The Signal
CHAPTER VI
The Signal
Gedung NewsTV
13.12 WIB
H minus 94:48:00
Laksdya Sihombing, Pak David, dan Prita memapah Anton menuju ke ruangannya di lantai 2. Walaupun sudah berpangkat Laksamana Madya, tapi demi persahabatan, Laksdya Sihombing merasa perlu untuk membantu Anton melalui saat menyedihkan ini. Anton seperti orang linglung saja dan ia terus menerus menangis, sementara Prita tak henti-hentinya menenangkan Anton, meskipun airmatanya sendiri tidak berhenti mengalir.
Kejadian itu sontak membuat lantai 2 gempar dan penasaran. Beberapa di antara mereka adalah para anchor dari program News Today, juga di bawah Anton, yaitu Fitri, Mutia, dan Tisna. Dengan segera mereka meninggalkan pekerjaannya dan ikut menyongsong Anton.
“Anton kenapa, Prit??” tanya Mutia sambil memegangi Anton.
“Lucia… dia…” kata Prita tak kuasa meneruskan perkataannya.
Berita mengenai kematian Lucia memang belum tersebar. Meskipun begitu, Mutia bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Anton adalah sosok yang cukup dingin, dan seumur hidup, baru sekali saja Mutia melihat Anton bersedih seperti itu, yaitu ketika istrinya yang terdahulu, Wina, meninggal dunia. Mutia pun terdiam sambil menunduk dan tidak meneruskan pertanyaannya. Aura kesedihan dengan cepat menjalar dan Mutia pun menitikkan airmata pula. Fitri juga begitu, karena sejak sebelum menikah dengan Anton, Lucia adalah teman karibnya semasa mereka masih sebagai reporter.
Tita tentu saja amat terkejut melihat keadaan Anton ketika kembali ke ruangannya. Buru-buru ia membereskan barang-barang, dan memandu supaya Anton diletakkan di sebuah bangku panjang yang memang ada di ruangan itu. Anton terus saja menangis, dan setelah didudukkan, ia memeluk Prita erat-erat, yang tentu saja Prita langsung menyambut untuk menenangkannya.
Mutia duduk di sebelah Anton dan membelai pundak Anton, sementara Fitri berjongkok di hadapan Anton, pun Tita juga ikut mengitarinya. Kejadian itu membuat semua orang (yang peduli) menuju ke ruangan Anton, terutama adalah reporter-reporter yang bekerja di bawah Anton.
“Anton… Anton…” kata Mutia, “kamu tenang ya, sabar…”
“Tidak…tidak…tidak…” kata Anton sambil terisak di pelukan Prita.
“Mbak Prita, ada apa, sih?” tanya Tita, yang memang belum mengetahui duduk permasalahannya.
“Ada berita dari Laksdya Sihombing, katanya kapal selam KRI Antasena mengalami insiden di Samudera Indonesia, dan dikhawatirkan…” kata Prita,
“…semua awaknya tidak ada yang selamat, termasuk Lucia,”
“Ya Tuhan!” pekik Fitri.
Fitri, Mutia, dan Tita pun lalu ikut memegang Anton untuk menenangkannya. Mereka memang bisa menebak bahwa sesuatu yang amat buruk telah terjadi pada Lucia, tapi mereka baru tahu kejadian sebenarnya seperti apa.
“Lucia… meninggal?” tanya Fitri kosong.
“TIDAAAK!!!” jerit Anton kembali menangis.
Mulut Fitri terkatup, dan Prita pun memberi isyarat supaya Fitri tidak meneruskan kata-katanya lagi. Andini dan beberapa reporter lainnya yang juga sudah hadir di sana pun tidak kalah terkejutnya, dan mereka seolah tak percaya bahwa salah seorang rekan mereka sudah meninggal. Mutia akhirnya ikut memeluk Anton dan menangis. Laksdya Sihombing dan Pak David pun agak menjauh dari sana. Keadaan sudah menjadi amat emosionil, dan mereka tak ingin kesedihan mereka turut terlihat.
Bu Sabrina pun akhirnya menyeruak keramaian itu. Tidak ada tampang angker dari Bu Sabrina seperti biasa. Bahkan bagi orang sekeras dan sedingin Bu Sabrina sekalipun, kehilangan seorang reporter masih juga adalah sesuatu hal yang sulit untuk diterima. Bu Sabrina melihat ke arah Fitri, dan memberi isyarat supaya Fitri mendekatinya. Fitri pun menghapus airmatanya dan menghampiri Bu Sabrina.
“Ada apa?” tanya Fitri, masih agak sesenggukan.
Bu Sabrina lalu membawa Fitri agak menjauh, Laksdya Sihombing pun ikut pula bersama mereka, dan mereka bertiga segera bercakap-cakap dengan lirih sekali.
“Siapa yang akan membawakan News Today nanti malam?” tanya Bu Sabrina.
“Mutia, Bu Sabrina,” kata Fitri.
Bu Sabrina lalu memberikan sebuah kertas nota kepada Fitri. Fitri melihat sekilas, dan ternyata isinya adalah pernyataan turut berbela sungkawa dan berita kematian atas nama Lucia.
“Berikan ini ke Mutia,” kata Bu Sabrina,
“dia akan membacakannya nanti waktu News Today, atau mungkin bisa lebih cepat lagi,”
“Bu Sabrina, kalau boleh saya mohon, supaya pengumuman ini jangan mendahului statement resmi dari Pemerintah,” kata Laksdya Sihombing.
“Tenanglah, Laksamana, saya tahu apa yang harus dilakukan,” kata Bu Sabrina,
“kamu juga paham kan, Nona Fitri?”
“Paham, Bu,” jawab Fitri, meskipun itu adalah sebuah hal yang tampaknya amat pahit untuk dilakukan.
Bu Sabrina lalu memegang pundak Fitri. Bu Sabrina bahkan nyaris tidak bisa menahan airmatanya meskipun ia tetap berusaha amat keras untuk terlihat anggun.
“Nona Fitri, biarkan Anton di sini dulu supaya tenang,” kata Bu Sabrina,
“kalau dia sudah tenang, tolong salah satu dari kalian, mungkin kamu sendiri, untuk mengantarkan dia pulang, dan pastikan dia baik-baik saja setelah itu,”
“Baik, Bu Sabrina,” jawab Fitri.
“Apa Fiona ada di tempatnya juga?” tanya Bu Sabrina.
“Iya, saya tadi baru saja bertemu dengannya,” kata Fitri.
“Bagus, kamu bilang juga hal itu ke Fiona, dia sudah menjadi seperti kakak angkatnya Anton, kan?” kata Bu Sabrina,
“nasib Anton memang tidak begitu bagus, tapi rasanya tetap tidak adil bagi dirinya, atau juga anaknya; Lucia adalah orang yang baik… takdir tidak adil untuk mereka,”
“Terima kasih, Bu Sabrina,” kata Fitri, masih mencoba untuk tidak menangis.
“Menangislah saja, tidak apa-apa,” kata Bu Sabrina,
“tidak semua airmata itu jahat,”
Seusai berkata seperti itu, Bu Sabrina langsung berlalu, dan Fitri pun akhirnya menangis seorang diri.
Samudera Indonesia
Ground Zero
13.23 WIB
H minus 94:37:00
Kapal cepat torpedo KRI Harimau terus melakukan patroli di sekitar ground zero. Mereka menemukan banyak sekali serpihan hasil pertempuran tadi malam. Beberapa serpihan bahkan cukup besar, sehingga semua awak kapal KRI Harimau pun berkesimpulan bahwa KRI Antasena sudah hancur dan tenggelam.
Regu penyelam kembali muncul sambil membawa sebuah sonobuoy. Perintah dari Arfa adalah untuk membersihkan semua sonobuoy yang ada di sini. Disamping untuk diteliti dari mana sonobuoy-sonobuoy itu berasal, juga untuk “menjernihkan” areal pencarian, karena gelombang aktif darisonobuoy-sonobuoy ini sedikit banyak cukup mengganggu pembacaan sensor sonar dari KRI Harimau. Padahal KRI Harimau membutuhkan sensor ini, setidaknya untuk memetakan di mana sebenarnya reruntuk KRI Antasena berada.
“Banyak bener sonobuoy-nya,” gumam Letkol. Ma’ruf, kapten dari KRI Harimau.
“Siapa ya, yang kira-kira nyebar semua ini?” tanya XO Mayor Herpavi.
“Dugaanku sih Australia,” kata Letkol. Ma’ruf,
“sensor-sensor ini sangat canggih,”
“Australia lagi memburu kapal kita, yah?” tanya May. Herpavi.
“Lihat aja, kalau sampai aku liat ada kapal perang Australia masuk ke wilayah kita,” kata Letkol. Ma’ruf,
“bakal aku tembak pake torpedo!”
Mayor Herpavi pun tertawa saja sambil menepuk pundak Kaptennya ini.
“Kalem aja, Kep,” kata May. Herpavi,
“wah, tadi malem pasti pertempurannya seru banget, nih; banyak juga serpihannya,”
“Tadi aja ada bekas selongsong torpedo,” kata Letkol. Ma’ruf,
“bekas gelondong depth-charge juga ada, kayaknya aku lom pernah liat deh, ada kapal tahan kena serang segini banyak,”
“Coba ketemu ama orangnya, bakal aku bikin jadi rujak, dia!” kata May. Herpavi geram.
Pimpinan regu penyelam, Letnan Andromeda, segera bergabung dengan Kapten Ma’ruf dan Letkom Herpavi.
