Rabu, 30 September 2020

"LAUT BIRU" CHAPTER XIV

The Friends

CHAPTER XIV

The Friends



Gedung NewsTV
07:58 WIB
H minus 26:51:00


Tita terbangun ketika tiba-tiba sebuah aroma kopi menyeruak masuk ke dalam hidungnya, dan melihat bahwa di depannya sudah tersedia segelas kopi panas, tak berapa jauh dari tempatnya meletakkan kepala untuk tidur. Tita secara otomatis mendongak dan melihat ternyata Fitri lah yang telah meletakkan gelas kopi itu di hadapannya. Baju Fitri masih sama seperti yang dia pakai kemarin dan juga kemarinnya lagi, sehingga Tita berasumsi bahwa, seperti halnya dirinya, Fitri pun tak pulang ke rumahnya semalam.

“Minumlah, segarkan diri untuk pagi ini,” kata Fitri.

“Apa aku tertidur tadi?” tanya Tita.

“Lucu, memangnya apa lagi?” balas Fitri.

“Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Tita.

“Mengingat situasi sekarang ini, selain laporan rutin dari anak-anak di lapangan, sepertinya belum,” kata Fitri,

“meskipun ada berita bahwa semalam ada yang mendengar gemuruh pesawat lewat di atas Jawa Barat; bukan pesawat, tapi seperti beberapa helikopter yang terbang secara bersamaan,”

“Ya, aku tahu, Biro Bandung memberitahukan soal detailnya semalam, dan langsung kuteruskan pada siapa pun reporter atau koresponden kita di selatan,” kata Tita,

“dari arahnya sepertinya helikopter itu menuju ke selatan,”

“Menurutmu aneh?” tanya Fitri.

“Menurutmu sendiri bagaimana?” tanya Tita.

“Minum aja dulu kopinya,” kata Fitri.

Tita mengangguk, kemudian meneguk kopi panas itu, yang langsung membuat tenggorokannya menghangat. Dia tidak tahu jam berapa dia mulai tidur semalam atau bagaimana prosesnya sehingga bisa seperti itu, beberapa kejadian semalam sepertinya lewat begitu saja di pikirannya tanpa sempat mampir. Beberapa pesan dari Fendy, suaminya, terlihat memenuhi ponselnya, sehingga Tita pun menyempatkan untuk membaca dan membalasnya sejenak. Sudah beberapa hari dia tidak pulang, wajar apabila suaminya mulai khawatir.

“Ada kabar dari Andini? Di mana dia sekarang?” tanya Tita.

“Kau lupa? Andini sudah minta izin untuk liputan keluar semalam, itu setelah dia selesai mengoordinasikan semua reporter yang datang,” kata Fitri,

“kita sudah mengerahkan semua orang yang kita punya, lebih dari event apa pun yang pernah ada, dan baru terasa bahwa semua masih kurang,”

“Ya, tapi kita tetap masih punya yang paling banyak,” kata Tita,

“untunglah Andini bisa melakukan semuanya dengan baik,”

“Lebih dari itu, kalian harus belajar untuk saling memercayai,” kata Fitri.

“Aku percaya padanya,” kata Tita,

“kuharap dia juga begitu,”

“Setelah semua kejadian ini, tak ada yang akan meragukanmu lagi,” kata Fitri sambil tersenyum dan menepuk bahu Tita.


Depan Kedutaan Besar Australia
08:01 WIB
H minus 26:49:00


Pagi ini masih cukup sepi, kecuali dari hiruk pikuk orang yang mulai masuk kerja di kawasan Kuningan, Jakarta. Kegegeran yang terjadi di sisi lain di kota ini nyaris tak dirasakan di titik ini. Ini karena berita heboh dalam beberapa hari terakhir masih dianggap sekadar sebuah berita, dan bukan jadi sesuatu yang harus mengganggu rutinitas manusia.

Andini kembali ke salah satu mobil peliputan yang ada di dekat gang masuk, di seberang gedung Kedutaan Besar Australia. Dia meletakkan cangkir berisi sikat gigi, pasta gigi, dan juga sabun muka, sepertinya baru saja melakukan perawatan pagi. Di mobil peliputan itu, salah seorang kameramen NewsTV bernama Ahmad, salah seorang kameramen yang termasuk kawakan, masih memeriksa kameranya. Dari raut mukanya, ada sesuatu yang ingin Ahmad sampaikan pada Andini, tapi dia tidak berani mengatakannya. Itu hingga akhirnya Andini mengajaknya berbicara.

“Ada kejadian, Pak Ahmad?” tanya Andini.

“Nggak ada, Ndin,” jawab Ahmad.

Andini memang memanggil Ahmad dengan sebutan “Pak”, karena selain lebih senior, usianya pun juga jauh di atas Andini.

“Tapi aku heran, Ndin,” kata Ahmad.

“Heran soal apa, Pak?” tanya Andini.

“Reporter lain dari Banten, dari Bandung, semua kamu tempatin di titik-titik strategis, ada yang di Istana, ada yang di Kemenhan, di Markas Komando, di DPR,” kata Ahmad,

“terus ngapain kita malah ada di sini?”

Andini pun mengangkat bahunya.

“Menunggu,” kata Andini.

“Menunggu apa?” tanya Ahmad.

“Kadang-kadang reporter harus menuruti nalurinya,” kata Andini.

“Kalau kamu kayak si Prita, mungkin saya percaya,” kata Ahmad.

“Percaya aja deh, Pak, saya koq merasa bakal ada sesuatu yang terjadi di sini,” kata Andini.

“Seberapa percayanya?” tanya Ahmad.

“Jangan diyakinin dulu deh,” kata Andini,

“pokoknya tahu aja,”

Ahmad pun hanya menggeleng saja. Dia pernah beberapa kali bertugas dengan Andini, namun baru kali ini Andini membawanya tanpa sebuah arahan yang pasti, hanya berdasar firasat Andini semata. Bahkan seingatnya pula, baru kali ini Andini bertindak senekat ini.

“Ada kabar dari Pak Anton?” tanya Ahmad mengalihkan topik pembicaraan.

“Sejauh ini belum, kuharap nggak ada apa-apa,” kata Andini,

“tapi jujur saja perasaan saya nggak enak,”

“Semoga semua berjalan baik, soalnya saya dulu ngeliput kecelakaan yang ngelibatin istrinya Pak Anton yang pertama,” kata Ahmad,

“wajar saja kalau sekarang beliau pergi, siapa yang ingin kehilangan istri buat kedua kali, apalagi Lucia teman kita juga,”

“Ya, kita semua pasti nggak pengin kehilangan Lucia,” kata Andini.

Andini dan Ahmad kemudian diam. Seperti halnya reporter NewsTV lain di bawah Anton, Andini pun menyukai bosnya itu, yang memang merupakan salah satu bos paling asyik. Ditambah lagi Lucia adalah teman Andini sejak lama, sehingga kehilangan Anton dan Lucia jelas amat dirasakan oleh Andini. Sejenak suasana menjadi hening sebelum akhirnya sebuah suara gemuruh merusak keheningan pagi itu.

Sontak saja Andini berlari keluar dari gang menuju ke jalan besar, dan melihat dua buah APR-3 Anoa baru saja masuk dan berhenti tak beberapa jauh dari Kedutaan Besar Australia. Belum hilang keterkejutannya, beberapa truk Reo pun muncul dan prajurit-prajurit yang dibawa oleh kendaraan-kendaraan tersebut segera berhamburan keluar, masing-masing menyandang ransel dan senapan SS-1. Khusus bagi yang keluar dari Anoa, menyandang senapan jenis SS-2. Ini masih diikuti dengan beberapa mobil jeep CPM yang juga datang dan langsung turun, bedanya kali ini CPM turun untuk mengatur lalu lintas yang agak tersendat gara-gara kedatangan rombongan tentara itu.

“Apakah itu…” kata Ahmad sambil melihat Andini. Bertanya-tanya apakah hal ini yang tengah dinantikan oleh Andini.

Dan Andini pun tampak sama terkejutnya dengan Ahmad. Secara refleks Ahmad pun menyalakan kamera dan langsung merekam semua kehebohan yang terjadi. Sementara itu, para tentara bersiap di posisinya, yang menurut Andini, lebih terlihat seperti tengah mengepung Kedutaan Besar Australia. Aparat keamanan kedutaan pun tampak agak kaget juga dengan kedatangan pasukan ini, tapi mereka tetap bersikap tenang dan waspada. Salah seorang perwira, sepertinya pemimpin dari pasukan kecil ini, turun dari jeep yang lain, lalu segera berjalan mendekati apa yang terlihat sebagai kepala keamanan dari kedutaan. Mereka tampak berbincang-bincang. Semuanya memasang posisi siaga, seolah-olah mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Hal ini tak luput dari incaran kamera para tim peliputan NewsTV ini.

“Dapat?” tanya Andini.

“Ya, entah apa yang terjadi, firasatmu yang benar atau cuman kebetulan,” kata Ahmad,

“tapi ini bisa masuk ke berita,”

“Kenapa mereka mengepung kedutaan besar Australia?” tanya Andini.

“Entahlah, coba beri tahu saya,” kata Ahmad, 

“kamu yang bawa kita semua ke sini,”

Andini diam saja, lalu mereka berdua segera keluar ke jalan untuk meliput kehebohan yang terjadi ini. Baru saja mereka keluar, malangnya seorang tentara melihat mereka, dan dengan menenteng senjata, dia segera mendekati Andini dan Ahmad.

“Waduh, Pak Ahmad, gimana ini?” tanya Andini.

“Tenang aja, Ndin, dia nggak bisa apa-apa, kita udah di sini duluan, lagian nggak ada tanda-tanda,” kata Ahmad.

Tentara itu semakin mendekat.

“Jangan merekam! Serahkan kameranya!” kata si tentara.

“Pak, kami sudah di sini dari tadi, Pak,” jawab Ahmad.

“Jangan banyak alasan! Serahkan kameranya atau saya pakai kekerasan!” kata si tentara.

Andini dan Ahmad bergeming, dan kontan saja beberapa saat kemudian terjadi keributan kecil. Si tentara berusaha mengambil kamera Ahmad sementara Ahmad mempertahankannya. Andini berusaha membantu Ahmad, tapi tenaga si tentara cukup kuat. Dengan sekali kibas, tubuh Andini terlempar ke belakang hingga dia hampir jatuh.

Keributan ini sontak menarik perhatian dari komandan yang tengah berbincang dengan kepala aparat keamanan kedutaan. Dia pun segera berlari dengan diikuti oleh para CPM.

“Pak, tolong pak!” kata Andini begitu melihat si komandan datang.

“Berhenti! Ada apa ini!?” tanya si komandan.

Tentara itu berhenti kemudian memberi hormat.

“Siap, lapor, mereka melakukan perekaman, Pak!” kata si tentara.

Si komandan melihat ke arah Andini dan Ahmad yang untuk saat ini berhasil mempertahankan kameranya.

“Terus kamu ngapain?” tanya si komandan.

“Siap, saya berusaha bilang kepada mereka buat tidak merekam, Pak!” jawab si tentara.

“Apa ada dalam perintah kita yang bilang bahwa pers tidak boleh melakukan perekaman?” tanya si komandan.

Tentara itu terdiam saja.

“Siap, tidak ada, Pak!” jawab si tentara.

“Kalau begitu jangan overacting kamu!” kata si komandan.

PLAKK!!

Si komandan pun menempeleng anggotanya di hadapan semua orang yang ada di situ. Bahkan Andini dan Ahmad pun terkejut melihatnya.

“Musuh kita bukan mereka, Prajurit! Ngerti kamu?” kata si komandan.

“Siap, mengerti, Pak!” kata si tentara masih dengan sikap tegap, tapi pipinya tampak memerah.

“Tetap pada perintah, jangan bikin perintah sendiri,” kata si komandan.

“Siap, Pak!” kata si tentara.

Komandan pun lalu bergerak maju, hendak kembali ke kedutaan. Andini, melihat sikap si komandan tadi, akhirnya memberanikan diri untuk menghampirinya dan bertanya.

“Komandan! Ada pernyataan? Kenapa semua tentara ini ada di sini?” tanya Andini.

“Tidak ada komentar, Nona,” jawab si komandan tegas,

“bukan wewenang saya untuk menjawab,”

“Kalau begitu siapa yang berwenang untuk semua ini?” tanya Andini.

“Dengar, Nona, silakan kalian melakukan tugas kalian, karena dari awal tak ada perintah mengenai pers,” kata si komandan,

“tapi jangan mengganggu tugas kami, dan bila perintahnya berubah, kami ingin kalian segera pergi dari sini, mengerti?”

Andini terdiam, dan si komandan meninggalkannya. Ia pun langsung kembali kepada Ahmad yang masih merekam.

“Bagaimana?” tanya Ahmad.

“Kita diizinkan untuk tetap di sini, sampai setidaknya perintah berubah,” kata Andini.

“Kita beri tahu pada kantor?” tanya Ahmad.

“Tentu saja,” kata Andini.

Sementara itu…


Samudera Indonesia
08.36 WIB
H minus 26:14:00


KRI Yos Sudarso (201), merupakan proyek kapal perusak pertama buatan Indonesia. Semenjak Presiden Abubakar Zakaria mengambil alih tampuk kepemerintahan, kebijakannya adalah untuk memperkuat dan memodernisasi TNI, namun khusus untuk TNI-AL, dia mensyaratkan pembangunan kapal secara domestik, yang artinya kapal-kapal tempur impor milik TNI-AL setahap demi setahap akan digantikan oleh kapal buatan dalam negeri dengan kualitas yang setara. Kebijakan ini dipegang teguh bahkan oleh penggantinya, yaitu Hariman Chaidir, sehingga modernisasi kekuatan TNI-AL terus berjalan secara berkesinambungan.

Tahap awal dari modernisasi ini adalah korvet-korvet nasional kelas Douwess-Dekker yang direncanakan untuk menggantikan korvet Parchim eks Jerman Timur dan korvet latih kelas RA Kartini untuk menggantikan KRI Ki Hadjar Dewantara. Tahap kedua adalah mensuplemen korvet SIGMA dari kelas Diponegoro dengan korvet kelas Keumalahayati, sementara tahap ketiga adalah memakai korvet berat (large corvette) kelas SIGMA-PAL (alias kelas Martha Christina Tiahahu) untuk menggantikan fregat kelas Ahmad Yani (ex-Van Speijk). Nah, pembangunan kapal perusak kelas Yos Sudarso adalah tahap keempat, yang mana dengan kapal ini Indonesia akan kembali ke jajaran elite dari segelintir negara Asia yang memiliki kapal perusak. Terakhir kali Indonesia memiliki kelas perusak adalah pada era-1960-an, yaitu saat memiliki kapal perusak kelas Skory dari Uni Soviet.

Diaktifkannya kembali satuan kapal perusak (nomor lambung kepala 2) jelas cukup menyita perhatian baik secara internal maupun eksternal. Bahkan karena kapal jenis ini belum ada padanannya dalam struktur TNI sekarang, maka sepanjang pembuatannya mulai dari perencanaan, proyek ini sudah menjadi sasaran tembak, baik dari DPR yang mempermasalahkan soal anggaran dan efektivitas kegunaan, hingga LSM-LSM yang mengkhawatirkan kapal ini akan dipakai sebagai sarana pelanggaran HAM. Inilah yang menyebabkan proyek kapal perusak molor lebih lama daripada proyek Antasena, yang notabene lebih bisa diterima karena merupakan kapal selam 100% buatan dalam negeri pertama.

Secara umum, kapal perusak kelas Yos Sudarso dibuat berdasarkan lambung kapal perusak milik AL AS dari kelas Spruance. Panjangnya 520 kaki dengan bobot pemindahan mencapai lebih dari 8.400 ton. Senjatanya berupa meriam OTO-Breda 6 inci dalam konfigurasi double-turret di bagian depan, VLS 50 sel di haluan untuk menembakkan rudal RAK-V3 yang tengah diuji juga oleh KRI Antasena, 8 peluncur rudal antipesawat Mistral, 8 peluncur rudal antikapal NC-802, 2 buah sistem CIWS Kashtan, 2x6 peluncur torpedo AEG SUT Mark XIV, kanon sekunder ZIF-72 57mm, dan tambahan 64 sel VLS di buritan. Masih ditambah pula dengan hanggar untuk menampung dua helikopter kelas NAS-555 SN Fennec 2. Namun kesaktian dari kapal kelas Yos Sudarso ini adalah kemampuan untuk mengadopsi sistem MANDALA dan KALIMASADA yang lebih mumpuni; bahkan kapal ini diproyeksikan sebagai pusat komando bagi kedua sistem ini dalam skema penyerangan armada, sementara korvet SIGMA-PAL (kelas Christina Martha Tiahahu) akan mengambil fungsi sentral pertahanan bawah air.

Latar belakang dari dibuatnya kapal perusak ini adalah kebutuhan untuk melakukan pelayaran darurat langsung, tak hanya dari Sabang ke Merauke, namun dengan dimulainya skala operasi niaga Indonesia hingga mencapai benua terjauh, pengamanan atas konvoi niaga pada perairan-perairan rawan perompakan pun menjadi amat penting. Kasus dari pembajakan kapal MV Sinar Kudus menjadi pelajaran bahwa Indonesia pun ternyata memerlukan pula kapal perang ocean-going yang harus bisa dikerahkan ke semua titik bahaya di seluruh dunia dalam waktu singkat. Ini terutama diperlukan bagi Indonesia untuk mengawal kepentingannya di Samudera Hindia, yang mana ini pun memacu persaingan hegemoni dengan India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan Prancis. Dalam dokumen rapat kabinet rahasia, bahkan ditentukan pula bahwa tujuan ke depannya adalah Indonesia harus punya kemampuan mandiri untuk mengamankan kepentingannya pada 4 perairan internasional, yaitu Laut Cina Selatan, Laut Andaman, Samudera Indonesia, dan Pasifik Barat Daya.

“Jadi kau pikir itu adalah KRI Yos Sudarso?” tanya Prita pada Anton setelah mendengar penjelasannya.

“Ya, begitulah, sedikit banyak,” kata Anton,

“aku tak bisa memikirkan big guy yang lain, dan sejujurnya aku berharap semoga sebenarnya KRI Yos Sudarso sudah selesai, hanya masih disembunyikan,”

“Tapi malah ini yang datang?” tanya Prita.

“Ya, ini yang datang,” kata Anton, 

“tidak tepat seperti keinginanku, tapi boleh juga,”

Anton dan Prita pun melemparkan pandangan ke luar dari jendela. Terlihat di hadapan mereka, membentang di tengah lanskap lautan yang membiru terkena matahari pagi, adalah gugus tugas dari KRI Keumalahayati yang akhirnya sudah tiba untuk memberikan bantuan. Namun turut bersama mereka, ada dua kapal perang lain yang memakai corak warna berbeda, dan dari ukurannya pun cukup mencolok. Lebih mencolok lagi adalah pemakaian ular-ular perang milik AL Republik Federasi Russia pada haluan kedua kapal perang tersebut.

Ya, kedua kapal perang Russia itu adalah kapal perang yang dikomandani oleh Kpt-1. Yevgeny Chugainov, yaitu perusak kelas Udaloy, RFS Malatinsky, dan fregat kelas Neustrashimiyy, RFS Andrei Nikolov. Kedua kapal Russia ini sebelum ini telah berada di pangkalan aju Pelabuhan Ratu untuk “sedikit penyesuaian sistem”, kemudian bergabung dengan gugus tempur KRI Keumalahayati yang sudah berasa di sana. Maksud sebenarnya dari kedatangan dua raksasa Russia ini ke titik panas ini, baik Anton maupun Kapt. Kadek masih belum mengetahuinya. Tapi yang pasti, ini memberikan tekanan yang hebat bagi Armada Australia pimpinan Cdr. Lesley van Huydt. Bukan karena bahwa dua kapal perang Russia ini bersenjata jauh lebih lengkap daripada kapal-kapal perang Indonesia di sekelilingnya, namun tekanan jatuh pada efek politis apabila pecah perseteruan antara Australia dan Indonesia di titik itu dengan kapal-kapal Russia berada di sekitarnya.

“Kenken kabare, Kapten Kadek?” tanya Letkol Niken Listyani, komandan dari gugus tempur KRI Keumalahayati.

“Siap, becik, Letkol!” jawab Kapt. Kadek.

“Sudah tidak corah lagi?” tanya Letkol Niken.

“Sekarang sudah becik,” jawab Kapt. Kadek.

“Ada kawan yang mau dan harus ikut ke sini,” kata Letkol Niken,

“kawan kita dari jauh,”

“Siap, Letkol!” jawab Kapt. Kadek.

“Mungkin kawan kita mau perkenalkan diri dulu,” kata Letkol Niken,

“go ahead, Kamerad,”

Sesaat terdengar suara statik sejenak, dan suara Kpt-1 Chugainov pun mulai terdengar. Dia bicara di saluran radio umum, sehingga baik pihak Indonesia maupun Australia bisa mendengar apa yang akan dia katakan.

“Di sini Captain 1st Rank Yevgeny Alekseyevich Chugainov, saya datang atas nama Voyenno-Morskoy Flot Rossii (AL Russia) mewakili pemerintahan Republik Federasi Russia,” kata Kpt-1. Chugainov, 

“kami datang secara resmi atas undangan dari pemerintah Republik Indonesia untuk membantu pencarian di tempat ini; dan saya peringatkan bahwa setiap serangan yang ditujukan ke arah kami, akan dianggap sama saja dengan pernyataan perang terhadap Republik Federasi Russia,”

Semua kelasi di KRI Ternate pun berteriak-teriak, mengelu-elukan kedatangan “Kawan Russia” yang seolah bagaikan pasukan kavaleri penyelamat. Anton dan Prita pun turut pula tersenyum senang, tapi bagi Anton, ada satu hal yang masih mengganjal. Apabila benar Australia menyerang dan Russia membalas dengan menyatakan perang, maka Amerika Serikat pasti tak akan tinggal diam, dan ini akan menggiring semua negara di antara poros Barat-Timur-Selatan ke dalam perang yang amat besar!

“Salam, Kapten Kadek, saya yakin Anda cukup lega dengan kedatangan kami,” kata Kpt-1. Chugainov kepada Kapt. Kadek.

“Tentu saja, Kamerad Kapten,” kata Kapt. Kadek.

“Baiklah, tapi jangan senang dulu, kita masih jauh dari sukses,” kata Kpt-1. Chugainov,

 “ada tugas yang harus kita kerjakan, dan saya yakin waktu yang kita miliki sudah tak terlalu banyak lagi,”

“Ya, Kamerad Kapten, lalu bagaimana prosedur selanjutnya? Kami sudah hampir putus asa mencari kapal siluman sialan itu,” kata Kapt. Kadek,

“semua sensor dan sonar kami mandul di hadapannya,”

“Ya, Kapten, saya mengerti, dan soal ini, sebaiknya saya serahkan kepada orang lain yang lebih ahli,” kata Kpt-1. Chugainov,

“silakan selanjutnya dibicarakan dengannya,”

“Siap, Kamerad Kapten,” kata Kapten Kadek.

Antusiasme di sisi Indonesia disikapi dengan kebingungan di sisi yang berseberangan. Semua perwira pada Armada Australia tampak amat resah dan kebingungan akibat kedatangan kapal-kapal Russia. Menghadapi Indonesia adalah satu hal, tapi menyatakan perang pula dengan Russia adalah hal yang lain. Russia sekarang sudah hampir menyamai Russia dulu pada zaman keemasan Uni Soviet. Sekalipun antara Russia dan Australia berada pada sisi kutub yang berbeda, Russia memiliki kemampuan untuk membawa api peperangan ke benua Australia, dan dengan Indonesia berada pada sisi Russia, ancaman bahaya itu semakin besar.

“Bagaimana ini, Commodore?” tanya Lt. Com. McGraws.

“Tetap tenang, tetap pada kesiagaan kita yang semula, dan segera beri tahu Canberra soal ini,” kata Cdr. Lesley van Huydt.

“Siap, Pak!” kata Lt. Com. McGraws.

Meskipun terlihat cukup tenang, kekhawatiran pun sejatinya menggerogoti Cdr. van Huydt hingga ke tulang-tulangnya. Jika sekali ini dia salah langkah, dia bisa saja menyulut Perang Dunia Ketiga. Permasalahannya adalah, dan ini juga yang dikhawatirkan oleh Cdr. van Huydt, bagaimana jika perintah untuk berperang justru muncul dari jajaran elite, dari Canberra? Cdr. van Huydt hanya menghela napas panjang, tak berani memikirkan konsekuensinya.



Samudera Indonesia

Kedalaman 200 meter

08.39 WIB

H minus 26:11:00



“Jelaskan lagi,” kata Laksma. Mahan,

“jadi kalian sudah berhasil?”

“Secara garis besar, sudah, Kep,” kata Sers. Andre,

“kami sudah dalam tahap akhir untuk mengaktifkan kembali peralatan sonar aktif; ini berkat Saudara Reza dan Nona Lucia,”

“Saya hanya membantu sedikit, Laksamana,” kata Reza merendah.

“Apa pun, ini adalah kabar yang amat baik,” kata Laksma. Mahan,

“kapan kita bisa mengaktifkannya?”

“Kami berusaha menyambungkan semuanya secepat mungkin, Kep,” kata Sers. Andre.

“Bagus, bagus sekali,” kata Laksma. Mahan.

Laksma. Mahan lalu terduduk sejenak, dan kini dia merasa napasnya agak sesak. Dia melihat ke semua orang yang ada di sana, termasuk Lucia, dan juga Reza. Berita ini jelas amat menggembirakan, tapi tetap tak menutupi fakta bahwa cadangan udara di kapal selam ini hanya cukup untuk sekitar sehari lagi, dan itu artinya kemajuan ini tidak boleh lagi diperlambat.

“Semua harapan kini tergantung pada kalian,” kata Laksma. Mahan.

“Siap, Kep, kami tahu,” jawab Sers. Andre.

“Dan Nona Lucia, seberapa bahagianya berita ini pun, saya tidak ingin Anda memberitahukan kepada semua orang dengan terlalu berlebihan,” kata Laksma. Mahan,"

“jalan menuju kesuksesan masih panjang, dan kegagalan bisa mengintai setiap saat,”

“Saya mengerti, Laksamana,” kata Lucia.

“Dan kalau semua ini gagal dan memang kita harus mati,” kata Laksma. Mahan,

“maka saya akan memastikan kita semua mendapatkan kematian yang cepat, tanpa rasa sakit,”

Semua orang hanya diam saja mendengar kalimat yang suram ini. Sesukses apa pun mereka saat ini, tak akan ada artinya bila ternyata pada akhirnya peralatan itu tidak berfungsi, dan kemungkinan ke arah sana pun masih terbuka lebar.

“Silakan bubar,” kata Laksma. Mahan.

“Terima kasih, Kep,” kata ketiga orang itu.

Lucia, Reza, dan Sers. Andre pun segera meninggalkan ruangan Laksma. Mahan. Suasana kapal selam yang sudah suram pun menjadi amat kelabu, dan Lucia pun penasaran bisakah menjadi lebih kelam lagi seiring dengan berjalannya waktu? Makanan sudah tidak lagi dihidangkan, karena para kelasi juga sudah tidak berselera untuk makan, hanya minum saja untuk menyegarkan diri dari suasana yang semakin menyesakkan.

“Aku mau ke kabin sebentar,” kata Lucia,

“kalian langsung ke anjungan?”

“Ya, nggak boleh buang waktu lagi sekarang,” kata Sers. Andre.

“Doakan kami aja ya, Mbak,” kata Reza.

“Semoga sukses,” kata Lucia, “aku nyusul nanti,"

Lucia pun berpisah jalan dengan Reza dan Sers. Andre. Keberhasilan mereka mengisolasi pola penyaring dari kunci sonar secara signifikan mengangkat semangat mereka dan kini mereka seolah ingin terus bekerja tanpa henti. Ini tentu saja bagus, karena semakin cepat mereka selesai semakin baik. Udara hanya akan bertahan sehari semalam lagi, dan kemungkinan semua orang sudah akan mati beberapa jam sebelum udara benar-benar habis. Untuk itu, Lucia benar-benar berdoa semoga mereka diberikan jalan keberhasilan. Dia melambai kecil kepada mereka sebelum berbalik ke kabin.

Sesampainya ke kabin, Lucia agak terkejut karena di sana ada Ridwan Juhari yang tengah berbincang-bincang dengan Erika dan Iwan. Iwan sudah beberapa waktu ini hanya berbaring saja, karena kepalanya sering sakit, mungkin akibat efek benturan yang diterimanya pada saat KRI Antasena diserang oleh HMAS Pitcairn.

“Maaf, ternyata ada Pak Ridwan di sini,” kata Lucia.

“Silakan saja, maaf saya di sini cuman mencari temen ngobrol, kebetulan bisa bicara dengan adik Erika dan adik Iwan,” kata Ridwan Juhari,

“saya jadi kagum dengan cerita-cerita kalian sebagai wartawan; kedengarannya koq mengasyikkan,”

“Memangnya di Komisi I nggak mengasyikkan, Pak?” tanya Lucia.

“Saya cuman analis dan staf ahli, ya tugas saya ya cuman meriksa dokumen ama cari referensi, pokoknya buat amunisi bagi anggota Komisi I,” kata Ridwan Juhari,

“Nyaris 100% soal studi pustaka aja, nggak pernah wara-wiri ke sana kemari,”

“Kalau emang Pak Ridwan cuman studi pustaka ama kasih masukan, masukannya juga yang bener dong, Pak, masak ada fakta-fakta yang salah bisa diungkapin di Komisi?” kata Lucia,

“kasihan kita jadinya, ama masyarakat sering dituduh wartawannya pada bodrek, padahal yang kita tulis kadang udah otentik-letterlijk,”

“Hahaha… Soal itu kadang saya juga gemas koq,” kata Ridwan Juhari,

“masih banyak anggota Komisi I yang belum bisa baca data ama laporan ternyata, tapi ini off-the-record aja lho, ya, kalau tiba-tiba dimasukin News Break mati saya,”

“Off-the-record, janji deh,” kata Erika, 

“iya kan, Mbak?”

Lucia hanya mengangguk saja.

“Jadi, Nona Lucia, ada kabar apa di anjungan? Dari beberapa lama saya perhatikan kamu di anjungan terus,” kata Ridwan Juhari.

“Kabarnya lumayan baik,” kata Lucia,

“bila nggak ada aral melintang, dalam waktu dekat ini kita sudah bakal bisa perbaiki alat sonar, jadi kita bisa kasih sinyal misal di atas ada kapal,”

“Wah, jadi kita bakal cepat ditolong, dong!” kata Erika bersemangat.

“Jangan seneng dulu, nggak semudah itu juga,” kata Lucia, 

“kita cuman bisa memberi tahu, soal penyelamatan, tergantung siapa yang nangkep sinyal kita ntar,”

“Ya, aku tahu soal itu, soalnya kalau nggak salah untuk mencapai kedalaman kita, kudu pake alat yang RV… apa itu?” tanya Ridwan Juhari.

“DSRV,” kata Lucia.

“Ya, benar itu,” kata Ridwan Juhari.

“Katanya analis, koq nggak tahu, Pak?” goda Lucia.

“Nggak begitu paham soal kapal selam, Non,” jawab Ridwan Juhari,

“saya lebih paham soal kapal permukaan, tapi nggak ada lagi analis di Komisi I yang paham soal matra laut, ya cuman saya yang paling deket, makanya saya ikut,”

“Bener nih, Pak?” sindir Lucia lagi.

“Boleh samber petir deh,” kata Ridwan Juhari.

“Bapak ini lucu,” tukas Erika, “mana ada petir di kapal selam?”

Semua orang pun tertawa.

“Kamu sendiri sepertinya cukup menguasai soal alutsista, Nona?” Ridwan Juhari balik bertanya.

“Iya, suami saya penggemar kemiliteran, terutama matra laut, jadi saya lumayan tahu banyak,” kata Lucia.

“Oh, begitu rupanya,” kata Ridwan Juhari,

“sudah lama menikahnya?”

“Baru sebenarnya,” kata Lucia,

“ini penugasan pertama saya setelah cuti nikah,”

“Wah, masih hangat-hangatnya berarti,” kata Ridwan Juhari,

“ya, semoga saja semua usaha kita berhasil dan kita bisa keluar dari sini,”

“Amin, Pak,” jawab Lucia, yang juga diamini oleh semua orang.


Bina Graha

09.01 WIB

H minus 25:50:00



Suasana yang sibuk pun kembali menjadi semakin sibuk, dan Arfa mulai kalang kabut mengoordinasikan semuanya. Fakta bahwa ada kapal Russia di ground zero cukup melegakan bagi Arfa, namun juga sekaligus khawatir. Lega karena berarti Australia tak akan macam-macam untuk sementara waktu, tapi juga khawatir, karena bila ternyata Australia berani bertindak, ini akan memicu Perang Dunia III, dan perang adalah hal terakhir yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Arfa pun berdoa semoga saja waktu yang dibutuhkan selama Australia masih ragu bertindak bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menemukan KRI Antasena secepatnya.

“Bagaimana dengan duta besar kita untuk Australia? Apakah sudah ditarik kembali?” tanya Arfa.

“Belum,” kata seorang staf,

“sepertinya tak mungkin, karena aparat Australia juga sudah mengepung kedutaan besar kita di Canberra; ada himbauan dari pemerintah Australia agar semua warga negara Australia di Indonesia segera meninggalkan Indonesia dengan segera memakai pesawat pertama yang bisa didapatkan; kita belum mengeluarkan peringatan serupa kepada warga negara Indonesia di Australia,”

“Ada banyak warga negara Indonesia di Australia, dan begitu pula sebaliknya,” kata Arfa,

“mengevakuasi semuanya dalam tempo singkat hanya akan menjadi sebuah mimpi buruk; bila keadaan memburuk, kita terpaksa harus meninggalkan beberapa orang yang belum sempat dievakuasi,”

“Maskapai Qantas mengalihkan semua penerbangan yang menuju ke Indonesia, beberapa rute tujuan Indonesia juga ditutup, Garuda Indonesia pagi ini juga sudah melakukan hal yang serupa,” kata si staf,

“tapi beberapa pesawat milik Garuda Indonesia masih ada di Australia, bersiap untuk melakukan evakuasi besar-besaran hingga saat-saat terakhir,”

“Perang belum diumumkan dan keadaan sudah menjadi tak terkendali, rasanya sudah tak ada gunanya kita menutupi semuanya,” kata Arfa,

“tapi Presiden belum ingin mengeluarkan pernyataan resmi sebagai sikap bangsa, terus pantau semua keadaan,”

“Siap, Bu,” kata staf itu.

“Dan pantau juga situasi keamanan di kedutaan besar Australia,” kata Arfa,

“aku tak peduli bila ada yang melakukan sesuatu saat perang sudah pecah, tapi sebelum itu, mereka tetap menjadi tanggung jawab kita,”

“Siap, dimengerti,” kata staf itu lagi.

Seorang ajudan kemudian dengan buru-buru mendekati Arfa. Dia pun menghormat begitu sampai di depan Arfa.

“Bagaimana?” tanya Arfa.

“Kami sudah menyiapkan koneksi aman untuk telekonferensi dengan KRI Ternate dan RFS Malatinsky,” kata si ajudan.

“Kau yakin sudah aman? Sudah diperiksa dua atau tiga kali?” tanya Arfa.

“Siap, sudah aman,” kata si ajudan.

“Bagus, aku akan ke sana,” kata Arfa,

“dan bagaimana dengan pemantauan atas komunikasi antara London-Canberra-Washington?”

“Siap, masih dilaksanakan, banyak sekali kawat diplomatik yang terjadi pada komunikasi antara ketiga arah, beberapa di antaranya terenkripsi,” kata si ajudan.

“Dekripsikan semua materi yang terenkripsi, aku tak peduli bagaimana caranya, tapi lakukan secepat mungkin, dan beri tahu aku bila ada sesuatu,” kata Arfa.

“Siap, laksanakan!” kata si ajudan.

Arfa pun kemudian berjalan ke sebuah ruangan yang memiliki beberapa layar LCD berukuran besar. Ruangan ini biasa dipakai apabila Presiden ingin melakukan telewicara pada beberapa pejabat di seluruh Indonesia, atau pun dengan pemimpin negara sahabat. Tapi kini Arfa akan menggunakannya untuk melakukan koordinasi penyelamatan atas KRI Antasena. Sam sudah ada di sana, dan sepertinya semua staf operator tinggal menunggu kedatangan Arfa saja.

“Bagaimana, Sam?” tanya Arfa.

“Semua sudah siap, Nn. Aryanti,” kata Sam.

“Bagus, mulai sambungkan,” kata Arfa,

“tapi sebelumnya aku ingatkan sekali lagi bahwa kalian semua yang ada di sini sudah disumpah untuk tak mengatakan apa pun atas apa yang kalian dengar,”

Semua staf mengangguk, kemudian langsung mulai sibuk bekerja, dan dua layar LCD besar di hadapan Arfa segera menyala. Salah satunya menunjukkan suasana di anjungan KRI Ternate, sementara satu lagi menunjukkan suasana anjungan di RFS Malatinsky.

“Saya Arfa Aryanti, kepala staf pertahanan kepresidenan. Silakan berbicara, Kamerad, ini adalah sambungan aman, tidak akan bisa dilacak sehingga kita semua bisa bicara dengan nyaman,” kata Arfa,

“bersama saya di sini adalah Dr. Sam Nurzaman, yang merupakan asisten Dr. Anatoly Sedorenkov di Indonesia; sementara di KRI Ternate ada Tuan Anton, dia perwakilan saya di sana,”

“Baiklah, nama saya adalah Dr. Vyacheslav Vorobyov, saya rekan kerja Dr. Anatoly Sedorenkov dalam mengembangkan kesisteman kapal selam dan pelacaknya di Russia, saya meneruskan pekerjaan Dr. Sedorenkov di Russia setelah beliau memutuskan untuk pergi ke Indonesia; sebenarnya akan lebih baik bila beliau sendiri yang hadir,” kata Dr. Vorobyov dari RFS Malatinsky.

“Sayangnya karena satu dan lain hal, beliau tidak bisa dihadirkan di sini,” kata Arfa,

“sekarang sebaiknya kita masuk ke pokok permasalahan, Dr. Vorobyov, tak perlu lagi menunda-nunda, mengingat waktu kita semakin menipis,”

“Baiklah, Nn. Aryanti,” kata Dr. Vorobyov,

“sebenarnya saya amat terkejut karena saya harus membawa sensor ‘Rusal’naia’ ke sini, karena Rusal’naia adalah sensor terbaru yang kami kerjakan sebelum Dr. Sedorenkov ke Indonesia,”

“Rusal’naia? Maksud Anda seperti kisah Putri Duyung?” tanya Anton,

“Rusalka?”

“Ya, tepat seperti itu, Tuan…” kata Dr. Vorobyov."

“Anton,” jawab Anton.

“Apa itu Rusal’naia dan Rusalka?” tanya Arfa.

“Dalam cerita rakyat Russia, Rusalka adalah Putri Duyung versi Russia, yaitu arwah dari wanita-wanita yang belum menikah, atau menenggelamkan diri karena putus cinta,” kata Anton,

 “mereka akan muncul dari danau atau sungai pada malam hari, kemudian menyanyi untuk menarik perhatian pria yang kebetulan lewat, dan membunuh mereka dengan cara menarik mereka masuk ke air dan menenggelamkan mereka; ada hal di Russia yang disebut sebagai ‘Minggu Rusalka’, itulah saat para Rusalka menjadi amat kuat sehingga siapa pun dilarang berenang pada minggu itu, lalu pada akhir minggu itu, warga akan mengadakan festival Rusal’naia, yaitu ritual untuk mengusir para Rusalka dan menenangkan arwah mereka,”

“Sedikit banyak legenda itu mencerminkan apa yang kita hadapi sekarang,” kata Dr. Vorobyov.

Dr. Vorobyov pun berdehem sejenak, kemudian dia melanjutkan perkataannya.

“Proyek Rusalka, adalah proyek pengelakan kapal selam yang rencananya akan diintegrasikan pada proyek kapal selam kelas Veliky Novgorod, atau dulu mungkin dikenal sebagai ‘Sadko’,” kata Dr. Vorobyov.

“Sadko? Bukankah itu proyek kapal selam rudal balistik terbaru Russia? Yang katanya tiga tingkat lebih hebat daripada kelas Borei?” tanya Arfa.

“Tapi kalau tidak salah, proyek kapal selam itu dibatalkan akibat biaya pembangunannya membengkak, dan ternyata kapal itu tidak bisa lebih bagus daripada kelas Borei?” tanya Anton.

“Well, harus ada alasan untuk menyembunyikan pembuatan Sadko, bukan? Kami mensinyalir bahwa agen asing telah berusaha hingga tiga kali untuk menyabotase proyek Sadko, sehingga kami pun mengambil keputusan untuk menunda kelangsungan proyek Sadko, namun secara diam-diam kami mengintegrasikannya ke dalam proyek kapal selam baru, Veliky Novgorod,” kata Dr. Vorobyov.

“Bisakah sebuah lambung kapal selam diintegrasikan begitu saja ke rancangan kapal selam lain tanpa harus mengubahnya?” tanya Arfa,

“kalau tidak salah, Veliky Novgorod ini budgetnya hanya setengah kalinya proyek Sadko, tidakkah akan terjadi komplikasi struktur?”

“Yang orang tidak tahu, Nn. Aryanti, adalah bahwa Sadko bukanlah kapal selam, melainkan sebuah sistem yang akan dipasang di kapal selam tersebut,” kata Dr. Vorobyov,

“jadi ya, pada dasarnya bisa dipasang di kapal selam mana saja sepanjang memungkinkan; dan untuk integrasi ke dalam kelas Veliky Novgorod, kami menyempurnakan sistem Sadko dan membuatnya menjadi sistem yang sekarang, proyek Rusalka,”

“Oke, Dr. Vorobyov, cukup soal pelajaran sejarah ini, dan mari kita langsung saja ke intinya,” kata Arfa,

“ada nyawa orang yang harus kita selamatkan,”

“Baiklah, Nn. Aryanti, maaf,” kata Dr. Vorobyov,

“jadi sistem Rusalka adalah sistem yang akan mengelakkan pencarian via sonar aktif melalui serangkaian nada dan frekuensi untuk menciptakan distorsi sonar di air; penangkap sonar biasa tak akan bisa menangkap sonar ini, dan bagi mereka, hanya akan terdengar seperti ‘suara ombak yang halus’,”

“Jadi ini seperti untuk menyembunyikan kebocoran, banjiri rumahnya, begitu?” tanya Anton.

“Sedikit banyak, Tn. Sam nanti mungkin bisa menjelaskannya lebih lanjut, bila hal tersebut diizinkan,” kata Dr. Vorobyov,

“nah, guna sistemRusal’naia adalah untuk memetakan pola distorsi itu sekaligus menciptakan triangulasi di antara gelombang untuk mendapatkan posisi si kapal selam Rusalka,”

“Aku bisa mendapatkan gambaran kasarnya, Dr. Vorobyov,” kata Arfa,

“jadi dengan sistem yang sudah dipasang di kapal RFS Malatinsky ini, nanti bisa mencari KRI Antasena, begitu?”

“Ya dan tidak,” kata Dr. Vorobyov.

“Tunggu, apa maksudnya?” tanya Anton.

“Permasalahan dari sistem Rusalka dan Rusal’naia adalah bahwa harus ada keseragaman antara gelombang dasar yang dipakai; konsep pemasangan sistem Rusalka di Russia adalah dengan memasangkan sistem Rusalka pada kapal selam Veliky Novgorod, dan sistem Rusal’naiapada kapal permukaan, yang sejatinya seharusnya adalah konsep kapal perusak kelas Borodino; tapi karena desakan pemerintah, maka proyek kapal kelas Borodino dibatalkan, sehingga alternatifnya, kami memakai platform kapal perusak kelas Udaloy II; dan kalau saya tak salah ingat, tak lama setelah itu Dr. Sedorenkov pindah ke Indonesia, beliau kecewa soal pembatalan proyek Borodino,”

“Tunggu, Nn. Aryanti, saat Dr. Sedorenkov pindah ke Indonesia, kapal perang kelas Ternate sedang dibangun, bukan?” tanya Anton.

“Ya, Tn. Anton, ada sesuatu?” tanya Arfa.

“Mungkinkah Dr. Sedorenkov merencanakan untuk membuat kapal kelas Ternate sebagai platform pengusung Rusal’naia?” tanya Anton.

“Bisa jadi, Tn. Anton,” tukas Sam segera,

“kalau tidak salah awalnya kapal kelas Ternate dan Tidore memiliki konfigurasi kembar dengan dua turret berada di fore dan aft; tapi setelah itu desain kelas Ternate diubah dengan mengubah turret di aft menjadi di midship; tapi Dr. Sedorenkov tak pernah mengatakan apa-apa soal ini, dan soal proyek penjejak sebagai konter untuk pengelakan aktif KRI Antasena baru akan dikembangkan setelah proyek Antasena berhasil,”

“Jadi maksudmu, kita baru mengintegrasikan sistem Rusalka, tapi belum mengintegrasikan sistem Rusal’naia, begitu, Sam?” tanya Arfa.

“Saya tidak begitu mengerti soal itu, tapi kalau tidak salah walau pun uji coba KRI Antasena berhasil, seingat saya ada wacana untuk tidak terlebih dulu meluncurkan kelas Antasena dalam penugasan aktif sebelum sistem penjejaknya selesai,” kata Sam,

“untuk menjaga seandainya ada masalah dalam kapal selamnya,”

“Dan sistem penjejak itu nanti akan diintegrasikan ke dalam kapal KAU kelas Ternate?” tanya Arfa.

“Sepertinya begitu,” kata Sam.

“Baiklah, cukup, jadi sistem Rusal’naia yang ada di RFS Malatinsky, apakah bisa atau tidak untuk melacak KRI Antasena?” tanya Anton.

“Seharusnya bisa,” kata Dr. Vorobyov,

“tapi kami butuh 15 menit untuk melakukan penyelarasan akhir; tadi malam kami berangkat dengan terburu-buru,”

“Bagus, lakukan,” kata Arfa.

Saat itulah pintu terbuka dan seorang ajudan buru-buru masuk ke dalam ruangan sambil memegang sebuah kertas. Ajudan itu segera membisikkan sesuatu ke telinga Arfa, dan seketika raut muka Arfa pun berubah seolah mengalami keterkejutan yang cukup besar. Arfa kemudian melirik sejenak ke arah Sam, kemudian dia melemparkan pandangan ke arah Anton dan Dr. Vorobyov via LCD, lalu tersenyum untuk menutupi keterkejutannya.

“Dr. Vorobyov, Tn. Anton, saya permisi dulu, ada hal lain yang membutuhkan perhatian saya sekarang,” kata Arfa,

“Sam, kau tolong berkoordinasi dengan mereka, lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan KRI Antasena,”

“Baik, Nn. Aryanti,” kata Sam.

Arfa pun segera meninggalkan ruangan disertai dengan ajudan tadi. Pintu ruangan tertutup, meninggalkan Sam di dalam sana, bertanggung jawab atas proses penyelamatan KRI Antasena. Arfa sendiri sebenarnya tak ingin meninggalkan proses itu, tapi yang dikatakan oleh si ajudan tadi benar-benar membutuhkan perhatiannya dengan segera.

“Sudah berapa lama transmisinya terdeteksi?” tanya Arfa kepada ajudan.

“Baru saja, dan saya langsung memberi tahu Anda, seperti Anda perintahkan tadi,” kata si ajudan.

“Proses pen-dekripsi sudah dilakukan?” tanya Arfa.

“Sedang berjalan,” kata ajudan.

“Bagus, segera cari juru ketik tercepat yang bisa kamu bawa sekarang juga,” kata Arfa,

“lima menit lagi kutunggu kalian di ruang sandi,”

“Siap, laksanakan!” kata ajudan.

Ajudan tadi pun segera berlari untuk mencari juru ketik seperti yang diperintahkan oleh Arfa. Sebuah transmisi panjang terenkripsi baru saja berhasil terdeteksi, dan panjang dari transmisi ini membuat Arfa sedikit cemas; dan Arfa pun takut kemungkinan terburuk yang dia takutkan akan terjadi.



Gedung NewsTV

09.09 WIB

H minus 25:42:00



Berita dari Andini mengenai pengepungan Kedutaan Besar Australia benar-benar membuat semua bagian di NewsTV bergerak dengan amat cepat. Ini adalah untuk kali pertama terjadi gerakan yang benar-benar nyata dan mengindikasikan terjadi sesuatu antara Indonesia dengan Australia, yang selama ini baru sekadar dugaan dan desas-desus belaka. Dan bagi Tita, ini seperti sebuah penyentak pada pagi yang seharusnya tenang dan rutin; bahkan untuk ukuran suasana seperti ini pun, kejadian ini tetap saja cukup menyentak.

Berkali-kali, Tita harus mondar-mandir dari satu station ke station lain, turun langsung untuk memastikan bahwa semua hal berjalan tanpa cacat. Semenit lalu dia ada di ruang audio-visual, kemudian dia di desk reporter, dan selanjutnya dia sudah di ruang editing. Pokoknya Tita benar-benar seperti sebuah satelit yang selalu beredar tanpa henti, dan satu-satunya meja yang tak dia singgahi hanyalah mejanya sendiri.

“Astaga, Tita, aku mencarimu ke mana-mana,” kata Mutia yang baru saja datang.

“Aku sibuk, Mut, seperti yang kau lihat,” kata Tita.

Tita melihat sejenak ke arah Mutia. Mutia memang bergantian dengan Fitri untuk berjaga mendampingi Tita, dan untuk ukuran ini, Mutia sudah mengusahakan untuk datang pagi. Dan ternyata dia masih kurang pagi.

“Jalanan macet, sepertinya terjadi penjagaan di jalan-jalan protokol, baru pagi ini aku melihat lebih banyak Anoa dan Leopard di sudut-sudut jalan,” kata Mutia.

“Bagus, nanti kau laporkan soal itu, segera ke ruang make up, dan suruh tukang riasnya untuk memoles seperlunya saja, lalu gantikan Fitri di ruang berita,” kata Tita,

“siapa saja anchor yang ada di sini?”

“Tadi aku bertemu Fauzia, lalu ada Tisna, Ralph, Leonard, Adrian Zhao, juga Ci Fiona,” kata Mutia.

“Dengan Prita ikut Anton dan Nana di Australia, kita kekurangan anchor di sini, jadi minta kepala departemen yang beritanya tidak mendesak untuk memberikan anchor mereka,” kata Tita,

“dan apa ada anchor muda yang kau percaya?”

“Marisa dan Putri, tapi mereka masih dalam masa percobaan,” kata Mutia.

“Masukkan mereka,” kata Tita,

“aku sudah mendapat otorisasi dari Bu Sabrina untuk mengambil siapa pun yang kuperlukan, dan semua pemberitaan News Break ini kini kutangani,”

“Tunggu, apakah kita sudah terhubung dengan Nana di Australia?” tanya Mutia,

“mungkin dia bisa melaporkan sebagai narasumber,”

“Sudah kucoba, dan semua saluran telepon dari dan ke Australia mati,” kata Tita,

“televisi Australia juga kesulitan menghubungi reporter mereka di Indonesia,”

“Apakah sudah terjadi? Apakah sudah perang?” tanya Mutia.

Tita berhenti sejenak, kemudian dia merapikan berkas yang dibawanya sambil mendengus cukup keras.

“Sejujurnya aku tak tahu, tapi apa pun itu kita harus siap,” kata Tita,

“sekarang pergi ke tempat make up segera bersiap, dan aku ingin semua anchor minus yang bertugas berkumpul di ruang lingkar segera,”

“Baik,” kata Mutia,

“oh ya, apakah kau sudah menghubungi Uki di Istana Merdeka?”

“Ya, sudah, dan aku tahu bagaimana mengerjakan pekerjaanku, Mut,” kata Tita kesal,

“jadi sekarang segera kerjakan pekerjaanmu dan berhenti khawatir soal pekerjaanku!”

“Oke, baiklah, hanya mengecek saja,” kata Mutia,

“godspeed,”

Mutia segera menembus para awak berita yang masih bersliweran dengan sibuknya, sementara Tita berhenti sejenak untuk menarik napas. Beberapa orang menghampirinya untuk memberi laporan, dan Tita hanya memeriksa cepat untuk memberi otorisasi. Tita memang berada dalam posisi yang memungkinkan dia untuk diakses oleh semua orang yang membutuhkan. Dan saat ini amatlah menguras energi Tita, baik secara fisik maupun mental.

Tita menghela napas, mencoba berhenti di sekitar dunia yang seakan tengah berputar lebih cepat. Seluruh proses menggantikan Anton sebagai commander-in-chief ini membuatnya cukup lelah. Soal bekerja, Tita memang terbiasa bekerja cepat, namun di sini yang dituntut bukan hanya soal pekerjaan saja melainkan juga skill kepemimpinannya. Bukan rahasia bahwa memang Tita merasa nyaman berada di balik Anton yang selama ini “mengerjakan semua pekerjaan kotor”, tapi hal itu membuat beberapa pihak meragukan kapabilitasnya. Meyakinkan mereka, itulah yang sulit. Dan untuk itu Tita tahu bahwa Tita harus menunjukkan bahwa dia adalah orang yang tahu segalanya, persis seperti apa yang dulu diajarkan oleh Anton.

Saat terdiam sejenak itulah Tita teringat akan Erwina. Entah bagaimana perasaannya beberapa hari ini sudah tidak enak, dimulai sejak menghilangnya Erwina entah ke mana. Awalnya tentu saja Tita marah, bahkan murka akibat tingkah polah Erwina yang memang sering “seenaknya”. Bahkan Anton yang lumayan tegas itu pun tak bisa menahan Erwina untuk mematuhi semua protokol. Tapi biasanya Erwina “hanya” menghilang selama satu atau dua hari, setelah itu dia muncul sendiri, atau setidaknya memberi kabar, tapi ini sudah hampir 5 hari dia menghilang tanpa kabar, dan Tita mulai khawatir dan berpikiran buruk, siapa tahu Erwina kenapa-kenapa. Tita selalu mengecek email, BB, dan apa pun untuk kabar dari Erwina, tapi hingga saat ini nihil.

Kekhawatiran Tita pun tentu saja bukan alasan. Bekerja di sebuah kantor berita membuatnya tahu bahwa beberapa kasus orang menghilang, apalagi wanita, biasanya berakhir dengan buruk. Apa lagi Erwina orangnya cantik, dan meskipun cukup independen, bisakah dia mempertahankan dirinya dengan efektif bila diserang penjahat di luar sana? Ini masih ditambah lagi dengan sebagai salah satu reporter top NewsTV, Erwina pernah bercerita bahwa dia pernah mendapat “pesan-pesan aneh” dari “pria-pria kurang ajar” di akun-akun sosialnya. Walau pun Erwina bukan satu-satunya yang mengalami hal semacam itu, namun tetap saja dalam keadaan seperti ini, isu itu pun harus diperhitungkan. Dan Tita tak mau pada saat nantinya Erwina ditemukan, dia terpaksa harus mengisi sebuah obituari.

“Ta,”

Jantung Tita pun hampir copot ketika seseorang tiba-tiba menyapanya. Dia untuk beberapa saat tengah terputus dari dunia luar, tenggelam dalam pemikirannya sendiri, dan kini tiba-tiba sebuah sapaan menyentakkannya kembali ke dalam dunia ini. Melihat reaksi kaget Tita, Fitri yang menyapanya pun ikut-ikutan kaget

“Ya ampun, Ta, kamu ngelamun tadi?” tanya Fitri.

“Sedikit banyak,” kata Tita.

“Istirahat aja deh, Ta, dari tadi kamu udah ke sana ke mari nggak berhenti,” kata Fitri.

“Aku nggak papa, cuman butuh kopi aja,” kata Tita.

“Ya udah kalau gitu,” kata Fitri,

“ayo ambil kopi sama-sama,”

“Ya, eh, kamu udah selesai?” tanya Tita.

“Ya, udah digantiin ama Mutia,” jawab Fitri.

Fitri pun segera menggiring Tita ke pantri terdekat, kemudian membuat dua gelas kopi krim, satu untuk Tita, dan satu untuk dirinya sendiri. Tita meminumnya perlahan-lahan, dan dia mulai agak tenang setelah meminumnya. Baru Tita meminumnya, mendadak dari luar gedung (pantri tempat Fitri dan Tita kebetulan di dekat jendela), terdengar suara bergemuruh memekakkan telinga, dan tahu-tahu saja udara seolah baru dibelah oleh sesuatu yang berjalan cepat. Tita dan Fitri mau tak mau melongok keluar jendela, dan melihat bahwa baru saja ada dua pesawat jet tempur bermesin satu yang lewat di dekat gedung NewsTV, dan mereka terbang lumayan rendah. Fitri hanya mendengus saja.

“F-16?” tanya Tita.

“Bukan, F/A-50,” kata Fitri,

“sepertinya dari Kohanudnas,”

“Berarti ini yang kelima kalinya pada pagi ini,” kata Tita.

“Masa?” tanya Fitri terkejut.

“Kamu dari tadi ada di ruang studio, nggak mungkin bisa denger suara dari luar,” kata Tita,

“ini yang kelima,”

“Pesawat dari Kohanudnas terbang keliling Jakarta sampai lima kali di pagi hari,” kata Fitri,

“pertanda apa?”

“Bukan pertanda bagus,” kata Tita.

Tita pun duduk di bangku dekat meja pantri sambil menerawang ke dalam kopinya. Wajahnya sendiri yang masih agak tegang tercermin di permukaan kopi yang berwarna coklat itu.

“Istana yang menutup diri, serombongan helikopter yang terbang malam, pesawat sewaan reporter yang diintersep, kedutaan besar yang dikepung, dan sekarang ini,” kata Tita,

“semuanya tambah jadi misteri,”

“Sebenarnya tidak misteri kalau mau dinalar,” kata Fitri,

“hanya saja jawabannya mungkin nggak mau kamu denger,”

“Aku tahu,” kata Tita,

“kini tinggal satu hal lagi yang tersisa untuk itu,”

“Mungkin sebentar lagi, setiap saat,” kata Fitri sambil meminum kopinya,

“firasatku cukup kuat untuk hal ini,”

Tita melihat ke arah Fitri. Baru kali ini dia melihat ada rasa khawatir tergurat jelas pada muka Fitri. Fitri yang biasa Tita kenal adalah Fitri yang tak kenal takut, dan tak kenal khawatir, serta selalu punya solusi untuk setiap permasalahan; bukan Fitri yang dia hadapi saat ini, yang lesu, gontai, dan seolah tidak tahu apa yang akan menanti di depan. Dalam situasi krisis seperti ini, pikir Tita, mungkin bahkan orang terbaik pun akan merasa lelah dan layu.

“Oke, cukup, tadi kamu mikirin apa, Ta?” tanya Fitri mengalihkan pembicaraan dari topik yang dirasa sudah terlalu berat.

“Erwina,” jawab Tita,

“sudah lama nggak ada kabar soal dia, dan aku udah mulai berpikiran yang enggak-enggak,”

“Ya, aku juga,” kata Fitri,

“dia anak yang baik, urakan tapi baik, dan rasanya aku nggak siap saja kalau di tengah-tengah situasi seperti ini, kita temuin dia udah…”

“Jangan bilang kayak gitu,” kata Tita dengan nada tinggi.

“Tapi itu benar, kan?” kata Fitri pelan,

“kamu juga ngerasain ada yang nggak beres, kan?”

Fitri mengangkat jarinya untuk menghapus air mata yang merembes keluar. Bagaimana pun Fitri mencoba menutupinya, Tita bisa tahu bahwa Fitri tengah menangis, dan kejutan terbesarnya adalah bahwa ini pertama kalinya Tita melihat Fitri menangis. Fitri memang yang paling tegar di antara semua sekawan ini, Tita, Prita, dan Mutia; dan melihatnya seperti tadi sudah merupakan sebuah anomali, apalagi sampai Fitri menangis. Berikutnya, Tita pun mungkin tak akan kaget bila neraka juga membeku. Namun masalah Erwina ini bisa menguras emosi juga, sebagaimana ketika Lucia saat ini yang tengah berada di antah-berantah, terkubur di bawah laut di dalam peti mati baja. Tapi setidaknya ada berita soal Lucia, sementara Erwina seolah menghilang begitu saja seperti asap ditiup angin.

Seorang reporter muda pria, entah dari mana, muncul tiba-tiba di hadapan Tita dan Fitri, dan wajahnya tampak menunjukkan sebuah ketegangan sekaligus ketakutan.

“Bu Tita… Bu Tita…” kata si reporter dengan wajah pucat pasi dan napas yang tersengal-sengal.

“Ada apa, Rudy?” tanya Tita.

“Ada… ada…” kata reporter bernama Rudy ini.

“Santai dulu, Rudy, atur napas,” kata Fitri.

Tapi Tita melihat bahwa gagapnya si Rudy ini bukan karena kelelahan, tapi karena sesuatu yang lain. Melihat wajahnya yang pucat bagai melihat hantu, jantung Tita pun mendadak serasa dicengekeram oleh tangan besar kengerian yang terasa sedingin es. Bulu kuduk Tita pun, tanpa sadar, terasa berdiri.

“Ada apa?” tanya Tita lagi dengan jantungnya berdetak tak karuan.

“Erwina, Bu… Erwina…” kata Rudy.

“Sudah ketemu?” tanya Tita, masih dengan ketegangan yang belum mereda.

“Iya, sudah…” kata Rudy,

“tapi dia… tapi dia…”

Rudy tak berani melanjutkan perkataannya, hanya menunduk saja. Wajahnya semakin pucat, kombinasi dari kesedihan, ketegangan, dan ketakutan. Ini cukup untuk membuat jantung Fitri dan Tita seolah berhenti berdetak. Dan semesta pun mendadak hening, hanya ada kegelapan yang amat sangat yang seolah menutupi mereka bertiga dari dunia luar.

“Erwina kenapa, Rud?” tanya Tita.

“Erwina… dia…” kata Rudy.

“Jawab, Rudy! Erwina kenapa?” jerit Tita sambil air matanya mendadak meledak keluar.

Tita pun memegang bahu Rudy dan mengguncangkannya, tapi Rudy tetap tak menjawab. Fitri tak bisa menahan air matanya yang mulai keluar, hanya mencengkeram counter pada pantri hingga kukunya patah. Kabar yang selama ini dinanti pun akhirnya tiba, tapi benarkah ini kabar yang mereka inginkan.

“Erwina kenapa, Rudy?” tanya Tita sambil terisak yang akhirnya tak kuat dan hanya tertunduk menangis sambil tangannya terus mencengkeram bahu Rudy, yang masih tak bicara dan kini pun ikut menangis.


Samudera Indonesia

09.26 WIB

H minus 25:25:00


Pesawat peringatan dini NC-295 Blue Sky kembali terbang melintasi Armada Indonesia yang kini sudah menjadi 8 kapal, ditambah lagi dengan 2 kapal milik AL Russia yang ikut nimbrung sementara di hadapan mereka Armada Australia masih setia dengan 12 kapalnya, tidak bergerak menunggu komando selanjutnya.

“Bagaimana situasinya, Blue Sky?” tanya Kapt. Kadek.

“Mereka masih di sana, Kep, tapi saya mendeteksi bahwa ada satu flight pesawat tempur tengah diterbangkan dari Australia, mungkin untuk payung udara, Over,” jawab Blue Sky.

“Mungkin itu payung udara mereka, lalu bagaimana dengan payung udara kita?” tanya Kapt. Kadek.

“Copy that, sudah diberangkatkan, satu wing tempur kita, giliran pertama adalah Hell Hound, Over, mereka akan melindungi dari jauh,” kata Blue Sky,

“berkonsentrasilah saja pada pekerjaan penyelamatan di bawah, dan kami akan urus mereka yang di atas,”

“Roger that, Blue Sky, selamat bekerja,” kata Kapt. Kadek.

Blue Sky pun kembali melintas di atas Armada Indonesia sebelum akhirnya menaikkan ketinggiannya dan berputar ke jarak yang tak terlihat. Anton hanya menatap langit biru yang kosong dengan awan putih keperakan bergumpal-gumpal. Seolah langit itu terlihat damai dan kosong, tapi Anton tahu bahwa jauh dari pandangan mata biasa, malaikat-malaikat baja tengah mengarungi lautan awan yang luas, menjaga masing-masing Armada mereka yang tengah berhadapan di bawah.

Tapi keheningan mau tak mau harus dipecahkan. Semua orang dengan harap-harap cemas menunggu komando dari RFS Malatinsky. Ini adalah saat-saat penentuan, karena apabila ini gagal, maka semua harapan pun akan musnah. Saking tegangnya, Prita bahkan tak henti-hentinya menggamit tangan Anton erat-erat, sangat erat hingga Anton merasa tangannya kebas akibat dicengkeram terlalu kencang.

Dan ternyata bukan hanya Prita dan Anton saja yang cemas menantikan kabar dari kapal perusak Russia ini. Semua yang ada di sana pun juga begitu, bahkan mereka yang bertugas mengawaki senjata di luar kapal pun perhatiannya terpecah antara melihat ke musuhnya nun di seberang sana, dengan melihat ke arah RFS Malatinsky. Ini tentu saja berbahaya mengingat Armada Australia di seberang sana masih dalam keadaan siap tempur. Bagaimana pun, mengingat pentingnya misi yang diemban oleh RFS Malatinsky, hal yang akan dilakukan oleh kapal ini tentu saja mendapatkan perhatian dari semua orang.

Pertama-tama, dua buah tiang mirip peruan dilebarkan melewati kanan-kiri lambung RFS Malatinsky, dan kemudian dari ujung peruan itu, sebuah benda diturunkan ke dalam air via kabel. Entah itu adalah mikrofon atau justru sonobuoy. Sensor serupa nampaknya diturunkan juga dari haluan dan buritan, sehingga total ada empat sensor dalam empat tempat yang berbeda.

“Awalnya, RFS Malatinsky merupakan salah satu kapal kelas Udaloy II yang kami pakai sebagai platform Rusal’naia, tapi untuk muhibah ini, dengan alasan keamanan dan kerahasiaan, maka sistem utamanya kami lepas sewaktu masih di Russia,” kata Dr. Vorobyov,

“sayangnya kami tak sempat mengambil sistem asli milik RFS Malatinsky, sehingga kami memakai sistem milik RFS Igor Bugdanov, oleh karena itu kami harus melakukan beberapa penyesuaian pada sistem,”

“Apakah semua sudah siap kalau begitu?” tanya Anton.

“Sudah, kami akan mulai menembakkan sonar dalam dua menit,” kata Dr. Vorobyov,

“hitung mundur dari sekarang,”

Semua orang pun menantikan hitungan mundur itu dengan tegang. Dari RFS Malatinsky, hitungan disampaikan dalam bahasa Russia, sedikit banyak mengurangi ketegangan bagi mereka yang tak mengerti.

“Apakah ini bisa berhasil?” tanya Prita sambil terus menggenggam tangan Anton.

“Harus berhasil,” kata Anton.

“Kalau tidak?” tanya Prita.

Anton tidak menjawab, hanya diam saja, tapi kali ini ganti dia yang menggenggam tangan Prita dengan cukup kencang. Prita, merasakan kegelisahan Anton, segera menepuk pundak Anton dan memaksakan tersenyum, meskipun kegelisahan yang sama kini juga tengah menderanya. Waktu dua menit pun berasa amat lama.

“Sepuluh detik lagi!” kata announcer di KRI Ternate.

“Desyat…devyat…vosem…sem…shest…pyat…”

“…empat…tiga…dua…satu…” hitung Anton dengan suara lirih.

Mendadak terdengar suara mirip tumbukan besi yang amat keras, seolah-olah ada palu maha dahsyat yang menghantam paku mahabesar, disertai dengan getaran suara yang amat mengerikan, seolah-olah ada monster laut maharaksasa yang tengah menggeram marah akibat tidurnya terganggu. Anehnya, hanya orang di dalam anjungan saja yang mendengar suara ini, karena memang sumber suara ini ada di laut, yaitu dari tembakan sonar RFS Malatinsky. Saking keras dan mengerikannya suara ini, operator sonar KRI Ternate sampai melompat dan membanting headset-nya, kemudian dia duduk terdiam di bawah panel sambil memegangi telinganya. Telinganya berdenging dengan cukup kencang, membuatnya untuk beberapa saat tak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh teman-temannya yang langsung mengerubunginya.

Hantaman kedua pun terdengar kembali, dan kali ini suara geraman itu terdengar agak lama, namun lebih lembut daripada sebelumnya. Kalau ada yang pernah mendengar suara air terakhir yang meninggalkan wastafel, ya kira-kira mirip seperti itu. Prita pada hantaman pertama memang agak terkejut, tapi setelah hantaman kedua, dia sudah lebih tenang, dan anehnya, wajahnya menunjukkan raut muka menyelidik seolah menemukan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Dia pun mulai bersenandung ringan.

“Kalinka, kalinka, kalinka, moya… V sadu yagoda malinka, malinka moya…”

Anton tertegun mendengar Prita tiba-tiba mengalunkan lagu itu.

“Kalinka?” tanya Anton.

“Ya, kamu denger nggak?” tanya Prita,

“kayaknya ada yang menyanyikan Kalinka,”

“Ah, yang enggak-enggak aja kamu, mana ada?” tanya Anton.

“Beneran koq, coba dengerin deh,” kata Prita.

Anton pun memejamkan matanya dan berusaha mendengar lagu yang Prita nyanyikan tadi, sayangnya bagi Anton yang terdengar hanyalah suara geraman hasil dari tembakan sonar RFS Malatinsky.

“Denger, kan?” tanya Prita.

“Nggak ah,” balas Anton sambil menggelengkan kepala.

Prita mendengus, dan kali ini dia ganti yang menutup matanya.

“Ada?” tanya Anton.

“Aneh, udah nggak ada, tapi tadi jelas banget,” kata Prita.

“Sudahlah, mungkin telingamu agak pekak gara-gara suara tadi,” kata Anton.

“Telingaku masih normal, Ton!” kata Prita marah.

“Ya oke, aku percaya,” kata Anton.

Anton sendiri sejujurnya masih bingung dengan yang dikatakan oleh Prita tadi, apa yang dimaksud bahwa Prita mendengar lagu “Kalinka”? Salah satu lagu rakyat Russia. Apakah ini hanya halusinasi Prita saja?

“Bagaimana, Dr. Vorobyov?” tanya Sam dari layar.

Pertanyaan Sam tadi mengingatkan Anton bahwa saat ini mereka tengah menantikan pembacaan sonar dari RFS Malatinsky untuk menemukan lokasi KRI Antasena. Anton menunggu dengan cemas, tapi raut muka Dr. Vorobyov mematahkan harapannya.

“Sayang sekali, kita tidak bisa menemukannya,” kata Dr. Vorobyov.

Dan bersama dengan jawaban itu, lutut Anton pun serasa lemas sehingga Prita harus memeganginya agar Anton tidak jatuh.

“Bagaimana bisa tidak bisa? Katanya tadi bisa!?” kata Anton dengan nada emosi.

“Sabar dulu, akan saya jelaskan…” kata Dr. Vorobyov.

“Kami tidak butuh penjelasan Anda, Dr. Vorobyov!! Ini yang katanya alat canggih dari Russia itu, tapi kenyataannya mana??” kata Anton naik pitam.

Prita segera menenangkan Anton yang tampak emosi dengan hasil yang tak diharapkan ini. Prita sendiri jelas paham kenapa Anton bertindak seperti ini. Siapa bisa tetap tenang bila nyawa orang yang dikasihi dipertaruhkan, dan satu-satunya cara yang dikabarkan bisa menolong kini malah mandul.

“Pak Anton tenang!” kata Kapt. Kadek sambil mengkonfrontasi Anton,

“saya tahu Anda perwakilan dari Bina Graha di kapal ini, tapi saya masih sebagai kapten kapal ini, dan bila Anda tidak bisa menahan diri Anda sekarang, saya akan perintahkan anak buah saya untuk menahan Anda!”

Anton masih cukup geram, dan tinjunya terkepal amat kencang hingga tangannya bergetar hebat. Prita berusaha mengingatkan Anton sambil mengelus dada Anton supaya dia tetap tenang.

“Ton, sudah, kita dengerin dulu apa kata Dr. Vorobyov,” kata Prita,

“siapa tahu ada penjelasan di balik semua ini,”

“Penjelasan apa lagi, Prita!” hardik Anton.

“Ton, tenang!” kata Prita kali ini lebih tegas.

Anton menarik napas panjang dan dia melihat ke sekeliling. Semua orang tampak menatapnya, bersiap untuk melakukan sesuatu bila Anton mengamuk. Bahkan ada beberapa orang yang memang sudah bersiap-siap. Perlahan-lahan, dengan bisikan Prita yang makin mengikis emosinya, Anton pun akhirnya bisa tenang.

“Baiklah, aku sudah tenang, maaf semuanya,” kata Anton.

Suasana yang tegang pun kembali mendingin, dan ekspresi kelegaan terpancar dari wajah semua orang ketika akhirnya Anton bersedia duduk untuk menenangkan diri.

“Maaf, Dr. Vorobyov, silakan teruskan,” kata Anton.

“Sepertinya ada perbedaan dalam nada dasar dan gelombang yang ditentukan oleh kapal selam Anda, kecuali bila dia mengaktifkan sonarnya, setidaknya sekali, maka baru kita bisa menangkap dan menyesuaikan gelombang kita untuk mendeteksinya,” kata Dr. Vorobyov,

“tapi berita baiknya, kami sudah berhasil memetakan kemungkinan-kemungkinan posisi dari kapal selam Anda, dan ada setidaknya 16 posisi yang paling memungkinkan,”

“Enam belas posisi? Banyak sekali?” tanya Anton,

“apa tidak bisa dari enam belas kemungkinan posisi itu dipakai triangulasi?”

“Sayangnya sistem Rusalka adalah sistem antitriangulasi, jadi dia akan memancarkan berbagai panjang gelombang untuk memastikan bahwa kapal selam itu tidak ada dalam titik tengah elipsis,” kata Dr. Vorobyov,

“tapi masih sulit bagi kita untuk menentukan posisi pasti kedalamannya, hanya saja dengan ini mungkin ada kabar baik,”

“Kabar baik apa, Dr. Vorobyov,” kata Anton.

“Mengingat sistem mereka masih berfungsi, besar kemungkinan mereka masih hidup,” kata Dr. Vorobyov,

“untuk berapa lama kita tak tahu,”

Keadaan pun hening, baik di Bina Graha, di RFS Malatinsky, maupun di KRI Ternate. Ada kemungkinan semua orang masih hidup jelas suatu kabar yang baik. Tapi mengingat posisi mereka masih belum diketahui, ini bukanlah kelegaan yang mutlak.

“Bisa tolong tunjukkan kemungkinan posisi KRI Antasena, Dr. Vorobyov?” tanya Sam.

“Akan saya kirimkan proyeksinya, tunggu sebentar,” kata Dr. Vorobyov.

Layar Dr. Vorobyov pun menghilang, dan berubah menjadi sebuah peta skala kecil dari ground zero dengan lingkaran-lingkaran kecil merah menunjukkan kemungkinan posisi dari KRI Antasena berdasarkan pindaian terakhir dari sonar khusus RFS Malatinsky. Anton seketika itu pula terloncat bangkit dari tempat duduknya, begitu pula semua orang yang melihatnya pun terhenyak.

“Ini tidak salah, Dr. Vorobyov?” tanya Anton.

“Sayangnya tidak, Tn. Anton,” kata Dr. Vorobyov pelan.

“Astaga!” gerutu Kapt. Kadek, diikuti oleh semua orang.

Pantas saja apabila mereka semua menggerutu. Dari 16 lingkaran merah yang ada dalam peta itu, masing-masing bisa terpisah jarak hingga 1-2 kilometer, dan yang lebih parahnya lagi, 10 dari 16 lingkaran merah terletak jauh di Selatan, alias sudah masuk ke dalam wilayah perairan Australia.

“Anton, bagaimana kalau misal KRI Antasena berada di titik 13 ini, di wilayah Australia?” tanya Prita dengan nada gemetar.

“Kita harus menerobos wilayah Australia untuk mendapatkannya, dan bila itu terjadi...” kata Anton.

“Perang?” tanya Prita.

Anton hanya mengangguk pelan.


"LAUT BIRU" CHAPTER XIII

The Puzzle

CHAPTER XIII

The Puzzle



Beberapa bulan sebelumnya

Ruang Rapat Kerja Komisi I
Gedung DPR-MPR
Jakarta
11.06 WIB

Suasana ketegangan terasa pada ruangan rapat ini, dan anggota Komisi I tampak bersiap-siap sebelum mendengarkan pemaparan dari Menteri Pertahanan Marius Tinangon. Beberapa anggota dewan tampak tak mengerti mengapa mereka harus tetap di sini dan hadir dalam rapat ini, karena pemaparan ini tak akan jauh berbeda dari dua pemaparan selanjutnya, nyaris tak ada yang baru. Walaupun begitu, ada satu hal yang menahan mereka supaya tidak pergi lebih awal atau pun terlihat mengantuk; ya, pada rapat tertutup ini, Presiden Hariman Chaidir sendiri ikut pula hadir di sana.

Dalam dua rapat tertutup sebelumnya, Menhan Marius Tinangon telah menjelaskan dengan semua pemaparan dan data-data yang dia miliki, memakai penjelasan yang paling rasional dan persuasif yang bisa dia kerahkan, namun entah kenapa pada dua pemaparan sebelumnya pihak DPR terutama Komisi I masih saja terkesan belum puas. Ini sedikit banyak membuat jajaran kabinet bidang pertahanan dan keamanan pusing bukan kepalang. Kenapa? Karena persetujuan DPR diperlukan dalam hal ini, karena memang telah sebelumnya disyaratkan. Dan rapat ini adalah untuk membahas mengenai KRI Antasena yang pada saat ini tengah bersiap untuk menjalani tes akhirnya. Akibat urgennya dari masalah inilah maka pada rapat tertutup ketiga ini, Presiden Chaidir memutuskan untuk turun langsung menanganinya, sebuah hal yang sebenarnya di luar kelaziman.

“Boleh saya mulai sebelumnya,” kata Fariz Hamzah, ketua dari Komisi I,

“dengan mengatakan bahwa sebenarnya Anda tak perlu datang kemari, Tuan Presiden, seharusnya cukup dengan kehadiran Pak Marius dan Laksamana Salampessy saja; beserta staf, untuk menjelaskan dengan kami,”

“Kalau boleh saya perjelas, Tuan Fariz, apabila dua rapat sebelumnya berjalan lancar; maka saya pun tak akan ada di sini pada hari ini,” kata Pres. Chaidir,

“tapi saya dengar bahwa pihak Komisi I mempersulit Pak Marius di sini pada dua rapat sebelumnya; dan mengingat pentingnya masalah ini, maka mau tak mau saya harus datang hari ini,”

“Sungguh, Tuan Presiden, walaupun saya merasa terhormat dengan kehadiran Anda di sini; tapi ini memang tidak perlu,” kata Fariz Hamzah,

“kami dari Komisi I dengan Tuan Marius di sini hanya masih belum mencapai kesepahaman soal beberapa hal, andai saja sebelumnya Tuan Marius mau menjelaskan mengenai beberapa hal yang masih kami pertanyakan…”

“Sudahlah, Tuan Fariz, kita mulai saja dan tak ada gunanya untuk membuang waktu dalam keadaan seperti ini,” kata Pres. Chaidir dengan nada tinggi,

“saya sudah mempelajari semua notulen dan laporan dari dua rapat Kementerian Pertahanan dengan Komisi I sebelum ini; dan saya tak melihat ada masalah dari pemaparan Kementerian Pertahanan; oleh karena itu saya ingin tahu apa yang sebenarnya menghambat dikeluarkannya persetujuan dari Komisi I,”

Fariz Hamzah tidak menjawab, hanya kemudian menatap sejenak mata Pres. Chaidir yang tampak seolah tengah dipenuhi oleh api yang menyala-nyala.

“Baiklah, kalau begitu mari kita mulai rapatnya,” kata Fariz Hamzah,

“atas petunjuk dari Bapak Presiden tentu saja,”

Beberapa orang anggota Komisi I tampak terkikik menahan tawa setelah mendengar perkataan Fariz Hamzah itu. Tapi tak ada tawa serupa dari pihak Kepresidenan. Jelas sekali bagi pihak Kepresidenan, gurauan yang meniru jargon terkenal salah seorang menteri pada masa Orde Baru ini tidaklah lucu.

Menhan Tinangon pun segera memberikan pemaparannya dengan semua orang, termasuk Pres. Chaidir memperhatikan secara serius. Duduk di sebelah Pres. Chaidir adalah Arfa, yang kali ini dibawa oleh Pres. Chaidir untuk menambah “jumlah amunisi” dari pihak Kepresidenan. Misi yang dibawa oleh Pres. Chaidir saat ini memang jelas dan gamblang: persetujuan dari Komisi I DPR harus didapatkan pada hari ini juga, titik!

Selain Pres. Chaidir, Arfa adalah satu-satunya delegasi yang juga tidak hadir dalam dua pertemuan selanjutnya. Namun dia mengetahui pemaparan dari Menhan, karena sebelum dipaparkan di depan Komisi I, Menhan, sebagaimana prosedur, melaporkannya dulu kepada Presiden, dan Arfa kebagian jatah untuk melakukan pengecekan prosedural atas pemaparan tersebut.

Dalam posisinya itu, Arfa jadi tahu bahwa pemaparan Kementerian Pertahanan atas KRI Antasena sudah cukup lengkap dan sesuai prosedur, cukup jelas dan terperinci tanpa harus membocorkan mengenai data-data yang memang sudah seharusnya rahasia. Ini membuat Arfa sedikit bingung, karena apabila semua data lengkap, lalu data apa lagi yang diharapkan oleh DPR yang belum diberikan sehingga menimbulkan ketidakpuasan dalam dua rapat sebelumnya? Satu yang kemudian menjadi kecurigaan Arfa adalah kemungkinan anggota DPR sebenarnya mendesak bahwa data-data yang dirahasiakan harus turut pula dibuka. Tapi apakah mungkin hal semacam itu bisa dilakukan oleh orang sekaliber anggota DPR? Dari Komisi I pula. Arfa tak mau berspekulasi, dan kecurigaannya ini pun tak ia ungkapkan pada Pres. Chaidir.

“Maaf sebelumnya, Tuan Tinangon,” kata seorang anggota Komisi I bernama Muchtar Sandjaya, setelah Marius Tinangon mengakhiri pemaparannya,

“tapi saya tak melihat ada hal baru yang Anda paparkan pada pertemuan kita yang ketiga ini, nyaris sama seperti dua pertemuan sebelumnya,”

“Saya yakin pemaparan saya telah lengkap, Tuan Sandjaya,” kata Marius Tinangon.

“Jujur saja, bagi saya, dan juga teman-teman Komisi I, pemaparan ini masih menimbulkan sedikit ‘pertanyaan’ di dalam benak kami,” kata Muchtar Sandjaya.

“Pertanyaan? Pertanyaan macam apa?” tanya Marius Tinangon, 

“silakan ditanyakan dan saya dengan senang hati akan menjawabnya,”

“Pertanyaan pertama dan yang paling utama adalah, mengapa tak ada keterbukaan dalam proyek ini?” tanya Muchtar Sandjaya.

“Bila tak ada keterbukaan, Tuan Muchtar, pasti saya tidak akan ada di sini tiga kali untuk memberikan pemaparan,” sindir Marius Tinangon.

Pernyataan ini disambut dengan kikikan di pihak Kepresidenan, namun tak ada reaksi sama sekali dari pihak Komisi I. Sungguh mengherankan, pikir Arfa, seolah semua orang di sini sudah diset untuk menolak apa pun yang dikatakan oleh Menteri Pertahanan.

“Jangan salah sangka, Tuan Tinangon,” kata anggota Komisi I lain yang bernama Masagung Hadinata,

“tapi kalau boleh saya ingatkan, kami baru menerima kabar mengenai pembangunan KRI Antasena beberapa bulan yang lalu ketika proses produksi telah berjalan; dan kini Anda mengatakan bahwa KRI Antasena akan selesai tanpa selama ini kami diberikan laporan apa pun?”

“Bukan maksud kami untuk menyembunyikan laporan pada DPR, hanya saja secara prosedural, DPR bukanlah berada pada garis pertanggungjawaban,” kata Marius Tinangon,

“dan kami selalu memberikan laporan berkala kepada Presiden,”

“Nah, di sini yang mungkin Anda salah menjabarkannya, Tuan Tinangon,” kata Masagung Hadinata,

“uang yang dipakai dalam pembuatan KRI Antasena adalah uang rakyat, dan bila kami sama sekali tidak tahu mengenai proses pemakaian uang rakyat ini, lalu bagaimana kami bisa mempertanggungjawabkan kepada rakyat? Ingat, Presiden pun harus bertanggung jawab kepada rakyat,”

“Tidak ada penyelewengan dalam proyek KRI Antasena, Tuan Hadinata, kalau itu yang Anda maksudkan,” kata Laks. Danoe Salampessy angkat bicara,

“saya bisa memberi jaminan untuk ini,”

“Sayangnya, Laksamana, ini adalah dunia di mana bukti dan tindakan lebih dihargai dari sekedar jaminan dan pernyataan,” kata Masagung Hadinata,

“dengan tidak melaporkan hal ini pada DPR, maka kami bisa anggap pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertahanan beserta TNI-AL tengah menyembunyikan sesuatu,”

“Anda adalah purnawirawan militer juga, Tuan Hadinata,” kata Laks. Salampessy,

“saya yakin Anda mengerti bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa dibuka begitu saja,”

“Ya, saya mengerti, dan perlu saya ingatkan pula, Laksamana, ini adalah rapat tertutup,” kata Masagung Hadinata,

“dan bila Anda tak mau terbuka pada rapat tertutup ini, artinya sama saja dengan Anda tidak memercayai DPR,”

“Kami sudah terbuka dengan melaporkan hal ini sekarang dan saat ini,” kata Marius Tinangon.

“Apa yang kalian laporkan sebenarnya?” tanya Muchtar Sandjaya,

“data-data ini, maaf saja, bagi saya terkesan absurd; kita membatalkan kontrak pengadaan tambahan 12 kapal selam dari Russia untuk mendanai pembangunan satu jenis kapal selam ini,”

“Sudah saya jelaskan sebelumnya, Tuan Sandjaya, kontrak pengadaan kapal selam itu tidak jelas,” kata Marius Tinangon,

“kita akan dipaksa membayar mahal untuk dua belas kapal yang seharusnya sudah layak untuk masuk museum,”

“Tetap saja mengganti 12 kapal selam untuk sebuah kapal selam apakah itu bijaksana, Tuan Tinangon?” tanya Muchtar Sandjaya,

“apalagi spek-nya kalau menurut kami masih tidak jelas, bukan begitu, Saudara Hadinata? Anda pernah di militer, saya yakin Anda tahu lebih banyak daripada saya yang sipil awam ini,”

“Benar, Saudara Sandjaya, kalau kita lihat di sini ada beberapa fitur yang menurut saya masih terlalu absurd,” kata Masagung Hadinata,

“contohnya yang satu ini, pengalihan sonar aktif, saya koq tidak tahu bahwa alat semacam itu ada? Lalu soal pemasangan alat pendingin ruangan tersentralisasi di dalam kapal selam; apakah ini tidak terlalu mewah?”

“BRAAAK!!!”

Semua orang terkejut mendengar suara meja yang dibanting itu, dan tahu-tahu saja Arfa sudah berdiri dengan mukanya yang merah padam seolah dari tadi dia sudah gemas hendak mengatakan sesuatu.

“Demi Tuhan, Tuan Hadinata, Anda seumur karier Anda di militer tidak pernah sekalipun pernah naik ke dalam kapal selam, saya mohon jangan sekali-kali Anda sok tahu untuk menentukan apa yang harus dan yang harus tidak dipasang di sebuah kapal selam!” teriak Arfa.

“Nona Aryanti, ini bukan kesempatan Anda untuk bicara,” kata Fariz Hamzah,

“ini adalah forum terhormat dan kita punya tata cara untuk mengungkapkan pendapat,”

“Maaf, Saudara Pimpinan Sidang, tapi saya sudah tidak tahan lagi; ini bukanlah pertanyaan yang seharusnya ditanyakan oleh seorang Anggota DPR,” kata Arfa,

“siapa pun tahu bahwa kapal selam masuk ke dalam kategori sebagai senjata strategis, dan oleh karena itu informasi mengenai kapal selam tersebut tidak boleh dibuka terlalu banyak, bahkan kepada publik sekalipun, karena ini sudah menyangkut kelebihan dan kekurangan dalam postur pertahanan negara kita,”

“Nona Aryanti, apakah secara tersirat Anda menuduh kami ingin membocorkan rahasia negara?” tanya Muchtar Sandjaya,

“rasanya itu tuduhan tak berdasar,”

“Kalau begitu berhentilah menanyakan pertanyaan-pertanyaan bodoh, Tuan Sandjaya,” kata Arfa,

“kecuali apabila yang Anda katakan tadi merupakan niatan sebenarnya dari DPR mengadakan sidang ini,”

Perkataan ini tentu saja disambut dengan riuh rendah dan amarah dari anggota Komisi I lain yang ada di sana, beberapa bahkan melemparkan bola-bola kertas dan pulpen ke arah Arfa. Fariz Hamzah pun sampai memukul palu beberapa kali, tapi Arfa tetap bergeming pada tempatnya, berdiri tegar dan menantang.

“Itu tuduhan yang konyol dan tidak berdasar, Nona Aryanti!” kata Masagung Hadinata.

“Buktikanlah, karena seperti kata Anda tadi, bukti dan tindakan lebih dihargai daripada sekadar jaminan dan pernyataan,” kata Arfa,

“dan kesan itulah yang saya tangkap dari tindakan dan pertanyaan dari anggota Komisi I yang terhormat ini,”

“Saya protes, Saudara Pimpinan Sidang!!” kata Muchtar Sandjaya.

“Nona Aryanti, mohon Anda perbaiki sikap Anda, saya peringatkan sekali lagi,” kata Fariz Hamzah.

“Keluarkan saja dia, Saudara Pimpinan Sidang, bagaimanapun juga, urusan Komisi I adalah dengan Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Laut, bukan dengan dia,” kata Masagung Hadinata.

“Maaf, Tuan Hadinata? Saya tak berhak ada di sini, maksud Anda?” kata Arfa, 

“saya rasa dengan posisi saya sebagai…”

“Arfa, cukup!!” teriak Pres. Chaidir tiba-tiba.

Semua orang pun terdiam, dan tahu-tahu Pres. Chaidir sudah berdiri di sebelah Arfa, menatap Arfa dengan tatapan mata seolah-olah bagaikan seorang ayah yang marah kepada putrinya yang berbuat lancang.

“Duduk, Arfa,” kata Pres. Chaidir,

“aku tak akan memintamu dua kali,”

“Baik, Pak Presiden,” kata Arfa setengah mendengus.

Arfa pun duduk kembali diiringi dengan koor cemoohan dan sumpah serapah dari para anggota Komisi I.

“Saya meminta sidang ditunda sejenak, Saudara Pimpinan Sidang,” kata Pres. Chaidir ketika suasana sudah mereda.

“Baiklah, kebetulan juga sudah masuk waktu shalat dzuhur, jadi sidang akan saya tunda,” kata Fariz Hamzah,

“tapi saya minta, Saudara Presiden, tolong ingatkan anak buah Anda, karena tidak dalam tempatnya dia berkata seperti itu di depan forum ini,”

“Baik, Saudara Pimpinan Sidang,” kata Pres. Chaidir.

“Baiklah, sidang ditunda selama 30 menit,” kata Fariz Hamzah.

Palu diketuk dan sesi menegangkan itu selesai sudah. Para anggota sidang pun berduyun-duyun meninggalkan ruangan sidang, sekedar untuk sholat dzuhur, minum kopi untuk meredakan ketegangan, ataupun memenuhi panggilan alam.

“Arfa, ikut aku,” kata Pres. Chaidir.

“Baik, Pak Presiden,” kata Arfa.

Presiden Chaidir pun segera meninggalkan ruangan dengan diikuti oleh Arfa yang kini terlihat agak gugup, namun jelas masih mendongkol. Mereka pun menuju ke sebuah ruangan sepi yang agak jauh, dan Pres. Chaidir pun memberi instruksi kepada Paspampres yang mengawalnya supaya tak membiarkan siapa pun mendekati ruangan ini untuk alasan apa pun.

“Apa-apaan itu tadi, Arfa??” tanya Pres. Chaidir dengan amarah yang langsung meledak,

“marah-marah begitu saja di depan anggota Komisi I sambil menuduh mereka berkonspirasi membocorkan rahasia negara??”

“Maaf, Pak Presiden, tapi saya sama sekali sudah tidak tahan!” kata Arfa membela diri.

“Tidak tahan ya, aku mengerti, tapi bukan begitu juga caranya!!” kata Pres. Chaidir,

“kamu adalah anak buahku dan perkataan serta tindakan kamu tadi di dalam sana akan tercermin langsung kepadaku!! Kamu mengerti itu, Arfa!!?”

“Pak Presiden…” kata Arfa.

“Apa kamu mencoba menjelekkan lagi citraku di mata DPR??” kata Pres. Chaidir,

“di tengah suasana Kepresidenan dan DPR yang tengah berseberangan terutama untuk hal yang kita bahas sekarang ini??”

“Maaf, Pak Presiden, bukannya saya bermaksud…” kata Arfa.

“Tidak bermaksud apa!!??” hardik Pres. Chaidir.

Arfa pun beringsut, dan segala keberanian yang tadi dia tunjukkan di depan anggota dewan pun langsung luntur. Entah bagaimana, Presiden Chaidir selalu punya kharisma dan wibawa lebih yang membuat orang seberani Arfa bisa ciut ketakutan. Arfa terduduk di salah satu kursi di dekatnya, kemudian dia tertunduk dan menangis; mirip seperti anak gadis kecil yang baru saja dimarahi habis-habisan oleh ayahnya setelah berbuat sebuah kenakalan. Tanpa dia sadari kemudian, sebuah saputangan sudah disodorkan kepadanya. Arfa mendongak dan dia melihat Pres. Chaidir-lah yang mengulurkan saputangan itu. Urat kemarahan nampaknya sudah menghilang dari wajah Pres. Chaidir, berganti menjadi paras kebapakan yang menenangkan.

“Ambillah,” kata Pres. Chaidir.

“Pak Presiden?” tanya Arfa.

“Ambil dan usap air matamu,” kata Pres. Chaidir.

Arfa pun mengambil saputangan dari Pres. Chaidir itu dan mengusap air matanya. Pres. Chaidir kemudian mengambil sebuah kursi dan duduk di hadapan Arfa.

“Dengar, Arfa, aku sudah mengenalmu sejak kau masih di Lemhanas, dan hingga hari ini aku tidak melihat ada yang berbeda darimu, kau masih seperti seorang wanita besi yang anggun namun juga lugas dan tidak takut untuk mengatakan apa yang menurutmu benar,” kata Pres. Chaidir,

“tapi ini adalah forum yang berbeda, tempat yang berbeda, dunia yang berbeda; banyak hal dalam dunia politik yang mungkin belum kamu kuasai, bahwa di dunia ini, hal yang benar sekalipun bisa menjadi salah bila kau menyampaikannya secara salah,”

“Tetap saja, Pak Presiden, ini bukan sesuatu yang bisa diterima,” kata Arfa pelan.

“Aku tahu, aku pun sama geramnya denganmu, tapi ada hal yang berupa political manner di sini; ada juga Indonesian manner yang harus diperhatikan,” kata Pres. Chaidir,

“di Barat, cara penyampaianmu mungkin masih bisa dihargai, tapi di sini itu sama saja memberi mereka amunisi untuk lebih menekan tidak hanya kamu, tapi juga aku dan seluruh pihak Kepresidenan,”

“Bukan maksud saya seperti itu, Pak Presiden,” kata Arfa.

“Aku tahu, tapi sekali lagi, untuk menghadapi orang-orang seperti mereka, harus membutuhkan cara khusus, cara yang mungkin berbeda dengan yang selama ini kau pelajari,” kata Pres. Chaidir,

“oleh karena itu, alasanku mengajakmu kemari adalah supaya kau bisa belajar apa yang tak kaupelajari di sekolah, kuliah, atau di Lemhanas sekalipun,”

“Maksud Anda berkompromi dengan mereka?” tanya Arfa.

Pres. Chaidir hanya mengangguk ringan.

“Kenapa harus berkompromi dengan mereka? Apa yang harus dikompromikan? Bukankah sudah jelas bahwa Proyek Antasena memiliki kepentingan yang cukup urgen untuk menegakkan dominasi kita di kawasan ini, setidaknya untuk wilayah perairan kita sendiri dan juga di ALKI; dan lagipula ini kapal selam yang benar-benar dibuat oleh Indonesia, meskipun masih dalam supervisi dari tenaga ahli dari Russia,” kata Arfa,

“aku ingat dulu ada anggota Komisi I yang pernah menolak pembelian tank Leopard 2 ex-Belanda kita dengan mengatakan bahwa tank tersebut rongsokan dan PINDAD bisa membuat yang lebih baik, padahal tank itu sendiri masih dalam keadaan prima dan PINDAD sendiri menyatakan belum mampu membuat tank sekelas itu; sekarang kita sudah mampu membuat kapal selam supercanggih dan mereka malah meminta untuk melupakan proyek itu dan alih-alih membeli kapal-kapal selam Russia yang kali ini benar-benar rongsokan! Bicara soal keabsurdan,”

“Omong-omong soal itu, bagaimana kronologis penolakan Kemenhan soal kapal-kapal selam Russia itu sebenarnya?” tanya Pres. Chaidir.

“Tidakkah Tn. Tinangon sudah memberikan laporannya kepada Anda, Pak Presiden?” tanya Arfa.

“Sudah, dan memang sudah kubaca dan kupahami,” kata Pres. Chaidir,

“tapi yang menarik adalah bahwa Marius meminta pendapatmu juga sebelum memutuskan untuk menolaknya; nah, aku ingin dengar pendapat itu sekarang,”

“Baiklah, begini, Pak Presiden, tadinya Tn. Tinangon ingin memakai kapal selam itu sebagai stopgap sebelum Proyek Antasena selesai; lumayan juga, 12 kapal selam kelas Kilo untuk Armada AL sebelum akhirnya kita punya kapal selam supercanggih,” kata Arfa,

“hingga Dubes Russia, Shalimov, tiba-tiba datang ke kantor Kemenhan dan menanyakan apakah Indonesia benar-benar ingin membeli kapal-kapal selam itu; Tn. Tinangon saat itu juga merasa ada sesuatu yang tidak beres, jadi dia memberi tahu saya dan meminta saya untuk melakukan pengecekan administrasi,'

“Lalu?” tanya Pres. Chaidir.

“Kapal selam itu sudah rongsokan, Pak Presiden! Antara manifest asli dengan dokumen yang saya temukan berbeda jauh,” kata Arfa.

“Bukannya itu memang kapal selam bekas pakai dari AL Russia?” tanya Pres. Chaidir.

“Bekas pakai AL Russia apanya?? Itu bekas pakai dari AL India! Dan India pun mendapatkannya secara bekas pakai milik AL Uni Soviet yang direkondisi, namun dalam manifest penawarannya dinyatakan bahwa itu adalah kapal selam kelas Improved Kilo bekas pakai AL Russia yang sudah di-upgrade,” kata Arfa,

“kalau misal itu adalah sebuah tank, saya mungkin masih mau meluluskan, Pak Presiden, tapi untuk kapal selam saya tidak berani; saya tidak ingin membahayakan nyawa pelaut dan awak kapal selam kita! Kilo mungkin memang bagus dan hebat bila dalam kondisi 100%, tapi untuk yang satu ini, bahkan kelas DSME209 kita berkali lipat jauh lebih baik daripada rongsokan Kilo itu!”

“Tapi bagaimana mungkin alutsista semacam itu masih bisa dimasukkan ke dalam daftar belanja kita?” tanya Pres. Chaidir,

“bukankah sudah jelas bahwa kebijakan pembelian alutsista kita adalah…”

“Alutsista terbaru yang digunakan untuk memodernisasi angkatan perang kita, ya Pak Presiden, saya paham soal itu sepenuhnya,” kata Arfa,

“saya pun tak keberatan bila kelas Improved-Kilo bekas pakai AL Russia yang diberikan, tapi ini benar-benar keterlaluan; siapa pun itu, pastinya ada yang memasukkannya ke dalam daftar belanja alutsista meskipun jelas-jelas itu menyalahi prosedur dan berharap bisa lolos,”

“Siapa yang melakukannya?” tanya Pres. Chaidir.

“Andai saja saya tahu, Pak Presiden,” kata Arfa,

“dan yang lebih menjengkelkan lagi, masalah soal kapal selam itu akhirnya diangkat kembali, belum ada 20 menit yang lalu! Untuk apa sih mempermasalahkan soal kapal-kapal rongsokan worthless itu?? Bahkan buat disandingkan dengan DSME209 saja tidak layak, tapi harganya terlalu gila-gilaan untuk seonggok besi tua,”

Pres. Chaidir pun hanya manggut-manggut saja mendengar komplain dari Arfa tersebut. Entah bagaimana Arfa mendapat kesan bahwa sebenarnya Pres. Chaidir sudah mengetahui semua permasalahan ini, dan bahkan mungkin jauh lebih tahu daripada Arfa sendiri. Hanya saja mungkin Pres. Chaidir ingin Arfa melepaskan beberapa hal yang mungkin selama tadi dipendamnya.

“Lalu Si Masagung itu bilang bahwa pemasangan pendingin udara tersentralisasi terlalu mewah untuk sebuah kapal selam, to hell with that, memangnya si jenderal abal-abal itu pernah naik kapal selam waktu berpatroli di siang hari, apa??” kata Arfa,

“hanya butuh 1,3 Milyar untuk pemasangan pendingin udara tersentralisasi di kapal selam Proyek Antasena, dan mungkin mereka lupa kalau baru saja mereka menyetujui upgrade sistem pendingin udara di gedung DPR seharga 7,5 Milyar, padahal dari sini saja kita masih bisa tahu bahwa belum ada yang salah dengan sistem pendingin udara yang sudah ada karena memang baru setahun dipasang; uang sebesar itu bisa untuk memasang pendingin udara tidak hanya di Proyek Antasena tapi juga di seluruh kapal selam kita plus seperempat jumlah kapal perang di Armada Timur!”

“Baiklah, sekarang tenang dulu,” kata Pres. Chaidir,

“walaupun aku menikmati pembicaraan ini, Arfa, tapi jeda waktu 30 menit hampir habis dan aku belum shalat dzuhur; jadi kita lanjutkan lain kali, oke?”

“Baik, Pak Presiden,” kata Arfa.

Presiden Chaidir bangun dari duduknya kemudian memberi sebuah tepukan ramah di bahu Arfa, dan entah kenapa Arfa merasakan tubuhnya menghangat dan pipinya merona merah. Sang Presiden selalu bisa memberikan ketenangan kepada setiap anak buahnya, dan di istana, siapa yang tidak kenal dengan kehangatan sikapnya yang bagaikan bapak bagi anak-anaknya.

“Oh ya, aku ingin bilang sesuatu,” kata Pres. Chaidir,

“saat kita masuk nanti, sebaiknya kau duduk di balkon,”

“Di balkon, Pak Presiden??” tanya Arfa tak mengerti,

“tapi apa Anda masih marah?”

Balkon memang hanya digunakan untuk para pengamat dan di atas sana tidak disambungkan dengan mikrofon sehingga siapa pun yang ada di balkon, secara halus dikatakan bahwa mereka tidak memiliki hak bersuara ataupun urun pendapat. Biasanya balkon dipakai oleh para wartawan yang ingin meliput rapat atau sidang di DPR, tapi karena kali ini adalah rapat tertutup, maka balkon pun dikosongkan, hanya ada beberapa orang anggota Paspampres berpakaian batik di sana, mengingat Pres. Chaidir hadir dalam rapat. Bila Pres. Chaidir menyuruh Arfa ke balkon, berarti Presiden menginginkan Arfa untuk tidak berbicara ataupun berpendapat selama rapat.

“Tidak, Arfa, aku tidak marah,” kata Pres. Chaidir,

“ini supaya kau bisa mempelajari dengan lebih baik,”

“Untuk berkompromi?” tanya Arfa dengan nada curiga.

“Berkompromi,” kata Pres. Chaidir,

“dan menang,”

“Pak Presiden, tolong jangan menyerah soal ini,” kata Arfa,

“Proyek Antasena adalah masa depan negara, dan banyak yang dipertaruhkan, bukan hanya sekedar sebuah kapal selam belaka,”

“Aku tahu, Arfa,” kata Pres. Chaidir sambil tersenyum,

“aku tak berniat untuk menyerah soal ini,”

“Terima kasih, Pak Presiden,” kata Arfa.

“Kau gadis muda paling pemberani dan paling lugas yang pernah kukenal, Arfa, tetaplah seperti itu,” kata Pres. Chaidir,

“Anak muda berperang, dan semua kebaikan peperangan ada dalam diri anak muda; dan orang tua sepertiku berdamai, dan semua keburukan perdamaian ada dalam diri orang tua,”

“Lawrence of Arabia, Pak?” tanya Arfa.

“Kau sudah menontonnya juga? Itu film bagus,” kata Pres. Chaidir.

Pres. Chaidir pun meninggalkan ruangan itu dengan Arfa mengikuti di belakangnya.

Rapat pun akhirnya dimulai kembali ketika semua orang sudah masuk kembali ke dalam ruangan. Arfa, seperti instruksi dari Presiden Chaidir, duduk di balkon, dan dia merasa banyak anggota Komisi I yang menatapnya dengan pandangan mencibir dan dengan raut muka penuh kemenangan, seolah berhasil menyingkirkan Arfa dari forum ini adalah segalanya bagi mereka. Namun Arfa tetap tenang dan terlihat anggun, tak terpengaruh dengan semua cibiran yang ditujukan kepadanya.

“Rapat dengan ini akan dimulai kembali, dan dari pihak Kemenhan, Tuan Tinangon, bila ada yang ingin disampaikan lagi silakan,” kata Fariz Hamzah.

“Interupsi, Saudara Pimpinan Sidang,” kata Pres. Chaidir.

“Tentu saja, silakan, Pak Presiden,” kata Fariz Hamzah.

“Untuk sesi ini, saya sendiri yang akan memaparkan dan menjawab semua pertanyaan dan keberatan, apabila diizinkan,” kata Pres. Chaidir.

“Tapi Pak Presiden, Anda tak harus…” kata Fariz Hamzah agak kebingungan. 

“Anda izinkan atau tidak, Saudara Pimpinan Sidang?” tanya Pres. Chaidir tegas.

“Baiklah, semua orang di ruang rapat ini berhak untuk memiliki pendapat, sebagaimana sudah diatur sebelumnya,” kata Fariz Hamzah.

“Terima kasih, Saudara Pimpinan Sidang,” kata Pres. Chaidir.

“Sekarang, apakah Pak Presiden punya sesuatu yang ingin disampaikan sebagai pembuka, tentu saja,” kata Fariz Hamzah.

“Sebenarnya ada, Saudara Pimpinan Sidang, saya hanya ingin menujukan kepada Tn. Sandjaya dan juga Tn. Hadinata, yang sejak tadi sepertinya paling kritis dalam menanyakan soal proyek kapal selam ini,” kata Pres. Chaidir,

“saya catat tadi Anda mengatakan bahwa fitur yang ada dalama kapal selam ini absurd, bukan begitu, Tuan?”

“Ya, itu yang dari kemarin ingin saya katakan, contohnya seperti alat pengalihan sonar aktif ini,” kata Masagung Hadinata,

“sepanjang pengetahuan saya semasa masih di militer, saya belum mendengar bahwa alat ini ada,”

“Hanya karena Anda belum mendengarnya, bukan berarti alat itu tidak ada, Tn. Hadinata,” kata Pres. Chaidir,

“dan seingat saya, saya pernah mendengar soal percobaan Amerika Serikat, Russia, dan Uni Eropa mengenai alat ini beberapa tahun lalu, nah yang ingin saya tanyakan, kalau Anda belum pernah mendengar mengenai alat ini berarti secara tidak langsung Anda mengatakan bahwa Anda tidak melakukan update atas pengetahuan Anda akan alutsista modern, Tn. Hadinata?”

“Omong kosong! Saya melakukan update soal ini!” kata Masagung Hadinata berapi-api.

“Kalau begitu kenapa saya bisa tahu dan Anda tidak, Tn. Hadinata?” kata Pres. Chaidir.

“Itu karena…” kata Masagung Hadinata.

Masagung Hadinata tidak melanjutkan perkataannya, sepertinya dia kehabisan kata-kata untuk membela pendapatnya.

“Saya jelaskan lagi, Tn. Hadinata, seandainya Anda lupa atau masih belum tahu, kebijakan pengembangan alutsista kita adalah untuk membeli alutsista modern untuk memperbarui kekuatan kita,” kata Pres. Chaidir,

“jadi saya amat tidak terima bila Anda merasa keberatan atas pengembangan salah satu alutsista kita sementara Anda sendiri tidak melakukan update yang dianggap perlu yang sejalan dengan kebijakan pengadaan alutsista kita,”

“Saya melakukan update atas pengetahuan saya sendiri, Tuan Presiden!” kata Masagung Hadinata sengit.

“Kalau begitu apa torpedo yang sekarang kita pakai, Tuan Hadinata?” balas Pres. Chaidir.

Masagung Hadinata tampak agak terdiam sejenak.

“Torpedo AEG SUT mark VIII,” jawab Masagung Hadinata dengan nada yang kurang meyakinkan.

Kontan saja menyambut jawaban dari Masagung Hadinata ini, seluruh pihak Kepresidenan meledak tawanya, membuat Masagung Hadinata kebingungan. Pres. Chaidir sendiri hanya bisa menarik napas panjang.

“Sekadar informasi, Tuan Hadinata, torpedo yang kita pakai sekarang adalah torpedo AEG SUT mark XIII,” kata Pres. Chaidir,

“Torpedo mark VIII memang dikembangkan pada saat Anda pensiun dari Angkatan Darat, namun dibatalkan setelah pembuatan purwarupa kedua karena kita memfokuskan untuk mengembangkan Mark X yang lebih canggih sensornya; dan sungguh aneh bila fakta seperti ini saja Anda tidak tahu,”

Suasana pun riuh rendah, dan Masagung Hadinata tampak beringsut tidak bisa menjawab apa-apa seolah dia sudah kena skakmat. Arfa sendiri hanya tersenyum simpul sambil berusaha menyembunyikan supaya raut kemenangannya tidak terlihat oleh anggota Komisi I di bawah sana.

“Saat ini, Tuan Hadinata, Malaysia, Singapura, Australia, India, Vietnam, dan RRC tengah memodernisasi angkatan perang mereka dengan tujuan untuk mengamankan perairan di sekitar perairan kita, dan saya rasa sungguh celaka apabila ada anggota dewan kita yang ternyata masih berpikir 10 tahun ke belakang, sementara saingan-saingan kita sudah jauh melesat ke depan,” kata Pres. Chaidir,

“dan satu lagi soal pendingin udara yang Anda bilang mewah itu, Tuan Hadinata, kalau Anda pernah merasakan bagaimana rasanya berada di dalam sebuah kapal selam waktu berpatroli di dalam air pada siang hari di daerah tropis, tentu Anda tak akan menganggapnya sebagai sebuah kemewahan,”

Keriuhan kembali meledak hingga Fariz Hamzah kembali memukul palu meminta semua untuk kembali tenang. Pres. Chaidir melirik ke arah Arfa sambil tersenyum yang disambut dengan anggukan dari Arfa.

“Baiklah, Pak Presiden, saya tak akan menyoroti soal sistem apa saja yang akan dipasang di dalam kapal selam pada Proyek Antasena ini, saya hanya ingin menanyakan satu hal,” kata Muchtar Sandjaya mengambil alih.

“Silakan, Tn. Sandjaya,” kata Pres. Chaidir.

“Dari semua biaya yang paling besar di sini adalah soal platformnya, untuk riset pengadaan platform baru untuk keseluruhan sistem yang ada,” kata Muchtar Sandjaya,

“kita sudah berhasil membuat kapal selam DSME209 secara mandiri, kenapa kita tidak memakai basis platform dari DSME209 dipakai dengan semua fitur yang ada di sini, saya yakin kapal selam itu kehebatannya bakal sama seperti yang ada di Proyek Antasena dengan penghematan biaya yang cukup besar,”

“Maksud Anda mengintegrasikan sistem baru yang belum ada di DSME209 ke dalam platform DSME209 seperti contohnya mesin baru, propeler baru, sistem penembakan torpedo baru, dan juga sistem peluncuran rudal vertikal?” tanya Pres. Chaidir.

“Ya, itu maksud saya,” kata Muchtar Sandjaya, 

“nanti cukup kita namakan sebagai kelas Improved-DSME209 atau apalah itu,”

Pres. Chaidir menggeleng-geleng sejenak dengan raut muka yang tak habis pikir.

“Tn. Sandjaya, kalau misal bajaj saya beri AC kemudian leather seat, dan power window serta audio-visual system, Anda mau memakainya sebagai mobil dinas Anda?” tanya Pres. Chaidir.

“Maksudnya apa, Pak Presiden?” tanya Muchtar Sandjaya.

“Ya sebuah bajaj, saya berikan semua hal itu; bukankah itu bakal sama nyamannya dengan sebuah Mercedes Benz seri terbaru seperti yang sekarang menjadi mobil dinas DPR,” kata Pres. Chaidir.

“Anda bercanda, Pak Presiden? Anda suruh kami memakai bajaj sebagai kendaraan operasional? Anda pikir kami ini siapa??” kata Muchtar Sandjaya,

“meskipun senyaman Mercy tapi bajaj ya bajaj, dan bukan Mercy, dan itu tidak bisa kemudian disatukan begitu saja; itu tidak pada tempatnya,”

“Kalau begitu sebaiknya berhentilah untuk mencoba memasangkan platform DSME209 dengan semua sistem baru kita, karena itu juga tidak pada tempatnya!” kata Pres. Chaidir sengit,

“apa Anda pernah tahu bagaimana sulitnya untuk mengintegrasikan sebuah sistem baru ke dalam sebuah kapal selam yang lama tanpa harus mengubah platform?? Mengintegrasikan satu saja harus melakukan perhitungan ulang atas semuanya, apalagi ini hampir seluruh sistem yang ada adalah baru; wajar kalau kemudian kita membuat platform yang baru juga,”

Saat itu juga mulut Muchtar Sandjaya terkatup dan seperti halnya Masagung Hadinata, dia pun terkena skakmat oleh Pres. Chaidir.

“Saudara-saudara Komisi I sekalian, saya hanya ingin mengatakan bahwa memiliki kapal selam dari Proyek Antasena ini bukanlah sebuah kemewahan namun sebuah kebutuhan yang harus kita miliki secepatnya; saya tahu pernah ada salah satu anggota Komisi I di sini yang mengatakan bahwa kita tak membutuhkan alutsista canggih mempertimbangkan bahwa kita tak akan menghadapi perang untuk 50 tahun ke depan; dan saat ini saya katakan bahwa pendapat itu salah besar,” kata Pres. Chaidir,

“kita menghadapi potensi segala macam konflik mulai dari kecil, menengah, hingga besar bahkan dalam beberapa bulan terakhir, dan setiap kali pihak lawan kita berhasil seolah selalu mencobakan alutsista mereka yang setiap kali selalu lebih canggih daripada sebelumnya; jadi bila kita tidak ikut berkembang dan ikut maju juga, maka 50 tahun kemudian ketika lawan kita sudah siap untuk berperang, di mana posisi kita??”

Semua orang pun terdiam, menyimak apa yang dikatakan oleh Pres. Chaidir.

“Demi kedaulatan kita sendiri, supaya orang tidak meremehkan kita, dan supaya kita bisa menjaga setiap jengkal tanah dan air Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka saya meminta supaya saudara-saudara anggota Komisi I mengesampingkan kepentingan pribadi dan memilih apa yang baik bagi bangsa dan negara ini,” kata Pres. Chaidir,

“Proyek Antasena bukan sekadar proyek pembuatan kapal selam belaka, tapi ini adalah proyek yang menentukan masa depan bangsa ini; bila kita berhasil, maka kita akan selangkah lebih dekat pada cita-cita kita dalam menjaga setiap jengkal wilayah laut Republik Indonesia,”

Semua seolah tertegun mendengar perkataan Pres. Chaidir itu. Ada beberapa orang anggota Komisi I yang mengangkat tangannya hendak bertepuk tangan, namun melihat sekelilingnya tidak ada yang bereaksi, mereka pun lalu dengan canggung bersikap seolah-olah ingin menggaruk kepala atau melihat arloji yang mereka pakai.

“Saya rasa, benar apa yang dikatakan oleh Presiden,” kata salah seorang anggota Komisi I yang bernama Effendi Hasibuan,

“kita harus kesampingkan dulu ego dan kepentingan kita masing-masing dan bersama-sama bekerja membangun negara; bukankah itu juga cara kerja dari DPR, selaras dengan pemerintah?”

“Maaf, Saudara Hasibuan, tapi seingat saya adalah kewajiban DPR untuk kritis terhadap kebijakan pemerintah,” kata anggota Komisi I lain bernama Abdul Sofyan,

“jadi saya kira ini pun bukan sebuah pengecualian,”

“Kenapa kita tidak bisa membuat pengecualian untuk masalah yang berhubungan dengan kedaulatan bangsa?” tanya Effendi Hasibuan,

“ini, bagaimana pun juga, adalah masalah penting yang berhubungan dengan kedaulatan bangsa; kita akan melangkah cukup jauh dengan kapal selam ini, dan saya yakin akan itu,”

“Ya, justru karena kita akan melangkah terlalu jauh itu, Saudara Effendi, pengawasan dan kekritisan kita menjadi lebih penting dari biasanya; saya tidak anti pada modernisasi alutsista kita, dan saya mendukung 100% kita memiliki kapal selam supercanggih yang tidak kalah dengan kapal selam milik negara-negara besar; tapi saya hanya ingin pertanggungjawaban dalam proyek ini jelas, bahwa barangnya juga benar-benar secanggih seperti yang dikatakan,” kata Abdul Sofyan,

“jangan sampai nanti proyek kita seperti proyek serupa di India, tidak ketahuan kapan selesainya tapi dana terus saja mengucur; juga jangan sampai kejadian tank ringan harga MBT pun terulang kembali; saya yakin ini wajar,”

“Benar, Tn. Sofyan, itu cukup wajar dan saya bisa menerimanya,” kata Pres. Chaidir,

“lalu apakah Tn. Sofyan punya solusi bagaimana untuk masalah pertanggungjawaban itu?”

“Sebenarnya ada, bagaimana kalau Komisi I menyertakan satu orang staff ahli dalam pelayaran perdana dari kapal selam hasil Proyek Antasena?” kata Abdul Sofyan,

“hanya sebagai pengamat saja, dia tidak akan mengganggu atau mencampuri apa yang bukan urusannya, hanya untuk melihat bahwa kapal selam ini benar-benar secanggih yang dikatakan; laporannya nanti kepada kami hanya berupa ya atau tidak dan kami tak akan meminta laporan yang terperinci; Kemenhan juga boleh memeriksa laporannya sebelum kami lihat bila memang mau,”

Arfa terhenyak mendengar permintaan ini. Bukan hanya Arfa tentunya, tapi juga semua orang yang ada di pihak Kepresidenan dalam hal ini. Arfa sendiri paham bahwa saat Komisi I mulai kalah, mereka tentu akan menawarkan sebuah kompromi, hanya saja Arfa tak menduga bahwa hal inilah yang mereka tawarkan.

“Saya cenderung setuju akan usul itu,” kata Fariz Hamzah,

“sebelum kami memberikan persetujuan, maka kami harus tahu dulu bahwa barangnya memang seperti yang dikatakan; kita harus menarik pelajaran bukan?”

Sepertinya semua orang yang mendukung Pres. Chaidir hendak berdiri dan memprotes, persis seperti yang Arfa lakukan beberapa saat yang lalu, bahkan bila dia diberi mikrofon, Arfa pun akan melakukan hal yang sama. Akan tetapi Pres. Chaidir melihar ke arah semua orang yang ada di sekitarnya, dan memberi isyarat non-verbal supaya mereka tak melakukannya. Jadilah semua orang yang ada di sana mukanya merah padam seolah tengah memendam sebuah gunung api yang siap untuk diledakkan. Reaksi yang wajar, pikir Arfa, dan semoga saja Pres. Chaidir tahu apa yang beliau lakukan.

“Saya akan memberi jaminan langsung dan memilih orang saya sendiri yang benar-benar saya, dan kami percayai, Saudara Presiden,” kata Fariz Hamzah,

“jadi Anda dan juga pihak Kemenhan serta Angkatan Laut tak perlu khawatir,”

“Saya setuju dengan usulan Anda itu, Saudara Pimpinan Sidang,” jawab Pres. Chaidir.

Segera saja gunung api yang ditahan oleh masing-masing orang ini pun meledak, namun demi menghormati Presiden, maka ledakannya hanya dipendam saja, dan lava pun meleleh tanpa meletus dengan dahsyat. Beberapa orang tampak geram, dan Arfa melihat ada yang diam-diam memukul pahanya sendiri, mencakar meja, bahkan ada yang merobek serta meremas-remas dokumen yang dibawanya saking gemasnya. Marius Tinangon dan Laks. Danoe Salampessy sendiri hanya menggenggam dan meremas tangan saja dengan getaran dan remasan yang lebih kuat daripada orang yang menggenggam tangan biasa. Permainan apa yang tengah dimainkan oleh Pres. Chaidir?

“Bagus sekali, Saudara Presiden, saya akan memilih orang kami segera,” kata Fariz Hamzah,

“dan saya ingin orang kami ini nanti tidak akan dipersulit,”

“Dia tak akan dipersulit, saya berjanji,” kata Pres. Chaidir,

“demi semua urusan bisa berjalan dengan lancar,”

“Ya, tentu saja, Saudara Presiden,” kata Fariz Hamzah, 

“supaya semua urusan bisa berjalan dengan lancar,”

“Bahkan untuk menjamin itu, saya juga akan meminta salah satu kru stasiun TV untuk turut serta juga dalam pelayaran perdana Proyek Antasena,” kata Pres. Chaidir enteng.

Dan kali ini setelah gunung meletus, petir pun menyambar dengan dahsyat. Bukan hanya pada orang-orang di pihak Kepresidenan, melainkan juga di pihak Komisi I. Mengirimkan pula kru dari salah satu stasiun TV untuk turut serta dalam pelayaran proyek yang seharusnya menjadi proyek rahasia? Entah apakah ini sebuah permainan ataukah lelucon. Arfa sendiri tidak bisa menahan kegeramannya melihat semua lakon sandiwara ini, dan berdiri sembari menatap garang pada Pres. Chaidir. Pun Pres. Chaidir tetap bersikap seolah-olah tak ada yang salah dengan perkataannya itu.

“Tapi Saudara Presiden, itu adalah…” kata Fariz Hamzah kehabisan kata-kata.

“Kita tidak bisa melakukan itu, Pak Presiden!” kata Masagung Hadinata kembali angkat bicara,

“ini sama saja dengan membuka rahasia negara,”

“Dari tadi Anda sudah bicara soal keterbukaan, Tuan Hadinata, lalu keterbukaan apa yang lebih baik dari ini?” tanya Pres. Chaidir. 

“Tapi bukan keterbukaan seperti ini,” kata Masagung Hadinata,

“terbuka pada kami, oke, tapi pada orang banyak??”

“Kenapa DPR harus mempermasalahkan apa yang boleh dan tidak boleh diketahui oleh rakyat sementara DPR sendiri adalah wakil rakyat,” kata Pres. Chaidir,

“jika wakil rakyat tahu, lalu kenapa rakyat kebanyakan tak boleh tahu juga? Bila kami menunjukkan rahasia pada DPR, sama saja seperti menunjukkan rahasia pada rakyat, jadi kenapa tak sekalian saja dibuka secara umum supaya khalayak pun bisa tahu dan menilai,”

“Tapi Anda tak bisa melakukan itu!” kata Abdul Sofyan sengit.

“Seingat saya, kapal selam Proyek Antasena adalah proyek bersama Kemenhan dengan TNI-AL; dan seingat saya pula Kemenhan berada di bawah Kepresidenan dan TNI-AL di bawah TNI yang mana saya adalah panglima tertingginya,” kata Pres. Chaidir,

“jadi ya, sebenarnya saya bisa dan berhak untuk melakukan itu, Tuan Sofyan, dan juga siapa pun yang akan menanyakan pertanyaan yang serupa,”

“Saudara Presiden, sebelum semua kegilaan ini berlanjut, saya ingin mengingatkan pada Anda, bahwa beberapa waktu lalu pemerintah Malaysia pernah mengizinkan pers dan blogger untuk masuk ke dalam kapal selam mereka, KD Tun Razak, dan berakibat pada bocornya foto-foto yang seharusnya berstatus rahasia, dan akhirnya menjadi bahan olok-olokan dari salah satu forum komunitas terbesar kita,” kata Fariz Hamzah,

“dan saya tak ingin kita menjadi olok-olokan serupa dari forum komunitas negara tetangga soal masalah ini,

“Tenanglah, Saudara Pimpinan Sidang, saya akan mencegah supaya hal itu tak terjadi,” kata Pres. Chaidir,

“kita hanya ingin memperlihatkan pada rakyat sekilas atas sebuah proyek yang sudah selayaknya menjadi kebanggaan mereka; tapi tidak akan terlalu banyak yang membuat kita bisa jadi olok-olokan dari negara sahabat; lagi pula dengan semua spek yang ada pada Proyek Antasena, saya yakin tak akan ada yang berani untuk mengolok-olok kita,”

Perang urat saraf pun terjadi lagi antara Presiden Chaidir dengan anggota Komisi I DPR. Fariz Hamzah hanya melihat ke mata Presiden, berusaha untuk bisa bersabar atas usul yang menurutnya cukup gila ini. Dia lalu menarik napas panjang sejenak.

“Baiklah, Saudara Presiden, rasanya cukup adil,” kata Fariz Hamzah,

“kami menyertakan orang kami, Anda menyertakan orang Anda,”

“Bukan orang saya, Saudara Pimpinan Sidang, tapi mata bagi rakyat,” kata Pres. Chaidir,

“karena itulah yang menjadi tanggung jawab kita bersama, bukan?

“Benar, Saudara Presiden,” kata Fariz Hamzah masih dengan nada mendongkol. 

“memang benar perkataan Anda,”

“Bagaimana kalau kita selesaikan saja semua ini di sini?” tanya Pres. Chaidir.

“Baiklah, bila tak ada lagi yang ingin ditanyakan,” kata Fariz Hamzah,

“kita akan mengambil keputusan masalah Proyek Antasena,”

Hasilnya memang seperti dugaan, akhirnya Komisi I DPR menyetujui mengenai Proyek Antasena, dengan semua renik-renik yang ada di dalamnya. Namun bukan itu yang menjadi perhatian Arfa. Adanya dua pihak luar di dalam sebuah proyek yang seharusnya adalah rahasia itulah yang terus mengganggu pikirannya. Arfa segera turun dari balkon segera setelah rombongan Presiden meninggalkan ruangan sidang dan bertekad untuk menanyakan hal ini secara langsung.

“Pak Presiden…” kata Arfa.

“Jangan di sini, Arfa, di mobil,” kata Pres. Chaidir seolah tahu apa yang ingin dikatakan oleh Arfa,

“dan Laksamana Salampessy, kau ikut di mobilku juga,”

“Siap, Pak Presiden,” kata Laks. Danoe Salampessy yang baru saja menutup teleponnya.

Rombongan pun, dengan dikawal Paspampres menuju ke konvoi mobil yang sudah siap diparkir di depan pintu keluar gedung DPR-MPR. Alih-alih naik ke mobil Mercedes-Benz, Pres. Chaidir memilih naik ke Alphard yang bisa memuat banyak orang. Alphard itu memang didesain sehingga bagian dalamnya mirip dengan limousin. Tentu saja pengamanan Alphard ini standar dengan kendaraan Kepresidenan yang lain. Baru setelah konvoi keluar dari kompleks gedung MPR-DPR, Pres. Chaidir mulai buka suara.

“Sekarang, Arfa, apa yang ingin kautanyakan?” tanya Pres. Chaidir.

“Banyak, dan tanpa mengurangi rasa hormat, permainan apa yang sedang Anda mainkan saat ini, Pak Presiden?” tanya Arfa.

“Ini bukan permainan, aku hanya membuat sebuah counter-balance; kita membutuhkan persetujuan dari DPR secepatnya,” kata Pres. Chaidir,

“Proyek Antasena sudah tidak bisa ditunda lagi,”

“Dengan mengizinkan orang luar masuk ke dalam proyek yang seharusnya berstatus amat rahasia?” tanya Arfa,

“maaf, Pak Presiden, tapi dalam hal ini saya cenderung setuju dengan Pak Hamzah,”

“Bila saja kita tak harus membutuhkan persetujuan dari DPR, normalnya aku tak akan mengizinkan hal semacam ini terjadi, tapi sekali lagi, bila aku bersikeras memaksakan pendapatku, sebenar apa pun, kita akan kembali ke lingkaran setan lagi,” kata Pres. Chaidir,

“dan ini sudah bukan waktunya untuk berkutat di tataran itu,”

“Baiklah, soal orang dari Komisi I, saya bisa terima, tapi kenapa harus melibatkan pihak sipil seperti kru TV?” tanya Arfa,

“apakah Anda tak ingat dengan…”

“Aku ingat dengan kasus KD Tun Razak, Arfa, bila itu adalah maksudmu,” kata Pres. Chaidir,

“dan percayalah, kali ini kejadian serupa tak akan terjadi; rakyat dan pihak lain hanya akan melihat kehebatan kapal selam kita, tapi bukan celah dan kelemahannya,”

“Apakah itu mungkin?” tanya Arfa,

“itu membutuhkan pers yang khusus,”

“Memang, harus netral namun tidak terlalu netral, tapi bersahabat dengan kita, aku tahu,” kata Pres. Chaidir,

“yang mana itu sedang diurus oleh Laks. Salampessy,”

“Sudah diputuskan, Pak Presiden,” jawab Laks. Salampessy,

“Laksdya. Sihombing merekomendasikan juga stasiun TV itu, dia mengenal salah satu redakturnya dengan baik,”

“Maksud Anda NewsTV, Laksamana?” tanya Arfa,

“apakah ini terkait soal kasus Selat Ombai dulu itu?”

“Saya tak ingin menganggap bahwa kasus Selat Ombai hanyalah kebetulan belaka, Nn. Aryanti, karena pada kenyataannya berkat merekalah kami bisa menemukan kapal siluman itu,” kata Laks. Salampessy,

“bila ada yang bisa dipercaya, pasti hanya mereka; lagi pula selama ini NewsTV cukup netral dalam setiap pemberitaannya, bahkan beberapa kali cenderung membela kita,”

“Jadi seharusnya tidak ada masalah, ‘kan?” tanya Pres. Chaidir.

“Seharusnya tidak ada masalah, Pak,” kata Laks. Salampessy,

“mereka pasti mau mengikuti prosedur apa pun yang kita terapkan,”

“Kalaupun benar kru TV yang akan kita kirim ke sana bisa dipercaya, bisakah Bapak menjelaskan mengapa kita sampai harus mengirim kru TV ke sana?” tanya Arfa.

“Meskipun Pak Hamzah sendiri sudah menjaminnya, secara pribadi aku masih tidak yakin bahwa orang yang akan diikutkan oleh Komisi I tidak akan macam-macam, bisa jadi laporannya malah akan membuat kerumitan dalam rapat kerja selanjutnya,” kata Pres. Chaidir,

“Komisi I tak akan mau menerima laporan yang hanya berisi ya atau tidak saja, karena jika mereka mau, pastinya itu akan dijadikan sebagai amunisi untuk menjegal kita pada rapat berikutnya,”

“Jadi dengan membuka pada khalayak…” kata Arfa.

“Khalayak akan tahu bahwa ada kapal selam supercanggih yang tengah dibuat, dan perkembangannya setelah itu akan dimonitor terus oleh pers,” kata Pres. Chaidir.

“Sehingga mengurangi kemungkinan Komisi I untuk menjegal tahapan selanjutnya, begitu Pak Presiden?” tanya Arfa,

“karena mereka harus terlebih dulu berhadapan dengan opini publik,”

“Kurang lebih begitu, Arfa,” kata Pres. Chaidir.

“Dengan kerahasiaan proyek ini sebagai gantinya?” tanya Arfa.

“Tidak ada kompromi yang tak berisiko,” kata Pres. Chaidir,

“tapi risiko terbongkarnya kerahasiaan itu lebih kecil bila dibandingkan proyek ini mengalami hambatan birokrasional,”

“Aku tak suka dengan semua perkembangan ini, Pak Presiden,” kata Arfa.

“Aku juga,” kata Pres. Chaidir,

“tapi harus ada yang mengambil langkah yang tak enak demi hari esok yang lebih baik,”


Present Day


Bina Graha

07.09 WIB

H minus 27:22:00


Arfa terbangun ketika tiba-tiba dia mendengar sebuah keributan kecil. Ada orang berlalu-lalang dan berbisik-bisik di depan pintu ruangannya. Dia pun baru sadar bahwa dia telah tertidur, mungkin dia terlalu kelelahan akibat telah non-stop mengawal perkembangan kasus ini. Meja masih seperti ketika dia terakhir kali melihatnya sebelum tidur, entah jam berapa dia tidak tahu. Hanya saja mimpi mengenai kejadian beberapa bulan lalu jelas membuat Arfa kembali berpikir. Ada apa dengan mimpi itu?

Pintu pun terbuka, dan masuklah Sam, yang tampaknya agak terkejut melihat Arfa sudah bangun.

“Nn. Aryanti, sudah bangun?” tanya Sam.

“Ya, Sam, ada apa?” tanya Arfa.

“Anda diminta ke ruang strategis segera, saat ini,” kata Sam.

“Ada apa?” tanya Arfa. 

“Mereka sudah tiba di ground zero, Nn. Aryanti,” jawab Sam takut-takut.

“Siapa? Gugus tempur KRI Keumalahayati?” tanya Arfa.

“Bukan, Armada Australia, kemungkinan dipimpin oleh kapal perang HMS Amphitrite,” kata Sam.

“Apa??” Arfa pun sampai terloncat bangung saking terkejutnya.

Semenjak awal memang Arfa sudah menduga bahwa Armada Australia akan memenangi perlombaan siapa yang lebih dulu mencapai ground zero. Keharusan gugus tempur KRI Keumalahayati untuk mengisi bekal dan persenjataan menjadi faktor utama keterlambatannya untuk mendukung KRI Ternate dan KRI Harimau dalam melacak KRI Antasena. Fakta bahwa Australia mengerahkan HMS Amphitrite, kapal fregat besar dari kelas Poseidon membuatnya semakin gusar, karena secara di atas kertas, tidak ada kapal perang milik TNI-AL satu pun yang setanding dengan kapal kelas Poseidon, kecuali apabila perusak dari kelas Yos Sudarso sudah selesai dibuat nanti.

“Apa semua sudah berkumpul?” tanya Arfa.

“Sepertinya sudah dimulai,” kata Sam.

“Apa?? Um gotteswillen!!” sumpah Arfa, “kenapa tak kaubangunkan aku lebih awal??”

“Kata Presiden, bila Anda masih tidur, saya disuruh membiarkan lima menit lagi, karena Presiden mengatakan bahwa Anda butuh istirahat,” kata Sam.

“Verdammt! Siapa yang bisa istirahat bila ada kejadian semacam ini??” jerit Arfa.

Tiba-tiba Arfa membuka blazer dan kemudian kancing blus-nya serta dengan cuek dia melepaskan pakaiannya dengan hanya memakai bra saja sebagai penutup tubuh bagian atasnya yang kini sudah terbuka. Sam sendiri gelagapan melihat pemandangan seperti ini.

“Ada apa, Sam? Belum pernah melihat tubuh wanita?” tanya Arfa setengah ketus.

“Nona…” kata Sam.

“Tak ada yang menyuruhmu tetap di sini, keluarlah,” kata Arfa.

“Oh… iya…baik,” kata Sam, yang langsung keluar dari ruangan itu.

Arfa menyusul keluar dua menit kemudian, sepertinya sudah memakai baju yang berbeda dari baju yang dia pakai sebelumnya, dan wangi deodoran pun menyerbak keluar dari tubuhnya. Arfa memberi isyarat dan Sam segera mengikutinya, meskipun masih tertunduk dengan muka yang merah padam. Mereka pun segera menuju ke ruang strategis yang memang terletak tak jauh.

Saat Arfa masuk ke ruang strategis, Laks. Salampessy tampak tengah menerangkan suasana terakhir di ground zero. Semua berhenti sejenak saat Arfa masuk dan mengambil tempat duduk. Seorang ajudan segera memberikannya sebuah taklimat untuk dibaca. Pres. Chaidir yang juga hadir di sana mengangguk kepada Arfa sejenak.

“Kita bisa mengulanginya untuk Anda, Nn. Aryanti,” kata Laks. Salampessy.

“Tidak usah, Laksamana, saya cukup membaca ini saja, silakan lanjutkan,” kata Arfa.

“Baiklah, jadi posisi gugus tempur KRI Malahayati ada di titik ini, sementara kontak terakhir antara KRI Ternate dengan Armada Australia diperkirakan baru terjadi beberapa menit lalu,” kata Laks. Salampessy,

“mengasumsikan tak akan ada yang terjadi, gugus tempur KRI Keumalahayati akan sampai di ground zero dalam tempo 1,5 jam lagi,”

“Kita tak punya waktu 1,5 jam lagi, Laksamana,” kata Mars. Kambu,

“aku akan perintahkan wing H-6 kita untuk berangkat sekarang juga; masing-masing sudah dibekali 4 rudal antikapal yang bisa menenggelamkan fregat-fregat Australia itu dari jarak 1.200 km,”

“Mengingat keefektifan Phalanx milik kapal-kapal Australia, peluang keberhasilan kita untuk menenggelamkan seluruh kapal mereka hanya 60%, Marsekal Kambu,” kata Arfa,

“satu dan lain hal, ini akan memprovokasi perang antara dua negara,”

“Bila Australia dan Indonesia berperang, Nn. Aryanti, bagaimana peluang kita?” tanya Pres. Chaidir.

“Bila kita bisa berhemat dengan semua kekuatan pemukul strategis kita, Marsekal, ditambah dengan sedikit keberuntungan, kita bisa menahan kelajuan serangan mereka di beberapa titik di pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara,” kata Arfa, “tapi kita jelas akan kehilangan Papua bila garnisun di sana masih belum diperkuat dengan tank-tank utama dan artileri antipesawat yang lebih mumpuni,”

“Jadi Australia akan berhasil mendarat di tanah kita, Nn. Aryanti?” tanya Pres. Chaidir.

“Sayangnya begitu, Pak, dan belum ada cara bagi kita untuk bisa membawa api pertempuran ke tanah Australia kecuali kekuatan pemukul strategis kita masih utuh semua,” kata Arfa,

“kita bisa melakukan serangan terobosan ke Sydney atau Canberra, atau melakukan serangan intensif ke Perth dan Port Darwin untuk melemahkan dua pangkalan aju Australia di sana; setelah itu baru kita menunggu,”

“Menunggu?” tanya Mars. Kambu,

“menunggu apa?”

“Menunggu tawaran gencatan senjata,” kata Arfa,

“atau hancur,”

“Jelaskan,” kata Pres. Chaidir.

“Perang dengan Australia jelas akan membuat Amerika Serikat turun tangan untuk membantu Australia; bila kita tidak bisa segera melemahkan kekuatan Australia di sebelah barat, maka ketika nanti Amerika Serikat menyerang, kemungkinan dari Guam, maka kekuatan kita akan terpecah untuk menangani medan pertempuran di utara dan selatan,” kata Arfa,

“untuk saat ini, skenario itu tidak bisa diterima, mengingat jumlah kekuatan kita yang belum cukup untuk mengobarkan peperangan total di dua front sekaligus,”

Suasana mendadak menjadi hening, dan seolah sebuah pikiran berat telah ditimpakan kepada forum itu.

“Melawan Australia sendiri, kita punya kesempatan untuk menang, tergantung bagaimana kita akan mengorganisasikan seluruh asset tempur kita,” kata Arfa,

“tapi bila Amerika Serikat sampai turun tangan, maka tidak ada harapan; mereka bisa melakukan serangan ke empat front di negara kita secara simultan tanpa kita bisa berharap untuk melakukan pembalasan, selain untuk kemudian terseret ke dalam perang gerilya berkepanjangan,”

“Estimasi kerugian?” tanya Pres. Chaidir pelan.

“Katakanlah, bila Amerika Serikat mau berbaik hati dan pergi,” kata Arfa,

“mungkin tak banyak yang akan tersisa bagi kita untuk menapak kembali; menang atau kalah, kita akan tetap binasa,"

Keheningan pun kembali mencekam. Indonesia tengah dalam posisi untuk bangkit dan memperkuat kembali kekuatan alutsistanya, jelas bukan skema yang ideal bila saat ini harus melakukan perang melawan salah satu kekuatan militer terbesar di dunia, Amerika Serikat. Ditilik dari sudut pandang mana pun, pemaparan Arfa tadi masuk akal.

“Bagaimana cara menghindari risiko itu?” tanya Pres. Chaidir.

“Sebelumnya aku ingin bertanya, Laksamana,” kata Arfa

“sudah terjadi kontak tembak, kah?”

“Sebenarnya…” kata Laks. Salampessy.

“Sudah atau belum?” tanya Arfa. 

Laksamana Salampessy hanya melihat pada layar peta yang menunjukkan posisi-posisi bidak yang akan digerakkan dalam skema pertandingan catur skala raksasa ini.


Samudera Indonesia

Kedalaman 200 meter

07.18 WIB

H minus 27:31:00


Lampu di KRI Antasena mulai meredup dan berkedip-kedip sejenak sebelum akhirnya kembali menyala terang. Lucia mengamati hal ini sembari sedikit tercekat. Beberapa saat kemudian lambung kapal pun kembali “menggeliat”, namun kali ini bunyi besi yang terpuntir oleh tekanan air laut terasa lebih lama. Dan memang sebagaimana yang Lucia perhatikan, semakin lama kapal ini semakin membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan geliatannya. Padahal kedalaman kapal sendiri relatif tidak berubah, mengingat mereka berada di landasan cair yang cukup solid, plus setiap saat telah dilakukan trim untuk mengatur posisi zero kapal. Hanya satu yang menjadi penjelasan bagi fenomena ini: struktur badan kapal semakin melemah.

Namun bukan itu sebenarnya yang menjadi kekhawatiran baik Lucia maupun semua orang di kapal ini. Lucia kembali terbatuk-batuk, dan secara refleks dia menarik napas lebih panjang, namun udara yang dia hirup terasa semakin panas dan semakin berat. Saking panasnya hingga kini dia selalu membawa saputangan yang dibasahi untuk bisa bernapas dengan lebih nyaman. Memang cukup membantu untuk sekarang, tapi Lucia sangsi apakah bisa pula membantu untuk waktu yang lebih lama, karena permasalahannya bukan pada dirinya, melainkan pada kualitas udara yang ada.

Dengan waktu yang hanya tersisa lebih dari 24 jam saja, kualitas udara sudah mulai jauh menurun apabila dibandingkan dengan beberapa waktu lalu. Sekarang lebih enak dan nyaman untuk diam saja dan tak melakukan aktivitas apa pun selain berpasrah, namun beberapa waktu lagi, rasanya aktivitas apa pun tak akan menjadi masalah karena sudah tak akan ada lagi udara untuk bisa dihirup. Bayang-bayang kematian pun semakin menghantui semua orang, ditambah lagi dengan udara yang semakin lama semakin menyesakkan. Namun di tengah-tengah suasana seperti itu, masih ada dua orang yang terus bekerja seperti semut.

“Bagaimana?” tanya Lucia yang dari tadi memegangkan lampu ke arah piranti sonar.

“Cukup melelahkan,” kata Reza sambil mengelap peluh yang membanjiri dahinya.

“Tapi cukup berguna,” kata Sers. Andre,

“kita berhasil mengisolasi hubungan yang tepat pada sistem gerbang oscilator, sekarang tinggal mengidentifikasi pola labirinnya,”

“Labirin?” tanya Lucia.

“Ya, labirin suara, jadi suara harus melewati jalinan sistem jalan yang benar supaya bisa keluar dari gerbang,” kata Sers. Andre,

“singkatnya begitu,”

“Jalinan jalan seperti labirin untuk hamster begitu?” tanya Lucia tidak mengerti.

“Maksudnya nada, Mbak Lucia,” kata Reza,

“suara kan bukan hamster yang bisa dihalangi oleh dinding dan jalan, makanya dibuat sistem gerbang yang akan memfilter pada nada-nada tertentu,”

“Aku nggak ngerti,” kata Lucia.

“Jadi gini, setiap suara yang masuk akan dipecah per nada, kemudian dialihkan menurut labirin-labirin nada, kemudian setelah labirin tersebut dilalui, nada-nada yang tersisa dikumpulkan kembali sebelum akhirnya keluar dengan suara yang sama,” kata Reza.

Lucia tidak menjawab, tampaknya dia berusaha menggelengkan kepala atau mengangkat bahu, namun tampak terlalu bingung untuk melakukannya sehingga dia hanya seperti mengedik canggung saja.

“Masih belum paham juga ya, Mbak?” tanya Reza.

“Sumpah nggak ngerti aku, Rez, pake bahasa yang gampang aja kenapa?” kata Lucia.

Kali ini ganti Reza dan Sers. Andre yang menggaruk-garuk kepala mereka. Pada dasarnya mereka tahu maksud dari yang hendak dikatakan, hanya saja untuk menjelaskan maksud tersebut itulah yang susah. Apalagi kepada orang awam seperti Lucia.

“Gini, Mbak, tahu suling, kan?” tanya Reza.

“Iya, terus apa hubungannya?” tanya Lucia.

“Anggap aja seperti dua suling yang disambungkan saling berbalikan; saat suara masuk dari lubang suling, dia akan menciptakan nada, yang mana setelah nada itu keluar, maka akan masuk ke suling yang kedua…” kata Reza.

“Lalu keluar lagi menjadi suara yang sama? Maksudnya dipecah lalu disatukan lagi, begitu?” tanya Lucia.

“Lebih kurang seperti itu, ya,” kata Reza.

“Jadi gerbang itu memiliki labirin berisi rangkaian rintangan berupa nada-nada tertentu dari satu suara,” kata Lucia,

“tapi kalau labirin itu adalah rangkaian nada, bukannya itu berarti bahwa labirin itu adalah…”

“Sebuah lagu, ya benar,” kata Sers. Andre.

“Ya, sebuah lagu,” kata Lucia.

Kini dalam kepala Lucia justru lebih banyak bermunculan pertanyaan-pertanyaan baru. Sungguh pintar siapa pun yang membuat sistem penyaringan seperti ini, yang memecah suara menjadi lagu, kemudian menyatukannya menjadi suara yang akan dikeluarkan. Tapi kenapa orang bisa sampai sekurang kerjaan itu sehingga menciptakan sistem yang cukup rumit ini?

“Kenapa harus dibuat sistem kayak gitu?” tanya Lucia.

“Katanya sih dipakai supaya nggak semua suara bisa keluar, karena nggak semuanya bisa memicu rangkaian gerbang ini, hanya suara dengan nada dan timbre tertentu saja,” kata Sers. Andre.

“Tapi bukannya kalau gitu misal ada orang yang timbre suaranya sama ngomong bisa juga memicu sistem gerbang?” tanya Lucia.

“Ya, tapi dia harus nyamain pake kode lagunya dulu supaya bisa memicu sistem gerbang,” kata Sers. Andre,

“anyway, saya sendiri juga masih belum sepenuhnya mengerti soal kenapa dan bilamana sistem ini dibuat sedemikian rupa sehingga, tapi setelah ini, semoga saja kita bisa mengenali dan menyekat masing-masing penghubung dari sistem ini,”

Lampu pun kembali berkedip-kedip. Sers. Andre menghentikan sejenak perkataannya, sembari dia terlihat cukup tercekat.

“Semoga saja kita bisa selesai sebelum listriknya mati full,” kata Sers. Andre lagi.

“Semoga saja,” kata Lucia tanpa bisa menyembunyikan nada keputusasaan dalam suaranya.

Suasana mendadak hening sejenak. Lucia pun termenung. Manakah yang sebenarnya lebih buruk: merengkuh nasib kematian yang hampir pasti, ataukah menggantungkan asa pada secercah harapan redup yang tipis bagai benang? Beberapa jam lalu, Lucia sudah siap untuk mati dan meninggalkan semua yang ada di dunia ini, termasuk keluarganya. Kini tiba-tiba saja asa untuk tetap hidup kembali muncul dan Lucia kembali tidak siap untuk merengkuh sang maut.

“Pastinya bisa,” kata Reza memecah keheningan,

“kita sudah berhasil mengisolasi semua yang dibutuhkan untuk memecahkan puzzle ini; tinggal yang terakhir,”

Reza menepuk pundak Lucia yang langsung tersenyum kecil. Sepertinya Reza kini amat yakin dia bisa menyelesaikan pekerjaannya dan menyelamatkan semua orang yang ada di sini. Ini sekali lagi menerbitkan harapan bagi Lucia, tapi kali ini harapan tersebut terasa amat getir, dan sekali lagi Lucia terbelah antara pikiran akan hidup dengan pikiran akan maut.

“Oh ya, soal itu bagaimana, Za? Katanya kamu bisa bikin?” tanya Sers. Andre.

“Nah, iya, bentar ya,” kata Reza.

“Cepetan ambil lah, semakin cepet semakin bagus,” kata Sers. Andre.

“Ambil apa?” tanya Lucia.

“Udahlah, ntar Mbak Lucia juga tahu,” kata Reza.

Reza lalu segera beranjak dan meninggalkan tempat itu, meninggalkan Lucia yang masih penuh tanda tanya. Sers. Andre sendiri memilih untuk tetap serius mengerjakan tugasnya, wajar saja karena dalam keadaan seperti ini, setiap detik terlalu berharga untuk dibuat. Tak beberapa lama kemudian, Reza kembali sambil membawa tiga buah alat yang sepertinya buatan Reza sendiri. Lucia sendiri terkejut karena mengenali beberapa komponen dari alat itu menggunakan komponen-komponen dari peralatan-peralatan rekaman yang memang mereka bawa ke dalam kapal.

“Itu apa, Za?” tanya Lucia menyelidik

“Ini, alat-alat bikinan sendiri,” kata Reza.

“Koq ada yang pake komponen sound editor kita?” tanya Lucia.

“Iya, sengaja, Mbak, daripada nggak kepake juga,” kata Reza,

“lagian susah dapet komponen sound lain di kapal selam, yang dari sensor akustik aja rata-rata udah pada rusak dan nggak semuanya sesuai ama yang kita butuhin,”

“Iya, tapi buat apa itu?” tanya Lucia.

“Ntar saya tunjukin,” kata Reza,

“Sersan, ini yang dibutuhin yang mana dulu, nih?”

“Bawain yang pitch detector dulu deh,” kata Sers. Andre.

Reza pun mengulurkan satu alat yang ditempeli banyak sekali lampu LED beraneka warna. Namun Lucia menduga pengaturan lampu LED itu tidak diatur secara sembarangan, setidaknya ada dua pola yang dia lihat, yang satu adalah pola melingkar bentuk rangka jaring laba-laba dengan pengaturan warna LED-nya adalah hijau di tembereng dalam, kuning di tembereng tengah, dan merah di tembereng luar. Sementara pola kedua adalah pola garis lurus dari enam lampu LED, namun warnanya lebih menunjukkan tingkatan yang dikelompokkan dalam dua level: hijau-kuning-merah dan hijau-kuning-merah.

“Makainya gimana ini?” tanya Sers. Andre.

“Colokin aja ke pintu keluar dari gerbang pertama,” kata Reza,

“terus gerbangnya dinyalain pake listrik voltase kecil,”’

“Oke, siap?” tanya Sers. Andre.

Sers. Andre lalu menghubungkan piranti itu ke dalam sistem gerbang yang mereka kerjakan, lalu dia menghubungkan kabel yang sepertinya kabel daya ke pintu masuk gerbang. Lalu Sers. Andre mengambil piranti pemberi daya dan mulai menekan tombolnya. Lalu sayup-sayup Lucia mendengar suara seperti lengkingan yang lirih namun konstan. Suara itu membuat lampu LED pada piranti milik Reza berkedip-kedip menunjukkan pembacaan yang mungkin hanya Reza sendiri yang tahu bagaimana cara menafsirkannya.

“Cepetan, Za, bentar lagi sirkuitnya gosong nih,” kata Sers. Andre.

“Oke, udah dapet, mezzo-sopran, levelnya ampe kuning dua,” kata Reza.

Segera saja Sers. Andre berhenti mengalirkan daya ke dalam alat dan suara lengkingan itu pun berhenti.

“Sip, jadi kapasitornya ntar diset pada level segitu aja,” kata Sers. Andre.

Lucia mengangguk-angguk dan mengertilah dia cara kerja alat itu. Rangka jaring laba-laba ternyata memberitahukan mengenai pitch suara yang dibutuhkan, sementara LED yang berbentuk segaris bertingkat memberitahukan soal jenis-jenis suara. Sers. Andre pun segera mencatatnya dalam sebuah notes yang selalu ia bawa.

Saat itulah perhatian Lucia tertarik pada satu alat yang terletak paling dekat dengannya. Alat itu hanya diberi sebuah mikrofon kecil serta ada penunjuk macam meteran seperti pada voltmeter atau pendeteksi Geiger-Muller. Apa gunanya alat ini? Iseng-iseng, Lucia pun menyalakan alatnya dan mulai berbicara di depan mikrofon. Mendadak alat itu mengeluarkan suara lengkingan tinggi non-stop mirip suara sirene yang membuat Lucia serta semua orang di sana kaget. Reza segera maju dan mematikan alat itu.

“Alat apaan tuh, Za?” tanya Sers. Andre.

“Pendeteksi warna suara,” kata Reza,

“kayaknya nggak berfungsi, karena harusnya nggak bunyi macem gitu,”

“Bukannya kita nggak perlu alat itu? Kan pengatur warna suaranya nggak rusak?” kata Sers. Andre.

“Cuman buat jaga-jaga aja,” kata Reza,

“jangan main-main ama alat-alat dulu ya, Mbak,”

Lucia mengangkat tangannya dan memberikan alat itu pada Reza, kapok untuk mencobanya lagi.

“Ya udah, langsung aja, Rez, ke pendeteksi nadanya,” kata Sers. Andre lagi.

Reza pun memberikan piranti kedua kepada Sers. Andre. Piranti itu dilengkapi dengan penunjuk mirip layar equalizer pada tape recorder jenis lama. Sepertinya Lucia pernah melihat di kapal selam ini ada radio tape yang memiliki penunjuk seperti itu, sehingga Reza pastilah mengambilnya dari radio itu.

“Ada banyak sekali gerbang nada nih, kalau nyarinya satu-satu gempor juga,” kata Reza.

“Udah, mau gimana lagi?” tanya Sers. Andre,

“ayo, Za, mulai aja, daripada ntar nggak keburu,”

Reza mengangguk dan membantu memasangkan pirantinya kepada sistem titi nada yang ada pada gerbang sonar. Prosedurnya sama seperti tadi, Sers. Andre mengalirkan listrik lemah ke rangkaian sementara Reza akan membaca hasilnya. Kali ini Lucia kebagian tugas untuk mencatat semua titi nada yang bisa ditemukan.

“Gerbang pertama ‘G’,” kata Reza setelah agak lama berkutat di sana.

Total untuk mendeteksi sistem gerbang pertama, butuh waktu sekitar 10 menit, padahal ada 46 sistem gerbang yang ada di sana, sehingga terestimasi dibutuhkan waktu setidaknya 460 menit alias 7 jam 40 menit lagi! Tentu perkiraan lama waktu ini membuat siapa pun lekas patah semangat, apalagi bila waktunya sudah mepet seperti sekarang dengan ditambah oleh suasana di dalam kapal selam yang semakin tak nyaman.

Dan semangat awal itu akhirnya mulai mengendur hanya setelah enam sistem gerbang behasil dibuka. Reza dan Sers. Andre, stres dan kelelahan, akhirnya hanya duduk diam saja, mengistirahatkan tubuh dan otak mereka yang sudah amat kelelahan setelah selama ini terus bekerja. Walau mereka tak mengatakan apa-apa, tapi Lucia bisa melihat dengan jelas sinar mata mereka telah berubah menjadi sinar mata pesimistis, dan muka mereka pun tak lagi menunjukkan sebuah antusiasme.

Lucia hanya menarik napas panjang saja sembari sesekali meletakkan saputangan basahnya di depan wajahnya. Sia-sia menyemangati kedua orang ini, karena Lucia tahu bahwa Reza dan Sers. Andre bekerja lebih lama dan lebih berdedikasi daripada orang lain yang ada di sini, dan kini semangat serta dedikasi mereka tampaknya sudah mencapai batas ketahanan maksimum yang bisa ditahan oleh seorang manusia.

Setelah ikut terduduk sembari tertular pesimisme yang sama, entah bagaimana Lucia pun membaca kembali catatannya. Hanya ada 6 titi nada yang berhasil dipecahkan, sepertinya ini tidak cukup untuk mengetahui keseluruhannya. Teka-teki apa yang kini sedang coba untuk dimainkan oleh Dr. Anatoly Sedorenkov, perancang kapal selam ini beserta seluruh sensornya? Pun begitu, Lucia menatap keenam titi nada yang sudah berhasil dipecahkan itu terus-menerus. Awalnya memang Lucia hanya iseng, tapi setelah beberapa saat kemudian begitu Lucia agak tenang, dia merasa keenam titi nada ini serasa tidak asing. Otaknya yang mulai kelelahan akhirnya memecahkan sebuah kapsul adrenalin terakhir yang memaksa si otak bekerja lebih keras lagi.

“G…A…G…E…G….A,” gumam Lucia, 

“apa artinya?”

Dari awalnya membaca, Lucia pun mulai menyenandungkan titi nada yang telah diketahui itu.

“Sol, la, sol, mi, sol, la…”

Kemudian di dalam kepalanya, Lucia mencoba beberapa kombinasi panjang-pendek serta mayor dan minor. Semakin lama disenandungkan, lagu itu pun mulai terngiang di kepala Lucia, dan saat itulah dia tersadar akan sesuatu.

“ya, bentar deh, aku tahu kalian capek, tapi bisa minta tolong tes buat nada berikutnya,” kata Lucia,

“apakah berikutnya nada ‘G’ juga?”

“Bentar ya, Mbak,” kata Reza sedikit gontai.

“Nggak usah dicek keseluruhan, cuman dicek aja apa bener habis ini nadanya ‘G’,” perintah Lucia.

Sers. Andre dan Reza tampak kebingungan, tapi mereka langsung saja mencobanya. Dengan Lucia memberi arahan pada nada selanjutnya, maka mereka cukup menguji pada sistem ‘G’ saja, dan bukan yang lain. Terkejutlah mereka karena ternyata Lucia benar, nada berikutnya memang ‘G’.

“Iya bener, Mbak,” kata Reza,

“nada ‘G’,”

“Terus nada selanjutnya ‘E’, iya pa nggak?” tanya Lucia.

Sekali lagi Reza dan Sers. Andre memeriksanya, dan seperti halnya tadi, nada berikutnya pun memang benar-benar ‘E’. Ini membuat mereka menjadi amat takjub pada Lucia, dan memandang Lucia, menunggu instruksi selanjutnya. Lucia sendiri memasang raut muka serius sambil dia seperti menghitung sesuatu dengan jarinya, mencoret-coret dalam catatan sambil mulutnya terus komat-kamit sembari mendendangkan nada-nada yang seolah acak.

“Nada kesepuluh, ‘D’, bukan?” kata Lucia.

“Iya, bener, Mbak,” kata Reza.

“Nada kedua puluh, ‘G’, bener?” tanya Lucia.

“Bener lagi,” jawab Sers. Andre.

“Nada ketiga puluh, ama empat puluh, ‘A’ ama ‘C’, tolong diperiksa,” kata Lucia.

Reza dan Sers. Andre kali ini memeriksanya dengan semangat yang seolah terbarukan. Entah bagaimana mereka berpendapat bahwa Lucia kini bagaikan seorang orakel yang tahu banyak hal, dan optimisme mereka untuk memecahkan puzzle ini pun semakin meninggi karena mereka tahu bahwa puzzle ini akan terpecahkan dalam waktu yang lebih singkat.

“Nada terakhir,” kata Lucia,

“adalah ‘C’,”

“Benar lagi,” kata Sers. Andre bersemangat hingga nyaris berteriak.

“Berarti bener,” kata Lucia,

“nggak nyangka ternyata Dr. Sedorenkov bisa kepikiran buat make lagu itu buat kode,”

“Mbak Lucia tahu??” tanya Reza.

Lucia hanya mengangguk dengan pasti. Ya, lagu ini pernah dia ketahui sebelumnya, dan bahkan dulu dia sering sekali menyanyikan lagu ini: sebuah lagu yang paling terkenal di seluruh dunia!


07.21 WIB

H minus 27:28:00


“Pintar sekali,” kata Kapt. Kadek,

“benar-benar pintar,”

“Tapi kau tak terjebak, Kapten, kau tak kalah lihai,” kata Cdr. Lesley van Huydt.

“Harus kuakui tadi aku hampir saja terjebak, Komodor,” jawab Kapt. Kadek.

“Baiklah, kuakui kau adalah lawan yang tangguh, dan aku memuji ketenanganmu, Kapten,” kata Cdr. van Huydt,

“tapi bagaimana untuk selanjutnya?”

“Aku akan menunggu langkahmu, Komodor,” kata Kapt. Kadek.

Tampaklah bahwa di antara Kapt. Kadek dan Cdr. van Huydt terdapat sebuah papan catur berwarna biru laut dengan bidak berupa kapal-kapal perang. Cdr. Lesley van Huydt pun menuangkan anggur ke dalam gelas lalu mengangkat dan mengajak Kapt. Kadek bersulang.

Tentu saja pembicaraan ini tidak terjadi di dunia nyata, karena Kapt. Kadek dan Cdr. van Huydt terpisah jarak cukup jauh di dalam masing-masing kapal mereka: KRI Ternate dan HMAS Amphitrite. Pembicaraan ini hanya terjadi di dalam pikiran mereka, pikiran dari para kapten yang tengah berusaha untuk menerka dan mencoba menelikung langkah-langkah lawannya di alam awangan


Samudera Indonesia

07.23 WIB

H minus 27:26:00


Pesawat NC-295 “Blue Sky” masih berada di atas, memutari wilayah laut sambil mengamati antara KRI Ternate dengan HMAS Amphitrite. Beberapa kali Blue Sky merasakan di-lock oleh rudal antipesawat milik Armada Australia setiap kali terasa cukup dekat dengan mereka, tapi Blue Sky tidak gentar, karena dia tahu bahwa dia masih terbang di wilayah Indonesia. Lagipula, serangan atas Blue Sky sementara dia masih berada di wilayah Indonesia akan dikategorikan sebagai agresi dan pasti akan memancing pernyataan perang.

Bagaimana pun juga, ketegangan tetap tak beranjak dari ground zero, mengingat kedua pihak masih bergeming di tempatnya dan tidak bergerak. Gerak maju Armada Australia yang tadi mengancam gugus KRI Ternate kini berhenti, tepat hanya beberapa puluh yard dari tapal batas. Entah apa yang diinginkan oleh Cdr. Lesley van Huydt dengan manuver ini, apakah dia hanya ingin menjajal kesiapsiagaan personel TNI-AL saja?

Di anjungan KRI Ternate, suasana bahkan lebih tegang lagi hingga bernapas pun terasa sulit. Kapten Kadek sudah memberikan aba-aba untuk siap menembak, dan semua awak di KRI Ternate sudah siap untuk melakukan sekuens penembakan, tapi perintah tembak itu sendiri tak kunjung tiba. Tangan perwira senjata tampak gemetaran di atas tombol

tembakan, di satu sisi siap untuk menembak, tapi dia juga menunggu aba-aba dari komandannya. Sementara yang lainnya tampak melotot di depan stasiunnya masing-masing sambil dahi mereka dipenuhi oleh keringat dingin. Tak ada yang mengelap keringat di dahi mereka, karena entah bagaimana suasana kengerian dan ketegangan amat luar biasa sehingga tubuh pun serasa kaku.

Dua orang sipil di anjungan, yaitu Anton dan Prita, tampak juga membeku, begitu pula dengan semua orang yang ada di sini. Prita tak melepaskan pegangannya pada Anton, dan Anton pun merasakan tangan Prita gemetaran dan dingin, mungkin saking takutnya. Pada saat seperti ini, bahkan Anton pun bersumpah dia bisa mendengar degup jantung baik dari Prita, maupun semua orang yang ada di sini. Kapten Kadek tetap tak melepaskan pandangannya, setengah ke jendela, dan setengah ke arah jam dinding. Waktu pun jadi berjalan dengan super lambat sehingga tiap detik serasa sudah berjam-jam. Anton sendiri, seperti halnya Kapt. Kadek tetap berusaha berdiri dengan tenang, walau pun jauh di dalam lubuk hati, siapa tahu apa yang Anton sebenarnya rasakan?

“Kep?” tanya perwira senjata dengan suara bergetar.

“Tangan tetap pada tempatmu, Nak,” kata Kapt. Kadek,

“siap tembak, tapi jangan menembak,”

“Kita tidak akan menembak?” tanya perwira senjata.

“Tidak sekarang,” kata Kapt. Kadek,

“mereka bermain dengan sangat pintar,”

“Memang,” tukas Anton yang turut pula memerhatikan semua situasi di sini.

“Apa maksudnya?” tanya Prita, yang masih gemetar ketakutan, tak mengerti.

“Ada konvensi bahwa Inggris dan semua negara dominionnya akan membantu negara-negara bekas jajahan Inggris lain bila terjadi peperangan dengan negara lain,” kata Anton,

“tapi tidak bila mereka melakukan invasi,”

“Ya, kapal HMAS Amphitrite sengaja bergerak maju dengan kecepatan tinggi ke arah perbatasan, tahu bahwa jangkauan meriam kita bisa menembak hingga ke luar perbatasan,” kata Kapt. Kadek. 

“bila tadi kuperintahkan menembak, maka kita akan menembak kapal Australia saat mereka masih berada di wilayah Australia,”

“Dan menempatkan kita sebagai yang memprovokasi peperangan, begitu?” tanya Prita.

“Sedikit banyak,” kata Anton.

“Aku memang bisa menghindarkannya untuk saat ini, tapi entah untuk beberapa lama lagi,” kata Kapt. Kadek,

“bakal ada saat-saat di mana situasi akan sangat tak terkendali, dan kita akan terpaksa menjadi unit di garis paling depan,”

Prita memberanikan diri untuk menatap ke luar jendela. Kapal-kapal Australia itu terlihat amat kecil, hanya bagai titik keperakan, hampir menyaru dengan latar belakang birunya laut. Pun menurut Kapten Kadek, kapal-kapal itu masuk dalam jangkauan meriam dari KRI Ternate.

“Lalu apa yang mereka lakukan setelah ini?” tanya Prita.

“Menunggu, sama seperti kita,” kata Anton.

"Mereka tak akan menyerang?" tanya Prita.

"Terlalu banyak yang akan dipertaruhkan hanya untuk sekadar ini," kata Anton,

"Australia tak akan mengambil risiko berperang, kecuali bila mereka yakin bahwa mereka tak akan maju sendirian dalam peperangan nanti,"

Prita kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Anton sementara tangannya semakin erat menggenggam tangan Anton. Kapt. Kadek sendiri terus menatap dengan tajam ke arah kapal-kapal Australia, berusaha untuk siap menghadapi apa pun yang akan dikirimkan dari seberang sana.

“Kep, komunikasi dari Blue Sky,” kata perwira radio.

“Sambungkan,” kata Kapt. Kadek.

“KRI Ternate, ini Blue Sky, bagaimana keadaan di sana?” tanya Blue Sky.

“Seperti bisa kau lihat sendiri, Blue Sky,” kata Kapt. Kadek.

“Be advised, kami sudah dapat komunikasi dengan gugus tempur KRI Keumalahayati,” kata Blue Sky,

“komandan gugus, Letkol Niken Listyani ingin berbicara,”

“Sambungkan, Blue Sky,” kata Kapt. Kadek.

“Wilco,” kata Blue Sky.

Radio hening sejenak, dan kemudian terdengarlah suara seorang wanita yang terdengar cukup tajam dan tegas.

“Kapten, kenken kabare?” tanya Letkol. Niken Listyani.

“Corah, Letkol,” jawab Kapt. Kadek,

“posisi di mana?”

“Sekitar 45 menit lagi sampai,” kata Letkol. Niken.

“Tidak bisa lebih cepat lagi?” tanya Kapt. Kadek.

“Kalau mau nanti yang kecil-kecil boleh duluan,” kata Letkol. Niken,

“Mandau, Kujang, Salawaku, dan Klewang, ama Musang buat temanin Harimau,”

“Nggak ada yang lebih besar lagi, Letkol?” tanya Kapt. Kadek dengan raut muka sedikit kecewa.

“Cuman I Gusti Ktut Jelantik dan saya,” kata Letkol. Niken.

“Susah, Letkol, yang di sana pada bawa ‘big guy’ buat ikutan pesta,” kata Kapt. Kadek.

“Nggak usah khawatir, Kapten, di sini kami juga bawa ‘big guy’,” kata Letkol. Niken,

“makanya bertahan saja,”

“Jangan lama-lama, Letkol,” kata Kapt. Kadek.

“Kami berusaha secepat mungkin,” kata Letkol. Niken,

“over and out,”

Perkataan dari Letkol. Niken itu memberi harapan sekaligus pertanyaan di benak masing-masing yang ada di sana. Harapan karena pertolongan akan datang tak lama lagi, dan pertanyaan karena ada kata-kata “big guy”. Kapt. Kadek jelas menyebut “big guy” bagi kapal-kapal Australia yang ukurannya jelas lebih besar daripada korvet maupun KCR yang dibawa dalam gugus tempur KRI Keumalahayati, tapi siapa “big guy” yang disebut oleh Letkol. Niken tadi? Kapal terbesar Indonesia adalah dari kelas SIGMA-PAL, yaitu KRI Christina Martha Tiahahu, tapi bila KRI Christina Martha Tiahahu ikut serta, seharusnya dialah yang memimpin, bukan KRI Keumalahayati.


Bina Graha

07.53 WIB

H minus 26:56:00



Ketegangan, kecemasan, kesibukan, semua tumpah ruah menjadi satu di Bina Graha. Setiap kepala angkatan pun mulai mengerahkan angkatannya masing-masing untuk menghadapi krisis yang sedang terjadi, dan di pusat semua kegaduhan ini, ada Arfa yang sibuk memastikan bahwa semua berjalan sesuai dengan rencana. Pres. Chaidir memang tak pernah menunjuk Arfa sebagai commander-in-chief dalam operasi ini, tapi dengan posisinya saat ini sebagai “orang kepercayaan” Presiden, semua pun merujuknya untuk memimpin, setidaknya hingga pada titik di mana Pres. Chaidir nanti terpaksa menggunakan statusnya sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.

Bagi Arfa sendiri, posisi sebagai pemimpin ini bukanlah sesuatu yang nyaman, mengingat tanggung jawabnya amat besar, dan dia harus bermain secara cantik untuk bagaimana caranya menghindarkan pertempuran dalam situasi yang makin lama makin memanas. Berperang dengan Australia memang bukan hal yang terlalu menakutkan kini bagi Indonesia, namun efek lanjutan dari peperangan yang berlarutlah yang ingin Arfa hindari. Kekuatan Indonesia saat ini memang cukup untuk mengimbangi Australia, tapi hanya mengimbangi saja, belum sampai pada tahap di mana kita tak perlu takut akan prospek konflik berkepanjangan dengan Australia. Lagipula, Arfa sendiri masih belum yakin bahwa Indonesia akan mampu membawa api peperangan ke daratan Australia, kecuali hanya lewat kekuatan pembom strategisnya saja. Peperangan di daratan Australia jelas akan lebih menguntungkan Australia alih-alih Indonesia, karena Indonesia belum siap untuk melakukan peperangan kontinental atau Continental Warfare.

“Ada kabar dari Kedutaan Besar Australia? Apakah masih tutup?” tanya Arfa pada ajudannya.

“Masih, Bu,” jawab sang ajudan.

“Sudah beberapa hari ini Australia menutup kedutaannya, jauh sebelum krisis ini terjadi,” kata Arfa,

“ada kabar apa lagi?”

“Pak Sudhiarto Pamudji (KASAD) akan mengirimkan pasukan untuk mengamankan Kedutaan Besar Australia,” kata sang ajudan.

“Mengamankan?” tanya Arfa,

“apakah ada antisipasi atas Artikel 11?”

“Belum diketahui, Bu,” kata ajudan,

“tapi bukankah Artikel 11 itu adalah…”

“Aku tahu, hanya Presiden yang punya wewenang untuk melakukannya,” kata Arfa,

“terus perintahkan untuk mengamati lalu lintas komunikasi dari Inggris-Australia-Amerika Serikat, aku ingin tahu perintah apa saja yang akan diberikan oleh London atau Washington DC,”

“Siap, Bu!” kata ajudan.



HMAS Amphitrite

Samudera Indonesia

07:56 WIB

H minus 26:53:00



Ketegangan serupa muncul dan dirasakan pula oleh awak-awak kapal Australia, baik yang berada di HMAS Amphitrite, ataupun di kapal-kapal lain yang turut serta. Namun, kesadaran sebagai satu kekuatan pemukul yang besar melawan dua kapal musuh yang hanya memiliki kemampuan tempur pas-pasan jelas membuat para awak kapal Australia sedikit lebih merasa yakin dan percaya diri.

Komandan dari gugus tempur ini, Cdr. Lesley van Huydt menatap tajam ke arah KRI Ternate, yang dari sini hanya terlihat seperti sebuah titik kelabu saja. Baru saja dia melakukan gerakan gertakan yang bisa diantisipasi dengan baik oleh Kapten I Made Suwartana alias Kapt. Kadek dari KRI Ternate. Kini Cdr. Lesley van Huydt pun tengah memainkan pula sebuah catur imajiner di dalam pikirannya. Walau begitu, diamnya sang komandan membuat semua awaknya pun sedikit kebingungan.

“Commodore, kenapa kita tak langsung maju saja?” tanya First-Officer Lieutenant-Commander Jared McGraws.

“Kenapa?” tanya Cdr. van Huydt dingin.

“Instruksinya bukankah jelas, Commodore, bahwa kita harus maju apa pun yang terjadi,” kata Lt. Com. McGraws.

“Jangan kuliahi aku soal perintah, Nak,” kata Cdr. van Huydt,

“dan seorang komandan lapangan berhak mengambil keputusan sendiri atas apa yang terjadi di lapangan berdasarkan kebijaksanaannya sendiri, aku yakin itu yang mereka ajarkan di sekolah perwira,”

“Ya, Pak, tapi mengapa kita harus takut pada mereka saat ini?” tanya Lt. Com. McGraws,

“kita bisa mengatasi mereka sekarang dengan cepat; mereka juga yang menghancurkan salah satu kapal kita,”

Cdr. van Huydt lalu menatap tajam ke arah First-Officer yang nampaknya masih cukup muda itu. Sepertinya memang dia baru saja lulus dari sekolah keperwiraan AL.

“Dari mana asalmu, Nak?” tanya Cdr. van Huydt.

“Kunnunura, Pak,” jawab Lt. Com. McGraws.

“Katakan, Nak, apakah di Kunnunura sana, bila ada sarang lebah menggantung di depanmu, kau akan mengganggunya?” tanya Cdr. van Huydt.

“Tidak, Pak,” jawab Lt. Com. McGraws.

“Kenapa tidak, Nak?” tanya Cdr. van Huydt.

“Karena itu tindakan bodoh, Pak,” kata Lt. Com. McGraws.

“Kalau begitu berhentilah memberikan saran bodoh, Nak!” kata Cdr. van Huydt dengan nada tinggi,

“di hadapan kita adalah sarang lebah yang luar biasa besar, dan Indonesia bukan musuh yang akan mudah ditaklukkan begitu saja; perang bukan untuk main-main, Nak, bila kau sudah ikut dalam peperangan sebanyak aku, kau pasti tak akan mengatakan usul bodoh itu, kau mengerti??”

Lt. Com. McGraws sontak terdiam dan tertunduk malu. Cdr. van Huydt hanya menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Commodore, aku mendapat pembacaan, ada banyak kapal mendekat pada bearing 0-3-7,” kata perwira radar.

“Friendly?” tanya Cdr. van Huydt.

“Bukan, Pak, kapal perang Indonesia,” kata perwira radar.

“Siap tempur, Pak?” tanya Lt. Com. McGraws.

“Ya, siap tempur sekali lagi,” kata Cdr. van Huydt.

“Siap tempur!” ulang Lt. Com. McGraws.

“Laporkan status,” kata Cdr. van Huydt.

“Lima kapal cepat, dua korvet, satu fregat, dan satu kapal perusak,” kata perwira radar.

“Apa? Satu kapal perusak? Mustahil, kau pasti salah!” kata Cdr. van Huydt.

“Tidak, Pak, pembacaannya benar, satu kapal perusak!” kata perwira radar.

“Indonesia tidak punya kapal perusak, Nak,” kata Cdr. van Huydt,

“periksa sekali lagi,”

“Tidak berubah, Pak,” kata perwira radar.

Cdr. van Huydt pun segera menuju ke layar perwira radar, dan terkejutlah dia dengan apa yang dia lihat di sana.

“Ya Tuhan,” kata Cdr. van Huydt dengan raut muka penuh ketegangan.



"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...