Senin, 28 September 2020

"LAUT BIRU" CHAPTER V

The Orbituary

CHAPTER V

The Orbituary


Istana Merdeka
Jakarta
03.42 WIB

Presiden Hariman Chaidir buru-buru menuju ke ruangan rapat darurat, masih mengenakan kimono tidurnya. Beliau betul-betul kaget karena tiba-tiba Kepala Staf TNI, Laksamana Dedy Suprayitno membangunkannya di pagi-pagi buta begini. Terlepas bahwa Beliau masih jengkel, berita apapun yang masuk sehingga membuatnya harus bangun dini hari ini pastilah berita amat penting yang tidak bisa menunggu hingga matahari terbit. Hatinya mulai was-was, karena beberapa malam ini Beliau memang tidak dapat tidur sehubungan dengan pelayaran perdana KRI Antasena. Jangan-jangan ini juga ada kaitannya dengan itu!

Tiba di ruang rapat, sudah ada Kepala Staf TNI Laks. Dedy Suprayitno, Kepala Staf AL Laks. Danoe Salampessy, Kapuspen AL Laksdya. Sapar Sihombing, dan Menteri Pertahanan Marius Tinangon. Kalau melihat dari komposisinya, masih kurang satu orang, yaitu Dr. Arfa Aryanti, Penasihat Keamanan Kepresidenan. Presiden Chaidir melihat bahwa wajah semua orang tampak lesu dan tidak bersemangat, pastinya ini sebuah kabar buruk, kalau bukan kabar yang amat sangat buruk.

“Tuan Presiden,” kata Laks. Suprayitno,

“Nn. Aryanti sedang dalam perjalanan kemari, Beliau masih harus mengecek beberapa data,”

“Ada apa ini?” tanya Pres. Chaidir.

Semua orang tampak takut untuk menjawab, dan semuanya hanya mendesah dengan murung.

“Kami…” kata Laks. Salampessy,

“mendapatkan sinyal darurat dari KRI Antasena, beberapa waktu lalu… tampaknya, kapal selam kita… sedang diserang,”

Presiden pun tampak terdiam sejenak dengan pandangan mata tak percaya.

“Astaga… bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Pres. Chaidir.

“Kami… belum tahu lagi,” kata Laks. Salampessy,

“kami belum dapat kontak lagi dari kapal selam itu… ada kemungkinan kapal selam itu sudah…”

“Hancur?” tanya Presiden.

“Kami belum memastikan itu, Tuan Presiden,” kata Laksdya. Sihombing,

“kami sudah mengirim pesawat intai Be-200 ke posisi terakhir, dan Nn. Aryanti sedang memeriksa data-datanya,”

“Bagaimana laporan pengamatan awal?” tanya Pres. Chaidir.

“Tidak ada apa-apa; tapi kami masih belum tahu,” kata Laks. Salampessy,

“tidak ada kapal selam ataupun kapal lainnya dalam radius hingga beberapa puluh kilometer,”

“Tapi pertempuran laut tidak meninggalkan bekas,” kata Pres. Chaidir,

“aku tidak bisa tidur beberapa malam ini karena kapal selam kita sedang berlayar di perairan luar; apa kalian kira aku mengharapkan dibangunkan malam-malam hanya demi sebuah ketidakpastian!!?”

Semua tertunduk lesu. Jelas Presiden Chaidir adalah orang yang paling stress dengan ini, karena KRI Antasena dibangun atas instruksi langsung dari Beliau.

Pada saat itulah dari luar terdengar suara helikopter yang tengah mendarat di helipad Istana Merdeka. Rasanya tak perlu menebak siapa yang datang, karena beberapa menit kemudian, masuklah seorang wanita cantik berusia kira-kira 32-35 tahun berambut panjang dan memakai kacamata minus. Dia adalah Dr. Arfa Aryanti, Penasihat Keamanan Kepresidenan, wanita yang digadang-gadang sebagai “Condoleezza Rice-nya Indonesia”. Meskipun masih muda dan lajang, kariernya tidak main-main. Ia adalah lulusan dari Lemhanas juga, sama seperti Presiden Chaidir, tetapi Arfa Aryanti mengambil bidang kedaulatan teritorial. Juga merupakan anggota termuda dari Tim Penasihat Kepresidenan yang turut andil dalam merumuskan kebijakan pertahanan strategis Republik Indonesia. Dialah aktris utama di balik keputusan Presiden Chaidir untuk meningkatkan dan memodernisasi postur Angkatan Bersenjata, juga yang mendorong dipenuhinya kebutuhan alutsista lewat industri lokal. Konon, di masa depan, ia sudah didaulat untuk menjadi entah sebagai Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan, atau Wakil Presiden; dan sebuah partai bahkan tertarik mengangkatnya menjadi calon presiden ketika masa jabatan Presiden Chaidir rampung.

“Selamat pagi, Tuan Presiden,” sapa Arfa Aryanti,

“maaf, saya tidak berpakaian dengan lebih layak,”

Memang saat itu Arfa mengenakan sebuah tank top lingerie yang dibungkus dengan jaket seadanya, juga celana jeans yang tampaknya buru-buru sekali dipakai.

“Tidak apa-apa, Nn. Aryanti, saya sudah memberi anda dispensasi untuk tidak mempedulikan masalah baju kalau Anda mau menghadap saya dengan masalah penting malam-malam begini,” kata Pres. Chaidir,

“sekarang jelaskan temuan Anda,”

“Ya, saya sudah menganalisa hasil pengamatan dari piranti pengintaian kita,” kata Arfa,

“saya belum bisa memutuskan apa yang sebenarnya terjadi; tapi ada satu hal yang menarik perhatian saya,”

“Jelaskan,” kata Pres. Chaidir.

“Hasil pemindaian inframerah satelit beberapa jam yang lalu menunjukkan ada sebuah lonjakan panas di titik dekat dengan kontak terakhir,” kata Arfa,

“cakupan radiusnya cukup luas, karena mencapai 1 kilometer; yang mana ini hanya berarti satu hal,”

“Apa itu?” tanya Pres. Chaidir.

“Ledakan nuklir,” kata Arfa,

“tepatnya di bawah laut, hanya beberapa puluh kilometersebelum batas terluar ZEE kita,”

“Jadi maksud Anda…” kata Pres. Chaidir.

“Ya, ada yang menembakkan nuklir ke wilayah Indonesia, bom nuklir taktis sepertinya,” kata Arfa,

“namun belum bisa saya pastikan; saat ini juga saya akan ikut dengan sortie pesawat Be-200 berikutnya; saya sudah suruh mereka memasang detektor Geiger-Müller,”

Pres. Chaidir termenung. Pertama nasib kapal selam tak diketahui, lalu sekarang ini? Nuklir? Apa kejadian ini berhubungan?

“Apa mungkin ada hubungan antara ledakan nuklir itu dengan hilangnya KRI Antasena?” tanya Pres. Chaidir.

“Itu juga yang sedang coba saya cari tahu,” kata Arfa,

“satu hal yang pasti, titik ledakan itu dekat sekali dengan titik kontak terakhir KRI Antasena,”

Kamar Erwina
Apartemen NewsTV
04.11 WIB

Erwina terbangun dari tidurnya, dan merasakan dekapan tangan hangat Gilang masih menempel di atas payudaranya. Agak lemah ia, karena tadi malam dia bercumbu dengan hebat dengan Gilang, walaupun tidak sampai coitus. Kesempatan Erwina sendirian di kamar memang sering dimanfaatkan oleh mereka berdua. Walaupun sering bercumbu hingga keadaan telanjang, mereka tetap saja menahan supaya tidak melakukan coitus.

Tanpa sebelumya memakai baju dulu, Erwina pun perlahan-lahan bangkit dan menuju ke depan komputernya yang memang tidak begitu jauh letaknya dari tempat tidur. AC di kamar ini terasa dingin karena Erwina sendiri hanya mengenakan celana dalam saja, dan tanpa kain lainnya; pun Erwina tidak begitu peduli. Ia berusaha melakukannya setenang mungkin karena emang ia tidak ingin Gilang sampai terbangun dan mempergokinya. Bahkan lampu pun tidak ia nyalakan.

Komputer segera saja ia nyalakan dan ia pun memasukkan beberapa data yang ia lihat dari penyelidikannya kemarin. Agak lama juga sebelum akhirnya hasil pencarian yang ia cari keluar juga. Saat itu juga, indikator pesan di komputer pun berbunyi, cukup pelan sehingga hanya Erwina saja yang mendengar, karena memang ia tak ingin Gilang bangun. Ada email yang masuk.

“Bingo!” kata Erwina setengah berbisik setelah membacanya.

Lalu dengan cepat dan tenang, Erwina pun menuju ke lemari pakaiannya.

05.33 WIB

Gilang kali ini giliran terbangun dan sadar bahwa kekasihnya tidak ada di sisinya. Ia melihat keadaan sekitar, semua kosong, tapi ada tanda-tanda bahwa komputer pernah dinyalakan kembali. Dengan gontai, Gilang hanya membebat bagian bawah tubuhnya dengan selimut, lalu berjalan menuju ke arah komputer. Ada sebuah pesan yang ditempelkan di layar monitornya, bunyinya seperti ini:

“SORRY, GIL-BABY! CAN’T DO IT WITH YOU TODAY; LATER MAYBE ^_^ LUV: R-W”

Gilang membaca pesan itu hanya tersenyum saja. Kemana yah, Erwina pergi kali ini? Erwina memang sering sekali pergi seperti ini, dan setiap kali Gilang harus memakluminya. Hanya saja kali ini Gilang sedikit merasa tidak enak dengan kepergian Erwina.

Gilang pun segera memeriksa lemari pakaian Erwina. Ada dua potong baju yang nampaknya hilang, juga satu set pakaian dalam. Tas ransel keberuntungan yang selalu dibawa Erwina juga tidak ada di tempatnya. Namun laptop serta beberapa peralatan lainnya masih ada di sini, hanya kamera saku digital dan tape recorder saja yang tidak ada. Apa Erwina sedang melakukan liputan secara “backpacker” lagi? Berulang kali Gilang, bahkan Anton, mengingatkan Erwina agar mengurangi kebiasaannya untuk meliput secara “backpacker”, tapi Erwina yang memang semenjak masih sebagai reporter junior adalah dikenal spontan dan dinamis, jarang menurutinya. Blackberry Erwina juga tidak ada, sepertinya dibawa pula. Gilang mencoba meneleponnya, tapi HP Erwina mati.

“Kemana sih, anak itu?” gumam Gilang gusar.

Samudera Indonesia
06.03 WIB

Pesawat intai amfibi Beriev Be-200 melaju dengan kencang di atas Samudera Indonesia sambil mengamati keadaan sekitar. Pesawat ini adalah pesawat intai terbaru milik TNI-AL, dahulu sebelum ini, digunakan CN-235 ataupun Twin-Otter atau pesawat Nomad. Seiring dengan meningkatnya kerjasama antara Indonesia dengan Russia, maka Indonesia pun bisa membeli beberapa buah pesawat Be-200, yang mana jenis ini pernah disewa untuk memadamkan kebakaran hutan dahulu. Tercatat Indonesia menerima dua varian, yaitu varian sipil dan varian militer; yang sipil segera dibagikan ke Dinas Kehutanan sebagai pesawat pemadam kebakaran hutan, sedangkan versi militer dari pesawat ini digunakan oleh TNI-AL sebagai pesawat intai amfibi. Apalagi sebagai pesawat amfibi, maka Be-200 bisa lepas landas dan mendarat di atas air, sehingga tidak memerlukan landasan pesawat.

Arfa Aryanti ikut pula dalam penerbangan kali itu. Sejak dibangunkan dini hari tadi, Arfa belum sempat istirahat kembali, ataupun mandi menyegarkan diri. Ia masih memakai pakaian yang ia pakai menghadap Presiden tadi dini hari, kecuali bahwa ia menggunakan jaket penerbang untuk mengusir dingin. Kemungkinan ada bom nuklir yang meledak di wilayah Indonesia memang betul-betul mengusiknya. Kalau betul, lalu siapa yang meledakkannya?

Dugaan sementara adalah ini ulah salah satu negara besar, karena hanya mereka yang punya akses ke senjata nuklir. Di kawasan ini, selain Australia, juga ada India, Pakistan, dan Amerika Serikat, karena Amerika Serikat pun menempatkan Armada Kelima di sini. Atau bisa juga kemungkinan bahan nuklir itu dibawa oleh jaringan teroris internasional untuk mengacau, entah di Indonesia atau Australia. Arfa tahu kalau Al-Qaeda bisa saja mendapatkan senjata nuklir, dan mungkin pula salah satu bahan nuklir itu dibagi kepada sayapnya di Asia Tenggara, Jamaah Islamiyah, kelompok teroris yang sekarang tengah diperangi bersama oleh negara-negara ASEAN.

“Apa anda yakin kalau ini ledakan nuklir, Nn. Aryanti?” tanya Sersan Ernest, operator sensor di pesawat.

“Kemungkinan besar ke sana, Sersan,” kata Arfa.

“Tapi bukankah ada perjanjian untuk pembatasan nuklir?” tanya Srs. Ernest lagi,

“lagipula kenapa koq tidak ada ledakan besar; maksudku, ledakan nuklir pasti semua orang tahu,”

“Yang dibatasi itu penggunaan nuklir sebagai senjata strategis, Sersan; dalam tataran taktis, bahan nuklir sering sekali digunakan; Amerika Serikat memakai nuklir untuk peluru artileri mereka, termasuk juga meriam tank,” kata Arfa,

“selain itu ledakannya di laut, susah untuk dideteksi kecuali kebetulan kamu ada di dekatnya; makanya kita harus cepat, soalnya air laut bisa mendinginkan jejaknya,”

“Tapi, kalau memang ada nuklir meledak, bukannya harusnya negara-negara lain juga tahu, dan harusnya juga ada statement, kan?” tanya Srs. Ernest.

“Itu juga yang aku mau tahu, Sersan,” kata Arfa.

Pesawat itu lalu melaju dengan kencang ke arah lokasi yang dicurigai sebagai bekas ledakan nuklir. Tidak terbang terlalu tinggi, hanya pada ketinggian menengah saja. Dalam perjalanannya, pesawat pun berpapasan dengan sebuah kapal cepat yang bertujuan sama.

“Nn. Aryanti, itu teman kita, KRI Harimau,” kata Kapt. Danias, pilot sekaligus pimpinan misi pesawat.

“Buka saluran komunikasi, Kep!” kata Arfa.

KRI Harimau adalah sebuah KCT (Kapal Cepat Torpedo) jenis FPB-60, buatan PT PAL Surabaya. Kapal ini memang diperuntukkan untuk menghadapi pertempuran dengan kapal selam, sehingga memiliki pula sensor kapal selam yang dapat diandalkan. Pendahulu dari kapal ini, yaitu KRI Ajak, pernah diikutkan untuk mencari reruntuhan pesawat Adam Air yang jatuh di perairan Mamuju.

“KRI Harimau, di sini Mother Goose, ganti,” kata Arfa.

“Roger, Mother Goose, kami sedang dalam perjalanan, ada satu tim penyelam juga di sini,” kata Kapten KRI Harimau.

“Jangan turunkan penyelam dulu, takutnya lautnya masih terkontaminasi,” kata Arfa,

“kalau memang itu tadi ledakan nuklir,”

“Roger that, Mother Goose, kami menunggu aba-aba dari kalian,” kata Kapten KRI Harimau,

“sementara pencarian kami lakukan dengan sonar pasif, tapi tak ada apa-apa di bawah, walaupun kalau boleh jujur, kayaknya tadi malam habis ada pesta di sekitar sini,”

“Tolong kirimkan data kamu langsung ke sini,” kata Arfa,

“kami terbang dulu dan coba melacak keadaan sekitar apa sudah aman atau belum,”

“Copy that!” kata Kapten KRI Harimau.

Be-200 bersandi “Mother Goose” itu langsung melesat meninggalkan KRI Harimau. Secepat apapun KRI Harimau berusaha mengejar, tampaknya bukan tandingan bagi kecepatan pesawat. Untungnya, lokasi sasaran sudah cukup dekat. Arfa pun menerima data bacaan dari sensor KRI Harimau dan berusaha menganalisanya. Di sisi lain, Be-200 pun siap melakukan pemantauan, terutama tingkat radiasi.

“Detektor Geiger menyala,” lapor Srs. Ernest,

“ada lonjakan tingkat neutron; mencolok, tapi pada tingkat yang masih aman,”

“Ledakannya terjadi di laut,” kata Arfa,

“tingkat neutron di udara pasti sudah berkurang sekali; kita butuh sampel air laut,”

“Mendarat, Nn. Aryanti?” tanya Kapt. Danias.

“Ya, Kep, silakan,” kata Arfa,

“nggak usah lama-lama,”

“Wilco!” kata Kapt. Danias.

Pesawat Be-200 akhirnya mengambil manuver untuk mendarat di laut, tepatnya pada posisi yang dicurigai sebagai lokasi ground-zero ledakan nuklir itu. Seperti seekor angsa yang mendarat dengan anggun di air, pesawat itu pun menurunkan ketinggiannya, dan menyentuh air dengan lunasnya yang mirip seperti lunas kapal itu. Kepraktisan inilah yang membuat Arfa dulu menyerukan agar AL memiliki pesawat terbang amfibi; Indonesia adalah negara dengan wilayah air yang sangat luas, sehingga pesawat terbang amfibi pun layak untuk berkembang di sini.

Tidak terlalu lama memang, karena pendaratan ini hanya bertujuan untuk mengambil sampel air saja. Di sisi yang lain, KRI Harimau pun akhirnya mendekati pesawat itu. Mereka tampaknya menunggu aba-aba dari Arfa sebelum memulai pekerjaan mereka.

“Pembacaan radiasi cukup rendah dan masih dalam ambang aman,” kata Arfa,

“oke, KRI Harimau, silakan lanjutkan tugas kalian, tapi hati-hati,”

“Roger that,” kata Kapten KRI Harimau,

“oh ya, kami mendapatkan beberapa deteksi aneh di sekitar sini; apa kalian menerjunkan sonobuoy,Mother Goose?”

“Sonobuoy? Tidak,” kata Arfa,

“tapi aku akan cek; bisa kalian bersihkan sonobuoy-nya?”

“Tidak masalah,” kata Kapten KRI Harimau.

Sonobuoy adalah semacam alat yang dijatuhkan di air dan mengeluarkan gelombang pencari mirip sonar aktif, yang tujuannya untuk memetakan lokasi kapal selam musuh. Biasanya sonobuoy ini lebih sering dijatuhkan dari pesawat atau helikopter, mengingat posisi mereka lebih sulit untuk mengendus di dalam air. Tapi, siapa yang menjatuhkannya? Arfa tak berani berspekulasi, segera saja ia memerintahkan Kapten Danias untuk segera lepas landas.

Pesawat Be-200 pun kembali mengudara, dan kali ini meninggalkan sejenak KRI Harimau dengan pekerjaannya. Aneh sekali, kenapa ada sonobuoy di sini? Pertanyaan itu yang mengganggu benak Arfa. Segalanya pun seolah berjalan sesuai dengan sebuah teori konspirasi. Be-200 sendiri harus segera pulang ke pangkalan di Pelabuhan Ratu untuk mengisi bahan bakar. Namun sebelum pulang, Arfa meminta Kapten Danias untuk berpatroli satu putaran lagi, tapi kali ini di tapal wilayah terluar ZEE, lebih jauh ke selatan. Entah bagaimana, tapi naluri Arfa mengatakan, mereka akan menemukan sesuatu di sana.

“Boogey! At 11 o’clock, low,” kata Kapt. Danias.

“Ada apa?” tanya Arfa.

“Ada pesawat lain, posisi sekitar 10 kilometer sebelah kiri,” kata Kapt. Danias.

Arfa pun melihat keluar dari jendelanya. Betul juga, dari jauh nampak ada sebuah titik kecil membentuk bentangan sebuah pesawat. Namun karena jauh, Arfa tidak bisa menangkap insignia dari pesawat itu.

“Sepertinya itu kalau bukan Orion ya Aries,” kata Kapt. Danias.

“Pesawat mata-mata?” tanya Arfa.

“Begitulah,” kata Kapt. Danias.

“Aku mau ngomong ke dia,” kata Arfa.

Kapten Danias segera saja menyambungkan koneksi radio kepada Arfa. Arfa pun langsung memakainya.

“This is Indonesian Naval Air Force,” kata Arfa,

“unknown aircraft, you’re approaching Indonesian air territory, identify yourself!”

Tidak ada jawaban dari pilot pesawat itu, tapi pesawat itu malah melakukan manuver dan buru-buru pergi. Kapten Danias hanya menarik nafas saja. Jika saja bahan bakarnya masih penuh, ia pasti akan mengejar pesawat itu, mengingat kecepatan maksimum Orion atau Aries yang hanya 405 km/jam masih di bawah Be-200 yang bisa mencapai 700 km/jam.

“Siapa yah?” tanya Srs. Ernest.

“Itu pesawat mata-mata, dugaanku kalau bukan Amerika Serikat ya dari Australia,” kata Arfa,

“kayaknya kita sedang berhadapan dengan skenario besar konspirasi deh,”


Rumah Anton

Jakarta

06:14 WIB



Handphone Anton kembali berbunyi, dan sekali lagi, nomor Australia. Pastinya itu adalah punya Nana. Ia sedang sibuk pagi ini, karena harus mengurus keperluan Lani sebelum berangkat sekolah. Dengan kepergian Lucia, maka Anton harus belingsatan sendirian menangani rumah. Untungnya ada tenaga pembantu pocokan yang tugasnya cuma menyapu dan mengepel rumah.

“Ada apa, Na?” tanya Anton.

“Busyet, langsung tahu ya, kalau ini aku?” tanya Nana.

“Siapa lagi nomor Australia yang sering ngebel aku kalau bukan kamu,” kata Anton,

“masih kesepian?”

“Nggak lah ya, kemarin dah tuntas koq, jadi tadi malam udah bisa ‘main’ lagi deh, ama bapaknya anak-anak,” jawab Nana.

“Waduh, nggak buang-buang waktu tuh, langsung main tubruk aja,” sindir Anton.

“Kan, kamu yang ngajarin, gimana sih?” balas Nana,

“oh ya, Lani masih kamu cekokin sereal?”

“Nggak lah, nih lagi aku masakin nasi goreng,” kata Anton,

“kamu nggak nelpon cuman buat nanyain itu, kan?”

“Nggak koq,” kata Nana,

“gini nih, aku barusan liat berita pagi di stasiun TV lokal, yah… ada berita menarik nih, tapi nggak tahu deh,”

“Gimana?” tanya Anton ingin tahu.

“Katanya ada kapal AL Australia yang rusak berat gara-gara diserang ama ‘kapal tak dikenal’, ini maksudnya apa, ya?” tanya Nana,

“katanya kejadiannya dini hari tadi,”

“Waduh, apa yah? Nggak tahu aku,” kata Anton.

“Katanya lagi sih, walaupun rusak berat, tapi kapal tak dikenal itu udah berhasil ditenggelamkan,” kata Nana,

“apa Al-Qaeda, yah?”

“Nggak tahu, nggak kamu tanyain sendiri aja ama Aiman Al-Zawahiri?” canda Anton.

“Malah bercanda,” kata Nana,

“emang beritanya bukan headline sih, tapi menarik aja,”

Anton terdiam sejenak, termenung. Sebuah kapal AL Australia rusak akibat diserang oleh ‘kapal tak dikenal’? Anton punya firasat buruk bahwa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan KRI Antasena. Bagaimanapun, pikiran itu segera dibuang jauh-jauh oleh Anton. Tidak mungkin Australia akan dengan sengaja menyerang sebuah kapal Indonesia, ataupun sebaliknya.

“Hooi! Ngalamun, yah!” teriak Nana.

“Eh ya, oh eh… ada apa, Na?” tanya Anton gelagapan.

“Bisa-bisanya, diajakin ngomong malah ngalamun,” kata Nana,

“aku nanya, semua orang baik-baik aja nggak, di sana?”

“Oh, semua baik-baik aja,” kata Anton, “cuman ya gitu deh, agak sepi di sini, nggak ada kamu,”

“Waduh, hawanya dah pada kangen nih, ama aku?” canda Nana.

“Begitulah,” kata Anton,

“oh ya, si Fitri aku tarik ke News Today, aku perbantukan sebentar; tapi tetep aja nggak bisa ngegantiin kamu,”

“Fitri bagus koq,” kata Nana,

“iya ini, kan masih satu semester lagi baru aku bisa balik ke Indonesia,”

“Dah, nggak usah pikirin yang di sini,” kata Anton,

“pikirin aja studi kamu, soalnya kamu kan dibiayai kantor, ntar biar nggak mengecewakan,”

“Oke… eh udahan dulu yah,” kata Nana,

“salam buat semuanya,”

Telepon pun ditutup. Anton lalu mengangkat masakannya sambil berpikir. Apa jangan-jangan kapal tak dikenal itu adalah KRI Antasena? Ia pun takut kalau-kalau istrinya kenapa-kenapa. Anton masih ingat bagaimana sedihnya ketika Wina meninggal dahulu. Sebuah kecelakaan KRL yang tragis, apalagi waktu itu Wina bukanlah salah satu dari penumpang KRL, ia hanya kebetulan saja berada di tempat dan waktu yang salah ketika KRL itu tergelincir dan menghantam kendaraan yang dinaikinya. Untunglah jasad Wina relatif utuh sehingga mudah dikenali. Bagaimanapun, Anton tidak ingin menerima kabar buruk seperti itu lagi, tidak untuk Lucia.


Somewhere in downtown

Bandung

07.38 WIB


Erwina turun dari bus ke kota Bandung. Ia sudah berangkat dari Jakarta subuh tadi, masih tanpa sepengetahuan Gilang. Sekali lagi Erwina melihat ke arah blackberry-nya. Sebuah email sudah datang dini hari tadi, intinya memberikan informasi mengenai Dr. Anatoly Sedorenkov. Ini adalah email dari seorang “sumber yang terpercaya”. Erwina hanya mengenalnya sebagai “jaco123”, dan selama ini juga Erwina belum pernah menemuinya. Akan tetapi, dari pengalaman Erwina, dia seringkali mendapatkan info-info menarik dari orang ini.

Seperti halnya detektif polisi, seorang reporter biasanya memiliki link-link atau hub-hub untuk membantu mereka mengumpulkan berita. Beberapa hub bahkan bisa jadi adalah orang-orang “gelap” atau kriminal, yang membantu reporter untuk mengintip sedikit kehidupan di dalam dunia gelap. Hub-hub seperti itu dimiliki pula oleh para reporter NewsTV, meskipun, tentu saja tidak semuanya. Salah satu yang punya banyak hub adalah Andini, namun Andini tidak pernah mau mengungkapkan siapa saja atau bagaimana caranya menjaga hub-hub tersebut. Nah, si jaco123 inilah salah satu hub terpercaya dari Erwina.

“SUDAH DITEMUKAN, LOKASI MOBIL ITU ADA DI SEKITAR BANDUNG, ALAMAT AKU BERIKAN NANTI, TAPI KALAU BISA SECEPATNYA, TAKUTNYA NANTI BERPINDAH LAGI,”

Begitu bunyi email balasan dari jaco123 itu. Karena email ini pulalah maka Erwina nekad meninggalkan Gilang tanpa permisi dan menuju ke Bandung. Erwina selalu bisa mempercayai jaco123 sebelumnya, maka tidak ada alasan dia tidak bisa mempercayainya sekarang.

“Aku sudah di Bandung,” balas Erwina via blackberry-nya,

“Di mana alamatnya?”

Tak butuh waktu lama, akhirnya balasan email itu pun muncul kembali.

“CEPAT SEKALI? KAPAN KAMU MAU KE SANA?”

“Secepatnya, mungkin siang ini,”

“BAGUS! OKE, IKUTI KELINCINYA…”

Erwina memang memasukkan data-data mobil yang dipakai oleh Dr. Anatoly Sedorenkov ketika dipergoki Erwina di Dephan kemarin. Tak dinyana, ternyata si jaco123 bisa tahu. Atas instruksi dari Angkatan Laut, maka NewsTV hanya memiliki akses terbatas kepada KRI Antasena, namun Angkatan Laut tak pernah memberi amaran bahwa reporter NewsTV tidak boleh mencari info dari luar. Inilah yang dilakukan oleh Erwina sekarang; sebuah wawancara singkat dengan Dr. Anatoly Sedorenkov, maka Erwina berharap bisa menyempurnakan peliputan NewsTV atas KRI Antasena.

Semenjak beberapa waktu yang lalu, Dr. Anatoly Sedorenkov, desainer kepala KRI Antasena, memang menghilang dari muka umum. Ada yang bilang dia sudah pulang ke Russia, tapi yang lain mengatakan bahwa Dr. Sedorenkov hanya menyepi dan masih memegang proyek walaupun sebatas supervisor. Sayangnya, berita soal Dr. Anatoly Sedorenkov sendiri bukanlah jenis berita yang diminati untuk ditelusuri oleh para reporter. Erwina dan Andini dulu memang pernah dua kali mewawancarai Dr. Sedorenkov; entah ya, apa Dr. Sedorenkov masih ingat.


08.11 WIB


Erwina membayar taksi dan segera masuk ke dalam sebuah rumah kost. Rumah itu dekat sekali dengan Biro NewsTV Bandung, namun Erwina tidak bisa ke kantor Biro. Secara de jure, saat itu statusnya adalah libur, dan tanpa surat penugasan khusus, maka hari ini dia tidak bisa meminta sarana di sana. Sebenarnya dia bisa saja menunggu hingga besok, saat dia masuk kembali, tapi ia takut jejaknya sudah dingin.

Seorang wanita pun bergegas menemui Erwina di ruang tunggu rumah kost itu. Cukup cantik meskipun wajahnya menunjukkan garis kekerasan hati. Dia adalah reporter NewsTV yang saat ini ditugaskan ke Biro Bandung. Namanya adalah Mariska, dan dia ini cukup mengenal Erwina, sehingga tentu saja Mariska kaget ketika melihat Erwina sudah ada di hadapannya.

“Pagi banget?” tanya Mariska.

“Iya, kudu pagi-pagi,” kata Erwina.

“Masuk dulu,” kata Mariska.

Mariska pun menuntun Erwina masuk ke dalam rumah kost dan menuju ke kamarnya. Mariska saat itu masih mengenakan pakaian tidur, karena memang hari ini dia dapat jatah masuk sore, jadi tidak terlalu mendesak untuk bangun pagi. Tempat kost itu adalah kost khusus perempuan, tentu saja, dan rata-rata adalah wanita karier atau mahasiswa yeng kebetulan saja berkuliah di sini. Erwina bersyukur bahwa Mariska adalah satu-satunya orang NewsTV yang ada di situ, karena jika tidak, maka bisa jadi keberadaannya di Bandung bisa dibocorkan, mungkin hingga ke Jakarta. Begitu mereka berdua masuk ke dalam kamar, Mariska segera menutup dan mengunci pintunya. Kebetulan pula di sini satu orang menempati satu kamar.

“Sudah makan?” tanya Mariska.

Erwina hanya menggeleng saja. Besar kamar kost ini jelas lebih kecil daripada kamar di apartemennya di NewsTV Jakarta, mungkin hanya seperempatnya, karena memang ini full dipakai sebagai kamar tidur. Di sini tidak ada ranjang, hanya kasur yang diletakkan di atas tikar, lalu di depan ada keranjang pakaian kotor, lemari lipat, dan meja belajar yang dilengkapi sebuah laptop dan TV Tuner. Sebuah HP juga nampak sedang di-charge di atas meja itu. Tidak banyak kesenangan di sini, karena barang-barang yang ada hampir saja membuat kamar ini cukup sesak; untungnya Mariska cukup rapi dalam mengatur kamar.

Mariska lalu keluar sebentar dari kamar. Erwina pun duduk bersila di atas ranjang, karena memang jarang sekali tempat untuk duduk di sini. Ia melepaskan ranselnya dan menghembuskan nafas lega. Rasanya berat juga ransel itu dari tadi ia bawa-bawa. Ransel itu sudah butut, tapi itulah ransel kesayangannya, juga sebagai jimat keberuntungan. Ketika Erwina meliput konflik di Kalimantan, sebuah panah beracun hampir saja merenggut nyawanya, kalau saja panah itu tidak menancap di ransel; mulai saat itulah ia menganggap ransel itu sebagau ransel keberuntungannya. Mariska pun masuk kembali sambil membawa dua piring nasi bungkus.

“Nggak usah repot-repot,” kata Erwina berbasa-basi

“Nggak koq, belinya juga nggak jauh,” kata Mariska,

“lagian aku juga belum sarapan,”

Erwina dan Mariska pun segera menyantap sarapan pagi mereka. Mariska menatap Erwina dengan pandangan mata menyelidik. Ia masih tak tahu apa alasan Erwina datang kemari, tapi pastinya bukan kunjungan ramah-tamah. Orang yang mengenal Erwina tentu tahu kalau Erwina tengah mencari sesuatu.

“Bukannya kamu libur hari ini?” tanya Mariska.

“Iya, bener,” jawab Erwina.

“Terus ngapain ke sini?” tanya Mariska,

“pasti ada sesuatu,”

“Iya, kamu bisa bantu aku, gak?” tanya Erwina.

“Wah nggak tahu ya, aku jatah masuk siang nih hari ini,” kata Mariska.

“Nggak lama koq, tenang aja,” kata Erwina,

“cuman mau minta kamu anterin aku ke satu alamat,”

Mariska diam saja. Ia tampaknya berusaha menyelami apa yang sebenarnya diinginkan oleh Erwina. Erwina memang salah satu reporter top, bahkan kadang menjadi role-model bagi reporter-reporter muda, termasuk juga bagi Mariska. Namun mengikutinya kadang bisa jadi hal yang berbahaya, karena Erwina punya kebiasaan buruk untuk selalu terjun ke dalam sesuatu sekalipun dia tahu bahwa itu adalah bahaya.

“Terus, apa istimewanya dari ‘alamat’ ini?” tanya Mariska.

“Entahlah,” kata Erwina,

“baru tahu kalau udah sampai,”

“Kenapa terus kamu tertarik ke sana?” tanya Mariska lagi.

“Kamu mau nganterin aku pa gak?” tanya Erwina setengah memaksa.

Mariska pun menatap Erwina dalam-dalam.

“Kalau ada masalah, aku nggak mau terlibat,” kata Mariska.

“Percaya deh, kamu nggak pernah ketemu aku di sini,” kata Erwina,

“pembicaraan ini juga nggak terjadi,”

“Kapan kamu mau berangkat?” tanya Mariska.

“Siang nanti,” jawab Erwina.

“Tapi aku nggak bisa nungguin lama-lama, aku kudu masuk kerja,” kata Mariska.

“Nggak masalah,” kata Erwina.

Malah kebetulan, karena Erwina jujur saja lebih suka melakukan peliputannya seorang diri saja, karena lebih bebas dalam mengerjakan sesuatu.


08. 43 WIB


Anton masuk ke dalam ruangan kerjanya, seperti biasa, disambut dengan tumpukan berkas pekerjaan yang harus ia selesaikan. Tita memang sekarang mengerjakan beberapa pekerjaan, tapi bagaimanapun, dengan posisi Anton sebagai first-in-command, ada beberapa hal yang Tita tidak bisa lakukan.

Tita memang lebih muda daripada Anton, akan tetapi dia justru bekerja di NewsTV lebih dahulu, sehingga seharusnya, Tita adalah senior Anton. Bahwa karier Anton lebih cepat meroket daripada Tita itu adalah memang karena kemampuan dan talenta Anton sendiri, namun dengan itu juga, muncul beberapa nada keraguan terhadap Tita.

Semenjak mereka sama-sama memulai karier di bidang editing, Anton sering sekali dipasangkan dengan Tita, sehingga lama kelamaan, antara Anton dan Tita tercapai sebuah chemistry yang amat sangat erat. Konon, hubungan antara Anton dengan Tita justru lebih erat daripada antara Anton dengan istrinya; Wina, dan juga Tita dengan suaminya, Fendi. Mungkin nasib saja yang membuat akhirnya Anton yang naik menjadi kepala editing; ini juga dipengaruhi bahwa Tita menolak menduduki jabatan itu meskipun Anton sendiri lebih suka kalau Tita yang memegangnya, atas azas senioritas. Sejak itu pula, kemana Anton berada, sudah pasti Tita ada di sana, dan pasti selalu menjadi wakil Anton, tidak pernah lebih.

Tita sendiri, mungkin lebih senang seperti ini, toh juga dari sisi finansial, tidak ada masalah dengan duduk di jabatan ini. Kerjasama mereka berdua toh juga selalu solid dan bagus, tapi ketika reputasi Anton mulai naik, pertanyaan pun muncul soal Tita. Banyak yang menganggap bahwa Tita mungkin terlalu tenggelam di bawah bayang-bayang Anton. Pada akhirnya, timbul keraguan apakah sebenarnya Tita memang pantas berada di posisi second-in-command setelah Anton? Bahkan di antara teman-teman sendiri, seperti Nana, Mutia, Prita, atau Fitri; meskipun secara personal masih tetap berteman baik dan mendukung Tita, secara profesional, keraguan serupa pun muncul di antara mereka. Apalagi keempat orang ini pun prestasinya juga semakin menanjak, sehingga lalu orang pun berpendapat bahwa salah satu dari keempat orang ini mungkin lebih pantas bersanding dengan Anton daripada Tita. Lebih parah lagi, keraguan serupa pun menjalar di antara bawahan-bawahan Anton di News Today. Reporter senior semacam Uki, Andini, bahkan Erwina pun sering meragukan kapabilitas Tita.

Anton sendiri bukannya tidak paham dengan hal ini. Dari Fitri atau Lucia, dia sering sekali mendengar berita miring soal Tita, namun demi persahabatan, Anton tak pernah mengatakan apapun pada Tita. Padahal Anton sendiri merasa bahwa dia juga sering mendelegasikan tugas kepada Tita, tapi bagi khalayak, itu sepertinya belum cukup. Lagipula Tita sendiri cukup cuek dan adem-adem aja seolah tak peduli dengan angin ini. Toh, dia juga tak pernah memberi perintah langsung kepada bawahannya, sehingga bawahannya belum punya cukup alasan untuk tidak menghormatinya. Namun bagi beberapa orang, terutama Bu Sabrina, sikap Tita ini sebenarnya cukup fatal.

News Today adalah ujung tombak dari penyiaran berita di NewsTV. Di antara keempat berita utama yang dimiliki oleh NewsTV, hanya News Today lah yang selalu mendapat perhatian paling besar. Program berita utama berdurasi satu setengah jam di primetime ini adalah peringkat pertama acara berita favorit menurut sebuah lembaga survei, sebuah prestasi yang tidak main-main. Oleh karena itu, Bu Sabrina sendiri menegaskan bahwa hanya mereka yang terbaik saja yang berhak berada di News Today, program yang Anton pegang saat ini. Bercokolnya para anchor terbaik, reporter terbaik, serta kru terbaik yang mendukung acara ini membuat peran Tita di sini menjadi kabur. Misal tidak ada perlindungan dari Anton, niscaya Bu Sabrina tak akan berpikir dua kali untuk menggantikan Tita dengan orang lain yang, di matanya, lebih pantas di jabatan tersebut. Sementara untuk memindah Anton, Bu Sabrina masih segan, karena saat ini dia melihat bahwa hanya Anton saja yang pantas memegang posisi di News Today; sebuah pendapat yang pastinya diamini oleh semua orang. Ini tentu adalah sebuah bom waktu yang hanya menunggu waktu saja sebelum meledak.

“Selesai,” kata Tita memberikan berkasnya pada Anton.

Anton pun menerima berkas-berkas itu dengan senyum simpul. Tita selalu bisa mengerjakan pekerjaan lebih cepat daripada Anton, ini adalah sebuah kelebihan dan potensi. Sayangnya, hanya Anton saja yang tahu soal ini.

“Seperti biasa, cepat,” kata Anton.

“Oh ya, udah ada kabar lagi soal Luz?” tanya Tita.

“Belum, tapi aku jadi malah khawatir nih,” kata Anton.

“Hei, dia bakal baik-baik aja,” kata Tita sambil menepuk pundak Anton.

Anton mengangguk saja pada Tita. Saat itulah telepon pun berdering. Anton segera mengangkatnya, dan ternyata itu dari Uki. Anton pun segera memindahkan ke mode speaker supaya Tita pun bisa mendengarnya.

“Bos,” kata Uki,

“mau laporan nih, kayaknya ada gerakan besar deh, di Istana,”

“Jelasin,” kata Anton.

“Nggak tahu apa ya, tapi ini tumben banget mulai sejak pagi tadi koq kayaknya banyak pejabat yang dateng; sebagian sipil sebagian militer,” kata Uki,

“malahan tadi aku ngomong-ngomong ama Ledy, reporternya RTV, katanya Istana dah mulai sibuk dari sebelum subuh,”

Anton pun berpikir sejenak. Memang wajar saja kalau para pejabat datang ke Istana Merdeka. Tapi kalau menurut kata Uki, skalanya mungkin tidak main-main.

“Memangnya ada apa di Istana Merdeka?” tanya Anton.

“Nah, itu dia yang aku mau tanyain, Bos!” kata Uki,

“mustinya kan hari ini paling cuman ada rapat koordinasi doang; bukan rapat kabinet; memangnya di sana nggak ada berita yah, hari ini kenapa gitu?”

“Coba aku cek,” kata Anton,

“oh ya, di sana siapa aja?”

“Cuman ada aku ama kameramen, Yessa; kita emang nggak rencana buat ini sih,” kata Uki,

“reporter-reporter dah pada mulai ngumpul di sini, tapi Bina Graha ama kompleks Istana Merdeka dah ditutup, nggak biasanya,”

“Oke, aku bakal kirim bantuan segera,” kata Anton,

“Ki, kamu di sana aja dulu yah, soalnya nggak ada yang mengenal Istana sebaik kamu,”

“Siap, Bos!” kata Uki,

“tapi eh, gimana ya Bos, kalau ini ternyata berita buruk,”

“Moga-moga bukan lah, Ki,” kata Anton.

Pembicaraan pun berakhir. Aktivitas di Istana Merdeka betul-betul tidak biasa, apalagi kalau Bina Graha pun ditutup bagi pers. Ada apakah gerangan yang terjadi di Istana saat ini? Mengapa para pejabat banyak yang berkumpul di sana. Uki, sebagai reporter NewsTV yang paling sering meliput di Istana, tentu saja kini menjadi ujung tombak; setidaknya dia mengenal orang dan situasi di Istana.

“Bagaimana sekarang?” tanya Tita.

“Kirim Cynthia ama Gloria buat bantu Uki; pastikan masing-masing bawa tim sendiri,” kata Anton,

“kalau udah, ayo ikut aku,”

“Ke mana?” tanya Tita.

“Ruang Tempur!” kata Anton.

Ruang Tempur yang dimaksud tentu bukanlah ruangan untuk bertempur. Melainkan ini adalah sebuah ruangan dengan banyak sekali monitor yang digunakan ketika tele-video-conference dengan semua Biro NewsTV di seluruh Indonesia. Secara garis besar, kecuali ada sesuatu yang amat sangat penting, maka ruangan ini sebenarnya jarang dipakai, karena jarang pula ada event yang harus melibatkan gerak dari seluruh Biro NewsTV di seantero Indonesia.

Tita menekan sebuah tombol, dan semua monitor pun menyala. Ia sedang menghubungi semua Biro, dan dalam panggilan seperti ini, semua Biro harus merespon dengan segera. Satu per satu, akhirnya wajah dari masing-masing Kepala Biro bermunculan. Sungguh tidak biasa alarm itu dibunyikan. Total NewsTV memiliki 11 buah Biro (atau setingkatnya) di seluruh Indonesia, yaitu Biro Medan (di bawah Vita), Biro Pekanbaru (di bawah Yusuf), Biro Palembang (di bawah Hidayat), Biro Bandung (di bawah Budi), Biro Yogyakarta (di bawah Lita), Biro Semarang (di bawah Indra), Biro Surabaya (di bawah Manda), Biro Bali (di bawah Edwin), Biro Makassar (di bawah Rachel) dan Biro Papua (di bawah Lidya) serta satu lagi adalah kantor koordinator setingkat Biro di Samarinda (di bawah Ardi). 

“Selamat pagi semuanya,” kata Anton,

“aku langsung saja ke persoalan biar nggak terlalu lama; saat ini juga, di Istana Merdeka lagi ada kesibukan, nah aku nggak tahu ada apa, pastinya kompleks Istana ama Bina Graha ditutup buat reporter, termasuk juga reporter kita; bukan hal yang biasa, pastinya… Aku cuma mau tahu, di wilayah kalian ada apa-apa, nggak? Kejadian yang luar biasa?”

Semua tampak terdiam.

“Apa tidak bisa cari dari reporter di Istana?” tanya Manda.

“Kalau aja bisa, aku nggak bakal kontak kalian,” kata Anton.

“Terus apa yang kita cari?” tanya Manda.

“Belum tahu, bisa apa aja, pokoknya kira-kira cukup penting, sampai-sampai Istana kudu tutup pintu,” kata Anton.

Semua kembali terdiam.

“Di Kalimantan paling baru ada berita gembong illegal-logging kelas internasional akhirnya ketangkep di Pangkalanbun,” kata Ardi.

“Tapi kayaknya kalau cuman gitu nggak bakal masuk ke Istana deh,” kata Anton,

“minimal Dephut, kalau nggak ya sekalian ke Kejaksaan,”

Semua Biro pun lalu memberikan laporan berita-berita terpanas yang bisa mereka dapatkan pagi itu dari wilayah kerja mereka, tapi Anton sepertinya belum begitu puas dengan mendengarkan semua kemungkinan-kemungkinan event. Sebesar apapun, bagi Anton, masih terlampau kecil.

“Itu aja?” tanya Anton.

Semua pun terdiam, sepertinya kehabisan tajuk berita utama untuk diceritakan ke Anton. Hari masih pagi, bisa jadi berita yang Anton cari sebenarnya belum masuk. Anton pun memaklumi hal ini, tapi matanya terpicing kepada salah satu monitor. Ada satu orang yang belum melaporkan, yaitu Rachel dari Biro Makassar, dan Rachel ini tampak sedang berpikir tentang sesuatu.

“Rachel, ada yang mau kamu laporkan?” tanya Anton.

Rachel pun tampak tersadar dari pikirannya. Gadis mungil kelahiran Makassar asli dan berambut pendek ini menatap sejenak ke arah monitor, tepat pada Anton.

“Aku nggak tahu sih, ini masuk berita besar apa nggak, soalnya kayaknya nggak sepenting yang temen-temen Biro lain laporkan,” kata Rachel.

“Silakan dilaporkan saja,” kata Anton.

“Oke… mulai dari subuh tadi, kayaknya ada peningkatan aktivitas di Pangkalan Komando Armada Timur di Makassar,” kata Rachel,

“puluhan kapal cepat disiagakan; rata-rata yang disiagakan tu masuk kategori Kapal Cepat Torpedo, kayaknya siap diberangkatkan ke satu tujuan,”

“Lanjutkan,” kata Anton.

“Pagi tadi juga kayaknya dua pesawat intai diterbangin ke pangkalan udara lain, aku nggak tahu ke mana; di Bandara Hasanuddin juga kayaknya banyak pesawat-pesawat militer bolak-balik deh,” kata Rachel,

“pesawat pembom terbaru kita yang ditempatin di Makassar, Tu-22M Backfire, juga dah disiapin, kayak mau perang aja,”

“Eh, pesawat intai apa yah?” tanya Lita.

“NC-295 Maritime Reconaissance and Early Warning, punya TNI-AU,” kata Rachel.

“Hmm, kalau itu sih kayaknya tadi pagi dah mendarat di Lanud Adisucipto sini,” kata Lita, 

“aku belum ngecek lagi apa pesawatnya dah pergi lagi apa belum,”

“Itu bukannya pesawat pemetaan ama pengintaian laut, yah?” tanya Rachel,

“aku pernah tahu pesawat itu digunakan buat patroli di Ambalat soalnya bisa ngelacak kapal Malaysia dari jauh,”

“Omong-omong soal maritim, oh iya, entah ini berhubungan apa gak ya, tapi di Pelabuhan Ratu, emang lagi ada konsentrasi kapal gede, termasuk kapal perang baru TNI-AL, KRI Ternate,” kata Budi.

“Ada lagi?” tanya Anton.

Semua orang pun terdiam. Sepertinya sudah cukup itu saja, informasi yang cukup minim, tapi entah kenapa malah membuat Anton tertarik. Meskipun markas besar Komando Armada Timur ada di Surabaya, tapi Makassar adalah pangkalan aju, tempat dikonsentrasikannya kekuatan-kekuatan strategis Armada Timur. Mengingat posisi Makassar yang bagus sebagai pos pertama untuk pengamatan di Samudera Pasifik, maka Makassar menjadi basis komando gabungan TNI yang paling kompleks dan masif. Setidaknya ada konsentrasi gabungan kapal-kapal cepat berkategori “Patrol Ship Killer” di sini, plus kapal-kapal perang utama seperti Frigate dan Korvet. TNI Angkatan Udara juga menempatkan satu skuadron pesawat pembom-tempur Su-30MK, dua skuadron pesawat tempur taktis Su-27MKS, dan satu wing pesawat pembom strategis yang diperkuat oleh 6 buah pesawat pembom supersonik Tu-22M Backfire. Ditempatkannya pesawat Backfire di sini sudah cukup membuat negara-negara tetangga di sekitar Samudera Pasifik Tengah dan Laut Cina Selatan berteriak-teriak (meskipun jumlahnya sendiri hanya sekitar 4 buah saja), mengingat jangkauan pesawat pembom buatan Russia ini bisa amat jauh, termasuk cukup mumpuni untuk menghantam pangkalan Armada Kelima Amerika Serikat di Guam. Kehadiran pesawat ini juga cukup untuk membuat Angkatan Bersenjata Diraja Malaysia mengurangi aktivitasnya di Ambalat.

“Jadi di semua wilayah ada lonjakan kegiatan militer yah, terutama di Angkatan Laut,” kata Anton.

“Apa jangan-jangan lagi ada persiapan perang,” celetuk Manda,

“apa Malaysia mengacau sampai Ambalat lagi?”

“Kalau bener, rasanya nggak mungkin pesawatnya bisa nyasar jauh sampai Yogya,” kata Anton,

“pastinya ada yang mengacau, itu kalau kita liat eskalasi kegiatan militer, secara maritim, mungkin; ya udah, saya minta tolong ama semuanya yah, tolong di wilayah kalian kalau ada lonjakan kegiatan militer kayak tadi, segera lapor ke Jakarta; apapun ini, pastinya sebuah gerakan besar,”

Semua orang pun menyanggupinya, dan setelah itu satu-persatu semuanya mulai signed-off, kecuali Manda.

“Apa ada kabar dari KRI Antasena?” tanya Manda.

“Belum ada,” kata Anton.

“Ada reporterku di sana,” kata Manda,

“aku khawatir ama Erika,”

“Aku juga khawatir ama Istriku,” kata Anton, 

“tapi kita kudu tetep sabar sampai ada informasi selanjutnya,”


Istana Merdeka

11.10 WIB


Sebuah helikopter militer jenis Sa. 330 Puma milik TNI AL mendarat di helipad Istana Merdeka, jauh dari kerumunan wartawan yang tertahan di luar pagar. Di wilayah helipad ini kini seolah seperti tempat parkir helikopter saja, karena ada beberapa helikopter lain juga di sini, sebagian militer, sebagian varian sipil. Arfa pun langsung segera turun dari helikopter itu. Kali ini dia sudah mandi yang bersih, dan memakai pakaian yang lebih pantas untuk menghadap Presiden. Meskipun begitu, wajahnya tampak cukup murung.

Sebuah golf-cart segera saja menjemputnya, perintah langsung dari Presiden. Di dalam golf-cart itu turut pula adalah salah satu dari Juru Bicara Kepresidenan, Widya namanya.

“Apakah situasinya sangat serius, Nn. Aryanti?” tanya Widya begitu Arfa naik ke atas golf-cart.

“Sangat, tapi aku tidak bisa bilang sekarang,” kata Arfa.

“Lihat, banyak sekali wartawan yang hadir,” kata Widya sambil menunjuk ke luar pagar,

“aku tidak begitu suka harus menutup pintu kepada mereka, apalagi sebanyak ini,”

“Kumpulan ikan hiu selalu tertarik pada aktivitas ikan,” kata Arfa,

“apalagi sejak tadi Istana sudah ‘menggeliat’ tanpa bisa ditutupi,”

“Makanya itu publik pasti meminta penjelasan,” kata Widya.

Mereka melewati jajaran helikopter yang terparkir. Arfa menghitung sekaligus mendata siapa-siapa saja yang datang, karena ia memang hafal mana helikopter punya siapa.

“Semuanya sudah hadir?” tanya Arfa,

“semua anggota kabinet? Kepala staff? Dewan Penasihat?”

“Iya,” jawab Widya,

“tinggal menunggu kehadiran Anda saja,”

Kilatan blitz terlihat dari jauh, karena memang hanya segitu saja jarak yang bisa ditempuh oleh para wartawan. Istana yang biasanya selalu terbuka pada insan pers, kini hampir rapat menutup pintunya. Arfa segera masuk ke dalam Bina Graha, menuju ke ruang rapat kerja kabinet. Dia menduga, seluruh menteri di jajaran kabinet sudah datang semua, terutama adalah menteri-menteri di bidang pertahanan dan keamanan.

“Selamat pagi,” kata Arfa ketika memasuki ruangan.

Semua orang sudah siap di tempatnya, dan sepertinya hanya tinggal menunggu Arfa seorang saja. Arfa pun meletakkan laptopnya di atas meja, dan menyambungkannya ke layar proyektor sementara semua orang menunggu dengan was-was. Meskipun Arfa berusaha untuk tersenyum, siapapun tahu bahwa Arfa tidak begitu senang hati.

“Langsung saja, Nn. Aryanti, bagaimana hasil penyelidikan Anda?” tanya Presiden Chaidir.

“Saya takut hasilnya memang seperti yang telah diperkirakan, Pak Presiden,” kata Arfa sedikit tercekat.

Semua orang pun menyimak apa yang akan dikatakan oleh Arfa. Memang sebelumnya sudah ada briefing singkat mengenai apa yang terjadi, tapi keputusannya masih menunggu Arfa kembali dari penyelidikannya. Arfa pun lalu berdiri dan menerangkan hasil penyelidikannya.

“Tadi malam, sudah terjadi ledakan besar di Samudera Indonesia, tidak ada 100 km dari perbatasan perairan dengan Australia,” kata Arfa,

“dari penyelidikan lebih lanjut, bisa diambil kesimpulan bahwa sumber ledakan itu adalah sebuah bom nuklir, tepatnya nuklir taktis,”

Keheningan pun pecah begitu mendengar ada bom nuklir yang meledak di wilayah Indonesia. Sungguh, walaupun merupakan sebuah keniscayaan, tetap saja masih menjadi kemungkinan yang belum bisa dipercaya.

“Bom nuklir? Anda yakin, Nn. Aryanti??” tanya Banu Sudibyo, Menkopolhukkam.

“Siapa yang meledakkannya??” tanya Marius Tinangon, Menhan.

“Kalau memang dekat sekali dengan Australia, kenapa tidak ada statement dari pihak Australia??” tanya Ibrahim Kartaredjasa, Menlu.

“Tuan-tuan, tolong, saya akan jawab pertanyaan Anda semua satu persatu,” kata Arfa mencoba tenang.

Presiden Chaidir pun memberi isyarat agar semua memberikan kesempatan bagi Arfa untuk menjelaskan apa yang perlu ia jelaskan.

“Tolong, beberapa negara sudah memiliki kemampuan untuk meluncurkan nuklir, dan Indonesia juga saat ini tengah berupaya merintis ke arah itu; jika ada yang bertanya apakah saya yakin bahwa itu adalah ledakan nuklir, saya akan jawab: ya saya yakin, itu adalah ledakan nuklir,” kata Arfa.

Jawaban itu membuat semua orang serius untuk menyimak. Bagaimanapun, Arfa memang pakar yang ahli dalam bidang ini. Terutama sekali adalah soal persenjataan Barat, karena Arfa pernah menimba ilmu dan melakukan studi di Amerika Serikat.

“Saya tadi pagi mengikuti patroli pesawat Beriev ke Samudera Indonesia, tepatnya ke ground zero,” kata Arfa,

“saya berhasil mengidentifikasi senjata yang digunakan untuk membawa materi nuklir taktis itu; tapi, hal ini membawa sebuah kabar buruk bagi kita…”

Tidak ada kata-kata, semua nampak hening. Di dada para petinggi Angkatan Laut yang memang hadir di sana, jantung mereka pun berdebar-debar; terang saja, karena mereka sudah bisa menebak apa yang akan disampaikan oleh Arfa.

“Nuclear Anti-Submarine Rocket, atau disingkat NASROC, inilah senjata yang, kemungkinan besar digunakan untuk membawa materi nuklir; dikategorikan sebagai nuclear depth-bomb; asalnya digunakan untuk menghancurkan kapal selam rudal balistik raksasa milik Soviet, kelas Typhoon atau Delta,” kata Arfa,

“di luar Amerika Serikat, sekutu-sekutunya, terutama Australia, juga menggunakan senjata ini…”

Arfa tercekat sejenak, seolah tak kuasa untuk melanjutkan perkataannya.

“Saya juga sudah memeriksa beberapa dokumen rahasia Angkatan Laut, terutama berkaitan dengan pengujian serta rute perjalanan kapal selam kita, KRI Antasena, dan…” kata Arfa,

“…menurut perhitungan, KRI Antasena sedang berada di lokasi saat ledakan itu terjadi; jika itu betul sebuah NASROC, saya takut, senjata itu ditembakkan dengan sengaja untuk menghancurkan kapal selam kita,”

Segera setelah itu, suasana pun menjadi gempar. Tentu saja semua orang di sini mengetahui mengenai KRI Antasena. Akan tetapi, ada yang meledakkan nuklir untuk menghancurkan KRI Antasena? Yang bahkan masih dalam tahap pengujian akhir?? Para petinggi Angkatan Laut pun terdiam, dan sebagaimana pelaut sejati, berita itu betul-betul menyayat hati.

“Nn. Aryanti!” kata Laks. Danoe Salampessy,

“jadi bagaimana nasib dari kapal selam kita?”

“Nasibnya, Laksamana?” tanya Arfa.

Semua orang kembali terdiam dan menyimak.

“Kalau saya boleh jujur, Laksamana, NASROC adalah senjata anti kapal selam yang amat efektif; bahkan tanpa perkenaan langsung pun, gelombang kejut nuklirnya sanggup meluluhlantakkan sebuah kapal selam pemburu,” kata Arfa,

“baru tadi sebelum saya ke sini, saya juga mendapat laporan dari kapal KRI Harimau bahwa mereka menemukan serpihan-serpihan kapal yang berhasil diidentifikasi sebagai milik KRI Antasena; maaf, Laksamana, tapi saya kira kapal selam itu mungkin sudah hancur sekarang,”

Jawaban itu tentu saja makin menusuk hati semua orang yang ada di sana.

“Saya tidak mau memberi harapan, tapi KRI Harimau masih akan terus melakukan patroli di sekitar perairan itu hingga 24 jam ke depan; meskipun saya ragu mereka bisa menemukan apapun,” kata Arfa,

“pergumulan di laut tidak pernah berbekas, apabila KRI Antasena benar hancur, maka sisa-sisanya mungkin sudah ada di dasar laut yang tak mungkin kita ambil lagi,”

Bahkan Arfa pun tak berani melanjutkan perkataannya, karena kabar ini adalah kabar yang sangat pahit untuk didengar.

“Apakah Australia yang melakukannya?” tanya Ibrahim Kartaredjasa.

“Saya tidak mau berspekulasi, Pak Menteri, tapi apabila Australia tidak mengeluarkan statement apapun, saya kira mereka sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Arfa,

“mereka memiliki sistem sensor yang lebih canggih daripada Indonesia, sehingga apabila kita tahu, mereka pasti juga tahu; soal apakah ini ulah dari Australia atau bukan, saya tidak bisa memastikan,”

“Tidak bisakah kita mengirimkan nota ke Australia untuk meminta penjelasan?” tanya Presiden.

“Australia belum mengeluarkan statement apapun,” kata Ibrahim Kartaredjasa,

“mereka pasti akan menyangkal keterlibatan mereka dalam hal ini,”

“Bagaimana soal pengamanan lanjutan?” tanya Presiden.

“Saya sudah memerintahkan 4 kapal rudal, 2 korvet, dan 1 kapal torpedo untuk dipindahkan dari Makassar ke pangkalan di Cilacap,” kata Laks. Danoe Salampessy,

“masing-masing kapal rudal KRI Mandau, KRI Kujang, KRI Salawaku, dan KRI Kelewang; korvet KRI I Gusti Ketut Jelantik dan KRI Keumalahayati; serta kapal torpedo KRI Musang; mereka akan bergabung dengan KRI Harimau, dan bertugas untuk mengamankan hingga perimeter ground zero, kalau-kalau pihak Australia atau siapa pun berupaya masuk kembali; mereka pasti akan berupaya untuk mencari bangkai kapal selam itu,”

“Bagaimana peluang kita untuk mendapatkan kembali bangkai kapalnya?” tanya Presiden.

“Sulit, Pak Presiden; radar bawah air dari KRI Harimau atau KRI Ternate mungkin bisa memetakan lokasi reruntuhan, tapi untuk mengambil dari kedalaman itu, kita tak punya sarananya,” kata Arfa,

“wahana penyelamatan laut dalam terbaru kita baru bisa menyelam hingga kedalaman 240 meter saja, tidak lebih; kita nanti terpaksa harus menyewa dari Amerika Serikat, Norwegia, atau Russia; yang mana pastinya tidak bisa diselesaikan dengan cepat,”

Laksamana Madya Sihombing pun tampak tak kuasa menahan diamnya.

“Nn. Aryanti, ada orang sipil di dalam kapal selam itu, Anda sudah tahu, kan?” tanya Laksdya. Sihombing.

“Ya, saya tahu,” jawab Arfa gontai.

“Kita harus segera memberitahukan kepada keluarga korban, karena mereka berhak untuk tahu,” kata Presiden,

“sementara, jangan ada pengumuman resmi sampai seluruh keluarga korban selesai kita beritahu secara langsung,”

“Kami sudah siapkan surat kematian untuk seluruh keluarga para awak di kapal selam, dan sebentar lagi perwakilan kami akan memberikannya,” kata Laksdya. Sihombing,

“dan soal korban sipil, saya mengenal salah satu reporter dari NewsTV yang menjadi korban di sana; suaminya kawan saya, kalau boleh saya mohon izin untuk memberitahukan hal ini langsung kepada dia,”

“Silakan saja, Laksamana,” kata Presiden,

“jika memang Anda mengenal keluarga korban, mungkin memang lebih baik apabila Anda sendiri yang memberitahukannya secara langsung,"

Laksdya. Sihombing pun menangguk dengan enggan. Tangannya dimasukkan ke dalam saku, dan memegang sebuah benda kecil berbentuk lingkaran. Itu adalah cincin kimpoi milik Lucia, dan kini, sesuai amanat Lucia kepadanya, dia harus memberikan cincin itu kembali kepada Anton, karena inilah satu-satunya kenangan Lucia pada suaminya.


Kantor NewsTV

11.48 WIB


Anton terdiam di balik meja kerjanya. Sebagian berkas telah ia selesaikan, tapi entah kenapa ia merasa amat sangat khawatir. Berita yang Nana berikan tadi pagi betul-betul menghantuinya, ditambah gerakan misterius di Istana yang belum diketahui apa sebabnya. Ia khawatir bahwa semua itu ada hubungannya dengan KRI Antasena, dan saat ini Lucia ada di sana. Anton pun membuka lacinya, dan melihat sebuah benda warna perak yang ada di sana.

Itu adalah sebuah kalung salib yang terbuat dari perak dan bertahtakan intan dan sungguh indah. Kalung ini adalah milik Lucia, tapi kini disimpan oleh Anton (sebelum menikah dengan Anton, Lucia memeluk Nasrani). Anton memegang kalung salib itu dan menggegamnya erat-erat. Dengan begitu, seolah-olah dia bisa merasakan istrinya tengah dekat dengannya. Setelah menikah dengan Anton, Lucia memang tidak lagi memakai kalung itu, tapi Anton melarang Lucia untuk membuangnya, karena bagaimanapun, Anton tahu bahwa kalung itu adalah peninggalan dari keluarga Lucia, yang pastinya tetap harus diperlakukan dengan hormat.

Tita masuk dan melihat Anton tengah menggenggam kalung salib itu. Tita sendiri paham apa artinya, Anton tengah khawatir dengan Lucia. Setelah Lucia pergi, Anton memang sering terpergok tengah memegang kalung salib milik Lucia itu.

“Aku yakin dia pasti baik-baik aja,” kata Tita.

“Moga-moga aja bener,” kata Anton.

“Oh ya, biar nggak kepikiran terus, coba tebak deh, siapa yang datang,” kata Tita.

“Siapa? Prita, yah?” tanya Anton.

“Yak betul!” kata Prita yang tiba-tiba saja sudah muncul dari belakang Tita.

Anton pun tersenyum lebar, lalu segera bangkit dari tempat duduknya untuk menyambut Prita dengan sebuah pelukan hangat. Prita pun tak lupa memberikan ciuman di pipi kiri dan kanan Anton. Anton memang memiliki hubungan dekat dengan beberapa wanita, salah satunya adalah Prita ini; dan mereka berdua memang tak canggung untuk berpelukan, bergandengan, atau cipika-cipiki di depan umum. Anton malah pernah pula berciuman dengan Prita gara-gara pada saat natal mereka berada di bawah mistletoe. Toh, baik Wina maupun Lucia tidak pernah cemburu, karena memang wanita-wanita ini masih dalam lingkup lingkaran dalam Anton.

“Nggak dikasih cium bibir, nih?” goda Prita.

“Males ah, nggak ada mistletoe,” kata Anton,

“oh ya, kamu kapan datang, Prit? Dari mana sih, aku lupa,”

“Dari Wamena,” kata Prita,

“kan aku udah bilang buat liputan ‘Khatulistiwa’, ini aja aku baru tadi pagi datang langsung ke sini,”

“Lho, bukannya kalau habis pulang gitu dapet jatah libur, ya?” tanya Anton.q

“Gimana, sih? Kan aku kangen ama kamu!” kata Prita sambil tertawa.

Anton hanya tertawa kecil saja sambil ia lalu mengusap kepala Prita, hal yang memang biasa ia lakukan setiap kali bertemu. Prita pun lalu mengeluarkan sebuah dompet CD yang isinya beberapa buah cakram optik itu.

“Nih, dokumentasi selama di Wamena, khusus buat kamu,” kata Prita.

“Makasih, kudu bayar berapa, nih?” tanya Anton.

“Belum aku itung, ntar deh, gampang,” kata Prita.

“Omong-omong, Danny nggak ikut pulang?” tanya Anton lagi.

“Danny dia langsung ke Merauke,” kata Prita,

“dua minggu lagi baru balik,”

“Wah, gila, udah mau nikah masih pake acara pisah-pisahan juga,” kata Anton.

“Yee… kan berpisah untuk bertemu lagi… Hahaha…” gelak Prita,

“eh, aku laper nih, dah jam makan siang, kan? Ma’em yuk,”

Anton mengangguk saja, dan Prita segera menggandeng Anton keluar dari ruangan itu, meninggalkan Tita (seperti biasa) dengan pekerjaannya. Meskipun kerja bersama, Anton danTita nyaris tak pernah makan siang bersama di kafe NewsTV, kecuali kalau ada sesuatu hal. Untuk makan siang sendiri, Anton hampir pasti selalu ditemani oleh entah Prita, atau Fitri, atau Nana, atau Mutia, atau reporter-reporter bawahannya.

“Douw! Udah kangen makan makanan di sini!” kata Prita selepas menyendok makanan pertamanya.

Anton hanya tersenyum saja melihat tingkah laku Prita. Prita memang bukan orang yang terlalu mementingkan bersikap jaim. Ia lebih suka berlaku seperti apa adanya, apalagi di hadapan Anton.

“Emang dah berapa lama sih, kamu pergi? Baru juga sebulan, kan?” tanya Anton.

“Sebulan juga lama kali,” kata Prita.

Angin pun menghembus kencang, karena mereka memang makan di bagian outdoor dari kafetaria, hanya dilindungi oleh meja berpayung. Ini adalah spot favorit Anton, karena Anton memang menyukai duduk dan makan di bawah udara bebas, setelah seharian terkurung di dalam kantor, senyaman apapun.

“Tambah lagi aja, Non,” kata Anton,

“the treat is on me,”

“Eh, jangan!” cegah Prita.

“Dah, nggak papa,” kata Anton, 

“itung-itung balas budi dulu kamu sering nraktir aku,”

Prita pun tersenyum saja. Pada awal-awal Anton bekerja, memang Prita sering sekali mentraktir Anton untuk makan. Siapa yang mengira sekarang kedudukan Anton bisa lebih tinggi dari Prita.

“Makasih,” kata Prita.

Anton mengangguk saja. Saat itulah sebuah suara bergemuruh terdengar keras, dan ketika Anton melihat ke atas, tampaklah sebuah helikopter Bell-412 terbang semakin mendekat dan memutari gedung NewsTV. Setelah NewsTV membeli helikopter, bunyi deru mesin terbang itu kini menjadi pemandangan umum bagi mereka yang makan di atas balkon, tapi NewsTV memiliki helikopter dari jenis EC-120 Colibri, bukan Bell-412. Helikopter itu pun perlahan-lahan menuju ke atas helipad yang terletak di atap gedung.

“Siapa, yah?” tanya Anton.

“Kayaknya ada decal Angkatan Laut, deh,” kata Prita sambil melihat ke atas, berpacu dengan silaunya matahari.

“Angkatan Laut??” tanya Anton, yang dengan tiba-tiba jantungnya berdegup kencang sekali.

Anton pun berdiri mematung ketika helikopter itu mulai merapat dan akhirnya menghilang dibalik atap gedung, pastinya sekarang helikopter itu sudah mendarat. Nafsu makan Anton mendadak hilang sama sekali, pun Prita juga menghentikan makannya. Wajah Anton terlihat tegang, dan Prita mengetahuinya.

“Ada apa?” tanya Prita.

“Nggak tahu…” kata Anton,

“aku harus ke sana… jangan-jangan ada berita buruk soal Lucia!”

Anton langsung saja berlari masuk kembali ke arah gedung. Prita pun, masih dengan mulut penuh, terpaksa juga meninggalkan makan siangnya dan berlari menyusul Anton. Firasat Prita mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk, dan Prita pun takut, karena biasanya firasatnya tak pernah salah.


Lantai 4

12.34 WIB


Anton dan Prita pun langsung tiba saja di lantai 4. Mereka berusaha untuk secepatnya menemui siapapun dari Angkatan Laut itu yang datang. Apabila ini memang benar adalah sebuah berita buruk, pastinya akan disampaikan terlebih dahulu pada Bu Sabrina. Semakin lama, Anton semakin khawatir dan detak jantungnya semakin terpacu cepat. Mereka pun akhirnya setengah berlari di dalam koridor ruangan gedung NewsTV yang berliku-liku, menuju ke ruangan Bu Sabrina.

Akan tetapi, sebelum mereka sempat mendatangi ruangan Bu Sabrina, seseorang mencegat mereka. Itu adalah Pak David, mantan produser yang kini menjadi Wapemred, second-in-command di bawah Bu Sabrina.

“Berhenti di situ,” kata Pak David dengan perlahan tapi berwibawa.

Prita dan Anton pun segera berhenti. Pak David jelas ada di situ untuk sesuatu hal.

“Apa orang dari Angkatan Laut itu ada di ruangan Bu Sabrina?” tanya Anton.

“Iya, tapi kalian tidak boleh ke sana dulu,” kata Pak David.

“Aku mau tahu kabar istriku!” kata Anton yang langsung mencoba merangsek.

Dengan sebuah cengkeraman yang kuat, Pak David pun memegang tangan Anton, mencegahnya melanjutkan langkah.

“Lepasin, Pak David!” teriak Anton.

“Ada waktunya, Anton!” kata Pak David,

“ada waktunya, tapi bukan sekarang!”

Anton pun lalu tenang dan melihat ke arah Pak David. Dari sini Pak David bisa membaca mimik kekhawatiran yang amat jelas tercetak di sinar mata Anton.

“Apa terjadi sesuatu?” tanya Anton.

“Aku belum tahu,” kata Pak David,

“sebaiknya kalian tunggu di sini, sampai Bu Sabrina mengizinkan kalian untuk masuk,”

Prita pun turut menenangkan Anton, dan membimbing Anton untuk duduk di sebuah bangku di dekat mereka. Jelas sekali Anton amat gelisah. Beberapa kali Anton bangkit dari tempat duduknya, tapi Prita dan Pak David selalu bisa menenangkannya. Waktu pun terus berlalu, dan bagi Anton yang gelisah, detik-detik jam itu terdengar bagi dentuman meriam.

Akhirnya, setelah agak lama, Bu Sabrina pun keluar dari ruangan. Anton juga Prita berdiri melihatnya. Aneh sekali, wajah Bu Sabrina tampak seperti merasakan sebuah gurat kesedihan, walaupun ia masih berusaha untuk tampil anggun. Bu Sabrina lalu berjalan mendekati Anton dan Prita.

“Tuan Anton,” kata Bu Sabrina,

“bagus, jadi Anda sudah ada di sini,”

“Ada apa?” tanya Anton gelisah.

“Silakan Anda memakai ruanganku,” kata Bu Sabrina,

“bukan aku yang akan menjelaskan apa yang terjadi,”

“Ada apa, Bu Sabrina?” tanya Anton lagi dengan nada dalam.

“Masuklah ke ruanganku,” kata Bu Sabrina,

“aku permisi,”

Bu Sabrina pun lalu meninggalkan mereka tanpa mengatakan apapun lagi. Bahkan Pak David pun tidak tahu apa yang terjadi. Anton menatap ke pintu ruangan yang masih terbuka itu, ia tak dapat melihat siapa yang di dalam. Bersama dengan Prita, akhirnya Anton memberanikan diri untuk memasuki ruangan.

Laksdya. Sihombing pun segera berdiri ketika Anton dan Prita masuk. Tampak ada sebuah keraguan yang kentara ketika Laksdya. Sihombing menyapa mereka berdua, bahkan Anton pun merasakan tangan Laksdya. Sihombing gemetaran ketika mereka bersalaman.

“Tuan Anton…” kata Laksdya Sihombing.

“Laksamana, ada apa?” tanya Anton.

“Begini, Tuan Anton…” kata Laksdya Sihombing, 

“aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya, karena memang tidak ada cara yang mudah untuk menyampaikan ini…”

“Ada apa?” tanya Anton semakin khawatir.

Laksdya Sihombing berdehem beberapa kali, gugup. Maka Anton pun semakin senewen. Prita bahkan bisa merasakan suasana kegugupan yang menyelimuti ruangan itu, oleh karena itu, tanpa terlihat oleh Laksdya Sihombing, Prita pun menelusupkan tangannya ke tangan Anton dan menggenggamnya erat. Anton pun balas meremas tangan Prita itu, tapi bagaimanapun, tangan Anton tetap sedikit gemetaran.

“Gimana keadaan istriku?” tanya Anton lagi.

“Tuan Anton… kami mendapatkan kabar buruk dari KRI Antasena; telah terjadi ledakan besar di Samudera Indonesia, di mana pada saat itu KRI Antasena tengah berada di ground zero,” kata Laksdya Sihombing, yang lalu tercekat sejenak.

“Lalu istriku?” tanya Anton semakin gelisah, genggamannya ke tangan Prita pun semakin erat.

“Kami takut… KRI Antasena hancur akibat ledakan itu, dan tenggelam beserta seluruh awaknya ke dalam Samudera Indonesia, ke dalam kedalaman yang tidak bisa kita jangkau,” kata Laksdya Sihombing,

“termasuk juga istri Anda, Lucia,”

Prita terkejut mendengar berita itu, apalagi Anton. Ia serasa bagaikan disambar petir dan jantungnya seolah berhenti sejenak. Pandangannya kosong untuk beberapa saat, karena memang tidak ada seorang suami pun yang bisa bertahan ketika mendengar berita semacam itu; bahwa istri tercintanya meninggal, dan bukan hanya mati melainkan juga kemungkinan jasadnya tidak bisa ditemukan.

“Anton…” panggil Prita lirih sambil menatap nanar ke arah Anton.

Anton tidak menjawab, pandangannya kosong ke depan. Sesaat kemudian, lututnya serasa amat lemas dan Anton segera jatuh bersimpuh. Prita dengan susah payah mencoba menahan, tapi akhirnya ikut turun juga bersama Anton.

“Anton!!” teriak Prita.

Anton pun akhirnya mulai tersadar dari kekosongannya…

“LUCIA!!!!!!!” teriak Anton sekuat tenaga.

Prita segera memeluk Anton untuk menenangkannya, dan Anton pun menangis meraung sejadi-jadinya. Laksdya Sihombing pun tak kuasa untuk menahan air mata pula. Jeritan tangis seorang pria bisa jadi adalah salah satu jeritan yang paling menyayat hati. Anton mencengkeram erat Prita dan menumpahkan airmata sejadi-jadinya di atas bahu Prita. Prita sendiri bingung hendak berkata apa, karena seperti halnya Anton, ia pun tidak bisa menerima berita ini. Lucia adalah juga temannya, jadi ini jelas hal yang amat memilukan.

Laksdya Sihombing lalu menghapus airmatanya, lalu ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya, cincin kimpoi dari Lucia. Ia pun lalu meletakkan cincin itu di dalam genggaman Anton.

“Wasiat terakhir dari dia…” kata Laksdya Sihombing,

“supaya kalau ada apa-apa…ini harus aku serahkan ke Anda…”

“TIDAAAAK!!!!!” jerit Anton dengan nada yang memilukan, sambil menggenggam cincin itu erat-erat. 


Somewhere in Bandung

12.48 WIB


Sebuah Honda Jazz silver metalik berhenti di depan sebuah rumah di bagian pinggiran kota Bandung. Pemukiman itu tampak lengang, serta rumah-rumahnya tampak seperti sudah berumur puluhan tahun, bergaya Belanda yang klasik dan (boleh dibilang) angker. Suasananya sepi, hampir-hampir tak ada orang yang berlalu-lalang di dalam perumahan itu, padahal hari tengah dalam posisi puncak. Erwina dan Mariska pun melihat ke arah rumah dengan was-was.

“Kamu yakin ini alamat yang benar?” tanya Mariska.

“Yakin,” kata Erwina.

Sekali lagi Erwina melihat pesan di dalam blackberry-nya, dan ternyata alamat rumah itu memang benar. Namun dari luar, nyaris tidak bisa dipastikan apakah rumah itu masih ada penghuninya atau tidak, karena memang sepi sekali.

“Perasaanku nggak enak, We,” kata Mariska dengan nada penuh kekhawatiran.

Erwina sekali lagi mengecek blackberry-nya, tapi tetap tak ada respons lanjutan dari jaco123. Mau tak mau, informasi terakhir ini harus diterima sebagai sebuah kebenaran. Tapi entahlah, bahkan kini reporter seberani Erwina pun merasa sedikit ragu.

“Aku samperin aja deh,” kata Erwina.

“Eh, jangan!” cegah Mariska,

“nggak takut apa ntar kenapa-kenapa? Mana perumahan sepi banget kayak gini, lagi!”

“Udah deh, Ka,” kata Erwina,

“nggak papa koq, tenang aja,”

Sia-sia saja Mariska mencegah, karena apabila Erwina sudah punya mau, maka siapa pun tak bisa menghalanginya. Mariska lalu membuka kunci pintu sentral, dan Erwina pun turun sambil membawa ransel keberuntungannya yang penuh dengan barang-barang peliputan. Sebelum melangkah pergi, Erwina bercakap-cakap sejenak dengan Mariska.

“Hati-hati,” kata Mariska,

“kalau aja aku hari ini nggak kudu segera masuk kantor, aku pasti nemenin kamu,”

“Udah, nggak papa,” kata Erwina,

“eh, tapi tolong jangan kasih tahu siapa-siapa dulu yah, soal aku di sini,”

“Terus kalau kamu ada kenapa-kenapa, gimana?” tanya Mariska.

“Resiko kerjaan, Ka,” kata Erwina,

“kalau dalam 24 jam aku nggak kontak kamu, baru kamu tolong hubungin Pak Anton di Jakarta,”

“Ya, aku ngerti,” kata Mariska,

“ati-ati yah…”

Erwina tersenyum, lalu ia segera menyeberang jalan menuju ke rumah. Mariska masih melihat Erwina mengetuk pintu rumah itu ketika akhirnya ia sendiri harus pergi. Dalam hati tentu saja Mariska berat untuk meninggalkan temannya ini seorang diri, tapi apa boleh buat?

Sementara itu, setelah ditunggu beberapa kali ketukan, tetap saja tak ada yang membuka pintu. Erwina pun sampai gatal harus berdiri menunggu di sini.

“Halo?? Ada orang di rumah??” teriak Erwina.

Tetap tidak ada jawaban. Jendela pun tertutup oleh gordin, sehingga Erwina tidak bisa melihat ke dalam rumah. Apa mungkin tidak ada orang di dalam rumah, ya? Apa alamat yang diberikan oleh jaco123 salah?? Iseng-iseng, Erwina pun memutar kenop pintu dan…terbuka! Rupanya pintu tidak terkunci. Erwina kembali ragu, ingin rasanya ia berlari meninggalkan tempat ini, tapi rupanya naluri reporternya malah menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah.

“Apa ada orang di rumah??” tanya Erwina lagi segera setelah masuk.

Erwina melangkah perlahan untuk memasuki rumah itu lebih dalam lagi. Suasana interiornya betul-betul klasik khas rumah tua, juga cukup sunyi. Koridor-koridor pun terlihat gelap meskipun hari sebenarnya masih siang, dan semakin Erwina masuk ke dalam, suasana semakin gelap dan sedikit membuat bulu kuduk berdiri. Erwina merinding, namun dari tanda-tanda yang ia lihat, tak adanya debu, perabotan yang cukup bersih, menunjukkan bahwa rumah ini masih dihuni dan dirawat dengan baik. Tapi ke mana penghuninya?

Ketika Erwina sampai ke ruangan utama, ruangan paling besar dari rumah ini, keadaannya cukup berantakan, karena barang-barang berserakan di sana-sini. Erwina tertegun. Butuh sebuah gempa bumi berskala sedang untuk bisa membuat kekacauan seperti ini di sini, atau kalau bukan, sepertinya telah terjadi suatu perkelahian sengit di sini. Erwina lalu mengeluarkan kamera digitalnya dan memotret keadaan di sana.

Ruangan itu gelap karena semua jendela ditutup dengan korden yang tebal. Lampu tidak menyala, sepertinya terjadi gangguan listrik di sini. Hanya bunyi detik jam besar saja yang mengisi keheningan suasana. Erwina menyelidik lebih jauh, dan ia terkejut menemukan sesuatu di bagian tengah ruangan. Bukan, bukan barang, itu ternyata manusia, tergeletak dalam posisi tertelungkup, dan darah terlihat mengalir di lantai. Apa dia mati?? Erwina hampir-hampir saja berteriak, dan bau anyir darah mulai tercium kuat.

Erwina segera menghampiri dan memeriksa tubuh itu. Pengalaman di beberapa daerah konflik membuat Erwina sudah tidak canggung lagi kalau harus berhadapan dengan mayat, atau setidaknya itu yang dikiranya. Dalam hati, Erwina berpendapat bahwa ia pernah melihat mayat-mayat yang keadaannya lebih mengenaskan daripada cuma ini. Tapi setelah diperiksa, ternyata… orang itu masih hidup! Buru-buru Erwina segera membalikkan orang ini.

“Dr? Dr. Anatoly Sedorenkov??” pekik Erwina ketika akhirnya bisa melihat wajah orang itu.

Dr. Sedorenkov pun dengan susah payah berupaya membuka matanya, tapi ia sudah amat lemah. Darah itu rupanya berasal dari luka tembak di tubuh Dr. Sedorenkov. Ini pasti bukan kecelakaan, ada yang mencoba membunuh Dr. Sedorenkov!

“Doktor! Bertahanlah! Aku akan panggil bantuan!” kata Erwina.

“Zh..dat'…” kata Dr. Sedorenkov lemah.

“Ya?” tanya Erwina.

Erwina kembali mendekati Dr. Sedorenkov. Bajunya kini sudah kotor dengan darah dari Dr. Sedorenkov, juga darah itu belepotan di tangan dan lengan Erwina. Begitu mendekat. Dr. Sedorenkov, dengan sisa kekuatannya, menarik Erwina sehingga kepalanya saling berdekatan. Lalu dengan masih menahan Erwina, Dr. Sedorenkov pun membisikkan sesuatu di telinga Erwina. Erwina tentu saja kaget, tapi apapun itu pastinya penting, karena Dr. Sedorenkov mengulanginya 3 kali. Segera setelah itu, Dr. Sedorenkov pingsan.

“Doktor!! Bangun!” kata Erwina sambil sedikit mengguncangkan tubuh Dr. Sedorenkov,

“yang tadi anda bilang itu apa??”

Tapi Dr. Sedorenkov tidak menjawab, dan meskipun ia hanya pingsan, nafas dan detak jantungnya sudah mulai melemah. Erwina pun makin panik. Dr. Sedorenkov tidak bisa dibiarkan mati di sini. Erwina pun berusaha menolong Dr. Sedorenkov… akan tetapi…

“GUBRAK!!!!”

Pintu terdengar didobrak, dan sebelum Erwina sempat bereaksi apa-apa, tahu-tahu saja beberapa orang berbaju hitam masuk sambil mengacungkan senapan otomatis jenis Uzi. Mereka menggunakan topeng kain warna hitam pula, sehingga Erwina tidak bisa melihat dengan jelas siapa saja. Salah seorang dari mereka segera saja menyeret Erwina menjauh dari Dr. Sedorenkov, lalu temannya segera memeriksa keadaan Dr. Sedorenkov.

Erwina pun sontak ketakutan, karena moncong-moncong Uzi sudah diarahkan ke arahnya. Selama ini belum pernah ia harus menghadapi senjata api dengan jarak sedekat dan sejelas ini. Paling-paling biasa menghadapi senjata-senjata airsoft, tapi ini bukan senapan mainan! Sebuah tembakan peluru 9mm dari Uzi sudah cukup untuk merenggut nyawanya. Erwina pun segera bersimpuh dengan kedua tangannya diletakkan di belakang kepala.

Mereka bekerja dengan isyarat tangan, tidak ada yang berbicara. Erwina mencoba menjelaskan bahwa ia bukan yang melakukan penembakan pada Dr. Sedorenkov, tapi mendadak sebuah cengkeraman kuat membuatnya berdiri, dan tanpa ba-bi-bu, ia dihempaskan dan dipepet di dinding. Erwina berteriak kesakitan.

Kedua kaki Erwina pun dikangkangkan lebar, lalu orang itu segera menggeledah Erwina. Erwina sendiri tidak merasa nyaman, apalagi orang itu dengan kasar memegang dan meremas bagian-bagian tubuhnya, termasuk payudara, pantat, juga bagian kemaluannya, meskipun tidak melepas baju. Erwina berteriak-teriak dan menangis ketika bagian-bagian sensitif itu diremas, tapi orang itu tidak peduli dan malah mempererat tekanannya atas Erwina. Pelecehan seksual yang parah bagi Erwina, tapi rabaan orang itu terlalu kasar untuk bisa dikatakan sebagai pelecehan. Tetap tidak ada yang berbicara. Semua dilakukan dalam diam. Tiba-tiba Erwina merasakan sebuah hantaman di belakang kepala, dan semuanya menjadi gelap.

Location Unknown

Time Unknown


Erwina tersadar ketika tahu-tahu ia terjerembab di atas lantai keramik yang dingin. Erwina mengaduh kesakitan, dan ia mencoba mengusir rasa sakit di kepala sambil melihat di mana sekarang ia berada. Pastinya ini bukan rumah yang tadi dia masuki, tapi Erwina tak ingat apakah ia pernah dipindahkan. Memang masih seperti salah satu bagian rumah, tapi Erwina tidak yakin ini di mana. Lima orang berpakaian serba hitam dan bersenjata Uzi sudah mengitarinya.

“Siapa kalian??” tanya Erwina, 

“kalian mau apa??”

Semua hanya diam saja tidak ada yang bersuara, hanya Uzi yang mengarah ke Erwina.

“Bagaimana keadaan Dr. Sedorenkov??” tanya Erwina,

“apa dia tidak apa-apa??”

Tetap tak ada jawaban, bahkan suara nafas mereka pun tak terdengar.

“Jawab aku!” jerit Erwina dengan nada keputusasaan.

Erwina, untuk pertama kali dalam hidupnya, akhirnya benar-benar merasakan ketakutan. Ruangan ini juga gelap, sehingga ia hanya bisa samar-samar saja mengenalinya, hanya sebuah lampu redup saja yang menyala di pusat ruangan. Dua orang lagi, masih berpakaian serba hitam langsung memasuki ruangan, bedanya, salah satu di antara mereka tidak memegang Uzi. Tapi apabila melihat dari gayanya, sepertinya orang ini justru adalah pemimpin dari anggota pasukan hitam ini.

Sang pemimpin pun melihat ke arah Erwina dari balik visor inframerahnya, yang oleh Erwina hanya terlihat seperti dua buah bola bersinar merah. Erwina berusaha menantangnya, tapi tidak ada di antara orang-orang ini yang berbicara.

“Aku tidak membunuh Dr. Sedorenkov!!” kata Erwina.

Tidak ada jawaban dari orang-orang ini, mereka hanya melihat Erwina saja, dan pancaran sinar dari visor masing-masing betul-betul membuat Erwina senewen. Tanpa malu-malu, Erwina pun menitikkan aimatanya, airmata ketakutan. Mereka masih melihat Erwina, dan terlihat seperti robot yang tanpa ekspresi.

Sang pemimpin akhirnya memberi isyarat tangan, dan semua orang pun lalu menurunkan todongan Uzi mereka. Tadinya Erwina merasa lega, karena ia mengira penjelasannya berhasil meyakinkan mereka, tapi tiba-tiba semua orang menahannya berbaring di atas lantai dan memeganginya hingga ia tak dapat bergerak.

“KALIAN MAU APA!!!??” bentak Erwina.

Tetap tak ada jawaban, dan ketakutan terbesar Erwina pun terjadi. Orang-orang ini dengan kasar segera menanggalkan pakaian Erwina, dari baju, celana, hingga pakaian dalam. Erwina berusaha berontak untuk melawan, tapi sia-sia, karena kelima orang yang menahannya betul-betul kuat. Dalam sekejap saja, ia pun langsung sudah telanjang bulat.

Erwina berteriak dan menangis-nangis. Apakah mereka hendak menggagahinya di sini? Di tempat yang tidak diketahui di mana? Kaki Erwina lalu ditekuk ke atas sehingga pahanya menempel di dada Erwina; kemudian kedua kaki itu dibuka lebar sehingga kemaluannya pun terbuka lebar. Erwina tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan perlakuan ini, ia tak cukup kuat. Sepertinya inilah saatnya kehormatannya akan direnggut. Walaupun sering bercumbu panas dengan Gilang, tapi dalam kehidupan intimnya, belum pernah sekali-sekali keperawanan Erwina jebol.

Ia berusaha memberontak sebisanya, menggoyang-goyangkan pinggul dan pantatnya. Tapi sebuah tangan lagi menahan gerakan itu, dan amat kuat sehingga efektif Erwina tidak bisa bergerak lagi; itu adalah tangan Sang Pemimpin. Meskipun tak bisa melihat wajahnya, tapi dari cara Pemimpin itu melihat Erwina, sepertinya ia menginginkannya. Erwina hanya bisa menangis saja sebisa-bisanya, meratapi nasibnya. Andai saja pagi ini ia tidak meninggalkan Gilang…

Ia tertahan sejenak, dan merasakan sebuah tangan dingin mengusap kemaluannya. Lalu dirasakan sesuatu yang dingin dan basah, seperti sebuah cairan yang diusapkan. Erwina pun mulai menangis menghadapi perlakuan itu. Tangisnya semakin menjadi-jadi ketika ia mengintip dan melihat bahwa tangan Sang Pemimpin lah yang memegang bibir kemaluannya dan kali ini ia membukanya lebar-lebar… Sudah tak ada lagi halangan sekarang, dan benteng terakhir Erwina ini akhirnya akan jebol juga.

“Tahan!!” kata Sang Pemimpin, kata pertama yang terdengar dari gerombolan ini.

Erwina tertegun sejenak. Tapi tiba-tiba sebuah benda dengan cepat segera menghujam kemaluannya dan Erwina pun berteriak dengan sebuah teriakan yang pilu!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...