“Lapor, Kep!” kata Letnan Andromeda,
“semua sonobuoy sudah berhasil diangkat,”
“Bagus, moga-moga kita bisa temukan KRI Antasena secepatnya sekarang,” kata Letkol. Ma’ruf,
“sayang saja apabila orang lain yang dapet lebih dulu,”
“Kalau begitu, saya ke ruang sonar dulu, Kep,” kata Mayor Herpavi,
“semoga saja kita bisa menemukan rekan-rekan kita yang malang,”
“Ya, mereka bahkan tidak sempat menyelesaikan pelayaran pertama,” kata Letkol. Ma’ruf,
“kalau sudah ketemu, tolong bilang ke mualim untuk membuat manuver ‘S’ di sana; duh, mana ntar malem mau badai lagi,”
Letkom Herpavi lalu menghormat ke Kapten Ma’ruf dan berlalu. Manuver ‘S’ adalah manuver yang biasa dilakukan oleh kapal perang manakala melewati sebuah perairan dimana diketahui ada kapal (rekan) yang tenggelam. Kapal akan berlayar berkelok sehingga membuat lintasan berbentuk huruf ‘S’, yang berarti “salut” (hormat). Manuver ini biasa dilakukan, salah satunya oleh setiap kapal Amerika yang melewati Ironbottom Sound di Guadalcanal, Pasifik; yaitu lokasi pertempuran laut paling sengit antara Armada Amerika Serikat dan Jepang di laut antara Kepulauan Solomon dan Pulau Savo. Manuver ini sedikit banyak sama seperti “missing man formation” yang biasa dilakukan oleh pilot pesawat tempur untuk memberi penghormatan pada rekan mereka yang meninggal (karena perang).
“Bagaimana pembacaannya, Nak?” tanya May. Herpavi pada perwira sonar KRI Harimau.
“Cukup jelas, apalagi sekarang tidak ada gangguan dari sonobuoy,” kata perwira sonar,
“banyak sekali serpihan di sini; pasti cukup luar biasa, keren sekali,”
“Hati-hati, Nak, kamu membicarakan soal rekan-rekan kita yang gugur tadi malam,” ingat May. Herpavi,
“setidaknya tunjukkan sedikit hormat,”
“Maaf, Pak,” kata perwira sonar tadi dengan rasa bersalah.
“Sudahlah, ada yang kamu dapat?” tanya May. Herpavi.
“Sejauh ini baru serpihan kecil-kecil saja, entah punya siapa,” kata perwira sonar,
“belum ada potongan atau reruntuk besar sejauh ini, takutnya tekanan air di kedalaman sudah menghancurkan kapal selam itu sampai berkeping-keping,”
Mayor Herpavi hanya mendengus dengan kesedihan. Cukup banyak pelaut yang ada di dalam KRI Antasena, dan bagaimanapun, itu adalah rekan-rekan mereka. Perwira sonar itu, sebaliknya, tampak memasang muka serius, seolah menemukan sesuatu.
“Pak! Kayaknya aku nemu sesuatu,” kata perwira sonar.
“Kapal selamnya??” tanya May. Herpavi.
“Kayaknya bukan… ini mirip seperti sinyal,” kata perwira sonar.
“Bisa kamu lacak?” tanya May. Herpavi.
“Bisa, tapi aku 100% yakin ini bukan kapal selam, terlalu dangkal, terlalu kecil,” kata perwira sonar.
“Apa sonobuoy lagi?” tanya Letkom Herpavi.
“Bisa jadi, tapi sepertinya koq bukan,” kata perwira sonar,
“sinyal sonobuoy dimaksudkan buat cari kapal selam, tapi ini jelas bukan sinyal penjejak; mirip seperti beacon,”
“Coba dianalisa,” kata Letkom Herpavi.
Perwira sonar lalu memasukkan data-data hasil “pendengaran” ke dalam komputer, dan komputer segera menganalisa mengenai sinyal misterius itu.
“Pak…” kata perwira sonar.
“Sudah keluar?” tanya May. Herpavi.
“Ya, Pak…” kata perwira sonar,
“katakanlah saya gila, tapi… sinyal itu ditulis pake kode kita!”
“Astaga… laporkan ke Pusat secepatnya!” kata May. Herpavi.
Bina Graha
Jakarta
13.49 WIB
H minus 94:11:00
Arfa dengan cepat merangsek ke Ruangan Komando Utama yang berada di Bina Graha. Ruangan ini sejatinya dimaksudkan sebagai markas komando utama apabila terjadi perang. Namun pada masa damai, ruangan ini berfungsi sebagai Pusat Krisis Nasional, dilengkapi dengan peralatan-peralatan super-canggih untuk mengatasi segala macam permasalahan, bencana, atau konflik yang mengancam atau mengganggu stabilitas nasional.
Berita dari KRI Harimau diterima dengan baik sekali olehnya, karena ia memang mendapatkan mandat dari Presiden Chaidir sebagai supervisor dari misi ini, meskipun pelaksanaannya berada di tangan pihak TNI. Meskipun sebagai orang sipil (lagipula wanita), para pejabat TNI menaruh hormat pula pada Arfa, terutama mengenai kejeniusan dan jiwa patriotismenya serta pandangannya atas kedaulatan teritorial. Itulah sebabnya maka arus informasi ke Arfa harus diprioritaskan, dan Arfa pun boleh menggunakan semua fasilitas yang dimiliki oleh TNI sepanjang memungkinkan. Setidaknya, Arfa masih mau menjemput bola, tidak seperti supervisor sipil lain yang oleh para pejabat TNI sering dinilai sebagai “terlalu malas” dan “tidak sepenuhnya memahami mengenai militer atau ketahanan nasional”.
Seorang ajudan muda, kelihatannya masih berpangkat sebagai perwira muda, segera memberikan berkas laporan kepada Arfa begitu ia melihat Arfa masuk ruangan. Ajudan ini memang mengenal cara kerja Arfa yang memang serba cepat.
“Semuanya ada di sini?” tanya Arfa sambil berjalan cepat.
“Ya, Nn. Aryanti, lengkap,” kata ajudan.
“Lalu orang yang aku minta datang?” tanya Arfa lagi.
“Dia sudah menunggu,” kata ajudan.
Saat mereka berdua mendekati pusat ruangan, seorang pria, sepertinya adalah pakar yang masih terhitung muda, segera berdiri menyambut Arfa. Orang itu dikawal oleh empat tentara berpakaian preman.
“Ini Dr. Syamsu Nurzaman,” kata ajudan.
“Baik, cepat saja, Sam; boleh aku panggil anda begitu?” tanya Arfa,
“Sam, Anda pernah bekerja di bawah Dr. Anatoly Sedorenkov ketika membuat KRI Antasena, betul begitu?”
“Betul, Nn. Aryanti,” kata Sam,
“Saya salah satu supervisor dari desain KRI Antasena, juga bertanggungjawab dalam hal pemasangan sensor serta sistem komputer di KRI Antasena,”
“Baiklah, Sam,” kata Arfa,
“sebelumnya saya ingatkan dulu, bahwa begitu Anda memasuki ruangan ini, maka Anda telah disumpah untuk merahasiakan apa yang Anda lihat, baca, lakukan, atau bicarakan di dalam ruangan ini; kalau Anda berani melanggarnya… hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,”
“Saya siap, Nn. Aryanti,” kata Sam.
“Bagus,” kata Arfa, “oke, ini situasi kita,”
Arfa lalu menekan sebuah tombol di atas panel komputer, dan sebuah layar besar segera membuka dengan mengungkapkan beberapa buah pembacaan sinyal yang tentu saja membuat Sam mengernyitkan dahi.
“Sam, apa sudah ada yang memberi tahu Anda soal KRI Antasena?” tanya Arfa.
“Belum, Nn. Aryanti, tapi ini apa?” tanya Sam sambil menunjuk ke layar.
“Dini hari tadi, terjadi ledakan nuklir di dekat lokasi KRI Antasena,” kata Arfa,
“kami yakin bahwa ledakan itu sudah menghancurkan KRI Antasena,”
“Ya Tuhan!” jerit Sam kaget.
“Tapi barusan ini, kapal kita, KRI Harimau menangkap adanya pembacaan sinyal ini, tak jauh dari ground zero,” kata Arfa,
“sinyal ini ditulis dengan kode TNI AL, dan sebuah sinyal beacon; aku harap Anda bisa menjelaskan apa ini; apakah sinyal ini datang dari KRI Antasena almarhum?”
Sam pun lalu mengamati sinyal itu dengan seksama. Ia tampak berpikir keras dan terus menerus mengamati pola sinyal itu. Bukan karena dia tidak tahu, tapi lebih seperti bahwa dia hendak memastikan sesuatu.
“Anda tahu mengenai ‘floating signal-transmitter’, Nn. Aryanti?” tanya Sam,
“atau yang biasa kita sebut FST?”
“Aku pernah mendengarnya, tapi bisakah kau jelaskan lebih rinci?” tanya Arfa.
Sam segera mengambil sebuah kertas putih dan pulpen, lalu ia mulai menggambar. Mulanya adalah gambaran kasar sebuah bentuk kapal selam, lalu ia menggambar sebuah garis dari kapal selam itu, menariknya hingga ke atas dan mengakhirinya dengan sebuah lingkaran yang digambarkan berada di atas permukaan air laut.
“Ini adalah sistem yang kami kembangkan bersama dengan Dr. Anatoly Sidorenkov; agak sulit untuk mengirimkan informasi ke luar ketika kapal selam menyelam dengan kedalaman yang cukup dalam, di bawah kedalaman radio; tidak tanpa membahayakan jiwa kapal selam itu,” kata Sam, “secara sederhana, ini seperti sebuah layang-layang; jadi kapal selam akan ‘melemparkan’ sebuah piranti yang dilengkapi dengan pelampung, yang dihubungkan dengan sebuah kawat kabel; piranti ini lalu akan mengapung di atas permukaan air laut, dan pada akhirnya akan bertindak sebagai antena radio,”
“Anda pikir piranti itulah yang mengirimkan sinyal?” tanya Arfa.
“Sedikit banyak seperti itu,” kata Sam,
“aku melihat adanya pola gelombang yang menjadi signatur bahwa sinyal ini dikirimkan oleh sebuah FST,”
“Apa KRI Antasena masih hidup, kalau begitu?” tanya Arfa.
“Susah dikatakan, tapi piranti itu memang bisa memancarkan sebuah sinyal mandiri, yaitu sinyal khusus yang diprogram sebelumnya,” kata Sam,
“jadi misalkan terjadi sesuatu dan kabel penghubungnya putus, maka piranti lacak GPS akan aktif dan FST akan memancarkan sinyal berupa hal yang terakhir kali dimasukkan secara terus menerus dan berulang-ulang,”
“Apa mungkin ketika serangan itu terjadi, piranti itu bisa terpisah dari KRI Antasena dan kemudian secara tidak sengaja aktif dan mulai memancarkan sinyal?” tanya Sam.
“Tidak mungkin sepertinya; piranti itu, sebelum bisa memancarkan sinyal, harus diaktifkan dulu secara elektronik dari dalam kapal selam,” kata Sam,
“benturan, goncangan, bahkan sengatan listrik bertegangan tinggi sekalipun tidak akan bisa mengaktifkan piranti itu; ini seperti TNT atau bom atom yang bisa tidak meledak apabila tidak diaktifkan,”
“Oke, katakanlah piranti itu sudah aktif dan lalu terlepas dari kapal selam,” kata Arfa,
“apakah mungkin?”
“Gambaran kasarnya saja, Nn. Aryanti?” tanya Sam.
“Silakan,” kata Arfa.
“Pada dasarnya, piranti itu tidak bisa memasok daya secara mandiri, jadi kabel penghubungnya, selain sebagai kabel pemancar sinyal, juga berfungsi sebagai catu daya,” kata Sam,
“tapi pada kasus ketika kabelnya lepas, maka ada sebuah kapasitor yang akan menggantikan daya dari kapal selam, seperti sebuah baterai atau UPS,”
“Berapa lama?” tanya Arfa,
“sebelum piranti itu kehabisan daya?”
“Pada saat apabila kapasitor terisi penuh?” tanya Sam,
“Delapan jam efektif, sepuluh jam maksimal apabila menurut perkiraan kami,”
Arfa terhenyak mendengar jawaban itu.
“Sam… dengarkan aku,” kata Arfa,
“APA ANDA YA-KIN?”
“Yakin sekali,” kata Sam,
“saya sendiri yang mengerjakan piranti itu; memangnya ada apa, Nn. Aryanti?”
Arfa tidak menjawab, tapi lalu dia segera memberikan kode kepada ajudannya.
Gedung NewsTV
14.02 WIB
H minus 93:58:00
Suasana kesedihan masih membalut ruangan lantai 2, tempat Anton bekerja, dan Anton masih juga belum begitu tenang. Ia masih menangis, dan menolak untuk segera pulang, sehingga Fitri kehilangan akal untuk membujuknya. Terpaksa ia pun agak menjauh sebentar, dan orang-orang juga sudah mulai berkerumun di dekat ruangan Anton.
“Aku nggak tahu lagi gimana cara ngebujuk Anton buat pulang,” kata Fitri pada Mutia lirih.
“Dia sedang tertekan,” kata Mutia.
“Aku tahu, aku juga ngerasa kayak gitu,” kata Fitri,
“Lucia itu temenku juga,”
“Anton baru aja nikah ama Lucia,” kata Mutia,
“inget aja kalau dia kehilangan Wina juga dengan cara yang sama,”
Fitri lalu menoleh sejenak ke arah kerumunan orang-orang. Beberapa reporter yang memang berada di bawah Anton tampak ikut pula menangis sesenggukan mendengar kabar soal Lucia. Tapi suasana memang terlalu ramai untuk orang yang tengah berduka.
“Apa Lani sudah dikasih tahu?” tanya Fitri lagi.
“Kayaknya belum,” kata Mutia.
“Kita kasih cara aja ntar buat kasih tahu Lani; kayaknya aku tahu deh gimana,” kata Fitri,
“sementara, kita bersihkan dulu ruangan ini; aku nggak suka Anton lalu jadi tontonan,”
“Bilang Tita aja,” kata Mutia.
“Apa Tita bakal bisa buat sesuatu?” tanya Fitri,
“kayaknya enggak kalau soal ini,”
Mutia hanya mengangguk saja. Bagaimanapun, ia sendiri juga sedikit meragukan Tita, dan di lain pihak, rasanya juga tidak ada orang yang lebih tepat untuk menenangkan Anton selain Tita dan Prita. Maka Fitri pun memanggil Andini, yang memang posisinya lebih dekat dengan mereka. Andini datang sambil menghapus air mata; Lucia betul-betul memberikan pengaruh bagi semua orang, hingga Andini yang biasanya tegar dan cuek pun kini ikut pula menangisi Lucia.
“Ada apa?” tanya Andini.
“Sekarang ini, coba tolong kamu singkirkan dulu orang-orang ini,” kata Fitri,
“memang kita semua berkabung buat Lucia, tapi jangan terus seperti ini,”
“Ya, akan saya lakukan,” kata Andini agak serak,
“ada lagi?”
“Sementara itu saja dulu; oh ya, Uki sama Erwina mana?” tanya Fitri.
“Uki tugas di Istana Merdeka saat ini, terus Erwina sedang libur,” kata Andini.
“Bagus, sebisa mungkin jangan kasih tahu mereka dulu soal ini,” kata Fitri,
“soalnya ada permintaan buat jangan menyebarkan berita ini keluar dari kantor ini sebelum ada pengumuman dan pernyataan resmi dari Pemerintah,”
“Ya,” kata Andini.
Fitri menepuk perlahan pundak Andini, dan Andini segera menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Perihal menjaga kerahasiaan, bagaimanapun terasa ganjil untuk Andini, tapi ia tetap berpegang pada perintahnya. Mutia dan Fitri pun kembali berbincang-bincang.
“Balik soal tadi, gimana buat ngasih tahu Lani?” tanya Mutia,
“ada cara apa?”
“Bukan soal apa,” kata Fitri,
“tapi siapa,”
“Maksud kamu, Ci Fiona?” tanya Mutia.
“Kayaknya cuman dia sekarang yang bisa nanganin Anton,” kata Fitri.
Mutia mengangguk saja tanda setuju, lalu Fitri segera berlalu menuju ke Sayap Mandarin. Mutia dan Fitri adalah dua newscaster elite di NewsTV, sehingga ke mana-mana mereka selalu mendapatkan respek. Mutia terkenal sebagai reporter perang, karena ia sering diterjunkan di daerah-daerah konflik di seluruh dunia, mulai dari Irak, Afganistan, Palestina, hingga ke wilayah Afrika Barat. Berbeda dari Erwina yang cenderung impulsif, maka Mutia meliput wilayah konflik dengan pendekatan yang lebih metodis, hati-hati, dan selalu mengedepankan safety first, meskipun dia masih juga tetap sering nekat dalam bertindak demi mendapatkan liputan yang bagus.
Sementara itu, Fitri, meskipun tidak memiliki reputasi internasional yang mentereng seperti Mutia, tapi wanita cantik ini sering dianggap sebagai newscaster paling jenius di NewsTV. Ia pernah memegang posisi sebagai asisten kepala di program internasional NewsTV: Indonesia Insight, dan kini mengepalai English Sector, termasuk juga menjadi host dan produser kepala di acara berita pagi Indonesia Today yang berbahasa Inggris pula. Ketika terjadi bencana banjir raksasa beberapa waktu lalu, Fitri juga menjadi officer-in-charge dari studio “pengungsian” NewsTV di Bandara Internasional Jakarta, di bawah komando langsung dari commander-in-chief Bu Sabrina. Orangnya tegas dan tidak suka berbasa-basi, seorang organisatoris ulung, serta selalu bisa mencari pemecahan atas setiap permasalahan meskipun metode yang diambil seringkali terlalu radikal. Tambahan lagi, menurut Anton, Fitri adalah english-speaker terbaik di seluruh NewsTV.
Lalu, siapakah Fiona, yang akan ditemui oleh Fitri? Mengapa Fiona adalah satu-satunya yang bisa menenangkan Anton saat ini? Fiona adalah anchor senior di Sayap Mandarin NewsTV, kelahiran Beijing, RRC. Boleh dibilang, dialah anchor “asing” pertama yang dimiliki oleh NewsTV, jauh sebelum Kaori Miyazawa di Indonesia Insight. Sebagai sebuah prestasi, maka Fiona turut andil dalam membangun divisi berita berbahasa mandarin NewsTV hingga berkibar seperti sekarang. Dari semua “komplotan” Anton, maka Fiona adalah yang paling tua, sehingga semua orang memanggilnya sebagai “Cici” alias “Kakak”. Namun hubungan “kakak-adik” antara Anton dengan Fiona memang amat spesial, karena Anton dan Fiona sudah mengangkat sumpah dan saling mengangkat saudara. Hubungan mereka semakin erat setelah Anton sekeluarga pindah dekat dengan rumah Fiona, apalagi Fiona juga memiliki putri angkat kembar yang seumuran dengan Lani. Fiona sendiri, setelah kematian suaminya, memilih untuk tidak menikah kembali dan hanya hidup bersama dengan dua putri kembarnya dan Ma Ma nya yang sudah berusia lanjut (yang oleh Anton juga dianggap sebagai Ibu sendiri).
Ketika Fitri sampai di ruangan Fiona, Fiona tengah duduk bersila sambil memainkan musik dengan guqin-nya, seperti biasa. Guqin adalah sejenis alat musik petik tradisional Cina yang mirip dengan kecapi berdawai tujuh. Fiona memang selalu membawa guqin ke kantor (persis seperti mereka yang membawa gitar) sekedar untuk menghibur diri di saat tidak ada kerjaan. Kadang-kadang memang Fiona turut menyanyi, tapi lebih sering hanya mendentangkan guqin-nya mengikuti irama-irama lagu Cina tradisional maupun klasik yang isinya rata-rata adalah mengenai rumah (Cina), keindahan alam, serta cinta. Meskipun Fiona sudah menjadi WNI dan mencintai Indonesia, naluri tentang kampung halaman tidak pernah lenyap.
“Sheme?” tanya Fiona tanpa menghentikan permainan guqin-nya.
“Cici, saya butuh bantuan,” jawab Fitri.
“Soal Anton?” tanya Fiona.
“Cici tahu?” tanya Fitri.
“Kantor ini tidak seluas Taklamakan,” kata Fiona,
“kasihan Lucia,”
Rupanya Fiona sudah mengetahui soal Lucia. Pantas saja lagu yang dimainkan oleh Fiona terdengar amat sedih dan menyayat hati. Fitri bahkan melihat tetesan air mata Fiona jatuh ke atas guqin sambil Fiona terus memainkannya.
“Kalau gitu, Cici tahu kenapa aku ke sini,” kata Fitri.
Fiona hanya mengangguk saja, masih tanpa menghentikan permainannya.
“Seorang kakak harus melakukan tugas seorang kakak,” kata Fiona setengah berpuisi,
“ketika sang adik datang, maka sang kakak harus menyambutnya; dan jika dia menangis, sang kakak harus menghiburnya; tapi siapa yang akan menghiburku ketika aku menangis?”
“Saya tidak tahu jawaban pertanyaan itu,” kata Fitri.
Fiona tersenyum, kemudian menghentikan musiknya di salah satu nada, lalu bangkit dari duduknya. Fitri hanya mengangguk saja, lalu mereka berdua segera meninggalkan tempat itu. Baik Fiona maupun Fitri tidak berkata apapun sepanjang perjalanan.
Sesampainya di tempat Anton, Fiona langsung saja duduk di dekat Anton yang masih menangis. Dengan lembut, Fiona pun menenangkan Anton, dengan cara yang berbeda dari Prita. Fiona membiarkan kepala Anton tergeletak di pangkuannya, dan dengan penuh rasa keibuan dia membelai rambut Anton.
“Cici… Lucia…” kata Anton.
“Cici tahu,” kata Fiona,
“tapi sekarang kamu kudu kuat, demi Lani; panjang masih jalan kalian tanpa Lucia,”
Ajaibnya, tangis Anton mulai mereda, tidak lagi menderu-deru seperti sebelumnya. Anton sekarang hanya sesenggukan saja seperti anak kecil yang sudah habis airmatanya. Ia menggelendot manja di pangkuan Fiona, dan Fiona pun mendendangkan lagu semacam nina bobo. Prita dan Tita pun undur diri dengan segera, untuk memberi kesempatan Anton supaya benar-benar tenang. Mereka lalu bergabung dengan Mutia dan Fitri yang memang sudah menunggu di luar ruangan.
“Banyak yang kudu dikerjakan,” kata Fitri,
“kita harus mengurus upacara pemakaman, walaupun jasadnya Lucia mungkin nggak bakal ketemu,”
“Aku ntar coba ke rumahnya Anton, mungkin bisa bikin persiapan,” kata Prita.
“Aku bantuin kamu, yah,” kata Mutia.
“Tapi jangan sekarang, kita tunggu pengumuman Pemerintah dulu,” kata Fitri.
“Hhh… ngurus aja koq jadi malah repot,” kata Tita,
“kudu nunggu pengumuman segala,”
“Mau gimana lagi, soalnya ini bukan kejadian kematian biasa,” kata Fitri.
Wilayah Udara Jakarta
14.28 WIB
H minus 93:32:00
Helikopter Bell-412 yang mengangkut Laksdya Sapar Sihombing terbang dengan gontai melintasi langit Jakarta menuju ke markas Komando Angkatan Laut. Di dalamnya, Laksdya Sihombing masih murung. Ia memang tidak begitu menyukai untuk menyampaikan berita kematian, sungguh pun kematian itu adalah dalam rangka tugas kenegaraan.
Laksdya Sihombing memang tidak ingin cepat-cepat kembali ke Markas, dan ia nanti hanya ingin menunggu pengumuman resmi dari Pemerintah, sehingga ia akhirnya bisa mengurus segala sesuatunya. Tangisan duka Anton betul-betul menghantuinya, dan sekali lagi ia mengusap kepalanya yang hanya ditumbuhi rambut tipis. Andai saja kejadian ini tidak terjadi. Bukan hanya ini tidak adil bagi Anton, tapi juga bagi keluarga awak kapal selam yang lain.
“Laksamana,” kata co-pilot helikopter,
“ada sambungan radio dari Dr. Arfa Aryanti,”
“Nona Aryanti?” tanya Laksdya Sihombing,
“cepat sambungkan,”
Laksdya Sihombing cepat-cepat segera mengaktifkan radionya, dan sejenak kemudian terdengarlah suara wanita di seberang.
“Laksamana Sihombing,” kata Arfa,
“batalkan segera penyampaian berita kematian!”
Tentu saja perkataan Arfa itu membuat Laksdya Sihombing terkejut hingga hampir melompat dari tempat duduknya.
“Batalkan, Nn. Aryanti??” tanya Laksdya Sihombing,
“tapi kenapa? Saya tidak mengerti,”
“KRI Harimau menangkap sebuah sinyal beacon yang berasal dari salah satu piranti KRI Antasena yang terlepas,” kata Arfa,
“mungkin masih secara kasar saja yah, tapi ada kemungkinan KRI Antasena MASIH HIDUP!”
Kali ini Laksdya Sihombing betul-betul melompat dari tempat duduknya. Perkataan dari Arfa itu membuatnya betul-betul tidak tahu harus merespon apa.
“Masih hidup, Nn. Aryanti???” kata Laksdya Sihombing terkejut bercampur senang,
“tapi bukankah Anda bilang…”
“Makanya aku bilang kalau ini masih kemungkinan,” kata Arfa,
“aku akan meminta KRI Ternate untuk mengepak semua peralatan sensor tercanggih kita yang bisa kita manfaatkan, dan sebelum matahari terbenam, KRI Ternate harus sudah berangkat ke ground zero,"
“Apakah KRI Antasena betul-betul…” kata Laksdya Sihombing.
“Masih perkiraan saja, Laksamana,” kata Arfa,
“bagaimanapun, sekarang sudah ada harapan, kan? Meskipun ini adalah harapan yang amat kecil,”
“Terima kasih, Nn. Aryanti,” kata Laksdya Sihombing dengan nada penuh kegembiraan.
Arfa lalu menutup komunikasi. Arfa memang bukan dikenal sebagai orang yang suka berbohong, apalagi demi berita sepenting ini. Kenapa Arfa lalu berkesimpulan seperti itu? Ini karena Arfa melakukan penghitungan kasar antara waktu hidup FST dengan ketika saat ledakan itu terjadi. Mengenai waktu peledakan, memang hanya segelintir orang saja yang tahu, termasuk Arfa.
“Pilot, sekarang juga berbalik kembali ke NewsTV!” perintah Laksdya Sihombing.
“Sekarang, Laksamana?” tanya pilot.
“Bukan, KEMARIN! Ya sekarang, goblok!!” hardik Laksdya Sihombing.
Maka buru-buru helikopter Bell-412 itu berbalik kembali ke NewsTV.
Bina Graha
14.31 WIB
H minus 93:29:00
Laksamana Danoe Salampessy dengan gusar memasuki Ruangan Komando Utama di Bina Graha, di sana Arfa tampaknya sudah menanti benar kedatangan Laksamana itu.
“Apa ini, Nn. Aryanti??” tanya Laks. Salampessy.
“Sinyal, diidentifikasi berasal dari KRI Antasena,” kata Arfa.
“Jadi sudah positif ditemukan?” tanya Laks. Salampessy.
“Secara teknis? Belum,” kata Arfa,
“sinyal itu berasal dari peralatan FST yang terlepas dari KRI Antasena, dan baru tertangkap oleh KRI Harimau beberapa waktu ini,”
“Berarti KRI Antasena masih hidup??” tanya Laks. Salampessy.
“Tidak tahu, ada kemungkinan seperti itu,” kata Arfa,
“aku meminta Anda perintahkan KRI Ternate untuk secepatnya buang sauh ke ground zero,” Perkataan Arfa itu membuat Laksamana Salampessy terhenyak.
“Apa?? Sekarang?” tanya Laks. Salampessy.
“Ya, sebelum ini KRI Ternate sudah dimuati sensor bawah air terbaik yang bisa kita berikan,” kata Arfa,
“aku tidak mau buang waktu,”
“Jadi KRI Antasena benar-benar masih hidup??” tanya Laks. Salampessy lagi.
“Kalau boleh jujur, kemungkinannya kecil sekali, tapi pastinya sinyal itu diluncurkan tidak lebih dari 8 jam lalu; itu berarti sampai saat itu masih ada kehidupan di KRI Antasena,” kata Arfa.
“Kalau sekarang bagaimana?” tanya Laks. Salampessy,
“apa sinyal itu memberi tahu keadaan KRI Antasena sekarang?”
“Aku tidak tahu bagaimana kerusakannya jadi tidak bisa memprediksi,” kata Arfa,
“tetap saja ada kemungkinan bahwa semua awak KRI Antasena sudah mati pada saat ini,”
Laskamana Salampessy pun terdiam sejenak.
“Jadi, Nn. Aryanti, Anda belum bisa memastikan keadaan semua awak di KRI Antasena, pun tidak bisa dengan sinyal itu lalu memastikan keadaan apakah KRI Antasena masih hidup atau sudah hancur?” tanya Laks. Salampessy.
“Ya, seperti itulah,” kata Arfa,
“kalaupun ini adalah sebuah harapan, pastinya mendekati harapan kosong,”
“Nona Aryanti, ada badai di Samudera Indonesia, mendekati ground zero,” kata Laks. Salampessy,
“kalau Anda memang tidak yakin bahwa KRI Antasena masih hidup, kenapa mengambil resiko mempertaruhkan KRI Ternate?”
“Aku tidak bisa berlama-lama, Laksamana, setelah mengetahui bahwa ada sinyal dari KRI Antasena,” kata Arfa,
“kemungkinannya memang amat kecil, tapi kita harus mengambilnya; dan aku tahu kekuatan KRI Ternate, Laksamana, badai ini pasti bisa ditaklukkannya,”
“KRI Antasena diserang musuh, Nn. Aryanti! Keadaannya masih berbahaya, kenapa tidak menunggu pengawalan dari gugus tugas yang akan tiba sekitar sehari lagi?” tanya Laks. Salampessy,
“aku tidak suka mengirim KRI Ternate ke Perbatasan hanya dengan bertemankan KRI Harimau saja,”
“Aku tidak mau membuang waktu, Laksamana, karena mereka di sana mungkin saja tidak punya sehari lagi,” kata Arfa,
“sekarang, saya minta dengan sangat, Anda tolong perintahkan KRI Ternate untuk secepatnya buang sauh, kalau bisa sekarang malah lebih baik; dengan atau tanpa pengawalan,”
Laksamana Salampessy mendengus sejenak, kemudian mengangguk. Bagaimana pun, dia memahami permintaan ini, dan dia juga sadar bahwa kalau memang KRI Antasena masih hidup, maka mereka harus berpacu melawan waktu. Arfa juga balas mengangguk ringan. Ini tampaknya pertaruhan terbesar Arfa dalam kariernya.
“Dan… tolong sampaikan kepada Marsekal Kambu,” kata Arfa,
“Aku ingin skuadron pemburu di Kalijati, Yogyakarta, dan Madiun, untuk dipersiapkan sewaktu-waktu kita butuh payung udara untuk KRI Ternate,”
“Akan saya lakukan,” kata Laks. Salampessy,
“Tuhan memberkati Anda, Nn. Aryanti,”
Gedung News TV
14.48 WIB
H minus 93:12:00
Helikopter Bell-412 yang ditumpangi oleh Laksdya Sihombing kembali mendarat di atas Gedung NewsTV. Kembalinya helikopter ini bahkan mengagetkan petugas pendarat di sana. Apalagi tanpa berkata apa-apa lagi, Laksdya Sihombing segera berlari dan masuk ke dalam gedung.
Di lain tempat, Anton tengah dipapah oleh Fiona berjalan perlahan-lahan untuk meninggalkan gedung. Akhirnya setelah dibujuk oleh Fiona, Anton pun bersedia untuk pulang, dan ia sekarang sudah cukup tenang untuk menerima berita menyedihkan itu. Satu-satunya kekhawatiran adalah Lani, karena tidak ada yang memberitahukan soal Lucia pada Lani. Fiona sendiri baru akan memberitahukannya setelah ia yakin bahwa Anton akan pulang ke rumah. Mutia, Tita, Fitri, dan Prita pun mengikuti Anton dan Fiona, juga dengan Andini dan beberapa reporter lain.
“Biar aku aja yang nanti nganter Anton pulang,” kata Fitri,
“Cici ntar jemput si Lani aja,”
“Yakin kamu nggak papa?” tanya Fiona.
“Tenang aja,” kata Fitri,
“tapi masih belum ada pengumuman dari Pemerintah, aku nggak tahu kalau ntar sudah sampai rumah tetep belum ada juga, kudu bikin apa,”
“Paling ntar udah ada,” kata Mutia,
“yakin aja lah; kalau nggak ada, ya kepaksa kita umumin sendiri,”
Hampir saja mereka turun dari tangga menuju Lantai 1 ketika Laksdya Sihombing dengan tergopoh-gopoh berhasil menyusul mereka. Anton tentu saja cukup terkejut dengan kehadiran kembali Laksdya Sihombing itu.
“Laksamana?” tanya Anton.
“Tuan Anton… ada sesuatu…” kata Laksdya Sihombing sembari tersengal-sengal.
“Kalau ini soal merahasiakan demi negara… jangan khawatir, kami sekeluarga bisa mengerti…” kata Anton.
“Bukan… saya kemari bukan untuk itu…” kata Laksdya Sihombing,
“perintah dari Istana… menarik kembali untuk sementara semua berita kematian untuk awak KRI Antasena… termasuk untuk Istri Anda…”
Perkataan Laksdya Sihombing ini betul-betul membuat semua orang di sana amat sangat terkejut. Menarik kembali berita kematian?
“Laksamana, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Anton.
“Bisa kita bicara berdua?” tanya Laksdya Sihombing.
Anton mengangguk, lalu ia dan Laksdya Sihombing segera kembali ke ruangannya. Walaupun toh diberitahukan bahwa itu pembicaraan empat mata, toh macam Prita, Mutia, dan lain-lain tetap saja menguping, apalagi ruangan Anton memang tidak kedap suara, beda dengan ruangannya dulu di editing. Laksdya Sihombing lalu menjelaskan duduk perkaranya kepada Anton, termasuk kemungkinan kecil bahwa KRI Antasena mungkin masih hidup.
“Jadi, KRI Antasena tidak hancur?” tanya Anton.
“Bisa jadi seperti itu,” kata Laksdya Sihombing.
“Istri saya juga masih hidup?” tanya Anton.
“Itu yang kami belum bisa pastikan,” kata Laksdya Sihombing,
“serahkanlah semua masalah ini pada kami, Tuan Anton, kami akan mencari kapal selam itu sekuat tenaga; jika ada apa-apa, Anda adalah yang pertama kali kami beritahu,”
Anton menarik nafas lega sejenak. Tentu saja ia gembira sekali bahwa Lucia kemungkinan besar masih hidup. Bagaimanapun, ia tetap tidak bisa menggantungkan harapannya ke sana, karena memang kemungkinannya cukup kecil.
“Kalau begitu… saya permisi… lagi…” kata Laksdya Sihombing,
“kalau ada apa-apa akan saya…”
“Laksamana, tunggu…” kata Anton.
Laksdya Sihombing pun berhenti sejenak.
“Ada apa?” tanya Laksdya Sihombing.
“Anda bilang ada kapal yang akan melacak KRI Antasena?” tanya Anton.
“Ya, KRI Ternate, saat ini sudah berada di Cilacap, mungkin juga sudah berangkat,” kata Laksdya Sihombing.
“Saya ingin berada di kapal itu,” kata Anton.
Laksdya Sihombing jelas terkejut mendengar perkataan Anton itu.
“Maaf, Tuan Anton?” tanya Laksdya Sihombing.
“Saya ingin naik ke KRI Ternate dan ikut mencari keberadaan Istri saya,” kata Anton lagi,
“saya hanya ingin mendengarkan langsung setiap berita mengenai Istri saya,”
“Tapi Tuan Anton…” kata Laksdya Sihombing.
“Laksamana, tolonglah!” kata Anton,
“saya mau ikut,”
Anton menghiba bahkan hampir saja bersujud kalau tidak dicegah oleh Laksdya Sihombing. Bagaimanapun, Laksdya Sihombing bisa mengerti permintaan dari Anton ini.
“Akan saya usahakan,” kata Laksdya Sihombing,
“tapi keputusan tidak di tangan saya,”
“Terima kasih!” kata Anton sembari memegang tangan Laksdya Sihombing.
Laksdya Sihombing lalu segera meraih telepon dan menghubungi seseorang. Lama sekali Laksdya Sihombing dalam menelepon, dan menjelaskan duduk perkaranya. Setelah itu, telepon pun ditutup. Laksdya Sihombing mendekati Anton untuk membicarakan keputusannya.
“Jadi, Anda boleh ikut,” kata Laksdya Sihombing,
“saya harus sudah ada di Markas dalam satu jam lagi, saya tunggu di helikopter,”
“Terima kasih sekali, Laksamana!” kata Anton dengan mata yang berkaca-kaca.
“Semoga beruntung, Tuan Anton,” kata Laksdya Sihombing sambil menepuk pundak Anton.
Laksdya Sihombing lalu segera beranjak dan meninggalkan tempat itu. Ia melewati Mutia, Prita, juga yang lain, hanya mengangguk sejenak lalu berlalu tanpa berkata apa-apa. Semua orang lalu masuk menghampiri Anton.
“Ada apa?” tanya Mutia.
“Aku harus segera pergi,” kata Anton,
“mereka menemukan sinyal dari KRI Antasena; kemungkinannya kecil sekali, tapi bisa jadi Lucia masih hidup,”
Semua orang terkejut sambil menarik nafas lega. Sekecil apapun harapannya, fakta bahwa ada kemungkinan Lucia masih hidup tampaknya cukup menenangkan semua orang.
“Tunggu, ‘pergi’ itu maksudmu bagaimana?” tanya Tita.
“Aku mau ikut mencari Lucia,” kata Anton.
“Jadi, kamu mau ninggalin kita semua di sini?” tanya Tita.
Suasana pun kembali murung.
“Aku harus melakukannya,” kata Anton,
“aku nggak mau kehilangan Istriku lagi; kalau ada satu kesempatan aku bisa membantu, aku akan membantu,”
“Tapi… di sini…” kata Tita.
“Aku serahin semuanya sama kamu, sama kalian semua,” kata Anton.
“Terus aku kudu ngapain tanpa kamu?” tanya Tita.
“Lakukan apa yang kamu bisa,” kata Anton,
“aku yakin kamu bisa,”
“Ini gila, Bu Sabrina pasti tidak akan mengizinkan,” kata Mutia.
“Dengan atau tanpa izin Bu Sabrina, aku akan pergi,” kata Anton,
“Ci Fio, aku titip Lani yah,”
Fiona hanya mengangguk saja. Memang biasanya Lani sering berada di rumahnya, dan apabila ‘upacara pemakaman’ itu jadi dilaksanakan, ia sudah berencana untuk membawa Lani menginap untuk beberapa hari di rumahnya. Tapi ia cukup lega bahwa ia kali ini tidak harus menyampaikan kabar duka pada Lani; setidaknya tidak sekarang.
Anton pun melangkah pergi, Mutia memegang tangan Anton, mencoba menghentikannya. Begitu pula Fitri dan juga Tita.
“Lepasin, Mut,” kata Anton,
“ini sesuatu yang harus aku lakuin,”
“Jangan pergi, kenapa nggak di sini aja?” cegah Mutia.
Terhadap Mutia, memang Anton memiliki sedikit perhatian, begitu pula antara Mutia ke Anton. Anton dahulu pernah menyelamatkan nyawa Mutia, dan sejak saat itu Mutia bersumpah untuk menjaga Anton. Bagi Mutia, Anton mungkin lebih aman di sini daripada harus di sana.
“Iya, Ton, di sini aja,” kata Fitri.
“Bos Anton jangan pergi!” pinta Andini, yang juga diikuti oleh para reporter di bawah Anton.
Semua orang memegangi Anton, dan Anton pun terharu dengan perhatian mereka. Akan tetapi, tekadnya sudah bulat. Jelas bahwa Lucia bukanlah sesuatu yang bisa Anton urus hanya dengan duduk di sini. Anton pun berusaha melepaskan diri dari mereka yang menahannya.
“Biarkan dia pergi!” perintah Fiona dengan suara yang berwibawa.
Entah dapat kekuatan magis apa, tiba-tiba semua orang pun tertegun dan melepaskan pegangannya dari Anton. Dari Fiona tampak seperti sebuah aura api yang menyala-nyala, dan dari semua orang, tampaknya hanya Fiona lah yang bisa memahami alasan mengapa Anton harus pergi.
“Ini bukan sesuatu yang bisa kalian semua mengerti,” kata Fiona,
“tapi terkadang seorang pria harus menempuh jalan ini, dan dia tidak boleh dihalang-halangi,”
Anton menatap ke arah Fiona dengan takzim, lalu ia menyatukan tangannya dan membungkuk hormat pada Fiona.
“Cici… dou xie,” kata Anton.
Kembali Anton melangkah pergi, diiringi tatapan berpisah untuk semua orang. Namun begitu Anton berbalik, Bu Sabrina sudah ada di hadapannya. Anton terkejut dan sedikit bergetar. Tatapan mata Bu Sabrina selalu saja sama, dingin dan menakutkan. Tapi untuk kali ini, Anton berusaha melawan tatapan mata itu.
“Mau pergi ke mana, Tuan Anton?” tanya Bu Sabrina dengan dingin.
“Aku harus pergi, ini soal Lucia,” kata Anton.
“Pergilah kalau begitu,” kata Bu Sabrina.
Jawaban Bu Sabrina ini jelas amat ganjil bagi Anton. Mungkin Anton berharap Bu Sabrina akan menjawab sebaliknya, dan dengan itu ia akan berkonfrontasi.
“Aku sudah mendengar dari Laksdya Sihombing; dan meskipun ini berarti desersi, tapi aku tidak bisa menghentikanmu,” kata Bu Sabrina,
“ini soal Lucia, dan kamu memang punya alasan untuk pergi,”
“Terima kasih, Bu Sabrina,” kata Anton.
“Jangan berterima kasih dulu,” kata Bu Sabrina,
“kita akan bicarakan ini nanti sekembalinya kamu,”
“Aku janji, aku akan menanggung resikonya,” kata Anton.
Anton pun segera berlari pergi, takut kalau-kalau ada yang akan menghadangnya lagi. Semua orang jelas saja tidak mengerti mengapa Bu Sabrina membiarkan Anton pergi. Padahal dengan kehadiran Bu Sabrina di sini, mereka berharap Beliau bisa menahan Anton, karena memang Bu Sabrina lebih berkuasa daripada Anton.
“Kenapa Anda biarkan dia pergi, Bu?” tanya Fitri.
“Dia memang punya alasan untuk pergi,” kata Bu Sabrina,
“walaupun aku ingin menghentikannya, tapi aku tidak bisa; tidak etis untuk itu; betul kan, Nona Fiona?”
Fiona hanya mengangguk saja.
Dalam sekejap, Anton sudah sampai di atas helipad. Matahari bersinar amat terik, membakar suasana di atas helipad ini. Tanpa mempedulikan panas yang membakar, Laksdya Sihombing berdiri di samping helikopter menunggu Anton. Sementara itu, angin dari baling-baling helikopter yang berputar menghembus keras sehingga Anton harus membungkuk untuk berjalan melawan angin.
“Anda sudah siap, Tuan Anton?” tanya Laksdya Sihombing.
“Sudah siap, bisakah kita berangkat sekarang juga?” tanya Anton.
“Kalau memang Anda menginginkannya,” kata Laksdya Sihombing.
Ketika Anton hendak naik ke atas helikopter, seseorang tiba-tiba memanggilnya. Anton berhenti dan menoleh. Itu ternyata adalah Prita, dan ia berlari menghampiri Anton.
“Anton, tunggu!” kata Prita.
“Aku nggak bakal ngebatalin niat buat pergi, Prita!” kata Anton berteriak berpacu dengan kencangnya suara rotor helikopter.
“Siapa yang minta kamu batal?” tanya Prita,
“aku mau ikut,”
“Apa!!? Kamu gila!!??” tanya Anton.
“Kalau aku gila, lalu kamu apa??” tanya Prita,
“Laksamana, minta izin buat ikut!”
“Kalau begitu cepatlah kalian naik,” kata Laksdya Sihombing,
“sebelum yang lain minta ikut juga!”
“Makasih!” kata Prita.
Prita tersenyum, lalu bersama Anton ia ikut naik dan duduk di atas helikopter. Begitu semua orang selesai memasang sabuk pengamannya, pilot helikopter segera tinggal landas. Prita duduk di samping Anton, dan mereka berdua berhadapan dengan Laksdya Sihombing.
“Kamu nggak perlu melakukan ini, Prita!” kata Anton.
“Harus ada yang jagain kamu, Ton!” kata Prita,
“lagian aku juga mau ikut, aku ada libur dan pastinya bakal bosan di rumah terus,”
Anton pun tersenyum kepada Prita.
“Makasih ya, udah mau ikut,” kata Anton.
Prita mengangguk sambil tersenyum. Ia lalu memegang tangan Anton dengan erat, dan mereka berdua pun terus berpegangan tangan sementara helikopter melaju menuju cakrawala.
Beberapa Jam Sebelumnya…
Samudera Indonesia
Depth not-yet-known
Time not-yet-known
Lucia merasakan ia seperti melayang, terombang-ambing di tengah kegelapan. Telinganya mendengar banyak sekali suara, kebanyakan suara yang dikenal, suara dari masa lalunya. Ia pun juga serasa berada di sebuah bioskop yang memutarbalik ingatannya di masa lalu: derap kaki kecilnya yang tengah bermain, senyum almarhum kedua orang tuanya, rumah masa kecil di kampung halamannya di Ternate, bau laut dan angin semilir, teman-temannya pada saat sekolah, cinta pertamanya, kekasih pertamanya, ciuman pertamanya, semuanya mengalir begitu saja seolah tengah diperlihatkan kepada Lucia. Remang-remang, ia pun merasa dikelilingi cahaya yang menenangkan. Di manakah dia sekarang?
Konon ketika seorang manusia sudah mendekati akhir hidupnya, maka ia akan diperlihatkan semua perjalanan hidupnya mulai dari lahir hingga saat terakhir hidupnya. Apakah ia memang sudah mati dan berada di alam lain? Memori pun mengalir terus, pertama kali dia bekerja di NewsTV, teman-temannya di sana, juga pernikahan pertamanya yang penuh penderitaan. Lucia pun tanpa sadar menitikkan airmata, itu hal yang selama ini ingin ia lupakan. Kemudian bayangan terakhir pun muncul, Anton dan Lani, yang sangat ia sayangi. Lani si kecil yang selalu memanggilnya dengan “Mama” betapapun Lucia bukanlah ibu kandungnya. Lucia menangis karena ia merasa tak akan bisa memegang tangan Lani lagi, tak bisa menggendongnya, menenangkannya ketika Lani menangis. Siapa nanti yang akan memasak sarapan untuk Lani? Siapa pula yang akan menemani Anton? Yang akan berbagi kehangatan di tengah malam yang dingin, yang akan memberikannya kecupan hangat di pagi hari dan sebelum tidur, dan Lucia merasakan kedinginan sembari mengingat ketika kedua tubuh telanjang mereka berpelukan dan bercumbu mesra hingga dinginnya udara terkalahkan oleh hangatnya cinta.
Cahaya putih pun terlihat, dan Lucia terpaku. Inikah jalan ke surga? Mula-mula redup, lalu menjadi temaram menyilaukan. Sesosok wajah yang tersenyum tampak samar-samar terlihat di balik cahaya itu. Lucia menarik nafas, mungkin inilah saatnya ia meninggalkan semuanya, meninggalkan Lani dan Anton, juga semua di NewsTV. Dengan suatu dorongan, Lucia pun mengulurkan tangannya ke arah cahaya itu, dan tiba-tiba… ia pun merasa ditarik dengan sangat kuat ke atas.
“Masih hidup!!” teriak Letkol. Ari La Masa.
Lucia segera tersadar, dan tahu-tahu ia sudah basah kuyup. Suasana gelap, dan beberapa berkas cahaya terlihat, berkas cahaya dari senter-senter darurat, dan salah satunya sangat terang menerpa wajahnya, senter yang dipegang oleh Letkol. La Masa. Ia pun segera menarik nafas panjang dan terbatuk-batuk mengeluarkan air dari mulut dan lubang hidungnya. Sedetik kemudian, seluruh tubuhnya, terutama kepalanya, terasa amat sakit.
“Di mana aku?” tanya Lucia sambil masih terbatuk-batuk.
“Apa maksudnya di mana?” tanya Letkol. La Masa,
“masih di sini tentu saja, di dalam kapal,”
Lucia tercengang. Berarti ia tadi tengah bermimpi indah dan kini sudah dibangunkan ke dalam realita pahit. Ia hampir tidak mengenali ruangan ini, gelap dan penuh puing-puing. Dari atas, air pun mengucur dengan deras, sehingga terasa seperti tengah berteduh di sebuah gubuk yang bocor ketika hujan deras. Bunga api dari instalasi listrik masih memancar, dan suasana menjadi sesak tiba-tiba. Lucia juga akhirnya baru menyadari kalau lantai di bawahnya sudah terendam air.
“Banjir?” tanya Lucia,
“apa kita tenggelam?”
“Pertanyaan yang aneh,” kata Letkol. La Masa,
“jelas saja kita tenggelam, namanya juga kapal selam,”
“Maksudku…” kata Lucia.
“Aku tahu… tenang saja, cuma pipa yang bocor; akibat benturan mungkin,” kata Letkol. La Masa,
“kalau kebocorannya sudah diatasi, kami akan menyalakan bilge pump untuk memompa airnya keluar; astaga, aku tadinya takut kalau kau sudah mati, mengingat tadi kepalamu hampir terbenam seluruhnya,”
Pantas saja ia merasa seperti air tengah memenuhi paru-parunya. Baju yang dikenakan Lucia kini sudah koyak dan berlubang di beberapa tempat. Ia pun menderita beberapa luka ringan, kecuali luka di kepala yang kini mulai membiru, serta di lengannya pun terdapat luka sobek yang cukup panjang. Perih sekali, bercampur dengan air laut. Keadaan Letkol. La Masa sendiri pun tidak lebih baik, mukanya menghitam belepotan jelaga, dan luka-luka serta darah kering pun terlihat di sana-sini. Setidaknya mereka masih hidup, karena tepat di sebelah Lucia, ada awak yang sudah jadi mayat, itu si perwira senjata yang malang.
“Di mana Laksamana?” tanya Lucia,
“Erika? Iwan?”
“Semua selamat, di ruang medis,” kata Letkol. La Masa,
“sepertinya kau juga harus segera ke sana; lukanya sepertinya parah,”
Lucia mencoba berdiri, tapi kepalanya sakit luar biasa hingga ia terduduk kembali. Karena tangannya juga sakit, maka ia hampir tidak bisa berpegangan. Akhirnya Letkol. La Masa terpaksa harus memapah Lucia ke ruangan medis. Kapal selam ini menjadi gelap, hanya lampu darurat saja yang bisa menyala, dan keadaannya cukup mengenaskan, ini apabila Lucia membandingkannya dengan keadaan seperti sebelum enkonter dengan kapal musuh tadi.
Sepanjang perjalanan, Lucia melihat banyak sekali awak kapal bekerja dengan giat, tapi rata-rata adalah menambal kebocoran. Padahal keadaan mereka juga penuh luka dan memar. Beberapa kali mereka menemukan awak yang sudah menjadi mayat, tergeletak begitu saja, belum sempat untuk diurus. Saking sempitnya koridor di kapal selam ini, Lucia bahkan sampai harus melangkahi beberapa mayat.
Ruang medis sendiri amat ramai dan dipenuhi oleh mereka-mereka yang luka-luka. Dokter kapal bekerja dengan amat keras untuk merawat masing-masing, dan beberapa orang kelasi yang “cukup sehat” hilir mudik melayani mereka yang membutuhkan. Tidak ada tempat tidur kosong, jadi Lucia terpaksa didudukkan di atas meja. Laksma. Mahan ada di sana, seorang kelasi tampak sedang merawat luka Laksma. Mahan. Ia hanya tersenyum sejenak kepada Lucia, lalu kembali muram. Salah satu tangannya terpaksa harus dibebat dan digantungkan di leher.
“Mbak Lucia!!” teriak Erika tiba-tiba.
Lucia pun terkaget ketika Erika langsung memeluknya. Rupanya Erika sudah selamat, dan beberapa perban serta plester telah menutup luka-lukanya, kecuali beberapa titik di wajahnya saja yang coreng hitam akibat jelaga. Di sudut lain, Iwan juga selamat, ia hanya memberi lambaian tangan, sementara kepalanya tengah dibungkus perban oleh kelasi yang lain.
“Pelan-pelan Erika.. sakit…” kata Lucia, memaksakan diri tersenyum walaupun kepalanya sakit bukan main.
“Nona Erika kebetulan saja pingsan dekat pintu, termasuk yang pertama diselamatkan,” kata Letkol. La Masa.
“Aku udah khawatir lho, Mbak, aku kirain Mbak nggak selamat,” kata Erika.
“Agak sulit juga nemukannya, soalnya ketutupan puing,” kata Letkol. La Masa,
“belum lagi gelap,”
Listrik kapal selam memang masih mati, dan tak terkecuali di ruang medis ini. Sebagai ganti penerangan, beberapa buah senter darurat ditaruh di sudut-sudut ruangan ini; salah satunya bahkan sinarnya sudah mulai berkedip-kedip. Dokter kapal, Letnan Sulaiman, segera menghampiri Lucia dan memeriksa luka-lukanya.
"Tahan sebentar yah,” kata Lt. Sulaiman.
Lucia memekik kesakitan ketika Lt. Sulaiman memegang luka di kepalanya. Dengan cekatan, Lt. Sulaiman pun mengobati dan menutup luka di kepala itu.
“Yang di kepala nggak parah,” kata Lt. Sulaiman,
“tapi yang di tangan harus dijahit,”
“Kalau emang nggak parah, tolong yang lain aja dulu, Dok, yang lebih parah,” pinta Lucia.
Lucia memang masih menilai luka-luka yang deritanya ini “tidak begitu parah”. Ini juga karena Lucia melihat beberapa orang kelasi tengah terbaring di ranjang, merintih kesakitan, dengan luka-luka yang amat parah. Herannya, perawatan atas mereka tampaknya hanya dilakukan sederhana saja. Normalnya, Lucia berpendapat bahwa yang terluka paling parah lazimnya harus didahulukan, bila dibandingkan dengan dirinya.
“Ya, nanti, kalau memang mereka masih bertahan,” kata Lt. Sulaiman.
“Tapi, mereka bisa…” protes Lucia.
“Mati? Memang kemungkinan besar seperti itu…” jawab Lt. Sulaiman dingin.
“Lalu kenapa Anda koq tidak…” protes Lucia lagi.
“Dengar, Nona, mungkin ini hal yang tidak bisa Anda terima, tapi sekarang ini adalah keadaan perang, dan banyak orang terluka,” kata Lt. Sulaiman,
“mengobati orang yang mati hanya akan membuang-buang obat yang berharga; ini sekarang di dalam laut, bukan dekat apotek 24 jam, persediaan obat kami terbatas; kalau mereka bertahan, pasti akan saya tolong… tapi tidak sekarang,”
Lucia jelas tidak bisa menerima keadaan itu, tapi ia diam saja. Bagaimanapun Lt. Sulaiman benar, ini adalah keadaan pertempuran, sesuatu hal yang mungkin tidak bisa dibayangkan oleh orang sipil yang sudah terbiasa hidup di alam damai. Mungkin di alam damai, orang yang terluka parah akan mendapat prioritas pengobatan, tapi di saat perang seperti ini, maka justru yang terluka tidak terlalu parah lah yang akan diobati lebih dulu, sementara yang parah akan diobservasi. Jika ia bisa bertahan melewati saat kritis, maka barulah ia akan diobati.
Jarum jahit yang dipegang oleh Lt. Sulaiman menusuk lengan Lucia setelah sebelumnya Lt. Sulaiman memberi pemati rasa lokal. Bagaimanapun, rasa sakit akibat ketika jarum itu masuk dan keluar sambil menarik benang, masih cukup sakit dirasakan oleh Lucia, sehingga ia pun berusaha menahan rasa sakit itu hingga menitikkan airmata. Namun Lucia tetap tidak menjerit. Karena sikap tenang itulah maka proses penjahitan itu berlangsung dengan cepat dan rapi. Lucia bernafas lega ketika Lt. Sulaiman menyimpulkan jahitan di tangannya itu.
“Posisi kita di mana, Letkol?” tanya Laksma. Mahan pada Ari La Masa.
“Belum diketahui, Kep,” kata Letkol. La Masa,
“teknisi masih berusaha mengembalikan sistem kelistrikan kapal; posisi kedalaman juga tidak diketahui,”
Tiba-tiba terdengar suara logam berderak dengan amat keras, terasa seperti kapal selam itu tengah menggeliat. Suara ini tentu saja amat menakutkan bagi siapa saja yang mendengarnya, karena ini terjadi akibat badan kapal selam ditekan oleh tekanan air yang mahadahsyat di kedalaman; prosesnya sama seperti kalau kita meremas kaleng minuman ringan. Apabila badan kapal sudah tidak mampu menahan tekanan air, maka kapal selam itu akan patah dan hancur dalam tekanan mahabesar itu, dan tidak meninggalkan apapun kecuali hanya serpihan-serpihan kecil. Air pun mulai menetas dari pipa-pipa saluran di atas ruangan.
“Sebaiknya kamu suruh mereka bekerja lebih cepat,” kata Laksma. Mahan,
“sebelum kita jadi kapal selam penyet di sini,”
Kalau maksudnya adalah sebuah candaan, maka ini adalah candaan yang tidak lucu. Letkol. La Masa pun meninggalkan tempat dengan raut muka yang amat serius.
“Reza mana?” tanya Lucia pada Erika.
“Dia nggak papa, cuman memar-memar dikit,” kata Erika,
“dia ikut bantuin awak kapal buat nambal kebocoran; aku aja ikut bantu-bantu di sini,”
Erika memang dari tadi tampak mondar-mandir membawakan obat bagi siapa yang memerlukan. Dalam keadaan seperti ini, maka sudah tidak ada lagi pembeda mana sipil mana militer, semua kini dianggap sebagai prajurit. Erika dan Reza memang cukup cekatan dalam menghadapi situasi, Lucia pun jadi maklum ketika Manda mengatakan bahwa kru yang ikut dalam peliputannya adalah sebagai “yang terbaik”.
Saat itulah lampu utama kembali menyala, dan disusul dengan lampu-lampu lain di koridor. Semua orang berteriak senang, ini tandanya sistem kelistrikan sudah kembali online di kapal selam ini. Seorang kelasi buru-buru masuk ke ruang medis dan langsung memberitahukan sesuatu pada Laksma. Mahan.
“Kep, lapor! Semua kebocoran sudah berhasil diatasi,” kata kelasi itu,
“sistem juga sudah online,”
“Bagus,” kata Laksma. Mahan,
“perintahkan untuk menyalakan bilge pump dan pompa air keluar dari kapal selam, aku ke anjungan segera,”
Kelasi itu lalu menghormat dan segera meninggalkan tempat. Laksma. Mahan pun bangkit dan memasang topinya kembali. Ia terlebih dahulu menghampiri Lucia.
“Masih tertarik mengikuti dari anjungan, Nn. Lucia?” tanya Laksma. Mahan,
“kalau kamu sudah baik-baik saja, tentunya,”
“Saya tidak apa-apa, Laksamana,” kata Lucia,
“tentu saja saya akan ikut ke anjungan,”
Lalu Lucia segera mengikuti Laksma. Mahan menuju ke anjungan. Setelah listrik menyala, barulah Lucia bisa melihat dengan jelas segala kerusakan di sini. Tidak bisa dikatakan dengan pasti, cukup bahwa suasana betul-betul berantakan. Air masih saja menetes dari pipa-pipa di atas, tapi setidaknya sudah tidak sederas sebelumnya. Setibanya di anjungan, Letkol. La Masa sudah ada di sana, berdiri, namun wajahnya tampak tidak begitu senang.
“Bagaimana keadaan kapal ini?” tanya Laksma. Mahan.
“Berita buruk, Kep,” kata Letkol. La Masa,
“kita bisa memompa air keluar dari kabin, tapi kita kehilangan daya pada pompa balast,”
“Astaga!” jerit Laksma. Mahan,
“jadi maksudnya kita tidak akan bisa ke permukaan?? Apa bisa diperbaiki?”
“Saya tidak bisa menjamin,” kata Letkol. La Masa,
“cukup sulit kalau dilakukan di sini, hampir mustahil malahan,”
“Berapa kedalaman kita?” tanya Laksma. Mahan.
“Sekitar 250 meter, lebih dalam daripada jangkauan DSRV kita,” kata Letkol. La Masa,
“tapi kalau kita berhasil memompa semua massa air bocor keluar, mungkin kita bisa kembali ke kedalaman 200 meter,”
“Baiklah, apa lagi?” tanya Laksma. Mahan.
“Hampir semua sistem, termasuk komunikasi mati, selama kita tidak bisa ke permukaan, kita tidak bisa mengirim kabar apa-apa; posisi tidak diketahui,” kata Letkol. La Masa,
“tapi tampaknya sinyal SOS kita tadi sudah berhasil terkirim, semoga saja Markas menerimanya dengan baik,”
Lucia hanya tercengang saja mendengar penuturan Letkol. La Masa. Tidak ada berita baik, terutama adalah fakta bahwa kapal selam ini tidak bisa ke permukaan. Biasanya ini adalah alamat maut, dan apabila tidak dapat segera ditolong, maka ini adalah alamat semuanya akan mengalami mati akibat kehabisan udara, jenis kematian yang paling ditakuti oleh awak kapal selam, lebih daripada mati akibat tenggelam atau hal lain.
“Masih ada harapan,” kata perwira radio tiba-tiba.
“Jelaskan,” kata Laksma. Mahan.
“Kita masih punya floating signal-transmitter, mungkin bisa kita pakai untuk mengirim berita SOS ke Markas, memberitahukan posisi kita, dan meminta penyelamatan segera,” kata perwira,
“tapi aku tidak tahu apakah alat itu, setelah dihantam ledakan bertubi-tubi, masih bisa berfungsi atau tidak,”
“Lakukan saja,” kata Laksma. Mahan,
“kita nggak punya banyak pilihan sekarang,”
Perwira radio mengangguk, lalu ia kembali ke mejanya. Dengan hati-hati ia menuliskan sebuah pesan. Ia tahu kalau FST akan mengirimkan sebuah pesan yang diprogramkan secara terus menerus.
“FST siap diluncurkan!” kata perwira radio.
“Luncurkan!” kata Laksma. Mahan.
Perwira radio pun mengaktifkan FST, kemudian dengan sekali menekan tombol, ia meluncurkan piranti pengirim signal itu. Sebuah lampu indikator berkedip-kedip menunjukkan bahwa FST tengah menjalankan tugasnya, sementara perwira radio dengan hati-hati mengatur penguluran kabel supaya FST bisa menuju ke permukaan. Tiba-tiba, lampu indikator mendadak mati, dan perwira radio berteriak panik.
“TIDAK!!” jerit perwira radio.
“Ada apa??” tanya Laksma. Mahan.
“Kabel pengaitnya putus!” kata perwira radio.
“Astaga…” gumam Lucia.
“Kita masih punya harapan, FST masih akan bisa mengirim sinyal itu meskipun sudah terlepas dari kapal selam…” kata perwira sonar,
“tapi itu nanti berarti…”
“Seperti sebuah pesan di dalam botol…” sambung Lucia,
“kita tidak bisa tahu ke mana dia akan pergi,”
Semua menarik nafas panjang sembari mendesah.
“Berapa cadangan udara kita?” tanya Laksma. Mahan.
“Sistem atmosfer masih menyala, jadi kemungkinan kita masih punya waktu sekitar 96 jam,” kata Letkol. La Masa,
“menghitung sudah ada korban mati, mungkin saja bisa lebih, sekitar 100 jam mungkin,”
“Jam berapa sekarang?” tanya Laksma. Mahan.
“Jam 8 pagi, Kep,” kata Letkol. La Masa.
“Kalau begitu, nikmati 100 jam terakhir kalian,” kata Laksma. Mahan,
“dan berdoalah,”
Lucia hanya mematung, seolah bahwa ia bukannya selamat, tapi menunda kematian 100 jam lagi.
Samudera Indonesia
250 meter kedalaman
08.00 WIB
Countdown started
H minus 100:00:00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar