Rabu, 30 September 2020

*LAUT BIRU" CHAPTER XII

The Stack Up

BAB XII

The Stack Up


Beberapa Hari Sebelum Present Day

Parliament House
Canberra, Australia
15.11 AEST (12.11 WIB)
H minus 95:49:00


“BRAAAK!!!”

Pria separuh baya berambut putih itu hanya diam saja saat melihat setumpukan koran dibanting di hadapannya. Dia hanya melihat dengan dingin si pembanting koran, seorang pria tegap dengan rambut brunette yang terlihat amat gusar.

“Ini gila!!” kata si pria berambut brunette.

“Tenanglah, Mr. Andrews, pada saat seperti ini kau tidak boleh kehilangan ketenanganmu,” kata si pria berambut putih,

“ingat, kau adalah Perdana Menteri dari negara ini, dan sikapmu akan merefleksikan bagaimana sikap bawahanmu,”

Ternyata si pria berambut brunette adalah Perdana Menteri Australia, Phillip Andrews.

“Ini sudah tidak terkendali!” kata Phillip Andrews masih murka,

“bagaimana mungkin kau bisa menyuruhku untuk tenang, Sir?”

“Sebuah kapal kita diserang, Mr. Andrews, andai kau lupa soal itu,” kata pria berambut putih,

“serangan atas satu kapal Australia berarti serangan atas negara Australia itu sendiri; kuyakin kau mengerti,”

“Ya, tapi menyiapkan satu fleet untuk diberangkatkan??” tanya Phillip Andrews,

“dan saya baru diberi tahu pada menit-menit terakhir??”

“Itu adalah Armada milik Yang Mulia, dan boleh dikerahkan kapan saja ATAS KEINGINAN YANG MULIA,” kata si pria berambut putih dengan sengit.

“Tapi itu adalah Armada milik rakyat Australia DAN SAYA adalah perwakilan dari rakyat Australia!” kata Phillip Andrews.

“Perkataanmu rancu, Mr. Andrews, rakyat Australia adalah rakyat Yang Mulia, kita adalah pelayan Yang Mulia, dan semua yang dimiliki oleh Australia adalah milik Yang Mulia,” kata pria berambut putih,

“aku ada di sini untuk memastikan bahwa hak-hak Yang Mulia tidak dilanggar,”

Jelaslah bahwa ternyata Phillip Andrews tengah berbicara dengan Gubernur Jenderal Australia, sekaligus perwakilan berkuasa penuh Tahta Inggris atas Australia, Sir Neill Walcott. Sir Walcott sendiri tidak begitu tertarik untuk meladeni amarah Phillip Andrews, hanya memandangnya seolah dia memandang seorang anak laki-laki yang sedang mengambek. Sesekali Sir Walcott melirik pada koran paling atas, yang tajuknya berbunyi seperti ini:

“KAPAL KITA DISERANG!! OLEH SIAPA??”

Sementara itu salah satu koran yang merupakan corong aliran konservatif bahkan memasang tajuk yang lebih keras lagi:

“SERANGAN ATAS KAPAL PERANG AUSTRALIA!

SEBUAH TINDAKAN HARUS SEGERA DIAMBIL!”

“Serangan itu terjadi dekat dengan batas terluar perairan Indonesia, Sir Walcott,” kata Phillip Andrews,

“itu membuatku khawatir,”

“Apa yang kau khawatirkan, Mr. Andrews?” tanya Sir Walcott.

Phillip Andrews kemudian menunjuk ke sebuah peta dunia yang ada di ruangan itu.

“Ini! Ini adalah Asia, benua yang sekarang sedang berlari kencang, dan ada empat macan yang kini telah mulai bangun dari tidurnya, salah satunya yang tepat berada di utara kita,” kata Phillip Andrews,

“aku sering berkata bahwa masa depan Australia akan tergantung pada seberapa jauh kita bisa menjaga kestabilan hubungan dengan kawasan ini, terutama dengan Indonesia”

“Kau terlalu melebih-lebihkan kekuatan yang kau sebut sebagai ‘macan yang baru bangun dari tidur’ itu, Mr. Andrews,” kata Sir Walcott,

“Australia tak akan takut dengan ancaman apa pun, juga untuk berperang dengan siapa pun,”

“Ini bukan ancaman, Sir Walcott!! Australia mungkin bisa saja berperang dengan Indonesia dan menang, tapi berapa banyak kerugian yang harus kita tanggung sebelum kita akhirnya menang??” tanya Phillip Andrews,

“apa Anda akan menunggu hingga Canberra terbakar habis sebelum menyadari bahwa peperangan telah merenggut lebih besar dari yang bisa kita tanggung??”

“Dengar, Mr. Andrews, walau kau mengkhawatirkan soal perang hingga sebesar itu, dan aku menghargainya, tidak mengubah fakta bahwa kapal kita sudah diserang,” kata Sir Walcott,

“dan akan ada pertanyaan serta mosi yang akan muncul bila kita tak melakukan tindakan secepatnya,”

Phillip Andrews tidak bisa menjawab dan hanya terduduk saja sambil kedua tangannya ditangkupkan di depan mulut, seolah tak ingin memikirkan konsekuensi apa yang nantinya bisa timbul.

“Aku mengerti soal kebijakanmu untuk mengambil hati bangsa Asia, Mr. Andrews, dan percayalah, aku juga mengerti bahwa Australia akan memetik manfaat dari kebijakanmu itu,” kata Sir Walcott,

“tapi sekarang giliranmu untuk mengerti bahwa ada kalanya harga diri kita sebagai bangsa Australia tidak bisa dipertukarkan dengan kucuran dolar dari Asia,”

“Tapi haruskah mengirimkan kapal sebanyak itu? Juga persiapan wing udara di Darwin dan Perth?” tanya Phillip Andrews,

“ini sama saja seperti menyatakan perang terbuka kepada Indonesia,”

“Itu bila Indonesia memang bersalah atas semua kejadian ini,” kata Sir Walcott,

“mereka harus tahu bahwa kita akan menyambut semua bentuk persahabatan dengan tangan terbuka, dan memahami bahwa setiap gangguan yang dialamatkan pada Australia, akan kita tanggapi dengan keras,”

“Tapi 12 kapal perang? Tidakkah itu terlalu berlebihan?” tanya Phillip Andrews,

“itu hampir menyamai jumlah kapal perang yang kita kirimkan di Teluk,”

“Itu adalah jumlah yang disarankan oleh Admiralty, untuk memberi efek penggetar serta peringatan,” kata Sir Walcott,

“dan kalau boleh jujur, itu setelah aku berargumen keras, karena London meminta dikirimkan kapal yang lebih banyak lagi,”

“Lebih banyak lagi??” jerit Phillip Andrews,

“apa London sudah gila?? Itu bukan peringatan, tapi menghasut untuk perang!!”

“Sebuah kapal diserang, Mr. Andrews, kapal yang membawa nama Yang Mulia,” kata Sir Walcott,

“dan itu, menurut London, merupakan penghinaan pribadi atas Yang Mulia,”

“Maaf sebelumnya, Sir Walcott, tanpa bermaksud untuk merendahkan Sri Paduka,” kata Phillip Andrews,

“tapi Sri Paduka sendiri ada di London, beribu-ribu mil jauhnya dari sini; sementara kita di sini menghadapi masalah kongkrit yang membutuhkan pendekatan yang lebih ‘membumi’, Asia adalah potensi ancaman terbesar, namun karena itulah maka Australia justru harus merangkul Asia supaya yang tadinya jadi potensi tidak akan berubah menjadi ancaman riil!”

