The Puzzle
CHAPTER XIII
The Puzzle
Beberapa bulan sebelumnya
Ruang Rapat Kerja Komisi I
Gedung DPR-MPR
Jakarta
11.06 WIB
Suasana ketegangan terasa pada ruangan rapat ini, dan anggota Komisi I tampak bersiap-siap sebelum mendengarkan pemaparan dari Menteri Pertahanan Marius Tinangon. Beberapa anggota dewan tampak tak mengerti mengapa mereka harus tetap di sini dan hadir dalam rapat ini, karena pemaparan ini tak akan jauh berbeda dari dua pemaparan selanjutnya, nyaris tak ada yang baru. Walaupun begitu, ada satu hal yang menahan mereka supaya tidak pergi lebih awal atau pun terlihat mengantuk; ya, pada rapat tertutup ini, Presiden Hariman Chaidir sendiri ikut pula hadir di sana.
Dalam dua rapat tertutup sebelumnya, Menhan Marius Tinangon telah menjelaskan dengan semua pemaparan dan data-data yang dia miliki, memakai penjelasan yang paling rasional dan persuasif yang bisa dia kerahkan, namun entah kenapa pada dua pemaparan sebelumnya pihak DPR terutama Komisi I masih saja terkesan belum puas. Ini sedikit banyak membuat jajaran kabinet bidang pertahanan dan keamanan pusing bukan kepalang. Kenapa? Karena persetujuan DPR diperlukan dalam hal ini, karena memang telah sebelumnya disyaratkan. Dan rapat ini adalah untuk membahas mengenai KRI Antasena yang pada saat ini tengah bersiap untuk menjalani tes akhirnya. Akibat urgennya dari masalah inilah maka pada rapat tertutup ketiga ini, Presiden Chaidir memutuskan untuk turun langsung menanganinya, sebuah hal yang sebenarnya di luar kelaziman.
“Boleh saya mulai sebelumnya,” kata Fariz Hamzah, ketua dari Komisi I,
“dengan mengatakan bahwa sebenarnya Anda tak perlu datang kemari, Tuan Presiden, seharusnya cukup dengan kehadiran Pak Marius dan Laksamana Salampessy saja; beserta staf, untuk menjelaskan dengan kami,”
“Kalau boleh saya perjelas, Tuan Fariz, apabila dua rapat sebelumnya berjalan lancar; maka saya pun tak akan ada di sini pada hari ini,” kata Pres. Chaidir,
“tapi saya dengar bahwa pihak Komisi I mempersulit Pak Marius di sini pada dua rapat sebelumnya; dan mengingat pentingnya masalah ini, maka mau tak mau saya harus datang hari ini,”
“Sungguh, Tuan Presiden, walaupun saya merasa terhormat dengan kehadiran Anda di sini; tapi ini memang tidak perlu,” kata Fariz Hamzah,
“kami dari Komisi I dengan Tuan Marius di sini hanya masih belum mencapai kesepahaman soal beberapa hal, andai saja sebelumnya Tuan Marius mau menjelaskan mengenai beberapa hal yang masih kami pertanyakan…”
“Sudahlah, Tuan Fariz, kita mulai saja dan tak ada gunanya untuk membuang waktu dalam keadaan seperti ini,” kata Pres. Chaidir dengan nada tinggi,
“saya sudah mempelajari semua notulen dan laporan dari dua rapat Kementerian Pertahanan dengan Komisi I sebelum ini; dan saya tak melihat ada masalah dari pemaparan Kementerian Pertahanan; oleh karena itu saya ingin tahu apa yang sebenarnya menghambat dikeluarkannya persetujuan dari Komisi I,”
Fariz Hamzah tidak menjawab, hanya kemudian menatap sejenak mata Pres. Chaidir yang tampak seolah tengah dipenuhi oleh api yang menyala-nyala.
“Baiklah, kalau begitu mari kita mulai rapatnya,” kata Fariz Hamzah,
“atas petunjuk dari Bapak Presiden tentu saja,”
Beberapa orang anggota Komisi I tampak terkikik menahan tawa setelah mendengar perkataan Fariz Hamzah itu. Tapi tak ada tawa serupa dari pihak Kepresidenan. Jelas sekali bagi pihak Kepresidenan, gurauan yang meniru jargon terkenal salah seorang menteri pada masa Orde Baru ini tidaklah lucu.
Menhan Tinangon pun segera memberikan pemaparannya dengan semua orang, termasuk Pres. Chaidir memperhatikan secara serius. Duduk di sebelah Pres. Chaidir adalah Arfa, yang kali ini dibawa oleh Pres. Chaidir untuk menambah “jumlah amunisi” dari pihak Kepresidenan. Misi yang dibawa oleh Pres. Chaidir saat ini memang jelas dan gamblang: persetujuan dari Komisi I DPR harus didapatkan pada hari ini juga, titik!
Selain Pres. Chaidir, Arfa adalah satu-satunya delegasi yang juga tidak hadir dalam dua pertemuan selanjutnya. Namun dia mengetahui pemaparan dari Menhan, karena sebelum dipaparkan di depan Komisi I, Menhan, sebagaimana prosedur, melaporkannya dulu kepada Presiden, dan Arfa kebagian jatah untuk melakukan pengecekan prosedural atas pemaparan tersebut.
Dalam posisinya itu, Arfa jadi tahu bahwa pemaparan Kementerian Pertahanan atas KRI Antasena sudah cukup lengkap dan sesuai prosedur, cukup jelas dan terperinci tanpa harus membocorkan mengenai data-data yang memang sudah seharusnya rahasia. Ini membuat Arfa sedikit bingung, karena apabila semua data lengkap, lalu data apa lagi yang diharapkan oleh DPR yang belum diberikan sehingga menimbulkan ketidakpuasan dalam dua rapat sebelumnya? Satu yang kemudian menjadi kecurigaan Arfa adalah kemungkinan anggota DPR sebenarnya mendesak bahwa data-data yang dirahasiakan harus turut pula dibuka. Tapi apakah mungkin hal semacam itu bisa dilakukan oleh orang sekaliber anggota DPR? Dari Komisi I pula. Arfa tak mau berspekulasi, dan kecurigaannya ini pun tak ia ungkapkan pada Pres. Chaidir.
“Maaf sebelumnya, Tuan Tinangon,” kata seorang anggota Komisi I bernama Muchtar Sandjaya, setelah Marius Tinangon mengakhiri pemaparannya,
“tapi saya tak melihat ada hal baru yang Anda paparkan pada pertemuan kita yang ketiga ini, nyaris sama seperti dua pertemuan sebelumnya,”
“Saya yakin pemaparan saya telah lengkap, Tuan Sandjaya,” kata Marius Tinangon.
“Jujur saja, bagi saya, dan juga teman-teman Komisi I, pemaparan ini masih menimbulkan sedikit ‘pertanyaan’ di dalam benak kami,” kata Muchtar Sandjaya.
“Pertanyaan? Pertanyaan macam apa?” tanya Marius Tinangon,
“silakan ditanyakan dan saya dengan senang hati akan menjawabnya,”
“Pertanyaan pertama dan yang paling utama adalah, mengapa tak ada keterbukaan dalam proyek ini?” tanya Muchtar Sandjaya.
“Bila tak ada keterbukaan, Tuan Muchtar, pasti saya tidak akan ada di sini tiga kali untuk memberikan pemaparan,” sindir Marius Tinangon.
Pernyataan ini disambut dengan kikikan di pihak Kepresidenan, namun tak ada reaksi sama sekali dari pihak Komisi I. Sungguh mengherankan, pikir Arfa, seolah semua orang di sini sudah diset untuk menolak apa pun yang dikatakan oleh Menteri Pertahanan.
“Jangan salah sangka, Tuan Tinangon,” kata anggota Komisi I lain yang bernama Masagung Hadinata,
“tapi kalau boleh saya ingatkan, kami baru menerima kabar mengenai pembangunan KRI Antasena beberapa bulan yang lalu ketika proses produksi telah berjalan; dan kini Anda mengatakan bahwa KRI Antasena akan selesai tanpa selama ini kami diberikan laporan apa pun?”
“Bukan maksud kami untuk menyembunyikan laporan pada DPR, hanya saja secara prosedural, DPR bukanlah berada pada garis pertanggungjawaban,” kata Marius Tinangon,
“dan kami selalu memberikan laporan berkala kepada Presiden,”
“Nah, di sini yang mungkin Anda salah menjabarkannya, Tuan Tinangon,” kata Masagung Hadinata,
“uang yang dipakai dalam pembuatan KRI Antasena adalah uang rakyat, dan bila kami sama sekali tidak tahu mengenai proses pemakaian uang rakyat ini, lalu bagaimana kami bisa mempertanggungjawabkan kepada rakyat? Ingat, Presiden pun harus bertanggung jawab kepada rakyat,”
“Tidak ada penyelewengan dalam proyek KRI Antasena, Tuan Hadinata, kalau itu yang Anda maksudkan,” kata Laks. Danoe Salampessy angkat bicara,
“saya bisa memberi jaminan untuk ini,”
“Sayangnya, Laksamana, ini adalah dunia di mana bukti dan tindakan lebih dihargai dari sekedar jaminan dan pernyataan,” kata Masagung Hadinata,
“dengan tidak melaporkan hal ini pada DPR, maka kami bisa anggap pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertahanan beserta TNI-AL tengah menyembunyikan sesuatu,”
“Anda adalah purnawirawan militer juga, Tuan Hadinata,” kata Laks. Salampessy,
“saya yakin Anda mengerti bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa dibuka begitu saja,”
“Ya, saya mengerti, dan perlu saya ingatkan pula, Laksamana, ini adalah rapat tertutup,” kata Masagung Hadinata,
“dan bila Anda tak mau terbuka pada rapat tertutup ini, artinya sama saja dengan Anda tidak memercayai DPR,”
“Kami sudah terbuka dengan melaporkan hal ini sekarang dan saat ini,” kata Marius Tinangon.
“Apa yang kalian laporkan sebenarnya?” tanya Muchtar Sandjaya,
“data-data ini, maaf saja, bagi saya terkesan absurd; kita membatalkan kontrak pengadaan tambahan 12 kapal selam dari Russia untuk mendanai pembangunan satu jenis kapal selam ini,”
“Sudah saya jelaskan sebelumnya, Tuan Sandjaya, kontrak pengadaan kapal selam itu tidak jelas,” kata Marius Tinangon,
“kita akan dipaksa membayar mahal untuk dua belas kapal yang seharusnya sudah layak untuk masuk museum,”
“Tetap saja mengganti 12 kapal selam untuk sebuah kapal selam apakah itu bijaksana, Tuan Tinangon?” tanya Muchtar Sandjaya,
“apalagi spek-nya kalau menurut kami masih tidak jelas, bukan begitu, Saudara Hadinata? Anda pernah di militer, saya yakin Anda tahu lebih banyak daripada saya yang sipil awam ini,”
“Benar, Saudara Sandjaya, kalau kita lihat di sini ada beberapa fitur yang menurut saya masih terlalu absurd,” kata Masagung Hadinata,
“contohnya yang satu ini, pengalihan sonar aktif, saya koq tidak tahu bahwa alat semacam itu ada? Lalu soal pemasangan alat pendingin ruangan tersentralisasi di dalam kapal selam; apakah ini tidak terlalu mewah?”
“BRAAAK!!!”
Semua orang terkejut mendengar suara meja yang dibanting itu, dan tahu-tahu saja Arfa sudah berdiri dengan mukanya yang merah padam seolah dari tadi dia sudah gemas hendak mengatakan sesuatu.
“Demi Tuhan, Tuan Hadinata, Anda seumur karier Anda di militer tidak pernah sekalipun pernah naik ke dalam kapal selam, saya mohon jangan sekali-kali Anda sok tahu untuk menentukan apa yang harus dan yang harus tidak dipasang di sebuah kapal selam!” teriak Arfa.
“Nona Aryanti, ini bukan kesempatan Anda untuk bicara,” kata Fariz Hamzah,
“ini adalah forum terhormat dan kita punya tata cara untuk mengungkapkan pendapat,”
“Maaf, Saudara Pimpinan Sidang, tapi saya sudah tidak tahan lagi; ini bukanlah pertanyaan yang seharusnya ditanyakan oleh seorang Anggota DPR,” kata Arfa,
“siapa pun tahu bahwa kapal selam masuk ke dalam kategori sebagai senjata strategis, dan oleh karena itu informasi mengenai kapal selam tersebut tidak boleh dibuka terlalu banyak, bahkan kepada publik sekalipun, karena ini sudah menyangkut kelebihan dan kekurangan dalam postur pertahanan negara kita,”
“Nona Aryanti, apakah secara tersirat Anda menuduh kami ingin membocorkan rahasia negara?” tanya Muchtar Sandjaya,
“rasanya itu tuduhan tak berdasar,”
“Kalau begitu berhentilah menanyakan pertanyaan-pertanyaan bodoh, Tuan Sandjaya,” kata Arfa,
“kecuali apabila yang Anda katakan tadi merupakan niatan sebenarnya dari DPR mengadakan sidang ini,”
Perkataan ini tentu saja disambut dengan riuh rendah dan amarah dari anggota Komisi I lain yang ada di sana, beberapa bahkan melemparkan bola-bola kertas dan pulpen ke arah Arfa. Fariz Hamzah pun sampai memukul palu beberapa kali, tapi Arfa tetap bergeming pada tempatnya, berdiri tegar dan menantang.
“Itu tuduhan yang konyol dan tidak berdasar, Nona Aryanti!” kata Masagung Hadinata.
“Buktikanlah, karena seperti kata Anda tadi, bukti dan tindakan lebih dihargai daripada sekadar jaminan dan pernyataan,” kata Arfa,
“dan kesan itulah yang saya tangkap dari tindakan dan pertanyaan dari anggota Komisi I yang terhormat ini,”
“Saya protes, Saudara Pimpinan Sidang!!” kata Muchtar Sandjaya.
“Nona Aryanti, mohon Anda perbaiki sikap Anda, saya peringatkan sekali lagi,” kata Fariz Hamzah.
“Keluarkan saja dia, Saudara Pimpinan Sidang, bagaimanapun juga, urusan Komisi I adalah dengan Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Laut, bukan dengan dia,” kata Masagung Hadinata.
“Maaf, Tuan Hadinata? Saya tak berhak ada di sini, maksud Anda?” kata Arfa,
“saya rasa dengan posisi saya sebagai…”
“Arfa, cukup!!” teriak Pres. Chaidir tiba-tiba.
Semua orang pun terdiam, dan tahu-tahu Pres. Chaidir sudah berdiri di sebelah Arfa, menatap Arfa dengan tatapan mata seolah-olah bagaikan seorang ayah yang marah kepada putrinya yang berbuat lancang.
“Duduk, Arfa,” kata Pres. Chaidir,
“aku tak akan memintamu dua kali,”
“Baik, Pak Presiden,” kata Arfa setengah mendengus.
Arfa pun duduk kembali diiringi dengan koor cemoohan dan sumpah serapah dari para anggota Komisi I.
“Saya meminta sidang ditunda sejenak, Saudara Pimpinan Sidang,” kata Pres. Chaidir ketika suasana sudah mereda.
“Baiklah, kebetulan juga sudah masuk waktu shalat dzuhur, jadi sidang akan saya tunda,” kata Fariz Hamzah,
“tapi saya minta, Saudara Presiden, tolong ingatkan anak buah Anda, karena tidak dalam tempatnya dia berkata seperti itu di depan forum ini,”
“Baik, Saudara Pimpinan Sidang,” kata Pres. Chaidir.
“Baiklah, sidang ditunda selama 30 menit,” kata Fariz Hamzah.
Palu diketuk dan sesi menegangkan itu selesai sudah. Para anggota sidang pun berduyun-duyun meninggalkan ruangan sidang, sekedar untuk sholat dzuhur, minum kopi untuk meredakan ketegangan, ataupun memenuhi panggilan alam.
“Arfa, ikut aku,” kata Pres. Chaidir.
“Baik, Pak Presiden,” kata Arfa.
Presiden Chaidir pun segera meninggalkan ruangan dengan diikuti oleh Arfa yang kini terlihat agak gugup, namun jelas masih mendongkol. Mereka pun menuju ke sebuah ruangan sepi yang agak jauh, dan Pres. Chaidir pun memberi instruksi kepada Paspampres yang mengawalnya supaya tak membiarkan siapa pun mendekati ruangan ini untuk alasan apa pun.
“Apa-apaan itu tadi, Arfa??” tanya Pres. Chaidir dengan amarah yang langsung meledak,
“marah-marah begitu saja di depan anggota Komisi I sambil menuduh mereka berkonspirasi membocorkan rahasia negara??”
“Maaf, Pak Presiden, tapi saya sama sekali sudah tidak tahan!” kata Arfa membela diri.
“Tidak tahan ya, aku mengerti, tapi bukan begitu juga caranya!!” kata Pres. Chaidir,
“kamu adalah anak buahku dan perkataan serta tindakan kamu tadi di dalam sana akan tercermin langsung kepadaku!! Kamu mengerti itu, Arfa!!?”
“Pak Presiden…” kata Arfa.
“Apa kamu mencoba menjelekkan lagi citraku di mata DPR??” kata Pres. Chaidir,
“di tengah suasana Kepresidenan dan DPR yang tengah berseberangan terutama untuk hal yang kita bahas sekarang ini??”
“Maaf, Pak Presiden, bukannya saya bermaksud…” kata Arfa.
“Tidak bermaksud apa!!??” hardik Pres. Chaidir.
Arfa pun beringsut, dan segala keberanian yang tadi dia tunjukkan di depan anggota dewan pun langsung luntur. Entah bagaimana, Presiden Chaidir selalu punya kharisma dan wibawa lebih yang membuat orang seberani Arfa bisa ciut ketakutan. Arfa terduduk di salah satu kursi di dekatnya, kemudian dia tertunduk dan menangis; mirip seperti anak gadis kecil yang baru saja dimarahi habis-habisan oleh ayahnya setelah berbuat sebuah kenakalan. Tanpa dia sadari kemudian, sebuah saputangan sudah disodorkan kepadanya. Arfa mendongak dan dia melihat Pres. Chaidir-lah yang mengulurkan saputangan itu. Urat kemarahan nampaknya sudah menghilang dari wajah Pres. Chaidir, berganti menjadi paras kebapakan yang menenangkan.
“Ambillah,” kata Pres. Chaidir.
“Pak Presiden?” tanya Arfa.
“Ambil dan usap air matamu,” kata Pres. Chaidir.
Arfa pun mengambil saputangan dari Pres. Chaidir itu dan mengusap air matanya. Pres. Chaidir kemudian mengambil sebuah kursi dan duduk di hadapan Arfa.
“Dengar, Arfa, aku sudah mengenalmu sejak kau masih di Lemhanas, dan hingga hari ini aku tidak melihat ada yang berbeda darimu, kau masih seperti seorang wanita besi yang anggun namun juga lugas dan tidak takut untuk mengatakan apa yang menurutmu benar,” kata Pres. Chaidir,
“tapi ini adalah forum yang berbeda, tempat yang berbeda, dunia yang berbeda; banyak hal dalam dunia politik yang mungkin belum kamu kuasai, bahwa di dunia ini, hal yang benar sekalipun bisa menjadi salah bila kau menyampaikannya secara salah,”
“Tetap saja, Pak Presiden, ini bukan sesuatu yang bisa diterima,” kata Arfa pelan.
“Aku tahu, aku pun sama geramnya denganmu, tapi ada hal yang berupa political manner di sini; ada juga Indonesian manner yang harus diperhatikan,” kata Pres. Chaidir,
“di Barat, cara penyampaianmu mungkin masih bisa dihargai, tapi di sini itu sama saja memberi mereka amunisi untuk lebih menekan tidak hanya kamu, tapi juga aku dan seluruh pihak Kepresidenan,”
“Bukan maksud saya seperti itu, Pak Presiden,” kata Arfa.
“Aku tahu, tapi sekali lagi, untuk menghadapi orang-orang seperti mereka, harus membutuhkan cara khusus, cara yang mungkin berbeda dengan yang selama ini kau pelajari,” kata Pres. Chaidir,
“oleh karena itu, alasanku mengajakmu kemari adalah supaya kau bisa belajar apa yang tak kaupelajari di sekolah, kuliah, atau di Lemhanas sekalipun,”
“Maksud Anda berkompromi dengan mereka?” tanya Arfa.
Pres. Chaidir hanya mengangguk ringan.
“Kenapa harus berkompromi dengan mereka? Apa yang harus dikompromikan? Bukankah sudah jelas bahwa Proyek Antasena memiliki kepentingan yang cukup urgen untuk menegakkan dominasi kita di kawasan ini, setidaknya untuk wilayah perairan kita sendiri dan juga di ALKI; dan lagipula ini kapal selam yang benar-benar dibuat oleh Indonesia, meskipun masih dalam supervisi dari tenaga ahli dari Russia,” kata Arfa,
“aku ingat dulu ada anggota Komisi I yang pernah menolak pembelian tank Leopard 2 ex-Belanda kita dengan mengatakan bahwa tank tersebut rongsokan dan PINDAD bisa membuat yang lebih baik, padahal tank itu sendiri masih dalam keadaan prima dan PINDAD sendiri menyatakan belum mampu membuat tank sekelas itu; sekarang kita sudah mampu membuat kapal selam supercanggih dan mereka malah meminta untuk melupakan proyek itu dan alih-alih membeli kapal-kapal selam Russia yang kali ini benar-benar rongsokan! Bicara soal keabsurdan,”
“Omong-omong soal itu, bagaimana kronologis penolakan Kemenhan soal kapal-kapal selam Russia itu sebenarnya?” tanya Pres. Chaidir.
“Tidakkah Tn. Tinangon sudah memberikan laporannya kepada Anda, Pak Presiden?” tanya Arfa.
“Sudah, dan memang sudah kubaca dan kupahami,” kata Pres. Chaidir,
“tapi yang menarik adalah bahwa Marius meminta pendapatmu juga sebelum memutuskan untuk menolaknya; nah, aku ingin dengar pendapat itu sekarang,”
“Baiklah, begini, Pak Presiden, tadinya Tn. Tinangon ingin memakai kapal selam itu sebagai stopgap sebelum Proyek Antasena selesai; lumayan juga, 12 kapal selam kelas Kilo untuk Armada AL sebelum akhirnya kita punya kapal selam supercanggih,” kata Arfa,
“hingga Dubes Russia, Shalimov, tiba-tiba datang ke kantor Kemenhan dan menanyakan apakah Indonesia benar-benar ingin membeli kapal-kapal selam itu; Tn. Tinangon saat itu juga merasa ada sesuatu yang tidak beres, jadi dia memberi tahu saya dan meminta saya untuk melakukan pengecekan administrasi,'
“Lalu?” tanya Pres. Chaidir.
“Kapal selam itu sudah rongsokan, Pak Presiden! Antara manifest asli dengan dokumen yang saya temukan berbeda jauh,” kata Arfa.
“Bukannya itu memang kapal selam bekas pakai dari AL Russia?” tanya Pres. Chaidir.
“Bekas pakai AL Russia apanya?? Itu bekas pakai dari AL India! Dan India pun mendapatkannya secara bekas pakai milik AL Uni Soviet yang direkondisi, namun dalam manifest penawarannya dinyatakan bahwa itu adalah kapal selam kelas Improved Kilo bekas pakai AL Russia yang sudah di-upgrade,” kata Arfa,
“kalau misal itu adalah sebuah tank, saya mungkin masih mau meluluskan, Pak Presiden, tapi untuk kapal selam saya tidak berani; saya tidak ingin membahayakan nyawa pelaut dan awak kapal selam kita! Kilo mungkin memang bagus dan hebat bila dalam kondisi 100%, tapi untuk yang satu ini, bahkan kelas DSME209 kita berkali lipat jauh lebih baik daripada rongsokan Kilo itu!”
“Tapi bagaimana mungkin alutsista semacam itu masih bisa dimasukkan ke dalam daftar belanja kita?” tanya Pres. Chaidir,
“bukankah sudah jelas bahwa kebijakan pembelian alutsista kita adalah…”
“Alutsista terbaru yang digunakan untuk memodernisasi angkatan perang kita, ya Pak Presiden, saya paham soal itu sepenuhnya,” kata Arfa,
“saya pun tak keberatan bila kelas Improved-Kilo bekas pakai AL Russia yang diberikan, tapi ini benar-benar keterlaluan; siapa pun itu, pastinya ada yang memasukkannya ke dalam daftar belanja alutsista meskipun jelas-jelas itu menyalahi prosedur dan berharap bisa lolos,”
“Siapa yang melakukannya?” tanya Pres. Chaidir.
“Andai saja saya tahu, Pak Presiden,” kata Arfa,
“dan yang lebih menjengkelkan lagi, masalah soal kapal selam itu akhirnya diangkat kembali, belum ada 20 menit yang lalu! Untuk apa sih mempermasalahkan soal kapal-kapal rongsokan worthless itu?? Bahkan buat disandingkan dengan DSME209 saja tidak layak, tapi harganya terlalu gila-gilaan untuk seonggok besi tua,”
Pres. Chaidir pun hanya manggut-manggut saja mendengar komplain dari Arfa tersebut. Entah bagaimana Arfa mendapat kesan bahwa sebenarnya Pres. Chaidir sudah mengetahui semua permasalahan ini, dan bahkan mungkin jauh lebih tahu daripada Arfa sendiri. Hanya saja mungkin Pres. Chaidir ingin Arfa melepaskan beberapa hal yang mungkin selama tadi dipendamnya.
“Lalu Si Masagung itu bilang bahwa pemasangan pendingin udara tersentralisasi terlalu mewah untuk sebuah kapal selam, to hell with that, memangnya si jenderal abal-abal itu pernah naik kapal selam waktu berpatroli di siang hari, apa??” kata Arfa,
“hanya butuh 1,3 Milyar untuk pemasangan pendingin udara tersentralisasi di kapal selam Proyek Antasena, dan mungkin mereka lupa kalau baru saja mereka menyetujui upgrade sistem pendingin udara di gedung DPR seharga 7,5 Milyar, padahal dari sini saja kita masih bisa tahu bahwa belum ada yang salah dengan sistem pendingin udara yang sudah ada karena memang baru setahun dipasang; uang sebesar itu bisa untuk memasang pendingin udara tidak hanya di Proyek Antasena tapi juga di seluruh kapal selam kita plus seperempat jumlah kapal perang di Armada Timur!”
“Baiklah, sekarang tenang dulu,” kata Pres. Chaidir,
“walaupun aku menikmati pembicaraan ini, Arfa, tapi jeda waktu 30 menit hampir habis dan aku belum shalat dzuhur; jadi kita lanjutkan lain kali, oke?”
“Baik, Pak Presiden,” kata Arfa.
Presiden Chaidir bangun dari duduknya kemudian memberi sebuah tepukan ramah di bahu Arfa, dan entah kenapa Arfa merasakan tubuhnya menghangat dan pipinya merona merah. Sang Presiden selalu bisa memberikan ketenangan kepada setiap anak buahnya, dan di istana, siapa yang tidak kenal dengan kehangatan sikapnya yang bagaikan bapak bagi anak-anaknya.
“Oh ya, aku ingin bilang sesuatu,” kata Pres. Chaidir,
“saat kita masuk nanti, sebaiknya kau duduk di balkon,”
“Di balkon, Pak Presiden??” tanya Arfa tak mengerti,
“tapi apa Anda masih marah?”
Balkon memang hanya digunakan untuk para pengamat dan di atas sana tidak disambungkan dengan mikrofon sehingga siapa pun yang ada di balkon, secara halus dikatakan bahwa mereka tidak memiliki hak bersuara ataupun urun pendapat. Biasanya balkon dipakai oleh para wartawan yang ingin meliput rapat atau sidang di DPR, tapi karena kali ini adalah rapat tertutup, maka balkon pun dikosongkan, hanya ada beberapa orang anggota Paspampres berpakaian batik di sana, mengingat Pres. Chaidir hadir dalam rapat. Bila Pres. Chaidir menyuruh Arfa ke balkon, berarti Presiden menginginkan Arfa untuk tidak berbicara ataupun berpendapat selama rapat.
“Tidak, Arfa, aku tidak marah,” kata Pres. Chaidir,
“ini supaya kau bisa mempelajari dengan lebih baik,”
“Untuk berkompromi?” tanya Arfa dengan nada curiga.
“Berkompromi,” kata Pres. Chaidir,
“dan menang,”
“Pak Presiden, tolong jangan menyerah soal ini,” kata Arfa,
“Proyek Antasena adalah masa depan negara, dan banyak yang dipertaruhkan, bukan hanya sekedar sebuah kapal selam belaka,”
“Aku tahu, Arfa,” kata Pres. Chaidir sambil tersenyum,
“aku tak berniat untuk menyerah soal ini,”
“Terima kasih, Pak Presiden,” kata Arfa.
“Kau gadis muda paling pemberani dan paling lugas yang pernah kukenal, Arfa, tetaplah seperti itu,” kata Pres. Chaidir,
“Anak muda berperang, dan semua kebaikan peperangan ada dalam diri anak muda; dan orang tua sepertiku berdamai, dan semua keburukan perdamaian ada dalam diri orang tua,”
“Lawrence of Arabia, Pak?” tanya Arfa.
“Kau sudah menontonnya juga? Itu film bagus,” kata Pres. Chaidir.
Pres. Chaidir pun meninggalkan ruangan itu dengan Arfa mengikuti di belakangnya.
Rapat pun akhirnya dimulai kembali ketika semua orang sudah masuk kembali ke dalam ruangan. Arfa, seperti instruksi dari Presiden Chaidir, duduk di balkon, dan dia merasa banyak anggota Komisi I yang menatapnya dengan pandangan mencibir dan dengan raut muka penuh kemenangan, seolah berhasil menyingkirkan Arfa dari forum ini adalah segalanya bagi mereka. Namun Arfa tetap tenang dan terlihat anggun, tak terpengaruh dengan semua cibiran yang ditujukan kepadanya.
“Rapat dengan ini akan dimulai kembali, dan dari pihak Kemenhan, Tuan Tinangon, bila ada yang ingin disampaikan lagi silakan,” kata Fariz Hamzah.
“Interupsi, Saudara Pimpinan Sidang,” kata Pres. Chaidir.
“Tentu saja, silakan, Pak Presiden,” kata Fariz Hamzah.
“Untuk sesi ini, saya sendiri yang akan memaparkan dan menjawab semua pertanyaan dan keberatan, apabila diizinkan,” kata Pres. Chaidir.
“Tapi Pak Presiden, Anda tak harus…” kata Fariz Hamzah agak kebingungan.
“Anda izinkan atau tidak, Saudara Pimpinan Sidang?” tanya Pres. Chaidir tegas.
“Baiklah, semua orang di ruang rapat ini berhak untuk memiliki pendapat, sebagaimana sudah diatur sebelumnya,” kata Fariz Hamzah.
“Terima kasih, Saudara Pimpinan Sidang,” kata Pres. Chaidir.
“Sekarang, apakah Pak Presiden punya sesuatu yang ingin disampaikan sebagai pembuka, tentu saja,” kata Fariz Hamzah.
“Sebenarnya ada, Saudara Pimpinan Sidang, saya hanya ingin menujukan kepada Tn. Sandjaya dan juga Tn. Hadinata, yang sejak tadi sepertinya paling kritis dalam menanyakan soal proyek kapal selam ini,” kata Pres. Chaidir,
“saya catat tadi Anda mengatakan bahwa fitur yang ada dalama kapal selam ini absurd, bukan begitu, Tuan?”
“Ya, itu yang dari kemarin ingin saya katakan, contohnya seperti alat pengalihan sonar aktif ini,” kata Masagung Hadinata,
“sepanjang pengetahuan saya semasa masih di militer, saya belum mendengar bahwa alat ini ada,”
“Hanya karena Anda belum mendengarnya, bukan berarti alat itu tidak ada, Tn. Hadinata,” kata Pres. Chaidir,
“dan seingat saya, saya pernah mendengar soal percobaan Amerika Serikat, Russia, dan Uni Eropa mengenai alat ini beberapa tahun lalu, nah yang ingin saya tanyakan, kalau Anda belum pernah mendengar mengenai alat ini berarti secara tidak langsung Anda mengatakan bahwa Anda tidak melakukan update atas pengetahuan Anda akan alutsista modern, Tn. Hadinata?”
“Omong kosong! Saya melakukan update soal ini!” kata Masagung Hadinata berapi-api.
“Kalau begitu kenapa saya bisa tahu dan Anda tidak, Tn. Hadinata?” kata Pres. Chaidir.
“Itu karena…” kata Masagung Hadinata.
Masagung Hadinata tidak melanjutkan perkataannya, sepertinya dia kehabisan kata-kata untuk membela pendapatnya.
“Saya jelaskan lagi, Tn. Hadinata, seandainya Anda lupa atau masih belum tahu, kebijakan pengembangan alutsista kita adalah untuk membeli alutsista modern untuk memperbarui kekuatan kita,” kata Pres. Chaidir,
“jadi saya amat tidak terima bila Anda merasa keberatan atas pengembangan salah satu alutsista kita sementara Anda sendiri tidak melakukan update yang dianggap perlu yang sejalan dengan kebijakan pengadaan alutsista kita,”
“Saya melakukan update atas pengetahuan saya sendiri, Tuan Presiden!” kata Masagung Hadinata sengit.
“Kalau begitu apa torpedo yang sekarang kita pakai, Tuan Hadinata?” balas Pres. Chaidir.
Masagung Hadinata tampak agak terdiam sejenak.
“Torpedo AEG SUT mark VIII,” jawab Masagung Hadinata dengan nada yang kurang meyakinkan.
Kontan saja menyambut jawaban dari Masagung Hadinata ini, seluruh pihak Kepresidenan meledak tawanya, membuat Masagung Hadinata kebingungan. Pres. Chaidir sendiri hanya bisa menarik napas panjang.
“Sekadar informasi, Tuan Hadinata, torpedo yang kita pakai sekarang adalah torpedo AEG SUT mark XIII,” kata Pres. Chaidir,
“Torpedo mark VIII memang dikembangkan pada saat Anda pensiun dari Angkatan Darat, namun dibatalkan setelah pembuatan purwarupa kedua karena kita memfokuskan untuk mengembangkan Mark X yang lebih canggih sensornya; dan sungguh aneh bila fakta seperti ini saja Anda tidak tahu,”
Suasana pun riuh rendah, dan Masagung Hadinata tampak beringsut tidak bisa menjawab apa-apa seolah dia sudah kena skakmat. Arfa sendiri hanya tersenyum simpul sambil berusaha menyembunyikan supaya raut kemenangannya tidak terlihat oleh anggota Komisi I di bawah sana.
“Saat ini, Tuan Hadinata, Malaysia, Singapura, Australia, India, Vietnam, dan RRC tengah memodernisasi angkatan perang mereka dengan tujuan untuk mengamankan perairan di sekitar perairan kita, dan saya rasa sungguh celaka apabila ada anggota dewan kita yang ternyata masih berpikir 10 tahun ke belakang, sementara saingan-saingan kita sudah jauh melesat ke depan,” kata Pres. Chaidir,
“dan satu lagi soal pendingin udara yang Anda bilang mewah itu, Tuan Hadinata, kalau Anda pernah merasakan bagaimana rasanya berada di dalam sebuah kapal selam waktu berpatroli di dalam air pada siang hari di daerah tropis, tentu Anda tak akan menganggapnya sebagai sebuah kemewahan,”
Keriuhan kembali meledak hingga Fariz Hamzah kembali memukul palu meminta semua untuk kembali tenang. Pres. Chaidir melirik ke arah Arfa sambil tersenyum yang disambut dengan anggukan dari Arfa.
“Baiklah, Pak Presiden, saya tak akan menyoroti soal sistem apa saja yang akan dipasang di dalam kapal selam pada Proyek Antasena ini, saya hanya ingin menanyakan satu hal,” kata Muchtar Sandjaya mengambil alih.
“Silakan, Tn. Sandjaya,” kata Pres. Chaidir.
“Dari semua biaya yang paling besar di sini adalah soal platformnya, untuk riset pengadaan platform baru untuk keseluruhan sistem yang ada,” kata Muchtar Sandjaya,
“kita sudah berhasil membuat kapal selam DSME209 secara mandiri, kenapa kita tidak memakai basis platform dari DSME209 dipakai dengan semua fitur yang ada di sini, saya yakin kapal selam itu kehebatannya bakal sama seperti yang ada di Proyek Antasena dengan penghematan biaya yang cukup besar,”
“Maksud Anda mengintegrasikan sistem baru yang belum ada di DSME209 ke dalam platform DSME209 seperti contohnya mesin baru, propeler baru, sistem penembakan torpedo baru, dan juga sistem peluncuran rudal vertikal?” tanya Pres. Chaidir.
“Ya, itu maksud saya,” kata Muchtar Sandjaya,
“nanti cukup kita namakan sebagai kelas Improved-DSME209 atau apalah itu,”
Pres. Chaidir menggeleng-geleng sejenak dengan raut muka yang tak habis pikir.
“Tn. Sandjaya, kalau misal bajaj saya beri AC kemudian leather seat, dan power window serta audio-visual system, Anda mau memakainya sebagai mobil dinas Anda?” tanya Pres. Chaidir.
“Maksudnya apa, Pak Presiden?” tanya Muchtar Sandjaya.
“Ya sebuah bajaj, saya berikan semua hal itu; bukankah itu bakal sama nyamannya dengan sebuah Mercedes Benz seri terbaru seperti yang sekarang menjadi mobil dinas DPR,” kata Pres. Chaidir.
“Anda bercanda, Pak Presiden? Anda suruh kami memakai bajaj sebagai kendaraan operasional? Anda pikir kami ini siapa??” kata Muchtar Sandjaya,
“meskipun senyaman Mercy tapi bajaj ya bajaj, dan bukan Mercy, dan itu tidak bisa kemudian disatukan begitu saja; itu tidak pada tempatnya,”
“Kalau begitu sebaiknya berhentilah untuk mencoba memasangkan platform DSME209 dengan semua sistem baru kita, karena itu juga tidak pada tempatnya!” kata Pres. Chaidir sengit,
“apa Anda pernah tahu bagaimana sulitnya untuk mengintegrasikan sebuah sistem baru ke dalam sebuah kapal selam yang lama tanpa harus mengubah platform?? Mengintegrasikan satu saja harus melakukan perhitungan ulang atas semuanya, apalagi ini hampir seluruh sistem yang ada adalah baru; wajar kalau kemudian kita membuat platform yang baru juga,”
Saat itu juga mulut Muchtar Sandjaya terkatup dan seperti halnya Masagung Hadinata, dia pun terkena skakmat oleh Pres. Chaidir.
“Saudara-saudara Komisi I sekalian, saya hanya ingin mengatakan bahwa memiliki kapal selam dari Proyek Antasena ini bukanlah sebuah kemewahan namun sebuah kebutuhan yang harus kita miliki secepatnya; saya tahu pernah ada salah satu anggota Komisi I di sini yang mengatakan bahwa kita tak membutuhkan alutsista canggih mempertimbangkan bahwa kita tak akan menghadapi perang untuk 50 tahun ke depan; dan saat ini saya katakan bahwa pendapat itu salah besar,” kata Pres. Chaidir,
“kita menghadapi potensi segala macam konflik mulai dari kecil, menengah, hingga besar bahkan dalam beberapa bulan terakhir, dan setiap kali pihak lawan kita berhasil seolah selalu mencobakan alutsista mereka yang setiap kali selalu lebih canggih daripada sebelumnya; jadi bila kita tidak ikut berkembang dan ikut maju juga, maka 50 tahun kemudian ketika lawan kita sudah siap untuk berperang, di mana posisi kita??”
Semua orang pun terdiam, menyimak apa yang dikatakan oleh Pres. Chaidir.
“Demi kedaulatan kita sendiri, supaya orang tidak meremehkan kita, dan supaya kita bisa menjaga setiap jengkal tanah dan air Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka saya meminta supaya saudara-saudara anggota Komisi I mengesampingkan kepentingan pribadi dan memilih apa yang baik bagi bangsa dan negara ini,” kata Pres. Chaidir,
“Proyek Antasena bukan sekadar proyek pembuatan kapal selam belaka, tapi ini adalah proyek yang menentukan masa depan bangsa ini; bila kita berhasil, maka kita akan selangkah lebih dekat pada cita-cita kita dalam menjaga setiap jengkal wilayah laut Republik Indonesia,”
Semua seolah tertegun mendengar perkataan Pres. Chaidir itu. Ada beberapa orang anggota Komisi I yang mengangkat tangannya hendak bertepuk tangan, namun melihat sekelilingnya tidak ada yang bereaksi, mereka pun lalu dengan canggung bersikap seolah-olah ingin menggaruk kepala atau melihat arloji yang mereka pakai.
“Saya rasa, benar apa yang dikatakan oleh Presiden,” kata salah seorang anggota Komisi I yang bernama Effendi Hasibuan,
“kita harus kesampingkan dulu ego dan kepentingan kita masing-masing dan bersama-sama bekerja membangun negara; bukankah itu juga cara kerja dari DPR, selaras dengan pemerintah?”
“Maaf, Saudara Hasibuan, tapi seingat saya adalah kewajiban DPR untuk kritis terhadap kebijakan pemerintah,” kata anggota Komisi I lain bernama Abdul Sofyan,
“jadi saya kira ini pun bukan sebuah pengecualian,”
“Kenapa kita tidak bisa membuat pengecualian untuk masalah yang berhubungan dengan kedaulatan bangsa?” tanya Effendi Hasibuan,
“ini, bagaimana pun juga, adalah masalah penting yang berhubungan dengan kedaulatan bangsa; kita akan melangkah cukup jauh dengan kapal selam ini, dan saya yakin akan itu,”
“Ya, justru karena kita akan melangkah terlalu jauh itu, Saudara Effendi, pengawasan dan kekritisan kita menjadi lebih penting dari biasanya; saya tidak anti pada modernisasi alutsista kita, dan saya mendukung 100% kita memiliki kapal selam supercanggih yang tidak kalah dengan kapal selam milik negara-negara besar; tapi saya hanya ingin pertanggungjawaban dalam proyek ini jelas, bahwa barangnya juga benar-benar secanggih seperti yang dikatakan,” kata Abdul Sofyan,
“jangan sampai nanti proyek kita seperti proyek serupa di India, tidak ketahuan kapan selesainya tapi dana terus saja mengucur; juga jangan sampai kejadian tank ringan harga MBT pun terulang kembali; saya yakin ini wajar,”
“Benar, Tn. Sofyan, itu cukup wajar dan saya bisa menerimanya,” kata Pres. Chaidir,
“lalu apakah Tn. Sofyan punya solusi bagaimana untuk masalah pertanggungjawaban itu?”
“Sebenarnya ada, bagaimana kalau Komisi I menyertakan satu orang staff ahli dalam pelayaran perdana dari kapal selam hasil Proyek Antasena?” kata Abdul Sofyan,
“hanya sebagai pengamat saja, dia tidak akan mengganggu atau mencampuri apa yang bukan urusannya, hanya untuk melihat bahwa kapal selam ini benar-benar secanggih yang dikatakan; laporannya nanti kepada kami hanya berupa ya atau tidak dan kami tak akan meminta laporan yang terperinci; Kemenhan juga boleh memeriksa laporannya sebelum kami lihat bila memang mau,”
Arfa terhenyak mendengar permintaan ini. Bukan hanya Arfa tentunya, tapi juga semua orang yang ada di pihak Kepresidenan dalam hal ini. Arfa sendiri paham bahwa saat Komisi I mulai kalah, mereka tentu akan menawarkan sebuah kompromi, hanya saja Arfa tak menduga bahwa hal inilah yang mereka tawarkan.
“Saya cenderung setuju akan usul itu,” kata Fariz Hamzah,
“sebelum kami memberikan persetujuan, maka kami harus tahu dulu bahwa barangnya memang seperti yang dikatakan; kita harus menarik pelajaran bukan?”
Sepertinya semua orang yang mendukung Pres. Chaidir hendak berdiri dan memprotes, persis seperti yang Arfa lakukan beberapa saat yang lalu, bahkan bila dia diberi mikrofon, Arfa pun akan melakukan hal yang sama. Akan tetapi Pres. Chaidir melihar ke arah semua orang yang ada di sekitarnya, dan memberi isyarat non-verbal supaya mereka tak melakukannya. Jadilah semua orang yang ada di sana mukanya merah padam seolah tengah memendam sebuah gunung api yang siap untuk diledakkan. Reaksi yang wajar, pikir Arfa, dan semoga saja Pres. Chaidir tahu apa yang beliau lakukan.
“Saya akan memberi jaminan langsung dan memilih orang saya sendiri yang benar-benar saya, dan kami percayai, Saudara Presiden,” kata Fariz Hamzah,
“jadi Anda dan juga pihak Kemenhan serta Angkatan Laut tak perlu khawatir,”
“Saya setuju dengan usulan Anda itu, Saudara Pimpinan Sidang,” jawab Pres. Chaidir.
Segera saja gunung api yang ditahan oleh masing-masing orang ini pun meledak, namun demi menghormati Presiden, maka ledakannya hanya dipendam saja, dan lava pun meleleh tanpa meletus dengan dahsyat. Beberapa orang tampak geram, dan Arfa melihat ada yang diam-diam memukul pahanya sendiri, mencakar meja, bahkan ada yang merobek serta meremas-remas dokumen yang dibawanya saking gemasnya. Marius Tinangon dan Laks. Danoe Salampessy sendiri hanya menggenggam dan meremas tangan saja dengan getaran dan remasan yang lebih kuat daripada orang yang menggenggam tangan biasa. Permainan apa yang tengah dimainkan oleh Pres. Chaidir?
“Bagus sekali, Saudara Presiden, saya akan memilih orang kami segera,” kata Fariz Hamzah,
“dan saya ingin orang kami ini nanti tidak akan dipersulit,”
“Dia tak akan dipersulit, saya berjanji,” kata Pres. Chaidir,
“demi semua urusan bisa berjalan dengan lancar,”
“Ya, tentu saja, Saudara Presiden,” kata Fariz Hamzah,
“supaya semua urusan bisa berjalan dengan lancar,”
“Bahkan untuk menjamin itu, saya juga akan meminta salah satu kru stasiun TV untuk turut serta juga dalam pelayaran perdana Proyek Antasena,” kata Pres. Chaidir enteng.
Dan kali ini setelah gunung meletus, petir pun menyambar dengan dahsyat. Bukan hanya pada orang-orang di pihak Kepresidenan, melainkan juga di pihak Komisi I. Mengirimkan pula kru dari salah satu stasiun TV untuk turut serta dalam pelayaran proyek yang seharusnya menjadi proyek rahasia? Entah apakah ini sebuah permainan ataukah lelucon. Arfa sendiri tidak bisa menahan kegeramannya melihat semua lakon sandiwara ini, dan berdiri sembari menatap garang pada Pres. Chaidir. Pun Pres. Chaidir tetap bersikap seolah-olah tak ada yang salah dengan perkataannya itu.
“Tapi Saudara Presiden, itu adalah…” kata Fariz Hamzah kehabisan kata-kata.
“Kita tidak bisa melakukan itu, Pak Presiden!” kata Masagung Hadinata kembali angkat bicara,
“ini sama saja dengan membuka rahasia negara,”
“Dari tadi Anda sudah bicara soal keterbukaan, Tuan Hadinata, lalu keterbukaan apa yang lebih baik dari ini?” tanya Pres. Chaidir.
“Tapi bukan keterbukaan seperti ini,” kata Masagung Hadinata,
“terbuka pada kami, oke, tapi pada orang banyak??”
“Kenapa DPR harus mempermasalahkan apa yang boleh dan tidak boleh diketahui oleh rakyat sementara DPR sendiri adalah wakil rakyat,” kata Pres. Chaidir,
“jika wakil rakyat tahu, lalu kenapa rakyat kebanyakan tak boleh tahu juga? Bila kami menunjukkan rahasia pada DPR, sama saja seperti menunjukkan rahasia pada rakyat, jadi kenapa tak sekalian saja dibuka secara umum supaya khalayak pun bisa tahu dan menilai,”
“Tapi Anda tak bisa melakukan itu!” kata Abdul Sofyan sengit.
“Seingat saya, kapal selam Proyek Antasena adalah proyek bersama Kemenhan dengan TNI-AL; dan seingat saya pula Kemenhan berada di bawah Kepresidenan dan TNI-AL di bawah TNI yang mana saya adalah panglima tertingginya,” kata Pres. Chaidir,
“jadi ya, sebenarnya saya bisa dan berhak untuk melakukan itu, Tuan Sofyan, dan juga siapa pun yang akan menanyakan pertanyaan yang serupa,”
“Saudara Presiden, sebelum semua kegilaan ini berlanjut, saya ingin mengingatkan pada Anda, bahwa beberapa waktu lalu pemerintah Malaysia pernah mengizinkan pers dan blogger untuk masuk ke dalam kapal selam mereka, KD Tun Razak, dan berakibat pada bocornya foto-foto yang seharusnya berstatus rahasia, dan akhirnya menjadi bahan olok-olokan dari salah satu forum komunitas terbesar kita,” kata Fariz Hamzah,
“dan saya tak ingin kita menjadi olok-olokan serupa dari forum komunitas negara tetangga soal masalah ini,
“Tenanglah, Saudara Pimpinan Sidang, saya akan mencegah supaya hal itu tak terjadi,” kata Pres. Chaidir,
“kita hanya ingin memperlihatkan pada rakyat sekilas atas sebuah proyek yang sudah selayaknya menjadi kebanggaan mereka; tapi tidak akan terlalu banyak yang membuat kita bisa jadi olok-olokan dari negara sahabat; lagi pula dengan semua spek yang ada pada Proyek Antasena, saya yakin tak akan ada yang berani untuk mengolok-olok kita,”
Perang urat saraf pun terjadi lagi antara Presiden Chaidir dengan anggota Komisi I DPR. Fariz Hamzah hanya melihat ke mata Presiden, berusaha untuk bisa bersabar atas usul yang menurutnya cukup gila ini. Dia lalu menarik napas panjang sejenak.
“Baiklah, Saudara Presiden, rasanya cukup adil,” kata Fariz Hamzah,
“kami menyertakan orang kami, Anda menyertakan orang Anda,”
“Bukan orang saya, Saudara Pimpinan Sidang, tapi mata bagi rakyat,” kata Pres. Chaidir,
“karena itulah yang menjadi tanggung jawab kita bersama, bukan?
“Benar, Saudara Presiden,” kata Fariz Hamzah masih dengan nada mendongkol.
“memang benar perkataan Anda,”
“Bagaimana kalau kita selesaikan saja semua ini di sini?” tanya Pres. Chaidir.
“Baiklah, bila tak ada lagi yang ingin ditanyakan,” kata Fariz Hamzah,
“kita akan mengambil keputusan masalah Proyek Antasena,”
Hasilnya memang seperti dugaan, akhirnya Komisi I DPR menyetujui mengenai Proyek Antasena, dengan semua renik-renik yang ada di dalamnya. Namun bukan itu yang menjadi perhatian Arfa. Adanya dua pihak luar di dalam sebuah proyek yang seharusnya adalah rahasia itulah yang terus mengganggu pikirannya. Arfa segera turun dari balkon segera setelah rombongan Presiden meninggalkan ruangan sidang dan bertekad untuk menanyakan hal ini secara langsung.
“Pak Presiden…” kata Arfa.
“Jangan di sini, Arfa, di mobil,” kata Pres. Chaidir seolah tahu apa yang ingin dikatakan oleh Arfa,
“dan Laksamana Salampessy, kau ikut di mobilku juga,”
“Siap, Pak Presiden,” kata Laks. Danoe Salampessy yang baru saja menutup teleponnya.
Rombongan pun, dengan dikawal Paspampres menuju ke konvoi mobil yang sudah siap diparkir di depan pintu keluar gedung DPR-MPR. Alih-alih naik ke mobil Mercedes-Benz, Pres. Chaidir memilih naik ke Alphard yang bisa memuat banyak orang. Alphard itu memang didesain sehingga bagian dalamnya mirip dengan limousin. Tentu saja pengamanan Alphard ini standar dengan kendaraan Kepresidenan yang lain. Baru setelah konvoi keluar dari kompleks gedung MPR-DPR, Pres. Chaidir mulai buka suara.
“Sekarang, Arfa, apa yang ingin kautanyakan?” tanya Pres. Chaidir.
“Banyak, dan tanpa mengurangi rasa hormat, permainan apa yang sedang Anda mainkan saat ini, Pak Presiden?” tanya Arfa.
“Ini bukan permainan, aku hanya membuat sebuah counter-balance; kita membutuhkan persetujuan dari DPR secepatnya,” kata Pres. Chaidir,
“Proyek Antasena sudah tidak bisa ditunda lagi,”
“Dengan mengizinkan orang luar masuk ke dalam proyek yang seharusnya berstatus amat rahasia?” tanya Arfa,
“maaf, Pak Presiden, tapi dalam hal ini saya cenderung setuju dengan Pak Hamzah,”
“Bila saja kita tak harus membutuhkan persetujuan dari DPR, normalnya aku tak akan mengizinkan hal semacam ini terjadi, tapi sekali lagi, bila aku bersikeras memaksakan pendapatku, sebenar apa pun, kita akan kembali ke lingkaran setan lagi,” kata Pres. Chaidir,
“dan ini sudah bukan waktunya untuk berkutat di tataran itu,”
“Baiklah, soal orang dari Komisi I, saya bisa terima, tapi kenapa harus melibatkan pihak sipil seperti kru TV?” tanya Arfa,
“apakah Anda tak ingat dengan…”
“Aku ingat dengan kasus KD Tun Razak, Arfa, bila itu adalah maksudmu,” kata Pres. Chaidir,
“dan percayalah, kali ini kejadian serupa tak akan terjadi; rakyat dan pihak lain hanya akan melihat kehebatan kapal selam kita, tapi bukan celah dan kelemahannya,”
“Apakah itu mungkin?” tanya Arfa,
“itu membutuhkan pers yang khusus,”
“Memang, harus netral namun tidak terlalu netral, tapi bersahabat dengan kita, aku tahu,” kata Pres. Chaidir,
“yang mana itu sedang diurus oleh Laks. Salampessy,”
“Sudah diputuskan, Pak Presiden,” jawab Laks. Salampessy,
“Laksdya. Sihombing merekomendasikan juga stasiun TV itu, dia mengenal salah satu redakturnya dengan baik,”
“Maksud Anda NewsTV, Laksamana?” tanya Arfa,
“apakah ini terkait soal kasus Selat Ombai dulu itu?”
“Saya tak ingin menganggap bahwa kasus Selat Ombai hanyalah kebetulan belaka, Nn. Aryanti, karena pada kenyataannya berkat merekalah kami bisa menemukan kapal siluman itu,” kata Laks. Salampessy,
“bila ada yang bisa dipercaya, pasti hanya mereka; lagi pula selama ini NewsTV cukup netral dalam setiap pemberitaannya, bahkan beberapa kali cenderung membela kita,”
“Jadi seharusnya tidak ada masalah, ‘kan?” tanya Pres. Chaidir.
“Seharusnya tidak ada masalah, Pak,” kata Laks. Salampessy,
“mereka pasti mau mengikuti prosedur apa pun yang kita terapkan,”
“Kalaupun benar kru TV yang akan kita kirim ke sana bisa dipercaya, bisakah Bapak menjelaskan mengapa kita sampai harus mengirim kru TV ke sana?” tanya Arfa.
“Meskipun Pak Hamzah sendiri sudah menjaminnya, secara pribadi aku masih tidak yakin bahwa orang yang akan diikutkan oleh Komisi I tidak akan macam-macam, bisa jadi laporannya malah akan membuat kerumitan dalam rapat kerja selanjutnya,” kata Pres. Chaidir,
“Komisi I tak akan mau menerima laporan yang hanya berisi ya atau tidak saja, karena jika mereka mau, pastinya itu akan dijadikan sebagai amunisi untuk menjegal kita pada rapat berikutnya,”
“Jadi dengan membuka pada khalayak…” kata Arfa.
“Khalayak akan tahu bahwa ada kapal selam supercanggih yang tengah dibuat, dan perkembangannya setelah itu akan dimonitor terus oleh pers,” kata Pres. Chaidir.
“Sehingga mengurangi kemungkinan Komisi I untuk menjegal tahapan selanjutnya, begitu Pak Presiden?” tanya Arfa,
“karena mereka harus terlebih dulu berhadapan dengan opini publik,”
“Kurang lebih begitu, Arfa,” kata Pres. Chaidir.
“Dengan kerahasiaan proyek ini sebagai gantinya?” tanya Arfa.
“Tidak ada kompromi yang tak berisiko,” kata Pres. Chaidir,
“tapi risiko terbongkarnya kerahasiaan itu lebih kecil bila dibandingkan proyek ini mengalami hambatan birokrasional,”
“Aku tak suka dengan semua perkembangan ini, Pak Presiden,” kata Arfa.
“Aku juga,” kata Pres. Chaidir,
“tapi harus ada yang mengambil langkah yang tak enak demi hari esok yang lebih baik,”
Present Day
Bina Graha
07.09 WIB
H minus 27:22:00
Arfa terbangun ketika tiba-tiba dia mendengar sebuah keributan kecil. Ada orang berlalu-lalang dan berbisik-bisik di depan pintu ruangannya. Dia pun baru sadar bahwa dia telah tertidur, mungkin dia terlalu kelelahan akibat telah non-stop mengawal perkembangan kasus ini. Meja masih seperti ketika dia terakhir kali melihatnya sebelum tidur, entah jam berapa dia tidak tahu. Hanya saja mimpi mengenai kejadian beberapa bulan lalu jelas membuat Arfa kembali berpikir. Ada apa dengan mimpi itu?
Pintu pun terbuka, dan masuklah Sam, yang tampaknya agak terkejut melihat Arfa sudah bangun.
“Nn. Aryanti, sudah bangun?” tanya Sam.
“Ya, Sam, ada apa?” tanya Arfa.
“Anda diminta ke ruang strategis segera, saat ini,” kata Sam.
“Ada apa?” tanya Arfa.
“Mereka sudah tiba di ground zero, Nn. Aryanti,” jawab Sam takut-takut.
“Siapa? Gugus tempur KRI Keumalahayati?” tanya Arfa.
“Bukan, Armada Australia, kemungkinan dipimpin oleh kapal perang HMS Amphitrite,” kata Sam.
“Apa??” Arfa pun sampai terloncat bangung saking terkejutnya.
Semenjak awal memang Arfa sudah menduga bahwa Armada Australia akan memenangi perlombaan siapa yang lebih dulu mencapai ground zero. Keharusan gugus tempur KRI Keumalahayati untuk mengisi bekal dan persenjataan menjadi faktor utama keterlambatannya untuk mendukung KRI Ternate dan KRI Harimau dalam melacak KRI Antasena. Fakta bahwa Australia mengerahkan HMS Amphitrite, kapal fregat besar dari kelas Poseidon membuatnya semakin gusar, karena secara di atas kertas, tidak ada kapal perang milik TNI-AL satu pun yang setanding dengan kapal kelas Poseidon, kecuali apabila perusak dari kelas Yos Sudarso sudah selesai dibuat nanti.
“Apa semua sudah berkumpul?” tanya Arfa.
“Sepertinya sudah dimulai,” kata Sam.
“Apa?? Um gotteswillen!!” sumpah Arfa, “kenapa tak kaubangunkan aku lebih awal??”
“Kata Presiden, bila Anda masih tidur, saya disuruh membiarkan lima menit lagi, karena Presiden mengatakan bahwa Anda butuh istirahat,” kata Sam.
“Verdammt! Siapa yang bisa istirahat bila ada kejadian semacam ini??” jerit Arfa.
Tiba-tiba Arfa membuka blazer dan kemudian kancing blus-nya serta dengan cuek dia melepaskan pakaiannya dengan hanya memakai bra saja sebagai penutup tubuh bagian atasnya yang kini sudah terbuka. Sam sendiri gelagapan melihat pemandangan seperti ini.
“Ada apa, Sam? Belum pernah melihat tubuh wanita?” tanya Arfa setengah ketus.
“Nona…” kata Sam.
“Tak ada yang menyuruhmu tetap di sini, keluarlah,” kata Arfa.
“Oh… iya…baik,” kata Sam, yang langsung keluar dari ruangan itu.
Arfa menyusul keluar dua menit kemudian, sepertinya sudah memakai baju yang berbeda dari baju yang dia pakai sebelumnya, dan wangi deodoran pun menyerbak keluar dari tubuhnya. Arfa memberi isyarat dan Sam segera mengikutinya, meskipun masih tertunduk dengan muka yang merah padam. Mereka pun segera menuju ke ruang strategis yang memang terletak tak jauh.
Saat Arfa masuk ke ruang strategis, Laks. Salampessy tampak tengah menerangkan suasana terakhir di ground zero. Semua berhenti sejenak saat Arfa masuk dan mengambil tempat duduk. Seorang ajudan segera memberikannya sebuah taklimat untuk dibaca. Pres. Chaidir yang juga hadir di sana mengangguk kepada Arfa sejenak.
“Kita bisa mengulanginya untuk Anda, Nn. Aryanti,” kata Laks. Salampessy.
“Tidak usah, Laksamana, saya cukup membaca ini saja, silakan lanjutkan,” kata Arfa.
“Baiklah, jadi posisi gugus tempur KRI Malahayati ada di titik ini, sementara kontak terakhir antara KRI Ternate dengan Armada Australia diperkirakan baru terjadi beberapa menit lalu,” kata Laks. Salampessy,
“mengasumsikan tak akan ada yang terjadi, gugus tempur KRI Keumalahayati akan sampai di ground zero dalam tempo 1,5 jam lagi,”
“Kita tak punya waktu 1,5 jam lagi, Laksamana,” kata Mars. Kambu,
“aku akan perintahkan wing H-6 kita untuk berangkat sekarang juga; masing-masing sudah dibekali 4 rudal antikapal yang bisa menenggelamkan fregat-fregat Australia itu dari jarak 1.200 km,”
“Mengingat keefektifan Phalanx milik kapal-kapal Australia, peluang keberhasilan kita untuk menenggelamkan seluruh kapal mereka hanya 60%, Marsekal Kambu,” kata Arfa,
“satu dan lain hal, ini akan memprovokasi perang antara dua negara,”
“Bila Australia dan Indonesia berperang, Nn. Aryanti, bagaimana peluang kita?” tanya Pres. Chaidir.
“Bila kita bisa berhemat dengan semua kekuatan pemukul strategis kita, Marsekal, ditambah dengan sedikit keberuntungan, kita bisa menahan kelajuan serangan mereka di beberapa titik di pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara,” kata Arfa, “tapi kita jelas akan kehilangan Papua bila garnisun di sana masih belum diperkuat dengan tank-tank utama dan artileri antipesawat yang lebih mumpuni,”
“Jadi Australia akan berhasil mendarat di tanah kita, Nn. Aryanti?” tanya Pres. Chaidir.
“Sayangnya begitu, Pak, dan belum ada cara bagi kita untuk bisa membawa api pertempuran ke tanah Australia kecuali kekuatan pemukul strategis kita masih utuh semua,” kata Arfa,
“kita bisa melakukan serangan terobosan ke Sydney atau Canberra, atau melakukan serangan intensif ke Perth dan Port Darwin untuk melemahkan dua pangkalan aju Australia di sana; setelah itu baru kita menunggu,”
“Menunggu?” tanya Mars. Kambu,
“menunggu apa?”
“Menunggu tawaran gencatan senjata,” kata Arfa,
“atau hancur,”
“Jelaskan,” kata Pres. Chaidir.
“Perang dengan Australia jelas akan membuat Amerika Serikat turun tangan untuk membantu Australia; bila kita tidak bisa segera melemahkan kekuatan Australia di sebelah barat, maka ketika nanti Amerika Serikat menyerang, kemungkinan dari Guam, maka kekuatan kita akan terpecah untuk menangani medan pertempuran di utara dan selatan,” kata Arfa,
“untuk saat ini, skenario itu tidak bisa diterima, mengingat jumlah kekuatan kita yang belum cukup untuk mengobarkan peperangan total di dua front sekaligus,”
Suasana mendadak menjadi hening, dan seolah sebuah pikiran berat telah ditimpakan kepada forum itu.
“Melawan Australia sendiri, kita punya kesempatan untuk menang, tergantung bagaimana kita akan mengorganisasikan seluruh asset tempur kita,” kata Arfa,
“tapi bila Amerika Serikat sampai turun tangan, maka tidak ada harapan; mereka bisa melakukan serangan ke empat front di negara kita secara simultan tanpa kita bisa berharap untuk melakukan pembalasan, selain untuk kemudian terseret ke dalam perang gerilya berkepanjangan,”
“Estimasi kerugian?” tanya Pres. Chaidir pelan.
“Katakanlah, bila Amerika Serikat mau berbaik hati dan pergi,” kata Arfa,
“mungkin tak banyak yang akan tersisa bagi kita untuk menapak kembali; menang atau kalah, kita akan tetap binasa,"
Keheningan pun kembali mencekam. Indonesia tengah dalam posisi untuk bangkit dan memperkuat kembali kekuatan alutsistanya, jelas bukan skema yang ideal bila saat ini harus melakukan perang melawan salah satu kekuatan militer terbesar di dunia, Amerika Serikat. Ditilik dari sudut pandang mana pun, pemaparan Arfa tadi masuk akal.
“Bagaimana cara menghindari risiko itu?” tanya Pres. Chaidir.
“Sebelumnya aku ingin bertanya, Laksamana,” kata Arfa
“sudah terjadi kontak tembak, kah?”
“Sebenarnya…” kata Laks. Salampessy.
“Sudah atau belum?” tanya Arfa.
Laksamana Salampessy hanya melihat pada layar peta yang menunjukkan posisi-posisi bidak yang akan digerakkan dalam skema pertandingan catur skala raksasa ini.
Samudera Indonesia
Kedalaman 200 meter
07.18 WIB
H minus 27:31:00
Lampu di KRI Antasena mulai meredup dan berkedip-kedip sejenak sebelum akhirnya kembali menyala terang. Lucia mengamati hal ini sembari sedikit tercekat. Beberapa saat kemudian lambung kapal pun kembali “menggeliat”, namun kali ini bunyi besi yang terpuntir oleh tekanan air laut terasa lebih lama. Dan memang sebagaimana yang Lucia perhatikan, semakin lama kapal ini semakin membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan geliatannya. Padahal kedalaman kapal sendiri relatif tidak berubah, mengingat mereka berada di landasan cair yang cukup solid, plus setiap saat telah dilakukan trim untuk mengatur posisi zero kapal. Hanya satu yang menjadi penjelasan bagi fenomena ini: struktur badan kapal semakin melemah.
Namun bukan itu sebenarnya yang menjadi kekhawatiran baik Lucia maupun semua orang di kapal ini. Lucia kembali terbatuk-batuk, dan secara refleks dia menarik napas lebih panjang, namun udara yang dia hirup terasa semakin panas dan semakin berat. Saking panasnya hingga kini dia selalu membawa saputangan yang dibasahi untuk bisa bernapas dengan lebih nyaman. Memang cukup membantu untuk sekarang, tapi Lucia sangsi apakah bisa pula membantu untuk waktu yang lebih lama, karena permasalahannya bukan pada dirinya, melainkan pada kualitas udara yang ada.
Dengan waktu yang hanya tersisa lebih dari 24 jam saja, kualitas udara sudah mulai jauh menurun apabila dibandingkan dengan beberapa waktu lalu. Sekarang lebih enak dan nyaman untuk diam saja dan tak melakukan aktivitas apa pun selain berpasrah, namun beberapa waktu lagi, rasanya aktivitas apa pun tak akan menjadi masalah karena sudah tak akan ada lagi udara untuk bisa dihirup. Bayang-bayang kematian pun semakin menghantui semua orang, ditambah lagi dengan udara yang semakin lama semakin menyesakkan. Namun di tengah-tengah suasana seperti itu, masih ada dua orang yang terus bekerja seperti semut.
“Bagaimana?” tanya Lucia yang dari tadi memegangkan lampu ke arah piranti sonar.
“Cukup melelahkan,” kata Reza sambil mengelap peluh yang membanjiri dahinya.
“Tapi cukup berguna,” kata Sers. Andre,
“kita berhasil mengisolasi hubungan yang tepat pada sistem gerbang oscilator, sekarang tinggal mengidentifikasi pola labirinnya,”
“Labirin?” tanya Lucia.
“Ya, labirin suara, jadi suara harus melewati jalinan sistem jalan yang benar supaya bisa keluar dari gerbang,” kata Sers. Andre,
“singkatnya begitu,”
“Jalinan jalan seperti labirin untuk hamster begitu?” tanya Lucia tidak mengerti.
“Maksudnya nada, Mbak Lucia,” kata Reza,
“suara kan bukan hamster yang bisa dihalangi oleh dinding dan jalan, makanya dibuat sistem gerbang yang akan memfilter pada nada-nada tertentu,”
“Aku nggak ngerti,” kata Lucia.
“Jadi gini, setiap suara yang masuk akan dipecah per nada, kemudian dialihkan menurut labirin-labirin nada, kemudian setelah labirin tersebut dilalui, nada-nada yang tersisa dikumpulkan kembali sebelum akhirnya keluar dengan suara yang sama,” kata Reza.
Lucia tidak menjawab, tampaknya dia berusaha menggelengkan kepala atau mengangkat bahu, namun tampak terlalu bingung untuk melakukannya sehingga dia hanya seperti mengedik canggung saja.
“Masih belum paham juga ya, Mbak?” tanya Reza.
“Sumpah nggak ngerti aku, Rez, pake bahasa yang gampang aja kenapa?” kata Lucia.
Kali ini ganti Reza dan Sers. Andre yang menggaruk-garuk kepala mereka. Pada dasarnya mereka tahu maksud dari yang hendak dikatakan, hanya saja untuk menjelaskan maksud tersebut itulah yang susah. Apalagi kepada orang awam seperti Lucia.
“Gini, Mbak, tahu suling, kan?” tanya Reza.
“Iya, terus apa hubungannya?” tanya Lucia.
“Anggap aja seperti dua suling yang disambungkan saling berbalikan; saat suara masuk dari lubang suling, dia akan menciptakan nada, yang mana setelah nada itu keluar, maka akan masuk ke suling yang kedua…” kata Reza.
“Lalu keluar lagi menjadi suara yang sama? Maksudnya dipecah lalu disatukan lagi, begitu?” tanya Lucia.
“Lebih kurang seperti itu, ya,” kata Reza.
“Jadi gerbang itu memiliki labirin berisi rangkaian rintangan berupa nada-nada tertentu dari satu suara,” kata Lucia,
“tapi kalau labirin itu adalah rangkaian nada, bukannya itu berarti bahwa labirin itu adalah…”
“Sebuah lagu, ya benar,” kata Sers. Andre.
“Ya, sebuah lagu,” kata Lucia.
Kini dalam kepala Lucia justru lebih banyak bermunculan pertanyaan-pertanyaan baru. Sungguh pintar siapa pun yang membuat sistem penyaringan seperti ini, yang memecah suara menjadi lagu, kemudian menyatukannya menjadi suara yang akan dikeluarkan. Tapi kenapa orang bisa sampai sekurang kerjaan itu sehingga menciptakan sistem yang cukup rumit ini?
“Kenapa harus dibuat sistem kayak gitu?” tanya Lucia.
“Katanya sih dipakai supaya nggak semua suara bisa keluar, karena nggak semuanya bisa memicu rangkaian gerbang ini, hanya suara dengan nada dan timbre tertentu saja,” kata Sers. Andre.
“Tapi bukannya kalau gitu misal ada orang yang timbre suaranya sama ngomong bisa juga memicu sistem gerbang?” tanya Lucia.
“Ya, tapi dia harus nyamain pake kode lagunya dulu supaya bisa memicu sistem gerbang,” kata Sers. Andre,
“anyway, saya sendiri juga masih belum sepenuhnya mengerti soal kenapa dan bilamana sistem ini dibuat sedemikian rupa sehingga, tapi setelah ini, semoga saja kita bisa mengenali dan menyekat masing-masing penghubung dari sistem ini,”
Lampu pun kembali berkedip-kedip. Sers. Andre menghentikan sejenak perkataannya, sembari dia terlihat cukup tercekat.
“Semoga saja kita bisa selesai sebelum listriknya mati full,” kata Sers. Andre lagi.
“Semoga saja,” kata Lucia tanpa bisa menyembunyikan nada keputusasaan dalam suaranya.
Suasana mendadak hening sejenak. Lucia pun termenung. Manakah yang sebenarnya lebih buruk: merengkuh nasib kematian yang hampir pasti, ataukah menggantungkan asa pada secercah harapan redup yang tipis bagai benang? Beberapa jam lalu, Lucia sudah siap untuk mati dan meninggalkan semua yang ada di dunia ini, termasuk keluarganya. Kini tiba-tiba saja asa untuk tetap hidup kembali muncul dan Lucia kembali tidak siap untuk merengkuh sang maut.
“Pastinya bisa,” kata Reza memecah keheningan,
“kita sudah berhasil mengisolasi semua yang dibutuhkan untuk memecahkan puzzle ini; tinggal yang terakhir,”
Reza menepuk pundak Lucia yang langsung tersenyum kecil. Sepertinya Reza kini amat yakin dia bisa menyelesaikan pekerjaannya dan menyelamatkan semua orang yang ada di sini. Ini sekali lagi menerbitkan harapan bagi Lucia, tapi kali ini harapan tersebut terasa amat getir, dan sekali lagi Lucia terbelah antara pikiran akan hidup dengan pikiran akan maut.
“Oh ya, soal itu bagaimana, Za? Katanya kamu bisa bikin?” tanya Sers. Andre.
“Nah, iya, bentar ya,” kata Reza.
“Cepetan ambil lah, semakin cepet semakin bagus,” kata Sers. Andre.
“Ambil apa?” tanya Lucia.
“Udahlah, ntar Mbak Lucia juga tahu,” kata Reza.
Reza lalu segera beranjak dan meninggalkan tempat itu, meninggalkan Lucia yang masih penuh tanda tanya. Sers. Andre sendiri memilih untuk tetap serius mengerjakan tugasnya, wajar saja karena dalam keadaan seperti ini, setiap detik terlalu berharga untuk dibuat. Tak beberapa lama kemudian, Reza kembali sambil membawa tiga buah alat yang sepertinya buatan Reza sendiri. Lucia sendiri terkejut karena mengenali beberapa komponen dari alat itu menggunakan komponen-komponen dari peralatan-peralatan rekaman yang memang mereka bawa ke dalam kapal.
“Itu apa, Za?” tanya Lucia menyelidik
“Ini, alat-alat bikinan sendiri,” kata Reza.
“Koq ada yang pake komponen sound editor kita?” tanya Lucia.
“Iya, sengaja, Mbak, daripada nggak kepake juga,” kata Reza,
“lagian susah dapet komponen sound lain di kapal selam, yang dari sensor akustik aja rata-rata udah pada rusak dan nggak semuanya sesuai ama yang kita butuhin,”
“Iya, tapi buat apa itu?” tanya Lucia.
“Ntar saya tunjukin,” kata Reza,
“Sersan, ini yang dibutuhin yang mana dulu, nih?”
“Bawain yang pitch detector dulu deh,” kata Sers. Andre.
Reza pun mengulurkan satu alat yang ditempeli banyak sekali lampu LED beraneka warna. Namun Lucia menduga pengaturan lampu LED itu tidak diatur secara sembarangan, setidaknya ada dua pola yang dia lihat, yang satu adalah pola melingkar bentuk rangka jaring laba-laba dengan pengaturan warna LED-nya adalah hijau di tembereng dalam, kuning di tembereng tengah, dan merah di tembereng luar. Sementara pola kedua adalah pola garis lurus dari enam lampu LED, namun warnanya lebih menunjukkan tingkatan yang dikelompokkan dalam dua level: hijau-kuning-merah dan hijau-kuning-merah.
“Makainya gimana ini?” tanya Sers. Andre.
“Colokin aja ke pintu keluar dari gerbang pertama,” kata Reza,
“terus gerbangnya dinyalain pake listrik voltase kecil,”’
“Oke, siap?” tanya Sers. Andre.
Sers. Andre lalu menghubungkan piranti itu ke dalam sistem gerbang yang mereka kerjakan, lalu dia menghubungkan kabel yang sepertinya kabel daya ke pintu masuk gerbang. Lalu Sers. Andre mengambil piranti pemberi daya dan mulai menekan tombolnya. Lalu sayup-sayup Lucia mendengar suara seperti lengkingan yang lirih namun konstan. Suara itu membuat lampu LED pada piranti milik Reza berkedip-kedip menunjukkan pembacaan yang mungkin hanya Reza sendiri yang tahu bagaimana cara menafsirkannya.
“Cepetan, Za, bentar lagi sirkuitnya gosong nih,” kata Sers. Andre.
“Oke, udah dapet, mezzo-sopran, levelnya ampe kuning dua,” kata Reza.
Segera saja Sers. Andre berhenti mengalirkan daya ke dalam alat dan suara lengkingan itu pun berhenti.
“Sip, jadi kapasitornya ntar diset pada level segitu aja,” kata Sers. Andre.
Lucia mengangguk-angguk dan mengertilah dia cara kerja alat itu. Rangka jaring laba-laba ternyata memberitahukan mengenai pitch suara yang dibutuhkan, sementara LED yang berbentuk segaris bertingkat memberitahukan soal jenis-jenis suara. Sers. Andre pun segera mencatatnya dalam sebuah notes yang selalu ia bawa.
Saat itulah perhatian Lucia tertarik pada satu alat yang terletak paling dekat dengannya. Alat itu hanya diberi sebuah mikrofon kecil serta ada penunjuk macam meteran seperti pada voltmeter atau pendeteksi Geiger-Muller. Apa gunanya alat ini? Iseng-iseng, Lucia pun menyalakan alatnya dan mulai berbicara di depan mikrofon. Mendadak alat itu mengeluarkan suara lengkingan tinggi non-stop mirip suara sirene yang membuat Lucia serta semua orang di sana kaget. Reza segera maju dan mematikan alat itu.
“Alat apaan tuh, Za?” tanya Sers. Andre.
“Pendeteksi warna suara,” kata Reza,
“kayaknya nggak berfungsi, karena harusnya nggak bunyi macem gitu,”
“Bukannya kita nggak perlu alat itu? Kan pengatur warna suaranya nggak rusak?” kata Sers. Andre.
“Cuman buat jaga-jaga aja,” kata Reza,
“jangan main-main ama alat-alat dulu ya, Mbak,”
Lucia mengangkat tangannya dan memberikan alat itu pada Reza, kapok untuk mencobanya lagi.
“Ya udah, langsung aja, Rez, ke pendeteksi nadanya,” kata Sers. Andre lagi.
Reza pun memberikan piranti kedua kepada Sers. Andre. Piranti itu dilengkapi dengan penunjuk mirip layar equalizer pada tape recorder jenis lama. Sepertinya Lucia pernah melihat di kapal selam ini ada radio tape yang memiliki penunjuk seperti itu, sehingga Reza pastilah mengambilnya dari radio itu.
“Ada banyak sekali gerbang nada nih, kalau nyarinya satu-satu gempor juga,” kata Reza.
“Udah, mau gimana lagi?” tanya Sers. Andre,
“ayo, Za, mulai aja, daripada ntar nggak keburu,”
Reza mengangguk dan membantu memasangkan pirantinya kepada sistem titi nada yang ada pada gerbang sonar. Prosedurnya sama seperti tadi, Sers. Andre mengalirkan listrik lemah ke rangkaian sementara Reza akan membaca hasilnya. Kali ini Lucia kebagian tugas untuk mencatat semua titi nada yang bisa ditemukan.
“Gerbang pertama ‘G’,” kata Reza setelah agak lama berkutat di sana.
Total untuk mendeteksi sistem gerbang pertama, butuh waktu sekitar 10 menit, padahal ada 46 sistem gerbang yang ada di sana, sehingga terestimasi dibutuhkan waktu setidaknya 460 menit alias 7 jam 40 menit lagi! Tentu perkiraan lama waktu ini membuat siapa pun lekas patah semangat, apalagi bila waktunya sudah mepet seperti sekarang dengan ditambah oleh suasana di dalam kapal selam yang semakin tak nyaman.
Dan semangat awal itu akhirnya mulai mengendur hanya setelah enam sistem gerbang behasil dibuka. Reza dan Sers. Andre, stres dan kelelahan, akhirnya hanya duduk diam saja, mengistirahatkan tubuh dan otak mereka yang sudah amat kelelahan setelah selama ini terus bekerja. Walau mereka tak mengatakan apa-apa, tapi Lucia bisa melihat dengan jelas sinar mata mereka telah berubah menjadi sinar mata pesimistis, dan muka mereka pun tak lagi menunjukkan sebuah antusiasme.
Lucia hanya menarik napas panjang saja sembari sesekali meletakkan saputangan basahnya di depan wajahnya. Sia-sia menyemangati kedua orang ini, karena Lucia tahu bahwa Reza dan Sers. Andre bekerja lebih lama dan lebih berdedikasi daripada orang lain yang ada di sini, dan kini semangat serta dedikasi mereka tampaknya sudah mencapai batas ketahanan maksimum yang bisa ditahan oleh seorang manusia.
Setelah ikut terduduk sembari tertular pesimisme yang sama, entah bagaimana Lucia pun membaca kembali catatannya. Hanya ada 6 titi nada yang berhasil dipecahkan, sepertinya ini tidak cukup untuk mengetahui keseluruhannya. Teka-teki apa yang kini sedang coba untuk dimainkan oleh Dr. Anatoly Sedorenkov, perancang kapal selam ini beserta seluruh sensornya? Pun begitu, Lucia menatap keenam titi nada yang sudah berhasil dipecahkan itu terus-menerus. Awalnya memang Lucia hanya iseng, tapi setelah beberapa saat kemudian begitu Lucia agak tenang, dia merasa keenam titi nada ini serasa tidak asing. Otaknya yang mulai kelelahan akhirnya memecahkan sebuah kapsul adrenalin terakhir yang memaksa si otak bekerja lebih keras lagi.
“G…A…G…E…G….A,” gumam Lucia,
“apa artinya?”
Dari awalnya membaca, Lucia pun mulai menyenandungkan titi nada yang telah diketahui itu.
“Sol, la, sol, mi, sol, la…”
Kemudian di dalam kepalanya, Lucia mencoba beberapa kombinasi panjang-pendek serta mayor dan minor. Semakin lama disenandungkan, lagu itu pun mulai terngiang di kepala Lucia, dan saat itulah dia tersadar akan sesuatu.
“ya, bentar deh, aku tahu kalian capek, tapi bisa minta tolong tes buat nada berikutnya,” kata Lucia,
“apakah berikutnya nada ‘G’ juga?”
“Bentar ya, Mbak,” kata Reza sedikit gontai.
“Nggak usah dicek keseluruhan, cuman dicek aja apa bener habis ini nadanya ‘G’,” perintah Lucia.
Sers. Andre dan Reza tampak kebingungan, tapi mereka langsung saja mencobanya. Dengan Lucia memberi arahan pada nada selanjutnya, maka mereka cukup menguji pada sistem ‘G’ saja, dan bukan yang lain. Terkejutlah mereka karena ternyata Lucia benar, nada berikutnya memang ‘G’.
“Iya bener, Mbak,” kata Reza,
“nada ‘G’,”
“Terus nada selanjutnya ‘E’, iya pa nggak?” tanya Lucia.
Sekali lagi Reza dan Sers. Andre memeriksanya, dan seperti halnya tadi, nada berikutnya pun memang benar-benar ‘E’. Ini membuat mereka menjadi amat takjub pada Lucia, dan memandang Lucia, menunggu instruksi selanjutnya. Lucia sendiri memasang raut muka serius sambil dia seperti menghitung sesuatu dengan jarinya, mencoret-coret dalam catatan sambil mulutnya terus komat-kamit sembari mendendangkan nada-nada yang seolah acak.
“Nada kesepuluh, ‘D’, bukan?” kata Lucia.
“Iya, bener, Mbak,” kata Reza.
“Nada kedua puluh, ‘G’, bener?” tanya Lucia.
“Bener lagi,” jawab Sers. Andre.
“Nada ketiga puluh, ama empat puluh, ‘A’ ama ‘C’, tolong diperiksa,” kata Lucia.
Reza dan Sers. Andre kali ini memeriksanya dengan semangat yang seolah terbarukan. Entah bagaimana mereka berpendapat bahwa Lucia kini bagaikan seorang orakel yang tahu banyak hal, dan optimisme mereka untuk memecahkan puzzle ini pun semakin meninggi karena mereka tahu bahwa puzzle ini akan terpecahkan dalam waktu yang lebih singkat.
“Nada terakhir,” kata Lucia,
“adalah ‘C’,”
“Benar lagi,” kata Sers. Andre bersemangat hingga nyaris berteriak.
“Berarti bener,” kata Lucia,
“nggak nyangka ternyata Dr. Sedorenkov bisa kepikiran buat make lagu itu buat kode,”
“Mbak Lucia tahu??” tanya Reza.
Lucia hanya mengangguk dengan pasti. Ya, lagu ini pernah dia ketahui sebelumnya, dan bahkan dulu dia sering sekali menyanyikan lagu ini: sebuah lagu yang paling terkenal di seluruh dunia!
07.21 WIB
H minus 27:28:00
“Pintar sekali,” kata Kapt. Kadek,
“benar-benar pintar,”
“Tapi kau tak terjebak, Kapten, kau tak kalah lihai,” kata Cdr. Lesley van Huydt.
“Harus kuakui tadi aku hampir saja terjebak, Komodor,” jawab Kapt. Kadek.
“Baiklah, kuakui kau adalah lawan yang tangguh, dan aku memuji ketenanganmu, Kapten,” kata Cdr. van Huydt,
“tapi bagaimana untuk selanjutnya?”
“Aku akan menunggu langkahmu, Komodor,” kata Kapt. Kadek.
Tampaklah bahwa di antara Kapt. Kadek dan Cdr. van Huydt terdapat sebuah papan catur berwarna biru laut dengan bidak berupa kapal-kapal perang. Cdr. Lesley van Huydt pun menuangkan anggur ke dalam gelas lalu mengangkat dan mengajak Kapt. Kadek bersulang.
Tentu saja pembicaraan ini tidak terjadi di dunia nyata, karena Kapt. Kadek dan Cdr. van Huydt terpisah jarak cukup jauh di dalam masing-masing kapal mereka: KRI Ternate dan HMAS Amphitrite. Pembicaraan ini hanya terjadi di dalam pikiran mereka, pikiran dari para kapten yang tengah berusaha untuk menerka dan mencoba menelikung langkah-langkah lawannya di alam awangan
Samudera Indonesia
07.23 WIB
H minus 27:26:00
Pesawat NC-295 “Blue Sky” masih berada di atas, memutari wilayah laut sambil mengamati antara KRI Ternate dengan HMAS Amphitrite. Beberapa kali Blue Sky merasakan di-lock oleh rudal antipesawat milik Armada Australia setiap kali terasa cukup dekat dengan mereka, tapi Blue Sky tidak gentar, karena dia tahu bahwa dia masih terbang di wilayah Indonesia. Lagipula, serangan atas Blue Sky sementara dia masih berada di wilayah Indonesia akan dikategorikan sebagai agresi dan pasti akan memancing pernyataan perang.
Bagaimana pun juga, ketegangan tetap tak beranjak dari ground zero, mengingat kedua pihak masih bergeming di tempatnya dan tidak bergerak. Gerak maju Armada Australia yang tadi mengancam gugus KRI Ternate kini berhenti, tepat hanya beberapa puluh yard dari tapal batas. Entah apa yang diinginkan oleh Cdr. Lesley van Huydt dengan manuver ini, apakah dia hanya ingin menjajal kesiapsiagaan personel TNI-AL saja?
Di anjungan KRI Ternate, suasana bahkan lebih tegang lagi hingga bernapas pun terasa sulit. Kapten Kadek sudah memberikan aba-aba untuk siap menembak, dan semua awak di KRI Ternate sudah siap untuk melakukan sekuens penembakan, tapi perintah tembak itu sendiri tak kunjung tiba. Tangan perwira senjata tampak gemetaran di atas tombol
tembakan, di satu sisi siap untuk menembak, tapi dia juga menunggu aba-aba dari komandannya. Sementara yang lainnya tampak melotot di depan stasiunnya masing-masing sambil dahi mereka dipenuhi oleh keringat dingin. Tak ada yang mengelap keringat di dahi mereka, karena entah bagaimana suasana kengerian dan ketegangan amat luar biasa sehingga tubuh pun serasa kaku.
Dua orang sipil di anjungan, yaitu Anton dan Prita, tampak juga membeku, begitu pula dengan semua orang yang ada di sini. Prita tak melepaskan pegangannya pada Anton, dan Anton pun merasakan tangan Prita gemetaran dan dingin, mungkin saking takutnya. Pada saat seperti ini, bahkan Anton pun bersumpah dia bisa mendengar degup jantung baik dari Prita, maupun semua orang yang ada di sini. Kapten Kadek tetap tak melepaskan pandangannya, setengah ke jendela, dan setengah ke arah jam dinding. Waktu pun jadi berjalan dengan super lambat sehingga tiap detik serasa sudah berjam-jam. Anton sendiri, seperti halnya Kapt. Kadek tetap berusaha berdiri dengan tenang, walau pun jauh di dalam lubuk hati, siapa tahu apa yang Anton sebenarnya rasakan?
“Kep?” tanya perwira senjata dengan suara bergetar.
“Tangan tetap pada tempatmu, Nak,” kata Kapt. Kadek,
“siap tembak, tapi jangan menembak,”
“Kita tidak akan menembak?” tanya perwira senjata.
“Tidak sekarang,” kata Kapt. Kadek,
“mereka bermain dengan sangat pintar,”
“Memang,” tukas Anton yang turut pula memerhatikan semua situasi di sini.
“Apa maksudnya?” tanya Prita, yang masih gemetar ketakutan, tak mengerti.
“Ada konvensi bahwa Inggris dan semua negara dominionnya akan membantu negara-negara bekas jajahan Inggris lain bila terjadi peperangan dengan negara lain,” kata Anton,
“tapi tidak bila mereka melakukan invasi,”
“Ya, kapal HMAS Amphitrite sengaja bergerak maju dengan kecepatan tinggi ke arah perbatasan, tahu bahwa jangkauan meriam kita bisa menembak hingga ke luar perbatasan,” kata Kapt. Kadek.
“bila tadi kuperintahkan menembak, maka kita akan menembak kapal Australia saat mereka masih berada di wilayah Australia,”
“Dan menempatkan kita sebagai yang memprovokasi peperangan, begitu?” tanya Prita.
“Sedikit banyak,” kata Anton.
“Aku memang bisa menghindarkannya untuk saat ini, tapi entah untuk beberapa lama lagi,” kata Kapt. Kadek,
“bakal ada saat-saat di mana situasi akan sangat tak terkendali, dan kita akan terpaksa menjadi unit di garis paling depan,”
Prita memberanikan diri untuk menatap ke luar jendela. Kapal-kapal Australia itu terlihat amat kecil, hanya bagai titik keperakan, hampir menyaru dengan latar belakang birunya laut. Pun menurut Kapten Kadek, kapal-kapal itu masuk dalam jangkauan meriam dari KRI Ternate.
“Lalu apa yang mereka lakukan setelah ini?” tanya Prita.
“Menunggu, sama seperti kita,” kata Anton.
"Mereka tak akan menyerang?" tanya Prita.
"Terlalu banyak yang akan dipertaruhkan hanya untuk sekadar ini," kata Anton,
"Australia tak akan mengambil risiko berperang, kecuali bila mereka yakin bahwa mereka tak akan maju sendirian dalam peperangan nanti,"
Prita kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Anton sementara tangannya semakin erat menggenggam tangan Anton. Kapt. Kadek sendiri terus menatap dengan tajam ke arah kapal-kapal Australia, berusaha untuk siap menghadapi apa pun yang akan dikirimkan dari seberang sana.
“Kep, komunikasi dari Blue Sky,” kata perwira radio.
“Sambungkan,” kata Kapt. Kadek.
“KRI Ternate, ini Blue Sky, bagaimana keadaan di sana?” tanya Blue Sky.
“Seperti bisa kau lihat sendiri, Blue Sky,” kata Kapt. Kadek.
“Be advised, kami sudah dapat komunikasi dengan gugus tempur KRI Keumalahayati,” kata Blue Sky,
“komandan gugus, Letkol Niken Listyani ingin berbicara,”
“Sambungkan, Blue Sky,” kata Kapt. Kadek.
“Wilco,” kata Blue Sky.
Radio hening sejenak, dan kemudian terdengarlah suara seorang wanita yang terdengar cukup tajam dan tegas.
“Kapten, kenken kabare?” tanya Letkol. Niken Listyani.
“Corah, Letkol,” jawab Kapt. Kadek,
“posisi di mana?”
“Sekitar 45 menit lagi sampai,” kata Letkol. Niken.
“Tidak bisa lebih cepat lagi?” tanya Kapt. Kadek.
“Kalau mau nanti yang kecil-kecil boleh duluan,” kata Letkol. Niken,
“Mandau, Kujang, Salawaku, dan Klewang, ama Musang buat temanin Harimau,”
“Nggak ada yang lebih besar lagi, Letkol?” tanya Kapt. Kadek dengan raut muka sedikit kecewa.
“Cuman I Gusti Ktut Jelantik dan saya,” kata Letkol. Niken.
“Susah, Letkol, yang di sana pada bawa ‘big guy’ buat ikutan pesta,” kata Kapt. Kadek.
“Nggak usah khawatir, Kapten, di sini kami juga bawa ‘big guy’,” kata Letkol. Niken,
“makanya bertahan saja,”
“Jangan lama-lama, Letkol,” kata Kapt. Kadek.
“Kami berusaha secepat mungkin,” kata Letkol. Niken,
“over and out,”
Perkataan dari Letkol. Niken itu memberi harapan sekaligus pertanyaan di benak masing-masing yang ada di sana. Harapan karena pertolongan akan datang tak lama lagi, dan pertanyaan karena ada kata-kata “big guy”. Kapt. Kadek jelas menyebut “big guy” bagi kapal-kapal Australia yang ukurannya jelas lebih besar daripada korvet maupun KCR yang dibawa dalam gugus tempur KRI Keumalahayati, tapi siapa “big guy” yang disebut oleh Letkol. Niken tadi? Kapal terbesar Indonesia adalah dari kelas SIGMA-PAL, yaitu KRI Christina Martha Tiahahu, tapi bila KRI Christina Martha Tiahahu ikut serta, seharusnya dialah yang memimpin, bukan KRI Keumalahayati.
Bina Graha
07.53 WIB
H minus 26:56:00
Ketegangan, kecemasan, kesibukan, semua tumpah ruah menjadi satu di Bina Graha. Setiap kepala angkatan pun mulai mengerahkan angkatannya masing-masing untuk menghadapi krisis yang sedang terjadi, dan di pusat semua kegaduhan ini, ada Arfa yang sibuk memastikan bahwa semua berjalan sesuai dengan rencana. Pres. Chaidir memang tak pernah menunjuk Arfa sebagai commander-in-chief dalam operasi ini, tapi dengan posisinya saat ini sebagai “orang kepercayaan” Presiden, semua pun merujuknya untuk memimpin, setidaknya hingga pada titik di mana Pres. Chaidir nanti terpaksa menggunakan statusnya sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.
Bagi Arfa sendiri, posisi sebagai pemimpin ini bukanlah sesuatu yang nyaman, mengingat tanggung jawabnya amat besar, dan dia harus bermain secara cantik untuk bagaimana caranya menghindarkan pertempuran dalam situasi yang makin lama makin memanas. Berperang dengan Australia memang bukan hal yang terlalu menakutkan kini bagi Indonesia, namun efek lanjutan dari peperangan yang berlarutlah yang ingin Arfa hindari. Kekuatan Indonesia saat ini memang cukup untuk mengimbangi Australia, tapi hanya mengimbangi saja, belum sampai pada tahap di mana kita tak perlu takut akan prospek konflik berkepanjangan dengan Australia. Lagipula, Arfa sendiri masih belum yakin bahwa Indonesia akan mampu membawa api peperangan ke daratan Australia, kecuali hanya lewat kekuatan pembom strategisnya saja. Peperangan di daratan Australia jelas akan lebih menguntungkan Australia alih-alih Indonesia, karena Indonesia belum siap untuk melakukan peperangan kontinental atau Continental Warfare.
“Ada kabar dari Kedutaan Besar Australia? Apakah masih tutup?” tanya Arfa pada ajudannya.
“Masih, Bu,” jawab sang ajudan.
“Sudah beberapa hari ini Australia menutup kedutaannya, jauh sebelum krisis ini terjadi,” kata Arfa,
“ada kabar apa lagi?”
“Pak Sudhiarto Pamudji (KASAD) akan mengirimkan pasukan untuk mengamankan Kedutaan Besar Australia,” kata sang ajudan.
“Mengamankan?” tanya Arfa,
“apakah ada antisipasi atas Artikel 11?”
“Belum diketahui, Bu,” kata ajudan,
“tapi bukankah Artikel 11 itu adalah…”
“Aku tahu, hanya Presiden yang punya wewenang untuk melakukannya,” kata Arfa,
“terus perintahkan untuk mengamati lalu lintas komunikasi dari Inggris-Australia-Amerika Serikat, aku ingin tahu perintah apa saja yang akan diberikan oleh London atau Washington DC,”
“Siap, Bu!” kata ajudan.
HMAS Amphitrite
Samudera Indonesia
07:56 WIB
H minus 26:53:00
Ketegangan serupa muncul dan dirasakan pula oleh awak-awak kapal Australia, baik yang berada di HMAS Amphitrite, ataupun di kapal-kapal lain yang turut serta. Namun, kesadaran sebagai satu kekuatan pemukul yang besar melawan dua kapal musuh yang hanya memiliki kemampuan tempur pas-pasan jelas membuat para awak kapal Australia sedikit lebih merasa yakin dan percaya diri.
Komandan dari gugus tempur ini, Cdr. Lesley van Huydt menatap tajam ke arah KRI Ternate, yang dari sini hanya terlihat seperti sebuah titik kelabu saja. Baru saja dia melakukan gerakan gertakan yang bisa diantisipasi dengan baik oleh Kapten I Made Suwartana alias Kapt. Kadek dari KRI Ternate. Kini Cdr. Lesley van Huydt pun tengah memainkan pula sebuah catur imajiner di dalam pikirannya. Walau begitu, diamnya sang komandan membuat semua awaknya pun sedikit kebingungan.
“Commodore, kenapa kita tak langsung maju saja?” tanya First-Officer Lieutenant-Commander Jared McGraws.
“Kenapa?” tanya Cdr. van Huydt dingin.
“Instruksinya bukankah jelas, Commodore, bahwa kita harus maju apa pun yang terjadi,” kata Lt. Com. McGraws.
“Jangan kuliahi aku soal perintah, Nak,” kata Cdr. van Huydt,
“dan seorang komandan lapangan berhak mengambil keputusan sendiri atas apa yang terjadi di lapangan berdasarkan kebijaksanaannya sendiri, aku yakin itu yang mereka ajarkan di sekolah perwira,”
“Ya, Pak, tapi mengapa kita harus takut pada mereka saat ini?” tanya Lt. Com. McGraws,
“kita bisa mengatasi mereka sekarang dengan cepat; mereka juga yang menghancurkan salah satu kapal kita,”
Cdr. van Huydt lalu menatap tajam ke arah First-Officer yang nampaknya masih cukup muda itu. Sepertinya memang dia baru saja lulus dari sekolah keperwiraan AL.
“Dari mana asalmu, Nak?” tanya Cdr. van Huydt.
“Kunnunura, Pak,” jawab Lt. Com. McGraws.
“Katakan, Nak, apakah di Kunnunura sana, bila ada sarang lebah menggantung di depanmu, kau akan mengganggunya?” tanya Cdr. van Huydt.
“Tidak, Pak,” jawab Lt. Com. McGraws.
“Kenapa tidak, Nak?” tanya Cdr. van Huydt.
“Karena itu tindakan bodoh, Pak,” kata Lt. Com. McGraws.
“Kalau begitu berhentilah memberikan saran bodoh, Nak!” kata Cdr. van Huydt dengan nada tinggi,
“di hadapan kita adalah sarang lebah yang luar biasa besar, dan Indonesia bukan musuh yang akan mudah ditaklukkan begitu saja; perang bukan untuk main-main, Nak, bila kau sudah ikut dalam peperangan sebanyak aku, kau pasti tak akan mengatakan usul bodoh itu, kau mengerti??”
Lt. Com. McGraws sontak terdiam dan tertunduk malu. Cdr. van Huydt hanya menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Commodore, aku mendapat pembacaan, ada banyak kapal mendekat pada bearing 0-3-7,” kata perwira radar.
“Friendly?” tanya Cdr. van Huydt.
“Bukan, Pak, kapal perang Indonesia,” kata perwira radar.
“Siap tempur, Pak?” tanya Lt. Com. McGraws.
“Ya, siap tempur sekali lagi,” kata Cdr. van Huydt.
“Siap tempur!” ulang Lt. Com. McGraws.
“Laporkan status,” kata Cdr. van Huydt.
“Lima kapal cepat, dua korvet, satu fregat, dan satu kapal perusak,” kata perwira radar.
“Apa? Satu kapal perusak? Mustahil, kau pasti salah!” kata Cdr. van Huydt.
“Tidak, Pak, pembacaannya benar, satu kapal perusak!” kata perwira radar.
“Indonesia tidak punya kapal perusak, Nak,” kata Cdr. van Huydt,
“periksa sekali lagi,”
“Tidak berubah, Pak,” kata perwira radar.
Cdr. van Huydt pun segera menuju ke layar perwira radar, dan terkejutlah dia dengan apa yang dia lihat di sana.
“Ya Tuhan,” kata Cdr. van Huydt dengan raut muka penuh ketegangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar