemimpin padahal Sang Pemimpin juga cuma diam saja, siklusnya selalu seperti itu. Sepertinya kali ini juga akan sama, entah berapa lama lagi Erwina kuat menghadapi siksaan semacam ini.

“Kamu itu…siapa…” kata Erwina lemah.

Setiap kali ada orang yang datang, pasti Erwina berusaha mengajak untuk berbicara, tapi nihil. Tidak ada suara dari mereka, sehingga Erwina pun lama-lama menyerah juga. Entah kenapa pula kali ini ia kembali mengajak bicara, sebuah langkah yang sepertinya sia-sia. Atau tidak…

“Siapa kamu menganggap aku?” tanya Sang Pemimpin.

Erwina tentu saja kaget ketika dia mendapat jawaban. Akan tetapi otaknya sudah terlalu lelah untuk merespon dengan seharusnya.

“Apa?” tanya Erwina.

“Aku,” kata Sang Pemimpin,

“kamu anggap aku siapa?”

Suara Sang Pemimpin terdengar cukup dingin dan tanpa emosi sama sekali. Erwina jadi susah untuk menebak bagaimana sebenarnya karakter dari Sang Pemimpin ini. Akan tetapi jawaban tadi akhirnya mulai menggairahkan otak Erwina yang hampir-hampir “mati sinyal”.

“Sang Pemimpin…” kata Erwina.

“Jadilah,” kata Sang Pemimpin.

Kejadian selanjutnya membuat Erwina kembali tertegun. Sang Pemimpin membuka google-nya, sehingga terlihat bidang matanya. Cukup sampai di situ saja, tidak yang lain. Itu sudah cukup bagi Erwina untuk mengenali bahwa Sang Pemimpin adalah wanita. Mata adalah jendela jiwa, dan jika Sang Pemimpin membiarkan Erwina melihat matanya, pasti ada sesuatu.

“Lepaskan aku…” kata Erwina.

“Tidak,” balas Sang Pemimpin segera.

“Lepaskan aku! Kalau tidak…” kata Erwina lagi dengan nada tinggi.

“Rasanya saat ini kamu tidak dalam posisi untuk mengancam, Nona Erwina!” hardik Sang Pemimpin.

Erwina kembali bungkam. Nada suara Sang Pemimpin amat sangat menakutkan, apalagi tatapan matanya pun dingin juga, menunjukkan dinginnya hati yang ada di dalam. Ini membuat Erwina beringsut ketakutan. Bahkan tatapan mata Bu Sabrina, yang dianggap paling angker di NewsTV pun, tidak ada apa-apanya dibandingkan tatapan mata membekukan dari Sang Pemimpin ini.

“Kamu tidak akan bisa lolos gitu aja…” kata Erwina.

“Benarkah? Kamu tahu, Nona Erwina, membunuhmu sekarang adalah perkara yang mudah bagiku, dan aku akan dengan senang hati melakukannya,” kata Sang Pemimpin,

“dan tidak seperti Udin atau Munir, aku bisa membuat pembunuhan atas kamu tidak terlacak, atau bahkan mayat kamu tidak akan bisa ditemukan untuk selamanya… sungguh, bukan hal yang susah,”

“Tapi kamu tidak akan bisa mencegah kebenaran untuk terungkap…” kata Erwina.

“Kebenaran? Jangan berani bicara soal kebenaran padaku, karena kamu tidak pernah tahu kebenaran kecuali yang kami buat,” kata Sang Pemimpin,

“kalian para reporter adalah makhluk yang amat ajaib, penuh dengan hasrat dan rasa keingintahuan yang tinggi, selalu ingin mejelajahi masalah lebih dalam tanpa sebenarnya pernah mengetahui seperti apa wajah kebenaran yang asli itu,”

“Jadi kamu tahu?” tanya Erwina.

“Kami bermain dengan kebenaran setiap hari,” kata Sang Pemimpin,

“membuatnya supaya menjadi sesuatu yang lebih mudah bagi kalian para orang biasa bisa terima, menjadi yang kalian bisa tangkap dan siarkan dengan bebas; aku beri tahu sesuatu, Nona Erwina: aku tidak suka reporter, dan menjadi reporter tidak akan membuatmu kebal peluru, percayalah, aku pernah membuktikannya,”

Erwina semakin bergidik ngeri dengan perkataan Sang Pemimpin itu. Belum pernah dalam hidupnya ia merasakan ketakutan yang sebegitu besar akibat kehadiran satu orang.

“Lepaskan aku…” kata Erwina kali ini dengan nada lebih memelas,

“aku nggak salah apa-apa,”

“Masa? Kami menemukanmu berada di rumah Dr. Sedorenkov, di dekat tubuhnya yang bersimbah darah,” kata Sang Pemimpin,

“menurut kami, kamu pasti yang telah menembaknya,”

“Bukan aku!” kata Erwina, “kalian tidak menemukan senjata apa pun, kan?”

“Jangan naif, sekarang ‘senjata’ bisa saja dihancurkan dalam tempo singkat sehingga kami tak menemukannya,” kata Sang Pemimpin,

“dan itu bukan indikasi kalau kamu tidak bersalah,”

“Tolonglah… aku cuma berada di waktu dan tempat yang salah,” kata Erwina menghiba.

“Bisa jadi, bisa jadi juga tidak,” kata Sang Pemimpin,

“sayangnya kami tidak bisa melepasmu sekarang sampai kami yakin soal semuanya,”

Erwina pun gontai. Hampir saja ia menangis kalau saja ia tidak ingat masih berada di hadapan Sang Pemimpin, pun air mata masih menyelinap keluar dari ujung matanya. Ia pun sedikit menggigil.

“Kalau kamu kedinginan, kami akan menaikkan temperaturnya,” kata Sang Pemimpin,

“kami tidak ingin kamu mati terlalu cepat,”

“Tolong… beri aku pakaianku…” kata Erwina.

“Aku kira tidak, dengan telanjang begini, kami bisa yakin kalau kamu tidak sedang menyembunyikan apa-apa untuk membantumu melepaskan diri, kecuali mungkin kamu menyembunyikan sesuatu di balik lubang tubuhmu, tapi itu bisa kita cari,” kata Sang Pemimpin,

“dan kateter itu, katakan saja kami membantumu sehingga kamu tidak perlu bolak-balik pergi ke kamar kecil; banyak sekali kasus mereka yang mencoba melarikan diri dengan dalih pergi ke kamar kecil, lagipula kami tidak mau repot,”

“Lalu gimana kalau aku ingin lebih dari sekedar kencing?” tanya Erwina dengan nada sengit.

“Itu mudah,” kata Sang Pemimpin.

Sang Pemimpin pun lalu mendekat ke Erwina. Erwina tentu saja ketakutan setengah mati. Apalagi dia seperti membawa sesuatu di tangannya.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Erwina ketakutan.

Sang Pemimpin mengambil sebuah botol dari sakunya, sepertinya cairan pensuci hama. Ia pun mengoleskan cairan itu, bersama dengan gel lubrikan ke benda yang dibawanya. Erwina mengenali benda itu, itu adalah sebuah butt-plug, mirip katup untuk dimasukkan anus untuk mencegah kotoran keluar dari anus. Tentu saja ia takut sekali. Sekalipun sering bertindak “intim”, sekali lagi Erwina bukan penggemar sex anal, bahkan ia membencinya. Tidak dibayangkan benda itu, yang bagi Erwina terlhat cukup besar, akan dimasukkan di lubang pembuangannya.

Erwina mencoba berontak tapi tidak bisa. Kedua kakinya diikat membuka, sehingga mudah sekali untuk menemukan letak anus Erwina. Sang Pemimpin menelusupkan tangannya hingga ke belakang pantat Erwina, lalu dengan hanya satu tangan, Sang Pemimpin pun mengangkat pinggul Erwina ke atas setinggi yang ia bisa. Pinggul Erwina termasuk berkategori besar, dan pastinya berat, sehingga terbayang seperti apa kekuatan lengan Sang Pemimpin ini. Dengan telunjuknya, Sang Pemimpin pun menentukan letak lubang anus Erwina.

“Tahan…” kata Sang Pemimpin ringan saja.

“TIDAAA…..ARRGH!!!...” teriak Erwina.

Teriakannya pun segera tertahan oleh sebuah rasa sakit. Sang Pemimpin lalu menurunkan pinggul Erwina, sambil mengusap-usap pantat Erwina, memastikan piranti itu terpasang sempurna. Lalu ia mengambil sebuah botol semprotan, sepertinya berisi cairan pensuci hama pula, dan menyemprotkannya di area anus Erwina, yang kini sudah tertutup butt-plug dengan sempurna. Dengan sebuah kerlingan mata sinis, Sang Pemimpin meninggalkan Erwina sendiri, keluar dari ruangan. Sesaat kemudian, Erwina pun menangis.



Gedung NewsTV

07.21 WIB

H minus 52:39:00



Tita masuk ke kantornya lebih cepat pagi ini. Apa yang akan ia hadapi hari ini tergambar dengan jelas dari raut mukanya yang amat sangat tegang. Setelah RTV mengadakan Breaking News soal KRI Antasena, berturut-turut SunTV, BintangTV, DiamondTV, Kanal-1, dan GlobeChannel pun langsung rame-rame menyiarkan Breaking News serupa. Sepertinya mereka semua sudah mendapatkan bahan untuk Breaking News itu, hanya saja masih menunggu siapa yang akan memulai duluan. Tetap belum ada tanggapan dari NewsTV, dan ini yang membuat selama semalam NewsTV dicecar, apalagi bukankah tim reporter NewsTV ikut pula dalam pelayaran KRI Antasena?

Pihak NewsTV sendiri bingung dan terbagi dua, antara yang ingin menyiarkan Breaking News semua (di NewsTV disebut sebagai NewsBreak) atau tetap diam saja. Produser acara Morning News sudah menelepon Tita, meminta izin supaya berita ini bisa diangkat di Morning News, tapi Tita tetap belum mengambil keputusan. Situasi pun semakin kalut, apalagi para reporter mengambil sikap untuk tidak keluar, takut apabila nanti di luar mereka ditanyai soal ini, padahal mereka tidak tahu apa-apa. Kalau ini terjadi dan dibiarkan, pastinya NewsTV bakal kolaps, karena di pundak reporter-reporter inilah bisnis NewsTV bisa dijalankan. Bahkan para kontributor pun sudah menelepon kantor pusat, meminta kejelasan soal ini.

Para reporter dari TV lain pun berkerumun di depan pagar kantor NewsTV. Sampai-sampai tim keamanan NewsTV kewalahan menghadapinya. Mobil-mobil dari pejabat NewsTV maupun para tamu pun nyaris tidak bisa masuk gara-gara itu. Bahkan Pak Surya, Pimpinan Umum NewsTV, untuk pertama kalinya sampai meminta sebuah helikopter untuk menjemputnya.

Di dalam kantor sendiri, setiap orang yang berpapasan dengan Tita selalu bertanya soal apa yang harus dilakukan, tapi Tita berjalan terus. Ia tidak langsung masuk ke kantornya, karena ada perintah dari Bu Sabrina untuk langsung menghadap sesampainya Tita di NewsTV.

“Apa ini semua!?” tanya Bu Sabrina sambil membanting koran pagi di hadapan Tita, sesampainya Tita di ruangan Bu Sabrina.

Berita di koran pagi pun setali tiga uang. Semua koran bahkan memasang berita mengenai KRI Antasena di Headline. Selain menyoroti masalah KRI Antasena, ketertutupan NewsTV pun menjadi bahasan pula di sana. Tita gemetaran, karena tahu bahwa saat ini Bu Sabrina sedang murka. Hanya kesabaran saja yang bisa menahan Bu Sabrina supaya tidak meledak. Tita tahu, bahwa ketika Bu Sabrina marah, dia bisa berbuat apa saja, bahkan pernah Bu Sabrina memecat dua orang produser senior, pemegang dua berita utama, hanya gara-gara sebuah kesalahan sepele.

“Beri aku satu alasan kenapa aku tidak langsung memecatmu saat ini juga!” kata Bu Sabrina pada Tita.

Tentu saja perkataan ini membuat Tita semakin drop.

“Ini…bukan kesalahan saya…” kata Tita takut-takut.

“Lalu salah siapa?” tanya Bu Sabrina,

“itu tipikal jawaban seorang pengecut yang menolak untuk mengambil tanggung jawab, dan aku tidak mau ada seorang pun pengecut di lineup-ku,”

“Fitri sudah mengatakan supaya…” kata Tita.

“Jadi semua itu Fitri?” potong Bu Sabrina.

Tita tidak menjawab, bahkan tidak berani untuk mengangguk.

“Siapa officer-in-charge saat ini, kamu atau Fitri?” tanya Bu Sabrina.

“Euh… saya, Bu,” kata Tita.

“Jadi siapa yang BISA mengambil keputusan, kamu atau Fitri?” tanya Bu Sabrina lagi.

Kali ini Tita tidak bisa menjawab.

“Tampaknya Fitri hebat betul bisa mengambil keputusan, sementara kamu sebagai second-in-command, officer-in-charge, tidak…” kata Bu Sabrina,

“secepatnya bereskan semua kekacauan ini,”

“Tapi Bu… bagaimana caranya?” tanya Tita.

“Tanya saja sama Fitri,” kata Bu Sabrina,

“bukankah dia yang lebih hebat, bukan kamu?”

Tita tertegun saja dan hanya tertunduk.

“Kenapa kamu masih di sini!?” tanya Bu Sabrina,

“pergi sana! Aku sudah cukup melihat wajah kamu pagi ini… KELUAR!”

Tita menelan ludah, lalu ia segera berbalik dan meninggalkan ruangan Bu Sabrina dengan langkah gemetaran. Begitu ia keluar, ia pun menyandarkan diri di tembok dan mulai menangis tersedu-sedu, sebelum akhirnya berlari pergi. Sekretaris Bu Sabrina hanya melihatnya saja dengan acuh, seolah bahwa orang menangis setelah keluar dari ruangan Bu Sabrina adalah hal yang cukup biasa.

Telepon di meja sekretaris pun berbunyi, dan sekretaris itu segera mengangkatnya. Dari Bu Sabrina, tentu saja.

“Ada apa, Bu?” tanya sekretaris.

“Panggil Fitri ke sini,” kata Bu Sabrina,

“sekarang,”

“Baik, Bu Sabrina,” kata sekretaris itu.


08.03 WIB

H minus 51:57:00


Fitri datang ke ruangan Bu Sabrina dengan segera. Untuk ini memang Fitri tak berani lalai. Seberapapun tak setujunya dia dengan metode pendekatan yang selama ini diterapkan oleh Bu Sabrina, Fitri tetap tunduk kepada Bu Sabrina sebagai bawahan terhadap atasan. Lagipula, Fitri bisa menduga apa yang akan dikatakan.

“Duduk!” perintah Bu Sabrina tanpa banyak buang waktu setelah Fitri masuk ruangan

Fitri pun segera duduk di hadapan Bu Sabrina, sambil berharap-harap cemas akan apa yang akan dikatakan selanjutnya.

‘Sudah waktunya,” kata Bu Sabrina,

“ingat apa yang aku katakan waktu itu?”

“Tapi Bu Sabrina, bisakah Anda memberi waktu lagi untuk Tita?” tanya Fitri.

“Tidak,” kata Bu Sabrina.

“Sejauh ini dia belum melakukan apa-apa,” kata Fitri,

“setidaknya beri kesempatan, pergantian posisi dalam tempo sebegini singkat bisa membingungkan yang lain,”

Bu Sabrina berpikir sejenak.

“Dia punya waktu sampai jam 10 pagi ini,” kata Bu Sabrina,

“untuk melakukan dan mengambil keputusan eksekutif, tentunya,”

“Terima kasih, Bu Sabrina,” kata Fitri lega.

“Tanpa kamu harus membantunya,” kata Bu Sabrina melanjutkan.

“Eh, apa?” tanya Fitri sontak terkejut tiba-tiba.

“Kamu dengar kataku, kan? Kamu tidak boleh membantunya mengambil keputusan atau apapun,” kata Bu Sabrina,

“dan kalau kamu melanggar, kamu boleh lupakan semua yang kita bicarakan,”

Fitri terdiam saja. Tadinya, untuk menyiasati rencana Bu Sabrina pada Tita, Fitri berniat melakukan sebuah “bantuan dari belakang” terhadap Tita. Ini akan bisa membuat Tita bisa diselamatkan di posisinya, karena setidaknya yang terlihat Tita akan bekerja dengan baik.

“Kalau begitu saya permisi dulu,” kata Fitri bangkit dari tempat duduknya.

“Kata siapa kamu boleh pergi, Nona Fitri?” hardik Bu Sabrina,

“duduk!”

“Tapi, Bu…” kata Fitri.

“Cuma dengan cara ini aku yakin kalau kamu tidak akan membantu Tita,” kata Bu Sabrina,

“duduk!”

Sambil menggerutu, Fitri pun segera duduk kembali, kali ini di sofa yang ada di dalam ruangan Bu Sabrina.

“Taruh ponselmu di atas meja,” kata Bu Sabrina lagi,

“semuanya,”

Fitri segera bangkit, mengeluarkan dua buah ponselnya dan meletakkannya di hadapan Bu Sabrina, lalu duduk kembali. Bu Sabrina tentu cukup pintar untuk bisa menebak apa yang sebenarnya direncanakan oleh Fitri. Dengan menahan Fitri di sini, juga menahan ponselnya, maka Bu Sabrina memastikan bahwa Fitri tidak akan membantu Tita dengan cara apapun. Kini, hal soal Tita harus diselesaikan oleh Tita sendiri. 

Semua permasalahan internal di NewsTV bermula saat posisi Pemimpin Redaksi masih dipegang oleh Pak Andi. Saat itu Bu Sabrina baru saja kembali setelah tugas belajar selama 2 tahun di Amerika Serikat. Bu Sabrina, dalam sekilas pandang, adalah orang yang keras, arogan, dan, bagi kebanyakan orang, cukup dingin dan kejam. Kepulangan Bu Sabrina kembali tentu saja membuat semua orang di NewsTV menjadi ngeri. Bu Sabrina, sebelum ini, memang tak pernah menjadi sosok populer di NewsTV. Terhadap kawan atau sekutunya sekalipun, Bu Sabrina sering bersikap keras, lebih-lebih pada orang yang tidak ia suka. Bagi mereka yang tidak mendapatkan respek dari Bu Sabrina, maka hari-harinya di NewsTV bakal bisa dihitung dengan jari. Orang bahkan lebih takut kepada Bu Sabrina daripada dengan Pak Andi.

Kepulangan Bu Sabrina ini lalu menyulut adanya dua kubu dalam NewsTV, yaitu kubu Pak Herry, saat itu menjabat sebagai Produser Eksekutif, dan kubu Bu Sabrina, yang adalah Wakil Pemimpin Redaksi. Pak Herry adalah mantan atasan Anton ketika Anton masih di editing, dan satu-satunya orang yang berani melawan Bu Sabrina secara frontal. Bedanya, Pak Herry lebih oportunis dan membumi, sehingga di kalangan awam NewsTV, ia lebih mudah mendapatkan atensi. Friksi yang ada di antara kedua kubu itu cukup tajam, dan hingga sekian waktu lamanya, mengendap di NewsTV seperti bara dalam sekam. Banyak sekali orang-orang NewsTV yang terjepit di antara konflik kedua kubu ini, antara lain adalah reporter dan presenter, serta Anton, yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala Tim Editing, sepeninggal Pak Herry.

Adalah sikap netral yang diambil Anton, yang membuat orang-orang di kedua kubu menjadi tidak menyukai Anton, terutama dari kubu Pak Herry. Semua orang tahu bahwa Anton dan Tita adalah anak didik dari Pak Herry, sehingga mereka mengharapkan Anton lebih berpihak pada Pak Herry, bukannya malah netral. Di lain pihak, fakta bahwa Anton merupakan anak didik Pak Herry pun membuatnya menjadi sasaran juga dari kubu Bu Sabrina. Akan tetapi, keteguhan Anton dalam memegang netralitasnya kemudian mendapat respek dari Bu Sabrina, tapi tentu hanya secara pribadi. Akibat dari friksi yang semakin mengeskalasi, Anton pun pernah dicopot dari jabatannya lalu “dibuang” menjadi Kepala Divisi Library NewsTV.

Bu Sabrina lalu memberi Anton kesempatan untuk kembali ketika produser kepala program News Today, yang saat itu masih dipegang oleh orangnya Pak Herry, dipecat karena membuat sebuah kesalahan fatal. Posisi itu pun lalu diberikan kepada Anton, sebuah posisi yang amat sangat menentukan, karena ini sebenarnya adalah pertaruhan terakhir dan terbesar dari Bu Sabrina. Anton saat itu bukanlah seorang produser dan produser yang lain (yang sebenarnya dianggap lebih mampu) seluruhnya dikuasai oleh Pak Herry. Anton menjalankan tugasnya itu dengan amat baik, dan dengan begitu memperkuat posisi Bu Sabrina.

Puncak dari semuanya adalah ketika Pak Andi memutuskan mundur sebagai Pemimpin Redaksi, yang tentu saja posisi yang kosong itu diperebutkan antara Pak Herry dan Bu Sabrina. Dalam sebuah pemilihan yang dramatis, Anton pun akhirnya melepaskan kenetralannya dan memihak pada Bu Sabrina, sehingga Bu Sabrina unggul satu suara atas Pak Herry dan menjadi Pemimpin Redaksi NewsTV. Pak Herry, atas kesepakatan sebelumnya, pun akhirnya mengundurkan diri dari NewsTV; dengan begitu, suara Anton mengakhiri perpecahan dua kubu yang selama ini menghantui NewsTV.

Banyak yang bilang Anton melakukan itu sebagai balas budi pada Bu Sabrina, tapi mereka yang mengenal Anton tahu bahwa dalam jangka panjang, Anton melihat visi Bu Sabrina lebih sesuai dengan impiannya akan NewsTV ideal. Anton memang sudah mengagumi NewsTV semenjak belum bekerja di sana. Saat itulah dia memiliki semacam ekspektasi ideal akan bagaimana NewsTV ini seharusnya. Idealisme ini tidak mati setelah Anton bekerja di sana; hanya saja, seiring dengan langkah Pak Herry dalam membuat manuver (yang sedemikian sudah mulai terlibat friksi dengan Bu Sabrina), Anton pun melihat bahwa Pak Herry seolah sudah mulai semakin menjauh dari idealisme tersebut. Justru kepada Bu Sabrina lah, Anton menemukan visi tentang idealisme itu, tapi ini baru diperoleh dengan jalan yang keras, karena memang semenjak awal hubungan antara Anton dengan Bu Sabrina lebih sering diwarnai konflik yang sering berlangsung dengan cukup keras.

Oleh karena itu, tanpa memandang semua konfliknya dengan Bu Sabrina, “demi menyelamatkan idealisme NewsTV” maka Anton pun memilih Bu Sabrina. Uniknya, hubungan antara Anton dan Bu Sabrina tidak juga membaik pasca pemilihan itu. Anton masih saja sering membandel dan lebih mengutamakan caranya sendiri, sementara Bu Sabrina sering sekali marah-marah dan memaksakan kehendaknya pada Anton, dan konflik antara keduanya juga tidak pernah menurun. Namun di antara keduanya ada rasa saling respek, sehingga sebandel apa pun Anton, Bu Sabrina masih bisa tetap yakin bahwa semua tugas aman. Ini jelas berbeda dengan, katakanlah, konflik Bu Sabrina dengan Pak Herry dulu.

Tapi apakah permasalahan dualisme itu usai begitu saja? Tidak juga. Ada orang-orang bekas “pengikut” Pak Herry yang masih ada di NewsTV. Dengan perginya Pak Herry, orang-orang ini kehilangan pimpinan dan inisiatif gerakan, tapi secara individu toh mereka masih saja memelihara “bara dalam sekam”, warisan “Perang Dingin”. Tadinya Bu Sabrina hendak melakukan “pembersihan” atas orang-orang ini, tapi rencana itu dicegah oleh Anton. Alih-alih, mereka malah diberi amnesti, juga atas permintaan Anton. Beberapa juga bekerja di bawah Anton sekarang. Sebagian besar dari mereka pun akhirnya luluh dan menerima untuk hidup “di bawah satu langit”, tapi segelintir yang lain, tetap tidak melupakan “dendam lama”. Mereka hanya diam, bekerja, bersembunyi, hingga ada kesempatan untuk membalas “musuh-musuh” lama mereka.

Dan di mata Fitri, kepergian Anton ini adalah saat yang tepat untuk “pembalasan” itu. Bu Sabrina sendiri tentu lebih suka menunggu mereka membuat “gerakan”, karena saat itu akan lebih mudah untuk melancarkan “pembersihan”. Tapi kalau memang ini yang terjadi, Anton lah yang akan menjadi korban. Oleh karena itu, tujuan Fitri semata-mata adalah mencegah supaya hal ini tidak terjadi, dan Anton tidak menjadi “korban” dari pihak manapun. Dia akan menyelamatkan Anton, meski untuk itu harus mengorbankan Tita. Dari awal memang Fitri lebih setuju dengan cara Bu Sabrina untuk “membersihkan sampai tuntas”; dan ia menilai bahwa Anton adalah orang yang terlalu baik untuk menyadari bahwa ia tengah menimbun sebuah bom waktu.



Samudera Indonesia
Kedalaman 200 meter
08.19 WIB
H minus 51:31:00



Kapal KRI Antasena sekarang lebih muram dari beberapa waktu lalu berselang, sebelum terjadi pertempuran. Bayang-bayang kematian pasti pun menggelayut di atas kepala semua orang yang ikut dalam pelayaran ini. Pun awak kapalnya masih giat bekerja dengan gembira. Kalaupun mereka mati, sebaiknya menghadap Tuhan dengan senyum ceria, begitu kata mereka. Menakjubkan, bahwa di tengah keadaan yang muram, disiplin masih juga terjaga. Namun memang tidak banyak tugas lagi yang bisa dilakukan, jadi rata-rata mereka pun bersiap untuk melakukan apa yang akan mereka lakukan sebelum mati.

Makanan yang terhidang di meja sekarang rata-rata adalah makanan-makanan yang enak. Hidup ataupun mati, tidak ada gunanya membiarkan bahan makanan menumpuk di gudang pendingin, jadi koki diperintahkan menyediakan makanan seenak mereka bisa. Toh walaupun enak, tetap saja ketika dimakan ada masih seperti ada sesuatu yang mengganggu di tenggorokan. Jelas saja, sensasi mendekati mati pastinya mempengaruhi rasa makanan yang menempel di lidah.

Lucia makan dengan perlahan di dapur kapal selam. Para koki memang berbaik hati membiarkan Lucia ke dapur. Sekalian dia juga bisa ikut-ikut masak, daripada di anjungan dia jarang ada kerjaan. Masakan Lucia memang cukup enak, dan kalau biasanya di rumah hanya Anton dan Lani yang memujinya, kali ini seisi kapal pun memuji rasa masakan Lucia. Lucia teringat, kalau istri Anton yang terdahulu, Wina, juga pintar masak, tapi Anton sama sekali tak pernah membandingkan antara keduanya.

Memakan ini, Lucia pun jadi teringat rumah. Bagaimana keadaan Anton dan Lani sekarang? Siapa yang akan memasak untuk mereka. Anton hanya jago memasak makanan instan, lalu kalau nanti Lucia tidak berhasil diselamatkan, apa Lani bakal tumbuh hanya memakan makanan instan? Kasihan juga Lani. Mungkin ada Fiona yang sering memasak pada saat Lucia tidak ada, tapi apa mungkin mengandalkan makanan kiriman dari Fiona saja? Semenjak menikah dengan Anton, Lucia memang sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk mengurus Lani seperti anak kandungnya. Meskipun mungkin ia tidak akan melahirkan anak dari rahimnya sendiri, bagi Lucia, memiliki Lani adalah the next best thing. Lani pun sayang kepada Lucia seperti halnya pada ibunya sendiri, lalu apakah Lani harus sekali lagi kehilangan ibu justru pada saat dia belum lama mendapatkannya kembali?

Bagaimana pula dengan Anton? Kehilangan istri lagi untuk yang kedua kali? Apakah kali kedua ini Anton bakal sanggup menghadapi kesendiriannya yang, padahal belum terlalu lama mereka menikah? Satu hal yang Lucia pelajari dari pernikahannya yang masih hijau dengan Anton, adalah bahwa Anton paling tidak tahan kalau harus berpisah lama dengan istrinya, dan ini adalah untuk pertama kali bagi mereka berdua. Mengingat itu, Lucia kembali jadi tidak nafsu makan. Lucia tidak mengetahui bahwa pada satu saat, Anton berada tidak jauh darinya, terpisah hanya beberapa ratus meter kedalaman.

Ketel pun berbunyi, tanda air panas telah jadi. Lucia tersadar dari lamunannya, dan tahu-tahu dua gelas kopi panas sudah disodorkan ke hadapannya. Lucia agak kaget menerimanya, sementara kelasi dapur yang memberikannya juga tampak kebingungan.

“Kopinya sudah jadi,” kata kelasi dapur itu.

“Oh iya…ya…” kata Lucia sambil segera menerima kedua gelas kopi yang ditempatkan di gelas tahan panas.

“Jangan kebanyakan ngelamun, Mbak, nanti kesambet ama Nyi Roro Kidul lho, kan kita di Laut Selatan,” pesan kelasi dapur itu.

“Yah, makasih…” kata Lucia sambil tersenyum.

Lucia lalu membawa kedua gelas kopi itu keluar. Tentu saja kedua gelas kopi itu bukan untuknya, terlalu banyak untuk itu. Lagipula Lucia bukan penggemar kopi hitam, ia lebih suka kopi susu atau pakai krimer, atau malah kopi khusus buatan suaminya. Anton di NewsTV memang dikenal sebagai peracik kopi handal. Kedua kopi ini adalah untuk Reza dan Sersan Andre yang bekerja semalaman untuk memperbaiki alat sonar.

Anjungan sudah lebih bersih sekarang, berkat kelasi-kelasi yang bekerja dengan giat. Lebih nyaman untuk dilihat dan ditempati, meskipun dengan matinya sistem, maka ini tak lebih hanya sebagai ruang umum belaka. Reza tergeletak di lantai anjungan dengan wajah damai dan nafas yang teratur, sementara Sersan Andre masih berkutat dengan perbaikannya. Bahkan montir sekalipun perlu tidur, sehingga antara Reza dan Sersan Andre lalu membuat pengaturan tidur supaya mereka berdua tidak sama-sama kepayahan.

“Sersan, nih saya bawakan kopi,” kata Lucia sambil memberikan satu gelas pada Sersan Andre.

“Oh iya, terima kasih, Nona,” kata Srs. Andre dengan gembira menyambut kopi itu, yang memang ia butuhkan saat ini.

“Gimana perbaikannya?” tanya Lucia.

“Cukup bagus, memang kami masih menduga-duga letak kerusakan, tapi paling tidak kita sudah tahu bagaimana cara sonar ini bekerja,” kata Srs. Andre.

“Bagaimana?” tanya Lucia ingin tahu.

“Jadi kapal selam ini memiliki semacam sistem ‘gerbang’ untuk memfilter setiap suara yang berasal dari dalam, sehingga tidak semua suara bisa keluar dari kapal selam dan terdengar oleh orang lain di luar,” kata Sers. Andre,

“ini adalah sistem pengelakan pasif, yang tercanggih yang pernah saya pegang, sekaligus yang paling rumit; dan sonar aktif pun terhubung juga pada ‘gerbang’ ini,”

“Lho, kalau ada gitu, lalu gimana caranya sonar bisa keluar?” tanya Lucia.

“Nah, ‘gerbang’ itu diset supaya hanya bisa dilalui oleh suara dengan tingkat timbre, frekuensi, modulasi, dan tempo tertentu; kami sekarang sedang mencoba mengisolasi jenis apa yang diizinkan oleh gerbang ini; tapi ternyata ini ditulis dengan display oscilasi yang kami tidak mengerti,” kata Srs. Andre.

“Lalu bagaimana?” tanya Lucia.

“Tenang saja, ada semacam mesin oscilasi di sini, yang tampaknya sebagai piranti sambungan dari panel. Jadi ketika tombol ‘ping’ di panel ditekan, sinyal listrik akan masuk ke mesin oscilasi ini dulu dan menghasilkan suara ‘ping’ dengan tipe yang sama seperti akses keluar dari gerbang,” kata Srs. Andre lagi,

“mesinnya sendiri masih baik, hanya saja sambungan dari mesin ke ‘gerbang’, sama dari panel ke mesin, terputus, dan kami masih berusaha cari tahu jalan-jalan mana saja yang harus disambungkan secara online,”

“Cuma itu saja, memangnya?” tanya Lucia.

“Memang sih, hanya saja ini kayak dokter lagi operasi saraf; sambungannya harus tepat,” kata Srs. Andre,

“soalnya kalau salah sambung, bisa-bisa malah mesin oscilasi-nya yang remuk karena sinyal listrik yang salah alamat; makanya itu tiap sambungan kudu dicek dulu supaya yakin kalau itu bener; itu lho, yang lalu bikin lama,”

Lucia hanya manggut-manggut saja. Ia memang tidak mengerti betul masalah elektronika, tapi setidaknya dia bisa menangkap apa yang coba dikatakan oleh Sersan Andre.

“Maaf, mungkin agak lancang yah,” kata Lucia,

“tapi bisakah sistem ‘gerbang’ ini dilepas?”

Sersan Andre terkejut sekali mendengar perkataan Lucia itu. Yah, memang akan wajar saja bagi orang awam untuk menanyakan hal semacam itu. Kalau saja sistem itu dilepas, maka tidak perlu terlalu repot-repot kan, untuk memperbaiki alat sonar? Karena dengan begitu, maka kapal dari luar akan bisa mendeteksi keberadaan KRI Antasena dengan cepat, termasuk juga oleh kapal KRI Ternate dan KRI Harimau yang pada suatu saat, betul-betul berada tidak jauh dari mereka.

“Karena sistem ini tidak bisa dilepas dan hanya bisa dimatikan ketika kita mengaktifkan program penghancuran diri, Nona Lucia,” kata Laksma. Mahan tiba-tiba.

Lucia agak kaget juga mengetahui bahwa pembicaraannya dengan Sersan Andre dari tadi sudah didengar oleh Laksma. Mahan.

“Anda tahu, Laksamana?” tanya Lucia.

“Boleh dibilang begitu,” kata Laksma. Mahan,

“sebelum memimpin kapal ini, saya sudah mendapat taklimat terperinci apa yang harus saya ketahui,”

“Lalu bagaimana?” tanya Lucia.

“Setelah tombol penghancuran diri ditekan, maka semua sistem otomatis akan mati; semuanya, termasuk sistem countermeasure, senjata, navigasi, bahkan atmosfer; satu-satunya yang tidak mati hanyalah sistem untuk emergency ballast blow,” kata Laksma. Mahan,

“logikanya, ada waktu sekitar 3 menit setelah tombol ditekan untuk mengevakuasi seluruh awak kapal; jadi sebelum tombol itu ditekan, semua awak harus sudah siap di koridor evakuasi. Hanya butuh waktu sekitar 10 detik dari kedalaman ini untuk naik ke permukaan lewat ballast blow, dan seluruh awak juga sudah dilatih untuk evakuasi keluar dalam waktu kurang dari 2 menit; jadi logikanya awak masih bisa diselamatkan,”

“Lalu kenapa tidak dilakukan seperti itu?” tanya Lucia.

“Seandainya saja Anda lupa, Nona Lucia, mekanisme ballast blow kita tidak berfungsi,” kata Laksma. Mahan,

“dan tidak mungkin melakukan perbaikan pada saat ini, di sini… ini bukan jenis perbaikan yang bisa dilakukan sambil jalan,”

Lucia tercenung. Betul juga, ia lupa kalau sistem “tiup” dalam kapal selam ini tidak berfungsi. Dari semua sistem yang rusak, rata-rata justru adalah sistem yang vital.

“Kalau Anda mau tahu apa yang terjadi dalam penghancuran diri ini, bisa saya uraikan singkat: jadi beberapa lubang palka akan membuka, dan ini secara otomatis akan memasukkan air laut ke dalam kapal selam, dan kapal akan tenggelam dengan cepat,” kata Laksma. Mahan,

“mekanisme penghancuran diri berikutnya akan diaktifkan setelah kapal selam ini mencapai kedalaman sekitar 300-330 meter atau setelah lambung kapal mulai pecah karena tekanan air; ratusan bahan peledak skala sedang telah disebar merata di seluruh tubuh kapal selam dengan masing-masing diaktifkan secara mandiri oleh sensor di setiap sektor… peledak-peledak ini akan memastikan bahwa semua reruntuk kapal akan berukuran tidak lebih besar dari diameter 2-inchi saja,”

“Karena ledakannya kecil, di kedalaman yang jauh, jadi awak di atas yang tengah evakuasi tidak akan terkena dampaknya, begitu?” tanya Lucia.

“Sudah dicoba, dan memang kenyataannya seperti itu,” kata Laksma. Mahan,

“ledakan kapal selam tidak akan melukai awak yang sudah menyelamatkan diri di permukaan,”

“Bagaimana kalau misal kedalaman lautnya tidak ada 300 meter, misalnya seperti di perairan litoral?” tanya Lucia.

“Mekanisme waktu dan gerakan,” kata Laksma. Mahan,

“jadi jika sensor menangkap bahwa gerakan turun kapal selam berhenti, juga akan memicu terjadinya ledakan; meskipun kalau ledakan terjadi kurang dari 200 meter, maka akan berbahaya bagi awak yang di atas,”

“Mengapa sistem penghancuran diri ini sampai dibuat sebegitu rupa, Laksamana?” tanya Lucia menyelidik.

Laksma. Mahan terdiam sejenak. Ini adalah pertanyaan wajar yang akan disampaikan oleh orang, apalagi dari seorang jurnalis seperti Lucia. Jika ini hanya kapal selam biasa, mengapa harus ada sistem penghancuran diri segala? Atau, adakah sesuatu yang disembunyikan dalam kapal ini? Sesuatu yang amat sangat berbahaya apabila jatuh ke tangan orang lain? Lucia bukan jurnalis yang bodoh-bodoh amat dalam soal ini, sedikit banyak suaminya sudah mengajarinya berbagai hal penting yang patut ia ketahui.

“Mari, akan aku tunjukkan,” kata Komodor Mahan.

Lucia segera mengikuti Komodor Mahan sambil tak henti-hentinya berpikir. Masalah mengenai ‘gerbang’ yang bisa memfilter suara itu bukan barang baru. Lucia pernah mendengar mengenai kapal selam tempur Russia dari kelas Severodvinsk yang super senyap ketika di bawah air. Amerika Serikat pun juga mengembangkan kapal selam kelas Virginia yang juga cukup senyap. Mungkin yang rahasia adalah sistem yang memungkinkan pembelokan sonar aktif, mengingat hingga saat ini belum ada yang mampu mengecoh ping dari sonar aktif, seberapa canggih pun kapal selamnya. Betul sekali, sistem ini memang berbahaya apabila sampai jatuh ke tangan lawan. Akan tetapi, apa cuma itu saja? Ini yang membuat Lucia ragu.

Mereka berdua pun sampai di depan pintu ruang mesin. Pintu ini selalu tertutup sepanjang Lucia dan timnya berada di kapal ini. Boleh dibilang, dari semua kebebasan yang diberikan oleh Laksma. Mahan kepada tim dari NewsTV, ruang mesin tetap tidak boleh diintip.

“Di sini?” tanya Lucia.

“Betul,” jawab Laksma. Mahan.

“Aku kira rahasianya ada pada sistem pengalih sonar aktif,” kata Lucia.

“Iya, memang itu juga salah satu rahasia kami,” kata Laksma. Mahan,

“tapi bukan yang paling besar: Amerika Serikat dan Russia saat ini tengah mengembangkan teknologi serupa, dan apabila mereka menginginkan, mereka pasti akan melacaknya ke satu sama lain,”

“Jadi, rahasia terbesarnya apa?” tanya Lucia.

"Sebelumnya kau harus bersumpah apa pun yang akan kau lihat dan dengar di sini tak boleh kau bocorkan pada siapa pun," kata Laksma. Mahan,

"termasuk suamimu, bahkan teman-temanmu di sana,"

"Aku bersumpah," kata Lucia sambil mengangkat telapak tangannya.

Laksma. Mahan lalu membuka pintu ruang mesin, kemudian mereka berdua segera masuk. Tidak seperti tempat lain yang nyaman, ruang mesin ini panas dan berbau minyak serta oli. Ada juga beberapa kelasi yang berjaga di sana, dan mereka segera menghormat mengetahui Laksma. Mahan tiba.

Seperti lazimnya kapal selam diesel, ruang mesin dibagi menjadi dua, yaitu antara ruang untuk menempatkan mesin diesel dan ruang untuk menempatkan motor listrik lengkap dengan baterainya. Lucia kali ini memasuki ruangan untuk mesin diesel. Ada sekitar 6 buah mesin di sana, tapi tidak beroperasi karena takut residunya bakal mencemari udara. Akan tetapi ada sebuah piranti yang, anehnya, tetap beroperasi, dan piranti ini seolah terhubung dengan semua mesin diesel, lalu menuju ke shaft propeller. Jadi keenam mesin diesel ini tidak langsung menggerakkan baling-baling melainkan terhubung dahulu dengan piranti yang aneh ini.

“Itu apa?” tanya Lucia sambil menunjuk ke arah piranti aneh yang tetap bekerja itu.

“Ini adalah generator air,” kata Laksma. Mahan,

“generator ini membantu kerja mesin diesel,”

“Mustahil… jadi maksud Anda ini adalah…” kata Lucia.

“Iya, ini adalah purwarupa untuk pembangkit energi biru,” kata Laksma. Mahan.

Lucia tentu saja kaget setengah mati. Selama ini piranti semacam ini hanya dijumpai dalam skala kecil dan biasanya dipasang di mobil atau motor untuk menghemat pemakaian bahan bakar. Baru kali ini Lucia melihat alat itu dibuat dalam skala besar dan digunakan untuk menggerakkan kapal dengan ukuran sebesar ini.

“Berapa besar daya yang dibantu oleh generator ini?” tanya Lucia.

“Sekitar 70% tenaga sudah bisa dibantu oleh generator ini,” kata Laksma. Mahan,

“ini jauh lebih besar daripada generator yang biasa Anda lihat di mobil atau motor yang hanya bisa membantu 30% daya,”

“Apa?? 70%??” tanya Lucia makin kaget.

“Anda mungkin tidak tahu, Nona Lucia, tapi sebenarnya Indonesia telah mengalami kemajuan yang amat pesat dalam hal pengembangan ‘Energi Hijau’ dan ‘Energi Biru’,” kata Laksma. Mahan,

“perkembangan kita bahkan lebih pesat daripada riset serupa yang dikembangkan oleh ahli-ahli di Jepang, Eropa, bahkan Amerika Serikat sekalipun; kita sudah hampir bisa membuat mesin yang 100% menggunakan bahan bakar air,”

Lucia jelas saja makin tidak bisa percaya. Selama ini ada pemeo bahwa pengembangan ‘Energi Biru’ (bahan dasar air) adalah tidak atau belum mungkin untuk dilakukan. Tidak kurang bahkan dari peneliti-peneliti UGM atau ITB pun menguatkan pemeo ini. Ketika Lucia tahu ada generator air yang bisa membantu hingga 70%, jelas ini kejutan yang luar biasa. Ini berarti bahwa dari 100 bagian bahan bakar untuk menggerakkan kapal selam ini, 70 bagiannya adalah air sementara solar hanya 30 bagiannya.

“Tapi… ini kan penemuan yang luar biasa bagi umat manusia… mengapa koq keberhasilan semacam ini tidak diberitakan atau dibuka untuk umum?” tanya Lucia.

“Apa Anda yakin kalau Dunia bisa menerima hal ini, Nona Lucia?” tanya Laksma. Mahan.

“Maksud Anda?” tanya Lucia.

“Teknologi ini cukup murah, sehingga bakal mudah untuk diadopsi negara-negara lain, bahkan yang sedang berkembang sekalipun,” kata Laksma. Mahan,

“tapi tentu saja ini akan membuat banyak sekali negara yang selama ini berperan sebagai produsen minyak akan merugi,”

“Lalu?” kata Lucia.

“Aku ceritakan sesuatu, Nona Lucia,” kata Laksma. Mahan, 

“tapi tolong janji untuk tidak menceritakan kembali cerita ini…”

“Oke,” kata Lucia.

Dua tahun lalu, terjadi sebuah perjanjian rahasia antara Indonesia dengan Brazil, dalam kaitan untuk kerjasama pengembangan ‘Energi Hijau’ yaitu berupa biofuel dan biosolar. Perjanjian ini ditandatangani dalam bayangan kecaman dari beberapa negara produsen minyak, termasuk negara-negara Timur Tengah yang selama ini menjadi sekutu Indonesia. Selepas Indonesia tidak lagi mengekspor minyak, fokus pengembangan energi lebih dititikberatkan pada energi hijau. Puluhan ribu hektar ladang bioenergi pun dibuka, sekaligus membuat Indonesia menahan sisa cadangan minyaknya sebagai kebutuhan energi cadangan.

Hanya dalam setahun kemudian, 80% kebutuhan minyak Indonesia berhasil digantikan oleh bioenergi, dan angka ini terus meningkat. Tidak hanya sebagai bahan bakar kendaraan bermotor biasa, bioenergi ini pun dipakai untuk menggerakkan mesin-mesin perang Indonesia, termasuk tank, kapal, dan pesawat tempur Sukhoi. Prospek ini pun lalu diketahui oleh Russia, yang lalu bekerjasama untuk mengadopsi teknologi bioenergi dalam mesin-mesin perangnya. Menurut ahli-ahli Russia, bioenergi ini membuat mesin-mesin perang Russia bertindak dengan lebih efisien, yang tentu saja hal ini langsung mendapatkan perhatian dari lawan-lawannya, termasuk Amerika Serikat. Berkat hasil impor bioenergi dari Indonesia, yang harganya relatif lebih murah dari minyak, maka Russia pun bisa mengimpor minyak dan gas alamnya dalam jumlah yang lebih banyak, dan dengan begitu mendapatkan keuntungan yang amat besar.

Pasar energi dunia pun lalu berubah drastis. Minyak bumi tidak lagi menjadi primadona, dan meskipun masih menjadi sumber energi utama dunia, keberadaannya pun semakin terancam oleh bioenergi. OPEC bahkan secara khusus meminta Indonesia untuk mengurangi produksi bioenergi dengan imbalan penjualan minyak dengan harga khusus, tapi ini segera ditolak, karena bioenergi justru lebih murah dan lebih efisien daripada minyak bumi. Inilah yang membuat hubungan antara negara-negara produsen minyak dengan Indonesia menjadi agak renggang.

“Pada saat itu juga, Indonesia mulai mengembangkan energi biru,” kata Laksma. Mahan,

“tentu saja secara lebih rahasia,”

“Mengapa dirahasiakan?” tanya Lucia.

“Karena selain sebagai sumber energi, maka energi ini bisa juga digunakan sebagai basis pengembangan senjata tingkat lanjut,” kata Laksma. Mahan.

“Nuklir?” tanya Lucia.

“Lebih hebat lagi dari nuklir,” kata Laksma. Mahan,

“bayangkan sebuah energi yang beberapa kali lipat lebih efektif dan efisien daripada nuklir,”

“Mustahil… 'Energi Putih'??” tanya Lucia,

"kita bisa membuat Fusi??"

“Indonesia memiliki semua bahan yang dibutuhkan untuk pengembangan 'Energi Putih',” kata Laksma. Mahan,

“kita kaya dengan sumber hidrogen dari air laut; dan pengembangan energi ini sudah dimulai puluhan tahun lalu,”

“Tapi teknologinya? Lalu ahli-ahlinya?” tanya Lucia.

“Semua kita punya,” kata Laksma. Mahan,

“pers memang tidak pernah mengetahui ini, tapi banyak hal yang memang terlalu berbahaya apabila diungkap pada umum; senjata fusi bukanlah senjata yang bisa diterima oleh negara-negara lain,”

“Termasuk ini?” tanya Lucia.

“Salah satunya kapal selam ini,” kata Laksma. Mahan,

“apabila berhasil, maka KRI Antasena bisa jadi batu loncatan antara kapal selam mesin diesel dengan kapal selam tenaga fusi yang lebih murah,”

“Tantangan bagi kapal selam nuklir konvensional negara-negara maju?” tanya Lucia.

“Sayangnya begitu,” kata Laksma. Mahan.

Ini adalah sebuah kenyataan yang amat mengejutkan. Indonesia memimpin dalam pengembangan teknologi biru? Yang selama ini masih sebatas mimpi dari ilmuwan negara-negara maju? Kemudian ada juga pengembangan fusi nuklir? Terlalu sulit untuk dipercaya, bahwa Indonesia, yang sering sekali dilaporkan kekurangan sumber daya energi, ternyata sudah mencapai tahap akhir justru pada alternatif sumber energi yang selama ini diidam-idamkan.

“Dua bulan lalu, kita mendapat berita, sebuah fasilitas bioenergi di Brazil diledakkan oleh sabotir,” kata Laksma. Mahan,

“menurut dinas mata-mata Brazil, ada kemungkinan Indonesia pun bisa mengalami hal serupa,”

“Maksud Anda serangan teroris di Goias? Tapi bukannya itu serangan pada pabrik pupuk?” tanya Lucia.

“Samarannya adalah pabrik pupuk, tapi itu sebenarnya adalah reaktor bioenergi besar yang memasok listrik dan bahan bakar untuk 60% kebutuhan kota Brazilia,” kata Laksma. Mahan,

“Indonesia sendiri memiliki sektar 6.000.000 hektar ladang bioenergi serta 100 instalasi pengolahan di seluruh Indonesia; semua jumlah ini saat ini berada dalam keamanan maksimum,”

“Seratus? Tapi aku kira fasilitas kita cuma ada 20 buah?” tanya Lucia lagi.

“Sebagian besar disamarkan; beberapa reaktor mampu menghasilkan energi yang cukup besar untuk menerangi seluruh pulau Jawa selama 3 bulan tanpa putus,” kata Laksma. Mahan.

“Kalau memang benar, mengapa selalu dilaporkan terjadinya krisis?” tanya Lucia.

“Karena sebagian besar energi yang dihasilkan digunakan untuk pengembangan energi biru; memang terdengar egois yah, mengorbankan kebutuhan rakyat untuk kepentingan itu?” kata Laksma. Mahan,

“tapi energi biru dan energi putih adalah hasil akhir yang ingin kita capai; setelah energi biru berhasil kita dapatkan, selamanya Indonesia tidak akan kekurangan energi lagi, bahkan cadangan energi kita bisa mencapai tahap tak terbatas,”

Kenyataan ini memang mengejutkan. Lucia hidup di sebuah kantor berita, di mana ia selama ini mengira bahwa ia sudah mengetahui segalanya. Dari penuturan Laksma. Mahan ini, baru diketahui bahwa ternyata apa yang ia ketahui berbeda sekali dengan kenyataan sebenarnya.

“Lalu bagaimana kelanjutannya?” tanya Lucia,

“apa yang bakal kita dapatkan?”

“Sebut saja; kapal perang yang bisa menjelajah semua lautan tanpa harus mengisi bahan bakar, senjata pertahanan strategis yang tidak bisa ditangkal, bahkan pengembangan misi mandiri ke luar angkasa; mencapai hal-hal yang selama ini tidak bisa kita capai,” kata Laksma. Mahan,

“Indonesia akan menjadi negara adikuasa baru yang kuat, besar, dan berdikari; dan tidak akan lagi kita bisa didikte oleh negara lain; dan KRI Antasena adalah batu loncatan untuk itu, bila berhasil, maka Indonesia akan memulai sebuah perlombaan energi, yang akan mengerdilkan semua perlombaan senjata,"

“Kalau proyek ini gagal?” tanya Lucia,

"atau ada negara lain yang mendapatkannya?"

“Artinya negara lain bakal punya alasan untuk lebih menekan Indonesia,” kata Kdr. Mahan.


Bina Graha
08.31 WIB
H minus 51:29:00


Malam ini Arfa kembali menginap di Bina Graha. Sudah amat sangat biasa sekali Arfa melakukannya, terutama pada saat ada krisis semacam ini. Arfa sendiri memiliki rumah yang nyaman di salah satu perumahan elite di pinggiran kota Jakarta, tapi dalam keadaan tertentu rumah itu tidak lebih berfungsi sebagai tempat numpang tidur saja. Ia selalu berangkat pagi-pagi dan pulang malam-malam, sehingga kapan ada waktu untuk menikmati tinggal di rumah? Bahkan ketika keadaannya amat sangat genting yang membutuhkan perhatiannya, ia bisa saja berhari-hari tidak pulang. Saking biasanya, dia sampai memiliki sebuah ruangan khusus di Bina Graha yang diisi dengan barang-barang pribadinya, untuk ketika dia harus menghabiskan hidupnya di sini.

Breaking News pada acara-acara TV tadi malam memang betul-betul sesuatu yang amat mengganggu, terutama ketika semua proses dilaksanakan dengan penuh kerahasiaan. Semua usaha untuk menutupi masalah KRI Antasena ini pun seolah sia-sia ketika pihak pers dengan enaknya membongkar masalah ini kepada publik. Pihak Istana pun tutup mulut, begitulah yang terjadi. Namun instruksi dari Presiden, proses penyelamatan KRI Antasena harus tetap berjalan.

Menyikapi perkembangan, maka Presiden Chaidir pun meminta rapat dengan seluruh petinggi TNI sekarang juga. Dalam rapat ini akan diputuskan apakah langkah Pemerintah selanjutnya berkaitan dengan situasi terbaru kali ini. Apalagi Arfa pun sudah menyiapkan data mengenai satu fleetkapal tempur Australia yang “lepas” dari kandangnya. Posisi Arfa memang unik, karena dia relatif dekat dengan kalangan militer dan intelijen, sehingga mungkin dialah satu-satunya orang yang punya pengetahuan luas atas apa yang tengah terjadi sebenarnya.

Saat Arfa berjalan menuju ke Ruang Krisis, Arfa berpapasan dengan seorang berdarah Papua yang mengenakan stelan lengkap perwira elite Angkatan Udara. Arfa membungkuk takzim kepada orang ini, karena yang berdiri di hadapannya adalah Marsekal Aloys Theofillius Kambu, atau lebih sering dipanggil dengan nama Marsekal Kambu saja. Beliau ini adalah Kepala Staff TNI-AU, dan juga calon dari Panglima TNI selanjutnya. Wajah Marsekal Kambu selalu terlihat dingin, tapi kali ini ada sebuah uneg-uneg yang hendak Marsekal Kambu sampaikan pada Arfa.

“Dapat yang Anda cari, Nona Aryanti?” tanya Mars. Kambu.

“Cukup, Marsekal Kambu,” kata Arfa,

“terima kasih atas bantuan Anda,”

“Tentu Anda betul-betul cukup berani untuk meminta menerbangkan Backfire kita ke Australia dalam saat-saat genting ini,” kata Mars. Kambu,

“sekarang situasi berubah menjadi hampir tak terkendali; katakan Nona Aryanti, apa saya harus bersiap-siap untuk menangkal serangan balik dari Australia, atau perlu pembom-pembom kita dikirim untuk menyerang Canberra?”

“Saya harap hal itu tidak perlu dilakukan, Marsekal,” kata Arfa,

“sebaiknya kita menghindari konflik yang tidak perlu, terutama dengan Australia,”

“Apa hal itu masih bisa dipertahankan dalam waktu seperti ini, Nn. Aryanti?” tanya Mars. Kambu lagi.

“Harus bisa, Marsekal,” kata Arfa.

“Tapi rasanya yang di dalam dirimu mengatakan hal yang sebaliknya, Nona,” kata Mars. Kambu,

“jika terjadi perang dengan Australia, Angkatan Udara mungkin bakal menjadi satu-satunya tangan untuk membawa api peperangan ke Daratan Australia,”

“Kita belum siap untuk mengobarkan perang melawan Australia, Marsekal!” kata Arfa tegas,

“tidak pada matra mana pun,”

“Bagus kalau Anda masih menyadari itu, Nona,” kata Mars. Kambu.

“Simpan saja perdebatan ini untuk nanti, Marsekal,” kata Arfa,

“Presiden sudah menantikan kehadiran kita,”

Marsekal Kambu sedikit membungkuk, lalu bersama dengan Arfa, mereka pun berjalan masuk ke Ruang Krisis. Di dalam, sudah menunggu selain Presiden Chaidir dan seluruh jajaran petinggi-petinggi TNI secara lengkap. Tidak ada yang berani tertawa-tawa, karena semua menyadari betapa gentingnya situasi yang tengah mereka hadapi. Bukan hanya sekedar persoalan menyelamatkan KRI Antasena saja, tapi kini sudah ada lagi ancaman meletusnya konflik bersenjata antara Indonesia dengan Australia.

Arfa dan Marsekal Kambu segera menempati tempat duduk masing-masing. Presiden Chaidir tampak cukup sabar untuk menanti dua orang yang memang saat ini amat diandalkannya. Dalam hal krisis ini, maka Presiden Chaidir bakal sangat membutuhkan dua orang ini lebih dari siapapun.

“Seperti kita semua ketahui, telah terjadi krisis berkaitan dengan KRI Antasena,” kata Presiden Chaidir membuka rapat,

“pers berkumpul di luar sana, menunggu apa jawaban dari Pemerintah untuk soal ini,”

“Mungkin apabila sejak awal kita tidak melibatkan pers, masalah ini tak akan berkembang serumit ini, Tuan Presiden,” kata Marsekal Kambu sembari melirik ke arah jajaran petinggi TNI AL,

“mereka sekarang berkumpul seperti ikan hiu yang mencium darah; betul-betul tidak menguntungkan dalam situasi yang kita hadapi,”

“Apa Anda menuduh kami mengacaukan situasi, Marsekal?” hardik Laks. Danoe Salampessy dengan nada tinggi.

“Maksudku, kita bisa menyelesaikan masalah ini lebih cepat seandainya tidak ada sorotan ke arah kita,” kata Mars. Kambu.

“Asal Anda tahu saja, Marsekal, itu KAPAL SELAM KAMI yang ada di sana,” kata Laks. Salampessy,

“apabila ada di antara angkatan dalam TNI yang sangat ingin menyelesaikan krisis ini dengan cepat, pasti dari Angkatan Laut, bukan yang lain!”

“CUKUP!!” teriak Presiden,

“Kalau Marsekal Kambu hendak mencari siapa yang dipersalahkan sehubungan dengan ini, salahkan saya, karena sejak awal adalah instruksi dari saya untuk melibatkan pers dalam hal ini, bertentangan dengan keinginan Laks. Salampessy, dan pastinya semua petinggi baik Angkatan Laut maupun TNI secara umum,”

“Maafkan saya, Tuan Presiden,” kata Mars. Kambu sambil sedikit membungkuk.

Arfa berdehem sejenak. Apa yang hendak ia paparkan dalam rapat ini lebih penting daripada sekedar membahas masalah sepele. Presiden Chaidir pun segera memberi isyarat kepada Arfa untuk memulai pemaparannya.

“Sekedar menjelaskan saja, hingga saat ini belum ada aksi dari NewsTV, satu-satunya stasiun TV yang memang kita beri akses, jadi kita masih bisa berharap NewsTV masih ada di pihak kita,” kata Arfa,

“bagaimanapun, aku yakin kalau NewsTV pun pastinya tidak akan bisa diam lebih lama lagi, jadi sebaiknya kita memutuskan saat ini juga semua kontak kita dengan NewsTV, untuk saat ini, pastinya ini keputusan terbaik bagi kedua belah pihak,”

Arfa melirik ke arah Laksdya Sapar Sihombing, yang tentu saja disambut dengan anggukan dari yang bersangkutan.

“Sekarang, kita bicarakan pada inti permasalahan,” kata Arfa,

“tampaknya semua alat sensor yang kita miliki tidak bisa digunakan untuk melacak KRI Antasena, kapal selam itu memiliki sensor pengelak canggih yang belum bisa kita atau mungkin semua negara samai,”

“Apa perlu saya kirimkan pesawat pelacak kapal selam, Nona Aryanti?” tanya Mars. Kambu.

“Tidak perlu, Marsekal, kalau kapal KRI Ternate saja tidak bisa melacaknya, saya tidak yakin ada sensor kita yang bisa,” kata Arfa.

“Jadi semuanya sia-sia?” tanya Presiden.

“Belum tentu, KRI Antasena dibuat berdasarkan rancang bangun dari Dr. Anatoly Sedorenkov,” kata Arfa,

“sangat mungkin semua teknologi yang digunakan adalah teknologi yang juga saat ini dikembangkan di Russia,”

“Jadi maksud Anda, mungkin Russia bisa membantu kita?” tanya Presiden.

“Saya belum berani memastikan,” kata Arfa,

“tapi saat di Russia, Dr. Sedorenkov memang memfokuskan diri pada pengembangan alat-alat sensor dan pengelak bawah air; setiap virus harus ada penangkalnya,”

“Baik, akan kita siapkan nota diplomatik untuk Russia berkenaan dengan hal ini,” kata Presiden,

“ada lagi yang hendak kamu sampaikan, Nona?”

Arfa pun mengangguk, tapi lalu menarik nafas sejenak.

“Hasil pengintaian dari pesawat Backfire kita atas pangkalan AL Australia menunjukkan bahwa sebanyak satu fleet kapal perang Australia telah diberangkatkan,” kata Arfa,

“dari hasil laporan intel kita di Australia, diperkirakan kekuatan Australia yang diberangkatkan adalah 8 kapal frigate termodern mereka dibantu 4 kapal cepat jenis Calypso,”

Kontan saja berita ini menggemparkan semua orang.

“Maksud Anda, ada 12 kapal perang sedang diluncurkan oleh Australia, kepada kita??” tanya Laks. Salampessy.

“Kita belum tahu pasti arahnya, tapi kita harus memikirkan kemungkinan yang terburuk,” kata Arfa,

“indikasi kuat adalah bahwa penyerangan atas KRI Antasena dilakukan oleh Australia, mungkin mereka pun ingin mengambil kapal selam itu,”

“Tapi 12 kapal perang itu keterlaluan!!” jerit Laks. Salampessy.

“Nona Aryanti, seharusnya Anda suruh sekalian saja pesawat kita itu untuk melacak dan mengebom gugus tempur itu,” kata Mars. Kambu.

“Semua tenang!!” teriak Presiden sambil memukul meja.

Keadaan memang agak “naik” gara-gara laporan dari Arfa itu. Presiden lalu segera memberi isyarat agar Arfa melanjutkan.

“Belum ada kepastian apakah ke-12 kapal perang itu menuju ke arah ground zero atau ke arah lain; walaupun ada informasi mengenai pelatihan AL Australia di Laut Coral,” kata Arfa,

“bagaimanapun juga, semua harus bersiap untuk kemungkinan terburuk, karena dari pengamatan satelit, sepertinya fleet kapal perang itu belum juga tiba di Laut Coral,”

“Kalau memang tidak ke Laut Coral, lalu ke mana?” tanya Laks. Salampessy.

“Kita tidak tahu,” kata Arfa,

“Laksamana, di mana sekarang posisi gugus tempur KRI Keumalahayati?”

“Memasuki Selat Madura,” kata Laks. Salampessy,

“akan beristirahat dan mengisi perbekalan di Tanjung Perak sebelum akhirnya menuju keground zero,”

“Paling cepat berapa lama?” tanya Arfa.

“Enam sampai delapan jam,” kata Laks. Salampessy,

“asumsinya para awaknya tidak turun dulu ke darat,”

“Tidak bisa dipercepat lagi?” tanya Arfa.

“Mengasumsikan kalau kita tengah mengharapkan sebuah konflik? Saya tidak berani,” kata Laks. Salampessy,

“tidak ada gunanya kalau mereka sampai di lokasi dalam keadaan letih,”

“Berapa kekuatannya?” tanya Arfa.

“Dua korvet, empat kapal rudal, dan satu kapal torpedo,” kata Laks. Salampessy,

“bukan jumlah yang ideal untuk menyongsong 12 kapal tempur milik Australia,”

“Memang bukan,” kata Arfa.

“Apa yang di laut gagal dilengkapi, kita imbangi di udara, saya bisa menyiapkan satu wing Tu-16 di Kalijati,” kata Mars. Kambu,

“satu skuadron F-16 di Yogyakarta, dan satu lagi skuadron Su-30 di Madiun,”

“Terima kasih, Marsekal,” kata Arfa,

“meskipun saya sendiri yakin, Australia pasti sudah menyiapkan payung udara serupa untuk gugus tempurnya,”

“Jadi menurut Anda, tetap ada kemungkinan keadaan berubah menjadi buruk?” tanya Presiden,

“lalu apa yang harus kita lakukan kalau memang itu yang terjadi?”

Arfa pun menarik nafas panjang dan berhenti bicara sejenak. Ia melihat sejenak pada berkas yang dibawanya, kemudian menatap mata semua hadirin di sana, yang tampaknya ingin sekali mendengarkan jawabannya.

“Oleh karena itu, semuanya…” kata Arfa.

Arfa menjentikkan jari, dan mendadak dari pintu masuk muncullah beberapa orang ajudan berpakaian safari yang masing-masing membawa tumpukan buku serupa skripsi yang bersampul hard-cover warna merah. Buku itu pun segera dibagi-bagikan kepada semua orang. Anehnya, sampulnya polos saja, tanpa hiasan atau tulisan apapun. Semua hadirin pun nampak bingung menerima buku semacam itu, terlebih lagi ketika anggota pasukan Paspampres pun ikut masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Presiden Chaidir sendiri menerima buku itu dengan tangan yang gemetar dan muka yang amat tegang. Presiden tahu, buku apa yang sedang dihadapinya itu.

“Ini… ini kan…” kata Presiden dengan terbata-bata.

“Hadirin… buku yang ada di hadapan Anda sekarang, adalah ‘Warplan C’, inilah pedoman rencana perang kita, khususnya untuk mengantisipasi konflik dengan Australia,” kata Arfa.

Seketika itu pula pecahlah keriuhan di ruangan rapat itu. Keriuhan yang biasanya segera ditenangkan oleh Presiden itu kini bahkan Presiden sendiri seolah tidak kuasa mengangkat palu. Indonesia memang memiliki sebuah ‘Warplan’, yaitu dokumen amat sangat rahasia yang berisi pedoman langkah apabila Indonesia harus berperang dengan negara lain. Masing-masing diberi kode sesuai abjad dari A-Z yaitu: A untuk Amerika Serikat, B untuk Republik Rakyat Cina, C untuk Australia/Selandia Baru, D untuk Malaysia, E untuk Singapura, F untuk Philippina, G untuk Thailand, H untuk Vietnam, I untuk Myanmar, J untuk India, K untuk Papua Nugini, dst. Rata-rata dipusatkan untuk menghadapi negara-negara di kawasan Pasifik Barat Daya, kecuali untuk Amerika Serikat (kode A), RRC (kode B), India (kode J), Jepang (kode M), Russia (kode N), dan Inggris (kode Q). Walaupun begitu, ada juga beberapa negara-negara yang tidak disebutkan biarpun juga berada di kawasan Pasifik Barat Daya dan sekitarnya, antara lain seperti Kamboja, Laos, Brunei Darussalam, Sri Lanka, Bangladesh, serta beberapa negara-negara Polynesia dan Mikronesia. Ini karena negara-negara tersebut secara militer dan geopolitik dinilai tidak mungkin untuk menyatakan perang kepada Indonesia, dan kalaupun terjadi, mereka juga dipandang bakal amat sangat sulit untuk melancarkan invasi ke sebagian apalagi seluruh wilayah Indonesia tanpa bantuan pihak lain. Kalaupun mereka berhasil juga sampai, diperkirakan kekuatan Indonesia sendiri lebih dari cukup untuk menghalau invasi tersebut dan kalau perlu melakukan invasi balik dengan resiko kegagalan amat minim.

“Apa ini, Nona Aryanti??” jerit Mars. Kambu,

“bukannya tadi Anda bilang pada saya kalau…”

“ –Saya paham, Marsekal,” kata Arfa,

“tapi ini untuk mengantisipasi kemungkinan paling buruk!”

“Dengan perang melawan Australia??” tanya Mars. Kambu.

“Kalau perlu –perang melawan Australia!” kata Arfa dengan tegas.

Warplan sebenarnya hanya berisi pedoman-pedoman apa yang harus dilakukan ketika, menjelang, pada saat, serta pasca konflik perang, berdasarkan keadaan diplomasi, sosial politik, ekonomi, dan militer Indonesia, dengan memperhatikan pula terobosan-terobosan serta teknologi baru dari 2 negara. Rencana ini di-update setiap sekitar 6 bulan sekali dan masing-masing oleh tim kecil beranggotakan tidak lebih dari 6 orang, di mana untuk masing-masing update, tim ini sering berganti-ganti, pun untuk tiap pembagian Warplan, dikerjakan pula oleh tim yang berbeda. Pembahasan Warplan kadang bisa memakan waktu hingga 2 bulan, tergantung pada kompleksnya konflik yang mungkin dihadapi, dan dalam suasana yang amat sangat rahasia. Dokumen ini disimpan dengan amat sangat rahasia, dan tidak banyak orang, bahkan di dalam kepresidenan sendiri yang tahu keberadaannya; amat berbahaya kalau ini sampai jatuh ke tangan musuh. Arfa sendiri kebetulan menguasai betul Warplan C yang tengah disebarnya ini, karena dia termasuk dalam tim yang mengerjakan update terbaru dari Warplan ini.

Dengan menarik sebuah nafas yang (sangat) panjang, Presiden Chaidir langsung menutup buku itu, dan memberi isyarat supaya bagi mereka yang belum melakukannya, -untuk tidak membuka buku itu sama sekali. Beberapa orang segera menarik nafas lega setelah mendapat isyarat itu. Arfa sendiri kebingungan dengan sikap Presiden ini.

“Pak Presiden…” kata Arfa.

“Tenang,” kata Presiden sambil mengangkat tangannya,

“ini adalah dokumen yang sangat rahasia, dan kita semua sudah tahu apa prosedur selanjutnya ketika dokumen ini dibawa ke dalam rapat,”

Tidak ada yang menjawab, tapi para Paspampres yang ikut masuk ke dalam ruangan tadi langsung menegaskan sikap sempurna.

“Ancaman perang dengan Australia memang isu yang sangat serius yang tidak bisa diacuhkan begitu saja,” kata Presiden,

“tapi aku minta sekalipun ada Warplan C, kita tidak boleh bertindak dengan gegabah –lagipula, aku yakin Anda sendiri tidak pernah menyarankan kita untuk mengangkat senjata melawan Australia kan, Nn. Aryanti?”

Arfa hanya mengangguk kecil saja.

“Bagaimanapun juga, menyikapi ini, Warplan C tetap akan ada di sini, namun tidak untuk dibuka sekarang,” kata Presiden,

“dan kepada semua jajaran TNI, saya perintahkan untuk menaikkan status menjadi Defcon IV,”

Ketegangan tentu saja tidak memudar dari raut wajah jajaran petinggi TNI ini. Defcon IV berarti mobilisasi unit secara terbatas, namun dalam skala yang cukup besar karena melibatkan kemampuan 3 matra TNI. Apabila situasi meningkat hingga mencapai status tertinggi, Defcon V, ini berarti akan dilakukannya mobilisasi umum untuk menyambut perang yang juga berskala perang umum. Situasi Defcon yang dikenal antara lain adalah Defcon I (keadaan aman tenteram dan ancaman minimal), Defcon II (ancaman lokal yang bisa ditangani oleh aparat keamanan sipil), Defcon III (ancaman besar yang harus ditangani oleh pasukan komando atau setingkat pasukan khusus), Defcon IV (mobilisasi angkatan perang untuk menghadapi ancaman perang terbatas), dan Defcon V (mobilisasi umum).


Gedung NewsTV

Ruangan Bu Sabrina

09.41 WIB

H minus 50:19:00



Bunyi detik dari jam dinding betul-betul membuat Fitri menjadi amat senewen. Bagaimana tidak, dari tadi dia sudah menjadi “tahanan” di ruangan ini bersama dengan Bu Sabrina. Beberapa kali Fitri mondar-mandir serta berbuat sesuatu untuk memancing emosi Bu Sabrina, tapi Bu Sabrina tetap dingin dan melanjutkan pekerjaannya. Bahkan ketika harus ke toilet pun, Fitri tidak boleh keluar melainkan memakai toilet yang ada di dalam ruangan. Itupun pintunya tidak boleh ditutup sehingga Bu Sabrina yakin bahwa di dalam toilet, Fitri tidak akan mencoba menghubungi pihak luar.

HP Fitri yang terletak di meja Bu Sabrina kembali berbunyi, untuk yang kesekian kalinya. Bu Sabrina sendiri hanya melirik saja, tapi tak memberikan izin bagi Fitri untuk mengangkatnya, sehingga membuat Fitri tambah senewen, hanya bisa duduk di sofa empuk di seberang meja Bu Sabrina, yang kini serasa duduk di atas kursi berduri saja bagi Fitri.

“Ada yang mencoba telepon kamu lagi,” kata Bu Sabrina,

“teman?”

“Paling juga Mutia,” kata Fitri ogah-ogahan.

“Wah, kebetulan sekali kamu menebak benar,” kata Bu Sabrina setengah mengejek,

“tapi pasti itu bukan kebetulan, kan?”

“Terserah Ibu saja,” kata Fitri tanpa menyembunyikan nada kejengkelan di suaranya.

Fitri memang tengah jengkel setengah mati dengan Bu Sabrina karena soal ini. Sudah kesekian kalinya Bu Sabrina turun tangan langsung dalam menangani masalah, tapi ini cukup menggelikan. Walaupun begitu, Fitri khawatir juga dengan keadaan di luar, terutama dengan Tita. Sebelum ini ia memang sudah menyuruh Mutia untuk memantau perkembangan di luar, di bagian Anton, dan dengan permintaan keras untuk membantu Tita seandainya ada permasalahan berkenaan dengan krisis ini. Namun apabila Mutia berkali-kali meneleponnya, berarti ada sesuatu yang benar-benar tidak beres. Apabila jam sudah menunjuk angka 10, apa iya Fitri bakal benar-benar melancarkan coup d’etat pada Anton? Kepala Fitri pun terasa semakin sakit.

“Kalau kamu mau tahu keadaan di bawah,” kata Bu Sabrina,

“Tita saat ini tidak bisa ditemukan di mana-mana; dan waktu semakin mepet,”

Fitri hanya diam saja. Bu Sabrina tentu mendapatkan info ini dari informannya yang ada di bawah. Fitri memang bisa mengidentifikasi siapa saja orang-orang dari Bu Sabrina dalam jajaran Anton, tapi temuan ini tak pernah ia beberkan ke Anton –sia-sia, karena Anton pun pasti tak mau dengar.

“Jadi, sambil menunggu waktu, ke sini, Nona Fitri, kita bicarakan langkah-langkah yang harus kamu ambil selanjutnya,” kata Bu Sabrina,

“termasuk langkah penting yang salah satunya adalah pembersihan,”

“Aku sudah punya rencanaku sendiri, Bu Sabrina!” kata Fitri tegas.

“Nona Fitri, mengapa Anda bicara seolah-olah Anda punya pilihan?” tanya Bu Sabrina dengan nada mengancam,

“ke sini segera, atau aku akan cabut keputusanku!”

Dengan gontai, Fitri pun segera maju dan duduk di kursi di depan Bu Sabrina. Ia amat sangat cemas, karena meskipun dia sendiri meragukan Tita, tapi tetap saja ia tak rela kalau Tita dimakzulkan dengan cara seperti ini. Ke mana ya, Tita sekarang?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...