“Aku sadar soal itu, Mr. Andrews, dan secara pribadi aku mendukung kebijakanmu soal Asia,” kata Sir Walcott,

“tapi rata-rata parlemen tidak setuju mengenai itu, golongan konservatif juga menginginkan supaya kita memperkuat Persekutuan Lama, alih-alih memalingkan muka kita ke calon musuh yang berbahaya; dan sejujurnya, aku yakin London punya pikiran yang serupa,”

“Ini bukan abad ke-20 lagi, Sir Walcott, Persekutuan Lama tak akan banyak membantu kita, sekalipun banyak anggota parlemen yang mengatakan bahwa ‘Persekutuan Lama yang kuat akan mampu menghadapi singa-singa yang tercerai berai’, dan dalam konteks ini memang benar,” kata Phillip Andrews,

“tapi aku sudah berpengalaman dengan Asia, dan sekalipun mereka tercerai berai, hubungan antar negara Asia sendiri relatif cair; semua hal bisa berubah lebih cepat daripada yang bisa kita kira, dan lawan yang akan kita hadapi ini adalah yang paling susah dari semuanya,”

Phillip Andrews terdiam sejenak, dia menatap mata Sir Walcott lama sekali. Selama ini Sir Walcott memang selalu mendukungnya dalam berbagai kebijakannya mengenai Asia, tapi untuk kali ini sepertinya Sir Walcott tak bisa berbuat apa-apa. Seorang gubernur jenderal merupakan kepanjangan tangan, mulut, dan telinga dari Sri Paduka di London sana, dan oleh karena itu, maka segala sesuatu yang menjadi perkataan dan tindakannya adalah mencerminkan juga sikap Sri Paduka. Bila London mengatakan ‘A’, maka Canberra pun harus mengatakan ‘A’, dan begitu seterusnya.

“Indonesia menjalin hubungan dekat baik dengan Russia maupun RRC, dan masing-masing negara tersebut memiliki kepentingan di sana,” kata Phillip Andrews,

“menyatakan perang dengan Indonesia berarti mengganggu kesetimbangan rapuh yang selama ini ada di kubu Barat, Timur, dan Selatan,”

Phillip Andrews menghela napas panjang, kemudian berdiri dan berjalan kecil sembari memperhatikan terus peta dunia yang ada di sana.

“Ini bisa menuju ke Perang Dunia III, apakah Yang Mulia juga memikirkan hal itu?” tanya Phillip Andrews,

“ataukah London sudah mendapatkan cek kosong dari Sekutu Lama kita? Cek yang boleh diisi sesuka hati?”

“Aku belum mendengar apa-apa dari Amerika Serikat, Mr. Andrews,” kata Sir Walcott,

“aku juga tidak tahu apakah mereka sudah menawarkan itu pada Yang Mulia atau belum; tapi perintahnya tetap: tindak segera pelanggaran itu dengan konsekuensi apa pun,”

Phillip Andrews hanya mengangguk-angguk saja.

“Aku akan meminta parlemen untuk bersidang membahas ini; jikalau memang kitra harus berperang, maka perang harus dinyatakan sesuai kesepakatan dari wakil-wakil rakyat Australia,” kata Phillip Andrews.

“Aku akan tetap mengirimkan Armada itu ke sana, Mr. Andrews,” kata Sir Walcott,

“dengan atau tanpa persetujuanmu,”

“Itu memang wewenangmu, Sir Walcott, dan aku tidak bisa mencampurinya,” kata Phillip Andrews,

“tetapi setidaknya tundalah keputusan untuk berperang atau tidak hingga menit-menit terakhir,”

“Akan kita lihat,” kata Sir Walcott,

“memang tak ada kata terakhir dalam diplomasi, Mr. Andrews, tapi kuharap siapa pun komandan lapangan yang ada di sana, baik dari sisi kita atau mereka, masih sama-sama bisa berpikir waras,”

“Semoga begitu, Sir Walcott, semoga saja begitu,” kata Phillip Andrews sembari menarik napas berat.


Pangkalan Angkatan Laut Australia
Sydney, New South Wales
16:11 AEST (13.11 WIB)
H minus 94:49:00


Perintah untuk segera berangkat ke ground zero memang datang dengan cukup mendadak, hanya beberapa menit saja setelah Sir Walcott berdebat dengan Phillip Andrews, namun sejatinya, seluruh kapal di Armada Timur Australia telah disiapkan semenjak pagi untuk sebuah perjalanan jauh, dengan alasan adalah adanya latihan rutin di Laut Coral, yang memang jatuh pada hari itu. Berhubung latihan itu merupakan simulasi pertempuran laut, maka seluruh kapal yang akan berpartisipasi dibekali dengan peluru dan senjata sungguhan, tidak ada yang bersifatdummy. Walaupun bagi beberapa quartermaster di kapal-kapal, hal itu agak janggal, mengingat load semacam ini baru dipasang bila kapal-kapal Australia hendak pergi berperang, misal ketika ikut dalam Armada Koalisi ke Timur Tengah atau Afrika. Apalagi para awak sudah harus dikarantina di pangkalan sejak dua hari sebelumnya, atau terhitung setelah HMAS Pitcairn meninggalkan pangkalan itu untuk terakhir kalinya.

Kejanggalan ini tentu saja bukan atas alasan kosong, karena memang semenjak awal kapal-kapal ini memang disiapkan untuk bertempur dalam pertempuran sesungguhnya, jadi bukan untuk latihan semata. Latihan di Laut Coral hanyalah kedok supaya tidak ada yang curiga bila misal ada satu armada AL berangkat sekaligus dari Sydney pada hari itu. Pasca-menerima perintah dari Admiralty London, Chief of Staff Navy, Vice Admiral Kieran Shaw memang meramalkan bakal terjadi akibat yang tak menyenangkan atas misi HMAS Pitcairn sebelum ini, sehingga setelah HMAS Pitcairn berangkat, atas inisiatifnya sendiri (bukan atas perintah dari Admiralty London), V-Adm. Shaw memerintahkan untuk memobilisasi pasukan secara terbatas dengan dalih untuk menjalankan latihan rutin di Laut Coral. Bahkan sebagai kedok, latihan yang sebenarnya hanya berupa PASSEX itu diubah menjadi simulasi tempur, sehingga secara otomatis semua kapal harus disiapkan fully-armed.

Dalam benak V-Adm. Shaw, apabila HMAS Pitcairn berhasil dalam misinya, maka semua awak yang terlanjur dimobilisasi akan di-disband dan diberi cuti, hal senada juga akan dilakukan walau HMAS Pitcairn gagal, ASALKAN, misi HMAS Pitcairn ini tidak sampai bocor ke publik. Kenapa begitu? Karena misi HMAS Pitcairn ini datang langsung dari Admiralty di London, dan tidak melalui pemerintah dahulu, sehingga misi ini secara notabene masuk dalam kategori “black-ops”. Bahkan di tataran praktik, misi ini hanya diketahui oleh pimpinan Armada Timur, Adm. Leighton Crowe dan komandan kapal HMAS Pitcairn, Capt. William Artner, tidak ada yang lain. Bahkan XO kapal HMAS Pitcairn, Com. Hank Kelsey juga baru mengetahui tujuan misi ini beberapa saat sebelum bersirobok dengan KRI Antasena. Apabila publik sampai mengetahui misi sebenarnya dari HMAS Pitcairn, maka secara umum Royal Australian Navy akan mendapat aib, karena secara sengaja mengirimkan salah satu kapal perang terbaiknya untuk masuk ke dalam wilayah negara tetangga dan menyerang kapal perang yang ada di sana, dan tanpa sepengetahuan dari pemerintahan.

Jadi, setelah semua masalah ini diketahui publik, bagaimana solusinya? Mudah saja, dan sekali lagi masih memakai usulan dari Admiralty London, yaitu “dibocorkan sumber” bahwa kapal Australia (HMAS Pitcairn) diserang oleh kapal tak dikenal di perbatasan laut Indonesia-Australia. Payahnya, karena HMAS Pitcairn sendiri merupakan kapal dengan kemampuan tempur yang baik, maka secara otomatis opini pun tergiring bahwa kapal perang Indonesia-lah yang menyerang HMAS Pitcairn di perairan Australia. Ini karena tidak mungkin ada kapal-kapal bersenjata milik penyelundup atau bajak laut yang sanggup mengalahkan kapal sekuat HMAS Pitcairn. Pemerintah Australia sendiri dengan teguh tetap mengatakan “kapal tak dikenal”, walaupun di tataran akar rumput opini yang berkembang lebih condong ke “Indonesian Theory”. Berita ini akhirnya membuat parlemen Australia (juga Inggris) bersepakat untuk menuntut “sebuah pertanggungjawaban”, yang akhirnya berujung pada perintah untuk mengirimkan 12 kapal perang ke ground zero. Dan di balik semua hingar bingar ini, diam-diam ternyata Admiralty London kembali mengirimkan sebuah instruksi rahasia.

Adalah Commodore Lesley van Huydt, pimpinan dari gugus tugas yang terdiri dari 8 kapal fregat dan 4 kapal “Calypso”, yang mendapatkan instruksi rahasia itu, yang lalu membuatnya murung di ruangannya sepanjang siang ini. Bagaimana tidak, instruksi rahasia itu benar-benar di luar dugaan dan nalar. Walaupun dia hanyalah seorang komodor biasa, namun akal sehatnya tahu bahwa yang akan dia lakukan ini sama saja seperti menyeret Australia ke dalam sebuah peperangan, yang kali ini tak akan dikobarkan di tanah yang jauh, melainkan di tanah perbatasan yang dekat dengan jantung Australia.

****************************

“Mengambil atau menghancurkan kapal selam Indonesia??” kata Lesley van Huydt ketika berbicara dengan Rear-Admiral Leighton Crowe soal penugasannya,

“Anda sudah gila, Admiral??”

“Bukan saya yang gila, tapi semua orang di atas, bahkan di London sekalipun,” kata Re-Adm. Crowe.

“Ini sama saja kita masuk ke tanah orang, membunuh seekor sapinya, kemudian sambil membawa pistol paginya kita mendobrak masuk untuk mengambil sapi itu,” kata Cdr. van Huydt,

“yang mana dari semua itu yang masuk di akal, Admiral??”

“Perintahnya tetap, Commodore, walaupun itu tidak masuk akal,” kata Re-Adm. Crowe.

“Lalu prospek konflik dengan Armada Indonesia??” tanya Cdr. van Huydt.

“Almost certain,” kata Re-Adm. Crowe.

Lesley van Huydt dengan tidak malu-malu pun menggebrak meja di depan Leighton Crowe. Dia memang dikenal sebagai komandan yang tak pernah tedeng aling-aling dan bila dia tidak suka pada sesuatu, dia akan mengungkapkannya dengan cara yang keras, bahkan kepada atasannya sekalipun.

“Anda suruh saya bunuh diri, Admiral??” teriak Cdr. van Huydt.

“Apa kau takut mati, Commodore?” tanya Re-Adm. Crowe.

“Mati pun saya siap, Admiral, jangan salah sangka,” kata Cdr. van Huydt,

“tidak masalah kalau pun saya mati sendirian, tapi kalau harus sekalian menyeret Australia dalam sebuah peperangan yang tidak jelas, jelas saya menolak mentah-mentah!”

“Kau sudah mendapat perintahmu, Commodore, dan kau adalah yang paling senior di sini,” kata Re-Adm. Crowe,

“apa kau lebih suka kalau aku memberikan kesempatan itu kepada perwira yang lebih junior?”

“Para banci gila tembak itu??” kata Cdr. van Huydt,

“malah lebih buruk kalau mereka yang menanganinya, bisa-bisa belum apa-apa sudah maen tembak saja,”

“Karena itu aku memilihmu, Commodore,” kata Re-Adm. Crowe,

“dengar, hanya kau yang bisa kupercaya untuk menangani hal ini; Admiralty di London dan Canberra sudah gila, hampir semua orang yang kutahu sudah kehilangan akal sehat mereka; kecuali kau,”

“Aku tak akan menganggapnya sebagai pujian, Admiral,” kata Cdr. van Huydt,

“berterus terang sajalah, ini upayamu untuk menyingkirkan berandalan sepertiku, kan? Yang sudah mencoreng muka Armada Timur?”

“Laksanakan saja perintahmu, Commodore,” kata Re-Adm. Crowe.

Lesley van Huydt menatap mata komandannya ini dengan tatapan mata penuh kecurigaan. Dia memang tak pernah suka berada di saat seperti ini, apalagi harus melakukan perintah yang dia nilai sebagai perintah yang keblinger.

“Akan saya lakukan, Admiral,” kata Cdr. van Huydt,

“tapi tidak dengan senang hati,”

Leighton Crowe hanya mengangguk saja, dan dengan kasar Lesley van Huydt berdiri sambil sengaja menghentakkan kaki kursinya ke lantai. Mulutnya menggumamkan suatu makian yang tak terucap, sementara dia berjalan menuju pintu keluar.

“Satu hal lagi, Commodore,” kata Re-Adm. Crowe,

“walaupun peluang konflik dengan Indonesia adalah ‘almost certain’, tapi tolong fokuskan ke ‘almost’, jangan ke ‘certain’,”

“Bagaimana bila Indonesia menyerang?” tanya Cdr. van Huydt,

“atau mereka menolak menyerahkannya?”

“Kuharap saat itu kau bisa membuat keputusan yang terbaik,” kata Re-Adm. Crowe,

“walaupun secara instruksi dari Admiralty adalah jelas bahwa kau diizinkan untuk memberi perlawanan ataupun mengambil dengan kekerasan,”

“Dan Armada Kelima? Apa mereka akan membantu kita?” tanya Cdr. van Huydt,

“juga Armada Ketujuh?”

“Mungkin, tapi tidak untuk misi ini,” kata Re-Adm. Crowe.

“Asal kau tahu saja, Admiral, ini adalah perintah paling berengsek yang pernah kau keluarkan,” kata Cdr. van Huydt,

“amat berengsek!”


************************


Cdr. van Huydt kemudian menarik napas panjang, lalu dia mengambil topinya dan keluar dari ruangannya, juga dari gedung menuju ke sebuah kapal yang tengah bersandar. Kapal itu terlihat megah dan klimis, minim dengan tonjolan-tonjolan, dan pastinya lebih mirip ke kapal konvensional alih-alih berformat trimaran macam Calypso. Inilah kelas Escort-Frigate terbaru Australia, yaitu kelas Poseidon, yang merupakan kapal tempur terhebat yang dimiliki oleh Australia. Penyebutan Escort-Frigate adalah karena secara dimensi lebih mirip ke Destroyer-Escortdaripada sebuah fregat. Berbeda dengan kapal Calypso yang memang diperuntukkan bagi sub-chaser dan silent attack; kapal kelas Poseidon tidak dilengkapi dengan kemampuan stealth, hanya low-observability saja. Namun kekurangan ini ditutupi dengan persenjataannya yang memang segambreng. Dari depan ada 48 sel tabung VLS Mk 41, diikuti double-turret kanon Bofors 5 inci autocannon, lalu dua buah Phalanx CIWS 20mm, masing-masing di forward dan aft bridge, dua peluncur rudal antipesawat Mk 26, 8 peluncur rudal antikapal Harpoon, meriam sekunder Bofors 40 mm autocannon, 2x3 tabung torpedo Mk. 32, serta tambahan 48 sel tabung VLS Mk 41 di buritan. Mengingat Australia sering melakukan operasi militer bersama Amerika Serikat, maka penggunaan sistem pada kelas Poseidon pun mampu diintegrasikan pula dengan sistem milik Amerika.

Total Australia memiliki 28 kapal dari kelas Poseidon, yang menjadi satu kekuatan pemukul terbesar bersama fregat lama kelas Improved-ANZAC (ANZAC II) yang jumlahnya memang lebih banyak. Dalam waktu dekat, jumlah kapal kelas Poseidon akan ditambah menjadi 50 unit dengan opsi pengembangan hingga 120 kapal untuk mengimbangi Indonesia yang juga mencanangkan program pengembangan Armada dengan 4 kelas korvetnas (SIGMA-PAL, Keumalahayati, G.H.J Douwess Dekker dan RA Kartini) serta destroyer kelas Yos Sudarso. Dan kapal utama dari kelas Poseidon adalah HMAS Amphitrite yang menjadi flagship Armada Timur dan akan dipakai oleh Cdr. Lesley van Huydt kali ini. Berturut-turut bersama dengan HMAS Amphitrite akan ikut pula kapal-kapal kelas Poseidon lain, yaitu HMAS Leonidas, HMAS Hera, HMAS Cerberus, HMAS Hydra, HMAS Persephone, HMAS Atlas, dan HMAS Medusa. Armada kapal fregat ini akan disertai oleh 4 kapal kelas Calypso, yaitu HMAS Christmas Island, HMAS Coolgardie, HMAS Wollongong, dan HMAS Mackay. Masing-masing sudah dilengkapi dengan persenjataan lengkap dan sebagai satu kesatuan menjadi kekuatan tempur yang cukup dahsyat. Ini masih ditambah dengan keberadaan 4 helikopter jenis buru-selam SH-60 Seahawk masing-masing di HMAS Amphitrite, HMAS Atlas, HMAS Persephone, dan HMAS Cerberus.

Cdr. Lesley van Huydt melihat sejenak ke arah semua Armada yang hebat itu sambil menarik napas panjang. Bila ingin memulai sebuah pertempuran, memiliki Armada seperti ini memang cukup baik, meskipun dia tahu Indonesia kini tidak bisa diremehkan, apalagi dengan kekuatan pembom strategis Tu-22M Backfire dan Xian H-6 ditambah sebagai suplemen dari kekuatan laut Indonesia yang memang saat ini tengah berkembang. Cdr. van Huydt memakai topi komandonya, kemudian menoleh ke belakang, melihat Re-Adm. Leighton Crowe yang berada di balkon atas juga melepas kepergian Armada tersebut. Tanpa buang waktu, Cdr. van Huydt pun memerintahkan semua kapal segera berangkat. Dan ketika formasi kapal itu tengah bergerak meninggalkan pangkalan, nun jauh di atas sana, beribu-ribu kaki, tak terlihat oleh mata telanjang, sebuah pesawat bomber strategis Tu-22M Backfire pun lewat di atas mereka dan mengintai kepergian Armada itu.

Beberapa Jam Sebelum Present Hour


Bina Graha

Jakarta

11.36 WIB

H minus 48:26:00



“Jadi bagaimana langkah selanjutnya, Nn. Aryanti,” kata Mars. Kambu saat berbincang dengan Arfa Aryanti di ruangan santai tempat minum kopi di Bina Graha. Sayangnya suasana yang terjadi saat itu bukanlah suasana yang santai.

Arfa menghirup rokoknya sejenak, kemudian melepaskan asapnya ke atas hingga membentuk semburan kabut putih tipis. Dia memejamkan mata sejenak, seolah menikmati sensasi saat mengeluarkan asap tembakau itu dari dalam paru-parunya. Kantung dan lingkaran hitam mulai tampak di sekitar matanya, menodai wajahnya yang sebenarnya cukup cantik. Rambut yang masih terlihat kusut walaupun sudah diikat, serta kulit yang mengkusam walau tak terbakar matahari seolah menjadi pertanda stres yang tengah dialami oleh wanita ini. Baju Arfa masih sama dengan yang dipakai saat menghadap ke rapat kabinet pertama kali untuk mengabarkan serangan NASROC atas KRI Antasena, yang kini telah berlekuk dan tidak rapi di banyak tempat. Selebihnya, dia pun juga sudah sejak saat itu pula tidak mandi, hanya cuci muka dan memakai deodoran saja yang membuatnya masih seolah terlihat segar.

“Satu-satunya penyesalanku, Marsekal,” kata Arfa sambil melepas kacamata minusnya yang senantiasa menemaninya selama ini, “aku terlalu terburu-buru memerintahkan KRI Ternate untuk pergi ke ground zero tanpa menunggu gugus tempur dari KRI Keumalahayati yang datang untuk memberi bantuan,”

Arfa meletakkan sejenak rokoknya di asbak dan ganti meminum sedikit kopi. Napasnya sudah terasa amat berat dan tangannya sedikit gemetaran, entah akibat efek kelelahan, stres, ataupun gabungan dari semua faktor itu.

“KRI Ternate memang kapal yang hebat, dia bisa mendeteksi apa yang ada di bawah air, tapi dia bukan kapal kombatan untuk menghadapi kapal fregat sekelas yang dimiliki oleh Australia,” kata Arfa,

“begitu juga dengan KRI Harimau, dan gugus tugas KRI Keumalahayati masih ratusan mil jauhnya dari mereka,”

“Armada Australia pun aku yakin masih ribuan mil juga jauhnya, Nn. Aryanti,” kata Mars. Kambu,

“mereka harus memutar setengah benua untuk bisa mencapai ground zero,”

“Kecepatan jelajah fregat kelas Poseidon adalah yang paling tinggi di antara jenis-jenis kapal sekelasnya, Mars. Kambu, aku pernah melihatnya sendiri,” kata Arfa,

“kita tidak tahu di mana posisi Armada Australia itu sekarang, dan mencarinya saat ini, walau dengan pesawat intai terbaik kita, tetap bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami,”

“Mereka pasti harus berhenti di suatu tempat, bukan?” tanya Mars. Kambu,

“di Port Darwin, misalnya,”

“Tidak, terlalu riskan bila berhenti di sana,” kata Arfa,

“lagi pula dengan kemampuan jelajah seperti itu, aku yakin mereka tak akan berhenti untuk apa pun; seharusnya aku sudah bisa memperkirakan hal itu, seharusnya aku bisa bertindak dengan lebih bijaksana,”

Marsekal Kambu diam sejenak kemudian dia menatap Arfa dengan tajam, sehingga membuat Arfa sedikit salah tingkah.

“Ada apa, Marsekal?” tanya Arfa.

“Kau sudah bertindak bijaksana, Nn. Aryanti,” kata Mars. Kambu,

“kau tahu bahwa musuh utama dalam pencarian kapal selam adalah waktu, karena itu kau meminta kapal KRI Ternate dikerahkan segera, tak peduli ada badai supaya bisa mencari mereka,”

“Tetap saja itu tidak menutup fakta bahwa aku mengirimkan prajurit lemah langsung ke mulut harimau…” kata Arfa.

“Yang bila tak kau kirimkan saat itu juga, Nn. Aryanti, semua akan sudah terlambat pada saat kita siap!” kata Mars. Kambu,

“kita tentu tak akan sempat melakukan pencarian, mungkin tak akan bisa menemukan FST itu, dan pastinya tak ada waktu untuk meminta bantuan ke Russia; kita tak akan bisa mempunyai harapan kecil yang selama ini kita pertahankan,”

“Anda pikir begitu, Marsekal?” tanya Arfa,

“bahwa aku telah melakukan hal yang benar?”

“Benar atau salahnya aku tidak tahu, Nn. Aryanti, tapi tindakanmu lebih dari sekadar bijaksana,” kata Mars. Kambu,

“dan tak ada tindakan yang lebih luhur selain tindakan untuk menyelamatkan nyawa manusia; lebih luhur daripada mengambil nyawa musuh,”

Arfa terdiam sejenak, kemudian dia balas menatap Mars. Kambu.

“Sungguh aneh perkataan seperti itu datang dari orang seperti Anda, Marsekal,” kata Arfa.

“Apa anehnya? Apakah menurutmu tentara bukan manusia yang juga punya rasa kemanusiaan?” tanya Mars. Kambu,

“kami adalah orang-orang yang harus siap untuk mati sebagai tumbal negara, kamilah yang lebih paham bagaimana rasanya memiliki hak untuk hidup, dan di lebih dari siapa pun, kami jugalah yang paling mendambakan sebuah kedamaian; karena kami pula yang paling mengerti bagamana pahit-getirnya sebuah peperangan,”

“Andai saja Komnas HAM mendengar perkataan Anda, Marsekal,” kata Arfa,

“segala kesalahpahaman selama ini pasti bisa diluruskan,”

“Mereka harus melakukan pekerjaan mereka, Nn. Aryanti, begitu juga dengan kami,” kata Mars. Kambu,

“kami tak mengharapkan mereka paham atau mengerti yang kami kerjakan, cukup mereka tahu saja apa yang akan terjadi bila kami tak mengerjakan pekerjaan kami,”

“Mereka akan berpesta bila itu terjadi,” kata Arfa,

“kemudian kita dalam suasana perang dan mereka akan mengeluh bahwa militer tak melakukan tugas mereka; ironis sekali, memprotes saat militer mengerjakan tugas mereka, dan mengeluh saat militer tak melakukan tugasnya,”

Mars. Kambu tidak menjawab, hanya sedikit mengedikkan kepalanya. Entah mengamini atau menolak perkataan Arfa itu.

“Omong-omong soal perang, Marsekal,” kata Arfa,

“seberapa kesiapan Angkatan Udara bila pecah perang dengan Australia dalam waktu dekat?”

“Kami siap untuk melakukan serangan pertama ke Australia, armada Backfire kita sudah kuperintahkan untuk berpindah ke Madiun untuk bersiap-siap,” kata Mars. Kambu,

“semenjak kau meminta pengintaian strategis atas Sydney, aku juga memerintahkan skuadron H-6 kita untuk bersiap siaga. Total dua pangkalan akan dikerahkan untuk menampungnya, yaitu di Adisucipto dan Kalijati; Sementara semua kekuatan pesawat tempur kita sudah kusiapkan untuk berangkat dari empat pangkalan berbeda: Halim, Atang Sendjaya, Adisumarmo, dan Abdurrahman Saleh; dalam tempo 24 jam, semua pesawat tempur di seluruh pangkalan udara di Sumatera dan Kalimantan akan dipindahkan ke empat pangkalan itu,”

“Kecuali Halim, Atang Sendjaya, dan Iswahyudi, semuanya adalah menjadi satu dengan bandara sipil,” kata Arfa,

“jadi semua bandara itu ditutup untuk semua penerbangan seperti di Hasanudin?”

“Hanya untuk sementara bila keadaan memang tidak memungkinkan pemakaian untuk sipil dan militer sekaligus,” kata Mars. Kambu.

“Menteri Perhubungan tak akan senang dengan ini,” kata Arfa.

“Aku akan menanggung risiko itu,” kata Mars. Kambu.

“Untuk pengamanan atas ground zero, berapa skuadron yang sudah kau tugaskan?” tanya Arfa.

“Total delapan skuadron, dua memakai F-16C, dua memakai Su-27, dua memakai F-16D, dan dua sisanya memakai Su-30; F-16C dan Su-27 akan kita fokuskan untuk memberikan bantuan pengamanan untuk supremasi udara, masing-masing sudah dipersenjatai dengan rudal jarak pendek dan rudal BVR, sementara F-16D dan Su-30 akan kita fokuskan untuk memberikan bantuan tembakan udara; standar senjata mencakup rudal udara jarak pendek dan rudal anti-sasaran-permukaan,” kata Mars. Kambu,

“saat ini semua skuadron itu sudah dalam keadaan siap tempur; dan ada opsi penambahan hingga 12 skuadron bila suasana semakin memanas,”

“Bagaimana dengan pesawat pengintainya?” tanya Arfa.

“Angakatan Udara sudah menyiagakan 2 buah NC-295 MR-EW, sementara Angkatan Laut menyiapkan 4 buah Beriev-200 AMP,” kata Mars. Kambu,

“masing-masing akan berjaga secara bergiliran di ground zero dan wilayah-wilayah di sekitarnya; lintang 9 derajat ke selatan sudah dinyatakan sebagai zona larangan terbang; semua rute penerbangan sipil ke arah itu sudah dialihkan ke rute aman,”

“Sekarang adalah masalah siapa yang paling cepat bisa mencapai ground zero, Marsekal,” kata Arfa,

“kita, atau mereka; dan aku masih memikirkan siapa yang sebenarnya membocorkan masalah ini kepada pihak musuh,”

“Walaupun mungkin sedikit berlebihan, kecurigaan Anda beralasan, Nn. Aryanti,” kata Mars. Kambu.

“Tentu saja beralasan, Marsekal!” kata Arfa dengan nada tinggi,

“Proyek Antasena memiliki tingkat kerahasiaan yang tinggi yang tak semua orang bisa tahu; dan entah bagaimana pihak musuh tahu bagaimana, kapan, dan di mana harus menemukannya,”

“Hati-hati, Nn. Aryanti,” kata Mars. Kambu,

“Anda akan menuduh banyak orang penting dalam ketatanegaraan kita; sebaiknya soal ini Anda konsultasikan dengan Tn. Hafryn sebagai ketua Badan Intelejen,”

“Dia akan ke sini siang ini,” kata Arfa,

“dan aku pasti menanyainya; dan aku bersumpah demi Tuhan, Marsekal, siapa pun itu dalang di balik semua ini, tak akan kulepaskan dia sampai ke liang kubur sekali pun, mau dia menteri atau anggota DPR!”



Present Day, Present Hour


Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma

Jakarta Timur, Jakarta.

20.58 WIB

H minus 39:04:00



Suasana malam yang seolah biasa di Jakarta, namun di sisi lain, tepatnya di pangkalan udara Halim Perdanakusuma, situasi berlangsung dengan amat sibuk. Para pekerja landasan tampak hilir mudik ke sana kemari bagaikan semut yang kejatuhan gula. Kereta barang tampak disiapkan dan dipanaskan di salah satu apron, sementara itu di sisi lain, tak jauh dari apron, empat buah helikopter Mi-17 milik Angkatan Darat juga sudah sejak 15 menit terakhir menyalakan baling-balingnya, namun masih di tempat dengan awak yang siap siaga. Kabel-kabel slink diikatkan pada masing-masing helikopter itu menuju ke dua buah kontainer yang nampaknya sudah dipersiapkan sebelumnya.

Pada sebuah sisi dari pangkalan, berjejer 12 pesawat Su-27 yang kesemuanya sudah siap senjata dan dalam posisi yang memudahkan untuk diberangkatkan sewaktu-waktu. Namun untuk saat ini, ke-12 pesawat ini masih diam saja di landasan, bagai menunggu perintah yang bisa datang kapan saja. Sementara itu di sisi lainnya, berjejer pula 6 buah pesawat tempur-latih F/A-50 Golden Eagle yang dimasukkan dalam skuadron “pengamanan ibu kota”. Keenam pesawat F/A-50 lainnya saat ini tengah mengudara, dan empat di antaranya tengah menjalani giliran untuk berpatroli di atas wilayah udara Jakarta dan sekitarnya. Semenjak kasus KRI Antasena merebak, skuadron ini telah diperintahkan untuk bergiliran empat-empat untuk berpatroli di atas Jakarta bergantian dengan skuadron F/A-50 “pengamanan ibu kota” lainnya di Atang Sendjaya. Namun bila hanya ada empat pesawat yang berpatroli, lalu di mana dua pesawat sisanya?

Mendadak tanda peringatan berbunyi dan semua awak darat langsung bersiap di posisinya sembari menantikan sesuatu. Lampu-lampu pendaratan di apron menyala untuk memberi penerangan atas jalur pendaratan yang tengah dituju pada malam yang gelap. Para pemberi semboyan pun bersiap-siap dengan muka mereka yang tampak cemas. Malam ini adalah malam yang amat penting, dan kesuksesan dari sebuah skenario besar akan ditentukan oleh seberapa cepat dan sempurnanya awak di Halim bisa bekerja.

Tak beberapa lama, dari balik langit malam yang kelam, lampu-lampu sayap dari empat buah pesawat pun mulai muncul dan mendekat; dua buah pesawat besar dan dua pesawat yang lebih kecil. Sayup-sayup lampu-lampu warna merah itu mulai menunjukkan wujudnya dan baru kemudian terlihatlah rupa pesawat-pesawat yang akan datang itu: dua buah pesawat pembom ber-decal AU Russia dari jenis Tu-160 Blackjack, dan dua pesawat TNI-AU berjenis F/A-50 Golden Eagle. Rupanya dua pesawat yang hilang itu tengah pergi untuk melakukan pengawalan atas kedatangan tamu-tamu dari Russia ini.

Dengan anggun, kedua Blackjack itu pun akhirnya melakukan pendaratan dengan sempurna di landasan Halim. Pertama-tama adalah pesawatStrella-5672 diikuti oleh pesawat Katya-5670, sementara kedua pengawalnya terus berputar di atas Halim. Tanpa menunggu mesin pembom itu mati sepenuhnya dan mendingin, ruangan kargo segera dibuka dan para awak berhamburan menyemut untuk mengeluarkan apa pun yang ada di dalam pesawat itu.

Dari masing-masing pesawat ini, dikeluarkanlah sebuah kontainer yang langsung segera dibawa dengan cepat dan dimasukkan pada kontainer yang terikat pada masing-masing helikopter Mi-17 tak jauh dari sana. Beberapa orang pun keluar pula dari pesawat Katya-5670, orang-orang Russia, dan segera berlari untuk menaiki satu dari empat helikopter Mi-17 tersebut. Selesai sebuah kontainer dimuati, dua heli yang mengikatnya segera lepas landas dan dengan begitu membawa kontainer tersebut pada gantungan mereka, awak darat telah mengikat dua kali untuk memastikan kargo tak terlepas selama perjalanan, mengingat ini adalah cara pengiriman barang yang amat berisiko. Total proses pembongkaran dan pemuatan ulang kargo hanya memakan waktu 30 menit, sementara yang paling lama justru adalah ketika memarkirkan pesawat supaya kargo bisa diurus. Selesai semua kargo diangkut oleh helikopter, kedua pesawat pembom strategis kebanggaan Russia itu segera ditarik masuk ke dalam hanggar. Barulah pada saat itu semua awak darat bisa bernapas lega.

Sementara itu di atas langit, keempat helikopter yang membawa dua kargo misterius itu langsung saja terbang dengan cepat ke arah selatan, mengikuti arah yang telah ditaklimatkan sebelumnya. Sekalipun cepat, namun suasana kehati-hatian tetap dijaga, supaya tidak terjadi apa-apa dengan kargo yang mereka gantung tersebut. Tak beberapa lama setelah meninggalkan Halim, dua helikopter lain pun turut bergabung, kali ini adalah helikoter serang dari jenis AH-64 Apache, yang menjaga masing-masing dari depan dan belakang formasi tersebut. Dan tak beberapa lama kemudian, formasi pun ditutup dengan kehadiran 4 buah helikopter serbu jenis Mi-35 bersenjata penuh masing-masing mengapit dua-dua di kiri dan kanan formasi. Formasi 10 helikopter itu pun akhirnya bergerak lugas menembus langit malam, sementara di atas mereka, tak terlihat oleh mata, deru dua buah pesawat jet jenis F-16 pun seolah mengawasi perjalanan dari formasi ini dari ketinggian. Dengan pengawalan seperti itu, kargo yang mereka bawa pastilah amat berharga.

Sementara, nun jauh di sana, di pangkalan aju di Pelabuhan Ratu, dua kapal perang berbendera Russia pun merapat…


Mendekati 9 Derajat Lintang Selatan
06.13 WIB
H minus 29:49:00



“MR-EW Blue Sky"

“C-212 PK-FMP, diulangi, C-212 PK-FMP, Anda memasuki zona larangan terbang, segera berputar ke arah 1-8-0 sekarang juga!”

Sebuah pesawat NC-295 MR-EW (Maritime Reconnaissance and Early Warning) “Bloodhound” dengan kode designasi “Blue Sky” tengah terbang sambil melakukan beberapa manuver berbahaya, berupaya untuk mengintersep sebuah pesawat sipil jenis C-212-400 berkode registrasi PK-FMP milik sebuah maskapai penerbangan yang saat ini hampir bangkrut akibat kekurangan penumpang, dan akhirnya mencoba bertahan hidup dengan menyewakan pesawat-pesawat yang dimilikinya untuk tujuan-tujuan khusus.

Pagi hari ini tentulah amat istimewa bila dibuka dengan duel dua pesawat buatan PT. DI yang masing-masing sama-sama tak dilengkapi dengan senjata. Piringan radar di atas “Blue Sky” terus menerus berputar untuk mengamati semua yang tengah terbang di udara, dan secara kebetulan menangkap si C-212 yang memang melayang dengan kecepatan tinggi mencoba menembus lintang 11 derajat. Tanpa adanya pesawat tempur yang ditugaskan untuk mengintersep, “Blue Sky” akhirnya mencoba untuk mengintersep sendiri pesawat “pembangkang” itu. Agak kikuk memang gerakannya di udara, akibat adanya peralatan radar yang terpasang di bagian punggung pesawat itu, di samping secara hakiki, mengintersep dan melakukan manuver-manuver ekstrem bukanlah tugas asasi pesawat ini. Akibat kekikukan itu, beberapa kali pula si C-212 yang lebih ramping berhasil berkelit seolah menantang.

“C-212 PK-FMP, diulangi sekali lagi, ini Blue Sky, Anda memasuki zona larangan terbang, segera berbalik atau kami akan melakukan tindakan!”

Tak ada jawaban dari PK-FMP, sepertinya memang pesawat itu terbang tanpa melakukan kontak radio sama sekali, namun dari Blue Sky tahu bahwa si C-212 bisa menerima pesannya dengan jelas dan keras. Sekali lagi, mengandalkan kecepatannya yang besar, Blue Sky mencoba mengintersep, namun kembali si C-212 mengelak seolah mengejek.

“Berengsek ini pesawat, sepertinya mengejek kita,” kata pilot sekaligus komandan dari NC-295 “Blue Sky”.

“Sabar, Kep,” kata ko-pilot.

“Mana ini temen kita koq nggak datang-datang?? Apa kudu saya tabrakkan pesawat ini ke pesawat ** SENSOR ** itu??” kata pilot.

“Dua F-16 sedang dalam perjalanan, Kep! Dua menit lagi sampai di posisi kita,” kata juru radio.

“Satu menit!” kata juru radar, 

“mereka sudah terlihat di radar,”

“Buka komunikasi dengan mereka,” kata pilot.

“Siap! Falcon, di sini Blue Sky, Over,” kata juru radio,

“diulangi, Falcon, di sini Blue Sky, Over,”

“Diterima, Blue Sky, ini Snakehead dan Cottonmouth of the Warhound Squadron, we got visual on you,” kata Mayor Pnb. Aslan “Snakehead” Anwari, pilot F-16,

“so what’s the commotion, Over?”

“Crazy civilian bird, Snakehead,” kata juru radio,

“could you handle them for us, Over?”

“No probs, Blue Sky, tapi itu pesawat dari mana, Over?” tanya May. Aslan.

“Sepertinya ada a bunch of crazy reporters hire it to go beyond the no-fly-zone,” kata Blue Sky,

“Be advised, we just got order, Snakehead, force down atau shoot down, Over,”

“Wilco, Blue Sky,” kata May. Aslan,

“we’ll take over from here, Over and Out,”

Dua buah pesawat F-16C berpilotkan Mayor Pnb. Aslan “Snakehead” Anwari dan Mayor Pnb. Ariana Reynitta “Cottonmouth” Sondakh pun kemudian melesat mendahului pesawat NC-295 Blue Sky dan tahu-tahu saja sudah mengapit pesawat C-212 yang nakal itu.

“Ready in position, Snakehead, Over,” kata May. Ariana.

“Weapons free, Cottonmouth,” kata May. Aslan,

“but don’t shoot just yet,”

“Roger that, Snakehead, preparing to lock on target,” kata May. Ariana,

“who shall talk to that guy? You or me, Over?”

“Ladies first, Cottonmouth, Over,” kata May. Aslan.

“Oh no, please, age before beauty,” balas May. Ariana.

“I am a little bit shy, you know?” kata May. Aslan.

“Cut the chatter, Warhound! Do your job before target gets too far,” kata Blue Sky.

“And he means you, Snakehead, Over!” kata May. Ariana.

Mayor Aslan pun menarik napas panjang kemudian pesawatnya yang bernomor TS-16224 pun segera maju sedikit ke depan hingga dia bisa melihat ke dalam kokpit C-212.

“C-212 PK-FMP, this is the Warhound Squadron, you’re off the limit of the no-fly zone, turn around immediately as we will escort you to the nearest air base, Over,” kata May. Aslan.

Tak ada jawaban dari C-212 PK-FMP. May. Aslan pun memiringkan pesawatnya sejenak, memperlihatkan segenap persenjataan berat yang dibawanya. Ini saja seharusnya cukup membuat siapa pun bergidik. Sejenak May. Aslan sempat melihat pilot dan ko-pilot pesawat itu seperti tengah berdebat, dan nampaknya ada orang lain di dalam kokpitnya. Dan pesawat itu maju terus.

“This guy needs more than words, Snakehead!” kata May. Ariana.

Tiba-tiba, pesawat TS-16225 yang dipiloti oleh May. Ariana bermanuver dan tahu-tahu sudah ada di belakang C-212 itu. May. Ariana memasukkan solusi penembakan dan langsung melakukan lock-on atas pesawat itu. Dalam posisi seperti ini, dia tak mungkin tidak tahu kalau sudah di-lock-on.

“Be advised, C-212 PK-FMP, change course immediately and follow us to the nearest airbase or we will take action, Over!” kata May. Aslan, sedikit hilang kesabaran.

Perdebatan kembali terjadi, tapi tetap tak ada perubahan arah, bahkan membalas pun tidak.

“Blue Sky, are we clear to shot?” tanya May. Aslan.

“You’re clear to shot, Warhound,” kata Blue Sky.

“Two tap, Cottonmouth, but aim carefully,” kata May. Aslan.

“Roger that, Snakehead,” kata May. Ariana.

Pesawat TS-16225 segera mengambil posisi agak tinggi, kemudian dengan cepat dia menembakkan dua kali putaran dari kanon M40A1 Vulcan 20mm. Rentetan peluru yang berubah menjadi bola cahaya sebesar bola golf itu melesat hanya beberapa inci saja dari hidung si C-212. Tak mungkin siapa pun yang ada di dalam kokpit untuk tak melihat rentetan bola cahaya itu. Dan bila itu pun tidak dianggap serius, maka tak tahu lagi harus berbuat apa selain menembaknya jatuh.

“This is the final warning, C-212 PK-FMP, we’ve been authorized to shoot down any illegitimate aircraft on the no-fly-zone, change your course…” kata May. Aslan.

“Jangan tembak! Kami menyerah! Kami menyerah!” kata C-212 PK-FMP, perkataan pertama dari pesawat pembangkang ini.

C-212 PK-FMP kemudian segera berbalik meninggalkan lokasi zona larangan terbang di bawah pengawalan May. Aslan dan May. Ariana untuk menuju ke pangkalan udara Kalijati. Dalam hati, May. Ariana pun lega karena dia tak perlu untuk menembak jatuh pesawat ini.

“We’ll take it from here, Blue Sky,” kata May. Aslan,

“you may go back to our friends back there,”

“Thank you, Warhounds,” kata Blue Sky,

“be advised there, they might as well try again,”

“Roger that, Blue Sky, Over and Out,” kata May. Aslan.


Samudera Indonesia
06.59 WIB
H minus 28:50:00


Pesawat NC-295 Blue Sky pun sudah kembali terbang di atas ground zero, mengamati KRI Ternate dan KRI Harimau yang masih dengan putus asa mencari keberadaan KRI Antasena dengan sensor-sensor mereka yang mandul di hadapan kecanggihan sistem pengelak dari KRI Antasena.

Blue Sky seharusnya sudah ada di lokasi ini satu jam yang lalu ketika pesawat Beriev Be-200 AMP berkode sandi “Firebird” milik Angkatan Laut meninggalkan lokasi, yang berarti ada jeda waktu selama satu jam di mana KRI Ternate dan KRI Harimau sama sekali tidak memiliki mata udara, semua gara-gara C-212-400 yang berusaha melanggar itu, sehingga Blue Sky terpaksa melayani “pengganggu” ini dulu sebelum akhirnya bisa bergabung ke gugus tugas KRI Ternate.

“Ini Blue Sky, KRI Ternate, maaf atas keterlambatannya, ada pengganggu yang harus diberi perhatian terlebih dulu,” kata Blue Sky.

“Tak apa-apa, Blue Sky, tapi kami merasa sendirian selama satu jam,” kata Kapt. Kadek,

“kuharap tidak terjadi apa-apa selama satu jam ini; kau tahu di mana posisi terakhir gugus tugas KRI Keumalahayati?”

“Seharusnya saat ini gugus tugas itu sudah memasuki Samudera Indonesia, mungkin sedang menuju ke sini saat ini atau…” kata Blue Sky,

“tunggu dulu, KRI Ternate,”

“Ada apa, Blue Sky?” tanya Kapt. Kadek.

“Radarku menangkap ada pergerakan sekumpulan kapal dari bearing 3-0-0,” kata Blue Sky.

“Apakah itu gugus tugas KRI Keumalahayati, Blue Sky?” tanya Kapt. Kadek.

“Mungkin, kami belum bisa memastikan, seharusnya kalian akan mendapat visualnya dalam beberapa saat lagi,” kata Blue Sky,

“kami akan coba menghubunginya lagi, katanya terjadi statik pada radio KRI Keumalahayati; mungkin saja mereka sudah tiba lebih cepat,”

“Roger that, Blue Sky,” kata Kapt. Kadek.

Kapt. Kadek sedikit bisa bernapas lega. Bila gugus tugas KRI Keumalahayati yang selama ini ditunggu-tunggu akhirnya tiba, maka posisi diground zero yang selama ini cukup rentan dengan hanya bermodalkan KRI Ternate, KRI Harimau plus pesawat-pesawat pengintai yang bersliweran, akan menjadi cukup kuat, mengingat gugus tugas KRI Keumalahayati memiliki kemampuan tempur anti-permukaan yang cukup mumpuni.

Dua orang kelasi segera berlarian dan naik ke menara pandang untuk mengamati keadaan sekitar, atas perintah dari Kapten Kadek.

“Benar, Kep, radar juga menangkap ada sekumpulan kapal yang mendekat,” kata perwira radar.

“Apa bisa kita hubungi?” tanya Kapten Kadek.

“Statik, Kep, sama seperti kondisi terakhir radio KRI Keumalahayati yang sempat dilaporkan,” kata perwira radio.

Anton dan Prita pun masuk ke anjungan kendali, sepertinya mereka baru saja bangun tidur, dan hanya cuci muka saja sebelum akhirnya langsung ke anjungan kendali. Beberapa keributan di sini memang cukup menarik perhatian Anton.

“Ada apa, Kep?” tanya Anton.

“Ada kumpulan kapal yang mendekat, mungkin ini adalah gugus tugas KRI Keumalahayati yang selama ini kita tunggu,” kata Kapt. Kadek.

“Sudah berhasil dihubungi?” tanya Anton.

“Belum, Pak Anton, radionya statik, kami masih berusaha,” kata Kapt. Kadek.

“Itukah mereka?” tanya Prita sambil melihat dari jendela, ada titik-titik perak di tengah laut yang terlihat menuju ke arah mereka.

“Ya, Nn. Prita, kemungkinan begitu,” kata Kapt. Kadek.

“Boleh aku lihat?” tanya Anton.

Salah seorang perwira kemudian meminjamkan Anton sebuah teropong. Anton pun mendekatkan matanya ke lensa okuler teropong dan mengatur jarak pandangnya. Sejenak Anton terhenyak kemudian dia melepas dan membersihkan kacamatanya sebelum akhirnya memasang kembali teropong itu di matanya.

“Ada apa? Itu benar mereka?” tanya Prita.

“Aku belum bisa memastikan,” kata Anton.

“Terus coba hubungi mereka,” kata Kapt. Kadek.

Anton pun kembali mengatur jarak pandang teropongnya, dan terlihatlah siluet kabur dari kapal perang terdepan yang tengah mendekat ke arah mereka. Anton memfokuskan diri pada satu titik di depan kapal perang itu, meriam utamanya, dan sedikit terkejutlah dia, karena walaupun agak kabur, dia bisa melihat bahwa meriam utamanya memiliki dua laras, padahal korvetnas dari kelas Keumalahayati hanya memiliki satu laras saja.

“Kep, sepertinya itu bukan KRI Keumalahayati!” kata Anton dengan nada bergetar.

“Kep, mereka tidak merespons sinyal IFF!” kata perwira radar.

Semua orang di anjungan pun saling berpandangan, masing-masing sepertinya paham apa yang tengah terjadi saat ini. Sorot mata kekhawatiran terpancar dari awak anjungan, lebih-lebih pada Prita, yang firasatnya mulai mengatakan bahwa ada hal buruk yang akan segera terjadi, hal yang mungkin akan kembali dia alami seperti saat dia di Selat Ombai dulu. Tangan Kapten Kadek mengepal gemetaran, tapi kemudian dia segera memberi perintah.

“Siaga tempur!” kata Kapt. Kadek,

“semua orang menuju ke stasiun tempur masing-masing!”

Segera saja suasana anjungan menjadi kacau seperti dalam permainan gobak sodor. Kelasi-kelasi segera berlarian mengambil jaket penyelamat sementara alarm tanda bahaya dibunyikan di setiap ruangan dan setiap koridor kapal. Semua yang ada di anjungan segera diberikan dan disuruh memakai jaket penyelamat sementara pintu anjungan pun ditutup rapat.

“Siaga tempur! Siaga tempur!” teriak bosun kapal.

Peluit dan lonceng pun segera berbunyi bersahut-sahutan. Para kelasi yang ada di luar bergegas berlarian menuju ke stasiun tempur mereka masing-masing. Ada yang menangani senapan mesin, ada pula yang menangani CIWS. Semua lubang angin ditutup, dan keadaan menjadi amat panas di dalam kapal. Bukan karena hawa panas, melainkan karena ketegangan suasana.

“Siaga tempur! Ini bukan latihan! Siaga tempur!” teriak bosun kapal sekali lagi.

Meriam-meriam 6 inci pun berputar dan mengarah untuk menyambut “tamu yang akan datang”. Begitu pula dengan pod artileri R-HAN 122mm. Ketegangan serupa pun terjadi pula di KRI Harimau. Kelasi-kelasi di sana juga bersiap di balik senjata mereka masing-masing. Walau hanya memiliki kanon utama sebesar 57mm, mereka tetap tak gentar.

“Beri tahukan pada Blue Sky, minta bantuan segera!” kata Kapt. Kadek.

“Itu Amphitrite, Kep!” kata Anton yang sekali lagi melihat dari balik teropong,

“kapal fregat Australia!”

Anton mengetahui mengenai kapal-kapal fregat dari kelas Poseidon, dan terutama HMAS Amphitrite yang memiliki sebuah simbol dewi Amphitrite di depan anjungannya. Semakin mereka mendekat, Anton pun bisa melihat simbol-simbol di masing-masing kapal dengan lebih jelas dan tak berupa siluet kabur lagi. Dulu Anton memang sempat menggemari kapal kelas ini sehingga cukup baginya untuk kembali mengenali nama-nama kapal kelas Poseidon dalam sekali lihat.

“Dan itu Atlas! Leonidas! Hera! Persephone! Berengsek, banyak sekali!” kata Anton.

“Siapkan semua senjata dan beri tahukan juga pada KRI Harimau,” kata Kapt. Kadek,

“apa pun yang terjadi, kita tak akan mundur dari sini!”

Kapt. Kadek kemudian mengambil radio dan mulai bicara.

“Australian fleet, you are approaching Indonesian territory, please turn back immediately,” kata Kapt. Kadek.

Namun Armada Australia itu tidak memberi respons apa pun selain tetap melaju.

“Turn back now or we will take immediate action!” kata Kapt. Kadek.

Sekali lagi tak ada reaksi apa-apa

“Siap menembakkan meriam utama,” kata Kapt. Kadek pada perwira senjata.

“Siap menembakkan meriam utama!” ulang perwira senjata.

“Bearing 3-0-0,” kata Kapt. Kadek.

“Siap! Bearing 3-0-0!” ulang perwira senjata.

Secara reflek Prita merapat kepada Anton dan memegang tangannya. Anton bisa merasakan tangan Prita yang gemetar ketakutan, hal yang sebenarnya tak biasa. Prita pun seolah ingin menangis, tapi tak ada yang bisa dikeluarkan. Semua orang pun saling melihat satu sama lain dengan penuh kengerian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...