The Secret
CHAPTER X
The Secret
Gedung NewsTV
Lantai 2
09.44 WIB
H minus 50:16:00
Mutia mematikan handphone-nya dengan perasaan yang campur aduk antara cemas, jengkel, dan bingung. Tanpa disadari, setengah berbisik, ia pun mengutuk, sesuatu yang selama ini amat sangat jarang dilakukan oleh seorang Mutia. Beberapa orang berkerumun di dekatnya, orang-orangnya Anton. Tita entah berada di mana, begitu juga dengan Fitri, dan dalam kebingungan, mereka pun mencoba mencari arahan dari Mutia.
Ini mungkin adalah blunder terbesar dari Anton, begitu pikir Mutia, untuk tidak menyusun chain-of-command hingga 3 atau 4 lapis. Orang hanya tahu bahwa bagian ini dipimpin oleh Anton, kemudian pada rantai komando di bawahnya ada Tita. Walaupun kemudian rantai komando yang jelas tidak pernah disebut, tapi secara de facto orang selalu menuju pada Fitri sebagai “alternatif” rantai komando ketiga. Nah, kalau Anton, Tita, dan Fitri tidak ada, lalu pada siapa mereka akan berpijak? Di sinilah kebingungan, yang lantas berujung pada kekacauan, pun terjadi.
Beberapa orang yang memang terkemuka, dan berada pada satu level dengan Fitri di News Today lalu mengklaim sebagai “pewaris tahta” yang berhak memegang komando. Mutia tahu beberapa orang di antara mereka adalah orang yang selama ini paling menanti kejatuhan dari Anton. Sebagai orang yang juga satu level dengan Fitri, maka Mutia pun menjadi salah satu dari alamat tujuan pula, namun yang “menghadap” ke Mutia jumlahnya lebih banyak, karena semata-mata adalah faktor kedekatan Mutia dengan Anton.
Betul-betul gila! Mutia sama sekali tidak pernah bermimpi masuk dalam rantai komando di News Today, dan ia sama sekali tak menginginkannya, dan Anton tahu itu. Sebagai salah satu newscaster yang juga kapabel sebagai produser, Mutia lebih suka untuk memimpin sebuah tim kecil, bukan seluruh kapal seperti saat ini. Ia lebih menikmati peran menjadi seorang pemimpin regu atau maksimal kompi, tapi bukan seluruh batalion apalagi divisi! Sun Tzu memang pernah mengatakan bahwa memimpin pasukan kecil atau besar itu pada prinsipnya adalah sama, hanya masalah alokasi; namun bagi Mutia, jelas ini masalah yang amat berbeda sejauh bumi dengan langit. Problematika yang akan harus ia pecahkan sekarang amat sangat rumit, dan Mutia bahkan tak tahu darimana harus mulai atau apa yang harus ia lakukan pertama kali.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Vino, salah satu dari tim produksi.
Pertanyaan itu betul-betul menyengat Mutia lebih dari apapun. Banyak pasang mata pun menusuk ke arahnya, menunggu dengan amat penuh harap bahwa Mutia memang memiliki jalan keluar dari permasalahan pelik ini. Lagipula, siapapun tidak meragukan kapabilitas Mutia sebagai salah satu anchor paling cerdas di NewsTV, siapapun kecuali Mutia sendiri. Namun Mutia tahu bahwa jika keadaan dibiarkan terlalu lama tanpa komando, maka kekacauan akan merembet lebih jauh dan bisa jadi ia bakal kehilangan jumlah orang yang saat ini menghadapnya. Fitri memang meminta Mutia untuk membantu, tapi membantu di sini tidak pernah terbayang dalam diri Mutia bahwa salah satunya adalah menjadi pemimpin ad interim.
“Kumpulkan semua orang, semua harus melapor ke aku,” perintah Mutia, dengan nada ragu yang kentara sekali keluar dari suaranya.
“Apa berarti sekarang kamu yang berwenang?” tanya Andini.
“Aku akan memegang posisi ini, sampai Tita atau Fitri kembali,” jawab Mutia.
“Lalu apa yang mau kita lakukan habis itu??” tanya Femmy, salah satu dari tim produksi juga.
“Kumpulin saja dulu semuanya, nanti kita bahas!” kata Mutia dengan nada suara yang ditinggikan.
Bukan jawaban yang memuaskan memang, tapi setidaknya itu adalah sebuah komando. Tidak akan memecahkan persoalan, tapi hanya menunda beberapa waktu lebih lama untuk Mutia berpikir. Berulang kali ia menatap jam di dinding, lupa bahwa dirinya saat itu juga tengah mengenakan arloji, hampir jam 10. Mutia memang tidak tahu mengenai tenggat waktu hingga jam 10 yang memang hanya diberitahukan oleh Bu Sabrina pada Fitri, tapi ia seakan punya firasat bahwa pada jam 10 nanti memang bakal “terjadi apa-apa”.
Sekali lagi ia mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri. Berpikir! Berpikir! Tapi ia seolah hanya melihat kegelapan saja yang menghalangi semua pikiran. Ke mana semua kecerdasan yang selama ini ditakuti karena sering “membantai” mulai dari aparat, tokoh politik, anggota dewan, bahkan menteri sekalipun di acara dialog? Mutia memang amat sangat buta dalam hal ini, dan ia pun berharap bahwa saat ini dia adalah orang lain.
Anton memiliki beberapa orang wanita yang selalu dekat di lingkarannya, salah satunya adalah Mutia sendiri. Wanita-wanita ini sering dijuluki sebagai “Guardian Angels”, malaikat-malaikat pelindungnya Anton, sebuah julukan yang diamini oleh semua, baik di tingkat pekerjaan kantor NewsTV hingga ke tim airsofter yang mereka ikuti. Semua “bidadari” ini jelas memiliki kemampuan istimewa sendiri, tapi tanpa bermaksud rendah diri, Mutia saat ini memang membutuhkan kemampuan orang lain. Fitri adalah wanita yang baik di dalam maupun di luar kelompok “bidadari”, adalah dianggap paling pintar, bintang paling cemerlang yang dimiliki oleh Anton saat ini. Fitri memiliki kemampuan analisa yang amat sangat luar biasa, sehingga dia bisa mendapatkan solusi pada hampir semua masalah apapun walaupun seringnya solusi tersebut bersifat ekstrem. Kecepatan analisanya memang mencapai pada hitungan nanosekon, dan sulit ditandingi oleh semua orang di NewsTV, Mutia sendiri sekalipun.
Salah satu bidadari lain, yaitu Prita, malah memiliki kemampuan yang agak “mistis”. Firasat dan intuisi Prita amat sangat tajam sehingga Prita seolah bisa mengetahui apa yang akan terjadi, dan dengan begitu selalu mengambil langkah antisipasi. Konon, Prita bisa saja masuk ke sebuah kota yang benar-benar asing dan berkeliling-keliling di sana tanpa bertanya dan tanpa tersesat! Tentu saja Prita selalu menertawakan asumsi ini dan mengatakan bahwa itu berlebihan. Tapi ketika dulu Prita masih aktif dalam liputan hardnews, tiap kameramen yang bersamanya pasti berkomentar senada bahwa liputan bebas (bukan penugasan) dengan Prita sama saja seperti membawa sebuah “bola kristal”, karena entah bagaimana Prita selalu membawa mereka ke spot di mana akan terjadi sesuatu yang bernilai berita.
Ada lagi Fauzia, cewek cantik yang saat ini masih betah saja menunggui berita malam. Fauzia ini terkenal di kalangan “bidadari” karena dulu hampir saja membuat Anton dan Wina bercerai, karena faktor kedekatan yang cukup intim dengan Anton, plus fakta bahwa Fauzia adalaheverlasting love-nya Anton, bahkan semenjak sebelum Anton masuk ke NewsTV (sehingga timbul keheranan yang amat sangat mengapa setelah Wina meninggal, Anton justru menikahi Lucia, bukan Fauzia). Tapi di luar semua itu, Fauzia memang memiliki adaptasi dan daya paham yang luar biasa mengenai suatu masalah. Anton pernah mengatakan bahwa apabila hendak menang untuk berdebat atau adu argumen dengan Fauzia, maka lakukanlah secepat mungkin langsung dengan argumen yang tepat, cepat, dan tak terbantahkan, karena apabila debat itu berlangsung molor, maka semakin lama Fauzia semakin menyerap inti dari argumen dan setiap pukulan balik Fauzia bakal semakin lama semakin mematikan hingga yang tadinya tidak paham, Fauzia bisa membuat seorang pakar terkatup mulutnya. Dalam sebuah acara dialog, seorang menteri bahkan menyatakan lebih rela tiga giginya dicabut daripada harus beradu argumen dengan Fauzia dalam jangka waktu selama itu. Hal inilah yang membuat Anton merekomendasikan untuk tidak menaruh Fauzia dalam acara dialog serius atau debat semacam News Dialogue yang berdurasi 120 menit, karena pada dialog dengan tempo sepanjang itu, narasumber bakal merasakan “neraka yang lebih panas” daripada ketika menghadapi Nana atau Mutia.
Lalu apa yang dimiliki Mutia sendiri? Landmark dari Mutia selama ini, bagi mereka yang mengenalnya, adalah ingatan Mutia yang bahkan sampai pada tingkatan super-fotografik. Mutia bisa mengingat semua detail hanya dalam sekali lihat, dan bahkan mengingat semua kata hanya dalam waktu sekali dengar. Ini yang membuat Mutia lebih sering tidak membawa alat perekam setiap kali liputan atau wawancara, karena ia ingat dengan pasti apa saja yang dikatakan oleh narasumbernya. Ini juga membuat Mutia sering dianalogikan dengan agenda berjalan, karena urusan apapun, Mutia selalu bisa mengingatnya. Tapi ingatan fotografik sekarang bukanlah yang dibutuhkan oleh Mutia. Memang betul bahwa Mutia bisa mengingat dengan detil semua instruksi dan teori by-the-books mengenai organisasi dan manajemen manusia, tapi untuk menerapkannya di lapangan itu lain soal. Fitri, Prita, juga Fauzia sekalipun pasti akan bisa menyelesaikan masalah ini dengan “kemampuan” mereka. Andai saja Mutia dibekali juga dengan seperempat bagian saja dari semua itu.
“Ke mana Tita?” tanya Mutia pada diri sendiri, dengan suara yang juga amat lirih yang nyaris terdengar seperti gumaman.
Ya, di manakah Tita sekarang berada? Pada saat krisis hampir mencapai titik klimaks, dia malah menghilang.
Lantai 2
Sayap Mandarin
09.46 WIB
H minus 50:14:00
Denting bunyi guqin yang dipetik bergema di seluruh koridor Sayap Mandarin NewsTV. Ini adalah bagian dari lantai 2 yang dipakai sebagai “markas operasi” section berita berbahasa Mandarin NewsTV: Yinni Jintian. Letak section ini adalah pada ujung yang berseberangan dengan program berita reguler, sehingga apapun konflik yang sedang berkecamuk di reguler, Sayap Mandarin hampir tak pernah terpengaruh, sehingga sering dikatakan bahwa Sayap Mandarin dilindungi oleh “Tembok Besar”. Faktor demografi yang nyaris homogen, serta sistem unifikasi komando di sini juga turut andil menyumbang “ketenangan”. Lagipula, pihak-pihak yang “bertarung” di reguler rasanya juga segan untuk mencoba mengusik Sayap Mandarin, bahkan Bu Sabrina sekalipun.
Bunyi petikan guqin makin terdengar keras di ruang anchor, karena di sanalah sumber bunyi itu berasal. Di dalam, Fiona tengah duduk bersila sembari memainkan guqin-nya, hal yang selalu ia lakukan apabila ia tidak sedang ada pekerjaan yang mendesak untuk diselesaikan. Suasana ruangan ini juga berbeda dengan ruangan lain, karena ditata dengan penataan ruang mirip sebuah ruangan di rumah tionghoa. Di beberapa sudut ada tanaman-tanaman mirip bambu dalam pot, serta replika-replika bunga sakura, plus beberapa wallpaper yang menggambarkan salah satu sudut Istana Musim Panas atau Yiheyuan. Dua buah akuarium besar pun menghiasi ruangan itu, yang satu berisikan seekor arawana super red yang elok, sementara satunya lagi berisikan ikan koki dan komet warna-warni. Lukisan dan kaligrafi Cina pun tampak juga tertempel di dinding plus gambar Chang Gui, Dewa Penjaga, untuk mengusir roh jahat. Pada salah satu sudut juga ada sebuah kuil kecil sebagai tempat bersembahyang lengkap dengan dupa yang semerbak mengharumkan ruangan. Hiasan-hiasan keramik, juga satu set furnitur khas Cina pun ada juga di sini di samping dua buah ranjang. Suasana di sini amat sangat damai, sehingga bahkan para anchor reguler sering juga menyelinap kemari apabila mereka kelelahan dan ingin mencari secuil kedamaian.
Fiona tidak sedang sendiri. Ada sosok lain, wanita, yang tiduran di ranjang itu; tapi pastinya ia tidak tidur, tidak bisa dengan sebegitu banyak hal yang mengganggu pikirannya. Ya, itu adalah Tita. Dia “melarikan diri” ke sini setelah dihardik habis-habisan oleh Bu Sabrina tadi.
“Lari ke sini nggak akan menyelesaikan masalah,” kata Fiona sambil tetap memainkan guqin-nya.
“Aku cuma butuh waktu lagi, Ci,” kata Tita perlahan.
“Kenapa kamu pikir kamu masih punya banyak waktu lagi?” tanya Fiona, setengah menyindir, namun tetap masih memetik guqin-nya.
Tita hanya mendengus, tapi tidak menjawab. Dari semua “geng” Anton, Fiona adalah yang tua, dan oleh sebab itu juga dituakan oleh yang lain. Sebagai kakak angkat Anton (Anton dan Fiona pernah saling mengangkat saudara), maka Fiona adalah tempat Anton menyandarkan kepala ketika ada kegelisahan yang tidak bisa ditenangkan, bahkan oleh istrinya sekalipun. Fiona sendiri adalah orang yang bijaksana, namun harus kuat mental untuk bisa mencari kebijaksanaan dari Fiona, karena ia “tidak akan mengatakan ‘ya’, tapi juga tidak akan mengatakan ‘tidak’,”
“Diam juga nggak akan membantu,” kata Fiona dingin.
“Aku harap Anton tidak meninggalkan aku sendiri di sini…” gumam Tita, lebih untuk dirinya sendiri.
“Apalagi penyesalan,” tukas Fiona,
“bukan itu yang diharapkan Anton dari kamu,”
Tita berguling hingga ia menghadap Fiona, lalu ia pun bangkit untuk duduk di ranjangnya. Di balik guqin, Fiona terlihat dingin dan menakutkan, tidak ada ekspresi, bahkan senyum simpul pun tidak.
“Kenapa Anton sejak awal tidak memilih Fitri saja sebagai wakilnya?” tanya Tita.
“Kenapa harus Fitri?” tanya Fiona dingin.
“Kalau ada keadaan seperti ini, pasti Fitri bisa memikirkan segala sesuatu,” kata Tita,
“Fitri itu seperti Anton, mereka berdua tidak pernah mau terikat dan selalu bisa mencari penyelesaian sebuah masalah,”
“Memang betul,” kata Fiona.
“Lalu kenapa?” tanya Tita.
“Justru karena yang kamu sebutkan itu maka Anton tidak memilih Fitri,” kata Fiona.
“Maksudnya?” tanya Tita.
“Jawabannya sudah kamu tahu, tapi kamu menolak mengakuinya,” kata Fiona.
“Cici, jangan bikin aku bingung,” kata Tita.
“Kebingungan kamu bukan karena Cici, tapi karena kamu sendiri,” kata Fiona,
“Harimau tidak tahu dia punya belang sampai dia berkaca di air,”
Satu lagi pepatah, kebiasaan Fiona ketika memberi nasihat kepada orang. Juga kebiasaan ini pula yang membuat orang yang meminta nasihat dari Fiona lebih banyak menjadi bingung daripada tercerahkan. Maka Tita pun hanya mendengus saja.
“Kira-kira, kalau Anton ada di sini, dia bakal ngapain, ya?” tanya Tita, setengah menggumam.
“Benar, kalau Anton ada di sini, dia bakal ngapain?” kata Fiona, masih mengerlingkan senyum rahasia.
“Ci, itu nggak buat dijawab!” kata Tita agak jengkel karena Fiona dinilainya tidak pernah memberinya jawaban yang memuaskan.
“Cici nggak menjawab, justru Cici yang tanya ama kamu,” balas Fiona.
Tita terhenyak mendengar perkataan itu.
“Nanya ke aku?” tanya Tita.
“Kamu dan Anton sudah bersama lebih lama dari siapapun, entah itu dengan Prita, Fitri, Nana, atau bahkan Cici sekalipun,” kata Fiona,
“jadi… kalau bukan kamu yang lebih tahu soal Anton, lalu siapa lagi?”
Tita tercenung sendiri.
“Tapi aku kan…” kata Tita.
“Pastinya Anton pun punya alasan, kenapa ia memilih kamu di bawahnya, dan bukan Fitri atau yang lain,” kata Fiona,
“padahal seperti kamu bilang, Fitri lebih bagus,”
Tita tidak menjawab, hanya menatap sayu ke arah Fiona, yang masih saja mendentingkan senar guqin, seolah-olah pembicaraan ini tidak berpengaruh apa-apa. Tapi Fiona tidak berhenti, dan malah meneruskan pembicaraan.
“Fitri memang berbakat, dan bisa mencari jalan keluar pada keadaan yang sangat pelik sekalipun, memang…” kata Fiona,
“tapi Fitri bukan Anton, dan Fitri tentu tak akan bisa mengerti metode Anton; jika Fitri yang ada di posisimu sekarang ini, dia pasti sudah bergerak, dan kemungkinan besar akan menghancurleburkan apa yang telah Anton bangun selama ini, walaupun mungkin niatnya baik,”
Denting guqin pun akhirnya berhenti. Fiona lalu menatap tajam ke arah Tita.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Tita.
“Ya, apa yang harus kamu lakukan?” tanya Fiona,
“tapi yang manapun, Anton akan menerimanya, karena Anton tahu bahwa kamu tidak akan mengacau, apapun keputusan yang kamu buat,”
“Apapun?” tanya Tita.
“Apapun…” jawab Fiona, “waktunya sudah hampir habis…”
Fiona dan Tita menengok ke arah jam yang tergantung di dinding, dan memang jarum sudah hampir menunjukkan pukul 10 tepat. Mereka berdua lalu berpandangan sejenak. Tita menangguk kecil, kemudian segera pergi meninggalkan Fiona diiringi tatapan mata berbinar dari Fiona.
Dalam perjalanan, Tita pun segera mengambil telepon genggam dari sakunya, kemudian dia menghubungi seseorang. Itu adalah nomor pribadi Laksdya. Sihombing, dan hanya Anton serta Tita serta Prita saja yang mengetahuinya. Tita terus berjalan sementara telepon masih menunggu tersambung.
“Halo?” tanya suara di seberang Tita.
“Laksamana, bagaimana keadaannya?” tanya Tita.
“Kenapa Anda telepon, Nona Tita? Di sini sedang ada krisis, dan saya tidak bisa membantu Anda lagi,” kata Laksdya Sihombing,
“setidaknya untuk saat ini, sampai semua krisis selesai,”
“Tidak sama sekali?” tanya Tita.
“Maaf, perintah dari Presiden, semua kontak dengan media harus diputus saat ini juga, saya tidak bisa mengecualikan NewsTV lagi,” kata Laksdya. Sihombing.
“Jadi sekarang kami sendirian?” tanya Tita.
“Saya takutkan seperti itu,” kata Laksdya Sihombing,
“dan ini juga adalah kontak terakhir kita sampai krisis ini selesai,”
“Terima kasih, Laksamana, saya cuma mau tahu itu saja,” kata Tita,
“tolong bawa saja Anton pulang kembali dengan selamat nanti,”
“Pasti, Nona Tita,” kata Laksdya Sihombing,
“Semoga Tuhan memberkati Anda,”
“Anda juga, Laksamana,” kata Tita yang lalu mematikan teleponnya, dan memasukkannya kembali ke dalam saku.
Lantai 2
09.57 WIB
H minus 50:03:00
Mutia langsung saja merangsek ke arah Fitri, yang akhirnya kini telah tiba. Fitri bisa melihat sedikit binar lega di mata Mutia, kontras dengan mimik wajahnya yang tampak menanggung beban. Sepanjang absennya para komandan di sini, Mutia sudah berusaha keras untuk mengendalikan situasi, dan waktu yang sebenarnya hanya kurang dari dua jam pun terasa berlangsung selamanya. Namun Mutia melihat bahwa wajah Fitri pun tak kalah tegang, apalagi kali ini Fitri datang bersama dengan Bu Sabrina.
“Syukur kamu datang,” kata Mutia.
“Semua baik?” tanya Fitri.
“Aku nggak bisa nemuin Tita,” kata Mutia,
“aku juga udah berusaha nahan situasi sebisaku,”
“Baguslah,” kata Fitri hampir-hampir tak bersemangat.
“Apa sudah saatnya?” tanya Mutia.
Fitri hanya mengangguk gontai, dan Mutia tahu apa yang dimaksudkan. Bu Sabrina hanya memberi isyarat untuk mengikutinya, dan Fitri serta Mutia pun patuh. Ada langkah besar yang harus mereka lakukan, setidaknya itu yang mereka pikir akan terjadi. Tentu saja tidak ada baik oleh Mutia ataupun Fitri yang menganggap ini adalah sebuah hal yang menyenangkan untuk dilakukan.
Pintu ruangan pun terbuka, dan semua orang tampaknya sudah berkumpul di sana, semua saling ribut meskipun tidak sampai terjadi kericuhan yang cukup serius. Rata-rata mereka semua memang berdebat mengenai siapa yang sebenarnya saat ini seharusnya mengambil komando, dan rata-rata semua memiliki jago masing-masing. Bawahan Anton memang cukup heterogen, dan seperti yang pernah diungkapkan oleh Fitri, tidak semuanya menganggap Anton adalah pimpinan terbaik bagi mereka.
Demi melihat Bu Sabrina yang masuk, semua pun mendadak terdiam. Aura yang ditimbulkan hanya dengan kehadiran Bu Sabrina sudah cukup untuk membungkam mulut semua orang, tidak perlu Bu Sabrina sendiri membuka suara. Seketika itu juga suasana menjadi mencekam. Tidak ada yang tahu bagaimana Bu Sabrina bisa membuat keadaan ini, tapi memang reputasi Bu Sabrina bisa membuat siapapun bergidik ngeri.
“Di mana Tita?” tanya Bu Sabrina singkat.
Tidak ada yang menjawab. Memang mereka tidak tahu di mana keberadaan Tita saat ini, dan itu juga membuat mereka tidak berani untuk menjawab. Fitri terlihat menarik nafas dengan panjang dan berat, bahwa hal ini sudah tidak mungkin dihindarkan lagi. Mutia memegang tangan Fitri, karena memang ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Bu Sabrina lalu memberi isyarat kepada Fitri, dan Fitri pun melangkah maju dengan gontai.
“Dengar semua, mulai saat ini, Aku akan menunjuk…” kata Bu Sabrina.
“TUNGGU!!” teriak seseorang dengan keras, hingga menginterupsi perkataan Bu Sabrina.
Semua menoleh ke arah pintu yang sedang terbuka, dan masuklah Tita dengan wajah yang kali ini menjadi sangat dingin dan serius, berbeda sekali dengan Tita yang tadi pagi. Mutia dan Fitri hampir saja melompat kegirangan melihat Tita akhirnya datang. Bunyi dentang jam pun menunjukkan pukul 10 pagi tepat, berbunyi setelah Tita melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan.
“Ke mana saja kamu, Tita?” tanya Bu Sabrina,
“kamu terlambat, bukankah aku sudah memberi waktu untuk komando eksekutif kamu…”
“Jam berapa sekarang, Bu Sabrina?” potong Tita dengan dingin.
Bu Sabrina langsung terdiam. Bahkan lonceng jam pun belum berhenti berdentang. Suasana pun kembali mencekam, namun juga mengagetkan. Tita, yang selama ini terkesan lemah, kini dengan terang-terangan berani menantang Bu Sabrina.
“Saya baru saja memberikan keputusan eksekutif saya, kalau mungkin tadi Anda tidak mendengarnya,” kata Tita.
Ya, ketika tadi Tita mengatakan “Tunggu!”, itu adalah sebuah perintah eksekutif. Sesingkat apapun, apabila intonasi seperti itu datang dari Tita, maka itu adalah perintah eksekutif, karena ketika Anton pergi, maka Tita lah yang sekarang berada di posisi officer-in-charge.
“Saya masih sebagai officer-in-charge di sini, dan saya akan tetap memegangnya sampai Anton kembali,” kata Tita.
Bu Sabrina menarik nafas saja, tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
“Baik, lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, officer-in-charge?” tanya Bu Sabrina.
Kali ini gantian Tita yang menarik nafas. Sepertinya ini adalah saat pertamanya bertindak seperti ini, tapi seperti apa yang Fiona katakan, kalau ada yang harus bertindak atas nama Anton, maka Tita lah orang yang tepat.
“Aku meminta wewenang absolut, tidak untuk diinterupsi apapun juga,” kata Tita.
“Terakhir kali aku memberikan wewenang itu, efeknya sangat besar dan tidak terduga, Nona Tita,” kata Bu Sabrina,
“kenapa aku harus memberikannya kepadamu sekarang?”
“Ada orang-orang yang harus dibungkam sebelum saya berjalan,” kata Tita,
“saya pikir Anda sudah tahu,”
“Ya, memang,” kata Bu Sabrina,
“baiklah, Nona Tita, kamu mendapat wewenang absolut, mulai sekarang semua akan melapor langsung pada kamu, dan kamu berhak menentukan nasib mereka kalau-kalau ada pembangkangan,”
“Sampai Anton kembali,” tanya Tita.
“Selama itu? Taruhannya besar sekali, Nona Tita,” kata Bu Sabrina.
“Saya siap,” kata Tita,
“ini satu-satunya jalan,”
“Ada harga yang harus dibayar untuk ini, Nona Tita” kata Bu Sabrina,
“tapi anggap saja kamu sudah mendapat wewenang itu dariku; berlaku segera setelah kita selesai bicara,”
“Terima kasih, Bu Sabrina,” kata Tita.
Dengan diam, Bu Sabrina memegang tangan Tita dan Tita pun merasakan ada sesuatu benda lain di tangannya. Tita hanya mengangguk kecil, tahu apa arti dari semua ini. Bu Sabrina sendiri tidak berekspresi, tapi dia hanya melangkah keluar dari ruangan dengan dingin, seolah-olah dia baru saja menyalakan sebuah sumbu bom dan tinggal menunggu meledak saja. Sekeluarnya Bu Sabrina, Fitri dan Mutia segera hendak menghampiri Tita, tapi dengan isyarat tangan, Tita menahan mereka. Ada yang terlebih dahulu harus dilakukan.
“Dengar semuanya!” kata Tita agak keras kepada semua orang yang ada di sini,
“Pak Anton, untuk saat ini sedang tidak ada di tempat, dan kali ini kita mendapatkan krisis yang harus dipecahkan dengan segera, jadi kalian akan mendapat komando dariku, dan hanya dariku…”
“Ini gila!” teriak seseorang, memotong perkataan Tita.
Tita memandang tajam ke sebuah sudut ruangan, dan seseorang produser, nampaknya senior dengan rambut agak botak, tampak berdiri menentang Tita. Orang itu adalah Pak Yakub. Dia masuk dalam jajaran News Today ketika program ini masih dipegang oleh Pak David (sekarang Wapemred), jadi pada saat Anton masih menjabat di editing. Pak Yakub ini adalah salah satu produser yang mendukung Pak Herry dan tentu saja, sepeninggal Pak Herry, dia selalu bersikap skeptis pada Anton.
Beberapa kali, Fitri memang telah mengingatkan kepada Anton mengenai adanya “usurper-usurper” ini, yang memang berpotensi mengganggu, salah satunya ya Pak Yakub. Namun, Anton seperti biasa, selalu mengatakan bahwa tidak adil seseorang dikeluarkan dari tim hanya karena pandangan politiknya dan bukan karena kinerjanya. Memang selama ini kinerja Pak Yakub, dalam penilaian Anton, memang masih bagus. Tapi Fitri tahu bahwa sering sekali, tanpa ketahuan, Pak Yakub, dan atau usurper yang lain menyabot perintah Anton, atau meninggalkan tugas yang seharusnya adalah tanggung jawab mereka. Semua itu terjadi tanpa sepengetahuan Anton. Fitri pun, karena ini, akhirnya malas bercerita kepada Anton, dan sebaliknya malah memilih bercerita pada Tita.
“Anda pikir begitu, Pak Yakub?” tanya Tita dengan pandangan mata menusuk.
“Ya!” kata Pak Yakub,
“saya tidak akan menuruti perintah Anda!”
Tita mengangguk sejenak. Mutia dan Fitri pun melihat dengan cemas, mereka tampaknya mengharapkan bahwa Tita akan mundur, sebagaimana halnya Tita yang mereka kenal selama ini. Namun Tita masih ada di tempatnya. Ia hanya menatap mata Pak Yakub, setengah menantang lebih tepatnya.
“Kalau begitu, keluar dari sini,” kata Tita tegas,
“Anda dibebastugaskan dari bagian ini saat ini juga!”
Perkataan Tita ini jelas mengagetkan semua orang, tak terkecuali Mutia dan Fitri. Apalagi Tita pun dengan berani menunjuk ke pintu keluar, seolah tanpa basa-basi lagi dia memang mengusir Pak Yakub supaya segera hengkang.
“Anda tidak bisa berbuat seperti itu!” kata Pak Yakub sedikit terbata akibat kaget.
“Apabila mengacu pada peraturan NewsTV, ya, saya bisa, Pak Yakub!” kata Tita,
“seorang kepala program berhak untuk memberhentikan staf di bawahnya, bagian mana dari peraturan itu yang Anda tidak jelas?”
“Aku akan lapor Bu Sabrina!” kata Pak Yakub.
“Tidak, Anda tidak akan melakukannya,” kata Tita.
Tita mengangkat tangannya dan memperlihatkan apa yang tadi secara diam-diam telah diberikan oleh Bu Sabrina kepadanya. Semua orang jelas amat terkejut melihatnya. Benda itu mirip seperti sebuah piringan logam seukuran genggaman tangan, berwarna emas dan ada lambang NewsTV di atasnya. “Lencana Kekuasaan”, begitu orang NewsTV biasa menyebutnya. Hanya dipakai oleh Pemimpin Redaksi, atau siapapun yang diberikan wewenang atasnya, yang berarti pemegangnya akan mendapatkan status kekuasaan absolut untuk sementara waktu.
“Aku memegang kuasa absolut atas perintah Bu Sabrina! Aku yakinkan, Bu Sabrina akan bersikap sama sepertiku, Pak Yakub,” kata Tita,
“dan aku harap Anda sadar bahwa selama ini Anda hanya hidup atas belas kasihan Anton; saatnya memperbaiki keadaan,”
Tak bisa berkata apa-apa, Pak Yakub pun segera saja merayap pergi. Entah akan ke mana dia. Tita sendiri hanya menarik nafas panjang sejenak.
“Seperti yang aku bilang,” kata Tita,
“aku memegang komando sepenuhnya!”
Tentu saja kali ini tidak ada yang berani untuk menentang. Puas setelah mendiamkan massa, Tita akhirnya mulai bicara.
“Dengar, kita semua tahu apa yang terjadi, dan selama beberapa jam terakhir, NewsTV sudah menjadi bulan-bulanan media massa lain; kita sekarang berdiri sendiri jadi kita harus bergerak,” kata Tita,
“kita memang kalah start, tapi aku yakinkan pada kalian… kita tidak akan kalah finish! Mengerti!!?”
“Ya!” suara itu menggema di kantor itu.
“Persiapkan semuanya untuk News Break, memang terlambat aku tahu, tapi dengan semua breaking news selama beberapa jam ini, semua stasiun TV sudah ‘berbaik hati’ untuk ‘memberikan’ informasi yang kita butuhkan untuk ini,” kata Tita.
“Jadi kita sekarang akan bergerak sendiri?” tanya Andini.
“Ya, Andini, kita bergerak sendiri,” kata Tita,
“sudah cukup kita merahasiakan masalah ini demi negara, sekarang saatnya kita menjadi diri sendiri,”
“Siap,” kata Andini.
“Dan Andini, tolong kumpulkan semua reporter ke sini,” kata Tita.
“Semua, Bu?” tanya Andini.
“Yang masih ada di kantor, tentu saja, sementara untuk Uki biarkan dia tetap di garis depan,” kata Tita,
“dan buat reporter di bagian kita, bawa mereka ke sini, aku tidak peduli kalau kamu harus mengikat, menyeret, atau memasukkan mereka dalam karung,”
Andini mengangguk, sedikit ketakutan, lalu dia segera pergi menjalankan tugasnya, begitu juga semua orang yang langsung menempati station mereka masing-masing. Tita pun mendekati Fitri. Nampaknya ada sesuatu yang hendak dikatakan.
“Jadi kamu mau mengambil posisiku?” tanya Tita dengan tajam.
“Ya, memang,” kata Fitri, seolah tak ingin menutupi apapun.
“Aku tidak akan lupa ini, Fit,” kata Tita,
“kau akan mendapatkan balasannya nanti,”
“Silakan,” kata Fitri pasrah.
“Tapi terima kasih kamu sudah melakukannya,” kata Tita sambil tersenyum dan menepuk pundak Fitri.
“Kembali…” kata Fitri setengah tercekat.
Kantor Perdana Menteri Russia
Kremlin, Moskwa
10.04 WIB
H minus 49:56:00
Bahkan di musim-musim ini, keadaan di Moskwa masihlah tetap dingin, sekalipun salju tidak turun. Dua orang berpakaian jaket tebal segera turun dari mobil BMW bernomor Korps Diplomatik Republik Indonesia. Misi yang akan mereka jalankan di Kantor Perdana Menteri jelas adalah misi yang penting, ditilik dari wajah mereka yang tegang dan bukan diakibatkan oleh dinginnya udara kota Moskwa.
Kedua orang ini masing-masing adalah Abdul Malik Halim, Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Federasi Russia, dan Laksamana Barlin Sinaga, Atase Intelijen Kedutaan Besar RI di Moskwa. Detil mengenai misi mereka baru saja mereka terima beberapa jam lalu, dan mereka segera menghubungi Kementerian Luar Negeri Russia, namun Menlu Volko Borodin tampaknya tidak berani mengambil keputusan berkaitan dengan ini. Jadilah, atas rujukan dari Menlu Borodin, mereka harus menghadap sendiri kepada Perdana Menteri Bilyat Chagayev.
PM Chagayev sendiri adalah salah satu teman Indonesia. Beberapa kali perjanjian kerjasama yang amat penting antara Indonesia dengan Russia adalah atas prakarsa dari PM Chagayev, baik ketika ia menjadi Perdana Menteri, ataupun ketika masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Meskipun begitu, berkaitan dengan misi ini, bahkan Abdul Malik Halim pun ragu, apakah kali ini PM Chagayev akan bisa membantu atau tidak. Dia telah lama sekali berada di Russia, sehingga tahu bahwa urusan ini bisa saja bakal bersinggungan dengan “isi dapur” Pemerintahan Russia sendiri. Lagipula, pastinya Menlu Borodin sudah memberitahukan mengenai maksud kedatangan delegasi ini pada PM Chagayev.
Sekitar 10 menit kemudian mereka harus menunggu hingga PM Chagayev bersedia menerima mereka. Ruang tunggu gedung ini tentulah lebih hangat daripada di luar, pun mereka tetap nyaris tak merasakannya. Misi yang mereka bawa memang betul-betul penting! Detik pun terasa bagai berjalan berjam-jam, dan tahu-tahu, ajudan Perdana Menteri segera meminta mereka untuk masuk ke dalam ruangan. Agak terkejut, karena selain ada PM Chagayev di sana, juga ada Menteri Pertahanan Andrei Litovchenko, dan Kepala Staff Gabungan Angkatan Bersenjata Russia (semacam Panglima TNI di Indonesia), Marsekal Gennady Tijapushkin. Mereka berdua kemudian permisi dan melangkah keluar. PM Chagayev menyambut dua tamu dari Indonesia ini dengan hangat. Sebotol vodka bahkan disodorkan, namun mereka tidak minum.
“Demi persahabatan antara dua negara,” kata PM Chagayev membuka percakapan, berusaha untuk bersikap tenang,
“tapi apa yang sebenarnya Presiden kalian inginkan dari kami?”
“Kami sudah memberikan detailnya pada Kamerad Borodin,” kata Abdul Malik Halim.
“Ya, ya, tapi Borodin tidak memberitahukanku dengan lengkap, jadi mohon Anda perjelas,” kata PM Chagayev.
Jelas sekali PM Chagayev memerintahkan mereka untuk mengatakan apa yang sebenarnya telah dikatakan kepada Menlu Borodin. Bahkan tindak-tanduk PM Chagayev yang pura-pura tidak tahu ini masih kurang meyakinkan.
“Kami ingin meminjam salah satu peralatan pendeteksi kapal selam milik Russia,” kata Abdul Malik Halim,
“yang pernah dibuat oleh Dr. Anatoly Sedorenkov,”
PM Chagayev tercenung sebentar, namun kemudian mendadak ia tertawa. Abdul Malik Halim dan Barlin Sinaga jelas tidak mengerti.
“Apa ada yang lucu, Tuan?” tanya Barlin Sinaga.
“Aku tak bermaksud begitu, tapi begini… Russia memiliki garis pantai di utara yang luas, membentang dari Murmansk sampai Vladivostok, dan sebagian besar wilayah laut kami tidak bisa dilayari kapal biasa, dan Anda bertanya apakah kami memiliki alat pendeteksi kapal selam?” tanya PM Chagayev,
“tentu saja kami punya!”
“Kalau begitu, kami hanya memerlukan yang dibuat oleh Dr. Sedorenkov,” kata Abdul Malik Halim.
“Temanku, bukan aku tidak mau membantu; seperti yang telah aku bilang tadi, demi persahabatan kedua negara, Russia akan dengan senang hati membantu,” kata PM Chagayev,
“tapi masalahnya, 80% sensor kapal selam kami dibuat oleh Dr. Sedorenkov, jadi yang mana yang mau kalian pinjam??”
Raut muka PM Chagayev mendadak berubah serius, dan setelah memilin kumis tebalnya, Beliau pun berkata lagi.
“Sensor kami bermacam-macam, mulai dari yang hanya sebesar komputer biasa, sampai yang berupa kapal atau pesawat udara, jumlah seluruhnya yang dibuat oleh Dr. Sedorenkov ada 130 jenis, aku tidak yakin kalian bisa membawa semua itu ke Indonesia,” kata PM Chagayev.
“Tapi tidakkah Dr. Sedorenkov pernah meninggalkan…” kata Barlin Sinaga.
“Seingat saya terakhir, posisi Dr. Sedorenkov ada di negara kalian, bukan di Russia!” kata PM Chagayev,
“tolong Anda tanyakan kepada Dr. Sedorenkov, sensor mana yang hendak dipakai, lalu saya akan atur secepatnya untuk diangkut ke Jakarta; Saya akan menyiapkan dua pembom supersonik kami untuk itu; kecuali kalau Anda mau memborong semua jenis sensor yang saya sebutkan tadi, dan akan saya siapkan juga 2 kapal supertanker untuk mengangkutnya dari Murmansk,”
“Tapi itu bakal memakan waktu!” kata Abdul Malik Halim,
“kita tidak punya waktu banyak!”
“Oleh karena itu, temanku, tanyakanlah kepada Dr. Sedorenkov,” kata PM Chagayev.
Abdul Malik Halim dan Barlin Sinaga hanya terdiam saja, tapi pada saat itu HP milik Barlin Sinaga berbunyi, nampaknya sebuah pesan telah masuk. Barlin Sinaga mengerling dan menunjukkan pesan itu pada Abdul Malik Hakim yang mengangguk kemudian mulai berbicara. Kali ini ganti PM Chagayev yang terdiam.
Kantor NewsTV
Lantai 2
10:24 WIB
H minus 49:36:00
Suasana di bagian newsroom kembali riuh setelah kini Tita mengambil alih semua komando. Fakta bahwa sekarang NewsTV berdiri sendiri jelas melegakan Tita, karena sekarang mereka bisa bergerak bebas tanpa harus terikat masalah kerahasiaan. Untuk ini, maka NewsTV memiliki data-data yang diperlukan, yang pastinya tidak dimiliki stasiun lain.
Seluruh reporter yang bisa dikumpulkan oleh Andini segera dikumpulkan di hadapan Tita, yang lalu mengubah sebuah meja bundar menjadi meja komando. Tita menghitung kembali semua reporter yang menghadap. Ingatan Tita untuk ini memang amat tajam.
“Mana Erwina?” tanya Tita.
“Aku tidak bisa menemukan di kamarnya,” kata Andini,
“mungkin dia sudah berangkat,”
“Ke mana?” tanya Tita.
“Seingatku, dia bertugas di Departemen Pertahanan,” kata Andini.
“Sudah kau seret dia ke sini?” tanya Tita.
“Saat ini juga tim yang di sana sudah berbalik ke kantor, untung belum jauh,” kata Andini.
“Sambil menunggu, aku akan menjelaskan kembali situasinya,” kata Tita kepada kerumunan reporter di depannya,
“tugas ini prioritas, jadi apapun peliputan kalian saat ini, kalau deadline-nya bukan nanti malam, tinggalkan! Mengacu pada rantai komando, maka field-commanderdari penugasan ini nanti akan dipimpin oleh Erwina, dan dia akan mengkoordinasikan semuanya, siapa harus ke mana,”
“Saya meminta izin untuk meminta penugasan di DPR, Bu,” kata Andini,
“setidaknya saya sudah kenal daerah situ,”
“Mentang-mentang ayah kamu di sana, Andini,” kata Tita,
“tapi tidak masalah, setelah membagi tugas, Erwina akan memimpin dari studio mini di luar; di Markas Dephan atau Mabes TNI-AL; bagaimanapun, semuanya nanti terserah Erwina, dia yang memimpin,”
“Lalu apa yang kita cari?” tanya Andini.
“Apa saja yang bisa kita masuki,” kata Tita,
“tidak ada lagi sumber dari dalam, jadi apa yang biasa kalian reporter lakukan?”
“Tapi bukannya itu berarti…” kata Andini.
“Ya, aku tahu yang akan kulakukan, Andini!” kata Tita dengan suara meninggi,
"dan bukankah sudah dari tadi kukatakan sekarang kita tak lagi terikat pada Istana!"
Sosok Tita kali ini betul-betul mengerikan, bukan jenis sosok Tita pendiam yang biasa dihadapi oleh Andini. Dalam krisis, Anton pun masih bisa bersikap lebih ramah, namun tidak untuk Tita.
Pintu pun dibuka dan Fitri segera masuk sambil mengelap keringatnya. Panas sekali nampaknya sehingga blazer-nya langsung dibuka dan ia hanya mengenakan kemeja saja.
“Sudah selesai?” tanya Tita.
“Ya, sekarang giliran Mutia,” kata Fitri.
“Bagus, bantu aku di sini,” kata Tita.
“Tentu, lebih nyaman di sini daripada di sana,” kata Fitri merujuk pada ruangan News Break yang baru saja dia tinggalkan. Dalam News Break, biasanya seorang anchor akan mendapatkan jatah paling tidak satu jam sebelum akhirnya diganti. Namun kali ini, Tita hanya mengizinkan Fitri menjalaninya selama 20 menit, tidak lebih.
“Di mana Erwina?” tanya Fitri.
“Dalam perjalanan ke sini,” kata Tita.
“Uki ada di istana dan kita menunggu Erwina?” tanya Fitri.
“Uki memang first-in-command, ya, tapi untuk saat ini dia adalah line-up terbaik di istana dan dia tidak bisa diganggu gugat untuk itu; stationlain pasti sudah menyiapkan reporter terbaik mereka, dan aku butuh Uki di sana,” kata Tita,
“dengan tidak adanya Lucia, kita sekarang bergantung pada Erwina,”
“Lucia? Istri Bos Anton?” tanya Andini.
“Benar, Andini, dan misal kau lupa, Lucia adalah second-in-command di atas Erwina, ingat itu, dan dia sudah menduduki posisi itu sebelum menikah dengan Anton,” kata Tita,
“fakta bahwa Lucia menikah dengan Anton, menurutku akan terus menjadi masalah; tapi setidaknya, Andini, Lucia bisa berpikir lebih tenang daripada kamu,”
Andini hanya diam saja. Tanpa adanya krisis, reporter bisa saja lupa mengenai rantai komando mereka, dan siapa yang seharusnya memimpin saat ini. Andini juga, hampir lupa, kalau posisi Lucia sebenarnya cukup tinggi dalam rantai komando ini. Keheningan pun pecah ketika seorang reporter masuk ke ruangan. Tita terkejut. Bukan Erwina, tapi Dhea, reporter yang sebenarnya masih muda.
“Dhea? Mana tim yang bertugas di Departemen Pertahanan?” tanya Tita.
“Iya, saya,” kata Dhea tidak mengerti.
“Mana Erwina?” tanya Tita lagi.
“Tidak ada,” kata Dhea.
“Apa maksudnya tidak ada?” tanya Fitri menyelidik.
“Erwina… saya hanya mendapatkan memo dari Erwina untuk meneruskan liputannya di Dephan,” kata Dhea.
“Dia ke mana?” tanya Tita.
Dhea hanya gelagapan saja ditanyai seperti itu. Tita pun menggebrak mejanya sambil menggumamkan sumpah serapah.
“Bukan Erwina kalau dia meninggalkan petunjuk kemana dia pergi,” kata Fitri.
“Di saat seperti ini? Ini namanya desersi! APA DIA TIDAK TAHU POSISINYA!!?” bentak Tita.
“Kita tidak menduga akan terjadi seperti ini…” kata Fitri.
“Tentu saja! Dengan skala kerahasiaan seperti ini, semua orang harus menduganya! Dan Erwina tidak selayaknya main pergi begitu saja tanpa meninggalkan petunjuk!” kata Tita.
“Pertanyaannya, sekarang kita harus apa!?” tanya Fitri.
Tita mendengus sambil mencengkeram meja sehingga menimbulkan bekas cakaran. Ia lalu menatap dengan enggan ke arah Andini.
“Andini, permintaanmu ke DPR ditolak…” kata Tita.
“Bu Tita…” kata Andini tak mengerti.
“Pimpin tim ini, selama Erwina belum kembali,” kata Tita,
“dan itu perintah!”
Andini tidak membantah, dan segera berbalik serta menjalankan tugasnya.
“Kukira kamu tak pernah mempercayai Andini?” tanya Fitri.
“Dia juga tak pernah mempercayaiku,” kata Tita,
“tapi kami harus belajar, dan saat ini adalah yang terbaik,”
“Menurutmu dia bisa menjalankan tugasnya?” tanya Fitri.
“Berdoalah semoga begitu,” kata Tita.
Location Unknown
Time unknown
Erwina kembali membuka matanya. Ia sama sekali tak tahu lagi harus apa kecuali terduduk di sini, telanjang, dengan dua benda tertancap di dua lubang pembuangannya. Untuk pertama kalinya, Erwina kehilangan kemampuannya dalam menganalisa, dan ketahanan mentalnya pun mulai runtuh. Lebih lama lagi, mungkin Erwina bisa gila.
Pintu pun terbuka, dan kembali Sang Pemimpin masuk ke dalam. Seperti biasanya, ia mengambil tempat duduk langsung menghadap ke Erwina dan menatap Erwina dengan dingin. Erwina pun sudah belajar untuk tidak mengajak bicara orang ini kecuali dia diajak bicara lebih dulu. Walaupun begitu, Erwina merasa ada yang berbeda dari kunjungan kali ini, meskipun dia tidak tahu apa. Sang Pemimpin terus menatap Erwina seperti biasanya, dan Erwina pun sudah pasrah ditatap dengan pandangan mata yang sedingin es itu. Berapa lama lagi hal ini akan berlangsung, dan ia pasti akan sudah gila sebentar lagi. Semenjak pertanyaan terakhir, tak ada lagi yang ditanyakan oleh Sang Pemimpin.
Pintu kembali terbuka, dan seseorang dengan memakai pakaian hitam-hitam dan menyandang Uzi pun masuk. Ia langsung mendekati Sang Pemimpin dan membisikkan sesuatu. Erwina kali ini agak tertarik dan berusaha untuk mendengar apa yang dibisikkan itu. Sia-sia saja. Meskipun Erwina sedikit mendengar, namun bahasa yang digunakan sama sekali tidak dimengerti. Bukan bahasa Inggris, atau Prancis, atau Jepang, atau Mandarin, tapi jenis bahasa lain yang tidak Erwina mengerti, tapi anehnya ia merasa pernah mendengarnya di suatu tempat.
Secara otomatis, komponen analisa di otak Erwina, yang selama penyekapan ini “mati suri” tiba-tiba bekerja dengan cukup giat. Erwina pun mengingat-ingat masa lalu. Sebelum di Jakarta, ia memang pernah bertugas di Biro NewsTV Makassar sebelum akhirnya digantikan oleh Rachel. Pada saat itu, jangkauan Biro Makassar memang mencakup hampir seluruh Indonesia Timur, dan Erwina pun ingat pada salah satu peliputan, ia pernah mengunjungi sebuah suku terpencil di Pulau Flores. Yah, tidak salah lagi, bahasanya mirip seperti itu. Sayangnya Erwina tidak mempelajari bahasa itu, bahkan Erwina pun selama ini sangsi, apakah di luar lingkup suku itu bahasa ini pernah digunakan?
Erwina pernah bercakap-cakap dengan Anton, dan suatu ketika Anton pernah menceritakan bahwa pada Perang Dunia II, tepatnya pada pertempuran di Pulau Saipan, untuk mengecoh Jepang, maka tentara Amerika Serikat dalam kontak radionya menggunakan operator dari suku indian Navajo, dan menggunakan bahasa Navajo pula. Padahal bahasa Navajo ini hanya diketahui oleh suku Navajo sendiri, dan pengguna bahasa ini juga amat sedikit. Taktik ini kontan saja membuat Jepang tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh orang-orang Amerika di radio. Dan ini tentu saja membuat Amerika memiliki keuntungan untuk melakukan manuver tanpa bisa dicegah oleh Jepang. Apakah ini juga yang dilakukan? Menggunakan bahasa dari sebuah suku terpencil di Indonesia untuk digunakan sebagai sandi?
Sang Pemimpin tampak menutup matanya, dan tengah mempertimbangkan sesuatu. Erwina hanya bisa menunggu dengan berharap-harap cemas. Pada akhirnya, di tengah ketegangan, Sang Pemimpin pun berkata dengan dingin.
“Ketika kamu bertemu dengan Dr. Sedorenkov, apa yang dia katakan ke kamu?” tanya Sang Pemimpin.
“Apa pedulimu!?” tanya Erwina sedikit melecehkan.
Tentu saja dengan semua perlakuan yang ia terima selama ini, Erwina pun merasa berhak untuk balik melawan.
Sang Pemimpin pun bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Erwina. Apa yang akan ia lakukan kali ini? Apakah ia akan menyiksa Erwina atas kelancangan ini?
“Teman-temanmu di KRI Antasena: Lucia, Erika, Reza, dan Iwan… apakah betul?” tanya Sang Pemimpin.
Erwina tersentak. Orang mungkin mengetahui bahwa Lucia ada di kapal selam itu, tapi berapa jumlah orang NewsTV yang ada di sana, dan terutama, siapa saja… itu tidak semua orang tahu.
“Kalau kamu sayang dengan nyawa mereka, sebaiknya kamu mulai bekerja sama…” kata Sang Pemimpin,
“kalau tidak…”
Suara Sang Pemimpin cukup dingin, dan Erwina yakin itu bukan nada main-main. Tapi, kalau Sang Pemimpin ingin membunuh Lucia dan timnya, bukankah mereka semua ada di kapal selam? Kecuali…
“Aku tak percaya, ini pasti gertakan!” kata Erwina.
“Silakan saja,” kata Sang Pemimpin.
“Kau tak mungkin bisa membunuh mereka!” kata Erwina lagi.
“Aku tak perlu beranjak dari sini untuk membunuh mereka,” kata Sang Pemimpin,
“kalau kamu terus menolak untuk bicara, mereka akan mati sendiri dalam waktu tak begitu lama…”
Mati sendiri? Kini Erwina mulai ketakutan.
“Apa maksud kamu??” tanya Erwina.
“Waktu semakin berjalan, Nona Erwina, antara kami keluarkan teman-temanmu dalam keadaan hidup atau dalam kantong mayat,” kata Sang Pemimpin,
“itu pilihanmu!”
“Apa kamu mau menghancurkan kapal selam??” tanya Erwina.
“Kapal selam itu akan hancur, mungkin dalam waktu tak begitu lama lagi,” kata Sang Pemimpin.
“Kamu bohong!” kata Erwina.
“Mau mengambil risiko?” tanya Sang Pemimpin,
“baik, tapi jangan salahkan kami kalau…”
“Tunggu!” tanya Erwina.
Sang Pemimpin lalu melihat ke arah Erwina.
“Siap untuk bicara?” tanya Sang Pemimpin.
“Apa kamu bisa dipercaya? Kalau kamu mau mengeluarkan teman-temanku hidup-hidup dari sana?” tanya Erwina.
“Oh, kamu tak mungkin tahu,” kata Sang Pemimpin, “tapi kamu tak punya pilihan lain, kan?”
Entah bagaimana, Erwina memutuskan bahwa orang ini bisa dia percaya. Entah apakah itu memang karena Erwina bisa mempercayai orang ini, ataukah hanya karena Erwina ingin segera keluar dari sini.
“And they send him…certain of the Pharesees and of the Herodians…to catch him…in his words…” kata Erwina sedikit terbata-bata.
Belum sempat Erwina menyelesaikan perkataannya, Sang Pemimpin tampak naik pitam, tiba-tiba saja dari bracer yang selalu dipakainya, keluarlah sebuah bilah mirip bilah pisau tersembunyi berukuran sepanjang lengan bawah, dan dengan kecepatan luar biasa, tahu-tahu dia sudah menempelkan bilah pisau itu di leher Erwina. Erwina amat ketakutan hingga ia merasa sedikit tercekik. Meskipun hanya menempel, titik merah tampak keluar dari tempelan itu, menunjukkan betapa amat tajamnya pisau ini.
“Jangan main-main, kamu!! Tuhan tidak ada di sini!!” bentak Sang Pemimpin.
Erwina terang saja ketakutan setengah mati. Sebelum ini, tak sekalipun Sang Pemimpin ini bertindak sesuatu yang betul-betul membahayakan nyawanya, atau setidaknya menunjukkan niat bahwa ia ingin membunuh Erwina. Namun ketika baja dingin tajam ini menekan tenggorokan Erwina, sadarlah ia bahwa nyawanya kini di ujung tanduk.
“Kamu mau mati!!?” ancam Sang Pemimpin lagi sambil semakin kencang menekan pisaunya ke leher.
“Akh…akhu…bersum…pah…itu memang be…nar…” kata Erwina dengan leher yang terasa semakin tercekik.
Mata Sang Pemimpin menatap Erwina dengan nafsu ingin membunuh, dan baru kali ini Erwina merasakan bahwa batas antara hidup dan mati bagi dirinya betul-betul lebih tipis dari rambut.
“Baiklah kalau maumu begitu…” kata Sang Pemimpin,
“berdoalah sebelum menemui Dia!”
“Then saith he to the man…stretch forth…thine hand…” kata Erwina dengan nafas tersengal-sengal,
“…and he streched it forth…and it was restored whole like as the other…AAKH…”
Erwina berteriak kecil karena pisau itu semakin ditekan ke lehernya. Hanya sebuah gerakan kecil, dan keadaan di sini akan berubah menjadi amat kejam. Erwina pernah mendengar bahwa orang yang disembelih masih punya waktu hingga beberapa saat untuk merasakan sakit ketika nyawa meninggalkan badan. Atau kalau memang pisau ini setajam itu, malah mungkin dalam sekali tebas, lehernya akan putus menjadi dua.
“And one of the company said unto him, Master, speak to my brother!! That he divide the inheritance with me!!” Erwina pun berteriak seolah ingin melepaskan kata-kata terakhirnya keras-keras,
“Took…took…branches…took branches…, took…”
Sepertinya inilah akhirnya. Erwina, mungkin kombinasi dari terror dan kelelahan, kini sudah tidak bisa mengingat lagi kata-kata yang terakhir. Dia pun pasrah dan napasnya menurun.
“Took branches of palm trees, and went forth to meet him, and cried,” kata Sang Pemimpin tiba-tiba.
Pisau pun tiba-tiba saja dilepaskan dari leher Erwina, dan Erwina pun terbatuk-batuk berusaha melepaskan perasaan tercekik. Sebuah garis merah tipis mulai menghiasi lehernya, dan dalam beberapa saat, darah pun mulai menetes kecil dari garis itu; namun terlalu kecil untuk menjadi pendarahan serius, masih terlalu dangkal untuk itu.
Sang Pemimpin pun lalu menyentakkan tangannnya dan pisau itu masuk kembali, tertarik dan tersembunyi dengan rapi dalam bracer-nya. Dia kembali duduk di hadapan Erwina.
Ia berdehem sejenak, kemudian dengan tenang, seperti orang tua yang tengah menceritakan dongeng sebelum tidur, ia mulai berkata, melanjutkan yang tadi.
“Hosanna! Blessed is the King of Israel that cometh in the name of the Lord!” kata Sang Pemimpin.
“Kamu…kamu tahu?” tanya Erwina heran. Apakah dia mendengar
perkataan Dr. Sedorenkov juga?
“Yohannes, 12:13,” kata Sang Pemimpin,
“bagian pertama yang kamu katakan adalah dari Markus, kemudian selanjutnya adalah dari Matthius, dan sebelum ini, kamu membaca Lukas,”
“I…itu ayat-ayat Injil??” tanya Erwina.
“Ya…dan aku baru mengerti maksudnya setelah kamu mengatakan bagian Lukas,” kata Sang Pemimpin,
“karena meskipun berbeda kitab, tetap saja kamu menyebutkan ayat itu…”
“12:13?” tanya Erwina.
“Juga pada Yohannes rupanya,” kata Sang Pemimpin,
“melihat dari reaksimu, aku yakin kamu belum pernah membaca Injil sebelumnya,”
Sang Pemimpin tiba-tiba meneriakkan sesuatu, masih dalam bahasa yang tak dapat dikenali itu. Kemudian, masuklah seorang anak buahnya yang membawa sebuah laptop. Sepertinya itu milik Dr. Sedorenkov.
“Meskipun orang Russia, tapi Dr. Sedorenkov bukan penganut Kristen Orthodoks, dia penganut Katolik Roma yang taat,” kata Sang Pemimpin,
“seharusnya aku tahu kalau dia akan menggunakan Injil sebagai kode; yang jadi pertanyaan, kenapa dia malah memberitahukannya padamu?”
“Dia…dia ingat aku…” kata Erwina setengah menggumam.
“Tebakan yang bagus, dan mungkin memang benar,” kata Sang Pemimpin,
“ingatan Dr. Sedorenkov amat tajam, dan aku yakin ia bisa langsung mengingat bahwa suatu waktu kamu pernah mewawancarainya; tapi apa betul dia memberimu kode yang benar, mari kita lihat,”
Sang Pemimpin lalu memasukkan suatu kode ke dalam laptop itu. Tapi tampaknya laptop itu menolaknya.
“Bukan 12:13,” kata Sang Pemimpin,
“seharusnya ini menjadi kode 5 karakter yang sederhana,”
“Dia hanya mengatakan itu…” kata Erwina.
“Markus…Matthius…Lukas… Yohannes…” kata Sang Pemimpin,
“satu-satunya penghubung hanyalah bahwa semuanya ayat 12:13, apa ada makna lain?”
“Waktu? Pukul 12:13?” tanya Erwina yang kini mulai bersemangat.
“Terlalu aneh dan terlalu panjang untuk kode 5 karakter,” kata Sang Pemimpin.
“Atau… tanggal mungkin? 13 Desember?” kata Erwina,
"adakah sesuatu yang penting bagi orang Katolik pada 13 Desember?"
Sang Pemimpin melihat ke arah Erwina agak lama sehingga Erwina pun akhirnya surut kembali. Namun tiba-tiba ia segera mengetikkan sesuatu ke laptop, dan kali ini laptop itu menerimanya, dan segera saja data-data mengalir dengan amat cepat. Erwina hanya bisa melihatnya sekilas, dan ia yakin bahwa data-data itu adalah data-data teknis mengenai KRI Antasena. Tapi terlalu cepat untuk bisa melihat dan mengingat semuanya.
Sesudah aliran data-data itu berhenti, Sang Pemimpin kembali mengetikkan sesuatu. Kali ini sepertinya ia memilih pilihan di layar laptop itu: “TRACKING DEVICE”. Segera setelah menekan “enter”, sebuah kotak dengan tulisan besar pun muncul: “ENTER THE PASSWORD”. Sang Pemimpin kembali memasukkan kode 5 karakter yang sepertinya tadi ia gunakan untuk masuk, dan sepertinya berhasil. Layar pun berubah dan terdengar suara perintah dari laptop itu:
“TO ACCESS, PLEASE SPEAK THE REVELATION”.
Tak perlu diberi tahu, itu adalah nama salah satu kitab dalam Injil juga. Erwina tahu karena ia memang pernah membaca Revelation, atau di Indonesia disebut juga dengan Kitab Wahyu, meskipun hanya sekilas. Dan rasanya tak perlu diberi tahu juga, bagian mana dari Kitab Wahyu yang dipakai.
“Ayat 12:13, when the dragon saw that he had been hurled to the Earth, he pursued the woman who had given birth to the male child…” kata Sang Pemimpin.
Laptop itu segera memproses kata sandi yang diberikan Sang Pemimpin.
"Password not match,” kata laptop.
“Kogda drakon uvidel, chto ego sbrosili na zemlya, on stal resledovat' zhenschinu, rodivschuya mal'chika,” kata Sang Pemimpin, kali ini dalam bahasa Russia.
Sekali lagi laptop memproses kecocokannya.
"Password not match," kata laptop lagi.
Walaupun masih diam saja, Erwina bisa melihat bahwa Sang Pemimpin mulai kehilangan ketenangannya.
“Apa segampang itu?” tanya Erwina.
“Apa maksudmu?” tanya Sang Pemimpin.
“Pada fase akhir, apa mungkin Dr. Sedorenkov merancangnya segampang itu untuk ditebak?” tanya Erwina,
“Dr. Sedorenkov memang penganut Katolik yang taat, tapi apa mungkin ini hanya berarti satu Injil?
“Hanya ada satu Injil!” kata Sang Pemimpin,
“walaupun dalam bahasa- bahasa yang berbeda, tapi hanya ada satu Injil, yang datang dari satu...”
Tiba-tiba Sang Pemimpin seolah terhenyak.
“Ada apa?” tanya Erwina.
Sang Pemimpin tak menjawab, tapi dia untuk yang ketiga kalinya berbicara pada laptop.
“Et postquam vidit draco quod proiectus est in terram persecutus est mulierem quae peperit masculum,” kata Sang Pemimpin.
Layar pada laptop pun berubah dan menampilkan beberapa kode. Erwina tak sempat menangkap apa maksudnya ketika Sang Pemimpin tiba-tiba segera menutup dan mengemas laptop itu bersiap membawanya keluar. Erwina tentu saja amat kaget.
“Tunggu! Kamu mau ke mana?” tanya Erwina.
Sang Pemimpin tidak menjawab,namun langsung saja keluar ruangan.
“Kamu berjanji akan menyelamatkan teman-temanku!” teriak Erwina,
“SELAMATKAN MEREKA!!”
Pintu tertutup, dan Erwina pun menangis sesenggukan. Sementara itu, di balik pintu yang memang kedap suara, Sang Pemimpin tampak mengaktifkan sebuah alat mirip handphone.
“Ya…kita sudah mendapatkannya…soal tahanan kita? Akan segera aku bereskan…tenang saja, Anda tahu saya…bersih tanpa jejak,” kata Sang Pemimpin dengan dingin,
“ini kodenya,"
Pangkalan Udara XVII
Archangelsk, Russia
11.01 WIB
H minus 48:59:00
Dua buah pembom supersonik Tu-160 atau dalam kode NATO disebut sebagai “Blackjack” mendarat dengan mulus di Pangkalan Udara XVII yang ada di Archangelsk, Russia. Udara dingin dan salju tebal menyambut kedatangan dua pembom itu. Pangkalan ini adalah milik Angkatan Udara Russia, dan sama sekali tertutup bagi penerbangan sipil. Di apron, telah menunggu banyak orang dan kendaraan-kendaraan. Yang paling mencolok adalah adanya dua buah truk kargo yang berukuran cukup besar di sana.
Kedua bomber Tu-160 itu berasal dari Grup XII dari Skuadron Bomber Strategis ke-81, dan dikenal dengan nama “ Katya-5670 ” dan “ Strella-5672 ”. Pada era Perang Dingin, Skuadron ini memang dipersiapkan untuk membawa bom nuklir dan mengebom Amerika Serikat andai saja pecah perang dengan Uni Soviet. Kapten dari Strella-5672 dan juga komandan dari dua pesawat itu pun turun dan memberi hormat pada awak di darat. Nama komandan senior ini adalah Kolonel Mikhail Solovanov, yang tampaknya dihormati betul oleh semua orang di sana.
“Kami mengemasnya secepat yang kami bisa, Kamerad Kolonel,” kata pimpinan kru darat.
“Kalau begitu secepatnya naikkan ke pesawat… mereka tak punya banyak waktu,” kata Kol. Solovanov,
“kita sering mengalami kecelakaan kapal selam, jadi aku harap kita bisa bersimpati pada mereka,”
“Lima menit lagi,” kata pimpinan kru darat.
“Oke, aku akan menunggu di dalam pesawat, dingin sekali di sini,” kata Kol. Solovanov,
“setelah semuanya selesai, aku akan langsung terbang,”
Kol. Solovanov menepuk pundak pimpinan kru darat, kemudian ia segera kembali ke dalam pesawat. Ternyata di dalamnya, sudah ada Laksamana Barlin Sinaga, atase pertahanan KBRI. Sedikit berbasa-basi, Kol. Solovanov pun berbincang-bincang sejenak.
“Lima menit lagi, Kamerad,” kata Kol. Solovanov,
“dan kita akan berangkat secepatnya,”
“Terima kasih, Kolonel,” kata Barlin Sinaga.
“Pangkalan di Omsk akan menyediakan payung udara untuk kita; selama di Russia, kita akan mengisi bahan bakar di udara, tepatnya di atas Karakum,” kata Kol. Solovanov.
“Kita sudah membujuk pemerintah Tiongkok dan Vietnam; pesawat ini boleh mengisi bahan bakar di Harbin dan Hanoi sebelum akhirnya sampai di Jakarta,” kata Barlin Sinaga.
“Dengar, aku turut bersimpati pada tragedi yang negara Anda alami,” kata Kol. Solovanov,
“kami pernah beberapa kali mengalaminya juga, adikku juga pernah jadi korban,”
“Terima kasih, tolong bawa saja kargo ini secepat yang Anda bisa,” kata Barlin Sinaga.
“Anda bercanda? Jangan panggil aku ‘Kilat’ Solovanov kalau aku tidak bisa membawa kedua pesawat ini sampai ke Jakarta lebih cepat dari waktu yang kalian tentukan!” kata Kol. Solovanov sambil menyeringai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar