Selasa, 29 September 2020

"LAUT BIRU" CHAPTER VIII

The Backfires

CHAPTER VIII

The Backfires


Samudera Indonesia
Mendekati ground zero
06.38 WIB
H minus 77:22:00


Penerbangan berlangsung cukup lambat di tengah-tengah turbulensi angin, dan ini membuat Anton sedikit frustrasi. Anton paham, bahwa apabila berbicara soal menyelamatkan awak kapal selam yang tenggelam artinya sama saja dengan berlomba dengan waktu, karena waktu adalah musuh utama di sini. Berapa waktu yang tersisa, Anton tidak tahu, dan itulah yang membuat Anton semakin senewen seiring detik-detik yang berlalu. Apakah mereka masih punya waktu, atau sudah terlambat.

Anton pun teringat tragedi kecelakaan kapal selam Kursk milik AL Russia di Laut Barentz. Pada saat itu, ketidakmampuan Russia untuk menyediakan DSRV (Wahana Penyelamatan Laut Dalam) membuat Russia harus menempuh serangkaian negosiasi panjang dan melelahkan untuk meminjam peralatan tersebut dari Norwegia atau Amerika Serikat. Ketika akhirnya DSRV milik Norwegia berhasil mencapai kapal selam itu, mereka menemukan bahwa meskipun kapal selam itu masih utuh, akan tetapi semua orang di dalamnya sudah meninggal. Meskipun pihak Norwegia mengklaim bahwa semua orang mungkin sudah mati semenjak awal, beberapa pihak independen menilai bahwa DSRV Norwegia mungkin saja terlambat datang beberapa jam, beberapa jam yang terbukti mematikan. Hal yang sama bisa saja terjadi pada KRI Antasena, pada Lucia. Jadi, keterlambatan amat jelas tidak bisa ditolerir di sini.

Prita sendiri tidak menunjukkan kegelisahan seperti Anton dan berusaha mengusir semua kecemasan dengan menikmati saja perjalanan ini, apalagi pemandangan ketika fajar memang betul-betul memukau dan indah. Prita sering sekali bertugas keluar sehubungan dengan posisinya sebagai awak tim Khatulistiwa, program travelling NewsTV; dan dengan itu Prita sering sekali melihat keindahan alam yang luar biasa. Bagaimanapun, melihat suasana fajar dari sebuah pesawat tempur ini tetap menjadi pengalaman luar biasa, apalagi kokpit pesawat mengizinkannya untuk melemparkan pandangan dengan luas, tidak seperti jendela sempit ketika ia naik pesawat komersial. Prita pun mendendangkan sebuah lagu.

"Miyo toukai no sora akete

(Lihat dan bukalah langit di laut timur)

Kyokujitsu takaku kagayakeba

(Jika mentari pagi bersinar tinggi)

Tenchi no seiki hatsuratsu to

(Dengan penuh semangat hidup di jagat raya)

Kibou wa odoru ooyashima

(Harapan kami adalah Ooyashima berjaya)

Oo seiro no asagumo ni

(Oh di awan pagi nan cerah)

Sobiyuru Fuji no sugata koso

(Sosok gunung Fuji yang menjulang)

Kin'ou muketsu yuruginaki

(Tak gentar bergetar sedikitpun dari ancaman luar)

Wa ga nippon no hokorinare

(Jadilah kebanggaan Jepang kami!)"

Lagu itu merupakan salah satu mars nasional Jepang, yang berjudul "Aikoku Koshinkyoku". Lirik lagunya serta suara Prita yang merdu sungguh cocok sekali untuk dinyanyikan pada pagi seperti itu. Letnan Danur sendiri hanya diam, karena ia bertugas mengendalikan pesawat dalam keadaan angin yang tidak menentu semacam ini.

“Lihat, kita sudah sampai!” teriak Lt. Danur.

Anton mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Lt. Danur. Dua buah siluet hitam tampak di sana, kontras dengan warna air yang keemasan menyala-nyala. Lt. Danur mendekati kedua siluet itu dengan gerakan memutar yang semakin lama semakin mendekat. Nampaknya itu adalah manuver perkenalan supaya tidak mengacaukan pesawat Lt. Danur dengan pesawat lain. Lambat laun mulai jelas terlihat bahwa kedua siluet hitam yang berdampingan itu adalah siluet dua buah kapal. Yang besar tentu saja adalah KRI Ternate, sementara yang lebih kecil pastilah KRI Harimau, yang terlebih dahulu sudah ada di sana. KRI Ternate pun lalu memberikan isyarat lampu kepada pesawat Lt. Danur. Tidak ada kontak radio yang dibuat, hanya dari kontak lampu dari kapal dan manuver perkenalan Lt. Danur.

Kapal KRI Ternate adalah kapal besar yang cukup agung buatan dari PT PAL. Akan tetapi, aslinya ini bukanlah kapal penempur (kombatan). Kapal KRI Ternate adalah kapal main body yang dalam operasi pendaratan amfibi menempati posisi sebagai KAU (Kapal Alas Utama). Basis pengembangannya dibuat dari modul kapal pendarat LPD, jadi meskipun KRI Ternate adalah kapal pertama di kelasnya, kelas yang dipakai tetap saja bukanlah “kelas Ternate” melainkan “kelas KAU”. Kapal ini memiliki pasangan yaitu kapal “kelas KAK (Kapal Alas Kedua)”, dan dalam hal KRI Ternate, maka pasangannya adalah KRI Tidore. Kedua kapal ini akan menjadi semacam garis pelepasan akhir dari setiap operasi pendaratan amfibi yang sekaligus berfungsi pula sebagai kapal sensor dan bombardemen awal.

Kapal ini memiliki panjang hingga 200 meter dan baik KAU maupun KAK semuanya memiliki senjata utama 6 kanon 5-inchi autoloader dalam dua triple-turret dan 2 buah peluncur roket R-HAN 40x122mm serta senjata pertahanan diri berupa 2 buah kanon AK-630 ukuran 30mm ditambah beberapa kanon Oerlikon 20mm serta senapan mesin berat 12,7mm. Perbedaan dari dua kelas kapal alas adalah bahwa KAU dilengkapi dengan sensor anti-kapal-selam sementara KAK dilengkapi sensor anti-serangan-udara. Perbedaan lainnya adalah posisi penempatan turret kedua; bahwa pada KAU turret kedua dipasang di tengah kapal, antara forward dan aft bridge (midship), sementara pada KAK, turret kedua diletakkan di buritan kapal, yatu di belakang aft-bridge. Dalam hal senjata khusus, KAU ditambahkan 4 peluncur mortir anti kapal selam RBU-1200 sementara KAK dilengkapi dengan sistem rudal anti pesawat, Kashtan.

Dalam skema serangan amfibi yang dikembangkan oleh Angkatan Laut, posisi kapal alas memang ada di paling depan; di belakangnya ada kapal BTK (Bantuan Tembakan Kapal) yang akan diemban perannya oleh destroyer yang akan rampung dari kelas Yos Sudarso. Di belakang BTK adalah kapal-kapal pendarat LST dan LPD dengan dipandu oleh Kapal Komando dari kelas Bukit Barisan, sementara paling belakang, armada pendarat ini akan dilindungi oleh kapal-kapal tabir yang diperankan oleh korvet dan KCR-KCT.

Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka TNI AL mengusahakan pembuatan kapal-kapal fungsi di atas lewat industri lokal. Untuk kapal alas dibuatlah beberapa kapal berpasangan yaitu selain KRI Ternate-KRI Tidore ada lagi KRI Haruku-KRI Seram, KRI Bangka-KRI Belitung, serta KRI Sangihe-KRI Talaud. Pada kelas Destroyer akan dibuat kelas Yos Sudarso dengan rencana mencapai lima buah kapal sekaligus, yaitu KRI Yos Sudarso, KRI Soedomo, KRI Ahmad Yani, KRI D.I. Panjaitan, dan KRI Pierre Tendean. Sementara itu dari kapal Komando, selain ada KRI Bukit Barisan, juga akan dibuat pula KRI Cartenz, KRI Gamalama, dan KRI Tangkuban Parahu. Terakhir bagi kapal-kapal tabir adalah peran dari Korvet SIGMA-PAL (kelas Diponegoro) dan korvet nasional dari kelas Keumalahayati, yaitu KRI Keumalahayati, KRI I Gusti Ketut Jelantik, KRI Panglima Polim, dan KRI Nala di samping korvetnas lain yang akan dibuat kemudian.

Sehubungan dengan peranannya sebagai kapal alas untuk elemen pertempuran ASW (Anti Submarine Warfare), maka KRI Ternate amat sangat cocok digunakan untuk melacak kapal selam KRI Antasena. Sensor bawah air milik kapal ini adalah yang terbaik dan tercanggih yang dimiliki oleh TNI AL, bahkan lebih canggih daripada sensor bawah air milik KCT maupun Kapal Komando KRI Bukit Barisan. Oleh karena itu, sejak awal memang kapal ini, selain sudah diset bagi elemen ASW dan kapal alas, juga berfungsi sebagai kapal SAR dalam operasi penyelamatan bawah laut.

Pesawat pun menurunkan ketinggiannya dan akhirnya mendarat di antara KRI Ternate dan KRI Harimau. Tidak seperti ketika mendarat di darat, di mana alas pendaratan adalah tetap dan solid; mendarat di air sama saja mendarat di landasan yang plastis, fleksibel, dan terus bergerak. Beberapa kali pesawat sempat terpental kembali ke atas akibat hantaman ombak, tetapi dengan pengalamannya, Lt. Danur akhirnya berhasil mendaratkan pesawatnya dengan baik. Berada di antara KRI Ternate dan KRI Harimau juga melindungi pesawat dari hempasan gelombang sepanjang proses debarkasi.

Namun ketegangan belum usai sampai di situ. Sebuah crane diturunkan dari atas KRI Ternate dengan salah seorang operator hinggap di atasnya sambil memberi komando. Operator ini akan memastikan bahwa posisi crane sudah benar, lalu ia pula yang akan mengaitkan hook cranepada pesawat. Sudah barang tentu ini bukan pekerjaan mudah, bahkan walaupun sudah mengenakan harness, tetap saja berbahaya, apalagi angin menghembus kabel crane hingga bergoyang keras. Pun pengangkutan pesawat harus dilakukan secepatnya, karena ombak bisa pula menghanyutkan pesawat dari posisinya semula. Prita melihat proses ini dengan penuh kengerian, tapi akhirnya hook itu berhasil pula dikaitkan ke pesawat dan pesawat pun segera ditarik naik ke atas kapal walaupun masih pula bergoyang ditiup angin. Ketegangan baru mereda setelah pelampung pesawat menyentuh landasan kapal.


07.36 WIB
H minus 76:24:00


Proses pendaratan dan pengangkatan pesawat ke atas kapal sendiri cukup memakan waktu, apalagi ditambah dengan keadaan angin dan cuaca yang menghambat proses. Letnan Danur sendiri, yang sudah biasa dikerek dengan pesawat ke atas kapal, bisa langsung turun dengan tenang seolah tak kurang satu apapun; akan tetapi bagi Anton dan Prita, yang baru kali ini merasakan “dikerek” tentu membutuhkan waktu untukrecovery selepas kaki mereka menjejak di atas kapal. Apalagi peristiwa debut dikerek itu dilakukan di bawah angin yang besar sehingga pesawat bergoyang-goyang dan beberapa kali terpaksa crane berhenti mengerek.

Seorang kelasi, tanpa membuang waktu segera meminta Anton dan Prita untuk mengikutinya menghadap kapten kapal. Anton pun menyalami Letnan Danur, karena Letnan Danur hanya akan di kapal ini sejenak untuk mengisi bahan bakar pesawatnya sebelum nanti terbang kembali pulang. Bagaimanapun, kalau bukan karena Letnan Danur, belum tentu Anton dan Prita bisa sampai di sini dengan selamat.

Jalan antara buritan dengan anjungan cukup jauh, dan setelah berjalan baru terasalah bahwa kapal ini memang benar-benar besar. Secara dimensi, kapal perang ini menyamai kapal-kapal tempur (battleship) legendaris; hanya soal armor, bobot tempur, dan persenjataannya sajalah yang kurang memadai. Tidak seperti jenis LPD yang memang seperti mengumbar ruang terbuka di atas dek, bangunan utama kapal ini lebih rapat, persis seperti kapal perang sungguh-sungguh. Oleh karena itu jalan-jalan atau lorong-lorong yang harus dilewati oleh Anton dan Prita untuk menuju anjungan juga relatif berukuran sempit. Hal ini mengingatkan Anton akan koridor-koridor di gedung NewsTV yang juga kecil dan menyesatkan, karena memang dirancang untuk menghambat gerilyawan yang hendak menguasai stasiun TV.

Ruangan kendali terletak di lantai atas anjungan depan, dan dipenuhi oleh instrumen-instrumen pengendali seluruh fungsi dan kerja kapal. Anton dan Prita terkesima dengan begitu banyaknya komputer serta peralatan elektronik di sini, jauh lebih banyak dari yang mereka bayangkan. Salah satu dari instrumen ini adalah juga termasuk sistem MANDALA atau Komando Pendaratan Laut Amfibi serta KALIMASADA atau Komando Perlindungan Armada dari Serangan Udara. MANDALA digunakan sebagai instrumen dalam penyerangan amfibi, yang memungkinkan semua komponen dalam operasi amfibi untuk bergerak dengan sinkron seperti sebuah orkestra, termasuk di antaranya adalah salvo bantuan artileri, salvo rudal jelajah, serta pelepasan pasukan. Saking sinkronnya, sehingga misal ada yang iseng untuk memperhatikan dengan seksama salvo bantuan tembakan, maka suara rangkaian tembakannya akan terdengar seperti permainan orkestra! Sementara KALIMASADA adalah sistem pertahanan anti serangan udara yang setara dengan sistem AEGIS di Armada Amerika Serikat.

Kapten kapal KRI Ternate segera menyalami Anton dan Prita. Di kalangan Angkatan Laut, nama Anton dan Prita memang cukup terkenal pasca Pertempuran di Selat Ombai. Ingat, bahkan Komodor Mahan pun rela untuk melindungi Lucia, istri Anton. Kapten kapal dari KRI Ternate sekarang adalah Kapten I Made Suwantara, atau biasa dipanggil Kapten Kadek; ia juga seorang pelaut senior, dan ia pun menghormati Anton dan Prita sama seperti yang lainnya.

“Tuan Anton, sebelumnya maaf,” kata Kapt. Kadek,

“tapi ada yang mau bicara dengan Anda,”

“Sekarang?” tanya Anton,

“tapi Saya kan baru datang,”

“Iya, betul,” kata Kapten Kadek,

“tapi dia sudah menanti Anda dari tadi,”

Dia? Siapakah dia ini? Kapten Kadek pun mengulurkan sebuah piranti transmisi radio militer. Anton agak ragu juga ketika menerimanya, tapi ketika ia mendengarkan, terdengarlah suara sapaan seorang wanita.

“Tuan Anton, akhirnya Anda sampai juga,” kata wanita itu.

“Maaf, saya berbicara dengan siapa, ya?” tanya Anton.

“Perkenalkan Tuan Anton, nama saya Arfa, Arfa Aryanti,” kata wanita yang ternyata adalah Arfa.

“Penasihat Keamanan Presiden?” tanya Anton.

“Betul sekali; nah, kita memang belum pernah bertemu satu sama lain, tapi aku mengenal Anda, dan aku yakin Anda pun mengenal saya,” kata Arfa,

“Anda pasti mengenal saya dari pemberitaan yang pasti rajin Anda ikuti, dan saya pun mengenal Anda dari data yang saya dapatkan, tapi maaf tidak bisa saya beritahukan dari mana data itu berasal,”

“Saya mengerti, Nona Aryanti,” kata Anton.

“Langsung saja yah, saya saat ini membutuhkan seorang supervisor sipil di sana; normalnya sih saya ingin terbang sendiri ke sana dan berada di KRI Ternate, tapi banyak urusan di Jakarta yang lebih membutuhkan perhatian saya,” kata Arfa,

“maukah Anda menjadi perwakilan saya di KRI Ternate?”

Anton tertegun mendengar instruksi ini. Tentu saja dia mengerti siapa itu Arfa Aryanti. Orang dengan posisi seperti Anton pasti sering mendengar tentang wanita ini. Hanya saja, agak aneh saja ketika Arfa meminta hal tersebut.

“Apa Anda yakin, Nona Aryanti?” tanya Anton.

“Sudah saya bilang, saya sudah mengetahui soal Anda, Tuan Anton,” kata Arfa,

“dan saya yakin Anda adalah orang yang tepat untuk mewakili saya,”

“Kalau begitu, baiklah,” kata Anton.

“Terima kasih, Tuan Anton,” kata Arfa,

“sekarang Anda berhak untuk mengetahui semua yang telah terjadi, dan semua laporan dari Kapten Kadek boleh Anda akses, tapi Anda harus melaporkan juga semuanya langsung ke saya, ini perintah Presiden,”

Arfa pun akhirnya menceritakan kronologis yang sebenarnya dari tragedi KRI Antasena. Kini tahulah Anton dan Prita, bahwa ternyata ledakan itu bukanlah sebuah kecelakaan, melainkan sebuah penyerangan yang sempurna. Ini tentu saja lebih mengguncangkan jiwa Anton, apalagi mengetahui jenis senjata apa yang ditembakkan ke arah kapal yang ditunggangi istrinya itu.

“NASROC? Tapi itu kan…” kata Anton.

“Iya, itu memang rudal nuklir taktis,” kata Arfa,

“entah bagaimana, KRI Antasena sepertinya bisa selamat dari ledakannya,”

“Tapi bagaimana?” tanya Anton.

“Saya tidak tahu,” kata Arfa,

“tapi mungkin tembakan NASROC itu meleset sehingga KRI Antasena cukup jauh dari pusat ledakan,”

“Jadi benar…” kata Anton.

“Benar apanya?” tanya Arfa.

“Kalau KRI Antasena yang diserang kapal perang Australia,” kata Anton.

Arfa tampak curiga dengan perkataan Anton ini.

“Anda pernah mendengarnya sebelumnya?” tanya Arfa,

“ceritakan tolong,”

“Jadi ada rekan kami di Australia, dan dia mendapatkan berita kalau ada kapal perang Australia yang rusak parah akibat diserang oleh kapal tak dikenal, meskipun kapal tak dikenal itu berhasil dimusnahkan,” kata Anton,

“jadi rupanya itu yang terjadi?”

“Astaga…” kata Arfa dengan nada terkejut.

“Ada apa, Nona Aryanti?” tanya Anton.

“Kapan, Tuan Anton, Anda mendengar berita itu?” tanya Arfa.

“Kemarin pagi,” kata Anton,

“persis sekitar jam sekarang,”

Arfa terdiam sejenak, tampaknya memikirkan sesuatu hal yang cukup pelik.

“Apakah ada yang salah?” tanya Anton lagi.

“Tuan Anton, jujur saja sepertinya keadaannya bakal berkembang lebih pelik dari yang aku perkirakan,” kata Arfa,

“tapi jangan khawatir, itu bukan urusan Anda, jadi lebih baik Anda fokus pada tugas Anda saat ini; Aku akan ada di sini selama krisis ini, jaga terus kontak,”

“Baik, Nn. Aryanti,” kata Anton.

Arfa pun memutus sambungan radio. Dari cara Arfa melakukannya, Anton bisa membaca bahwa perkara ini bukanlah bakal jadi perkara penyelamatan biasa. Kapten Kadek pun lalu memberi hormat pada Anton, karena dengan tugas dari Arfa, kini dia pun menjadi salah satu pihak berwenang dalam kapal ini, meskipun tentu saja tidak sampai melampaui wewenang kapten kapal.

“Anda baru saja tiba, Pak Anton, juga Anda, Nona Prita,” kata Kapten Kadek,

“awak saya akan menunjukkan kabin Anda sekalian,”

“Tidak perlu repot-repot, saya tidak datang kemari untuk plesir,” kata Anton,

“kalau bisa malah saya ingin membantu sekarang juga,”

“Istirahatlah dahulu, kalau ada apa-apa, yakinlah bahwa Anda akan segera diberitahu,” kata Kapten Kadek,

“semoga kita bisa menemukan istri Anda,”

“Saya cukup yakin, Kapten,” kata Anton,

“nama kapal ini KRI Ternate, kan? Itu adalah tempat lahir istri saya,”

“Anda percaya klenik juga, Pak Anton?” tanya Kapten Kadek.

“Kadang beberapa hal memang tidak bisa dijelaskan lewat logika, Kep,” kata Anton. 


Bina Graha

08.07 WIB

H minus 75:53:00


Arfa begitu gusar mendengar berita bahwa di Australia sudah beredar berita semacam itu, meskipun detil dari berita itu serba tidak jelas. Walaupun begitu, logika berpikir Arfa bisa langsung menangkap bahwa itu adalah berita mengenai kapal KRI Antasena, tidak lain. Jika memang sudah beredar seperti itu, pastinya Angkatan Laut Australia sendiri sudah mengetahuinya, bahkan mungkin dengan detil yang lebih jelas. Dan kalau AL Australia memang terlibat dalam penyerangan itu, pastinya mereka pun bakal juga mencari tahu bagaimana keadaan korban mereka.

Bukan cuma masalah itu saja yang dicemaskan oleh Arfa, melainkan juga apa langkah Australia setelah itu. Selama ini Arfa memang bergerak berdasarkan asumsi bahwa Australia telah mengira kapal selam KRI Antasena sudah hancur sehingga hampir tak mungkin mereka melakukan langkah lanjutan; oleh karena itu pula penyelamatan KRI Antasena pun dilakukan dengan suasana penuh rahasia, bahkan KRI Ternate pun dipaksa untuk buru-buru berangkat tanpa persiapan yang lebih matang. Arfa pun sekarang jadi menyesal bahwa dia mengirim KRI Ternate berangkat hanya ditemani oleh KRI Harimau seorang, sebuah kapal cepat torpedo (KCT) yang mungkin hanya bisa memberikan perlawanan minimal misal terjadi apa-apa.

Tanpa pikir panjang kembali, Arfa pun menekan tombol komunikasi. Hal yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana untuk mengetahui langkah Australia selanjutnya, akan tetapi untuk itu dia membutuhkan wewenang dari seseorang: Presiden Chaidir sendiri. Apa yang akan ia sarankan sekarang bukanlah sesuatu yang bisa dikerjakan sendiri, bahkan oleh Marsekal Kambu sekalipun.

“Ya, silakan Nn. Aryanti,” kata Presiden Chaidir dari ujung kabel

“Tuan Presiden, sekali lagi maaf, saya mengganggu Anda pagi-pagi begini,” kata Arfa,

“tapi yakinlah, apa yang akan saya minta sekarang amat penting dan mendesak,”

“Silakan, Nn. Aryanti, ada apa?” tanya Presiden.

“Saya ingin Anda mengautorisasi pengiriman pesawat Tu-22M untuk misi pengintaian ke Australia,” kata Arfa.

Terdengar suara tercekat dari ujung telepon. Permintaan itu betul-betul datang seperti petir yang menyambar pagi-pagi begini.

“Anda yakin dengan apa yang Anda minta, Nn. Aryanti?” tanya Presiden.

“Saya yakin, Pak, tidak ada cara lain,” kata Arfa,

“saya baru saja mendapat tahu bahwa kemungkinan besar masalah ini tidak bisa kita selesaikan setenang seperti yang kita harapkan,”

 “Saya memang percaya sepenuhnya kepada Anda, Nn. Aryanti,” kata Presiden,

“tapi yang Anda minta kali ini bukan permintaan main-main,”

“Saya paham risikonya, Pak Presiden,” kata Arfa dengan nada yang getir.

Kemudian pembicaraan pun hening sejenak.

“Apa tidak bisa Anda cari alternatif lain?” tanya Presiden kemudian.

“Saya tidak bisa memikirkan kemungkinan lain,” kata Arfa,

“dan kita butuh secepatnya,”

Presiden Chaidir kembali terdiam. Sepertinya permintaan Arfa ini bukanlah sebuah permintaan yang bisa begitu saja diluluskan. Walaupun terlihat sederhana, permintaan ini adalah permintaan yang memiliki konsekuensi cukup besar serta efek lanjutannya pun bisa cukup panjang dan pelik.

“Pak Presiden, tolonglah,” kata Arfa,

“kita berpacu dengan waktu di sini,”

Terdengar sebuah suara desahan nafas yang amat berat.

“Baiklah, Saya akan berikan autorisasi kepada Marsekal Kambu selekasnya,” kata Presiden,

“target pengintaian?”

“Pangkalan Utama Angkatan Laut Australia di Sidney,” kata Arfa,

“detail selanjutnya akan saya berikan kepada Marsekal Kambu,”

“Semoga Tuhan menolong kita kali ini, Nn. Aryanti,” kata Presiden.

Komunikasi pun terputus, dan Arfa terduduk lemas. Tangannya disatukan ke depan menumpu kepalanya yang terkulai tanpa daya. Matanya terpejam dan ia terus menerus menggumam, sepertinya berdoa memohon ampun atas apa yang baru saja ia lakukan. Arfa amat sangat paham dengan konsekuensi permintaannya ini, tapi ia memang tidak bisa memikirkan kemungkinan lain.

Pesawat pembom strategis Tu-22M Backfire adalah pesawat pembom strategis berkecepatan supersonik buatan pabrikan Tupolev di Russia. Pada era Perang Dingin, pesawat ini adalah salah satu arsenal garis depan Uni Soviet yang cukup ditakuti oleh Barat. Saking ampuhnya, pesawat ini hanya dipakai oleh Uni Soviet sendiri dan tidak diekspor ke negara lain, sekutunya sekalipun. Kebijakan ini pun diteruskan bahkan setelah Uni Soviet runtuh. Hanya negara pecahan Soviet utama seperti Russia, Ukraina, dan Belarus saja memiliki dan menggunakan arsenal ini. Perkecualian adalah ketika Russia meminjamkan 4 unit pesawat ini kepada India, hal yang sama yang sekarang dilakukan terhadap Indonesia, hanya saja jumlahnya 6 buah.

Meskipun oleh TNI AU, seperti juga oleh India, pesawat ini digunakan sebagai pesawat pengintai berkecepatan tinggi (setara dengan pesawat SR-71 Blackbird di Amerika Serikat), tetap saja tidak menyembunyikan potensi tempur dari pesawat ini. Apabila dipakai sebagai elemen bomber strategis, pesawat ini bisa mengangkut bom hingga 21 ton dengan jarak jangkau sejauh 7.000 km dan kecepatan maksimal mencapai lebih dari 2.300 km/jam. Akan tetapi, aslinya pesawat ini adalah pesawat yang diperuntukkan sebagai pengangkut bom nuklir. Meskipun potensi persenjataan nuklir Indonesia sendiri belum jelas, data-data intelijen Barat sendiri menunjukkan kecenderungan yang mengarah pada pembangunan kekuatan nuklir sebagai salah satu bentuk persenjataan strategis TNI; oleh karena itu dimilikinya Tu-22M adalah sebuah ancaman yang bukan main-main.

Dengan kemampuannya, pesawat ini bisa menjangkau dua pangkalan utama Armada Amerika Serikat di Pasifik, yaitu Guam di Pasifik dan Markas Pusat Armada Ketujuh di Yokosuka, Jepang. Dengan sedikit modifikasi, bahkan pusat Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbour pun bisa dijangkau, meski untuk ini hanya bisa dilakukan sekali jalan. Oleh karena itu, bisa dibayangkan reaksi negara-negara tetangga yang relatif lebih dekat dengan Indonesia, terutama setelah CIA memperingatkan pula mengenai potensi ini kepada negara-negara di Asia Pasifik yang pro kepada AS. Australia, Malaysia, dan Singapura bahkan menganggap kehadiran wing Tu-22M ini sebagai “pedang yang amat berbahaya”, sehingga bersama-sama dengan Selandia Baru, mereka harus terus menerus meningkatkan kesiagaannya menghadapi ancaman burung besi ini, sesumir apapun bentuk ancaman itu. Sebagai pereda ketegangan, maka diambil sikap bahwa pesawat-pesawat ini tidak akan sekalipun beranjak terbang tanpa perintah langsung dari Presiden sendiri. Mirip dengan kebijakan peluncuran nuklir di Amerika Serikat ataupun Uni Soviet. Tapi kini mereka pun harus terbang dengan semua konsekuensinya.


Samudera Indonesia

Kedalaman 200 meter

08.32 WIB

H minus 75:28:00



Di dalam KRI Antasena, waktu berjalan dengan amat lambat. Sekarang memang belum ada tanda-tanda bahwa udara telah semakin menipis, tapi nanti pasti akan dirasakan. Banyaknya jumlah awak kapal yang mati akibat serangan, selain sebagai tragedi, juga disyukuri sebagai sebuah berkah. Artinya, berkurang pula paru-paru yang harus mengambil nafas di dalam udara yang serba terbatas ini. Sistem sirkulasi dan daur ulang udara memang masih berfungsi dengan baik, akan tetapi nanti ada saat di mana bahkan udara yang terlalu kotor pun harus segera dibuang. Kegiatan perbaikan pun hanya sebatas menambal kebocoran saja, tidak lebih. Perbaikan terhadap kerusakan yang memiliki kemungkinan kecil untuk bisa dilaksanakan sekarang sama sekali dilarang untuk mencegah pemakaian udara lebih yang tidak perlu. Kegiatan fisik yang berlebihan pun ikut pula dilarang, bahkan api pun dilarang dinyalakan kalau memang tidak perlu.

Laksma. Mahan memang menerapkan aturan amat keras dalam hal ini. Ia sudah menginstruksikan untuk bertahan sebisanya, tapi kepada awak-awaknya tidak diberikan sama sekali harapan mengenai kemungkinan selamat, sehingga mereka cenderung bisa menerima dengan keadaan ini. Lagipula Laksma. Mahan juga berjanji, bahwa bila tiba waktunya, ia tak akan membiarkan awak kapal mati kehabisan nafas, cara mati yang amat menyiksa dan mengerikan. Ia akan memerintahkan penenggelaman kapal ini dengan segera dan mati sebagaimana layaknya pelaut sejati. Cara yang manapun, bagi Lucia sama saja, toh hasilnya sama-sama mati.

Anjungan sudah bisa dioperasikan, sehingga kini Lucia terpaksa harus melanjutkan menulis diari-nya di Anjungan. Ia duduk di meja perwira senjata yang kini sudah tiada. Seperti sistem yang lain, sistem senjata pun rusak juga. Pipa pemberi tekanan pada torpedo bocor dan tidak bisa diperbaiki, sehingga tidak mungkin untuk meluncurkan torpedo. Rudal masih bagus, tapi purwarupa dari RAK-V3 tidak bisa ditembakkan dari dalam air; sementara itu, kapal hanya dibekali satu torpedo super jenis Shkval yang sudah digunakan dalam pertempuran. Otomatis, meja yang Lucia tempati kini menganggur. Lucia sendiri lebih sering “menggelandang”, membantu station mana saja di Anjungan yang butuh bantuannya, mulai dari ikut melacak signatur sonar, sampai perkara remeh seperti memegangkan kabel sementara awak yang berwenang memperbaiki stationtersebut.

Dan karena berada di Anjungan, maka Lucia tahu bahwa meskipun kepada para awak, Laksma. Mahan memang tidak menjanjikan harapan. Beliau sendiri memiliki sebuah harapan yang amat kecil, mungkin satu-satunya usaha yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan awak kapal.

Sinyal, itu yang dari tadi selalu dipikirkan oleh Laksma. Mahan. KRI Antasena memang tidak mungkin untuk mengirim sinyal ke atas, jauh ke markas; tetapi masih mungkin untuk memperbaiki piranti pengirim sonar aktif, yang mana piranti ini bisa digunakan untuk memberi pertanda bahwa ada kapal selam hidup di sini. Tentu saja hanya mengandalkan ini saja adalah bagaikan sebuah perjudian dengan taruhan amat besar. Bagaimana kalau yang menerima sonar aktif itu bukan kawan tetapi malah musuh? Bahkan kalaupun sinyal ini tertangkap oleh kawan sekalipun, tidak ada jaminan mereka bakal memberikan pertolongan. Ini karena secara umum, sonar aktif digunakan sebagai penanda tembakan, sehingga tertangkapnya sonar aktif bukannya akan diinterpretasikan sebagai sinyal SOS, bisa jadi malah diartikan sebagai teriakan perang! Akan tetapi hanya ini kesempatannya, dan cara mati manapun masih lebih baik daripada mati kehabisan nafas.

“Apa bisa diperbaiki?” tanya Laksma. Mahan pada Sersan Andre, teknisi kepala KRI Antasena.

“Bisa Kep, tapi nggak jamin cepat, apalagi kalau saya cuman sendirian,” kata Sers. Andre.

Tim teknik memang paling banyak “menderita” pasca-perlawanan. Ini tidak lain karena dari sekian banyak korban jiwa, kesatuan teknik termasuk yang paling banyak “menyumbang” nama. Paling vital adalah teknisi elektronik, karena hanya Sersan Andre saja yang tersisa; sementara untuk mesin dan kelistrikan masih cukup memadai, walaupun minim juga.

“Mungkin bisa lebih cepat kalau saya punya cetak biru sistem komputer yang ada di sini,” kata Sers. Andre,

“cuma Sers. Edo yang paham soal piranti elektronik buatan Russia ini, tapi Sersan Edo sudah mati,”

“Sayangnya tidak ada, Sersan,” kata Kdr. Mahan,

“lakukan sebisanya,”

Lucia mendengar pembicaraan ini, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Elektronika bukanlah keahliannya semenjak dulu. Anton sekalipun tidak pandai dalam hal elektronik, jadi kalau misal ada piranti elektronik yang rusak, ya mereka langsung masukkan saja ke bengkel servis dan tahu jadi. Lucia kembali menulis ke dalam diarinya. Ia baru saja membeli diari itu setelah diari lamanya habis sebulan lalu, dan masih cukup banyak halaman yang kosong ke belakang; entah apa yang harus Lucia isi, sepertinya pula kisah dalam diari itu akan berakhir tak terselesaikan.

Menulis diari merupakan kegemaran Lucia semenjak dahulu, dan ia masih pula menyimpan hingga diari pertama yang ia miliki semenjak SD. Lucia memang cukup rajin menulisnya, bahkan kadang lebih rajin daripada ketika ia membuat naskah berita. Entah untuk siapa sebenarnya Lucia menulis diari itu. Mungkin suatu saat ia akan menurunkan diari itu ke Lani, sehingga Lani pun bakal paham bagaimana sebenarnya kehidupannya. Mungkin menyenangkan saja membagi kisah hidup dengan orang lain, meskipun hanya lewat perantaraan diari. Masa-masa kelam selama 6 tahun pernikahannya dengan Ben pun terekam dengan baik dalam kumpulan diari-nya, yang sering harus ia sembunyikan dengan betul-betul karena Ben gemar sekali membaca diarinya lalu merusak diari itu jika menemukan Lucia menulis hal buruk soal dirinya.

Lucia mendengus sejenak. Hanya Anton yang pernah membaca diari-diari kelam itu, itupun karena Lucia yang memintanya. Berbeda sekali dengan Ben, Anton sangat menghormati diari istrinya, bahkan ketika tergeletak dalam keadaan terbuka sekalipun, Anton hanya akan menutup dan merapikannya tanpa membaca sepatah kata pun. Diari-diari kelam itu kadang penuh dengan coretan-coretan, kadang sampai kertasnya tersobek akibat pena ditekan terlalu dalam, kadang huruf-hurufnya tidak beraturan, dan kadang penuh dengan huruf-huruf yang kabur akibat tetesan air mata. Apa yang Lucia alami dalam pernikahannya dengan Ben itu memang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, bahkan Anton pun menangis ketika membaca diari-diari itu. Sungguhpun banyak kata-kata atau kalimat yang tidak jelas, Anton jelas bisa merasakan bagaimana keadaan Lucia ketika menulisnya, dan itu sudah cukup. Itulah masa lalu, dan kini diari-diari Lucia tertuliskan dengan tulisan tangan Lucia yang bersambung indah dan mengalir, tanda kebahagian telah pula mengalir dalam hidupnya… dan itu akan segera berakhir.

“Mbak Lucia, sudah!” kata Reza yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya.

Lucia hampir saja terkena serangan jantung gara-gara kaget. Buru-buru ia menutup diarinya dan menarik nafas. Ya ampun, dia melamun lagi. Reza sendiri agak terheran-heran, tapi ia segera menyodorkan sebuah HP pada Lucia. Ya, itu HP Lucia yang rusak dan diperbaiki oleh Reza.

“Udah jadi, masa?” tanya Lucia.

“Lihat aja,” kata Reza,

“nggak kalah lah, ama hasil servisan konter,”

Ya, HP itu sudah menyala kembali, memperlihatkan wallpaper bergambarkan Anton dan Lani. Lucia berkaca-kaca menerima HP dari Reza itu. Entahlah, tapi HP dengan wallpaper itu kini bagaikan sebuah harta yang amat sangat tak ternilai bagi Lucia.

“Makasih banget ya, Reza…” kata Lucia, menjaga supaya tidak menangis.

“Nggak masalah koq,” kata Reza,

“jadi, Mbak Lucia ada lagi yang mau diperbaiki?”

Lucia hampir saja menggeleng kalau saja dia tidak ingat sesuatu.

“Kamu bisa perbaiki alat elektronik apa aja?” tanya Lucia.

“Tergantung, tapi semuanya bisa,” kata Reza.

“Bagus, ikut aku,” kata Lucia.

Lucia segera menyeret Reza, yang masih bingung, ke hadapan Laksma. Mahan. Tentu saja selain Lucia, semua orang yang ada di sana sama bingungnya dengan Reza.

“Ada apa, Nona Lucia?” tanya Laksma.. Mahan.

“Masih butuh ahli elektro, Laksma.?” tanya Lucia,

“Reza bisa bantu,”

“Kebetulan sekali,” kata Sers. Andre,

“saya memang butuh bantuan di sini,”

“Kamu bisa memperbaiki alat elektronik, Reza?” tanya Laksma. Mahan.

“Insya Allah bisa,” kata Reza,

“memangnya memperbaiki apa, Pak?”

“Alat sonar!” kata Sers. Andre.

Tentu saja Reza terperanjat. Dia memang bisa memperbaiki radio atau televisi, atau paling banter juga handphone. Tapi alat sonar kapal selam? Seumur-umur melihat wujudnya seperti apa juga baru kali ini.

“Udah, sini bantu saya!” kata Sers. Andre sambil menarik Reza.

“Lho, tapi Mbak Lucia…” kata Reza.

“Udah, demi semuanya, ya,” kata Lucia,

“you trust on the miracle, I trust on you,”

Maka dengan terpaksa, Reza pun membantu Sersan Andre untuk memperbaiki alat sonar. Laksma. Mahan memberi isyarat salut pada Lucia, yang dibalas dengan sebuah senyum. Tentu saja ada sedikit rasa was-was pada senyum itu, karena Lucia tahu bahwa jika semua itu gagal, maka memang tidak ada harapan lagi untuk bisa selamat.


Pangkalan Udara Hasanuddin

Makassar

11.32 WIB

H minus 72:28:00


Perintah dari Jakarta memang datang tidak terlambat, tapi untuk mempersiapkan semuanya, membutuhkan waktu yang tidak bisa singkat. Ketika perintah itu turun, tidak ada satu pun dari total 4 awak sebuah pesawat Tu-22M yang tengah siap, dan mereka pun dengan tergopoh-gopoh segera menjalani apel untuk misi kali ini. Wajar saja, karena misi ini baru diputuskan beberapa jam yang lalu dan belum ada pembicaraan sebelumnya. Kolonel Udara Sarmin Arief, yang akan menjadi pimpinan misi kali ini, bahkan sedang berada di Jeneponto ketika perintah misi ini turun.

Apabila menurut jadwal, seharusnya mereka baru akan terbang paling cepat 3 hari lagi, untuk latihan tempur rutin di Sengata, Kalimantan Timur. Akan tetapi perintah misi kali ini mengharuskan mereka untuk segera melapor apapun yang terjadi. Tim yang dipimpin oleh Kol. Sarmin Arief adalah tim pesawat Tu-22M bernomor BS22M637, dengan kode sandi “Black Falcon”. Tim ini memang dipersiapkan khusus sebagai pengintai berkecepatan tinggi sekaligus pesawat pembom-perintis dalam keadaan perang. Dari enam tim Tu-22M yang dimiliki, memang tim“Black Falcon” lah yang latihannya paling baik.

Begitu semua orang sudah berkumpul, mereka pun langsung saja diberi masing-masing dua buah taklimat. Satu taklimat terbuka, dan satunya lagi dalam amplop tertutup, yang baru boleh mereka buka setelah mereka di udara. Dari taklimat terbuka, hanya terdapat instruksi sebagai berikut:

“MISI LATIHAN PENGINTAIAN STRATEGIS; TARGET BERADA DI SELATAN PULAU BAWEAN; KOORDINAT DI DALAM MANIFEST B; BUKA SETELAH KETINGGIAN 8000 KAKI MIN 800 KM DARI TITIK AWAL.”

Kol. Arief pun mengernyitkan dahi. Aneh sekali misi kali ini. Ia melihat tadi bahwa kru darat tengah memasang peralatan pengintaian serta sensor foto udara ke dalam pesawat BS22M637 yang akan dipakai. Namun, ia melihat juga pemasangan dua buah tangki bahan bakar cadangan, dan inilah yang membuatnya merasa aneh. Pulau Bawean bukanlah jarak yang terlalu jauh untuk ukuran sebuah Tu-22M. Ia sendiri pernah melakukan misi latihan ke Pulau Anak Krakatau di Selat Sunda tanpa harus menggunakan tangki bahan bakar cadangan. Jelas sekali misi kali ini ada apa-apanya, yang mana baru bisa diketahui setelah pesawat ini mengudara nanti. Bagaimana pun juga, sebagai prajurit profesional, Kol. Arief melaksanakan perintah itu tanpa banyak bertanya.

Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya para awak sudah siap dalam pesawatnya. Tidak ada pesawat lain yang ditugaskan dalam misi ini, tidak pesawat tempur, ataupun pesawat pengintai lain. Kol. Arief pun maklum, karena sejatinya misi sebuah pesawat pengintai adalah misi seorang diri. Setelah ketinggian tertentu, maka keadaan menjadi sangat sepi bagi pesawat pengintai, karena kontak radio akan diputus sama sekali. Menjadi pilot atau awak pesawat tempur memang amat sangat identik dengan sebuah kesepian dan kesendirian. Setelah memastikan semua awaknya memakai kelengkapannya, termasuk memasang masker oksigen, Kol Arief pun memberi tanda “OK” kepada kru di darat.

Pesawat pun ditarik menuju ke apron. Mesinnya sudah sejak tadi dipanasi oleh kru perawatan di darat, dan Kol. Armin cukup tinggal menggebernya saja. Memang, kru darat lah yang sebenarnya “memiliki” pesawat-pesawat tempur ini, sementara pilot hanya “meminjam” saja. Berhubung landasan pacu dijadikan satu dengan bandara sipil, maka proses tinggal landas dan pendaratan dari 4 buah pesawat penerbangan komersial terpaksa harus ditunda untuk memberi kesempatan “Black Falcon” mengudara. Begitu dari menara kontrol tanda “OK” diberikan, “Black Falcon” segera menggeber mesinnya keras-keras, dan dengan ditandai suara gemuruh keras, pesawat itu melesat dengan cepat melintasi landasan pacu dan segera mengudara.



11:59 WIB

H minus 72:01:00



Rachel, reporter utama NewsTV Biro Makassar, yang memang sengaja berdiam di kendaraan peliputan NewsTV, kaget ketika mendengar suara pesawat yang bergemuruh amat keras. Setelah taklimatnya kemarin secara tele-conference dengan Anton di Jakarta, Rachel pun memutuskan untuk melakukan peliputan secara mandiri atas akses-akses militer TNI di Makassar. Empat orang reporter yang dimiliki Biro Makassar (dua di antaranya masih magang) langsung saja ia kerahkan untuk peliputan ini (Rachel berposisi sebagai caretaker Biro Makassar), dan dengan begitu berita lainnya terpaksa harus dipinggirkan. Dua orang ia tempatkan di Pangkalan Aju Angkatan Laut, sementara dua sisanya plus dia sendiri “menjaga” Lanud Hasanuddin. Tidak hanya itu, semua kontributor dan koresponden NewsTV di seluruh Sulawesi pun ia bangunkan untuk memantau wilayah masing-masing.

Untuk peliputan di Lanud, Rachel memang menyebar dua orang reporter di Bandara, sementara dia sendiri bersama satu unit kru mobil bergerak di sekitar Lanud. Pilihan yang bijaksana, karena semenjak tadi pagi, pihak Pangkalan sudah menutup diri bagi orang luar, termasuk bagi Rachel. Untunglah bagi Rachel, belum ada kru TV lain yang juga melakukan peliputan di sini, sehingga ia meyakini bakal dapat berita eksklusif, misal pun ada yang terjadi.

Sejak kemarin Rachel sudah ada di sini, makan dan minum seadanya, bahkan selama semalam ia tidak tidur, hanya memantau situasi dari luar. Pagi ini sejatinya dia mau tidur sejenak untuk menyegarkan badan, tapi begitu dia hendak memejamkan mata, suara gemuruh pesawat itu terdengar; dan Rachel tahu, itu bukan gemuruh pesawat komersial sebagaimana layaknya di sebuah bandara.

Maka Rachel pun sontak meloncat keluar dari mobil disertai oleh seorang kru kamera yang dengan gelagapan berusaha secepatnya menghidupkan kameranya. Bayangan sebuah pesawat besar pun langsung melayang di atasnya, dan diikuti oleh hembusan angin yang amat kencang, menunjukkan betapa besarnya laju pesawat itu. Rachel pun terpana melihatnya, bahkan mulutnya sampai terbuka ketika menyaksikan pesawat itu lewat di atasnya.

“Kamu dapat tadi??” tanya Rachel pada juru kameranya.

“Waduh, belum tahu, tapi saya tadi sempat rekam, cuma tidak tahu hasilnya bagaimana,” kata juru kamera.

“Pastikan,” kata Rachel,

“aku harus hubungi Jakarta dulu,”

Muka Rachel tampak serius dan khawatir. Tidak salah lagi, itu adalah pesawat Tu-22M, bukan yang lain. Rachel tahu itu, karena Rachel juga lah yang meliput ketika pertama kali pesawat itu tiba di Makassar dulu, dan oleh Komandan Lanud, dia dijelaskan mengenai kegunaan pesawat itu kelak. Itulah sebabnya dia merasa amat khawatir. Rachel jelas tahu mengenai jadwal latihan tempur rutin di Sengata, dan kalau pesawat ini sampai harus terbang di luar jadwal rutinnya, jelas ini ada apa-apanya.


Selat Makassar

Ketinggian 8050 kaki dpl

12.10 WIB

H minus 71:50:00


Dalam waktu singkat, pesawat “Black Falcon” sudah jauh sekali meninggalkan Makassar menuju ke arah Pulau Bawean. Juru navigasi kemudian memberi tanda pada Kol. Arief bahwa saatnya sudah aman untuk membuka manifest. Mulai sejak lima menit yang lalu, hubungan radio sudah bungkam sama sekali, dan mereka kini sudah betul-betul “seorang diri”, bagaikan kapal yang berlayar di atas lautan awan yang putih menggumpal bagai kapas.

Kol. Arief membetulkan pemasangan masker oksigennya sebelum akhirnya membuka manifest yang tertutup. Di ketinggian ini, udara amat tipis, sehingga para awak pesawat Tu-22M wajib selalu menggunakan masker oksigen. Kol. Arief tampak terbelalak melihat apa yang tertulis dalam manifest itu. Semua awak pun sadar, bahwa apa pun itu, sepertinya bukan main-main.

“MISI PENGINTAIAN UDARA STRATEGIS; SASARAN PADA MANIFEST A DIBATALKAN, SASARAN BARU: PANGKALAN ANGKATAN LAUT AUSTRALIA DI SIDNEY; AMBIL FOTO DAN GAMBAR SASARAN, DETAIL TERLAMPIR; HINDARI KONTAK DENGAN PESAWAT APA PUN; INI BUKAN LATIHAN; MUSNAHKAN SEGERA SEMUA MANIFEST SETELAH DIBACA,”

Sidney? Jauh sekali, pantas saja dipakai tangki bahan bakar cadangan. Semua awak terdiam setelah mengetahui isi manifest itu. Selama ini memang penerbangan mereka hanya sebatas latihan saja, lagipula hanya dilakukan di dalam wilayah udara Indonesia. Tapi misi kali ini bukan main-main, karena harus menembus wilayah udara Australia, yang pastinya apabila ketahuan bakal menimbulkan konsekuensi serius, tidak hanya bagi mereka, tapi juga bagi Pemerintah. Dalam lampiran lanjutan ada data-data sekaligus perintah terperinci apa-apa saja yang akan menjadi sasaran, termasuk jalur intrusi dan ekstraksi. Akhirnya, ada juga misi serius bagi mereka.

“Here goes, Boys!” kata Kol. Arief.

Dengan kecepatan amat tinggi, pesawat itu pun berbelok arah lalu melesat bagai kilat menuju ke Sidney. Tidak ada yang berani bercanda…



Gedung NewsTV

Balkon Cafetaria, Lantai 2

12.21 WIB

H minus 71:39:00



Fitri tidak berkedip sama sekali, dan raut mukanya tampak tegang setelah mendengar apa penuturan dari Mutia. Penyerangan? Jadi KRI Antasena diserang oleh Australia?? Ini kejutan terbesar kedua yang diterima oleh Fitri dalam dua hari terakhir ini. Mereka berdua terdiam, dan nyaris tak terdengar apa-apa kecuali suara desir angin yang bertiup kencang di balkon cafetaria ini. Puding coklat yang tengah disantap oleh Fitri pun dibiarkan begitu saja teronggok.

“Kamu yakin!?” tanya Fitri dengan tegas tapi tak begitu keras, takut semua orang mendengar.

“Itu yang dibilang ama Nana semalem,” kata Mutia.

“Tapi itu gila!” kata Fitri,

“kalau kejadiannya kayak gini, aku gak bakal kasih Anton buat nyusul Lucia, sekalipun Lucia itu istrinya!”

“Aku tahu, aku juga ngerasa gitu,” kata Mutia.

Fitri hanya mendengus sambil menusukkan sendok ke atas puding. Berita yang dibawa oleh Mutia membuat nafsu makannya tiba-tiba menghilang.

“Menurut kamu, apa yang bakal terjadi?” tanya Mutia.

“Apa lagi,” kata Fitri,

“kalau udah menyangkut negara lain, pastinya urusannya nggak bisa simpel,”

“Apa insiden ini bisa memicu perang ama Australia?” tanya Fitri.

“Moga-moga aja enggak,” kata Fitri,

“cuman masalahnya, perang sering kali meletus gara-gara perkara sepele; apalagi ini soal penyerangan,”

Mutia menghirup sejenak jus tropis kesukaannya, tapi tentu saja bukan dengan ritme yang santai seperti biasanya.

“Dengar, aku nggak gitu suka dengan keadaan ini,” kata Mutia,

“semua stasiun TV pastinya sudah punya firasat soal apa yang sedang terjadi; dan kita, dengan informasi yang berlebih, memilih untuk diam,”

“Diam adalah pilihan terbaik saat ini, Mut,” kata Fitri,

“banyak yang harus dipertaruhkan, dan pastinya kita ingin menyimpan keunggulan kita atas yang lain,”

“Makin lama kita menahan semua ini, aku nggak percaya kalau kita masih punya keunggulan atas yang lain,” kata Mutia,

“aku pernah berada di garis depan, aku tahu bagaimana reporter yang keras kepala akan melakukan apa saja untuk mengungkap semua ini,”

“Kita punya line-up terbaik untuk peliputan,” kata Fitri,

“sistem terbaik, strategi terunggul, dan informasi lebih,”

“Demi Tuhan, Fitri, kamu mulai terdengar seperti Bu Sabrina sekarang,” kata Mutia dengan nada keras,

“beberapa reporter terbaik di Indonesia bukan berada di sisi kita, dan kamu tahu itu! Itu yang aku khawatirkan sekarang, apalagi dengan strategi diam kita,”

Fitri terdiam melihat Mutia mulai berbicara dengan nada keras, dan menarik perhatian dari beberapa meja lain yang kebetulan berada di dekat mereka.

“Kita tetap pada posisi kita,” kata Fitri,

“untuk sekarang,”

“Fitri, kamu tahu kan, kalau kita tidak bisa menahan informasi ini lebih lama?” tanya Mutia.

“Untuk sekarang…” kata Fitri.

Mutia kembali diam. Namun keheningan mereka segera dipecah oleh kedatangan Tita. Tita tampak pucat, seolah-olah seperti baru menerima kabar yang amat mengagetkan.

“Syukur kalian di sini,” kata Tita.

“Ada apa?” tanya Fitri.

“Aku baru saja dihubungi Rachel,” kata Tita,

“pesawat Backfire kita sudah meninggalkan sarangnya…”

“Astaga! Kapan?” tanya Fitri kaget.

“Dua puluh menit yang lalu kayaknya,” kata Tita,

“aku mau segera nyiapin berita buat ini…”

“JANGAN!” cegah Fitri tiba-tiba.

Tita tertegun. Fitri mencegahnya sedemikian rupa, dan terdengar keras pula.

“Kenapa tidak?” tanya Tita.

“Kamu mau bikin perang, ya, mberitain hal itu???” kata Fitri,

“kamu tahu, kan, pesawat itu cuman boleh keluar dengan persetujuan Presiden langsung?”

“Hei, ini bukan kali pertama Backfire kita keluar sarang, kan?” tanya Tita,

“lagipula mau ada latihan tempur rutin di Sengata,”

“Itu kan baru besok lusa! Apa kamu nggak ngerasa aneh, apa??” tanya Fitri.

“Hei, apa kamu tahu sesuatu yang aku nggak tahu?” tanya Tita.

Tita menatap ke arah Fitri dengan pandangan mata menyelidik. Namun Fitri pun dengan pintar segera mengalihkan tatapan mata kecurigaan itu.

“Ta, kita nggak tahu apa yang bakal terjadi, juga apa efek dari kejadian ini,” kata Fitri,

“tolong ya, minimal untuk sekarang aja…”

“Oke,” kata Tita sambil mendengus,

“mungkin kamu bener,”

Tita pun lalu berbalik kembali dan meninggalkan Fitri dan Mutia berdua saja. Mutia segera menatap Fitri dengan pandangan mata yang aneh.

“Kenapa kamu nggak cerita ke Tita soal ini?” tanya Mutia.

“Dia nggak perlu tahu,” kata Fitri,

“lagian kalau memang nggak berbuntut apa-apa, dia pun lebih baik nggak usah tahu,”

“Astaga, Fitri! Ada apa sih dengan kamu?” tanya Mutia tak mengerti,

“aku lihat kamu kemarin ngobrol berdua ama Bu Sabrina, apa ini soal itu??”

“Psst!! Jangan ngomong di sini!!” kata Fitri sambil membungkam mulut Mutia, kemudian menariknya keluar dari tempat itu.

Mutia sendiri hanya bisa mengikuti Fitri saja, meskipun jujur saja dia agak kurang suka dengan sikap Fitri. Apakah Fitri sedang memainkan sesuatu yang Mutia tidak mengerti? Mereka pun akhirnya masuk ke kamar mandi wanita, yang kebetulan saat itu memang tidak ada orang. Pun, Fitri memeriksa semua cubicle untuk memastikan bahwa memang benar-benar tidak ada orang.

“Dengar, apa yang aku bicarain kemarin ama Bu Sabrina, ini demi kebaikan Anton juga Tita,” kata Fitri lirih.

“Demi Tuhan, kebaikan apa, sih??” tanya Mutia,

“kamu sedang mainin apa??”

“Kalau keadaan memanas, Bu Sabrina minta aku buat ngegantiin Tita, itu berarti jadi first-in-command di posisi Anton sekarang,” kata Fitri.

Mutia terkejut bukan kepalang. Ia tidak habis pikir dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Fitri.

“Apa maksudmu?? Sebuah kudeta!??” tanya Mutia,

“aku nggak habis pikir, bisa-bisanya kamu bikin perjanjian itu!!?”

“Ini demi kebaikan semua orang!” kata Fitri.

“Bullshit!! Di bagian Anton tidak ada yang namanya third-in-command, satu-satunya cara buat ngegantiin Tita adalah memakzulkan Anton dan Tita sekaligus! Dan kita semua tahu itu!!” kata Mutia,

“tega-teganya kamu berbuat gitu!!”

“Masih lebih baik mana? Aku atau orang lain!!?” tanya Fitri,

“kalau Tita menunjukkan tanda kelemahan sedikit saja, orang lain akan mengambil posisinya; dan kita semua tahu, kalau itu terjadi, tidak bakal ada ampun bagi Anton… Anton dalam posisi lemah sekarang; jauh dari manapun… dan dia punya banyak musuh yang walaupun dia sendiri nggak sadar; dia terlalu baik buat nyadarin itu,”

“Masih ada Tita…” kata Mutia.

“Jadi kamu percaya kalau Tita bisa memegang tanggungjawab sebesar itu!!??” tanya Fitri,

“dia selama ini hidup di bawah bayang-bayang Anton, Mut!! Kamu sendiri tahu itu, kan!?”

Mutia agak terhuyung, lalu bersandar di tembok sejenak sebelum akhirnya turun duduk di lantai. Bagi Mutia, ini jelas bukan perkara yang amat ringan.

“Aku bisa berbuat sesuatu, Mut,” kata Fitri,

“aku bisa menyelamatkan Anton…”

“Dengan mengorbankan Tita?” tanya Mutia.

“Kalau perlu, dengan mengorbankan Tita…” kata Fitri,

“aku cuma mau kamu ngerti, Mut, juga dukung aku kalau-kalau saat itu memang kudu terjadi,”

Mutia kembali menatap Fitri dengan pandangan mata yang ganjil.

“Kamu benar… aku nggak percaya kalau Tita bisa menjaga tanggungjawab itu… mengelakkan serangan seperti yang selama ini dilakukan Anton,” kata Mutia,

“tapi Anton percaya ama Tita… itu cukup harusnya,”

“Aku janji… aku nggak bakal ngapa-ngapain, selama Tita masih bisa mengerjakan tugasnya,” kata Fitri.

“Kalau gitu mari berharap seperti itu,” kata Mutia.


Samudera Indonesia

KRI Ternate

14.16 WIB

H minus 69:44:00


Suasana riuh terjadi di atas geladak kapal KRI Ternate. KRI Harimau akhirnya berhasil menemukan peralatan FST dari KRI Antasena. Selama ini memang pencarian difokuskan dahulu untuk menemukan piranti itu, berhubung piranti itu mungkin bakal memberikan informasi yang jelas mengenai apa yang terjadi dengan KRI Antasena. Sebuah tali katrol diturunkan ke arah KRI Harimau, dan dengan cekatan awak kapal di kedua kapal bekerjasama untuk mengangkut piranti itu ke KRI Ternate, yang memang memiliki peralatan elektronik yang lebih baik daripada KRI Harimau. Di luar dugaan, piranti itu ternyata cukup besar, nyaris sebesar sebuah perahu karet penyelamat.

Anton dan Prita pun ikut-ikutan ke geladak, ingin mengetahui seperti apa piranti yang ditemukan itu, yang mungkin memberi informasi soal keberadaan KRI Antasena, soal keberadaan Lucia. Penarikan pun dilakukan dengan hati-hati, karena piranti ini cukup kecil dan ringan, sehingga mudah tertiup angin. Yang ditakutkan adalah apabila ketika tertiup angin piranti ini menghantam badan kapal dengan keras, karena benturan yang terjadi ditakutkan bisa merusak data apapun yang terkandung di dalamnya. Semua menahan nafas ketika FST diturunkan secara perlahan-lahan ke atas lantai dek, dan segera bersorak riang ketika FST dengan selamat berhasil turun di atas dek.

Dengan sigap, beberapa orang kelasi segera membawa piranti itu ke tempat yang memang sudah dipersiapkan, dan seorang teknisi segera memasangkan peralatan ke dalam piranti itu. Nampak ahli sekali tampaknya, tapi ia pun terlihat gugup. Wajar saja, karena seperti halnya KRI Antasena, FST ini juga masih sebatas purwarupa, sehingga masih jarang teknisi yang bisa menangani piranti ini. Tak berbeda dengan teknisi kali ini, karena ia cuma mengenal mengenai piranti ini secara teori saja, tidak pernah langsung. Untungnya yang cukup ia lakukan hanyalah mencolokkan kabel koneksi ke piranti, dan ahli lain yang ada di Jakarta-lah yang akan melakukan sisanya.

Anton dan Prita diizinkan untuk melihat dengan lebih dekat. Piranti itu sudah mulai berkarat akibat terlalu lama berada di air laut, namun juga bahwa beberapa bagiannya terlihat terkelupas atau gosong, tanda dari pertempuran yang telah dialaminya. Mereka berdua hanya melihat sejenak, lalu kemudian bergegas menuju ke ruang kendali, karena di sanalah observasi akan dilakukan.



14.33 WIB

H minus 69:27:00



Seorang ahli komputer yang memang khusus dibawa oleh KRI Ternate, dengan sigap memeriksa data-data dari FST. Data itu memang ia bagi dengan rekannya yang berada jauh di Jakarta. Dari sini, Kapten Kadek, Prita, dan Anton mengawasi proses itu sementara jauh di Jakarta, Arfa dan Sam melakukan hal yang serupa. Saluran radio pun dibuka lebar, sehingga masing-masing bisa saling mengetahui kegiatan di seberang.

“Bagaimana?” tanya Anton.

“Data-datanya berhasil kita ambil, tapi analisanya masih menunggu beberapa bagian kode dipecahkan di Jakarta,” kata ahli komputer itu.

“Satu jam lagi paling cepat,” kata Sam dari balik corong radio.

“Apa tidak bisa lebih dipercepat?” tanya Anton tak sabar.

“Sabarlah, kita sudah menggunakan semua peralatan terbaik yang kita punya di sini,” kata Arfa,

“kode militer tidak dibuat supaya mudah dipecahkan,”

“Tolong cepat, kalau begitu,” kata Anton gelisah.

“Kami usahakan secepat lebih dari yang kami bisa,” kata Arfa.

Prita pun lalu memegangi tangan Anton untuk menenangkannya. Antara Prita dan Anton memang sangat unik, karena mereka berdua bisa saling menenangkan misalnya salah satu tengah gelisah. Bagaimanapun, Prita merasa bahwa kegelisahan Anton kali ini cukup besar hingga dia tak yakin apakah yang biasa ia lakukan kali ini cukup. Prita pun merasakan bagaimana waktu berlalu dengan terasa amat lambat.



15.21 WIB

H minus 68:39:00



Ternyata proses pembukaan kode itu berlangsung sedikit lebih cepat dari waktu satu jam. Bagi Anton, ini pun sudah termasuk lama. Apalagi ia harus menunggu sejenak sampai semua data selesai dianalisa.

“Oke, aku berhasil mendapatkan koordinat terakhir kali dari FST ini,” kata Sam dari radio,

“tapi ada masalah,”

“Ada apa?” tanya Anton.

“Tadi malam terjadi badai, kan? Tampaknya FST ini sudah terapung dan terombang-ambing kemana-mana sehingga susah untuk dipastikan dari mana pertama kali FST ini terlepas,” kata Sam,

“aku sudah berhasil mengunci koordinat terakhir dari FST… tapi, ada kemungkinan kapal KRI Antasena, kita asumsikan saja tidak bergerak dari tempatnya, berada pada bisa berada pada radius 10 mil laut dari titik koordinat akhir,”

“Sepuluh mil?” tanya Anton,

“itu berarti wilayah pencarian kita membentang hingga 400 mil persegi??”

“Asumsinya kapal Antasena tidak bergerak,” kata Sam.

“Untuk kecepatan pencarian, KRI Ternate bisa bergerak hingga 20 knot,” kata Kapten Kadek,

“pukul rata 52 menit untuk tiap 20 mil, berarti sekitar 10 jam, minimal,”

“Sepuluh jam?” tanya Anton,

“…apa kita punya waktu selama itu?”

Semua yang ada di sana terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Anton. Sekali lagi, waktu menjadi musuh utama dalam pencarian dengan kapal selam.

“Sam, berapa kira-kira waktu maksimal yang dimiliki oleh semua orang di KRI Antasena?” tanya Arfa.

“Perkiraan kasar saja,… mengasumsikan sistem atmosfer masih menyala, 96 jam dari awal mula perkiraan FST dilepaskan,” kata Sam,

“tapi kalau sistem atmosfer rusak, maka hanya ada sisa udara untuk 24 jam saja… Ada kemungkinan semua di KRI Antasena sudah mati saat kita berbicara,”

Anton pun terdiam lesu, dan ia terduduk gontai. Di dalam pikirannya, entah apa dia bisa menerima kalau Lucia memang sudah meninggal.

“Kita sudah melewati pagu 24 jam,” kata Arfa,

“kita asumsikan saja sistem atmosfer masih menyala, berarti sekitar 70 jam?”

“Kasarannya seperti itu,” kata Sam,

“tapi khusus untuk ini, kita tidak bisa memakai perkiraan kasar, harus tepat,”

“Oke, sudah, Pak Sam, lebih baik Anda segera berikan koordinat itu, jadi bisa segera kita cari,” kata Kapten Kadek.

“Baik, aku kirimkan koordinatnya langsung kepada Anda sekalian dengan perkiraan posisi yang lainnya secara time series,” kata Sam.

Layar komputer di KRI Ternate pun menunjukkan data-data yang diberikan oleh Sam. Seorang awak dengan sigap segera mencetaknya dan memberikannya kepada Kapten Kadek. Kapten Kadek membacanya sambil mengernyitkan dahi.

“Apa data ini betul-betul atau Anda cuma main-main dengan saya, Pak Sam?” tanya Kapten Kadek.

“Ada apa, Kapten?” tanya Sam tak mengerti.

“Koordinat-koordinat ini…” kata Kapten Kadek,

“kita dan KRI Harimau sudah melewatinya semenjak beberapa jam lalu, dan kita mencari juga dengan panduan sonar aktif, tapi tak menemukan apa-apa,”

“Apa mungkin KRI Antasena dihanyutkan arus lebih jauh daripada perkiraan?” tanya Prita.

“Atau… yang saya takutkan…” kata Sam lesu.

“Ada apa?” tanya Arfa.

“Begini, KRI Antasena dilengkapi dengan sistem countermeasure canggih, dan salah satunya adalah peralatan untuk membelokkan sonar aktif,” kata Sam,

“dengan kata lain, KRI Antasena bisa tak terlacak, bahkan lewat sonar aktif sekalipun,”

“Astaga… apa itu mungkin?” tanya Kapten Kadek,

“tapi mana ada alat semacam itu?”

“Kita baru saja membuatnya,” kata Sam,

“belum diuji coba, tapi pastinya berhasil, dan sistem itu bekerja seperti saraf refleks dalam tubuh manusia, tidak bisa dilepas tanpa mematikan keseluruhan sistem kapal,”

“Ya ampun…” kata Kapten Kadek sambil memegangi kepalanya,

“apa berarti kita kudu menyusuri satu persatu inchi demi inchi??”

“Ini bidang sebesar 200 mil laut persegi, ditambah kedalaman hingga 240 meter,” kata Anton,

“pastinya bidang pencarian yang luar biasa luas,”


17.44 WIB

H minus 66:16:00



KRI Ternate akhirnya memutuskan mencari secara menyusur, inchi demi inchi. Sonar aktif, yang biasanya ampuh digunakan untuk mencari kapal selam, kini mandul di hadapan sistem pertahanan KRI Antasena. Semua awak kapal pun lesu, karena pencarian ini bisa saja berubah menjadi pencarian yang sia-sia. Bahkan KRI Harimau, yang selama ini setia mendampingi pun tertular kelesuan itu.

Prita berjalan-jalan di dek, sekedar menikmati suasana matahari terbenam. Di laut, jam segini tampak masih cukup terang, meskipun cahaya lembayung sudah mulai meredup. Angin pun berhembus kencang dan amat dingin sehingga Prita harus mengencangkan jaketnya. Angin yang basah pun membuat rambutnya terasa agak kumal. Tidak banyak yang bisa dilakukan memang, kecuali hanya melihat-lihat kapal saja.

Satu hal yang membuat Prita agak heran dengan kapal ini adalah penempatan meriam utama di tengah-tengah badan kapal, karena berarti sudut tembaknya pun terbatas. Terlepas dari bahwa turret 5-inchi memang berukuran lebih kecil, penempatan meriam jenis ini terakhir ditemukan pada battleship Jepang dari kelas Fuso atau kelas Ise, pada era Perang Dunia II. Hanya saja, pada kedua kelas battleship tadi, yang dipasang adalah kanon berukuran 14-inchi yang lebih besar. Tidak pernah ada penjelasan mengapa KRI dari kelas KAU mendapat pengaturan seperti ini, padahal dari kelas KAK, turret kedua diletakkan di buritan, seperti lazimnya peletakan secara umum.

Sayup-sayup, Prita pun mendengar seperti suara besi yang dipukul-pukulkan menurut nada tertentu. Prita, yang tertarik dengan bunyi itu, segera mencari sumbernya, dan segera menemukan Anton tengah duduk bersila sambil berpegangan pada rel pengaman dekat buritan. Prita semakin mendekat, dan ternyata Anton tengah memegang sebuah besi dan memukulkannya di badan kapal dengan ketukan tertentu.

“Lagi ngapain?” tanya Prita.

“Nggak ngapa-ngapain,” kata Anton seolah sudah mengetahui kedatangan Prita,

“cuman lagi kirim pesan,”

“Pake mukul-mukul gitu?” tanya Prita.

“Siapa tahu Luz denger,” kata Anton.

Prita hanya mendengus saja, tak terdengar di tengah suara angin yang menderu. Anton pun meneruskan kegiatannya memukul-mukul badan kapal. Suara pukulan itu terdengar sayup-sayup saja di tengah deru angin.

“Kita pasti nemuin dia,” kata Prita sambil menepuk pundak Anton,

“aku yakin Luz masih hidup,”

“Aku juga yakin,” kata Anton.

Prita pun lalu ikut duduk di samping Anton, dan secara otomatis, Anton pun menyandarkan kepalanya ke pundak Prita. Prita sendiri hanya tersenyum sambil mengusap-usap rambut Anton. Bersama merekapun menyaksikan terbenamnya matahari.


Bina Graha

17.59 WIB

H minus 66:01:00


Arfa pun terduduk dengan murung. Tidak ada yang berani mengusiknya. Sebagai orang yang memiliki pandangan paling jelas atas semua yang tengah terjadi, jelas berat sekali hal yang tengah Arfa pikirkan. Pertama adalah berita dari KRI Antasena, dan kedua, dia masih harus memikirkan bagaimana langkah selanjutnya dari Australia, yang datanya saat ini tengah ia tunggu.

Dengan takut-takut, seorang ajudan mendekati Arfa. Arfa hanya melihatnya dengan tersenyum kecil, lalu memintanya mendekat.

“Ada apa?” tanya Arfa.

“Hasil pengintaian dari Black Falcon,” kata ajudan.

Ajudan itu lalu menyerahkan sebuah berkas pada Arfa. Dengan segera, Arfa pun melihat berkas itu, dan saat itulah ia tercengang. Tangannya hampir saja gemetaran memegang berkas itu. Apa yang ia takutkan pun terjadi. Kontan saja ia segera meraih teleponnya dan menghubungi Presiden Chaidir.

“Pak Presiden!” kata Arfa.

“Ada apa, Nona Aryanti?” tanya Presiden.

“Ketakutan kita selama ini terjadi,” kata Arfa,

“sebanyak satu fleet tempur Australia sudah meninggalkan Pangkalan Angkatan Laut di Sidney,”

“Astaga…” kata Presiden.

“Pak Presiden, kita di ambang perang!” kata Arfa.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...