Indahnya Rasa Malu
Indahnya rasa maluUmumnya orang mencela rasa malu. Malu diidentikkan sebagai lawan kemajuan, intovert, kuper, dan mental terbelakang. Kita sering mendengar misalkan orang berkata, “Kalau malu nggak akan maju!”, “Jangan jadi orang pemalu!”, atau “Jangan malu, yang seperti ini kan udah kebiasaan di masyarakat!”, dsb. malu sering dianggap sebagai penghambat kemajuan, menunjukkan kerendahan diri, introvert, dsb.
Padahal rasa malu adalah salah satu sifat yang dipuji oleh Allah SWT. dan disanjung oleh Rasulullah saw. Bahkan malu adalah salah satu cabang dari keimanan. Artinya, seorang mukmin sudah sepantasnya memiliki tabiat rasa malu.
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
“Iman itu memiliki tujuh puluh cabang, dan malu adalah cabang dari iman.”(HR. Bukhari)
Perasaan malu bermanfaat sebagai proteksi diri kita dari berbagai perbuatan tidak pantas bahkan dosa. Rasa malu membuat kita berpikir berkali-kali untuk mengerjakan sesuatu yang tercela di hadapan Allah SWT.
Misalnya apakah kita tidak malu bila tidak bersyukur kepada Allah atas semua nikmatNya dan masih merasa kurang? Apakah tidak ada perasaan malu kepadaNya saat kita meninggalkan kewajiban shalat? Tidak menjadikan al-Quran sebagai bacaan yang digemari dan kalah oleh koran misalnya?
Tidakkah kita merasa malu saat mengerjakan sesuatu yang sudah diharamkanNya? Semisal memakan riba, ghibah, menampakkan aurat, dsb? Terbersitkah juga perasaan malu kepada sesama muslim bila kita terbiasa mengabaikan perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarangNya?
Perasaan malu seperti demikianlah yang positif dan menjadi pelindung diri kita dan masyarakat dari perbuatan maksiat. Terbukti, manakala rasa malu telah menipis maka tidak ada lagi perasaan sungkan untuk melanggar larangan Allah, menelantarkan kewajibanNya dan menzalimi sesama.
Perzinaan, korupsi, caci maki adalah sebagian dari keburukan yang mengalir deras karena hilangnya rasa malu.
Sebab itu jangan buang seluruh rasa malu. Banyak rasa malu yang justru dibutuhkan untuk menjaga kebaikan masyarakat. Hilangnya rasa malu akan berdampak kepada hilangnya keimanan dalam diri masyarakat. Nabi saw. bersabda:
“Rasa malu dan iman berjalan berdampingan, jika salah satu hilang maka akan hilang pula yang lainnya.”(HR. Al-Hakim).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar