Rabu, 30 September 2020

"LAUT BIRU" CHAPTER XI

The Farewell

CHAPTER XI

The Farewell



Bina Graha
11.26 WIB
H minus 48:34:00


Arfa menemui Presiden Chaidir yang tampak agak kusut masai di meja kerjanya. Presiden tampaknya benar-benar memikirkan mengenai KRI Antasena, dan pekerjaannya pun kini terbengkalai, hanya dilaksanakan oleh para menteri. Krisis ini jelas lebih berat daripada yang pernah ia tangani sebelumnya.

“Katakan ada berita baik,” kata Presiden Chaidir.

“Mereka telah berangkat,” kata Arfa,

“estimasi tiba di Jakarta sekitar 10 jam lagi,”

“Mungkinkah?” tanya Presiden.

“Penerbangan normal Jakarta-Moskwa bisa memakan waktu sekitar 18 jam,” kata Arfa,

“dengan memakai pembom supersonik dan jalur khusus, penghematan 8 jam juga sudah amat bagus,”

“Waktu yang kita punya?” tanya Presiden.

“Kita berusaha secepatnya, Presiden,” kata Arfa.

“Apa cukup?” tanya Presiden.

Arfa tidak menjawab, hanya menundukkan kepala saja. Presiden Chaidir pun lalu memberi isyarat kepada Arfa supaya meninggalkan ruangan. Tampak sekali Presiden amat tertekan dengan keadaan ini, melebihi keadaan paling parah yang pernah Arfa lihat.

Arfa lalu keluar dari ruangan, dan menuju ke ruangan yang digunakan untuk merokok dan minum kopi. Marsekal Kambu ada di sana, dan tanpa sungkan, Arfa pun meminta sebatang rokok dan menyalakannya. Terlihat sedikit rileks Arfa setelah hisapan pertama. Marsekal Kambu hanya melihat saja. Arfa amat jarang sekali merokok, dan apabila memang ia melakukannya saat ini, pasti keadaannya sudah amat gawat.

“Segawat itukah?” tanya Marsekal Kambu.

“Sampai di mana komunikasi dengan pihak Russia?” tanya Arfa.

“Barang yang kita butuhkan sudah diantarkan lewat pesawat pembom supersonik, Tu-160, kita sudah meminta jalan kepada negara-negara sahabat kita, dan aku harap semuanya berjalan dengan lancar,” kata Marsekal Kambu,

“tinggal bagaimana yang di laut?”

“Anggap saja sudah beres,” kata Arfa,

“tapi Anda sadar kan, meskipun pesawat itu tiba di Jakarta tepat waktu, masih ada proses bongkar muat, yang pastinya akan memakan waktu?”

“Ini harapan terbaik kita… Angkatan Darat menyiagakan empat helikopter Mi-17, dan aku menyiapkan delapan wing tempur untuk mengawal mereka ke sasaran,” kata Mars. Kambu,

“kuharap kita bisa memotong waktu tempuh lebih cepat dari yang biasanya,”

Marsekal Kambu lalu memberikan secangkir kopi panas kepada Arfa, yang diterima dengan sedikit dingin, mengingat suasana saat ini tidak memungkinkan untuk penyambutan yang lebih hangat. Dan lagipula, Mars. Kambu pun maklum dengan sikap Arfa ini.

“Berharap yang terbaik,” kata Mars. Kambu.

Arfa hanya mengangguk sambil menghirup kopinya.


Memasuki Selat Sunda
11.48 WIB
H minus 48:12:00


Keheningan laut terpecahkan oleh deru laju empat kapal perang besar yang diiringi oleh dua kapal yang ukurannya lebih “kecil”, meskipun masih juga tergolong besar. Siluet kapal-kapal perang itu terlihat mengerikan dengan senjata-senjata yang menempel di atas dek terlihat jelas. Mulai dari senjata berkaliber besar, sampai senjata yang paling kecil. Kapal-kapal perang itu bergerak dengan cepat seolah-olah tengah dikejar oleh sesuatu yang amat gawat.

Keenam kapal perang ini sebenarnya adalah kapal-kapal yang masuk ke dalam jajaran Armada Baltik Angkatan Laut Republik Federasi Russia. Yang paling besar dari semuanya, dan juga merupakan kapal bendera, adalah penjelajah-tempur kelas Admiral Ushakov (ex-Kirov), bernama RFS Admiral Masorin. Di sebelah kanannya, tak kalah besarnya adalah penjelajah dari kelas Moskva (ex-Slava), bernama RFS Volgograd. Mengapit dua kapal besar itu adalah dua kapal perusak dari kelas Udaloy II, yaitu RFS Malatinsky dan RFS Pereplyotkin. Sementara pengawal dari keempat kapal itu adalah dua fregat kelas Neustrashimyy, yaitu RFS Andrei Nikolov dan RFS Odessa. Angkatan Laut Russia, yang mewarisi bekas kekuatan laut Uni Soviet, memang lebih dikenal dengan armada kapal selamnya yang hebat, namun kapal-kapal perang ini sebenarnya tak kalah menakutkan pula. Bahkan kapal-kapal perang ini pun disegani baik oleh kawan maupun lawan Russia. Sebagai pendamping, sebuah kapal tanker sipil, Zolotaya Zvezda, selalu siap sedia untuk berperan sebagai pendukung pelayaran.

Di atas anjungan komando RFS Admiral Masorin, mengepalai kapal ini, sekaligus juga lima kapal lainnya adalah Kontr-Admiral (setara Laksamana Muda TNI-AL) Vassily Kurbanov. Dia tampak serius sekali malam hari ini. Ini adalah misi muhibah AL-Russia yang telah melayari dan singgah di berbagai negara, dan dijadwalkan dalam beberapa yang baru tiba dari komandan tertinggi Armada Baltik, Admiral Konstantin Valinov, membuat misi muhibah itu berubah menjadi misi yang amat urgen.

Secepatnya, flotilla itu harus menuju ke Indonesia untuk bertemu dengan kapal perang TNI-AL, KRI Pattimura, untuk pengarahan selanjutnya. Jadwal yang seharusnya baru besok mereka memasuki perairan Indonesia, kini harus diburu-buru. Detil misi itu pun sudah dijelaskan pula, dan sesuai kesepakatan dengan para perwira di flotilla itu, maka setelah menemui KRI Pattimura, maka kapal perusak RFS Malatinsky dan fregat RFS Andrei Nikolov akan ikut dengan KRI Pattimura ke Pangkalan TNI-AL di Pelabuhan Ratu, sementara kapal lainnya akan melanjutkan ke Tanjung Priok.

Pun begitu, ada mendung kegalauan yang masih menggelayuti diri Kontr-Admiral Kurbanov dalam menyikapi perintah ini. Apakah ini memang perintah yang benar? Namun perintah ini asli datang dari Pusat Komando AL Russia di Murmansk, diautorisasi pula oleh Menhan. Litovchenko dan PM. Chagayev, jadi pastinya bukan perintah “abal-abal”. Walaupun begitu, mematuhi perintah itu berarti menempatkan Russia dalam sebuah dilema yang amat besar. Ini karena dalam perintah tertulis jelas pula mengenai “mengharapkan engagement” dengan “Armada Australia” yang lebih besar selama misi. Siapa pun saat ini tentu tahu bahwa bila kapal perang dari Russia menyongsong Armada Australia, Amerika Serikat tentu akan turut campur, dan ini bisa menggoyahkan “kesetimbangan rapuh” yang selama ini ada antara poros Barat, Timur, dan Selatan.

“Siap untuk memecah formasi, Kamerad Komandan,

” bunyi radio dari kapal RFS Malatinsky. Yang bicara adalah wakil dari komandan flotilla, Kapitan 1-go-ranga Yevgeny Chugainov,

“kawan kita dari Indonesia sudah tiba,”

Memang saat itu telah tampak KRI Pattimura dari kejauhan. KRI Pattimura merupakan kapal korvetnas dari kelas G.H.J Douwes Dekker, yang merupakan scaled-down dari kelas Keumalahayati. Korvet kelas E.F.E Douwes Dekker merupakan korvetnas dengan jumlah terbanyak yang dibuat di dalam negeri, yaitu mencapai 20 kapal, hingga PT. PAL harus melakukan sub-kontrak pada beberapa galangan kapal lokal. Rencananya adalah korvet ini digunakan untuk menggantikan korvet lama dari kelas Parchim ex-Jerman Timur yang sudah “berumur”. Total ada 4 kelas dari korvetnas, yaitu kelas Diponegoro (SIGMA-PAL), kelas Keumalahayati (menggantikan korvet kelas Fatahillah), kelas G.H.J Douwes Dekker (menggantikan korvet kelas Parchim) dan korvet latih kelas R.A Kartini (total ada 5 kapal: KRI R.A Kartini, KRI Sunan Kalijaga, KRI Nyai Ageng Serang, KRI Haji Samanhudi, dan KRI Boedi Oetomo untuk menggantikan kapal latih KRI Ki Hadjar Dewantoro). Program ini diharapkan akan memberi sekitar 35 kapal kombatan pada gelombang pertama, dari total 120 kapal sesuai rencana.

“Da, Kapitan,” kata Kt-Adm. Kurbanov,

“silakan melanjutkan,”

“Satu pertanyaan, Kamerad Komandan,” kata Kpt-1. Chugainov,

“kalau kau tak keberatan,”

“Silakan,” kata Kt-Adm. Kurbanov.

“Saat saya bertemu dengan Armada Australia, dan mereka menunjukkan tanda-tanda permusuhan, apa yang harus saya lakukan?” tanya Kpt-1. Chugainov.

Kt-Adm. Kurbanov pun terdiam dan menarik nafas sejenak.

“Ikutilah kata hatimu, Kamerad,” jawab Kt-Adm. Kurbanov.

“Da, Kamerad Komandan, spasibo,” balas Kpt-1. Chugainov.

Seusai berkata begitu, dari kapal RFS Malatinsky, sebuah semboyan dinaikkan, dan tanpa butuh banyak waktu, kapal RFS Malatinsky dengan pengawalnya, RFS Andrei Nikolov, segera memisahkan diri dengan flotilla untuk menuju ke lokasi yang telah ditunjukkan sebelumnya, diiringi dengan tatapan mata khawatir dari Kt-Adm. Kurbanov. Apa pun yang terjadi nanti, dalam doa Sang Laksamana, semoga Russia diselamatkan.


Bina Graha
13.32 WIB
H minus 46:20:00


Arfa masih duduk di ruangannya. Matanya terpejam sementara monitor di depannya masih menyala sambil memberikan data-data yang terus masuk. Tak ada yang berani mengganggunya, tidak juga Sam untuk memberi laporan. Di dekat keyboard ada sebuah asbak yang terisi beberapa puntung rokok, rata-rata hanya diisap setengahnya, nasib serupa jatuh juga pada segelas kopi dari Marsekal Kambu yang kini telah mendingin, tapi masih tersisa cukup banyak. Hanya bunyi detik jam weker dekat komputer lah satu-satunya suara yang mampu memecahkan kesunyian mencekam itu.

Arfa tidak tertidur. Masalah ini sudah membuatnya tak bisa tidur hingga matanya terlihat cekung dan rambutnya berantakan. Blazer kerjanya dionggokkan di kursi yang agak jauh, sementara di sini dia duduk masih memakai kemeja acak-acakan yang dua kancing teratasnya dibuka sehingga memperlihatkan lingerie yang dipakainya. Arfa tengah berpikir amat keras, ada sesuatu yang luput, ada sesuatu yang aneh dari insiden ini. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi sementara pelayaran perdana KRI Antasena dilakukan dengan penuh kerahasiaan. Apa pun itu, kemungkinannya selalu saja kembali pada satu penyebab, yaitu kebocoran intelejen. Ada orang dalam proyek ini yang mengkhianati dan membocorkan perkara KRI Antasena pada pihak luar, entah pada Amerika Serikat, Inggris, atau langsung pada Australia. Tapi siapa?

Menjawab pertanyaan itu berarti mencurigai banyak orang yang terlibat dalam proyek Antasena, termasuk juga beberapa pejabat baik sipil maupun militer. Mulai dari pemerintahan, legislatif, TNI, salah satu atau beberapa bisa saja terlibat. Tapi siapakah kolaborator yang tega mengkhianati negaranya itu? Mungkin pulakah ada orang di NewsTV yang keceplosan bicara? Arfa yakin tidak. NewsTV tidak diberitahukan mengenai rute pelayaran KRI Antasena, padahal Arfa amat yakin bahwa penyerangan atas KRI Antasena tidak terjadi secara kebetulan. Ada yang membocorkan koordinat pengujian misil! Andai saja Arfa bisa mengetahui siapa pengkhianat itu, Arfa bersumpah, walau pun dia menteri atau anggota DPR sekalipun, tak akan dia lepaskan walau hingga ke liang kubur.

“BUZZ!!”

Interkom di dekatnya mendadak berbunyi, sedikit membuat Arfa kaget dan seketika itu juga dia tersadar dari alam pikirannya.

“Tn. Hafryn ingin bertemu Anda, Nn. Aryanti,” kata petugas di balik interkom.

“Persilakan masuk,” kata Arfa.

Arfa kemudian membetulkan kancingnya, lalu merapikan sebentar bajunya, juga tak lupa membuang semua puntung rokok pada asbaknya ke bak sampah yang ada di dekat mejanya, tepat sebelum pintu terbuka dan seseorang berpakaian setelan jas resmi masuk ke dalam. Orang ini adalah Brigjend. (purn.) Hafryn Rahman, yang kini menjabat sebagai kepala Badan Intelejen Negara. Tanpa emosi, dia pun duduk di depan Arfa.

“Langsung saja, Tn. Hafryn, sekarang saya yakin Anda tahu soal gawatnya situasi yang sedang kita hadapi,” kata Arfa.

“Tentu saja,” kata Tn. Hafryn.

“Aku hanya punya satu pertanyaan,” kata Arfa, 

“apakah ada kebocoran intelejen soal KRI Antasena?”

“Kenapa Anda menuduh begitu, Nn. Aryanti?” tanya Tn. Hafryn.

“Ayolah, Tn. Hafryn, semua fakta akhirnya mengarah ke sana,” kata Arfa,

“bagaimana mungkin sebuah kapal selam yang berlayar tanpa ada orang yang tahu bisa disergap?”

“Kebetulan, mungkin? Kapal LCS Australia sering melakukan patroli di utara wilayah negerinya,” jawab Tn. Hafryn.

“Jadi Anda anggap saya orang bodoh yang harus percaya semua ini adalah kebetulan belaka, Tn. Hafryn??” teriak Arfa,

“katakan apakah sebuah kapal selam di satu titik di Samudera Indonesia yang luas bisa begitu saja ditemukan oleh kapal Australia?? Mereka harus menembus ZEE kita sebelum bisa menemukan posisi KRI Antasena, dan apa yang mendorong mereka untuk melakukan itu?? Sebuah kebetulan juga??”

“Apakah Anda sedang menuduh bahwa Intelejen tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, Nn. Aryanti?” tanya Tn. Hafryn dengan nada tenang dan datar.

“Maaf, bukan saya bermaksud meragukan integritas Intelejen soal ini,” kata Arfa,

“tapi saya hanya ingin meminta penjelasan,”

“Kalau begitu saya menjamin bahwa kami dari Badan Intelejen juga tengah bekerja untuk memecahkan masalah ini,” kata Tn. Hafryn,

“dan terakhir kali saya ingat, Badan Intelejen bertanggung jawab langsung kepada Presiden, bukan kepada Anda,”

Arfa menatap mata Tn. Hafryn dengan tajam, masih saja tak ada emosi dari orang ini.

“Kita hanya punya waktu kurang dari 48 jam untuk menyelamatkan orang-orang kita di KRI Antasena, Tn. Hafryn,” kata Arfa,

“setiap waktu yang terbuang, semakin kecil kesempatan mereka akan selamat,”

“Saya turut prihatin juga atas masalah ini, Dr. Aryanti,” kata Tn. Hafryn,

“tapi sebaiknya kesampingkan dulu emosi Anda berkaitan dengan masalah ini,”

“Saya hanya ingin tahu saja apakah ada orang Indonesia yang turut bertanggung jawab atas semua tragedi ini, Tn. Hafryn,” kata Arfa,

“kalau memang ada, sebaiknya Anda katakan saja, karena saya tak akan melepaskannya, siapa pun dia, mau dia menteri atau bahkan ketua DPR sekalipun,”

“Hati-hati dengan keinginan Anda, Dr. Aryanti; orang kadang sering menyesal saat keinginannya terwujud,” kata Tn. Hafryn,

“kalau boleh saya permisi, saya hendak menemui Presiden, saya ke sini hanya untuk turut memberikan rasa simpati kami, baik secara pribadi maupun secara institusional,”

“Silakan, Tn. Hafryn,” kata Arfa,

“dan maaf soal perkataan saya tadi,”

“Sudahlah, Dr. Aryanti,” kata Tn. Hafryn,

“ini memang saat-saat yang berat bagi kita semua,”

Tn. Hafryn segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Tapi sebelum Tn. Hafryn sempat membuka pintu, Arfa kembali memanggilnya.

“Bagaimana dengan Dr. Anatoly Sedorenkov?” tanya Arfa,

“bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia masih dalam perlindungan?”

“Apakah Anda sungguh ingin tahu, Dr. Aryanti?” tanya Tn. Hafryn tenang.

Arfa mendengus pelan.

“Tidak, Tn. Hafryn,” kata Arfa,

“maaf sudah mengganggu,”

“Selamat siang, Dr. Aryanti,” kata Tn. Hafryn sembari keluar dari ruangan itu.


Samudera Indonesia

Kedalaman 200 meter

13.49 WIB

H minus 46:03:00



Lucia melihat jam tangannya, kemudian menarik napas pelan. Waktu mereka di kapal selam ini sudah kurang dari dua hari lagi, dan semakin lama detik-detik berjalan, semakin menipis pula harapan bahwa mereka akan diselamatkan. Hal yang kemudian diperhatikan oleh Lucia adalah kapal selam ini pun semakin lama semakin sepi. Tawa dan canda semakin berkurang, dan kini para awak hanya lebih banyak diam. Semua pekerjaan selain memasak dan memperbaiki alat sonar sudah selesai dilaksanakan, dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh para awak kapal kecuali diam. Bahkan komunikasi antar mereka pun lebih banyak dilakukan lewat isyarat atau gumaman yang nyaris tak bisa disebut sebagai sebuah kata.

Satu hal lain yang diperhatikan oleh Lucia adalah bahwa udara semakin lama, perlahan-lahan menjadi semakin sumpek dan gerah. Tadinya Lucia masih bisa merasakan dinginnya hawa dari erkon, tapi kini nampak semakin panas. Tidak, bukan erkon yang rusak, melainkan udaranya yang semakin lama semakin menipis. Ini pun disadari oleh semua orang, sehingga pengharapan pun semakin suram. Perwira medis akhirnya mengambil inisiatif untuk membuka semua tabung oksigen yang mereka bawa, tabung yang sedianya untuk dipakai sebagai pertolongan medis, tapi setelah pasien terakhir meninggal dunia beberapa jam lalu, tak ada gunanya lagi untuk disimpan. Entah berapa lama waktu yang bisa mereka beli dengan cara ini.

Untuk mengurangi kotornya udara, maka jenazah dari para awak yang gugur terpaksa diangkut dan ditumpuk di lemari pendingin. Andai saja tabung tekanan torpedo berfungsi, mungkin jenazah-jenazah ini akan dilontarkan keluar agar tidak membusuk di dalam dan mengotori udara yang sudah semakin menipis. Akibatnya, bahan makanan pun terpaksa harus mengalah, tapi tak masalah, karena semua akan habis dipakai. Alternatif lainnya adalah dengan menumpuk jenazah di ruang mesin listrik di buritan, karena tak ada perbaikan yang akan dilakukan lagi di bagian ini, dan untuk mencegah bau menyebar, maka pintu palka kedap air ditutup dengan rapat dan tak dibuka kembali. Semua memento dari mereka yang gugur pun dikumpulkan oleh para awak yang tersisa; dompet, cincin kimpoi, foto, baju, atau apa saja yang bisa diambil, dengan harapan tipis bahwa memento ini akan dikembalikan kepada keluarga mereka di atas.

Iwan dan Erika nampak berkeliling kapal dan mewawancarai awak kapal satu demi satu. Tidak, bukan untuk bahan berita, melainkan untuk obituari, sebuah pesan terakhir. Tentu saja bukan hal yang mudah bagi awak kapal yang masih hidup untuk memaksakan tersenyum di hadapan kamera dan memberi pesan terakhir kepada sanak keluarga di rumah, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, padahal mereka tahu yang sebenarnya terjadi bukanlah seperti itu. Dan memang wawancara pun akhirnya menjadi hal yang amat berat. Para awak kapal, bahkan Erika dan Iwan sendiri sering tak mampu menahan ledakan air mata. Ada beberapa orang yang memang tetap terlihat tabah, namun tak urung selesai kamera di-cut, mereka terduduk dan terlihat menyembunyikan tangis.

“Taruh memento-nya di sini,” kata Reza sambil membawa sebuah kotak besi yang di luarnya tampak diberi tabung-tabung kecil, entah apa. Rupanya dia berhasil membuat kotak berisi kenangan itu, yang rencananya memang dibuat untuk menyimpan semua memento terakhir. Cincin, foto, surat wasiat, jam tangan, semua dimasukkan ke dalamnya, termasuk beberapa buku harian kecil yang membuat kotak kecil itu menjadi penuh.

“Yakin itu bakal selamat?” tanya Lucia.

“Tentu saja, saya sudah bicara sama Laksamana Mahan tadi, dia tahu tempat yang tepat untuk meletakkan kotak ini supaya tidak ikut hancur saat…”

Reza tidak melanjutkan ucapannya.

“Saat kapal ini hancur, kan?” tukas Lucia,

“nggak usah ngerasa nggak enak, nasib kita sama koq,”

“Iya,” jawab Reza,

“masih ada tempat buat buku harian kalau mau,”

“Nanti saja saat-saat terakhir, aku mau titip buku harian ama ponsel,” kata Lucia,

“yakin bisa selamat sampai atas nanti?”

“Tenang aja, aku udah pengalaman bikin time-capsule,” kata Reza,

“tambah lagi kotak ini aku beri warna mencolok, ama peralatan beacon S.O.S, jadi setelah ngapung sampai atas, orang bisa nangkap sinyal dari kotak ini, terus langsung saya alamatkan ke kantor redaksi NewsTV; moga-moga siapa pun yang nemu kotak ini mau berbaik hati buat nganterin ke kantor,”

“Semoga saja,” kata Lucia.

“Finger-crossed,” balas Reza.

Pembicaraan mereka berdua diinterupsi oleh kedatangan Iwan dan Erika yang baru saja selesai mewawancarai semua awak kapal, termasuk Laksma. Mahan. Tampak mata Erika sembap setelah terlalu banyak menangis dan menahan tangis, tapi setelah terbiasa dengan keadaan menjelang maut ini, akhirnya tak ada air mata yang keluar. Lucia pun langsung memeluk Erika dan menyandarkan kepala Erika di bahunya, sementara Reza hanya menepuk pundak Iwan yang memaksakan tersenyum getir.

“Selesai semua?” tanya Lucia lembut.

“Sudah, Mbak,” jawab Erika sambil mengusap air matanya yang merembes keluar.

“Paling nggak ada yang bisa kita lakukan,” kata Lucia.

“Kalau sudah masukin rekamannya ke kotak,” kata Reza.

“Masih ada yang belum,” kata Iwan,

“Pak Ridwan,”

“Saya sih nggak usah,” kata Ridwan Juhari yang tiba-tiba saja sudah ada di dekat mereka.

Memang dalam kaleng baja sempit ini, susah untuk punya pembicaraan pribadi. Setiap sekali waktu pasti ada saja bertemu dengan orang. Kemunculan tiba-tiba pun bukan barang yang aneh.

“Yakin, Pak?” tanya Lucia,

“nggak ada kata perpisahan buat keluarga di rumah?”

“Nggak, kayaknya nggak perlu pake kata-kata juga,” kata Ridwan Juhari.

Tapi Ridwan Juhari langsung melepas jam tangannya dan memasukkannya ke dalam kotak memento.

“Itu hadiah dari istri saya,” jawab Ridwan Juhari,

“kalau dia terima itu, dia udah tahu apa maksudnya,”

Semua orang hanya mengangguk saja. Kemudian tanpa berkata-kata, Ridwan Juhari segera meninggalkan mereka menuju ke kabinnya. Kabin Ridwan memang berbeda dan terpisah agak jauh dengan kabin para awak NewsTV, dan entahlah, tapi menurut pengamatan Lucia, sepanjang perjalanan Ridwan hanya di kabinnya saja dan jarang berjalan berkeliling kecuali saat makan atau ke kamar mandi. Punggung Ridwan tampak bungkuk seolah tengah menanggung sebuah beban berat, dan itu sudah terlihat semenjak sebelum penyerangan terjadi. Tapi Lucia berpikir, ini pasti karena tugasnya yang memang berat.

“Masih ada sisa waktu,” kata Iwan,

“sengaja aku siapin,”

“Buat apa?” tanya Lucia.

“Buat kita,” kata Iwan,

“dua puluh menit, jadi masing-masing kebagian 5 menit, kalau bisa kurang lebih baik,”

Semua menarik napas panjang dan termenung mendengar penuturan Iwan itu. Tak disangka saat seperti ini tiba juga, saat di mana mereka harus mengucap salam perpisahan karena mereka akan pergi jauh ke tempat yang tak akan bisa dijangkau lagi oleh orang hidup. Tapi apa yang harus mereka katakan dalam 5 menit? Baru kini mereka merasakan banyak hal yang belum sempat mereka katakan atau lakukan pada orang-orang tercinta mereka. Banyak hal yang selama ini mereka tunda untuk lakukan, banyak rencana yang belum terwujud, tapi kini semua harus dirangkum dalam 5 menit.

Seketika emosi pun bercampur aduk, kesedihan, penyesalan, rasa takut, semua bergumul menjadi satu. Erika yang tadinya mengira bahwa air matanya sudah habis akibat menyaksikan kata-kata perpisahan dari banyak orang, kini ternyata masih bisa menangis lagi. Begitu pun dengan Lucia, juga Reza dan Iwan sendiri.

“Nggak apa-apa kalau mau nangis,” kata Lucia sambil sesenggukan menghapus air mata di pipinya,

“karena nggak semua air mata itu jahat,”

Tanpa dikomando, mereka berempat pun menangis sesenggukan. Masing-masing tenggelam dalam kepedihan mereka sendiri, masing-masing mengingat kehidupan yang akan mereka tinggalkan, kenangan yang mereka alami, dan penyesalan akan rencana yang tak akan pernah lagi bisa mereka lakukan, juga janji kepada orang terkasih yang tak lagi akan bisa mereka tepati. Dan Erika-lah yang pertama kali meledakkan tangis.

“Kenapa, Rik?” tanya Lucia sembari mengelus pundak Erika.

“Aku nyesel, Mbak,” kata Erika,

“sebelum pergi aku marahan ama cowok aku; aku ngediemin dia, cuman SMS buat pamit liputan ini; aku nyesel, soalnya abis ini aku nggak bisa ketemu ama dia lagi…”

“Udah, nggak papa,” kata Lucia.

Erika pun lalu menangis di pundak Lucia.

“Andai aja aku bisa punya waktu, sebentar aja, buat paling nggak minta maaf ama dia; aku nggak mau pergi dalam keadaan nggak enak macem gini,” kata Erika,

“tapi semua udah terlambat sekarang,”

“Kita nggak akan ngerti, Rik, apa yang terjadi ntar,” kata Lucia,

“kalau aja kita bisa tahu apa yang akan terjadi sebelumnya, mungkin kita bisa mengatur, kudu bersikap apa,”

Lucia mengelus pundak Erika sebagaimana seorang ibu yang menenangkan anaknya. Melakukan itu, Lucia mendadak teringat pada Lani. Siapa yang akan menenangkan Lani nanti saat dia menangis? Apakah Anton bakal punya waktu untuk itu?

“Aku juga punya rencana, habis nikah, entahlah, antara sederhana atau muluk,” kata Lucia,

“cuman pengin bisa jagain si Lani; aku berat cuman ama si Lani aja, kasihan dia dua kali ditinggal ibunya,”

“Aku udah rencanain,” kata Iwan,

“bulan depan nikah sama si Shely,”

“Cewekmu?” tanya Reza.

Iwan hanya mengangguk saja, kemudian mengambil dompet dan memperlihatkan foto seorang wanita berjilbab dan berkacamata.

“Cantik juga,” kata Lucia.

“Coba kenal aku duluan, Bro,” kata Reza.

“Opo'o, Rek? Koen Ojo macem-macem po'o karo wedhokan siji iki,” kata Iwan dalam bahasa Jawa Suroboyoan,

“ancene jangkrik koen,”

Semua tertawa saja mendengarnya, termasuk Lucia, ya, karena Lucia pun pernah di Biro Surabaya dan sedikit-sedikit mengerti tentang bahasa Jawa.

“Bejo koen, Rek,” timpal,

“lha aku malah atene ninggal pacar,”

“Sopo Rek?” tanya Iwan.

“Koen kenal lah, areke,” kata Reza,

“isih bolo'e dewe, si Cory,”

“Hah? Cory? Koen pacaran karo Cory??” teriak Iwan kaget,

“diamput koen, Rek! Ancene jangkrik!”

“Sopo seh, si Cory iku, Rek?” tanya Lucia.

Semua mendadak terbengong-bengong mendengar perkataan Lucia. Baru kali ini Lucia berbicara dalam bahasa Jawa. Dialek Suroboyoan lagi.

“Lapo kok padha meneng?” tanya Lucia,

“koen kira arek jakarta ga iso bojo jowo ta?”

“Koq bisa Suroboyoan?” tanya Iwan masih bengong.

“Aku ki tahu nang Biro Suroboyo nem wulan,” kata Lucia,

“perkara Suroboyoan wis mayan khatam,”

“Jangkrik…” celetuk Iwan yang masih terkejut mendengarnya.

“Arekmu dhewe sing jangkrik, Cuk!” kata Lucia.

Dan kontan saja semua orang tertawa. Ya, tawa pertama yang terjadi pada periode-periode ini.

“Cory iku yo arek NewsTV, Mbak,” kata Erika menjelaskan,

“areke reporter anyar, ning wus nem wulan; mbiyen si Iwan uga ngesir karo areke,”

“Ah, jangkrik,” kata Iwan,

“Vietnam iku, dudu, gak ngono, Rek,”

“Koen ancene jangkrik, Rek,” balas Reza,

“wis nduwe calon bojo yo isih ngesir wedhokan liyan,”

“Asem tenan, aku cuma atene nggathukne si Cory karo si Aris,” kata Iwan.

“Halah, ngeles areke,” kata Erika.

Perkataan itu disambut dengan tawa masing-masing, membuat suasana di dalam kaleng baja nan dingin dan semakin suram ini menjadi hangat dan sedikit hidup. Walau ajal mungkin akan menjelang, bukan alasan untuk tidak memberi sedikit humor dalam saat-saat terakhir, selama raga masih bisa untuk tertawa.



14.27 WIB

H minus 45:24:00



“Oke,” kata Lucia,

“mari kita berhenti bercanda dan mulai saja,”

Baik Iwan, Erika, mau pun Reza hanya bisa mengangguk ringan, tanpa mampu untuk menyembunyikan kenestapaan yang mereka rasakan. Akhirnya semua canda tawa pun sirna ketika saat ini benar-benar tiba.

“Ayolah,” kata Lucia lagi,

“jikalau memang disuratkan begitu, maka ini adalah kesempatan terakhir kita untuk meninggalkan sesuatu bagi orang yang kita cintai,”

Semua kembali mengangguk. Beban tampak jelas terlihat menggelayut di raut muka mereka, namun sudah lebih ringan daripada sebelumnya.

“Aku akan siapkan dulu tripodnya,” kata Iwan.

“Aku bantu,” kata Erika.

Iwan pun mengeluarkan sebuah tripod kecil dari salah satu tas peralatannya, benda yang tak diduga akan berfungsi dalam keadaan yang semacam ini. Dibantu oleh Erika, mereka pun memasangkan tripod ke kamera dan mengarahkannya ke sebuah tempat tidur kabin, yang akan dipakai sebagai “panggung”.

“Cek viewfinder,” kata Iwan.

“Sudah?” tanya Erika berusaha memastikan semua berjalan lancar dan sudut kamera sudah benar.

Tiba-tiba terdengar suara baja berderak amat keras, menggaung di seluruh relung kapal selam. Kapal selam itu kembali “menggeliat” akibat menerjang pembatas tekanan air di laut. Lima hari lalu bunyi itu akan cukup mengagetkan sekaligus menakutkan. Tapi kini semua sudah terbiasa, walau pasca-pertempuran, setiap kapal selam “menggeliat” selalu membuat mereka was-was, apakah tubuh yang sudah babak belur itu masih cukup kuat untuk menahan tekanan mahadahsyat dari air laut.

“Ngulet lagi dia,” kata Reza.

“Sudahlah, ayo mulai saja,” kata Lucia.

“Oke, mulai rolling,” kata Iwan,

“siapa yang pertama?”

“Aku ntar aja deh, habis ini,” kata Reza.

“Ya sudah, aku aja,” kata Erika.

Erika pun duduk di kabin tepat di depan kamera. Seluruh wajahnya masih tampak cantik terlihat dari balik viewfinder, namun rona kegetiran tetap tak bisa disembunyikan dari wajah Erika nan ayu ini. Hanya saja sebuah senyum kecil memastikan bahwa Erika telah siap untuk merengkuh nasibnya seandainya dia harus meninggalkan dunia fana ini.

“Rolling, and action,” kata Iwan.

“Ini Erika, dan ini catatan terakhirku di kapal selam ini,… dan mungkin juga di dunia ini,” Erika pun mengusap air matanya sejenak,

“yang pertama-tama, aku mau ngucapin selamat berpisah buat keluargaku yang udah ngebesarin aku dengan baik: Oka-san, Otoo-san, (ayah Erika keturunan Jepang) arigato gozhaimasu. (membungkuk kecil). Sumimasen, kalau Erika-chan selama ini ada salah ama Oka-san dan Otoo-san; Erika-chan sayang sama kalian… Erika-chan cuman nyesel, nggak bisa jadi anak yang berbakti buat Oka-san dan Otoo-san (mengusap air mata); domo… wa sayonara… Buat adikku Arian, kakak mohon, jaga Oka-san dan Otoo-san ya… (terisak)… (diam sejenak)… Buat temen-temen di Biro Surabaya, guys, you’re the best, makasih udah mau ngebimbing aku semenjak masuk (terisak)… Mbak Manda, makasih, biar pun Mbak Manda agak galak, tapi makasih atas semua nasihat ama petunjuknya, maaf ya, Erika sampai sekarang masih jadi anak bodoh, masih sering bikin Mbak Manda marah… (diam sejenak)… kemudian yang terakhir… buat my honey bunny sweetie pie, Aa Christo…. (diam sejenak)… Aa, maafin Neng ya… (terisak)… Neng sebenarnya sayang ama Aa, saking sayangnya mungkin Neng jadi sering marah-marah ama Aa, tapi sebenarnya Neng itu peduli ama Aa (terisak)… (diam sejenak)… Neng nyesel, A… Neng nyesel sekarang kenapa terakhir kali kita ketemu Neng marah-marah ama Aa, kenapa kata-kata terakhir yang Neng ucapin ama Aa… (sesenggukan)… adalah kata-kata yang nggak enak didenger… (terisak)…(sesenggukan)… Jadi maafin Neng ya, A… maafin Neng buat semuanya, Neng tahu Aa sayang ama Neng, Neng juga sayang ama Aa… ntar setelah Neng pergi, Aa jangan lupa makan yang teratur, duit jangan sering diborosin, kalau kerja yang bener jadi biar bisa naik gaji… (diam sejenak)…(terisak)…(diam sejenak)… Aa nggak ada Neng baik-baik ya (tersenyum kecil)… maaf Neng mungkin belum bisa jadi cewek yang baik buat Aa, Neng masih sering nuntut macem-macem ama Aa… Neng will love you always, Aa… Ganbatte!”

Erika memberi isyarat dengan mengayunkan tangannya secara horizontal, tanda dia sudah selesai. Waktu yang diberikan pun serasa singkat sekali. Tiba-tiba Erika merasa banyak sekali yang ingin dia katakan, tapi tak ada gunanya juga terlalu berlama-lama dengan kata-kata.

“And cut!” kata Iwan sembari menekan tombol pause.

Erika segera saja keluar dari frame, dan duduk sambil berusaha tegar meski air mata yang sembari tadi ditahan langsung membanjir keluar. Lucia ingin menenangkannya, tapi Erika menolaknya, dia ingin menghadapi kesedihan ini sendiri, karena kematian pun pada akhirnya akan dia rengkuh sendirian. Reza segera menggantikan posisi Erika.

“Udah?” tanya Reza.

“Oke, in frame and rolling,” kata Iwan,

“siap?”

“Siap,” jawab Reza.

“And action!” kata Iwan sambil menekan tombol rekan.

“Watch up, yo! Masbro, mbaksis, semuanya, apa kabar? Mak, ini Reza ni, Mak! Reza masuk tipi! (semua pun tertawa kecil)… Baru kali ini disorot kamera, duh, tegang juga… heran lo reporter pada bisa ya, tetep tenang sambil disorot ginian? (“udah, langsung aja,” kata Lucia.) Oke, kali ini Reza mau ngucapin selamat tinggal buat semuanya, karena Alhamdulillah, Reza bentar lagi insya Allah udah mau lulus dari ke-hi-du-pan; so, semuanya, keluarga, sahabat, tetangga, temen-temen sekantor, pacar-pacar Reza baik yang resmi maupun nggak resmi (“Woi! Dasar boyo!” kata Iwan.)…(tertawa kecil)… jangan sedih ya. Kita lulus kuliah aja seneng, jadi lulus dari hidup ya kudu seneng juga dong… (tersenyum)… Mak, maafin Reza ya, Reza masih belum bisa kasih sesuatu ama Emak, dari dulu ampe sekarang udah kerja masih aja numpang di rumah Emak, maafin Reza ya…(terdiam sejenak)… Mak nggak bakal apa-apa, kan, kalau Reza tinggal sendirian? (terdiam, sedikit menahan tangis)… Baik-baik aja di sana ya, Mak, jaga kesehatan… jangan sering-sering sakit… (mengusap air mata)… Reza ntar bakal pergi ke tempat yang lebih baik koq, jadi Mak kudu janji ama Reza, Mak nggak boleh nyusulin Reza cepet-cepet dulu… kalau emang Emak mau nyusul Reza, ya boleh, tapi 100 tahun lagi ya, Mak… (semua tersenyum). Terus buat yayang Reza, Cory Dory Mory… Nggak, serius, buat yayang Cory, maafin Reza ya, kayaknya kita nggak sempet buat go public nih… Nggak papa ya, yayang Cory Reza tinggal? Ntar Reza izinin kalau yayang Cory pengin pacaran lagi; tapi nggak boleh sama si Firman, dia itu playboy, nomor HP cewek di phonebook-nya banyak banget; juga nggak boleh ama si Aris, orangnya jorok, dekil, makannya banyak lagi… (semua tertawa kecil)…(“Raimu, cok!” kata Iwan)… Apalagi ama si Vito, jangan… tampang emang keren tapi dia matre, ntar bisa abis yayang Cory diporotin ama dia…(terdiam sejenak)… Anyway, moga-moga aja ini rekaman bisa disiarin ke seluruh dunia, jadi seluruh dunia juga bisa tahu, kalau… (terdiam sejenak)…(tangan disatukan membentuk gambar hati)… yayang Cory, I love you very much…”

Reza kembali memberi isyarat, dan seperti halnya Erika, ketabahan dan gaya asyik selama berada di kamera akhirnya luntur sudah dan hanya berganti dengan air mata yang sedari tadi terus menyeruak untuk keluar.

“Mbak Lucia, boleh saya…” kata Iwan.

“Silakan aja kalau mau duluan,” kata Lucia sambil tersenyum.

“Makasih,” kata Iwan yang langsung menuju ke tempatnya.

Lucia pun menggantikan Iwan sementara sebagai operator kamera.

“Siap, Wan?” tanya Lucia,

“rolling and action,”

“Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh. (“Waalaikumsalam Warrahmatullahi Wabarokatuh,” balas semuanya.) Pertama-tama, buat semuanya aja deh, keluarga, saudara, sanak sahabat, kalau memang Iwan ada salah sekecil apa pun ama kalian, Iwan mohon maaf yang sebesar-besarnya… dan kalau Iwan ada utang juga mohon maaf ya, nggak bisa dibayar sekarang, ntar minta aja ke nomor ini…(Iwan menunjuk ke bawah seolah-olah ada tulisan di bagian bawah viewfinder)… (“Ora sudi!” kata Reza, “mending yen ono sing koyo Yeyen Lidya,”)…(“Lho? Reza suka ama Yeyen Lidya??” tanya Erika)…(“Huss… udah, temennya mau ngomong malah pada ribut sendiri”, kata Lucia, “lanjut, Wan,”)…(tertawa sejenak)… Ibu, Bapak, bentar lagi Iwan nyusul ya, maaf kalau belum bisa jadi orang yang Ibu-Bapak harapin malah udah keburu nyusul duluan… Tungguin Iwan di sana ya, Bu… Iwan udah kangen juga ama masakan gudeg ama opor ayam buatan Ibu, jadi tolong dibuatin di sana ya, Bu… (terdiam)… terus buat Dik Shely… maaf ya, Mas nggak bisa menuhin janji Mas buat minang Dik Shely bulan depan… (terdiam)… tolong sampaiin permohonan maaf Mas Iwan buat Abi ama Umi ya, Dik Shely… Moga-moga Dik Shely bisa dapet yang lebih baik dari Mas… Mas bakal selalu ngejagain Dik Shely koq, walaupun mungkin Dik Shely udah nggak bisa liat Mas lagi… Ntar pokoknya Mas nggak mau liat Dik Shely nangis terus, keingetan ama Mas terus… Pokoknya Dik Shely juga kudu lanjutin hidup, supaya Mas di sana juga tenang…

Selamat tinggal, Dik Shely… Titip salam Mas yang terakhir buat semuanya… Wassalamualaikum…”

Iwan sudah tidak bisa melanjutkan perkataan terakhir, hanya memberikan sebuah cium jauh ke kamera, kemudian memberi isyarat untuk selesai.

“And cut,” kata Lucia sambil menekan tombol pause.

Tanpa berkata apa-apa, Iwan pun beranjak dan duduk di kabin lain sambil berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Melihat kondisi Iwan yang masih agak belum stabil, Erika pun menepuk pundak Iwan, memberi isyarat supaya dia istirahat saja, dan mengambil alih kamera, sementara Lucia bergerak ke posisi rekam.

“Udah?” tanya Lucia.

“Udah,” kata Erika,

“siap rolling…”

Lucia memperbaiki tatanan rambutnya sejenak dan nampaknya berusaha menguatkan dirinya.

“Action!” kata Erika.

“Sebelumnya, maaf kalau nggak banyak berkata-kata, soalnya nggak banyak juga yang aku tuju… Buat temen-temen dan sahabat di NewsTV, Fitri, Mutia, Prita, Tita, semuanya… Makasih udah jadi keluarga yang kedua buat aku; kalian semua udah ngedukung aku di saat aku masih susah, ampe bisa seperti sekarang… Aku nggak bakal lupain semuanya, kalian tetap yang terbaik buat aku… Lalu buat Bu Sabrina, maju terus ya, Bu, walaupun Ibu galak, tapi Anton, juga saya, percaya kalau Ibu memang melakukan semua buat kebaikan NewsTV… (tersenyum)… saya cuman minta, jangan galak-galak juga, dong Bu, kasian anak-anak udah pada capek kerja keras masih juga didamprat… (semua tertawa kecil)… lalu terakhir buat Anton ama Lani… (terdiam)… aku nggak bisa bilang apa-apa… Maaf ya, aku nggak bisa nemenin kalian lama… Wina, kamu yang ada di surga, maaf ya, ternyata aku sudah harus nyusul kamu lebih cepat, nggak bisa lagi ngejagain Anton ama Lani… Lani, Mama minta maaf ama kamu, Mama tahu ada banyak hal yang Mama janjiin ke kamu, Mama belum pernah ngajakin kamu ke mana-mana, belum sempet ngebeliin banyak buat kamu… (terisak)… Dan maaf juga, sekarang gara-gara Mama, Lani bakal sendirian lagi… Ntar Lani nggak boleh takut lagi ama petir dan hujan ya, Sayang… Soalnya Mama udah nggak bisa lagi nemenin kamu, nggak bisa lagi nenangin kamu kalau kamu lagi nangis… Tapi yakin ya, Lani, Mama bakal selalu ada buat ngawasin kamu, ngejagain kamu, Mama ama Ibu kamu, Wina, bakal terus ngawasin Lani dari surga sana… Buat Anton, sorry I can’t be your best of wives… I’ll be going to soon… (terdiam sejenak)…(terisak dan mengusap air mata)… Walau kebersamaan kita singkat, Anton, juga Lani, kalian berdua is the best family I ever had… You’re nothing but a miracle in my gloomy life… Karena kalian lah yang udah bikin hidup aku terang kembali… Dan aku rela nukerin semua hal yang ada di dunia ini demi kalian…(terdiam)Ónen i-estel Edain, ú chebin estel anim…”

Lucia kemudian terdiam kembali, tapi dia belum memberi isyarat putus. Alih-alih, Lucia tersenyum di tengah air matanya, dan mengembangkan tangannya, mengajak semua orang untuk bergabung. Dengan agak ragu, semua pun akhirnya maju dan duduk di samping kiri dan kanan Lucia. Berusaha untuk muat dalam viewfinder yang sempit itu. Semua orang berpegangan tangan, dan tiba-tiba muncul sedikit kekuatan dari dalam diri mereka, yang mengalahkan semua bayangan dan kesedihan.

“Ini adalah liputan terakhir kita,” kata Lucia,

“sebaiknya kita akhiri dengan akhiran yang layak,”

“Iya, Mbak Lucia,” kata Erika sembari mengusap air matanya.

“Iya,” jawab Iwan dan Reza nyaris bersamaan.

Lucia pun tersenyum.

“Wan, kasih aba-aba dong, tolong,” kata Lucia,

“tapi dari sini aja,”

“Iya, Mbak Lucia,” kata Iwan,

“mulai lead-in in 3… 2.. 1…”

Lucia kemudian berdehem sejenak. 

“Pemirsa, ini adalah kerabat kerja tim peliputan NewsTV dalam pelayaran perdana KRI Antasena… Saat ini situasi sedang kritis, dan perbaikan masih dilakukan untuk memberi sinyal pertolongan kepada siapa pun yang ada di atas,” kata Lucia,

“tapi waktu kami hanya tinggal kurang dari dua hari lagi, dan semakin waktu berlalu, harapan yang kami punya semakin kecil, jadi mungkin ini adalah laporan terakhir kami,”

Lucia pun memberi isyarat kepada Iwan, dan Iwan tahu apa maksudnya.

“Saya Iwan, cameraperson, dari Biro Surabaya,” kata Iwan.

“Saya Reza, field-technician, dari Biro Surabaya,” kata Reza.

“Saya Erika, reporter, dari Biro Surabaya,” kata Erika.

“Dan saya Lucia, reporter dari NewsTV Pusat,” kata Lucia,

“semoga kejadian yang kami alami ini, tak akan dialami lagi oleh siapa pun, kapan pun, atau di mana pun; kami kerabat kerja NewsTV undur diri; selamat tinggal…”

Iwan segera maju dan menekan tombol pause.

“And cut,” kata Iwan lirih.


Pangkalan Udara Hasanudin

Makassar

15.16 WIB

H minus 44:25:00


Suasana di Bandara Hasanudin masih riuh rendah akibat semua penerbangan sipil ditunda keberangkatannya, sementara pesawat sipil yang akan masuk terpaksa dialihkan ke lain bandara. Banyak calon penumpang maupun penjemput yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun berita di TV sudah amat ramai, tapi belum ada yang memberitakan hal yang benar-benar kongkrit.

Sementara itu, jauh di sisi lain landasan, 6 buah pesawat Tu-22M Backfire tengah dipanaskan dan tampaknya bersiap untuk berangkat. Masing-masing dari pesawat Backfire tersebut diberi kode sandi dengan nama “Black”, yaitu “Black Peregrine-BS22M632”, “Black Eagle-BS22M633”, “Black Owl-BS22M634”. “Black Hawk-BS22M635”, “Black Vulture-BS22M636”, dan “Black Falcon-BS22M637”. Ini dikarenakan di Indonesia, semua pesawat Tu-22M dicat dengan warna gelap yang hampir hitam.

Di dekat pesawat-pesawat tersebut, ke-24 awaknya tampak tengah mengikuti apel sebelum berangkat. Kolonel Sarmin Arief, yang baru saja melakukan pengintaian atas Pangkalan AL Australia di Sydney pun hadir pula, karena semenjak pulang dari Sydney, dia dilarang untuk meninggalkan pangkalan “hingga ada instruksi selanjutnya”. Dan “instruksi selanjutnya” tersebut adalah ini, bahwa Kol. Arief harus memimpin sortie semua Tu-22M “Black” untuk dipindahkan sementara ke Lanud Iswahyudi, Madiun.

Pemberangkatan, seperti biasa, dilakukan dalam keadaan serba rahasia. Kepala Lanud Hasanudin, Marsda. Fachruddin Soemantri hanya memberi sebuah amplop tertutup seperti biasa, kali ini satu untuk semua kepala dari masing-masing pesawat, dan sebuah tepukan semoga berhasil di pundak masing-masing awak pesawat. Raut muka Marsda. Fachruddin nampak berat dan serius, sehingga semua mengharapkan bahwa misi ini pastilah bukan misi biasa, melainkan misi yang amat sulit. Sementara Kol. Arief sendiri berpikir, mungkinkah ini ada hubungannya dengan misinya sebelum ini?

Selesai apel singkat, semua awak pun masuk ke pesawat mereka masing-masing, dan Black Falcon-BS22M637 berada di depan sebagai “cucuk lampah” dari semua pesawat Tu-22M yang akan berangkat. Seperti biasa, Kol. Sarmin Arief mengecek semua peralatan apakah bekerja dengan baik, juga mengecek masing-masing awak apakah mereka juga sudah memakai perlengkapannya dengan baik. Satu hal yang mengganggu pikiran Kol. Arief adalah bahwa semua pesawat Tu-22M kali ini tak dilengkapi dengan sensor pemotretan dan pengintaian udara, sebagaimana fungsi asasi dari pesawat ini di TNI-AU. Alih-alih semua peralatan yang tidak perlu telah disingkirkan sehingga gudang yang juga merupakanbomb-bay kosong melompong. Tapi Kol. Arief tak berani untuk mengatakan apa-apa, walau dia memiliki sebuah prasangka jelek soal ini.

Dalan tempo tak begitu lama, seluruh pesawat pun meluncur mengangkasa di bawah tatapan mata, sebagian jengkel-sebagian penasaran, dari para calon penumpang di Bandara Hasanudin. Butuh waktu 20 menit sebelum akhirnya pesawat terakhir, “Black Owl-BS22M634” berhasil mengangkasa dan menutup formasi terbang dari keenam pesawat Tu-22M tersebut. Sesuai komando, hingga ke ketinggian 8.000 kaki, diterapkan radio-silence, sehingga antar-pesawat hanya berkomunikasi lewat semboyan lampu untuk mengatur formasi. Kol. Arief terus saja menimang amplop yang dia bawa, hingga akhirnya juru navigasi mengatakan bahwa pesawat telah menyentuh 8.000 kaki, pertanda berakhirnyaradio-silence dan semua amplop boleh dibuka.

“Kep, ada komunikasi dari Eagle-1,” kata juru radio.

“Buka komunikasi,” kata Kol. Arief.

“Roger that,” kata juru radio,

“menyambungkan komunikasi,”

“Di sini Falcon-1,” kata Kol. Arief,

“masuk, Eagle-1,”

“Di sini Eagle-1,” kata Letkol. Idham Sa’ud dari Black Eagle-BS22M633,

“ini perintahnya nggak bercanda, Falcon-1??”

“Unfortunately not, Eagle-1,” kata Kol. Arief,

“proceed as order,”

“Wilco, Falcon-1,” kata Letkol. Sa’ud,

“establishing formation and proceed to the next destination,”

“Roger that, Eagle-1” kata Kol. Arief.

Kol. Arief pun meletakkan manifest dalam amplop yang baru saja dia buka di atas meja sambil menarik napas berat. Wajar saja, karena tulisan dalam manifest tersebut berbunyi:

“PERINTAH AMAT RAHASIA: SEMUA “BLACK” SEGERA MENUJU KE PANGKALAN UDARA ISWAHYUDI SEGERA UNTUK REFILL DAN REARMED; STAND-BY DI SANA, SIAGA TEMPUR. DALAM 48 JAM KE DEPAN, BILA ADA PERINTAH SELANJUTNYA, SEGERA MELAKUKAN PENGEBOMAN ATAS TARGET-TARGET STRATEGIS DI AUSTRALIA YANG AKAN DIBERIKAN PADA TAKLIMAT LANJUTAN. MUSNAHKAN SEMUA MANIFEST SETELAH DIBACA.”


Gedung NewsTV

Jakarta

16.09 WIB

H minus 43:32:00


“Rachel, kamu yakin soal itu?” tanya Tita via tele-conference dengan Rachel di Biro Makassar.

“Ya, jelas sekali, enam buah pesawat Tu-22M kita sudah meninggalkan sarangnya di Lanud Hassanudin, tapi tak diketahui tujuannya,” kata Rachel,

“pihak AU tutup mulut soal ini,”

“Sudah pasti,” kata Tita.

“Enam buah itu berarti semua kekuatan pembom strategis kita,” kata Fitri,

“padahal biasanya setiap kali hanya keluar satu atau dua saja,”

“Ya, aku tahu, dan pesawat Tu-22M hanya keluar atas perintah Presiden saja,” kata Tita.

“Aku bisa kirimkan rekaman saat seluruh Tu-22M keluar, kalau misal mau,” kata Rachel.

“Tidak usah sepertinya…” kata Fitri.

“Ya, Rachel, kirimkan saja,” potong Tita.

“Kamu mau bikin perang, ya?” tanya Fitri.

“Sekarang sudah tidak ada lagi batasan atas apa yang boleh atau tidak boleh kita lakukan,” kata Tita,

“istana ingin kita bergerak sendiri ya kita bergerak sendiri,”

“Bagaimana kalau ini justru berakibat buruk?” tanya Fitri.

Tita mengangkat jarinya dan meminta Fitri untuk diam sebentar.

“Aku tunggu kirimannya, Rachel, dan bersiap untuk melaporkan langsung di News Today nanti,” kata Tita.

“Siap, Bu Tita,” kata Rachel.

Komunikasi pun terhenti, dan Tita memberi isyarat supaya Fitri mengikutinya. Keduanya lalu berjalan sepanjang koridor NewsTV yang mendadak sibuk luar biasa untuk menuju ke news room.

“Ada yang mau kaujelaskan, Tita?” tanya Fitri.

“Tidak ada asap kalau tidak ada api, kira-kira kenapa seluruh pembom strategis kita bisa keluar kandang secara bersamaan?” tanya Tita.

“Maksudmu kita hanya bereaksi atas langkah yang sudah dibuat oleh pihak musuh?” tanya Fitri.

“Dalam hal ini, bisa kita asumsikan musuh itu adalah Australia, benar,” kata Tita,

“tongkat sebesar itu tak akan diayun-ayunkan kalau lawan kita belum melakukan gerakan yang mengkhawatirkan,”

“Kamu benar,” kata Fitri,

“tapi bagaimana efek dari pemberitaan ini? Kamu yakin nggak bakal ada ekses buruk ke kebijakan pemerintah?”

“Ini namanya memaksimalkan apa yang disebut sebagai efek deteren,” kata Tita,

“Australia pasti akan berpikir puluhan kali kalau mereka tahu bahwa seluruh kekuatan pembom strategis kita akan dikerahkan untuk melawan mereka,”

“Atau bisa juga ini malah bakal dianggap sebagai isyarat perang dan mereka akan menyerang lebih dulu,” kata Fitri.

“Kita memang nggak bisa 100% yakin langkah yang kita ambil ini benar, Fit,” kata Tita,

“tapi bukan berarti karena itu maka kita lalu takut untuk melangkah,”

Memasuki news-room, Andini segera tergopoh-gopoh menghampiri Tita dan Fitri, sepertinya ada sesuatu yang akan Andini sampaikan.

“Aku dapet info dari lapangan, katanya semua reporter dari semua stasiun TV setuju buat nyewa pesawat untuk diterbangkan ke Samudera Indonesia,” kata Andini,

“soalnya pihak TNI masih menutup semua akses dari wartawan,”

“Mau jemput bola, ya?” tanya Fitri.

“Katanya semua PemRed juga sudah setuju, dan masih menunggu respons dari NewsTV,” kata Andini,

“ini kesempatan bagus,”

“Tidak,” jawab Tita.

“Tidak, tapi kenapa??” tanya Andini.

“Pertama, kita nggak tahu posisi ground-zero, dan kedua, aku yakin saat ini semua wilayah laut di selatan Pulau Jawa pasti sudah ditetapkan sebagai zona larangan terbang,” kata Tita,

“kalau nekat, pesawatnya bakal dipaksa mendarat dan semua penumpangnya ditahan,”

“Kalau bisa dapat sesuatu pastinya bagus juga,” kata Fitri.

“Tidak akan, begitu keluar dari garis pantai, pasti bakal ada pesawat tempur yang intersep,” kata Tita,

“buang-buang uang saja kalau ternyata nggak ada yang bisa diambil tapi udah ketangkep duluan,”

“Lalu gimana?” tanya Andini.

“Gimana penyebaran semua reporter?” tanya Tita.

“Sudah, semua sudah saya sebar, termasuk di titik-titik yang kemungkinan bernilai strategis,” kata Andini,

“di Lanud Kalijati dan Pelabuhan Ratu baru ada reporter kita saja, begitu juga di Nusakambangan dan Lanud Adisucipto,”

“Bagus,” kata Tita.

“Apa yang kita cari di sana?” tanya Fitri.

“Kalau memang benar bahwa target kita adalah Australia, pengerahan kekuatan TNI besar-besaran pasti dilakukan melalui titik-titik tersebut,” kata Tita,

“kalau Pemerintah memang pengin bermain puzzle ama kita, sebaiknya kita pastikan semua kepingan puzzle bisa kita pegang,”

“Lalu kita satukan?” tanya Fitri.

“Itu tugasmu ama Mutia, ajak juga Fauzia buat ini,” kata Tita,

“apa pun informasi yang masuk dari sisi mana pun, kalian bertiga segera diskusi buat cari benang merahnya, lalu kita infokan hasil deduksi kita,”

“Aku suka ini,” kata Fitri sambil tersenyum dan mengusap-usapkan telapak tangannya.

“Lebih baik dan lebih murah daripada menyewa pesawat yang pasti akan dipaksa mendarat,” kata Tita,

“bagaimana pun, Andini, siapkan juga reporter di titik pemberangkatan pesawat itu, kita akan liput prosesinya,”

“Dan tidak berinteraksi?” tanya Andini.

“Sama sekali jangan,” kata Tita,

“jangan sampai mereka tahu kalau NewsTV bakal memakai mereka sebagai objek berita,”

“Dasar licik,” kata Fitri.

“Dalam situasi seperti ini, harus,” kata Tita,

“dan Andini, apa sudah ada kabar dari Erwina?”

“Soal itu, biar dijelaskan sama Mariska aja, Bu,” kata Andini.

“Mariska dari Biro Bandung ada di sini?” tanya Tita.

“Saya memang sengaja memanggil beberapa reporter dari Biro Bandung untuk membantu di Jakarta, banyak spot yang masih belum kita cover secara maksimal,” kata Andini.

“Suruh dia ke sini,” kata Tita.

Andini kemudian berbalik dan memanggil Mariska dari kerumunan reporter yang ada di situ. Setelah kedatangan beberapa reporter baru, Andini-lah yang kebagian tugas untuk mengatur semua penugasan para reporter ini. Ini karena Lucia, Erwina, dan Uki memang tak ada di tempat. Mariska pun lalu menghadap Tita dengan wajah ketakutan.

“Kau punya info soal Erwina, Mariska?” tanya Tita.

“Iya, Bu Tita,” jawab Mariska.

“Ceritakan, tolong,” kata Tita,

“jangan ada yang terlewat,”

Kemudian Mariska pun dengan lancar menceritakan semua kegiatan Erwina selama dia di Bandung, termasuk ketika Erwina mendatangi sebuah alamat misterius atas petunjuk dari seorang kontributor rahasia.

“Katanya bila dalam 24 jam tidak ada kabar saya harus menelepon kantor NewsTV Pusat dan bicara pada Pak Anton,” kata Mariska,

“tapi waktu itu Pak Anton sudah tidak ada di tempat, dan ada panggilan penugasan dari Jakarta, jadi saya pikir sekalian saja,”

“Kontributor rahasia??” tanya Fitri,

“ceroboh sekali dia,”

“Bukan Erwina namanya kalau dia tidak melakukan hal semacam itu,” kata Tita,

“sekarang aku jadi semakin khawatir, jangan-jangan dia memang bukan desersi, tapi terkena suatu masalah yang kita nggak tahu,”

“Apa kita periksa sekalian saja alamat itu?” tanya Fitri.

“Saya masih tahu alamatnya,” kata Mariska.

“Jangan kamu, kamu dibutuhkan di sini,” kata Tita,

“tolong hubungi Biro Bandung untuk mengirim orang ke sana; bawa juga satpam yang punya pengalaman militer, kalau-kalau memang ada apa-apa, karena kita mungkin berurusan dengan pihak yang berniat jahat di sini; setelah itu konsultasikan penugasanmu pada Andini,”

“Baik, Bu Tita,” kata Mariska.

Tita terduduk di sebuah meja kerja sambil memegangi kepalanya. Masalah Anton yang pergi dan pemberitaan yang semakin gawat ini saja sudah membuatnya cukup pusing. Dan ini masih ditambah lagi dengan kemungkinan nasib Erwina yang belum jelas apakah masih hidup dan hanya diculik, atau malah mengalami nasib yang lebih buruk lagi.

“Ke mana sih kamu, Erwe?” gumam Tita.


Location Unknown

Time Unknown


Erwina mendengar sayup-sayup suara dan sekali lagi dia terbangun. Belum sempat dia bisa beristirahat dalam tahanan ini, dan kelelahan sudah semakin merajai atas dirinya. Semenjak terakhir dia diajak berdiskusi oleh Sang Pemimpin, itu membuat otaknya sedikit kembali menjadi segar, namun di tengah suasana pengikatan ini, semangatnya pun lesu kembali. Apalagi hingga saat ini dia belum diberi makan lagi. Kini sekonyong-konyong ada suara orang datang, apakah sudah saatnya dia diberi makan? Jam berapa sekarang, berapa lama dia sudah berada di sini, dia sendiri tidak tahu.

Tiga orang pun masuk, salah satunya membawa sebuah nampan berisi kotak metal berwarna putih. Erwina hanya bisa melihatnya lamat-lamat, lampu ratusan watt masih menyilaukan di atas tubuhnya yang telanjang, dan kini rasa dingin itu sudah mulai terasa amat menyakitkan. Kali ini bahkan untuk mengangkat suara saja dia sudah tidak mampu.

Orang keempat pun masuk, dan ternyata itu adalah Sang Pemimpin, masih dengan sikapnya yang meraja. Sang Pemimpin memperhatikan Erwina sejenak, memeriksa mata dan juga wajah Erwina entah untuk alasan apa. Erwina juga sudah tak memiliki semangat untuk melawan ataupun bertanya. Belenggu dan penjara aneh ini sudah amat melemahkan semangatnya, masih ditambah rasa sakit di kemaluan dan lubang duburnya. Air pun kembali menetes dari ujung kateter ke kantong plastik yang telah disediakan sebelumnya. Warna airnya yang jingga keruh menunjukkan skala dehidrasi yang dialami oleh Erwina.

Orang yang membawa nampan kemudian mendekatkan nampan itu kepada Sang Pemimpin, dan Sang Pemimpin segera membuka kotak metal warna putih di atasnya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana, yang segera membuat mata Erwina yang telah sayu menjadi terbelalak. Itu adalah sebuah alat suntik dan botol kecil berisi cairan bening yang mencurigakan.

“Kamu! Kamu mau apa??” tanya Erwina.

“Kami berterima kasih atas semua informasimu,” kata Sang Pemimpin,

“sekarang kami sudah tak membutuhkanmu lagi,”

“Kamu mau membunuhku??” tanya Erwina,

“Jangan! Jangan! Lepaskan!”

Tapi sia-sia melawan, karena ikatan di tubuh Erwina amat kencang sehingga untuk menggeliat saja dia nyaris tak mampu. Erwina hanya menggoyang-goyangkan kursi yang terpatri mati di lantai itu, sementara Sang Pemimpin mengambil cairan dari botol itu dengan alat suntik.

“Jangan! Jangan!! Jangan bunuh aku!” teriak Erwina dalam nada ketakutan dan keputusasaan yang tak terperi lagi.

“Tenanglah,” kata Sang Pemimpin,

“ini formula terbaik kami, tak akan lama, dan kau tak akan merasa sakit sama sekali, hanya seperti orang yang akan tidur panjang,”

“Tidak... Tidak… Tidak…” kata Erwina sembari menangis.

Dengan cepat, Sang Pemimpin memegang tangan Erwina. Pegangan itu amat kuat sehingga Erwina sama sekali tak bisa memberontakkan tangannya, dan perlahan-lahan, sambil terus menangis putus asa, Erwina pun dengan sinar mata penuh ketakutan melihat ketika jarum suntik itu menusuk tangannya dan cairan yang ada di dalamnya perlahan-lahan mulai disuntikkan masuk ke dalam pembuluh darahnya. Rasanya sakitnya melebihi disuntik ratusan kali bagi Erwina, dan sungguh Erwina belum siap untuk mati sekarang, dan dia terus saja menghiba.

“Kamu… sudah… berjan…ji…” kata Erwina lemah.

Perlahan-lahan Erwina merasa suaranya mulai menghilang dan tubuhnya seolah mendingin. Seluruh urat dan saraf di tubuhnya pun seolah terasa mulai dimatikan perlahan-lahan, semua terasa kebas, dan dia menjadi semakin lemah. Tangan dan kakinya kali ini sudah tak bisa dia rasakan, apalagi digerakkan. Bahkan kini untuk menggerakkan kelopak matanya saja Erwina tak mampu, napasnya terasa sesak dan bibirnya kelu sementara lidahnya menjadi kaku.

Dan Erwina melihat Sang Pemimpin tengah berdiri memandangnya. Ruangan itu terasa makin lama makin gelap dan pandangan matanya semakin kabur, membuatnya sudah tak bisa melihat apa-apa lagi. Sejenak kemudian, Erwina sudah terdiam kaku tak bergerak, matanya masih setengah terpejam sementara tetes air mata terakhir berjuang keluar dari matanya. Sang Pemimpin pun menempelkan tangannya ke wajah Erwina dan menutup mata Erwina dengan sempurna.

“Recquiescat in pace,” kata Sang Pemimpin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...